Arabica Wine Gununghalu.

Giliran arabica wine Gununghalu yang di seduh… ajiib.

BANDUNG, akwnulis.com. Setelah 2 hari yang lalu menikmati arabica wine Abah Papandayan, maka kali ini mencoba biji kopi yang diproses wine juga. Yaitu kopi arabica Gununghalu. Sebenernya sebulan yang lalu sudah pernah diseduh tetapi nggak sempet bikin review ala-ala. Buat nuntasin itu, ya musti bikin lagi donk, supaya feelnya dapet dan menuliskan apa adanya, apa yang dirasa dan apa yang diamatinya.

Inilah ceritanya….

Oh ya jangan bosen ya brow, jikalau cerita proses seduh kopinya gitu – gitu aja. Memang begitu protapnya buat nyeduh manual pake versi corong keclak (corong yang nantinya menetes) baik corong V60 ataupun flat bottom dengan 3 bolongan.

Maka standarnya sama 2 x 13gr biji kopinya di grinder dengan ukuran 3 dan 4. Tak lupa air panas dijerang… eh air dari galon dijerang agar mendidih sebagai standar kepanasan sang air penyeduh ini.

Setelah biji berubah wujud menjadi serpihan, maka rasa sedih terasa menyesakkan hati… lhaa kok kesinih sih… gara-gara kata serpihan ya?Padahal serpihan ini mah nikmat, segar dan harum.

Berhubung kertas filter V60nya habis sementara yang ready adalah kertas filter flat bottom, maka proses manual brewnya berbeda dari biasanya. Kesamaannya adalah prosesi corongisasi ini yang diyakunkan bahwa menghasilkan cairan kopi yang bersih bebas ampas serta jelas tanpa manisnya gula.

Biji kopi kali ini adalah biji kopi arabica Gununghalu yang di proses secara wine. Sebuah pilihan processsing coffee yang (hanya) bisa dinikmati seseorang yang sudah masuk (maniak) kopi. Karena profile rasanya mayoritas body bold dan acidity super strong trus memberi sengatan rasa yang bikin kaget…. seperti sensasi pas nyruput wine, katanya mirip. Plus ada rasa ninggal yang bisa bertahan beberapa saat di pangkal lidah, tentu dengan rasanya yang khas.

Buat yang belum pernah dan mau mencoba, tentu tidak mengapa. Tapi hati-hati dengan sengatan kombinasi keasaman dan kepahitan maksimalnya…

Yuk ah… seduh dulu… airnya udah mendidih brow.

200 ml air 90° derajat celcius berpadu dengan 26 gram serpihan biji kopi menghadirkan rasa yang penuh sensasi. Tak lupa sebelum di sruput wajib bin kudu untuk di dokumentasikan dulu… Cetrek.

Nah baru dituangkan di gelas, dan srupuuttt…

hmmm.. enak euy.

Versi lidahku mah after tastenya ada tamarind dan dark chocolate serta selarik fruity. Bodynya bold tapi sedikit tipis, nah aciditynya ajib…. strong sadis bikin terhenyak dengan nyerengnya….. grrrrr…

…. dan diakhiri sebuah rasa ninggal di pangkal lidah sebelum hilang kembali digerus kenangan.

Srupuuuut….. yummy…. tenggg… nyereng brow. Nikmat.

Disclaimer :

Maafkan jika cerita sruput kohitala ini bikin baper dan terkesan ngabibita dan PHP.. bikin pengen aja tapi biji kopinya nggak dikirim.
Maafkan semuanya, stoknya sedikit dan itupun pemberian hehehehehe…. tetapi dengan sebuah cerita, maka rasa yang ada akan selalu terjaga..
uhuy.

Wassalam (AKW)

Coffee Arabica Abah Papandayan.

Akhirnya bisa menikmati kembali prosesi dan sruputisasi…

CILEUNYI, akwnulis.com. Tak sabar sebuncah rasa untuk kembali mereview ala – ala sebuah keajaiban rasa yang dihadirkan oleh si biji hitam misterius yang penuh sensasi. Kali ini hadir atas kebaikan seorang kawan, kopi arabica Abah Papandayan.

