Perpisahan Mendadak.

Perpisahan itu hadir karena ada pertemuan.

BANDUNG, akwnulis.com. Ternyata sebuah perpisahan itu tidak ada tanda-tanda, tanpa gejala ataupun rasa berbeda. Tetapi terjadi begitu saja. Tetapi hal yang terpenting adalah meyakini tentang destino atau takdir. Bahwa semua yang terjadi sekecil apapun sebenarnya sudah ada ketentuannya.

Apalagi perpisahan mendadak kali ini mengingatkan kembali kebersamaan kami yang begitu erat dalam menjalani kehidupan. Menapaki pantai, hutan, hingga trotoar kota dan kabupaten, menunggang motor dengan kecepatan adalah hiburan, termasuk mengakses jalan desa dan licinnya jalir ke hidden gems yang viral di media sosial. Selama ini begitu kompak kita bersama.

Namun akhirnya sang waktu jua yang menjadi batas kebersamaan. Sehingga momentum perpisahan harus dihadapi tanpa persiapan yang ada.

Nah sebenarnya kejadian siang inipun sungguh tidak terbayangkan. Karena dari pagi semua baik-baik saja, bisa menikmati secangkir kopi sebelum mengikuti aktifitas yang bejibun hari ini. Kopi yang hadir kali ini tentu bukan main-main, sebuah sajian kopi apik yang diproses dengan tahapan plus perasaan.

Kopi longblack dengan keharuman yang melenakan disajikan di sebuah tempat yang sejuk menghijau dengan background senada bertuliskan hotel aryaduta. Sruputan nikmat di pagi ceria sebelum ke ballroom tempat acara berlangsung, menjadi mood booster untuk suksesnya kegiatan hari ini.

Acarapun berjalan lancar hingga menjelang ishoma, tetapi disaat berusaha memenuhi target 6.000 langkah mengelilingi area atau kawasan hotel aryaduta, terjadilah kejadian yang penuh suka cita.

Anda mau cerita apa sih, kok muter – muter?”

Ih sabar dong, ini khan sedang berproses di kepala lalu bersiap meluncur di lidah dan melewati mulut maka akan berhamburlah kata-kata.

Ini masalahnya kawan” Dengan wajah sendu dan sembab karena perpisahan mendadak, jari telunjuk mengarahkan ke bawah kaki kiri. Terlihat sepatu dan bantalannya telah berpisah dan sulit digabungkan kembali. Karena memang sudah berbeda kepentingan plus hancurnya beberapa bagian karena dimakan usia dan kehampaan.

Sebagai penghibur hari, selain secangkir kopi ada juga cuplikan film romantis yang sedang happening di Netflix. Di film Love in the Villa disebut dengan istilah L’amore trova una via yang terjemahannya adalah ‘cinta menemukan jalannya’. Meskipun jalannya belum tentu sesuai dengan harapan tapi dalam film ini tentu berakhir dengan happy ending dan sangat kaya suasana keindahan budaya dan story telling tentang romantika romeo & juliet serta dapat menikmati keindahan kota verona italia… tapi ternyata masih sedih juga.

Maka disela jam istirahat bergegas mencoba memperbaiki perpisahan ini, namun apa mau dikata. Sudah sulit untuk menggabungkan kembali. Ya sudah akhirnya biarkan kenyataan yang akan membuka mata dan mengurangi kesedihan yang ada. Selamat jalan sepatu bootsku yang penuh kenangan. Wassalam (AKW).

Swimming Pool Hotel Ciputra Jakarta.

Kembali menikmati kolam berenang.

JAKARTA, akwnulis.com. Sebuah pemandangan yang meneduhkan sekaligus mengundang raga untuk bercengkerama adalah birunya kolam renang yang berada di lantai 7 Hotel Ciputra Jakarta. Tapi apa daya jadwal rakor begitu tegas mengatur sesi hingga terdapat sesi malam yang secara konsisten dihadiri lengkap oleh para peserta. Itulah makna konsistensi dari semua pihak yang tergabung dalam agenda pembahasan tentang rencana aksi destinasi pariwisata.

Tepat pukul 21.30 wib acara hari pertama usai, namun disaat akan mencoba kolam renang ternyata sudah tutup. Pasca pandemi covid19 penggunaan kolam renang dibatasi, hingga hari ini. Ah jadi teringat masa – masa sebelum pandemi melanda. Bisa menikmati bercengkerama dengan air segar di kolam renang hotel pada malam hari. Nuansa berbeda dengan kerlap kerlip lampu kolam renang yang begitu menyenangkan. Jejak digitalnya bisa dilihat pada tulisanku beberapa tahun yang lalu yaitu BERENANG DI MERLYNN PARK HOTEL (2018).

