TEGURAN PAGI – puisi.

Puisi curhat jadikan senin semangat.

Photo : Bayangan kesendirian / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Udah lama nggak nulis puisi maksa yang berisi curhat colongan (curcol), nulis aah :

TEGURAN PAGI

Pagi cerah di senin ceria
Ternyata hadirkan peristiwa
Yang mungkin tak terduga
begini kronologisnya

Datang lebih dulu
tanpa mengharu biru
ambil posisi barisan nomor satu
langsung abadikan bayangan yang melaju

Disaat semua hampir siap
Ternyata komandan yang ditunjuk tidak ditempat
Semua menolak tanpa berharap
Akhirnya mencoba menjadi pelengkap
Maju ke depan dengan terhormat

Ternyata….

Menggantikan seseorang
Tidak cukup niat baik
Harus siap dengan segala hal
Termasuk perlengkapan perang

Akhirnya bukan puji yang didapat
Tetapi teguran karena tidak lengkap
Atribut oke kecuali peci hitam mengkilat
Jadi judul kedisiplinan sikap

Koreksi adalah sebuah perhatian
Yang dilontarkan oleh pimpinan
Menjadi cambuk untuk menjaga kedisiplinan
Hari ini esok dan masa depan

Itulah sekelumit kisah
Di Senin pagi yang cerah
Tidak perlu menjadi resah
Tunjukan disiplin dengan sumringah.

Cemungguuutt… Eaaaa.

Wassalam (AKW).

Pagi & Sendu di Pangandaran.

Menjejak pagi yang menyisakan kenangan sendiri.

Photo : Kopi & pilu / dokpri.

PANGANDARAN, akwnulis.com. Pagi ini mentari masih sembunyi dibalik awan kelabu, hempasan angin pantai menitipkan sebuah rasa pilu, disitulah aku menemukan dirimu, tergeletak pasrah tanpa daya ditemani harapan semu.

Ingin bertanya padamu, tetapi yang hadir hanya ragamu. Asumsi menyelimuti kalbu, mungkinkan kamu adalah salah satu yang tertinggal dari kawananmu?… atau meloncat terlalu jauh dikala ombak menghempas pantai?… atau mungkin ragamu sudah berpisah dengan ruhnya di laut sana dan terbawa gelombang kesini tanpa bisa mengadu?… entahlah,
……..aku tidak berharap jawaban karena ragamu sudah damai terdiam.

Secangkir kopi yang dibawa untuk dinikmati, sekejap berubah tawar dengan rasa yang dilingkupi kesedihan.

Sebuah penghormatan atas kejadian yang menimpamu, aku sandingkan segelas kopi ini dengan ragamu yang terdiam tanpa kata-kata perpisahan. Menemani meskipun hanya sesaat ini.

Photo : Suasana sendu di Pantai Timur Pangandaran / dokpri.

Selamat jalan, semoga damai menyertaimu.

Perlahan pergi meninggalkanmu yang sudah berdamai dengan kenyataan, selamat menjalani pagi yang pilu di pantai timur pangandaran. Semoga seiring mentari beranjak meninggi, cuaca akan menjadi cerah dan harapan kehidupan kembali merekah.

Selamat beristirahat kawan kecilku, meskipun baru bersua dengan ragamu di pagi sendu, tetapi yakin bahagia dan damai sudah menantimu. Selamat tinggal ikan kecilku. Wassalam (AKW).

Menikmati pagi

Sarapan pagi menjaga energi diri.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari kedua masuk kerja setelah libur lebaran tentu penuh semangat dan harapan. begitupun untuk menjaga mood yang lagi bagus ini, sajian minuman pagi dan berita di koran merupakan kombinasi yang sempurna.

Makanannya apa?”

“Ih kepo kamuh… aku mah lagi bahas minuman”

“Payah deh”

Komentar yang bikin panas kuping dikesampingkan, biarkan dia ngoceh dengan segala ke-tahu-annya. Yang pasti sarapan eh.. minuman pagi ini tidak terganggu, bisa dinikmati sembari meniti pagi ditemani semburat mentari yang sinarnya sudah menelisik ke ruang kerja ini.

Koran PR hari ini menjadi santapan kekinian, informasi menjadi sesuatu yang penting, meskipun cara memilah dan memilih informasi… itu yang sangat penting.

Oh ya, minuman yang tersaji bukan kopi karena ini mah dibujeng-enggalna (harus tersaji cepat), jadi teteh putih…. eh teh putih yang bisa disajikan cepat dan tentu nikmat.

Yang penasaran teh putih… Klik aja ‘Menikmati Teteh Putih’.

Cukup diseduh pake air panas, eh.. tehnya kira-kira 2 jumput… ya sekitar 20 buah pucuk teh.. klo yang moo diitung dulu monggo.. yang jalur kira-kira juga mangga… hidup itu khan pilihan…. tunggu 5 menit dan..
.. nikmatiiii…. tapi perlahan-lahan nyuruputnya.. panas lho.

Praktis khan?… klo ada panggilan ibu bos… tinggal caw… dan nggak ribet musti beresin peralatan.

