PERTEMUAN TAK SENGAJA

Keindahan bergerak di catwalk.

BOJONGHALEUANG, akwnulis.com. Pertemuan tak disengaja diri ini dengannya menyisakan sebuah kenangan tak terlupa.

Betapa tidak, dibalik kegarangannya tersimpan bentuk keindahan yang tak bisa diungkap dengan kata-kata.

Dikala dikau berjalan meniti catwalk rumput kehidupan, maka terlihat gemerlap dan keyakinan serta rasa percaya diri yang pas dan tidak berlebihan.

Meskipun memang jikalau ada yang berani mengganggumu dengan secuil sentuhan saja, maka konsekuensi ketidaknyamanan akan diterima tanpa banyak pertanyaan.

Maka tidak ada kata lain yang lebih berarti, kecuali mengabadikan gerakanmu agar tersimpan abadi di hati. Jikalau dikau pergi dari pandangan dan menghilang dibalik catwalk kehijauan itu, maka siluet dan bentuk rumbai keindahanmu akan selalu dikenang.

Photo : Meniti catwalk kehidupan / dokpri.

Selamat menjalani catwalk kehidupan selanjutnya, jangan pernah menyerah karena kehidupan ini adalah anugerah. Wassalam (AKW).

SIEUN

Sebuah tulisan lawas yang masih relevan…

****SIEUN****

Photo : Ilustrasi saja / dokpri.

CMISEL, akwnulis.com. Mangmang hamham jeung horéam keur pabeulit dina jiwa, mangaruhan raga nu teu walakaya nyusun carita bari ngabandungan paripolah manusa nu ngarasa geus sawawa. Langit peuting mencrong bari tutunjuk, nyalahkeun, pédah bet nurut jeung kahayang, dina mangsa ditanya bari teu wasa, ditalék téh ngajanggilek, istuning ajrih ngagugah rasa ngabungbang katugenah.

Baham sepa béakeun rupa, panon bolotot ukur ngongkolak, teu puguh ucap teu oyag raga istuning nurut rut tampa karana. Tuur leuleus bitis ngabulaéh, tulang suku ngadadak laér. Ngan mencrong wè bari kumétap.. nempo mahluk ciptaan gusti nu geulis ka wanti wanti.

Irung bangir, awak sampayeun jaga, pinareup nyeungseung, parabot calik meuni dèmplon, jangkung tur dènok. éta lambey meuni euceuy, beureum asli ih lain bobohongan, pipi semu beureum, soca cureuleuk. Ditempo ti hareup sieup, ti tukang lenjang, tiluhur jadi tagiwur komo tihandap matak ngarenghap.

Sieuuun gusti.. Sieuuun…

Sieun Nyaah.

Cag.

****

Photo : Capture eviden 8 thn lalu / dokpri.

Sebuah tulisanku dengan genre fiksimini basa sunda delapan tahun yang lalu, diingatkan di facebook dengan Kenangannya. Tepat tanggal 09 Januari 2013.

Ah sebuah tulisan yang relevan sepanjang masa (bagiku).

Edit dikit ah.

Selamat menikmati…. klo yang roaming dan ora mudeng, ntar dibuat penjelasannya pake bahasa indonesia (agak) baku di akun youtubeku yaa… Wassalam (AKW).

***

MAKANAN MEWAHku.

Makanan mewahku…. Yummy.

SUINDA, akwnulis.com. Semilir angin malam membawa pesan tentang sebuah keinginan yang terpendam dan tertahan dalam hitungan bulan. Ini telah menginjak bulan ke 12, dimana kendali keinginan terus dikuatkan sari segala macam godaan, momentum kesempatan hingga kenekatan untuk mencoba meskipun belum saatnya.

Tetapi akhirnya pertahanan jebol juga, apalagi keharumannya begitu menguasai indera penciuman dan indera perasa… akhirnya diputuskan saja untuk nekat mencoba.

“Pesen satu juga Mang, Pake cengek dan gehu”

“Mangga cep”

Maka proses memasak dimulai, dan cuping hidung bergerak-gerak tak sabar karena terpapar keharuman.

Hanya hitungan 5 menit, sajian kenikmatan yang ditunggu-tunggu sudah datang. Semangkok indomie rebus ditambah telor ceplok, irisan cengek (cabe rawit) dan gehu besar (gorengan yang berisi tahu dan toge) yang pedaas… duh ngaruy… air liur mulai menggenang di bawah lidah…. kabita.

Inilah sajian makanan mewah yang akan segera dinikmati.

Mewah apa nya, itu khan gampang ada dimana-mana”

Pasti sebait tanya akan hadir menghibur suasana. Memang indomie rebus mah ada dimana-mana, tetapi itu baru dari sudut pandang kehadiran.

Setelah hadir, maka perlu tambahan kesempatan untuk menikmatinya… ini tituk pentingnya. Karena setiap orang berbeda.

