Kopi Arabica Organik Gayo

Menikmati Kopi Arabika Organik Gayo dari Kawan lama.

Photo : Kopi kiriman yang siap disruput / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Di kala mentari mulai berani menampakkan diri, sinarnya mengantar kehadiran raga ini di kantor tempat kerja terkeceh (buat aku mah terkeceh pokoknya.. jangan protes).

Pas kaki baru saja menjejak tangga di teras kantor, terdengar suara tegas bapak satpam, “Selamat pagi pa, ini ada paket buat bapak”
“Woah paket apa?”
“Nggak tau pak”
“Oke, terima kasih yaaa”

Penasaran juga, dilihat nama dan alamat tujuannya bener ke diriku. Pengirimnya tertulis ‘Mr Hendri-Riau’.

Ohhh…. Pak Hendri, karib lama yang satu tahun lalu harus kembali ke Riau setelah bersama-sama bekerja di Gedung Sate selama istrinya tugas belajar di Bandung.

***

Sret!!… tajamnya mata gunting membuka perlahan bungkus paket. Bungkus berwarna perak menyembul dan terlihat tulisannya.. coffee.

Alhamdulillahirobbil alamin, ternyata dikirim kopi organik aceh gayo, hatur nuhun pisan pak Hendri.

Nggak pake tunggu menunggu, peralatan sudah ready kok. Ketel listrik dinyalakan, kertas filter V60 dipasang pada corongnya, timbangan digital sudah standbye dan teko kaca leher angsa lengkap dengan termometer sudah nggak sabar pengen nganter air panas bercumbu dengan bubuk kopi organik aceh gayo jenis arabika.

***

Prosesi seduh manual berjalan sempurna, ekstraksi bergerak sesuai rencana. Komposisi 1 : 15 dengan panas air 91° celcius menghasilkan tetesan cairan kopi asli yang tak mungkin ingkar dari janji rasa sejati.

Photo : Sebagian peralatan ‘perang’ / dokpri.

Aroma harum, bodinya dan aciditynya medium sementara untuk taste-nya ada selarik rasa buah-buahan tapi tidak spesifik. Yang menarik adalah diakhir rasa, atau pas tandas di telan melewati tengggorokan, terasa ada sisa rasa manis segar, “Mungkin karena kopi organik ya?”

Yang pasti mah, kembali bersyukur kepada Allah SWT yang dengan kuasanya menggerakkan hati pak Hendri sehingga mengirimkan bubuk kopi nikmat jauh-jauh di seberang lautan hingga tiba di hadapan, sekali lagi, Alhamdulillahirobbil alamiin.

Akhirnya prosesi seduh kopi arabica organik gayo tuntas, membawa rasa nikmat kopi organik disertai kenangan manis bersama pak Hendri. Terutama, pas disopirin sama beliau di daerah Bungbulang – Pakenjeng Garut Selatan, tetap ngebut padahal jalanan begitu berkabut.

Sekali lagi nuhun pak Hendri. Wassalam (AKW).

Ngopi di Braga 2

Ngopi Arabica Gayo nikmat pisan.

Photo : Sajian kopi Arabica Atjeh Gayo dg V60/dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com, Sebuah seruan menggetarkan suasana siang itu, “Coba kopi Arabica Gayonya di V60 om!”

“Siapp” jawaban lugas tapi sopan dari sang pelayan memberi keyakinan bahwa pilihan menu yang diminta tidak salah.

Cerita lanjutan dari Ngopi di Braga 1 dimulai… jeng jreeng.

Suasana jalan Braga Kota Bandung berangsur normal dari kondisi macet menjadi padat merayap. Maksudnya mobil yang lewat sudah bisa bergerak perlahan.

Hanya butuh waktu sekitar 10 menitan, kopi pilihan tersaji apik dengan menggunakan cangkir khas berwarna putih dengan gagang runcing melancip.

Photo : Cangkir lancip bikin sip / dokpri.

Tadinya pengen nyoba kopi Arabica Pangalengan diseduh pake V60, tapi pas lihat daftar harganya… agak mengkeret karena untuk 1 sajian itu harganya 96ribu. Trus klo metode Ibrik/tubruk/french press dibanderol 79ribu.

“Katanya orang kaya, harga segitu itungan” terdengar sang Gerutu berkoar kembali disamping bahu kanan. Aku tersenyum, kali ini tidak usah responsif dengan ledekan.

