Kopi di Senin Pagi

Senin pagi berbagi cerita kopi.

Apel pagi di senin pagi adalah momen silaturahmi sekaligus pengecekan absensi. Mendengarkan arahan dari pentolannya pimpinan, nambah wawasan sekaligus nambah vitamin D yang berasal dari sorotan sinar mentari di pagi hari.

‘I like Monday Guys’

Meskipun harus bertarung dengan kemacetan pagi, tetapi semua harus dijalani tanpa basa-basi. Atur saatnya bangun tidur dan tetapkan berangkat lebih pagi sehingga ada jeda untuk sedikit menghela nafas dikala terhadang kemacetan di beberapa titik pemberhentian. Ada perempatan yang memghambur banyak roda dua mengantar anak sekolah serta pekerja lainnya, bunderan yang akrab jadi botlle neck, jajaran sekolah yang kumplit dari mulai SMP, SMK dan ada SD, lengkapp sudah…. tapi itu adalah dinamika. Jalani dengan ikhlas dan berangkatlah di hari senin lebih pagi.

Apel pagi tuntas dilanjutkan dengan salaman terbatas. Bersua dengan wajah-wajah pejabat yang menduduki jabatan barunya pasca di rotasi hari jumat lalu. Setelah itu, ya kembali ke ruangan untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada. Termasuk bersiap untuk meeting hari ini.

Tiba-tiba hp bergetar, ada pesan WA masuk, ‘Pagi pa, meetingnya gimana klo di taman belakang gedung sate? Saya dan tim udah disini.’
Nggak pake lama langsung jawab, ‘Oke, 5 menit lagi meluncur’

***

Urusan meetingnya nggak usah dibahas, yang lebih penting adalah suasana rapat di alam terbuka dengan menyecap udara pagi, begitu berbeda. Segar dan penuh inspirasi. Meskipun satu meja tidak bisa dikuasai sendiri karena fasilitas publik, tetapi disitu serunya, jadi rapat bareng-bareng hehehehe.

Yang lebih seru, dapet rejeki pagi. Secangkir kopi susu dengan gelas khusus.

“Maksudnya?”

Gelas khusus penguasa eh pengelola gedung sate. Isinya tetep kopi susu, tetapi nilainya yang berbeda. Nilai rejeki, nilai kebersamaan dan nilai silaturahmi.

Sruputt… ludddes. Wassalam (AKW).

***

*)buat yang penasaran pengen ngopi disini. Dateng aja jam 10.00 wib, lokasinya di parkir timur gedung sate, ada cafe Gesa yang sedia aneka kopi juga cemilan, plus wisata sejarah ke museum gedung sate yang buka hari selasa sd minggu.

PUNDUNG – fbs*)

Ulah pundungan atuh lurrr….

PASUPATI, akwnulis.com, Saguncluk Méga nempokeun guligah rasa, dibarung hiliwirna Angin isuk-isuk nu mawa béja. Teu pira ukur hiji kalimah, “Mata poé keur pundung, moal waka nyaangan dunya”

“Nu jadi kahariwang, lain aya jeung euweuhna matapoé, tapi nepi ka iraha?” Méga nanya bari dareuda. Angin tungkul ngaheruk.

Nyedek ka beurang, matapoé geuning pengkuh kana pundungna, nyumput di kontrakan ditalimbeng kampuh urut. Dunya poék mongkléng, sakabéh mahluk baringung. Manusa, sawaréh ngadu’a, sésana pésta foya-foya, ceunah ieu ahir hirup di dunya.

Méga jeung Angin satékah polah ngolo Matapoé, tapi mugen teu bisa diajak badami.

“Sia mah égois, tuh ilo, dunya jadi bancang pakewuh, mikir atuh Silaing téh” Mega geus bèak kasabaran, Angin ngilu muncereng.

“Hampura Lur, Uing mah nyumput téh lain egois tapi keur pundung ka manusa”

“Baruk pundung kunaon?” Angin jeung Méga nanya.

