Ngopi Berdua.

Menikmati kebersamaan dan kopi yang menenangkan.

KBP, akwnulis.com. Tanpa menanti detik dan menit yang cukup lama, segera tersaji pilihan minuman masing-masing yang menemani kebersamaan sore ini. Senja akan datang tetapi menikmati kebersamaan adalah keharusan.

Raga berbincang dan bertukar cerita keseharian, dilengkapi sesekali mulut memberi kalimat penyempurna sehingga jalinan kata yang tertutur adalah cerita kehidupan yang miliki makna.

Smartphone yang selalu menjadi pembatas kebersamaan, hanya digunakan sebagai pelengkap pengambilan gambar saja. Selanjutnya dipaksa tergeletak di meja dan mencoba mulai berbicara satu sama lain, karena jika tidak maka pertemuan ini akan kehilangan ruh sinerginya. Masing-masing akan tetap dengan dunia smartphonenya, sementara semesta kebersamaan akan terciderai tanpa sengaja.

Simpan smartphonemu dan mari kita berbincang sayang”

Sebuah ajakan sederhana yang hasilkan nilai berbeda. Perbincangan akan lebih fokus dan intens tanpa terganggu dengan seliweran notifikasi di smarthone yang senantiasa menggelitik untuk dihampiri dan dibuka dengan jempol lentik… ahaay lentik… udah tangannya jempol semua juga.. ups.

Photo : Manual brew V60 Ijen arabica / dokpri.

Pilihan masing-masing berbeda, tetapi tetap ada kopinya. Diriku diwakili oleh rasa original kopi yang hadir melalui sajian manual brew V60 dengan pilihan kopinya adalah Kopi Ijen arabica yang diseduh dengan suhu 90° celcius menghasilkan kopi siap minum yang harum dengan body dan acidity medium ditambah aftertasenya hadir rasa citrun, kacang tanah dan cocoa…. (moga-moga bener nih lidah mengecapnya)… srupuuut.

Sementara sayangku tercintaah lebih memilih kopi ditemani susu yang dibuat karamel dengan bantuan pemanasan api dipermukaan cangkirnya yang dikenal dengan istilah –chreme bruele-. Sajiannya cantik dan menggoda, tetapi bagi penikmat kohitala ini harus dihindari, karena ada unsur susu dan gula.

Tapi icip dikit boleh khaaan?”….

Boleh donk, saling bertukar icip juga tidak mengapa. Tetapi tetap harus seminimal mungkin, karena…. klo maksimal ntar ngabisin secangkir… atuh akan menimbulkan keributan dan ketidaknyamanan….. meskipun sebenernya pesen lagi gampang, tetapi suasana yang terbangun akan berbeda karena pengalaman yang ada tak akan tergantikan segera.

Selamat sruput sore kawan, jangan lupa sebelum menyruput dibuka dulu maskernya yaa. Wassalam (AKW).

Memori Perubahan.

Berubah itu penting, tapi tetap waspada.

Photo : Ini setum kakak / dokpri.

BOJONGHALEUANG, akwnulis.com. Sebuah hingar bingar aktifitas pembangunan terus bergerak seiring perubahan jaman. Lahan yang dahulu tak bertuan telah berubah menjadi area yang dihilirmudiki aneka kendaraan… raga terdiam tetapi jiwa tetap bisa berontak dan ikutan belajar memaknai kenyataan.

Begitupun dalam hati kecil ini, ada perubahan radikal seiring waktu yang tak sengaja mencuri kenangan. “Apakah perubahan itu penting?” …. “dan betulkah jikalau tidak berubah berarti mati?”

Itulah dimensi yang dihadapkan terhadap multi persepsi. Jika ditanya pada diri yang rapuh ini, maka akan sejalan dengan semangat perubahan itu penting. Tetapi disaat ada istilah ketidakberubahan disandingkan dengan mati, mungkin perlu dielaborasi tanpa menghancurkan semangat awal adagium ini hadir disini.

Istilah mati adalah sebuah pernyataan semangat, sehingga kata perubahan menjadi dramatis dan akan diperhatikan oleh semua pihak… sehingga akhirnya melakukan penyesuaian atau adaptasi…. dengan kondisi baru yang tentu berbeda banget dengan masa lalu… makanya sekarang booming istilah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB)… hati-hati menulis dan membacanya, serta teliti dalam menuliskannya karena hilang 1 hurup akan mengakibatkan perubahan makna yang begitu signifikan.

