Menata maksi 2.

Yuk ah menata maksi lagi..

Photo : Gado2 TA Berbaris / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Jikalau postingan yang lalu penataan gado-gado dalam rangka makan siang itu menggunakan model radial karena masih terbiasa dengan putaran seduhan kopi manual menggunakan teko leher angsa, maka kali ini mencoba menata dengan berbaris berjajar diatas piring putih bersih sebersih suasana hatiku kali ini kepadamu… cieeeh, maksa ih.

Bisa di baca di MENATA MAKSI.

Kenapa cape-cape menata, ntar dimakan juga khan?”

Celoteh singkat dari seseorang yang kebetulan lewat dan melihat kesibukan ini. Hanya senyum kecil yang dihadirkan, tanpa banyak kata dan kalimat yang terhambur. Biarkan saja siapapun berceloteh karena memiliki mulut, jadi santai aja.

Padahal yang dirasakan.. menata maksi, sebuah aktifitas sederhana yang ternyata menyembunyikan hikmah makna penuh cita. Nggak percaya?…. gini deh.

Setelah pesenan grabfood makanan ini datang, jangan lupa di semprot anti bakteri bungkus luarnya dan segera keluarkan isinya untuk di tata di atas piring putih ceper yang tersedia.

Pertama ambil potongan rebusan kol, bariskan. Kedua ambil potongan daun selada, bariskan. Ketiga, giliran toge rebus yang berbaris memanjang dan keempat adalah potongan kecil tahu yang giliran berbaris sebelun ditutup dengan jajaran atas bawah dari kuah kacang khas kado-gado TA serta diakhiri dipuncak atas sepotong telur rebus sebagai komandannya.

Hikmahnya apa?…. yang utama adalah memperkuat rasa syukur, bahwa Allah SWT begitu sayang kepada hambanya dengan memberikan kemudahan dalam segala hal termasuk sajian makanan ini yang terdiri dari beraneka unsur yang bahan sayuran, protein dan berbagai unsur lainnya sehingga menjadi satu kesatuan rasa.

Dilanjutkan dengan rasa syukur masih diberi kenikmatan mengecap, membaui dan merasakan bersatunya unsur makanan tersebut dalam kunyahan teratur dan berpadu dengan enzim baik yang berada di air liur mulut kita, Alhamdulillah.

Selain itu banyak sekali hal-hal yang harus disyukuri, ini hanya sejumput hal sederhana kawan, masih sangaaaat banyak keseharian kita yang perlu disyukuri dan ditafakuri.

Jadi menata maksi ini ternyata juga menata hati, memberikan ketenangan dan melatih ketelitian hingga akhirnya didokumentasikan untuk dihadirkan di dunia media sosial yang gegap gempita.

Yuk ah, maksi bray. Ambil sendok dan garpu, dan dimulailah prosesi makan siang penuh syukur kepada Illahi. Wassalam (AKW).

Menata Maksi.

Menata maksi dan menata hati…

Photo : Gado-gado polos TA / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com. Sang waktu mengingatkan akan datangnya siang dengan memberi lonceng kukurubukan (perut keroncongan) sebagai pengingat agar tidak telat makan siang.

Biasanya rutin mekdi (Bukan McD or McDonald ya..), mekdi ini singkatan dari ‘mekel di imah’ (bawa bekal dari rumah) yang merupakan implementasi Adaptasi Kebiasaan Baru di era pandemi sekaligus bermakna iritisasi.

Kali ini sengaja membeli karena ingin mencoba sensasi jajan sendiri setelah sekian lama menjalani maksi mekdi.

Pilihannya adalah seporsi gado-gado tengku angkasa.

Setelah pesanan maksi ini tiba, maka saatnya menata. “Lho kok menata, bukannya langsung makan saja?”

Jangan terburu-buru kawan, menata makanan sebelum dinikmati itu adalah bagian dari menata hati lho (uhuy jadi inget ajaran Aa Gym, menata dan jagalah hati). Maksudnya adalah buka dulu bungkusannya dan periksa kelengkapannya. Karena gado-gado itu berarti gabungan atau campuran dari aneka unsur kehidupan. Jangan sampai campurannya adalah potongan kayu atau paku dan semen…. halah emang moo ngapain?..

