HOAX yg NIKMAT

Ternyata Hoax ini mah beda euy.

JAKARTA, akwnulis.com.  Sebuah pertemuan yang mengantarkan raga bergerak ke ibukota. Secarik undangan menjadi dasar bahwa kehadiran adalah sebuah keharusan. Apalagi berkaitan dengan anggaran negara, semua harus hati-hati, teliti dan betul – betul mempelajari regulasi yang sering berubah dan  berganti.

Namun kembali, cerita tentang kerjaan maka tertuang dalam laporan. Kotretan resmi dan sesuai naskah dinas akan hadir sebagai nota dinas. Namun kesempatan hadir di pinggir pantai ibukota negara tepatnya di daerah ancol harus dioptimalkan dengan berbagai aktifitas.

Trus ngapain aja bro?”

Gampang jawabannya, yang pertama disaat sesi istirahat sore menjelang malam segera bergerak dengan skuter (suku muter) atau jalan kaki dan usahakan minimal 6.000 langkah.

Diitung perlangkah gan?”

Ya enggak atuh, khan ada teknologi. Cukup pake gelang smartfit dan ber-skuterlah. Maka hitungan akan berjalan. Lalu supaya skuternya full motivasi, search dulu cafe kopi seputar ancol yang menjadi srandar tujuan. Nyalain googlemap, lets go.

Langkah mantabs bergegas menyusuri pinggir pantai, masih berbaju kemeja dinas ‘smiling west java’ tapi sepatu slip on karena pasca operasi ternyata belum bisa pake sepatu biasa.

Setting tujuan diperkirakan 30 menit saja, biasanya cukup 6.000 langkah. Kalau kurang ya ditambah lagi aja. Gitu aja kok repot.

Nah, perjalanan inilah yang menemukan sebuah nilai penting. Yaitu cerita tentang HOAX. Kita tahu semua bahwa Hoax ini sering menyengsarakan karena berupa berita bohong dan menyesatkan. Bisa membuat kegaduhan di keluarga, kedinasan, masyarakat juga bangsa dan negara.

Tapi Hoax kali ini berbeda, karena ternyata ini adalah HOAX yang nyata kawan. Ceritanya setelah perjalanan dari hotel mercure – putri duyung cottage – bunderan Symponi of the sea – danau ancol hingga Bandar Jakarta – Colombus cafe – Le Bridge – dan ada yang menarik yaitu sebauh Cafe dengan nama HOAX, cuma karena target langkah nelum terpenuhi  lanjutkan skuternya sampai ke Ereveld Ancol (Dutch War Cemetery Ancol)….. tapi pas mau naik jembatan yang membelah pantai, kok serasa nggak enak hati. Apalagi suasana agak temaram dan sepi.

Ya sudah balik kanan dech, lagian sudah 6.321 langkah. Mencari mushola lalu bergerak kembali ke arah tadi berangkat. Cafe HOAXlah yang menjadi tujuan.

Alhamdulillah, tempatnya nyaman dan pilihan menunya variatif, bukan hoax guys. Lalu yang paling penting adalah ada sajian kopi meskipun kopi berbasis mesin. Lumayanlah, cafelatte bisa menemani kesendirian pada malam hari ini.

Jadi sekali lagi, di daerah ancol inilah baru menemukan nama hoax yang bermanfaat. Srupuut gan. Wassalam (AKW).

KOPI PENDOPO GARUT

Dari colokan dan kopi hingga gebyar acara garut bersama para penggede dan bupati.

GARUT, akwnulis.com. Ba’da magrib suasana pendopo Bale Pamengkang mulai ramai karena menjadi tempat stop over bagi para tamu undangan. Maka diri ini berusaha menyegerakan diri untuk tiba dengan satu tujuan yang sangat penting dan menyangkut hajat hidup diri pribadi. Karena jika telat, kegalauan akan melanda termasuk membagi rasa khawatir kepada keluarga dan pihak – pihak yang berkepentingan.

Jadi penasaran, jadi ngapain duluan ke pendopo alias rumah dinas bupati?” Pertanyaan kepo kembali menghampiri.

