KOPI ADAPTASI

Sruput Kopinya dan mari berkarya..

Pagi yang cerah dilengkapi dengan gerakan seribu langkah. Harapannya adalah kembali berolahraga meskipun bukan bergerak di alam bebas tetapi menjalani perputaran kaki sambil mengelilingi seluruh sudut area kantor yang ternyata cukup luas juga.

Photo : Kopi Adaptasi / dokpri.

Jam ditangan kiri menunjukan 2 ribu langkah telah terpenuhi, cukup sebagai awalan pagi ini. Berkeliling seluruh sudut ruangan di kantor baru dari mulai halaman depan hingga sudut arsip di lantai 3 paling belakang.

Setelah puas berkeliling, maka kembali ke depan dan menjumpai sudut khusus yang dikawal sang barista.

Kopiiii……

Maka diskusi sengit membahas body, acidity dan after taste sang kopi yang menjadi pilihan pagi ini…… tapi yang hadir bukan manual brew v60 tetapi cafelatte… dan tanpa gula.

Tadinya agak terhenyak karena berbeda dengan apa yang ada di benak ini, tapi tak masalah karena yang terpenting adalah sang gula terpisah, itu saja

Kecewa?… karena biasanya disajikan manual brew V60 kohitala tetapi ternyata yang datang adalah sajian cafelatte?”

Photo : Berkeliling Kantor / dokpri.

Tentu tidak kawan, hidup itu adalah bersyukur dan adaptasi. Senantiasa berubah dan bergerak seperti yang dicontohkan jarum jam yang selalu setia menghitung ritme kehidupan.

Jadi, meskipun yang hadir cafelatte, nikmati dan syukuri saja… trus setelah terucap Bismillah maka selanjutnya sruputlah perlahan…. srupuut… slruup.. nikmaat.

Yuk menyesuaikan dengan kenyataan. Selalu semangat dan berihtiar tentu dengan pikiran yang dipenuhi harapan kebaikan. Amiiin… Wassalam (AKW).

PINDAH

Akhirnya Kenyataan terjadi juga…

Photo : Berpose setelah pelantikan / dokpri.

SANGKURIANGDUA, akwnulis.com. Semilir angin sore kembali menggetarkan hati, mengingatkan kembali bahwa sebuah kenyataan telah berbeda dan harus dihadapi tanpa banyak basa basi.

Sesaat masih berfikir ini semua adalah mimpi, tetapi ternyata inilah kenyataan hakiki.

Perpindahan sebetulnya adalah hal biasa, dan jikalau dihitung berdasarkan catatan numerik maka merupakan jabatan ke struktural ke-15, atau klo dilengkapi dengan jabatan fungsional ‘buntut gajah’ dan sebagai staf yang baik karena sedang tugas belajar atau berpindah dari kabupaten ke provinsi, maka total dengan pelantikan ini adalah 19 kali…. waaah berarti sesuai dengan gelar yang disandang, M.Si (Mutasi Selalu Ikut) heu heu heu…

Hanya kali ini begitu mengharu biru karena ternyata disadari atau tidak, momentumnya begitu nyata. Disaat lagi sayang sayangnya harus berpisah karena sebuah komitmen pegawai negeri untuk siap ditempatkan dimana saja (asal di Bandung…. Amiiiin YRA).

Jangan salah sangka bahwa sayang pada siapa, tetapi ini sebuah ungkapan yang sebenarnya dikala hubungan tugas bersama seluruh mitra nyaris terjalin sempurna dan bersiap menapaki tantangan bersama dalam mengarungi terjangan gelombang serta tarian luwes untuk mensinkronkan regulasi dengan tetap menjaga sebuah nilai keuntungan dan akhirnya deviden bagi pemegang saham yang selalu dinanti.

Photo : Berempat untuk berpisah / dokpri.

Disadari atau tidak, ternyata memang cukup lama berada di Biro yang menaungi pembinaan Badan Usaha Milik Daerah. Meskipun setiap dua tahun sekali berpindah bagian, tetapi total di 3 jabatan ini ternyata memakan waktu 6 tahun. Waktu yang cukup panjang dan penuh makna serta asa.

