Dinamika Pagi di Gesat.

Menikmati kehangatan di moment perpindahan.

Photo : Cahaya Mentari menembus daun / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Semburat sinar menembus helai daun di pagi yang cerah ini. Hangatnya cahaya menyentuh kulit menelusup hingga sanubari, hadirkan semangat tersendiri dan menguatkan motivasi.

Tidak terasa, 9 tahun berlalu dikala pertama mendapat penugasan di area Jl Diponegoro no. 22 ini. udah lama ternyata yaa….

Pernah keluar dari area ini selama 1 tahun di jalan malabar… lalu kembali lagi kesini hingga hari ini.

“Lho kok hari ini, esok mau kemana?”

“Ya memang hari ini karena yang pasti itu adalah masa lalu dan hari ini, esok hari adalah misteri”

“Akh sok puitis, emang pindah?”

Tidak ada jawaban dari mulut yang terkatup, tetapi sorot mata memberi jawaban bahwa untuk sementaun (sementara tapi kayaknya setahun atau 2 tahun) secara raga harus terpisah dari sini dan menempati area baru di jalan sangkuriang no.2 bandung.

Lalu, tidak ada jalan lain selain memaknai perubahan itu dengan optimisme.

Berubah itu keniscayaan, jalani dengan ikhlas dan senantiasa memaknai dengan rasa syukur. Jadikan proses angkut-angkut barang, menata ruangan baru, naik turun tangga, bolak balik kantor lama-kantor baru-kantor lama dan juga berbagai fasilitas belum berjalan sempurna, itulah dinamika, jalani saja.

“Betul khan?”……

Lambaian daun nyiur kembali tersibak, hadirkan cahaya mentari yang semakin menghangat. Selamat beraktifitas para pembaca yang hebat, semangaaat. Wassalam (AKW).

***

Sunset, Kopi& Janji.

Menanti mentari pagi, bersua di sore hari, besoknya kembali ngopi dan jalan-jalan sendiri. Disini.

Photo : Semburat Sunset di Batukaras / dokpri.

BATUKARAS, akwnulis.com. Gelombang ombak yang meninggi mengantarkan papan selancar dengan dorongan tenaga alam yang menakjubkan. Tinggal tunggu waktu yang tepat, berdiri di papan selancar dan jagalah keseimbangan maka… wuuuus… terdorong kencang meniti permukaan air laut dengan wajah riang dan hati senang.

Gampang banget lho, kalau ngeliatin mah. Padahal…. nggak semudah itu. Tapi memang watak penonton khan pasti (merasa) lebih pinter dari pemain… bener khan?… ngakuuu… pasti klo lagi posisi penonton mah.. kecenderungannya bakal begituuuh.

Yup, pantai batu karas, sekitar 30 menit jalan darat dari pantai pangandaran menyuguhkan suasana pantai berbeda. Relatif tidak terlalu ramai dan lebih banyak pengunjung adalah berniat latihan selancar air, juga terlihat beberap turis asing… atau malah mayoritas belajar selancar atau surfing.

“Kamu ngapain kesituh?”

Ajaw pertanyaan kepo, ya terserah aku donk, kemana kaki melangkah disitu berharap berkah. Dimana langit dijunjung maka disitu Allah disanjung… aih kok malah berpuisi.

Photo : Abadikan Ombak di Pantai Batukaras / dokpri.

Aku kesini mau mengejar mentari!!!…. karena tadi pagi dan kemarin pagi bukannya mendapatkan semburat mentari tetapi suasana sendu dan sepi hati, meskipun ditemani secangkir kopi.

Monggo baca KOPI & PILU.

Meskipun hanya bisa menangkap semburat cahaya mentari dibalik pepohonan sebelum tenggelam di batas horison, kurasa itu cukup, cukup untuk melepas dahaga ingin mengabadikan asa yang ada dari semburat cinta sang mentari yang bersahaja.

Photo : Terdiam memandang pantai / pic by DH.

Warna semburat kuning dan merah, memberi rasa damai walaupun secercah. Sementara debur ombak tak mau berhenti menghiasi pantai menghasilkan musik alami yang natural tanpa intervensi pihak-pihak berkepentingan.