Jawabannya singkat, “Nyari colokan listrik buat ngecharge hape hehehehe”

Ya ampuuun, gitu aja jadi strategis”

Lha memang strategis kawan, karena akan memperpanjang batere hape ini untuk terus hidup dan menemani dalam eksistensi diri. Status medsos bisa update terus, istri nggak khawatir karena whatsapss dua ceklis biru dan dijawab. Bos juga mudah kalau mau menyuruh. Periksa berkas, paraf dan tanda tangan dital bisa berjalan. Transfer urusan cuan bisa lancar hingga kesenangan menulis dan bikin video amatif untuk muncul di kanal youtube-pun tetap jalan. Jadi itu yang namanya strategis kawan, jadi lets go, cari colokan.

Sedikit basa basi dengan petugas protokoler hingga akhirnya menemukan sudut strategis tadi yang terlindungi beberapa meja bundar tempat perjamuan di teras bale pamengkang. Tidak menyia-nyiakan waktu, charger yang sudah siap di saku dikeluarkan. Coloklah dengan ikhlas, cossss.

Bapak mau kopi?” Sebuah penawaran yang begitu dinanti.

Mau atuh neng, jangan pake gula ya”
Sebuah anggukan halus dan senyum tulus terasa menyegarkan di malam ini. Alhamdulillah.

Batere hape mulai terisi, ditandai dengan indikator yang berkedip manja. Lalu dihadapan kembali hadir eneng tadi membawa secangkir kopi asli dan lalawuhnya (teman ngopi) berupa sepiring rebusan campur. Ada jagung, kacang tanah, pisang dan ubi rebus, maknyuuuus.

Makasih neng” Betapa senangnya karena nggak nyangka tanpa disengaja kembali bersua dengan secangkir kohitala, asli lagi kopinya, kopi garut dan tempatnya juga spesial, rumah dinas bupati garut.

Sruputan perdana terasa penuh makna, bodi lembut dan acidity medium high menyapa langit mulut dengan after taste citrun serta dark coklat. Ada selarik manis yang segera menghilang. Tapi over all, sajian kopinya enak pisan.

Kejutan hadirnya kopi ternyata baru kejutan awal, karena beberapa saat kemudian muncul seseorang dan menghampiri sambil menyapa. Ternyata yang punya rumah, Bapak Rudi Gunawan Bupati Garut.

Beliau dengan santainya duduk di area meja bundar dan mulai ngobrol tentang berbagai hal. Diriku agak rikuh karena diberi kehormatan bisa ngobrol langsung dengan bapak bupati sebelum acara resmi dimulai.

Kejutan selanjutnya adalah hadirnya para pejabat lainnya. Mulai dari Danrem 062 Tarumanegara, Dandim garut, Kapolres Garut, Wakil bupati garut, Pimpinan DPRD, pejabat dari Kemenparekraf, Sekda Garut dan beberapa kepala dinas.plus bos aku yang datang juga setelah giat di Pangandaran. Semuanya ngariung berkumpul dan mengitari daku yang lagi diam ngecharge hape. Hehehehe…. akhirnya berusaha gabung dengan pembicaraan para pejabat ini, Bismillah.

Sebuah momentum ngopi yang luar biasa. Diawali dari mencari tempat colokan listrik, lalu disuguhin kopi asli, disapa dan ditemani bapak Bupati hingga akhirnya menjadi tempat kongkow para petinggi garut. Sebelum semua bersiap menuju alun-alun garut dalam rangka Gebyar Pesona Budaya Garut 2022.

Percaya khan, klo datang duluan dan cari colokan listrik itu langkah strategis hehehehe”

Wassalam (AKW).

WFA tapi PUSING.

Kerja Kerja Kerja… jalan.

CIMAUNG, akwnulis.com. Perjalanan Bandung – Pangandaran ditempuh dalam waktu 6 jam jikalau nonstop. Tapi ditambah berhenti sejenak untuk makan siang dan shalat maka ditotalkan menjadi 7 jam. Waktu yang lumayan panjang, tetapi menjadi efektif manakala memanfaatkan teknologi yang terus berkembang. Memang beberapa titik dukungan sinyal internet sesaat menghilang, tetapi mayoritas sinyal internet cukup stabil dengan menggunakan dua provider yaitu Halo telkomsel dan XL Axiata.

Konsep Work From Anywhere (WFA) bisa dijalankan nyaris sempurna. Satu agenda rapat terkait perkembangan TTE (tanda tangan elektronik) yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informasi bisa diikuti. Begitupun Sosialisasi tentang Lingkungan Hiduppun bisa bergabung. Tentu keduanya menggunakan aplikasi video conference yaitu zoom yang menjadi akrab untuk kita semua selain skype, google meet, microsoft teams, slack, gotomeeting, facetime, whatsapp video call, cisco webex dan jitsi.

