Domba Hitam.

Hijaunya rasa dan hitamnya suasana membuat berbeda.

CISARUA, akwnulis.com. Sekawanan mahluk tuhan yang berwarna hitam melegam, sedang bercengkerama di keteduhan suasana. Mereka terkadang tertawa ataupun saling berbagi cerita, tak lupa rumput menghijau dikunyah bersama.

Sepanjang mata mandang adalah kehijauan semata, memberi rasa tenang dan segar tak terhingga. Apalagi angin pegunungan membelai dengan sepoi mesra… ah segarnya.

Sambil mengangguk-angguk bersama rumput hijau yang terus merajuk, pembicaran tentang nasib masa depan terasa mengalir dan saling melengkapi. Meskipun salah satu dari kami tetap bertahan dengan romantisme keberhasilan masa lalunya, tapi mayoritas kawanan kami sudah berfikir tentang masa yang berbeda.

Mulai berdiskusi tentang kemana harus mencari rumput segar dan bebas biaya sementara perlahan tapu pasti harus tergantikan oleh rumput sintetis yang miliki harga juga sangat tidak enak rasanya pada saat dicoba dikunyah…

Ataupun oksigen yang dihirup penuh kesegaran ini, besok lusa menjadi rebutan kami dan berani menukarnya dengan seluruh uang hasil jerih payah kami.. demi sebuah hirupan janji.

Wooiiiy, mba, kenapa bengong mulu?”

Sebuah bentakan keras mengembalikan semua lamunanku agar kembali berpijak di bumi kesadaran.

“Nggak mba, cuman ada sesuatu yang dipikirin” Mba yang agar kurusan menjawab tersipu dan langsung menjadi objek olok-olokba yang lainnya.

Mba-mba kembali bercengkerama, tetapi dikala mereka sedang bersuka ria, Mba yang tadi bengong langsung ambil posisi ditengah kumpulan mba-mba dan berteriak lantang, “Hai kawanku sesama mba, mari syukuri hidup ini, rumput yang senantiasa menghijau, udara bebas yang gratis kita dapatkan, mbeeeee..beeee

Retorika singkat yang membubarkan kawanan domba hitam, semua berbaris sesuai ketebalan bulu dan ukuran keahlian mengunyah pengalaman. Bergerak ke pinggir savana dimana air segar mengucur tiada henti dan melayani dengan setia.

Selamat berwudhu dan menunaikan Ibadah Shalat Jumat, Wassalam (AKW).

Behel & Hati

Curhat singkat sesaat.

BANDUNG, akwnulis.com. Tak sengaja bersua dengannya, bersama senyuman yang mempesona. Sesaat terdiam dan teringat seseorang serta sebuah pesan, “Jangan macam-macam”

Ah iya musti bisa menjaga kendali diri, meskipun mungkin rasa ingin tak bisa dihindari, tapi sekali lagi, harus kuat menjaga hati.

Ternyata setelah agak mendekat, ada rasa tenang yang hinggap karena kenyataannya tidak seseram yang dibayangkan. Tidak menarik raga ini dalam magnet kesukaan, sehingga gelap mata berusaha mendekat, memiliki dan menikmati.

“Apa cirinya sehingga menyimpulkan pemilik senyum cantik ini tidak beresiko mencuri hati?”

“Dia pake behel gigi kawan”

“Apa hubungannya behel gigi dengan tidak akan macam-macam?”

“Hahahaha…. justru itu kawan, giginya aja dipagar (behel), apalagi hatinyaa”…

Jiaaaah gubraaag.


Pembicaraan usai dan suasana kembali normal. Wassalam (AKW).

Kopi Bawal sambal ijo

Jikalau jangar hadir, maka kopipun bisa berkawan dengan ikan.

Photo : Ikan bawal & Kopi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah kombinasi tidak biasa terkadang menghadirkan sebuah cerita berbeda, tapi itulah kehidupan yang penuh nuansa.

Kopi bawal sambal ijo hadir tidak sengaja, tapi mengalir begitu saja.

Dikala kepala berdenyut karena dampak meeting yang penuh angka-angka, plus juga makan siang yang terlambat karena jam istirahatnya bergeser agak lama, maka badan terasa sedikit memanas dan kepala memusing karena kurang asupan makanan….. ahaay lemaah.

Jam 16.00 wib baru bisa jumpa dengan makan siang, maka suapan lahap dan pengen segala dicoba karena banyak pilihan akhirnya hanya menyisakan sepiring ikan bawal sambal ijo.