Akhirnya malampun datang, dan cerita mentari sementara berganti dengan rembulan. Namun sayang agenda pertemuan ternyata menghadang, terpaksa malam ini dihabiskan dengan hanya berbincang dalam ruangan ditemani sajian makanan seafood alakadarnya, Yap… lumayan. Mari berbincang….

***

Esok hari kembali menyeduh kopi dan membawa ke pinggir pantai timur pangandaran. Suasana tidak terlalu sendu, tetapi memang hadirnya mentari masih malu-malu.

Photo : Kopi & Pantai, beda fokus / dokpri.

Akhirnya bermain-main dengan kamera smartphone dengan fokus segelas kopi asli atau pantai yang menjadi backgroundnya… begitupun sebaliknya…

Iseng amat ih!!!

Jangan digubris, biarkan saja. Berkesempatan mengabadikan suasana adalah berkah, jadi selama memori smartphonenya cukup dan yang diambil gambarnya nggak protes… lanjutt aja bung.

Meskipun jikalau beredar di jagad IG, banyak disuguhi photo dengan mayoritas wajah pemilik akun karena memang hasil selpi berkala. Awalnya suka eneg, tapi setelah dipahami bahwa itu adalah akun pribadi dan (mungkin) merupakan bentuk aktualisasi keeksisan diri…. ya sudahlah nggak usah peduli.

Kembali ke pangandaran, setelah selesai dengan kopi di pantai timur maka bergeser ke pantai barat untuk melihat suasana dan mungkin ada spot photo yang mungkin bisa berguna dan miliki makna.

Dikejauhan terlihat bangkai kapal yang karam, maka lensa smartphone mencoba mengabadikan dengan segala keterbatasan. Hasilnya lumayan daripada lu manyun hehehehe.

Udah ah cerita-ceritanya, selamat berkarya dan selamat kembali bersua dengan keluarga tercinta di waktu wiken yang sangat berharga. Wassalam (AKW).

Mengambil Posisi

Menerawangi hari yang penuh misteri.

Photo : Menanti Mentari disini / Dokpri.

SUBANG, akwnulis.com. Dikala rembulan mentahbiskan diri mengurus malam, maka mentaripun setia menjaga siang tetap penuh kehangatan. Kesamaan dari keduanya adalah memberi secercah terang dan menjadi gantungan harapan dalam perjalanan kehidupan.

“Tidak bisa kakak, bulan itu tidak seterang mentari, bulan itu hanya memantulkan cahaya mentari dari punggung bumi”

Sebuah sanggahan yang tidak untuk diperdebatkan. Biarkan rembulan bercahaya dan menjadi pegangan di malam hari. Bukan sumber cahayanya yang menjadi sasaran utama, tetapi fungsi cahaya yang membelah gelap menjadi secercah harap.

Terkadang jikalau konsentrasi sedang membumi maka sangat mungkin di malam purnama bersua dengan ‘Nini Anteh dan kucingnya Candramawat’. Saling berbagi cerita sambil berkejaran diantara awan tipis atau bintang yang juga nimbrung membahas gosip keduniaan.

Esok harinya, mentari kembali beraksi menghangatkan bumi. Menebar keberkahan dan kebahagiaan bagi mahluk Tuhan. Allah SWT yang memiliki maha otoritas, dan mentari sebagai alat. Muncul tepat waktu dalam rutinitas yang presisi, tidak pernah ingkar janji meskipun terkadang awan hitam menutupi.

Photo : Mentari mulai menghangati hari / dokpri.

Begitupun jiwa dan raga ini, setelah menentukan posisi maka sebuah konsekuensi menjadi bagian dari janji. Pelajari tugas dan fungsi, jalani senada dengan regulasi. Jangan lupa siapkan rencana aksi untuk wujudkan hasil yang serasi.

Kalau urusan reaksi, itu pasti. Perubahan selalu diiringi dengan keadaan yang dianggap oleh sebagian pihak sudah hakiki. Padahal perubahan itu yang pasti, Hayu Jalani dan mari beraksi.