Tanpa banyak cingcong dan diskusi mendalam dengan diri sendiri, meskipun phisik masih agak lelah, semoga menyeduh kopi secara manual ini bisa menjadi mood booster untuk kembali menjadi perkasa menapaki hari-hari yang harus dimaknai dengan rasa syukur yang penuh berkah meskipun situasi pandemi masih penuh ketidakpastian.

Maka segeralah peralatan perang eh…. peralatan seduh manual dipersiapkan… jeng jrengg.

Jreng….

Peralatan sederhana tapi penuh makna, kertas filter flat bottom, corong flat bottom, air panas pake merk amidis dan dijerang agar menggolak… eh mendidik. Tak lupa 2x takaran bean sekitar 28 gram di grinder dengan ukuran 3-4 agar menghasilkan serpihan kasar yang menuh keharuman.

Segar dan harum menyeruak memenuhi ruang hati, melengkapi proses penggilingan ini… hmmmm.

Setelah air mendidih, diamkan sejenak agar mendekat suhu 90° celcius. Lalu diguyurkan perlahan denganteko kaca gooseneck ke kertas filter sebelum dilakuka prosesi manual brew ini. Lalu serpihan kasar biji kopi memenuhi kertas filter di corong flat bottom dann…….. currr kembali teko kaca gooseneck beraksi menyalurkan air panas berpadu serasi dengan serpihan biji kopi untuk bersama-sama lakukan proses ekstraksi… diputerr cuur… puternya searah jarum jam ya… tadaaa… tetes demi tetes cairan hitam harum berkumpul di dasar bejana kaca… asyiik.

Tak lupa gelas kaca kecilku, selalu setia sebagai sarana penyeruputan kopi yang elegan dan penuh kenangan.

Setelah tuntas bermanual brew, saatnya cairan hitam dipindah ke gelas kaca.

Srupuuut…..

Woow….

Rasa winenya menyerang syaraf – syaraf mulut dengan dahsyatnya setelah sekian lama jarang bersua dengan sensasi rasa. Betapa nikmatnya, acidity strong menguasai semua perasa didukung body bold maksimal yang melingkupi segala suasana.

After taste yang dihadirkan begitu ‘ninggal‘ di pangkal lidah beberapa menit berselang serta ada rasa ‘nyereng’ atau menyengat yang merupakan kekhasan biji kopi wine yang penuh kesempurnaan. Hadir rasa lime yang asam kecut plus tamarind serta ada rasa anggur hijau yang kesat segar (semoga lidahnya bener inih…) dan aroma fruity lain yang agak sulit didefinisikan oleh keterbatasan lidahku inih.

Sungguh menyenangkan bisa nyeduh biji kopi abah papandayan ini yang diproduksi oleh Kareumbi Farmer ini. PiRT No. 2093272010054-19 ini hadir atas kebaikan seorang kawan yang sengaja datang ke kantor bersama Bos petani kopi sekaligus roasternya, hatur nuhun Kang Rino & Kang Bayu.

Kopi Arabica Abah Papandayan ditanam di Kaki Gunung Papandayan pada ketinggian 1400 mdpl terdiri dari varietas unggulan diantaranya Yellow Borbon, AS-1 dan Preanger Buhun dengan naungan pohon jeruk dan pohon kayu hutan hujan tropis (ini tertulis di bungkusnya kawan…)

Itulah mood boster kali ini, badan segar hati nyaman begitupun lidah terus mengecap rasa nikmat yang tertinggal. Happy weekend kawan, dont forget to sruput your coffee…. kopi hitam asli tanpa gula. Wassalam (AKW).

V60 Arabica Papandayan & Ide-ide.

Sruput kopi sambil cari Ide.

CIMAHI, akwnulis.com. Menulis dengan kesendirian adalah sebuah perkawanan sejati, karena rasa bisa tercurah dalam jalinan kata yang mengandung makna. Mencoba mengalirkan ide yang berbuncah di dalam kepala, menuju aliran darah dan otot serabut sehingga menggerakkan jemari agar menari di atas keyboard smartphone kesayangan.

Mata jelas menjadi pembeda agar huruf yang tertulis terhindar dari typo ataupun salah penggunaan tanda baca. Meskipun kesalahan itu masih ada, karena kita adalah manusia tidak lufut… eh luput dari khilaf dan dosa.

