Catatan Pagi 121118

Perjalanan pagi yang butuh kesabaran tinggi.

Senin pagi menjelang disambut kemacetan dimulai dari pintu gerbang perumahan, rrruar biasa. Padahal waktu tepat menunjukan pukul 05.46 wib.

Kelihatannya hampir semua orang yang beraktifitas pagi ini memiliki pemikiran yang sama dengan kepentingan berbeda-beda, “Berangkat pagi-pagi supaya nggak kena macet”

Jadinya, sebuah janjian hakiki yang tidak terkomunikasi satu sama lain, berkumpullah pada beberapa titik jalan tertentu yang memang menyempit karena ada aktifitas.

Pertama, jalan keluar kantung-kantung perumahan dimana bersua antara para penghuni komplek perumahan dengan para pejuang pagi.

Kedua, pasar pagi. Tanpa perlu dijelaskan, semua paham kenapa pasar pagi jadi lokasi macet di pagi hari. Pasar agak tumpah ke jalan, orang-orang banyak berhenti dari kendaraan, ya sudah bottle neck.

Ketiga, jalanan depan sekolah. Sabar ya, para pengantar anak-anak tercinta ataupun siswa-siswi itu sendiri mulau masuk sekolah.

Keempat, perempatan atau bunderan yang menjadi titik pertemuan gelombang pemberangkat pagi dari berbagai lokasi, bersatu di bunderan atau bersilangan di perempatan. Ini mah momen dimana kesabaran dan keberanian dipertaruhkan. Sabar terus nggak dikasih jalan, nyuruduk maksa sok berani juga berbahaya, jadi fleksibilitas dan waspada yang menjadi kunci utama.

Kelima, depan pom bensin. Disinipun harus bersabar karena ternyata banyak para pejuang pagi yang musti minum bahan bakar dulu karena kendaraannya haus. Jelas keluar masuk bikin tersendat.

Keenam, perilaku. Nah ini PR kita semua. Bagaimana perilaku berkendara yang sopan, teratur serta berperikendaraanan. Kita tahan sikap slonong boy, grasa grusu, emosional, klakson terus dipijit, apalagi meludahi orang saking sebelnya pas pake helm full face…. atuh lamokot olangan.

Ketujuh, paras cantik. Ternyata inipun menimbulkan kemacetan pagi ini. Paras cantik di angkot dengan duduk paling belakang, sehingga jelas terlihat dari luar. Dua orang pejuang pagi bermotor, terjungkal karena kurang konsentrasi.

“Lho kenapa?”

Ternyata disaat angkot melaju, kedua pemotor ini yang kemungkinan jomlo atau memang seneng lihat yang bening-bening terpana melihat bidadari di angkot. Disaat angkot berhenti karena akan menaikkan penumpang lain, kedua pemotor ini bukan injak rem. Tapi ngeloyor sambil wajah terus melekat ke kaca belakang angkot.

Jedduk!!!

Keduanya nambrak bemper belakang angkot dan terjungkal. Sementara angkot ngeloyor jalan tanpa cidera, kedua pemotor ini terjatuh dengan 2 rasa sakit, sakit kebentur juga sakit karena malu.

Akibatnya kemacetan mengular karena tertahan 2 motor yang terjungkal bersilangan ditambah pemotor lainnya pada berhenti untuk ngambil photo kejadian plus selpi, lalu segera diunggah di medsos masing-masing.

Keenam, ....monggo dilanjut…

***

Ah siluet pagi memang menyajikan bermacam tafsir imaji, tapi kembali kesabaran diuji agar bisa menjalani hari penuh arti. Wassalam (AKW).

