Makna PERPISAHAN.

Kebutuhan dan Kebersamaan ternyata begitu singkat.

CILANDAK, akwnulis.com. Pertemuan yang tidak disengaja menghadirkan sejumput rasa. Karena kesan pertama begitu melekat di dada. Pada saat sebuah kebutuhan hadir mendesak maka keberadaanmu menjadi begitu penting dan dinantikan.

Diawali dari sebuah kepentingan maka mengkristal menjadi kebutuhan, sementara ketidakhadiranmu membuat sedikit galau. Karena biasanya tidak pernah tertinggal, kali ini ternyata tidak ada ditempat biasanya.

Padahal betapa hadirmu menjadi penentu, memberikan sentuhan hakiki agar penampilan tetap terjaga dan rapi.

Akhirnya dengan modal pertukaran suara di media telepon kabel, datanglah dirimu dan terasa dunia lebih indah. Apalagi melihat bahan dasarnya yang begitu alami, melengkapi rasa senang dan tenang untuk tampil malam ini.

Hingga pagi dirimu menemani dan tak lupa terus berada di saku kiri agar menjaga setiap langkah kaki dan gerakan raga mengarungi detik demi detik takdir kehidupan yang harus dijalani.

Tetapi kebersamaan yang indah ini tidak berlangsung lama. Sebuah perpisahan hadir dengan tiba – tiba. Membuyarkan harap dan menyesakkan rasa di dada.

Betapa tidak, kebersamaan 1 x 24 jam lebih dikit bersamamu harus berakhir hanya ditandai suara ‘krek’, pada saat paha kiri depan beradu dengan ujung tiang yang tak terlihat menghadang di depan karena mata sedang memandang pemandangan indah di sebrang jalan.

Terbelah dua dan terdiam dalam kebisuan kata. Tuntas sudah tugasmu menjaga penampilanku. Sebagai penghormatan terakhir sebelum akhirnya kita harus berpisah, maka meskipun telah patah tetapi dokumentasi abadi dengan bersanding bersama sajian kopi menjadi kenangan tersendiri.

Selamat jalan sisir kayuku.

Pertemuan kita singkat tetapi memberikan sejuta ingat. Bahwa dibalik jumpa tersimpan potensi duka, dan dibalik kepergian ada hikmah tentang kebersamaan. Wassalam, Have a nice weekend kawan. (AKW).

Kopi Burangrang Kertawangi

Biarpun didera kemacetan, tapi akhirnya bisa berdamai dengan sruputan.

CIMAHI, akwnulis.com. Ternyata beredar di hari minggu di kota menguras emosi dan tenaga. Apalagi beberapa jalur ternyata padat merayap tanpa bisa menghindar atau berbelok melewati jalan tikus. Karena ternyata jalan tikus… atau jalan alternatifpun ternyata dipenuhi mobil – mobil plat luar kota yang beredar di Kota Bandung ini.

Istilah jalan tikus menjadi sebuah sebutan populer untuk menyebut jalan alternatif dalam rangka menghindari kemacetan. Jangan khawatir dengan sebutan binatang pengerat ini, karena jalannya pasti bisa dilewati mobil meskipun tentu lebih kecil dari jalur jalan utama.

Maka aplikasi waze dan gugel map ternyata menjadi perangkat wajib untuk menuntun kita dengan mata langitnya agar terhindar dari rasa kesel dan kecewa karena terjebak atau tersendat dalam pusaran kemacetan yang melanda berbagai titik sepanjang perjalanan.

Sementara si tikus berbangga hati, karena jikalau kemacetan menguasai jalan utama maka si tikus akan sering disebut. Coba saja bilangnya jalan anjing atau jalan kucing, pasti yang diajak ngobrol akan bingung. Padahal anjing dan kucing lebih besar dari tikus… atau jangan – jangan sekarang tikus sudah berubah jauh lebih besar, entahlah.

Nah kepenatan dan kepegalan menembus kemacetan biasanya diobati dengan sebuah pemberhentian yang menyajikan harum segarnya sajian kopi hitam tanpa gula dan tentunya kopi asli yang di giling mendadak, proses seduh manual dan akhirnya tersaji penuh kenikmatan.

