SURABI – fbs

Surabi heula atuuuh….

FIKMIN # SURABI #

Surabi geulis ngèntèp dina piring, ngantosan diraosan. Aya nu dioncoman, aya ogè ditambih sarundèng, èta geuning parudan kalapa nu digorèng garing, raos pisan. Aya ogè surabi endog hayam, ngagabung oncom sarundèng, janten munu’u sagala aya.

Mana aya surabi polosna?

Tatag diwaler, “Teu aya mang, nu polos tèh janten barang antik, rata-rata parantos gaduh kapentingan

Nu naros imut sanaos manahna jamedud, asa teu nyambung tapi leres.

Surabi dina piring kantun dongèngna, margi teu kedah ètangan jam-jaman, cekap ku 30 menit, korèdas kantun piringna. Raos kantun dilebetkeun kana baham sèwang-sèwangan tur haratis, benten pisan waktos ngagaleuhna. Ti ngawitan masker, sarung panangan, teu hilap nyandak hand sanitizer ogè sabun cair mènèl.

Ka tukang dagangna pesen heula kana whatsapss, saparantos di waler nembè nyandak. Dugi ka tempat icalan teu wantun caket, nampi bungkusan surabi nganggo sarung tangan tur mayarna ngalangkungan transfer atanapi ovo tur gopay.

Surabi kiwari tos teu polos deui.(AKW).

****

Sebuah tulisan singkat berbahasa sunda yang dikenal dengan fbs (fiksimini basa sunda).

Bercerita tentang makanan asli priangan yang rasanya nikmat luar biasa, mengenyangkan dan meng-enak-kan. Hatur nuhun.

-Tayang di FB/fiksiminisunda 290320-

Hikmah Stay at home.

Tulislah, cobalah dan ….. nikmati.

CIMAHI, akwnulis.com. Suasana kegelisahan terasa semakin mencengkeram, dan yang pertama diserang adalah mental. Yup mental bro… dibombardir aneka pemberitaan yang hadir begitu masip.. (dibaca : masif), apalagi di medsos, kayaknya semua pihak menjadi ahlinya.

Stop!!!!

Alihkan semua aktifitas membaca informasi, menonton informasi atau menguping informasi apalagi men-share forward informasi kepada orang lain atau grup WA lain atau medsos kitaaaa…..

Biarkan mental kita kembali disehatkan, dicerahkan dan bisa meraih kembali kesadaran bahwa perjalanan kehidupan ini harus kita maknai dengan ketenangan, kebahagiaan dan tentu keriangan.

Boleh baca informasi, sesekali saja dan itupun yang bisa dipercaya.

Cobalah… mulai sekarang. Insyaalloh rasa khawatir kita tentang hari-hari ke depan akan berkurang. Alihkan energi diri untuk berkumpul bermain bersama dengan keluarga, memasak bersama, bersih-bersih rumah barengan atau…. bermalas-malas bersama. Bisa berkemul di kasur, nonton bareng di ruang tengah, berjemur bersama sambil ngopi, juga senam ringan sambil nonton instruktur di saluran yutub…. dan banyak lagi…. usahakan tidak keluar rumah, tidak keluar rumah….. please.

Bosan ah!!!…..

Pasti, manusiawi…. disinilah sebuah alarm kendali diri berbunyi. Mari berkorban di levelnya masing-masing dalam suasana pandemi ini, dan paling mudah adalah ikutan anjuran pemerintah untuk diam di rumah, ini level kesadaran yang menjadi dasar penentu watak serta kehidupan.

Level selanjutnya bervariasi, bagaimana memikirkan saudara-saudari kita yang menjadi menderita karena perintah diam di rumah saja, apa langkah konkritnya?… ini banyak ragam aktifitasnya, apalagi di era serba online ini, lalu lintas kepedulian bisa bergerak lebih cepat.

Bisa dengan order makanan via online, bayar pake aplikasi ovo, gopay dll tapi diberikan saja kepada ojolnya atau membantu saudara-saudari yang kesulitan karena tidak punya pekerjaan tetap dan butuh untuk makan sehari-hari. Ada juga aktifitas memberikan santunan kepada keluarga yang terdampak langsung oleh pandemo covid19 ini… Serta banyak hal lagi….

Kembali ke pribadi…. diriku juga berusaha me-manage kegalauan ini dengan memanfaatkan waktu untuk bersama-sama keluarga serta menguntaikan jalinan kalimat dari butiran kata yang terserak menjadi kumpulan cerita yang mungkin akan memiliki makna.

