Kopi Monju

Hayu ah kita Srupi… Sruput hepi.

BANDUNG, akwnulis.com. Jumat pagi adalah saatna menggerakkan kaki sambil menemani otot meregang bersama helaan nafas kesegaran. Tapi ingat, dengan catatan memang tidak ada kegiatan  dinas di pagi hari.

Tentu dilihat dulu penjadwalan kegiatan kali ini. Medio jam 07.30 sampai 09.00 wib relafif aman, nah selanjutnya jadwal padat merayap baik yang hadir online dan offline.. meluncuur.

Kamu mah meluncur aja, emangnya mau ski air atau ski di es ya?”

Aduh bestie ini mah hanya ungkapan, meluncur itu artinya berangkat cuy”

Ya udah capcus”

Langsung pasang posisi start dan aktifitas ber-skuter berlangsung. Kaki kanan lebih dahulu lalu kaki kiri dan mengayunlah bergantian dan bergerak semakin cepat sehingga jika dilihat secara kasat mata, kaki ini seperti berputar. Itulah makanya disebut skuter yang asal katanya sukuter alias suku muter (kaki berputar).

Jangan lupa niatkan olahraga dengan basmalah juga pake jam gelang penghitung langkah supaya ada ukuran dan bukti berskuter pagi ini. Melangkaah.

Menyusuri trotoar sepanjang jalan Riau atau LLRE martadinata, belok kanan ke jalan citarum, lewati sisi timur gedung sate hingga memasuki jalan diponegoro dan menyusuri pinggir gasibu. Akhirnya menyebrangi jalan raya paspati menuju area monumen perjuangan rakyat jawa barat. Lumayan skuter 40 menit dan dapat 3.882 langkah.

Tiba di area monumen perjuangan jawa barat atau MONJU atau MONPERA.. disambut dengan keramah tamahan teman – teman yang bertugas disana. Menemani berkeliling termasuk memberi suguhan segelas kopi panas yang nikmat.

Tring…
Muncul ide.

Segelas kopi yang disajikan langsung diboyong ke pelataran monumen perjuangan. Sambil berkeliling melihat hasil kerja pemeliharaan monumen sekaligus memilih spot poto yang tepat.

Tapi, Sebuah keindahan hadir dengan penelungkupan. Yup nangkuban atau telungkup di lantai hangat pelataran monumen langsung dijalani demi hasilkan angle photo yang tepat. Nangkub gan.

Keceng dan cetrek, cetrek, cetrek.

Motretnya pake hape aja, da ini mah cuman hiburan.  Jadi inget istilah baheula, ‘No Pain No Gain’… pengen gambar yang indah, maka telungkuplah hehehehe.

Selamat menikmati pemandangan dan dijaga oleh secangkir kopi. Wassalam (AKW).

WFA tapi PUSING.

Kerja Kerja Kerja… jalan.

CIMAUNG, akwnulis.com. Perjalanan Bandung – Pangandaran ditempuh dalam waktu 6 jam jikalau nonstop. Tapi ditambah berhenti sejenak untuk makan siang dan shalat maka ditotalkan menjadi 7 jam. Waktu yang lumayan panjang, tetapi menjadi efektif manakala memanfaatkan teknologi yang terus berkembang. Memang beberapa titik dukungan sinyal internet sesaat menghilang, tetapi mayoritas sinyal internet cukup stabil dengan menggunakan dua provider yaitu Halo telkomsel dan XL Axiata.

Konsep Work From Anywhere (WFA) bisa dijalankan nyaris sempurna. Satu agenda rapat terkait perkembangan TTE (tanda tangan elektronik) yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informasi bisa diikuti. Begitupun Sosialisasi tentang Lingkungan Hiduppun bisa bergabung. Tentu keduanya menggunakan aplikasi video conference yaitu zoom yang menjadi akrab untuk kita semua selain skype, google meet, microsoft teams, slack, gotomeeting, facetime, whatsapp video call, cisco webex dan jitsi.

Maka di dalam mobil interaksi terjadi, tablet samsung dengan kesibukan zoomnya. Smartphone digunakan untuk koordinasi intens dalan rangka pembahasan pagu indikatif 2023. Sementara laptop on fire di aplikasi sidebar untuk membaca berbagai surat keluar serta membubuhkan paraf dan tanda tangan secara elektronik plus membaca disposisi pimpinan dan menindaklanjutinya secara online. Jikalau harus diakselerasi maka smartphone beraksi untuk kontak langsung agar tugas segera tuntas.

