Kopi Arabica Soenda Gulali.

Jangan hanya lihat hasilnya, tapi nikmati juga prosesnya.

Photo : Sajian manual brew kopi Arabica Soenda Gulali / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Malam hampir larut dengan sepi dikala kesempatan menulis dan membuat dokumentasi photo tentang kamu hadir melingkupi hari.

Ya… waktu menunjukan jam 23.30 wib pada saat pengambilan gambarmu, sebungkus kopi berwarna putih lengkap dengan bejana server dan segelas kaca kecil berisi kopi hitam tanpa gula hasil manual brew v60 yang memandang penuh asa.

Kok tengah malem mas?

Sebuah tanya yang tak sempat dijawab, karena memang inilah kesempatan waktunya dikala semua sudah terlelap.

Sajian gambar diawal-awal tulisan kali ini adalah hasil jepretan kamera hape yang sudah di cut sesuai kebutuhan tanpa filter apapun, aslinya kamera hape.

Sementara sajian photo setelah paragraf ini adalah behind the scene-nya, dimana layar putih yang begitu rapih adalah lembaran belakang kalender yang awalnya tertempel di dinding. Lalu ditahan dengan laptop yang memang tidak terlihat, selanjutnya dikeceng eh dibidik aja dengan kamera hape agar mendapatkan gambar meskipun dengan segala keterbatasan.

Photo : Behind the scene / dokpri.

Makna nilai yang didapat adalah tidak semua yang terlihat begitu baik dan rapih baik dari mata secara langsung atau di media sosial itu adalah kondisi ideal, ada banyak hal lain yang sebenarnya mendukung hasil tersebut. Cara terbaik adalah tetap bersyukur atas apapun yang Allah anugerahkan kepada kita.

“Eh kopinya gimana?”

Ahay hampir lupa, terlena dengan menyusun jalinan kata sehingga kopi tersaji dibiarkan begitu saja…. srupuuut ah.

Hmmm…. sebuah rasa kopi yang lembut dan acidity serta body sedang langsung menjalari rongga mulut dan seluruh lidah, ada rasa teh, gula merah dan sepet seperti rasa apel sebagai aftertastenya. Sehingga 450ml air panas yang bergaul eh berseduhan dengan bean ‘Arabica Soenda Gulali’ buatan Suka Sangrai ini bisa dinikmati lebih cepat, langsung surut eh … nyaris habis padahal hampir setengah liter buat kopi teh…. ternyata sang waktu bersama malam telah bergerak tak terbendung… dan terus beranjak beranjak menapaki dini hari.

Selamat menjalani hari-hari, mari isi dengan aktifitas yang berarti dan meninggalkan jejak nilai hakiki, juga tidak lupa sambil menandaskan sajian kopi yang sudah dibuat dari tadi. Wassalam (AKW).

Kopi Lobster – wfh.

Pasangan langka yang tak biasa, tapi rasanya…. luarr biasaa..

CIMAHI, akwnulis.com. Pertemuan mereka tidak disengaja, tetapi sebuah takdir sudah dituliskan. Sebuah pertemuan penting yang jarang terjadi, karena masing-masing tidak bisa ditemui setiap hari.

Pihak pertama adalah sang lobster yang bercangkang keras penuh dengan duri serta capit panjang plus tatapan garang, padahal menyimpan sebongkah daging yang enak mantabs dibalik kekerasan cangkang dan sikap. Belum lagi jika dilihat dari jarak, mereka hidup di sekitar samudera hindia tepatnya di sekitar pantai selatan tasikmalaya.

Pihak kedua tentunya sebuah biji/bean kopi yang hadir setelah melalui proses panjang dari mulai dipanen sebagai cherry di kebunnya di gunung manglayang, hingga berproses dalam penyimpanan lalu melewati proses roasting yang berstandar hingga dikemas dan akhirnya berganti tangan hingga tiba disini, bersiap menghibahkan diri untuk dihancurkan oleh grinder demi memberikan sebuah sensasi rasa yang penuh pesona.