Termasuk lebih intens menyusun kata membuat kalimat sehingga hasilkan bacaan ringan yang nggak bakal jadi beban yang bacanya…. tapi (mungkin) bisa ngasih sedikit informasi. Ditambah mulai kotrat kotret bikin video pendek… yaa masih amburadul hasilnya, tapi lumayan bisa ngikutin anak jaman now bikin konten di channel yutub.

Jangan takut menggoda… eh mencoba… coba dulu aja bikin satu kotretan tulisan atau konten video di channel yutub atau IGTV… yang sederhana aja dulu.

Untuk tulisan di blog, sudah ada beberapa tulisan. Yang dibuat di minggu ini ada tentang kopi arabica buntis village aromatic fruit, kopi arabica sunda gulali, video di cannel yutub tentang fasilitas kesehatan di gedung sate juga penyemprotan disinfektan di lingkungan rukun warga dimana diriku tinggal.

Minggu lalu beberapa tulisan di blog ini tentang FWA dan WFH, seperti kopi lobster dan …. Eh sebenernya ada satu lagi, edit video di laman powtoon, cuman nggak bisa disave karena gratisan… ya udah direkam aja pake hape… ntar yaa aku ulas khusus.

Selamat menjalani dan mensyukuri berkah kesempatan menjalani kehidupan ini. Happy wiken guys, Wassalam (AKW).

Kopi Arabica Soenda Gulali.

Jangan hanya lihat hasilnya, tapi nikmati juga prosesnya.

Photo : Sajian manual brew kopi Arabica Soenda Gulali / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Malam hampir larut dengan sepi dikala kesempatan menulis dan membuat dokumentasi photo tentang kamu hadir melingkupi hari.

Ya… waktu menunjukan jam 23.30 wib pada saat pengambilan gambarmu, sebungkus kopi berwarna putih lengkap dengan bejana server dan segelas kaca kecil berisi kopi hitam tanpa gula hasil manual brew v60 yang memandang penuh asa.

Kok tengah malem mas?

Sebuah tanya yang tak sempat dijawab, karena memang inilah kesempatan waktunya dikala semua sudah terlelap.

Sajian gambar diawal-awal tulisan kali ini adalah hasil jepretan kamera hape yang sudah di cut sesuai kebutuhan tanpa filter apapun, aslinya kamera hape.

Sementara sajian photo setelah paragraf ini adalah behind the scene-nya, dimana layar putih yang begitu rapih adalah lembaran belakang kalender yang awalnya tertempel di dinding. Lalu ditahan dengan laptop yang memang tidak terlihat, selanjutnya dikeceng eh dibidik aja dengan kamera hape agar mendapatkan gambar meskipun dengan segala keterbatasan.

Photo : Behind the scene / dokpri.

Makna nilai yang didapat adalah tidak semua yang terlihat begitu baik dan rapih baik dari mata secara langsung atau di media sosial itu adalah kondisi ideal, ada banyak hal lain yang sebenarnya mendukung hasil tersebut. Cara terbaik adalah tetap bersyukur atas apapun yang Allah anugerahkan kepada kita.

“Eh kopinya gimana?”

Ahay hampir lupa, terlena dengan menyusun jalinan kata sehingga kopi tersaji dibiarkan begitu saja…. srupuuut ah.

Hmmm…. sebuah rasa kopi yang lembut dan acidity serta body sedang langsung menjalari rongga mulut dan seluruh lidah, ada rasa teh, gula merah dan sepet seperti rasa apel sebagai aftertastenya. Sehingga 450ml air panas yang bergaul eh berseduhan dengan bean ‘Arabica Soenda Gulali’ buatan Suka Sangrai ini bisa dinikmati lebih cepat, langsung surut eh … nyaris habis padahal hampir setengah liter buat kopi teh…. ternyata sang waktu bersama malam telah bergerak tak terbendung… dan terus beranjak beranjak menapaki dini hari.

Selamat menjalani hari-hari, mari isi dengan aktifitas yang berarti dan meninggalkan jejak nilai hakiki, juga tidak lupa sambil menandaskan sajian kopi yang sudah dibuat dari tadi. Wassalam (AKW).

Kopi Lobster – wfh.

Pasangan langka yang tak biasa, tapi rasanya…. luarr biasaa..

CIMAHI, akwnulis.com. Pertemuan mereka tidak disengaja, tetapi sebuah takdir sudah dituliskan. Sebuah pertemuan penting yang jarang terjadi, karena masing-masing tidak bisa ditemui setiap hari.