Tapi, terkadang ide suka tiba-tiba hilang tertindas oleh pikiran lain yang hadir tanpa aba-aba. Sehingga jemaripun terpaku tak hasilkan secuil kata apalagi setumpuk kalimat. Inilah saat yang rentan dengan kondisi pentargetan dan deadline, alamak… gawaat.

“I need mood booster please”

Itulah sebuah bisikan yang membuat penasaran dan ternyata sebagai jalan keluar. Maka… cara terbaik adalah carilah sang mood booster yang dirindukan… yakni Kohitala (kopi hitam tanpa gula)… kopi mana kopiiii?…

Maka tanpa berlama-lama, sajian kopi arabica papandayan langsung diproses dengan metode manual brew V60… itu tuh yang corongnya mengerucut dan wajib pake kertas filter. Request diseduh oleh air panas 93° celcius kayaknya dituruti, karena hasil yang didapat ternyata tepat dengan selera. Yummy.

Setelah tersaji manual brew V60 kopi arabica papandayan. Langsung saja mulut menganga untuk bersiap menyeruput kenikmatan dunia dan berharap ide – ide segera hadir kembali untuk tuntaskan segala tugas yang memgelayuti hari – hari.

Srupuuttt…. hmmmm nikmatnya, acidity pas berpadu dengan body yang tidak terlalu pahit dilengkapi after taste buah cherry dan jeruk yang mengharumkan suasana.

Perlahan tapi pasti, kenikmatan menyeruak dan ide-ide meskipun malu-malu akhirnya hadir dengan beraneka celoteh kreasi dan harapan. Kopi disruput dan jemari lanjut mengetuk… eh mengetik. Menuangkan ide yang kembali hadir karena rangsangan maut si kopi hitam. Alhamdulillah.

Akhirnya jemari lanjut menari dan sang kopipun bergegas menunaikan tugas. Membuka kembali keengganan dan mendobrak kemalasan hingga akhirnya kesegaran datang dan ide-ide yang lahir terasa lebih rilex dan memberi keyakinan bahwa dibalik kerja keras perjuangan ada hasil akhir yang memukau. Selamat pagi Kawan, Wassalam (AKW).

Kopi Tubruk Curug Malela.

Sruput Kohitala di Pelataran Parkir Curug Malela.

KBB, akwnulis.com. Nafas masih turun naik dan kaki agak gemetaran disaat kembali menjejak bumi setelah 10 menit menikmati adrenalin  ber-roller coaster dibelakang boncengan Mamang ojeg lokal yang melahap jalan berliku, sempit, becek, menanjak dan samping kiri berdampingan dengan jurang cukup dalam.

Pulang dari mana?”

Sebuah tanya yang perlu diberi jawaban agar tidak penasaran. Ini adalah langkah praktis kepulangan dari lokasi objek wisata air terjun ‘mini niagara’ Curug Malela yang terletak di Kecamatan Rongga Kabupaten.Bandung Barat. Sebenarnya dengan berjalan kakipun cukup menantang dengan lika liku tanjakan terjal sepanjang 1,7 km. Tetapi manajemen waktu meminta percepatan, karena sore nanti sudah ditunggu meeting dengan bos dan stakeholder…

Ciee stakeholder.. maksudnya dengan para mitra atuh…. maka bertukarlah 40ribu rupiah dengan 10 menit dibonceng  Mamang ojeg yang penuh sensasi dan wajib pegangan, apalagi kalau waktunya bersamaan dengan hujan, pasti suasana naik ojegnya lebih menegangkan.

Tiba di lokasi parkir awal, sebenarnya warung nasi sudah menanti dengan menu liwet lengkap dan tentunya bakakak ayam. Wuih nikmatnya, tetapi apa mau dikata, tugas selanjutnya lebih utama. Terpaksa menolak secara halus, biar nanti rekan-rekan tim yang sedang mendaki berjalan kaki yang akan menikmati.

Tetapi sebelum pergi, sebuah kios kopi yang terlihat asri ternyata menarik hati. Terlihat di spanduknya, KOPI GUNUNGHALU. Segera kaki bergerak dan raga merapat, melihat suasana kafe yang sederhana tetapi bersih dan tertata. Berbagai pilihan kopi sudah tersedia di botol kaca yang bebaris menyambut pengunjung. Juga tersedia bean yang bisa dibawa pulang untuk di grinder di rumah maaing-maaing sesuai selera.