Maka di dalam mobil interaksi terjadi, tablet samsung dengan kesibukan zoomnya. Smartphone digunakan untuk koordinasi intens dalan rangka pembahasan pagu indikatif 2023. Sementara laptop on fire di aplikasi sidebar untuk membaca berbagai surat keluar serta membubuhkan paraf dan tanda tangan secara elektronik plus membaca disposisi pimpinan dan menindaklanjutinya secara online. Jikalau harus diakselerasi maka smartphone beraksi untuk kontak langsung agar tugas segera tuntas.

Meskipun terkadang muncul rasa mual karena mobil meliuk kanan kiri demi memenuhi hasrat jalan yang berkelok-kelok tak selamanya lurus. Juga sedikit pusing karena mata menjadi bingung dikala harus membaca naskah surat di laptop sementara pemandangan luar mobil begitu dinamis.

Maka pejamkan mata sejenak dan tarik nafas dalam – dalam. Lepaskan pelan – pelan sambil konsentrasi ke satu titik. Insyaalloh rasa pusing dan mual akan berkurang. Kecuali jikalau jalannya memang turun naik penuh kelokan dan patahan. Lebih baik tutup laptop dan nikmati perjalanan sambil tak lupa pegangan. Sehingga guncangan yang terjadi tidak membuat kesulitan. Kalau Bandung ke pangandaran via jalan raya ciamis banjar relatif agak aman dari kemualan dan kepuyengan karena jalannya lebar meskipun berkelok. Tapi manakala pulang dari pangandaran via jalur selatan sampai rancabuaya. Bersiaplah jalur Rancabuaya – Talegong – Cisewu dengan sensasi naik turun kelak kelok dan patah mendadak… cusss. Aduh ternyata terasa…

Ada sensasi mual yang mulai hadir ditemani selarik pusing menghinggapi raga ini, sementara ternyata paraf dan tanda tangan elektronik harus segera, atau harus baca berkas penting ditunggu bingit. Ya sudah menepilah. Cari rumah makan terdekat dan cek sinyal internetnya sehingga bisa tethering dengan smartphone. Berhentilah dan bekerja dengan laptop kesayangan.

Jadi dimanapun berada, tugas dan pekerjaan seperti meeting atau notifikasi dan tanda tangan berkas bisa dilakukan. Tapi ingat kalau terasa pusing dan mual, rehatlah sejenak kawan. Selamat pagi dan selamat beraktifitas. Wassalam (AKW).

PAKUANLATTE & Eril.

Secangkir kopi & kehilangan.

GEDUNG PAKUAN, akwnulis.com. Tak banyak kata yang bisa terucap, mulut serasa kelu dan cenderung terdiam. Hanya senyum kecil tertahan dan sebuah kata lirih yang menandakan terima kasih, dengan sajian cafelatte di dapur gedung pakuan ini.

Baristanyapun menjawab sama-sama, dengan tatapan tetap menerawang. Menghadapi sebuah kenyataan yang diluar dugaan. Harus melihat kembalinya Bapak Gubernur Jabar dan Bu Atalia serta ananda Zahra yang disambut oleh keluarga besar dengan uraian air mata serta isak tangis tertahan yang mewakili campur aduknya perasaan.

Tapi hal terpenting dari kehilangan ananda Eril ini adalah nilai ketegaran, keikhlasan, kesabaran dari seorang Ridwan Kamil. Sebagai sosok pimpinan provinsi jabar sekaligus seorang ayah yang harus kehilangan anak sulungnya yang dinyatakan meninggal tenggelam di sungai aare Switzerland. Juga ibu Atalia dan ananda Zahra, betapa kehilangan ini begitu menyentak dan diluar bayangan semuanya. Tetapi kekompakan Pak Gubernur, Ibu dan Keluarga memberikan nilai penting bagi penulis akan artinya kebersamaan, kekompakan serta kekuatan keimanan baik sebagai individu juga sebagai satu keluarga dalam menerima takdir kehidupan.

Penulis yakin, cobaan ini adalah skenario Tuhan, Allah Sang Maha Bisa Maha Penguasa. Insyaalloh dibalik kejadian ini, berkah dan hikmah yang lebih baik untuk pak RK, ibu dan keluarga telah menanti. Begitupun ananda Eril, insyaalloh mendapat surga Allah Yang Maha Pengasih.

