EVAKIN, kerja, youtube & tiktok.

Hikmah evaluasi kinerja & EOM, jadi diajar youtube dan tiktok.

SUBANG, akwnulis.com. Melanjutkan tulisan tentang evaluasi kinerja bulanan bagi 12 BPR yang dipusatkan di satu tempat di Kabupaten Subang. Banyak suka duka dan cerita meskipun terkadang menuliskan dalam kalimat dan kata masih tersendat oleh kemalasan dan alasan kesibukan. Padahal memang sibuk dan agak malas nulis xixixixi….

Yang repot adalah persiapan acara dan lokasi meetingnya karena ini acara tatap muka perdana yang penuh dinamika dengan implementasi berbagai protokol kesehatan, lengkap bisa di baca di HIKMAH EVAKIN.

Disela-sela 4 hari tersebut, muncul juga tantangan lain yaitu kewajiban membuat testimoni video yang diunggah di channel youtube sebagai prasyarat kandidat EOM (employee of month) bulan agustus 2020 dengan batas waktu yang ketat…. wadaaw semangaat kakak…. tidak ada kata lain, yaitu SEMPATKANLAH.

Maka dengan segala kesempatan yang ada digelarlah syuting mendadak pake hape….. oalaaah, ternyata nggak cukup sekali… 5x gagal…. padahal cuman disuruh ngomong maksimal 1 menit… ampyun deh.

Alhamdulillah akhirnya bisa tuntas dan di upload di channel youtube, yang penasaran monggo di klik di PRASYARAT CALON EMPLOYEE OF MONTH.

Nah, ternyata efek sampingnya adalah melirik aplikasi lain yang berbasis video singkat dan ternyata lagi booming 3 tahun terakhir lalu hingga sekarang, yaitu TIKTOK.

Dulu pernah mencoba menginstal dan ikutan, tapi ternyata banyaknya hanya video singkat joget-joget nggak jelas dengan pakaian minim seperti berbikini atau baju tidur yang mengumbar syahwat…. langsung berhenti dan uninstal… unfaedah ini aplikasi.

Tetapi sekarang, pertimbangannya beda. Pertama dari sisi konten sudah variatif dan terdapat menu-menu pilihan minat ditambah sebagai bagian dari pengawasan terhadap anak dan ponakan yang beranjak remaja. Eh salah… anak masih balita… tapi juga udah seneng tiktokan…. nah ponakan-ponakan yang mulai ABG ternyata berkiblat di tiktok semuaaah….. jadi kita bisa ikut memantau konten-konten apa yang mereka tonton.

Maka dimulailah bikin akun baru serta upload video pendek kita…. caiooooo….. dan video yang diupload adalah dokumentasi kegiatan singkat baik kedinasan ataupun tentang hobby keseharian seperti urusan menikmati kohitala dan makanan yang menggugah selera dilengkapi sedikit kata-kata dan musik yang sudah tersedia……

Yang penasaran hasilnya silahkan di klik saja di :

1. EVAKIN BPR KARYA UTAMA

2. EVAKIN BPR INTAN JABAR

3 EVAKIN BPR MAJALENGKA JABAR

4. EVAKIN BPR CIPATUJAH JABAR

5. EVAKIN BPR CIANJUR JABAR

yang lainnya masih proses…. maklum amatiran hehehehehe.

Selamat menikmati dan bersama-sama menapaki perubahan zaman terutama era me-youtube dan tiktokan. Wassalam (AKW).

Hikmah Jumpa Evaluasi Kinerja.

Sebuah hikmah dari pertemuan terbatas evaluasi kinerja.

Photo : Sesi Evakinbul PT BPR Majalengka Jabar / dokpri.

SUBANG, akwnulis.com. Perjalanan selama 4 hari yang lalu penuh dinamika dan suka duka. Diawali dari sebuah ‘nawaètu‘ memenuhi aspirasi beberapa pihak yang berharap bisa bertatap wajah bertemu phisik secara langsung karena di bulan – bulan yang lalu pertemuan terjadi hanya di layar laptop, PC dan smartphone dengan sebutan virtual meeting yang katanya ‘kurang chemistry karena tidak hadir dihadapan mata dan hati’ heuheuheu.

