PERTEMUAN TAK SENGAJA

Keindahan bergerak di catwalk.

BOJONGHALEUANG, akwnulis.com. Pertemuan tak disengaja diri ini dengannya menyisakan sebuah kenangan tak terlupa.

Betapa tidak, dibalik kegarangannya tersimpan bentuk keindahan yang tak bisa diungkap dengan kata-kata.

Dikala dikau berjalan meniti catwalk rumput kehidupan, maka terlihat gemerlap dan keyakinan serta rasa percaya diri yang pas dan tidak berlebihan.

Meskipun memang jikalau ada yang berani mengganggumu dengan secuil sentuhan saja, maka konsekuensi ketidaknyamanan akan diterima tanpa banyak pertanyaan.

Maka tidak ada kata lain yang lebih berarti, kecuali mengabadikan gerakanmu agar tersimpan abadi di hati. Jikalau dikau pergi dari pandangan dan menghilang dibalik catwalk kehijauan itu, maka siluet dan bentuk rumbai keindahanmu akan selalu dikenang.

Photo : Meniti catwalk kehidupan / dokpri.

Selamat menjalani catwalk kehidupan selanjutnya, jangan pernah menyerah karena kehidupan ini adalah anugerah. Wassalam (AKW).

MAKANAN MEWAHku.

Makanan mewahku…. Yummy.

SUINDA, akwnulis.com. Semilir angin malam membawa pesan tentang sebuah keinginan yang terpendam dan tertahan dalam hitungan bulan. Ini telah menginjak bulan ke 12, dimana kendali keinginan terus dikuatkan sari segala macam godaan, momentum kesempatan hingga kenekatan untuk mencoba meskipun belum saatnya.

Tetapi akhirnya pertahanan jebol juga, apalagi keharumannya begitu menguasai indera penciuman dan indera perasa… akhirnya diputuskan saja untuk nekat mencoba.

“Pesen satu juga Mang, Pake cengek dan gehu”

“Mangga cep”

Maka proses memasak dimulai, dan cuping hidung bergerak-gerak tak sabar karena terpapar keharuman.

Hanya hitungan 5 menit, sajian kenikmatan yang ditunggu-tunggu sudah datang. Semangkok indomie rebus ditambah telor ceplok, irisan cengek (cabe rawit) dan gehu besar (gorengan yang berisi tahu dan toge) yang pedaas… duh ngaruy… air liur mulai menggenang di bawah lidah…. kabita.

Inilah sajian makanan mewah yang akan segera dinikmati.

Mewah apa nya, itu khan gampang ada dimana-mana”

Pasti sebait tanya akan hadir menghibur suasana. Memang indomie rebus mah ada dimana-mana, tetapi itu baru dari sudut pandang kehadiran.

Setelah hadir, maka perlu tambahan kesempatan untuk menikmatinya… ini tituk pentingnya. Karena setiap orang berbeda.

Dahulu di masa masih asrama dan kost nebeng sementara maka sajian mie rebus ini adalah makanan pokok. Baik nongkring.. eh nongkrong di warung indomie bersama secangkir kopi dan bubur kacang alami ataupun secara mandiri menyeduh menggunakan air panas. Lalu ditali dengan karet dan biarkah matang bin beukah sebelum akhirnya bisa dinikmati… nikmatnya kala itu.

Photo : Indomie telor cengek gehu / dokpri.

Tapi sekarang… menjadi MaKANAN MEWAH bagiku karena menjadi daftar makanan yang hanya boleh 3 bulan sekali.

Punya dosa apa dia?”

“Bukan masalah dosa, tetapi situasi yang memaksa sehingga terpisah dari kenikmatannya”

Jadi dosa besar indomie itu karena kenikmatan dan kepraktisan dalam pengolahan dan penyajiannya. Sehingga ketagihaaan….. hehehehehe… sebenernya bukan hanya indomie… saudara sesama mie lainnyapun sikat abiis… supermi, mie sedap dan yang lagi hits sekarang itu mie lemonilo…. pokoknya sabangsaning mie… termasuk popmie.

