Jejak Leluhur 2

Bergerak agak jauh untuk lanjutkan jejak ziarah para leluhur.

SOLO, akwnulis.com. Berbaur dengan banyak orang di kereta KRL Jogja – Solo menjadi pengalaman tersendiri. Dengan harga yang bikin kaget, hanya Rp 8.000,- sangat jauh beda jikalau menggunakan moda transportasi lainnya. Eh bisa murah pake sepeda, tapi nyampenya kapan yaa?…… juga adaptasi teknologinya bagus, semua cashless. Dari mulai masuk peron, duduk di kereta hingga turun di stasiun tujuan.

Pas naik udah penuh, tapi anak kecil, ibu hamil afau orang sakit dan wanita ada hotseat guys dan kalau kayak kita nich, cowok kece dan sehat… caileeee…. maksain duduk di hotseat tersebut karena kursi lain penuh.  Siap-siap didatangi petugas dan disuruh berdiri. Maka semua mata penumpang lain akan ikutan lihat, malunya itu nggak nahan.

Maka mengalahlah, bapakke berdiri, anak istri bisa duduk dengan sedikit nyaman. Trus masker wajib terpasang dan nggak boleh makan minum apalagi merokok, jadi suasana tenang dan bersih tanpa sampah berserakan.

Tiba di Stasion Solo Balapan maka bergegas menuju hotel yang sudah dipesan dengan menggunakan becak bisa kembali bercengkerama dengan deburan… eh salah, semilir angin malam di kota solo.

***

Kehangatan sinar mentari pagi menyambut perjalanan kali ini. Sebuah pergerakan yang sedikit menguras rasa dan emosi karena harus belajar berdamai dengan diri dan memaknai sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri lagi.

Betapa tidak, jika setelah mencoba menghitung tahun. Ternyata sudah 5 tahun, tidak pernah menjejakkan kaki kembali di tanah leluhur sekaligus melakukan ziarah kubur di makam kakek nenek dari garis keturunan ayahanda.

Maka setelah sarapan pagi, berangkat ke daerah Sumber Girimulyo, dimana lokasi makam mbah kakung berada. Alhamdulillah lokasi dapat ditemukan dengan mudah dan GPS hanya sebagai pendukung aja. Jadi ingat dialog sewaktu kecil bercengkerama dengan Almarhum Mbah S. Partoredjo.

“Tumbas seket mbak”
“Koncomu piro?”
“Oalah cucuku lanang”
“Dahar mbah, Dahaaaar!!”

Ah kisah masa kecil yang menyenangkan, meskipun ada juga suasana malas mudik ke solo di kala libur lebaran. Karena disaat salaman harus antri begitu panjang dan sesuai urutan keturunan sambil berucap, “Ngaturaken sembah sujud bla bla bla….”

***

Makam Mbah Kakung terletak di samping komplek perumahan dan dekat dengan rumah om sentot, adik bungsu ayahku. Sehingga tidak sulit menemukan makamnya karena ada guide khusus hehehe… dilanjutkan dengan ziarah kubur ke makam Mbah Putri, Mbah Sayem Binti Kromobini yang berjarak cukup lumayan.

Maka untaian doa kembali hadir, semoga bisa diterima Illahi Robbi dan para leluhur kami ini berbahagia abadi di surga-Mu.

Bismillahirrohmannirrohim, Allohummagfirlahu Warhamhu Waafihi Wa fuanhu Waakrim nujulahu Wawasi’mad kholahu… Alfaatihah”

***

Terasa berat meninggalkan kedua makam yang menjadi asal muasal kehadiranku di dunia fana ini. Jika dari garis ibu adalah keturunan PERANCIS (peranakan ciamis) maka dari gadis ayahanda adalah keturunan OSLO eh solo.

Udah ah, kembali ke dunia nyata. Sesi ziarah kubur berakhir dan kembali merajut hari dengan berbagai aktifitas yang diharapkan bisa menjadi arti bagi mahluk lain dan diri sendiri. Wassalam (AKW).

Mesjid RM Ciamis

Menelusuri jejak leluhur

CIAMIS, akwnulis.com. Perjalanan kali ini memberi arti tersendiri. Bukan tulisan tentang tentang kopi tetapi lebih mendalam melebihi urusan duniawi.

Apa itu?”

