Arabica Giri Senang – sruput brow

Saatnya ‘me time’..

CIMAHI, akwnulis.com. Pasca shalat witir saatnya memanjakan diri dengan format ‘me time’ yang sederhana. Yaitu prosesi nyeduh kopi ala – ala menggunakan manual brew V60 dan peralatan seduh yang tersedia. Apalagi pesanan dari kang Yuda – CoffeeRush sudah hadir dihadapan mata. Tidak ada lagi alasan untuk membiarkannya. Mari kita mulai… jeng jreeeng.

Nama beannya arabica giri senang dengan proses natural. Berasal dari varietas sigararuntang & typica dari bukit palasari dengan ketinggian tempat tumbuh sang kopi adalah 1250 – 1350 mdpl.

Yup sesi ‘me time’ yang singkat tapi berarti. Karena waktunya singkat dan tetap masih bisa bersama keluarga dalam momentum persiapan menyambut idul fitri 1443 Hijriyah yang semarak dan berbeda, setelah 2 tahun didera pandemi sehingga mudik dan balik menjadi terlarang. Sekadang semuanya bisa, maka menyeduh kopinyapun sambil memantau laporan situasi arus mudik dari media televisi dan IGlive. Semoga para pemudik diberi kelancaran serta keselamatan.

Prosesi penyeduhan arabica Giri senangpun berlangsung lancar. Setelah di grinder agar menjadi serpihan kasar maka dilanjutkan dengan sentuhan air panas 92° celcius menggunakan putaran searah jarum jam… hmmm harum kawan.

Maka pelahan tapi pasti, tetesan cairan hitam segar dengan keharuman yang memanjakan cuping hidung ini begitu menggoda. Tak sabar untuk segera menikmatinya. Bejana server kaca kesayangan dan corong V60 pink dengan setia menemani prosesi ini termasuk gelas kaca kecil duralex yang sudah 3 tahun setia mengantarkan hasil seduhan kopi agar tiba di bibir ini untuk diseruput perlahan dan diteguk penuh perasaan.

Maka, setelah prosesi penyeduhan berakhir. Inilah saat yang dinantikan. Tuangkan kopinya ke gelas kaca duralex, angkat dengan tangan… dan… tempelkan ke bibir yang sudah tidak tahan.. srupuuut…. hmmmmm… rasa segar menyeruak menjadi sensasi dasar.

Dari sisi bodinya medium lite, tetapi aciditynya menarik rasa asam yang berbeda, tipis tapi ninggal dibawah bibir dengan rasa lemon yang kuat. Sementara setelah diteguk, hadir after taste rasa manis yang menyenangkan, mirip manis strawberry, tapi selarik saja hadir lalu perlahan pergi meninggalkan kenangan manis seperti cerita romantisme masa lalu… apa siiiih.

Alhamdulillahirobbil alamin, badan terasa segar dan menghadirkan setetes dua tetes keringat di kening sebagai tanda tubuh menghangat serta raga menguat karena sentuhan cairan kopi panas dan tentu kandungan kafein yang bergulat dengan kenyataan.

Selamat beribadah di minggu – minggu terakhir bulan ramadhan dengan segala keindahan dan keberkahan pahala yang berlipat ganda. Wassalam. (AKW).

***

Kopi Luwak Liar Java Preanger – Cipanas Garut

Merasakan citarasa liar dari kohitala.

GARUT, akwnulis.com. Catatanku kali ini tetap berkutat di seputar pengalaman ngopay (ngopi) yang dilakukan di bulan ramadhan 1443 hijriyah ini, tentu dilakukan pasca kumandang adzan magrib menggema dan prosesi pembatalan puasa terlaksana di meeting area Hotel Harmoni. Nah berbuka puasa tetap dengan air putih dan potongan buah-buahan yang ada dilengkapi sedikit cemilan siomay dan burayot yang menjadi kue khas di garut ini.

Setelah tuntas pembatalan puasa, shalat magrib dan akhirnya memastikan acara resmi tuntas. Saatnya berburu kenikmatan ngopay di garut ini, tepatnya di kawasan Cipanas.

Tadinya ada ide untuk berendam, khan cipanas adalah daerah yang kaya air panas alami yang berasal dari gunung….  Tetapi dengan waktu yang terbatas dan harus kembali ke bandung untuk dan atas nama keluarga serta bejibunnya tugas dinas, maka aktifitas berendam air panas di tunda menunggu saat yang pas.

