Rindu Bapak Ibu.

Sebuah coretan rindu yang tertahan ‘sesuatu’.

Photo : Kopi Kerinduan / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sejumput haru bersembunyi diujung dada kesendirian, sebait harap tetap dipegang meskipun kenyataan belum sesuai harapan.

Hari lebaran yang emosional, harus menahan rindu untuk tidak bisa wajah, raga dan jiwa bertemu langsung dengan kedua orangtuaku…..m yang sebenarnya jikalau hanya bicara jarak, sangat mudah untuk ditemui.

Bersimpuh di kaki mereka, memohon doa keberkahan dan keselamatan dunia akherat di momen hari suci pasca dilatih selama 30 hari di bulan ramadhan 1441 hijriah.

Memeluk ibu bapak dengan penuh kehangatan dan ketulusan, dimana karena merekalah, karena pengorbanan, pola pendidikan, motivasi dan keikhlasan kepada anaknya hingga segalanya dilakukan demi cita-cita hakiki yaitu agar anak cucunya kelak bahagia di kehidupan masa depannya.

Mendengarkan cerita dari ibu dan bapak, betapa kenakalanku di masa lalu adalah rangkaian kebahagiaan yang mengharu biru, tiada umpatan kasar atau bentakan, tetapi peringatan halus yang memberi ketenangan.

Berpose terbaik setahun sekali dengan senyuman dan tawa yang tak pernah habisnya lalu memposting di media sosial agar tahu bahwa dunia ikut bahagia melihat kita ceria, itu dulu karena sekarang harus menahan diri terlebih dahulu.

Maafkan anakmu ibu bapak, pandemi ini membatasi hadirnya raga tetapi jiwa dan asa tetap tidak bisa dihalangi untuk senantiasa menyayangimu sepanjang hayat ini.

Ketidakhadiran kami di kampung halaman adalah bukti kasih sayang kami untuk menjaga kebersamaan ini memiliki kesempatan lebih lama lagi.

Ah sedih….. tapi inilah pengorbanan. Jikalau tenaga kesehatan berjibaku di medan pertempuran menyelamatkan nyawa manusia yang sedang melawan ganasnya covid-19, maka kami disini berkorban untuk menghentikan penyebaran pandemi ini dengan menahan diri, mengendalikan rindu sekaligus menata rasa agar tidak memposting photo ceria bersama keluarga di media sosial kita.

Karena….. mungkin banyak yang berduka atau malah merasa pengorbanan ini menjadi sia-sia akibat terjebak oleh sebuah kultur budaya yang sebetulnya bisa kita tahan sementara.

Ah sudahlah, jangan berfikir pengorbanan rasa ini sia-sia, ikhlaslah menata asa, karena hanya Allah SWT yang tahu pengorbanan kita, semoga menjadi pahala yang menyelamatkan kita di dunia dan alam akherat nantinya.

Tetap jaga silaturahmi dengan memanfaatkan teknologi tanpa harus pergi-pergi di masa pandemi ini.

Secangkir eh setengah cangkir kopi coldbrew cukup mengerti kegundahan ini, ditemani semerbak bunga sedap malam yang mekar mewangikan kesepian malam ini. Tanpa banyak basa basi merelakan diri disruput gelas pergelas hingga sebotol 250 ml tandas tuntas tanpa ampas dan keharuman bunga seolah tiada batas.

Banyak sekali yang ingin dituliskan untuk mewakili kegundahan ini, tapi biarlah sisanya tersimpan di sanubari dan catatan hakiki milik alam semesta ini.

Bapak dan ibu, maafkan kami.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah.

Jiwa semoga kembali suci dan bersiap melanjutkan hari, menjaga ibadah seperti sebelum idul fitri, serta tidak lupa kembali menulis tentang hari ini dan cerita kopi.

Semoga pengorbanan ini menjadi berkah, dan sembuhkan gundah menjadi masa depan yang indah. Wassalam (AKW).

Golden Ginger Latte.

Menikmati rasa dahaga di bulan puasa.

Photo : Golden Ginger Latte / dokpri

CIMAHI, akwnulis.com. Tuntas tarawih bersama masih tersisa waktu dan ruang dalam tembolok untuk memasukan sesuatu melalui mulut yang seolah tak pernah kenyang sejak adzan magrib berkumandang.

Mengapa begitu yach?”

Sebuah tanya yang memang nyata, tetapi cukuplah menjadi bahan renungan dan tasyakur bahwa bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah dan hikmah.

