Kolam renang Green Kamojang.

Berenang segar dipadu suasana alam priangan.

Photo : Kolam renang dewasa Green Kamojang / dokpri.

GARUT, akwnulis.com. Gunung Guntur menjulang menjadi latar belakang pemandangan yang menyenangkan. Riak air kolam mengharu biru berpadu serasi dengan kehijauan dan deretan patung hewan penyembur air… ahhh segarnya, tak tahan untuk segera ikut bercengkerama.

Kolam renang dewasa dengan segala fasilitasnya memanjakan rasa mulai dari kolamnya itu sendiri, kursi santai, ruang bilas, handuk dan juga angin segar pegunungan yang senantiasa bertiup membawa harapan dan kenangan, begitupun kolam anak dengan kedalaman 60 cm menjadi pilihan untuk ‘ngasuh‘ sang buah hati.

Photo : Kolam renang anak / dokpri.

Apalagi pagi hari masih sepi, sehingga kolam renang serasa milik sendiri… Alhamdulillah.

Pilihan perjalanan kesini jika diestimasi sekitar 65 km dari bandung jika menggunakan akses tol cileunyi – rancaekek – ibun – kamojang – lokasi… ya klo tanpa kemacetan sekitar 2 jam, tetapi beberapa titik macet di jalan rancaekek – ibun perlu menjadi perhatian.

Pilihan lainnya adalah akses jalan nasional ke arah kota garut dan setelah itu menuju Green Kamojang resort, agak memutar tapi relatif kemacetan (kemungkinan) di daerah rancaekek pas bubrik (bubar pabrik) serta di Nagreg. Kalau sudah sampai kota Garut tinggal 10 km lagi menuju lokasi.

Balik lagi ke kolam renangnya, posisinya agak unik karena terletak di lantai 2, jadi aksesnya dari restoran naik tangga ke atas, ada ruang pertemuan dengan kapasitas sekitar 60 orang (maaf kira-kira)… nahhh depannya adalah kolam renang.

Untuk penginapan tersedua cottage-cottage… ah udah ah, entar disangka di-endorse sama Green Kamojang resort hehehe.

Ini mah hanya berbagi cerita dari apa yang ‘kebetulan‘ dialami. Selamat berlibur wiken bersama keluarga tercinta. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
Green Kamojang… eh Kamojang Green Resort.
Jalan Raya Kamojang No.KM.3, Samarang, Kec. Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44161

Kohitala Rest Area.

Tugas mendadak adalah perintah, Kopi hitam tetap bikin hati cerah.

Photo : Kopi Tubruk nangkring dulu / dokpri.

PURWAKARTA, akwnulis.com. Pagi yang cerah menyambut kedatangan raga ini dengan senyum yang merekah, tetapi ternyata sesaat kemudian datanglah sebuah titah perintah, “Sekarang ke Ibukota, ada tugas yang harus dihadiri segera”

Secarik surat dilengkapi lembar disposisi sudah siaga di depan mata, tiada alasan apapun kecuali kertas berisi perintah itu diterima dan segera mencari rekan yang bisa menemani perjalanan dadakan menembus kemacetan ke arah jakarta.

Cap cuss cyiiin.

“Trus gimana uang perjalanan dinas dan dukungan akomodasi lainnya?”

Sebuah pertanyaan klasik yang sering menjadi perdebatan hangat dalam sebuah perjalanan dinas.

Tapi kita coba bahwa itu bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan, jalan saja dulu yang penting jangan lupa bawa lembaran visum perjalanan.

Nah, supaya perjalanan menembus kemacetannya tidak terlalu menjemukan, maka perlu rehat sejenak di perjalanan meskipun hanya sesaat saja.

Photo : Kohitala & Friend / dokpri.

Caranya?”