Meskipun terkadang muncul rasa mual karena mobil meliuk kanan kiri demi memenuhi hasrat jalan yang berkelok-kelok tak selamanya lurus. Juga sedikit pusing karena mata menjadi bingung dikala harus membaca naskah surat di laptop sementara pemandangan luar mobil begitu dinamis.

Maka pejamkan mata sejenak dan tarik nafas dalam – dalam. Lepaskan pelan – pelan sambil konsentrasi ke satu titik. Insyaalloh rasa pusing dan mual akan berkurang. Kecuali jikalau jalannya memang turun naik penuh kelokan dan patahan. Lebih baik tutup laptop dan nikmati perjalanan sambil tak lupa pegangan. Sehingga guncangan yang terjadi tidak membuat kesulitan. Kalau Bandung ke pangandaran via jalan raya ciamis banjar relatif agak aman dari kemualan dan kepuyengan karena jalannya lebar meskipun berkelok. Tapi manakala pulang dari pangandaran via jalur selatan sampai rancabuaya. Bersiaplah jalur Rancabuaya – Talegong – Cisewu dengan sensasi naik turun kelak kelok dan patah mendadak… cusss. Aduh ternyata terasa…

Ada sensasi mual yang mulai hadir ditemani selarik pusing menghinggapi raga ini, sementara ternyata paraf dan tanda tangan elektronik harus segera, atau harus baca berkas penting ditunggu bingit. Ya sudah menepilah. Cari rumah makan terdekat dan cek sinyal internetnya sehingga bisa tethering dengan smartphone. Berhentilah dan bekerja dengan laptop kesayangan.

Jadi dimanapun berada, tugas dan pekerjaan seperti meeting atau notifikasi dan tanda tangan berkas bisa dilakukan. Tapi ingat kalau terasa pusing dan mual, rehatlah sejenak kawan. Selamat pagi dan selamat beraktifitas. Wassalam (AKW).

MUTIARA HIJAU MUDA

Olahraga pagi & berjumpa dengan mutiara hijau muda.

BojHaleu, akwnulis.com. Pagi yang cerah diisi dengan momen bercengkerama bersama alam. Mencoba meresapi kemasing-masingan meskipun bersama karena masih takut dengan droplet yang berterbangan manakala bercakap bersama kawan setia.

Bersepeda berdua adalah pilihan tepat, karena bisa memaknai keindahan pagi tanpa khawatir terjebak kerumunan yang hadir jika gowesnya berombongan.

Bukan tidak mau, tapi khawatir pas istirahat bersama setelah gowes terus ‘meriung‘ botram bersama komunitas. Biasanya klo makan minum, dipastikan masker dibuka bareng-bareng. Disitulah kemungkinan sicovid berkeliaran… jadi maafkan jikalau menghilang dulu dari peredaran.

Setelah lelah bersepeda, maka perlunrehat sejenak sambil bercengkerama dengan alam sekitar yang memghijau menyegarkan.

Sembari beristirahat di keteduhan, tak sengaja melihat sebuah …. atau lebih tepatnya sekumpulan mutiara muda hadir dihadapan. Berbaris rapih dalam nuansa kehijauan. Salah satu ciptaan Allah yang harus menjadi bentuk syukur kita, karena betapa indahnya dan presisi sehingga sangat menarik hati.

Memang tidak bisa memiliki tetapi sesaat bisa memandang sambil mengamati, relatif bisa mengobati keinginan memiliki dan menyadari bahwa sangat kecil untuk dibawa pulang apalagi dibuat sebagai bagian dari perhiasan.

Kenapa tidak bisa dibawa pulang?”

Karena ini bukan milikku, ini adalah mutiara muda milik alam yang selanjutnya mengikuti siklus kehidupan untuk menjalani takdirnya menjaga keseimbangan dan menuju kesempurnaan.

Sambil beristirahat dan menghirup udara pagi, kembali berbincang dengan pasangan yang juga bersemangat ‘sasapedahan‘, membahas banyak hal termasuk keberlanjutan nasib mutiara muda yang menawan.

Tak perlu lama menunggu kepastian, karena alam menjawab dengan caranya yang diluar perkiraan. Mutiara mudanya bergerak dan berubah menjadi pasukan baru yang lucu dan menggemaskan.

Inilah sebuah kenyataan yang membukakan mata bahwa apa yang kita lihat belum tentu seperti apa yang kita sangkakan. Maha Besar Allah dengan segala macam ciptaannya. Wassalam (AKW).

KANGEN.

