Kopi D’Journey.

Sajian kopi tubruk yang…

Photo : Manual brew Kopi D’Journey / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Jalan Supratman Kota Bandung relatif lengang ketika raga ini melintasinya. Jadi bisa relaks menyetir tanpa khawatir tiba-tiba ada yang mlipir. Mendekati nomor 44 terasa keinginan mampir semakin kuat, maka tanpa perlu banyak bersikap tapi berpikir cepat. Banting setir ke kiri dan masuk ke area kantor yang asri.

Ternyata feeling so good, disambut ramah oleh petugas resepsionis dan langsung diantar ke ruang bapak sekretaris.

Gayung bersambut lagi, beliau lagi relatif santai sehingga bisa leluasa berdiskusi dan menimba pengalaman dalam menjalani dunia birokrasi.

Hal yang lebih penting adalah suguhannya, meskipun beliau sedang shaum sunah senen-kamis tapi tetap ngegrinder-in biji kopi sendiri pake grinder manual yg stainless trus menyeduh manual dengan pola kopi tubruk dan disajikanlah…. kurang ajar ini tamu ya, udah tahu pribumi lagi shaum.. eh malah minta dibuatin kopi, maafkan kakanda.

Kopi yang disajikan adalah kopi jabar dengan kode west java P.88 hasil roaster D’Journey. Pastinya dengan diseduh tubrukpun tetap muncul acidity medium dan body mediumnya dengan after taste selarik citroen hadir meskipun akhirnya hilang kembali.

Diskusi berlanjut dan sruputan kopi tubruk semakin menyemarakkan pertukaran pendapat dan kalimat yang menghasilkan sebuah jalinan kesepahaman tentang konsepsi dan arti kolaborasi.

Hatur nuhun seduhan kopina pak, jangan kapok bikin kopi buat akyu…. ahaay ngarep. Wassalam (AKW).

Teh BJB

Menikmati teh bejebe.

CIMAHI, akwnulis.com. 3 cangkir biru berisi teh hangat menyambut kedatangan kami. Menjadi pembuka keakraban sebelum akhirnya berdiskusi tentang urusan pekerjaan.

Yap urusan kerjaan, titik.

Karena memang jikalau berada di bank ini, sebuah bank pembangunan daerah yang bertransformasi menjadi bank terbuka dengan melantai di bursa saham, dan kebetulan seorang ASN, maka muncul persepsi adalah dalam rangka ‘mengamankan SK’.

Apa maksudnya mengamankan SK?”

Photo : Teh bejebe = dokpri.

Maksudnya disimpen di loker atau di lemari besi BJB yang super ketat, tebal dan aman dari kebakaran. Jadi terhindar dari kerusakan ditambah lagi dengan rasa tenang daaan…. yang lebih menarik adalah kita tidak usah ngeluarin biaya sewa, malah diberi duit dalam jumlah besar dengan kewajiban mengembalikan setiap bulan melalui cicilan.

Beberapa detik terdiam… dan langsung kawanku berseru, “Sialan kamu, kirain beneran ngamanin SK, ternyata hanya dijadikan jaminan pinjaman tho?”

Ya memang ngamanin SK dengan cara dijaminkan ke bank”

“Dasar kamu yach….

Itulah percakapan yang mewakili persepsi umum jikalau melihat ASN ke BJB, padahal banyak hal yang bisa dilakukan. Termasuk hari ini, koordinasi fungsi intermediasi dan disambut dengan cangkir BJB penuh berisi. Langsung disruput tanpa henti akhirnya tandas tak bertepi.

Selamat bekerja dan beraktifitas hari ini. Nikmati teh dinas selagi tersaji, jangan lupa ambil dokumentasi, upload di blog dan medsos pribadi dan jadikan sebuah catatan virtual memori yang bisa diakses suatu saat nanti. Wassalam (AKW)

Cerita Mantan OB (Open Bidding).

9 cerita dan satu makna : menulislah.

BANDUNG, akwnulis.com. Perjalanan mengikuti turbulensi telah berakhir seiring dengan tuntasnya shelter seleksi terbuka jabatan pimpinan tinggi pratama (JPTP). Sebuah momen singkat yang menghasilkan aneka pengalaman, beragam cerita, rasa suka dan duka hingga ketegangan yang datang tanpa diduga.