Pilihan sederhana adalah berhenti sejenak di salah satu rest area jalan tol.
1. Pergi ke ATM, ambil duit.
2. Sarapan
3. Ngopay Kohitala
4. isi bahan bakar
5. Isi e-toll

Khusus langkah ketiga dipastikan pesan kopi hitam tanpa gula, meskipun yang manual-an jarang atau nyaris tidak ada semua rest area… eh ada klo di rest area Cipali.. lha ini khan moo ke jakarta.

Bisa di baca di Kopi Mandheiling Rest Area 166 Cipali.

iya yaaa…. jadi pesan kopi hitam kopi tubruk aja, dengan catatan nubruknya nggak keras-keras, takut terpental. Trus ngambil photonya jangan lupa, sebagai bukti kepada dunia bahwa menikmati secangkir kopi tanpa gula juga bikin bahagia.

Setelah selesai semua langkah…

Go……move move.

Maka pergerakan dilanjutkan dengan kendaraan menjelajahi tol Cipularang- tol Japek dan geser dikit Tol Becakayu menjadi alternatif efektif untuk menghindari (sedikit) kemacetan menuju ibukota.

Di Ibukota sudah menanti Kohitala & Anggreknya.

Selamat beredar kawan, Wassalam (AKW).

***

Lokasi :

Rest Area Km97 arah jakarta, Cafenya yang paling deket dengan tempat wudhu Mesjidnya.

Anggrek & Kohitala.

Cerita kohitala di ujung senja ibukota.

Photo : Nescafe Kohitala / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Secangkir kopi hitam terlihat elegan, dengan bentuk cangkir putih berkelas serta pegangan yang nyentrik menambah suasana berbeda. Padahal kopi yang disajikan adalah kopi nescafe instant lho, bukan kopi hasil seduh manual dengan beraneka komposisi dan prosesi yang dianggap ngjelimet oleh sebagian orang.

Tetapi kembali ingat bahwa ngopi itu tidak hanya dari sisi bean/biji dan prosesinya tetapi juga dari unsur suasana dan kondisi yang ada, jadi nescafe tanpa gula pun bisa menghadirkan suasana nikmat disela-sela kegiatan padat berada di ibu kota.

Rasa nikmat akan hadir jikalau rasa syukur kita senantiasa mengiringi dalam berbagai kondisi. Kohitala tidak harus manual brew saja tapi bisa saja kopi sachet dengan syarat tanpa gula… “Setuju nggak?”

“Setujuuu”

Karena nikmat bisa merasakan kepahitan kopipun adalah bagian rejeki dari Allah SWT, jadi senantiasa syukur menjadi yang utama.

Photo : Bersama anggrek di ujung senja / dokpri.

Selanjutnya kohitala bercangkir putih coba disandingkan dengan vas bunga anggrek yang terdiam di tengah-tengah kursi ruang tunggu. Sesaat saling lirik lalu sedikit senyum simpul dan perkenalan hingga akhirnya berani untuk berphoto berdua. Hasilnya memberikan suasana berbeda yang ternyata cukup sedap dipandang mata, meskipun jangan lupa, kopi di cangkir segera diseruput saja, tapi anggreknya jangan, itu untuk menjadi penghias senja di temaramnya ibukota. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
BJB Precios
Palma One Building, Rasuna Said Jakarta.

Outboundku

Hadir bersama dalam suasana ceria demi hasilkan kata soliditas dan kekompakan yang bersahaja.

Photo : Rombongan Jeep Mogok di Sukawana / dokpri.

LEMBANG, akwnulis.com. Sebuah pertanyaan menggelitik hari ini adalah, “Siapa sebenarnya yang mempopulerkan kegiatan outbound dan apa sih outbound ini?”

Langganannya jelas nanya ke mbah gugel dan om wikipedia yang bantu jelasin, ternyata kegiatan outbound dipopulerkan atau mungkin diciptakan sebagai model pendidikan yang kreatif oleh Kurt Hahn, seorang pendidik dari jerman (kata wikipedia).