Secara tergesa jemari tergerak mengabadikan momentum kebersamaan dengan meramu video dengan sumber photo-photo di hape lalu upload di youtube… ternyata…. banyak yang komplen karena dianggap tidak termasuk kenangan… padahal… memang baru sebagian photo-photo ditampilkan karena alasan data kepenuhan sehingga berganti memory card.

Tenang kawan, akan ada video lainnya dengan cerita ‘AKW di Biro BUMD‘. Sekarang sedang berjuang mengumpulkan kembali photo-photo lainnya yang sudah berserak ditempat yang berbeda.

Ya, disebutnya Biro BUMD saja ya. Karena seiring perjalanan kedinasan, nama biro ini sudah berganti 4 kali….

Jadi, nanti ada cerita lainnya yaa….. sekarang mah yang pengalaman terdekat saja dulu yaaa…..

Photo : Jalan pagi terakhir di Biro / dokpri.

Juga yang tak kalah penting adalah memetakan tugas-tugas di jabatan lalu sekaligus bersiap beradaptasi dengan lingkungan baru yang menantang karena dunia eh bidang berbeda dengan pekerjaan selama ini.

Selamat menjalani dan mensyukuri hari ini dan mengharap berkah untuk hari esok. Bismillah.Wassalam (AKW).

TIPS PERJALANAN DARAT BDG – SMG PP Di MASA PANDEMI

Tips sederhana tapi bermakna.

Photo : Suasana Simpang lima Kota Semarang / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Kali ini tergerak hati untuk berbagi sekaligus menggerakkan jari mengetik kembali di keyboard virtual pada smartphone kesayangan. Tema yang dipilih adalah berdasarkan pengalaman, meskipun hanya sejumput cerita tapi semoga memiliki manfaat dan guna.

Tema kali ini adalah TIPS PERJALANAN DARAT DI MASA PANDEMI COVID19.

Mengapa menjadi tergerak menulis, karena jangan sampai niat baik kita mengerjakan tugas dalam sebuah perjalanan kedinasan berujung dengan nestapa karena terpapar oleh virus seribu rupa. Apalagi jikalau ternyata menjadi OTG, dan menularkan kepada keluarga terdekat kita, suami atau istri, anak ataupun orangtua, Audzubillahimindzalik….

Maka inilah TIPSnya kawan, dengan contoh kasus perjalanannya adalah dari Kota Bandung ke Kota Semarang lalu bermalam 2 hari dan kembali pulang setelah tuntas pekerjaan. Apalagi yang bikin agak nggak karuan adalah pada saat hadir di Kota Semarang ternyata sedang gelombang kedua peningkatan penyebaran Covid19 di Jawa Tengah, makin deg degan lah… sport jantung teh beneran guys.

Inilah langkah-langkah yang dilakukan :
00. Sebuah Doa perlindungan senantiasa terpanjat kepada Allah SWT dari pandemi dan juga keselamatan & kelancaran perjalanan adalah yang utama.

0. Lakukan tes swab antigen dahulu sebelum berangkat, selain memastikan kondisi kita juga sebagai pegangan jikalau diperbatasan antar wilayah atau pas masuk kota tujuan ternyata diwajibkan membawa bukti tes tersebut.


1. Persiapan perlengkapan pribadi, perlengkapan ini diantaranya : aneka handsanitizer, disinfektan semprot, sarung tangan, plastik, masker medis, fave shield, tissue basah, cairan alkohol, vitamin C dosis tinggi, vitamin B complex, tissue alkohol, minyak kayu putih dan plastik kecil. Baju dan pakaian secukupnya saja sesuai dengan sebentar lamanya di perjalanan dan di kota tujuan.

Photo : Perlengkapan pribadi anti covid19 / dokpri.


2. Isi penuh BBM dan e-tol card sebelum berangkat. Pengalamanku kemarin Bandung – Semarang PP, eh nginep 2 malam itu habis etoll sekitar 800ribu dan BBM 1jt, berarti sekitar 1,8 juta.


3. Bawa makanan ringan, air mineral dan makanan berat yang praktis seperti leupuet, buras, popmie, roti-roti dan sebagainya.


4. Hindari berhenti di Rest Area, jikalau terpaksa kebelet pipis, maka bawa hand sanitizer dan tissu basah plus tissue kering sendiri. Di toilet umum rest area hati-hati dengan persentuhan tak sengaja dengan badan orang lain.