“Rék teu pundung kumaha, Uing téh matapoé nu ngawulaan sadunya, ayeuna geuning euweuh pangajén ti sakabéh manusa, kalahka jadi ngaran kadaharan bari disandingkeun jeung sato sapi, nyeri haté Uing mah”

Méga jeung Angin papelong-pelong, tuluy nyéréngéh bari ngimeutan kamar kontrakan nu pinuh ku gambar ‘endog mata sapi.’ (AKW).

TELPON & ASMARA

Matikan handphone disaat sholat, jika tidak, maka …….

Photo : Ini hape ‘cinitnit’ sebagai ilustrasi / dokpri.

JATINANGOR, akwnulis.com, Hampir minggu ketiga menjadi penghuni rumah dinas camat, sudah mulai terbiasa dengan berbagai keunikannya. Urusan sholat tiba-tiba ada yang makmum tapi tidak ada wujudnya, ya sudah dibiarkan saja. Yang penting tidak mengganggu apalagi menampakkan diri. Bisa berabe nanti.

Cerita yang makmum bisa di baca di MAKMUM SHOLAT.

Hari ini pekerjaan begitu banyak, berbagai aktifitas yang harus dilakukan dalam rangka persiapan lomba kinerja kecamatan tingkat kabupaten.
Berbagai rapat terus bergulir, pencarian sponsor, penyusunan dokumen administrasi termasuk pembenahan area kantor sehingga betul-betul bisa menampilkan sebuah kantor pelayanan masyarakat yang diharapkan oleh masyarakat selaku klien utama.

Salah satu yang harus sedikit terkorbankan adalah urusan pribadi, pacaran terpaksa banyak tertunda, pertemuan di-pending demi keberhasilan kantor kecamatan, ahaay.

Melepas rindu hanya via telepon saja, ataupun sms-an. Meskipun terkadang muncul ketegangan karena pas ditelepon pacar, sedang sibuk dengan pekerjaan, padahal waktu sudah malam. Akibatnya muncul rasa cemburu berbalut curiga, disangka tidak peduli padahal sedang berjuang demi suatu tugas hakiki.

Ditambah lagi dengan kejadian di rumah dinas, bikin meruncing hubungan asmara ini.

Begini kejadiannya, malam itu masih ramai di kantor kecamatan, kerja lembur barengan demi menuntaskan berbagai persiapan lomba kinerja kecamatan. Renovasi ruang pelayanan hampir tuntas dilakukan, pengecatan terakhirpun dilakukan gotong royong hingga tak terasa adzan isya berkumandang.

Diriku masih berkutat dengan pembuatan presentasi dan video pendek tentang profil kecamatan. 14 tahun lalu merupakan suatu perjuangan besar disaat mau mengedit hasil videocamera yang berbentuk mini kaset, dipindahkan ke dalam file digital lalu ditambah suara dan musik. Proses rendering yang membutuhkan waktu yang lama dan komputer yang mumpuni.

Klo sekarang mah tinggal nenteng smartphone, shoot objek video dan photo-photo, rekam suara pake smartphone yang sama, trus gabungin semuanya dengan aplikasi pembuat video yang bisa dengan mudah di download seperti : vivavideo, kinemaster, videoshop atau quick dll.

Tapi dulu…. nyari software adobe premiere aja udah susahnya minta ampun.

***

Jam 20.10 wib pamit dulu mau sholat isya di rumah dinas, sekaligus ‘hareudang (gerah)’ pengen mandi. Ntar balik lagi gabung dengan teman-teman yang lagi kerja lembur.

Nyampe di rumah dinas, jangan lupa baca doa-doa, termasuk doa ‘ayat kursi’, doa andalan. Segera masuk ke kamar depan, menyambar handuk dan mandi di kamar mandi dengan penerangan temaram.

Tuntas mandi, mencoba menghubungi nomor telepon pujaan hati. ‘Tuuut….. tuuut… tuut’ … ada nada sambung, tetapi tidak ada jawaban.

“Ya sudah, aku sholat isya dulu saja.” Suara hatiku diamini oleh raga, handphone disimpan di meja belajar dan diri ini bersiap menunaikan sholat isya.