Apa mau dikata, harapan tinggal harapan. Sementara kemacetan tak mau kompromi dengan keinginan. Akhirnya diputuskan minggir ke kiri dan berhenti di warung kecil demi menjemput si hitam nikmat yang mendamaikan.

Alhamdulilah, tersaji secangkir kopi biasa yang tak tahu asal mulanya. Secangkir kopi hitam dengan lingkaran busa hasil kudekan telah datang menemani kepenatan. Feeling sih kopi gunting, tapi ya sudah mari kita coba.

Bismillah, sruputt….. hmmm… kopi biasa. Flat tanpa rasa acidity berbeda, hanya kepahitan singkat belaka yang melintas minim makna. Ya minimal ada kepahitan yang sedikit mendamaikan daripada termangu dalam kungkungan kemacetan yang nyata.

Tuntas menghabiskannya, lalu membayar dan pamitan ke teteh warung. Perjalanan dilanjutkan dengan sebuah harapan besar bisa berjumpa selanjutnya dengan kopi sebenarnya…. heuheuheu lebay, maksudnya kopi yang proses manual terutama V60 yang menjadi kesukaan.

Perjalanan berlanjut dan tugas segera dituntaskan meskipun harus menembus kemacetan dan ditemani gerimis hujan.

Akhirnya setelah balik kanan dan kembali menuju kediaman, saatnya hunting kedai kopi yang bisa menyajikan kohitala sesuai selera tanpa perlu basa basi dan banyak bertanya sebelum akhirnya sampai di rumah untuk kembali berkumpul bersama keluarga.

Gayung bersambut, sebuah cafe kecil dengan posisi agak menjorok ke dalam jikalau dijangkau dari jalan utama seolah menunggu untuk didatangi dan disapa.

Ternyata tersaji kohitala dengan beberapa pilihan bean yang menggugah selera. Tetapi kembali bahwa kopi jabar adalah kebanggaan, pilihannya adalah kopi arabica burangrang kertawangi dengan proses natural…. yummmy, akhirnya jumpa kohitala yang sesuai dengan harapan sang pemuja.

Aroma harum menyapa hidung saat bean digiling menjadi serpihan atau butiran kasar dan semakin tak sabar untuk menikmatinya.

***

Setelah proses manual brew tuntas, hadirlah secangkir kopi hitam tanpa gula dengan metode V60 yang menggugah selera sekaligus menghilangkan penat dan pegal berganti optimisme penuh kenikmatan.

Acidity dan body medium lite menemani sore menjelang malam kali ini, panasnya cukup dengan kisaran 92° derajat celcius dikala proses penyeduhan. After tastenya frutty hadir selarik lalu berpadu dengan tamarind dan citrun, cukup menyegarkan.

Srupuut… ahhh… segaar.

Meskipun gerimis melebat masih menguntit tanpa ampun, tapi suasana hati lebih tentram karena terobati oleh secangkir kopi hitam yang menenangkan. Menemani akhir weekend minggu ini untuk bersiap kembali dengan bejibun tugas di senin pagi. Wassalam (AKW).

CIRAMBAY – fbs

Hadir dari kejadian sehari-hari, sebuah dilèma..

Bandung, akwnulis.com. Sebuah saat berbuah sempat, secuil waktu menjadi penentu. Di kala ide hadir menghampiri, tak ada cara lain selain menuliskan dan menghadirkan di sidang pembaca.

Kali ini kembali tulisan singkat reka (fiksi) berbahasa sunda memenuhi ruang lihat kita semua.

Haturan…

***

FIKMIN # CIRAMBAY #

Awak pasiksak uteuk butek, bèak dèngkak ngurus pagawèan. Rambut gimbal beungeut ceuleuyeu. Can gè nincak golodog, geus disamber ku gorowok, “Wawanianan sia nincak imah aing, teu sieun dikadèk!!?”

Gebeg tèh, naha jikan jadi kitu. Ngabigeu teu puguh rasa, sabab rumasa langka balik ngadon jadi doktor, mondok di kantor.

