Jalan kaki – Ngopi – Hepi.

Cerita kerja, jalan dan ngopi lalu kerja lagi.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah perhelatan sedang berlangsung di Artha kiara park Kota Bandung yang bertajuk GPM (Gelar pangan murah) dalam rangka hari pangan sedunia tahun 2022. Sebuah acara yang dihadiri atas nama tugas kedinasan, tentu disambut dengan suka cita, hadiiir.

Waw, kok begitu semangat, ada apa?”

Seorang kawan melihat antusiasme yang tidak biasa juga gestur tubuh yang berbeda. Padahal khan memang hadirnya rasa senang itu anugerah Illahi. Bisa hadir dalam segala suasana juga dalam konteks berbeda-beda. Jawaban ter-universal adalah hadirkan sebuah senyuman sempurna tanpa perlu banyak kata. Sementara itu cukup kawan.

Hayu berangkat” Teriakan singkat yang langsung menggerakkan raga ini melyncur ke lokasi acara dari kantor menggunakan kendaraan menuju TKP (Tempat Kegiatan Perlangsung).

Tiba di acara langsung berbaur saja, isi absen, mencari tempat duduk dan menyapa para tamu undangan yang berdekatan. Oh ya tak lhpa menggunakan kaos dari panitia namun dilengkapi rompi sebagai bagian dari ihtiar menyamarkan perut yang tercetak pas karena ukuran kaosnya 1 nomor dibawah seharusnya.

Tuntas acara, saatnya me time. Sederhana kok cuma jalan kaki mengelilingi area kiara artha park sambil sesekali menengok jam di pergelangan tangan, terutama melihat jumlah langkah kaki yang sudah dilaksanakan. Tentu target hariannya simpel kok, cukup minimal 6.000 langkah saja. Lumayan 3 keliling sudah dilakukan. Tapi ternyata baru 2.895 langkah saja.

Maka jalan kaki siang ini harus dilanjutkan, apalagi pas diskusi dengan emak-emak pengawal hari ini ternyata siap mengikuti challenge ini yaitu jalan kaki dari area artha kiara park ke kantor sejauh 2 kilometer dan bisa ditempuh selama 26 menit kata google map, hayu berangkat…

Maka dengan formasi jajaran genjang kami berempat bergerak menyusuri jalan kiara condong – jalan jakarta dengan model pengamanan ketat. Di depan ibu Erna ‘ngagidig’ samping kanan nutup jalan ada amih Yeti yang gesit berjalan sambil mengawasi lalu lintas sementara di belakang sebagai tim penyapu ada bu Poppy yang selalu waspada dengan mata tajam dan layar smartphonya untuk merekam gerakan – gerakan dan fenomena dijalan untuk diunggah pada akun tiktok pribadinya. Wah pokoknya serasa pejabat yang dikawal tiga prajurit senior hehehehe…

Nah setelah dari terusan jalan jakarta ada keinginan naik flyover yang membelah jalan ahmad yani tapi ternyata bukan untuk pejalan kaki, itu khusus kendaraan. Maka rute diubah menuju jalan sukabumi lalu belok kanan memasuki jalan cianjur lalu berjalan teruus dan teruuus hingga mentok di jalan laswi. Ternyata adzan dhuhur berkumandang, Alhamdulillah saatnya Ishoma. Rehat sejenak dari pekerjaan untuk lapor rutin kepada Sang Pencipta dilanjutkan makan siang sambil bercengkerama.

Mumpung sedang diluar kantor, maka pilihannya langsung yang terlihat oleh mata yaitu di kawasan LASWEE creative space. Karena banyak pilihan stand untuk makan juga terlihat cafe kopi yang bisa menenangkan hati plus mushola untuk ibadah dhuhur sebagai janji hakiki.

Makan siang lengkap dengan ibu – ibu yang tetap semangat meskipun bersimbah keringat karena jalan kaki tepat di siang hari disusul driver yang mengikuti juga ada anak magang yang menyusul untuk bergabung pada sesi makan siang ini.

Khusus diriku tentu pilihan kopi manual brew dengan filter V60 menjadi menu tersendiri. Namanya cafe STUU kebetulan pas diskusi, nama baristanya sama, andri. Lalu gramasi satu sajiannya 15 gram dengan biji pilihan yang berasal dari pegunungan bandung selatan yaitu arabica natural puntang dengan merk dagang beannya adalah KOZI. Bercampur dalam proses manual brew dengan 250 ml air. Menghasilkan sajian kopi panas tanpa ampas dengan cita rasa yang bikun bengras.

Srupuuut… body mediumnya menyapa lidah dan rongga mulut sementara aciditynya menari menggelitiki langit-langit mulut dengan keasaman yang medium high plus aftertase citrun, tamarin dan beri yang menyegarkan. Nikmat.

Urusan menu makanan sih tidak jauh – jauh dari mulai pilihan baso urat campur, aneka dimsum, pisang goreng hingga tidak lupa nasi putih yang merupakan kewajiban. Karena kalau belum makan nasi berarti belum makan, meskuoun bakso sudah 3 mangkok hahahahaha..

