Arabica Wine Tangkuban Parahu.

Sruput kopinya dan hadapi masalahnya.

Photo : Arabica wine Tangkuban parahu / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Gemericik hujan menjelang sore ini begitu mendukung suasana hati yang sedang gundah merindu, merindukan suasana damai tanpa banyak tekanan dan kewajiban.

Tapi itulah kehidupan, dikala semua seakan baik-baik saja. Disitulah sebuah hambatan hadir. Meskipun tinggal kita ambil pilihan, hambatan ini adalah penghalang atau hambatan ini adalah sebuah tantangan?…. pilihan tentu ditangan kita.

Meskipun ada sedikit tergoda untuk tidak ngapa-ngapain, karena ada prinsip ‘Sebuah masalah itu tidak akan sulit jika tidak dikerjakan‘….. jangan terjebak prinsip yang tidak jelas. Pengalaman membuktikan bahwa membiarkan masalah adalah menghasilkan masalah baru dan semakin menumpuklah dengan masalah-masalah di awal hingga akhirnya kewalahan.

Jadi, mari kita hadapi setiap tantangan dengan treatment masing-masing. Yang paling penting adalah identifikasi dulu apakah masuk kategori urgent, berat dan berimplikasi luas, hingga yang sedikit bisa dijeda sehingga bisa menarik nafas untuk bertanya kepada semesta sebagai bahan jawaban yang dapat memberikan sejumput puas bagi sebagian besar pihak yang terkait.

Lho kok sebagian besar sih, bukannya semua harus puas?”

Dengan seringai riang, meluncurlah jawaban sakti, “Maaf kawan, Kami, Aku ini bukan alat pemuas hehehehehe”.

Tapi tetap berusaha lakukan yang terbaik untuk hadapi hambatan yang ada dan mengubah persepsinya sebagai tantangan, bukan halangan. Insyaalloh semua bisa dilewati, meskipun urusan waktu penuntasan tentu berbeda satu sama lain.

Sebagai mood booster dalam menghadapi tantangan ini, perlu dihadapi dengan kesabaran dan juga ketenangan….. nah urusan mencari suasana tenang, jangan lupa…. sambil nyruput kopi.

Photo : Sajian Arabica Wine Tagkuban parahu / dokpri.

Maka, pilihannya kali ini adalah arabica wine tangkuban parahu dengan metode manual brew V60. Dibuatin orang kali ini mah, mau bikin sendiri nggak sempet karena berbagai pertimbangan dan alasan… alasan terkuat mah hoream hehehe.

Tetapi karena dibuatin orang maka harus menerima kelebihan dan kekurangannya, begitupun sajian kali ini. Ternyata air panas yang dipake nyeduhnya dibawah 90° celcius.. jadinya hangat-hangat kuku saja. Padahal ….mm aku mah seleranya panas 90° celcius, tapi ya sudah nggak ada salahnya juga karena pasti alasannya adalah agar aciditynya lebih terasa dikala diseduh dengan suhu yang lebih rendah.

Tetap disyukuri saja karena bisa menikmati kohitala tanpa repot menyiapkannya.

Srupuuut…… bodynya medium dan aciditynya high dengan secubit rasa wine yang menggigit bibir diujung waktu. Profile sajiannya ada selarik rasa fruitty dan tamarind…. nikmaat.

Alhamdulillah kawan, suasana kebathinan relatif lebih nyaman sambil berusaha menyelesaikan beberapa urusan kerjaan yang perlahan tapi pasti bisa diselesaikan.

Selamat menikmati hari ini kawan. Wassalam (AKW).

Kopi Semar Buhun.

Ngopay lagi sambil perpisahan… huu huuu huuu..

Photo : Kopi Semar Buhun / dokpri.

SUBANG, akwnulis.com. Sajian kopi kali ini agak sedikit menyinggung perasaan, karena disandingkan dengan sebuah patung kayu yang beberapa bagian tubuhnya mirip dengan kenyataan. Tetapi warna kulit hitamnya mah enggak atuh, tega banget ih.

