Kopi Open Bidding

Ngobrolin Seleksi Jabatan itu enaknya sambil ngopi.

Photo : Sajian manual brew V60 Kopi arabica garut di balkon gesat / dokpri

GEDUNG SATE, akwnulis.com, Tulisan hari senin lalu sebenernya tulisan biasa saja, tetapi yang menjadi menarik adalah gelas kopi yang disajikan. Bertuliskan ‘Biro Umum’.

Tulisannya‘Ngopi Senin Pagi’ monggo klik aja.

“Kenapa dengan Biro Umum?”
“Karena kebetulan, itu adalah salah satu dari 15 jabatan eselon II atau sekarang mah disebut Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPT) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang di-open biddingkan”

Sehingga postingan tulisan tadi ada yang menterjemahkan bahwa diriku lagi ikutan seleksi open bidding yang membidik jabatan tersebut, malah mencoba mengkofirmasi ikut tidaknya hingga berulangkali, ada-ada aja.

Padahal, itu adalah sebuah kebetulan saja. Namanya rejeki nggak bisa ditolak. Pas mampir, disuguhin kopi, ya diterima dengan senang hati. Nggak perlu banyak mikir sana sini, sruput, nikmati dan syukuri.

Ngomongin seleksi terbuka untuk JPT yang sedang berproses dalam seleksi awal yaitu pendaftaran administrasi, ada sebuah nilai penting yang perlu di-amini.

‘Jadi, sebuah amanah jabatan akan datang manakala proses seleksi dijalani.’

“Maksudna kumaha lur?”*)

“Gini…. regulasi udah ngatur bahwa rekrutmen jabatan di pemerintahan untuk level JPT atau dulu mah disebut Pejabat Eselon IIa dan IIb harus dilakukan melalui mekanisme seleksi terbuka atau dikenal dengan istilah open bidding…”

“Ohh.. lelang jabatan?”

“Istilahnya sekarang adalah Seleksi Terbuka, titik!!”

***

Diskusi hangat terus berlanjut, seiring proses ekstraksi bubuk kopi arabica garut bersama air panas 90° celcius melalui corong V60 di lantai 3 gedung sate.

Photo : Pejabat ‘téras’ sedang kongkow di téras balkon / dokpri

Supaya lebih dramatis, segera bergeser duduk di balkon sambil berhadap-hadapan.

Tapi sebelum perbincangan sore ini berlanjut, tidak lupa mengabadikan secangkir kopi arabica V60 yang tersaji di gelas kecil dengan background halaman depan Gedung Sate.

Suasana yang tidak ternilai, karena tidak banyak orang yang berkesempatan kongkow disini seperti ini. Nyruput sajian kopi asli, tanpa basa-basi, di balkon gedung bersejarah yang menyimpan berjuta arti.

Rasa medium aciditynya menyeruak di lidah, berpadu dengan body hasil ekstraksi yang berada di level medium bold. Taste fruitty muncul selarik tapi segera hilang lagi, sementara aroma harum memberi janji di sore ini.

Trus jangan khawatir, ini udah jam 5 sore. Secara resmi diluar jam kerja, meskipun beres ngopi masih lanjutin tugas lainnya.

***

Balik lagi ngobrolin seleksi terbuka, ini adalah sebuah momen penting untuk meraih sebuah amanah jabatan. Jika memang mau dan menilai diri (mungkin) pantas, segera daftar via online untuk melengkapi segenap persyaratan yang sudah ditentukan.

Jikalau lulus dalam tahapan-tahapan yang sudah ditentukan, maka bersiaplah menerima amanah jabatan.

Cemunguuut…..

Sruput dulu bray. Wassalam (AKW).

***

*) artinya : Maksudnya bagaimana bro?

Kopi di Senin Pagi

Senin pagi berbagi cerita kopi.

Apel pagi di senin pagi adalah momen silaturahmi sekaligus pengecekan absensi. Mendengarkan arahan dari pentolannya pimpinan, nambah wawasan sekaligus nambah vitamin D yang berasal dari sorotan sinar mentari di pagi hari.