Photo : Bongkar dan tuntaskan / dokpri.

Nggak percaya?….” Silahkan coba hilangkan hurup r di kata terakhir sehingga kalimatnya adalah AKB : adaptasi kebiasaan bau…. jauh banget khan artinya?…

Maka kembali kepada perubahan, jangan takut kawan… kita jalani dan kita ikuti dengan senantiasa rasa syukur kepada Illahi. Karena sejalan waktu, jiwa kita berubah lebih dewasa dan bijaksana begitupun dengan raga, semakin berkurang kemampuannya, keindahannya serta kesempurnaannya… itulah hakiki kehidupan kita.

Kembali kepada hinggar bingar pembangunan dan sesekali debu-debu beterbangan memenuhi lalu lalang kendaraan pengangkut yang besar dan teriakan perintah ditengah kebisingan. Maka jangan lupakan masa-masa awal, asbabun nuzul, asal muasal… jadikan bahan renungan serta tasyakur akan nikmat kehidupan.

Begitupun sajian kopi hitam gula sedikit di gelas sederhana sajian teteh warung dilengkapi tatakan piring… asli piring makan bro…. 🙂 :)……. hadirkan memori masa lalu dikala baru bisa menikmati kopi…. ya kopi ini, kopi sachet yang dijual bebas di kios-kios kecil dan warung kopi.

Photo : Kopi hitam warung yang nikmat / dokpri.

Meskipun seiring waktu telah bergeser ke kohitala, sajian kopi hitam tanpa gula dengan metode manual brew V60…. ternyata sajian kopi warung ini mengingatkan kita bahwa awalnya inilah kenikmatan kopi yang ada. Inilah asal muasal kenikmatan kopi yang ada… ya 2 dekade lalu.

Jikalau sekarang kohitala adalah kenikmatan, itulah perubahan. Jangan dilawan tetapi dijalani dengan tetap mengedepankan prinsip kewaspadaan, insyaloh kenikmat berkahan akan menaungi kita.

Sruputtt…. hmmmm bukan rasa yang menjadi goda tetapi kenangan manis di masa silamlah yang menggerakan bibir untuk tersenyum dan hati gejolak kembali tenang. Selamat mensyukuri perubahan kawan, Wassalam (AKW).

Caffelatte Intime.

Sruputan ini menjadi dilema…

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala dikau hadir beralaskan cangkir merah ati penuh kecerahan, langsung mulut terdiam karena terpana dengan keindahan. Sebuah karya barista yang begitu menggugah rasa. Lukisan berbeda yang hadir diatas permukaan dunia.

Biasanya langsung sruput tanpa banyak jeda, sekarang agak terdiam karena hadirkan dilema. Pertama adalah keindahan dan kedua adalah momen yang tergambar diatas sajian latte sore ini begitu menggoda. Hayu ah…..

Betapa tidak sebuah kedekatan yang seakan tanpa batas, penuh dengan romantisme dan harapan. Meskipun mungkin urusan kepercayaan menjadi nomor ke sekian, tetapi inilah suasana yang tidak mudah untuk dilupakan.

Baiklah, namamu ku berikan CAFFELATTE INTIMATE, jadi kata akhirannya senada, khan jadi enakeun nyebutnya juga menjadi mudah untuk memghapalkannya.

Tapi akhirnya dengan berat hati, harus diseruput juga. Karena memang itu tujuannya memesan secangkir caffelatte. Tiada lain demi memenuhi dahaga kafein sore ini. Meskipun ternyata tertahan karena terpesona oleh gambar olahan barista yang memancing datangnya kenangan masa silam bersama para mantan…. Ups.

Selamat bermalam minggu kawan, jangan lupa menikmati keindahan dan kenangan masa silam. Tidak usah melawan atau berusaha melupakan masa lalu, biarkan saja menjadi pondasi janji dan dasar sikap bijak di hari ini. Wassalam (AKW).

***

*) Lokasi : Herbal House by The Lodge, Jl. Sumur Bandung No.6 Kota Bandung.