Meluncurlah ke sebuah tempat ngopay yang difasilitasi bos Yudi dan rengrengan, nuhun pisan. Nama tempatnya RM Saung Pananjung Cipanas Garut.

Menu makanannya bervariasi dan tempatnya nyaman, tetapi konsentrasinya adalah ke ujung kiri pas pintu masuk, dimana pojokan ini adalah markas sang barista meracik kopi dan ditemani peralatan manual brew plus mesin dilengkapi jajaran bean siap diproses. Beannya cukup lengkap dari wine, natural, honey gunung papandayan serta kopi luwak dengan pilihan luwak liar dan luwak penangkaran.

Pesan V60 bean luwak liar ya kang”
Mangga kang”

Maka tanpa berlama-lama, sajian V60 manual brew berproses dan tersaji. Disajikan langsung oleh sang barista, kang Rasid.

Sebuah sajian kopi manual brew dengan beannya yang spesial dihargai 45 ribu rupiah, lebih mahal 5 ribu rupiah dari kopi luwak penangkaran. Tepatnya beannya adalah Kopi Luwak Liar Java Preanger (KLLJV)

Sebuah cerita dari sang Barista, membahas tentang asal muasal kopi yang baru saja dinikmati yaitu kopi luwak liar dari hutan sekitar gunung papandayan.

Katanya proses pengumpulan bean kopi ini dikumpulkan oleh petani dari ceceran kotoran luwak liar yang berada di sekitar hutan di gunung papandayan. Nggak kebayang bagaimana mulungannya (mengumpulkannya)… tapi penulis berusaha percayai bahwa proses itu terjadi, mungkin besok lusa pengen juga ikutan kukurusukan ke hutan merasakan betapa sulitnya melakukan pengumpulan kopi dari (maaf)… keluar dari pantat binatang luwak ini.

Udah ah, sekarang saatnya menikmati sajian kohitala spesial ini, bismillah.

Rasanya enak dan berbeda, ada kepahitan diujung lidah yang meyertai sebuah body medium dan acidity menengah yang mudah dirasakan tanpa perlu terkaget oleh rasa asam yang berat. After tastenya agak sulit didefinisikan karena terasa banyak campurannya, tetapi yang cukup menarik adalah selarik rasa manis hadir ditengah kepahitan yang mendera.

Itulah salah satu cerita singkat ngopay di ramadhan tahun 2022 ini, pertemuan singkat namun bermakna. Tidak bisa berlama-lama karena tarawih dan witir sudah menunggu untuk segera terlaksana. Oh ya disini juga tersaji steak domba dan domba bakar yang juga miliki kenikmatan sensasi rasa berbeda.

Sekali lagi hatur nuhun fasilitasinya Bos Yudi serta ditemeni Ezi, jangan bosen ya. Srupuut.. Wassalam. (AKW).

***

Lokasi : RM Saung Pananjung, No 509 Tanjung, Jl. Raya Cipanas Pananjung Kabupaten Garut. Provinsi Jawa Barat 44151.

Kopi Karatina Kenya di HALOKa.

Menikmati sajian kopi manual brew di Kota Kembang.

BANDUNG, akwnulis.com. Disaat sesi makan siang, maka berhamburanlah berbagai jenis orang dan profesi untuk beredar dalam rangka mencari sesuatu untuk mengganjal perut dan dahaga yang mungkin ditahan selepas sarapan pagi tadi.

Ada juga yang belum sarapan pagi demi alasan pengiritan dan takut kesiangan tiba di kantor. Jadi cuma setangkup roti isi telor ceplok saja untuk sedikit mengganjal perut.

Walah itu bukan sarapan?”…

Bukan atuh, sarapan mah harus nasi”

Sebuah jawaban pasti dari USA (urang sunda asli) heu heu heu, jadi sarapan dan makan siang atau malam itu harus nasi atau sangu, makanya ada istilah…. SANGUAN.

Padahal sarapan mah bebas yang penting ada unsur karbohidrat dan protein plus sayuran, tapi kalau nggak sempet yaa…. makan siangnya yang dibanyakin menu sayuran. “Setuju khan?”

Setuju pisan, nggak usah nasi juga gapapa. Bisa diganti lemper, bubur, kupat, buras, lontong dan sebagainya…. nah disini penulis terdiam, karena yang disebut barusan adalah berbahan dasar sama dengan nasi hehehehe.

