TEU PIRA – fbs.

Mung jejedudan wungkul, tapi…

Photo : Sketsa menahan sakit / dokrpi.

Fikmin # TEU PIRA #

*)Sebuah tulisan fiksi berbahasa sunda, terinspirasi dari rasa sakit yang begitu menyiksa.

TEU PIRA (TIDAK SEBERAPA)

Teu pira da ngan saukur, tapi geuning geus karasa nyayautan mah teu bisa ditulung batur.

Teu pira kabeuki tèh ngaheumheum sangu, karasa amis disela huntu. Unggal poè nu aya di pawon ukur sangu jeung uyah beuleum. Teu ngarasula nampi kana qodarna, sawarèh di dahar sèsana dibaheum.

Teu pira tadi beurang aya kurubuk dina beuteung, pas inget boga kèrèwèd pamèrè juragan lebè. Buru-buru dibersihan, diteukteukan laleutik, digalokeun jeung cèngèk ogè sèsa uyah beuleum.

Teu pira dikosrang kosrèng nyieun sangu gorèng, seungit kacida matak bangir irung pèsèk. Pinikmateun geus aya dina tikoro, dahar ngeunah lain kokoro.

Teu pira, karèk gè tilu huap. Aya gajih kèrèwèd asup kana liang huntu nu geus lila mèlènģè. Jeduddd…… aduuuuh anjrit, baham calangap, panon cirambay.

Teu pira ukur nyeri huntu, tapi geuning bisa ngeureunkeun waktu, ngahuleng jiga bueuk dibabuk batu, geus teu kapikir deui nyatu, nu penting mah geura cageur teu judad jedud kawas gunung bitu. (AKW).

***

IKUTAN

Ya sudahlah….

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah aplikasi yang pernah booming dua tahun lalu, sekarang hadir kembali diantarkan oleh kegabutan banyak orang karena terkekang sangkar pandemi.

Padahal aplikasi ini 4 bulan lalu hampir hilang dari peredaran atau malah sudah tidak dipakai lagi , tetapi ternyata takdirnya berbeda kawan….. karena memiliki tema hiburan lintas usia dan keyakinan maka cukup membantu mengurangi kebosanan banyak orang dan meng-eksis-kan individu dalam ranah dunia media sosial yang mengharu biru.

Jadi, bukan ikut-ikutan ini mah, tetapi tepatnya IKUTAN, titik. (AKW).

Hujan di Malam lara.

Malam temaram berpadu hujan.

Photo : Temaram di Belakang / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Malam ini terasa temaram ditemani gemericik air hujan yang bercengkerama dengan dedaunan. Sebuah rasa melesat ke angkasa dan memandang alam sekitar tidak sehinggar bingar dan terang benderang seperti biasanya.

Sebuah rasa khawatir menyeruak di dada, “Apa yang sebenarnya terjadi kawan?”

Benarkah alam dunia sedang menyembuhkan dirinya dan mengingatkan kepada manusia bahwa kita semua hanya menumpang sementara saja sehingga tidak boleh semena-mena terhadap dunia?

Sebongkah tanya hadirkan beraneka penasaran dan memaksa kumpulkan cerita dan informasi yang bertebaran di jagad maya. Hasilnya ternyata luar biasa membingungkan, mana yang hoak mana yang kabar burung berkelindan dengan teori kontipasi yang berujung pada kengerian dan kebingungan. Medsos dan jagad maya menyajikan limpahruahan informasi yang mungkin nirfaedah…. ahh pusiiing.

Lebih baik sementara kembali dari langit menjejak bumi, menikmati gemericik hujan yang bercumbu dengan dedaunan. Memberikan harum tanah yang tak bisa dilukiskan. Biarkan rasa syukur melingkupi jiwa dan menyadarkan raga, karena ternyata nikmat bisa tetap menjalani kehidupan seringnya terabaikan sehingga kita lupa kepada sang Maha Punya… Allah Taala.

Sepakat tidak sepakat, ini bukan lagi wacana tetapi sudah nyata di hadapan mata. Jadi mari nikmati dan syukuri apa yang ada dan jangan lupa berbagi dengan saudara kita diluar sana yang mungkin tidak seberuntung kita. Semangaaat, Wassalam (AKW).

Rindu Bapak Ibu.

Sebuah coretan rindu yang tertahan ‘sesuatu’.

Photo : Kopi Kerinduan / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sejumput haru bersembunyi diujung dada kesendirian, sebait harap tetap dipegang meskipun kenyataan belum sesuai harapan.

Hari lebaran yang emosional, harus menahan rindu untuk tidak bisa wajah, raga dan jiwa bertemu langsung dengan kedua orangtuaku…..m yang sebenarnya jikalau hanya bicara jarak, sangat mudah untuk ditemui.