Kopi Bergambar.

Sedikit keluar dari kopi hitam, mari nyruput gambar…

BANDUNG, akwnulis.com. Nulis kopi terus, bahas kopi terus, apa-apa dikaitkan sama kopi. “Apa nggak bisa nulis yang lain?”

Kalimat tanya di pagi buta, hadir menohok tanpa tedeng aling-aling. Bukan complain sih, tapi mungkin puncak dari kebosanan karena dikirimin terus tulisan di blog ini yang temanya tidak jauh dengan kopi, atau malah maksa disambung-sambungin dengan kopi.

Heuheuheu….. sebenernya ingin berdebat dan membertahankan argumen bahwa menulis itu adalah….. bla bla bla, bahwa menulis itu….. segala macam pokoknya. Tapi yakin argumen ini tidak akan meluruskan persepsi karena vonis kebosanan mungkin lebih kuat mencengkramnya.

Jangan terlalu tegang kawan, biarkanlah tulisan sederhana ini mampir dihadapan melalui link yang rutin daku kirimkan. Buka dan baca dengan santai, jikalau tidak, ya sudah simpan saja sebagai arsip kehidupan karena yakin besok lusa ada masanya untuk dibuka dan menjadi teman dikala kesepian.

Nah, supaya nggak boring dengan kohitala (kopi hitam tanpa gula), kali ini sengaja mengumpulkan berbagai gambaran eh gambar dalam kehidupan yang dilukis spesial oleh sang barista, menghadirkan aneka gambar dengan masa kehadiran hanya beberapa menit saja.

Kenapa begitu?”

Photo : Cafe latte intimisasi at Herbal house / dokpri.

Karena hadirnya gambar diatas secangkir kopi khususnya latte akan bertahan beberapa menit saja karena setelah disruput dengan nikmatnya, si gambar berubah dan akhirnya menyatu dengan warna alami latte kecoklatan.

Latte memang bukan kohitala, bukan si kopi hitam dengan rasa misteriusnya. Tetapi latte awalnya kohitala yang harus berkawan dengan susu steam dan tentu (terpaksa) hadirkan sejumput gula…. tapi sesekali tidak mengapa khan?…. hidup itu butuh variasi kawan. Inilah beberapa kopi bergambarku :

1. Latte bergambar angsa (goose), dari beberapa tempat sudah banyak barista dan baristi yang menggambar si cantik berleher panjang ini. Lucu memang gambarnya tapi apa mau dikata untuk dinikmatinya harus merusak gambar angsa yang tersaji.

2. Latte bergambar muka babi, nah caffelatte bergambar wajah babi bisa didapatkan dari salah satu cafe di bilangan kota bandung sebelah utara. Sebuah gambaran wajah babi yang lucu menghiasi permukaan cangkir kopi lengkap dengan senyumannya yang imut-imut.

Photo : Latte bergambar babi-face / dokpri

3. Latte bergambar keintiman, tah ini pasti penasaran. Ternyata barista ada juga yang bikin dua wajah berlainan jenis yang begitu dekat satu sama lain, wajar khan dianggap latte intimisasi?…

4. Lattee bergambar daun (leaf) kayaknya sudah standar yach, rata-rata cafe bisa menyediakannya. Tapi itupun gambar daun tertentu. Sementara reques gambar daun pintu dan daun telinga belum ada yang bisa membuatnya diatas cangkir latte yang tersaji dan terakhir…

5. Latte bergambar kelinci (Bunny/rabbit), ini kebetulan dapet pas beredar tipis-tipis di wilayah garut. Ternyata bisa hadir gambar kelinci lucu diatas cangkir latteku.

Itulah sejumlah terbatas gambar-gambar yang hadir di permukaan kopi dan pernah daku nikmati. Memang sedikit karena pilihan utama tetap kohitala, ini hanya bagian dari variasi dan (sebenernya) sangat jarang melakukan pemesannya…. yaa sebulan sekali sih masih.

Selamat menikmati sajian kopi dengan gambar masing-masing yang memiliki banyak arti. Wassalam (AKW).

Inza Cauca & Kegalauan.