Sruputan Pakuanlatte inipun terasa hambar, ikut merasa bersedih sebagai seorang ayah yang sedang kehilangan putranya menguasai seluruh indra di raga ini. Jadi maafkan jikalau tidak ada review sruputan yang ngabibita (bikin pengen) kali ini.

Betapa ujian kehidupan dunia yang luar biasa yang sedang dirasakan pimpinan kita. Doa terbaik untuk ananda Eril juga doa dukungan kesabaran dan ketawakalan untuk pak RK, ibu dan keluarga. Wassalam (AKW).

Alfatihah….

Mariottalatte Yogya.

Sebuah perjalanan, tugas dan harapan.

CONDONGCATUR, akwnulis.com. Pagi hari sudah kembali menikmati semilir angin kota Yogyakarta dengan memegang erat pinggang mas gojek yang melaju sedikit kencang karena sebuah permintaan. Udara segar dihirup bersama berbagai nuansa kenangan yang begitu kental di kota ini. Sulit memang melupakannya.

Melewati ruas jalan besar dan sesekali masuk jalan kecil plus menyusuri sisi kampus UGM dan terus menuju sebuah hotel yang tertera dalam surat undangan, Hotel JW Marriot Yogyakarta. Perjalanan 17 menit dari jalan sosrowijan ke lokasi. Setelah berterima kasih dan pijit tombol bintang lima dilanjutkan dengan prosesi photo selpi dengan background hotel yang dituju.

Cetrek…
Cetrek..

Ini penting guys, karena setiap photo aktifitas dinas ini bernilai rupiah. Tentu dengan pelaporan rutin dalam aplikasi kegiatan harian dilengkapi syarat lainnya. Kebetulan juga seneng photo selpi, jadi ya saling melengkapi hehehehehe.

Materi rapat nanti di bahas di nota dinas, dalam tulisan singkat ini lebih menyoroti sajian kopinya sekaligus tempat ngojaynya yaitu kolam renang, lha terlalu bertele-tele masa iya berenang di kolam ikan. Apalagi hotel bertabur bintang maka jelas standar kolam renangnya segede gaban. Entar ah, di jam istirahat coba beredar.

Ternyata, keinginan menggabungkan Ngojay (berenang) dan Ngopay (ngopi sruput kopi) langsung cespleng dikabulkan Tuhan. Pertama adalah ruang meeting dilantai 2 acara Kemenparekraf ini tersedia mesin kopi… yuhhhu… minimal espresso, latte  cappucino, americano bisa direquest.

Setelah bersabar 24 jam lebih karena ‘gagal ngopi’ hehehehehe.. lengkapnya di tulisan ini YOGYA, KOPI & MATI. maka sekarang diberi jawaban dan kesempatan yang lengkap. Bisa ngopay daaan….

Kedua, ternyata pemandangan dari koridor depan ruang meeting tersebut adalah kolam renang infinity pool yang luas… Alhamdulillah lengkap sudah.

Maka sebelum acara resmi dimulai, langsung pesen kopi caffelatte dan mengabadikannya dengan background kolam renang.

Cetrek…. inilah hasilnya.

Sebuah gambar yang mewakili tema besar dari blog ini yaitu ngopay dan ngojay, memberi kesan tersendiri. Meskipun jelas bahwa ini bukan hanya kebetulan dan keberuntungan saja. Tetapi sebuah takdir dari Illahi Rabbi. Maka tunduk syukur dan berdua adalah sebuah ritual pribadi dari segala kemudahan ini. Baru setelah itu srupur tiada henti…. eh… maksudnya sruput dulu dan jika dimungkinkan pesan lagi. Karena petugas hotel yang menggawangi mesin kopi tetap setia berada disisinya dan disibukkan dengan reques para penikmat dan pecinta kopi yang hadir dari berbagai penjuru nusantara untuk hadir di meeting ini.

Sebuah nama tersemat untuk secangkir kopi ini, yaitu Mariotalatte Yogya. Maafkan jika terkesan maksa, namun itulah keindahan kata yang menjadi pengingat tentang sebuah rasa, kesan, tempat dan kenyataan.

Selamat ngopay dan diskusi kawan. Wassalam (AKW).