Udah ah bahas sarapannya, sekarang kembali ke tujuan penulisan, yaitu bahas si kopi hitam kesayangan.

Maka bergeraklah raga menuju jalan Veteran di Kota Bandung untuk menikmati kopi asli kohitala dengan metode manual brew V60 sekaligus makan siang.

Nama tempatnya HALO KA, sebuah nama yang ramah dan familiar maka jangan ragu membuka pintu cafe menuju ruang dalam dimana sang barista dan pelayan serta koki menanti.

Setelah basa basi sebentar, sang barista bernama Bisma memulai pembuatan sajian manual brew V60 dengan pilihan beannya adalah arabica karatina kenya.

Tring….. proses lengkapnya bisa dinikmati di channel youtubeku : MENIKMATI KOPI DI HALOKa.

Setelah disruput dengan nikmatnya, terasa menghilangkan segera dahaga perkopianku. Bodynya medium saja dan after taste standar tanpa ada sejumpul rasa ninggal. Sementara after tastenya ada rasa selarik manis dan juga asam dari lemon yang memberi pengalaman kesegaran kali ini.

Menu cemilannya juga banyak dan menu makanan beratnya juga spesial, malah ada paket makanan yang nggak berat di kantong. Ntar deh ditulisnya, mau nyruput duluu….. slruppp. Alhamdulillah.

Met weekend kawan, Wassalam (AKW)

***

Kafe Haloka, Jl. Veteran No.7 Kebon Pisang, Kec. Sumur Bandung Kota Bandung.

NGOPI Gedung Negara & Arabica Manglayang.

Kembali beredar sambil menikmati kopi hitam tanpa gula, edisi Cirebon.

CIREBON, akwnulis.com. Pahitnya kopi hitam tanpa gula adalah sebuah kecanduan hakiki. Semua memang pahit jikalau kopi tanpa gula, tetapi diantara kepahitan itu terselip rasa berbeda dan pengalaman aneka rupa. Karena bisa memaknai perbedaan dari kepahitan rasa ini adalah anugerah tak terkira.

Kali ini raga dan langkah agar menjauh menuju pantura, tepatnya bergiat di kota cirebon dengan tema KOPI NURDIN (nurut dinas) alias terbawa hadir karena urusan pekerjaan.

Nah laporan kerjaan mah ntar dituangkan dalam nota dinas laporan, tapi kalau urusan ngopay maka disinilah tempatnya menuliskan rasa dan kenangan.

Kopi yang pertama tersaji adalah kopi sachet biasa yang diseduh tanpa gula sebut aja merknya kopi kapal api. Untuk rasa ya begitulah flat tanpa banyak rasa-rasa, tetapi suasana dan sajiannya yang bikin berbeda. Pertama cangkirnya cangkir dinas berlogo pemprov jabar dan kedua lokasi kopi tersaji di ruang tamu gedung negara eks keresidenan Cirebon yang penuh sejarah dan kejayaan masa lampau.

Maka dihadirkan dokumentasi kemegahan gedung negara sebagai background yang melengkapi secangkir kohitala (kopi hitam tanpa gula) untuk diabadikan sebelum akhirnya tandas di sruput untuk menikmati dahaga kepahitan kopi yang melenakan.

Alhamdulilahirobbil alamin.

Lalu melengkapi sajian kohitala yang sebenarnya, sebelum pulang ke bandung maka searching-lah lokasi tempat yang menyajikan kohitala dengan metode seduhan manual V60.

Ternyata gayung bersambut dengan hadirnya tawaran dari seorang kawan untuk berdiskusi sambil menikmati sajian kopi… tentu menyenangkan… berangkaaat.

Kopi kedua adalah kopi hitam asli tanpa gula dengan biji kopinya arabica manglayang. Proses seduhan manual dengan filter dan corong V60 menghadirkan sebuah rasa pahit yang kaya makna. Bodynya medium dengan acidity seimbang, hadir selarik segar lemon dan brown sugar sebagai after taste dari sajian kohitala ini. Sruput yummy.

Sajian kohitala ini semakin lengkap dengan menu makanan beratnya yaitu steak yang merupakan pilihan menu spesial di Chantel food space Cirebon. Nyam nyam…

Itulah cerita ngopay kali ini, selamat memaknai kepahitan rasa dengan syukur tiada kira. Wassalam (AKW).

