Kopi berbulu.

Udah lama nggak bikin sajak, nulis aah.

DEPOK, akwnulis.com. Sajak dulu yaaa…..

***

Photo : coffee & cat / dokpri.

Pertemuan dengannya tidak disengaja
Tetapi itulah kejadian nyata
Semua terjadi apa adanya
Tanpa ada yang bisa menghalanginya

Plang merah sebagai penanda
Menarik raga untuk memasukinya
Ternyata aneka kopi menyambut dengan tangan terbuka
Bersiap dinikmati dengan berbagai cara

Terpilihlah kopi gayo arabica
Diseduh manual dengan filter setia
V60 memberi sensasi pasti
Aroma rasa dan keasaman nyaris sempurna

Disaat menunggu kedatangan kopi
Disitulah dirimu menanti
Lembutnya dirimu menggetarkan hati
Menyegarkan fikir setelah perjalanan tanpa henti

Sambil membaca aneka buku
Kamu tersenyum hilangkan kaku
Mencoba berbincang diantara kuku
Malam termangu menjadi haru

Para pembaca tidak usah mengharu biru
Ini hanya pertemuan terbaru
Sejumput raga diriku
Dengan seekor kucing berbulu

***

Wilujeng ngopay… eh jangan sekarang mah, ntar batal. Wassalam (AKW).

Munggahan.

Hayu ah balakécrakan…

ALAK PAUL, Ngajémprak dina samak ngurilingan rangginang jeung opak. Aya ogé Ma Nini nu geus pikun, nu lian émok tapi ieu mah ngadon ngadangkak.

Balakécrakan bari ocon, nyocolan peda beureum maké sangu tutug kurupuk jeung liwet kastrol, teu poho sambel dadak seuhah lata-lata pleus daun déwa ogé kulub pucuk gedang. Jéngkol jeung peuteuy mah geus nungguan dihuapkeun ti tatadi.

Sagala karungsing ngilang, bangbaluh hirup leungit. Kagantian ku kabungah bisa ngariung babarengan bari ngeusian beuteung séwang-sewangan.

Udud kéréték, bako molé jeung pahpir jagong atawa nu boga kawani gedé di sadiaan linting kucubung, kagok édan. Aya ogé udud togog nu badag enjum, eusina menyan bodas, bako, cengkéh jeung kayu manis.

“Meungpeung bisa kénéh godin” kitu ceuk Si Udut bari pelenyun kana linting kucubung. “Hayu béakkeun liwetna euy” Haji Alit mairan bari ngedukan kastrol. Nikmat pisan.

Teu hilap, kopi 3 sendok mucung ditinyuh ku cai ngagolak, matak ngahégak tur nikmat. “Tong digulaan euy, pamali”

Hatur nuhun.

Wilujeng munggah palawargi. (AKW).

Kopi Trizara Resort

Ngopay di dataran tinggi Bandung Utara sambil kemping, nikmat pisan, yukk ah…

Photo : Kopi di gerbang Trizara Resort / dokpri.

LEMBANG, akwnulis.com. Terdiam sambil mengatur nafas agar selaras dengan suara rintik hujan yang jatuh menimpa tenda di tengah malam terasa begitu menenangkan. Sepinya malam di daerah Pagerwangi Lembang memberi kesempatan pikiran untuk berkreasi, memilih jalinan kata agar bisa bersua dengan kata lain sehingga miliki makna.
Sesekali terdengar anjing ‘babaung‘ eh menggonggong memecahkan kesepian malam, menemani kesendirian di tenda mewah atau yang sering disebut sebagai glamour camping (glamping) setelah seharian mengikuti sesi pelatihan tentang dasar-dasar penjaminan dan sejumput informasi tentang pengadaan barang dan jasa.

Suasana tenda tipe Nasika ini sepi dan tenang, karena tidak ada Televisi dan radio. Pengelola resort ini memiliki salah satu tagline yaitu : ‘Tanpa elektronik, hidup kita bisa bahagia‘,

Kereen nggak?… 2 hari puasa televisi… ternyata bisa dan biasa aja. Lagian di rumah juga jarang nonton tv. Seringnya malah ditonton tv, kitanya merem depan tv dan tvnya nyala terus sambil nontonin kita yang mereeem hehehehe.

Balik lagi kesinih, sebuah tempat spesial yang memberikan pengalaman berbeda. Camping mewah yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan.

Untuk cerita lengkapnya Trizara Resort versi AKW silahkan klik disini : Menikmati Glamping di Trizara Resort.