Galau No, Ngopay Bray…

CIMAHI, akwnulis.com. Benarkah bahwa ukuran itu sama? Atau hanya ukuran semu yang tak patut untuk saling menduga?… ah berputar kalimat tanya yang tak kunjung mereda disekitar hati dan di ujung ruang rasa.

“Kamu teh galau?”

“Nggak sih, cuman kok jadi banyak pikiran dan berbaur antara sedih, sunyi dan merasa sendiri”

“Itu namanya galau”

“Oh itu teh galau, ya sudah!”

Segera beberapa kawan menjauh agar terhindar dari virus galau yang begitu mudah menjangkiti perasaan apalagi di masa pandemi covid19 ini, kegiatan kongkowku porakporanda. Tersisa serpihan kekangenan tiada hingga yang entah kapan bisa kembali terekat suasana dan tersatukan oleh waktu yang tak bisa berkata-kata.

Kesendirian itu berbahaya, karena bisa membunuh jiwa menggerogoti rasa dan akhirnya hadirkan niat untuk tampil berbeda atau yang lebih ekstrim adalah memaksa pergi dari dunia fana ini dengan berbagai gaya.

Jadi obatnya apa?”

Pernyataan universal yang meminta jawaban spesifik, padahal bukan jawaban yang diharapkan tetapi justifikasi sebait kalimat yang telah disepakati terlisankan tanpa berbalut tendensi.

Photo : V60 arabica inza cauca / dokpri.

Aku sih merasa masih kurang jika jawabannya adalah hamburan kata nasihat yang sering tercecer ditinggal jaman tanpa permisi. Tetapi tanpa contoh keteladanan yang nyata.

Yang lebih lengkap adalah ditemani sajian minuman favorit dan makanan berat pendukung yang luar biasa. Tidak mahal tapi elegan, “Apakah anda mau tahu?”

Yang mau angkat tangan kanan dan yang tidak mau angkat kaki, maka akan tersisa para pendukung yang mendukung atau terpaksa mendukung.

Maka sajian manual brew V60 dengan kopi arabica Inza Cauca dari kolumbia adalah obat galau mujarab yang tak bisa dikesampingkan.

Ditambah dengan sajian makanan berkelas ala chef yaitu mie asam pedas..

Ruarbiaaasa di bibir dan dimulut si rasa pedas langsung menyerang syaraf rasa tanpa tedeng aling-aling…. lada pisaaan. Dilengkapi dengan sayuran yang cukup banyak…. malah nggak dipotongin…. jadi gelondongan daun caisim yang membuat hiasan kehijauan.

Photo : Mie asam pedas / dokpri.

Ya sudah digayem saja…. oh my good pedasss…. tapi menyegarkan.

Oh iya tidak lupa…. sruput juga kohitala inza cauca, masa nggak dinikmati…. srupuuut… nikmat. Rasa body medium dan acidity sedang ditambah after tastenya tangerine dan brown sugar sementara milk coklatnya nggak muncul (klo dibungkusnya sih ditulis) ….. bikin nikmat rasa di mulut ini.

Oke guys, selamat beraktifitas ya. Jangan galau dan terdiam karena hidup adalah perjalanan. Bergeraklah meskipun tertatih dan perlahan. Wassalam (AKW).

Masker & Kopi Sultan.

Matching-in masker dan Sruput Kopi Sultan…

Photo : Masker dan baju versi biru / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Perjalanan panjang di masa pandemi tidak menutup diri untuk menikmati sajian dan sensasi beraneka macam kopi. Meskipun rasa takut masih menggelayuti, tetapi bergerak tipis-tipis mencari sensasi kopi bisa meningkatkan imun karena menjaga bahagia.

Meskipun begitu protokol kesehatan yang paling utama. Makser… eh masker wajib digunakan, malah double jikalau harus (terpaksa) rapat dengan jumlah peserta lebih dari 7 orang (sesuai surat edaran pak bos)… masker sekali pakai dan masker modis.. itu tuh masker kain yang warnanya senada dengan seragam yang dipakai di hari tersebut.

Ih centil kamu khan bapak-bapak, ngapain maen matching matchingan… klo perempuan atau ibu-ibu wajar” Celoteh seorang pegawai perempuan melihat kecocokan antara masker dengan seragam.

