Love & latte

Sejumput cinta tanpa raga.

BANDUNG, akwnulis.com. Kehadiran diri untuk menikmati secangkir kopi di pagi hari tak tertahan lagi. Maka segera bergegas memandang kanan kiri mencari kedai kopi yang mungkin sudah pantas untuk dijambangi.

Ternyata gayung bersambut dengan beberapa pilihan kedai dan cafe. Asyiik.

Order V60 ya”

Maaf kakak, V60nya belum ready”

Ugh.. sebuah pukulan tanpa raga terasa menyentuh dada. Menyelinap sedikit kecewa.

Ini beannya dan corong V60 ada mas?” Sebuah tanya memberondong sang pelayan yang memandang iba.

Beannya ada, cuma kertas filternya habis kak, maaf ya”

Oalaah ternyata selembar kertas yang menjadi masalahnya. Tetapi kalau dipaksa dengan kertas koran mungkin bisa jadi sajian kohitala, tetapi akan tercampur dengan lunturan berita yang sudah kehilangan makna.

Demi sebuah perjuangan rasa, akhirnya berdamai dengan menu yang ada dan menjatuhkan pilihan pada cafelatte no sugar.

***

Tak lama kemudian, datanglah segelas latte dengan siluet hati di permukaannya. Seolah memberi kejutan bahwa ada ungkapan cinta disana. Padahal memang tarikan yang paling mudah dalam penuangan latte ke gelas adalah menghasilkan siluet gambar heart perlambang cinta.

Jikalau tidak percaya, request aja ke baristanya bahwa pesan latte dengan siluet gambar permukaannya kelenci… eh kelinci (rabbit) maksudnya… dijamin sang barista ampun-ampunan.

Sudahlah nggak usah kecewa dengan ketidakhadiran kohitala V60, mari seruput sajian ini, segelas latte dengan permukaan siluet cinta. Selamat pagiii… Wassalam (AKW).

Melanggar Prinsip Kohitala.

Menyesal tiada sudah, jadi nikmati aja.

Photo : Leaf latte art at Ambrogio / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Pergerakan meniti takdir kehidupan termasuk memegang satu prinsip seerat mungkin, ada saatnya harus berkompromi. Meskipun awalnya berat hati karena sebuah prinsip adalah sesuatu nilai yang harus dipertahankan dan diperjuangkan sebaik-baiknya. Ternyata kehidupan itu dinamis, kompromi dan negoisasi adalah warna yang harus dipilih serta bisa berubah menjadi warna lain dikalau dicampur dalam takaran dan komposisi tertentu.

“Memang prinsip apa yang kamu langgar?”

😭😭😭😭….

“Lha nangis… jawab donk”

“Jadi, prinsip kotala musti dilanggar 😭😭😭”

“Maksudnya?”

“Iyaa sudah hampir 2 tahun ajeg dengan kotala alias kopi hitam tanpa gula, tapi sekarang agak terganggu… oleh susu… eh foam susu”

“Oalaah Tak kirain apaa mas”

Photo : Cappucino Doubletree / dokpri.

Diskusi yang nggak penting terus bergulir, membahas suatu prinsip yang mungkin bukan hal penting bagi orang lain.

Jadi… pelanggaran prinsip ini adalah jikalau selama ini bertahan dengan kotala atau spesifiknya ‘Kohitala(kopi hitam tanpa gula)… sekarang agak bergeser dengan campuran foam susu…

Hal ini terjadi karena berbagai faktor, pertama efek teknis beberapa kali mampir di cafe, ternyata alat manual brewnya nggak ada jadi beralih ke mesin kopi yang pilihannya adalah espresso, dopio, americano dan longblack.

Kedua, masih urusan teknis, grindernya ketinggalan sehingga musti balik ke mesin kopi seperti pasal 1, pilihannya terbatas.

Photo : Rabbit-pucino at Warung Garut / dokpri.

Ketiga, godaan dari barista latte art yang mampu menghasilkan aneka gambar di permukaan kopi dengan beraneka rupa. Dari gambar standar leaf, goose dan love hingga gambar lain yang lebih menantang seperti gambar kelinci dan binatang lainnya.

Keempat, rasanya juga berbeda, enaknya beda, meskipun tetap tanpa gula, jadi pilihannya bisa caffelatte ataupun cappucino…. jangan lupa tanpa gula.

Kelima, hidup memang butuh variasi, begitupun prinsip ngopi tapi yang harus dihindari adalah manisnya gula yang mungkin ngangeni.

Keenam, … apa yaach?…

Udah ah, gitu aja dulu, yuk ngopay yuuk. Wassalam (AKW).