Hasil akhir adalah yang terbaik dan qodar dari Allah SWT, sebagai salah mahluk tuhan di bumi maka salah satu tugas kita adalah ikhtiar dan mengambil hikmah dari seluruh rangkaian perjalanan kehidupan ini.

Gambar awal blog ini adalah momen shalat jumat dengan adaptasi kebiasaan baru di antara proses Seleksi Terbuka JPTP yang telah berlalu.

Dalam tulisan ini, hanya ingin berbagi tentang sejumput kata yang dirangkum menjadi beberapa cerita, di permanis sajian photo sederhana tapi nyata yang terjadi selama proses seleksi terbuka.

1. Deadline, sebuah judul yang menceritakan pemberkasan administrasi, yang mau baca klik saja DEADLINE.

2. Proses Uji assesment menghasilkan tulisan IKUTI TAHAPAN & TYPICA PUNTANG.

3. Muncul juga semangat berkompetisi tetapi tetap tersenyum, diwakili oleh tulisan SENYUM SINGA.

4. Saking tegangnya jadi laper melulu… maka diwakili oleh coretan MAKANAN & TULISAN.

5. Tidak lupa mencoba menenangkan diri di area uji kompetensi yang tercermin dari tulisan TURBULENSI KOPI.

6. Ujian dilanjut dengan pembuatan makalah dan wawancara, yang diwakili dengan tulisan DOUWE EGBERT & GULA CAIR.

7. Masih sesi Ujian, hasilkan juga tulisan KOPI AKB.

8. Setelah lolos 3 besar, memasuki sesi wawancara dengan Tim Penguji Profesional hingga wawancara langsung dengan Gubernur, ternyata belum sempet menulis karena ketegangan meningkat. Diwakili saja dengan meme TEH PAKUAN seperti gambar dibawah ini.

9. Sesi akhir adalah Tes Kesehatan yang lengkap dan menghasilkan cerita KOHITALA PRAMITA.

10. Ditutup oleh tulisan singkat fiksi berbahasa sunda yaitu CEK LAB – fbs.

Alhamdulillah, ternyata lumayan juga, terdapat 9 tulisan yang mewakili perjalanan singkat menikmati eh menjalani turbulensi dan akhirnya kembali normal.. eh new normal… eh AKB… ya begitulah.

Selamat menikmati dan menjalani hari-hari penuh adaptasi. Satu catatan penting, keberanian iseng-iseng menulis ini yang menjadi poin penting dalam mengikuti seleksi terbuka JPTP ini, meskipun hasil akhir adalah sebuah takdir.

Selamat kepada akang teteh (soalnya diriku peserta seleksi termuda) yang telah mengemban amanah jabatan JPTP untuk sukseskan JABAR JUARA. Wassalam (AKW).

Kopi AKB

Menikmati Kopipun perlu adaptasi…

Photo : Menikmati Kopi AKB / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pandemi covid-19 masih menghantui dan era baru harus dijalani. Istilah yang digunakan adalah adaptasi kebiasaan baru atau AKB.

Nah, terkait aktifitas ngopi eh minum kohitala (kopi hitam tanpa gula) yang biasanya dilakukan berkeliling ke cafe dan kedai kopi…. ahaay berkeliling gitcu… sekarang tidak bisa lagi, harus menahan diri demi terhindar dari si covid19 yang senantiasa mengintai.

Nah, dikala tugas bejibun dan laptop menyala maka kehadiran sajian kopi sangat dirindukan… aslinyah… sakaw kopi hihihihi…. tak ada kongkow tak ada ngopay… sedih rasanya… tapi itulah pengorbanan yang ada.

Begitupun kali ini, sajian kopi disamping laptop terpaksa ditemani sebotol kecil hand sanitizer… bukan untuk bahan campuran kopi tapi untuk jaga-jaga kebersihan jari jemari dan akhirnya untuk menenangkan hati.

Photo : Sajian Kopi AKB / dokpri.