Maka… dikawinkanlah dengan sajian manual brew V60 kopi arabica mandailing…. ta.. daaaaa….. jadilah photo nggak nyambung antara kopi dan ikan bawal.

Meskipun awalnya nggak akrab, lama-lama mereka ngobrol dan saling curhat. Indahnya silaturahmi membangun hubungan semakin erat dari perbedaan yang awalnya berat.

Selamat berhari rabu kawan, Wassalam (AKW).

Lalandong – fbs

Haté marojéngja, kedah kumaha?

GARUT, akwnulis.com. Indung peuting maturan raga nu marojéngja, baluweng teu puguh rasa. Pakasaban teu bisa jadi alesan, urusan kulawarga ogé lain caturkeuneun. Kabéh ngaguluyur sakumaha ilaharna. “Tapi naha haté bet tagiwur teu puguh rasa?”

Ningali buku tabungan jeung sertifikat geus lumayan ngahunyud minuhan brankas, kitu deui mobil jeung motor pasesedek di garasi.

Jikan jeung budak kukurilingan mapay nagara-nagara sabudereun dunya, unggal usik laporan dina médsos séwang-séwangan. Sabulan katukang di wilayah asia, ayeuna keur anteng di dataran éropa. Tapi keukeuh ieu haté teu puguh rasa.

Tungtungna buru-buru balik ka lembur, sumujud ka indung bapa. Ménta panghampura ogé pituduh supaya haté jadi tingtrim jeung daria.

“Jang, wayahna ulah loba ngarahul, geus ayeuna mah gawé sing junun sanajan hirup ngontrak bari sagawé-gawé, sabar jeung tawakal”

“Sumuhun Ema, Nuhun” waleran dareuda, teras amit mundur muru kana motor bari teu hilap ngahurungkeun aplikasi, sugan waé aya nu order.

Ayeuna haté tenang da geuning hirup mah ukur pupulasan. (AKW).

Ngopi di DISINI Cafe

Menikmati kesendirian dulu DISINi.

Photo : Sepedaku Disini Koppie / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Pantesan dari tadi dicari-cari sepeda kesayangan kok nggak ada di belakang rumah, udah tanya sana sini, malah dijawab senyuman, kezeeel dech.

Jangan-jangan di depan rumah, berlarilah raga ke depan halaman yang berbatasan langsung dengan Jalan Pasantren Cimahi…. ternyata tidak ada, malah disambut deru kendaraan yang melintas, saling berebut mengejar harapan pagi masing-masing.

Dikala, hati semakin was-was, sebuah tepukan lembut di punggung kanan cukup mengagetkan, “Nggak usah galau, sepedamu sudah diabadikan, tuh disana” jari lentiknya menunjuk ke arah tengah rumah yang terdapat lekukan ruangan tempat dimana bercengkerama.

Secepat kilat berbalik badan dan menuju tempat yang ditunjuk, ternyataa…. sepeda kesayangan ada disana. berdiri tegak dengan penuh keanggunan dan menyatu menjadi ornamen penting dalam fragmen kehidupan.

***

Itulah sepenggal angan yang terbersit dikala melihat ornamen dindingnya adalah sebuah sepeda ontel tua yang menjadi saksi dalam roda kehidupan. Sekarang sudah tenang beristirahat di dinding putih tanpa khawatir di congklang eh di naiki oleh pemilik atau siapapun karena agak ribet klo musti nurunin dan naikin lagi ke dinding hehehe…

Ini adalah salah satu sudut ornamen yang ada di Cafe DISINIkopi. Salah satu cafe yang menyajikan menu kopi di area jalan pesantren Kota Cimahi. Jika sebelumnya mencoba kenikmatan suasana dan sajian kopi plus complemennya di RUMAH PINUS COFFEE, nah sekarang di cafe yang berbeda.

Photo : Es Americano / dokpri.

Untuk kopinya memang tidak ada manual brew pake V60 atau kalita juga aeropress, tetapi kopi hitamnya versi mesin saja yaitu : espresso, americano dan longblack. Ditambah dengan menu-menu makanan lainnya. Tempatnya cozy, enak buat nyantai dan juga sambil ngerjain tugas kuliah atau kerjaan…. yaa sebagai alternatif tempat kongkow sih lumayan… tapi buat pengopi kohitala, hanya bisa puas dengan americano saja.

Sebagai pelengkap tentu perlu ada sajian makanan pendamping, maka dihadirkanlah sebuah menu yang pasti disukai semua orang yaitu Indomie goreng sambel matah… awww menggoda… tapi khan ga boleh…. ya udah icip-icip dikit ajaaa… abiss weh.