Kemalasanmu begitu menggemaskan.

Tapi sangat sukaaaa….

CIKUTRA, akwnulis.com. Pagi masih sendu dikala bersua dengan kemalasanmu. Tetapi sentuhan kelembutan akhirnya meluluhkan sebuah niat untuk menjauh, malah kembali dekat dan penasaran dengan segala tindak.

Kerlip mata sayumu menyiratkan kemalasan, tetapi itulah daya tarikmu. Disaat kedua mata tertutup dan dagu menempel beralaskan kedua tangan, terlihat betapa nikmatnya menjalani kehidupan.

Saat sebuah tanya meluncur, “Apa kabar kawan?”

Baik Kaka”

Nikmat sekali dikau merem melek di pagi hari”

Dikau menjawab sambil tersenyum membuas, “Ini hiburan termurah dan termudahku kawan, ngantuk ya tinggal bobo, setujukan?”

Sebuah anggukan dan sedikit senyum kepasrahan harus ditampilkan, demi menjaga mood di pagi sendu ini kawan.

Trus selain bobo, apa lagi hiburan mu?” Rangkaian kata muncul karena penasaran.

Ini hiburan selanjutnya” gitu jawabannya sambil memperlihatkan keller kaca berisi bean arabica gayo fullwash yang tinggal sepertiga.

Buset, ternyata penyuka kopi juga. Cocok dong. Akhirnya sambil merem melek tetap berbincang dan dikenalkan sama Kak Firda, Barista Kopi Kitaku.

Munculllah urusan teknis manual brew, diawali dengan panas air seduhan 92° celcius, 15 gram beannya hingga komposisi dan posisi badan pas nyeduh bean agar berekstraksi sempurna…. Yummy… ternyata menikmati proses juga menyenangkan kawan.

Akhirnya sebuah sajian manual brew V60 hadir memenuhi ruang dahaga pagi ini. Disruput perlahan sambil tetap memantau sesosok mahluk malas yang sangat menggemaskan.

Selamat minum kawan.

Selamat menikmati hiburan paling sederhanamu sekaligus bagaimana menikmati sebuah proses yang berujung kenikmatana juga. Alhamdulillah… srupuut. Wassalam (AKW).

Kopi Emas Hitam Papua.

Menikmati kelembutan kopi Papua..

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah rasa adalah selera dan setelah dirasa maka hadirlah makna. Jadi tidak serta merta makna hadir tanpa sebuah proses rasa dan selera. Diawali dari selera yang dibangun oleh niat plus keinginan maka bergeraklah dalam sesi mencoba.

Nah mencobapun tidak serta merta langsung menikmati tetapi justru ada proses yang ternyata bisa dinikmati juga. Itulah yang disebut kenikmatan sebuah proses.

Kok jadi pusing ya?”

Tenang masbro, jangan jadi pusing karena dua paragraf. Tapi resapi makna sederhana, bahwa jalinan kata bisa hadir dan menjadi pembeda. Apalagi dimaknai dalam sebuah proses yang notabene disukai.

Gue mah nggak mau ribet, order – bayar – sruput – nikmat”

Hahahaha…. itu awalnya diriku banget. Tetapi setelah tahu bahwa prosespun memiliki kenikmatan, maka waktu yang dijalani menjadi relatif. Bukan masalah sebentar atau lama, tetapi bagaimana sebuah kenikmatan tercipta.

Begitupun kali ini, disaat proses manual brew V60 terjadi maka betapa tahap demi tahap terasa nikmat dan mencoba berimajinasi tentang keindahan alam papua yang sangat kaya raya sumber daya alamnya termasuk mereka cipta sebuah kebun kopi seperti apa, ketinggian berapa hingga dominasi tumbuhan apa di sekitarnya.

Hasil imajinasi ini nanti di crosscheck dengan sajian kohitala ini, yang merk dagangnya menarik yaitu Kopi Emas Hitam Papua.

Maka…

Jeng jreng… peralatan penyeduhan manual disiapkan.

Bungkus hitam dengan label hijau segera dibuka, hmmm harum aroma kopi menggelitik ujung hidung serta menyebar di ruangan… segaar.