Akhirnya diputuskan untuk menuju kamar saja di lantai 16 yang sudah disediakan panitia. Keluar dari lift langsung belok kanan dan agak sedikit ada rasa berbeda. Tapi kemungkinan besar ini sugesti saja dari cerita istri yang katanya ada sesuatu yang tertangkap kamera pada saat teman-temannya bertugas di sore hari. Tambah lagi jadi teringat peristiwa di sebuah hotel yang nun jauh disana harus berbagi room dengan ‘sesuatu’ yang cukup menguras adrenalin, ini catatannya BERBAGI KAMAR MANDI. Tapi itu adalah sugesti, bertawakallah kepada Allah dan yakinkan bahwa kita manusia adalah mahluk yang mulia.

Tempel kunci elektronik di kamar nomor 16xx dan sebelum memasukan di kotak power maka ucapan salam “Assalamualaikum Wr Wbr” menggema di depan pintu. Lalu bergerak ke dalam dan tak perlu lama langsung buka tas punggung dan menyiapkan baju ganti setelah nanti mandi air hangat di kamar mandi hotel ini.

Setelah kesegaran didapatkan, shalat wajib dituntaskan maka membuka laptop untuk mengecek surat masuk dan keluar adalah juga keharusan. Meskipun akhirnya menuju peraduan namun sebelumnya tidak lupa mengabadikan sekeping suasana ibukota di malam hari yang bertabur cahaya.

Tidur aja.. zzzzz

Esok hari keinginan untuk mencoba aktifitas renang ini kembali menggebu. Maka melihat sesi acara diawali pukul 08.00 wib. Ada celah waktu untuk digunakan menikmati ksegaran pagi. Maka bergegaslah keluar kamar menuju parkiran untuk mengecek perlengkapan. Biasanya di mobil sudah tersedia alias nyetok celana renang lengkap dengan kacamatanya.

Tapiii…. ternyata setelah mengaduk-aduk bagasi mobil, celana renang dan kacamata tidak bersua termasuk tas khususnya. Berarti memang takdir tuhan belum bisa menikmati suasana berenang kali ini. Ya sudah tidak usah dipaksakan, tetapi sebagai pelipur kecewa maka raga tetap bergerak ke lantai 7 untuk merasakan suasana kolam renang secara langsung.

Kolam renang di Hotel Ciputra ini berada di lantai 7 dan terdiri dari 2 kolam renang. Satu kolam untuk anak dan satu lagi berbentuk setengah oval untuk dewasa dengan kedalamannya variasi dari 1,25 meter sampai 1,75 meter. Jadi bagi yang belum mahir banget berenang harus hati-hati, apalagi tinggi badan dibawah 170 cm, pas coba berdiri disini berarti harus bersiap tahan nafas dan jangan panik ya. Apalagi memang tidak ada penjaga khusus kolam renang. Minimal ajak teman untuk saling menjaga sehingga dapat menikmati kolam renang dengan terjaga keselamatan.

Setelah puas photo dan sejumput video akhirnya diputuskan meninggalkan area kolam renang dan memaksa melupakan untuk rencana berenang kali ini. Tapi minimal sudah survey dan mungkin besok lusa atau kapan – kapan bisa dilaksanakan.

Apalagi jadwal breakfast sudah mulai di restoran. Maka keputusan akhirnya adalah kembali kepada acara rakor di hari ke-2 tentu dengan full stamina. Semangaaat. Wassalam (AKW).

Merenungi Kohitala.

Menikmati Kopi tanpa menghabiskan.

JAKARTA, akwnulis.com. Secangkir kopi hitam terdiam dihadapan, menunggu apa yang akan terjadi sebagai sebuah kelanjutan. Secangkir kopi biasa yang hadir karena sebuah acara, rapat kerja yang ternyata memiliki makna tentang arti suatu tahapan pembangunan yang perlu banyak hal dibicarakan.

Ada rasa bersalah karena kehadiran secangkir ini bisa berakhir sia-sia. Tadinya ingin menolak untuk tidak disajikan. Namun pelayan hotel sudah langsung membagi – bagi snack dan kopi atau teh di meja peserta. Semoga sajian kopuli ini  bukan hanya menjadi pemanis meja belaka tanpa memberikan kenangan rasa yang menjadi pembeda. Begitulah jika kehidupan ini dicoba dimaknai secara detail tahapan prosesnya. Karena jika tidak meyakini awalnya seperti apa, biji kopinya jenis apa, proses roastingnya bagaimana, menyeduhnya manual atau dengan mesin kopinya bagaimana hingga siapa baristanya, maka rasa galau yang akan hadir di sekitar amigdala.

Bukan sekali dua kali, pasca menikmati sajian kopi yang tidak tahu asal usulnya, maka perut atau tepatnya lambungĀ  berkreasi… eh bereaksi dan memberikan rasa tidak nyaman berkepanjangan. Ya tidak bisa menyalahkan perut juga tetapi sebuah kebiasaan yang telah membentuknya.

Kembali termenung menatap secangki kopi hitam yang disajikan tanpa gula sesuai permintaan. Ragu melekat dan kembali terdiam sambil konsentrasi membagi indera dengan berusaha mendengarkan para narasumber yang terlihat kompeten di bidangnya masing-masing.