Lain pèdah ngudag duit sagedè panto jadi poho anak pamajikan, tapi geuning pagawèan murudul nepika waktu 24 jam tèh kurang kènèh.

Hampura nyai, ieu akang. Naha teu apal?”

Nu ditaros ngadon molotot, raray geuneuk bangun nu ngèwa.

“Indit siah, nanaonan ka dieu!” Sora teugeug nu ngancurkeun hatè. Sakabèh pujian hasil gawè di kantor ilang teu manggih rupa, istuning leungit sajorèlat nètra. Asep nyuuh dina taneuh buruan, cirambay.

Nyai èta saha?”
“Duka pap, nu gèlo katawisna mah”

Asep curinghak, asa apal. Èta mah sora Mas Tèjo, tatangga bèda blok.

Kang Asep… Kang” Sora Mas Tejo nyalukan. Asep lumpat satakerna, ngajauhan. (AKW).

Cabe Rawit & Mie Rebus.

Nikmat meskipun beda…

Bandung, akwnulis.com. Sebuah temuan kejadian hari ini menambah khazanah wawasan tentang makna perbedaan. Sebuah perbedaan yang sebetulnya hadir dari kesamaan, namun karena satu hal maka menjadi aliran yang berbeda.

Selama ini yang paling hits khususnya di dunia kuliner itu adalah aliran makan bubur yang terbagi menjadi 2 aliran garis datar yaitu aliran dicampur bin diaduk dan tidak dicampur. Begitu hakiki para pemegang aliran ini sehingga terkadang saling menyerang dengan kata dan emoticon dilengkapi aneka alasan pembenaran masing – masing, seru deh.

Padahal yang harus dimaknai dari kedua aliran makan bubur ini adalah makna bersyukur. Yup sekali lagi adalah keduanya harus bersyukur masih bisa merasakan nikmatnya makan bubur, sementara di tempat berbeda masih ada seseorang yang kesulitan mencari sesuap nasi eh sesuap bubur.

Nah kali ini temuannya sederhana, maaih di wilayah icip icip kulinerisme, karena mirip dengan 2 aliran makan bubur. Tetapi prinsip bingit karena berakibat terhadap suasana extreme di sekitar mulut. Kasusnya adalah… aliran menikmati mie rebus dan telur plus irisan cabe rawit.

Aliran pertama adalah aliran makan mie rebus plus telor dengan irisan cabe rawit dicampur, pasti nikmat. Panas dan pedas menyatu dalam aliran rasa, membuat mata terbelalak dan tentunya ada rasa yang menyentak. Cocok bingit dinikmati sambil memandang gerimis yang terus membasuh bumi agar kelimis.

Aliran kedua, ini yang agak membuat dahi berkerut. Yaitu aliran makan mie rebus plus telor tetapi irisan cabe rawitnya dipisah. Jadi makannya cabe rawit dulu, baru menyendok mie rebusnya….  sempet ditanya apakah ada hubungan dengan burung merak yang suka cabe rawit atau lagi kesurupan?.. ternyata tidak. Semua baik-baik saja dan jawaban singkatnya, “Ini adalah pilihan saya, kenapa jadi urusan kamu?” Sambil sedikit melotot.

Udah deh nggak berani lagi nanya, takut disemprot potongan cabe dari mulut yang berbuncah. Serta tatapan tajam ala paddington.

Satu hal yang penting, bahwa menghormati prinsip orang lain adalah salah satu cara menjaga hubungan dengan orang lain. Jadi ya sudahlah. Meskipun terus terang kawan, masih penasaran dengan tindakannya memakan potongan cabe rawit tersebut. Tapi itulah kenyataan, …

yuk ah nambah lagi pesan mie rebus plus telurnya.. lagian hujan masih terus mengguyur seperti enggan berpisah dengan kesenduan malam.

Lebih baik berhenti sejenak menunggu semua reda sambil menikmati sajian hangat dan memaknai dua aliran berbeda dalam icip icip mie rebus hangat yang nikmat tiada tara. Selamat malam, Wassalam (AKW).