Keep calm.

Biarkan rasionalitas dan nurani serta isi dompet berkordinasi, sehingga kembali bisa menikmati sajian kopi yang sudah ada di depan mata dengan harga jauh lebih murah.

Entar klo pas ada waktu dan ada duitnya, diusahakan balik lagi dan menjajal rasa menyeruput suasana disini dengan sajian kopinya yang secara harga dijual paling aduhai selain kopi luwak.

“Lho kopi luwak ada, kok nggak pesen?”

Kembali senyumku mengembang, ada alasannya sehingga tidak terlalu menyukai kopi luwak. “Penasaran?… tunggu tulisan selanjuutnyaah”

***

Kopi Arabica Gayo tersaji dengan elegan, bercangkir putih dengan pegangan runcing dipadu dengan latar belakang biji kopinya dalam wadah kaca serta gelas server 0,25 liter yang elegan.

Photo : Alat Grinder kopi jadul / dokpri.

Nggak pake lama, segera dieksekusi, srupuuut……

Aroma kopi arabica memanjakan cuping hidung dengan keharumannya. Bodi medium menyisakan ketebalan rasa pahit diujung bibir bawah setelah cairan pergi meninggalkan lidah. Acidity medium menuju strong dengan taste fruittynya memberikan sensasi rilex sesaat dan betapa nikmatnya hidup di dunia ini.

“Jadi, jangan lupa bersyukur bray!!”

***

Sruputan terakhir menutup sesi relaksasi fikir serta raga yang haus atas sensasi rasa dari sajian kopi yang ada. Segera menghambur keluar restoran dan kembali ke dunia nyata.

Mobil tersenyum menanti dengan setia di pinggir jalan, hingga akhirnya kembali bersama menapaki kehidupan fana, Wassalam (AKW).

Coffee Gayo Wine

Menikmati sensasi Coffee Gayo Wine dengan Manual brew V60… seduh olangan.

Photo : Biji yang cantik mengkilap / dokpri.

Nggak pake lama, sang gunting menunaikan tugasnya. Membuka lapisan alumunium foil yang berisi biji misterius dengan lempeng mata tajamnya. Meskipun sepintas sudah bisa merasakan aroma rasa luar biasa, tetapi belum tuntas jikalau tidak melakukan proses penyeduhan mandiri dengan peralatan yang ada.

Yup… Coffee Gayo Wine yang segera di eksekusi dengan manual brew V60, kemoooon….

“Peralatan siaap?”
“Siaaaap”

Grinder langsung menggerakkan sendok dengan pikiran telekinetiknya, meraih biji kopi yang begitu cantik mengkilap. Dimasukan ke atas wadah penggilingan, stel ukuran 6-7 agar cocok untuk bubuk kopi yang bersiap diseduh ala Barista lalala…

Sesaat terperangah karena selain harum, bijinya mengkilat seperti berminyak. Tapi pas diraba tidak ada yang menempel di jari, berarti memang mengkilat alami, entahlah. Yang pasti penampilan bijinya cantik.. jadi sayang untuk menggrindernya.

“Tapi apa daya… kecantikannya harus melalui proses penghancuran menjadi serpihan-serpihan kecil untuk memberi peluang rasa nikmat yang tiada taraaa!!”

“Ihh kamu mah lebay, sok puitis. Gancang di seduh, sudah nggak sabar nich!!!”

“Ahiiiy!!!”

***

Corong V60 udah memasang sendiri kertas filternya, air memanaskan diri hingga mencapai 92 derajat celcius. Filternya mengguyur diri agar bersih dari residu pabrikan…. dan segera memasangkan dirinya pada gelas kaca yang setia menanti tetesan ekstraksi yang penuh aksi.

Photo : Hasil manual brew V60 Coffee Gayo Wine / dokpri.

Currrr…… pelan-pelan aliran air panas bersuhu 92 derajat celcius berpadu dengan biji kopi Gayo Wine hasil hunting di Kota Medan minggu lalu.

Tetes pertama dan tetes selanjutnya begitu memukau terlihat di gelas kaca. Prosesi ekstraksi biji kopi menjadi sebuah momen alami yang penuh sensasi. Harum semerbak kuan merebak, jadikan malam ini begitu semarak.

“Tuh kalah ka berpuisi lagi kamu teh!!!”

“Ih bawel pisan”

Diskusi monolog terus berlanjut, menjadi hiburan sambil menunggu ekstraksi kopi berkumpul sempurna.