Kopi disruput dengan perlahan tapi pasti, laptop mulai diraba-raba dan akhirnya ditekan-tekanlah keyboardnya dengan sebelas jari. Maka berderetlah angka dan hurup menjadi kata serta kalimat yang mewakili suara hati tentang membangun janji dalam balutan optimisme diri.

Setelah semua tuntas, file di laptop di save di google drive dan kopi di cangkir sudah tandas tanpa bekas. Maka semprotan hand sanitizer adalah penutup agar jari jemari kembali bersih dan terlindungi. Itulah salah satu protap ngopi AKB yang musti dijalani. Wassalam (AKW).

Douwe Egbert & Gula Cair.

Ikutan dan nikmati tapi hati-hati.

Photo : Bersiap ujian / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Keseriusan dalam mengisi ujian dan keriuhan di kepala masing-masing peserta meramaikan jagad kompetisi sehat kali ini. Semua berusaha mengeluarkan kemampuan terbaiknya plus adaptasi dengan peralatan yang disediakan panicia…. eh panitia.

Tata tertibnya membuat kangen pergi ke bandara kawan, karena semua peralatan elektronik dan peralatan penyimpanan eksternal harus ditanggalkan termasuk jam tangan canggih yang selalu terkoneksi dengan smartphone kita. Untung aja daleman nggak disuruh dicopot juga hehehehe.

Samrtphone, flashdisk, jam tangan, tablet atau tab, laptop apalagi PC harus dititip di panitia. Praktis hanya bawa otak, otot dan kumpulan perasaan yang tidak karuan. Apalagi digunakan metal detektor, serasa mau naik pesawat dan pergi terbang ke suatu tempat…. ah kangen yach, semoga pandemi covid-19 ini segera berakhir.

Allohumma inni Audzubuka Minal Baroosi Waljunuuni Walzuzami Wassayyidil Askoom

Photo : Espresso dari DE / dokpri.

Proses ujiannya menjadi menantang, karena konsentrasi menjadi super penting, fokus terhadap satu hal, suara arahan panitia dan apa yang ditampilkan di layar di depan peserta. Lalu laptop yang disediakan panitia sudah standby bersiap menjadi tempat penuangan ide gagasan dan mimpi yang akan diwujudkan dalam kerangka wewenang jabatan.

Cemunguut kakak….

Disinilah raga dan jiwa ini bersua dengan mesin kopi Douwe Egbert pada saat jam istirahat. Mesin kopi yang terlihat tangguh dan gagah dengan pilihan sajian lengkap meskipun tidak semuanya akan dinikmati…. kembung atuh kalau semua di coba mah.

Photo : Douwe Egbert coffee machine / dokpri.

Pastinya espresso dan americano yang dipijit berulang kali, capucinno dan latte hanya coba sesekali, agak takut soalnya ada susu….. suka pengen terus kalau ada susu… gemes soalnya :).

Jadi lengkap sudah, tantangan dan fasilitas yang mumpuni, memberi kesempatan terbuka untuk meng-eksplore diri. Hadirkan kemampuan dan kebisaan secara elegan hingga akhirnya diukur oleh deretan angka yang singkat namun penuh makna.

Catatan penting : harus hati-hati dikala akan menikmati sajian kopi dan masih membutuhkan manisnya gula. Bukan apa-apa, selain gula putih dalan bentuk sachet terdapat juga gula cair….. upss…. ternyata bukaaannnn gula cair, itu adalah hand sanitizer… sebuah bentuk adaptasi kebiasaan baru d masa pandemi corona ini.

Tapiiii….. karena posisinya deket mesin kopi, ini bisa salah menuangkan… meskipuuun…… eh tapi jadi penasaran, gimana rasanya kopi espresso ditambah gula cair hand sanitizer hehehehehe.

Selamat berkarya di jumat ceria. Wassalam (AKW).

Biru di Hilton

Akhirnya bisa lihat lagi…

Photo : Swimming Pool Hotel Hilton Bandung / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pagi cerah mengharu biru, mengantarkan raga menuju kawah candradimuka. Biarpun baru pada tahap pendakian pertama tetapi ternyata segumpal khawatir hadir menemani ketidaktahuan.