Dengan kenikmatannya sangat berkontribusi positif dalam membuat tubuh ini meninggi ke samping kanan kiri alias menggelembung tak teratur hingga mencapai batasan PSK (pemuda seratus kilogram)…… ohhhh tidakkk.

Maka jadilah indomie dan saudara-saudaranya menjadi makanan mewah karena kenikmatannya dan dibatasi menikmatinya…. 3 bulan sekali aja…. kasiaaan deh aku.

Jadi mari kita syukuri kenikmatan Allah SWT atas kemudahan kita menikmati makanan dan minuman yang selama ini dirasakan oleh kita dengan kemudahan mendapatkannya. Have a nice weekend kawan. Wassalam (AKW).

NGOPAY Kaum Rebahan.

Nikmati lagi sajian coffee, suatu hari nanti.

Photo : Coconut Milk Coffee WP / dokpri.

KOSUIN, akwnulis.com. Mendamaikan rasa dan menge-charge semangat bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Beraneka aktifitas tentu akan menjadi pilihan yang sangat menyenangkan, dari mulai jalan bareng keluarga atau masak bareng di rumah hingga naik gunung atau menikmati adrenalin terpacu menggunakan motor trail dan kendaraan offroad menembus alam liar yang (mungkin) belum terjamah.

Makan bareng di cafe, restoran, kedai atau rumah makan bersama keluarga di hari libur serta sambil ber-tawaf di mall adalah aktifitas kebersamaan yang biasa dilakukan oleh keluarga pada umumnya.

Tapi….. sekarang semuanya berbeda.

Kebersamaan yang paling mudah dengan beredar di mall, makan bareng di restoran berkongkow bersama kawan, kolega, keluarga atau sanak saudara …. sekarang penuh kekhawatiran karena pandemi virus tak kasat mata sedang mendera.

Menjeda bersama, menahan keinginan untuk semua aktifitas itu ternyata berat rasanya.

Sekaranglah kesempatan untuk mengubah haluan kebiasaan dimana awal tahun lalu gerakan kaum rebahan itu dipandang sebelah mata. Tetapi sekarang, pilihan menjadi kaum rebahan ternyata bisa mencegah kehancuran dunia karena bisa memutus rantai penyebaran virus covid19 yang ternyata semakin merajalela.

Jadi, marilah rebahan di rumah, yaa.. agak bermalas-malasan di rumah… meskipun ternyata setelah 9 bulan berusaha menjadi kaum rebahan…. eh bosan jugaaa…

Photo : Nasgor WP / dokpri.

Tetap pertahankan kemalasan… eh kaum rebahan ini sebelum jelas bahwa pandemi ini tuntas.

Karena, jika sudah terpapar. Urusannya panjang dan berdampak tak terbayangkan. Selama kita berusaha menghindari, Insyaalloh akan terlindungi.

Jadi, maafkan kawan. Jikalau diriku ini seakan menghilang dari peredaran. Sulit diajak makan bareng diluar meskipun katanya ini mah restoran terbuka di alam.

Jikalau terpaksa makan bersama, pasti memilih yang meja kursi hanya berdua, duduk berhadap-hadapan dan terpaksa bergiliran membuka maskernya. Hikmahnya adalah, jika kita sedang buka masker dan menyantap makanan maka yang ada dihadapan kita tetap tutup masker sambil bonusnya bisa melihat wajah kita yang sedang mengunyah dengan seksama…. begitupun sebaliknya.

Jadi, untuk mengobati kekangenan menikmati makanan dan merasakan enaknya ngopay, tak ada salahnya memposting sajian kopi dan juga pilihan menu makan siang di sebuah tempat makan yang rimbun alami dan mendamaikan hati.

Meskipun para pembaca tulisan ini jangan terjebak dengan momentum, ini bukan info update tetapi dokumentasi aktifitas beberapa waktu lalu sekaligus mengobati kerinduan akan kenikmatan makan dan ngopay diluar kediaman.

Kalau mau info update, tinggal pilih aja media online ternama atau nyalain televisi dengan saluran umum yang ada. Pasti info hangat dan terbaru yang akan hadir tersaji di gadget kesayangan kita.