***

..Surupuut… surupuut..

Deng…. agak terdiam. Kaget juga merasakan sensasi Acidity yang tinggi plus serasa ada rasa wine alami yang menstimulasi syaraf rasa semakin terbuka. Taste fruttynya muncul, rasa anggur kolesom… eh kok jadi kolesom…

Maksutttnya… rasa anggur yang berfermentasi terasa memanjakan lidah. Sensasi acidity berbeda yang ditampilkan oleh Kopi Gayo Wine ini. Kayaknya klo yang nggak biasa ngopi, musti pelan-pelan, takut kaget dan kenapa kenapa.

Trus setelah cairan kopinya masuk ke tenggorokan, eh masih nyisa rasa tebalnya di bibir bawah dan bertahan beberapa saat… yummy… hmmmm… enaaak brow.

Srupuut…. gleek.. glek.. glek.

Oke, itu dulu dech review versiku tentang Gayo Wine. Jangan komplen klo seakan berlebihan, tapi ini kenyataan.

Baca juga :

Kopi Kerinci

Kopi BTH

Kopi Manglayang Karlina

Jikalau beda pendapat juga dipersilahkan. Karena beda pendapat itu perlu, apalagi kita khan beda pendapatan…. upss naha kadinya (kesitu).

Udah ah, jadi ngelantur nulisnya, selamat menikmati, Wassalam”(AKW).

Kopi Kerinci di Otten Coffee

Menikmati langsung sajian Kopi Kerinci dengan V60 di OttenCoffee Medan Petisah… enaak pisan.

Photo : Dokumen pribadi.

Jalan Kruing Medan Petisah menjadi tujuan penting sebelum kembali ke kampung halaman. Bukan hanya Toko Bolu Meranti ada di jalan ini, tetapi sebuah toko yang spesifik, yang selama ini menjadi tempat transaksi online pembelian peralatan… ternyata ada di sini di Kota Medan Pulau Sumatera.

Yupp… OttenCoffee. Toko online terkenal bagi pecinta dan penikmat kopi karena memiliki barang-barang berkualitas peralatan kopi sekaligus biji kopi yang terstandarisasi. Memang harga-harganya rata-rata cukup mahal tetapi sebanding dengan kualitasnya (gaya bingit sok sok review, padahal cuman beli corong V60 sama grinder doang via onlen hehehehehe… pissss ah).

Photo : Aneka perlengkapan kopi / dokpri.

Tokonya tidak mencolok, tidak pake plang pinggir jalan. Langsung aja tulisan OttenCoffee serta pintu masuk kaca dengan pegangan dari kayu yang cukup besar dan artistik.

Masuk ke dalam langsung di sambut harumnya kopi yang sedang di roasting di sebelah kiri, mesin roasting Probat yang besar menjulang menyambut kedatangan dengan senang.

Photo : Coffee machine & me / dokpri.

Melangkah lagi ke dalam, semakin lengkap koleksi peralatan pembuatan kopi baik manual seperti Siffon, cemex, kalita, aneka grinder, filter hingga frenchpress dan segala macemnya. Untuk mesin juga tersaji cukup beragam termasuk peralatan cangkir, tumbler, hingga aneka bean kopi dalam dan luar negeri yang memanjakan mata tetapi menggetarkan dompet karena pengen semua bean kopi di beli hehehehe.

***

Tuntas menikmati suasana toko, tiba saatnya memilih biji kopi. Bantak banget pilihan, tetapi pengen nyoba yang acidity tinggi dan bukan kopi Java Preanger.

“Kenapa bukan Java Preanger?”
“Karena beberapa biji kopi Java Preanger masih ready stock di rumah”
“Oooh gituuuu, oke dech”

Setelah milih dan memilah dari sisi rasa, harga dan kemampuan maka untuk dibawa pulang, sebungkus biji kopi jantan seharga 75 ribu… satu aja ah… khan kmarin udah belanja juga Kopi Gayo Wine dan Mandheiling Bintang serta Kopi Jantan produk Sidikalang.com.

Photo : Manual brew v60 kopi kerinci / dokpri.

Tetapi tidak lupa order manual brew V60 Kopi Kerinci produk Ottencoffee yang menjanjikan rasa acidity khas dimana biji ini dibuat dengan natural proses.

