Kolam Renang & Arabica Puntang – Hotel Geulis Bandung

Kerja tetap dipacu dan disitu ada sesuatu.

Photo : Lorong Hotel Geulis Dago Bandung / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. siang menjelang sore tidak lepas dari diskusi tentang persepsi dan intrepretasi dari aneka pasal yang menyangkut nasib direksi. Terjadi dilema di area neocortec dan amigdala, terjebak antara ilmu hukum dan tarian angka-angka. Wah musti rehat sejenak ini mah.. gaswaat.

“Maaf pak, saya ke belakang dulu”

“Silahkan pak”

Terbebas dari pembahasan meskipun dalam waktu yang super singkat, tapi inilah jeda yang sebenarnya.

Karena pamitnya ‘ke belakang’, maka segera bergerak ke belakang hotel. Mengikuti petunjuk yang menempel erat di dinding. Lurus terus menyusuri lorong sambil menikmati detail ornamen hotel butik ini, bikin adem.

Setelah mentok, ada petunjuk belok kanan agak keatas. Ada tangga dengan enam undakan, buka pintu dan tadaaa…… suasana membiru memberi ketenangan dan bikin adem kepala setelah berkutat dengan pasal dan cinta.. upss.

Photo : Kolam renang mini Hotel Geulis / dokpri.

Kolam renang mini menyambut, meskipun kecil tapi lumayan masih bisa dipake renang.. yaa maksimal berdua orang dewasa heuheuheu. Ini hanya fasilitas untuk yang menginap, tapi tetap saja ingin berbagi info ini, siapa tahu pas nginep disini, Hotel Geulis….

Ada juga untuk kolam renang anak, kecil banget tapi yang penting bersih dan nuansa segar. Kursi pantai tersedia, bilasan ada, juga prosotan mini buat anak. Disampingnya ada tempat fitnes, jadi bisa renang trus fitnes ataupun sebaliknya.

Photo : Kursi pantai dan prosotan / dokpri.

Sambil perlahan menghela nafas panjang, serasa beban pikiran sedikit berkurang.

“Wadduh rapaat….” ingatan kembali kepada tugas di ruang rapat. Balik kanaaaan…. berjalan setengah berlari. Tapi sebelum sampai ke ruang rapat, belok sejenak menuju wastafel, membasuh muka menenangkan rasa untuk kembali bersua dengan angka.

***

Trek!!

Pintu ruang rapat terbuka, olala suasana rapat berbeda. Di meja masih berserak dokumen yang ada lengkap dengan coretan dan garis merahnya. Tapi yang bikin membelalak adalah sebuah meja baru disampingnya.

Photo : Manual brew V60 Arabica Puntang / dokpri.

“Silahkan pak dicoba, saya pesenin kopi manual brew v60 dengan beannya puntang arabica, khusus buat bapak” Ibu pengundang rapat menawarkan dengan tulus.

“Woww…. makasihhh, sungguh tersanjung”

Srupuut….. nikmatt.

Aroma kuat arabica puntang menyelusup di indra perasa. Memberi bunga bunga semerbak menenangkan otak. Body yang tangguh tebal tapi mantap. Acidity ‘ninggal‘ medium high khas puntang memanjakan rongga lidah dan tetap nyaman di lambung. Taste fruitty nya kerasaa…. emang arabica puntang tiada duanya. Berarti ini arabica puntang metode V60 ala Cafe Geulis.

Yummy….

Pembahasan rapat selanjutnya semakin lancar, pikiran tenang dan tarian angka serta pasal-pasalpun terasa lebih ringan.

Jadi, .. kolam renang & kopi arabica puntang, bikin kerjaan lancar dan pikiran segar.

Wilujeng ngojay dan ngopay bray, Wassalam (AKW).

V60 Mandailing di Gedogan Cafe

Menikmati sajian kopi, sambil memandang kendaraan lalu lalang disini.

Photo : Sajian kopi V60 Mandheling ditemani mawar merah/dokpri

DAGO, akwnulis.com. Semerbak aroma kopi menyebar di atmosfer rasa, laksana buih menggenggam samudera. Mengisi relung hari yang penuh dinamika, menjadi lebih ceria meskipun tugas yang terus mendera.

