Kopi Jagapati vs Bubur Mang Oyo.

Nikmati kopi sambil sarapan pagi.. Yummy.

BANDUNG, akwnulis.com. Menikmati secangkir kopi bisa hadirkan inspirasi, termasuk membantu hati menjaga mood dalam menjalani hari ke hari. Maka ekplorasi tempat – tempat yang menyajikan kopi adalah sebuah haraoan tersendiri. Apalagi aturan sudah dibolehkan meskipun tetap dengan prokes yang ketat.

Tapi, untuk penyajian kopi dengan manual brew V60 musti dikeceng dulu. Karena mayoritas cafe kopi itu yang laku adalah minuman less coffee full sugar and milk… jadi keceng dulu.

Kedua, dilihat kondisi kerumunan. Jika banyak orang dan tentu mayoritas nggak kenal. Agak parno juga karena aku teh yakin si covid19 masih gentayangan dan sukaaa banget berada di kerumunan… kumaha atuh?

Ya demi keamanan diri, carilah tempat warung atau cafe outdoor yang nggak bejubel orang… malah klo moo sepi banget mah datangnya shubuh.. dijamin kosong tuh tempat.. hanya saja masih di gembok da belum buka hehehehe.

Nah, sekarang pas lewat dari belokan jalan trunojoyo ke kiri… klo nggak salah jalan Sultan Ageng Tirtayasa deh. Judulnya kebetulan tapi sambil dilihat-lihat juga…. adaaa… nama cafenya sih Bubur Mang Oyo tapi ada juga sajian kopi.

Lha nggak puguh ini teh, nyari kopi atau mau sarapan sih?”

Aduh ampyun protes mulu, ikutin aja dulu cerita.. sabaar gitu lho.

Tempatnya enak bisa sambil berjemur di pagi hari dan menikmati sarapan bubur ayam. Tapi khan aku mah cari kopi, maka yang dipesan adalah kopi hitam tanpa gula.

Sambil pesen kopi, iseng nanya sang pelayan, “Kopinya kopi apa kang?”

Kopinya kopi Jagapati Gan”

Weits, eta namanya kereen… jadi penasaran dengan rasanya.

***

Hadirlah sebejana kopi hitam tanpa gula ditemani gelas sloki bening, memberi harapan kedamaian dan tentunya mewujudkan kenikmatan.

Sebelum dinikmati, tentu di dokumentasikan dulu.

Nah dokumentasi pertama di area dalam dengan latar belakang buku-buku perpustakaan, sehingga minum kopi disini bisa nambah wawasan… kalau yang mau baca buku-bukunya. Klo yang cuman bengong doang sih… yaa tetep aja before after nggak nambah pinter.

Dokumentasi kedua di lokasi outdoornya dimana cirinya adalah mejanya dari besi dan bolong-bolong. Jadi bagi yang pobhia sesuatu bolong-bolong atau ruang berongga atau lubang yang dikenal dengan istilah Tryphopobhia, jangan maksain kesinih.

Tapi ketang tergantung, klo suasana asik – asik aja mah, seneng atuh kongkow disini. Oh iya menu utama sarapannya udah pasti bubur ayam Mang Oyo tea.

Jadi dokumentasi photo bubur ayam lengkappun harus hadir agar tidak penasaran, masa nggak ada photo buburnya… monggo dipasang di akhir tulisan ini yaa… cekidot.

Bicara rasa kopi jagapati ini relatif standar dan kohitala manual brew V60nya biasa aja. Sebagai pelengkap setelah selesai makan bubur pas juga hehehe… yang pasti vibesnya oke. Bisa sarapan, bisa kongkow dan sedikit berdamai dengan kenyataan. Selamat weekend kawan, Wassalam. (AKW).

Menikmati Kekalahan.

Mengunyah kenyataan dan menyeruput keadaan…

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah perjalanan kontestansi yang bergerak bertahap selalu menghadirkan ketegangan, harapan dan kebimbangan serta kegundahan ataupun akhirnya sesaat tercekat di kala sang nama tidak hadir untuk disebutkan.

Itulah makna perjalanan dalam kompetisi kehidupan. Tampil terbaik adalah relatif karena makna terdalam adalah ikhlas menerima kenyataan. Meskipun lebih mudah ikhlas dikala menang, dibandingkan harus ikhlas di harus menerima kekalahan sebagai kenyataan.

Terdiam dan tertunduk adalah hal yang wajar, atau di tambah lelehan air mata kesedihan supaya suasana mellownya dapet. Mungkin bisa hadirkan iba sesaat, dan menarik simpati dari seseorang yang selama ini memperhatikan.