‘I like Monday Guys’

Meskipun harus bertarung dengan kemacetan pagi, tetapi semua harus dijalani tanpa basa-basi. Atur saatnya bangun tidur dan tetapkan berangkat lebih pagi sehingga ada jeda untuk sedikit menghela nafas dikala terhadang kemacetan di beberapa titik pemberhentian. Ada perempatan yang memghambur banyak roda dua mengantar anak sekolah serta pekerja lainnya, bunderan yang akrab jadi botlle neck, jajaran sekolah yang kumplit dari mulai SMP, SMK dan ada SD, lengkapp sudah…. tapi itu adalah dinamika. Jalani dengan ikhlas dan berangkatlah di hari senin lebih pagi.

Apel pagi tuntas dilanjutkan dengan salaman terbatas. Bersua dengan wajah-wajah pejabat yang menduduki jabatan barunya pasca di rotasi hari jumat lalu. Setelah itu, ya kembali ke ruangan untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada. Termasuk bersiap untuk meeting hari ini.

Tiba-tiba hp bergetar, ada pesan WA masuk, ‘Pagi pa, meetingnya gimana klo di taman belakang gedung sate? Saya dan tim udah disini.’
Nggak pake lama langsung jawab, ‘Oke, 5 menit lagi meluncur’

***

Urusan meetingnya nggak usah dibahas, yang lebih penting adalah suasana rapat di alam terbuka dengan menyecap udara pagi, begitu berbeda. Segar dan penuh inspirasi. Meskipun satu meja tidak bisa dikuasai sendiri karena fasilitas publik, tetapi disitu serunya, jadi rapat bareng-bareng hehehehe.

Yang lebih seru, dapet rejeki pagi. Secangkir kopi susu dengan gelas khusus.

“Maksudnya?”

Gelas khusus penguasa eh pengelola gedung sate. Isinya tetep kopi susu, tetapi nilainya yang berbeda. Nilai rejeki, nilai kebersamaan dan nilai silaturahmi.

Sruputt… ludddes. Wassalam (AKW).

***

*)buat yang penasaran pengen ngopi disini. Dateng aja jam 10.00 wib, lokasinya di parkir timur gedung sate, ada cafe Gesa yang sedia aneka kopi juga cemilan, plus wisata sejarah ke museum gedung sate yang buka hari selasa sd minggu.

Kopi di awal Januari

Ngopi awal tahun 2019, kemoon.

Photo : Segelas Picollo yang nikmat / dokpri.

LEUGAJ, akwnulis.com, Seiring waktu menapaki janji, seuntai makna kehidupan kembali dirangkai kembali.

Setelah setahun lalu penuh cerita dan beraneka suka duka, maka sekarang menyongsong awal tahun 2019 dengan optimisme.

Terkait urusan kopi, sudah diawali dengan manual brew rumahan Kopi Gayo Wine Aman Kuba, dan ngopi lainnya yang memang tidak selalu didokumentasikan.

Photo : Segelas Kopi hasil manual brew V60 / dokpri

Soalnya jadi sibuk ambil photo, kopi seduhannya keburu dingin… hehehehe, atau udah diseruput abis, eeh.. lupa belum diphoto saking nikmatnya.. Alhamdulillah deh.

Sekarang kebetulan ngopinya di cafe, ngedadak ada yang ngajak, siapa takut. Maka sajian kopi manual brew V60 dari biji kopi arabica.. aduh lupa namanya, itu juga saking nikmatnya (ntar diinget-inget dulu) ditambah dengan Picollo.

Itu dulu yach… (AKW).

Kopi jumat sore.

Musti rapat menembus kemacetan itu perjuangan, akan terasa nyaman selama ada koppiii….

Photo : Espresso di gelas illy / dokpri

JAKARTA, akwnulis.com, Hari jumat pagi, berangkat ke kantor sedikit lelah karena baru tadi malam nyampe ke rumah, setelah rangkaian dinas luar alias tugas luar kantor yang menyita waktu serta tenaga, yaa memang itu konsekuensi kerja.

Pukul 07.15 wib sudah sampai ke kantor, membaca file-file berkas sambil menonton berita di televisi, tidak lupa sambil sarapan buah potong yang rutin dibawa dari rumah pake misting*).