Padahal itu semua karena sebuah alasan mulia dalam menghindari penyebaran pandemi covid19 yang begitu masif tak pandang bulu bulu apalagi dalam agenda kerumunan yang membuat lengah siapapun jikalau sedang ‘meriung‘ bersama.

Nah, 4 hari ini…. eh 4 hari lalu dicoba dengan menerapkan konsep meeting yang sangat ketat menerapkan protokol kesehatan pencegahan covid19 jikalau berkeinginan hadir. Pertama adalah konfirmasi wilayah kerjanya bukan zona merah apalagi zona hitam. Bawa hasil rapid test terbaru dengan hasil non reaktif (inginnya hasil tes usap, tetapi lama hasilnya).

Photo : Cuci tangan dulu / dokpri.

Lalu di lokasi acara, disiapkan pengaturan kursi berjarak, tempat cuci tangan sebelum masuk ruang pertemuan. Di dalam di setting meja panjang 2 buah yang berpembatas plastik tinggi untuk menghindari droplet beterbangan selama diskusi. Serta semua wajib menggunakan masker medis plus face shield, bisa bawa sendiri ataupun pakai yang sudah tersedia di goodybag kesehatan yang disiapkan oleh PT BJB Tbk.

Pertemuan maksimal dilakukan hanya 7 – 8 orang serta durasi pertemuan paling lama 60 menit. Diusahakan seminimal mungkin kontak phisik, kontak berkas dan kontak bathin. Sehingga terkadang ada muncul rasa akward dan lucu manakala rapat dimulai dan semua pake face shield, masker dan setiap 15 menit menuangkan hand sanitizer ditangan demi sebuah pencegahan.

Photo : Sesi Evakin PT BPR Karya Utama Jabar / dokpri.

Setiap berganti peserta meeting maka pasukan langsung bersihkan meja kursi dengan penyemprotan anti bakteri. Menata kembali dan bersiap memanggil peserta meeting selanjutnya yang datang dari seantero wilayah jawa barat.

Selain itu, yang tidak bisa hadir langsung maka kegiatan evaluasi bulanan tetap berjalan melalui video conference dengan memanfaatkan waktu yang sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Alhamdulilah, 12 BPR tuntas dilakukan evaluasi, tersisa 3 lembaga yang akan dilaksanakan via virtual meeting karena wilayahnya telah diterapkan PSBB yaitu di provinsi Banten.

Ucapan terima kasih tiada hingga bagi jajaran Direksi beserta staf dan Komisaris PT BPR Karta Utama Jabar yang telah all out memfasilitasi 4 hari kegiatan ini di wilayah Ciater Subang sehingga kegiatan evaluasi kinerja bulanan berjalan lancar tanpa halangan berarti.

Hikmah yang ada adalah kerinduan sedikit terobati karena bisa jumpa, meskipun dengan segala pembatasan yang ada. Hikmah lainnya adalah melatih diri untuk cepat beradaptasi dalam bersikap dan berperilaku dalam koridor AKB berdasarkan prinsip protokol kesehatan pencegahan cobid19 eh covid19 dan akhirnya adalah dapat memotret profile lembaga secara komprehensif dalam turbulensi usaha kali ini serta peran komisaris dalam mengawasi dan menasehati menjadi perhatian tersendiri.

Sebuah tahapan tatap muka terbatas ini relatif berhasil mengobati kerinduan perjumpaan secara phisik meskipun tanpa jabat tangan, pelukan formal serta cipika cipiki… apalagi berkerumun. Semua dibatasi demi sebuah ihtiar hakiki selama masa pandemi. Wassalam (AKW).

Bakakak.

Semangat pagi, sambil menulis sesuatu yang miliki arti.

Photo : Bah Enyeng bersiap2 / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Pagi yang cerah menemani kepenasaran tentang sebuah kata yang dari tadi siang mengganggu pemikiran, yaitu kata ‘bakakak‘.