Photo : indomie sambal matah / dokpri.

Pilihan kopinya adalah es americano alias es kopi tanpa gula….. segarnya rasa pahit dan dingin memberi ketenangan dan kenyamanan… aslinaaa….

Menu makanan lainnya tidak berani dicoba karena sebenernya semangatnya hanya pengen ngopay aja, jadi segelas es americano sudah cukup memenuhi dahaga kohitala kali ini. Selamat beraktifitas kawan, Wassalam (AKW).

Catatan :
Cafe DISINIkopi, Jl. Pasantren No. 178 Cibabat Kota Cimahi.

Kucing & Aturan.

Pengumuman pagi ini hadirkan inspirasi.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah pengumuman yang menggelitik tertempel di tembok yang baru saja di cat. Sebuah tanda dilarang masuk yang bisa menyebabkan pembacanya terhenti sejenak, membaca dengan seksama.

Lalu termenung, baca lagi takut salah. Tulisannya tidak ada yang salah, tetapi kok ada yang kurang pas yach?….

Ya udah nggak apa-apa, mungkin sebuah niat sudah terlaksana. Sebuah tindak telah hadir untuk merespon sebuah issue yang sedang menghangat dan mengganggu stabilitas sehingga perlu hadir sebuah peringatan yang tegas.

Semoga peringatan ini efektif dan di mengerti oleh berbagai pihak.

“Iya om, aku mengerti,….Meooong”

Suara lembut di samping kaki kanan, membuyarkan lamunan. Senyuman lucu dari si kucing belang menyadarkan kenyataan, bahwa kemengertian adalah sebuah hal relatif…

“Tapi kenapa matamu memerah dan sedih?” sebuah tanya meluncur tanpa bisa ditahan.

“Biasa om, terkadang perubahan itu butuh pengorbanan… meoong” sebuah jawaban singkat hadir tanpa jeda.

Dilanjutkan gerakan badan menjauh sambil mengibaskan ekornya, menuruni tangga untuk menjalani takdirnya. Meninggalkan raga yang tertegun kehilangan kata, di pagi yang seharusnya ceria. Wassalam (AKW).

Catatan : Hanya coretan kata-kata minifiksi, karena inspirasi terkadang datang tanpa diskusi.

Halimun Kohitala.

Menjalani hari dengan sepenuh hati, hadirlah Kopi…

Photo : Kohitala Halimun / dokpri.

Bandung, akwnulis.com. Sebuah pagi membentuk cerita sendiri, seiring waktu membulatkan harapan dalam ke-duapuluhempat-an jam yang nggak mau diganggu gugat, tapi apa yang menjadi ciri?

Kembali kepada satu nilai tentang yang terkadang terkubur oleh emosi, terjebak labirin egois diri dan akhirnya berkelindan dengan ambisi, yaitu nilai syukur dan tasyakur diri.

“Ah memang mudah dikata, menjadi retorika, padahal berbeda dalam implementasinya”

Jadi, kembali ke masing-masing hati nurani, “Apa tujuan hidup di dunia ini?”

Pertanyaan yang dipandang berat oleh sebagian besar pihak padahal memang semua hal pasti ada tujuannya, jadi tidak usah terhenyak dengan pertanyaan tersebut, “Bener khannn?”

“Trus gimana jawabnya”

Sebenernya gampang, sedikit konsentrasi, pejamkan mata, luangkan waktu beberapa detik untuk bersyukur dalam ucap dzikir sederhana, “Alhamdulilahi robbil alamin”

Pas buka mata, ehhh… sudah ada Kang Adit nawarin kopi di pagi yang menghangat ini.

Mangga pak, Kohitala ala halimun…”

Ah senangnyaa….. Maksudnya kopi yang tersaji diseduh pake manual brew oleh Tim Kang Adit dan disajikan di ruangan Halimun Gedung sate.

Alhamdulillah, Hatur nuhun”

“Sami-sami”

Sruputan pertama begitu menggoda, selanjutnya srupuut lagi atuh… mungpung panasnya terjaga.

Suasana pagi yang dijejali aneka tugas di hari ini, langsung segar dan menambah motivasi, apalagi setelah sruputan terakhir, motivasi makin menjadi…. untuk ngopi lagi hihihihi….

Catatan : Ini bukan cerita pagi ini, tapi kemarin dan kemarin dikala hari kerja yang penuh derita.. upss.. penuh tugas yang mendera.

Selamat wikend, selamat ngopi dan bercengkerama dengan keluarga tercinta. Wassalam (AKW).