Pihak pertama adalah sang lobster yang bercangkang keras penuh dengan duri serta capit panjang plus tatapan garang, padahal menyimpan sebongkah daging yang enak mantabs dibalik kekerasan cangkang dan sikap. Belum lagi jika dilihat dari jarak, mereka hidup di sekitar samudera hindia tepatnya di sekitar pantai selatan tasikmalaya.

Pihak kedua tentunya sebuah biji/bean kopi yang hadir setelah melalui proses panjang dari mulai dipanen sebagai cherry di kebunnya di gunung manglayang, hingga berproses dalam penyimpanan lalu melewati proses roasting yang berstandar hingga dikemas dan akhirnya berganti tangan hingga tiba disini, bersiap menghibahkan diri untuk dihancurkan oleh grinder demi memberikan sebuah sensasi rasa yang penuh pesona.

Maka sebuah penghormatan dari pertemuan langka ini, jepretan kamera hape dan publikasi di blog serta publikasi di facebook, twitter dan status WA menjadi penting, karena momen ini jarang terjadi sekaligus menjadi acara tersendiri sambil mengisi kegiatan ‘work from home‘… eh nggak ketang, hari ini khan tanggal merah, jadi nggak kerja tetapi tetap #dirumahaja.

Kenapa photo lobsternya cuman satu kakak?”

Ah pertanyaan singkat yang bikin terhenyak, ya memang cuman satu lobsternya karena kalau banyak mah ikan teri hehehehe….. kebetulan model photonya menggunakan pola keterwakilan. Pada saat yang lainnya masih dibersihkan, nah ini satu lobster belah tengah yang di photo bareng.

Bagi donk”…. ini pasti next questionnya, tapi dengan segala permohonan maaf, sementara baru bisa berbagi gambar dan tulisan serta sedikit bahan khayalan bagi yang melihatnya.

Photo : Kopi & lobster di halaman belakang / dokpri.

Cara menikmatinya gimana?”

Aduuh inih mah gampang banget atuh say, kopinya tinggal langsung disruput dan…. lobsternya dipasak dengan bumbu saos tiram, asam manis, saus padang atau…. supaya awet…. dipandangin saja terus hingga puasss hehehehehe.

Jangan sekali-kali setelah sruput kopi trus lobsternya langsung dikunyah…. udah mah amis hanyir juga rungseb… bisa berakibat fatal sehingga menimbulkan luka di bibir, mulut dan juga perasaan.

Gitu dulu ya cerita kopi lobsternya, selamat menikmati hari bersama keluarga tercinta dan tetap #dirumahaja. Wassalam (AKW).

WFH Ngantor di rumah.

Working from home dulu…

Photo : Aku & WFH / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Dalam rangka mendukung program pencegahan penyebaran virus Covid-19, maka pilihan WFH adalah sebuah tindakan tepat yang harus dilakukan.

Work from Home satu minggu terakhir telah dilakukan dengan pola giliran yang temanya FWA (Flexible Working Arrangement) dan mulai hari senin ini bener-bener WFH diterapkan.

Hari pertama bekerja di rumah berbuah hikmah, selain mendukung program pencegahan pandemi juga semua level ‘dipaksa‘ melek teknologi melalui aplikasi teleconference untuk mengkordinasikan banyak hal yang terkait pekerjaan.

Baik level bos, setengah bos, yang ngerasa bos juga yang disuruh-suruh sama bos dan setengah bos, musti bin wajib ngedownload aplikasinya. Pahibut eh repotlah semuaa…..

Disinilah mental suasana perubahan berlaku, ada yang segera menyesuaikan dengan tangkas, ada yang semangat berubah meskipun sedikit gagap tapi mau bertanya dan ada yang bertahan dengan status quo, meskipun akhirnya mengikuti dengan setengah hati.

Tapi itulah konsekuensi sebuah penyesuaian, tidak perlu banyak keluhan. Jalani dan ikuti…. Yuk dukung program pemerintah sekaligus jadi mahir berteleconference sambil berkumpul bersama keluarga tetapi tetap bekerja, “Kenapa tidak?”

Jikalau masih gagap, jangan malu bertanya. Jika masih bingung, yaa kasihin (sementara) aja hpmu ke teman atau anak buah yang paham, tolong downloadin, instalin sekaligus sign-inin… pokoknya tinggal pake aja.

“Gampang khan?…”

Rapim perdana berjalan meskipun masih banyak kekurangan, tetapi nilai pentingnya adalah ketaatan. Taat kepada anjuran untuk di rumah saja, taat juga untuk tetap bekerja sekaligus taat juga untuk memasang aplikasi teleconference di hp masing-masing juga di beberapa laptop.