Maka sebuah penghormatan dari pertemuan langka ini, jepretan kamera hape dan publikasi di blog serta publikasi di facebook, twitter dan status WA menjadi penting, karena momen ini jarang terjadi sekaligus menjadi acara tersendiri sambil mengisi kegiatan ‘work from home‘… eh nggak ketang, hari ini khan tanggal merah, jadi nggak kerja tetapi tetap #dirumahaja.

Kenapa photo lobsternya cuman satu kakak?”

Ah pertanyaan singkat yang bikin terhenyak, ya memang cuman satu lobsternya karena kalau banyak mah ikan teri hehehehe….. kebetulan model photonya menggunakan pola keterwakilan. Pada saat yang lainnya masih dibersihkan, nah ini satu lobster belah tengah yang di photo bareng.

Bagi donk”…. ini pasti next questionnya, tapi dengan segala permohonan maaf, sementara baru bisa berbagi gambar dan tulisan serta sedikit bahan khayalan bagi yang melihatnya.

Photo : Kopi & lobster di halaman belakang / dokpri.

Cara menikmatinya gimana?”

Aduuh inih mah gampang banget atuh say, kopinya tinggal langsung disruput dan…. lobsternya dipasak dengan bumbu saos tiram, asam manis, saus padang atau…. supaya awet…. dipandangin saja terus hingga puasss hehehehehe.

Jangan sekali-kali setelah sruput kopi trus lobsternya langsung dikunyah…. udah mah amis hanyir juga rungseb… bisa berakibat fatal sehingga menimbulkan luka di bibir, mulut dan juga perasaan.

Gitu dulu ya cerita kopi lobsternya, selamat menikmati hari bersama keluarga tercinta dan tetap #dirumahaja. Wassalam (AKW).

Coffee Buntis Village Aromatic Fruits.

No WFH but always Ishomapay…

Photo : Kursi direnggangkan dulu / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Perkembangan pandemi Covid19 diantisipasi dengan berbagai tindakan termasuk pengaturan kerja bergiliran di rumah atau work from home (WFH), maka 2 hari kebelakang sudah mulai dilaksanakan dengan dasar surat edaran dari para bos-bos.

Tapi karena tidak berlaku bagi diriku, ya sudah protokol kesehatan waspada covid19 harus dijalankan dalam berbagai keadaan, terutama pas masuk kantor, menerima tamu dan pulang ke rumah.

Pagi ini… eh pagi kemarin lalu, cuman baru sempet nulis hari ini karena pabeulit (sibuk) dengan mempelajari aplikasi untuk teleconference sekaligus dalam waktu yang sama musti mengedukasi mitra-mitra kerja yang tersebar di seantero jabar banten.

Tindakannya sebenernya sederhana, memisahkan kursi baik kursi tamu di ruang kerja ataupun kursi tamu diluar ruang kerja serta menempelkan peringatan ‘please jaga jarak’ yang merupakan prinsip SOCIAL DISTANCE di kursi agar tidak diduduki.

Lalu menyemprotkan disinfektan buatan, mengelapnya (ini mah dibantuin OB) dan terakhir tentu memotretnya untuk dokumentasi.

Setelah semua tuntas, maka kembali ke meja kerja dan berkutat dengan surat, berkas, surat, berkas dan surat serta berkas hehehehehehe… yang harus diselesaikan.. ditambah koordinasi via WAcall dan Vicall bersama beberapa mitra…. hingga tak terasa adzan shubuh…. ehh adzan dhuhur berkumandang.

Alhamdulillah…. saatnya ishoma, istirahat – sholat – makan.

Photo : Persiapan Ishomapay / dokpri.

Selain ishoma juga ishomapay, istirahat, sholat, makan dan tidak lupa ngopay alis manual brew kopi bean yang sudah sedari minggu lalu nongkrong dan nemenin diri ini, menanti saatnya menari dalam proses ekstraksi yang akan menghadirkan rasa alami penuh misteri.

Kali ini, kiriman dari Mas Didit – antapani yang diutus langsung bu Dini Cirebon, ternyata mereka kawan lama. Beberapa pilihan bean yang dikemas apik serta berbeda dengan keterangan di bungkusnya yang cukup lengkap, menambah kepenasaran rasa yang ada.