Pantun RLA XIV

Rangkaian asa penuh suka duka selama 4 bulan yang penuh makna dalam genre pantun sederhana

Abege seksi jualan panci
Dibeli selusin langsung berhenti
Ungkapan ini bukan puisi
Tetapi aneka kumpulan cirahan hati

Tali terkait dibalut semen
Mengikat kawan semakin erat
Wawancara skype dan seleksi online
Pembuka jalan menjadi peserta Diklat

Wajah kusam dioles arang
Lari ke warung membeli koran
Pengumuman kelulusan adalah kenyataan
Kampus Kiarapayung awali pembelajaran

Gunung Manglayang indah sekali
Udaranya segar nyaman di daki
Kami datang dari Jabar, Jogja dan Bali
Luaskan wawasan dalam koridor reformasi birokrasi

Layar berkibar di bukit ini
Tautan jemari merengkuh hati
Juga 7 kab/kota di Jabar adalah kami
Jalin silaturahmi serta persaudaraan hakiki

Buah coklat berdaun mini
Campur ketumbar hindari basi
Kami peserta diklat Reform Leader Academy
Siap belajar, berinovasi dalam kerangka kolaborasi

Masak ikan kembung tanpa gula
Dicampur garam dan sayur selada
Wujudkan whole of government secara nyata
Di tempat kerja juga nanti ke seantero nusantara

Anak sapi makan jerami
Kambing sehat, berlari kesana kemari
Bonus demografi tantangan kami
Hasil diklat ini, harus menjadi solusi

Ke perkemahan jalan kaki bersama
Peluh menetes hati terbuka
Millenial menjadi fokus utama
Tema diskusi, hasilkan solusi nyata

Ikan bersirip di dalam samudera
Berenang meliuk pamerkan gaya
Policy brief & policy paper kami susun bersama
Buah fikir kami, sumbangsih bagi negara

Pergi ke hutan mencari kakak tua
Hindari lumpur dapatkan cucakrawa
Kami kampanye ke seantero kota
Ditambah survey online di seluruh indonesia

Kopi robusta dicampur arabika
Diseduh air mendidih tanpa gula
Hasilkan konsep dan rekomendasi bersama
Beri kemudahan millenial untuk berusaha

Photo : Ketua Kelas menerima piagam penghargaan Kelas dari Ketua LAN RI / dokpri.

Pa Sigit adalah ketua kelas kami
Sosoknya riang, seksi meski terkadang menyendiri
Ruang riung adalah RBN kami
Memberi ruang & aktivasi millenial sejati

Arabika puntang dicampur kopi Aroma
Hasilkan rasa membumi penuh pesona
Gedhong rembulan Sibangbara bergema
RBI Jogja, Kabupaten Sukabumi & KBB bersama

Kopi Kintamani enak rasanya
Kopi Kiwari, harum penuh asa
Viral Sukabumi & Loka Yowana Kriya
RBI Kota Sukabumi & Bali pulau dewata

Kumpulan kaleng isinya kopi juga
Tidak hambar dengan rasa luar biasa
Gudang gandeng, switch in dan Rumah Moeda
Dari Jabar, Bandung-Cimahi, Bogor dan Purwakarta

Photo : Ketua LAN RI dengan produk Kopi Kiwari dari pengusaha millenial di Jabar / dokpri.

Menyeduh kopi gunakan teko leher angsa
Hasilkan kejutan rasa yang tak akan terlupa
Konsep ini sudah sampai kepada negara
Di KSP melalui ibu Deputi III

Aura Kasih menari di pinggir kali
Ikan terpana, buaya terdiam sambil mengintip
Terima kasih LAN RI atas kesempatan ini
Membimbing kami menjadi kreatif, profesional, inovatif yang Kolaboratif.

Menenun batik bergambar singa
Goreskan canting, ikuti rasa nurani
Hatur nuhun Bapak Kepala LAN dan Pak Kapus PKP2A I beserta jajarannya
Kami bangga menjadi alumni diklat di kampus ini.

Photo : Coach kami, Pak Desi F sedang beraksi / dokpri.