“Allahu akbar….” Takbiratul ihram memulai shalat isya ini. Udah nggak terlalu khawatir dengan yang ‘Amiin tiba-tiba, mungkin karena sudah terbiasa hehehehe.

****

‘Beep… beeeep… beeep!!’ Suara telepon masuk sedikit mengganggu konsentrasi sholat di rakaat terakhir ini. Tapi setelah itu tidak ada bunyi lagi, sehingga hingga akhir shalat, konsentrasi bisa berpadu kembali. Entahlah jikalau nilai khusuk atau tidaknya, Wallahu alam bissowab.

Tuntas sholat dilanjut dzikir singkat, lalu bergegas ke kamar menuju handphone nokia 8210i, penasaran dengan orang yang menghubungi.

“Tidak ada tanda misscall” berbisik dalam hati. “Tapi tadi terdengar suara telepon masuk, ah mungkin tadi hanya godaan pas sholat aja kali”

Ya udah nggak dipikirin lagi, mending nelepon sang pujaan hati. Rindu tapi malu, karena memang hubungan agak merenggang akibat kesibukan ini.

‘Tutt… tuttt….tuut’ nada sambung menunggu diangkat.

“Assalamuala…” belum tuntas ucap salam, terdengar bentakan dari seberang sana, “SIAPA CEWEK YANG SAMA KAMU SEKARANG?”

Bingung…..

“AYO JAWAAAAB….. TADI DIA BILANG ‘Tunggu bentar, bapaknya lagi sholat’…..(terdengar isak perlahan..)

…… KITA PUTUS!!!!!!”

‘Tut.. tut… tut.. Sambungan terputus, sembari sebelumnya diantara bentakan terdengar nada kesedihan.

Aku terdiam, bingung.

Dicoba telepon ulang, … tidak bisa dihubungi… hiks hiks.

Terasa raga ini lunglai, bagaikan kapas disiram air. Ngeglosor ke lantai kamar.

Perlahan coba buka record panggilan di hape. Ternyata betul tadi pas sholat, pujaan hatiku nelpon.

Tapi tidak ada tanda miscall, karena sudah ada yang menerima teleponnya, dan….. menyampaikan bahwa diriku sedang sholat.

“Sialaaan!!” Geram menyergap rasa, sungguh tega semuanya.

Jelas-jelas handphone tergeletak di meja dan terlihat pada saat sholat, “Lha siapa yang nerima telepon?”

Langsung berdiri dengan amarah menggelegak, berbalik memandang ke ruang tamu yang temaram.

“Siapa tadi yang mengangkat telepon ini pas diriku sholat!!!, ayo ngaku, tampakkan wujudmuuu…… “ suara parauku memecahkan kesepian ruamh dinas. Kecewa, sedih dan dongkol menyatu dalam hati.

“SIAPAAA??”

Tidak ada respon, hanya desau angin malam yang bergerak, ikut merasakan kegalauan tingkat tinggi ini.

***

Diujung gorden sebelah luar, sebuah bibir tersenyum, lalu perlahan menghilang. (AKW).

MAKMUM SHALAT *)

Pengalaman pertama berjamaah sholat magrib di rumah dinas camat.

Photo : Sajadah tergelar / dokpri.

*)Sebuah cerita belasan tahun lalu, di ‘rumah dinas camat’.

Shalat magrib perdana di kost-an baru yang gratis terasa begitu syahdu. Rasa syukur begitu mendalam karena dapat tempat kost-an yang luas, deket banget kantor dan yang paling mantap adalah free of charge alias gratis.

“Kok bisa?”

“Alhamdulillah, rumah dinas camatnya nggak dipake. Jadi digunakan buat yang belum punya rumah atau tinggalnya jauh”

“Ohhh… iya bagus kalo gitu mah”

Tadinya mau ke mesjid yang terletak di seberang kantor, agak menanjak dikit. Tetapi hujan besar begitu mendera, ya sudah sholatnya disini saja.

Tuntas mandi terus berwudhu, terasa badan segar hati tenang. Setelah berpakaian lengkap dengan sarung dan kopiah, sajadahpun tergelar diatas karpet merah di sudut ruang tamu yang difungsikan menjadi mushola sementara.