Dimulai dari rebusan toge, rebusan irisan kol, potongan daun selada, potongan kentang rebus, sepotong telor rebus, potongan tahu goreng, dan dilengkapi saus khusus saus kacang yang banyak sekali plus sambel dan krupuk.

Photo : Gado-gado TA siap makan / dokpri.

Nah segeralah disusun dan ditata sedemikian rupa sehingga hadirkan harmonisasi rupa dan tentu sedapnya rasa. Maafkan kentang dan kerupuk di-cuti-kan dulu, tiada maksud apa-apa tetapi itulah keputusan yang ada.

Maka hadirlah sajian ciamik yang menggugah selera dan menemani makan siang kali ini dengan penuh sukacita. Jangan lupa baca bismillah dan doa sebelum makan dimulai dengan am… dan dilanjutkan dengan nyam nyaam… kunyah kunyah… enak, segar… dan am lagi.

Ternyata menata sajian makan siang kali ini juga menjadi bagian penting dari menata hati dan ketelitian diri. Sesuaikan dari sisi warna dan komposisi hingga akhirnya menghadirkan harmonisasi, enak di pandang, enak di photo dan pastinya… enak dimakaaaan. Selamat maksi kawan, Wassalam (AKW).

Kohitala Pramita.

Ngopay dulu…

Photo : Sajian Kopi Double di Lab Pramita / Dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Perjalanan rasa menikmati sajian kohitala memang belum bisa bersua dengan sajian manual brew yang cuoocok gitcu…. maksudnya minimal diseduh manual pake v60. Klo dirumah sih sudah rutin tetapi diluar rumah masih mikir-mikir, nggak berani nongkrong sembarangan.

Ada salah satu tempat ngopi yang sebenernya seduhan manualnya recomended, tapi pas moo mampir, semua pegawainya nggak pake masker trus tamu-tamu ngariung di satu meja seolah pandemi corona sudah tidak ada… ill feel deh. Nggak jadi mampir ah, biar ntar nyeduh sepuasnya di rumah.

Nah kali ini mau cerita singkat tentang kopi tanpa gula yang disajikan menggunakan coffee maker bermerk GETRA. Pilihannya terbatas, hanya single dan double aja yang ditandai dengan logo 1 cangkir dan 2 cangkir. Trus diatas mesin kopinya ada petunjuk penggunaan, tinggal baca, resapi dan hafalkan…. siapa tahu besok lusa jadi soal ujian hehehehehe.

Jadi setelah membaca petunjuknya dengan seksama, pasang cangkir putih ditempat yang sudah disediakan… pijit tombol bergambar 2 cangkir….. greeeeeeezzzz… mesin bekerja menggrinder biji kopi dan memproses dengan air panas yang ada hingga akhirnya keluar memenuhi cangkir putih, dan 2x terjadi… itu yang dimaksud tombol 2 cangkir.

Masalah rasa jelas pahit tanpa pemanis, tapi pahit itu hanya di lidah lho, kalau di otak dan perasaan tergantung persepsi. Bisa jadi manis karena memang sudah manis dari sanahnya, atau semakin meningkat rasa pahitnya karena ternyata kenyataan yang ada berbeda dengan harapan dan keinginan… apalagi yang terbelit beban masa lalu…dan menghadapi kenyataan bahwa dirinya sudah bersama yang lain…. halah kok kesinih ceritanya.

Photo : Mesin Kopi GETRA / dokpri.

Pastinya setelah masuk ke perut mah sama aja. Nah begitupun dengan kopi ini. Dari sisi kualitas rasa mah biasa saja, tapi lumayan bisa memenuhi dahaga kohitala meskipun tidak tahu ini bean yang diprosesnya apa…… mencoba menikmati dan bersyukur saja.

Oh iya, bertemu dengan mesin kopi ini di Lab Pramita lantai dua yang di Jalan Martadinata. Setelah mengikuti rangkaian tes kesehatan yang beraneka rupa lalu sarapan nasi dus sambil bercengkerama dan akhirnya ditutup dengan sajian kohitala dari mesin kopi merk Getra.