Perlahan cangkirnya diangkat dan di dekatkan ke bibir, lalu sruput dikit untuk mencoba bagaimana rasa dan kelanjutannya. Mudah ditebak, ini akan berakibat jika dilanjutkan. Maafkan atas ketidaktuntasan menghabiskan kopi sajian rapat kali ini.

Tapi jangan khawatir, kehadiranmu hai secangkir kopi hitam tanpa gula tetap memiliki nilai dan makna. Sebuah jepretan kamera smartphone ini bosa mrnjadi abadi, apalagi dipadupadankan dengan refleksi pantulan atau bayangan lampu hias hotel yang luxury memberi kesan mewah dengan nuansa keemasannya.

Hikmah yang didapat adalah selalu berusaha melihat sisi baik dan sisi hikmah dari semua keadaan, berbagai kejadian yang menjadi kenyataan. Pasti memiliki sesuatu yang menjaga kita untuk senantiasa bersyukur dan belajar bagahia eh bahagia.

Selamat sore semua, mari kita sedikit menghela nafas dalam istirahat sore. Sebelum nanti malam berjibaku kembali dalam meeting yang perlu konsentrasi serta kebersamaan. Wassalam (AKW).

DATA, Kopi & WFA

Presentasi dan materi diakhiri dengan FWA sambil sruput Kopi.

PASTEUR, akwnulis.com. Suasana rapat dengan model U bisa langsung membuat suasana menjadi beku dan kaku terjebak oleh suasana formal rapat yang lengkap dengan pernak pernik formalitas. Apalagi didukung penuh oleh hembusan air conditioner ruangan yang melenakan, maka rasa kantuk begitu mudah hadir dan segera mengaburkan pandangan berganti mimpi sesaat yang memang bernilai nikmat.

Itulah saat menantang bagi diri ini yang harus memberikan materi pada saat jam rawan dimana para peserta sudah makan siang dan kelihatan wajah – wajah kenyang. Maka cara terbaik adalah berusaha menghadirkan interaksi dan sedikit humor agar kantuk peserta hilang dan bisa antusias menerima materi yang akan disajikan.

Maka segera dikeluarkanlah aneka kemampuan termasuk posisi raga pun diubah. Tidak lagi duduk di depan meja penyaji materi tetapi segera bergerak turun dari podium dan berdiri setara dengan para peserta sekaligus mata dipicingkan untuk melihat peserta mana yang terkantuk-kantuk atau malah diam tetapi mata tertutup dan menikmati mimpi siang di sejuknya ruangan meeting hotel ini.

Ngapain milih yang ngantuk-ngantuk?”

Pertanyaan sederhana tapi efektif menyegarkan suasana. Caranya adalah dekati peserta yang sedang terkantuk-kantuk dan berikan mic yang ada, lalu berikan pertanyaan. Dijamin akan terjaga dan hilang rasa kantuknya berganti wajah tegang dan kebingungan atas apa yang sedang terjadi. Kalau nggak percaya, silahkan coba.

Maka mengalirlah rangkaian kata dan kilasan slide presentasi dilengkapi tawa canda dan tegur sapa dengan sebuah tema yaitu REKOKOM (regulasi, komunikasi dan komitmen) tentang pentingnya data yang dihasilkan sekaligus cara mendapatkan data tersebut.

Lalu setelah tugas menyampaikan materi usai, dilanjutkan dengan tugas lain yang harus konsentrasi sertai tidak terbuai. Meskipun raga sebetulnya sudah mulai lunglai. Maka cara terbaik adalah pindah suasana meskipun masih berada di satu area, ditambah dengan sajian kopi hitam tanpa gula, tapi sedikit foam susu sehingga cappucino yang datang merk Ily segera mengubah suasana.

Sruputan pertama menjadi utama untuk mengembalikan stamina. Alat kerja langsung digelar, laptop, tablet, smartphone dan sisa-sisa kertas yang harus dilihat satu persatu karena masing-masing menjadi unik dengan tulisan tangan yang berbeda-beda.

Apalagi momentum kali ini begitu cocok dengan tema tulisan selama ini yaitu NGOPAY & NGOJAY. Karena lokasi kerja kali ini berdekatan dengan kolam renang yang bisa digunakan ‘ngojay‘ serta dihadapan sudah hadir kopi untuk ‘ngopay‘. Alhamdulillah.

Sruputan berpadupadan dengan baca tulisan tangan dan pemandangan kolam renang, sebuah momentum FWA (flexible working arrangement) yang menyenangkan. Pekerjaan tuntas sambil memunggu rangkaian kegiatan di lantai atas yang berharap hadir pada saat penutupan. Itulah sepenggal kisah tentang presentasi, materi, kolam renang dan kopi. Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Hotel Holiday Inn – Pasteur Bandung.

Cinta diantara Buku & Kopi.

Cerita cinta dan perpisahan menjadi nikmat karena berteman dengan kopi dan harapan.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah perjalanan kehidupan tentu berbeda dari setiap orang, maka ceritakanlah versi masing-masing agar menjadi lintasan sejarah meskipun mungkin hanya selarik baris yang hampir transparan. Ceritanya tentu tertuang dalam tulisan, photo atau video pendek dengan catatan senada. Usahakan jangan dilisankan saja, karena lisan hanya terngiang dan mungkin hilang. Tapi tulisan, photo dan video relatif umurnya lebih lama akan menghiasi kehidupan ini.