Pertama tentu dialak ilik eh dilihat bolak balik dulu kemasannya baru perlahan tapi pasti dibuka….. hmmmm harum aroma kopinya nya luar biasaa…. ada harum buah-buahan dan…. tembakau yang menyengat, “Ini teh kopi apa rokok?”

Makin penasaran ih, langsung peralatan perang digelar. Filter V60, corongnya, termometer, air panas langsung dididihkan dan tidak lupa bean yang begitu harum ini di grinder dengan ukuran 3 supaya menghadiran butiran sedikit kasar yang cocok untuk filter V60.

Hmmm…. prosesi yang penuh arti dan semerbak harum aromaterapi kopi mulai melingkupi diri, indera penciuman menajam dan menambah rasa bahagia…. currrr…..

Belum disruput aja udah nikmat… Alhamdulilah.

Setelah prosesi tuntas dengan 400ml air bersuhu 90° celcius, maka hadirlah kopi hitam tanpa gula (kohitala), srupuut….. hmmmmm… woaaaah rasanya begitu kaya, eh kok ada rasa tembakau?…. atau winey ya?… enak euy.

Photo : Sajian Coffee Buntis VAF / dokpri.

Bodynya strong dan aciditynya juga high…. bikin terbelalak sesaat dan dilanjutkan hingga bèak (habis)…. nikmat nyaaa….. after tastenya banyak sesuai note di bungkusnya, tapi memang sulit disebutkan dengan kata-kata… sruput dulu aaaah.

Eits jam ishomapay-nya sudah hampir habis, mari bersiap kembali ke dunia nyata, bekerja dengan protokol pencegahan pandemi covid19. Jangan lupa cuci tangan sebelum makan dan tentu berdoa untuk keselamatan serta keberkaham dari rejeki makanan dan kopay yang tersaji.

Itulah sejumput cerita kali ini, selamat berkarya dan tetap waspada. Wassalam (AKW).

***

Catatan :
Ini tertulis di bungkusnya,
Buntis Village Aromatic Fruits
Single Origin
Koperasi Tani Buntis
Proses anaerobic Natural
Altitude 1400-1500Mdpk
Roaster Suka Sangrai
Varietal (s) Typica, Lini s 795
Flavor Notes : Jackfruit, Jasmint tea, dark plum, winey, ripe manggo.

Kopi FWA anti COVID19

Yg lain kerja dirumah, aku mah ngopay aja.

BANDUNG, akwnulis.com. Perkembangan penyebaran Virus yang dikenal dengan COVID19 diantisipasi dengan banyak hal, termasuk aktifitas tugas rutin dari aparatur sipil negara. Pagi ini … eh sejak tadi malam istilah yang paling ngetren di jagad maya yang melingkupi lingkungan WA grup, line dan Telegram serta WAcall adalah istilah FWA.

Naon eta FWA?”

Eta geuning, yang sudah ramai diperbincangkan dalan beberapa hari eh minggu terakhir, yaitu…. bahasa simpelnya dulu yaa… para pegawai bekerja di rumah.

Ohhh…. itu, trus kenapa baru tadi malem ramenya?

Karena di lingkup pemprov jabar, tadi malam eh kemarin sore Surat Edaran Sekdanya terbit dan otomatis menjadi pedoman untuk mulai mengatur mekanisme bekerja di rumah.

Trus hubungannya kerja di rumah dan FWA apa?”

“Ih nggak sabaran kamu mah, slow sloww”

“Okeh okeh”

Sambil benerin masker yang terpasang diwajah, eh di depan idung dan mulut, maka mencoba meraba-raba… membaca berulangkali dan (mencoba) memahami tentang instruksi pemerintah pusat hingga daerah yang disebut dengan istilah FWA (flexible working arrangement) yang pengertian bebasnya adalah pegawai dimungkinkan melaksanakan tugas di rumahnya masing-masing secara fleksibel demi menekan penyebaran pandemi COVID19.