Itulah sebuah cerita tentang menikmati kohitala, semoga esok lusa bisa bersua dengan sajian kohitala yang menggunakan manual dan alat-alat semestinya. Wassalam (AKW).

Golden Ginger Latte.

Menikmati rasa dahaga di bulan puasa.

Photo : Golden Ginger Latte / dokpri

CIMAHI, akwnulis.com. Tuntas tarawih bersama masih tersisa waktu dan ruang dalam tembolok untuk memasukan sesuatu melalui mulut yang seolah tak pernah kenyang sejak adzan magrib berkumandang.

Mengapa begitu yach?”

Sebuah tanya yang memang nyata, tetapi cukuplah menjadi bahan renungan dan tasyakur bahwa bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah dan hikmah.

Urusan mulut pengen terus ngunyah, itu mah banyak faktor. Baik dari sisi momen sebagai faktor pertama, dimana kesempatan makan minum di batasi waktunya di bulan shaum sehingga ruab raeb – sagala hayang (pengen makan semuanya) padahal kapasitas perut itu ada batasnya. Jangan sampai berlebihan karena akan menimbulkan derita ‘kamerkaan‘ (kekenyangan) seperti pengalamanku dahulu, cerita lengkapnya monggo klik DISINI.

Faktor kedua adalah setelah shalat tarawih, badan lebih segar dan makanan berbuka shaum sudah tergerakkan sehingga di perut sudah mulai tertata, maka rasa laparlah yang ada lagi.

Faktor ketiga adalah kualitas makanan/kudapan/minuman yang disajikan memang begitu menggugah selera. Pasti sudah nggak tahan untuk menyantapnya setelah tarawih tuntas tas tas tas….

Nah ini faktor utama, berhubungan dengan RW yaitu RW06 atau dibaca Rewog alias senang barang hakan (makan segala), yang biasanya ini ada karena faktor keturunan, lingkungan ataupun memang si eta mah selalu laparrrr……. ini sulit untuk menjelaskan karena pasti kapanpun dimanapun selama lepas berbuka hingga sahur, maka digayem saja segala macam makanan kayak mesin giling hehehehe… ayo ngaku ayo….

Sementara bagiku, tuntas shalat tarawih tadi malam hanya mencoba segelas kecil minuman dingin jamu kekinian, ikutan istri yang begitu rajin mengkonsumsi minuman kuning pekat dingin manis dan rasanya menyenangkan.

Namanya Golden Ginger Latte (GGL), sebuah minuman perpaduan unik yang memberi sensasi rasa jahe dan latte serta manis madu yang memberi suasana rindu.. ahaay. Diproduksi oleh PINKu yang beralamat di Jl. Sultan Agung No.8 Bandung.

Gampang, klo mau tapi #stayathome ya tinggal gofood atau grabfood aja. Harganya 100rb/liter kalau via online, pernah beli langsung ke gerainya harganya 90ribu.

Srupuut…. hmmm.. segaar… eh sekarang mah udah pagi dan memasuki hari shaum ramadhan selanjutnya, selamat berpuasa di hari ke 19. Wassalam (AKW).

Detox Margarita.

Siang yang sendu ditemani minuman sehat ‘Detox Margarita’…

Photo : Detox Margarita di meja kerja / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Siang yang begitu sendu dan sepi karena berusaha mengisolasi diri ternyata agak susah juga mengubah kebiasaan. Butuh perkuangan dan ihtiar meskipun seolah sepele, ternyata hese (susah).

Maksudnya perlu niat dan semangat untuk mengatur jarak dan menjaga alias mengurangi komunikasi dengan orang lain, khususnya orang lain eh tamu luar dalam rangka social distancing ceunah….

Biasanya ramai penuh gelak tawa dan tamu silih berganti diselungi berdinas keluar kantor berkeliling jawa barat & banten, sekarang diam di ruangan, relatif menyendiri sambil mengutak atik aplikasi teleconverence dan video online… terasa membatasi interaksi sosial itu.. menyedihkan. Tetapi ini adalah suatu ihtiar besar demi menahan dan mencegah penyebaran pandemi covid19 yang sedang mengguncang dunia.