“Jadi ngopi brenti?”

“Ya enggak atuh…. ini mah hanya variasi saja….. Hidup khan harus berwarna”

Bisa aeee…..

Akhirnya pagi cerah dan teteh putih mengantarkan sang pagi menuju siang tanpa basa-basi. Wassalam (AKW).

Sarapan Goim-Jekisam

Mencoba sarapan dengan jenis makanan yang berkualitas, tapi kok rasanya asing?

Photo : Sajian Sarapan Goim-Jekisam/ dokri.

PURWAKARTA, akwnulis. Pagi meninggi dan mentari berseri. Ada kewajiban diri yang tak bisa dihindari. Apa itu?… makan pagi.
“Hahaha, kirain boker.. eh buang air besar”

“Ah kamu mah mikirnya itu aja, dasar obok!”

Makan pagi alias sarapan, sangat dianjurkan. Mayoritas gaya hidup dan gaya diet mensyaratkan sarapan alias makan pagi.

Ingat yaa…. makan pagi.. sarapan.. makan pagi!!!

“Bukan makan nasi?”

“Bukannn… tapi makan pagi”

“Ah nggak kenyang makan pagi mah, aku tetep makan nasi”

“Ih ngeyel kamu, cubiit geura”

***

Sarapan pagi tidak harus nasi, atau aneka karbohidrat saja. Bisa lontong, bubur, leupeut, kupat, hucap, bacang, lemper, tangtang angin, buras, jagung, kentang, talas, ubi, singkong…. trus golongan gorengan seperti bala-bala, gehu, rarawuan, comro, misro, karoket, lumpia, dan gorengan lainnyaaa…. eh semuanya karbo ya????

Iyaaaa….. 🙂 🙂 🙂

Ada juga yang sarapan dengan minum kopi doang dan rokok, atau gorengan dengan rokok, atau buah-buahan, atau dengan sereal dan banyak pilihan lain.

Tapi kembali ada hal yang hakiki dimana sarapan ini menjadi seni mensyukuri. Sebuah momen yang harus dipahami sebagai bagian penting kasih sayang Allah SWT. Karena mungkin saja, saudara kita dibelahan dunia lain atau mungkin tetangga kita masih kesulitan untuk mendapatkan sarapan di hari ini.

Eh ada juga yang tidak sarapan dengan yang disebutkan tadi, tetapi cukup teguk setetes madu dan 2 sendok teh cairan virgin coconut oil (vco), ini aliran diet ketofastosis (klo nggak salah).

Klo yang sarapan buah-buahan itu biasanya aliran diet food combining, atau memang penyuka buah yang sudah konsisten istiqomah.

Tetapi rasa bosan itu terkadang menghinggapi, sehingga perlu variasi dan inovasi dalam sarapan di pagi hari.

Menu diawal tulisan ini mencoba mewakili. Alhamdulliah rasanya jadi aneh dan menantang. Padahal dipilih potongan jeruk yang berkualitas, goreng ikan mas yang menggugah selera serta sambel dadak yang begitu menggiurkan.

“Tapi kok rasanya aneh dan asing?”

Akhirnya disadari bahwa menggabungkan sesuatu yang menurut kita enak dan baik belum tentu berujung baik manakala komposisinya tidak tepat. Kecuali emang nekat, ya monggo tanggung reskio eh resiko sendiri.

Nama sajian ini GoimJekisam (Goreng Ikan Mas Jeruk Sunkist Sambel). Rasanya campur-campur, manis asin hanyir pedas heu heu heu…..

“Berani?… silahkan cobaa!!”

Photo : Secangkir kopi luwak ala-ala / dokpri.

Tidak lupa secangkir kopi luwak ala-ala dengan metode seduh biasa, disajikan menjadi teman sarapan pagi ini.

Selamat sarapan dan makan pagi setiap pagi kawan, jangan sarapan yang macam-macam juga jangan macam-macam dengan sarapan. Wassalam (AKW).

Lapangan Banteng – Jakarta

Jalan pagi di sini, lapangan banteng Jakarta pusat.

Photo : Sinar mentari di sekitar lapangan banteng / dokpi

JAKARTA, akwnulis.com. Sang mentari masih sembunyi dikala raga ini bergerak menapaki kesegaran di jantung ibukota. Jikalau di kesempatan sebelumnya area monumen nasional menjadi tujuan utama. Maka hari ini pilihan jatuh disini, sebuah area lapangan yang ikonik, Lapangan Banteng.

Awalnya disebut dengan Lapangan singa karena terdapat patung singa disana sebagai bentuk peringatan kemenangan Napoleon di Waterloo… dulu disebut juga Waterloopline, wow jauh bingit ya sejarahnya.Tetapi jaman pendudukan jepang, patung singa itu dirubuhkan.