Jadi tidak usah risau melihat orang begitu rajin mengekspose aktifitas dirinya secara harian atau malah per jam dan ‘update‘ dimana sedang apa bareng siapa, minimal di whatsapps status lalu dilanjutkan di media sosial dengan berbagai ‘caption‘.

Ada caption ‘Coba tebak dimana ini?’ atau ‘Alhamdulillah sampai juga’ dan berbagai caption lainnya. Itulah bentuk eksistensi diri yang (mungkin) berharap ada reaksi. Atau bisa juga memang ingin nulis caption seperti itu tanpa peduli pendapat orang dalam bentuk komentar atau sekedar jempol yang kecil sekalipun.

Begitupun raga ini bergerak mengikuti alur kehidupan tentu didukung oleh jiwa yang optimis dan harus semangat dalam menapaki kehidupan. Maka tugas pekerjaan dan aneka pergerakan kemari kesana eh kesana kemari ataupun tetap stay di kantor di area bandung dan sekitarnya harus dijalani dengan rasa syukur dan ceria. Meskipun masalah atau beban selalu ada, itu adalah ciri kehidupan. Tinggal bagaimana kita menyikapi dalam menghadapinya.

Sebagai penyeimbang dari berbagai tugas yang perlu stamina serta bejibun urusan yang seolah tidak berhenti, perlu ada ‘mini healing’ yang cocok untuk diri ini. Nggak terlalu sulit, hanya perlu kontak GPS (gunakan penguasa sekitar) dan kebetulan terlewati dan tanyakan informasi serta rekomendasi tempat ngopi. Jika ada beberapa alternatif maka perhitungkan dengan estimasi jarak dan waktu serta arah yang tepat dengan pergerakan menuju kembali ke kantor sehingga jam kerja tetap efektif. Maka waktu yang pas adalah di saat jeda istirahat siang sekitar jam 12.00 sampai 13.00 wib.

Pilihan lain tentunya diluar jam kerja, bisa sore hingga malam atau di hari sabtu minggu. Meskipun susah juga karena ternyata tugas yang ada terus menguntit dan waktu untuk bersua dengan keluarga tetap menjadi prioritas. Jadi pinter – pinter liat momen ya guys.

Tapi jikalau sambil beredar ternyata sulit juga menyempatkan waktu. Cara terpraktis adalah di tempat kerja saja, menikmati kopi sambil tersenyum simpul membaca sebuah buku yang sarat makna dengan kemasan kertas per halamannya mewah semewah isinya.

Mau tahu judul bukunya?”
“Mauuuu….” Jawaban beragam dari teman – teman sekantor yang reflex menjawab meskipun tidak semua paham yang dipertanyakan. Jangan – jangan karena kasian ya?.. Wallahu alam.

Judulnya adalah ‘Ada Nama Yang Abadi di Hati Tapi Tak Bisa Dinikahi’ buah karya brilian dari Kang Maman Suherman, seorang tokoh media, penulis, kreator dan berbagai sebutan yang memang layak disematkan. Buku ini hadir melalui perantara sahabat lama, Neng Feby – bos Raka FM, Hatur nuhun pisan. Maafkan baru sekarang bisa dibuka, dibaca dan dinikmati. Oh ya dan ini bukan satu-satunya buku dari Feby, ada 3 buku lagi yang antri untuk segera dinikmati, sekali lagi terima kasih hatur nuhun.

Isi bukunya jenaka meskipun sebagian mengulas tentang perpisahan. Tapi tema utamanya adalah tentang cinta yang begitu syuliit dilupakan, karena rehan baiiiik…. eh salah, karena cinta itu adalah anugerah Tuhan yang penuh cara untuk melukiskan dan tiada hingga kata yang bisa diucapkan.

Sebagai penyempurna maka kehadiran sesloki kopi adalah hal yang wajib. Kopi yang di manual brew V60 kali ini adalah kopi arabica halu ‘strawberry waffle’ dan langsung digrinder sesuai kepentingan dan keinginan.

Srupuuut…. nikmat sambil tersenyum simpul membaca jalinan kata yang ternyata begitu mengena. Seperti ‘Puncak tertinggi mencintai = KEIKHLASAN dan kehampaan tanpa batas pengharapan = ABADI MENCINTAI…. uwoooow jlebb bingiit cyiin.

Berpadu dengan body kopi yang medium bold, acidity medium high serta aftertastenya lebih ke lemon dan dark coklat plus bulet rasanya atau pulen. Meskipun rasa strawberry wafflenya nggak dapet, tapi kenikmatan rasa kopi arabicanya tetap berkarakter dan penuh warna. Sruput lagi ah…

Alhamdulillah, akhirnya sore hadir menjelang magrib dan raga ini harus bergerak meninggalkan tempat kerja untuk bercengkerama dengan kepadatan lalulintas di wilayah jembatan layang paspati hingga pintu tol pasteur demi kembali bersama keluarga.