Kohitala Preanger.

Sruput lagi brow…..

BANDUNG, akwnulis.com. Parade pidato seremoni silih berganti dilanjutkan dengan kultum (kuliah ceramah tujuh menit) dan rangkaian kegiatan lainnya serta dikawal oleh suara musik lengkap dengan homeband yang memancing untuk sedikit bergoyang dan bernyanyi.

Tema ceramah tak kalah menarik, dimana membahas tentang banyaklah memuji bari meminta atau disingkat Puji Dulu Baru Minta (PuDuBaMi). Sebuah tuntunan universal yang tercermin dalam 7 ayat Q.S Alfatihah. 5 ayat awal adalah ayat yang bertema pujian atau memuji Allah dan 2 ayat terakhir barulah permintaan.

Inilah salah satu nilai utama yang harus menjadi pegangan dalam mengarungi kehidupan.

Selanjutnya tema senantiasa memuji adalah refleksi diri untuk senantiasa bersyukur, memgedepankan swasangka baik dan tentunya memaknai detik demi detik kehidupan ini dengan optimisme.

Begitupun dengan kehadiran kopi hitam kali ini, atau disebut Kohitala (kopi hitam tanpa gula) harus disyukuri dan bertabur pujian kepada Illahi yang Maha Kaya. Karena tanpa perlu bersusah payah menanam pohon kopi, merawatnya, memanennya, meroastingnya, membelinya hingga berproses menjadi sajian hitam menggugah selera.

Diawali dengan kalimat, “Mau teh atau kopi om?” yang begitu merdu terdengar di telinga kiri disuarakan si pelayan muda yang cekatan.

Sebuah anggukan kecil dan suara lirih, “Kopi” langsung dibalas senyum tersembunyi dibalik masker pink dan seketika dituangkan sajian kohitala yang harus segera dinikmati.

Maka cara bersyukur selanjutnya selain memuji keagungan tuhan atas kemudahan hadirnya kohitala ini adalah membuat sajian kohitala ini abadi. Yaitu dengan cara dokumentasi, alias diabadikan dalam bentuk photo. Tentu dengan sisi pengambilan photo sesuai selera dan ujung telunjuk menyentuh tombol shooter kamera di smartphone.

Tring, sajian kohitala telah tercapture sempurna dan selanjutnya dihiasi dengan taburan kata untuk bisa disajikan dihadapan sidang pembaca tanpa perlu repot – repot mencerna makna. Have a nice weekend kawan, Wassalam (AKW).

PROSESI BERBAGI

Sebuah momen yang tak boleh dilewatkan.

Sebuah Prosesi
Untuk Berbagi
Tetap Berseri.

BANDUNG, akwnulis.com. Arachis pintoi menutupi hamparan bumi dengan kombinasi daun menghijau dan bunga kuning menggemaskan. Apalagi dengan bentuk bunga kuning kacang-kacangan begitu menarik perhatian. Tidak hanya sepasang mata tetapi segerombolan lebahlah yang akan benar – benar menikmatinya.

Hanya hitungan detik, maka hadirlah perwakilan lebah yang agresif mendekati, menempel dan menghisap nektar dengan caranya yang ternyata begitu indah untuk diabadikan.

Terlihat goyanganmu sang arachis pintoi berusaha menghindari agresifitas, tetapi apa daya dengan segala keterbatasan akhirnya harus berdamai dengan kenyataan dan mencoba menikmati prosesi alami yang menjadi takdir diri.

Itulah drama kecil kehidupan yang jika dimaknai memberi sebuah nilai tiada hingga. Hadir keindahan dari aneka warna tanaman dan salur salur hitam tubuh lebah, dilengkapi dengan tema kepasrahan dalam mengimbangi agresifitas kehidupan. Dimana pada akhirnya terjadi keberlanjutan kehidupan melalui prosesi penyerbukan. Sebuah skenario Illahi yang harus ditafakuri.

Sang lebah segera pergi setelah puas menyecap sari kehidupan, beranjak ke bunga selanjutnya yang ternyata pasrah meskipun bukan berarti menyerah. Wassalam (AKW).