SABAR & SURAT EDARAN

Tidak bukber dulu…

KUNINGAN, akwnulis.com. Sebuah catatan penting dalam berpuasa tentu 3 hal besar yang bisa membatalkan puasa yaitu makan, minum dan berhubungan suami istri. Namun ada hal yang lebih berbahaya dan tidak kasat mata, yaitu tergerusnya amalan ramadhan kita karena berbagai perilaku yang tidak sesuai tuntunan agama.

Berpuasa adalah menahan diri dari segala hal, melakukan berbagai tindakan yang baik serta memohin ampunan atas dosa -dosa selama ini. Plus menjadi patokan dasar dalam menjalani 11 bulan lainnya yang akan dijalani sebelum kembali dengan bulan ramadhan tahun depan. Amiin.

Itu banyak pisan amalannya dari mulai ghibah, berbohong, iseng berlebihan, menipu temen, nge-prank dan banyak lagi tindakan kita yang berpotensi menggerus amal shaum kita… hehehe kok jadi kayak ustad yaaa.

Nah dalam lingkup profesi juga ada hal yang perlu disikapi dengan sabar, yaitu hadirnya surat edaran menteri agama Nomor 08 Tahun 2022 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah pada Bulan Ramadhan  dan Idul fitri 2443 H/2022  tanggal 29 maret 2022 yang salah satunya mengatur tentang buka puasa bagi pegawai negeri sipil atau ASN yaitu pada poin 5 yang berbunyi : ‘Pejabat dan Aparatur Sipil Negara dilarang mengadakan atau menghadiri kegiatan buka puasa bersama, sahur bersama dan atau open house Idul Fitri.’

Lalu bagi masyarakat yang mau bukber (buka puasa bersama) bisa dilakukan namun dilarang ngobrol, ini penjelasan dari Juru bicara Satgas Covid19 nasional, Om Wiku Adisasmito. Maka reaksi tentu beragam dan sahut menyahut apalagi di media sosial. Tapi kembali ke rumus sabar tadi, maka pilihannya sederhana :
a. Melakukan buka puasa bersama baik dengan rekan kerja, mitra, alumni, kerabat dan sebagainya tapi dengan catatan hanya berbuka puasa dan makan saja, tetapi tidak boleh berbicara atau ngobrol.
b. Tidak berbuka puasa diluar, tetapi di rumah bersama keluarga saja atau jika tidak terkejar maka buka puasa di kantor saja.

Kalau buat ASN?… Gak bolehh say.

Kebayang khan, sudah 2 tahun bukber itu dibatasi. Ternyata sekarangpun masih dibatasi oleh yang berwenang. Ya sudah, anggaplah ini bagian dari latihan kesabaran di bulan ramadhan 1443 hijriyah ini.

Lagian, kalaupun sembunyi-sembunyi kita hadir dan melaksanakan bukber baik dengan kawan dan mitra tentu bisa dilakukan. Namun ketaatan terhadap surat edaran dan bentuk keteladanan kita sebagai abdi negara pelayan masyarakat akan dipertanyakan.

Maka bersabarlah kawan. Insyaalloh ada ramadhan tahun depan yang sudah bebas bisa bukber bagi ASN tanpa terkekang surat edaran karena pertimbangan yang lebih luas menyangkut kesehatan akibat penyebaran virus covid19.

Meskipun terus terang, diri inipun hampir tak kuat menahan keinginan untuk bukber bersama kawan-kawan, baik kolega ataupun mitra kerja dan alumni semasa SMA. Tapi kembali, itu tadi ketaatan dan keteladanan yang diutamakan. Satu kesempatan berbuka puasa di hotel berbintang 5 di pusat kota bandungpun dilakukan sendirian, meuni teungteuingeun yach…

Sebagai bukti dokumentasi bukber limited edition ini, photo secangkir kopi dan ornamen kubah dari kayu menjadi saksi bisu dari salah satu latihan kesabaran ini. Wassalam (AKW).

Buku PENYINTAS COVID19

Mana cerita covid19mu?….

DAGO, akwnulis.com. Suasana rapat offline di tempat full AC dengan ruangan nyaman mulai kembali dilaksanakan setelah hampir 2 tahun pelaksanaan meeting-meeting itu via layar smartphone, laptop dan infokus dan sangat akrab bersama aplikasi zoom, google meet  cisco webex, whatsapps, skype, slack, Jitsi Meet, Gotomeeting dan sebagainya.