Yang paling umum kata bakakak ini hadir dalam ritual rangkaian upacara adat prosesi pengantin sunda, dimana bakakak ini adalah ayam yang sudah diolah sedemikian rupa dan disajikan tanpa dipotong dan dalam upacara adat ini pasangan pengantin akan berebut dengan memegang paha kanan dan paha kiri. Maksudnya paha ayam ya, bukan paha mertua yaa…. ups.

Nah, dalam perebutan ini sering dikait-kaitkan dengan hasil yang terbanyak, jikalau salah satu mempelai hanya kebagian pahanya saja sementara paha satunya berikut seluruh badan berada di pasangan mempelainya, itu adalah pertanda rejeki yang banyak berpihak pada mempelai yang mendapatkan bakakak paling besar…. wallahualam, yang pasti sih, prosesi tarik-tarikan bakakak ini penuh dengan keceriaan dan tak jarang memancing gelak tawa hadirin, sehingga suasana akrab terjalin dari para tamu dan tentunya kedua mempelai beserta keluarga besarnya.

Photo : Bakakak sudah siap / dokpri.

Klo versi wiki wiki eh wikipedia, bakakak ini berasal dari istilah orang jawa yaitu bekakak yang artinya hasil penyembelihan hewan dan manusia yang bentuknya mirip posisi sedang bersila.. coba aja ayam gorengnya disajikan tanpa dipotong…. maka terlihat seperti sedang bersila. Disajikan untuk sarapan atau juga bisa untuk makan siang dan makan malam.

Kenapa ngomongin bakakak om?”

Lha, suka-suka penulis atuh. Kebetulan memang bakakak ini yang menjadi kepenasaran karena baru-baru saja menemukan tempat makan yang menyajikan bakakak dengan ukuran, rasa dan suasana berbeda. Juga favoritnya bukan bakakak ayam tetapi bakakak entog alias bebek dengan ukuran jumbo.

Sajian bakakak ini dibakar mendadak guys, bukan di goreng. Jadi perlu sedikit bersabar menunggu prosesnya. Tapi jangan salah, meskipun tempatnya sederhana, lesehan dan duduk di papan, urusan rasa dijamin tak kan kecewa, enak pisan dengan 3 pilihan sambal yaitu sambal dadak, sambal terasi dan sambal kecap… maknyuus. Lengkap dengan daun lalapannya sintrong dan pucuk teh hijau.

Photo : Setelah dipotong-potong siap dinikmati / dokpri.

Lokasinya di daerah Jalan cagak Subang menuju Kasomalang, tepat di pinggir kebun teh. Cari aja warung sederhana Bakakak Abah Enyeng, dijamin tidak kecewa.

Bakakak yang diproses tradisional, dicuci bersih, diberi bumbu dan dibakar menggunakan bara arang, setelah itu langsung disajikan.

Selamat menikmati… eh membayangkan makan bakakak ya guys. Jangan lupa, 3 macam sambalnya dicoba. Semangaat pagiiii… Wassalam (AKW).

Dilema Hati.

Itulah kehidupan, pasti ada kesedihan.

BANDUNG, akwnulis.com. Pagi yang sebenarnya ceria tiba-tiba berubah drastis menjadi duka. Betapa semangat awal yang menggelora harus terhapus sirna tanpa kata karena pemandangan yang tersaji di depan mata.

Dia tergolek lemah tanpa bisa menggapai rasa, disampingnya sebuah harapanpun terdiam ditemani kesunyian. Sungguh dilema mendera hati tetapi konsekuensi kerasnya kehidupan memang tidak pandang bulu. Besar kecil menjadi relatif manakala hukum rimba menjadi kuasa, tapi itulah kenyataan yang ada.

Dilema mendera rasa, hati tersiksa tapi itu nyata. Bukan tidak ingin kejadian pagi hari ini mewujud dihadapan mata, tetapi sebuah dampak yang hadir karena kenakalannya beresiko terhadap banyak hal. Mau tidak mau pertimbangan diberikan sanksi setelah sekian purnama melakukan pelanggaran adalah keniscayaan.

Akhirnya dapat ditemukan sosok yang selama ini bergerak lincah di gelap sepi menikmati makanan atau bahan makanan yang seolah sengaja tersaji, padahal disimpan untuk dinikmati di kemudian hari. Terjerat lemah di tengah alat perangkap ditemani sepotong indomie mentah yang ternyata bukan hanya disukai oleh manusia.