Makan sirih dicampur busa
Sedikit nasi diatas baja
Makasih kami untuk coach yang luar biasa
Pa Desi & Pa Yonathan yang bersahaja

Mawar berduri basahi raga
Mawar mewangi tidak semua
Awal juli kita bersua
Awal nopember ini akhirnya berpisah jua

Kopi Pangauban berbentuk biji
Di grinder kasar untuk Vsixty
Maafkan semua perilaku kami
Jikalau ada yang tidak berkenan di hati

Photo : Diplomasi kopi / dokpri.

Kopi pahit disajikan pagi
Kopi Luwak cocok siang dan malam hari
Kami pamit bukan sekedar pergi
Tetapi melangkah pasti, mengubah Negeri.

HIDUP RLA XIV!!!!

Wassalamualaikum Wr Wbr.
Kiarapayung, Nopember 2018 (AKW).

Berubah….

Jangan takut hadapi perubahan, jalani dan…

Photo : Ilustrasi Patung Dewa Gajah yg sedang bertapa / dokpri

Disaat banyak pihak berlomba menunjukan kemampuan dan keahlian, disitu terlihat juga yang masih terdiam dan gagap dengan perubahan. Padahal selama hidup perubahan itu adalah keniscayaan, atau boleh disebut perubahan itu adalah kehidupan itu sendiri.

Tetapi ada juga yang terlihat tenang meskipun hati kecilnya bergejolak ingin menapaki perubahan dengan segala tantangannya. Hanya secara perhitungan memang perlu strategi yang tepat agar tidak menjadi korban kekonyolan ditengah perputaran turbulensi kepentingan.

Apa yang harus dilakukan?..

Pertama adalah kenali diri

“Maksut lo, salaman tangan kanan ama tangan kiri trus senyum sendiri?”

“Ahay jangan sewot dulu kawan, baca dulu tulisan selanjutnya” senyum manisku memberi ruang berfikir sesaat dan mengurangi tensi emosional sang penanya yang begitu agresif dengan segala kekuranglebihannya.

Kenali diri tentu bicara komprehensif, disini yang paling sederhana adalah mengukur potensi diri serta ketahanan mental selama ini dalam hadapi aneka persoalan yang terjadi baik urusan gawean juga kehidupan pribadi. Itu dua sisi yang harus memiliki keseimbangan dan kesetimbangan. Bukan berarti harus 50 : 50 tetapi ada sisi flexibilitas disini, monggo terserah masing-masing ngitung persennya.

Kedua, pelajari seksama pokok penentu perubahan itu.

Apakah karena pimpinan baru dengan kebijakannya yang mengharuskan perubahan dan percepatan yang menuntut responsifitas tinggi, atau karena mertua baru (ini khusus yang baru nikah atau nikah lagi), perlu penyesuaian mental dan hati sehingga kondusifitas dunia perkawinan terjaga sempurna. Atau bisa juga karena perpindahan tempat tugas karena sebuah seremonial mutasi, ini juga berdampak serius jika tidak disikapi arif bijaksana.

Nggak percaya?, monggo coba aja”

Ketiga adalah jual diri. Jangan dulu berfikiran negatif dengan istilah jual diri, ini memiliki makna menunjukan potensi diri sesuai dengan pangsa pasar yang memang memerlukan kemampuan ‘khusus‘ kita. Klo kemampuan kita diukur rata-rata air dan sulit meningkat, ya tinggal ditambah dengan kemampuan soft skillnya sehingga memberi kenyamanan dan kedamaian bagi pihak yang menjadi pokok terjadinya perubahan.

Keempat, lakukan dan segera berubah.

Yang pasti mari senantiasa berubah, lha wong Ksatria Baja Hitam aja selalu ‘BERUBAH‘. “Masa kita enggak?”

***

Salam perubahan, sambil tak lupa menikmati seduhan manual kopi lanang EL’s hasil racikan Kang Fajar sang Barista Stocklot. Wassalam (AKW).

Jurig Kopi – fbs

Geuning kitu saujratna mah.