5. Pemesanan dan pembayaran Hotel secara Online. Ini sih udah biasa jadi tak perlu dibahas lebih terperinci.


6. Setiap bersentuhan dengan benda apapun maka langsung gunakan hand sanitizer atau cuci Tangan.


7. Pesan makanan secara online atau gunakan fasilitas home service di hotel. Untuk menu sarapan pagi dipastikan ada pelayan yang memberikan pelayanan serta senantiasa membawa hand sanitizer di botol kecil.


8. Hindari nongkrong di cafe atau angkringan, sementara jangan tergiur dengan kuliner di kota tujuan.


9. Kegiatan meeting menggunakan masker dan faceshield juga disarankan berkemeja atau batik lengan panjang.


10. Batasi durasi pertemuan, koordinasikan secara diplomatis dengan tuan rumah.


11. Jikalau harus makan siang bersama, pilih rumah makan yang terbuka, sehingga sirkulasi udara tersedia. Jaga jarak antar orang dan usahakan bergantian membuka masker dan makan sajian yang ada.


12. Hindari beredar di malam hari, gunakan waktu yang ada untuk beristirahat yang cukup di kamar hotel.

Photo : Simpang lima Kota Semarang / dokpri.


13. Jika dekat dengan lapangan atau jogging track, bisa lakukan jogging terbatas dan tetap menggunakan masker.


14. Pembelian oleh-oleh dapat dilakukan secara online melalui aplikasi Grab/Gojek dan dikirimkan ke resepsionis hotel. Pada saat check out diambil untuk masuk ke kendaraan, jangan lupa disemprot dulu dengan semprotan pembasmi virus/bakteri.


15. Jika mau menggunakan fasilitas hotel seperti kolam renang dan tempat fitnes sebaiknya pada saat sepi. Jika banyak pengunjung, disarankan dihindari.


16. Jangan pernah melepas masker dimanapun, apalagi jika sedang berhadapan dengan orang lain.


17. Tetap update info kepada keluarga terdekat via whatsapps atau telegram secara berkala kondisi yang ada.


18. Dokumentasi photo dan video tanpa diarahkan juga biasanya sudah otomatis kok, baik sebagai dokumentasi juga sekaligus pelaporan online ke jagad maya bahwa kita sedang ada dimana, bersama siapa dan sedang apa…..

Itulah trips trik dari kami, sebuah ihtiar dalam menjaga diri, menjaga keluarga dan rekan kerja dari paparan virus covid19 serbu rupa.

Photo : Menu sarapan & hand sanitizer / dokpri.

Ada poin ke 19, jika merasa belum yakin dengan kemungkinan menjadi pembawa virus. Setiba di kota Bandung maka segera lakukan Swab antigen untuk memastikan hasilnya. Bisa juga swab PCR tetapi berhubung hasilnya agak lama dan cukup mahal jikalau periksa secara mandiri maka diawali swab Antigen dulu sudah merupakan langkah bijak pencegahan sebwlum bersua kembali dengan keluarga tercinta. Wassalam (AKW).

TAKTIK KENCINGku..

Pengen kencing?… ada Tips nya Bro.

Photo : Refleksi Kaca Toilet Intercontinental Hotel / dokpri.

DAGO, akwnulis.com. Tatkala rasa ingin buang air kecil mendesak, maka otak bekerjasama dengan mata untuk mencari toilet terdekat. Harapannya jelas, agar segera membuang air kencing dan memberi kelegaan tersendiri.

Ahh nikmatnya….
Eh belum ketang, khan belum dapet toiletnya juga, gimana sihh.
Sambil tangan sibuk mengendalikan kemudi memundurkan kendaraan di tempat parkir, maka mata beredar melihat keadaaan, siapa tahu ada toilet terdekat atau rumpun perdu yang tersembunyi.

Ternyata tidak ada.
Ya sudah dengan sedikit tertatih berjalan menuju lobby hotel dan yakin di dekat resepsionis pasti ada toilet yang lengkap, lha ini kan hotel bintang lima.
Sesaat tiba dihadapan petugas satpam dan pegawai hotel, maka protap cek suhu dengan kamera thermal dan tampil suhu tubuh kita di layar disertai siluet tubuh kita. Juga penggunaan hand sanitizer agar semakin terlindungi, lalukan saja dengan sedikit meringis… takut ngompol di celana.