Itulah kehidupan, perjalanan menuju sebuah titik yang sudah ditentukan seyogyanya adalah memulai titik baru perjalanan yang nantinya perlu pendalaman, percepatan dan tentu saudaraan.

Nah daripada kegalauan malah datang mendera tanpa belas rasa, lebih baik bercerita tentang sebuah suasana damai yang ada di lantai 6 hotel ternama.

Kehadiran disini memang bukan untuk bercengkerama dengan kesegaran air bening penuh suka, tetapi menghadiri meeting perdana yang dilaksanakan di hotel semenjak merebaknya pandemi corona.

Berbagai protokol kesehatan diberlakukan dari semenjak masuk area hotel hingga ruangan meeting yang sulit melakukan bisik-bisik karena posisi duduknya masing-masing berjarak 1,5 meter, padahal banyak rahasia kehidupan yang ingin di curhatkan heuheuheu.

Handsanitizer juga disediakan masing-masing satu botol kecil begitupun di pintu masuk ada juga hand sanitizer untuk umum plus tissu dan bunga, pengen liat photo dan tulisannya klik DISINI.

Dilantai 6 lah kedamaian terasa, semilir angin bercengkerama dengan gemericik sendu air kolam renang memberi sensasi keindahan yang sulit untuk dilukiskan. Andaikan tidak ada batas policeline… eh covidline kali yaa… karena bentuknya hanya seutas maka sudah dipastikan meloncat dan byuuur….. bergabung dan bercengkerama dengan kesegaran tiada tara sambil menghirup oksigen dengan bebas….. segaaarnyaaah.

Terima kasih Ya Allah atas kemudahan bernafas, kebebasan menghirup oksigen sepuasnya dan tentunya kenikmatan semuanya tiada hingga dalam menjalani kehidupan fana ini.

Selamat tinggal kolam renang lantai 6, raga ini harus kembali ke tempat meeting dilantai 3. Selamat menjalani hari ini kawan. Wassalam (AKW).

Deadline

Mari kita jalani…

Photo : Deadline / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Detik dan menit seakan berlomba beradu kecepatan, membawa suasana yang tenang menjadi sedikit tegang. Seiring gerakan waktu berlalu, sejalan dengan detak jantung yang berdetak tidak menentu.

Segala upaya dikerahkan dalam perlombaan abadi ini, meskipun mungkin ritmenya yang tak selalu memaksa berlari. Sesekali bisa menghela nafas tapi sisanya adalah pendakian perasaan yang menyesakkan penuh dengan perjuangan.

Memang ini situasi tidak bisa, tetapi ingatlah bahwa kehidupan ini tidak selamanya biasa. Ada saatnya bergerak cepat meraih asa dan ada waktunya sedikit melambat dan mengambil posisi santuy… semua ada saatnya.

Sekarang menit dan detik begitu aktif menggelitiki nasib, memberi senyuman monyong sedikit supaya tidak terlalu tertekan dengan keadaan. Lumayan menguras rasa dan membebani badan tambun yang bersahaja.

Tapi ingat kawan, ini semua bukan beban, tapi tantangan untuk kita bisa berkarya lebih terdepan. Biarkan menit dan detik berkejaran dalam batas waktu berbingkai batasan, karena sebenarnya adalah bagaimana kita menyikapinya, menghadapinya, mensyukurinya dan tentu menjalaninya….. ikuti saja permainannya dan ikhlas menjalani tahapan yang mengharu biru.

Eh ternyata sang menit dan detik terus berpacu menuju batasan awal kenyataan, mau tidak mau mari ikuti ritmenya, gerakan tangan dan kakimu sehingga melarut dengan nada dasar kehidupan.

Jangan khawatir dengan batasan, karena setelah tiba pada batas yang ditentukan, sejatinya kita bersiap dengan tarian detik dan menit untuk tahapan harapan selanjutnya. Selamat berpacu kawan, Wassalam (AKW).

Waspada yuk.

Harus itu, penting sekali.

Photo : Handsanitizer dan bunga / IG akwnulis

BANDUNG, akwnulis.com. Media sosial semakin booming pasca pandemi covid-19 melanda negeri. Kaum rebahan yang sebelumnya dicap golongan pemalas unfaedah menjadi bertambah banyak meningkat signifikan karena diperintahkan negara dengan slogan singkat #stayathome juga #workfromhome.