Tak usah dijawab kawan, senyumin aja. Tak akan menang jikalau berdebat dengan kaum emak-emak. Biarkan celotehnya menjadi penghias rasa di hari yang penuh dinamika.

Photo : Masker dan batik, matching khan? / dokpri.

Lagian klo matching antara masker dan seragam nambah pede lho. Trus lebih aman kalau di double dan lebih modis pas di photo… asyik jadi rajin photo lho.. alasannya adalah untuk pelaporan kinerja harian sekaligus menyalurkan bakat narsis yang terpendam sekian ratus purnama plus waapada agar terhindar dari paparan virus corona sang virus seribu rupa.

Hand sanitizer dan spray anti kuman-bakteri-virus menjadi kawan setia yang waspada disamping tas punggung yang selalu menemani kemanapun pergi. Itulah salah satu sikap adaptasi kebiasaan bauuu…. eh baruuu.

Kali inipun bukan menyengaja datang demi kopi, tetapi undangan meetingnya ternyata ditempat yang bisa menyajikan kopi. Kebetulan banget khan?.. Alhamdulillah.

Setelah diskusi singkat dalam prosesi pemesanan, maka diskusi berlanjut dengan penuh keakraban meskipun tetap jaga jarak dan jaga perasaan, apalagi jaga hari hehehehe.

Nah, lagi rame diskusi. Tiba-tiba pelayan datang dengan membawa teko berlapis emas (ahaay lebay, tekonya kayak dilapis emas) dan tinggi menjulang dengan 4 gelas kaca mini plus satu mangkuk kurma. Ini dia sajian yang tadi dipesan, Qahwa Qurma Qoffee… Q semua, Maksudnya Qahwa Kurma Coffee.

Photo : Kopi Sultan nich / dokpri.

Kopi sultan nich, andaikan memang teko tingginya dari emas beneran. Pasti mahal harga sajiannya.

Tanpa mau menyiakan waktu percuma di sela diskusi, tangan langsung bergerak meraih gagang teko keemasan dan menuangkan cairan kopi yang ternyata tidak berwarna hitam kawan tetapi seperti air keruh putih kecoklatmudaan. Nggak usah khawatir, cobain aja dulu bray….

Srupuuut…..’

Emmm….

Rasanya mirip jamuuu, kopinya hampir nggak kerasa, tapi hangatnya sih bisa nyaingin KOJAMTAGUL. Lebih mirip sebagai minuman herbal dibanding minuman kopi inih mah…. tapi karena ini adalah pengalaman, maka tuangkan lagi… tuangkan lagi… sruput dan sruput hingga akhirnya jatah ber-empat orang bisa habis sendirian…. dasar rwO6.

Untuk rasa manisnya ternyata sambil makan buah kurma yang tersaji juga di mangkuk kaca. Jadi sruput carian qahwa kurma Coffeenya sambil kunyah buah kurmanya, gitcu.

Jangan lupa buka dulu maskernya dan simpan dengan hati-hati. Simpan di amplop atau di plastik dan dilipat maskernya baru di sakuan... disimpen dalam saku, ntar kelar minum kopinya yaa… pake lagi maskernyaaaa.

Rasa hangat rempahnya setelah disruput berkali-kali, maka kemungkinan hasil identifikasi lidah pribadi adalah daun sirih dan atau kapulaga…. ditanya ke pelayan tentang bahan dasarnya.. hanya gelengan kepala yang didapatkannya.. ya sudah gapapa.

Akhirnya karena yang lainnya tidak mau mencoba… ya sudah daku habiskan saja… srupuuuut. Kopi ala timur tengah ini masuk ke raga dan memberikan sensasi berharga serta pengalaman yang tiada tara. Selamat mencoba meskipun rasa yang hadir diluar ekspektasi kira.

Makasih Pak T dan om P atas undangan meetingnya….

Ambil hikmah keanehan rasa dan pengalaman ngopi dengan teko emas yang khas hehehehehe. Wassalam (AKW).

Kopi Turki.

Ngopi rasa pakidulan….

Photo : Turkish Coffee / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Rasa penasaran adalah salah satu pendorong kita tetap berkreasi berfikir dan menjaga keinginan sehingga menjadi tahu tentang sesuatu. Meskipun sesekali harus dikendalikan dan diarahkan untuk hal yang baik karena terkadang penasaran ingin mencoba sesuatu yang berbeda, padahal bisa jadi melanggar aturan dan etika yang ada.