Tapi… baru saja menapaki flyover paspati, handphone berdering…

*** to be continue ya…

Ternyata musti balik ke kantor… Semangaaat. Wassalam (AKW).

Jangan malas menulis (KOPI).

Semangat yuk merangkai kata, lawan kemalasan.

GARUT, akwnulis.com. Minggu ini terasa tantangan berat untuk ‘sekedar‘ menulis di blog kesayanganku. Biasanya 3 hingga 4 tulisan singkat nan sederhana bisa dihasilkan. Tentunya bukan tulisan yang bisa masuk standar media tapi hanya sekedar tulisan singkat pemuas dahaga dan pengalih perhatian dari segala kesibukan yang ada. Bisa juga pengganti ‘me time’ yang tetap perlu dilestarikan. Jika dahulu adalah momotoran, atau traveling ke alam bebas, juga nongkrong olangan sambil menikmati sajian kulineran. Maka sekarang diutamakan dengan keluarga, karena kebersamaan ini yang menjadi nilai penting bagi perjalanan kehidupan sekarang dan yang akan datang.

Evaluasi singkatpun berkutat di kepala dan jika kesibukan serta rutinitas menjadi kambing hitam ketidakmenulisan minggu ini, kayaknya kurang pas karena ada produk pribadi lainnya yang tetap bisa dibuat, yaitu posting di channel youtubeku @andriekw. Postingnyapun lumayan 8 menit lebih.

Kayaknya ini yang menjadi penyebabnya, membuat video aktifitas ngopay dan ngojay lalu posting di channel youtube kayaknya yang buat menulis agak terhenti. Perlahan terdiam dan merunut aktifitas harian belakangan ini.

Ternyata faktor pertama lebih signifikan, yaitu kesibukan kerja ditambah dengan perjalanan tugas dinas yang ternyata memforsir pisik dan mental guys. Maksudnya adalah, selama ini aktifitas bisa dilakukan diperjalanan baik di mobil atau pesawat dalam kondisi normal, sementara minggu lalu perjalanan ke Singajaya Garut selatan begitu menegangkan dan memualkan sehingga pusing di belakang kepala begitu lama hinggap dan tak hilang-hilang. Apalagi staf pendamping yang begitu merana karena pergi ke tempat acara harus tertunda karena muntah-muntah hingga semua sisa-sisa lambung tak tersisa. Ternyata sepulang acarapun harus kembali jongkok pinggir jalan untuk muntah parah yang kedua, tak kuat menghadapi ombak banyu dari goyangan mobil double kabin menurun naiki jalan berkelak kelok di daerah Singajaya tepatnya di Desa Cigintung.

Untungnya sebelum tiba di Singajaya masih bisa ngopi cantik di cafe Dongeng Tberace Cisurupan, lalu pulang nonton wayang adalah menikmati Sop panas dini hari di daerah Cikajang. Bisa sedikit mengurangi kepusingan apalagi ditambah diskusi ringan dengan anak muda penuh semangat yang mengelola kios kopi tentu dengan sajian manual brew V60 yang nikmat dan penuh kehangatan.

Hingga akhirnya diputuskan bermalam di salah satu villa di daerah Cipanas Garut untuk menjaga stamina dan kondisi memang sudah lelah baik penumpang, pendamping dan pengemudi.

Faktor kedua adalah kemalasan, dengan justifikasi rasa lelah dan terbatas waktu maka kesempatan buat tulisan menjadi tertahan. Inilah yang tersulit dalam menjalani kehidupan, karena musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri.

Tapi sebagai pembelaan diri, minimal dengan segala keabsenan menulis di minggu ini. Tetap ada ada produk pribadi yang dihasilkan yaitu 9 menit video singkat yang diupload di channel youtube pribadi. Meskipun mayoritas tema dan ceritanya adalah tentang kopi dan ngopi. Tetapi sesekali urusan pekerjaan hadir melengkapi postingan videonya. Yup sesekali saja kariweuhan ditampilkan, karena ini media sosial pribadi, klo mau lengkap ya tinggal lihat media sosial resmi milik dinas.

Begitulah goresan kata kali ini, setelah tertunda beberapa kali karena berbagai faktor tadi. Paling penting adalah menjaga konsistensi bahwa smartphone yang dimiliki memiliki fungsi produksi. Selamat pagi dan mari bersyukur sambil merangkai asa di hari ini. Wassalam (AKW).

TIPS anti Galau2 – Ngopay Kopi Mandja.

Menikmati salah satu obat anti galau.

CIMAHI, akwnulis.com. Perjalanan siang yang cukup terik mengantarkan raga bergerak menjalani aliran kehidupan yang terus mengalir. Sementara perut mulai bernyanyi karena waktu makan siang sudah hampir terlewati. Jam tangan menunjukan pukul 14.55 wib. Tidak ada pilihan, berarti harus segera menepi dan mencari tempat yang menjual makanan dan dapat segera dinikmati.