Urusan mulut pengen terus ngunyah, itu mah banyak faktor. Baik dari sisi momen sebagai faktor pertama, dimana kesempatan makan minum di batasi waktunya di bulan shaum sehingga ruab raeb – sagala hayang (pengen makan semuanya) padahal kapasitas perut itu ada batasnya. Jangan sampai berlebihan karena akan menimbulkan derita ‘kamerkaan‘ (kekenyangan) seperti pengalamanku dahulu, cerita lengkapnya monggo klik DISINI.

Faktor kedua adalah setelah shalat tarawih, badan lebih segar dan makanan berbuka shaum sudah tergerakkan sehingga di perut sudah mulai tertata, maka rasa laparlah yang ada lagi.

Faktor ketiga adalah kualitas makanan/kudapan/minuman yang disajikan memang begitu menggugah selera. Pasti sudah nggak tahan untuk menyantapnya setelah tarawih tuntas tas tas tas….

Nah ini faktor utama, berhubungan dengan RW yaitu RW06 atau dibaca Rewog alias senang barang hakan (makan segala), yang biasanya ini ada karena faktor keturunan, lingkungan ataupun memang si eta mah selalu laparrrr……. ini sulit untuk menjelaskan karena pasti kapanpun dimanapun selama lepas berbuka hingga sahur, maka digayem saja segala macam makanan kayak mesin giling hehehehe… ayo ngaku ayo….

Sementara bagiku, tuntas shalat tarawih tadi malam hanya mencoba segelas kecil minuman dingin jamu kekinian, ikutan istri yang begitu rajin mengkonsumsi minuman kuning pekat dingin manis dan rasanya menyenangkan.

Namanya Golden Ginger Latte (GGL), sebuah minuman perpaduan unik yang memberi sensasi rasa jahe dan latte serta manis madu yang memberi suasana rindu.. ahaay. Diproduksi oleh PINKu yang beralamat di Jl. Sultan Agung No.8 Bandung.

Gampang, klo mau tapi #stayathome ya tinggal gofood atau grabfood aja. Harganya 100rb/liter kalau via online, pernah beli langsung ke gerainya harganya 90ribu.

Srupuut…. hmmm.. segaar… eh sekarang mah udah pagi dan memasuki hari shaum ramadhan selanjutnya, selamat berpuasa di hari ke 19. Wassalam (AKW).

Melepas Dendam – Ramadhan

Belajar memaknai shaum dengan umurku..

KBB, akwnulis.com. Terkadang hardikan kalimat bisa lebih tajam dari sebilah pisau yang tajam, menyayat ke ujung hati dan bertahan lama dibawah uluhati dan menjadikan dendam tak bertepi.

Halah bahasanya begitu mengerikan, emang mau cerita apa?... ”

Ah kamu mah, biarin atuh, lebay dikit. Daripada gabut nggak jelas mengerjakan apa di rumah maka mari bercerita tentang apa saja.

***

Siang itu, aku, asep, ilma, opik, agus dan adut bermain di area pasar selasa karena kebetulan sedang libur sekolah bulan ramadhan. Betapa menyenangkannya berlarian sambil tertawa-tawa, terlarut dalam permainan ‘ucing-ucingan‘ dan ‘ucing sumput’ (permainan petak umpet).

Klo permainan ucing-ucingan adalah satu orang jadi ‘ucing’ dan dengan hitungan 10 maka boleh mengejar mangsa dan menyentuhnya untuk menjadi ucing berikutnya, dan selanjutnya ‘ucing baru’ mengejar calon ucing selanjutnya dan selanjutnya…. pokoknya seruuu.. dengan kesepakatan tidak tertulis bahwa area pelariannya hanya sekitar pasar yang sedang kosong, karena hanya ramai di hari selasa saja (makanya namanya pasar salasa).

Saling berkelit, berlari secepat mungkin, gaya menghindar sekaligus naik ke atas bambu-bambu tempat penyekat los – los pasar hingga nyampe ke kerangka atap…. pokoknya nggak mikir jatuh, yang penting tidak kena sentuhan ‘ucing’ dan jadi ‘ucing berikutnya’.

Dari sekian banyak los pasar ini ada beberapa bangunan depan yang memang berpenghuni dan menjual dagangan baik sebuah warung Kang Uya, juga ada Tukang Jahit Mang Atang, termasuk tukang bubur Bi Eni dan satu lagi warung jual masakan… eh didepannya ada juga toko mebel ukuran kecil.