Jangan bikin masalah baru kawan, masalah dalam hidupmu sudah banyak”

Sebuah kalimat bijak mengingatkan untuk memegang kendali rasa dan menjaga perilaku dalam koridor kewajaran dan kenormalan saja.

Begitupun dengan meminum sajian aneka kopi, maka ikuti saja cara seduhan normal yang sudah menjadi ciri khas masing-masing penyajian kopi. Dimulai dari yang sederhana dengan menubruknya pelan-pelan, karena kalau terlalu kencang akan terluka hehehe. (Emang nubruk pake motor?...). Hingga yang prosesinya dianggap ribet oleh sebagian orang. Biasanya ini yang menggunakan seduhan manual seperti menggunakan V60, kalita, dan berbagai alat lainnya.

Harus diawali dengan menyiapkan biji kopi, lakukan penggilingan (grinder) baik manual atau yang menggunakan listrik. Kebersihan alat seduh, kertas filter, seduh perlahan hingga akhirnya menetes di bejana server serta diputuskan untuk berpindah ke gelas kaca lalu disruput tanpa banyak kata.

Kali ini rasa penasaran membawaku untuk mencoba menikmati sajian kopi yang berasal dari timur tengah. Secara proses tidak tahu karena ada yang buatin, tapi secara tampilan penyajian memang berbeda. Namanya Turkish Coffee… atau kopi turki. Sebuah sajian kopi yang cocok untuk urang ciamis, banjar dan tasik pangandaran karena semuanya TURKI (TURunan PaKIdulan hehehe alias turunan wilayah selatan jawa barat….. hehehehe maksa.)

Gelas saji yang digunakan adalah gelas untuk espresso dan kopi tubruk turkinya di atas wadah khas dengan pegangan… asa mirip gayung mini hihihi… ih jangan gitu, ini khan beda tradisi dan gaya penyajian… nikmati aja.

Curr ke gelas dan coba disruput…. hmmmm bodynya tipis dengan rasa lempeng… ini kemungkinan besar robusta dan dilengkapi agak wangi hangus dari biji yang digrinder. After taste tiada rasa kecuali pahit dan sedikit getir. Kecenderungannya dicampur gula atau madu. Tapi diriku mah sruput terus saja hingga tuntas, karena yakin dibalik semua kepahitan ini akan hadir rasa manis yang berbeda.

Ya mirip-mirip kopi tubruk dengan pola penyajian berbeda. Ada selarik rasa rempah tapi agak sulit mendefinisikannya… sudahlah… sruput ajaaa. Alhamdulillah, Wassalam (AKW).

Kopi Jahe Merah…

Kojamtagul yuk…

Photo : Kopi Jahe Merah / dokpri.

SUBANG, akwnulis.com. Perjalanan menikmati kopi terus berlanjut tiada henti. Jikalau biasanya kohitala (kopi hitam tanpa gula) yang dinikmatinya, maka untuk tulisan kali ini adalah pengalaman minum kopi yang ditambah unsur lain, selain gula.

Unsur tambahannya adalah jahe merah yang memberikan efek kesegaran berbeda dan diyakini menjaga kualitas imun tubuh yang sangat diperlukan di masa pandemi corona.

Jadi yang disajikan kali ini adalah KOJAMTAGUL (Kopi jahe merah tanpa gula)…. maaf jangan protes dengan singkatannya, ini hak prerogatif penulis hehehehe.

Disajikan di cangkir krem berkelir coklat serta dengan latar belakang air kolam yang keruh dan beberapa ikan yang kebetulan mejeng menemani frame kojamtagul ini, maka tiada sabar untuk segera mencoba minuman kesegaran ini.

Oh iya kawan, disajikannya panas dan gula terpisah. Jadi bagi yang belum (merasa) manis, bisa menambahkannya. Tapi kalau yang sudah yakin dengan ‘kemanisan diri’ maka tinggalkan gula dengan segera.