*)misting : tempat makanan dari plastik yang ada tutupnya, klo sodara tuanya namanya ‘rantang’. Klo yang hits di ibu-ibu adalah tupperware dan lock & lock.

Rencananya mau keliling di lapangan Gasibu, melemaskan kaki sambil lihat aneka pemandangan pagi.

Tetapi…. harapan tinggal harapan..

Sebuah telepon masuk di layar smarphone, “Wadduh Pak bos”… segera dijawab panggilan telponnya.

“Siap pak!”

Itulah jawaban termudah dari suatu perintah.

Meskipun….. rapat hari jumat jam 16.30 wib itu menyesakkan hati.

“Lho kok bisa?”

“Karena rapatnya di Jakartaaaa…”

“Ooooo… pantesaaan”

***

Disaat arus libur panjang dari jakarta ke Bandung. Tugas mengharuskan arah sebaliknya dan tentu pas pulangnya ikutan dengan kemacetan libur panjang alias double macet.

Photo : Paket sajian espresso di Aryaduta Jkt / dokpri.

Apa mau dikata, tugas adalah tugas. Tidak perlu ada penolakan, kerjakan sesuai kemampuan, dan mari hadapi perjalanan berangkat dan pulang dengan berkhusnudzon, semoga lancar di perjalanan.

***

Alhamdulillah, keberangkatan harus terhenyak di tol Cikampek kilometer 50, padat merayap menjelang shalat jumat. Meskipun akhirnya sempat juga ikut jumatan, di trotoar. Panas begitu terik memanggang badan. Dari trotoar terasa menggigit, dari atas apalagi, peluh membanjiri badan, wajah dan perasaan. Tapi semangat shalat jumat tetap menggelora, “Ini tidak seberapa dibandingkan panasnya padang mahsyar”.

Tuntas shalat jumat, batik yang dipakai begitu lengket ditubuh. Keringat masih menetesi bumi dengan riangnya. Mau ganti baju nggak ada cadangan, ya sudah, biarkan mengering sendiri.

Dengan alasan ngadem maka cafe yang ada kopinya menjadi pilihan. Black coffee alias kopi hideung dipesan, sambil nyandar di sofa yang empuk lagi dingin. Nyaman nyaa..

Photo : Sajian black coffee di rest area 42 / dokpri.

Sajian black coffee memberi kecerahan dan semangat untuk tetap istiqomah, menuju jakarta demi laksanakan rapat yang merupakan tugas negara.

Macet ke arah jakarta dari sini hingga lokasi acara di Hotel Aryaduta Tugu Tani nggak usah dibahas, pokoknya maceeet. Yang pasti bisa datang sebelum pertemuan dimulai’

Mood booster yang kedua adalah sajian espresso single shot di cafe Hotel Aryaduta. Tidak sengaja, sambil menunggu undangan lainnya ya ngumpul dulu sebentar di cafe. Udah pasti yang dipesen adalah kopi, dimana pilihannya hanya espresso arau long black saja untuk aliran kopi hitam tanpa gula.

Disajikan dengan cangkir kecil putih standar espresso, ditemani sebuah kue, air putih dan sewadah gula serta krimer.

So pasti gula dan kawan-kawannya tidak disentuh. Tapi espresso sekali glek yang langsung menyebarkan semangat ke sekujur tubuh. Langsung rancingeus, bersiap ikutan meeting. Mata cekas selama meeting, meskipun dikala pulang harus berjibaku dengan kemacetan yang puaaaraaah bangeeet…. jam 20.00 wib dari Jakarta pusat dan mendarat di rumah tepat pukul 02.12 wib esok harinya (6,5 jam).

Ya sudah, yang penting tugas tuntas, ngopi lebih dua gelas, pulangnya langsung nge-gas, Upacara hari ibu di hari sabtu, siapa takuut. Wassalam (AKW).

RUMAH DINAS CAMAT

Cerita masa lalu di saat mengawali karier di kota leutik camperenik.

Photo : Kota Sumedang dilihat di puncak Toga / Dokpri.

Penugasan menjadi seorang Amtenaar*) muda di sebuah kecamatan dengan memegang jabatan perdana terasa begitu membanggakan.
Sebuah amanah jabatan dalam struktur yang pertama, dimana sebelumnya berkutat dengan jabatan fungsional pelayanan pimpinan.