Kenapa booming?.. karena medsos menjadi tempat berinteraksi baru, bersilaturahmi sekaligus menginformasikan aktifitas diri kepada khalayak banyak

Tiga bulan telah berlalu, ternyata mencoba menjadi kaum rebahan itu tidak mudah, rasa bosan melanda, tertekan karena ingin melihat dunia luar, sementara belum ada kepastian bahwa vaksin buat sang virus hadir segera di hadapan kita.

Nah, sekarang muncul istilah new normal juga adaptasi kebiasaan baru (AKB) yang mulai melonggarkan pergerakan dengan pola terbatas dan protokol kesehatan yang ketat, tentu disambut antusias oleh masyarakat dan semua pihak untuk kembali beraktifitas.

Tapii…. protokol kesehatan menjadi mutlak diperlukan.

Kenyataannya ternyata belum semua paham, baik kaum rebahan dan non kaum rebahan. Mayoritas adalah anggapan sepele dan kembali beraktifitas biasa… sehingga kasus-kasus baru bermunculan dari momentum kerumunan salah satunya yang pasti tak bisa dihindarkan adalah pasar.

Maafkan jika pilihannya dengan istilah kaum rebahan dan rebahan, karena mungkin juga ada yang variatif antara seneng rebahan tapi sibuk beredar, jangan risau kawan, ini hanya istilah saja.

Jadi jikalau harus berinteraksi dengan kerumunan, pastikan kita siap dengan peralatan perang. Minimal menggunakan masker, bersarung tangan dan menjaga jarak dengan orang lain, gunakan handsanitizer dan mencuci tangan…. minimmmmal itu teh. Klo bicara maksimal… usahakan jangan berinteraksi dengan kerumunan….. tapi khan kita banyak kebutuhan yang perlu interaksi.

Ibu-ibu mayoritas berkomentar terkait belanja di pasar adalah, “Tapi da aku mah nggak bisa onlen, paling ke warung tetangga atau nyegat mang sayur yang lewat”

Photo : Ruang rapat jaga jarak / dokpri.

Maka kembali ke rumus tadi, gunakan masker dan sarung tangan serta jaga jarak. Senantiasa mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun setiap selesai berinterkasi dengan orang lain.

Begitupun jikalau harus meeting secara phisik, pastikan bahwa protokol kesehatan sudah diterapkan. Penyediaan handsanitizer bukan lagi hiasan, tetapi suatu kewajiban yang harus kita gunakan. Kursi meja berjarak minimal 1 meter harus didesain sedemikian rupa dan penggunaan masker sudah pasti, itu mutlak bin harus kawan.

Jangan sampai ketidakwaspadaan kita menjadi celah bagi sang virus covid-19 ini merajalela. Selamat beraktifitas kawan, Wassalam (AKW).

Catatan : akwnulis juga ada di IG, kepoin aja IG : akwnulis.

Jamu Herbal Rempah dkk.

Minuman tradisional penjaga imun tubuh, imun kuat tapi imin dan iman harus lebih kuat.

Photo : Jamu berlima sedang bersama / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Nah siang kemarin sudah hadir dihadapanku 5 botol minuman kesehatan alami yang terdiri dari 3 botol jamu rempah herbal dan 2 botol jamu kunyit asam. Packing yang rapih serta terlihat segar di siang hari, ternyata menggoda juga di siang hari bulan ramadhan ini….

Dari dua jenis minuman sehat alami yang tersaji ini di klaim oleh sang pembuat betul-betul menggunakan bahan-bahan alami terbaik… insyaalloh percaya apalagi ini bulan puasa, berbohong khan merusak pahala.

Jadi klo nggak bulan puasa boleh bo’ong?”

Ah dasar kamu mah, tetep aja nggak boleh, cuman di bulan puasa lebih dahsyat akibatnya karena merusak nilai pahala”

“Iyaa A ustad hehehehe”

Photo : 3 sekawan jamu / dokpri.