Meskipun tetap rapatnya terbagi antara yang wajib hadir offline dan sisanya hadir online atas nama ‘hybrid meeting’. Yang pasti jaman sudah berubah dalam segala hal setelah kita melewati disrupsi maha dahsyat atas nama penyebaran Virus Covid19 hingga terakhir yang dinamain ‘omicron.’

Mengenang perjuangan, perjalanan, suka duka dan berbagai kejadian yang menyayat hati karena harus kehilangan pasangan hidup, orang tua, saudara, atasan dan kolega, guru, tetangga serta siapapun yang direnggut oleh ganasnya virus ini. Maka sebuah dokumentasi harus menjadi legacy, saksi sejarah atas disrupsi yang terjadi hingga menjadi hikmah bagi kehidupan dan tata nilai baru untuk kemanusiaan.

Secara institusi tentu sudah banyak yang membuat laporan, dokumentasi tertulis dan video plus photo. Juga banyak yang membuat cerita di medsos masing-masing tentang keterpaparan covid19 dari berbagai sudut pandang.

Pertanyaan besarnya, “Anda bikin apa tentang keterpaparan covid19 ini?”

Inilah tantangan yang harus dijawab tanpa perlu banyak bicara hanya untuk memberikan segumpal alasan atas nama kemalasan. Tapi mari kita buat sesuatu yang akan berguna sebagai bukti serta legacy bahwa kita pernah tahu dan ada hikmah dari semua itu.

Klo di Pemprov Jabar, produk dokumentasi resmi sudah berbentuk beberapa buku tebal dan komprehensif yang disusun oleh para pejabat yang kompeten. Tetapi yang versi pribadi ini, kayaknya perlu juga di ekspose ya….

Maka teringat pernah buat sebuah video yang tayang dikanal pribadi setahun lalu, pastinya di platform youtube. Ini linknya, klik aja ya DONOR DARAH PLASMA CONVALESEN,  maafkan kualitas videonya masih rendah, maklum youtuber amatiran (belum) monetize.

Nah dalam bentuk tulisan juga hadir atas prakarsa Mbak Nenny Azkiya, yang mempertemukan kami dengan para penggiat menulis di seantero nusantara. Kami belum pernah bersua, tetapi terasa dekat melalui chat Whatsaps, mungkin besok lusa ada takdir sehingga bisa hadir offline bersama.

Bukunya berjudul PENYINTAS COVID19, adalah kumpulan pengalaman dari 24 penulis yang digabung alias dikeroyok sehingga berbentuk buku ciamik dan menjadi souvenir cantik, mengingatkan diri akan sebuah suka duka dan hikmah dari keterpaparan covid19.

Itulah sejumput catatan dan dokumentasi pribadi tentang covid19, hanya sebutir pasir di padang pasir dokumentasi. Tapi minimal penulis sudah punya suatu kebanggaan bahwa pengalaman hidup sudah tercatat dan bersiap melanjutkan kehidupan dengan optimisme dan kebersamaan. Wassalam (AKW).

KOPI APRESIATIF

Sruput kopi sambil diskusi bersama para peserta yang penuh motivasi.

SOREANG, akwnulis.com. Pagi sedikit sendu di lobi hotel Grand Sunshine, menemani sebuah perjumpaan virtual yang penuh harapan. Duduk menghadap kolam renang meskipun dibatasi kaca besar, namun deburan air dan teriak kesegaran menjadi sebuah hiburan.

Mengapa penuh harapan?”

Karena diskusi virtual kali ini membuka sebuah cakrawala dan momentum untuk gerak bersama sebagai sesama penulis dalam kelembagaan atau kumpulan penulis dengan nama APRESIATIF (Asosiasi Aparatur Penulis Penggerak Literasi Kreatif) dibawah lindungan organisasi KORPRI JABAR.

Nggak ngerti ah, maksudnya gimana?”

Yach, ini mah harus ngopi dulu, supaya kembali segar untuk menapaki kehidupan. Let’s go..

Tangan kanan otomatis menggapai dan menggupay, memanggil sang pelayan yang tergopoh mendatangi bersama daftar menu di tangan.

Pesen kopi bergambar hati kang!”
“Mangga”

Pelayanan prima euy, tapi itulah bentuk hospitality dari sebuah hotel yang menghasilkan rasa nyaman plus betah berlama-lama duduk di lobi sambil diskusi virtual bersama yang diselenggarakan oleh BPSDM Provinsi Jawa Barat.