Tanpa banyak cingcong siapkan corong V60 tambah kertas filter. Basahi dengan air panas kertasnya dan buang air seduhannya. Segera lanjut isi dengan butiran kopi yang menyegarkan ini. Lalu siapkan air panas dengan suhu 93° celcius (ada termometernya, udah dicolokin dan khusus untuk cek panas air, nggak dipake yang lain hehehehe)

Seduh manual dimulai… dan.. tes.. tes.. tes. Perlahan tapi pasti sajian kohitala dari papua berkumpul rapih di bejana kaca.

Siaap dinikmati brow…

Slrup… srupuut.

Nikmaaat…. ada sebuah rasa yang bulet gitu deh, halus dan nyaman dengan acidity low dan body medium serta di kala tiba ke momen after taste maka hadir selarik dark coklat dan caramel di tutup dengan rasa pahit yang menyegarkan.

Nah itulah sebuah proses rasa yang ternyata begitu banyak makna. Apalagi bicara tanah papua yang sekarang sedang menjadi tuan rumah ajang olahraga nasional yang penuh gelora. Hidup PON PAPUA 2021 dan Nikmatnya kopi emas hitam papua. Wassalam (AKW).

OBAT GALAU DI TERAS KIARA

Lagi galau?… obati dengan Ngopay.

V60 arabica manglayang / dokpri.

KIARAPAYUNG, akwnulis.com. Sebuah rasa berbeda yang hadir tiba-tiba, menyusup dibawah raga dan menyentuh pinggiran hati tanpa banyak tanya. Disitulah hadir rasa khawatir ditambah sejumput kebingungan.

Tapi kenapa?”

Sebaik kata tanya yang berbahaya, karena untuk memperbaiki dan menyembuhkan sesuatu memiliki syarat utama. Syaratnya adalah kejujuran.

Coba renungkan, dikala kita butuh solusi masalah kesehatan, maka diskusi dengan dokter adalah kejujuran dan keterbukaan. Setelah itu dilakukan pemeriksaan phisik, barulah bisa dihadirkan resep dan akhirnya treatment obat atau tindakan yang diperlukan.

Begitupun jikalau jiwa kita yang ‘sakit’, maka perlu sesi diskusi yang dilandasi kejujuran dan keterbukaan. Lalu proses terapi baik dengan dokter jiwa ataupun psikolog, barulah tindakan atau resep obat kembali dihadirkan dengan berbagai cara minum yang penuh keteraturan.

Teras Kiara / dokpri.

Nah, kali ini kebimbangan hadir tanpa sebab yang jelas. Wah lebih berbahaya nich. Harus segera ditenangkan dengan terapi khusus penuh kenikmatan.

Maka tanpa membuang waktu dan menyia-nyiakan kesempatan, pada kesempatan pertama segera bergerak memutar arah dan menantang kondisi jalan berbeda dari seharusnya. Termasuk berjuang dalam ajrug-ajrugan karena jalan agak hancur dilewati truk – truk besar yang hilir mudik ditengah debu tanah yang beterbangan.

Ada usaha dengan semprotan air membasahi jalan, tetapi terlihat tak kuasa melawan debu-debu tanah yang menari riang bersama deru kendaraan besar.

Alhamdulillah setelah melewati jalan berdebu, maka tak jauh lagi lokasi terapi bathin akan dicapai… ahaaay… sabaar.

Namanya Teras Kiara, sebuah cafe asri yang bersih dan aman dari hinggar bingar keduniawian. Kebetulan pengunjung sedang tidak ada, maka leluasa memilih tempat dan mengambil spot photo serta meminta obat galau yang sangat manjur.

Apakah obatnya?”

Obatnya adalah sajian V60 arabica manglayang yang dibuat oleh Aris/Teguh sang barista. Tangan terampil an kedisiplinan pada tahapan manual brewnya menghadirkan sajian sederhana dengan rasa yang tidak sederhana. 15 gram bean arabica manglayang diproses hingga hadirkan sajian kohitala dengan body medium, acidity medium dan aftertastenya selain dark coklat juga selarik kesegaran mentimun dan mint menenangkan rasa yang galau plus kembali semangat menjalani kehidupan.

Semerbak harum aroma kopi manglayang menenangkan perasaan yang sedang gundah gulana karena suatu sebab yang tak jelas ditambah rasa yang mendamaikan. Itulah obat galau dalam sebuah kehidupan.

Jus mangga teras kiara / dokpri.

Tak lupa untuk melengkapi kehadiran kohitala si obat galau ada juga dokumentasi sajian jus mangga yang dipesan seorang rekan yang memang butuh juga kesegaran versi yang bersangkutan.