Sebuah rasa yang hadir tiba-tiba…

Photo : Rehat sejenak menikmati keindahan / pic by mrs Yenny.

NAMI ISLAND, akwnulis.com. Kelopak daun menguning menemani perjalanan ini, menapaki sebuah pengalaman berbeda dikala bersamamu. Suasana yang syahdu semakin berpadu dikala rindu beradu dengan belaian angin yang tidak menderu tetapi sepoi-sepoi menyentuh kalbu.

Jajaran pohon yang berbaris melindungi perjalanan ini, semakin menguatkan semangat untuk terus bersama dalam suka dan duka. Meskipun halangan rintangan senantiasa ada, tetapi itulah dinamika yang menjadi kawah candradimuka kehidupan di dunia.

Suasana penat dan lelah berubah seketika, berganti rasa senang penuh keindahan, romansa menjalar dalam urat nadi sepanjang badan, bersemangat untuk menggamit dunia demi penuh hasrat keinginan yang tetiba membuncah tanpa tertahan.

Duduk perlahan di rerumputan kering, berlarian sambil tertawa seakan dunia sudah bukan milik bersama. Mentari siangpun sangat paham dengan keadaan, karena sesekali bersembunyi di balik awan tipis sambil mengantarkan pesan kerinduan.

Begitulah kehidupan fana yang sesaat begitu indah penuh rasa, begitu mempesona sehingga terkadang membuat lupa bahwa ini hanya sementara.

Sungguh aneh tapi nyata, karena rasa bahagia tanpa syarat ini hadir dengan tiba-tiba nir tanda-tanda, hati damai dan raga segar bergerak bersama di rimbunnya pepohonan Nami Island.

Apakah karena banyak tersembunyi pesan cinta? Atau memang suasana tenang yang membuat rasa ini berbeda? Padahal ini bukan yang pertama.

Sudahlah kawan, jangan mendebat hati nurani, biarkan semuanya mengalir tanpa perlu khawatir dengan tahapan selanjutnya. Hidup ini indah, dikala kita bisa mensyukurinya. Hidup ini penuh berkah dikala kita menjalaninya tanpa keluh kesah. Apalagi banyak hal diraih dengan susah payah, sudah sepatutnya kita bersujud dikala cita diraih pada saatnya.

Maka, momentum bercumbu dengan angin rindu perlu dinikmati tanpa pandang bulu. Duduk dan berguling bersama rumput hijau yang luas adalah kesukaan sekaligus menikmati pelukan erat aura pepohonan yang begitu ramah tanpa banyak pertimbangan.

Mari syukuri hidup tanpa melupakan kewajiban, mari jalani hari dengan segala haru biru perubahan.

Sesekali sinar mentari menerobos lindungan daun dan menyentuh wajah polosku, mengingatkan bahwa kenikmatan ini hanya sementara. Jangan terlena, tetapi harus tetap waspada. Karena setelahnya akan banyak hal – hal tak terduga yang menanti di perjalanan selanjutnya.

Sebuah catatan kecil dari seberang lautan sana, Wassalam (AKW).

Mencari Vitamin C.

Pertemuan tidak disengaja bukan hanya say hellow saja, tapi bisa berbeda.

CIMAHI, akwnulis.com. Cerita kali ini adalah sebuah kejadian yang seperti kebetulan, padahal memang skenario Illahi yang sudah dirancang begitu rapih dan tidak terbantahkan.

Pagi hingga siang kesibukan di tempat kerja tidak berhenti, dari mulai penyusunan bahan da konsep hingga meeting – meeting berjarak dengan peserta terbatas plus 1 video meeting virtual yang harus dilakukan.

Yach, situasi waspada pencegahan pandemi corona membuat kita semua harus esktra adaptasi dan harus mampu mengikuti perubahan alam semesta ini. Status wfh (work from home) sudah diatur sedemikian rupa, tentu itu menjadi pedoman untuk memaksimalkan bekerja di rumah, tetapi… dalam satu minggu minimal 2 kali hari harus berada di kantor karena berbagai pertimbangan.

Meskipun tentu perjalanan kantor – rumah – kantor harus extra waspada bermasker, handsanitizer, sarung tangan hingga rajin cuci tangan. Hingga berjaga jarak dan membatasi durasi pertemuan dalam ber-meeting… ternyata yang membuat lelah mudah datang itu karena rasa kekhawatiran tentang penyebaran covid19 yang bisa memgintai dimana dan kapan saja.