Kang pesen 1 ya, arabica gununghalu yang wine”
“Mangga kang, diantos”

Disini ada ketidaklengkapan perintah eh request, yang terbayang adalah prosesi seduh manual dengan menggunakan V60. Tetapi karena tidak terlisankan maka sang barista membuat kopi manualnya dengan cara ditubruk dengan air panas yang penuh gejolak. Padahal peralatan corong V60 dan filter kertasnya terlihat di depan mata.

Apa mau dikata, yang tersaji adalah kopi tubruk arabica gununghalu jenis wine… gpp lah yang penting kohitala (kopi hitam tanpa gula) dan seduh manual… bedanya… di cangkirnya nggak bersih, tapi penuh dengan serpihan – serpihan biji kopi yang berserakan setelah proses ekstraksi.

Berhubung waktu yang tersedia terbatas, ya sudah kita tunggu hasil trubrukan kopi ini agar segera dapat dinikmati…. 4-5 menitan sambil tak lupa ditiup dengan kemonyongan bibir maksimal.

Srupuut…. hmmm rasa panasnya nikmaat. Acidity strong hadir memberi rasa asam pekat yang melegakan, body relatif medium dan aftertastenya muncul fruitty dan keharuman manggo hadir meskipun tipis sekali. Over all kenikmatan terasa menyatu meskipun sedikit terganggu remah kopi yang memenuhi sudut bibir kanan kiri.

Sruput lagi….. srupuuut. Nikmaat, panas dan harum serta segar memenuhi tenggorokan dan menggairahkan raga.

Bicara pilihan, beberapa bean tersaji dari fullwash, honey, wine hingga yang lainnya dengan  basic tetap kopi arabica gununghalu.

Setelah tuntas segelas sajian panas kohitala berpindah tempat ke perut, dengan basa basi dan membayar sajian serta 3 bungkus bean arabica gununghalu aneka proses, maka pamitlah yang menjadi momen pemisah. Mungkin besok lusa bisa kembali bersua.

Selamat sore dan mengakhiri hari minggu ini dengan bersiap rapat online lagi yang tentu lebih tenang karena ditemani persediaan kopi dari tempat yang penuh cerita warna warni. Wassalam (AKW).

Kerumunan KOPI.

Akhirnya berkerumun juga….

KBB, akwnulis.com. Ngobrol bareng dan ngopi bersama menjadi momen yang sangat berharga karena setahun lebih telah tercerai berai akibat penyebaran pandemi covid19 yang menerkam dunia.

Harapannya saat ini semua sudah sirna dan semua baik-baik saja. Tetapi ternyata itu masih mimpi yang bersembunyi di pelupuk mata. Karena kenyataaannya justru kita sekarang harus lebih waspada. Virus covid19 yang bermutasi telah menghadirkan kekhawatiran gelombang serangan kedua, dengan segala kehebatannya termasuk (katanya) tak mempan dideteksi dengan swab PCR….

Aduuh makin hawatir saja tapi jiwa berontak, sampai kapan terkungkung dalam ketakutan dan ketidakpastian ini?”

Bergelas-gelas kopi sudah dinikmati di rumah dengan metode pres, model tubruk hingga andalan adalah seduh manual filter V60. Tapi ternyata ada yang kurang, bukan urusan kopi… tapi teman ngopi….

GuBRAk….  jangan berfikir yang macam-macam. Yang dimaksud adalah teman-teman pecinta kopi, khususnya kopi tanpa gula. Saling diskusi sruput kohitala dan terkadang berantem karena beda rasa antara keyakinan selarik banana dengan aroma nangka.

Jikalau sendirian, itu tidak bisa. Pernah ada ide cupping kopinya via zoom karena masa pandemi. Tapi ya nggak afdol karena berarti bikin manual sendiri baru dinikmati. Tidak ada objektifitas saling tukar hasil karya.

Tapi, jikalau memaksa. Resiko kemungkinan tertular adalah niscaya, dan yang lebih menyakitkan adalah jikalau karena pertemuan atau pergaulan kita ternyata membawa virus ke rumah dan menularkan kepada keluarga termasuk orangtua atau anak kecil dan saudara yang punya penyakit bawaan (komorbid)… Audzubillahi Mindzalik.