Photo : Lapangan banten dilihat dari lt18 / dokpri

Era pemerintahan Presiden Soekarno dibuatlah Monumen Trikora Pembebasan Irian Barat yang menggelorakan semangat perjuagan rakyat indonesia merebut Irian barat. Berwujudlah patung pemuda pejuang kekar yang terbebas dari belenggu penjajahan karya pematung Edhi Sunarso yang diawali sketsa oleh Henk Ngantung.

Di tahun 2018 dilakukan renovasi besar-besaran sehingga mewujud menjadi taman yang indah dan fungsional dengan 3 zona yaitu Zona Monumen, zona olahraga dan zona taman.

Photo : Taman bermain dan berolahraga / dokpri

Hari ini, menjejakkan kaki disini. Menikmati sepoi angin pagi dengan belaian mesranya. Raga berkeliling menyusuri taman, amphiteater dan zona monumen. Juga berkeliling ke area olahraga dan tempat taman bermain anak, lengkap sudah. Apalagi di tengah-tengah terdapat air mancur yang (katanya) menjadi ikon malam minggu, mengundang ribuan orang untuk menikmatinya.

Tak terasa berjalan kesana kemari, naik turun tangga hingga 45 menit. Keringat membanjir dan dahaga mulai terasa. Segera terobati oleh hadirnya keran-keran air minum yang siap minum, senangnya.

Pagi ini juga bersua dengan Pak Rahmat, warga sekitar yang rutin berlari pagi di lapangan banteng ini. Berbagi sekelumit kisah hidup juga profesi sebagai pengamanan sekaligus ahli pijat refleksi yang siap dipanggil dikala senggang. Nambah kenalan menjalin silaturahmi di pagi yang alami di jantung ibukota.

Tetapi karena waktu meeting sebentar lagi tiba, segera bergegas kembali ke hotel. Bersiap mandi dan bersolek, agar hadir meeting tepat waktu dan molek…. ih masa laki-laki bersolek dan molek, berdandan atuhh!!.

Sebelum naik ke lantai 10, mampir dulu di restorannya. Aneka sajian makanan berlimpah, tapi sesuai janji, hanya potongan buah saja untuk isi perut di pagi ini. Maka semangka, melon dan pepaya yang berada di piring saji dan dengan segera dinikmati.

Wilujeng sarapan bray, Wassalam (AKW).

Kudapan Pagi

Sebuah hubungan aneh antara perintah, ngebut dan sarapan.

Photo : Kudapan pagi penuh arti / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com, “Hadir yaa…”
“Iya bu”

Percakapan singkat yang bermakna panjang. Karena butuh pengorbanan.

“Maksudnya?”

Yup. Karena perintah hadir di acara yang dimaksud datang begitu mendadak. Untungnya sebuah pembiasaan menghasilkan rutinitas yang sesuai dengan tugas-tugas dadakan seperti ini.

“Apa sih tugasnya? Lebay amat lo!!”

Hahahaha, pertanyaan bete dan kepo menyeruak di pagi ceria. Padahal tugasnya sederhana, cuman dampingi pimpinan. Titik. So simple khan?

Yang nggak sederhana adalah, acara mendampinginya jam 07.00 wib di kantor, dan perintahnya dateng jam 06.48 wib.

Untungnya.. ya itu tadi. Memang rutinitas berangkat lebih pagi ke kantor.. yaa target jam 07.10an udah sampe. Pokoknya sebelum 07.30 wib deh.

Jadi pas perintah datang, posisi sudah setengah perjalanan.

Maka…..

….seolah ada legitimasi untuk menginjak gas lebih dalam. Mata dan telinga pasang konsentrasi maksimum. Melihat pergerakan lalulintas di depan, kanan dan kiri mencari celah nyalip dengan presisi, langsung meliuk-liuk dan beraksi.

Ngebuuut!!!

Tapi ingat, jangan sampai mencelakai pihak lain. Baik pemobil, pemotor ataupun yang menggunakan skuter (suku muter). Itu harus diutamakan, karena jalan unum adalah milik bersama. Disinilah indahnya sebuah suasana, satu sisi adrenalin meningkat seiring tugas mendadak. Konsentrasi maksimum, simpan hp ditempat aman, musik ganti dari musik jazz mendayu menjadi aliran IDM penuh semangat.

Jep… ajep.. yeaaah!!!

Sieeet…
Sieeeet… manuver kanan, gas, manuver kiri, gasss!!!…. serasa Schumaker bergabung dengan Valentino Rossi.

Jalan layang Paspati dilalap cepat, menurun di perempatan Gasibu. Lewat lampu merah di gas lagi dan akhirnya 2 belokan berikutnya mengantarkan raga ini tiba di halaman kantor, pukul 06.59 wib.

Parkir secepat mungkin, lalu bergegas ke lantai 3 gedung sate menuju ruang ciremai.

Alhamdulillah tepat waktu. Pas acara mau dimulai.

Sebuah sajian kudapan pagi yang apik, sudah menanti dengan senyuman penuh arti. Meredakan ketegangan dan engah nafas yang masih memburu akibat berlari menaiki tangga demi hadir sesuai waktu yang tak mau berhenti menjalani takdirnya.

Hayu ngaleueut bray. Wassalam (AKW).