Namun kemacetan mendera cukup panjang dan tidak seperti biasanya. Biasanya cuma padat saja, tidak sampai tersendat dan terdiam seperti sebuah hubungan pertemanan yang berubah menjadi percintaan hingga akhirnya bubar dan nggak temenan lagi… “Halaah kok malah jadi cerita perpisahan sih?”

Gpp atuh, ini khan sebuah cara menghibur diri daripada harus cemberut dan sumpah serapah. Karena tetap saja kemacetan tak bergeming, dan semua terdiam mengikuti perkembangan.

Begitupun raga ini, senyuman berusaha ditampilkan meskipun kekesalan karena kemacetan sudah memuncak memenuhi ubun-ubun. Tapi pikiran rasional harus dijaga, mungkin saja ada kejadian luar biasa di depan sana sehingga menghambat perjalanan semua.

Memang kesal dan galau itu milik semua dan secara harfiah serta sunatullah, rasa ini adalah sebuah keniscayaan dikala kitapun memiliki kemampuan untuk merasakan senang gembira bahagia dan ceria.

Bagaimana mungkin kita tahu perasaan gembira dan bahagia makanakala kita tidak paham tentang arti dan rasa galau sedih dan duka?”

Itu bukan pertanyaan retorika tetapi sebuah kalimat yang menyadarkan kita bahwa kehidupan itu penuh dinamika. Senang dan sedih, suka dan duka ataupun happy dengan galau serta banyak lagi pasangan dalam perjalanan kehidupan seperti siang dan malam serta laki-laki dan perempuan.

Jika ditulisan sebelumnya ada tips bahwa obat galau itu adalah POSTING & LUPAKAN GALAU. Itu hanya salah satu tips saja karena setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam melawan dan menyelesaikan kegalauan yang melanda. Dari beberapa respon terhadap tulisan awal ternyata selain posting di medsos maka pilihan obat galau adalah makan dan ngemil lho. Ada juga yang mengalihkan kegalauan dengan merokok, memancing atau touring motor atau mobil sambil menikmati suasana alam dan kuliner yang dilewati.

Ada juga mengalihkan kegalauan ini dengan menulis sebait puisi dan sejengkal kalimat untuk menggambarkan kegalauan. Juga bernyanyi baik di kamar mandi, di ruang karaoke atau tampil di panggung dan mendapat applaus tepukan tangan atas keberaniannya.

Nah tips tambahan dari penulis adalah jika galau melanda yang dilakukan adalah :
a. Memunguti kata di dalam kepala dan menjalinnya menjadi kalimat reka yang bisa hadirkan makna.
b. Menikmati prosesi penyeduhan kopi manual hingga tersaji menjadi segelas kecil penuh rasa.
c. Menyeruputnya dan merasakan sensasinya hingga dituangkan kembali dalam tulisan yang sedehana.
d. Mensyukuri kenyataan meskipun dengan segala kondisi dan keadaan, serta berharap semua bisa kembali baik-baik saja.
e. Melamun atau meditasi dan mencoba mengosongkan pikiran hingga terlarut dengan suasana alam.
f. Lanjutan dari poin e adalah berusaha segera tidur agar bisa menikmati keceriaan dalam mimpi indah yang penuh ketenangan.

Udah dulu ya, berhubung sekarang ada sedikit galau akibat paragraf awal yaitu kemacetan. Maka mlipir dulu ke kanan untuk melaksanakan tips poin b dan c yaitu menikmati sajian kohitala (kopi hitam tanpa gula) di Kedai Kafe Mandja Kolmas, sambil menunggu kemacetan terurai. Srupuuut, Wassalam (AKW).

*****

Cafe KOPI MANDJA
Jl. Kol. Masturi No.101 Cipageran Cimahi Utara Kota Cimahi Jawa Barat 40511

TERBANG lagi.

Alhamdulillah, bersua kembali dengan udara eh bandar udara.

JAKARTA, akwnulis.com. Ketika kaki perlahan menjejak di area keberangkatan bandara cengkareng atau soekarno hatta ini, ada perasaan yang bercampur baur. Rasa senang karena akan kembali terbang dengan pesawat begitu menguat. Namun terselip rasa hawatir jikalau tidak lolos metal detektor dan harus bulak balik diskusi dengan petugas bahwa titanium yang terpasang di kaki kiri adalah bagian dari penyembuhan tulang yang patah. Juga hadir sejumput sedih jika mengingat beberapa tahun lalu praktis tidak bisa kemana-mana dengan alasan keselamatan akibat ancaman virus covid19.

Terasa seperti kembali menjadi orang baru yang akan naik pesawat dan exited bingit pas masuk bandara. Terasa ada kebahagiaan tersendiri disaat proses tiket otomatis dengan bermodal kode booking, lalu antri untuk menitipkan bagasi hingga bergerak untuk pemeriksaan selanjutnya menuju keberangkatan pesawat.