“Allahu Akbar…”

Takbirotul ihram terdengar menggema, awalan sholat magrib yang penuh sukacita. Sendirian memang, karena ini hari libur, minggu malam. Petugas piket 2 orang berada di kantor kecamatan, sisanya tentu bersama keluarga masing-masing atau dengan aktifitas lainnya. Nah besok senin pagi, barulah ramai kembali. Bekerja bersama melayani kepentingan masyarakat, bangsa dan negara ahaaay… merdekaaa.

Bacaan Alfatihah terasa syahdu, baca sendiri dan dengarkan sendiri. Jadi nilai bagusnya subjektif, ya nggak apa-apa khan?

“….. waladdollliinn”

“Amiin” suara makmum di belakang, membuat sedikit terhenyak. Sambil melanjutkan bacaan doa Surat Alkafirun, hati sedikit bertanya, “Siapa yang makmum?”

“Mungkin anggota satpop pp yang sedang piket, nyempetin ikut berjamaah” asumsi itu muncul karena pintu depan rumah dinas camat ini dibiarkan terbuka. Jadi yang mau masuk, ya tinggal masuk.

Di rakaat kedua, pembacaan surat Alfatihah ‘di aminkan‘ kembali oleh sang makmum, alhamdulillah berarti shalat magribnya bisa Jamaahan.

***

Rakaat ketiga terasa tenang, karena tidak ada prosesi ‘Aamiin’, yang pasti terasa tidak sendirian karena ada yang menjadi makmum.

“Assalamualaikum….. “ Attahiyat akhir telah selesai dan ucapan salam menjadi penutup shalat magrub kali ini. Wajah menengok ke kanan dan ke kiri.

Pas inget, tadi ada yang ikutan sholat, penasaran ah. Sebelum dilanjut dzikir reflek menengok ke belakang.

“Eh kirain siapa, ………”

Itu kata-kata yang akan keluar dari mulut ini, karena terbayang staf satpol pp yang piket berseragam lengkap sedang duduk bersila di belakang.

***

Tapi……

Ternyata tidak ada siapa-siapa, sesaat kucek-kucek mata sambil berdoa, “Astagfirullohal adzim…….. Jangan-jangan…. hiiiy”

Bulu badan (bukan bulu kuduk aja lho guys, tapi sebadan-badan) terasa meremang. Suasana sepi sesaat menyergap, segera membaca doa-doa yang dikuasai, serta tak lupa memohon perlindungan Allah SWT.

***

Menuntaskan rasa penasaran, segera bergegas keluar dari rumah dinas menuju kantor kecamatan yang berada tepat disamping bangunan. Terlihat Kang Yayan dan Pak Itang sedang duduk depan televisi sambil sesekali bercanda tawa.

“Tadi ada yang ngemakmum pas solat magrib di rumah dinas?”

Keduanya serempak, “Enggak pak, eh maaf belum sholat magrib” cengengesan, seolah kepergok belum sholat. Aku termangu, diam membisu.

“Ya silahkan solat dulu, biar saya piket sementara”

“Siappp Boss!”

***

Akhirnya malam itu, jadi ikutan piket dan bobo bersama para petugas piket kantor kecamatan. Ngariung tidur di tengah kantor. Wassalam (AKW).

RUMAH DINAS CAMAT

Cerita masa lalu di saat mengawali karier di kota leutik camperenik.

Photo : Kota Sumedang dilihat di puncak Toga / Dokpri.

Penugasan menjadi seorang Amtenaar*) muda di sebuah kecamatan dengan memegang jabatan perdana terasa begitu membanggakan.
Sebuah amanah jabatan dalam struktur yang pertama, dimana sebelumnya berkutat dengan jabatan fungsional pelayanan pimpinan.

Sebuah kebanggaan tiada tara, karena meskipun jabatan adalah sebuah tanggung jawab besar. Tetapi secara manusiawi tetap tergoda untuk merasa senang atau mungkin mendekati area kesombongan. Maafkan aku, karena jiwa muda yang masih bergejolak dan jam terbang kehidupan masih terbatas.