Sekali lagi, selamat mempertahankan status menjadi kaum rebahan yang bisa menyelamatkan dunia sambil posting gambar-gambar aktifitas masa lalu yang tentunya bisa kembali kita lakukan setelah badai pandemi ini berlalu. Wassalam (AKW).

Pake MASKER Yuk.

Minimal pake MASKERnya Guys…

LEGOK EMOK, akwnulis.com. Liburan pergantian tahun disarankan untuk dihabiskan dengan bercengkerama bersama keluarga tetapi karena sebuah komitmen tugas sekaligus menjadi bodyguard ibu negara yang bertugas di instalasi gawat darurat yang juga rentan dengan kemungkinan hadirnya si covid19.

Jadi antisipasi pencegahan menjadi utama, masker tak pernah lepas dari wajah dan selalu menggunakan hand sanitizer atau mencuci tangan jikalau ada kesempatan. Apalagi pas pulang ke rumah, semua pakaian kotor langsung di rendam cairan detergen bersama dettol. Peralatan elektronik, dompet dan pernak pernik segera bergabung di mesin steril untuk menerima paparan sinar ultraviolet selama 10 menit. Tentu smartphone diusakahan dalam keadaan mati demi melindungi aplikasi dan berbagai komponennya dari paparan sterilisasi.

Mandi dan keramas sehari 3x sudah menjadi hal biasa, ini ihtiar sederhana manakala keluar rumah, kemanapun, sebentar atau lama maka wajib melakukan mandi plus keramas. Tujuannya sederhana untuk melakukan pencegahan, sebuah iktiar adaptasi kebiasaan baru dalam suasana dunia yang sedang dilanda pandemi.

Bosankah dengan rutinitas ini?”

Tentu bosan, apalagi orangtua dan anak yang praktis tak pernah keluar rumah. Tapi itulah sebuah kenyataan yang harus dijalani semua. Melatih kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi demi menghindari terpapar oleh virus yang tak jelas bentuknya tetapi nyata dampaknya.

Photo : Perlengkapan pencegahan / dokpri.

Nah, dikala melihat media sosial. Terlihat betapa banyak rekan-rekan, saudara-saudari yang beredar berwisata bersama keluarga besar juga tidak sedikit yang mengabaikan penggunaan masker atau pake masker tapi hanya hiasan… ah hanya bisa mengelus dada….. Inilah kenyataan yang ada.

Sulit memang untuk mengendalikan diri dari hasrat beredar dan bersua bersama keluarga, kolega dan handai taulan yang ada apalagi dalam momentum liburan yang memang cukup berharga.

Tapi, pengendalian diri bersama yang sebenarnya bisa mencegah semuanya. Sayangnya tidak semua miliki kendali yang sama, sebagian men-justifikasi bahwa beredar terbatas itu tidak mengapa. Padahal penyebaran covid ini sudah tidak pandang strata, siapapun bisa kena dengan dampak yang berbeda-beda.

Maka cara terbaik adalah kendalikan diri, kendalikan keluarga terdekat kita agar tetap patuh dengan protokol kesehatan yang ada.

Jangan terjebak oleh stigma bahwa orang yang mati-matian mencegahpun itu bisa kena. Itu ranahnya Takdir Illahi Tuhan Yang Maha Kuasa, tetapi jikalau kita sudah berusaha mencegah, insyaalloh hikmah dan berkah akan melindungi kita semuah….

Memang sekarang semua berbeda, serba terbatas dan penuh rasa khawatir yang mendera. Tetapi ingat kawan, kepedulian dan kedisiplinan kita yang akan membuat kita bisa melewati cobaan ini bersama.

Selamat berlibur panjang dan tetap menjaga diri dengan mengutamakan protokol kesehatan.

Minimal pake masker

Minimal itu….

Ah gemes deh, semoga semua diberi kesadaran untuk bersama-sama mencegah penyebaran dengan pengendalian diri dan tak banyak beredar.