KOPI TUGU JOGJA

Antara sruput & kenangan.

JOGJA, akwnulis.com. Gemericik air hujan perlahan tapi pasti bertambah lebat, mengiringi malam yang penuh kedamaian. Angin memberikan kesempatan sang butiran hujan menyapa raga karena posisi meja outdoor, tetapi tidak mengapa karena sebuah keyakinan terpatri jikalau hujan terjadi adalah salah satu berkah Illahi Robbi.

Kenapa nggak milih meja di dalam mas?”

Hanya senyuman yang hadir menjawab sementara pikiran tersenyum simpul, “Justru ini meja terbaik yang bisa langsung menghadap tugu jogja dan menyerap asa dalam suasana sekitarnya” meskipun memang butuh pengorbanan, ya itu tadi tersapu dan tersapa tetesan air hujan yang terbang dibawa oleh nakalnya angin malam.

Tapi hujan tak selamanya lebat, ada saatnya berhenti dan hanya berniat menyirami bumi serta memberi ketenangan hati. Apalagi sajian kopi yang sedari tadi pagi sudah ada di pelupuk mata akhirnya bisa nyata, kopi manual brew V60 tanpa gula dan tanpa teman – teman lainnya seperti syrup, ice cream, creamer, bubuk coklat dan susu. Inilah kohitala, kopi hitam tanpa gula yang digiling mendadak dari beannya lalu diseduh secara manual menggunakan corong V60.

Meskipun lupa menanyakan beannya apa, tapi suasananya dapet banget guys.. antara sajian kopi dan lokasi. Sebuah lokasi ikonik di kota jogja, lha selain jalan malioboro maka tugu jogja juga menjadi derajat penentu keberedaran di kota penuh kenangan ini.

Tak terasa hujanpun berhenti dan memberikan pemandangan ciamik yang harus disyukuri serta ditafakuri. Semuanya adalah atas ijin dan kehendak Illahi, bagi mahluk hanyanya berusaha dan berikhitiar serta dokumentasikan dan akhirnya ‘dipamerkan’ di medsos sendiri demi memunguti jempol jempol virtual dan komentar yang hadir di laman dunia maya.

Padahal yang terpenting adalah mensyukurinya dan tak lupa memohon ampun kepada Tuhan atas dosa dan kekhilafan. Tentunya menyeruputnya wajib banget, jangan lupa baca Basmallah (bagi umat muslim).

Sruputt….. Nikmaaat…. segarnya sajian kopi hitam tanpa gula yang diseduh manual memberikan sensasi berbeda yang penuh kedamaian. Dilengkapi dengan pemandangan malam di tempat yang penuh kenangan… sungguh kombinasi yang tak terlupakan.

Selamat bermalam minggu kawan. Jangan lupa ngopi dan mensyukuri hari. Wassalam (AKW).

Kopi Klotok Jogja

Menikmati Kopi Klotok di tempatnya.

SLEMAN, akwnulis.com. Mentari masih bersembunyi dibalik semburat janji, tetapi cahaya terangnya sudah mulai merata di seantero kota yang selalu ngangenin untuk dijambangi.

Maka meskipun lelah masih sedikit tersisa setelah menjalani 6,5 jam duduk di gerbong 11D KA Mutiara Selatan tetapi semangat menikmati kenangan di kota gudeg adalah kewajiban heuheuheu sebelum jam 10 pagi harus bergabung pada sebuah meeting resmi yang tentu penuh seremoni.

Maka bermodalkan cerita testimoni dan ulasan yang bertebaran di laman google dan medsos maka diputuskan untuk sarapan di tempat yang sudah buka tentunya dan berlabel ‘kopi’.

Sungguh bersyukur setelah 2 tahun terdiam dan terkungkung keterbatasan karena PPKM dan berbagai istilah lainnya. Kali ini pecah telor dan bisa piknik lagi luar kota…. eh kerja lagi luar kota.