Dalam bahasa indonesia disebut ‘mancakrida‘ yang berasal dari kata manca = asing atau luar dan krida = olahraga/perbuatan/tindakan… meskipun terus terang kayaknya jarang denger atau baru tahu kalau mancakrida itu adalah outbound hehehe…

Oh iya outbound itu berarti gabungan kata dari outward dan bound yang merupakan peristilahan bagi pelatihan manajemen dan kepemimpinan di alam terbuka dengan pola pendekatan pelatihan yang unik dan sederhana serta kreatif, karena tidak berdasarkan teori tetapi lebih mengedepankan aktifitas sehari-hari… eh kok malah berteori sih?

Kenyataan yang sering dirasakan mengikuti outbound adalah memang membangun kebersamaan dengan dilandasi keceriaan, penuh tawa canda tetapi tetap jelas hasilnya. Seperti bersama-sama membawa air di gelas plastik beralas kain dan tidak boleh tumpah, memadamkan api tetapi diawali perang air antar kelompok dan banyak lagi aktifitas di luar ruangan yang menyenangkan.

Photo : Menanti ketidakpastian berlatar alam / dokpri.

Tetapi ada hal yang menggelitik pada saat diskusi outbound ini di kalangan orang sunda, karena istilah outbound atau dilafalkan outbond ini adalah berasal dari kata out = luar dan bon = singkatan dari kebon atau artinya kebun.

Karena aktifitasnya pasti diluar ruangan dan biasanya di kebon atau kebun, jadi aja disebutnya outbon hehehehe… ampyun maksaa.. tapi ada benernya juga. “Bener khan?“…

“Klo dolbon apa artinya?”

“Ah kamu mah ada-ada aja, nanti itu di pembahasan berbeda”

Yang pasti outbound kali ini bener-bener nyebrangin kebon eh kebun dan menembus hutan pinus serta kebun teh yang indah menghijau… tapi nggak jalan kaki karena akan menimbulkan kegemporan berjamaah, jadi digunakan media jeep landy yang membawa raga-raga haus refreshing ini menyusuri trek tanah berlumpur dan tebing sempit yang begitu menantang.

Photo : Barisan Landy siap menemani / dokpri.

Raga diombang ambing gerakan jeep landy yang bergerak ganas menghasilkan sensasi perasaan bercampur aduk antara senang, bingung, takut, malu dan juga khawatir.

Ada yang berbadan besar tapi ekspresi penuh ketakutan, ada juga yang tetap santai malah hampir ketiduran disaat guncangan kendaraan semakin menggila.

Ada juga yang badannya timbul tenggelam hingga mengglosor ke lantai landy saking ringannya dan terguncang keras, kasian sih tapi kok jadi tertawa-tawa?……..

Termasuk yang bisa sampai ketiduran, …. aneh memang, tetapi setelah ditanya di akhir perjalanan, dijawab dengan ringan, “Saya sih enak tidur, serasa naik angkutan umum ELF yang melayani transfortasi dari kampung saya dulu di masa kecil, jadi yaa de javu, nikmatt”

Kami berpandang-pandangan, “Kampungnya dimana gitu?”

“Gununghalu”

“Ohhh….”

Itu sih masa lalu, disaat jalan masih rusak dan kondisi alam yang labil sehingga aspal (plastik) akan senantiasa kalah dengan air hujan yang menggenangi jalanan. Sekarang kampung itu sudah maju, jalan mulus dan perekonomian yang jauh lebih baik.

Udah ah… balik lagi keu outbound kali ini. Perjalanan begitu penuh sensasi dan pinggang serta punggung siap-siap dengan segala rasa yang ada. Tetapi kebersamaan semakin terasa dan kebebasan bersuara eh berteriak menjadi kepuasan tersendiri yang nggak mungkin bisa dilakukan di gedung kantor tempat kita bekerja.

Photo : Let’s go Maksi / dokpri.

Di sesí makan siang, suasana semarak makan bersama beralas daun pisang di pinggir hutan melengkapi suasana ‘bermain di kebon’ semakin bermakna. Dilanjutkan acara semi formal dalam lomba sambutan serta bernyanyi bersama yang tak kalah ceria….. eh tidak lupa sebelumnya menyegarkan diri di hangatnya air panas sari ater Subang yang mengandung mineral multiguna.