Sekarang mah mau cerita tentang kopinya dulu ah.

Selama 2 hari di Trizara Resort ini, bisa menikmati beragam kopi tanpa gula. Yuk kita runut satu-satu :

Photo : Kopi di kelas / dokpri.

Hari pertama, diawali dengan kopi standar Trizara yang tersedia disaat coffeebreak, tinggal geser ke belakang, ambil teko berisi kopi diatas kompor pemanas… currr. Dilanjutkan dengan pasca makan siang, maka pilihannya adalah secangkir americano versi resto yang juga dibawa ke kelas karena sesi materi selanjutnya sudah dimulai, tetapi sebelumnya diabadikan disamping patung gajah kecil dengan background benteng pintu masuk ke Trizara ini.

Photo : Double espresso di resto / dokpri.

Hari kedua, pagi hari langsung dihajar dengan double espresso di resto sekaligus dilengkapi segelas americano… nikmat pisannn. Serta sebelum sesi penutupan, kopi coffeebreak di kelas menjadi pelengkap hari terakhir sebelum semuanya bubar kembali ke kediaman.

Sebenernya di tas sudah tersedia peralatan, jikalau harus menyeduh kopi sendiri dengan kopinya dari Pak Ali – Lembang. Tetapi dengan bejibun agenda pelatihan, akhirnya dibawa kembali utuh karena tidak sempat tersentuh.

Malam inipun tidak berani menyeduh di tengah malam. Khawatir sulit tidur dan juga takutnya lagi asyik nge-manual brew, eh tiba-tiba ada suara dari balik gerumbulan pepohonan di belakang tenda, “Bholeeh mintzaa nggakz?”… khan berabe guys.

Akhirnya, lebih baik telentang di kasur yang empuk ditemani bantal bulu angsa yang memanjakan kepala. Memandang kembali langit-langit tenda yang masih setia menemani diri bersama musik ritmis dari rintik hujan sambil melewati pertengahan malam menuju dini hari yang dingin menusuk kulit ari-ari hingga tulang di dalam diri. Selamat tengah malam kawanku, Wassalam (AKW).

Kopi Lembang Pak Ali.

Ngopay kopi dari pak Ali…..

Photo : Nyeduh kopi sambil ngasuh / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Tanggal merah ditengah minggu tentu menjadi anugerah, bisa dimanfaatkan untuk mencurahkan perhatian kepada anak semata wayang juga pasti kepada ibunya.

Tapi tetap, ngopay jalan terus. Peralatan manual brew V60 sudah siap di rumah dan di kantor. Sehingga tidak perlu dibawa kesanah kesinih…. cukup bermodal niat, kesempatan, kopi bubuk dan air panas 90°… maka bisa ngopay dengan nikmat.

“Trus sama anak gimana?”

Sebuah pertanyaan yang menarik, tapi itulah indahnya mengasuh anak sambil ninyuh… eh sambil nyeduh kopi ala manual… maka pola seni dan kompromi yang dimainkan.

“Gimana caranya?”

“Bentar atuh… sekarang pilih dulu, kopi mana yang akan diseduh manual”

“Ayahhh…..!!!, hayu main di kotak” rengekan manja anak princes segera disambut dengan anggukan dan senyuman.

Horeee!!!,

Binar berjingkrak kegirangan. Raga ini beringsut menuju ‘kotak‘, selembar karpet tebal yang berisi mainan dengan pagar plastik yang terbuka. Sebagai wilayah demarkasi untuk bermain dan berkreasi sang anak tercinta.

***

Jadi….. nyeduh kopinya sambil ngasuh. Sehingga kompromi terjadi… gambar proses seduhan kopi yang tadinya hanya kopi diatas corong V60 dan bejana saji serta gelas kecil kaca kesayangan, harus bersanding dengan warna warni ceria dari mainan disney yang ada yakni donald duck yang lagi boncengan sama mickey mouse.

Eh ternyata photo sajian kopinya jadi aneka warna. Ngasuh jalan dan ngopaypun tetap terlaksana, kehidupan terus berjalan.

Kali ini hadir kopi tanpa label, pemberian dari Bapak Ali yang punya sendiri kebun hingga produk kopi dari daerah Lembang… disaat bersua minggu lalu, memberi sebungkus kopi bubuk ukuran kira-kira 200gr.

Alhamdulillah, milik tah….

Photo : Manual brew v60 kopi pak Ali / dokpri.