Setelah survey super singkat dilengkapi dengan perenungan (karena masih ngantuk maksudnya 🙂 )… maka dipilih Warung Kopi klothok yang lokasinya menuju utara kota yogya dan cukup jauh, memakan waktu perjalanan 35 menit.. lumayan juga. Tapi keburu ah, lagian di google disebutkan jam 07.00 wib udah buka kok, trus yang lebih penting adalah memiliki tempat makan dengan alam terbuka. Ini menjadi prasyarat pribadi karena masih khawatir atau waspada dengan kerumunan. Apalagi makan minum, dipastikan semua buka masker… ya khan?

***

Dibenak ini yang terbayang awalnya adalah sajian kopi asli yang bernilai tradisional dengan metode manual brew model kopi tubruk dan menghasilkan rasa yang bisa terbagi dari sisi body, acidity dan after taste.

Semangaat, berangkaaat… Bismillah.

Sambil raga bergerak menuju titik tujuan, iseng lagi buka google, ternyata banyak yang namanya kopi klothok hanya saja yang sudah buka sejak pagi adalah warung kopi klothok yang sedang dituju ini yaitu yang terletak di Jalan Kaliurang KM16 Pakem Binangun – Sleman.

Setelah 37 menit perjalanan, maka tibalah di sebuah tempat yang disebut Warung Kopi Klothok jogja ini… walah sudah penuh parkiran.. berarti banyak yang datang nich.

Cusss… ah.

Oh iya untuk cerita tentang makanannya nanti di tulisan selanjutnya. Sekarang mah urusan kopi dulu… kopi klothok.. eh kopi klotok… kelebihan huruf H… tapi ada juga yang nulis pake h.. ya sudahlah terserah.

Ternyata kawan, setelah interogasi halus dan penuh kelembutan maka didapat sebuah kesimpulan bahwa kopi klotok ini adalah lebih kepada merk bukan sajian kopi manual brew yang terbayang tadi di kepala.

Tapi tidak mengapa karena tergantikan oleh vibes yang mendamaikan suasan hati dan sajian kuliner yang memiliki nilai tersendiri (ntar ulasannya ya).

Kopi klotok ini adalah sebuah sajian kopi biasa yang dimasak dengan air panas dan gula dengan bahan dasar bubuk kopi. Nah pada saat dipanaskan airnya dan mendidik maka terdengar suara klotok klotok yang khas dan itulah yang menjadikan nama kopi klotok.

Bicara rasa tentu adalah kopi gula panas biasa, tidak bisa menilai tentang bodi – acidity – dan after tastenya. Tetapi yang menarik adalah suasana alami dengan meja kursi kayu masa lalu ataupun mau lesehan bertikar di halaman bersama keluarga sambil menikmati pemadangan gunung merapi.

Sebagai teman nyruput kopi maka dipesan juga sepiring goreng pisang dan ketan goreng agar melengkapi sarapan pagi ini.

Sruputtt…. hmmm nikmaat.

Selamat pagi, salam dari Jogja. Wassalam (AKW).

LULUS – fbs

Tulisan singkat fiksi sunda kekinian…

BANDUNG, akwnulis.com. Kali ini kembali menghadirkan tulisan fiksi berbahasa sunda dengan jumlah kata dibawah 150 kata. Klo nggak percaya silahkan saja hitung sendiri. Jikalau lebih, ambil aja kelebihannya hehehehe.

Ide sederhana hadir dari sebuah pengalaman bahwa adaptasi kebiasaan bau eh baru ini memang harus kita hadapi dan jalani.

Termasuk untuk memasuki suatu ruang pertemuan, diperlukan berbagai syarat dan aturan serta pemeriksaan berantai. Tentu itu semua adalah ihtiar memerangi dan meredam penyebaran virus covid19 yang melanda dunia.

Sehingga kita terkadang terlalu fokus dengan syarat masuk dan pemeriksaan tapi lupa lihat tanggalnya kapan. Itulah sekelumit cerita sunda kali ini, silahkan….

***

FIKMIN # LULUS #

Ti mimiti panto gerbang hareup geus karasa pangbagèa meuni loba. Nu geulis imut baru naroskeun aplikasi, jajaka mencrong bisi muka hapèna akon-akon.