Tapi apakah itu yang diharapkan?”

Tentu bukan, harapan tertinggi adalah meraih kewenangan.. eh kemenangan. Serta bisa membusungkan dada dan menegakkan kepala dengan sebuah teriak lantang, “AKU BISA”.

Namun apa mau dikata, sebuah kenyataan memang terkadang menyakitkan hati di kala rasa ikhlas belum hadir bersemi. Teriris hati tertumbuk kalbu, tak enak rasanya dan semua tindakan terasa salah.

Kenapa kenyataannya begini?”

Sudahlah, biarkan kenyataan bermain dengan perayaan. Meraih ucapan selamat dan dipuja-puja sesaat. Jangan salah kawan, setiap jaman harus ada pahlawannya.

Mari belajar pasrah sambil mengunyah sayuran segar, potongan paprika, tomat cherry, jagung dan daun selada yang berbungkus kulit lumpia besar, diolesi bumbu segar penuh sensasi. Memberikan kesempatan geraham dan lidah berolahraga dan olahrasa agar menenangkan hati yang gundah gulana.

Selanjutnya untuk mengembalikan stamina yang terkuras kesedihan karena harus merana hadapi kenyataan. Secangkir kopi bali dengan label tertentu diseduh mendadak agar mudah disruput tanpa banyak pertimbangan.

Srupuuttt… hmmm segar, “Eh tapi selain kopi kok ada rasa herbal – herbalnya?”

Tapi karena enak dan terasa bisa mengembalikan semangat, maka secangkir kopipun di tenggak habis… srupuuut.

***

Terasa badan menghangat dan ternyata menghadirkan semangat. Weits keren juga nich kopi. Langsung cari bungkusnya, karena penasaran kopi apa sebenarnya.

Ternyata ini adalah campuran kopi dan aneka rempah yang di branding Stamina Bali Coffee – Taste of Exotic Island. Wah gawat, jangan-jangan memang berkhasiat. Yang paling terasa adalah hadirnya kesegaran dan tubuh mulai berkeringat, bener-bener meningkatkan stamina eh keringaaat hehehehehe.

Langsung saja ambil posisi push up dan 3 set kali 10 hitungan di jalankan sempurna. Dilanjutkan dengan sit up… tapi hanya kuat 5x saja karena ternyata betapa beratnya melawan gravitasi alias menahan bobot diri sendiri.

Penuh mengucur dan menggerus kekecewaan, memberikan kedamaian dan belajar menyusun keikhlasan bahwa menang kalah bukan segalanya tetapi kesiapan menerima dan memaknai kemenangan atau kekalahan adalah sebuah sikap nilai yang luar biasa. Wassalam (AKW).

Kopi Emas Hitam Papua.

Menikmati kelembutan kopi Papua..

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah rasa adalah selera dan setelah dirasa maka hadirlah makna. Jadi tidak serta merta makna hadir tanpa sebuah proses rasa dan selera. Diawali dari selera yang dibangun oleh niat plus keinginan maka bergeraklah dalam sesi mencoba.

Nah mencobapun tidak serta merta langsung menikmati tetapi justru ada proses yang ternyata bisa dinikmati juga. Itulah yang disebut kenikmatan sebuah proses.

Kok jadi pusing ya?”

Tenang masbro, jangan jadi pusing karena dua paragraf. Tapi resapi makna sederhana, bahwa jalinan kata bisa hadir dan menjadi pembeda. Apalagi dimaknai dalam sebuah proses yang notabene disukai.

Gue mah nggak mau ribet, order – bayar – sruput – nikmat”

Hahahaha…. itu awalnya diriku banget. Tetapi setelah tahu bahwa prosespun memiliki kenikmatan, maka waktu yang dijalani menjadi relatif. Bukan masalah sebentar atau lama, tetapi bagaimana sebuah kenikmatan tercipta.

Begitupun kali ini, disaat proses manual brew V60 terjadi maka betapa tahap demi tahap terasa nikmat dan mencoba berimajinasi tentang keindahan alam papua yang sangat kaya raya sumber daya alamnya termasuk mereka cipta sebuah kebun kopi seperti apa, ketinggian berapa hingga dominasi tumbuhan apa di sekitarnya.

Hasil imajinasi ini nanti di crosscheck dengan sajian kohitala ini, yang merk dagangnya menarik yaitu Kopi Emas Hitam Papua.