Sebuah momentum perjalanan yang mengingatkan akan fananya dunia ini sekaligus dari mana diri ini berasal. Perberhentian saat ini adalah sebuah mesjid kecil yang ciamik dan bersih bernuansa putih dengan nama Raudhatul Mukminin.

Bukan sekedar singgah dan shalat sunat, tetapi jauh lebih mendalam lagi adalah dibalik tembok mesjid sebelah kiri. Berjajar rapi makam – makam para sesepuh keluarga besar Kartadibrata termasuk almarhumah nenek, ibu kandung dari ibuku.

Maka bergegaslah menuruni tangga batu, mengambil posisi terbaik dan berdoa untuk keselamatan di akherat sana semua leluhurku termasuk nenek Sumirah binti Kartadibrata.

Suasana lengang di makam keluarga ini, memberikan pesan tenang dan damai sekaligus kembali mengingatkan bahwa besok lusa giliran kita yang harus kembali ke haribaan Illahi Robbi. Maka persiapan bekal amal dan pahala harus tetap dan terus diupayakan demi keselamatan dan keberkahan abadi di akherat sana.

Oh ya, mesjid putih yang diatas kanan makam adalah mesjid keluarga besar Kartadibrata yang dihadirkan sebagai penanda, tempat shalat sekaligus dapat bermanfaat bagi banyak orang yang beristirahat sjenak, ngaso, atau sekedar menikmati makanan ringan di warung yang hadir sebagai penyemarak juga menjaga agar mesjid tetap bersih.

Bismillahirrohmannirrohim, Allohummagfirlaha Warhamha Waafihi Wa fuanha Waakrim nujulaha Wawasi’mad kholaha”

Itulah sejumput makna yang menemani perjalanan diri ke daerah priangan timur yang melintasi wilayah kabupaten ciamis ini, kabupaten leluhurku dari garis keturunan ibu.

Wassalam, AKW.

HOAX yg NIKMAT

Ternyata Hoax ini mah beda euy.

JAKARTA, akwnulis.com.  Sebuah pertemuan yang mengantarkan raga bergerak ke ibukota. Secarik undangan menjadi dasar bahwa kehadiran adalah sebuah keharusan. Apalagi berkaitan dengan anggaran negara, semua harus hati-hati, teliti dan betul – betul mempelajari regulasi yang sering berubah dan  berganti.

Namun kembali, cerita tentang kerjaan maka tertuang dalam laporan. Kotretan resmi dan sesuai naskah dinas akan hadir sebagai nota dinas. Namun kesempatan hadir di pinggir pantai ibukota negara tepatnya di daerah ancol harus dioptimalkan dengan berbagai aktifitas.

Trus ngapain aja bro?”

Gampang jawabannya, yang pertama disaat sesi istirahat sore menjelang malam segera bergerak dengan skuter (suku muter) atau jalan kaki dan usahakan minimal 6.000 langkah.

Diitung perlangkah gan?”

Ya enggak atuh, khan ada teknologi. Cukup pake gelang smartfit dan ber-skuterlah. Maka hitungan akan berjalan. Lalu supaya skuternya full motivasi, search dulu cafe kopi seputar ancol yang menjadi srandar tujuan. Nyalain googlemap, lets go.

Langkah mantabs bergegas menyusuri pinggir pantai, masih berbaju kemeja dinas ‘smiling west java’ tapi sepatu slip on karena pasca operasi ternyata belum bisa pake sepatu biasa.

Setting tujuan diperkirakan 30 menit saja, biasanya cukup 6.000 langkah. Kalau kurang ya ditambah lagi aja. Gitu aja kok repot.

Nah, perjalanan inilah yang menemukan sebuah nilai penting. Yaitu cerita tentang HOAX. Kita tahu semua bahwa Hoax ini sering menyengsarakan karena berupa berita bohong dan menyesatkan. Bisa membuat kegaduhan di keluarga, kedinasan, masyarakat juga bangsa dan negara.

Tapi Hoax kali ini berbeda, karena ternyata ini adalah HOAX yang nyata kawan. Ceritanya setelah perjalanan dari hotel mercure – putri duyung cottage – bunderan Symponi of the sea – danau ancol hingga Bandar Jakarta – Colombus cafe – Le Bridge – dan ada yang menarik yaitu sebauh Cafe dengan nama HOAX, cuma karena target langkah nelum terpenuhi  lanjutkan skuternya sampai ke Ereveld Ancol (Dutch War Cemetery Ancol)….. tapi pas mau naik jembatan yang membelah pantai, kok serasa nggak enak hati. Apalagi suasana agak temaram dan sepi.