Itulah sejumput cerita perjalanan tugas sehari-hari dibalut dengan kebersamaan dan tentunya menyempatkan diri untuk ngopay meskipun ada sekat jam kerja khususnya jam istirahat siang.

Maka setelah makan minum, ngopay dan shalat dhuhur sudah tertunai dilanjutkan dengan bergerak berjalan kembali meninggalkan area Laswee creative space menuju kantor yang tinggal bergerak lurus, menyebrangi jalan ahmad yani dan tiba di kantor untuk melanjutkan akfifitas siang menuju sore ini. Wassalam (AKW).

KOPI DAYAK INDU KUHH

Akhirnya menikmati kopi dayak.

CIMAHI, akwnulis.com. Dus coklat itu sudah berada di samping meja kerja tadi pagi, namun belum menarik perhatian karena memang sedang berkelindan dengan kesibukan yang seolah tak berhenti dan menutup ruang untuk sejenak menarik nafas serta mengeluarkannya dengan perlahan. Tetapi tentu harus dikendalikan juga agar kesibukan ini tidak mendikte kita dan akhirnya diperbudak kesibukan sehingga merusak pendulum life work balance menjadi condong ke satu sisi.

Maka waktu ishoma adalah rehat yang sebenarnya. Gunakan kesempatan unguk shalat dhuhur berjamaah dan dilanjutkan menyantap makan malam sesuai menu yang tersedia. Maksudnya tersedia di kantin kantor dengan memu masakan rumahan yang akrab di lidah serta ramah di dompet hehehehe.

Sepiring makan siang telah berada dihadapan dengan porsi nasi sepertiga porsi menu biasa dan ditemani oleh seekor ikan pindang, sepotong goreng tempe dan dilengkapi sambal plus sayuran. Lengkap sudah makan siang kali ini. Alhamdulillah.

Nah selesai makan baru teringat akan dus coklat tadi, maka tergopoh segera dihampiri. Ternyata dus coklat ini sudah menempuh perjalanan panjang lintas pulau hingga akhirnya mendarat di jawa barat tepatnya di ruang kantorku ini.

Sebuah nama dan alamat pengirim memberikan rasa senang dan bangga karena sebuah silaturahmi yang terjalin tahun lalu via zoom meeting dengan tema SETARA membuahkan silaturahmi dan persaudaraan lintas pulau dan lintas generasi. Yup, sebuah kiriman paket dari Ibu Kepala Dinas Dagperin Provinsi Kalimantan Tengah telah nyata hadir di depan mata dan diyakini isinya adalah kopi spesial kalimantan tengah yakni kopi dayak. Makasih ya bu.

Segera paket dibuka dan menjadi terpana, karena bukan hanya bungkusan kopi yang ada tetapi ditemani oleh-oleh lainnya yang begitu banyaknya. Ada goreng ikan seluang crispy dan ikan seluang merk sopiah, kain khas kalteng, teh bajakah, kopi bajakah khas dayak erikano serta Indu kuh coffee rempah yang menggugah rasa penasaran.

Langsung di bawa ke mobil dan nanti di rumah bisa dinikmati sambil tak lupa menulis kesan dan pesan yang mengacu pada rasa dan suasana yang dihadirkan. Selanjutnya melarut kembali dengan kesibukan hingga tak terasa adzan asyar hampir tak terdengar serta waktu sudah mendekati magrib. Walaah hampir saja….

***

Tiba di rumah tentu tak bisa langsung menyeduh kopi dayak spesial ini karena harus lakukan ritual yang menjadi wajib semenjak pandemi memporakporandakan negeri. Wajib mandi dulu dan segala macam pernak pernik yang menempel di badan seperti ikat pinggang, dompet, jam tangan, emblem korpri, nametag harus masuk alat steril dan dilakukan sterilisasi UV selama 21 menit.

Nah setelah tuntas semua, inilah saatnya menikmati kopi palangkaraya kalimantan tengah. Sajian kopi khas yang tentu memiliki kualitas rasa ang berbeda. Bungkusnya dibuka dan meihat sudah berbentuk bubuk halus maka tak perlu repot – repot dengan corong V60 lengkap dengan kertas filternya tapi cukup siapkan air panas 93° celcius dan lalukan metode tubrukisasi alias kopi tubruk meskipun ingat nubruknya pelan-pelan ya.

Tak lupa kopi yang sudah ditubruk air panas tetap diaduk untuk meratakan bubuk kopi bersenyawa dengan air panas menghasilkan sajian hitam pekat yang menggoda dengan rasa nikmat.

Tiup perlahan dan sruputlah sajian kopi dayak ini untuk dinikmati oleh lidah sebagai awalan dan mulut untuk kelanjutan. Lalu bergerak memenuhi lambung hingga berrekreasi di usus serta berproses sesuai serapan masing-masing. Rasa pertama yang hadir adalah rasa kopinya stabil dan dilengkapi rasa herbal alami yang menyegarkan. Sruput lagiii….