Jamu rempah herbalnya memang kumplit dengan bahan-bahan yang terdiri dari kunyit, gula aren, temulawak, jahe, sereh, kayu manis dan air.

Sementara Jamu kunyit asem udah jelas bahannya kunyit dan asam kandis.. bukan bahan lain yang mengandung rasa asem. Nah dua-duanya punya bahan yang sama yaitu air…. lhaaa iya atuh, masa nggak pake air, gimana minumnya?.. ntar seret di tenggorokan atuh kang.

Tidak lupa ditambah gula aren kualitas tinggi agar rasa yang dihasilkan tidak getir dan pahit seperti ditinggal menikah oleh mantan gebetan…. halaah apalagi nich, maksudnya supaya segmentasi penikmat jamu ini tidak hanya kalangan penggila jamu saja tetapi juga bisa buat anak-anak, remaja dan mudamudi yang tertarik menikmati minuman tradisional alami ini.

Kenapa jadi suka jamu kang, kopinya berhenti?”

Photo : Wedang jahe, ini mah bonus / dokpri.

Ih kepo amat, ya suka-suka aku aja, mau seneng kopi, mau seneng jamu ya bebas-bebas aja…. eh tapi ingat diriku ya, nggak boleh menggerutu. Sang penanya pasti pihak yang penasaran karena selama ini objek tulisannya adalah #ngopay alias sruput kopi manual dan selanjutnya dituangkan dalam bentuk tulisan ala-ala.

Itulah kehidupan, sebuah tema blog yang telah dipublikasikan harus dipertanggungjawabkan. Yaa memang taglinenya ‘ngopay dan ngojay‘, tetapi di moment shaum ini ada sedikit geser variasi konten tulisan dengan hal lain diluar tema kopi kopi kohitala kotala dan sebagainya, insyaalloh pasca idul fitri besok akan kembali menulis artikel bertema kopi.

Kali ini kosentrasi dulu untuk menuntaskan tulisan ini, yaitu jamu rempah dan jamu kunyit asam yang memiliki fungsi guna sebagai penambah stamina dan imun tubuh. Sebuah kegunaan minuman alami yang begitu penting di masa pandemi covid19 ini.

Harganya 20ribu/botol dan variannya adalah Jamu Rempah herbal, Jamu Kunyit Asam, Jamu Jahe dan bisa juga request jamu lain, seperti jamu buyung upik… ahaay serasa masa kecil… kecuali jamu cepat kaya untuk sementara belum diproduksi. Pembuatnya seorang ibu tangguh yang di support anaknya seorang pemuda kreatif dan brilian yang membantu ibunya disela-sela usahanya yang spesifik berkaitan dengan printer 3D (halah sotoy, ini hasil cerita dari ibunya....)

Photo : Jamu Kunyit Asam / dokpri.

Jadi cekidot, minum jamu yuk guys… Srupuuut… suegerrr… insyaalloh sehat bugar dan imun terjaga sehingga bisa melawan atau menangkal penyakit khususnya Covid19….Alhamdulillah, Selamat berpuasa di hari terakhir bulan ramadhan tahun ini, semoga masih diberi kesempatan jumpa di tahun depan, Wassalam (AKW).

***

Mencari Vitamin C.

Pertemuan tidak disengaja bukan hanya say hellow saja, tapi bisa berbeda.

CIMAHI, akwnulis.com. Cerita kali ini adalah sebuah kejadian yang seperti kebetulan, padahal memang skenario Illahi yang sudah dirancang begitu rapih dan tidak terbantahkan.

Pagi hingga siang kesibukan di tempat kerja tidak berhenti, dari mulai penyusunan bahan da konsep hingga meeting – meeting berjarak dengan peserta terbatas plus 1 video meeting virtual yang harus dilakukan.

Yach, situasi waspada pencegahan pandemi corona membuat kita semua harus esktra adaptasi dan harus mampu mengikuti perubahan alam semesta ini. Status wfh (work from home) sudah diatur sedemikian rupa, tentu itu menjadi pedoman untuk memaksimalkan bekerja di rumah, tetapi… dalam satu minggu minimal 2 kali hari harus berada di kantor karena berbagai pertimbangan.