Bismillah… srupuuut…

Hmm… rasa kopinya tetap dapat dengan body medium dan less acidity alias lempeng rasa kopi robusta biasa, tapi plusnya adalah kesegaran yang hadir dari rasa jahe merahnya yang menghangatkan rongga mulut, lidah hingga ke tenggorokan dan sementara berakhir di lambung untuk bersua dengan aneka makanan minuman yang sudah hadir lebih dahulu.

Recomended deh sebagai minuman hangat penyegar badan sekaligus tetap bisa menikmati rasa kopi yang begitu berarti.

Sebagai pendukung sruputan kopi ini hadir juga menu makan siang yang tak kalah ajibnya. Dari mulai sambal dadak, tumis kangkung, tempe goreng, nasi pulen, kerupuk dann…. gurame bakar…. siap disantap.. karena memang waktunya pas untuk makan siang.

Photo : Gurame Bakar dkk / dokpri.

Kombinasi yang lengkap minum makan kali ini….. dan tiada cara lain yang pertama dilakukan adalah dengan senantiasa bersyukur kepada Illahi Rabb atas rejeki yang senantiasa terlimpah kepada hambanya.

Terima kasih Pak H.OM atas jamuannya, semoga dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Amiin.

Tak terasa kopi jahe merah tanpa gula habis di gelas ketiga, begitupun gurame bakar dan kawan-kawannya bisa dituntaskan tanpa banyak tersisa, kecuali duri-duri yang memang jika tertelan akan menyiksa. Selamat beraktifitas kawan, Wassalam (AKW).

Kopi Buntut Bajing dkk.

Sruput kopi dan nikmati temannya…

Photo : Kopi & singkong / dokpri.

CIKOLE, akwnulis.com. Silaturahmi itu menghadirkan rejeki. Bersua dalam ikatan janji akhirnya dapat berbagi informasi dan juga sajian secangkir kopi yang memiliki banyak arti.

Kali ini silaturahmi dengan salah satu pejabat di dinas peternakan provinsi jawa barat yang senantiasa humble dan ramah serta menyambut hangat kedatangan kami di sela-sela fungsi pekerjaan beliau yang bejibun.

Tema diskusinya tidak jauh-jauh dari pekerjaan dimana peran kemitraan yang menjadi ujung tombak pembicaraan. Menyambungkan tugas pokok dan fungsi dalam semangat kolaborasi, meskipun baru sebatas menautkan ide, tetapi yakinlah bahwa untuk mampu berlari kencang diperlukan satu langkah awal yang mungkin mengayun perlahan.

Urusan kerjaan mah ntar aja dibahas di nota dinas dan aplikasi kinerja onlen ya. Disini mah moo bahas kopi yang tersaji dan dokumentasi tentang si kohitala yang senantiasa memiliki aneka cerita.

Photo : Kopi & Ketan bakar / dokpri.

Kopi yang disajikan adalah kopi java preanger ciwidey yang diproses melalui mesin kopi sederhana dengan komposisi yang menitikberatkan kesederhanaan dan kecepatan sehingga hadirlah sajian kopi panas tanpa gula dengan ukuran rasa lite.

Rasanya bisa dinikmati oleh berbagai kalangan dan jikalau masih perlu rasa manis…. tatap wajah ku… ahaay pede ya. Yaa klo merasa kurang manis, ya minta gula atuh.

Yang keren adalah lalawuh… eh teman-teman untuk sruput kopinya. Diawali dengan roti koboy alias singkong kukus, dilamjutkan denganketan bakar lengkap dengan bumbu. Baru aja mencapek eh memamah biak, datang lagi colenak (dicocol enak) sebuah snack tradisional yang ngangenin suasana masa kecil di kampung halaman. Tape singkong diguyur cairan gula merah dan kelapa, nikmat pisan… sambil tak lupa minta tambahan kopinya untuk terus disruput.

Photo : Kopi, Colenak dan Buntut Bajing / dokpri.

dan… sebagai pelengkap dokumentasi akhir, tak lupa sesi photo sajian kopi ditemani oleh sepiring colenak dan latar belakang tanaman buntut bajing (ekor musang) berwarna hijau menggemaskan.

Jangan marah yaa para pembaca, buntut bajing yang dimaksud adalah nama tanaman hias yaaa… jadi Kopi buntut bajing adalah kopi yang di photo bersama tanaman hias buntut bajing hehehehe…. bukan memaksa tetapi maksakeun.