Bersimpuh di kaki mereka, memohon doa keberkahan dan keselamatan dunia akherat di momen hari suci pasca dilatih selama 30 hari di bulan ramadhan 1441 hijriah.

Memeluk ibu bapak dengan penuh kehangatan dan ketulusan, dimana karena merekalah, karena pengorbanan, pola pendidikan, motivasi dan keikhlasan kepada anaknya hingga segalanya dilakukan demi cita-cita hakiki yaitu agar anak cucunya kelak bahagia di kehidupan masa depannya.

Mendengarkan cerita dari ibu dan bapak, betapa kenakalanku di masa lalu adalah rangkaian kebahagiaan yang mengharu biru, tiada umpatan kasar atau bentakan, tetapi peringatan halus yang memberi ketenangan.

Berpose terbaik setahun sekali dengan senyuman dan tawa yang tak pernah habisnya lalu memposting di media sosial agar tahu bahwa dunia ikut bahagia melihat kita ceria, itu dulu karena sekarang harus menahan diri terlebih dahulu.

Maafkan anakmu ibu bapak, pandemi ini membatasi hadirnya raga tetapi jiwa dan asa tetap tidak bisa dihalangi untuk senantiasa menyayangimu sepanjang hayat ini.

Ketidakhadiran kami di kampung halaman adalah bukti kasih sayang kami untuk menjaga kebersamaan ini memiliki kesempatan lebih lama lagi.

Ah sedih….. tapi inilah pengorbanan. Jikalau tenaga kesehatan berjibaku di medan pertempuran menyelamatkan nyawa manusia yang sedang melawan ganasnya covid-19, maka kami disini berkorban untuk menghentikan penyebaran pandemi ini dengan menahan diri, mengendalikan rindu sekaligus menata rasa agar tidak memposting photo ceria bersama keluarga di media sosial kita.

Karena….. mungkin banyak yang berduka atau malah merasa pengorbanan ini menjadi sia-sia akibat terjebak oleh sebuah kultur budaya yang sebetulnya bisa kita tahan sementara.

Ah sudahlah, jangan berfikir pengorbanan rasa ini sia-sia, ikhlaslah menata asa, karena hanya Allah SWT yang tahu pengorbanan kita, semoga menjadi pahala yang menyelamatkan kita di dunia dan alam akherat nantinya.

Tetap jaga silaturahmi dengan memanfaatkan teknologi tanpa harus pergi-pergi di masa pandemi ini.

Secangkir eh setengah cangkir kopi coldbrew cukup mengerti kegundahan ini, ditemani semerbak bunga sedap malam yang mekar mewangikan kesepian malam ini. Tanpa banyak basa basi merelakan diri disruput gelas pergelas hingga sebotol 250 ml tandas tuntas tanpa ampas dan keharuman bunga seolah tiada batas.

Banyak sekali yang ingin dituliskan untuk mewakili kegundahan ini, tapi biarlah sisanya tersimpan di sanubari dan catatan hakiki milik alam semesta ini.

Bapak dan ibu, maafkan kami.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah.

Jiwa semoga kembali suci dan bersiap melanjutkan hari, menjaga ibadah seperti sebelum idul fitri, serta tidak lupa kembali menulis tentang hari ini dan cerita kopi.

Semoga pengorbanan ini menjadi berkah, dan sembuhkan gundah menjadi masa depan yang indah. Wassalam (AKW).

Jamu Herbal Rempah dkk.

Minuman tradisional penjaga imun tubuh, imun kuat tapi imin dan iman harus lebih kuat.

Photo : Jamu berlima sedang bersama / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Nah siang kemarin sudah hadir dihadapanku 5 botol minuman kesehatan alami yang terdiri dari 3 botol jamu rempah herbal dan 2 botol jamu kunyit asam. Packing yang rapih serta terlihat segar di siang hari, ternyata menggoda juga di siang hari bulan ramadhan ini….

Dari dua jenis minuman sehat alami yang tersaji ini di klaim oleh sang pembuat betul-betul menggunakan bahan-bahan alami terbaik… insyaalloh percaya apalagi ini bulan puasa, berbohong khan merusak pahala.

Jadi klo nggak bulan puasa boleh bo’ong?”

Ah dasar kamu mah, tetep aja nggak boleh, cuman di bulan puasa lebih dahsyat akibatnya karena merusak nilai pahala”

“Iyaa A ustad hehehehe”

Photo : 3 sekawan jamu / dokpri.

Jamu rempah herbalnya memang kumplit dengan bahan-bahan yang terdiri dari kunyit, gula aren, temulawak, jahe, sereh, kayu manis dan air.