Nah keributan kami bermain, terkadang melewati aktifitas jual beli mereka, dan mayoritas tidak mengganggu, apalagi Mang Atang, meskipun kami masuk ke tempat jahitannya dan sembunyi dibawah mesin jahit, terkadang dilindungi… usut punya usut.. karena salah satu peserta aktif geng permainan kami adalah anaknya Mang Atang yaitu cep Ilma.

Ketika kami sedang melintas sambil agak merunduk di dekat warung Bi Eni, tiba-tiba, “Heeey, barudaak garandèng waè, arindit siah tong arulin wae didieu!!!’ Disèblok siah” (Hey anak-anak ribut melulu’ PERGiii.. jangan main diSINI!!!’ Akan saya siram yaa)….

Bagaikan halilintar menyambar pendengaran kami, membuat hati ini berdebar dan mata berkunang-kunang. “Kenapa bibi bertubuh besar ini marah-marah?”

Kami saling berpandangan, ini bukan permainan ucing-ucingan kami yang pertama, sudah sering dilakukan, kenapa baru sekarang menghardik dengan begitu keras, mengapa?

Permainan langsung break dan digelar rapat terbatas, otomatis status ucing dan non ucing gugur dengan sendirinya. Semua duduk melingkar di los D14 posisinya agak di belakang tetapi dasarnya sudah disemen sehingga enak dipake duduk dan mudah dibersihkan dari debu dan kotoran yang ada.

Ini tidak boleh dibiarkan”

“Kemerdekaan bermain kita sudah direnggut hari ini”

“Ayo lawan”

“Tunjukan kekuatan kita”

Wah betapa heroik kami semua membahasnya, padahal jelas-jelas hari masih panjang menuju beduk buka puasa.

Waktu itu kami belum paham dengan emosi orang dewasa, mungkin saja Bi Eni sedang ada masalah atau pe-em-es sehingga sensi terhadap kegaduhan kami, tapi yang terasa oleh kami adalah kesewenang-wenangan saja.

Segera berbagi usulan untuk membalas perbuatan ini, ada usulan bikin keributan bermain saja di depan warungnya… tapi takut dihardik lagi dan disiram air kotor.. itu khan berabe.

Eeemp apa yaa

Semua wajah kawan-kawan begitu serius memikirkan ‘revenge’ tanpa berfikir dampak apapun, maklum kami khan anak-anak yang belum bergikir panjang, baru bisa memaknai kehidupan dengan bermain.

Tiba-tiba, Asep bergerak menangkap seekor bebek yang kebetulan ngadèdod disamping tempat kami meriung (berkumpul),

Weeek….. weeeek, weeeek.. bebeknya berteriak-teriak dan meronta, tapi kalah oleh kempitan Asep, teman kami yang miliki badan paling besar.

Asep berkata, “Ini bebek Bi Eni, hayu kita sembelih aja sebagai pembalasan kita”

Kami semua berpandangan-pandangan, ada rasa tidak setuju yang terpancar dari wajah-wajah belia kami. Sesaat waktu seakan membeku, tidak ada ucapan kata dari mulut mungil kami, semua terdiam dan berbicara hanya dalam hati atau kepala masing – masing.

Kayaknya keterlaluan kalau sampai bebek tak berdosa ini kita sembelih tiba-tiba” Ilma berkomentar dan ditimpali oleh Adut, “Iya, lagian kita juga kali yang kelewat ribut”…. kami semua mengangguk dan sepaham dengan usulan terakhir.

Oke kawan, kita lepas ya bebek malang ini… pergi sanah!” Tangannya melepaskan pegangan bebek tadi dan membiarkannya pergi. Terlihat sang bebek begitu senang karena selamat dari kejadian mengerikan.

Kami semua akhirnya berbincang lagi dan bercengkerama sambil tertawa-tawa, dan seieing waktu menjelang adzan ashar, rasa kesal karena dibentak bi Eni perlahan pudar dan hilang, tiada dendam ataupun ingin memberi pembalasan karena itu hanyalah sebuah fragmen kehidupan.

Meskipun esok harinya dan esok harinya kamipun sering dihardik karena keributan yang kami lakukan, tapi kami terima sebagai bagian dari bentuk perhatian kepada kami anak-anak kecil yang sok dewasa dan selalu memaknai kehidupan ini begitu menyenangkan dengan berbagai permainan, persahabatan dan perhatian dari orang dewasa di sekitar kita.