Kopi yang hadir saat ini adalah kopi buhun dari cupunagara Subang, diolah dengan pola manual tubruk dan ditubruknya pelan-pelan, takut jatuh soalnya. Terkait rasanya pasti pahit karena tanpa gula, tetapi justru di situlah seninya menikmati kohitala (kopi hitam tanpa gula).

Karena kehadiran kopinya disandingkan dengan patung kayu semar, maka sangat pantas disebut kopi semar hee heu heu… gimana penulis wee… khan menulis mah bebas.

Body medium dan acidity medium high serta aftertaste selarik kacang tanah dan sedikit kakao plus selarik fruity yang minimalis hadir di rongga dada.. eh rongga lidah menemani hari dikala sebuah momentum perpisahan terjadi.

Yup, agenda lepas sambut sederhana yang kebetulan bisa bergabung karena tepat momennya yakni sedang berkegiatan di wilayah Kabupaten Subang. Lalu dapat info ada pertemuan ini, kontak-kontak via telepon, segera meluncur menuju tekape.

Photo : Perpisahan Eyang / dokpri.

Dari berbagai wejangan Eyang ada sebuah kata kunci dari beliau, yaitu satu kata yang super penting adalah TERTIB. Tertib dalam segala hal, insyaalloh terhindar dari permasalahan, baik urusan ibadah, pekerjaan ataupun pergaulan.

Selamat Purna tugas, Eyang.

Lanjut aah…..

Termasuk minum kopi, harus tertib. Siapin cangkirnya, juga kopinya plus air panasnya… baru ditubruk. Klo yang nggak tertib khan kopinya masih dibungkus langsung diseduh air panas sementara cangkirnya diminum…. khan kacau bro, makanya harus tertib.

Nah sekarang duduk manis dulu, cangkir kopinya di simpan di meja. Pegang dengan erat, dekatkan ke bibir…. jangan lupa baca Basmallah… baru srupuuuuut… hmmm kopi buhun cupunagara nikmatnya, ditemani patung semar besar yang selalu tersenyum.

Itulah perjalanan kopi… eh ngopay kali ini, selamat bekerja dan selalu penuh semangat, Wassalam (AKW).

Kopi Sidak.

Sidak bocor, jadi weh…

Photo : Kopi sidak / dokpri

GARUT, akwnulis.com. Secangkir kopi hitam hadir menyambut kedatangan incognito ini. Nangkring dengan manisnya dan posisi presisi dengan nama lembaga keuangan yang di datangi, bisa-an ih. Padahal sebuah sidak itu seharusnya bersifat tertutup dan rahasia, tapi ternyata bocor juga hehehehehe.

Sebelum kopi hitam ini disruput, tentu penasaran juga, siapa pembocor informasi ini. Di tracking di otak, kira-kira siapa sambil tetap pasang wajah garang, khan mau sidak alias inspeksi mendadak…. hati-hati, bukan infeksi mendadak ya bro.

Sebelum amigdala dan neocortec kompromi tentang siapa pembocor kunjungan ini, sebuah wajah yang cengar cengir menuju pengakuan datang mendekat dengan sebuah proposal permohonan maaf, “Punten pak, takutnya klo nggak di kasih tau, mereka pada nggak ada”

Garuk-garuk kepala jadinya. Konsep yang disusun buyar.

Ya sudah, gepepe

Tapi, nggak ada salahnya juga khan. Inisiatif rekan kerja untuk memberitahukan kehadiranku berbuah sambutan manis si kopi hitam. Juga kehadiran lengkap manajemen puncak dari PT LKM Garut di kantor barunya.

Sruput dulu guys, Kopi asli garut tanpa gula. Arabica Cikurai, ceunah. Pahitnya menggoyangkan lidah dan memberi sensasi kegetiran yang mengingatkan diri bahwa dibalik kepahitan ini tetap terwujud rasa syukur yang tiada hingga. Sambil ngaca, lihat wajah dan body yang makin manis ini juga sudah cukup kok, srupuut lagi ah.

Yuk, kita lanjut sidaknya…. Cekidot. Wassalam (AKW).

Algoritma Specialty Coffee.

Karena Algoritma, kita bersua.