Sementara Jamu kunyit asem udah jelas bahannya kunyit dan asam kandis.. bukan bahan lain yang mengandung rasa asem. Nah dua-duanya punya bahan yang sama yaitu air…. lhaaa iya atuh, masa nggak pake air, gimana minumnya?.. ntar seret di tenggorokan atuh kang.

Tidak lupa ditambah gula aren kualitas tinggi agar rasa yang dihasilkan tidak getir dan pahit seperti ditinggal menikah oleh mantan gebetan…. halaah apalagi nich, maksudnya supaya segmentasi penikmat jamu ini tidak hanya kalangan penggila jamu saja tetapi juga bisa buat anak-anak, remaja dan mudamudi yang tertarik menikmati minuman tradisional alami ini.

Kenapa jadi suka jamu kang, kopinya berhenti?”

Photo : Wedang jahe, ini mah bonus / dokpri.

Ih kepo amat, ya suka-suka aku aja, mau seneng kopi, mau seneng jamu ya bebas-bebas aja…. eh tapi ingat diriku ya, nggak boleh menggerutu. Sang penanya pasti pihak yang penasaran karena selama ini objek tulisannya adalah #ngopay alias sruput kopi manual dan selanjutnya dituangkan dalam bentuk tulisan ala-ala.

Itulah kehidupan, sebuah tema blog yang telah dipublikasikan harus dipertanggungjawabkan. Yaa memang taglinenya ‘ngopay dan ngojay‘, tetapi di moment shaum ini ada sedikit geser variasi konten tulisan dengan hal lain diluar tema kopi kopi kohitala kotala dan sebagainya, insyaalloh pasca idul fitri besok akan kembali menulis artikel bertema kopi.

Kali ini kosentrasi dulu untuk menuntaskan tulisan ini, yaitu jamu rempah dan jamu kunyit asam yang memiliki fungsi guna sebagai penambah stamina dan imun tubuh. Sebuah kegunaan minuman alami yang begitu penting di masa pandemi covid19 ini.

Harganya 20ribu/botol dan variannya adalah Jamu Rempah herbal, Jamu Kunyit Asam, Jamu Jahe dan bisa juga request jamu lain, seperti jamu buyung upik… ahaay serasa masa kecil… kecuali jamu cepat kaya untuk sementara belum diproduksi. Pembuatnya seorang ibu tangguh yang di support anaknya seorang pemuda kreatif dan brilian yang membantu ibunya disela-sela usahanya yang spesifik berkaitan dengan printer 3D (halah sotoy, ini hasil cerita dari ibunya....)

Photo : Jamu Kunyit Asam / dokpri.

Jadi cekidot, minum jamu yuk guys… Srupuuut… suegerrr… insyaalloh sehat bugar dan imun terjaga sehingga bisa melawan atau menangkal penyakit khususnya Covid19….Alhamdulillah, Selamat berpuasa di hari terakhir bulan ramadhan tahun ini, semoga masih diberi kesempatan jumpa di tahun depan, Wassalam (AKW).

***

Sono Pisan – fbs

Teu kiat nandangannana..

Photo : Jikalau ilustrasi ini tidak sesuai dengan cerita, mohon abaikan / dokpri.

Fbs : fiksimini basa sunda, seratan fiksi (rèkaan) dina basa sunda. Sanès kisah nyata, mung ngarang wè kaditu kadieu.

Fiksimini basa sunda, tulisan fiksi (karangan belaka) ditulis dengan bahasa sunda. Bukan kisah nyata, hanya mengarang tulisan kesana kemari (AKW).

# SONO PISAN #

Teu acan lami tepang sareng salira tapi naha bet hoyong patepang deui, meuni kacida. Èmutan marojèngja, antawis hoyong tepang sareng kasieun. Sieun dina panampiannana ngaraheutkeun manah balarèa. Sanaos anggang ku waktos, tapi geuning jamparing kapanasaran mah teu tiasa dipungpang, ngabelesur meulah jaman.

Akang kunaon huleng jentul waè?” Soanten halimpu bèbènè nu didieu ngagareuwahkeun pikir. Rikat wangwangan salira dibuntel ku imut ngirut, “Teu aya nanaon geulis, kumaha kumaha?”

“Hawatos wè pèdah titatadi ningal Akang huleng jentul, bilih Nèng gaduh kalepatan”

“Teu pisan-pisan geulis, biasa waè, ngèmutan padamelan”

Nu geulis nyarandè. Salajengna kaleresan tos manjing adzan magrib, tiasa buka shaum sareng nu geulis, boh buka saum tuang leueut ogè nu sanèsna.

Tèèt.. tèèt, hapè ngagibrig, aya whatsapp lebet, lalaunan diaos, ‘Pah dimana? Cios ngalembur deui?’

Sakilat hapè dibalikkeun, nangkub. Indung peuting mencrong geregeteun.