Salah satu antisipasinya adalah penguatan diri khususnya asupan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh yaitu Vitamin C, meskipun tentu vitamin lainnyapun tetap penting.

Di sela istirahat kerja mencoba menjambangi beberapa minimarket dan warung untuk membeli vitamin C, ternyata dimana-mana stock kosong…. wadduh, lalu cek via online, harganya berlipat-lipat ngikuten harga masker dan hand sanitizer… alamaak, makin pusing.

Photo : Penerapan standar pencegahan di RM / dokpri.

Setelah waktu istirahat hampir habis, maka kembali bergerak menuju kantor. Tiba-tiba ada pesan whatsapp masuk, ‘Jangan lupa beliin masakan ya, di rumah nggak masak‘… plus nama rumah makan yang ditujunya.

Siettt….

Langsung belok kiri karena arahnya sedikit berlawanan dengan arah kantor, namanya RM dalaraos di jalan siliwangi Kota Bandung.

Ngeeeng……

Tiba di rumah makan, segera menuju etalase touchscreen, maksudnya tunjuk makanan di kaca yang jadi pilihan dan langsung dibungkus dengan ukuran sesuai request. Tapi sebelumnya mengamati kondisi sekitar, terlihat bahwa RM ini sudah menerapkan prinsip pencegahan covid19 yang dianjurkan oleh pemerintah, diantaranya tersedia bak cuci tangan lengkap dengan sabun cuci tangannya di teras lalu antrean dibuat tanda dengan stiker di lantai dan berjarak 1 meter, ada juga hand sanitizer di dekat tempat makanan touchscreen, semua pelayan dan pengunjung menggunakan masker, ada hijab plastik yang membatasi kasir dengan pembeli serta tidak melayani makan di tempat hanya untuk take away saja plus beberapa pengumuman seperti : wajib masker, wajib antri dan yang paling wajib adalah wajib bayar setelah milah milih masakan yang dibungkus.

Nah di kala mengantri inilah tetiba berinteraksi dengan seorang ibu, lalu menawarkan sebotol jamu rempah buatannya. Dari pembicaraan awal tersebut ternyata jamu rempah ibu ini sudah banyak yang mengkonsumsi… keren, dan yang paling menarik adalah pada saat menawarkan jeruk lemon dengan harga bersahabat.

Wah cocok nich, sumber vitamin C alami dengan harga terjangkau” dalam hati berbicara dan nggak pake lama langsung diputuskan membelinya..

Jreng.

Tuntas dari RM tersebut kembali ke kantor dan menghabiskan sisa waktu kerja dengan menyelesaikan beberapa berkas yang ada serta kordinasi via WAvideocall.

Gaya banget kontak-kontak pake videocall

Pada nggak tau yaa…. itu sangat berguna buat pelaporan kinerja harian guys. Jadi pas WAvidcal sambil di capture… dapet deh bukti koordinasinya.

Oh gitu” Sang penanya mengangguk-angguk mengamini komentar ini.

Kembali ke jeruk lemon, Bahasa latinnya citrus lemon dan memang sangat kaya vitamin C juga unsur vitamin lainnya sehingga cukup dengan diminum air perasannya pagi hari campur madu, sudah cukup memberikan asupan vitamin bagi kekebalan dan kesegaran tubuh. Hikmah perjumpaan tadi ternyata, vitamin C alaminya alias buah jeruk lemonnya langsung diantar ke rumah pake motor oleh ibu Wati yang berjumpa tadi, luar biasa.

Begitulah sebuah cerita sederhana tentang kejadian keseharian yang bisa dianggap biasa, ataupun bisa membaca beberapa makna hikmah yang terkandung dalam kejadian ini. Selamat menjalani perubahan kehidupan dengan tetap optimis dan mengkonsumsi vitamin secara teratur. Wassalam (AKW).

Balik Deui – fbs

Aya nu balik deui…

Fikmin # Balik Deui #

Geuning teu sami sareng nu diimpleng, kahirupan senang, jalan takdir lénglang, rejeki loba ogé awak séhat euweuh nu karasa. Ari pék téh rudet pakujut, kawas sésa kenur langlayangan nu ditinggalkeun kapakan. Rujit nandangan kanyataan hirup nu ripuh, werit tur loba panyakit.

Tapi teu ilang akal, buru-buru ngajleng sakuat tanaga, asup deui kana alam implengan, muru jalan ngabulungbung, leucir, hotmix, hideung tur weweg.

“Har geuning uih deui kang?” aya soanten halimpu naroskeun.