Nah…. giliran makan siang, …. sekarang belum rutin bawa dari rumah, karena baru hari-hari awal pelaksanaan FWA, maka musti beli dari luar. Sesuai fatwa ibu negara untuk order makanannya adalah makanan yang lengkap dengan sayuran dan disebut makanan sehat… pesanlah via grabfood sekaligus minumannya.

Tring…. tralalala

Tak perlu lama sang babang grabfood hadir di lobby lantai bawah dan ternyata sudah melaksanakan protokol kesehatan anti covid lho, nggak mau bersentuhan, jaga jarak dan pembayaran uangnya dimasukin amplop dulu lho, kebetulan satu lembaran merah tak perlu kembalian, karena cuma 2rb perak, monggo aja.

Makanannya nggak diekspos ya disini, takutnya pada kepengen hehehehe..

Tapi minumannya yang bikin suasana segar dan lebih bersemangat guys…. namanya aja menarik ‘Detox Margarita’... jangan disingkat ‘DEde monTOX MARi jaGA diRI KIta’ ya… karena itu kepanjangan yang maksa… tapi…. miliki arti yang sebenarnya.

Photo : Detox Margarita / dokpri.

Detox berarti bisa membersihkan racun dan kotoran ditubuh juga kotoran-kotoran pikiran yang selama ini sulit dihilangkan dan dilunturkan ditambah margarita, sebuah minuman rasa manis asam khas yang aslinya berbahan dasar minuman ber alkohol seperti tequila, miras lemon dan jeruk lemon serta disajikan menggunakan es batu… aslinya mah haram untuk umat muslim karena beralkohol… tapi minuman ini free alcohol…. karena isinya setelah diubek-ubek pas airnya habis adalah : daun sirih, sereh, irisan lemon juga ada sedikit rasa manis, mungkin ditambah madu.

Rasanya…. seger euy.. dingin, asem, sedikit nyereng…. rasa daun sirihnya dapet, jadi nambah semangaat…. “Tapi nggak jadi rapet khaan?”

Sruputtt….. suegerrr… Alhamdulillah. Ntar nyoba bikin ah di rumah. Khan bisa lebih murah.

Selamat wiken kawan, jangan lupa jaga jarak dan jaga perasaan serta bersihkan pikiran dari kotoran dengan detox kepasrahan dan keikhlasan. Wassalam (AKW).

Green Slush & Jalan Kaki

Berjalan kaki sambil mencoba pahami arti dari hal sederhana yang sering dilewati.

Photo : Sajian Green Slush Serasa / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala siang menggarang raga, inilah saat tepat mencari segar yang mungkin sedang menanti ditempatnya. Tak usah takut dengan bulir keringat yang turun menelusuri kulit kepala, berselancar di kulit leher hingga akhirnya terserap oleh kerah baju yang lahap menghilangkan hausnya kehidupan.

Itulah sebuah kenyataan yang harus dihadapi. Tapi salah satu indahnya hidup adalah dikala berpeluh ria mencoba memaknai sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang sering kita lewati setiap hari dengan sengaja.

“Kok bisa?”
“Gimana cara memaknainya?”

Nah sebuah pertanyaan sederhana ini, ternyata bisa terjawab oleh kebiasaan baru yang sedang dibiasakan ini.

Jalan kaki, jalan kaki dan jalan kaki.

Jikalau bicara kesibukan kantor, maka tak akan ada habisnya. Jadi pinter-pinter menyiasati waktu.

Aku sih manfaatin momen makan siang lho guys.

Maksudnya cari tepat makan siang yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Jadi jam istirahat yang formalnya mulai 12.00 wib sd 13.00 wib bisa dimanfaatkan. Meskipun kenyataannya nggak seindah harapan. Pas istirahat… eh ada tugas, yaa… itu sih resiko, jalani saja.

Atau yang kedua, pas ada agenda meeting diluar kantor. Berjalan kakilah semampunya. Maksimal 30 menit tapi tiap hari.

“Kok dibatas?, klo kuat 1 jam kenapa nggak?”

Hehehehe… ini urusan kontinuitas, keberlanjutan dalam jangka panjang dan berharap mewujud menjadi gaya hidup. Jangan sampai sekali jalan langsung 1 jam karena merasa mampu, eh tapi sekali-kalinya. Tumbang, kecapean, kapok. “Sayang khan?”