Sebuah kebanggaan tiada tara, karena meskipun jabatan adalah sebuah tanggung jawab besar. Tetapi secara manusiawi tetap tergoda untuk merasa senang atau mungkin mendekati area kesombongan. Maafkan aku, karena jiwa muda yang masih bergejolak dan jam terbang kehidupan masih terbatas.

Hari kedua setelah dilantik oleh Bupati secara massal di sebuah Gedung olahraga, bergegas menuju kantor kecamatan yang dituju. Sebuah kecamatan yang berada di wilayah Kota Sumedang yaitu Kecamatan Sumedang Selatan.

***

“Selamat pagi pak, kalau Bapak Camatnya ada? Saya mau menghadap”

“Silahkan isi buku tamu dulu pak, ada keperluan apa?”

Sepenggal dialog dengan petugas depan berseragam Satpol PP menjadi pembuka cerita pagi itu, di kantor yang baru. Sembari memperhatikan suasana kerja di kecamatan, rasa senang kembali menyeruak di dada, “Ini pasti uforia jabatan.”

Ruang tunggunya adalah bangku panjang yang juga digunakan untuk masyarakat yang mengajukan berbagai keperluan administratif. Di depanku, para petugas terlihat serius mengerjakan tugasnya masing-masing, baik menulis di buku-buku besar ataupun tenggelam di depan monitor komputer yang dilengkapi printer dengan suara khasnya. Begitupun suara mesin tik yang menandakan suatu proses pelayanan sedang berjalan.

“Silahkan masuk pak, Bapak Camat sudah menunggu”

Sebuah sapaan sopan yang membuyarkan lamunan, segera beranjak mengikuti langkah anggota Satpol PP menuju ruang kerja Camat.

***

Selamat datang, selamat bergabung……. dst”

Penyambutan ramah dari Pak Camat membuat penyesuaian di tempat baru ini bisa lebih akseleratif. Diskusi ringan diselingi petunjuk kerja dan kebiasaan disini, menjadi pedoman langkah untuk memulai bekerja lebih giat.

Fasilitas kerja berupa ruang kerja dan motor dinas edisi sepuh juga ada, termasuk jika mau menggunakan rumah dinas camat sebagai tempat kost dipersilahkan, ini yang menarik, yang menjadi pangkal cerita dalam tulisan ini, cekidot.

–**–

RUMAH DINAS

Rumah dinas camat ini berada tepat disamping kiri kantor kecamatan, pasti begitu, dengan tujuan agar seorang camat bisa dengan cepat mememuhi tugas dalam memberikan pelayanan terbaik kepada warga atau rakyat yang ada di wilayahnya.

Nah khusus di Kecamatan Sumedang Selatan ini, Camatnya tidak menempati rumah dinas karena rumahnya memang deket ke kantor, bukan hanya camat yang sekarang tetapi juga camat-camat terdahulu.

Jadi rumah dinas ini lebih dimanfaatkan untuk ruang penunjang kegiatan kecamatan, seperti untuk rapat-rapat ataupun ‘botram’,

“Are you know botram?”

Itu tuh makan-makan barengan dengan menu tertentu atau terkadang alakadarnya. Masak bareng-bareng di sela kerja, trus dimakan bersama seperti nasi liwet, jengkol, pete, kerupuk dan jangan lupa sambel dadak terasi plus lalapan, juga tahu tempe plus asin, nggak lupa ayam goreng, gurame bakar pais lele, gepuk juga sayur lodeh…. halaah party atuh ini mah.

Kembali urusan rumah dinas, tentu gayung bersambut. Diriku butuh penghematan dengan gaji terbatas, sehingga dengan menggunakan rumah dinas ini maka biaya kost bisa dihapus. Di tahun 2005, uang 300 ribu itu sangat berharga. Biaya kost 1 bulan bisa ditabung demi masa depan, hahaay. Klo nggak salah gaji tuh 1,1jt atau 1,3juta. Pokoknya penawaran kost gratis di rumah dinas ini adalah kesempatan emas, titik.