Memang kopi merk Indu kuhh ini adalah kopi asli dayak palangkaraya yang diolah serta dicampur berbagai unsur rempah termasuk beras. Lalu hasilnya memang sebanding, kopinya dominan dan harum serta rasa rempah yang hangat dan nyaman. Ada unsur kapulaga, beras, adas, kelapa, kayu manis, ketumbar.

Sruput lagi dengan perlahan berulang dan pasti. Menghasilkan kesegaran berbeda serta keharuman menggoda. Selamat ngopay kawan, makasih bu Aster. Wassalam (AKW).

SATIDI – fbs

Niat baik bersua dengan kenyataan…

CIMAHI, akwnulis.com. Minggu siang bercengkerama bersama anak adalah sebuah momentum yang tak akan terulang. Maka manfaatkan sebaik-baiknya. Jika hari kemarin terpaksa bersama ibunya ikut ayahnya bekerja di kerimbunan hutan ciwidey, lalu kedinginan dan masuk angin karena ketahanan tubuh yang berbeda. Maka hari minggu ini menagih untuk sekedar kongkow dekat rumah sambil ngopi berdua.

Ternyata setelah makanan dan minuman tersaja, anak kesayangan malah sibuk dengan gadgetnya dan memainkan game Sakura School Simulator dengan asyiknya. Langsung ayahnya switch mode ke pilihan ‘soft me time’ alias menyesuaikan diri dengan gadget dan membuat sebuah cerita fiksi singkat berbahasa sunda yang idenya hadir secara tiba-tiba. Tapi ujung mata tetap memperhatijan gerak gerik dan aktifitas anak kesayangan.

Inilah tulisannya…

FIKMIN # SATIDI #

Hiungna motor RX king meulah jalan ciroyom kadèngè halimpu sabab dina cangkèng aya leungeun bèbènè nu pageuh nyekelan. Genep bulan teu panggih, ayeuna karèk bisa ka dayeuh deui.
Kusabab hayang mèrè surprise, ngahaja teu dibèjaan rèk dahar dimana. Teu nyangka ceunah boga kabogoh tèh meuni nyaah tur ngartos.

Nuhun Ayang, impènan Enèng ngawujud, tiasa tuang di restoran ieu”

Soanten nu hipu ngagugah kalbu, tapi teu loba carita. Asup na panto tuluy mayar heula sabab restoranna modèl ‘all you can eat’ atanapi SATIDI (sadayana tiasa dituang).

Pagawè restoran nyayogikeun sagala rupa dina mèja. Kompor mini diluhurna panci kuah tomyam oge hiji deui loyang kanggè babakaran. Hurang, daging lauk jeung daging sapi ipis langsung dipasak, kitu ogè sagala rupa satè, omelèt, sushi, sangu gorèng, beef teriyaki jeung sajabana. Rampus sèèp ku duaan.

Hanjakal nge-datè tèh gorèng tungtungna. Nèng Asih ngaborolo utah uger dina wastafel. Uing kapaksa ngodok liang wastafel sabab ngeuyeumbeu pikagilaeun.

***

Itulah sejumput cerita fiksi super pendek berbahasa sunda atau fiksimini bada sunda (fbs) dengan tema adaptasi dan rasa tanggungjawab seorang kekasih kepada orang yang disayanginya. Meskipun harus bertindak dan berkorban dalam melaksanakannya Selamat menikmati waktu tersisa dari weekend minggu ini, Semangaaat. Wassalam (AKW).

KOPI & SORE di Km88

Catatan rehat sore.

SUKATANI, akwnulis.com. Menyore dalam sebuah perjalanan kehidupan tentu diperlukan sebuah rehat yang singkat tapi nikmat. Setelah berjibaku dengan tugas, kertas dan berkas maka perlu sesaat istirahat berkualitas tanpa hilangkan makna dari sebuah hakikat kualitas. Maka pilihan utamanya adalah mencari waktu dan tempat istirahat yang tepat.

Begitupun cerita menyore kali ini, atau mlipir sore setelah seharian mendengarkan arahan, paparan dan tanya jawab berhubungan dengan penggunaan uang negara yang berkutat di antara tiga besar yakni perjadin, honor narsum dan paket meeting. Maka sebuah komitmen kehati-hatian dan  hitam putih aturan menjadi hal utama yang menjadi pegangan. Review pengawas sebagai awalan menguatkan konsepsi perencanaan tahun depan agar lebih sempurna dalam ketepatan guna dan sasaran.

Maka rehat sore sejenak menjadi obat mujarab yang menenangkan. Tentu dengan pilihan menu yang tepat dengan harapan, harga dan pemandangan. Pilihannya sederhana, sebuah tempat yang bisa memenuhi hasrat nongkrong  dan lengkap dengan sajian kohitala meskipun dengan metode tubruk ala – ala, yang penting terhindari dari gula.