Maka cara terbaik yang bisa dilakukan adalah berkerumunlah di cafe dengan kopi.

Apa itu?”

Iya cari cafe yang penerapan protokol kesehatannya bagus, tersedia cuci tangan, cek suhu, hand sanitizer plus kapasitas pengunjung yang terkendali dengan model duduk jaga jarak.

Susah atuh bos!”

Ini khan hanya ihtiar, disatu sisi ingin ngopi sambil kongkow bareng dan jadilah kerumunan. Di sisi lain takut terjadi kontak erat dan menjadi lanjutan penularan. Maka cara terbaik adalah…. biarkan kopi yang berkerumun hehehehe.

Pesen kopi kohitala 2 porsi dan (terpaksa) nikmati sendiri. Jangan sedih karena sulit kongkow kali ini. Tapi kembali bersabar sambil menunggu pandemi pergi. Nanti mah kita bisa lanjut kongkow ngopay tanpa harus terlihat lebay.

Semangat kawan, biarkan sekarang kopinya yang berkerumun dengan gelas dan botol saji tembikar ditemani 2 keping kue kopi yang terbungkus plastik rapi. Wassalam (AKW).

KOPI KESEMPURNAAN

Memaknai ketidaksempurnaan..

Photo : Ngopay Bray / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah gelas unik perpaduan bambu dengan stainless di bagian dalam memberi sebuah makna keterpaduan yang mendalam.

Dari luar terlihat elegan dan ramah lingkungan sekaligus bisa menyerap panas dari air yang akan disajikan disisi lain bahan stainless menjaga kepanasan eh kehangatan kopi terus stabil dan lebih tahan lama.

Maka seiring ketersediaan kopi yang ada adalah arabica wine gununghalu, tanpa basa basi segera di giling dengan grinder ukuran 2 ke 3. Lalu segera dituangkan ke gelas bambu stainless ini. Lalu diseduh dengan air panas dengan suhu (kira2) 93° celcius…. caranya gampang. Biarkan air mendidih dulu, setelah mendidih hitung dalam hati 30 detik, baru dituangkan.

Dijamin suhunya turun jadi 93° celcius?”

Yaa nggak juga, ini mah ikhtiar. Minimal mendekati hehehehe” jawabanku sambil terkekeh. Meskipun dari pengalaman nyeduh kohitala (kopihitamtanpagula) ini adalah cara yang praktis dan mendekati suhu yang diharapkan.

Setelah air panas tertuang dan menubruk bubuk kopi yang sudah tak sabar menanti di dasar gelas, maka terjadi pergumulan alami dan menghasilkan ekstraksi.

Crema kopi menyeruak di permukaan dan keharuman memenuhi seantero ruang hati yang ternyata sedikit tergalaukan karena sebuah harapan tertunda dan harus kembali berjuang untuk meraih asa.

Photo : Kopi tumpah / dokpri.

Setelah di putar dengan sendok kecil, lalu dibiarkan sesaat sebelum disruput nikmat. Tapi disinilah letak kejadiannya. Akibat konsentrasi yang kurang, sendokpun jatuh sambil membawa cairan kopi membasahi kertas putih, “Adduh”.

Tapi apa mau dikata, semua sudah terjadi. Buih kopi yang tumpah menjadikan kotor alas putih yang diset sempurna.

Tapi….  ternyata jika kita ubah sudut pandang, maka akan hadir makna berbeda.

Justru dengan tumpahan crema kopi akibat sedikit teledor malah bisa menjadi objek photo yang menarik, dan quote of the day tetiba mampir di benak ini. Yaitu, “Keindahan terkadang hadir dari ketidaksempurnaan”

Sudut pandang yang diambil adalah dengan kerangka bersyukur, sehingga insiden tumpah kopi yang bisa saja merusak mood hari ini, tidak terjadi.

Yang terjadi adalah kepasrahan dan syukur atas nikmat kehidupan.

Akhirnya saat menyruput tiba dan perlahan tapi pasti pisahkan bubuknya didasar cangkir sehingga hanya cairan kopi yang bisa dinikmati. Alhamdulillah Pahit dan asam atau aciditynya memberi sebuah pesan bahwa kenikmatan itu miliki aneka rasa dan rupa.  Wassalam (AKW).