Sebuah kafe di Jalan Ir. H. Juanda nomor 116 ini menggugah selera untuk mampir dan tentu mencoba racikan kopinya seperti apa. Namanya Cafe Gedogan, menyajikan aneka makanan minuman dan tentu ada kopiiii…….

Cafe yang buka 24 jam ini tentu bisa menjadi pilihan untuk mengusir penat juga kerisauan hati, dengan nongkrong memandang arus lalu lintas jalan dago sambil nyruput sajian kopi manual brewnya… kayaknya nikmat.

Apalagi bagi orang-orang yang diberkahi kenikmatan disaat meminum sedikit demi sedikit sajian kopi yang bagi sebagian orang adalah kopi pahit yang tidak enak.. hueek.

Photo : Suasana Gedogan Cafe Dago/dokpri.

Padahal nikmaat bingit, ingat falsafah kopi yang wajib dipegang teguh, ‘Pahitnya kopi bisa mengurangi atau malah memusnahkan pahit getirnya kehidupan’.

Ingat ituu….

***

Kali ini pilihannya jatuh pada bean Mandailing arabica. Segera diproses tanpa banyak kata. Mengikuti Sang Barista Jajang Nurjamil memainkan peralatan manual brew V60 dengan komposisi ala Cafe Gedogan dengan harga 21ribu + ppn 10%.

Tadaaa…. hasilnya tersaji apik di botol kaca agak tinggi yang berfungsi menjaga suhu tersaji tetap dengan panas yang stabil. Juga cangkir mini plus 1 buah kue kecil. Ditemani vas bunga berisi bunga mawar artifisal memberi suasana berbeda.

Srupuut….. eh photo dulu buat di blog ini.

***

Bodynya lite, aciditynya juga lite ke medium. Tastenya tidak terlalu detail, ringan-ringan saja… yaa udah aja gitu. Cocok buat pecinta kopi hitam pemula.

Photo : Ngopay bray / dokpray.

Klo buat yang seneng kopi hitam dengan body agak berat, mungkin sedikit kecewa dengan sajian ini. Tapi ya begitu karakter kopinya dan juga komposisi takaran plus suhu air memiliki kontribusi pengaruh yang signifikan.

Over all, nongkrong disini menyenangkan. Mungkin besok lusa bisa mencoba menu kopi manual brew lainnya dalam suasana berbeda. Met ngopay bray, Wassalam (AKW).

Gayo Takengon versi Ibrik

Mencoba kopi dengan metode manual brewing yang berbeda.

Photo : Sajian kopi Arabica Gayo Takengon dengan metode Ibrik / dokpri

BANDUNG, akwnulis. Setelah satu tahun lebih, menikmati kopi giling dengan metode seduh manual. Maka metode V60 yang menjadi favoritku. Meskipun tidak menutup kesempatan dikala ada saatnya menikmati sajian kopi dengan metode lain. Beberapa yang pernah dicoba adalah manual brewing dengan chemex, kalita, shyphon, tubruk, vietnam drip, cold brew, cold drip serta yang paling umum versi mesin adalah long black, americano, espresso dan dopio.

Makanya, pas ada kesempatan untuk mencoba dengan metode lain dan dibuatin seseorang, tentu tidak dilewatkan. Metodenya masih manual brewing dengan nama IBRIK/CEZVE.

“Metode naon éta?”
“Metode Ibrik lur”

“Iya yang gimana?”
“Slow lur, kaleem, khan moo ngejelasin ini téh”

“Ohhh….. sok atuh!”

“Dengerin…. Turkiz ibrik/cezve is included into the oldest coffee brewing tradition in the world based on the unesco survey. This spesial shrink uses the extra-fine grounded coffee beans mixed with water which is boiled in the unique pan called ‘ibrik/cezve’ that creates colourfull taste of middle east.”

“Sedih ngedengerinnya mang, pengen nangis”

“Lha kenapa sedih??”

“Kagak ngarti apa yang diomongin tadi”

****#^@&#*

Woalaaah… tuing… tuingg… aya aya wae.

****#^@&#*

“Hadeeeeuh.. jadi gini mas bro,…. “ maka cerita berlanjut dengan tema translate bahasa menjadi bahasa pertemanan yang mudah dipahami.

***

Jadi metode Ibrik/cezve ini adalah metode seduh manual secara tradisional yang berasal dari timur tengah, malah katanya merupakan metode seduh manual tradisional yang tertua versi Unesco.