Maka…

Jeng jreng… peralatan penyeduhan manual disiapkan.

Bungkus hitam dengan label hijau segera dibuka, hmmm harum aroma kopi menggelitik ujung hidung serta menyebar di ruangan… segaar.

Tanpa banyak cingcong siapkan corong V60 tambah kertas filter. Basahi dengan air panas kertasnya dan buang air seduhannya. Segera lanjut isi dengan butiran kopi yang menyegarkan ini. Lalu siapkan air panas dengan suhu 93° celcius (ada termometernya, udah dicolokin dan khusus untuk cek panas air, nggak dipake yang lain hehehehe)

Seduh manual dimulai… dan.. tes.. tes.. tes. Perlahan tapi pasti sajian kohitala dari papua berkumpul rapih di bejana kaca.

Siaap dinikmati brow…

Slrup… srupuut.

Nikmaaat…. ada sebuah rasa yang bulet gitu deh, halus dan nyaman dengan acidity low dan body medium serta di kala tiba ke momen after taste maka hadir selarik dark coklat dan caramel di tutup dengan rasa pahit yang menyegarkan.

Nah itulah sebuah proses rasa yang ternyata begitu banyak makna. Apalagi bicara tanah papua yang sekarang sedang menjadi tuan rumah ajang olahraga nasional yang penuh gelora. Hidup PON PAPUA 2021 dan Nikmatnya kopi emas hitam papua. Wassalam (AKW).

KEHANGATAN MINT TEA & KERENYAHAN LUMPIA.

Menikmati kebersamaan…

BANDUNG, akwnulis.com. Semburat senyum berpendar menerangi siang yang riang, untaian kata dan derai tawa menjadi sensasi rasa yang saling melengkapi. Memberikan segudang arti bahwa pertemuan ini ternyata sudah lama di nanti.

Aneka cerita berhamburan diselingi kunyahan geraham yang ternyata begitu rindu untuk menikmati sajian makanan ringan di luar rumah, tentu bersamamu.

Setelah sekian lama di sekat keterbatasan gerak serta bertubi tugas bagai air bah yang tak suka berhenti sesaat. Kali ini momentum itu hadir atas ijin Allah Sang Maha Penguasa.

Saling bertatapan tanpa bicarapun bisa berakhir dengan senyuman dan sejumput tawa. Karena ternyata sang mata bisa berbicara, mengeluarkan harapan dan keinginan yang terpendam begitu lama.

Pipi yang lembut di saput bedak tipis plus seulas lipstik, semakin memancarkan auramu yang begitu mempesona. Sebuah momentum kongkow sore yang sempurna.

“I love u, my Darling”

Meskipun dibatasi waktu, tetapi kebersamaan ini memberikan arti tersendiri. Melengkapi kembali rasa kasih sayang yang harus di pupuk dan di jaga selamanya.

Sebagai teman berbincang dan bercengkerama maka sajian marakesh mint tea dan lumpia tersaji dengan segala kenikmatan rasa.

Menu lainnya sengaja di skip karena telanjur dinikmati tanpa sempat melakukan dokumentasi, khan tidak elok jika ditampilkan piring kosong dan mangkuk kosong serta kotor ditambah isinya sisa – sisa perjuangan.

Yang pasti kesegaran mint tea mewakili kehangatan pertemuan kami dan kerenyahan lumpia adalah keceriaan dalam momentum saling berbagi cerita serta menghayal untuk rajutan kehidupan masa depan. Wassalam (AKW).

Buku AJUDAN.

Ikut seneng deh….

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah buku berwarna jilid merah dan gambar siluet badan warna hitam terasa nyaman di genggaman. Ada terselip rasa yang tidak biasa.

Kenapa gitu?”

Nih… kedua tangan menyorongkan buku di wajah sang kawan yang selalu penasaran. Lalu dibaca dengan lantang.

Melihat judulnya -AJUDAN setia dan pemberani- karya bapak Dr. Iip Hidayat, trus kenapa ikutan bangga?”

Dasar kepo, ini buku yang miliki makna berbeda karena ada bagian di buku ini yang tak terpisahkan dari perjalanan karier hingga saat ini.

Ah muter-muter, yang jelas aja, apa maksudnya?” Agak sewot tuh kawan, sambil tangannya merebut buku dan berusaha membaca sekilas lembaran isinya.