Kudu muka kamèra hapè, tuluy moto kotak hideung garis – garis nu disebut barkod. Tah mun lulus, langsung tarang ditodong pèstol bodas keur mastikeun panasna awak urang. Teu hilap nu geulis nyorongkeun hèn-sanitaiser. Asa riweuh tapi nyata.

Asup ka jero, geuning leuwih canggih dipariksana. Rada gancang da ukur mencrong kana kamèra. Tring!, tuluy aya sora, “beungeut gorèng” bari ditambahan dina layar ngajeblag beungeut jeung angka 35,6° celcius.

Mangga Aa, teras kalebet”

Reugreug ayeuna mah tos tiasa lulus tina pamariosan nu lapis lapis, ceunah ieu alpukah pikeun ngalawan si kovid tèa.

Anjog ka acara, naha geuning kosong molongpong.  Lumpat balik deui nepungan neng geulis nu mariksa pamungkas.

Nèng dupi uleman ieu di palih mana?” Bari ngasongkeun seratna.

Leres tempatna di dieu Aa, mung ieu mah enjing kaping 30 Oktober” Curuk bentik nojo kaping.

***

Itulah tulisan singkat sore ini. Selamat Malam, Have a nice weekend. Wassalam (AKW).

#Salamsehat
#Salamtangguh

AURORA & MINTY ZSTY

Bukan cerita ngopay dulu….

Bandung B, akwnulis.com. Terkadang berusaha memposisikan diri sebagai orang lain yang rutin menerima broadcast tentang tulisan – tulisan di blogku http://www.akwnulis.com yang isinya nggak jelas dan nggak penting.

Trus dibombardir dengan tulisan tentang kopi lagi kopi lagi kopi lagi, padahal belum tentu sang penerima broadcast whatsapps tersebut berkenan dengan tulisan tentang kopi. Apalagi kopinya tanpa gula, jelas akan hadir getir dan kepahitan rasa yang mungkin tidak suka.

Jadi sebuah permohonan maaf secara tulus dari lubuk hati yang paling dasar kepada bapak ibu teman teman dan saudaraku se-broadcast WA link blogku, bukan niatan mengganggu dengan kiriman WAnya tetapi sebagai sarana silaturahmi dan sekaligus pengecekan, apakah nomor whatsapp tersebut masih dimiliki dan dikuasai atau sudah berpindah tangan dan malah telah musnah ditelan eh hangus karena nggak pernah di isi pulsanya. Halah kok malah ngurusin pulsa orang, sekali lagi maafkan.

Untuk mengurangi kebosanan tentang tulisan kopi dan kopay, maka kali ini berhenti dulu menulia kopi tapi mencoba menjajal minuman yang nampak indah dan menyegarkan. Mari berkenalan dengan AURORA dan MINTY ZSTY.

AURORA adalah nama sebuah sajian minuman segar yang menampilkan keindahan. Warna ungunya menarik perhatian ditaburi daun ungu yang disebut butterfly pea dilengkapi daun mint dan segelas kecil peresan lime plus triple sec… ini soda ternyata. Semoga nggak kenapa-kenapa nich perut, soalnya udah lama pamit dengan minuman bersoda. Ih tapi lucu… srupuuut ah.

Yang kedua adalah MINTY ZSTY, sajian minuman menyegarkan yang juga warna warni milik pelangi. Tapi lupa nanya bahan -bahannya apa saja. Udah sruput aja, menyegarkan dan manieez…. aduh jadi tabrakan rasa di mulut nich. Antara minuman bergula dan diri yang sudah manies dari sonohnyah…. awww.

Minuman kedua juga ada daun mint alias daun keresmen kata urang saguling mah juga irisan jeruk yang menjanjikan rasa segar asam.

Over all keduanya menyegarkan, dan harganyapun menyegarkan mata serta sedikit mengurangi dahaga. Untuk yang penasaran dimana tempatnya japri aja ya, siapa tahu mau ngajak hehehehe… tinggak sesuaikan jadwalnya.

Selamat menikmati ceritaku yang bukan cerita kopi, sruput segerr. Wassalam (AKW).