“Sumuhun nyi, asa raos di dieu” Udan ngawaler tatag. Nyai rancunit, punggawa karajaan, méré imut pangbagéa.

Léngkahna anteb muru gapura raja, uluk salam deui sanaos tadi tos ditaros ku nu jagi, “Rahayuuu!!”

Bray……. gapura badag muka, jalan mulungmung ka tengah kota, nu caang baranang, loba wargana nu marahmay ningali Udan datang deui. Leumpang muru gedong sigrong, pang badagna di éta kota. Nu jadi jugjugan balaréa.

Udan ngarasa bagja, sanajan duka iraha tiasa mulang deui, ka dunya manusa. (AKW).

Note :

Fbs : Fiksimini sunda, genre penulisan cerita fiksi pendek, maksimal 150 kata dalam bahasa sunda.

HQ Pool Bali.

Tadinya jalan tapi jadinya nggak bisa diam.

Photo : HQ pool Kuta Bali / dokpri.

KUTA, akwnulis.com. Seiring takdir yang bekerjasama dengan waktu, selaras nasib yang tak terbayang berurutan dan tertib. Itulah kehidupan yang senantiasa hadir dengan kejutan-kejutan, baik sesuatu yang menyenangkan atau mungkin menyesakkan dada serta diikuti dengan berlinangnya air mata.

“Segitunya Kakak?” Sebuah tanya muncul dari neng cantik yang baru tuntas meracik milk tea pesanan di salah satu counter minuman di Lippo Mall Kuta, “Ini pesanannya sudah jadi kakak”

“Makasih neng”

Sedikit tertegun karena lamunan buyar oleh sapaan yang datang tanpa disangka. Yang pasti sebutan kakak memberi semangat berbeda, seakan masih umur generasi millenial…. padahal sebenernya…. lebih dekat ke generasi kolonial heuheuheu…🤣🤣🤣.

***

Berjalan sambil menenteng eh menyeruput tea di sebuah mall di lembur batur serasa gaya, meskipun teanya hambar karena zero sugar.. eh no sugar alias tanpa gula, tetapi khan dengan wadahnya yang bermerk… jadi ikutan gaya hahahaha…. jalan nya ke belakang mall dan menuju ke arah pantai….

“Lha kamu dimana?”

“Kebetulan di Bali, jadi nyempetin beredar di mall trus bergegas ke pantai”

“Aiih ngabibita aja, awas yach”

***

Sore ini acara mandiri sehingga perlu dimanfaatkan berjalan-jalan sendirian… aslinya… sendirian di mall dilanjutkan bergegas menuju pantai, sambil menenteng minuman teh gaul jaman sekarang. Perlahan tapi pasti sang kaki menapaki pasir yang terhampar seolah tanpa ujung. Lalu berjalanlah tanpa banyak pertimbangan, sedikit melamun menikmati suasana pantai yang tidak bisa ditemukan setiap hari di kota bandung.

Photo : HQ pool Kuta Bali / dokpri.

Sejalan juga dengan jadwal latihan olahraga rutin low impact yang diusahakan setiap hari, maka jalan di pantai ini bisa memenuhi target olahraga low impact hari ini, cukup berjalan kaki dengan santai minimal 45 menit.

Maka…

…bergeraklah kedua kaki membawa raga menyusuri pantai di belakang Lippo Mall Kuta ini menuju pantai segara dan dilanjutkan lagi ke arah pantai kuta…. klo ngikutin kontur pantai yaa sekitar 2 km,atau versi gugelmap bisa ditempuh berjalan kaki sekitar 29 menit, pas lah… bergeraak.

Ternyata…. butuh 1 jam lebih untuk sampai di area pantai kuta, banyak gangguan penglihatan di sepanjang pantai. Jadi banyak terdiam dan tertegun sesaat, “Astagfirulloh…. hal adzim”… baru melangkah lagi… terdiam lagi… dan berjalan lagiii… diam lagiii.

Tiba di dekat pantai kuta, rasa haus kembali mendera, padahal tadi es tea ukuran jumbo sudah tandas disruput…. pas moo beli sebotol air mineral, terlihat sebuah kolam renang yang terletak tidak jauh dari pantai… wah wah wah.. boljug (boleh juga) nich…

Mendekatt……

Ternyata kolam renang yang bisa digunakan oleh umum, artinya siapapun bisa menggunakannya dan posisinya strategis, sangat dekat dengan bibir pantai.

Maksudnya nggak langsung nempel dengan pantai, tetapi dibatasi pasir dan jalur pejalan kaki, langsung akses ke kolam renang…. mantab.