Ya sudah balik kanan dech, lagian sudah 6.321 langkah. Mencari mushola lalu bergerak kembali ke arah tadi berangkat. Cafe HOAXlah yang menjadi tujuan.

Alhamdulillah, tempatnya nyaman dan pilihan menunya variatif, bukan hoax guys. Lalu yang paling penting adalah ada sajian kopi meskipun kopi berbasis mesin. Lumayanlah, cafelatte bisa menemani kesendirian pada malam hari ini.

Jadi sekali lagi, di daerah ancol inilah baru menemukan nama hoax yang bermanfaat. Srupuut gan. Wassalam (AKW).

Kopi Monju

Hayu ah kita Srupi… Sruput hepi.

BANDUNG, akwnulis.com. Jumat pagi adalah saatna menggerakkan kaki sambil menemani otot meregang bersama helaan nafas kesegaran. Tapi ingat, dengan catatan memang tidak ada kegiatan  dinas di pagi hari.

Tentu dilihat dulu penjadwalan kegiatan kali ini. Medio jam 07.30 sampai 09.00 wib relafif aman, nah selanjutnya jadwal padat merayap baik yang hadir online dan offline.. meluncuur.

Kamu mah meluncur aja, emangnya mau ski air atau ski di es ya?”

Aduh bestie ini mah hanya ungkapan, meluncur itu artinya berangkat cuy”

Ya udah capcus”

Langsung pasang posisi start dan aktifitas ber-skuter berlangsung. Kaki kanan lebih dahulu lalu kaki kiri dan mengayunlah bergantian dan bergerak semakin cepat sehingga jika dilihat secara kasat mata, kaki ini seperti berputar. Itulah makanya disebut skuter yang asal katanya sukuter alias suku muter (kaki berputar).

Jangan lupa niatkan olahraga dengan basmalah juga pake jam gelang penghitung langkah supaya ada ukuran dan bukti berskuter pagi ini. Melangkaah.

Menyusuri trotoar sepanjang jalan Riau atau LLRE martadinata, belok kanan ke jalan citarum, lewati sisi timur gedung sate hingga memasuki jalan diponegoro dan menyusuri pinggir gasibu. Akhirnya menyebrangi jalan raya paspati menuju area monumen perjuangan rakyat jawa barat. Lumayan skuter 40 menit dan dapat 3.882 langkah.

Tiba di area monumen perjuangan jawa barat atau MONJU atau MONPERA.. disambut dengan keramah tamahan teman – teman yang bertugas disana. Menemani berkeliling termasuk memberi suguhan segelas kopi panas yang nikmat.

Tring…
Muncul ide.

Segelas kopi yang disajikan langsung diboyong ke pelataran monumen perjuangan. Sambil berkeliling melihat hasil kerja pemeliharaan monumen sekaligus memilih spot poto yang tepat.

Tapi, Sebuah keindahan hadir dengan penelungkupan. Yup nangkuban atau telungkup di lantai hangat pelataran monumen langsung dijalani demi hasilkan angle photo yang tepat. Nangkub gan.

Keceng dan cetrek, cetrek, cetrek.

Motretnya pake hape aja, da ini mah cuman hiburan.  Jadi inget istilah baheula, ‘No Pain No Gain’… pengen gambar yang indah, maka telungkuplah hehehehe.

Selamat menikmati pemandangan dan dijaga oleh secangkir kopi. Wassalam (AKW).

1 Kopi 3 Hewan : Takdir.

Ngopi bersama aneka hewan, siapa takut… yu ah.

PANGANDARAN, akwnulis.com.  Pertemuan dengan seseorang ataupun sesuatu tidak lepas dari takdir yang ditentukan Illahi. Manusia hanya mahluk lemah yang sok perkasa dan mampu merencanakan sesuatu yang luar biasa. Padahal semua adalah berdasar kehendak-Nya. Tetapi nilai ihtiar dan kesungguhan hati dalam memikirkan, mengkonsepkan hingga melaksanakan sesuatu sampai terwujud dengan baik, itulah bagian dari ibadah seorang hamba.