CILEUNYI, akwnulis.com. Dikala jemari menari di keyboard virtual smartphone, sebuah algoritma mengintai tanpa disadari. Merekam jejak digital kita dan mengambil kesimpulan canggih bahwa sebuah minat telah tertata dan mengerucut menjadi segmentasi yang bisa disuguhi janji berupa iklan ataupun penawaran sesuatu yang menarik hati (Iya… itu maksudnya iklan cuy).

Memasuki ranah media sosial seperti stalking status instagram, geser noongin status whatsapps orang lain, hingga dilanjut berselancar di lama facebook dan ujung-ujungnya ikut bergoyang di aplikasi tiktok… sang algoritma mengintai kawan.

Di laman facebook dan instagramlah hadir secara silent tetapi presisi untuk menarik minat dan hati dalam bentuk iklan yang ‘sesuai dengan kebiasaan kita’…. tiap individu beda-beda. Itulah kehebatannya.

Nah jemari inipun terpaku oleh sebuah iklan di facebook yang memang menarik hati, apalagi setelah sebulan lalu bulan september mengikuti PUKOTAPTI (puasa kopi tanpa alasan pasti) alias berhenti total menikmati kopi selama sebulan dan tanpa alasan, pokoknya pengen berenti aja, titik.

Kok bisa?”

“Ya bisa atuh, ini kenyataannya bisa kok”

Kembali ke iklan tadi, yaitu sebuah penawaran produk kopi siap saji yaitu menggunakan metode cold brew. Dikemas pake botol yang gaul dan menggunakan biji kopi pilihan dengan label specialty coffee dan diolah dengan fermentasi maksimal sehingga menghasilkan biji kopi wine…. wah menarik nich, patut dicuba… eh dicoba.

Jempol seakan paham bisikan hati, tanpa banyak pertimbangan langsung klik order, klik isi form pemesanan, dapet balasan via whatsapps musti bayar ke rekening mana… daan otomatis klik mobile banking, tring… transfer terjadi dan di menit berikutnya notifikasi hadir dan barang siap kirim…. ajaibbb…. sebuah rasa syukur menyeruak, semua kemudahan ini hadir atas ijin perkenan dan rahmat Illahi Robb.

***

Tak sampai 24 jam, pesanan kopi spesial ini datang seiring teriakan khas, “Pakeeeet

Langsung dusnya dibuka, ternyata dipacking rapih lengkap bubble wrap untuk melindungi botol -botol tak berdosa ini… (naon siih). Botol berisi cairan kopi siap saja, kopi murni tanpa gula, tanpa susu, tanpa madu, tanpa pemanis apapun….. karena sesuatu yang pasti, sang calon peminumnya ini sudah maniiiez… ahaay.

Cold brew winety, itu nama pemasarannya kawan. Eh salah ding, itu adalah label dari perusahaan yang bikinnya, lokasinya di Lembang – Bandung Barat (soalnya di tanya dulu via WA, eh ternyata masih di bandung yang bikinnya). 1 botol isinya 250 ml, 4 botol berarti 1 liter “Nah klo 4 liter berapa botol?”…. halah kok jadi tanya jawab perkuisan seeeh…..

Hayu kita nikmati. Ambil gelas kaca mini kesayangan, currr.. dituangkanlah cairan kopi ini dan… srupuuut.

Woiiih enaak, aciditynya high alias keasaman tinggi, kurang cocok untuk pemula, apalagi yang punya penyakit lambung, khawatir lambungnya kaget dan berteriak hehehehe.

Bodynya sih medium, lebih didominasi oleh keasaman hasil fermentasi bijinya dan aftertastenya…. eummm bentaar… semoga tidak salah, rasa dominannya tamarind, ditemani selarik cocoa dan kacang tanah (duh sotoy kayak expert aja, padahal cuman mencoba jujur melalui lidah ini)… moo percaya monggo, moo enggak juga egepe, ikhlas kok.

Jadi untuk penikmat pemula mah produk ini belum recomend karena keasaman yang mengagetkan. Kalaupun mau nyoba pelan-pelan, setetes demi setetes lama-lama jadi mau. Klo buat penikmat kohitala garis keras, ini bisa jadi pilihan bagi pengusung kepraktisan. Tinggal sruput atau simpan dulu di kulkas untuk di sruput kemudian.