Ukurannya.. kira-kira yaa.. panjang 20 meter dan lebar 10 meter dengan kedalaman 1,5 meter. Biayanya lumayan, 150 ribu/orang…. mihiil, eh tapi ternyata bisa juga dengan belanja makanan minuman minimum seharga itu, makanan minumannya di resto samping kolam renang.

Jam operasionalnya mulai jam 07.00 sampai jam 21.00 wib. Ntar jam 23.00 sd jam 06.00 wib besoknya adalah saatnya masa perawatan air…. aih jadi inget wajah lagi perawatan…nggak boleh sembarangan terpapar matahari… (maaf nggak nyambung yach).

Monggo, yang kebelet renang, ya tinggal buka baju, jeburrr deh…. tapi celana renang wajib dipakai, karena kalau enggak… bisa viral hahahaha.

jebuurr…….

Segaar dan pengalaman menyenangkan, sambil sebagian tubuh terendam air kolam renang yang bersih.. maksudnya air tawar, wajah memandang hilir mudik manusia yang mengunjungi pantai antara pantai kuta dan pantai segara. Selamat berbasah ria kawan, Wassalam (AKW).

***

Catatan :
Namanya HQ pool (headquarter pool), Klo kita moo maen ke pantai kuta dan parkir di seberang hard rock hotel, tinggal masuk area pantai, jalan ke kiri sekitar 300 meter… nah disitu posisinya. Monggo.

Gaung & Getar di Dusun Bambu.

Perjumpaan penuh makna tentang asal muasal semesta..

Photo : Bangunan Rongga Budaya Dusun Bambu / dokpri.

KBB, akwnulis.com. Terdengar suara lantang dan penuh keyakinan, “Jauh sebelum terjadi dentuman keras atau Big Bang yang menciptakan alam semesta, dikala sunyi dan gelap adalah inti dari alam raya, maka yang paling awal hadir menjadi pendahulu adalah dua elemen, yaitu gaung dan getar”

Suwerr guys, melongo mendengar penjelasan singkat dari seorang sesepuh yang ‘tidak sengaja berjumpa’ di Rongga Budaya.

“Getar dan gaung inilah yang menjadi cikal bakal alam semesta, sebelum terjadinya Big Bang yi, getaran dan gaung yang bersinergi, bergerak dan bersuara bersama, menghasilkan energi yang menggerakkan proses dentuman besar terjadi…..”

Woaah… masih melongo…

Penjelasan yang menjadi khazanah wawasan baru, karena ini adalah bagian dari intrepretasi keilmuan dan juga spiritualitas yang disampaikan dalam kerangka budaya dan pelestariannya.

Disini…. di Rongga Budaya.

“Apa itu rongga budaya?”

Photo : angklung di rongga budaya / dokpri.

Rongga budaya adalah sebuah bangunan yang asri, dengan seluruh elemen bangunannya dominasi bambu, dari atap, dinding, lantai hingga tulisan identitas bangunan ini. Didalamnya terdapat beraneka peralatan musik dari bambu seperti angklung, calung, celempungan, dogdog lojor, dan juga karinding.

“Dimana itu?”

“Hayoooh kepooo” Senangnya menggoda yang penasaran.

Sebelum menjawab tempat dan lokasi, kembali pikiran tertuju kepada gaung dan gema dan senangnya bisa berbincang singkat dengan seorang seniman yang begitu antusias berbagi cerita tentang bambu nusantara serta philosophis yang terkandung dalam alat musik spiritual yang bernama ‘karinding‘.

Pembahasannya nanti yaa tentang Big bang & karindingnyaa…… Cekarang khan moo jawap duyu question tadi brow…. ih sok sok bahasa generasi millenial padahal mah masuk generasi …. kolonial… upssst.

Rongga budaya adalah sebuah bangunan yang didedikasikan oleh owner sebuah tempat wisata edukasi berbasis alam yang berpadu dengan restoran, tempat makan yang berpadu dengan alam serta menjadi pilihan untuk outdoor activity di Bandung Utara yaitu Dusun Bambu.

Rongga budaya menjadi bagian penting identitas dan mungkin roh esensi nama ‘Dusun Bambu‘, dimana menjadi tempat edukasi serta kumpul bersama siapapun dan tentunya para seniman, tokoh masyarakat yang peduli dan menggawangi tentang kekayaan nusantara yang sarat makna dan multi manfaat yaitu bambu, bambu nusantara.