Slow mas bro, gini aja, buka halaman 74 dan itu jawabannnya”

Sambil agak dongkol, sang kawan membuka halaman dimaksud. Baca dengan serius dan akhirnya berkomentar, “Hahahaha sampeyan gokil juga, kagak dipecat tuh sama pak bos”

Senyuman mengembang dan akhirnya terbahak bersama, menceritakan aneka kejadian di masa lampau dikala berada dalam posisi ‘ekor gajah’… posisi ekor tetapi banyak yang takut dan (terpaksa) hormat karena melihat gajahnya… eh bosnya.

Masa – masa penuh dinamika, di kala awal berkarya menjadi ASN muda. Posisi ajudan menjadi kawah candradimuka pertama dalam dunia kerja yang nyata. Penuh suka duka serta cerita romantisme masa muda yang (mungkin) besok lusa menjadi bagian cerita.

Jadi yang penasaran pengen baca bukunya, tinggal cari aja di toko buku atau di online via tokped dkk…. cuss. Beli dan baca.

Kecuali yang manja pengen di dongengin, mendengarkan suara indahku.. ahaay. Tunggu saja nanti link youtube-nya, maka mungkin bisa dipuaskan dengan hal itu.

Selamat penasaran kawan. Wassalam (AKW).

Piknik tivis tivis…

Menikmati setitik piknik, meskipun…

BANDUNG, akwnulis.com. Terpaku menatap keindahan alam yang membentang memanjakan mata. Begitu indah dan menentramkan. Lansekap dataran tinggi bandung utara hingga menyentuh kota Bandung yang penuh hinggar bingar optimisme.

Tarikan nafas begitu lega, dikala saluran pernafasan bercengkerama dengan udara segar milik tuhan yang tidak ternilai, kembali rasa syukur adalah kewajiban, betapa banyak nikmat Allah yang sering kita lupakan.

Apakah ini rehat sejenak dari rutinitas atau hanya sebuah hayalan tingkat tinggi akibat nggak bisa piknik dimasa PPKM darurat?”

Hehehe hampir beririsan pendapat itu, tetapi yang pasti kali ini masih dalam posisi bekerja dan kebetulan lokasi rapatnya di bandung utara. Maka udara segar begitu mudah didapat, meskipun protokol kesehatan tetap ketat.

Penggunaan QR code aplikasi lindungi sebagai pembuka untuk bisa memasuki area, dilanjutkan swab antigen sebagai bentuk kewaspadaan karena pandemi covid19 masih ada. Untuk penggunaan hand sanitizer dan masker jangan dibahas lagi, ini sudah given, wajib hukumnya. Dengan semangat optimisme adalah agar kita terhindar dari virus covid19 sekaligus menghindari sebagai penular kepada orang lain ataupun keluarga tercinta.

Nah dikala waktu istirahat tiba, maka mencari tempat private di ujung resto sambil menikmati sajian dari panitia, memberikan sensasi rasa berbeda sekian purnama tak pernah nongki-nongki atas nama bahagia.

Sajian yang dipilih kembali kepada tema utama yaitu ngopay dan ngojay…. eh salah ngopay dan salad.

Pertama untuk memgobati kehausan atas piknik dan wisata lainnya adalah sajian kopi hitam tanpa gula dengan seduhan manual menggunakan V60, bean yang dipilih kali ini adalah manglayang wine nectar. Sebuah pilihan tepat karena menyajikan sensasi rasa lengkap. Acidity jelas begitu ‘menggigit’ sejak seruputan pertama dan ninggal di ujung lidah serta di ujung kenangan. Body medium dan after tastenya bikin damai, paduan fruity dan tamarind serta cocoa hadir selintas menemani keceriaan kali ini.

Kedua adalah sajian utama eh atau pendukung ya?.. thai salad. Yach pokoknya saling mendukung aja deh. Sajian makanan sehat yang dilengkapi potongan daging sapi yang empuk dan memanjakan lidah. Apalagi saus khasnya begitu menggoyang lidah dan membuat selera makan semakin membuncah….. yummy.

Perpaduan inilah yang menjadi momentum syukur berkelanjutan. Kegiatan meeting bisa diikuti diawali dengan rangkaian testing antigen dan aplikasi peduli lindungi ditutup dengan piknik tivis – tivis di kala makan siang ditemani sajian kopi kohitala dan salad penggugah selera, Alhamdulillah.

Pak maaf, ditunggu di ruangan, acara sudah mau mulai lagi”

Sebuah suara sendu membubarkan piknik tipis-tipis kali ini. Segera anggukan kepala dan bergegas… eh sruput dulu sisa kopi yang ada dan sikat habis salad yang juga tersisa.. nyam nyam nyam… yuk ah meeting lagi. Wassalam (AKW).