Nggak pake lama, segera beres-beres di kost yang lama dan kebetulan tinggal 3 hari lagi. Nggak terlalu banyak barang karena memang hanya seorang anak kost perantauan, cukup satu tas gendong besar dan 1 tas jinjing. Sama 2 dus buku-buku dan pernak-pernik. 2 kali balik pake motor juga selesai.

Dengan dibantu kawan-kawan baru di kecamatan, hari sabtu menjadi momen beberes rumah dinas agar layak digunakan. Kamar depan di setting sebagai kamar kostku, sementara 2 kamar lainnya difungsikan sebagai gudang tempat penyimpanan barang-barang inventaris kantor, meskipun untuk kamar darurat masih bisa difungsikan.

Lantai ruang tengah dibersihkan, di sikat dan dipel bersama-sama, lalu dipasang plastik dan terakhir karpet kantor. Sebagian dipasang satu set meja kursi dan diujung depan kamar dibuat menjadi mushola darurat, cukup buat 15 orang berjamaah.

Kamar mandi dalam diperbaiki, minimal ada air yang bisa digunakan mandi cuci kakus. Sementara kamar mandi belakang, dapur dan ruang gudang belakang praktis tidak digunakan karena kondisinya memprihatinkan.

Tapi itu nggak masalah, lha wong bujangan. Makan tinggal beli ke warung depan atau nebeng sama pegawai kecamatan klo makan siang. “Asyik khan?”

Esok harinya, aku mulai tinggal di rumah dinas camat itu. “Bismillahirrohmaniirohim…”

***

*)Amtenaar : pegawai negeri.

Cerita selanjutnya tentang rumah dinas ini segera dirilis. Wassalam (AKW).

Millenial & Sholat Jama

Perjalanan grey millenial ke ujung selatan pulau sumatera

LAMPUNG, akwnulis.com, Bagi milenial kayak penulis ini, maka jalan-jalan itu menjadi sebuah keharusan. Trus yang tidak akan terlupa tentu melaporkan kepada dunia bahwa kita berada disuatu tempat yang menarik, langka, spesial dan amazing deh. Buat apa?… buat ngumpulin jempol dan like yang begitu membahagiakan. Padahal itu kebahagiaan semu yang ternyata melenakan.

“Ah kamu mah sok sok milenial, ngacaaa…!!”

“Lha nggak percaya, aku ini generasi ‘grey millenial’ lho”

“Grey millenial??”

“Iya bener, grey millenial itu generasi berambut abu-abu alias udah beruban tapi kelakuan kayak generasi millenial juga yang peduli sama hal-hal berbau millenial”

“Oiih…. ada-ada aja kamuuuh!!!”

Tapi beneran lho, rasa bahagia yang sering terasa menelusup jiwa adalah manakala postingan status di medsos kita menangguk jempol dan like yang super banyak, apalagi ditambah komen-komen yang bejibun, indeks kebahagian segera meningkat. Padahal itu semua semu. Nggak ada jaminan yang nge-klik like dan love itu memang sangat menyukai postinganmu, mungkin saja karena kasihan atau karena nggak enak udah temenan.

***

Jadi, nggak usah ge-er sama love dan like juga komen di medsos, slow aja. Hidup masih panjang bro. Moo dipenuhin tuh medsos dengan photo dan video hasil jalan-jalan, ya monggo. Mau nggak diposting juga nggak apa-apa, atau mau sekalian pake jasa fotografer profesional di lokasi berwisata, pasti udah sering make aplikasi sweetescape yaaa….

***

Nah perjalanan kali ini nyebrang sedikit pulau jawa melintasi selat sunda yaitu ke Provinsi Lampung, meskipun nggak nyampe Pahawang dan bersua Si Gajah besar di Way Kambas tapi minimal rasa kopi asli robusta lampung dinikmati sembari merenungi hari yang beranjak cepat dari terang menjadi gelap kembali.

Nah salah satu yang menarik perhatian itu adalah fasilitas ibadah untuk muslim di area Bandara Radin Intan II. Beberapa mushola tersebar di dalam bandara, dan disaat kembali check in untuk penerbangan kembali ke Bandung maka mengikuti lagi SOP pemeriksaan bandara yang mau nggak mau diikutin, dari pada nggak boleh ikutan terbang, “Betul khan?”