Hari kedua setelah dilantik oleh Bupati secara massal di sebuah Gedung olahraga, bergegas menuju kantor kecamatan yang dituju. Sebuah kecamatan yang berada di wilayah Kota Sumedang yaitu Kecamatan Sumedang Selatan.

***

“Selamat pagi pak, kalau Bapak Camatnya ada? Saya mau menghadap”

“Silahkan isi buku tamu dulu pak, ada keperluan apa?”

Sepenggal dialog dengan petugas depan berseragam Satpol PP menjadi pembuka cerita pagi itu, di kantor yang baru. Sembari memperhatikan suasana kerja di kecamatan, rasa senang kembali menyeruak di dada, “Ini pasti uforia jabatan.”

Ruang tunggunya adalah bangku panjang yang juga digunakan untuk masyarakat yang mengajukan berbagai keperluan administratif. Di depanku, para petugas terlihat serius mengerjakan tugasnya masing-masing, baik menulis di buku-buku besar ataupun tenggelam di depan monitor komputer yang dilengkapi printer dengan suara khasnya. Begitupun suara mesin tik yang menandakan suatu proses pelayanan sedang berjalan.

“Silahkan masuk pak, Bapak Camat sudah menunggu”

Sebuah sapaan sopan yang membuyarkan lamunan, segera beranjak mengikuti langkah anggota Satpol PP menuju ruang kerja Camat.

***

Selamat datang, selamat bergabung……. dst”

Penyambutan ramah dari Pak Camat membuat penyesuaian di tempat baru ini bisa lebih akseleratif. Diskusi ringan diselingi petunjuk kerja dan kebiasaan disini, menjadi pedoman langkah untuk memulai bekerja lebih giat.

Fasilitas kerja berupa ruang kerja dan motor dinas edisi sepuh juga ada, termasuk jika mau menggunakan rumah dinas camat sebagai tempat kost dipersilahkan, ini yang menarik, yang menjadi pangkal cerita dalam tulisan ini, cekidot.

–**–

RUMAH DINAS

Rumah dinas camat ini berada tepat disamping kiri kantor kecamatan, pasti begitu, dengan tujuan agar seorang camat bisa dengan cepat mememuhi tugas dalam memberikan pelayanan terbaik kepada warga atau rakyat yang ada di wilayahnya.

Nah khusus di Kecamatan Sumedang Selatan ini, Camatnya tidak menempati rumah dinas karena rumahnya memang deket ke kantor, bukan hanya camat yang sekarang tetapi juga camat-camat terdahulu.

Jadi rumah dinas ini lebih dimanfaatkan untuk ruang penunjang kegiatan kecamatan, seperti untuk rapat-rapat ataupun ‘botram’,

“Are you know botram?”

Itu tuh makan-makan barengan dengan menu tertentu atau terkadang alakadarnya. Masak bareng-bareng di sela kerja, trus dimakan bersama seperti nasi liwet, jengkol, pete, kerupuk dan jangan lupa sambel dadak terasi plus lalapan, juga tahu tempe plus asin, nggak lupa ayam goreng, gurame bakar pais lele, gepuk juga sayur lodeh…. halaah party atuh ini mah.

Kembali urusan rumah dinas, tentu gayung bersambut. Diriku butuh penghematan dengan gaji terbatas, sehingga dengan menggunakan rumah dinas ini maka biaya kost bisa dihapus. Di tahun 2005, uang 300 ribu itu sangat berharga. Biaya kost 1 bulan bisa ditabung demi masa depan, hahaay. Klo nggak salah gaji tuh 1,1jt atau 1,3juta. Pokoknya penawaran kost gratis di rumah dinas ini adalah kesempatan emas, titik.

Nggak pake lama, segera beres-beres di kost yang lama dan kebetulan tinggal 3 hari lagi. Nggak terlalu banyak barang karena memang hanya seorang anak kost perantauan, cukup satu tas gendong besar dan 1 tas jinjing. Sama 2 dus buku-buku dan pernak-pernik. 2 kali balik pake motor juga selesai.