Maafkan semua ini harus terjadi, tapi itulah kehidupan tidak ada yang abadi. Hiks hiks hiks, Semoga ini adalah kejadian yang terakhir. Karena betapa sulit membangun semangat jikalau kita terpuruk dalam kesedihan. Menjumputi serpihan harapan dan merajutnya menggunakan perekat kepercayaan. Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

Kopi Pagi

Yuk ah…. ngopay lagi.

Photo : Kopi pagi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala mentari hadir dengan kehangatan hakiki, disitulah sinergi abadi terulang setiap hari. Apalagi hari ini, birunya langit begitu memukau dengan aura ketenangan yang tiada tara. Sungguh nikmat karunia kehidupan dari Allah SWT yang wajib disyukuri dan ditafakuri.

Hembusan angin yang lembut menyapa wajah hingga ke hati, menenangkan nurani dan memberikan tambahan semangat berbakti sesuai dengan tugas dan target hari ini, besok dan lusa lagi.

Maka jangan disia-siakan momentum ini, ambil kesempatan dengan meraih smartphonemu, bidik… abadikan…

Cekrek!…

Frame indahnya pagi yang membiru sudah berhasil terdiam di memori handphone. Dengan sentuhan kasih sayang teknologi, maka tanpa berlama-lama akan segera berkelana di dunia maya melalui proses upload di media sosial dengan beraneka tagar dan caption serta tring…..

…..menanti respon siapapun didunia sanaaa.

Eh ada yang lupa, ambillah secangkir kopi hitam tanpa gula dan abadikan bersama pagi yang ceria.

Hati-hati dengan penantian respon di medsos berupa like, jempol dan juga komentar. Biarkan itu berproses, jangan terjebak oleh banyaknya jempol dan komentar di medsos kita, karena itu adalah kenikmatan semu belaka.

Paling penting adalah sebuah nikmat syukur atas lukisan tuhan pagi ini sudah diabadikan dan tentu disyukuri dengan dzikir serta kerendahan hati.

Selamat pagi, selamat menyeruput kopi dan memaknai pahitnya kopi ternyata menyimpan manisnya rasa syukur yang sangat berarti. Wassalam (AKW).

Nambah Penghormatan.

Sesuatu yang dihormati bertambah.

CIKONDANG, akwnulis.com. Ternyata penghormatan dalam kehidupan terjadi pergeseran kawan. Penyebabnya jelas karena pandemi yang berkepanjangan. Jika selama ini sangat jelas diajarkan bahwa nilai-nilai moral sangat penting sehingga diajarkan di sekolah formal yaitu pelajaran PMP (pendidikan moral pancasila)…. “Uluhh ketauan umur kakak, sekarang udah nggak ada pelajaran itu”

“WHAT?”

Tapi tenang saja, secara kurikulum yang berlaku sekarang di sekolah dasar saat ini dengan basis kurtilas (kurikulum 2013) penguatan moral tetap menjadi salah satu bahan ajar wajib, tapi namanya bukan PMP lagi….

Ohhhh” hela nafas sedikit lega mewarnai turunnya tensi kegalauan yang khawatir terkait urusan permoralan yang semakin berbeda dalam proses edukasi anak ini, apalagi dengan adanya pandemi corona19 maka pembelajaran di rumah menjadi tantangan bagi orangtua, apalagi jika kedua orangtua bekerja…. “Curhaaat yaaa, moo ngomongin apa sih?”

Photo : Hormati Televisi / dokpri.

Eh iya kok jadi agak melebar, sebenernya hanya ingin menulis tentang kenyataan saat ini dimana penghormatan itu bertambah lho, bukan hanya kepada orangtua, guru, orang yang lebih tua, pasangan hidup, sebaya, bawahan, anak juga orang yang umurnya lebih muda… pokoknya semua memang harus dihormati sesuai proporsinya… meskipun orangtua adalah yang paling utama. Karena miliki hak veto dalam bentuk doa yang bisa membuat Allah SWT merubah nasib atau malah takdir kehidupan kita.