Sore ini di eksekusi dengan fi-sixti, suhu air 89° celcius dengan komposisi 1:1, yups.. 30gr beradu dengan 300 ml air….. jreng jreng.. tes.. tes.. tes.

Dikala bungkus coklatnya dibuka, rasa harum aroma kopi terasa menyambar penciuman. Ada rasa buah yang muncul tapi sulit mendefinisikan, pokoknya selarik banyangan rasa manis hadir dalam sekejap.

Penasaran….. setelah tetesan air seduhan tertampung sempurna. Pindah ke gelas duralex kecil… srupuuut…

Hei…. rasanya enak kawan. Body medium cenderung boldnya menyisakan after taste yang ninggal diujung lidah belakang, meskipun tidak lama tapi berpadu dengan acidity medium khas kopi arabica menambah nikmat ngopay sore ini. Dari sisi tastenya ada selarik rasa lemon, dan kakao plus setipis rasa karamel.

Ah takut salah… coba sruput lagi…. slurp.. slurpp….

Enak euy… dikala temperaturnya menurun. Body dan aciditynya menguat… pahitnya sedikit meningkat tetapi makin nikmat. Karena pahit asamnya sajian kopi bisa mengurangi dan menutupi pahit asamnya kenyataan hidup…. eaaaaa, apa seeeh kamuuh.

Sruput lagii…….

Hatur nuhun Pak Ali, wilujeng ngopay bray. Wassalam (AKW).

***

Kopi Adrenalin

Menikmati kopi sambil deg-degan… mau?

Photo : Kopi Adrenalin / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Beranjak siang terasa perlu penyegaran sementara meeting terus berlanjut seolah semua masalah diharuskan tuntas segera. Padahal semua masalah ada jamannya dan kekompakanlah yang akan mengakselerasi penyelesaiannya.

Tetapi tetap, secangkir kopi berharap bisa melengkapi. Menghadirkan nuansa ke-mood-an yang bisa menggugah cipta karya dan karsa menghasilkan pemikiran penuh makna.

Bukan berarti kopi adalah segalanya, tapi segala aktivitas ternyata selalu hadir kopi dengan aneka varian bentuk meskipun tetap fatsun bahwa #tanpagula adalah keharusan, wajibbbb hukumnya.

Nah…. sekarang bersua dengan sebuah kopi yang bernama ‘adrenalin coffee’….. woaaaah apa ituuuu?

Nich gambarnya….

***

“Ah itu mah kopi biasa”

Coba perhatikan lebih dekat…..

“Woaaah itu dibawah jalanan yaa?.. mobil2 dan orang?… tinggi banget coy”

Kawan sebelahnya menimpali, “Ah biasa yang gitu mah.. hati2 hoax”

Hanya senyum simpul yang menjadi jawaban awal. Lalu diberikan penawaran untuk ngopi bersama di tempat itu dengan tema kopi Adrenalin.

“Ayo kita lihat, saya masih nggak percaya!!!!”

“Ayo”

Maka berenam kami bergerak menuju lift hotel dan memijit lantai tertinggi, lantai 18.

***

Tatkala pintu lift terbuka, sentuhan angin belum terasa. Tetapi sesaat belok kiri dan memasuki ruangan lounge lantai 18 maka terpampang hamparan rumah dan gunung-gunung yang mengelilingi danau purba cekungan bandung.

Terlihat keempat rekan agak terdiam, tapi didorong untuk terus maju dan melewati jajaran sofa empuk yang menghadap ke arah datangnya angin kehidupan.

Tibalah pada hamparan lantai kaca yang memberi sensasi adrenalin bagi yang takut ketinggian. Menjejak lantai kaca di lantai 18 adalah sesuatu yang berbeda.

Photo : Berpose sambil nyorodcod / dokpri.

Sehingga hal yang wajar jikalau kopi yang diphoto pada tulisan ini memang diberi label ‘Kopi Adrenalin’, meskipun sebenarnya adalah sajian Americano coffee ala Lounge lantai 18 Trans luxury hotel di daerah Gatot subroto Bandung.

Jangan lupa, jauhkan gula dekatkan rasa. Sambil menikmati sensasi melayang di udara.

“Iya euy, butuh adrenalin dan keberanian untuk berdiri di lantai kaca ini, mungkin harus sambil ngopi…” bergetar suara kawanku sambil terlihat lututnya ‘nyorodcod‘… eh gemeteraaan maksutnyaa….. ditimpali tertawa segar dari kawan-kawan lain yang sudah lulus uji adrenalin ini. Kemon Ngopaay, Wassalam (AKW).