Kalaupun harus beredar, maka bersih-bersih raga, peralatan dan juga jiwa ditenangkan sebelum kembali berkumpul dengan keluarga. Wassalam (AKW).

ULAT & CINTA

Ekspresi Cinta memang tak berbatas.

LEGOK EMOK, akwnulis.com. Pagi yang cerah diisi dengan berjalan kaki ringan dan menerima sentuhan lembut paparan mentari pagi. Bergerak di sekitar rumah sambil menikmati kehijauan tanaman sudah cukup menjadi obat kegalauan.

Sudut mata terdiam dikala melihat gerakan gemulai tapi sedikit garang. Merayap ringan diatas dedaunan kehidupan, setelah kenyang menikmati sarapan yang bergiji dan penuh rasa kehijauan.

Hanya saja yang menarik hati adalah sebuah jejak yang ditinggalkan setelah tuntas sang ulat makan siang. Dedaunan yang begitu renyah dan segar, memberi imunitas dan harapan bahwa sang ulat berumur panjang. Apalagi jejak yang tertinggal ternyata merupakan ekspresi diri bahwa cinta kasih itu tiada batas.

Karena diperhatikan dengan seksama, bekas makan sang ulat itu berbentuk lambang cinta, alias love… silahkan saja perhatikan… betulkan love oh love

Penasaran deh, maka sang ulat dicegat dan ditanya baik-baik, “Betulkah itu ungkapan cinta?”

Ulat tersenyum sambil memamerkan bulu-bulu halusnya, lalu berkata, “Memang nggak boleh kami mengungkapkan cinta?”

Ah ternyata yang hadir malah sebuah tanya, dan jadi terdiam tak berani menjawab karena jika dibahas tentang ungkapan cinta tentu tidak tuntas dalam satu masa.

Apalagi terlihat bahwa sang ulat sudah mulai memperlihatkan taring dan siap melepaskan bulu-bulu tajam yang bisa menggatalkan dunia andaikan perbedaan pendapat ini meruncing menjadi silang pendapat tak berkesudahan.

Maka cara terbaik adalah diskusi hangat tanpa perlu menyinggung rasa dan utamakan tentang bagaimana menjaga dan merajut cinta meskipun jelas secara phisik berbeda.

Maka, marilah kita berdampingan dan menjaga rasa tanpa perlu bingung menafsirkan simbol cinta. Karena semua mahluk punya rasa, miliki harapan dalam memaknai cinta dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jika masih belum faham dengan semuanya, maka cobalah untuk bercinta.. ups.

Sang ulat tersenyum sambil berlalu dan duniapun kembali berlanjut menapaki waktu. Wassalam (AKW).

IGA BAKAR.

Met Maksi yaa….

CIMAHI, akwnulis.com. Judul tulisan ini terinspirasi dari sajian makan siang suatu waktu yang lalu di sebuah cafe yang menyajikan menu makanan ini. Saat ini agak terbatas untuk makan di restoran atau cafe, atau malah tidak sama sekali nongkrong-nongkrong demi menjaga dan mencegah hadirnya virus covid19 yang memiliki seribu wajah.

Kangen nggak maksi di resto bersama kolega atau keluarga?”

Jawabannya pasti variatif, tapi penulis lebih memilih untuk sementara menahan diri. Jikalau kangen dengan menu-menu ini, maka carilah dokumentasi-dokumentasi yang lalu dikala masih bebas menikmati sajian menu resto baik dengan kolega ataupun bersama keluarga tercinta.

Pilih photonya dan bayangkan kenikmatannya… Yummy.

Nah kembali ke sajian Iga bakar ini, terlihat bahwa sudah lengkap dan siap disantap. Tapi pada saat Basmallah sudah terucap dilanjutkan dengan, “Allohumma bariklana Fii ma rozaktana wakinna adza bannar”… lanjut kepala sendok mengeduk nasi dan daging iga,……. hmmm… terasa ada yang kurang.

Terdiam sesaat sambil meneliti sajian yang ada..

Ternyata, semangkok kuahnya yang belum hadiiir. Karena menu yang dipesan adalah Iga bakar, berarti kuahnya dipisah. Beda dengan iga biasa, pasti bersatu dalam satu mangkok kuah.