Selamat menikmati kebersamaan diluar kantor dan akan kembali ke pekerjaan rutin dengan soliditas sempurna. Wassalam (AKW).

Americano Costa Coffee.

Mengumpulkan stamina dan ‘pangacian’ dalam sepi di Costa Coffee.

Photo : Sajian Americano / dokpri.

TANGERANG, akwnulis.com. Berdiam diri dan menyendiri setelah menjalani 2 hari yang penuh sensasi adalah berkah tersendiri. Sambil menunggu si burung besi yang akan membawa pergi, perlu kiranya me-merenahkan (istirahat sejenak) diri dalam sepi.

Tadi menikmati Kopi Toraja di Djournal cafe,…...nikmatt. Tetapi banyak orang, jadi agak mengganggu kesendirian….. aneh khan?…

Jangan bingung, terkadang seseorang yang agak lelah dengan tekanan kehidupan akan butuh sesaat menyendiri dalam dunianya sendiri sebelum kembali menapaki perjalanan hidup yang membentang menanti aksi.

Maka… mlipirlah mencari tempat ngopi yang agak sepi sehingga bisa sesaat menghilang dari kenyataan dan berkutat dalam dunia kesendirian… lokasinya dicari di lantai 2 dan diujung terdapat pilihan tempat yang pas yaitu Costa Coffee. Setelah berada di depan sang barista maka pesanlah kohitala dalam bentuk americano, lalu duduk di kursi ujung yang cukup temaram serta relatif sepi.

Photo : Cafe Costa Coffee / dokpri.

Ahh…. punggung bersandar di dinding yang empuk, terasa nyaman dan menenangkan. sejenak mata terpejam, konsentrasi berada di satu titik. Perlahan tapi pasti aliran darah kembali menemukan jalurnya tersendiri, mengalir di jalur nadi dan arteri yang menjadi jalur vital tubuh untuk tetap berkreasi.

Bukan apa-apa, sebentar lagi perjalanan panjang akan dihadapi, 7 jam berada di pesawat adalah tantangan selanjutnya. Setelah dari 1 hari lalu berjibaku dengan waktu maka sebentar lagi, tantangan baru akan hadir dihadapanku. Semangaat…

“Silahkan Americanonya kakak!”

Sebuah kalimat singkat yang mengembalikan lamunan ini kembali ke dunia nyata, mata terbuka dan sedikit senyum dihadirkan tanpa cela, sambil berucap, “Terima kasih, amsa hamnidaa”… ups belum waktunya hehehehe.

Alhamdulillah waktu 35 menit sebelum memasuki pesawat Korean Airlinespun bisa dimanfaatkan untuk menyandarkan harapan dan memgurangi kelelahan phisik serta beban pikiran tanpa diganggu oleh orang-orang sekitar.

Memejamkan mata bukan tidur sebenarnya, tetapi mengistirahatkan kelopak mata serta membiarkan pikiran tenang tanpa banyak melihat dunia adalah obat mujarab dalam memgembalikan konsentrasi dan stamina. Selamat berkarya kawan, Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
Costa Coffee
Lantai 2 Terminal 3
Bandara Soekarno-Hatta
Harga total Rp 38.160, termasuk pajak & pelayanan.

V60 Toraja di Djournal Cafe.

Djournal cafe tempat ngopi hilangkan cape.

Photo : V60 Arabica Toraja / dokpri.

TANGERANG akwnulis.com. Secangkir kopi menghadirkan kembali semangat untuk terus bergerak lagi, meski sesaat eh dua hari harus bersabar dengan segala prosedur dan perilaku personal yang beraneka rupa.