Meskipun tentu perjalanan kantor – rumah – kantor harus extra waspada bermasker, handsanitizer, sarung tangan hingga rajin cuci tangan. Hingga berjaga jarak dan membatasi durasi pertemuan dalam ber-meeting… ternyata yang membuat lelah mudah datang itu karena rasa kekhawatiran tentang penyebaran covid19 yang bisa memgintai dimana dan kapan saja.

Salah satu antisipasinya adalah penguatan diri khususnya asupan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh yaitu Vitamin C, meskipun tentu vitamin lainnyapun tetap penting.

Di sela istirahat kerja mencoba menjambangi beberapa minimarket dan warung untuk membeli vitamin C, ternyata dimana-mana stock kosong…. wadduh, lalu cek via online, harganya berlipat-lipat ngikuten harga masker dan hand sanitizer… alamaak, makin pusing.

Photo : Penerapan standar pencegahan di RM / dokpri.

Setelah waktu istirahat hampir habis, maka kembali bergerak menuju kantor. Tiba-tiba ada pesan whatsapp masuk, ‘Jangan lupa beliin masakan ya, di rumah nggak masak‘… plus nama rumah makan yang ditujunya.

Siettt….

Langsung belok kiri karena arahnya sedikit berlawanan dengan arah kantor, namanya RM dalaraos di jalan siliwangi Kota Bandung.

Ngeeeng……

Tiba di rumah makan, segera menuju etalase touchscreen, maksudnya tunjuk makanan di kaca yang jadi pilihan dan langsung dibungkus dengan ukuran sesuai request. Tapi sebelumnya mengamati kondisi sekitar, terlihat bahwa RM ini sudah menerapkan prinsip pencegahan covid19 yang dianjurkan oleh pemerintah, diantaranya tersedia bak cuci tangan lengkap dengan sabun cuci tangannya di teras lalu antrean dibuat tanda dengan stiker di lantai dan berjarak 1 meter, ada juga hand sanitizer di dekat tempat makanan touchscreen, semua pelayan dan pengunjung menggunakan masker, ada hijab plastik yang membatasi kasir dengan pembeli serta tidak melayani makan di tempat hanya untuk take away saja plus beberapa pengumuman seperti : wajib masker, wajib antri dan yang paling wajib adalah wajib bayar setelah milah milih masakan yang dibungkus.

Nah di kala mengantri inilah tetiba berinteraksi dengan seorang ibu, lalu menawarkan sebotol jamu rempah buatannya. Dari pembicaraan awal tersebut ternyata jamu rempah ibu ini sudah banyak yang mengkonsumsi… keren, dan yang paling menarik adalah pada saat menawarkan jeruk lemon dengan harga bersahabat.

Wah cocok nich, sumber vitamin C alami dengan harga terjangkau” dalam hati berbicara dan nggak pake lama langsung diputuskan membelinya..

Jreng.

Tuntas dari RM tersebut kembali ke kantor dan menghabiskan sisa waktu kerja dengan menyelesaikan beberapa berkas yang ada serta kordinasi via WAvideocall.

Gaya banget kontak-kontak pake videocall

Pada nggak tau yaa…. itu sangat berguna buat pelaporan kinerja harian guys. Jadi pas WAvidcal sambil di capture… dapet deh bukti koordinasinya.

Oh gitu” Sang penanya mengangguk-angguk mengamini komentar ini.

Kembali ke jeruk lemon, Bahasa latinnya citrus lemon dan memang sangat kaya vitamin C juga unsur vitamin lainnya sehingga cukup dengan diminum air perasannya pagi hari campur madu, sudah cukup memberikan asupan vitamin bagi kekebalan dan kesegaran tubuh. Hikmah perjumpaan tadi ternyata, vitamin C alaminya alias buah jeruk lemonnya langsung diantar ke rumah pake motor oleh ibu Wati yang berjumpa tadi, luar biasa.

Begitulah sebuah cerita sederhana tentang kejadian keseharian yang bisa dianggap biasa, ataupun bisa membaca beberapa makna hikmah yang terkandung dalam kejadian ini. Selamat menjalani perubahan kehidupan dengan tetap optimis dan mengkonsumsi vitamin secara teratur. Wassalam (AKW).