Untung aja nggak keburu disikat abis, khan jadi nggak elok jikalau kuahnya datang belakangan dan lanjut di minum pake sedotan hehehehe.

Perlu ketelitian dan kesabaran dalam memaknai dan menikmati sajian makan siang. Berdoa yang utama tetapi teliti terhadap sajian, itu penting juga.

Jadi tahan dulu menanti hadirnya semangkok kuah, untuk selanjutnya dinikmati bersama iga bakar yang sudah stanby di depan mata.

Selamat makan siang… eh makan nasi dan lauknya dimanapun saudara berada… nyam nyam, Wassalam (AKW).

MUTIARA HIJAU MUDA

Olahraga pagi & berjumpa dengan mutiara hijau muda.

BojHaleu, akwnulis.com. Pagi yang cerah diisi dengan momen bercengkerama bersama alam. Mencoba meresapi kemasing-masingan meskipun bersama karena masih takut dengan droplet yang berterbangan manakala bercakap bersama kawan setia.

Bersepeda berdua adalah pilihan tepat, karena bisa memaknai keindahan pagi tanpa khawatir terjebak kerumunan yang hadir jika gowesnya berombongan.

Bukan tidak mau, tapi khawatir pas istirahat bersama setelah gowes terus ‘meriung‘ botram bersama komunitas. Biasanya klo makan minum, dipastikan masker dibuka bareng-bareng. Disitulah kemungkinan sicovid berkeliaran… jadi maafkan jikalau menghilang dulu dari peredaran.

Setelah lelah bersepeda, maka perlunrehat sejenak sambil bercengkerama dengan alam sekitar yang memghijau menyegarkan.

Sembari beristirahat di keteduhan, tak sengaja melihat sebuah …. atau lebih tepatnya sekumpulan mutiara muda hadir dihadapan. Berbaris rapih dalam nuansa kehijauan. Salah satu ciptaan Allah yang harus menjadi bentuk syukur kita, karena betapa indahnya dan presisi sehingga sangat menarik hati.

Memang tidak bisa memiliki tetapi sesaat bisa memandang sambil mengamati, relatif bisa mengobati keinginan memiliki dan menyadari bahwa sangat kecil untuk dibawa pulang apalagi dibuat sebagai bagian dari perhiasan.

Kenapa tidak bisa dibawa pulang?”

Karena ini bukan milikku, ini adalah mutiara muda milik alam yang selanjutnya mengikuti siklus kehidupan untuk menjalani takdirnya menjaga keseimbangan dan menuju kesempurnaan.

Sambil beristirahat dan menghirup udara pagi, kembali berbincang dengan pasangan yang juga bersemangat ‘sasapedahan‘, membahas banyak hal termasuk keberlanjutan nasib mutiara muda yang menawan.

Tak perlu lama menunggu kepastian, karena alam menjawab dengan caranya yang diluar perkiraan. Mutiara mudanya bergerak dan berubah menjadi pasukan baru yang lucu dan menggemaskan.

Inilah sebuah kenyataan yang membukakan mata bahwa apa yang kita lihat belum tentu seperti apa yang kita sangkakan. Maha Besar Allah dengan segala macam ciptaannya. Wassalam (AKW).

NGOPI di Warung Pinus

Mlipir dulu demi kohitala dan suasana.

Photo : Kohitala Arabica Cibeusi Subang / Dokpri.

Sagala Herang, akwnulis.com. Ketika semilir angin menenangkan jiwa, saat itulah suasana hatipun menjadi tenang. Sesaat terbebas dari beban pekerjaan dan sejumput hutang perasaan.

Berisiknya kicau burung di pucuk pinus, menghantarkan suasana menjadi lapar dan haus. Apalagi seharian didera oleh acara yang super serius, inilah saatnya untuk lupakan badan kurus dan pipi tirus dengan menikmati makanan dan minuman yang tanpa embel-embel kasus.