“Iya juga”

“Kita coba perlahan tapi pasti, selamat mencobaaa!!!” Teriak ajakan yang menggema dalam hati. Memberi semangat pasti untuk bergerak dengan kedua kaki.

Jalan kaki yang relax, perhatikan detail jalan, orang, pemadangan atau apapun yang kita lewati. Kualitas trotoar, sampah, kelakuan pengguna jalan, toko atau cafe baru, rumah dinas dan rumah pribadi dari yang asri hingga yang mungkin tak berpenghuni. Atau aneka bau dipinggir jalan, dari mulai segarnya udara pagi hingga mungkin ada sampah yang bersumber dari makanan basi. Semua miliki makna dan segumpal arti.

Udah aah ceramahnya… ahay ceramah, ini mah cuman curhat dalam jalinan kata yang mungkin berguna, atau mungkin sangat berguna… apa seeh.

Akhirnya langkah kaki terhenti di Jalan Cilaki 45 Bandung, sebelum menu makan siang. Nyoba dulu ah appetizernya. Pilihannya adalah paduan yoghurt dengan sayur dan buah.

Ini namanya Green Slush, kombinasi yoghurt dengan buah-buahan dan sayuran organik menciptakan sebuah sajian segar yang ditampilkan menarik dengan mangkuk khusus alami, batok kelapa.

Smoothie hijau dan segar yang terbuat dari daun kale, buah pisang, mangga, yoghurt, daun mint, nanas, dan lemon, ditambah dengan apel, strawberri, serpihan kelapa, mint segar, dan goji berry.

Rasanya segar, manis alami dan sedikit asam. Campur-campur deh, ditambah irisan tipis buah apel dan serpihan kelapa yang menjadi pembeda.

Itulah mini booster siang ini, segar dan menenangkan.

“Trus menu maksinya apa?”
“Tenang dong, ntar ada saatnya tahu. Pantengin blog ini yaaa”

“Lha malah iklan blog ini mah”

Jangan marah dulu, biarkan rasa penasaran itu menggantung. Sehingga silaturahmi terus berlanjut. Lagian kebanyakan baca tulisan juga khan bosen, “Ya khaaan?”

Anggukan setuju diamini sepoi angin siang hari yang berhembus dari Pet park dimana taman khusus bawa hewan ini berada di seberang jalan. Mengantar langkah kaki untuk kembali pulang, menuju kantor dengan pikiran segar dan perut kenyang. Wassalam (AKW).

***

Mexican Tuna Salad

Saatnya makan siang yang diawali drama.

BANDUNG, akwnulis.com. Bergerak selaras niat, berperilaku seukur mampu. Begitupun dengan gerakan aktifitas hari ini. Bergerak kesana kemari untuk menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawab.

Hingga tak terasa jam makan siangpun datang, eh malah hampir terlewati. Segera berlari meniti hari, menelusuri ubin granit abu-abu yang merubah menjadi papan penunjuk arah menuju tempat yang sudah sedari tadi menjadi tujuan maksi.

Tiba-tiba, smartphone bergetar.. Terrrr.. terrrr… terrr

“Hallo”
“Maaf pa, dipanggil ibu bos”
“Baik”

Singkat dan jelas, buyarlah rencana jalan kaki menuju tempat makan hari ini. Meskipun tetap bersyukur karena belum jauh melangkah menuju keluar area kantor, tapi…… sedikit masgyul itu manusiawi.

“Agenda jalan kaki 30 menit terganggu” celoteh hati yang masih belajar menerima kenyataan. Sang kaki membawa raga, kembali ke area kantor, menuju ruang kerja bos. Terima takdir jadi ASN, terima seluruhnya atau tolak seluruhnya.

“Apa seeeh?, nggak ikhlas yaa dipanggil bos pas mau makan di jam istirahat” suara ngenyé dalam diri hanya ditimpali dengan senyuman, sebuah senyum simpul penuh arti.

Ternyata.. tugasnya harus diselesaikan segera. Pupus sudah harapan jalan kaki dan menikmati makan siang yang penuh arti. Berganti dengan layar komputer yang terus melotot tanpa rasa, mengerjakan semua instruksi yang disampaikan via keyboard yang berkolaborasi dengan mouse, lengkaaap sudaah.