Latte & Konsentrasi malam.

Kembalikan Konsentrasiku….

Photo : Kolam renang Hotel Preanger / dokpri.

PREANGER, akwnulis.com. Buka puasa penuh kebahagiaan, disambut dengan sukacita dan rasa syukur tiada hingga dikala bisa mencapai hari ke-13 di bulan Ramadhan 1442 H ini. Seteguk qurma dan 3 butir air mineral menjadi pembuka, dilanjut shalat magrib dan bersiap makan besarr…. tapi sebagai peran pencitraan, photo yang hadir adalah sepiring salad, padahal… ada kawan-kawan eh makanan lain yang menemani persuapan malam ini.

Dilanjutkan dengan shalat tarawih berjamaah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yaitu menggunakan masker dan jaga jarak, plus membawa alat shalat masing-masing.

Bismillah…..

Nah, beres tarawih bersama ternyata ada pertemuan lagi…. alamak, udah nggak konsentrasi, pengen segera pulang. Bercengkerama dengan keluarga kecil yang setia menanti.

Photo : Buah & sayur pembatal / dokpri.

Tapi, tugas adalah amanah dan dengan segala keikhlasan hati, musti dijalani. Meskipun tentu ada sejumput rasa keluarga yang menyeruak tanya, kenapa belum juga pulang untuk segera bersua.

Disinilah peran hati dan setampuk doa, semoga keluargapun bisa ikhlas dengan keadaan dan saling mendukung demi kemajuan.

Sebagai penguat konsentrasi dalam pertemuan malam ini, maka kehadiran secangkir cafelatte adalah jawaban tepat. Perpaduan susu skim dan espresso berpadu lembut memenangkan hati dan memberi efek untuk memgembalikan konsentrasi.

Berpikir lebih fokus dalam kerangka solutif dengan berusaha mengarahkan sebuah keputusan yang mengerucut serta dapat ditentukan tingkat keberhasilan dalam implementasinya.

Emang ngobrolin apa?”

Pertanyaan kepo hadir menemani, tapi bukan jawaban yang hadir untuk menghilangkan dahaga keingintahuan tetapi senyuman terbaik yang biasanya jitu menunda rasa penasaran orang lain terhadap aktifitas kita.

Photo : Cafelatteku Yummy / dokpri.

Mungkin tidak lama rasa penasaran itu akan kembali dengan pertanyaan yang sama, atau malah terlupa karena ada urusan lain yang lebih prioritas di masing-masing sektornya.

Akhirnya pertemuan tuntas dan hasilkan butir-butir kesepahaman yang harus ditindaklanjuti. Keluar dari tempat pertemuan, Alhamdulillah berkesempatan memgambil gambar suasana kolam renang di suasana malam. Ada lampu-lampu berwarna yang menceriakan suasana serta rasa yang berbeda. Maka tak lupa diabadikan untuk disajikan di blog ini.

Yuk ah pulang, untuk bersiap besok berjibaku dengan tugas rutin dan tugas NRP (nampi rupi-rupi padamelan)… atau menerima tugas – tugas lain diluar tupoksi yang kerap menghampiri di senin pagi.

Semangaat Kawan, jangan kendor. Wassalam (AKW).

Coffee & Me.

Cerita kopi & sejumput motivasi..

Secangkir Kopi di Pagi hari, memupuk Harapan & Keberkahan Pagi ini

Photo : Americano & Sirih Gading / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Itulah rangkaian kata yang hadir tanpa banyak bertanya dan diabadikan menjadi caption bersama frame photo yang senada. Photo sederhana dimana secangkir americano berpadu dengan tanaman sirih gading yang segar dan sudah lebih dulu terpublikasi di laman Instagramku : @andriekw.

Tulisan singkat itu adalah penyemangat, dan menguatkan motivasi agar diri ini senantiasa berfikir optimis dan tidak mudah menyerah atas keadaan. Meskipun memang rangkaian proses adaptasi terus dilakukan demi sebuah makna profesionalisme dan menjaga komitmen sekaligus belajar lebih mendalam tentang makna sebagai pelayan di dunia birokrasi yang penuh dinamika serta tantangan.