Udah ah jangan banyak teka teki, jadi yang musti dihormatin sama kita nambah?.. emangnya siapa?”

“Bukan siapa kawan, tetapi apa?”

“Hah?”

Tidak usah penasaran lagi kawan, seiring rangkaian Hari Ulang tahun kemerdekaan Republik indonesia ke75 dan dirangkaian 2 hari kemudian dengan hari jadi provinsi jawa barat maka yang banyak dihormatin oleh warga jawa barat baik masyarakat umum, tokoh masyarakat, berbagai unsur pemerintah pusat, ormas, parpol, dprd dan banyak lagi… eh juga khususnya pegawai negeri ada 5 buah yang sekarang nambah…. dihormati bareng2 lho…. enam malah, nambah satu dari om lucky.. aslinya 6 hal yang harus dihormati.

Photo : Hormati Laptop / dokpri.

Yaitu……….. 1.Komputer PC, 2. laptop, 3.Televisi, 4. Layar putih dan atau 5. Dinding yang disembur gambar dari proyektor atau infokus …. dan satu lagi 6. HP/Smartphone. Semuanya menjadi benda-benda yang sangat dihormati di minggu ini. Dihadapan kelima benda ini, semua terdiam dan serius serta diakhiri dengan penghormatan tertinggi dengan mengangkat tangan kanan dan meletakkannya diatas alis kanan dengan diawali aba-aba, “Hormaat Graaak!”

Iya bener juga, malah aku mah menghormatinya dengan menggunakan jas dasi dan baju putih berkopeah tapi bawahannya pake sarung tanpa alas kaki.

Lhoo nggak sopan ih”

Aman atuh, khan yang masuk dilayar hanya perut ke atas hehehehe….

Oke deh, yang penting tetap saling menghormati.

Itulah celoteh receh tentang sesuatu yang menjadi tambahan penghormatan dalam minggu ini. Happy wikend kawan, udah sekarang kembali ke rutinitas kebersamaan dengan keluarga, jangan melulu sikap sempurna dan menghormati terus laptop atau televisimu hehehehe, Wassalam (AKW).

LONCAT MERDEKA 75

Merdeka dan loncatlah….

BANDUNG, akwnulis.com. Upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 75 tahun ini, 2020 dilaksanakan sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pelaksanaan upacara di setting sedemikian praktis dari sisi tata upacara dengan tetap berpegang kepada tata cara upacara hari besar nasional. Yang paling menonjol adalah kehadiran peserta, hanya sedikit orang yang ada di tempat upacara. Ini semua ihtiar kita semua dalam menjalani protokol kesehatan di masa pandemi virus corona19 yang terus mengobrak abrik sendi-sendi kehidupan masyarakat dunia.

Tetapi tidak usah berkecil hati kawan, pelaksanaan upacara tetap bisa berjalan, tetap khidmat dan menyebarkan aura cinta bangsa dan semangat mengisi kemerdekaan dengan slogan nasional INDONESIA MAJU. Tentu dengan kehadiran disebar ditempat yang berbeda demi prinsip phisical distancing dan jaga jarak… eh eta eta keneh. Nah.. dengan kemajuan teknologilah kita semua bisa tetap ber-Upacara meskipun sebagian besar menatap layar televisi atau layar putih infokus juga layar laptop masing-masing.

Kenapa tidak?.. inilah salah satu adaptasi kebiasaan baru kita. MERDEKAA….

Pelaksanaan upacara yang dijadwalkan selama 2 jam, diawali pukul 08.00 wib hingga pukul 10.00 wib ternyata bisa dilaksanakan lebih cepat, cukup 60 menit saja semua tuntas. Jika tahun lalu lebih lama dan semua terkonsentrasi di lapangan Gasibu Bandung serta lengkap dengan kehadiran peserta yang mencapai ribuan, aneka persembahan tarian tradisional dan paduan suara dengan lagu-lagu tradisional setelah acara upacara utama, tahun ini berbeda. Tapi itulah kehidupan, dinamis dan tetap harus optimis.