Photo : Kaum selpiisme lagi berkumpul / dokpri

Keluar dari area belakang Rongga budaya maka langsung disuguhi dengan indahnya danau di area ini yang berpadu padan dengan aktifitas lalayaran paparahuan, tempat makan diatas danau serta tidak lupa sebuah aktifitas yang sama, dilakukan oleh hampir semua orang, dengan alat dan gaya masing-masing dengan tema wisata selpi…. hehehehe..

“Dimana itu alamatnya?”

Jangan manja ah, tinggal buka smartphone. Jangan hanya WAan atau update status aja, tapi pake google map atau aplikasi perjalanan dengan keyword ‘dusun bambu’…. jreng… hitungan detik langsung ketemu, dengan catatan kuota internet atau wifi gratisannya lagi on.

Photo : Tempat makan pinggir danau / dokpri.

Tapi buat yang malas nyari yaa.. ini dech lokasinya :

Dusun Bambu Resort
Website : dusunbambu.id
Alamat : Jl. Kolonel Masturi Km11 Kartawangi Cisarua Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat.
CP : 022- 82782020

“Okeh, puaskan?”

“Belummm…..”

Harap maklum aja, diriku khan bukan pemuas, udah kesinih ajaah…. ditunggu.

Photo : Kokolétrakan / dokpri.

Segera raga bergerak meninggalkan Rongga Budaya, menjejak rumput dengan kaki telanjang, agar merasakan langsung silaturahmi dengan alam sambil belajar memainkan kokolétrakan. Yup Kokolétrakan, alat musik sederhana dari dua bilah bambu yang bisa menghasilkan musik ringan dan riang, sebuah tandamata dari Abah Wawan, sesepuh rongga budaya. Wassalam (AKW).

Safar di Al Safar

Menjalani hari sambil mentadaburi…

Photo : Kaligrafi Basmalah yang berkilau sempurna / dokpri.

PURWAKARTA, akwnulis.com. Semburat mentari mulai merambah permukaan bumi, memberi sebuah kehangatan abadi. Gemericik air mancur tumpah di kolam menambah semarak kehidupan. Pagi yang penuh harapan.

Diatas kolam air mancur, berdiri menjulang sebuah dinding atau menara yach?…. meruncing diujung atas, dibuat untuk menyambut isyarat langit yang selalu melimpahi.

Bangunan utama disampingnya seperti sebuah markas futuristik dengan balutan sains yang kental dan terasa misterius.

Bangunan apakah ini?”

“Ini adalah mesjid Al Safar, mesjid yang dibangun di rest area km88 Tol Cipularang arah Jakarta yang merupakan salah satu desain dari Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat saat ini.”

Ohhh……..

Photo : Ornamen menjulang diatas kolam / dokpri.

Sebelum bergegas masuk, tentu wajib membasuh hati dan pikiran dengan segarnya air pegunungan yang disalurkan teratur di kamar mandi serta kamar wudhu mesjid ini.

Setelah melewati pintu masuk, suasana lapang menyambut. Desain futuristiknya menyebar di seantero sudut masjid, memberi ketenangan dan kenyamanan yang berbeda. Selain desain bangunan yang indah juga akses untuk difabel dibuat sedemikian rupa, sehingga akses berwudhu, toilet hingga tempat sholat di lantai mezanine sudah tersedia jalur khusus kursi roda, kereen pisaaan.

Photo : Suasana dalam Mesjid Al Safar / dokpri.

Segera, lapor kepada Allah SWT melalui 2 rakaat tahiyatul masjid maka dilanjutkan dengan menikmati sudut-sudut mesjid Al Safar ini. Berharap detail menikmati, tetapi karena posisi kamipun safar alias sebagai musafir, maka tidak bisa berlama waktu berdiam disini karena ada tugas yang harus dikerjakan di ibukota negara.

Mihrab tempat imam berpadu dengan tulisan kaligrafi lafad Allah dan Rasulullah digantungkan tepat ditengah berpadu serasi bersama kaligrafi ‘Basmallah‘ yang tegak sempurna berkilau tertimpa cahaya seakan terbuat dari lempengan emas logam mulia (Atau memang dibuat dari logam emas yach???).

Photo : Mesjid Al safar dari arah kolam air mancur / dokpri.

Sebelum pamit dari rumah-MU, tak lepas mata ini menikmati keindahan detail mesjid ini. Termasuk sentuhan teknologi yang tersemat sempurna kabel-kabel tersembunyi tetapi jelas laksanakan fungsi.