“Weiits… mentang-mentang jumat pagi ya, jadi begitu agamis?”

Hehehe, tidak kawan. Ini adalah bagian penting dalam kehidupan sebagai mahluk tuhan, dimana kita wajib mengikuti jejak sikap Rasululloh yaitu Tablig, menyampaikan kebaikan.

Nah kalau Rasul mah dakwah, penulis mah begini aja. Nulis sesuatu yang mengingatkan diri sendiri sekaligus tulisannya di share ke kolega via WA. Siapa tahu ada yang baca dan tergerak hatinya. “Betul khan?”

Tulisan sekarangpun tidak jauh dari makna takdir tadi. Manusia berkehendak tetapi Allah yang menentukan.

Sebenernya spoilernya sudah ada di tulisan awal yaitu KOPI & TEMAN DI TENGAH MALAM. Temanya tetap yaitu perkopian namun kali ini berhubungan dengan kehadiran mahluk tuhan yang lain yaitu binatang.

Ulangi dikit ya, di tulisan sebelumnya itu adalah pertemuan dengan kumang. Kumang atau lebih dikenal dengan umang-umang atau kelimang darat (dardanus celidrus) serta dalam bahasa inggrisnya ‘terrestrial hermit crab” adalah jenis krustasea deapod dan masih merupakan bagian familia kepiting kelapa yang cenderung hidup sendiri.

Yang menariknya adalah kumang ini bisa lepas dari cangkangnya dan bisa pake cangkang siput laut, kerang, juga potongan pohon yang berongga. Kali ini dia pake cangkang kerang atau kewuk sebagai rumahnya.

Maka menyeduh manual brew V60 kopi garut dan dengan perbekalan yang ada termasuk gelas kaca, bisa bercengkerama dengan kumang sambil mengabadikannya perlahan bergerak keluar dari cangkang kerang adalah momentum yang wajib disyukuri. Disengajain tengah malam cari kumang dan kopi manual mah susah pisan guys.

Lanjut sambil nunggu shubuh ngedit video… eh bukannya shalar tahajud yaa… gpp ketang suka-suka. Hidup itu pilihan. Jadi inget kata pak Gubernur RK kemarin, “Cintai yang kamu kerjakan dan Kerjakan yang kamu cintai”... hayu ngedit ah…  eh wudhu dulu.

***

Pertemuan kedua antara kopi dan binatang itu terjadi dikala mengabadikan sajian segelas kopi racikan sendiri berlatar belakang mentari yang malu-malu terbit di ujung cakrawala pantai timur pangandaran. Alhamdulillah, begitu indahnya sunrise ciptaan Tuhan. Warna kuning keemasan berpadu padan dengan permukaan perak laut pangandaran bersama deburan ombak yang membuat raga dan hati bergetar. Luar biasa sekali kawan.

Disitulah seekor kucing liar datang dan mendekam di dekat gelas kopi yang sedang diabadikan.. ya sudah cetrek cetrek cetrek.

Eh satu hewan lagi nggak mau ketinggalan untuk diabadikan bersama mentari yang semakin menghangat. Berarti ini hewan ketiga. Yaitu seekor ayam jago. Perlahan datang dan langsung berpose bersama kehangatan sang mentari serta secangkir kopi racikan pribadi.

Sungguh menyenangkan sruputan kopi kali ini, ditemani berbagai mahluk tuhan yang hadir tanpa direncanakan.  Di mulai dari seekor Kumang, lalu seekor kucing dan akhirnya seekor ayam jago. Sebuah sensasi menikmati kopi yang penuh arti. Selamat berkreasi dan mensyukuri hari ini. Wassalam (AKW).

TEU SANGKA – fbs

Geuning kitu buktosna.

FIKMIN # TEU SANGKA #

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Suku karasa beuki cangkeul basa anjog di basisir Cipatujah. Lain ukur capè ku raga tapi gudawangna hatè teu bisa disumput salindungkeun. Geuning kahayang jeung kanyataan ngadon pasalia.

Kamari tèh basa munggaran panggih, nyangka satujuan sakahayang. Uplek ngawangkong bari ngarahul bèntang. Ngusapan candramawat sanajan teu amit ka nini antèh. Gogonjakan nepi janari.