Selamat pagi, selamat order dan selamat menikmati efek iklan algoritma yang bisa membaca kebiasaan kita.

Klo rutin posting, bahas, search, nulis dan hal-hal tentang kopi maka algoritma bekerja memghasilkan sajian iklan produk kopi yang menarik hati.

Beda lagi kalau kita rutin berselancar dengan pilihan kata tertentu, maka iklan yang hadirpun segmentasinya tertentu. Jadi jangan salahkan laman website jikalau muncul iklan obat kuat atau judi online, tapi introspeksi diri saja karena algoritma susah berbohong.

Selamat Ngopay kawan, Wassalam (AKW).

Kopi Buhun yuk.

Menjaga imun, minumlah kopi sambil cingogo…

Photo : Kopi Buhun ditubruk pelan-pelan / dokpri.

SUMEDANG, akwnulis.com. Gemericik air yang bercengkerama dengan bebatuan menciptakan musik alami yang menenangkan hati. Di tengah kehijauan suasana yang mengantarkan rasa lebih tenang dan lebih damai dalam suasana kegalauan yang tak berhenti.

Yup, gejala Cabin Fever alias kesuntukan karena terpenjara suasana dan keterbatasan beredar akibat penyebaran covid19 menimbulkan stres tersendiri dan merasa terkotakkan dalam kabin atau ruang sendiri dimana sejatinya manusia adalah mahluk sosial yang gemar dan (harus) berkerumun serta bergaul, apalagi anak gaul heuheuheuheu….. maka mlipir sedikit ke tempat yang menyejukkan adalah jawaban atau obat penyembuhan setelah 7 bulan ini terkurung oleh ketidakpastian.

Sebagai pelengkap dalam mengobati rasa terasing ini maka kembali sajian kopi hitam tanpa gula adalah kawan sejati. Sebulan lalu dicoba dilupakan alias berhenti minum kopi tanpa alasan jelas, kali ini kembali menemani perjalanan kehidupan yang penuh dinamika.

Meskipun belum bisa berkerumun dan ngobrol ngaler ngidul sambil tertawa-tawa, minimal suasana alami yang berbeda ini memberikan ketenangan dan kesadaran bahwa nikmat hidup ini adalah salah satu nikmat dari Illahi Robb yang wajib disyukuri dan ditafakuri.

Secangkir kopi hitam tanpa gula yang masih mengepulkan asap kenikmatan ini adalah kopi buhun Rancakalong yang digiling manual oleh Juragan D dan dilakukan seduhan manual dengan metode kopi tubruk depan depan kecepatan pelan-pelan… naon siih….

Maksudnya kopi tubruk mas bro.

Dengan cangkir jadul yang mengingatkan suasana masa kecil yaitu cangkir kaleng berkelir corak putih hijau, cocok pisan dengan birunya dedaunan dan keputihan alami…. halah kok keputihan… maaf, maksudnya putih alami awan di langit sanah heuheuheu.

Tak lupa, secangkir kopi panas sebelum diseruput, biarkan berpose diatas batu sungai. Bergabung dengan gemericik irama alam dan ditemani gerakan lincah ikan kecil yang berenang disekitaran.

Srupuut….. woaaah panasnya air telah berubah menjadi rasa yang menenangkan. Body kopi medium dengan acidity tahap menengah serta diakhiri after taste fruitty yang hadir selarik ditambah tamarind dan sejumput rasa lemon…. enak euy. Sambil cingogo eh jongkok diatas batu sungai, bagaikan masa lalu di kampung halaman manakala kebelet buang hajat di dekat sungai…. carilah tempat strategis diatas sungai.. dann… berjongkoklah dengan bersahaja.

Selamat menyeruput kopi guys… srupuut… nikmaat. Wassalam (AKW).

Hari Kopi Dunia.

Met Hari Kopi Dunia Guys.

Photo : Kopi Tubruk berlatar Alam / dokpri.

PUNCAK, akwnulis.com. Sebuah pesan whatsapps mengingatkan dengan sebuah ucapan ‘Selamat hari Kopi Dunia tanggal 1 Oktober 2020‘…. waah ternyata hari kopiii, level dunia lagi. Tentu dijawab dengan sukacita dan ingin segera merayakannya.