Hari itu, kami belajar memaafkan dan belajar mengendalikan ketidaknyamanan hingga musnah tanpa ada niatan dendam pembalasan.

Selamat berpuasa di hari penuh berkah ini. Wassalam (AKW).

Komansu & Kohitala Biji Pak Asep.

Berlanjut menikmati biji lainnya.

Photo : Seliter Cold brew biji pak Asep / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Hanya perlu 3 hari untuk menikmati buah karya biji kang Yuda, sebotol besar tandas tiada sisa dan yang ada tinggal seonggok botol kaca benderang tembus cahaya. Penasaran tentang cerita menikmati biji eh kopi kang Yuda, klik saja DISINI.

Hari keempat mulai berharap bisa menikmati biji lainnya disela kesibukan yang mendera.

Emangnya sibuk apa pak, khan PNS enak disuruh libur atau #workfrom home alias kerja dirumah?

Sebuah tanya yang bisa hadirkan jawaban beraneka, meskipun sebuah tanya wajar hadir karena sudah menjadi persepsi bahwa kesantaian seakan melekat di status PNS.

Padahal, kondisi saat ini justru merupakan tantangan untuk terus beradaptasi dengan kenyataan dan tetap produktif di posisi apapun. Bicara kesibukan tentu relatif, tetapi kami bisa mengklaim bahwa dunia PNS kami penuh tantangan, monitoring dan pelaporan online untuk mengukur kinerja kami baik pas piket di kantor ataupun ber-WFH di rumah ataupun terlibat dalam sub divisi gugus tugas pencegahan pandemi covid19.

Absensi di smartphone dengan photo selpi minimal 2x sehari dengan GPS di lock di posisi kantor masing-masing membuat kepatuhan yang hakiki. Pelaporan harian minimal 300 menit perhari dengan rincian tugas yang sudah diatur serta harus dilengkapi photo up todate adalah keharusan, harus lapor dan harus narsis… awww jadi takut terkenaaal.

Jadi sisi adaptasi teknologi adalah tantangan terkini, dari mulai koordinasi via videocall di whatsapps yang cuman muat maksimal 4 orang lalu bergeser dengan belajar ID meeting via aplikasi zoom yang sekarang diramaikan tentang kerentanan dari sisi keamanan atau kembali lagi ke aplikasi skype yang pernah bertahun lalu menjadi pelepas rindu pelaku LDR lintas kota, batas negara dan benua.

Trus hubungannya sama menikmati biji kang yuda dan biji lainnya gimana?”

Photo : Seliter Komansu biji Pak Asep / dokpri.

Itu dia, karena dengan model adaptasi teknologi di masa pandemi ini, maka virtual meeting menjadi keharusan yang ternyata perlu effort lebih dari biasanya. Dari mulai persiapan peralatan, download aplikasi, wifi kantor yang jadi favorit plua kuota wifi pribadi atau untuk tethering jika pas WFH hingga standar smartphone yang ternyata belum kompatible adalah sebuah dinamika. Belum lagi aplikasi virtual meeting gratisan yang lagi booming ternyata ada masa 40 menit putus nyambung, cukup bikin deg-degan pada awalnya… selanjutnya deg-degan juga atuh… klo nggak deg-degan berarti jantung anda bermasalah hehehehehe.

Jadi masa jeda istirahat siang begitu berharga untuk makan dan shalat dhuhur sebelum dilanjut lagi masuk ruangan kerja didepan laptop ditengah rumah untuk melanjutkan virtual meeting yang terjeda ishoma.

Maka kebiasaan prosesi ngopay eh ngopinya sedikit berubah. Biasanya bisa menyeduh sendiri yang butuh waktu untuk persiapan dan pelaksanaannya….. tetapi sekarang dengan segala aktivitas WFH yang ternyata lumayan menyita waktu, maka cold brew dan kopi susu dari biji (kopi) pak Asep adalah pilihan tepat… tinggal order, dikirim, buka, srupuut.

Terima kasih juga kepada bos Yuda-Halu yang membuat diri ini terpapar dan terjangkit ketergantungan terhadap biji pak Asep… eh biji kopi pak Asep yang diolah apik menjadi sajian kopi yang menarik hati.