Ngagayuh ka subuh lain kalah tunduh, tapi beuki cènghar jagjag waringkas. Mimitina uplek ngawangkong, tuluy rungkang rongkong, tungtungna naplok jiga bangkong.

Dina mangsa mata poè mucungkul ti tungtung basisir. Kakara sakabèh carita èndah tadi peuting ukur rumpaka. Sabab dina nyatana anjeun geus codèka. Geuning lain wanoja saujratna.

Paingan dina ngusapan candramawat nepika murudul buluna. Da geuning gedè tanaga. Tuluy nyiwit kana kulit, daging ipis ngiluan. Uing ukur seuri mawur. Getih ngucur kabèh tagiwur. Tuur leuleus ibur salembur. (AKW).

GOOD MORNING

Tasyakur Pagi

Dikala mentari pagi menyambut hari, disanalah kehangatan alami melingkupi.

Pancaran sinar membuat berbinar, semua mahluk menyambut dalam suasana segar.

Setangkup syukur adalah kewajiban, maka marilah berkarya dan bekerja sebagai bagian ibadah kita. (AKW).

SELAMAT PAGI SEMUA.
SEMANGAT

KOPI PENDOPO GARUT

Dari colokan dan kopi hingga gebyar acara garut bersama para penggede dan bupati.

GARUT, akwnulis.com. Ba’da magrib suasana pendopo Bale Pamengkang mulai ramai karena menjadi tempat stop over bagi para tamu undangan. Maka diri ini berusaha menyegerakan diri untuk tiba dengan satu tujuan yang sangat penting dan menyangkut hajat hidup diri pribadi. Karena jika telat, kegalauan akan melanda termasuk membagi rasa khawatir kepada keluarga dan pihak – pihak yang berkepentingan.

Jadi penasaran, jadi ngapain duluan ke pendopo alias rumah dinas bupati?” Pertanyaan kepo kembali menghampiri.

Jawabannya singkat, “Nyari colokan listrik buat ngecharge hape hehehehe”

Ya ampuuun, gitu aja jadi strategis”

Lha memang strategis kawan, karena akan memperpanjang batere hape ini untuk terus hidup dan menemani dalam eksistensi diri. Status medsos bisa update terus, istri nggak khawatir karena whatsapss dua ceklis biru dan dijawab. Bos juga mudah kalau mau menyuruh. Periksa berkas, paraf dan tanda tangan dital bisa berjalan. Transfer urusan cuan bisa lancar hingga kesenangan menulis dan bikin video amatif untuk muncul di kanal youtube-pun tetap jalan. Jadi itu yang namanya strategis kawan, jadi lets go, cari colokan.

Sedikit basa basi dengan petugas protokoler hingga akhirnya menemukan sudut strategis tadi yang terlindungi beberapa meja bundar tempat perjamuan di teras bale pamengkang. Tidak menyia-nyiakan waktu, charger yang sudah siap di saku dikeluarkan. Coloklah dengan ikhlas, cossss.

Bapak mau kopi?” Sebuah penawaran yang begitu dinanti.

Mau atuh neng, jangan pake gula ya”
Sebuah anggukan halus dan senyum tulus terasa menyegarkan di malam ini. Alhamdulillah.

Batere hape mulai terisi, ditandai dengan indikator yang berkedip manja. Lalu dihadapan kembali hadir eneng tadi membawa secangkir kopi asli dan lalawuhnya (teman ngopi) berupa sepiring rebusan campur. Ada jagung, kacang tanah, pisang dan ubi rebus, maknyuuuus.

Makasih neng” Betapa senangnya karena nggak nyangka tanpa disengaja kembali bersua dengan secangkir kohitala, asli lagi kopinya, kopi garut dan tempatnya juga spesial, rumah dinas bupati garut.

Sruputan perdana terasa penuh makna, bodi lembut dan acidity medium high menyapa langit mulut dengan after taste citrun serta dark coklat. Ada selarik manis yang segera menghilang. Tapi over all, sajian kopinya enak pisan.

Kejutan hadirnya kopi ternyata baru kejutan awal, karena beberapa saat kemudian muncul seseorang dan menghampiri sambil menyapa. Ternyata yang punya rumah, Bapak Rudi Gunawan Bupati Garut.

