Mengambil Posisi

Menerawangi hari yang penuh misteri.

Photo : Menanti Mentari disini / Dokpri.

SUBANG, akwnulis.com. Dikala rembulan mentahbiskan diri mengurus malam, maka mentaripun setia menjaga siang tetap penuh kehangatan. Kesamaan dari keduanya adalah memberi secercah terang dan menjadi gantungan harapan dalam perjalanan kehidupan.

“Tidak bisa kakak, bulan itu tidak seterang mentari, bulan itu hanya memantulkan cahaya mentari dari punggung bumi”

Sebuah sanggahan yang tidak untuk diperdebatkan. Biarkan rembulan bercahaya dan menjadi pegangan di malam hari. Bukan sumber cahayanya yang menjadi sasaran utama, tetapi fungsi cahaya yang membelah gelap menjadi secercah harap.

Terkadang jikalau konsentrasi sedang membumi maka sangat mungkin di malam purnama bersua dengan ‘Nini Anteh dan kucingnya Candramawat’. Saling berbagi cerita sambil berkejaran diantara awan tipis atau bintang yang juga nimbrung membahas gosip keduniaan.

Esok harinya, mentari kembali beraksi menghangatkan bumi. Menebar keberkahan dan kebahagiaan bagi mahluk Tuhan. Allah SWT yang memiliki maha otoritas, dan mentari sebagai alat. Muncul tepat waktu dalam rutinitas yang presisi, tidak pernah ingkar janji meskipun terkadang awan hitam menutupi.

Photo : Mentari mulai menghangati hari / dokpri.

Begitupun jiwa dan raga ini, setelah menentukan posisi maka sebuah konsekuensi menjadi bagian dari janji. Pelajari tugas dan fungsi, jalani senada dengan regulasi. Jangan lupa siapkan rencana aksi untuk wujudkan hasil yang serasi.

Kalau urusan reaksi, itu pasti. Perubahan selalu diiringi dengan keadaan yang dianggap oleh sebagian pihak sudah hakiki. Padahal perubahan itu yang pasti, Hayu Jalani dan mari beraksi.

Hayuu.. beraksi!!!

“Ada kopi?”

Ada dong, ini kopi rasanya unik bin beda lagi. Dengan sentuhan air panas 87° celcius dan takaran tetap 1:15 maka bisa tersaji sebuah kopi yang mengeluarkan rasa cola sarsaparila.

“Halah apa itu?”

Itu tuh, klo kita minum cola (dulu… waktu sebelum insyaf hehehehe)… ada rasa pahit sepet diantara manisnya cola, diantara ‘nyereng’-nya itu ada rasa khas sarsaparila.

Ah kamu mah ngarang!”

Entahlah, tapi yang pasti selarik rasa itu muncul dan mirip asem pahit buah plum serta pahitnya teh hitam. “Mau tahu kopinya?”

“Mau mau mauu”

Photo : Flores Yellow Island coffee V60 / dokpri.

Ini dia, Flores Yellow Island by Kuro Koffee, disajikan dengan metode V60 manual brew… mangga gan.

Akhirnya mentaripun kembali menyerahkan tampuk cahaya kepada rembulan karena malam mulai menjelang. Urusan kopi dan posisi terus berjalan, perlahan tapi pasti menikmati malam sambil ngopi dan memgumbar lamunan.

Hatur nuhun, selamat beraktifitas guys, Wassalam (AKW).

***

Embun & Mentari

Mencari keharuman & kehangatan pagi disini.

Photo : Mentari muncul di pagi hari, lokasi Babakan Jawa – Sukasari – Sumedang / Dokpri.

Tak bosan memandang mentari yang selalu muncul sesuai janji. Meskipun tentu dingin menusuk kulit adalah bagian dari pengorbanan diri.

Kali ini sang mentari muncul di ufuk timur dan langsung memberi kehangatan terhadap hamparan hijau dedaunan di daerah Sukasari Sumedang.

Photo : Mentari menghangati hamparan kebun kangkung di Sukasari / Dokpri.

Lembut dan harum embun pagi semakin menguatkan hari. Membawa mood hepi yang semoga bertahan hingga malam hari.

Photo : Gunung Manglayang dilihat dari daerah Sukasari / Dokpri.

Tak lupa juga tetap mengabadikan Gunung Manglayang dari sisi lain. Menggabungan dengan lahan terbuka bertanah merah, menyambut sinar mentari yang merekah. Wassalam (AKW).

Sunrise di Kaki Manglayang

Mengejar harapan menuju kehadirannya.

Photo : Mentari mulai terbit di samping Gunung Geulis/Dokpri.

Berjalan menjejak tanah merah, yang tersenyum meskipun tetap menggigil karena dipeluk dinginnya pagi. Perlahan tapi pasti, kehangatan menjalari urat nadi kehidupan selaras dengan semakin menanjak perjalanan pagi ini. Nafas yang tadinya bergerak lancar sekarang mulai tersengal karena kompensasi untuk meraih kehangatan.