Maka diaturlah fleksibelnya kehadiran para ASN ini dengan berbagai prasyarat, diantaranya dilakukan sistem shift sehingga bergiliran melaksanakan tugas dikantor, kecuali Pejabat Tinggi Pratama dan Pejabat Administrator atau level I dan II di setiap unit kerja.

Tapi yang kebagian bekerja di rumah juga tetep kudu (harus) produktif, dengan cara melaksanakan tugas yang diberikan dari pimpinannya plus melaporkan secara online pekerjaannya melalui aplikasi TRK dan absensi online dengan KMOB dimana posisi lokasi rumah menjadi lokasi dinas luar selama FWA ini berlangsung.

“Trus hubungannya dengan kopi gimana?”

Gampang pisan, karena diriku ternyata masuk kategori yang dikecualikan.. sehingga musti stanby di kantor seperti biasa selama FWA ini. Jadi….. kopilah yang menjadi teman setia, menemani kesepian ini hiks hiks hiks…. karena jika bersosialisasi dengan teman lain… atuh melanggar prinsip ‘Social Distancing’…

Naon deui eta?

Ih kamu mah euweuh kanyaho, itu di medsos berseliweran infona, intinya hindari kontak dengan siapapun, dan jaga jarak”

Nah karena bersentuhan atau kontak dengan orang lain mah dilarang, maka kontak paling aman mah sama…

sama Kopi… hehehehe

maka…..

Hari pertama FWA diberlakukan, kopi Lanang Arabica Peaberry yang menemani….. prosessss……. dengan metode V60 dan panas 90° celcius, komposisi 1 : 15 dan gramasi (kira-kira) 19gr maka berproseslah……. manual brew perdana FWA di ruangan kerja sambil tidak lupa mengerjakan tugas-tugas rutin sebagai Abdi Negara. Wassalam (AKW).

Cappucinno Cermin Diri.

Bersua dengan barista yang menggambar sesuatu yang berbeda.

BANDUNG, akwnulis.com. Tuntas makan siang serasa ada yang kurang, padahal perut dan pikiran sudah kenyang. Ternyata belum ngopay…. ah alasan ini mah, modussss……

Maka dipanggillah sang pelayan dan meluncur sebuah harapan, “Pesan kopi hitam kang”

“Maaf kak, tinggal espresso dan cappucinno kak”

Aku terdiam, sebuah dilema menghadang… karena baru kemarin menikmati Espresso Ungu dan juga ditambah tadi pagi… masa sekarang espresso lagi?…. jangan ah.

Cappucinno aja satu, tapi gambarnya yang bagus ya, klo bisa gambar kelinci”

“Iya kak” sang pelayan menyambut dengan senyuman yang agak sedikit menyeringai… kenapa ya?… karena diminta gambar kelinci di permukaan cappucinno-nya atau dia punya pengalaman nggak enak dengan kelinci?…

Ya sudahlah….

Ternyata…..

Penasaran ya?”….. kaleeem para pembaca.

Jawaban seringai sang pelayan hadir dari ketidaksengajaan, yaitu tidak sengaja mendengar pembicaraan pelayan dengan sang barista, tepat dikala diriku melewati mereka pada saat menuju mushola di lantai atas.

Barista : “Apa pesanannya?”

Pelayan : “Cappucinno, gambarnya kelinci”

Barista : “Wah susah bro”

Pelayan : “Apa aja deh, yang penting menyenangkan si kakak tadi”

Barista : “Oke bro, kakak yang besar tadi?”

Pelayan : “Iya”

Berselang beberapa waktu, datanglah sang pelayan membawa pesananku tadi, “Ini kakak cappucinno-nya, semoga berkenan” dilengkapi dengan senyum yang tulus (kayaknya).

Photo : Cappucinno wajah diri / dokpri.

Terima kasih” jawabku, tapi langsung termenung memandang gambar diatas cappucinno. Senyuman wajah panda seolah menjadi pesan bahwa diriku chubby dan gendut seperti panda, padahal….

memang itu kenyataannya.

Kok kayak ngaca ya?” Suara hati menggelitiki diri.