Sebuah kios kopi menjadi pilihan tepat, karena posisi penjuru dan berada di depan mesjid BSI yang bersih dan elegan. Tanpa basa-basi maka pilihan pertama untuk memesan kopi hitam tanpa gula menjadi prioritas, ya memang dapetnya kopi gunting tapi kelihatannya sedikit meyakinkan.

Lalu sebagai pelengkap tak lupa gorengannya yaitu gehu dan sejumput  cengek sebagai penggugah kepedasan yang menambah semangat dan kesegaran.

Maka sebagai sebuah kenangan, segelas kopi berlatar belakang mentari sore serta mesjid BSI menjadi catatan penting dalam menyore kali ini.

Oh ya posisi menyore kali ini berada di rest area Km88 Tol Cipularang arah Bamdung ya guys. Pokoknya klo berkesempatan menyore disini,  bisa dicoba spot kios ini. Karena selain kopi dan gorengan juga tersedia aneka minuman termasuk mie rebus dan mie goreng aneka varian plus leupeut dan lontong sebagai teman atau pengganti nasi.

Sruput dulu guys lalu mengunyah gehu dan memotret momentum sore yang menyenangkan. Lagian menyore nggak bisa lama-lama karena dibatasi mentari yang tenggelam di peraduan menuju malam untuk berganti peran dengan rembulan. Plus hadirnya panggilan shalat magrib via adzan yang berkumandang. Wassalam (AKW).

Arabica V60 di Teras Kiara.

Kopi, tugas dan kesempatan.

KIRPAY, akwnulis.com. Semilir angin pegunungan dan suasana damai menyeruak di tempat ini. Bersama selembar kertas menu laminating, menanti untuk dibaca secara rinci dan sesingkat-singkatnya untuk segera dipesan karena menunya memang sesuai dengan harapan.

Menu apa itu kaka?”

Seperti biasa, aneka menu makanan dan minuman khususnya kopi manual brew dengan metode V60 yang ternyata begitu menarik hati. Apalagi yang hadir kali ini bukan orang-orang sembarangan, beberapa orang kedua di OPD provinsi menyempatkan hadir di waktu maksi pada sela-sela rangkaian rapat yang datang silih berganti.

Kebetulan tempat untuk menikmati kohitala dan berbagai menu lainnya ini cukup menarik meskipun posisinya cukup jauh menanjak dari jatinangor, berada di wilayah Sukasari.

Patokannya gampang, ada Kampus LAN RI, lewati dikit dan terlihatlah cafe Teras Kiara. Sekarang dengan tuntasnya jalan tol cisumdawu trase awal, terasa lebih dekat. Karena dari tol gate hanya 900 meter saja. Jadi beres maksi dan sruput kohitala bisa langsung masuk tol an ngabretlah ke kantor untuk menyambut dokumen yang bejibun serta agenda lain yang sudah tersusun.

Tempatnya di lantai atas memberi kita kesempatan melihat kehijauan dan juga kampus LAN RI dimana pernah menjadi tempat ditempa di tahun 2018 dalam kerangka Reform Leader Academy. Suasana cafe yang ditata apik memberi pilihan suasana berbeda. Ada yang lesehan dengan bean bag warna warni, ataupun dengan meja kursi. Juga sofa untuk bersantai sambil sruput cikopay.

Kami memilih meja kursi kayu di area outdoor dan memesan bermacam-macam cemilan plus makanan berat karena judulnya khan makan siang. Tapi tetap menu utamanya adalah sajian manual brew V60 dengan pilihan kopinya adalah arabica halu honey. Sebuah pilihan tepat karena dengan acidity plus body seimbang dilengkapi sejumput rasa manis alami yang menenangkan hati.

Srupuut…. enak. Juga rasa nikmat mengunyah menu makanan dari panggang pisang madu, tahu cabe garam hingga nasi bakar dan sop buntut kekinian.

Semilir angin kiara payung memberi kedamaian. Menemani bincang santai dan makan siang yang bernilai. Karena jarang sekali kami berkumpul dalam suasana ceria seperti ini. Biasanya bersua pada rapat serius yang padat dan perlu tindaklanjut.

Akhirnya tugas juga yang membuat kami bubar tergesa. Bergerak menuju kantor masing-masing demi tugas negara. Wassalam (AKW).

Warung Bu Ageng & Kohitala

Cari maksi sekaligus kopi.

JOGJA, akwnulis.com. Jam makan siang sudah mendekati, alarm alami di perutpun mulai berbunyi dengan nada khusus yang menambah lapar plus dahaga. Melewati area alun-alun selatan keraton Jogjakarta dan menuju tempat makan utama yaitu Restoran Bale Raos, sebuah resto yang menyajikan menu khas masa silam kearifan kuliner kraton jogja dalam setiap sajiannya.

Tapi….. ada yang terlupa, ini musim liburan anak sekolah kawan. Pas dengan pedenya masuk dan mencari tempat duduk, langsung tertegun. Karena meja meja yang biasanya relatif lengang telah terisi oleh para penikmat rasa. Juga beberapa orang masih antri untuk menunggu giliran mendapatkan meja. Lalu perlahan ada pegawai restoran mendekat, “Maaf bapak, apakah sudah reservasi?”