Tapi…. tunggu dulu, tabayun itu penting bro, cek and ricek. Segera dibuka buku RUPL (Rangkuman Umum Pengetahuan Lengkap) …. ketahuan deh umur klo masih buka buku RUPL yang berisi seantero pengetahuan dan menjadi bukubsakti rujukan pada jamannya. Padahal sekarang tinggal buka mang gugel dan baca – pilah dan baca.

Dari penelusuran singkat via laman wikipedia dan beberapa artikel tentang asal muasal kopi belum ada data akurat. Ada yang menyebut berasal dari ethiopia benua aprika untuk pertama kali jaman ethiopia kuno oleh seorang penggembala bernama Kaldi dan ada juga pendapat bahwa diawali dari cerita tentang Legenda dari Yaman menceritakan bahwa dahulu mistikus sufi Yaman Ghothul Akbar Nooruddin Abu al-Hasan al-Shadhili sedang melakukan perjalanan melalui Ethiopia*).

Selanjutnya disepakati oleh Organisasi kopi Internasional pada 1 oktober 2015 di Kota Milan Italia untuk diperingati tanggal 1 sebagai hari kopi dunia dengan tujuan untuk mendukung para petani kopi dunia semakin berkembang **).

Nah jikalau dunia itu memperingatinya tanggal 1 oktober maka di sini, Indonesia bertepatan juga dengan hari kesaktian Pancasila, sebuah tanggal yang menjadi kebanggaan bangsa indonesia yang berhasil menyelamatkan Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari gerakan Komunisme.

Trus indonesia memperingati hari kopinya kapan?”

Cari lagi, eh nongol info, bahwa hari kopi indonesia itu diperingati tanggal 11 Maret guys… atuh bertepatan dengan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret)… asa nyarambung yach.

Yang paling penting adalah bagaimana memaknai kehadiran kopi ini menjadi momentum rasa syukur kepada nikmat Illahi. Apalagi jikalau ngopinya itu tidak hanya segelas kopi hitam saja, tetapi dimana kita ngopinya, bagaimana pemandangannya, keren nggak penyajiannya, atau manis nggak yang menyajikannya… ups… nggak boleeeh.

Photo : Lanscape pegunungan yang menenangkan / dokpri.

Sebagai rasa sukacita di hari kopi sedunia maka ijinkanlah kami memposting sajian kopi berlatar belakang kehijauan dan punggung gunung penuh pesona. Memanjakan mata, mendamaikan hati dan memberi jawaban atas kehausan addict sruput kopi selama ini.

Biarpun bukan kohitala dengan manual brew V60 atau shiffon dan juga vietnam drif tapi (hanya) secangkir kopi tubruk… lihatlah berlatar belakang pemandangan indahnya, ini adalah sebuah kenikmatan tak terperi yang wajib ditafakuri.

Selamat Hari Kopi Dunia dan Selamat atas Saktinya PANCASiLA. 1 Oktober 2020, Wassalam (AKW).

***

Sumber :

*)https://www.kompas.com/food/read/2020/09/30/183818975/hari-kopi-sedunia-ketahui-sejarah-munculnya-kopi-di-dunia?

**)https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hari_Kopi_Internasional

Goodbye Kopi di akhir Agustus.

Perjumpaan ditemani dengan perpisahan, itulah kehidupan.

Photo : V60 Arabica Papandayan / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Inilah sebuah keputusan yang begitu berat dalam sebuah perjalanan kehidupan. Dikala rembulan berpindah hari, menjemput asa di bulan yang baru maka disitulah sebuah keputusan harus dimulai.

Berat memang, tetapi ini harus diakhiri dan dimulai kembali saat ini.

Setelah bertahun-tahun mewarnai hari dalam suka duka dan berbagai momen bahagia. Melengkapi tulisan-tulisanku dengan tagline ‘kohitala‘. Memberi julukan tambahan dari para penikmat tulisan recehku ini yang menyebut dengan ‘Mang Kopi‘…. maka di tengah pergantian hari ini, perubahan harus terjadi.