Alhamdulillah-nya sekarang jamannya banyak kemudahan. Meskipun raga tidak bisa pergi, tetapi pesan makanan siang bisa via delivery.

Tring!!!

Hanya bermodal jempol pijit-pijit layar smartphone…. maksi segera datang, eh jangan lupa siapkan duit untuk membayarnya… tapi.. tenaang. Uang virtual masih ada saldonya…

Sserrr… transaksi tuntas tinggal nunggu makanan datang dikirim babang ojeg online yang tidak saling kenal tapi terhubung sekarang karena sebuah aplikasi kemajuan jaman.

***

Akhirnya makan siang datang, sajian salad tuna beraneka dedaunan di packing dengan kotak plastik transparan memperlihatkan kesegaran.

Segera tutupnya dibuka….. hmmmmmm menyeruak kesegaraan. Daun selada, tuna wijen bakar, irisan alpukat, irisan jicama…..

Apa itu? Segera googling…. ternyata jicama itu bengkuang,

Lanjut lagi ….. ada irisan mentimun, jagung bumbu lada, tomat ceri, kol merah, seledri, tortilla stick dengan saus Meksiko yang secara keseluruhan menyajikan ‘Mexican Tuna Salad’…. yummmy.

Bismillah… nyam.. nyam.. nyaam.

Rasa saus mexico-nya yang agak hangat tetapi pas melumuri semua bahan sayuran dan buah sehingga tersaji rasa segar berkualitas. Sebagai proteinnya, irisan tuna menambahkannya. Tidak lupa irisan alpukat memberi nuansa berbeda… lumayan kenyang juga. Tidak lupa tortillanya begitu pas dipadu dengan semua bahan yang ada.

Nyam.. nyam…nyam.

Akhirnya tugas tuntas dan bisa juga maksi berkualitas tanpa perlu meninggalkan meja kerja dan aneka coretan di kertas. Met makan siang kawan, Wassalam (AKW).

***

Salmon Pasta Salad (SalpSa)

Jalan kaki lanjut makan pagi eh maksi. yummy.

Photo : Sajian Salmon Pasta Salad / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com. Berjalan kaki di jumat pagi menjadi rutinitas utama, meskipun tetap harus menyesuaikan dengan tugas yang ada. Target jalan 30 menit harianpun tetap diupayakan, meskipun tentu kendala malas bergandengan dengan aneka tugas membatasi gerakan kaki yang senantiasa kepengen bebas.

Jumat pagi inipun ternyata tidak terlaksana sempurna, karena hingga mentari mulai meninggi, raga ini masih berkutat di ruang kerja menyelesaikan tugas dadakan yang datang tiba-tiba (ya iya atuh datang tiba-tiba, khan tugas dadakan…. iyaa bener jugaa 🙂

Jam 10.01 wib baru bisa keluar ruang kerja dengan stelan masih training dan sepatu olahraga kesayangan, black terrex. Maka tidak menyia-nyiakan kesempatan, segera menghambur keluar area gedung sate dan menapaki jalan banda, belok kiri jalan martadinata… lurussss…. lewati 2 perempatan hingga akhirnya belok kiri ke jalan Cihapit. Lurus lagi hingga ada persimpangan yang deket Bank, lurus lagi menuju area Pet Park, jalan Cilaki.

Sambil terengah dan keringat mengucur, sampai juga ke tujuan.

“Nyari apa seeeh?”

“Iniiiiih” telunjuk mengarah ke cafe simple yang menyajikan menu makanan sehat dan bahagia serta tentu dengan harga yang ‘Lumayan‘.

***

Sajian kali ini adalah ‘Salmon Pasta Salad’

Icip-icip rasanya enak lho, pasta yang dibuat sendiri dengan warna warni yang lucu. Daun horenzo yang hijau lebar, potongan daging ikan salmon, tumis tomat ceri, paprika, jamur di karamel dengan saus italy.

Nggak pake lama, langsung disantap diawali Bismillah. Rasa pastanya enak gurih dan mengenyangkan. Ditambah segarnya horenzo dan paprika serta tumis tomat ceri. Untuk asupan protein maka daging ikan salmon itu adalah jawabannya. Saus italy-nya juga enak dan enak weeeh….