Pas memasuki pemeriksaan detektor logam, jantung sedikit kencang berdenyut. Khawatir urusan logam di kaki kiri menjadi hambatan. Ternyata pertanyaan signifikan sang petugas adalah,

Minta data vaksin ke3 di aplikasi peduli lindungi”

Maka segera smartphone disodorkan, dilihat sekilas, cocokkan dengan data. Tring. Selesai. Tiket dicetak dan berada di tangan, “Woooi, jadi terbang!” Sebuah teriakan dalam hati.

Selangkah demi selangkah mendekati metal detektor, arloji dan ikat pinggang sudah ditanggalkan, kecuali harga diri tetap dipertahankan. Semuanya Disimpan di kotak plastik kecil untuk masuk pemeriksaan. Setelah itu berdiri antri menuju metal detektor pemeriksaan diri.

Selangkah
Dua langkah
Lewati metal detektor.
Sepi.

Jadi penasaran, balik lagi deh dan mengulangi gerakan tadi. Satu langkah dua langkah memasuki metal detektor. Sepi juga, Alhamdulillah. Ternyata titanium yang tertanam di kaki kiri tidak menjadi masalah. Hayu bergerak.

Tiket di tangan coba dibaca, penerbangan ini di Gate 21. Ternyata Gate 21 di Terminal 3 itu sungguh terasa jauh tapi dekat. Jauh karena kondisi kaki kiri yang tidak boleh dulu beringsut dengan cepat dan cekatan sehingga menjadi ‘andalemi’ dan bergerak perlahan tapi pasti. Untung saja check innya lebih awal sehingga waktu menuju boarding masih cukup lama. Nah terasa dekat karena semangat memulai kembali petualangan tugas baru dengan menggunakan pesawat, jadi pengen cepet cepet hehehehe.

Akhirnya seiring pemeriksaan terakhir dengan memperlihatkan KTP dan tiket, langkah pasti menuju garbarata yang menjadi penghubung area bandara dengan pesawat Airbus A230  untuk mengantarkan raga meninggalkan pulau jawa. Selamat terbang kembali diriku. Wassalam (AKW).

KOPI & PROFESIONALISME

Sajian Kopi Sumba & arabica Gununghalu natural anaerob sebagai obat penahan lelah.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari jumat ini ternyata menumpuk aneka tugas dan pekerjaan, sementara kondisi phisik sebetulnya masih kelelahan karena baru landing tengah malam di bandara cengkareng jakarta dan perjalanan ke bandung tersendat oleh perbaikan jalan di sepanjang jalan tol cikampek setelah turun tol layang hingga memasuki tol cipularang, ditambah dengan ke kantor dulu di bandung dan baru menuju cimahi, tepat pukul 04.00 wib baru bisa masuk ke rumah dan bersua air hangat plus say hello sama keluarga.

Tapi pagi tetap harus ngantor karena tugas kedinasan menanti. Itulah makna profesionalisme, lelah itu manusiawi tapi janji dan sumpah sebagai abdi negara adalah bagian dari pengabdian diri. Jadi ngantuk dan terlelap terpaksa di manage di sela – sela tugas yang bejibun. Tampilkan wajah wibawa meskipun guratan lelah tak bisa disembunyikan dari wajah dewasa ini, ahay dewasa cuy.

Hayu semangaaat….

Meeting pagi membahas manajemen resiko dengan sesekali kantuk dan heuay.. eh menguap…  dan dijeda shalat jum’at, disinilah rasa kelelahan itu begitu kuat mencengkeram sehingga hanya terdengar salam pembuka “Assalamualaikum Wr Wbr…” dan tiba-tiba sudah Iqomah…. cepat sekali khutbah jumat kali ini.

Padahal sebelum shalat jumat sudah di booster oleh seduhan kopi Sumba oleh-oleh bu Okti yang dinikmati bersama dengan seduhan manual Teh Santi sang Baristi TUpim. Rasanya cenderung body flat meskipun labelnya arabica tetapi karena sudah berbentuk bubuk halus maka sulit untuk memilih rasa yang spesifiknya, lalu ada sentuhan rasa rempah yang sulit didefinisikan, mirip aroma kapulaga atau kayu manis tapi takut salah, ya sudah nikmati saja.. eh ternyata pas khutbah jumat tetap terlelap.

Maka sesi siang dengan meeting yang berkejaran ini perlu di doping lagi. Sekarang giliran Ucup Sang Barista yang beraksi, dengan pilihannya adalah kopi arabica Gununghalu natural anaerob yang juga kiriman dari pak Bos Priyo Dinas Perkebunan, nuhun mas Yo.

Karena masih berbentuk biji, maka prosesi penggrinderan memberi sensasi berbeda. Suara grinder menghancurkan biji menjadi musik tersendiri, begitupun aroma harum yang mendamaikan sesuai ruangan adalah salah satu berkah kehidupan. Apalagi pas penyeduhan, aroma semakin kuat menggoda indera penciuman, segaar.

Nggak pake lama, langsung disruput saja sambil menunggu rekan-rekan untuk kumpul rapat sesi pertama. Rasanya santuy dengan body dan acidity medium serta aftertaste lemon dan kacang tanah. Cukup menyegarkan dan memberi ketenangan meskipun rasa kantuk tetap hadir meskioun bisa tertahan.

