Caffogato Ngopdul.

Kopi aja berpasangan, kamu gimana?

BANDUNG, akwnulis.com. Malam minggu adalah malam yang tepat untuk sedikit relax dan menarik nafas sejenak setelah senin-sabtu berjibaku dengan tugas dan perintah yang datang bergelombang tanpa ragu.

Hang out bersama keluarga menjadi pilihan utama, khususnya bersama anak istri jalan bersama.

“Kemana?”

Yang pasti jangan lupa sempatkan ngopi meskipun waktu yang ada hanya sedikit lagi.

Kebetulan mampir di cafe Ngopdul dan bersua dengan sajian kopi yang berpasangan, sehingga unrecommend untuk yang jomblo… ups maaff…

Photo : Caffogato / dokpri.

….namanya Caffogato yang merupakan perkawinan silang antara caffelatte dan afogato. Disajikan di wadah berbeda tapi hadir bersama-sama, begitupun meja-meja sekitarnya, para pengunjung adalah mayoritas pasangan anak muda yang sedang pedekate, first date, atau merajut hubungan yang tertunda hingga yang hampir berpisah karena ada penghianatan penuh keluh kesah. Juga 2 meja, pasangan keluarga bersama 2 anak dan orangtuanya…. sungguh bahagia.

Jadi ternyata sajian kopipun berpasangan, apalagi kamu…. baiklah para jomblowan dan jomblowati, jangan patah semangat.

Jodoh di tangan Tuhan, tapi…. kalau kamu tidak berjuang meraihnya… maka selamanya di tangan Tuhan. heuheuheu… cemunguutz… eaaaa.

Sruput dulu…… slurp…. yummmy. Selamat bermalam minggu, bersama pasangan yang sah. Wassalam (AKW).

CaffeLatte & 3 Teh artisan.

Melanggar prinsip Kohitala.

Photo : Kombinasi sajian Caffelatte & 3 teh spesial / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Menjalani fungsi sebagai aktivis kohitala alias penikmat aktif kopi hitam tanpa gula itu perlu perjuangan karena diluar sana aneka godaan mengharapkan prinsip yang dipegang bisa memudar.

Hari ini, godaan kembali datang. Diawali dengan tawaran makan siang dari seorang kolega sekaligus membahas beberapa hal pekerjaan adalah momen yang strategis dan efektif efisien. Makan siang bisa tepat waktu dan urusan pekerjaan bisa dibahas juga diambil keputusan, “Mantap khan?”.

Restoran G&B di Jalan Bahureksa Bandung menjadi tempat pertemuan, membahas berbagai urusan kerjaan sekaligus shalat dhuhur di mushola yang telah disediakan. Pilihan menu makanan sehat segera dipilih sesuai selera sang pelanggan, sayangnya kopi manual brewnya pas habis persediaan…. godaanpun datang.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, pilihan caffelatte-pun dijatuhkan, offcourse without sugar, tetapi campuran steamed milk menjadi hal wajib demi hadirkan gambar dedaunan di permukaan gelas caffelatte yang segera disajikan, hatur lumayan.

Sebagai penyeimbang maka pilihan sajian teh artisan adalah pendamping yang tepat, apalagi dengan suguhan warna yang bervariasi bisa bikin tenang mata dan hati, menemani kesedihan terlanggarnya Kohitala principle.

Photo : Caffelatte & Butterfly Pea Tea / dokpri.

3 sajian teh sekaligus, warna merah adalah wedang uwuh, warna bening kecoklatan dari silver needles tea dan warna biru adalah teh bunga telang (butterfly pea tea) hadir dalam gelas-gelas kecil, menjadi kombinasi syantik bagi sajian siang ini.

Sebenernya pesenanku cuman 1 porsi teh putih atau silver needles tea atau teh jarum perak yang hadir dengan teko kaca dan 2 buah gelas bening kecilnya. Tetapi untuk kepentingan photo yang ideal maka kebetulan rekan lainnya memesan sepoci eh seteko wedang uwuh dan teh bunga telang, maka warna warni gelas kaca kecil yang dapat dihadirkan.

Merah, bening kecoklatan dan mengharu biru mewakili warna warni pembicaraan di siang ini. Fasilitas refill air panasnya hingga 2x menambah semangat diskusi dan habiskan waktu makan siang dalam balutan kehangatan dan keakraban pembicaraan. Perut kenyang kerjaan kelar.

Oh iya, Caffelattenya nggak lupa disruput dan ditelan perlahan sambil ada sedikit rasa bersalah karena ada prinsip yang dilamggar, uhh.. tapi yaa sudahlah… sesekali, atau yang terakhir kali.

Akhirnya waktu istirahat maksipun habis, segera menutup pembicaraam dengan pamitan yang penuh kesantunan untuk kembali ke kantor dan melanjutkan tugas pekerjaan lainnya. Semoga di kesempatan lain bisa kembali bersua dan makan siang bersama dan ditambah dengan sajian terbaik Kohitala (Kopi hitam tanpa gula). Wassalam (AKW).

Melanggar Prinsip Kohitala.

Menyesal tiada sudah, jadi nikmati aja.

Photo : Leaf latte art at Ambrogio / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Pergerakan meniti takdir kehidupan termasuk memegang satu prinsip seerat mungkin, ada saatnya harus berkompromi. Meskipun awalnya berat hati karena sebuah prinsip adalah sesuatu nilai yang harus dipertahankan dan diperjuangkan sebaik-baiknya. Ternyata kehidupan itu dinamis, kompromi dan negoisasi adalah warna yang harus dipilih serta bisa berubah menjadi warna lain dikalau dicampur dalam takaran dan komposisi tertentu.