Peseen!!!
Tring!!!…. adaaa!!! (15 menit menunggu tidak terasa karena mengambil photo dan video di toko Ottencoffee ini menyenangkan, hingga lupa waktu.)

Disajikan menggunakan bejana Hario 200 ml dan gelas kaca. Harumnya menyeruak rasa. Dengan aroma kopi yang menggugah selera, nggak pake lama.. glek… glek… gleek.

Bodinya medium low, aciditynya yang lumayan nendang, asem di mulut dan tebelnya asem nggak mau ilang disaat kopi udah lewat masuk ke perut. Di akhir rasa muncul taste jeruk dan asam tomat berpadu dengan selarik rasa berry… enak oge.

Bisaan yang bikinnya, pasti lah.. ini khan toko OttenCoffee. Kata si Neng Barista, V60 dibuat dengan komposisi 1 : 15 dan diseduh dengan suhu air 87 derajat celcius.

Alhamdulillah.

***

Akhirnya waktu jua yang memisahkan kita. Meskipun satu kebenaran baru harus diyakini bahwa suci itu bukan berarti putih tetapi beraneka warna sesuai selera kehidupan. Apalagi bagi penikmat kopi, suci itu berarti hitam karena jika suci itu putih maka tidak ada cinta suci diantara kita lagi….

“Apa seeeh kamuuh?”

“Au ahh… gelap”

Wassalam (AKW).

Oleh – oleh Medan

Membawa buah tangan bagi rekan dan keluarga tersayang dari Kota Medan yang penuh kenangan kebersamaan.

Photo : Durian Sibolang siap santap / dokpri

Membeli oleh – oleh di luar kota untuk keluarga tercinta atau teman yang tidak ikut pergi bersama menjadi sebuah tindakan penuh makna.

Minimal berbagi perhatian dan merasakan sensasi makanan olahan atau minuman yang khas dari suatu daerah. Bisa juga bentuk barang yang melambangkan atau menunjukan keunikan wilayah tertentu.

Nah… di Kota Medan Sumatera Utara juga merupakan surga wisata kuliner dan juga wisata sejarah. Di sela-sela perjalanan dinas tentu bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk membeli sesuatu dan membawa buah tangan.

“Pilihannya?”

“Banyak bingiiit, yang sudah tidak asing lagi tentu Bolu Meranti, Bika Zulaikha, Manisan jambu, Lemang, Sop Sumsum, Mie Aceh Titi Bobrok, dan jangan lewatkan menyantap duren”

Photo : Toko Ucok Durian / dokpri.

Ngobrolin durian maka akan disebut ‘Durian Ucok’, itu sudah terkenal banget. Tetapi sekarang ada juga tempat makan duren kekinian yaitu Durian Sibolang yang terletak di jalan…. dengan tempatnya yang nyaman plus instagramable. Tinggal pilhan kita mau menyantap durian dimana, masalah sajian durian keduanya sama-sama menyajikan yang terbaik dan bisa diganti manakala yang dijanjikan tidak sesuai kenyataan.

Duren juga bisa dinikmati dalam bentuk pancake, jadi dagingnya sudah dipisahkan dan dibungkus denga lapisan lembut… siap makan pokoknya. Tapi harus hati-hati memilih karena mungkin saja sudah ditambah pemanis dan perasa duren (essence).. jadi yang aman… yaa belah dureeen.

Photo : Bolang durian / dokpri.

Untuk dibawa pulang, bisa juga dikemas menggunakan wadah plastik dan dibungkus rapat serta terakhir di-wrapping di bandara seharga 50Ribu per-barang baik kecil dan besar harganya sama.

***

Balik lagi ke oleh-oleh yang dibawa pulang maka selain Bolu Meranti dan Bika Zulaikha juga teri medan. Ikan teri mentah yang memiliki rasa khas lezat setelah diolah di rumah. Maka huntinglah ibu-ibu ke Pasar di Kota Medan sementara bapak-bapak termangu menunggu di dalam kendaraan Toyota Hiace yang menjadi saksi semangat belanja dari para emak-emak.

***

Ada yang lebih spesifik lagi buat penulis adalah… KOPi… yup yup.. kopi Sidikalang, Gayo, Mandailing, Lintong serta Ulee Krueng. Selain berburu biji kopinya juga mencari tempat kedai kopi atau cafe kopi yang menyajikan manual brew dengan V60 dan sebangsanya.