Alhamdulillah tandas.

Mengingat jadwal jumatan yang sudah dekat serta pertimbangan ketinggian matahari akan tepat di ubun-ubun. Maka niat berjalan kaki ke kantor harus diurungkan, apalagi perut penuh dan waktu mepet, jangan sampai shalat jumat telat.

Pleasee jemppuutt!!!

Wassalam (AKW).

Vietnamese Noodle Salad

Menikmati menu maksi yang sehat, ceunah.

Photo : Sajian Vietnamese Noodle Salad / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com, Dikala siang menjelang, senandung nada lapar memberi sinyal dengan suara kerubuk kerubuk dari dalam perut. Ingin segera berlari menuju kantin bawah dan pesan makanan minuman segera, tetapi ternyata terhalang oleh banyaknya pengunjung yang memiliki tujuan sama.

Dan… makanan favoritku saat ini ternyata begitu banyak yang pesan. “Emangnya pesen apa?”

“Pengen lotek atau karedok dan pencok leunca ditambah tahu tempe goreng, jikalau ada yaa.. nasi merah”

“Euh itu mah favorit semua orang, ngantrinya musti dari jam 10 pagi”

Jadinya niat bergabung di kantin diurungkan lagi, kembali berkutat di ruangan, ditemani air panas dan peralatan seduh kopi manual, bikin kopi lagiii….

***

Beres shalat dhuhur berjamaah, muncul tawaran maksi (makan siang) dari kolega lama yang ingin bersua.

“Kebetulan nich, mumpung masih jam istirahat”

Meluncurrr……

Kaki bergerak menyusuri jalan Banda dan belok kanan ke Jalan Bahureksa, cukup 11 menit berjalan kaki sudah tiba di lokasi Jalan Bahureksa No. 9 Bandung, Cafe Greensandbean.

Jabat tangan dan cakap berbalas menjadi pembuka cerita. Membahas masa lalu, masa kemarin, hari ini dan mungkin urusan karir di hari esok. Masing-masing membahas prinsip, mengedit cita-cita serta menempa rasa dalam tatanan birokrasi yang semakin penuh dengan tantangan dan harapan.

Cafe Greensandbean mengusung tema makanan dan minuman sehat juga gaya hidup yang menjaga alam secara komprehensif. Secara kemasan semua menggunakan daur ulang termasuk kantong plastik telo bag yang ramah lingkungan. Sedotan plastik sudah diganti dengan sedotan bambu, yang bikin terhenyak bagi yang baru menikmati sajian di cafe ini.

Photo : ‘Hawu’ Perapian tradisional di rumahku di kampung kelahiran / dokpri.

Apalagi kayak diriku yang lahir dan masa kecil di kampung, pas dapet sedotan kayu itu langsung teringat sama ‘songsong’, alat tiup buat ngebesarin api di kayu bakar yang menjadi bahan utama perapian kampung yaitu ‘hawu’.. heu heu heu heu.

Sajian makanannya berbasis sayuran beraneka daun, lalu bahan makanan seperti telur omega 3, shorgum, roti gandum, serta banyak lagi pokoknya mah….

Pesanan pertama, ‘Vietnamese Noddle Salad’…. wow sajiannya kereen, aneka rupa dan warna warni, langsung aja ambil posisi dan photo dulu, tuntutan jaman. Isinya vermicelli, mix green, carrot, cucumber, bean sprout, tofu, coriander, chicken, roasted peanut, mint, chili, vietnamese fressing, pita chip.. (copas dari catatan menu ini mah…:))

Minumnya teh panas aja, ada 4 pilihan. Yaa pesen salah satu, pake teko kaca dan bisa refill 3x… lumayan bisa ngirit.

Sebelum dinikmati, dressing vietnamesenya dituangkan ke sajian. Lalu perlahan dicoba….

Rasa asam dressing bikin sedikit dahi mengernyit, juga ada berbagai rasa yang berbeda dengan ekspektasi menari di lidah menyajikan kesegaran. Asam, manis, harum dan segar berpadu menjadi sajian rasa berbeda. Untung saja perut ini mudah menyesuaikan dan hanya memiliki 2 opsi terhadap makanan, yaitu enak dan enak banget, jadi mari kita nikmati.