Dengan dibantu kawan-kawan baru di kecamatan, hari sabtu menjadi momen beberes rumah dinas agar layak digunakan. Kamar depan di setting sebagai kamar kostku, sementara 2 kamar lainnya difungsikan sebagai gudang tempat penyimpanan barang-barang inventaris kantor, meskipun untuk kamar darurat masih bisa difungsikan.

Lantai ruang tengah dibersihkan, di sikat dan dipel bersama-sama, lalu dipasang plastik dan terakhir karpet kantor. Sebagian dipasang satu set meja kursi dan diujung depan kamar dibuat menjadi mushola darurat, cukup buat 15 orang berjamaah.

Kamar mandi dalam diperbaiki, minimal ada air yang bisa digunakan mandi cuci kakus. Sementara kamar mandi belakang, dapur dan ruang gudang belakang praktis tidak digunakan karena kondisinya memprihatinkan.

Tapi itu nggak masalah, lha wong bujangan. Makan tinggal beli ke warung depan atau nebeng sama pegawai kecamatan klo makan siang. “Asyik khan?”

Esok harinya, aku mulai tinggal di rumah dinas camat itu. “Bismillahirrohmaniirohim…”

***

*)Amtenaar : pegawai negeri.

Cerita selanjutnya tentang rumah dinas ini segera dirilis. Wassalam (AKW).

Millenial dan Sholat Jama 2

Pengalaman menggunakan fasilitas sholat jama di bandara Radin Intan II.

Photo : Dokumen akw

LAMPUNG, akwnulis.com, Ini lanjutan dari tulisan terdahulu : Millenial dan Sholat Jama,

Terdiam sejenak, trus dilihat lagi petunjuk arah ke mushola laki-laki, ternyata belok ke arah kiri. Pantesan ada tanda yang dipasang darurat. Pake kertas HVS, kayaknya sering yang mirip aku, dengan pedenya buka ini pintu, padahal salaaah.

Setelah berbelok kiri lalu belok kanan , akhirnya terlihat gelaran sajadah hijau, “Eh tapi kok kecil banget ya mushola nya?”

Sebuah pertanyaan menggerayangi hati. Perlahan mendekat, dan mendekat. Ternyata…..

“Apa coba?”
“Mau tahu atau tahu banget?”

Duh maaf para pembaca, supaya ada efek penasaran yaaa…..

Ternyata itu adalah fasilitas bandara bagi yang akan menggunakan untuk beribadah sholat jama. Baik jama qashar ataupun sholat jama takdim dan jama takhir. Tulisannya yang cukup mencolok dapat membantu para penumpang yang akan melaksanakan sholat sesuai pilihannya.

Beranjak ke dalam, tersedia mushola kecil yang cukup bersih dengan nuansa kecoklatan. Bisa menampung kira-kira 20 orang jemaah. Sebelum ke mushola disamping kirinya ada tempat wudhu dan di sebelah kanan toilet laki-laki dan perempuan yang diatur terpisah.

“Ya iya terpisah, khan klo barengan mah nggak etis”

***

Penulis segera berwudhu dan kembali ke tempat sholat jama tadi. Memang hanya nampung 6 orang, tetapi cukup bagi yang akan sholat jama.

Bukan apa-apa, jikalau tidak terpisah memang sering menimbulkan kesalahfahaman dan ujungnya kekhusukan sholat yang terkorbankan.

Photo : dokumen akw.

Contoh begini, di mushola yang cukup besar. Kami bertiga sudah mengambil posisi solat di shaf hampir belakang mendekati hijab atau pembatas tempat sholat perempuan, mepet kanan. Maksudnya mengatakan secara tidak tertulis, “Kami lagi sholat jama, yang mau sholat biasa, jangan ikutan”

Eh ternyata tetep aja ada calon makmum yang sebenernya mau sholat dhuhur biasa, ngemakmum ke kami. Meskipun sebenernya tidak apa-apa, tetapi bagi kami yang lagi sholat, jadi sedikit buyar konsentrasi. Mau ngomong, “Ini mah lagi sholat jama” sambil nengok ke belakang.