Berhenti di kala gemilang.

Diskusi hangat tentang makna sebuah keputusan.

DAGO, akwnulis.com. Sebuah pertemuan yang tidak direncanakan, sering kali berbuah hikmah dan pelajaran berharga dalam mengarungi kehidupan. Begitupun diskusi hangat kali ini, dengan tema berhentilah dikala gemilang.

Sebuah kalimat yang begitu menarik, karena mayoritas seseorang yang sedang berada dalam posisi keemasan dengan taburan kinerja dan prestasi yang membanggakan memiliki kecenderungan mempertahankan posisi, jabatan, pengaruh dan tentu kewenangan yang berimplikasi juga dengan penghasilan.

Tentu makna gemilang di sini harus dibuktikan oleh hasil pengawasan dan audit secara eksternal dan kompeten, bukan klaim diri sendiri bahwa ini adalah capaian prestasi. Dilengkapi testimoni dari semua penjuru mata angin bahwa memang prestasi yang diraih dan pasukan atau perusahaan yang dipimpinnya membukukan keuntungan yang kinclong serta memiliki reputasi luar biasa.

Sementara jika diamati, jangankan yang gemilang, yang biasa-biasa saja kinerja dan prestasi dalam sebuah kedudukan cenderung mempertahankan dengan berbagai strategi dan cara – cara tertentu.

Justru sebuah keputusan berani yang diambil ini menjadi sebuah cerminan penting bagi diri ini yang masih sedikit pengalaman dalam bekerja, berorganisasi dan juga berkiprah dalam kehidupan bermasyarakat.

Tidak hanya butuh keberanian untuk mengambil keputusan berhenti atau pengajuan berhenti dikala perusahaan atau jabatan yang disandang dalam posisi gemilang, tetapi juga kesiapan mental dalam wujud keikhlasan untuk melepaskan semua atribut yang melekat dan segala fasilitas yang didapat termasuk juga kerelaan bahwa selanjutnya penggantinya belum tentu memiliki kemampuan yang sama.

Tentu prosesnya tidak langsung berhenti begitu saja, ada tahapan yang harus dilalui sebagaimana termaktub dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga sebuah perseroan atau peraturan perundang-undangan yang mengatur hajat hidup seorang ASN.

Diskusi terus bergulir dan terlihat bahwa sebuah keputusan yang diambil dan konsekuensi yang akan dihadapi bukan menjadi beban tetapi menebalkan rasa syukur bahwa sebuah kesempatan umur dan jabatan telah diberikan oleh Allah Subhanahu Wataala.

Sebuah tanya menyeruak di dada, “Apakah sebagai ASN bisa mengikuti jejaknya?”

Sebuah senyuman menjadi jawaban, dikala kopi hitam manual brew yang tersaji menjadi saksi perbincangan ini. Selamat dan sukses atas inspirasi kali ini, sebuah kombinasi keputusan berani, keikhlasan dan kesiapan mental dalam memaknai perjalanan kehidupan. Wassalam. (AKW).

NGABANGKÈ – fbs

Dari istirahat menjadi kotretan penuh Niat.

CiMaHi, akwnulis.com. Sebuah ide menulis memang hadir sekelebat dan terkadang hilang jika tidak segera ditangkap. Maka cara terbaik adalah segera ikat dengan kata-kata, disulam oleh kalimat hingga hadirkan kemasan yang penuh niat.

Ada lagi, jikalau lebih nyaman menggunakan bahasa ibunda, maka tulislah. Jangan khawatir dengan perbedaan karena rangkaian kata memiliki kekuatan untuk kita terus berkarya.

Jadi, kembali tulisan singkat hadir berbahasa sunda dengan ilustrasi tiduran di lantai luar ruang kerja, tak lupa tetap menggunakan masker sebagai penanda bahwa waspada adalah yang utama.

Cekidot….

FIKMIN # NGABANGKÈ #

Geus dua peuting panon teu manggih peureum, salawasna bolotot ngagawèan urusan dunya nu pinuh ku wates waktu. Cikopi jeung udud teu sirikna piligenti asup kana tikoro jeung liang irung, ihtiar mèh awak jagjag ngagawèkeun sagala urusan bari mondok di kantor.

Ayeuna asup peuting katilu, geuning loba kènèh garapeun. Sirah mimiti lieur bari awak nyèksrèk manasan. Maksakeun balik heula, sugan wè geus panggih mah cageur.