Trus dapet tugas musti sharing tentang cara menulis, jadi ya sudah saya coba aja deh. Meskipun hanya secuil pengalaman, tapi mungkin bisa ikut menjadi sejumput api penghasil bara yang membantu hadirnya gemuruh api semangat menulis menjadi berkobar untuk kebanggaan bersama.

Jadi, menulis itu garis besarnya ada dua guys. Pertama TERPAKSA dan kedua adalah KEINGINAN. Eh kebalik ya?…. iya yang pertama adalah keinginan donk, ingin nulis tapi gimana caranya?..

Paling utama adalah Niat dulu ya.. bismillahirrohmaniirohim.

Lalu tulislah sesuatu, dan jangan khawatir dengan salah dan benar, tulis saja dulu.

Yang kedua, tulis lagi dan baca ulang 2x khawatir typo. Lalu upload di medsos kita, di blog gratisan atau dimanapun. Nanti jelas ada wadahnya yaitu di prajaberdaya BPSDM Prov Jabar, tunggu tanggal mainnya… sekarang mah daftar yuk rame-rame.

Sudah?….” kalau sudah, biarkan secara alami mengalir dalam ranah kehidupan dan menjadi bagian legacy pribadi dimasa depan. Jikalau ternyata menjadi pencerahan bagi sidang pembaca lainnya, itulah berkah lanjutan dari Allah SWT.

Klo versi TERPAKSA, itu cenderung menulis yang resmi dan karya ilmiah, atau laporan, sambutan dan nota dinas karena ada tuntutan tugas atau perintah atasan. Ini relatif terukur karena ada pedoman tata naskah dinas atau standar penulisan. Tinggal ikuti SOPnya. Apalagi bagi para pejabat fungsional, menulis karya ilmiah dan jurnal itu berhubungan dengan hajat hidup keberlanjutan bulanan.

Jadi ayo semangat menulis meskipun awalnya keterpaksaan dan bukan keinginan.

Seiring tulisan singkat ini berakhir, hadirlah kopi bergambar hati yang melengkapi kenyamanan kali ini. Diskusi penuh sensasi dan berbagi inspirasi bersama insan peserta webinar yang penuh motivasi. Sruputtt… Alhamdulillah. Wassalam (AKW).

MOKA & KOPI

Menikmati cafelatte bersama mojang jajaka.

JAKARTA, akwnulis.com. Sebuah obrolan singkat dengan Mojang Jajaka Jabar 2021 asal Kota Cirebon dan Kota Depok yang bersua di JCC ajang Inacraft 2022 memberikan sebuah perenungan.

Mengapa Mojang Jajaka Jabar ada di main stage Dekranasda Provinsi Jawa Barat?”

Tentu mereka adalah duta Jawa barat di bidang pariwisata dan kebudayaan sekaligus ekonomi kreatif dan hadir di ajang Inacraft 2022 ini sebagai bagian kolaborasi Disparbud dalam lintas instansi, swasta, media, industri, UMKM, masyarakat untuk mensukseskan program jabar juara.

Duh jadi serius gini tulisannya, bentar bentar… kita sruput dulu sajian kopi cafelatte jabaranonya.

Basa basi tentu menjadi awal diskusi, dilanjutkan dengan bahasan berbeda sambil tetap memperhatikan flow pengunjung yang datang silih berganti pada main stage ini.

Apa yang dirasakan setelah menjadi finalis mojang jajaka jabar 2021?”

Keduanya berpandangan, tetapi satu persatu memberi jawaban yang tune-nya sama. Bahwa dengan menjadi finalis, maka membuka peluang untuk lebih mengembangkan diri dan tentunya menentukan arah masa depan.

Diskusi singkat ini bermakna dalam, karena setelah mereka berkontestansi dalam ajang mojang jajaka maka yang terpenting adalah didapatkan PELUANG, untuk mengembangkan diri, meluaskan jaringan sekaligus mengumpulkan hasil finansial.

Tetapi jangan lupa, PELUANG harus ditindaklanjuti dengan IHTIAR untuk menangkap momentum ini dengan KERJA KERAS dan perjuangan agar bisa meraih impian.

Terpancar semangat optimisme dan keinginan yang menyala-nyala untuk wujudkan mimpi dengan memanfaatkan peluang yang membentang di depan mata. Selamat berjuang para millenial kebanggaan. Wassalam (AKW).

PATAH MENYILANG

Sebuah cerita di senin pagi, Tijalikeuh mahal.