Meskipun upacara virtual, kami tetap hadir bersama seluruh pejabat struktural, berpakaian resmi baik jas dasi ataupun berbaju korpri serta tak lupa peci hitam bagi laki-laki…. Hidup NKRI.

Setelah rangkaian upacara tuntas, ada jeda waktu bersama yang harus di manfaatkan sebaik-baiknya.. apa itu?… sesi PHOTO BERSAMa…. berangkaaat, cari spot photo yang keren kawan.

Lantai 5 lah yang menjadi pilihan, alias rooftop… di lantai paling atas semuanya bersiap. Awalnya tentu photo bersama dengan posisi jaim bin formal, tetapi tak butuh berapa lama… segera hadirkan pose merdeka dan diwakili dengan meloncat bersama.

Ciaaat….

Jump….

Jleng…

Huuupp…

Semua bergantian berloncatan memperlihatkan keahlian diri, atau loncat kompak dengan berbagai gaya.. yang penting semua bahagia.

Itulah ekspresi ceria meskipun kondisi pandemi melanda. Situasi ini bukan untuk diratapi, tapi mari beradaptasi dan tetap bekerja serta berbakti.

DIRGAHAYU INDONESIAKU

HIDUP NKRI

INDONESIA MAJU

HUT KE 75

TAHUN 2020.

Selesai sesi photo loncat, maka kembali ke aktifitas kerja. Wassalam (AKW).

Renungan Suci Kemerdekaan 2020

Renungan Suci Virtual 2020 & perjalanan memori.

BANDUNG, akwnulis.com. Gelapnya malam tidak menggoyahkan semangat untuk kembali mengingat jasa para pahlawan yang berjuang dengan gagah berani, penuh pengorbanan baik harta, jiwa dan raga untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa indonesia tercinta 75 tahun lalu. Tepatnya tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Republik Indonesia di proklamirkan.

Malam menjelang 17 agustus tahun ini berbeda kawan. Tidak lagi menggunakan jas dasi dan kopeah hitam, berkumpul di gedung sate dan dilanjutkan perjalanan bersama menuju Taman Makam Pahlawan untuk mengikuti upacara renungan suci tepat pada pukul 00.00 wib.

Malam ini hanya perwakilan yang bisa hadir melakukan upacara terhidmat dan berbalut keheningan di tengah malam. Memberikan penghormatan kepada para pahlawan yang telah gugur di medan laga sekaligus seluruh pahlawan yang berjasa dalam meraih dan mengumandangkan kata ‘MERDEKA‘.

Sekaligus menguatkan diri dan mengingatkan jiwa untuk mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya termasuk berjuang menjalani protokol kesehatan dalam masa pandemi covid19 yang menjadi masalah manusia di muka bumi kali ini.

Untuk mengobati kerinduan berkhidmat bersama dalam upacara renungan suci, maka mencari catatan digital begitu nudah adanya… yaa mudah soteh klo memang pernah menulis, kalau tidak mah yaa… bablas angine hehehehe…. ternyata arsip digital catatan pribadi dari tahun-tahun yang lalu ternyata masih ada dan tersimpan dalam arsip jagad maya.

Meskipun hanya catatan di tiga tahun terakhir, bukan berarti tahun-tahun sebelum itu tidak ikut renungan suci…. ada juga arsip catatan 2012 meskioun maaih di blog gratisan…. Alhamdulillah Tetap setia mengikuti renungan suci tetapi memang minim dokumentasi.

Inilah link catatannya :

1. Tahun 2012 berjudul ULAH SOMPRAL

1. Tahun 2017 berjudul RENUNGAN SUCI 2017

2. Tahun 2018 berjudul TMP CIKUTRA 2018

3. Tahun 2019 berjudul MERDEKA 170819

Selamat merenungi malam yang semakin menggelap, tetapi gelora semangat kemerdekaan terus bergelora dan penuh semangat menyongsong esok yang lebih siap dalam hadapi ujian pandemi covid19 setahap demi setahap. MERDEKAAAAA, Wassalam (AKW).

CEMBURU & Kenikmatan.

Cemburu itu bumbu, syukur itu nikmat.

Photo : Es campur spesial / dokpri.