Nepi ka golodog, motor di sarandèkeun. Muka tulak da boga konci sèrep. Bus ka imah, ngagolèdag na korsi panjang, reup sarè.

A gugah, ngalih ka pangkèng kulemna” sora halimpu ngagareuwahkeun. Beunta saharita.

Ningali lalangit naha ènternitna bodas, nempo hordèng beresih jeung jandèla nako makè kaca hias, sareungit deuih. Mencrong ka nu ngahudangkeun. Hareugeueun, “Saha salira?”

Plak!… Pipi katuhu dicabok, panas jeung reuwas. “Akang kunaon, hilap ka Isyeu?”

Masih hareugeueun, “Dimana ieu?”

Buk! Karasa punduk aya nu ngababuk, poèk mongklèng saharita. (AKW).

JUMAAHAN – fbs

Sebuah cerita dikala jumatan (bhs sunda)

BANDUNG, akwnulis.com. Setelah sekian purnama berkutat dengan kesibukan dunia, kali ini tiba saatnya untuk kembali bercerita dalam genre bahasa sunda yaitu fiksimini.

Sebuah tulisan singkat dengan maksimal 150 kata sudah menjadi satu cerita dan idenya hadir disaat shalat jumat kemarin siang, akibat kaki kesemutan (singsireumeun). Selamat membaca…. eh klo nggak ngerti karena berbahasa sunda, japri aja yaa…

Silahkaan……..

FIKMIN # JUMAAHAN #

Nyabak cai pancuran pas wudhu meuni waas tur nikmat, karasa tengtrem hatè. Angin ngahiliwir di lembur singkur Dusun Cibapang Kuningan. Bus ka masigit geus rempeg ma’mum, dariuk tartib nungguan imam ngamimitian prak prakan solat jumat.

Gèk diuk sila gigireun Uwa guru, karasa meuni merenah, nikmat pisan jumaahan di lembur, tiis tur tingtrim. Teu kudu lila mimiti lelenggutan.

Allohuakbar alllohuakbar…” Sora iqomah ngagareuwahkeun, carita keur sosonoan di Linggarjati, leungit saharita. Panon beunta, langsung gura giru nangtung nurutan jamaah lianna.

Pas geus nangtung, geuning karasa bitis kènca katuhu loncèr euweuh tulangan. Awak badag ngagubrag, ninggang pun Uwa nu teu walakaya.

Lalaunan nangtung deui bari ngusapan bitis nu singsireumeun, Takbirotul ihrom ngudag Imam nu rèk ruku. Uwa Guru gigireun molotot nahan kanyeri.

Ba’da jumaah ngagandong Uwa guru bari èra parada. Muru ka ahli tulang keur ngubaran nu misalah sapuratina. Hampura. (AKW).

KOPI MALAM & Salad Siang.

Kopi malam & Salad Siang

RIAU209, akwnulis.com. Termenung memandang temaram malam yang menelusup dari sudut jendela ruang kerja, ternyata sesosok gelap telah melingkupi di luar sana.

Sementara di hadapan mata masih terserak segudang harapan dan permintaan. Bertebaran di atas meja, di samping PC juga berjejal di dalam layar laptop yang hampir 12 jam tetap terjaga.

Malah di sela kursi dan di lantai bawahpun ternyata serpihan harapan itu ada.

Perlahan jemari bergerak menggenggam senjata andalan, sebuah pulpen sakti bertinta biru. Digoreskan sedikit di putihnya kenyataan, dan byaaar…… suasana malam yang kelam berubah menjadi terang benderang.

Coret lagi di kertas lainnya, maka muncul cahaya mercon dan petasan kecil warna warni. Jemari menari dan bergerak lincah untuk menemui semua pemgharapan yang sudah lama menanti diberikan sentuhan – sentuhan.

Tuntas dengan si pulpen sakti dilanjutkan dengan sentuhan akhir di layar laptop. Hanya memberikan sejumput senyuman digital dan satu klik persetujuan, menghadirkan sejuta emoticon kelegaan dan perlahan tapi pasti semua pamit menyisakan layar laptop yang putih bersih, Alhamdulillah.

Sebelum meninggalkan semuanya, ritual pamungkas adalah bercengkerama dengan sikopihitam penggugah rasa dan sepiring kecil salad warna warni yang setia menunggu dari siang tadi. Setetes demi setetes membasahi tenggorokan dan kunyahan salad melengkapi perubahan malam temaram menjadi pekat karena mentari telah sembunyi di balik harap.  Wassalam (AKW).