Photo : Barisan Urinour / dokpri.

Setelah ditunjukan arah toilet yang tepat maka setengah berlari menuju tempat yang sangat dinanti. Langsung buka pintu dan memilih urinoir yang agak ke sudut, lalu.. cerrrr.
(Urinour : tempat kencing)

Nah legaa…. Alhamdulillah.
Tapi kebingungan menghinggapi karena muncul kesulitan tersendiri. Sebab musababnya seolah sederhana, padahal tidak, ini menjadi masalah fundamental. Model urinoirnya yang canggih dengan sensor, ternyata mengatur air mengalir dan membilas kencing yang sudah dialirkan akan menyala manakala sensor tidak menangkap penghalang didepannya.

Dengan bahasa sederhana, manakala kita menjauhi urinoir, barulah air bilasnya keluar.
Lha nggak salah kan?… jadi bisa bilas setelah kita pergi dari urinoir?”

Dari sisi fungsi urinour mah bener, tapi dikala sebuah petunjuk yang diyakini bahwa harus membersihkan alat kelamin setelah kencing menjadi terhambat. Karena harus menjauh dulu dari urinoir, praktos musti tutup risleting celana dan mengembalikan posisi di dalam celana. Lha kapan membersihkannya??….

Inilah problem besarnya.
Tapi dengan tulisan santai ini ada beberapa tips yang ingin disampaikan, diantaranya :

Pertama, Sikap Pasrah. Ya sudah karena air bilasnya keluar setelah menjauhi urinoir maka tak perlu alat ini dibilas. Akibatnya menimbulkan keraguan dikala akan wudhu dan melakukan shalat, pertanyaan besarnya “Apakah bersih dari najis?”

Kedua, Sikap kompromi. Nah ini yang saya coba praktekkan. Jadi sebelum menuju urinoir maka bergeraklah ke wastafel dan mengambil 1-2 lembar kertas tissue.. ya tergantung kebutuhan. Basahi pake air dari keran dan bawa menuju urinoir. Setelah tuntas buang air kencing, maka kertas tissu basah ini sebagai pembasuhnya. Maka relatif lebih tenang, bahwa kemungkinan tercecer najiz sisa air kencing bisa di hindari. Lalu tinggalkanlah urinour, biarkan dia membilas dirinya sendiri.

Ketiga, Sikap Nekat. Ini masih dimungkinkan dlakukan dengan syarat di kamar mandinya sendirian. Caranya setelah tuntas mengencingi urinoir, maka sebelum tutup celana berlarilah menuju wastafel dan nyalakan kerannya lalu basuh kepunyaan dengan air yang mengalir. Jangan lupa tengok tengak kiri kanan. Jangan sampai ada orang lain yang melihat, nggak elok khan, ntar disangka kauk eksibisionis lho….

Keempat, Sikap sabar. Ini kalau masih kuat menahan kencing di urinoir, maka bisa tunggu bilik-bilik WC berpintu. Jika ada yang kosong masuk saja…. tapiii klo buat bilas airnya bukan bentuk keran dan kocoran maka… balik lagi rumus kedua. Manfaatkan kertas tissu basah yang ada

Photo : Tissu di Wastafel / dokpri.

Itulah empat sikap hadapi urinoir yang begitu adanya. Trus klo perempuan gimana triknya?… lhaa kagak tau atuh, khan aku mah cowok hehehehe.

Sebagai bonus dari aktifitas ini, sebuah refleksi di kaca besar wastafel, hadirkan gambar photo yang menarik (kata aku sih) dan mengobati kebingunganku menghadapi keberadaan urinoir ini. Selamat kencing Kakak, Wassalam. (AKW).

Senin selasa awal 2021

Yuk ah… Gaspol.

Photo : pembahasan Tugas 2021 / dokpri

DAGO, akwnulis.com. Senin adalah hari kemarin dan hari ini adalah hari selasa, jadi besok adalah hari… Rabu.

Apa sih malah menghitung hari, sudahlah cukup diwakili krisdayanti. Sekarang lebih baik menguatkan hati dan pikiran untuk segera bekerja di awal tahun yang (semoga) penuh harapan.

Senin kemarin sudah langsung di gebrak dengan briefing pimpinan yang tentu dilanjutkan dengan briefing teknis oleh anak buah pimpinan kepada anak buah dibawahnya dan dibawahnya lagi hingga buah yang paling akhir.