Jeddang… saya dan istri beradu pandang, lalu menjawab pelan, “Belum mbak, biasanya bisa langsung”

Maaf bapak, harus reservasi dulu. Ini yang antri yang sudah reservasi”

Wah gawat, keburu lewat lapernya nich. Akhirnya kompromi dan tahu diri saja. Senyuman dan ucapan terima kasih atas penolakan halusnya sang pegawai resto. Kami balik kanan menuju mobil dan langsung memutar ingatan tentang tempat makan siang yang memungkinkan.

Istriku berseru, “Yah, kita coba ke RM warung Bu Ageng.”

Siyaaap

Maka kedua jempol langsung berselancar di layar gawai. Mencari informasi tentang rumah makan ini. Tring, teknologi memang dalam genggaman… lokasi RM Bu Ageng ditemukan dan sang pemgemudi bertolak menuju titik sasaran. Agar tidak zonk kedua kali, maka coba ditelepon dulu sesuai yang tertera di google search.

Monggo pinara mas, nggak perlu reservasi, bisa langsung”

Wuihh adem tuh suara, bikin perut lapar makin lapar tetapi jelas ada kepastian. Ternyata jarak dari area keraton tidak terlalu jauh. Berarti sebentar lagi tiba, Alhamdulillah.

Tempatnya terlihat nyaman dengan ornamen bangunan kayu begitu estetik. Segera masuk ke dalam dan ternyata benar saja, masih ada beberapa meja yang tersedia dan langsung mendudukinya dengan gembira.

Pilihan makanan sudah tersaji di pintu masuk, tetapi kami lebih cenderung berburu meja dulu, takut keburu penuh hehehehe. Buku menu segera dibuka dan berbagai pilihan makanan khas jogja hadir disana. Tetapi pilihan kami praktis saja, pertama yang lengkap dan kedua tentu recomended. Pilihannya adalah nasi campur lidah dan nasi campur suwir ayam.

Rumah makan yang diberi nama warung ini adalah milik keluarga Butet Kertaredjasa dan penamaan Bu Ageng ini adalah sebutan anak cucu dan keluarga kepada istrinya, bu Rulyani Isfihana. Bangunan berbentuk joglo dan full ornamen kayu memberi suasana di rumah yang ngangenin ditambah dengan.

Tadinya mau pesen lagi pecel agar lengkap sayurannya. Tapi ternyata menu nasi campurnya begitu kumplit, tidak hanya lidah dan suwir ayam tetapi juga ada abon tuna, kripik kentang, tempe potong, juga kuah kental seperti rendang plus krupuk gendar. Disaat lidah menyecap, kental masakan jogjanya tetapi juga hadir rasa berbeda yang membuat penasaran.

Pada kesempatan yang tepat, salah satu pelayannya diinterogasi halus dan didapati cerita bahwa makanan khas warung ini adalah masakan khas jogja dan dilengkapi sentuhan masakan kutai, kalimantan timur. Wow pantesan….

Tak lupa juga memesan kopi hitam ala warung bu ageng. Sebuah kesempatan langka menikmati sajian kopi di tempat yang berbeda. Kopi yang tersaji adalah kopi bubuk biasa yang diseduh atau ditubruk air panas yang tersedia. Tentu gula dihindari, karena ini adalah kohitala.


Itulah catatan kecil tentang kuliner siang di Warung Bu ageng Jogjakarta plus kopi tubruknya. Wassalam (AKW).

DRAGON Breathe Snack vs CIKBUL.

Sebuah dilema antara kewaspadaan dan memuji atas kreatifitas penamaan.

CIMAHI, akwnulis.com. Perkenalan dengan makanan ringan jajanan anak yang sekarang menjadi viral ini belum lama, baru sekitar 1 – 2 bulan lalu. Itupun karena ikut-ikutan anak semata wayang dan temennya yang pengen nyoba jajanan yang bisa bikin kayak naga.

Jadi bisa menyemburkan asap dari mulut dan hidung sepeti seekor naga yang begitu perkasa di dalam film – film yang beredar dengan berbagai versi.

Nama jajanannya adalah dragon breathe atau dragon smoke (asap naga alias nafas naga kali yeee….).. atau ice smoke itupun ternyata di korea sana sudah lebih dulu menyasar kebiasaan jajan anak negeri ini dengan sebutan pong pong korean snack. Soft diplomacy yang perlu diwaspadai selain lagu Kpop, busana hingga berbagai ungkapan bahasa korea yang ternyata sudah menjadi bagian keseharian anak-anak kita.

Nah pas nyobain jajanan ini, memang sensasi bernafas bagai naganya berhasil guys. Dari mulut menyembur asap dan jika lebih seru lagi. Setelah snack atau chiki ini ditelan, mulutnya tutup, maka pas bernafas, keluarlah asap putih dari lobang hidung.