Photo : Alat manual brewing tradisional Ibrik/dokpri

Dengan cara menggabungkan biji kopi yang sudah ditumbuk atau digiling extra halus dengan air yang direbus pada panci unik. Nah panci uniknya yang disebut ‘ibrik/cerve’.. ya mirip mirip dengan kopi tubruk tapi ini ditubruknya pake panci khusus yang namanya ibrik.

Ya tetep beda atuuh… iya juga.

“Gimana hasilnya????”

Nah klo hasilnya kembali kepada bean kopinya yang digiling tadi. Yang dicoba sekarang adalah arabica Gayo Takengon- Aceh. Hasil manual brewing-nya disajikan dalam gelas kaca tinggi. Cairan kopinya cenderung coklat dan keruh… jadi mirip hot coklat kebanyakan air hehehehe… bentuknya.”

Rasanya masih bisa dinikmati. Bodynya lite, tetapi aciditynya medium ke high.. agak rawan untuk yang lambungnya kurang kuat. Tastenya sedikit fruitty dan aromanya tidak terlalu terasa. Jadi kesimpulannya, tetep diriku cenderung pake metode manual brewing V60, lebih lengkap rasa yang dihasilkannya.

“Nah gitu ceritanya kawan, metode seduh manual kopi giling yang diberi nama metode Ibrik/cezve”

“Ohhh…. ngerti deh sekarang”

Hatur nuhun, met ngopay bray. Wassalam (AKW).

***

Wiskie Santri

Berjumpa dengan minuman segar tapi bermakna kontroversi.

Photo : Wiskie Santri siap dinikmati / dokpri

CIREBON, akwnulis.com. bersua dengan sajian minuman yang miliki label unik tentu bikin penasaran. Apalagi labelnya bikin kontroversi, dua buah kata yang digabungkan menjadi satu judul minuman. Tentu maksudnya adalah untuk memberi daya tarik bagi siapapun yang melintas dan melihat.

“Penasaran khan nama minumannya?”

“Ah enggak”
“Ya udah klo nggak mau tahu”

“Eh mau ketang, minuman apa seeeh?”

“Dasar kamu mah, nggak paparuguh, Nihh!!!”

Disorongkan sebotol minuman berisi cairan hitam kecoklatan.

“Wuiiih Wiskie!!!…. eh kok wiskie santri sih”

***

Itulah nama minumannya ‘Wiskie Santri’, yang bikin kontroversi tentu kata wiskie dan santri. Wiskie atau wiskhy adalah minuman beralkohol hasil sulingisasi yang tentunya dilarang diminum oleh santri yang menurut ajaran islam termasuk ke dalam minuman yang haram karena berefek memabukkan.

Kalau kata wikipedia, wisky adalah merujuk secara luas kepada minuman beralkohol dari fermentasi serelia yang mengalami proses mashing (dihaluskan, dicampur air serta dipanaskan) dan hasilnya melalui proses distilasi sebelum dimatangkan dengan cara disimpan dalam tong kecil dari kayu (biasanya pohon ek).

Sementara santri itu atau kata santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti (1) orang yg mendalami agama Islam; (2) orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh (orang yg saleh); (3)Orang yang mendalami pengajiannya dalam agama islam dengan berguru ketempat yang jauh seperti pesantren dan lain sebagainya.

Ada juga yang menghubungkan dengan pesantren dimana dimaknai sebagai pe-santri-an, yaitu tempat para santri berkumpul bersama untuk menuntut ilmu agama islam.

“Jadi serius yaaaa?”

Sepintas jelas perbedaannya, tetapi jangan khawatir karena minuman ini hanya labelling saja. Minuman wiskey santri ini dijual seharga 40ribu saja dengan isi 250ml,
“worthed kan?”

“Mau tau isinya?”
“Mauuu…..”

“Silahkan coba saja, ini nggak memabukkan dan tidak ada alkoholnya kok”

Photo : Sebotol penuh Wiskie Santri menemani rapat penting / dokpri.

Awalnya ragu menerima, tapi perlahan diambil dan coba diminum, sruputt… glek!.

“Woalaaaah ini mah kopiiii!!!!”
“Enak, seger, rasa bodynya lite, aroma minim, tapi aciditynya medium dan hampir ninggal diujung bibir. Tastenya sedikit buah cherry, kopi mana ini teh?, Cold brew khan?”