Meskipun dinginnya pagi menggempur dari segala arah, berusaha mendinginkan raga yang mulai membara. Pertarungan inilah yang mengukuhkan rasa sehingga bisa mencapai puncak bukit pertama yang menyajikan hamparan pandangan pagi yang mempesona.

Ternyata sang mentari masih sedang berusaha keluar dari mimpinya, sehingga perlu beberapa saat menunggu detik menata menit supaya bisa membidik sunrise pada saat yang tepat.

Ya.. tepat menurut penulis. Karena tepat itu bisa tidak sama, tergantung konteks dan sudut pandang.

***

Photo : Mentari berpadu dengan siluet tumbuhan di kaki gunung Manglayang/Dokpri.

Akhirnya sambil menenangkan sengal nafas yang kencang menuju normal, mentari muncul perlahan menyajikan kemegahan indahnya pagi hari yang penuh inspirasi.

Inilah salah satu momen yang harus senantiasa disyukuri, karena mentari masih terbit sesuai janji. Menyinari bumi membawa berkah Illahi. Wassalam (AKW).

Berburu Sunset di Pantai Tanjung Tinggi Pulau Belitung

Reportase sederhana berburu sunset di Pantai Tanjung Tinggi Pulau Belitung

Sore menjelang disaat raga menjejak area pantai tebing tinggi. Suasana relatif sepi dengan cuaca yang begitu bersahabat, sejuk dan sendu. Satu conter pengrajin

 batu satam menyambut kedatangan kami, menawarkan sensasi dongeng bahwa batu satam berwarna hitam itu adalah meteor yang pernah mendarat di bumi belitung. Wallahualam bisshowab.

Deretan batu granit menjulang menutupi hamparan keindahan. Menyambut dingin dan sunyi tetapi sungguh menarik hati. Disinilah sejarah  novel Andrea Hirata bermula. Kaki terus menjejak dengan cepat karena khawatir terlambat untuk menangkap detik penting rutinitas alam yang harus di abadikan.

Setelah meliuk dan menyelinap di sela-sela bebatuan. Kami seakan tertelan batu – batu raksasa yang siaga beratus tahun mula. Semua wajah ternganga melihat sajian sunset yang begitu menggugah asa. Warna kuning keemasan sang mentari menggapai ramah diangkasa serta terpantul sempurna di air laut yang tenang penuh cinta.

Batu-batu granit besar berkumpul dan membentuk kebersahajaan yang penuh sensasi. Hampir semua terpana dan berebut mengabadikan suasana atau siluet diri di ujung pantai tebing tinggi.

Naluri alami memberi instruksi kepada kaki untuk beranjak keluar dari kerumunan rombongan yang berebut selfi. Belok ke kanan mengikuti petunjuk arah, menjejak sejarah kaki-kaki mungil laskar pelangi yang bergembira mengisi hari. 

Segera menyelinap melewati gundukan batu. Disambut pemandangan air laut yang terjebak oleh bebatuan membentuk sensasi kolam jernih penuh keindahan. Ada seseorang yang sedang juga menikmati pemandangan, tak pelak ikut terabadikan.

Lalu bergerak lagi memanjat sedikit demi sedikit hingga tiba di ujung batu terbesar yang bersentuhan dengan permukaan laut, rasa syukur berkumandang dalam jiwa. Sungguh indah ciptaanMu Yaa Allah, terima kasih sudah memberi kesempatan waktu menikmatinya.

Duduk bersila sambil terus gumamkan dzikir, tak henti untuk memujiMu. Sesaat tersadar untuk segera mengabadikan momen penting ini sebelum rekan rombongan datang dan kembali berebut mengambil gambar. Segera Samsung A5 beraksi mengabadikan suasana yang begitu seksi memanjakan hati. Setelah puas berselfi diri segera memohon dalam doa, agar yang datang pertama adalah yang pintar memotret dengan gadget kekinian.

Jrengg…. doa langsung dikabul. Yang datang mbak tri sang guide ceria. Tanpa basa basi karena saling mengerti fungsi, langsung Samsung A5 beraksi mengabadikan diri bersama mentari yang semakin bersinar abadi.

Setelah selesai tidak lupa berucap terima kasih dan bergegas pergi karena anggota rombongan berduyun datang untuk berebut mengabadikan momen tenggelamnya mentari di pantai Tanjung Tinggi.

Note : Lokasi Pantai Tanjung Tinggi berdekatan dengan Lokasi Pantai Tanjung Kelayang, Kabupaten Belitung sekitar 26 km dari pusat kota Belitung Tanjung pandan dengan lama perjalanan 30 menit.
@andriekw 160517