Seruuu….

Tapi ternyata, tak berapa lama tenggorokan terasa perih dan kering serta sedikit batuk. Ah mungkin karena udara dingin di dataran tinggi. Ternyata dari situ batuk – batuk kecil terus hadir hingga malam harinya tenggorokan begitu gatal dan batuk hampir tiada henti.

Gawat nich, kayaknya gegara nelen nitrogen cair yang jadi campuran chiki tadi, supaya bersensasi nafas naga”

Obat batuk pilihan segera dicari, di minum dan sedikit tenggoroka  lega, meskipun batuknya belum ilang. Iseng searching di google tentang jajanan ini, dan terperangah…

Ternyata di Amrik sana sama BPOM Amriknya sudah dilarang lho, penggunaan nitrogen cair di jajanan anak karena dianggap berbahaya (Liputan6.com). Ditambah juga belum lama ini ada anak yang luka bakar di ponorogo terkait erat dengan jajanan ini (detiknews, 220722).

Jadi sarannya, hati-hati dengan jajanan anak. Beri pengertian tentang kemungkinan bahayanya, sehingga tidak menyesal dikemudian hari karena sakit dan membuat tidak nyaman.

Nah, ternyata pas kemarin mendapat tugas ke daerah kabupaten kuningan jawa barat, jenis makanan ini sudah diduplikasi atau replikasi atau diubah versi muatan lokal. Disini terjadi dilema antara memuji karena kreatifitas tapi juga khawatir penyebaran jajanan anak yang menggunakan nitrogen cair ini makin masif beredar.

Nama jajanan dragon breathe versi jawa barat ini yang bikin senyum simpul. Namanya adalah CIKBUL, singkatan dari Chiki Ngebul atau chiki yang berasap. Wah makin banyak saja jajanan anak yang berasal dari kata CI, seperti cireng, cilor, cipluk, cilok dan sebagainya ditambah dengan cikbul ini hehehehehe.

Ya gitu deh, senang dengan kreatifitas penamaan jajanannnya tapi harus waspada bagi orangtua untuk mengingatkan anaknya. Terima kasih, happy weekend. Wassalam (AKW).

KOPI KANTOR KOPI DINAS

Urusan dinas, rapat offline dan Zoom meeting berjalan, hadirnya kohitala tetap menyertai.

BANDUNG, akwnulis.com. Pekerjaan bejibun dan tugas bertumpuk menjadi tantangan tersendiri minggu-minggu ini. Bagi tugas dan saling mengisi antar divisi menjadi sebuah kolaborasi yang begitu menguras energi. Tetapi itulah dinamika pekerjaan yang harus dihadapi sekaligus disyukuri. Karena diluar sana banyak saudara kita yang bingung mau mengerjakan apa, sementara disini begitu banyak tugas, alhamdulillah, mari berbagi pekerjaan.

Meskipun ada tugas – tugas yang memang tidak bisa diwakilkan, karena memang kita yang musti mewakili pak bos. Itu mah resiko, atur jadwal dan hadiri. Titik.

Nah bagaimana nasibnya ngopi, ditengah kesibukan ini?”

Ya nggak gimana-gimana, ngopi mah harus tetep jalan. Khan tinggal bikin atau dibikinin aja. Yang penting syarat utamanya satu. Metodenya manual brew dan jelas tanpa gula. Selesai.

Oh iya, supaya kualitas kopinya sesuai selera kita. Ya bekel sendiri, baru seduh di dapur kantor dengan peralatan manual brew V60 yang ready setiap waktu. Apalagi Bu Santi, TU kantor juga punya keahlian menyeduh kopi secara manual, cocok dah. Tambah lagi di lantai 2 ada juga sang barista, Ojan namanya. Pasti seneng dia bikinin manual brew setiap diminta, kecuali kalau pas beannya habis heuheuheu… kasiaan deh.

Kopi manual yang pertama, dibuat dengan hati-hato oleh Bu Santi menggunakan filter phisixti (V60) dengan panas 92° celcius dan gramasi 14gram membuat sajian kohitala yang nendang. Karena dimodali  bijinya adalah arabica wine sylvasari gununghalu tea geuning.

Para penikmat kopi terhenyak dengan sentuhan awalnya yang ‘menggigit’ dengan acidity poool… lalu bodynya pun medium high hingga aftertaste tamarind, citrun dan berrynya begitu menyayat hati… eh begitu paten menguasai rongga lidah serta memberi efek ninggal yang lumayan (moo bilang rasanya luar biasa, ntar pada komplen karena cuman cerita dan ngabibita sementara biji kopinya nggak pernah ngirim), harap maklum stok disetting limited supaya bisa memaknai kenikmatan dalam keterbatasan kawan.

Pak Galih, Rivaldi, Ojan dan Bu Santipun ikut menikmati sajian kohitala ini dengan gelas kaca tipis yang rentan pecah jikalau terbentur dengan benda keras, seperti kepercayaan yang terhianati maka hancur berantakan dan sulit dipulihkan. Tapi itulah kenyataan, maka kehati-hatian adalah kunci segalanya. Maksudnya hati-hati nyimpen gelas kacanya guys, bukan nyimpen rahasia.