…… dentang jam 00.00 wib memberi tahu bahwa bulan agustus telah berlalu dan berganti dengan bulan september yang ceria… serasa iklan yach?…

Aslinya kamu mau berhenti ngopay?” Sebuah tanya yang dijawab dengan anggukan lemah yang menandakan kecamuk pertentangan di dalam dada. Bukan berhenti tetapi cuti, bukan berakhir tetapi berusaha kembali terlahir.

Maafkan daku bagi kawan pembaca tulisan di blog ini. Jikalau cerita ngopay dan ngojay akan sedikit berkurang, tetapi itulah kehidupan, sebuah keputusan harus diambil demi hadirkan kebaikan. Tetapi semangat menulis tetap akan membara meskipun bukan ngopay yang menjadi bahasan utama.

Sebagai sebuah tanda cerita, maka segelas kopi hitam tanpa gula dengan beannya arabica papandayan menemani hari terakhir di bulan agustus ini. Sebuah karya manual brew V60 dengan suhu air 90° celcius diproses dengan seksama selanjutnya disajikan di gelas biasa tetapi memberikan rasa yang body strong dan acidity tinggi khas coffee java preanger. Ditambah ada nuansa smoky (alias bau haseup) yang menjadi pembeda, tetapi itulah misteri yang ada, selalu ada kejutan dari berbagai jenis yang ada.

Sruputannyapun perlahan dan diresapi, karena mungkin esok lusa tidak bisa menikmati kopi sesering ini. Selamat menapaki bulan yang baru dengan semangat baru, happy september 2020. Wassalam (AKW).

Ulah Sieun.

Tong hariwang, sagala rupa aya jalanna.

CIBOGO, akwnulis.com. Ngahaja manggihan kolot sanajan kudu meuntas tujuh walungan jeung mapay galengan nu satungtung deuleu. Hayang geura paamprok jongkok, rèk bèbèja jeung ngumaha pikeun meunang bongbolong dina enggoning lumampah di alam dunya.

Baheula Ema nyarita, “Jig indit ka alak paul teu kudu deui inget ka lembur, meunang balik mun geus manggih kabagjaan atawa sabalikna meunang kapeurih nu teu bisa ditandangan ku sorangan”

Ayeuna raga ieu datang, bari mawa kawirang. Lain carita bagja atawa dongèng katresna, tapi kapeurih dihina sabab teu bisa ngalaksanakeun titah raja nu matak ngabarubahkeun nagara.

Anjog ka golodog, Ema geus nyèrèngèh bari nyekel baki eusi sampeu haneut jeung botol hideung.

Anak Ema geus mulang, nuhun Gusti” Sora Ema nu satuluyna datang bari nangkeup awak kuru rada bau tapi boga tèkad panceg dina nyekel prinsip kahirupan.

Ema geus nyaho sapuratina, ayeuna mah rineh heula didieu, tah cobian ramuan kahirupan made in Ema” Hiji sora nu mèrè damèy hatè. Botol hideung dibuka, curulung kana gelas leutik. Leguk… leguk.

Photo : djamu Bratawali & Sambiloto / dokpri.

Ngaheneng… mèlèl… pait kabina-bina.

Aduhhh… naon ieu?” Leungeun nungkup baham nu teu kuat nandangan pait jeung pait nu gangalo sampurna. Teu culang cileung deui, lumpat ka balong hareup, cai dina kokocoran langsung diuyup, sugan wè lètah teu pait deui.

Tapi angger, paitna napel, peuherna komo. Ema mah ngan ningali wè kalakuan budakna bari imut bangun ngeunaheun.

Nepika janari ngagayuh ka subuh, lètak masih ditapelan ku rasa pait jeung peuherna. Teu pira geuning, ngan daun sambilito jeung bratawali dicampur cipanon saèsè.

Tapi hasilna cespleng teu leuleus deui, awak cangker jiwa ludeung. Nyanghareupan pahitna kahirupan nu teu sabaraha tibatan kudu ngaleguk paitna jamu sambiloto – bratawali. Hayu urang tandang pakalangan nyanghareupan tantangan kahirupan. Ulah sieun sabab geus diajar ngarasakaeun pait peuheurna jajamu jeung kanyataan. Cag. Wassalam (AKW).