***

Tuntas pemeriksaan, bergerak mengikuti petunjuk arah menuju mushola yang ternyata terletak di lantai 3. Naik pake elevator dan hampir saja salah buka pintu. Maklum sambil sibuk maenin gadget. Di pintunya tertulis, ‘Bukan mushola’….. (to be continue…)

Kertajati – Lampung

Mengangkasa dari Bandara Kertajati ke Lampung.

LAMPUNG, akwnulis.com, Adzan shubuh berkumandang, disaat raga ini sedang bersiap untuk mengikuti perjalanan takdir hari ini. Segelas air hangat ditambah peras jeruk nipis membuka kesegaran hari ini, menenangkan jiwa serta memberi nuansa beda agar lambung tetap bersahaja.

Perjalanan dimulai dengan menggunakan kendaraan dinas menuju Bandara Kertajati di Majalengka melalui Toll gate Baros 2 yang masih lengang seakan tak punya kawan di pagi buta.

Jiusss…. Innova lama berlari membelah pagi, menyusuri jalan tol Cipularang lalu berbelok kanan memasuki ujung tol Cikampek, dan kembali melesat lurus di mengikuti jalur jalan tol Cikampek – Palimanan.

Perjalanan sepanjang kira-kira 180 km ditempuh dalam waktu 125 menit, berarti kecepatan rata-rata adalah 90 km/per jam, ditambah 15 menit mampir di rest area.

***

Tepat pukul 07.00 wib, kami memasuki gerbang Bandara kebanggaan rakyat jawa barat yaitu BIJB Kertajati, Bandara Internasional Jawa Barat di Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka.

Tak lupa segera mencari spot photo yang pas, minimal muka depan bandara baru ini bisa diabadikan dengan smartphone kesayangan menggunakan teknik ‘luckyshot’ alias mimilikan.

Cetrék…
Cetrék.

“Ngapain seeh lu kesini?”

Pasti penasaran yaaach. Setelah hampir 7 bulan pasca penerbangan bersejarah dari Bandung – Kertajati dan pendaratan pesawat kepresidenan yang menjadi momen sejarah pembukaan bandara baru ini. Diriku disibukkan dengan tugas-tugas lain plus mengikuti diklat selama 4 bulan. Sehingga kembali saat ini, baru berkesempatan menginjakkan kaki disini.

daan… yang jadi senengnya, dapet tiket gretongan buat terbang pake pesawat Garuda ke Lampung, Alhamdulillah. Hatur nuhun BIJB.

***

Setelah tuntas acara seremoni parade sambutan, khususnya kata-kata dari Pak Sekda Jabar, “… dengan ini, secara resmi penerbangan perdana pesawat Garuda dari Bandara Kertajati ke Bandara Radin Intan II di Lampung resmi dibuka!!”
Maka… penerbangan dimulai.

Tok tok tok…
“Horeee… prok.. prok.. prok.”

Rame aja pokoknya, trus yang bikin seneng adalah para penumpang yang moo ikutan penerbangan hari ini hampir 80% dari seat yang tersedia di pesawat ATR72-600 udah ludes terjual.

Pak Sekda dan pejabat pemprov Jabar juga Pak Plh Bupati Majalengka hadir pribadi, melepas kepergian ini dengan rasa bangga. Bandara kebanggaan Jawa Barat, bandara yang berada di tanah Majalengka akan semakin maju dan penuh pesona.

“Bismillaahi majreeha wa mursaahaa inna rabbii laghafuurur rahiim” (QS.Hud :41).
‘Dengan nama Allah (semoga) menyertai perjalanan dan mendaratkan (pesawat ini). Sungguh, Tuhanku, benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’

***

Perjalanan ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam 10 menit, pesawat ATR72-600 mendarat dengan mulus di Bandara Radin Intan II, Lampung. Membawa kami menginjakkan kaki kembali di tanah Lampung.

Selamat untuk Garuda.
Selamat untuk BIJB.
Selamat untuk seluruh rakyat Jawa Barat.

“Hidup Kertajati!!!”

Akhirnya tuntas juga menulis perjalanan perdana ini, Cimahi – Kertajati, Kertajati – Radin Intan II. Wassalam (AKW).