Lokasinya memang cukup tersembunyi, tetapi menjanjikan suasana yang mendamaikan hati. Jikalau dari Bandung, maka sebelum memasuki Ciater ada jalan ke kiri menuju daerah Sagalaherang Kabupaten Subang. Beloklah dan nikmati perjalanan dengan ditemani hamparan kebun teh yang menghijau dengan jalan relatif mulus dan menurun. Jalannya agak kecil sehingga jikalau ‘pasanggrok‘ atau berpapasan dengan kendaraan lain harus sedikit menepi dan berhati-hati. Apalagi jika tiba-tiba menepi di hatinya, hati-hati jika ternyata hatinya sudah milik yang lain…. ahaay apa seeeh?.

Cara paling gampang ke lokasi cafe ini, yaa google map saja dengan key word ‘warung pinus sagala herang‘…. perlu pake kata sagala herang karena di bandungpun ada nama cafe yang sama.

Tiba di TKP maka akan disambut dengan suasana hutan pinus yang mendamaikan, dengan fasilitas cafe yang cukup lengkap. Terutama toilet dan mushola, klo makanan minuman jelas harus enak donk…. ditambah dengan berbagai varian kopi yang bisa dibuat secara manual dengan berbagai pilihan, diantaranya vietnam drip, V60, aeropress dan shypon. Klo espresso, americano sudah jelas ada dan tentu turunannya ada picollo, creme bruele, avogato, cappucinno dan latte….. ah siap-siap srupuuut…

Maka tanpa banyak pilih memilih menu, diputuskan untuk memesan kohitala (kopi hitam tanpa gula) dengan metode manual brew V60. Pilihan beannya adalah kopi dari Subang yaitu arabica Cibeusi.

Arabica Cibeusi adalah kopi yang ditanah dan di olah penduduk di wilayah Ciater khususnya daerah Cibeusi. Lokasinya dari jalur arah pemandian Sari ater ada jalan masuk ke pemukiman penduduk. Melewati juga villa-villa di Sarialam dan terus aja (itu kata pegawai kafe yang diinterogasi dengan kelembutan).

Photo : Soto ayam Warung Pinus / dokpri.

Dengan bean 14gr dan panas air seduhan 90° celcius. Maka hadirlah sajian kopi yang menggugah hati. Keharumannya nyata dan rasanya cenderung body medium dan acidity medium dengan profile after taste ada selarik manis fruitty yang menggemaskan. Nikmat pokoknya mah.

Sebagai makanan pendukung maka semangkok soto ayam lengkap dengan nasi, sambal dan jeruk nipis menemani perjalanan kuliner kali ini. Panas, enak dan suasana tenang melengkapi momentum makan siang menjelang sore dengan segala kesenangan.

Selamat makan dan ngopay kohitala kawan, bukan maksud ‘ngabibita‘ (bikin orang jadi pengen) tetapi ini memang nyata. Wassalam, (AKW).

***

Kopi AR Baliem

Tafakur, Syukur dan Kopi.

Photo : Sebuah Suasana Kedai Kopi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pagi menjelang siang dikala hati terasa ‘marojèngja‘, atau ada perasaan nggak puguh gitu. Cus cos atau khawatir tak beralasan, maka istigfar segera agar diberikan ketenangan rasa.

Hidup memang penuh dinamika, duka dan suka berkelindan dalam labirin takdir yang terkamuflase sempurna. Tinggal akal sederhana yang mencoba mencerna fenomena dengan berbagai prasangka. Terkadang muncul buruk sangka, tetapi diusahakan dihilangkan dengan berbagai cara, karena buruk sangka bisa menggerogoti otak dan jiwa.

Apalagi tak terima dengan takdir yang menimpa, ini bahaya. Karena takdir adalah niscaya dan cara terbaik adalah menerima, mensyukuri dan memaknai hikmah di balik semuanya.

Photo : Segelas Kopi AR baliem / dokpri

“Kenapa takdir harus ditafakuri dan disyukuri?”

“Karena takdir adalah sesuatu yang telah atau sudah terjadi”

Jadi pintar pintarlah memaknai semua yang telah terjadi dan menerima dengan sebuah kepasrahan hati dan diri.