Kopi Pagi

Yuk ah…. ngopay lagi.

Photo : Kopi pagi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala mentari hadir dengan kehangatan hakiki, disitulah sinergi abadi terulang setiap hari. Apalagi hari ini, birunya langit begitu memukau dengan aura ketenangan yang tiada tara. Sungguh nikmat karunia kehidupan dari Allah SWT yang wajib disyukuri dan ditafakuri.

Hembusan angin yang lembut menyapa wajah hingga ke hati, menenangkan nurani dan memberikan tambahan semangat berbakti sesuai dengan tugas dan target hari ini, besok dan lusa lagi.

Maka jangan disia-siakan momentum ini, ambil kesempatan dengan meraih smartphonemu, bidik… abadikan…

Cekrek!…

Frame indahnya pagi yang membiru sudah berhasil terdiam di memori handphone. Dengan sentuhan kasih sayang teknologi, maka tanpa berlama-lama akan segera berkelana di dunia maya melalui proses upload di media sosial dengan beraneka tagar dan caption serta tring…..

…..menanti respon siapapun didunia sanaaa.

Eh ada yang lupa, ambillah secangkir kopi hitam tanpa gula dan abadikan bersama pagi yang ceria.

Hati-hati dengan penantian respon di medsos berupa like, jempol dan juga komentar. Biarkan itu berproses, jangan terjebak oleh banyaknya jempol dan komentar di medsos kita, karena itu adalah kenikmatan semu belaka.

Paling penting adalah sebuah nikmat syukur atas lukisan tuhan pagi ini sudah diabadikan dan tentu disyukuri dengan dzikir serta kerendahan hati.

Selamat pagi, selamat menyeruput kopi dan memaknai pahitnya kopi ternyata menyimpan manisnya rasa syukur yang sangat berarti. Wassalam (AKW).

V60 Arabica Sindanglaya.

Sruput kopi arabica sindanglaya.

Photo : Kopi Sindanglaya Arabica / dokpri.

BOJONGHALEUANG, akwnulis.com. Arabica Sindanglaya, itulah yang tertera dibungkusnya. Untuk selanjutnya diserahkan kepada sang barista untuk menyeduhnya meskipun diberi catatan dengan lisan bahwa mainkan panasnya diatas 90° celcius agar ketebalan rasa bodynya dapat hadir tanpa dipaksa.

Ternyata menunggu itu kok terasa lama, padahal klo bikin sendiri mah perasaan cepet….” bicara sendiri di pikiran dan akhirnya senyum sendiri. Karena memang prosesi manual brew v60 perlu beberapa tahapan yang harus dilalui hingga hadir menjadi sajian minuman kopi hitam tanpa gula yang miliki originality rasa sebenar-benarnya.

Iya sebenar-benarnya kopi adalah kepahitan, tetapi kepahitan ini ditemani selarik rasa sana sini yang tidak semua orang bisa mengecap dan menikmati.

Arabica sindanglaya itulah namanya, berbungkus hitam memberi suasana penasaran untuk rasanya. Tapi tetap bisa ditebak rasa umumnya arabica java yang miliki variasi acidity yang menggoda serta body cenderung medium ke bold tinggal diatur pencahayaan…. eh salah kok jadi serasa pemotretan, maksudnya diatur suhu air yang akan digunakan menyeduhnya WAJIB diatas 90° celcius, titik.

Karena modelnya take away, maka harus rela cikopi eh kopi hasil proses manual brewnya tidak disajikan dalam bejana kaca yang lucu, tetapi cukup dengan gelas kertas putih biasa. Tidak mengapa karena sebuah rasa tidak akan berbohong biarpun ditempatkan di gelas kertas begitu saja, cuma kalau di photo tanpa cerita, mungkin akan dianggap hanya sajian kopi biasa.

Itulah fragmen kehidupan, terkadang kita terjebak dengan penampilan. Meskipun mau tidak mau, tampilan atau penampilan juga bisa mendukung sebuah usaha sehingga hasilnya lebih optimal. Selamat ngopay kawan, Wassalam (AKW).