White board sampai tak kuasa menampung betapa banyak kata yang terhambur dari spidol boardmaker yang mencatat berbagai tugas, arahan dan juga curhat yang musti kita sama-sama jalankan.

Photo : Catatan Briefing teknis / dokpri.

Siangnya rapat virtual digelar dalam rangka menyongsong pemberlakuan e-sign alias tanda tangan digital dengan dilakukan coaching clinic online yang ramai.

Materi yang menarik karena bicara masa depan, dan para hadirin peserta rapat berusaha mengejar keberpahaman bersama demi menyongsong kemajuan jaman yang sudah ada didepan mata.

Nah terlihatlah bahwa diriku masih masuk golongan semi lanang celup bin barho, yaitu sebutan bagi pihak tertentu yang kesulitan menangkap materi yang disampaikan disisi lain setelah materi paparan tersampaikan… eh cepat lupa.. maka sebutannya ‘LAmbat NANGkap CEpat LUpa’ atau LANANG CELUP…. dilanjutkan kalau pas sudah bubar jadinya poho (lupa) jadi disingkat BARHO.

Entah siapa yang bikin istilah itu, tapi itulah singkatan yang mudah diingat dan susah terlupa bagikuu.

Maka mari kita saling mendukung dan mengingatkan serta mencoba memahami materi-materi paparan yang menarik dan berisi wawasan masa depan secara kolektif kolegial… eh kolektif dan penuh kebersamaan.

Photo : Lagi sibuk / dokpri.

Jadi hari pertama dan hari kedua kerja (resmi) di tahun 2021 langsung gasspoll…. dengan berbagai rencana dan juga penyelesaian sisa-sisa pekerjaan 2020 yang masih perlu penyempurnaan.

Tapi jangan lupa makan siang,…..tetap usahakan dilakukan tepat waktu, atau hampir tepat waktu. Tidak sulit karena memang sudah disiapkan bekal maksi oleh istri tercinta, tinggal ambil mistingnya, buka. Disajikan diantara tumpukan berkas yang terdiam tanpa kata.

Selamat bekerja di awal tahun 2021 yang (semoga) penuh harapan. Wassalam (AKW).

Pake MASKER Yuk.

Minimal pake MASKERnya Guys…

LEGOK EMOK, akwnulis.com. Liburan pergantian tahun disarankan untuk dihabiskan dengan bercengkerama bersama keluarga tetapi karena sebuah komitmen tugas sekaligus menjadi bodyguard ibu negara yang bertugas di instalasi gawat darurat yang juga rentan dengan kemungkinan hadirnya si covid19.

Jadi antisipasi pencegahan menjadi utama, masker tak pernah lepas dari wajah dan selalu menggunakan hand sanitizer atau mencuci tangan jikalau ada kesempatan. Apalagi pas pulang ke rumah, semua pakaian kotor langsung di rendam cairan detergen bersama dettol. Peralatan elektronik, dompet dan pernak pernik segera bergabung di mesin steril untuk menerima paparan sinar ultraviolet selama 10 menit. Tentu smartphone diusakahan dalam keadaan mati demi melindungi aplikasi dan berbagai komponennya dari paparan sterilisasi.

Mandi dan keramas sehari 3x sudah menjadi hal biasa, ini ihtiar sederhana manakala keluar rumah, kemanapun, sebentar atau lama maka wajib melakukan mandi plus keramas. Tujuannya sederhana untuk melakukan pencegahan, sebuah iktiar adaptasi kebiasaan baru dalam suasana dunia yang sedang dilanda pandemi.

Bosankah dengan rutinitas ini?”

Tentu bosan, apalagi orangtua dan anak yang praktis tak pernah keluar rumah. Tapi itulah sebuah kenyataan yang harus dijalani semua. Melatih kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi demi menghindari terpapar oleh virus yang tak jelas bentuknya tetapi nyata dampaknya.

Photo : Perlengkapan pencegahan / dokpri.

Nah, dikala melihat media sosial. Terlihat betapa banyak rekan-rekan, saudara-saudari yang beredar berwisata bersama keluarga besar juga tidak sedikit yang mengabaikan penggunaan masker atau pake masker tapi hanya hiasan… ah hanya bisa mengelus dada….. Inilah kenyataan yang ada.