Akhirnya alarm kekenyangan yang mengingatkan sruputan kopi beserta teman-temannya hari ini. Nggak kebayang di perut campuraduk, saling mempengaruhi rasa dan kepentingan.

Fabiayyi alaa irobbikuma tukadziban…

Alhamdulillah semuanya enak. Hatur nuhun Pak Panca dan Pak Ahmad atas penyambutan dan suguhannya. Selamat beraktifitas di hari Senin ini ya Guys, Wassalam (AKW).

Coffee Neng INCEES

Nikmati INCEES duyu ah…

Photo : Penampakan Kopi INCEES / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sabtu malam saatnya bersama dengan keluarga dan…. aktifitas pribadi yang menenangkan hati.

Apa itu?”

“Biasa bro, nyeduh kopi pake v60

Si kecil antusias menemani prosesi manual brew ini, sambil tangan mungilnya sesekali memegang ujung server, atau ambil sendok buat ikutan ngudek kopi yang sedang meneteskan diri…. hampir saja merusak tahapan demi tahapan dalam rangka menyeduh kopi malam ini.

Diingatkan dengan kata lembut ternyata nggak mempan, tapi jikalau dengan suara keras, khawatir memberi contoh kekerasan sejak dini…. jadi tetap berkata lembut dengan mata melotot….. atuh sama ajah heuheuheu.

Kali ini manual brew v60nya menggunakan kopi dari garut dengan merk dagangnya ‘Neng INCEES‘, entah ada hubungan apa dengan Syahrini sang Artis, tapi kalau melihat bungkusnya ada gambar mata yang menggunakan alis cetar anti baday. Apakah ini punya sang artis ataupun memang strategi marketing dari penghasil kopi, nggak masalah. Terpenting adalah mari kita coba saja bagaimana rasanya.

Makasih buat Abang Bismark yang berkenan mengantarkan sendiri Kopi Neng INCEES ini, nuhun pisan. Semoga dibalas perhatian ini berlipat ganda.

Bismillah….

Photo : Like father like daughter / dokpri.

Bungkusnya dibuka dan harum semerbak menerjang muka. Air panas sudah siap di atas kompor, kertas filter sudah nangkrong eh nangkring di corong v60…. tinggal diambil bubuk kopi dengan ukuran kira-kira.

Lha nggak pake gramasi?”

“Gramasi feeling aja ya, soalnya timbangan digitalnya pecah, terjatuh”

Maka empat sendok makan plastik… eh lima sendok mucung, kira-kira 35gram yang diseduh pake air panas 400 ml (jangan protes dengan komposisi ya…. tapi klo komen sih boleh…. )

Tetesan kopi hasil ekstraksi menjadi atraksi tersendiri. Anak semata wayangku tak sabar menantikan prosesi ini tuntas. Bukan apa-apa, bekas seduhan kopi ini yang menjadi bahan anyang-anyangan (bermain) anak kesayangan, ditambah air dan seakan-akan bikin kopi sendiri… like father like daughter.. kitu ceunah.

Setelah dipindah di gelas kaca kopiku, perlahan tapi pasti mendekati bibir daan…..Sruputtt.. srupuuut.

Photo : Prosesi ekstraksi tampak atas / dokpri.

Hmmm…. Bodynya bold euy… tebal dan pahit menghangat, acidity high… bikin nyengir dan sekilas nyereng.. euh apa ya bahasa indonesianya?…. ya nyereng aja dah, sekilas tapi… kayak mendekati arabica wine lho aciditynya dan aftertasenya (moga-moga nggak zalah eh salah) hadir rasa lemon kolot, kacang tanah dan gula merah serta sekilas dark chocholate.

Jadi dengan komposisi tadi, lebih cocok untuk penikmat kohitala saja, untuk yang belum siap menerima keasaman dan kepahitan hidup.. eh kopi, baiknya banyakin aja air panas seduhnya atau… turunin gramasinya sehingga dapetnya lite meskipun mungkin bisa terjebak dalam rasa watery (loba cai : b.sunda).

Nikmat pisan, sebuah prosesi seduh kopi sambil ngasuh anak dan ngasuh diri sendiri di malam minggu yang penuh arti. Selamat jam segini, Wassalam (AKW).

***