“Iya kopinya pake bean arabica Cibunar Kuningan. Diproses hingga level fermentasi arabica wine jadi arabica wine, prosesnya cold brew mang”

“Aslina seger, meskipun rada penasaran, harusnya yang bean arabica wine-nya ada, jadi bisa dibawa dan di manual brew di rumah”

“Maafkan mang, belum ada”

Perbincangan singkat tapi paten, nambah sodara dan nambah nikmat. Kopi cold brew ini hasil kreatifitas anak muda yang bermarkas di jalan perjuangan, di depan Kampus IAIN Syeh Nurdjati Kota Cirebon.

Yuk ah kita nikmati wiskie santri saung perjuangan, wilujeng ngopay, Wassalam (AKW).

***

Yang kepo, tinggal klik aja FB dan IGnya : saungperjuangan.

Transformer Americano

Bergerak bersama menyelamatkan bumi, dilanjutkan ngopi.

Photo : Siap bertarung bersama menyelamatkan bumi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. lagi jalan menyusuri semak belantara pertokoan, melihat lalu lalang para pelancong dan petualang cuci mata sambil menggamit tangan mungil anak tercinta. Tiba-tiba mata tertumbuk sesosok besar, berdiri tegak dengan penuh kegarangan. Senjata di tangan kanan dan kiri serta penuh amunisi. Sesaat tersentak kaget dan menghentikan langkah.

“Ayaaah…. mau jadi tampomerr!” Tiba-tiba terdengar request dari anak kecil yang tadinya bengong melihat sesosok besar berada dihadapan.

“Tampomer?” Agak loading sedikit, maksudnya Transformer kali ya?. Robot canggih yang bisa salin rupa menjadi mobil-mobil mahal tergabung dalam pertikaian semesta antara Autobot dan Deception.

“Robot besar say?”
“Iyyyaa ayaaah, yang ituu!!” Telunjuknya lurus menuju jajaran robot besar yang berbaris menanti perintah untuk bergerak bersama manusia menyelamatkan bumi dari kehancuran.

***

“30 ribu kakak” itu jawaban dari penjaga robot penyelamat bumi. Transaksi terjadi, sementara calin customer kecil ini terus memilih dari beberapa robot yang tersedia.

“Ayah yang blue”

“Mangga geulis”

Darah pendukung persib ternyata menetes ke anak semata wayang ini, jajaran robot berwarna lain tidak mau dinaiki, pengen yang warna biru. Halik ku Aing heu heu heu.

Jadilah kami berkolaborasi menjadi bagian dari transformer selama hampir 10 menit. Menjelajahi dunia dengan gerakan kaku yang diatur konsol di tangan kanan dan kiri. Sabuk pengaman melindungi kam dan anak kecil yang awalnya tegangpun akhirnya bisa menikmati. Rentetan tembakan serta misil tempur yang meluncur menghancurkan musuh-musuh bebuyutan, memaksa pasukan deception hengkang dari muka bumi kembali ke planetnya di ujung luar sabuk milky way.

Dor dor dor dor… blaaar….. jegerrr!!!

Teretet… ter..ter.. dor dor dorr!!!

Pertarungan sengit yang menyenangkan, anaknya seneng, bapaknya seneng. Untung aja bapaknya masih punya jiwa kekanak-kanakan, jadinya main bareng.

“Seraaang musuhhh”
“Tembak ayaaah”

Istri tercinta memperhatikan keseruan ini sambil duduk di sofa pengunjung, tak lupa mengabadikan pertempuran ini dengan gadget canggihnya.

Akhirnya pertempuranpun usai.

Photo : Secangkir Americano Coffee Justus / dokpri.

Setelah lelah bertempur menyelamatkan bumi, maka kebutuhan jasmani harus segera dipenuhi. Kami bergegas melepas sabuk pengaman dan turun dari robot transformer yang melanjutkan petualangannya menjaga bumi dari musuh dan enemy.. ih sama aja ķamu mah.

Sambil menunggu sajian makanan yang dipesan, maka secangkir americano coffee ala kafe Justus Pascal 23 menjadi booster bagi diri agar segar kembali dan terus bersemangat mengasuh anak istri yang menjadi tanggung jawab abadi, lahir batin. Wassalam (AKW).