Sulit memang untuk mengendalikan diri dari hasrat beredar dan bersua bersama keluarga, kolega dan handai taulan yang ada apalagi dalam momentum liburan yang memang cukup berharga.

Tapi, pengendalian diri bersama yang sebenarnya bisa mencegah semuanya. Sayangnya tidak semua miliki kendali yang sama, sebagian men-justifikasi bahwa beredar terbatas itu tidak mengapa. Padahal penyebaran covid ini sudah tidak pandang strata, siapapun bisa kena dengan dampak yang berbeda-beda.

Maka cara terbaik adalah kendalikan diri, kendalikan keluarga terdekat kita agar tetap patuh dengan protokol kesehatan yang ada.

Jangan terjebak oleh stigma bahwa orang yang mati-matian mencegahpun itu bisa kena. Itu ranahnya Takdir Illahi Tuhan Yang Maha Kuasa, tetapi jikalau kita sudah berusaha mencegah, insyaalloh hikmah dan berkah akan melindungi kita semuah….

Memang sekarang semua berbeda, serba terbatas dan penuh rasa khawatir yang mendera. Tetapi ingat kawan, kepedulian dan kedisiplinan kita yang akan membuat kita bisa melewati cobaan ini bersama.

Selamat berlibur panjang dan tetap menjaga diri dengan mengutamakan protokol kesehatan.

Minimal pake masker

Minimal itu….

Ah gemes deh, semoga semua diberi kesadaran untuk bersama-sama mencegah penyebaran dengan pengendalian diri dan tak banyak beredar.

Kalaupun harus beredar, maka bersih-bersih raga, peralatan dan juga jiwa ditenangkan sebelum kembali berkumpul dengan keluarga. Wassalam (AKW).

TEMAN TAPI BUKAN.

Hadir bersama bukan berarti harus memaksa.

JATINANGOR, akwnulis.com. Berdiam di balkon hotel sambil menikmati membirunya suasana di kolam renang terasa mendamaikan hati yang sedang terguncang.

Setelah sekian hari ternyata masih lekat dari ingatan bahwa persahabatan itu tidak abadi. Hanya kepentingan yang memiliki keabadian, itu istilah kawanku yang lain, kebetulan salah satu politikus negeri ini.

Tadinya berbagai harapan telah disematkan, gagasan untuk maju bersama menapaki dunia begitu jelas terpampang di depan mata.

Eh ternyata hanya beberapa kalimat saja yang meruntuhkan semuanya. Pondasi pertemanan luruh menjadi butiran kehampaan yang mungkin tiada akhir.

Rencana untuk membuat dan mewujudkan kebaikan di lingkungan masyarakat dan mengawal pemberdayaan bagi saudara yang kurang mampu sudah terpampang. Langkah-langkah sistematispun begitu rapih disusun bertaut saling melengkapi.

Namun apa daya, semua berbeda setelah diskusi kita malam lalu.

Ternyata semesta menyertai kejadian ini, dimana secangkir kopi berdampingan dengan segelas jus jeruk yang segar. Terlihat saling melengkapi dalam memenuhi selera rasa. Kopi sebagai penguat adrenalin dan jus jeruk menyegarkan sekaligus meningkatkan imunitas tubuh.

Tapi jikalau dicampur lalu diminum, maka bukan rasa enak yang akan hadir tetapi sesuatu rasa yang menyulitkan mulut dan lidah menerimanya.

Nggak percaya, silahkan coba”

Jadi marilah kita berdampingan dalam mewujudkan tujuan tanpa memaksakan harus bersatu atau berampur sehingga menghasilkan rasa baru yang nggak jelas dan membingungkan.

Berjalan seiring kewenangan dan saling membantu pada saat-saat diperlukan. Diluar itu tetap berada di gelas masing-masing. Bersiap disruput tanpa harus dicampur dan bikin ribut.

Selamat Libur panjang kawan, tetap di rumah dan terus berkarya. Wassalam (AKW).

Kopi Dini Hari.

Ayo semangat kawan…

Photo : Seduh dulu arabica java preanger bjb / dokpri.