Aplikasi yang di gunakan adalah zoom cloud meeting, dengan otodidak dan coba-coba, akhirnya rapat virtual bisa terlaksana, meskipun harus jeda hingga 3x karena masih zoom basic yang gratisan, dibatasi 40 menit meeting dan akan tiba-tiba mati sendiri…. hikmahnya… lumayan bisa jeda teleconference, tarik nafas, minum dulu atau siapa tahu pengen ke toilet.

Rekan sekantor mengatakan bisa juga dengan aplikasi google meet,….. insyaalloh dicoba dan dipelajari secepatnya sebagai alternatif……

Yuk tetap semangat bekerja, meskipun berada di rumah masing-masing. Semoga wabah pandemi Covid19 ini segera berlalu, dan kehidupan kembali normal. Wassalam (AKW).

Bikin Detox Margarita.

Mencoba buat sendiri, Detox Margarita…. hasilnya…

Photo : Detox Margarita-ku / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Setelah mereview minuman sehat ‘detox margarita, hadir seuntai janji untuk mencoba membuat sendiri, tentu dengan resep ala-ala. Ditambah beberapa request dari pembaca setia blog ini yang penasaran gimana cara buatnya, maka… mari kita coba.

Kembali ke beberapa hari lalu, pas pertama kali menikmati ‘detox margarita’ala Greenandbeans yang menyegarkan dilanjutkan dengan membongkar sisa-sisa minuman….. yang hadir di hadapan mata adalah potongan batang sereh, daun sirih yang diremukkan, potongan jeruk lemon dan es batu yang sudah hampir hilang karena berubah menjadi cairan.

Nggak banyak cingcong, pada kesempatan pertama ke supermarket, tentu dengan full masker, handsanitizer dan jaga jarak dengan semua orang maka beberapa bahan tersebut bisa dibeli sebagai persiapan membuat minuman segar ini di rumah.

pendek cerita… sang waktu bergulir…

Sekarang sudah siap dengan semua bahan yang ada, tapi eits…. ada yang salah… yang dibeli bukan daun sirih ternyata… tapi daun salam… wkwkwkwk dasar bapak-bapak, ini mau bikin sayur kali yeee?…

Tapi bingungnya tidak lama sebagai pengganti daun sirih hijau, karena di halaman belakang ada tanaman sirih meskipun sirih hitam. “Yang penting daun sirih, ya khaaaan?”

Setelah semua siap, resepnya eh caranya adalah :

1 lembar daun sirih hitam
1 buah batang sereh/serai
2 potongan jeruk lemon
1 sendok teh madu dan 400-500 ml air panas

Pertama, bersihkan semua bahan dan cuci dengan bersih.
Kedua, batang serai dipotong 3 bagian dan digeprek agak remuk.
Ketiga, daun sirih diremas agar sedikit hancur.
Keempat, masukan ke dalam gelas atau botol atau poci satu persatu.
Kelima, siram dengan air panas sekitar 400-500 ml

Biarkan 15 – 20 menit, dan setelah itu siap dinikmati.

Panas dan hangat dong?”

Aku sih senengnya yang hangat-hangat panas, meskipun aslinya pake es batu, jangan salah kawan, dengan kehangatan ini lebih nikmat lho.

Yaa klo moo ikutan aslinya, tinggal ditambah es batu aja, gampang toh.

Lagian ini adalah eksperimenku juga, seperti ditambah madu untuk pemanis, itu dikira-kira aja. Bisa lebih banyak tergantung selera. Tapi aku sih sedikit aja madunya karena memang udah maniees dari sonohnyah… ahaay.

Aku sih pake botol plastik bekas minuman yang berukuran 500ml, lalu diminumnya dituangkan ke gelas kecil… sruputt.. nikmat.

Alhamdulillahirobbil Alamin, rasanya pas, mirip dengan yang dipesan kemarin. Daun sirihnya tidak pahit pahang, malah segar dan sedikit menjadi nyereng rasa mint ditambah sedikit rasa manis dari madu dan segar hangaaat pokoknya mah…

Berhasil…. berhasilll… berhasill..

Srupuut…..

Malah dicoba seduh lagi untuk kedua kalinya dengan 400ml air panas dari dispenser, tetep muncul rasa segar bahan-bahan alami tersebut.

Begitu deh, pembuatan ‘detox margarita’ ala akwnulis.com, selamat mencoba. Wassalam (AKW).

Coffee Buntis Village Aromatic Fruits.