Jadi sambil diksui… eh diskusi, juga rapat koordinasi via zoom. Bisa sambil ngopay bersama. Atau di kesempatan lain, nyuguhin tamupun bisa sambil ngopay kopi hitam tanpa gula dengan metode V60.

Nah gimana ngopinya kalau pas rapat diluar kantor?”

Ini mah rumusnya ‘mimilikan‘ atau sesuai rejekinya. Jadi kalau pas kebetulan rapatnya diluar kantor, semoga ada sajian kohitala meskipun berbasis mesin kopi.

Kalau yang pengen liat versi videonya, monggo klik aja link youtubenya : KOPI KANTOR | menyeruput kopinya di kantor ya guys.

Ternyata memang milik rejekinya, rapat di Resto Teras Akasya bahas urusan penting, ternyata ada sajian kopi. Cocok pisan gan, pekerjaan kelar dan ngopay pun jalan.

Pertama adalah kopi tubruk dengan biji kopi dari malabar jawa barat, alhamdulillah rasanya cukup lembut karena memang ditubruknya pelan-pelan. Kebayang kalau ditubruknya dengan keras, pasti tikusruk (terjerembab).

Kopi kedua lebih kepada kompromi dari sajian yang ada, karena seduh manual pake filter V60 tidak tersedia, maka berdamai dengan kohitala versi mesin kopi. Hadirlah segelas kecil espresso dan secangkir americano, tanpa gula. Sruput gan.

Itulah cerita kopi sambil berdinas sehari-hari. Jadi ngopi hitam tanpa gula adalah bagian dari keseharian, baik di dalam keseharian ataupun jika kebetulan hunting di luar kota baik itu karena dinas ataupun memang sedang beredar bersama keluarga.

Selamat nyruput si hitam tanpa gula, Happy weekend. Wassalam (AKW).

KOPI CAMARO di MANGLUNG View & Resto.

Kembali bersua dengan kohitala, kali ini di dataran tinggi selatan Jogjakarta.

JOGJA, akwnulis.com. Perjalanan menanjak dan berliuk menuju dataran tinggi di selatan jogja, mirip dengan perjalanan ke lembang mau cari susu murni, ketan bakar ataupun tahu goreng plus kesegaran suasana alami. Tetapi tentu hal penting yang harus dicari adalah secangkir janji yang tertuang dalam cangkir abadi bernama kenikmatan hakiki dari sajian kopi.

Maka dilakukanlah kombinasi pencarian yang keduanya berdasarkan GPS. GPS pertama adalah global position system yang menjadi nyawanya googlemaps, dimana dengan jari jemari eh salah dengan jempol kanan kiri maka begitu mudah menjelajahi dan mencari lokasi yang didambakan… uhuy.

GPS yang kedua, apa itu?”

Wah ada yang penasaran, ini adalah teknologi tertua yang tak lekang oleh jaman dan tak pupus oleh perubahan. Karena modalnya adalah keberanian dan tentu berbicara dengan sopan. Maka GPS ini bisa dipakai.

Tahu khan?”

Pasti pada geleng kepala khan. Padahal jawabannya gampang banget. GPS ini adalah Gunakan Penduduk Sekitar  alias banyak bertanya kepada orang yang domisili di sekitar tempat tersebut. Minimal sopir grab atau sopir mobil sewaan yang mengantar kita ke tempat lokasi.

Dijamin bisa lebih tepat sasaran dan terukur, termasuk bisa juga berdiskusi tentang rencana kunjungan ke objek wisata. Siapa tahu GPS ini bisa memberikan opsi lebih baik, karena tahu dan berpengalaman untuk rekomendasi waktu yang tepat untuk berkunjung ataupun lokasi wisata lainnya yang bisa menjadi alternatif.

Jadi double GPS lebih efektif hehehehehe.

Setelah menanjak begitu rupa, sekitar 52 menit dari Stasiun Tugu, tibalah di lokasi makan siang menjelang sore kali ini, yaitu The Manglung View & Resto.

Ini adalah hasil GPS kedua lho guys, saran yang recomended dari bapak Sutarno, Driver langganan khusus Jogja karena paham dengan kebutuhan kami berbanyakan ini untuk makan dulu dalam suasana yang relatif ‘tenang.’

Karena tujuan awal kami adalah menuju objek wisata HEHA Sky View yang kata guugle lagi happening. Tapi saran pak Sutarno lebih kami dengarkan karena beliau yang sehari-hari lebih tahu keadaan.

Benar saja, dengan mengikuti sarannya, kami bisa menikmati makan siang dengan nyaman. Menu yang enak dan mengenyangkan serta tidak lupa sajian kopi manual dengan menggunakan seduhan V60 dapat dinikmati dengan pasti. Berlatar belakang pemandangan hamparan daerah Patuk bersama taburan sinar mentari yang mendekati ujung hari.