Atuh BATAL sholatnyaaa……

***

Jadi pemisahan tempat sholat dengan sholat jama menjadi sebuah solusi cerdas dalam menjaga kekhusukan sholat. Disini menjadi menarik, karena yang mau sholat biasa ya pilih di mushola dan yang sholat jama bisa lebih konsentrasi. Di mesjid rest area KM57 Jakarta-Cikampek, pemisahan area shilat jama dengan yang sholat biasa adalah dengan memberikan papan petunjuk di beberapa shaf belakang.

Satu lagi, kalau di mushola Bandara Radin Intan II ini tertutup sementara untuk yang khusus area sholat jama dibatasi oleh kaca dan bisa langsung menembus memandang jalanan di depan bandara. Jadi harus khusyuk sambil memandang tempat sujud, jangan ngitungin jumlah mobil yang lewat hehehehe.

Ntar di postingan selanjutnya bahas sholat jama, karena merupakan fasilitas dari Allah Swt kepada umat muslim.

“Penasaran?”

“Tunggu postingan tulisan selanjutnya” Wassalam (AKW).

Salad & Kendali diri

kendali-diri-adalah-prinsip-abadi-dalam-jalani-kehidupan-ini

Bada magrib adalah saat penting mengendalikan diri dari masalah yang akut salama ini.

“Kenapa ba’da magrib?”
“Memang masalah apa?”

Ah kepo, ini khan hanya sebuah ungkapan saja. Pengertian ba’da magrib atau setelah datangnya waktu magrib adalah waktu malam hari yang selalu memggoda untuk makan sesuatu.

“Oh kegendutaan yaaa?”
“Bukan kegendutan, tapi gendut bingiit”

Yups, kegendutan adalah sebuah bukti peperangan abadi di dalam diri dengan tema pengendalian diri. Melawan dan mengendalikan diri sendirilah yang menjadi kunci.

“Udah ah, jangan bahas gendut. Memang sudah begini kenyataannya”

Tapi usaha perlu dilakukan agar kesehatan tetap terjaga.

Setelah mengarungi berbagai cara diet yang ada, baik diet kovensional hingga yang ekstrim. Ternyata prinsip utamanya ada 3, yaitu Niat – Kendali diri – Disiplin.

Niat sangat penting, tetapi tidak cukup itu. Maka aksi menjadi penting, disinilah prinsip Disiplin dan Kendali diri menjadi sangat penting. Dua prinsip ini berdampingan lho guys.

Nah di level kendali diri inilah ujian terberat. Karena jikalau kendali diri ini terlampaui maka Disiplin akan tegak dengan sendirinya. Bener nggak?

“Trus apa urusannya dengan waktu ba’da magrib?”

Nah ini penjelasannya adalah, betapa sulitnya mengendalikan diri memakan sesuatu di waktu-waktu ini. “Ah dasar gembul we kamu mah!”

***

Nah sekarang ada salah satu tips untuk menjaga prinsip Disiplin dan Kendali diri pada waktu malam hari. Caranya yaitu mengalihkan apa yang mau dimakan dan bagaimana cara menyajikannya.

Sebagai bocoran, mengendalikan rasa lapar bisa juga dengan melakukan proses persiapan dalam menyajikan makanan tersebut.

Nah ini yang mau disampaikan sekarang, jadi di saat perut kukurubukan (keroncongan), maka segera mencari stok sayuran di kulkas. Ambil, pilih dan bersihkan sendiri. Potong-potong dengan pisau berlandas talenan.

Yang tersisa hanya romane dan selada, tapi tidak mengapa, itu sudah cukup mengganjal perut di malam minggu yang damai ini.

Sebagai pendukung, balsamic vinnegar dan cuka apel disiapkan. Meskipun akhirnya thousand island saus yang bisa menemani aneka sayuran ini masuk ke mulut dan bergabung di dalam lambung. Semoga bisa mengendalikan diri dan tetap disiplin dengan aktifitas ini. Hatur nuhun (AKW).