Kaitan kopi yang bikin asyik adalah tempat beli kopi yang berkualitas itu berdekatan dengan tempat beli oleh-oleh yang sudah terkenal… seneng khan. Coba nich :

Photo : Toko Kopi Sidikalang.com / dokpri.

1. Di Jalan Mojopahit Kota Medan adalah tempatnya belanja Bika Zulaikha, nah beberapa meter di seberangnya adalah Toko Kopi Sidikalang yang menyajikan aneka kopi dari berbagai belahan nusantara serta peralatan membuat kopi.

Photo : Mesin Roasting Probat OttenCoffee / dokpri.

2. Di Jalan Kruing Kota Medan adalah tempatnya beli Bolu Meranti. Lagi-lagi di seberangnya, agak maju beberapa ratus langkah adalah tempatnya Toko OttenCoffee. Sebuah onlineshop terkenal bagi pecinta kopi. Tempat membeli aneka barang-barang yang terkait kopi termasuk mesin kopi serta alat untuk me-roasting kopi… dan kelebihannya satu lagi adalah di Toko OttenCoffee ini bisa juga menikmati manual brew V60, Cemex, Shiffon dengan berbagai pilihan kopi dalam dan luar negeri.
Penulis mencoba Kopi Kerinci Natural Proses, rasanya…. ini dia V60 Kopi Kerinci Natural Proses Otten Coffee.

Tapi ingat ya guys, belanja juga harus konsentrasi. Jangan serakah dan gelap mata, ternyata duit habis barangnya nggak guna.

Konsentrasiii… Wassalam (AKW).

Cold Drif Coffee Stocklot

Mencoba Colddrift Arabica di Stocklot.

Sore menjelang dijemput semburat lembayung, sesaat termenung merasakan rasa pegal dan sedikit lelah di leher dan punggung. Termasuk ada sedikit pusing diatas alis mata. Kenapa ya?….. perlahan menarik nafas dan mencoba menghembuskannya sambil berharap bisa mengurangi beban yang mendera dada menelikung rasa.

Ada sedikit kelongsongan dalam jiwa, tapi secuil pusing masih menggigit alis serta bawaannya pengen leyeh-leyeh males-malesan.

Eit.. lawan bro!!!
Enyahkan kemalasan..!!!

Teriak nurani yang selalu menjadi pelita hati dalam segala kondisi. Bangkitlah kawan!!!.

Sambil menghembuskan nafas dengan cepat. Bismillah… kedua tangan direnggangkan, kepala dan pinggang digerak-gerak tidak lupa relaksasi gerakan kaki menjadi kunci pemanasan ini… dan satu lagiii…

***

Bergegas menuju tunggangan kesayangan, stater dan bergerak menuju suatu tempat di daerah Cimahi Selatan. Rasa pusing dan pegal hilang, karena mungkin sudah teralihkan perhatiannya.

Halaman Stocklot Cafe sudah mulai dipadati motor dan mobil. Mungkin moo kongkow trus makan malam. Parkir segera dan menghambur ke dalam, suasana lapang dan penataan kursi yang variatif memberikan kenyamanan.

“Silahkan dilihat menunya dulu kaka”, tangan mungil menyodorkan buku menu sambil memberi seulas senyum.

“Black cofffee, please!!!”

“Americano, longblack, espresso, V60 atau colddrif?”

Waaah menyenangkan sekali, tak banyak basa-basi, “Cold drif please.”

Pamit sesaat dan tak pake lama tersaji sebotol cold drift coffee dan gelasnya, asyiik yuk kita icip-icip.

***

Penyajiannya simpel saja tetapi dibalik kesederhanaanlah terkandung banyak nilai kehidupan. Meskipun ada hal sederhana yang ternyata harganya tidak sederhana. Apa itu?… jawabannya adalah kalau makan sendiri di RM Sederhana dengan menu saji semeja hehehehe.

Rasanya?

Ajib… nikmaat pisan. Dingiinnya membuat tenggorokan dan pikiran seggeeer. Pusing hilang seketika dan pegal pegalpun berangsur musna..

Terasa nikmatnyaa…

Dengan body medium dan acidity yang khas, terasa juga rasa sedikit manis… dan ada rasa mintnya…

Penasaran khan?…

Ternyata beannya adalah Arabica coffee gayo Aceh yang diproses dengan cara cold drif…. alhamdulillah… kembali segar dan ceria.

Yuhhuuu…. nikmatnya kaka.

Wassalam.(AKW).