Beliau dengan santainya duduk di area meja bundar dan mulai ngobrol tentang berbagai hal. Diriku agak rikuh karena diberi kehormatan bisa ngobrol langsung dengan bapak bupati sebelum acara resmi dimulai.

Kejutan selanjutnya adalah hadirnya para pejabat lainnya. Mulai dari Danrem 062 Tarumanegara, Dandim garut, Kapolres Garut, Wakil bupati garut, Pimpinan DPRD, pejabat dari Kemenparekraf, Sekda Garut dan beberapa kepala dinas.plus bos aku yang datang juga setelah giat di Pangandaran. Semuanya ngariung berkumpul dan mengitari daku yang lagi diam ngecharge hape. Hehehehe…. akhirnya berusaha gabung dengan pembicaraan para pejabat ini, Bismillah.

Sebuah momentum ngopi yang luar biasa. Diawali dari mencari tempat colokan listrik, lalu disuguhin kopi asli, disapa dan ditemani bapak Bupati hingga akhirnya menjadi tempat kongkow para petinggi garut. Sebelum semua bersiap menuju alun-alun garut dalam rangka Gebyar Pesona Budaya Garut 2022.

Percaya khan, klo datang duluan dan cari colokan listrik itu langkah strategis hehehehe”

Wassalam (AKW).

KOPI & TEMAN DI TENGAH MALAM.

Tengah malam dan bikin cènghar.

BULAK LAUT, akwnulis.com. Mata hampir terpejam dikala suara lembut mengganggu pendengaran.

Trek’

Langsung reflek terbangun dan menuju sumber suara di dekat pintu masuk. Tidak ditemukan apa-apa. Jam di smartphone pukul 23.32 wib. “Ah ganggu aja, baru mau terlelap” gerutu mulut tanpa suara. Segera beringsut ke tempat tidur dan mencoba melelapkan diri. Karena raga ini perlu istirahat setelah seharian hingga malam berkeliling dan diskusi atas nama tugas negara.

Trek

Kembali suara lembut seperti batu kecil mengetuk lantai marmer terdengar keras di malam inj. Jadi segar bin cenghar, padahal baru satu jam saja terlelap ditemani keheningan malam.

Jadi penasaran, pelan – pelan bergerak. Siapa tahu memang ada sesuatu yang ‘menemani‘ di kamar hotel saat ini. Nafas ditahan dan dikeluarkan pelan, suasana hening dan sesaat kelengangan menguasai suasana.

Tiba-tiba, ‘Trek‘ ada lagi suara itu dan di belakang sofa. Wah kayaknya harus mengendap-endap untuk menemukannya. Perlahan kaki kanan turun diikuti kaki kiri. Lalu badan dan kepala serta lengan perlahan meraih sofa dan melihat ada apa di belakangnya.

Jreng!!

Lantai belakang sofa tidak ada apa-apa, tetapi ada satu benda yang menarik perhatian. Satu kulit kerang teronggok di lantai.

Sesaat terdiam, dan berfikir keras. Penasaran kulit kerang di lantai dilihat lagi. Tapi tetap terdiam. Duh jangan jangan…

Tapi otak rasional ini memberitahukan bahwa harus tetap tenang meskipun malam tetap serasa mencekam.

Trek

Eh suara itu ada lagi, dan tetap berasal dari belakang sofa. Bergerak perlahan mengintai dan kembali mengendap… hap tertangkap basah. Ternyata kerang tadi berpindah tempat. Berarti ada isinya.

Langsung dipungut dan pas dibalik, ada jari jemari lembut berwarna kemerahan. Binatang kecil lucu kumang sembunyi dibalik kulit kerang. Ternyata ini yang sejak tadi menghasilkan suara ‘Trek Trek Trek’ tadi adalah pada saat kumang ini sembunyi dan kulit kerang menyentuh lantai.

Tapi, ngantukku telah hilang tergantikan kesegaran akibat mengintai kumang yang mungkin juga kesepian dalam kesendirian. Akhirnya diputuskan untuk menyeduh kopi dengan manual brew V60 yang sengaja membekali diri dengan peralatan sederhana langsung dari bandung.

Kumang diangkat dan dibiarkan bermain bergerak di lantai sambil sesekali dilihat. Lalu prosesi kopi terjadi hingga akhirnya tuntas menjadi sajian  harum khas arabica papandayan wine… segeeer.