Akwnulis.com, CIMAHI. Peuting nu simpé lain jadi tibra saré pikeun ngamalirkeun kacapé, tapi geuning ngadon nyileuk cénghar, teu puguh rarasaan.

Buru-buru babacaan tilu surat quran pangtungtungna, lumayan masih apal sanajan sok pabeulit jeung surah lianna, tapi angger cènghar. Tungtungna mah ngahérang. Ngagambar dina lalangit bari ngitung cakcak nu anteng balakécrakan.

Sabot panon anteng niténan lalangit.
Bray, lalangit muka dibarung sora ngahégak nu matak soak.

Uing ngagoak, tapi sora jadi peura, baham calawak teu disada.

Leungeun buluan kaluar tina lalangit, Uing ngayekyek musna pangacian. Kaciri ramo-ramona nyekel téko kaca, eusina cai hideung teu mangrupa.

Sora handaruan ngaruntuhkeun kawani, “Arabika atawa robusta?”

Uing disada, “Aaa..ra.. biii..ka”

Cur cikopi tina sungut téko nyurulung kana baham Uing nu ujug-ujug calangap.

Glek glek glek, nikmat pisan. Alhamdulillah.

Ti peuting harita, teu bisa saré saminggu lilana, cénghar satuluyna. (AKW).

Takut ada yang keluar

Ternyata oh ternyata.

Pekanbaru, akwnulis.com. Tadinya ada rasa ragu berkelindan di kalbu, disaat menatapnya. ___ Tak berani mengusapnya karena khawatir #asap yang keluar dari ujung moncongnya lalu berubah menjadi suatu bentuk. ___

Tapi penasaran terus menggelayut, sepintas mirip ceret atau teko, mungkin buat tambah #minum bagi yang masih haus, entahlah. ___

Ternyata eh ternyata, diakhir masa makan sore usai, sang ceret perak memperlihatkan fungsi yang begitu lekat dengan dunia #sanitasi — sebagai alat mencuci tangan dan wadah bawahnya sebagai penampung air bekasnya.

___ Amboi betapa #kuper bin kupdetnya diri, kudu banyak beredar ini mah, ___ cekidot. (AKW).

Harimau Belenuk*)

Nilai kehidupan hadir dari Boneka Harimau belenuk.

Photo Wajah macan tampak depan | lucu | dokpri.

“Ayah beli Boneka Harimau yaa..” Sebuah permohonan sederhana dari anak semata wayangku.
“Siap, Ayah kerja ke luar kota dulu yaaa”
“Oke Ayah, eh jangan lupa sama lolipop ya, dua” sambil kedua tangan terbuka semua, jarinya jadi sepuluh.
“Iya sayangku, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”

Dialog singkat disaat akan kembali berdinas ke pulau dewata dalam rangka pendidikan dan pelatihan yang sedang dijalani dengan pola on-off ini menjadi sebuah kontrak pribadi yang miliki konsekuensi serta hak dan kewajiban. Permintaan sederhana dari seorang anak kecil yang ternyata memberi hikmah besar dalam memandang dan mencoba memahami nilai kehidupan.

***

Di sela-sela istirahat sore ataupun malam hari, video call menjadi keharusan. Kemajuan teknologi yang memutus jarak ratusan kilometer menjadi sebatas jengkal, bisa bercengkerama, bercanda sambil melihat wajah masing-masing di layar smartphone. Ah indahnya kemajuan jaman, meskipun ada beberapa rekan yang tidak suka video call sama istrinya, entah karena apa. Mereka lebih suka telepon suara saja. Ya gpp juga, silahkan itu mah urusan masing-masing.

Photo macan nyamping | belenuk | dokpri.

Setiap kontak baik video call ataupun telepon biasa, pertanyaan tentang oleh-oleh boneka harimau menjadi pertanyaan utama sehingga menjadi kewajiban untuk membelinya.

“Sayang anak… sayang anak…” jadi teringat ucapan pedagang asongan mainan anak di bis, dulu jaman masih muda.