Happy weekend kawan. Wassalam (AKW).

Kerumunan KOPI.

Akhirnya berkerumun juga….

KBB, akwnulis.com. Ngobrol bareng dan ngopi bersama menjadi momen yang sangat berharga karena setahun lebih telah tercerai berai akibat penyebaran pandemi covid19 yang menerkam dunia.

Harapannya saat ini semua sudah sirna dan semua baik-baik saja. Tetapi ternyata itu masih mimpi yang bersembunyi di pelupuk mata. Karena kenyataaannya justru kita sekarang harus lebih waspada. Virus covid19 yang bermutasi telah menghadirkan kekhawatiran gelombang serangan kedua, dengan segala kehebatannya termasuk (katanya) tak mempan dideteksi dengan swab PCR….

Aduuh makin hawatir saja tapi jiwa berontak, sampai kapan terkungkung dalam ketakutan dan ketidakpastian ini?”

Bergelas-gelas kopi sudah dinikmati di rumah dengan metode pres, model tubruk hingga andalan adalah seduh manual filter V60. Tapi ternyata ada yang kurang, bukan urusan kopi… tapi teman ngopi….

GuBRAk….  jangan berfikir yang macam-macam. Yang dimaksud adalah teman-teman pecinta kopi, khususnya kopi tanpa gula. Saling diskusi sruput kohitala dan terkadang berantem karena beda rasa antara keyakinan selarik banana dengan aroma nangka.

Jikalau sendirian, itu tidak bisa. Pernah ada ide cupping kopinya via zoom karena masa pandemi. Tapi ya nggak afdol karena berarti bikin manual sendiri baru dinikmati. Tidak ada objektifitas saling tukar hasil karya.

Tapi, jikalau memaksa. Resiko kemungkinan tertular adalah niscaya, dan yang lebih menyakitkan adalah jikalau karena pertemuan atau pergaulan kita ternyata membawa virus ke rumah dan menularkan kepada keluarga termasuk orangtua atau anak kecil dan saudara yang punya penyakit bawaan (komorbid)… Audzubillahi Mindzalik.

Maka cara terbaik yang bisa dilakukan adalah berkerumunlah di cafe dengan kopi.

Apa itu?”

Iya cari cafe yang penerapan protokol kesehatannya bagus, tersedia cuci tangan, cek suhu, hand sanitizer plus kapasitas pengunjung yang terkendali dengan model duduk jaga jarak.

Susah atuh bos!”

Ini khan hanya ihtiar, disatu sisi ingin ngopi sambil kongkow bareng dan jadilah kerumunan. Di sisi lain takut terjadi kontak erat dan menjadi lanjutan penularan. Maka cara terbaik adalah…. biarkan kopi yang berkerumun hehehehe.

Pesen kopi kohitala 2 porsi dan (terpaksa) nikmati sendiri. Jangan sedih karena sulit kongkow kali ini. Tapi kembali bersabar sambil menunggu pandemi pergi. Nanti mah kita bisa lanjut kongkow ngopay tanpa harus terlihat lebay.

Semangat kawan, biarkan sekarang kopinya yang berkerumun dengan gelas dan botol saji tembikar ditemani 2 keping kue kopi yang terbungkus plastik rapi. Wassalam (AKW).

Kopi AR Baliem

Tafakur, Syukur dan Kopi.

Photo : Sebuah Suasana Kedai Kopi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pagi menjelang siang dikala hati terasa ‘marojèngja‘, atau ada perasaan nggak puguh gitu. Cus cos atau khawatir tak beralasan, maka istigfar segera agar diberikan ketenangan rasa.

Hidup memang penuh dinamika, duka dan suka berkelindan dalam labirin takdir yang terkamuflase sempurna. Tinggal akal sederhana yang mencoba mencerna fenomena dengan berbagai prasangka. Terkadang muncul buruk sangka, tetapi diusahakan dihilangkan dengan berbagai cara, karena buruk sangka bisa menggerogoti otak dan jiwa.

Apalagi tak terima dengan takdir yang menimpa, ini bahaya. Karena takdir adalah niscaya dan cara terbaik adalah menerima, mensyukuri dan memaknai hikmah di balik semuanya.

Photo : Segelas Kopi AR baliem / dokpri

“Kenapa takdir harus ditafakuri dan disyukuri?”