Seiring waktu istirahat yang akhirnya habis, pertemuan singkat sambil maksi inipun harus usai.

Meninggalkan kesan yang banyak, baik dari sisi pertemanan, juga pengalaman rasa makanan sehat yang berbeda, juga jangan lupa urusan harganya.

“Makasih masbro atas traktirannya, jangan kapok yaa”

Kami berpisah dan kembali memasuki ritme kerja yang meniti waktu dengan segala dinamikanya, wassalam (AKW).

Bukan Kopi tapi Makanan Sehat-i

Bukan hanya kopi tapi makanan sehari-hari bisa menjadi inspirasi.

Photo : Soup buah ala Serasa / dokpri

CILAKI, akwnulis.com, Setelah membombardir kawan sahabat, kenalan, bos-bos dan berbagai kontak di aplikasi whatsapps dengan link tulisan blogku ini, ternyata feedbacknya variatif. Mayoritas memuji tetapi ada juga sebuah cibiran yang mengiris hati. Trus dari sisi kesadaran membaca isi blog via link yang dikirimkan via japri, ternyata masih dibawah 50%… oalaaah, kebanyakan baca judul dan mini judul… udah aja ngasih simbol jempol.

“Lho kok tau panjenengan?”

“Jamannya wis canggih, ada data statistik yang bisa diolah lho”

Tapi tidak mengapa, itu semua nggak bakalan ngelunturin semangat menulis ini. Meskipun nulis tanpa kerangka baku, yang penting aliran ide dalam kepala menjadi buah pikir yang tersaji melalui tulisan, meskipun bukan cerminan utuh diriku yang fana ini.

Photo : Kopi Luwak Lembah Cimanong dijagain sama tikus besar.. eh luwak aneh / dokpri.

Banyak juga yang komplain dengan tulisan nglanturku tentang kopi.

“Kopi lagi kopi lagi”

“Mbok ya ngirim kopinya gitu lho, bukan tulisan aja”

“Bosen ih, ganti nulis yang lain donk”

Tapi tidak sedikit yang mendukung, apalagi dilanjut ngajak ngopi… ini yang asyik. Ada juga yang ngirim sampel kopi untuk diseduh sendiri dan minta dibuat review di blog ini.

Alhamdulillah, dengan tulisan tentang kopi, blog ini terus bisa tersaji. Karena kopi itu bisa ditulis dari berbagai sisi dan dimensi. Terkadang miliki makna hakiki atau juga hanya menjadi perlintasan malam yang sepi.

Kini menulis tentang hal bisa, yaitu menu makan siang. Hal yang biasa tetapi ternyata miliki berjuta makna.

Konsepnya adalah makanan berbasis sayuran dan buah, tetapi dengan penyajian yang apik biss memberi nilai tambah dan tentu urusan harga bisa berbeda.

Photo : Sajian salad roll ala Serasa yang ciamik / dokpri

Makan siang kali ini, adalah Salad roll dan soup buah ala Cafe Serasa yang bertempat di Jalan Cilaki Bandung, depan Pet Park dech atau klo yang doyan makanan jepang, diseberang bunderan Shabuhaci.

Aneka sayuran dibungkus pake kulit kayak lumpia gitu tapi tipis banget sehingga terlihat transparan. Dalamnya ada wortel, paprika, mentimun, kol ungu dan apalagi yaa?… disajikan dengan dressing home made yang rasanya enak.

Capit pake sumpit, celup ke mangkuk kecil dressingnya.. happ, nyam.. nyaam.

“Kenyang nggak?”

“Nggak euy hehehehe”

Buat ngenyanginnya pesen soup buah yang ditata ciamik, diatasnya ada taburan cornflake. Buahnya potongan apel, buah naga, semangka, mangga, melon dan…. euh keburu abis dimakan.

Oh ya dressingnya itu yoghurt lembut dengan rasa halus, terasa menyatu disaat masuk ke mulut, ada sedikit asam dan segurat rasa manis.

Gitu dech makanan kali ini, insyaalloh makanan sehat dan sehat-i, Wassalam (AKW).