Sound system memang tidak sempat dinikmati karena ini pagi hari, tetapi beberapa televisi yang dipasang di dinding kanan kiri agak ke tengah mesjid, disambungkan dengan camera cctv otomatis sehingga bisa menampilkan suasana mesjid dan jamaah secara realtime menjadikan kesan tersendiri. Selain dari sisi pengawasan keamanan juga bisa jadi hiburan jemaah dikala mendengarkan ceramah, …...nggak cepet ngantuk nundutan, tapi bisa lihat layar televisi dan…. mungkin lihat jemaah lain ngantuk ngantuk hehehe.

Photo : Mihrab yang memantul di lantai pualam / dokpri.

Itulah sekilas pengamatan diri terhadap Mesjid Al Safar ini. Mesjid yang megah dan indah, dibangun oleh PT Jasa Marga diatas lahan 6000 meter persegi dan bisa menampung hingga 12.000 jemaah.

Esok lusa kami akan mampir lagi, sekarang bergerak meninggalkan mesjid ini, menuju ibukota dalam rangka meraih asa, ibadah dalam bentuk bekerja. Wassalam (AKW).

Arabica Papua di Tasikmalaya.

Menikmati kopi di kota Tasikmalaya…

Photo : Kopi & Bekjul / dokpri.

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Adzan magrib akhirnya berkumandang, tepat beberapa menit setelah rapat ditutup dengan kesepahaman dan tentunya kesepakatan.

Tak berlama-lama, segera tunaikan shalat dan berkemas untuk kembali pulang setelah giat marathon meeting nonstop senin-jumat di minggu ini.

Dari mulai berendam di Subang, tidur di kamar nyem-POD di Stasiun gambir, hingga menikmati kopi kupu-kupu di Banten dan balik ke Bandung ditemani kopi reska di Kereta Api Argo Parahyangan hingga akhirnya sekarang terdampar di Kota Tasikmalaya.

Seminggu yang penuh dinamika, jangan ditanya cape dan tidak karena bukan untuk dikeluhkan. Jalani, syukuri dan nikmati.

Photo : Kopi papua siap dinikmati / dokpri.

Seperti saat ini, dihadapan telah tersaji Kopi Papua dengan metode Vietnam drip. Disebuah kedai kopi yang bernama Warung Kopi Lawas, artinya warung kopi jadul dengan interior cafe sedehana dan berdiri sejak tahun 2010 lalu..

Wuiih udah 9 tahun berarti yaa…

Lokasinya di sekitar mesjid agung Tasikmalaya, tepatnya di Jalan Empang No. 18 Empangsari Tawang Kota Tasikmalaya.

Photo : Daftar menu warung kopi lawas / dokpri.

Sajian menu bervariasi dan kopinyapun beraneka macam, dari mulai kopi jabar hingga aneka kopi nusantara. Tadinya moo pesen kopi arabica ciwidey, eh ternyata abis. Jadinya kopi arabica papua dech.

Didalam warung tersedia meja-meja coklat dan disampingnya ada juga ruangan ngopi plus di halaman… di trotoar juga disediakan meja kursi… cocok buat kongkow sambil ngopay, memperhatikan lalulintas jalan dan orang yang melintas menyusuri takdir kehidupan.

***

Photo : Suasana di halaman warung / dokpri.

Setelah bersabar menanti tetesan terakhir dari drip diatas cangkir, maka sruputan perdana menjadi penting…. srupuuut.

Woaah nikmat kawan, bodynya medium bold dan aciditynya masih terasa meskipun tidak terlalu asem. Tastenya hadir selarik berry dan…. harumnya kopi papua ini lumayan menarik hati. Ditambah dengan suasana yang menyenangkan, termasuk disaat akan mempotret secangkir kopi ini ternyata backgroundnya motor merah masa lalu, jelas konsep jadul warung kopi ini makin terasa.

Photo : Tempat pesan di warung kopi lawas / dokpri.

Sajian menu lainnya, ada juga roti dan teman2-nya, tapi dengan waktu yang terbatas maka ngopi hitam papua tanpa gula saja yang menjadi pilihan.

Trus di seberangnya ada juga Cafe Ara. Hanya saja tidak ada kopi yang disajikan manual. Hanya kopi versi mesin yang tersedia yaitu espresso, dopio, longblack dan americano plus latte dan coldbrew. Akhirnya hanya sayhello saja….

Tetapi yang pasti rasa kopi papua ala warung kopi Lawas bisa sedikit mengobati kerinduan mengopay manual ditengah berjibakunya tugas dan pengharapan. Wassalam (AKW).