Kopi & Mutasi

Perubahan tugas bernama mutasi, harus dihadapi tanpa basa basi. urusan kopi terus dinikmati.

Photo : Sajian kopi hitam tanpa gula di cangkir hitam / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pahitnya kopi menjadi pemecah suasana yang cenderung formal berhias angka-angka akuntansi. Diawali dari basa basi, penuh janji dan ambisi ditutup dengan angka-angka target yang mengejar presisi. Meskipun yakin secara niat, semua yang hadir memiliki tujuan hakiki.

“Kenapa bicara pahitnya kopi?”
“Karena rasa kopi pahit bisa menetralisir pahitnya angka-angka rumit dalam perjalanan kehidupan”

‘Ahaay lebaay’

Tapi benar saja, setelah ungkapan ‘kopi pahit’ tadi mengemuka, suasana perbincangan dalam meeting perdana ini menjadi cair dan penuh keakraban. Angka-angka yang menjadi target tetap dibahas dalam kerangka keilmuan, tetapi suasana penuh kekeluargaan.

“Ngapain ngurusin angka-angka?”

Senyum dikulum menjadi jawaban sederhana. Dengan pendekatan telepati, jawaban tiba tanpa perlu berteriak lantang yang menggegerkan dunia.

Photo : Meeting perdana bertabur angka / dokpri.

“Ini efek mutasi, berpindah tugas baru beberapa hari, bersua kembali dengan angka-angka yang menari. Berbalas pantun membaca neraca akuntansi demi sebuah kemajuan lembaga keuangan di wilayah tasikmalaya yang loh jinawi”

Kata berima menjadi jawaban, nafas perlahan menandakan ketenangan. Secangkir kopi hitam di gelas yang hitam tidak menghitamkan pandangan, malah menyalakan secercah cahaya untuk menghapus kelam setelah lembaga ditinggal oleh sesepuh yang penuh dedikasi di dunia perbankan lokal di jabar selatan, selama-lamanya.

Secangkir kopi hitam tanpa gula, menjadi saksi diskusi yang berusaha menghasilkan keputusan penuh arti. Inilah meeting perdana pasca mutasi, hidup kopi, Wassalam (AKW).

Kolam Renang Luxton Hotel Bandung

Melongok sejenak sang kolam renang diantara meeting ke meeting.

Photo : Kolam renang utama, kedalaman 120cm / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com. Segarnya hari disaat bisa bersua kembali dengan birunya kamu. Meskipun belum menikmati secara utuh, tetapi sedikit menyentuhmu dan mengitarimu, tidak lupa ambil gambar dari beberapa sudut sudah bisa menenangkan rasa dan menjernihkan pikiran karena beban pekerjaan.

Kamu membentang di lantai 3 Hotel Luxton Bandung, tepatnya di Jalan Ir. Juanda No.18 Bandung atau lebih dikenal dengan Jalan Dago.

Meskipun bukan ukuran olimpik, tetapi cukup untuk menjadi tempat merenggangkan otot menyegarkan raga serta pikiran dengan bercengkerama denganmu, berkecipak gaya bebas dan kupu-kupu di kedalaman 1,2 meter. Ada juga kolam anak berbentuk bujur sangkar, tempat bermain air bersama keluarga.

Photo : Kolam renang anak / dokpri

Disamping dirimu terdapat fasilitas fitnes dan tempat bermain anak yang lumayan lengkap termasuk area mandi bola.

Tetapi ternyata, harapan menikmati pemandangan Jalan Dago sambil bercengkerama dengan segarmu harus ditunda karena panggilan tugas sudah menanti di ruang rapat lantai 2.

Segera melangkah gontai menuju pintu lift, meninggalkanmu yang terdiam kecewa. Bening airmu terlihat tegar, meskipun perpisahan harus terjadi akibat adanya pertemuan.

“Naon sih jadi mellow beginih?”
“Terbawa perasaan yaa… kalem saja, yuk jalani perubahan hidup dengan sabar dan tasyakur”

Photo : Kopat alias kopi rapat / dokpri.

Akhirnya raga kembali ke ruang meeting, membahas urusan perencanaan sebuah kawasan khusus yang diharapkan menjadi titik baru pertumbuhan ekonomi Jawa barat di koridor selatan jabar.

Alhamdulillah, kopi hotel bisa sedikit menghibur rasa getir dari perpisahan ini. Wassalam (AKW).