Bahannya sama yaitu Espresso Blend dari Desa Girimekar biji kopi pak Asep yang dibuat original cold brew dan satu lagi komansu (kopi manis bersusu). Dua pilihan produk ini jadi lengkap untuk mengakomodir aliran kohitala (kopi hitam tanpa gula) dan penikmat komansu.

Rasa cold brewnya seger, dingin dingin asam dan kepahitan sedang nan menggoda. Klo kopsusnya sih kata akumah manis banget, tapi istriku menyatakan enak banget…. langsung saja aku setuju hehehehehe.

Selamat membaca dan membayangkan menyeruput produk kopi dingin siap minum yang bijinya dari pak Asep Girimekar. Tetap semangat meskipun kondisi kehidupan sedang berubah cepat. Wassalam (AKW).

Menikmati Biji Kang Yuda.

Menikmati bijinya…

CIMAHi, akwnulis.com. To the point saja, setelah disruput maka hadirlah rasa kopi dengan body strong, acidity tinggi dan kenikmatan yang hakiki. Apalagi disajikan masih dingin karena baru keluar dari kulkas. Kekuatan citarasa arabica HaLu begitu berkarakter dan memiliki rasa yang unik.

Yup sebotol kaca gede ukuran 1 liter, cold brew kopi buatan cafe biji-rakyat di jalan Supratman no. 90 Kota Bandung sudah tiba di rumah dengan selamat.

Yang bikin senyum dikulum adalah label botol kopinya yang didesain kreatif dengan kata-kata yang agak absurd alias multi tafsir, yaitu : ‘Anda menikmati Biji Kang Yuda, Single Origin Gununghalu Jawa barat‘ dan photo seseorang yang sudah lama diriku mengenalnya sebagai pengusaha muda yang pantang menyerah menanam kopi hingga akhirnya menghasilkan satu kopi khas yang memiliki citarasa unik sekaligus bisa melanglang buana karena kecintaan dan ketekunannya dalam dunia perkopian jawa barat.

Dalam suasana WFH dan kekhawatiran penyebaran wabah ini, maka pesan kopi yang sudah jadi siap minum dengan kualitas terbaik adalah pilihan tepat. Tentu beda orang beda selera, seperti cold brew ini, sajian kopi yang hadir dengan suhu dingin memberi sensasi berbeda bagi penikmat kopi dimanapun berada. Bisa diminum perlahan sambil rapat virtual video conference ataupun membuat konsep dan laporan harian serta mingguan sebagai bagian dari kewajiban ASN, insyaalloh lebih semangat dengan sensasi SPA (segar – pahit – asem)nya.

Lalu jangan lupa, senantiasa berbagi, minimal dengan saudara serumah atau yang dekat jaraknya, karena 1 liter cold brew untuk sendiri itu terlalu banyak… ya iya lah, ah kamu mah suka macam-macam.

Trus jangan lupa, pas orderan kopinya datang maka berlakukan protokol kesehatan pencegahan covid-19. Bisa botolnya dicuci atau disemprot hand sanitizer lalu di elap dengan tisu bersih…. atau botolnya dijemur?…. semua untuk jaga-jaga demi kebaikan bersama.

Klo pas minumnya supaya awet pakailah masker hehehehehe…. salah, atuh nggak bakalan bisa nyruput… yang pasti berdoa dulu sebelum meminumnya dan senantiasa bersyukur atas nikmat hidup ini serta doa khusus kepada Allah SWT agar pandemi covid-19 ini segera sirna dan denyut kehidupan kembali seperti sedia kala. Happy wekeend, Wassalam (AKW).

Flores Red Honey vs Covid19

Antara Waspada, kerja dan Arabica Flores yang menggoda selera.

Photo : Masker & petugas / dokpri – sketsa.

BANDUNG, akwnulis.com. Pas kebagian jadwal piket di kantor.. eh masuk kantor, maka berbagai perlengkapan juga disiagakan. Masker kain dipakai, hand sanitizer di botol kecil udah masuk saku celana kanan, sabun cair di celana sebelah kiri. Tak lupa semprotan kecil berisi disinfektan untuk menyemprot gagang pintu dan permukaan toilet disaat kebelit eh kebelet pipis atau eek. Plastik sarung tangan buat bikin kue juga ready di tas, dan jas hujan jikalau memang hari hujan.

Bukan parno bin panik tapi waspada, sebuah prinsip yang harus dipegang dalam memerangi wabah ‘gaib’…. halah kok segitunya pake sebutan gaib segala. Memang bener kok, tapi ini hanya istilah, karena virus corona tidak terlihat tetapi efeknya dahsyat dan kita tidak tahu virusnya ada dimana dan sedang apa sama siapa?….