Meskipun tahapan menerima kenyataan adalah sebuah langkah perjuangan melawan pergulatan diri yang terkadang masih terjebak dengan egoisme, kebingungan, ketakutan dan juga rasa berbeda dari orang kebanyakan.

Masing-masing orang memiliki permasalahan dan kelemahan, aib serta kesulitan. Tetapi Allah SWT menutup semuanya dengan menjaga derajat dan martabat kehidupan salah satunya dengan bentuk tubuh dan fungsi yang sempurna padahal kemana-mana kita semua membawa kotoran atau calon kotoran dalam tubuh kita.

Marilah kita senantiasa bersyukur atas kesempatan hidup ini.

Dikaitkan dengan salah satu kenikmatan kita menyeruput sajian kohitala (kopi hitam tanpa gula) maka kali ini bisa menikmati sebuah sajian kopi dengan manual brew v60 yang menggunakan biji kopi nun jauh disana di tanah papua.

Jika dahulu di kelas geografi kita mengenal Suku Dani dan cerita lembah baliem Irian jaya, maka saat ini ingatan itu dihadirkan kembali oleh segelas kopi arabica baliem dengan aroma khas kopi organik tanpa bahan kimia serta menyertakan selarik rasa manis yang menggugah selera.

Sruputan pertama dan diikuti sruputan selanjutnya menyegarkan jiwa dan menyemangati raga untuk terus berkarya selama berkesempatan menapaki dunia fana.

Happy wiken kawan semua, selamat berkumpul bersama keluarga dan menjaga semangat untuk tetap menjadi individu berguna, Wassalam (AKW).

NgeTEH PAGI

Yuk ah, NgeTEH dulu.

KBB, akwnulis.com. Cangkir bening kosong dan sebekong seduhan teh panas siap minum menemani kebersamaan pagi ini. “Bersama siapa kakak?”

Ah sebuah tanya menggelitik jiwa, bersama suasana sudah cukup menjawab pertanyaan kepo tadi.

Sudahlah tidak usah banyak bertanya, biarkanlah siapapun menjalani kehidupan. Tidak perlu menghakimi nilai-nilai kehidupan orang lain dengan nilai standar kehidupan kita. Masing-masing berbeda kawan.

Jadi biarkan diriku ini menyeruput teh panas sendirian sambil bersyukur atas nikmat kehidupan ini. Tidak perlu bertanya juga jikalau ternyata take awaynya banyak, untuk siapa aja ya? Apa aja isinya…… biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya.

Tapi ternyata rasa penasaran dan ingin memaksakan standar nilai kepada orang lain itu seolah candu, jadi kembali hadir pertanyaan beruntun yang secara santun harus diberi jawaban.

Sabar, karena sabar itu nggak ada batasnya.

Begitulah sebuah fragmen pagi tidak lepas dari pengendalian diri dan sabar.

Maka kembali dituangkanlah teh panas ke cangkir untuk selanjutnya di sruput penuh kenikmatan. Segaaar….

Meskipun jangan lupa kawan, protokol kesehatan tetap menjadi pedoman. Jangan lupa gunakan hand sanitizer, tetap berdoa dan jaga jarak dengan pengunjung ataupun pegawai yang ada. Kalau masker ya musti dibuka dulu, lha gimana nyruput teh nya atuh, nyimpen maskernya hati-hati.

Bukan cerewet kawan, tetapi iktiar pencegahan adalah tugas kita semua.

Kenikmatan teh panas pagi ini sebenarnya menyisakan kesempatan untuk direfill satu kali lagi, lumayan sebekong lagi. Tetapi dengan berat hari kesempatan ini dilewatkan karena masih banyak tugas yang harus dikerjakan. Besok lusa bisa dilanjutkan tentu tidak sendirian, bersama istri dan anak kesayangan.

Itulah cerita ngeteh pagi yang terasa begitu berarti. Selamat menikmati sisa wiken kawan, bersiap menghadapi esok hari yang menjadi rutinitas hakiki. Tetap semangat tapi juga hati-hati, Wassalam (AKW).