No WFH but always Ishomapay…

Photo : Kursi direnggangkan dulu / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Perkembangan pandemi Covid19 diantisipasi dengan berbagai tindakan termasuk pengaturan kerja bergiliran di rumah atau work from home (WFH), maka 2 hari kebelakang sudah mulai dilaksanakan dengan dasar surat edaran dari para bos-bos.

Tapi karena tidak berlaku bagi diriku, ya sudah protokol kesehatan waspada covid19 harus dijalankan dalam berbagai keadaan, terutama pas masuk kantor, menerima tamu dan pulang ke rumah.

Pagi ini… eh pagi kemarin lalu, cuman baru sempet nulis hari ini karena pabeulit (sibuk) dengan mempelajari aplikasi untuk teleconference sekaligus dalam waktu yang sama musti mengedukasi mitra-mitra kerja yang tersebar di seantero jabar banten.

Tindakannya sebenernya sederhana, memisahkan kursi baik kursi tamu di ruang kerja ataupun kursi tamu diluar ruang kerja serta menempelkan peringatan ‘please jaga jarak’ yang merupakan prinsip SOCIAL DISTANCE di kursi agar tidak diduduki.

Lalu menyemprotkan disinfektan buatan, mengelapnya (ini mah dibantuin OB) dan terakhir tentu memotretnya untuk dokumentasi.

Setelah semua tuntas, maka kembali ke meja kerja dan berkutat dengan surat, berkas, surat, berkas dan surat serta berkas hehehehehehe… yang harus diselesaikan.. ditambah koordinasi via WAcall dan Vicall bersama beberapa mitra…. hingga tak terasa adzan shubuh…. ehh adzan dhuhur berkumandang.

Alhamdulillah…. saatnya ishoma, istirahat – sholat – makan.

Photo : Persiapan Ishomapay / dokpri.

Selain ishoma juga ishomapay, istirahat, sholat, makan dan tidak lupa ngopay alis manual brew kopi bean yang sudah sedari minggu lalu nongkrong dan nemenin diri ini, menanti saatnya menari dalam proses ekstraksi yang akan menghadirkan rasa alami penuh misteri.

Kali ini, kiriman dari Mas Didit – antapani yang diutus langsung bu Dini Cirebon, ternyata mereka kawan lama. Beberapa pilihan bean yang dikemas apik serta berbeda dengan keterangan di bungkusnya yang cukup lengkap, menambah kepenasaran rasa yang ada.

Pertama tentu dialak ilik eh dilihat bolak balik dulu kemasannya baru perlahan tapi pasti dibuka….. hmmmm harum aroma kopinya nya luar biasaa…. ada harum buah-buahan dan…. tembakau yang menyengat, “Ini teh kopi apa rokok?”

Makin penasaran ih, langsung peralatan perang digelar. Filter V60, corongnya, termometer, air panas langsung dididihkan dan tidak lupa bean yang begitu harum ini di grinder dengan ukuran 3 supaya menghadiran butiran sedikit kasar yang cocok untuk filter V60.

Hmmm…. prosesi yang penuh arti dan semerbak harum aromaterapi kopi mulai melingkupi diri, indera penciuman menajam dan menambah rasa bahagia…. currrr…..

Belum disruput aja udah nikmat… Alhamdulilah.

Setelah prosesi tuntas dengan 400ml air bersuhu 90° celcius, maka hadirlah kopi hitam tanpa gula (kohitala), srupuut….. hmmmmm… woaaaah rasanya begitu kaya, eh kok ada rasa tembakau?…. atau winey ya?… enak euy.

Photo : Sajian Coffee Buntis VAF / dokpri.

Bodynya strong dan aciditynya juga high…. bikin terbelalak sesaat dan dilanjutkan hingga bèak (habis)…. nikmat nyaaa….. after tastenya banyak sesuai note di bungkusnya, tapi memang sulit disebutkan dengan kata-kata… sruput dulu aaaah.

Eits jam ishomapay-nya sudah hampir habis, mari bersiap kembali ke dunia nyata, bekerja dengan protokol pencegahan pandemi covid19. Jangan lupa cuci tangan sebelum makan dan tentu berdoa untuk keselamatan serta keberkaham dari rejeki makanan dan kopay yang tersaji.

Itulah sejumput cerita kali ini, selamat berkarya dan tetap waspada. Wassalam (AKW).

***

Catatan :
Ini tertulis di bungkusnya,
Buntis Village Aromatic Fruits
Single Origin
Koperasi Tani Buntis
Proses anaerobic Natural
Altitude 1400-1500Mdpk
Roaster Suka Sangrai
Varietal (s) Typica, Lini s 795
Flavor Notes : Jackfruit, Jasmint tea, dark plum, winey, ripe manggo.