Pesan kopinya manual brew V60 hot ya mas”
“Inggih”

Wah senangnya, keluarga bisa pesan makanan minum sesuia serela… eh sesuai selera, akupun bisa bercengkerama dengan sang kohitala di wilayah jogja. Beannya adalah arabica camaro dari bantul (klo hasil interogasi mas baristanya) dengan notesnya adalah Sweey honey brown sugar karamel.

Ternyata hasil racikannnya agak mendekati, meskipun sweetnya kurang dapet tapi tergantikan dengan suasana sore dan pemandangan yang memanjakan mata dan belum banyak pengunjung. Eh nggak lama juga, setelah 20 menitan kami berada, ternyata mulai ramai juga.

Sruput dulu guys…. nikmaaat. Kopi manual brew V60 yang asli dan berada di Jogja. Jadi inget tahun lalu menikmati sajian V60 ini dimalam hari, hujan turun dengan lokasi tepat di depan tuggi jogja, yaitu di Cafe Kebon ndalem, ini tulisannya KOPI TUGU JOGJA.

Oh ya, tulisan tentang objek wisata HEHAnya menyusul ya, khan belum sampai.

Maka kembali ke paragraf atas, wisata yang terencanapun harus ada improvisasi di lapangan, jangan lupa GPS google dan GPS asli hehehehe. Selamat malam, have a nice weekend. Wilujeng Idul Qurban 1443 Hijriyah. Wassalam (AKW).

***

The Manglung View & Resto.
Jl. Ngoro ngoro ombo No. 16 patuk, Kecamatan Patuk Kab. Gunung Kidul Yogyakarta.

HOAX yg NIKMAT

Ternyata Hoax ini mah beda euy.

JAKARTA, akwnulis.com.  Sebuah pertemuan yang mengantarkan raga bergerak ke ibukota. Secarik undangan menjadi dasar bahwa kehadiran adalah sebuah keharusan. Apalagi berkaitan dengan anggaran negara, semua harus hati-hati, teliti dan betul – betul mempelajari regulasi yang sering berubah dan  berganti.

Namun kembali, cerita tentang kerjaan maka tertuang dalam laporan. Kotretan resmi dan sesuai naskah dinas akan hadir sebagai nota dinas. Namun kesempatan hadir di pinggir pantai ibukota negara tepatnya di daerah ancol harus dioptimalkan dengan berbagai aktifitas.

Trus ngapain aja bro?”

Gampang jawabannya, yang pertama disaat sesi istirahat sore menjelang malam segera bergerak dengan skuter (suku muter) atau jalan kaki dan usahakan minimal 6.000 langkah.

Diitung perlangkah gan?”

Ya enggak atuh, khan ada teknologi. Cukup pake gelang smartfit dan ber-skuterlah. Maka hitungan akan berjalan. Lalu supaya skuternya full motivasi, search dulu cafe kopi seputar ancol yang menjadi srandar tujuan. Nyalain googlemap, lets go.

Langkah mantabs bergegas menyusuri pinggir pantai, masih berbaju kemeja dinas ‘smiling west java’ tapi sepatu slip on karena pasca operasi ternyata belum bisa pake sepatu biasa.

Setting tujuan diperkirakan 30 menit saja, biasanya cukup 6.000 langkah. Kalau kurang ya ditambah lagi aja. Gitu aja kok repot.

Nah, perjalanan inilah yang menemukan sebuah nilai penting. Yaitu cerita tentang HOAX. Kita tahu semua bahwa Hoax ini sering menyengsarakan karena berupa berita bohong dan menyesatkan. Bisa membuat kegaduhan di keluarga, kedinasan, masyarakat juga bangsa dan negara.

Tapi Hoax kali ini berbeda, karena ternyata ini adalah HOAX yang nyata kawan. Ceritanya setelah perjalanan dari hotel mercure – putri duyung cottage – bunderan Symponi of the sea – danau ancol hingga Bandar Jakarta – Colombus cafe – Le Bridge – dan ada yang menarik yaitu sebauh Cafe dengan nama HOAX, cuma karena target langkah nelum terpenuhi  lanjutkan skuternya sampai ke Ereveld Ancol (Dutch War Cemetery Ancol)….. tapi pas mau naik jembatan yang membelah pantai, kok serasa nggak enak hati. Apalagi suasana agak temaram dan sepi.

Ya sudah balik kanan dech, lagian sudah 6.321 langkah. Mencari mushola lalu bergerak kembali ke arah tadi berangkat. Cafe HOAXlah yang menjadi tujuan.

Alhamdulillah, tempatnya nyaman dan pilihan menunya variatif, bukan hoax guys. Lalu yang paling penting adalah ada sajian kopi meskipun kopi berbasis mesin. Lumayanlah, cafelatte bisa menemani kesendirian pada malam hari ini.

Jadi sekali lagi, di daerah ancol inilah baru menemukan nama hoax yang bermanfaat. Srupuut gan. Wassalam (AKW).