Tapi di hati cukup senang dengan perhatian sang barista yang berusaha membuat gambar karakter wajah yang merepresentasikan pemesan dan menghilangkan pikiran buruk sangka, bahwa sang barista mau ngeledek wajah non-tirus alias menggelembung ini dengan gambar wajah panda yang menggemaskan. Sruputtt guys, selamat siang. Wassalam (AKW).

Espresso Ungu

Sendu itu perlu tetapi dengan sruputan maka sendu bisa berlalu.

Photo : Espresso & bunga Ungu / dokpri.

KBB, akwnulis.com. Dikala sendu berpadu rindu, maka sajian bunga ungupun terasa bernuansa biru. Gemericik air hujan yang singgah di sore ini, melengkapi perpaduan rasa sendu yang terus berpadu.

Untunglah secangkir kopi bercangkir putih mencairkan suasana, dengan rasa kental double espresso menghadirkan kekuatan dan kepahitan yang nyaris sempurna, ditemani serpihan manisnya kenyataan yang berbeda.

Sruputan pertama membuka pikiran yang hampir galau menjadi tenang, perlahan tapi pasti mengembalikan logika kepada jalan yang seharusnya. Biarpun sang rasa masih terus menggelayut dengan godaan iba, tetapi keajegan dalam bersikap adalah sebuah prinsip yang harus diperjuangkan, sekarang, nanti dan seterusnya.

Tapi ternyata gerimisnya hanya sekejap, langsung berganti dengan lebatnya pertanyaan plus gelegar halilintar kepenasaran. Diskusi menjadi hangat dan menegangkan.

Nah…daripada bingung dengan silang pendapat yang tak berkesudahan, padahal jelas bahwa berbeda pendapatan.. maka sruput lagi sisa espresso di cangkir putih, srupuuut…… perasaan lebih tenang. Karena pahit sadisnya espresso berubah menjadi manis dikala belajar ikhlas menerima perbedaan.

Diskusi berlanjut sambil terus menyeruput, kesenduan dan rindu sudah tidak lagi ribut, tapi melarut seiring tuntasnya hujan sore yang sedari tadi beringsut. Wassalam (AKW).

Illy Americano Aston Pasteur.

Ngopay dan Ngojay di Aston Pasteur…

Photo : Illy Americano / dokpri.

Bandung, Akwnulis.com. Pagi hadir disambut dengan senyuman dan harapan, itulah kehidupan. Apalagi jika dilengkapi dengan segelas kopi hitam dipinggir kolam renang, serasa lengkap sudah kehidupan hari ini.

Yang lengkap tentu tagline blog ini, ngopay dan ngojay. Ngopaynya ada dengan gelas illy putih, ngojaynya jelas karena kolam renang tersedia. “Apalagi coba?”... tinggal sruput tipis tipis, ucul ucul…*) (aww bahasa planet)… gejeburrrr…….

*)buka baju celana dengan segera dan tentu sisakan solempak eh celana renang, karena kalau dibuka semua khawatir mengganggu ketentraman dan ketertiban hotel yang ada.

Kopi hitam yang tersaji adalah americano standar hotel, jadi secara rasa harus bersiap dengan sesuatu yang biasa, tetapi kelebihannya adalah suasana pinggir kolam renang yang membuat kedamaian sekaligus keceriaan.

Nyebur nggak?

Pertanyaan yang menggantung, karena jelas tidak bisa dijawab sempurna. Lha wong kesini nya juga mau meeting dan meetingnya marathon lagi, 4 agenda meeting lho (aww… sombong), tapi itulah kenyataan yang harus dijalani dan dihadapi.

Photo : Kolam renang aston pasteur / dokpri.

Meeting pertamalah yang bisa hasilkan gambar ngopay dan (tempat) ngojay/berenang, karena meetingnya semi formal di meja pinggir kolam renang. Sehingga sebuah dokumentasi bisa didapat tanpa mengabaikan tujuan me-rapat.

Meeting kedua dan ketiga sudah tidak bisa lepas dari konten materi, meskipun kopi hotel tersedia free tapi kebanyakan minum khawatir menghitam hehehehe… jadi dibatasi saja dimulai dari diri sendiri. Selamat menikmati hari ini kawan, Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Hotel Aston Pasteur – Bandung.