KBB, akwnulis.com. Sebuah lantunan musik alami menyapa ujung telinga dan mata hati. Meskipun suasana begitu sepi dan penuh misteri. Alunan musik alami menghadirkan sebuah semangat baru yang menguatkan kembali sendi – sendi kegalauan yang begitu kuat mencengkeram.

Perlahan tapi pasti, kesadaran hakiki tentang perjalanan duniawi adalah menjalani takdir yang sudah ditentukan Illahi Robbi. Tetapi sebagai mahluk-NYA, mendapat celah perubahan nasib melalui perantara Doa.

Maka seiring musik alami dini hari, sentuhan air wudhu, untaian kata doa dan ihtiar untuk berbicara mohon ampun pada-NYA adalah keharusan.

Galau itu manusiawi apalagi menyangkut keluarga, anak istri, orang tua dan saudara. Tetapi galau itu tidak cukup menyelesaikan masalah. Tariklah nafas sejenak, tetap fokus dan ikhlas menghadapi semuanya…… serta yang terpenting adalah senantiasa berfikir hal-hal yang baik, positif thinking tea geuning.

Nah, untuk pendukungnya kembali sajian kohitala, kopi hitam tanpa gula. Menjadi pendamping setia dalam suasana suka dan duka. Apalagi sedang galau, cocok pisan lur. Cuma memang manual brew mah lama jadi perlu yang praktis.

Alhamdulillah, salah satu bos BJB di beberapa waktu yang lalu mengirimkan kotak hitam yang elegan, berisi kopi arabica hasil grinder siap seduh yang dikemas menarik bin praktis. Kopinya arabica java preanger.. Nuhun pisan pak Bos. Ini stok hampir terakhir.

Ada 2 bungkus lagi, langsung buka, pasang di gelas server dan seduh dengan air panas 150gr. Setelah itu lanjut sekali lagi dengan bungkus satu lagi sehingga tersaji 300 ml kopi hitam tanpa gula arabica java preanger yang harum menggoda.

Tak lupa setangkup doa atas kesempatan kehidupan ini, Keluarga yang saling mencintai, pekerjaan yang salung dukung hingga pertemanan yang luar biasa termasuk juga atas kekuatan-MU untuk tetap bisa menulis dengan hadirnya ide-ide yang memenuhi kepala, tiada lain tiada bukan adalah Karunia Sang Maha Pencipta.

Dini hari bergerak menuju pagi, ditemani sajian kopi yang menenangkan hati. Selamat menjalani kehidupan ini, Wassalam (AKW).

Arabica Puntang Harliman.

Lelah itu wajar, sruputlah aroma kehidupan.

KBB, akwnulis.com. Sejalan senja menyentuh rasa, sebuah asa menjalar dalam raga yang sedikit merasa kelelahan. Mungkin ini pertanda bahwa usia memang bukan untuk dilawan, tetapi disyukuri sambil terus memaknai segala perubahan dengan tasyakur keberkahan mengarungi kehidupan.

Lelah itu adalah niscaya manakala memang tetesan keringat bergulir karena beragam aktifitas. Baik secara phisik harus bergerak ritmik ataupun gerakan tak tentu yang akhirnya menguras tenaga dan usia tadi, ataupun menguras pikiran dalam rongga kepala untuk membuahkan sebuah keputusan dan konsep yang jitu dalam menjadi bagian sebuah solusi permasalahan.

Ada juga lelah rasa atau capai perasaan, ini yang lebih bahaya. Tidak terlihat tapi nampak, meskipun disembunyikan akan tetap terlihat betapa gelayut awan hitam beban kehidupan begitu kental tergambar di wajah yang penuh kesedihan. Ini lebih cape karena korbannya adalah perasaan, dan obatnya sangat bervariasi meskipun ujung-ujungnya adalah ikhlas dan sabar serta kepasrahan…. aduuh sedih akuu.

Tapi, itu bukan aku. Itu mah orang lain, aku mah cukup saja kecapean phisik dan kecapean mikir sesuatu aja. Terutama urusan kerjaan yang memang selalu ada banyak hal yang harus dikerjakan dan menuju perwujudan untuk dituntaskan.

Maka jangan lupa, jikalau lelah melanda dan waktu seakan begitu terbatas, jangan paksakan. Rehatlah sejenak dan tarik nafas sesaat, apalagi jika hadir sajian kohitala manual brew arabica puntang… maknyuus sudah.