“Memang prinsip apa yang kamu langgar?”

😭😭😭😭….

“Lha nangis… jawab donk”

“Jadi, prinsip kotala musti dilanggar 😭😭😭”

“Maksudnya?”

“Iyaa sudah hampir 2 tahun ajeg dengan kotala alias kopi hitam tanpa gula, tapi sekarang agak terganggu… oleh susu… eh foam susu”

“Oalaah Tak kirain apaa mas”

Photo : Cappucino Doubletree / dokpri.

Diskusi yang nggak penting terus bergulir, membahas suatu prinsip yang mungkin bukan hal penting bagi orang lain.

Jadi… pelanggaran prinsip ini adalah jikalau selama ini bertahan dengan kotala atau spesifiknya ‘Kohitala(kopi hitam tanpa gula)… sekarang agak bergeser dengan campuran foam susu…

Hal ini terjadi karena berbagai faktor, pertama efek teknis beberapa kali mampir di cafe, ternyata alat manual brewnya nggak ada jadi beralih ke mesin kopi yang pilihannya adalah espresso, dopio, americano dan longblack.

Kedua, masih urusan teknis, grindernya ketinggalan sehingga musti balik ke mesin kopi seperti pasal 1, pilihannya terbatas.

Photo : Rabbit-pucino at Warung Garut / dokpri.

Ketiga, godaan dari barista latte art yang mampu menghasilkan aneka gambar di permukaan kopi dengan beraneka rupa. Dari gambar standar leaf, goose dan love hingga gambar lain yang lebih menantang seperti gambar kelinci dan binatang lainnya.

Keempat, rasanya juga berbeda, enaknya beda, meskipun tetap tanpa gula, jadi pilihannya bisa caffelatte ataupun cappucino…. jangan lupa tanpa gula.

Kelima, hidup memang butuh variasi, begitupun prinsip ngopi tapi yang harus dihindari adalah manisnya gula yang mungkin ngangeni.

Keenam, … apa yaach?…

Udah ah, gitu aja dulu, yuk ngopay yuuk. Wassalam (AKW).

Kopi EDC

Berdinas tetap dapet kopi, double lagi.

Photo : Ice Caffelatte Gesa kopi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Paparan dari para panelis semakin meramaikan suasana, dipandu oleh moderator energic yang akan menyaingi Karni Ilyas – ILC serta yang lebih menarik adalah bertabur pantun baik panelis juga moderator sehingga acara diskusi semakin seru meskipun tetap santun…. pada acara di ruang papandayan gedung sate yaitu acara Esselon Dua Club (EDC)… trus pengantarnya langsung pak Gub RK.

“Lho kok anda ikutan?”

“Alhamdulillah, ditugasin mewakili pimpinan ajah”

“Ohhh….”

Diskusi bertema pemerintahan berjalan seru, dari analisis sudut pandang ekonomi hingga terkait tentang NKRI. Menghasilkan aliran informasi yang saling melengkapi.

Tapi…. bukan itu yang dibahas disini, pembahasannya tetep urusan kopi hihihihi.

Dikala sore menjelang, diskusi sudah mulai mencapai titik akhir. Beberapa peserta diskusi mulai goyah dilanda kantuk dan kebosanan,.. Jreng!!!

Datanglah pasukan senyum, ibu-ibu berkerudung menenteng beberapa gelas plastik bertuliskan ‘cafe gesa’… eh Gesa Kopi.

Sajian caffelatte ala cafe gedungsate yang berlokasi di lantai basement, hadir dihadapan para peserta EDC edisi I ini. Memberi semangat kembali kepada pada peserta untuk menuntaskan diskusi dengan ceria.

Ice caffelatte diseruput pake sedotan plastik transparan, rasa dominan kopi java preanger yang dipadu lembut oleh susu steamnya menghasilkan paduan sempurna caffelatte yang memanjakan lidah ini, yang jelas tidak ada gula diantara kita sehingga rasa kopinya tetap menonjol meskipun dikepung sejumput susu.

Sruputtt… segeeer.

Sambil menyimak diskusi yang hampir berakhir, kejutan ngopay datang lagii…. maklum karena disampingku, Mr JP sebagai bosnya urusan rumah tangga setda…. ada lagi segelas hot caffelatte…. gede miliknya… jadi dapet double nich.

Photo : Hot Caffelatte Gesa Kopi / dokpri.

Hot caffelatte inipun tanpa gula, rasa kopi espressonya tetap terasa ditemani kehangatan susu yang sebenarnya…. meskipun penikmat kopi hitam tanpa gula, tapi sesekali kopi hitam plus kehangatan susu tentu tidak bisa ditolak, yang pasti tidak ada gula.

Sruput terakhir dari hot caffelatte ini berbarengan dengan kata penutupan dari sang moderator, Bapak Dani Ilyas ramdhan, meskipun pantunnya tidak sempat terekam karena terpesona dengan jalinan kata yang berkelindan dalam keindahan. Sampai jumpa di EDC jilid dua (klo ditugaskan lagi maksudnya…).. wawasan dapet dan double caffelattepun dapet… Hatur nuhun ibu bos, Mr ZP dan semuanya. Wassalam (AKW).