Alhamdulillah hingga magrib menjelang, 4 agenda rapat bisa dituntaskan. Meskipun tentu ada kekuranglengkapan, tapi minimal persiapan kegiatan dengan dana APBN sudah mulai tergambar. Lalu aplikasi SURABI juga bisa mulai diinput dan antisipasi, termasuk pembahasan tentang usulan Inovasi daerah serta terakhir adalah kaitan persiapan agenda sabtu minggu yang juga butuh koordinasi dan pengertian.

Ah udah ah jangan ngobrolin kerjaan, sekarang mari lanjutkan menyeruput kohitala arabica gununghalu anaerob yang masih tersisa. Nikmat nian kawan, sesaat rasa kantuk dan lelah teralihkan. Tapi jangan lupa, harus segera pulang agar bisa bercengkerama dengan anak istri yang telah 3 hari ditinggalkan demi tugas lintas pulau. Wassalam (AKW).

Ngopay & Sunrise di Pantai Karanghawu.

SUKABUMI, akwnulis.com. Kekuatan jempol untuk menulis di atas virtual keyboard menjadi hal yang sangat penting karena sejumput cerita tentang perjalanan menikmati kopi telah diawali dengan pengalaman berbeda yaitu sruputannya sambil naik angkot sebagaimana ditulisan terdahulu NGOPI DI ANGKOT BIRU.

Dilanjutkan yaa…

Berbincang singkat namun akrab dengan pengemudi menambah kecerian pagi. Ternyata pak sopirpun sedang membawa segelas plastik kopi yang menjadi ritual rutinnya setiap pagi agar memberi semangat dan kesegaran hakiki.

Perjalanan melewati pinggir pantai dari palabuanratu cisolok, melewati Hotel Samudra Beach lalu pantai Citepus dan berbelok ke kanan agak menjauh dari pantai melewati pasar dan pertigaan ke arah Cikotok lalu akhirnya tiba di Pantai Karanghawu yang menjadi tujuan utama perjalanan ngopay pagi ini.

Target yang penting juga adalah waktu pagi berkaitan dengan kehadiran sang mentari. Maka sebuah doa kembali disampaikan kepada Allah Sang Pemilik Dunia bahwa semoga cuaca cerah tanpa awan tebal apalagi hujan yang membuat mentari enggan menampakan kehadirannya.

Bismillah…

Debur ombak menyambut raga sekaligus menggetarkan jiwa. Ada rasa campur aduk yang memenuhi dada. Senang dan sukacita tentu menjadi utama, namun rasa sedikit gentar juga menelusup melihat kegarangan ombak memukul pantai dengan kelembutan yang penuh tenaga serta segera kembali ke laut lepas dengan kekuatan dan kecepatan yang tidak bisa dikira.

Gundukan karang yang begitu tegar menerima terpaan ombak pantai, menjadi tempat favorit bagi pengunjung untuk mendekat dan mengabadikan menjadi photo dan video yang membanggakan. Tapi tetap kewaspadaan betul – betul utama karena bahaya mengintai diantara runcingnya batu karang dan debur ombak pantai Karanghawu.

Nama karanghawu adalah sebutan bagi pantai ini karena gundukan batu karang yang ada dengan lubang – lubang alami itu jika dilihat mirip dengan tungku sederhana untuk memasak di masyarakat sunda. Nah tungku itu dalam bahasa sunda disebut hawu. Maka jelaslah bahwa penamaan pantai ini sesuai dengan kondisi alam yang ada dan dinilai oleh indera penglihatan nyata.

Mari kembali ke agenda kita, Ngopay di Pantay… eh pantai. Langsung saja mencari spot photo yang pas dengan menggabungkan 4 unsur utama yaitu : ombak, karang dan mentari berpadu dengan secangkir kopi, plus termosnya ya.

Tring… beberapa jepretan saja tapi bisa mewakili semuanya. Rasa senang menyeruak dan benih bahagia menemani pagi ceria. Tak lupa sebagai bukti hadir ngopi di pantai, perlu ada capture photo dan video dengan ekspresi wajah yang begitu menikmati. Sruputtt guys.

Nikmatnya kohitala dilengkapi rasa bahagia karena di pagi ceria ternyata deburan ombak, kehangatan kohitala lengkap dengan sinar mentari yang hadir dengan sempurna, Fabiayyi Ala irobbikuma tukadziban.

Tuntas sudah menikmati kopi di pantai kali ini, maka tidak pake lama, kembali bergegas meninggalkan area pantai dan menyeberang jalan untuk menunggu kehadiran angkot yang akan mengantarkan kembali diri ini ke Hotel Karangsari Palabuanratu.

Perjalanan angkot kali ini dikemudikan oleh Mang Ujang yang terlihat semangat disaat di-on-kan kamera video, eksis juga guys. Video lengkapnya perjalanan ngopay di angkot dan di pantai karanghawu bisa dinikmati di NGOPI DI PANTAI KARANGHAWU SUKABUMI.

Selamat pagi dan selamat memaknai hari. Wassalam (AKW).