“Karena takdir adalah sesuatu yang telah atau sudah terjadi”

Jadi pintar pintarlah memaknai semua yang telah terjadi dan menerima dengan sebuah kepasrahan hati dan diri.

Meskipun tahapan menerima kenyataan adalah sebuah langkah perjuangan melawan pergulatan diri yang terkadang masih terjebak dengan egoisme, kebingungan, ketakutan dan juga rasa berbeda dari orang kebanyakan.

Masing-masing orang memiliki permasalahan dan kelemahan, aib serta kesulitan. Tetapi Allah SWT menutup semuanya dengan menjaga derajat dan martabat kehidupan salah satunya dengan bentuk tubuh dan fungsi yang sempurna padahal kemana-mana kita semua membawa kotoran atau calon kotoran dalam tubuh kita.

Marilah kita senantiasa bersyukur atas kesempatan hidup ini.

Dikaitkan dengan salah satu kenikmatan kita menyeruput sajian kohitala (kopi hitam tanpa gula) maka kali ini bisa menikmati sebuah sajian kopi dengan manual brew v60 yang menggunakan biji kopi nun jauh disana di tanah papua.

Jika dahulu di kelas geografi kita mengenal Suku Dani dan cerita lembah baliem Irian jaya, maka saat ini ingatan itu dihadirkan kembali oleh segelas kopi arabica baliem dengan aroma khas kopi organik tanpa bahan kimia serta menyertakan selarik rasa manis yang menggugah selera.

Sruputan pertama dan diikuti sruputan selanjutnya menyegarkan jiwa dan menyemangati raga untuk terus berkarya selama berkesempatan menapaki dunia fana.

Happy wiken kawan semua, selamat berkumpul bersama keluarga dan menjaga semangat untuk tetap menjadi individu berguna, Wassalam (AKW).

Arabica Puntang Harliman.

Lelah itu wajar, sruputlah aroma kehidupan.

KBB, akwnulis.com. Sejalan senja menyentuh rasa, sebuah asa menjalar dalam raga yang sedikit merasa kelelahan. Mungkin ini pertanda bahwa usia memang bukan untuk dilawan, tetapi disyukuri sambil terus memaknai segala perubahan dengan tasyakur keberkahan mengarungi kehidupan.

Lelah itu adalah niscaya manakala memang tetesan keringat bergulir karena beragam aktifitas. Baik secara phisik harus bergerak ritmik ataupun gerakan tak tentu yang akhirnya menguras tenaga dan usia tadi, ataupun menguras pikiran dalam rongga kepala untuk membuahkan sebuah keputusan dan konsep yang jitu dalam menjadi bagian sebuah solusi permasalahan.

Ada juga lelah rasa atau capai perasaan, ini yang lebih bahaya. Tidak terlihat tapi nampak, meskipun disembunyikan akan tetap terlihat betapa gelayut awan hitam beban kehidupan begitu kental tergambar di wajah yang penuh kesedihan. Ini lebih cape karena korbannya adalah perasaan, dan obatnya sangat bervariasi meskipun ujung-ujungnya adalah ikhlas dan sabar serta kepasrahan…. aduuh sedih akuu.

Tapi, itu bukan aku. Itu mah orang lain, aku mah cukup saja kecapean phisik dan kecapean mikir sesuatu aja. Terutama urusan kerjaan yang memang selalu ada banyak hal yang harus dikerjakan dan menuju perwujudan untuk dituntaskan.

Maka jangan lupa, jikalau lelah melanda dan waktu seakan begitu terbatas, jangan paksakan. Rehatlah sejenak dan tarik nafas sesaat, apalagi jika hadir sajian kohitala manual brew arabica puntang… maknyuus sudah.

Sruput….. arabica puntang Cafe Harliman pake metode manual brew V60.

Dengan panas 90° celcius dikala menyeduhnya, 15 gram beannya dan disesuh dengan komposisi 1 : 15 hadirkan sajian kopi hitam asli tanpa gula yang memiliki acidity medium high dan body tebal memahit khas arabica puntang serta dari sisi profile maka tetap hadir selarik mint dan rasa manis fruitty yang agak sulit dikala mencoba mendefinisi, pokoknya enak pisan…. sruput lagiii.

Insyaalloh lelah hilang berganti semangat gemilang, untuk lanjutkan menuntaskan tugas yang bejibun tanpa batasan.. srupuut… semangaaat, Wassalam (AKW).

***