Sruput….. arabica puntang Cafe Harliman pake metode manual brew V60.

Dengan panas 90° celcius dikala menyeduhnya, 15 gram beannya dan disesuh dengan komposisi 1 : 15 hadirkan sajian kopi hitam asli tanpa gula yang memiliki acidity medium high dan body tebal memahit khas arabica puntang serta dari sisi profile maka tetap hadir selarik mint dan rasa manis fruitty yang agak sulit dikala mencoba mendefinisi, pokoknya enak pisan…. sruput lagiii.

Insyaalloh lelah hilang berganti semangat gemilang, untuk lanjutkan menuntaskan tugas yang bejibun tanpa batasan.. srupuut… semangaaat, Wassalam (AKW).

***

Arabica Wine Tangkuban Parahu.

Sruput kopinya dan hadapi masalahnya.

Photo : Arabica wine Tangkuban parahu / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Gemericik hujan menjelang sore ini begitu mendukung suasana hati yang sedang gundah merindu, merindukan suasana damai tanpa banyak tekanan dan kewajiban.

Tapi itulah kehidupan, dikala semua seakan baik-baik saja. Disitulah sebuah hambatan hadir. Meskipun tinggal kita ambil pilihan, hambatan ini adalah penghalang atau hambatan ini adalah sebuah tantangan?…. pilihan tentu ditangan kita.

Meskipun ada sedikit tergoda untuk tidak ngapa-ngapain, karena ada prinsip ‘Sebuah masalah itu tidak akan sulit jika tidak dikerjakan‘….. jangan terjebak prinsip yang tidak jelas. Pengalaman membuktikan bahwa membiarkan masalah adalah menghasilkan masalah baru dan semakin menumpuklah dengan masalah-masalah di awal hingga akhirnya kewalahan.

Jadi, mari kita hadapi setiap tantangan dengan treatment masing-masing. Yang paling penting adalah identifikasi dulu apakah masuk kategori urgent, berat dan berimplikasi luas, hingga yang sedikit bisa dijeda sehingga bisa menarik nafas untuk bertanya kepada semesta sebagai bahan jawaban yang dapat memberikan sejumput puas bagi sebagian besar pihak yang terkait.

Lho kok sebagian besar sih, bukannya semua harus puas?”

Dengan seringai riang, meluncurlah jawaban sakti, “Maaf kawan, Kami, Aku ini bukan alat pemuas hehehehehe”.

Tapi tetap berusaha lakukan yang terbaik untuk hadapi hambatan yang ada dan mengubah persepsinya sebagai tantangan, bukan halangan. Insyaalloh semua bisa dilewati, meskipun urusan waktu penuntasan tentu berbeda satu sama lain.

Sebagai mood booster dalam menghadapi tantangan ini, perlu dihadapi dengan kesabaran dan juga ketenangan….. nah urusan mencari suasana tenang, jangan lupa…. sambil nyruput kopi.

Photo : Sajian Arabica Wine Tagkuban parahu / dokpri.

Maka, pilihannya kali ini adalah arabica wine tangkuban parahu dengan metode manual brew V60. Dibuatin orang kali ini mah, mau bikin sendiri nggak sempet karena berbagai pertimbangan dan alasan… alasan terkuat mah hoream hehehe.

Tetapi karena dibuatin orang maka harus menerima kelebihan dan kekurangannya, begitupun sajian kali ini. Ternyata air panas yang dipake nyeduhnya dibawah 90° celcius.. jadinya hangat-hangat kuku saja. Padahal ….mm aku mah seleranya panas 90° celcius, tapi ya sudah nggak ada salahnya juga karena pasti alasannya adalah agar aciditynya lebih terasa dikala diseduh dengan suhu yang lebih rendah.

Tetap disyukuri saja karena bisa menikmati kohitala tanpa repot menyiapkannya.

Srupuuut…… bodynya medium dan aciditynya high dengan secubit rasa wine yang menggigit bibir diujung waktu. Profile sajiannya ada selarik rasa fruitty dan tamarind…. nikmaat.

Alhamdulillah kawan, suasana kebathinan relatif lebih nyaman sambil berusaha menyelesaikan beberapa urusan kerjaan yang perlahan tapi pasti bisa diselesaikan.

Selamat menikmati hari ini kawan. Wassalam (AKW).