Pertemuan dengan sang barista, neng Glesnea di Djournal cafe dilanjutkan dengan memilih beraneka bean yang tersaji untuk nantinya segera diseduh tanpa banyak pancakaki. Agak sedih setelah dipilih ternyata tidak ada bean kopi dari jawa barat, adanya Papua, Kintamani, Mandailing dan Toraja.

Photo : Sang baristi dan pilihan kopi / dokpri.

Ya sudah, pilihannya adalah kopi Toraja yang akan segera di eksekusi dengan metode seduh manual V60.

Dengan perbandingan 1: 15 dan gramasi 16gr serta temperatur air 90° maka menghadirkan sebuah sajian kopi yang segar dan mencerahkan malam ini.

Body medium menuju strong, Acidity medium dan Aftertastenya hadir rasa berry plus tamarind memberikan kesempatan rasa untuk ninggal sesaat di ujung lidah dan memberi kesan memori akan sebuah rasa tersendiri.

Photo : Cafe Djournal SHIA / dokpri.

Waktu menunjukan pukul 21.20 wib di Lantai 1 Dekat gate 8 Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Secangkir kopi toraja ini memberi suasana berbeda, memberi ruang hati semakin lega sebelum sebuah perjalanan panjang akan segera terlaksana. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
Djournal Cafe
Terminal 3 Lt.1
Antara gate 7 & gate 8
Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Indonesia.

Harga :
V60 Kopi Toraja Rp. 40Rb
Aqua botol 600ml Rp. 27Rb
dengan pajak jadi total Rp. 74.199.

***

Sarapan 3 menu.

Biar hati galau, makanan tetap disikat tuntas.

Photo : Sarapan 3 menu.

JAKARTA akwnulis.com. Kesabaran berbuah berkah, itulah perjalanan kehidupan yang senantiasa berganti arah, karena yang abadi itu adalah perubahan.

Tidak ada manusia yang bisa menolak perubahan, terutama kaum hawa yang sibuk membelanjakan uangnya untuk atas nama serum anti aging dan sebangsanya juga perawatan dengan berbagai metode yang ada. Hati-hati jangan sampai terjebak terhadap perangkap takdir, takdir itu untuk dijalani, disyukuri dan ditafakuri bukan dilawan dengan sekuat tenaga dan dompet yang berisi.

Perawatan tubuh dan wajah tidak masalah selama niat awalnya adalah menjaga dan memperindah ciptaan Allah. Bukan hanya kaum hawa, para lelaki metroseksual juga melakukannya. Tidak ada yang salah, tapi terpenting adalah luruskan niat pada arah yang sesungguhnya.

Kembali ke cerita sabar yang sudah tertuang di curhat onlenku yaitu
MENANTI JANJI,maka sambil menunggu kepastian mari gunakan waktu yang ada untuk kebaikan, niscaya sabar dan berkah akan selalu berdampingan.

dan…. pagi ini sambil hati deg-degan maka dicoba dilarikan perhatian penuh kekhawatiran yang sudah bertahan 20 jam ini ke arah sajian sarapan yang telah terhidang di hadapan.

Trio breakfast telah hadir menghibur diri untuk mengurangi ketegangan. Disebut trio karena memang ada 3, yaitu bubur ayam + salad + secangkir kopi yang masih panas…. yummmy.

Photo : Secangkir kopi & pangulan diri / dokpri.

Fabiayyi Ala irobbikuma tukadziban... wajib bersyukur setiap waktu guys. Jangankan makanan enak seperti ini, tarikan nafas yang normal karena hadirnya oksigen yang melimpah ruah ini adalah sebagian kecil rahmat dan rejeki dari Allah Swt.

Pertama di makan perlahan bubur ayam dengan menggunakan aliran ‘bubur diaduk‘ dilanjutkan dengan salad lengkap dengan thousand islandnya dan ditutup dengan sajian kopi hotel yang panas mengepul… nikmaat.

Kopi hotel sebagai penutup ritual sarapan pagi ini dan menjadi penghibur penting bagi hati yang masih eh sedang galau karena menunggu kepastian. Selamat Sarapan kawan, Wassalam (AKW).