Awalnya tentu dapat dirasakan atau dibaca pada tulisan ‘Kopi Adaptasi‘, lalu bergulir seiring waktu maka hadirlah tulisan singkat lain yang tak jauh dengan sikopihitam atau kohitala (kopi hitam tanpa gula). Meskipun kalau urusan menulis tentang kopi sudah dijalani 2 tahunan lho…. menulisnya santai saja tetapi yang coba dipertahankan adalah konsistensi.

Ngobrolin konsistensi, yang coba dilakukan simple banget kok. Rutin menulis dan upload di blog, titik. Nah nulisnya diusahakan bertema dan tema utama adalah Ngopay dan Ngojay, alias dunia perkopian dan sesekali tentang kolam renang atau sambil berenang sekalian… atau jika sedang hoki, bisa dapet satu framenya adalah gambar secangkir kopi dan pemandangan kolam renang…. tapi itu jarang, mungkin entar ditulisan selanjutnya.

Bisa juga sebagai variasi, nggak musti sajian kopi. Tapi pilihan menu lain yang masih berkerabat dengan kopi di buku menu yang tersaji. Seperti sajian hot matcha kali ini, jangan lupa minta disajikan plus double senyuman. Senyum sang penyaji sekaligus baristi juga seulas siluet senyum di permukaan gelas yang penuh arti.

Photo : Hot Matcha / dokpri.

Jadi, mari menulis dengan semangat ODOA (one day one article)…… ini terinspirasi dari ODOJ (one day one juz) …. persiapan menyambut bulan ramadhan dimana harus diperjuangkan dan dilaksanakan mengaji 1 juz per hari sehingga satu bulan bisa khatam 30 juz, Bismillah.

Kembali urusan kopi, ternyata memang itulah sumber inspirasi. Meskipun harus diyakini bahwa sebuah kebetulan itu tidak murni kebetulan. Itu semua sudah ada catatannya di langit sana (baca : Lauh mahfuz) hanya saja kita sebagai manusia diberi berkah ketidak tahuan, agar apa?…. agar kita senantiasa mengambil hikmah atas semua kejadian. Apakah menggerutu atau ikhlas terhadap kenyataan nasib, apakah bersyukur atau takabur dengan segala kemudahan hidup ini, itu pilihan masing – masing.

Seperti gambar ‘Soto & Kopi’, itupun sebuah momentum yang hadir tanpa reka dan yasa alias rekayasa. Karena terjadi dikala akan sarapan pagi di salah satu rest area Tol Cipali sekaligus order secangkir kopi tubruk, ditubruk pelan – pelan saja dan dihadirkan tanpa gula.

Photo : Soto & Kopi / dokpri.

Nah mereka bersanding dalam frame gambar dan melengkapi koleksi photo per-kopi-anku yang kembali memberi motivasi untuk terus berkarya meskipun sederhana.

Ini kopiku, mana kopimu?”

Selamat pagi dan selamat memaknai hari demi hari, Wassalam. (AKW).

WAGOKOPI

Sebuah rasa adalah pembeda.

Photo : Wagokopi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah pesan di whatsapps memberikan tantangan baru, karena diminta mereview sebuah citarasa yang tersembunyi dibalik biji kopi yang penuh misteri.

Diri ini bukan siapa-siapa, apalagi bicara sebuah citarasa. Tetapi hanya anak manusia yang seneng kohitala alias mencoba menikmati sajian kopi tanpa gula dengan proses manual dan ‘agak ribet‘ bagi beberapa orang karena dianggap terlalu mengada-ada. Padahal ujungnya sama. Segelas kopi yang tinggal diminum saja.

Nah, justru dalam tahapan proseslah akan hadir sebuah syukur dan makna tertentu yang diawali dari indahnya butiran biji kopi dengan keharuman alami. Lalu berlanjut dengan pembubukan… halah nggak enakeun, penggilingan biji tepatnya. Tentu dengan takaran tertentu yang berlaku di dunia manual brew.

Hingga akhirnya proses penyeduhan yang sesimpel mungkin dengan takaran 1 : 13 dan panas airnya 91° celcius, prosesi manual brew segera dilaksanakan…

Bean nya apa?”