BANDUNG, akwnulis.com. Senin pagi ini terasa berbeda dan sedikit menegangkan. Mentari pagi juga terasa menyorot lebih kencang  sehingga keringat begitu mudah hadir dan perlahan tapi pasti mulai bercucuran.

Sebabnya sederhana, salah perhitungan kondisi jalanan. Jika biasanya relatif lancar atau merayap cepat, kali ini terdiam macet semenjak keluar komplek. Alamak…. gaswaaat, apalagi sudah ditugaskan untuk menjadi pembina apel di senin pagi.. teganglah awak.

Kembali melihat kondisi jalanan yang terdiam dan cuaca panas menambah kebimbangan. Tapi otak harus tetap fokus, dan hati tenang dengan mencoba berdzikir dan berdoa. Sekaligus berfikir alternatif memggunakan kendaraan roda dua.

Langsung aplikasi google map dan waze dibuka dan dianalisa. Tertegun sesaat  karena ternyata kedua aplikasi sepakat bahwa menggunakan motorpun tidak lebih cepat karena banyak obstacle diperjalanan dibandingkan menggunakan mobil yang terbantu dengan akses jalan tol baros – pasteur.

Sedikit demi sedikit beringsut menapaki jalan sambil tetap tatapan tajam pada detak jam digital yang terasa begitu cepat bergerak. Ada sejumput sesal karena lupa bahwa senin ini (17/01) adalah dimulainya PTM (pembelajaran tatap muka) di semua tingkatan pendidikan. Otomatis semua tumpah ruah di pagi meriah pada jam antar menuju masing – masing sekolah.

Akhirnya nafas sedikit lega setelah memasuki pintu tol baros menuju Kota Bandung via tol pasteur, kemungkinan waktu tempuh bisa diperkirakan…. cusss.

Tapi kenyataan berbeda, keluar pintu tol bejubel juga dan setelahnya dihadang oleh kemacetqn di perempatan jalan pasteur – suryasumantri.

Alamak, ada apa ini?” Gerutu mulai hadir dalam dada. Tapi apa mau dikata  hanya pasrah saja dalam balutan ketegangan dan istigfar, serta keinginan menghentikan sesaat waktu di jam digital karena kemungkinan kesiangan sangat terbentang.

Dan benar saja, turun dari jembatan layang paspati dihadapkan dengan kepadatan di pertigaan gasibu… walah sisa waktu tinggal 5 menit ke waktu apel pagi… kemungkinan tidak tercapai..

Tenang… tenang, Subhanalloh Walhamdulillah Wala Ila Haillallah Allahu akbar.

Akhirnya… hambatan terakhir di jalan anggrek terlewati dan masuk ke gerbang kantor. Buka pintu mobil lalu bergegas menuju tempat apel pagi di halaman kantor.

dan…. 8 menit terlambat… rekor baru setelah berbulan-bulan absensi selalu bersih dari keterlambatan. Kali ini tidak bisa menghindar dan harus hadapi kenyataan. Ada sesal mendalam dan memberi sejumput kalut di pikiran sehingga untuk sesaat konsentrasi buyar.

Dikala langkah kaki kiri tergesa, dan sedikit meloncati pot kecil untuk menghemat beberapa detik berharga.

Krakk!!’ Suara keras dari telapak kaki kiri, tapi tidak menghalangi langkah selanjutnya. Menempati posisi peserta apel pagi dengan sedikit nyeri mulai menjalari hari.

Tuntas bapak bos memberikan arahan di apel pagi, atas ijin beliau maju ke depan dan menyampaikan beberapa hal sekaligus melakukan push up 10x hitungan atas nama konsekuensi keterlambatan.

Apakah itu wajar atau berlebihan?” Sebuah tanya menemani kenyataan, tapi biarlah masing – masing individu punya hak sendiri dalam memberi penilaian. Yang penting sebagai seorang birokrat muda yang pernah diajarin leadership knowledge, menjadi pimpinan itu harus memberi teladan yang baik sekaligus bertanggungjawab dikala melakukan kesalahan.

Itulah asal mula cerita kecelakaan… eh kejadian luar biasa yang menimpa kaki kiri ini. Sebuah momentum ‘Tijalikeuh’ atau kejiklek atau keseleo yang seolah ringan…. ternyata…. patah karena takdir Allah SWT…. (AKW).

(Bersambung)….