Ethiopia Flower Valley Coffee

Menikmati kopi Ethiopia, disini.

Photo : Sajian Manual V60 Kopi Ethiopia Flower / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Bergerak ke area atas Kota Bandung tepatnya di daerah Ciumbuleuit, kembali menjadi coffee hunter. “Gaya pisan nya?”…. Tapi itulah salah satu makna menjalani hidup, kerjakan rutinitas, jalani kehidupan apa adanya tapi jangan lupa jikalau kesempatan itu datang maka mampirlah ke tempat kopi… maksutnya kedai, cafe, resto atau angkringan sekalipun… yang penting ada kopinya.

“Trus yang nggak suka kopi gimana?”

“Ya nggak maksa, ini khan pilihan hobby. Moo ikutan ya monggo. Kalaupun nggak… ya sudah…”

Nah tulisan kali ini tentang… kopii lagiii, “Jangan bosen guys”

Kopi yang dinikmati sekarang adalah kopi Ethiopia flower valley, dengan Baristanya anak muda bernama Nicolas, gitu tadi pas kenalan.

Dengan metode seduh manual V60 maka sang barista beraksi. Panas air 87° celcius dan komposisi 1 : 15 maka berproseslah pembuatan kopi yang mengklaim diri membawa aroma bunga dan tentu dengan rasa khas yang membuat penasaran calon penikmat rasa.

Photo : Setelah pintu masuk, begini penampakannya / dokpri.

Tahapan pembuatan manual terus berproses, hingga akhirnya prinsip ekstraksi terus terjadi dan amenghasilkan cairan coklat kehitam terangan yang harum melegakan… kemoon ngopaaay.

“Eh ngomong-ngomong, ini dimana tempatnya?”

“Jiaa hahahaha, lupa nggak cerita, ini di cafe ‘Kopi hitam’ jalan Ciumbuleuit, diatas kampus UNPAR”

“Ada gitu Cafe “Kopi hitam” disitu?, perasaan nggak ada ah!!” Kawanku menyela sambil dahi berkerut seakan tidak suka dengan jawabanku yang dianggap seenaknya. Padahal memang dia tau banget, daerah sini karena rumahnya di area Hegarmanah.

“Nih… kopi hitam itu dalam bahasa jepang disebut ‘KURO KOFFEE’…

“Ah tipu kaaaau, kalau cafe itu aku tahu, dasar Kaaau!!!!”

Yups, Kuro Koffee adalah cafe yang cozy, tempatnya cocok buat kongkow dan belajar, atau bahas project bersama kawan-kawan. Tempatnya luas dan miliki pilihan tempat duduk tergantung kebutuhan. Ada meja besar yang bisa dipake bareng-bareng. Juga meja kecil di lantai 2 yang no skoning eh no smoking area.

Trus di area halaman belakang ternyata luas dengan hamparan rumput hijau dan beberapa pohon besar dilengkapi beberapa kursi dan meja batu yang fungsional, asyik juga.

Klo bicara akses masuk, maka ke cafe ini tidak terlihat sama sekali aktifitas di dalam. Tetapi setelah masuk… woaaah ternyata banyak oraang dan beragam aktifitas.

***

“Silahkan om Coffee ethiopianya!” Sebuah sapaan yang sudah dari tadi di nanti.

Disajikan dengan botol saji warna bening dan gelas khas, gelas bening yang simpel.

Photo : Suasana taman belakang Kuro Koffee / dokpri.

Segera dituangkan ke gelas dan… Srupuuut!!!

Wuiiih wangi floralnya bener-bener kerasa…. segerr.

Bodynya medium dan aciditynya juga menengah, after tastenya masih bisa tertinggal disudut bibir sebelum hilang melarut dalam cairan lambung. Yang pasti aroma floralnya yang bikin seger dan adem serta disitu uniknya.

Over all, rasanya nikmat dan bisa bikin sedikit relaksasi dari tekanan kehidupan yang mendera… ih apa seeh.

Gitu dech, cerita singkat ngopay di salah satu cafe di Ciumbuleuit Bandung, selamat jam seginiih. Wassalam (AKW).

Kopi Koboi

Nyobain kopi dan bir kopi, disini.

Photo : Pilihan kopi di Cafe Koboi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis com. Sore yang sendu mengantarkan diriku untuk mampir dan bercengkerama dengan suasana khas bernuansa coklat alami disini. Sebuah cafe kopi yang memiliki keunikan tersendiri, sebuah kafe kopi yang konsisten dengan metode seduh kopi tubruk.