Eh iya lupa, ujug-ujug seduh. Atuh timbang dulu lalu grinder dengan ukuran 3 ke 4. Trus pasang kertas filter dan basahin pake air panas biar hilang bau kertas dan juga kemungkinan unsur kimia lainnya… dan jangan lupa, nama beannya adalah : Arabica Coffee WAGOKOPI.

Pilihan kopi dari tanah pasundan tepatnya dari dataran tinggi ciwidey. Hadir karena silaturahmi dan diminta untuk mereview sebuah rasa. Sangat tersanjung dan malu, karena bukan penyicip sejati. Tetapi menjadi sebuah tantangan, bahwa sensasi rasa yang hadir perlu dituliskan menemani catatan takdir meskipun bukan jaminan resmi karena memang bukan barista yang tersertifikasi.

Photo : Wagokopi tampak belakang / dokpri.

Sruputan perdana memberi sensasi rasa menggoda dengan body medium menuju bold. Menariknya ada selarik ninggal di ujung lidah dengan sensasi kacang tanah dengan tingkat acidity medium dan bergeser ke after taste ada rasa sensasi mint dan seulas lemon… yummy seger.

Itulah rasa dan sensasi yang hadir, dari keterbatasan kemampuan mengecap dan mengecup… eh, mengecap dan menelan atuh…

Hatur nuhun Kang Irvan, bean kopinya ajib. Jangan bosen ngirim yaa… Hahahaha, ngarep. Selamat pagiii semuaah. Wassalam (AKW).

Strong Acidity Coffee

Diawali dari harapan dan berujung pada syukur atas semua kenikmatan.

BDG, akwnulis.com. Jikalau jumat lalu bersua dengan biji kopi yang masih hijau meranum di dataran tinggi Ciwidey tepatnya di kecamatan Pasir jambu. Maka sekarang berhadapan dengan sang barista yang memberi peluang untuk memilih sebanyak-banyaknya opsi bean, suhu, ritual penyeduhan dengan putar kanan searah jarum jam.

Photo : Si Hijau misteri / dokpri.

Jangan sambil terlalu lama, mari putuskan pemilihan kopi ini dengan cara seksama.

Kali ini, keinginan menikmati coffee dengan strong acidity menyeruak dalam hati. Jadilah mata menjelajah mengitari botol-botol kaca besar yang berisi aneka bean yang menarik hati. Sambil tak lupa tanya-tanya sana sini

Tetapi akhirnya, pilihan jatuh kepada BANCEUY arabica medium air roasted yang diproduksi SIKICOFFEE.

Langsung order….

Sambil menanti barista mengolah rasa, maka sebuah syukur kembali membuka. Betapa seiring waktu dan kesempatan yang ada, kembali bisa menikmati.. eh akan menikmati kohitala di tempat-tempat yang berbeda dan miliki sejuta makna.

Alhamdulillah….

Nggak pake lama, sebuah sajian ciamik kopi hitam tanpa gula dengan metode manual brew V60 telah hadir dilengkapi keterangan bahwa suhu yang digunakannya dipastikan 90° celcius… tak sabar segera mencoba.

Tapi jangan lupa, diabadikan dulu sebelum dinikmati sebagai bukti bahwa hadirnya kohitala ini bosa terbingkai abadi.

Sruputan pertama memberikan sensasi nyata tentang kekuatan acidity alami yang dihasilkan dari biji kopi hasil ekstraksi bersua dengan kucuran air bersuhu tinggi…. nikmat tiada henti.

Photo : Strong Acidity Coffee / dokpri

Bodynya sih medium, tapi aciditynya wow haseum pisan…  dengan profile fruitty dan tamarind serta suasana cafe yang cozy, memberikan kesempatan untuk sedikit menghela nafas dalam deru tugas yang begitu bertubi.

Itulah warna warni kehidupan, ada saatnya kita melihat harapan tumbuh yang diwakili biji kopi hijau memukau. Seiring waktu, harapan ini berproses, berinteraksi, berproses dan bergerak dengan berbagai pihak hingga akhirnya…… (ceritanya dipersingkat saja…) sekarang dapat tersaji menjadi nyata dalam bentuk secangkir kopi.

Sruput lagi… Alhamdulillahirobbil alamin. Wassalam (AKW).