Maka antisipasi pencegahan pribadi menjadi penting dan utama. Begitupun dengan pembatasan jarak yang jelas atau bahasa kerennya phisical distancing… pembatasan jarak phisik harus menjadi prinsip, tak peduli sedekat apapun…. buatlah jarak.

Photo : Arabica Flores Red Honey siap minum / dokpri.

Lha pusing dengan istilah, kemarin – kemarin nyebutnya social distancing, belum paham bener… eh udah diubah lagi. Kayaknya yang dulu anak sosial yang bikin dan sekarang anak fisika yang nimpalin, trus anak biologi istilahnya belum muncul?” Sebuah celotehan yang mengundang senyum, lumayan ngurangin stres dalam suasana menegangkan ini sambil memori menerawang masa-masa menyenangkan di kala menjadi siswa SMA.

Tiba di kantor tentu bekerja, disemprot dulu, hand sanitizer, cuci tangan dan tetap masker menutup sebagian muka. Tuntaskan konsep dan perbaiki segera, buat surat serta koordinasi dengan berbagai pihak plus video conference dengan mitra – mitra yang tersebar diseantero jabar dan banten raya.

Tetapi jangan lupa, dikala jam istirahat tiba, maka hiburan hakiki diri ini adalah menyeduh kopi dengan sebuah prosesi yang tak luput dari dokumentasi.

Menu makan siang sudah diorder ke mamang ojol via aplikasi, sambil menanti saatnya menyeduh kopi dengan metode Vsixti (v60) dan pilihannya adalah Arabica Flores red hani (honey) hasil roasting Suka Sangrai.

Maka….. jeng.. jreng… proses pembuatan kopi tanpa gula yang mungkin lama dan bertele-tele bagi yang tidak biasa. Tapi jangan salah kawan, dibalik keribetan prosesi penyeduhan manual ini tersimpan keribetan…. eh sama aja, tersimpan sebuah kenikmatan dan rasa syukur yang semakin menguatkan kita untuk senantiasa nyeduh kopi sambil senantiasa bersyukur atas nikmat kehidupan dari Allah SWT.

Sesaat ketegangan karena pandemi corona agak terlupa, seluruh indera dalam raga fokus kepada prosesi di depan mata, hingga akhirnya hadir se-wadah kopi panas kohitala yang menggoda selera.

Tuangkan ke gelas kecil…. dan… srupuut.

Owww….. Body medium, acidity medium serta rasa segar menengah mengitari lidah dan rongga mulut bagian tengah. Menyegarkan pikiran dan menenangkan harapan, rasanya medium tetapi mampu memberikan ketenangan, Alhamdulillah.

Selamat berkarya dan tetap waspada, dimanapun berada. Protokol kesehatan menjadi utama dan nyeduh kopi secara manual jangan tertunda. Semangaaaat, Wassalam (AKW)

***

Catatan di bungkusnya :

Flores Red Honey Single origin, Farm : Aurelia Dagabo, Process : Red honey, Altitude : 1300 – 1500 Mdpl, Varietas : Kartika, Lini s 795, Roaster : Sukasangrai, Flavor notes : Vanilla, Orange, Brown sugar, Herb.

Kopi Susu Moeloek.

Menemani anak (belum) gadis sambil menikmati kopi susu praktis.

Photo : Sajian Kopi Susu Moeloek dan kohitalanya / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Seharian disibukkan dengan aktifitas bersama anak dan istri yang sudah sama-sama merasakan efek bosan di rumah, pengen ketemu temen sekolah, pengen jalan-jalan dan seabrek keinginan yang harus dikendalikan demi mengikuti anjuran negara untuk tetap berdiam dirumah, memutus penyebaran virus corona.

Pagi-pagi sibuk berjemur sambil rebutan saluran yutub yang menyajikan tutorial senam. Terjadi perebutan video karena yang satu pengen video zumba anak sementara ibunya memilih zumba dewasa… ayahnya mah kalem saja sambil nonton zumba-zumba (baca : lumba-lumba) sambil menikmati zumba-suoup (baca : Zuppa-soup)..

Lha katanya olahraga sambil moyan (Berjemur), kok malah makan?