***

Hari ketiga acara di Bali, akhirnya ada kesempatan untuk meluangkan waktu mencari boneka ‘cheetah ceetah bang bang’ sebelum bertolak ke bandara. Ternyata lokasi Bali Safari bertolak belakang dengan arah bandara. Ya sudah jajal aja. Ditemani sopir taksi kenalan yang baik hati dan sopan, kami meluncur ke Bali Safari demi membeli sejumput janji untuk anak penyejuk hati.

***

33 menit berlalu, tiba di gerbang depan Bali Marine & Safari. Masuk melewati pos penjagaan dan taksi mengantar hingga ke loket pembayaran. Disitulah bersemayam eh terdapat jualan souvenir binatang-binatang.

“Ada boneka harimau mbak?”
“Ada pak, ada yang kecil 60 ribu, yang berbentuk topi 160 ribu dan ini agak besaran 135 ribu”

Boneka topi kayaknya nggak mungkin, trus yang ukuran kecil kayaknya terlalu kecil, nah berarti ini mungkin yang menjadi pilihan, boneka harimau lucu.

Tapi, sebelum memastikan membeli, agak tertegun karena wajahnya harimau lucu sementara badannya agak aneh, buntet eh bantet nggak jelas gitu. Badannya lebih mirip binatang hamster dech atau anak kelinci. Jadi klo dilihat dari samping memang tampilannya aneh tapi tetep lucu.

“Duh gimana ya?, udah beli ternyata anaknya nggak suka. Tapi beli aja ah, daripada jauh-jauh nggak dapet apa-apa”

Diskusi dalam hati karena kondisi boneka yang badannya nggak mirip harimau. Malah kepikiran beli juga yang ukuran mini, tapi ntar pemborosan, ya sudah lah. Belum lagi kalau diitung sama ongkos taksinya.

***

Ternyata, setelah mendarat dengan keras di runway Bandara Husein dan dijemput hingga tiba di rumah. Boneka harimau dan lolipop yang menjadi pertanyaan.

Perlahan tapi pasti boneka harimau buntet (belenuk, bhs sunda) diambil dari koper, daan….

Reaksi senangnya terpancar dari wajah anak semata wayangku. “Makasih Ayaah” dengan sumringah boneka harimaunya dipeluk-peluk, dibelai dan dipamerin sama nenek serta ibunya.

Anak tidak terganggu dengan tampilan badan yang belenuk (buntet) karena imajinasi mereka tentang harimau lebih melihat muka dan belangnya saja. Tidak perlu berfikir detail tentang bentuk hewan yang proporsional, semua itu cukup dan menyenangkan.

Tiba-tiba tersadar bahwa terkadang diri ini sering mengharapkan suatu barang atau seseorang itu sempurna untuk membantu kita sesuai harapan kita. Sehingga mudah dihinggapi rasa kecewa disaat kenyataan tidak sesuai harapan.

Padahal, semua barang dan juga seseorang pasti ada kekurangan atau kelemahan masing-masing. Sikap ikhlas menerima dari diri kita lah yang memberi warna sehingga rasa syukur akan muncul bahwa ini semua adalah takdir yang harus kita jalani dan syukuri.

Anak kecilku memberi contoh bagaimana menerima sebuah mainan yang bentuknya tidak proporsional meskipun harganya lumayan. Dengan gaya penerimaan yang senang, ikhlas serta apa adanya, menghilangkan rasa cape, melupakan berapa biaya taksi tambahan, berganti aura kebahagian yang menjadi bekal kehidupan.

“Hai Ayah, jangan bengong, ayo kita joget bersama bonekaku, Cheetah cheetah bang bang” Suara anakku membuyarkan lamunan ini. Segera berganti senyuman dan langsung melarut dengan permainannya.

Terima kasih atas pelajaran sederhana ini. Wassalam (AKW).

***

Belenuk*) : Buntet atau Bantat.