Hayuu.. beraksi!!!

“Ada kopi?”

Ada dong, ini kopi rasanya unik bin beda lagi. Dengan sentuhan air panas 87° celcius dan takaran tetap 1:15 maka bisa tersaji sebuah kopi yang mengeluarkan rasa cola sarsaparila.

“Halah apa itu?”

Itu tuh, klo kita minum cola (dulu… waktu sebelum insyaf hehehehe)… ada rasa pahit sepet diantara manisnya cola, diantara ‘nyereng’-nya itu ada rasa khas sarsaparila.

Ah kamu mah ngarang!”

Entahlah, tapi yang pasti selarik rasa itu muncul dan mirip asem pahit buah plum serta pahitnya teh hitam. “Mau tahu kopinya?”

“Mau mau mauu”

Photo : Flores Yellow Island coffee V60 / dokpri.

Ini dia, Flores Yellow Island by Kuro Koffee, disajikan dengan metode V60 manual brew… mangga gan.

Akhirnya mentaripun kembali menyerahkan tampuk cahaya kepada rembulan karena malam mulai menjelang. Urusan kopi dan posisi terus berjalan, perlahan tapi pasti menikmati malam sambil ngopi dan memgumbar lamunan.

Hatur nuhun, selamat beraktifitas guys, Wassalam (AKW).

***

Embun & Mentari

Mencari keharuman & kehangatan pagi disini.

Photo : Mentari muncul di pagi hari, lokasi Babakan Jawa – Sukasari – Sumedang / Dokpri.

Tak bosan memandang mentari yang selalu muncul sesuai janji. Meskipun tentu dingin menusuk kulit adalah bagian dari pengorbanan diri.

Kali ini sang mentari muncul di ufuk timur dan langsung memberi kehangatan terhadap hamparan hijau dedaunan di daerah Sukasari Sumedang.

Photo : Mentari menghangati hamparan kebun kangkung di Sukasari / Dokpri.

Lembut dan harum embun pagi semakin menguatkan hari. Membawa mood hepi yang semoga bertahan hingga malam hari.

Photo : Gunung Manglayang dilihat dari daerah Sukasari / Dokpri.

Tak lupa juga tetap mengabadikan Gunung Manglayang dari sisi lain. Menggabungan dengan lahan terbuka bertanah merah, menyambut sinar mentari yang merekah. Wassalam (AKW).

Sunrise di Kaki Manglayang

Mengejar harapan menuju kehadirannya.

Photo : Mentari mulai terbit di samping Gunung Geulis/Dokpri.

Berjalan menjejak tanah merah, yang tersenyum meskipun tetap menggigil karena dipeluk dinginnya pagi. Perlahan tapi pasti, kehangatan menjalari urat nadi kehidupan selaras dengan semakin menanjak perjalanan pagi ini. Nafas yang tadinya bergerak lancar sekarang mulai tersengal karena kompensasi untuk meraih kehangatan.

Meskipun dinginnya pagi menggempur dari segala arah, berusaha mendinginkan raga yang mulai membara. Pertarungan inilah yang mengukuhkan rasa sehingga bisa mencapai puncak bukit pertama yang menyajikan hamparan pandangan pagi yang mempesona.

Ternyata sang mentari masih sedang berusaha keluar dari mimpinya, sehingga perlu beberapa saat menunggu detik menata menit supaya bisa membidik sunrise pada saat yang tepat.

Ya.. tepat menurut penulis. Karena tepat itu bisa tidak sama, tergantung konteks dan sudut pandang.

***

Photo : Mentari berpadu dengan siluet tumbuhan di kaki gunung Manglayang/Dokpri.

Akhirnya sambil menenangkan sengal nafas yang kencang menuju normal, mentari muncul perlahan menyajikan kemegahan indahnya pagi hari yang penuh inspirasi.

Inilah salah satu momen yang harus senantiasa disyukuri, karena mentari masih terbit sesuai janji. Menyinari bumi membawa berkah Illahi. Wassalam (AKW).