Tiada jawaban hanya gumaman karena mulutnya lagi penuh hehehehehe….. Sarapannya segera dituntaskan karena harus segera melenggak lenggokkan badan yang lebar ini mengikuti irama ritmik yang enerjik dengan gambar video anak-anak kecil yang memggemaskan.

Oke deh, anak cantikku sudah lebih dulu berpeluh karena gerakan atraktif yang dia ikuti dengan susah payah versi yutub, maka bergabunglah diriku…. ikuti gerakan dengan iringan lagu-lagu anak kekinian : down by the bay, little farmer, i got a pony tail dan sebagainyaa…

“Kemon guys!!”

***

Tuntas olahraga dan berjemur, sambil bercanda dengan anak istri, mengantarkan hari menuju siang yang diharapkan penuh ketenangan ditengah gencarnya berita di berbagai media tentang penyebaran virus corona, “Yaa Allah semoga kondisi dunia, negara dan semuanya saat segera segera membaik, kembali ke keadaan normal, Amiiin

Photo : Kopi Moeloek siap menyeduh / dokpri.

Pandangan tertegun pada sebuah kotak krem yang dikirim seorang sohib. Sebuah kotak dus krem bertuliskan ‘Kopi Moeloek‘ mengingatkan diri untuk segera menikmatinya. Tanpa banyak tanya, langsung di buka dan didalamnya terdapat jajaran sachet berwarna krem yang terlihat praktis dan menarik.

Jemari tangan reflek bergerak maka di ambil satu sachet dan dibuka dengan sobekan tangan, klo yang mau rapih yaa pake gunting… monggo terserah itu mah.

Eh ternyata dalamnya ada sekantung kopi siap seduh (karena sudah ada dudukannya dari kertas di kanan kirinya) dan 1 sachet kental manis untuk campurannya… woaah harus segera di coba.

Petunjuk penyeduhannnya sudah ada, tinggal ikutin saja…

Sobek dulu kantung kopinya, dudukkan di gelas.. eh aku mah di server kopi aja. Terus kental manisnya disobek, tapi belum dicampur dulu.

Ambil air panas 150gr dengan gelas ukur dan tuangkan perlahan di kantung kopi yang sudah terbuka, pelan tapi pasti. Ada keharuman ringan menyapa hidung dan secara instans hadir sajian kopi hitam dengan kemasan praktis dan efisien.

Karena diriku menganut aliran kohitala (kopi hitam tanpa gula) maka seduhan kopinya saja yang dinikmati…. hmmmm rasanya ringan dan harum…. kepahitan flatnya ada tetapi lebih soft di lidah, kayaknya ini blended antara robusta dan (sedikit) arabica. Jadi penasaran, langsung saja kopinya ditanya, “Eh kamu robusta atau arabica?”

Kopi yang sudah diseduh terdiam tanpa kata dan itu membuat diriku senang, karena jika kopinya menjawab, pasti raga ini sudah meloncat karena kaget bin reuwas.. biarkan nanti sang owner ‘Kopi Moeloek‘ aja yang memberi jawaban.

Oh iya, karena taglinenya ‘Kopi susu‘ praktis, maka penggabungan kopi hasil seduhan dengan kental manis langsung dicoba di cangkir berbeda dengan pengujinya adalah istriku.

Kocek kocek dan sruput…..

Woah enak, rasanya pas juga praktis nih” celoteh istriku setelah menyeruput kopi susu Moeloek ini..

Alhamdulillah, jadi bisa dinikmati oleh dua aliran penikmat kopi. Ada kohitala dan nonkohitala. Kemasan praktis dan lengkap telah dinikmati, dan nilai pentingnya adalah dinikmati bersama.

Hatur nuhun kiriman kopi susu praktisnya bu Anita, jangan bosen ngirim yaa…. hihihihi… ngarep.

***

Photo : sketsa aktifitas di tenda / dokpri.

Ayah ayo kita masuk ke tenda” suara putri kecilku memecahkan konsentrasi yang sedang mereview sajian kopi ini.

Iya sayangku, bentar ayah photo sajian kopinya dulu yaaa”

“Oke ayah”

Setelah selesai prosesi menikmati dan mereview kopi susu ini maka berlanjut dengan kegiatan mengisi waktu di dalam tenda, tenda beneran supaya sang anak nggak bosan karena sudah 3 minggu berdiam di rumah.

Sruput kopi bisa jadi pilihan begitupun beraktifitas bersama anak rupawan. Selamat wiken kawan, Wassalam (AKW).