GARUT, akwnulis.com. Panasnya siang menyebar kegerahan dari segala penjuru angin, apalagi ditambah hati yang sedang terbakar api cemburu, betapa terasa panas membara luar dan dalam.

Langkah kakipun terasa berat tanpa arah dan tujuan, hanya setitik semangat saja yang masih membuat bertahan, niat untuk membalas dendam.

Tetapi ternyata, waktu dan kenyataan sering tak terlihat tetapi dibalik itu kompak menyelenggarakan pertemuan mini dan berdiskusi meskipun sedikit pihak yang dapat mengamati. Membahas banyak hal, termasuk bagaimana caranya menenangkan sejumlah hati yang hampir gosong terbakar api kebohongan dan penghianatan.

Disinilah sang waktu dan kenyataan bersatu, mengabdikan diri menjadi wujud sebuah momen yang menyenangkan dan berbekas mendalam dengan segala keindahan dan kedamaian. Juga hasil akhirnya adalah hilangnya dendam dan berganti menjadi perasaan kasih penuh sayang.

Sebagai awalan, sajian penyejuk hati adalah sebuah minuman es campur yang dikemas diatas kelapa muda yang dibelah mendadak begitu rupa. Rasa manisnya menggugah rasa ditambah kesegaran alami buah kelapa dan dinginnya es batu yang melingkupinya hadirkan sejumput damai dan dinginkan perasaan.

Selanjutnya sajian makan siang yang begitu banyak pilihan, tak bisa mengelakkan wajah terhadap ikan goreng yang berdiri menantang. Seolah memberi peluang untuk mencurahkan dendam dan kemampuan.

Photo : Wajah mupeng versi Aa Riz / dokpri.

Wajah yang sulit dikontrol terlihat absurd dihadapan sajian makan siang. Lidah menjulur kecil dengan mata menatap tajam penuh harap, bagaikan kucing yang rindu kriuknya ikan gurame goreng. Tenang, nanti kebagian kawan.

Itulah momen pertemuan yang mendamaikan. Hati dan rasa tidak lagi membara karena diberi treatment dingin yang menyenangkan. Dilanjutkan dengan pendekatan kekenyangan sehingga tidak terasa, hanya bisa bersandar tanpa banyak kata-kata.

Mamam yuk… nyam nyam nyam.

Piring dan mangkuk tandas tiada sisa, kecuali duri-duri dalam daging serta seonggok penyesalan. Wassalam (AKW).

Note : Nuhun jamuannya Mr D&D

TEST SWAB – fbs

Ngiringan ah, tapii…

Photo : Ilustrasi Swab test / dokpri.

*)Sebuah tulisan fiksi super singkat berbahasa sunda, terinspirasi dari kegiatan tes SWAB yang dilakukan senin lalu.

BANDUNG, akwnulis.com. Ti peuting mula geus hemar hemir, sarè gulinggasahan. Teu puguh nu dirasa. Uteuk cus cos pinuh kahariwang. Jaba huntu nyanyautan.

Nepi ka tempat gawè geus ngagimbung loba jelema, babaturan sakantor nu keur maroyan bari nungguan panggilan keur di pariksa SWAB babarengan. Pikeun mastikeun positif henteuna kajangkit ku panyakit ahèng, korona.

Asup ka rohangan pamariksaan, beuki gegebegan. Huntu nyanyautan, hatè sèsèrèdètan. Teu loba ngeusi formulir da daftarna onlèn, sekèn barkod, asup wèh.

Diuk dina korsi, sirah ngadangheuak. Liang irung beulah katuhu dirojok nepi kana puhuna, gètèk asa digèrèan. Pilèhoeun meunang ngarojok tèh diasupkeun kana tabung leutik.

Geus kitu petugas ngadeukeutan. Muka masker uing bari nitènan jero baham. “Kang, anjeun positip….”

Gebeg tèh asa dibentar gelap. “Nyaanan Pak?” Uing nanya bari carinakdak.

Leres Kang, tapi ulah ceurik da lain positip korona, tapi positip koropok”

Saharita nyanyautan leungit, rarasaan hègar. Dunya caang baranang, Alhamdulillah. Nuhun. Cag. (AKW).