Maka dini hari ini diisi dengan keharuman dan kesegaran ditemani kawan kecil yang imut dan menggemaskan. Tidak lupa diabadikan dengan sebutan KOPI KUMANG.

.

Srupuuut, Alhamdulillah. Setelah itu kembali bisa terlelap dan kumangpun beristirahat. Besok pagi akan dibawa kembali ke pantai dimana selayaknya tempat sebenarnya.

Trek

Ada suara lagi di kamar mandi, tapi raga ini sudah terlelap bersama mimpi bercengkerama bersama kumang di pantai timur di bawah jembatan merah. Wassalam (AKW).

***

WFA tapi PUSING.

Kerja Kerja Kerja… jalan.

CIMAUNG, akwnulis.com. Perjalanan Bandung – Pangandaran ditempuh dalam waktu 6 jam jikalau nonstop. Tapi ditambah berhenti sejenak untuk makan siang dan shalat maka ditotalkan menjadi 7 jam. Waktu yang lumayan panjang, tetapi menjadi efektif manakala memanfaatkan teknologi yang terus berkembang. Memang beberapa titik dukungan sinyal internet sesaat menghilang, tetapi mayoritas sinyal internet cukup stabil dengan menggunakan dua provider yaitu Halo telkomsel dan XL Axiata.

Konsep Work From Anywhere (WFA) bisa dijalankan nyaris sempurna. Satu agenda rapat terkait perkembangan TTE (tanda tangan elektronik) yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informasi bisa diikuti. Begitupun Sosialisasi tentang Lingkungan Hiduppun bisa bergabung. Tentu keduanya menggunakan aplikasi video conference yaitu zoom yang menjadi akrab untuk kita semua selain skype, google meet, microsoft teams, slack, gotomeeting, facetime, whatsapp video call, cisco webex dan jitsi.

Maka di dalam mobil interaksi terjadi, tablet samsung dengan kesibukan zoomnya. Smartphone digunakan untuk koordinasi intens dalan rangka pembahasan pagu indikatif 2023. Sementara laptop on fire di aplikasi sidebar untuk membaca berbagai surat keluar serta membubuhkan paraf dan tanda tangan secara elektronik plus membaca disposisi pimpinan dan menindaklanjutinya secara online. Jikalau harus diakselerasi maka smartphone beraksi untuk kontak langsung agar tugas segera tuntas.

Meskipun terkadang muncul rasa mual karena mobil meliuk kanan kiri demi memenuhi hasrat jalan yang berkelok-kelok tak selamanya lurus. Juga sedikit pusing karena mata menjadi bingung dikala harus membaca naskah surat di laptop sementara pemandangan luar mobil begitu dinamis.

Maka pejamkan mata sejenak dan tarik nafas dalam – dalam. Lepaskan pelan – pelan sambil konsentrasi ke satu titik. Insyaalloh rasa pusing dan mual akan berkurang. Kecuali jikalau jalannya memang turun naik penuh kelokan dan patahan. Lebih baik tutup laptop dan nikmati perjalanan sambil tak lupa pegangan. Sehingga guncangan yang terjadi tidak membuat kesulitan. Kalau Bandung ke pangandaran via jalan raya ciamis banjar relatif agak aman dari kemualan dan kepuyengan karena jalannya lebar meskipun berkelok. Tapi manakala pulang dari pangandaran via jalur selatan sampai rancabuaya. Bersiaplah jalur Rancabuaya – Talegong – Cisewu dengan sensasi naik turun kelak kelok dan patah mendadak… cusss. Aduh ternyata terasa…

Ada sensasi mual yang mulai hadir ditemani selarik pusing menghinggapi raga ini, sementara ternyata paraf dan tanda tangan elektronik harus segera, atau harus baca berkas penting ditunggu bingit. Ya sudah menepilah. Cari rumah makan terdekat dan cek sinyal internetnya sehingga bisa tethering dengan smartphone. Berhentilah dan bekerja dengan laptop kesayangan.

Jadi dimanapun berada, tugas dan pekerjaan seperti meeting atau notifikasi dan tanda tangan berkas bisa dilakukan. Tapi ingat kalau terasa pusing dan mual, rehatlah sejenak kawan. Selamat pagi dan selamat beraktifitas. Wassalam (AKW).