Jadi harus kuat badan kita karena sebelum nyuruput kopi maka siap-siap ditubruk sesuatu… hehehehe just kidding frend!!

Sajian kopinya diseduh dengan cara yang sudah biasa kita lakukan… dua sendok makan bubuk kopi ditimpa oleh air panas mendidih diatas gelas almunium, kudek.. eh aduuk pake sendok…. jreeeng jadi.

Trus disajikannya pake gelas almunium tertutup, maksutnya ada tutupnya. Sebelum minum harus di ditutup agar rasanya betul-betul keluar.

Oh iya, bubuk kopinya banyak pilihan, beberapa merk terkenal di indonesia ada di list menunya tetapi proses penyajiannya semua sama, kopi tubruk.

Photo : Kopi Tubruk arabica java preanger / dokpri.

Aku memilih arabica java preanger, penasaran dengan rasa kopi yang dihasilkan versi tubruk ini. Pilihan lain ada juga gayo, sidikalang, flores, bali dan lainnya tetapi mungkin itu kesempatan lainnya.

“Sruput dulu gaan…… adduh panas banget”

Simpen lagi dech, tunggu agak turun dulu suhunya.

Cafe koboi ini awalnya dikirain bertema koboi-koboi kayak pelem amrik sono…. ternyata koboi itu singkatan. Singkatan dari Koperasi Barudak OI, OI adalah komunitas penggemar lagu2 iwan fals…. dulu, dan mendirikan sebuah unit usaha berupa cafe kopi.

Photo : Pintu Gerbang Coffee Koboi / dokpri.

Dulunya dibawah jembatan layang pasupati dan pindah di lokasi sekarang itu sekitar 2013-an yaitu di jalan Kebon Kawung 9-10-11 Bandung. Klo moo ke stasiun bandung berarti posisinya sebelum stasiun setelah belokan hotel Swiss bell Bandung dech.

Menu yang disajikan tidak melulu kopi tetapi juga snack dan makanan, jadi cocok juga buat ngisi perut sambil bercengkerama.

Ada juga pilihan minuman berbasis kopi dengan nama-nama yang menarik hati. Seperti Kopi Bir Koboi, kopi Kuda Betina, Kopi Kuda jantan dan banyak lagi lainnya…. lupa euy nama2nya.

Nah karena penasaran, kopi Bir Koboi dipesan juga… dijamin katanya tidak akan mabok, karena 0% alkohol.

***

Ngopi itu enaknya sambil ngobrol…. dan alhamdulillah ketemu dengan kang Dian yang menjelaskan sepintas tentang Cafe Koboi ini.

Ada juga kaos dan gantungan kunci dijual disini, jadi distro juga…. penasaran?… kesini ajah.

Sekarang urusan kopi, jangan lupa #tidakadaguladiantarakita (nyomot tagar diplomasi kopinya bos Azis)…. rasa kopi tubruk arabica java preangernya ajibbb….. acidity khasnya tetap terasa, body medium dan harum semerbaknya bikin makun nikmaat.

Photo : Bir Koboi ala cafe coffee koboi / dokpri.

Trus setelah habis kopi tubruknya, giliran Bir koboy disruputt…… wuiihhh segeeer, rasa kopinya tetep ada tetapi bergabung dengan segarnya rasa yang berasal dari kayu manis, kapulaga, sereh, cengkeh, dan daun jeruk.

“Tapi maaf…. kok ada manis gula disini?” Bertanya dengan agak ngeberengut.

“Itu sedikit gula om, klo tanpa gula… dijamin rasanya jamu banget, nggak bakal suka dech”

Ya sudah karena sudah tersaji, dan sudah dibayar juga…. mari kita nikmati.

Rasanya menyegarkan…. meskipun masih sedih karena harus bersua dengan manisnya gula. Soalnya jadi terlalu manis, khan akyu sudah manieez….. awwww.

Trus yang menu minuman ‘kopi kuda betina dan kopi kuda jantan’, itu khusus untuk wanita dan khusus perempuan…. tapi harus dikomunikasikan dengan pasangan yang sah, karena ada ‘efek depan”… ini kata kang Dian yang jadi partner ngobrol sore ini.

Gitu dulu ya fren… cerita ngopay di cafe kobay… eh koboy. Happy wijen.. eh wikeeen. Wassalam (AKW).

***