Dahulu di masa masih asrama dan kost nebeng sementara maka sajian mie rebus ini adalah makanan pokok. Baik nongkring.. eh nongkrong di warung indomie bersama secangkir kopi dan bubur kacang alami ataupun secara mandiri menyeduh menggunakan air panas. Lalu ditali dengan karet dan biarkah matang bin beukah sebelum akhirnya bisa dinikmati… nikmatnya kala itu.

Photo : Indomie telor cengek gehu / dokpri.

Tapi sekarang… menjadi MaKANAN MEWAH bagiku karena menjadi daftar makanan yang hanya boleh 3 bulan sekali.

Punya dosa apa dia?”

“Bukan masalah dosa, tetapi situasi yang memaksa sehingga terpisah dari kenikmatannya”

Jadi dosa besar indomie itu karena kenikmatan dan kepraktisan dalam pengolahan dan penyajiannya. Sehingga ketagihaaan….. hehehehehe… sebenernya bukan hanya indomie… saudara sesama mie lainnyapun sikat abiis… supermi, mie sedap dan yang lagi hits sekarang itu mie lemonilo…. pokoknya sabangsaning mie… termasuk popmie.

Dengan kenikmatannya sangat berkontribusi positif dalam membuat tubuh ini meninggi ke samping kanan kiri alias menggelembung tak teratur hingga mencapai batasan PSK (pemuda seratus kilogram)…… ohhhh tidakkk.

Maka jadilah indomie dan saudara-saudaranya menjadi makanan mewah karena kenikmatannya dan dibatasi menikmatinya…. 3 bulan sekali aja…. kasiaaan deh aku.

Jadi mari kita syukuri kenikmatan Allah SWT atas kemudahan kita menikmati makanan dan minuman yang selama ini dirasakan oleh kita dengan kemudahan mendapatkannya. Have a nice weekend kawan. Wassalam (AKW).

Senin selasa awal 2021

Yuk ah… Gaspol.

Photo : pembahasan Tugas 2021 / dokpri

DAGO, akwnulis.com. Senin adalah hari kemarin dan hari ini adalah hari selasa, jadi besok adalah hari… Rabu.

Apa sih malah menghitung hari, sudahlah cukup diwakili krisdayanti. Sekarang lebih baik menguatkan hati dan pikiran untuk segera bekerja di awal tahun yang (semoga) penuh harapan.

Senin kemarin sudah langsung di gebrak dengan briefing pimpinan yang tentu dilanjutkan dengan briefing teknis oleh anak buah pimpinan kepada anak buah dibawahnya dan dibawahnya lagi hingga buah yang paling akhir.

White board sampai tak kuasa menampung betapa banyak kata yang terhambur dari spidol boardmaker yang mencatat berbagai tugas, arahan dan juga curhat yang musti kita sama-sama jalankan.

Photo : Catatan Briefing teknis / dokpri.

Siangnya rapat virtual digelar dalam rangka menyongsong pemberlakuan e-sign alias tanda tangan digital dengan dilakukan coaching clinic online yang ramai.

Materi yang menarik karena bicara masa depan, dan para hadirin peserta rapat berusaha mengejar keberpahaman bersama demi menyongsong kemajuan jaman yang sudah ada didepan mata.

Nah terlihatlah bahwa diriku masih masuk golongan semi lanang celup bin barho, yaitu sebutan bagi pihak tertentu yang kesulitan menangkap materi yang disampaikan disisi lain setelah materi paparan tersampaikan… eh cepat lupa.. maka sebutannya ‘LAmbat NANGkap CEpat LUpa’ atau LANANG CELUP…. dilanjutkan kalau pas sudah bubar jadinya poho (lupa) jadi disingkat BARHO.

Entah siapa yang bikin istilah itu, tapi itulah singkatan yang mudah diingat dan susah terlupa bagikuu.

Maka mari kita saling mendukung dan mengingatkan serta mencoba memahami materi-materi paparan yang menarik dan berisi wawasan masa depan secara kolektif kolegial… eh kolektif dan penuh kebersamaan.

Photo : Lagi sibuk / dokpri.

Jadi hari pertama dan hari kedua kerja (resmi) di tahun 2021 langsung gasspoll…. dengan berbagai rencana dan juga penyelesaian sisa-sisa pekerjaan 2020 yang masih perlu penyempurnaan.

Tapi jangan lupa makan siang,…..tetap usahakan dilakukan tepat waktu, atau hampir tepat waktu. Tidak sulit karena memang sudah disiapkan bekal maksi oleh istri tercinta, tinggal ambil mistingnya, buka. Disajikan diantara tumpukan berkas yang terdiam tanpa kata.

Selamat bekerja di awal tahun 2021 yang (semoga) penuh harapan. Wassalam (AKW).

NGOPAY Kaum Rebahan.

Nikmati lagi sajian coffee, suatu hari nanti.

Photo : Coconut Milk Coffee WP / dokpri.

KOSUIN, akwnulis.com. Mendamaikan rasa dan menge-charge semangat bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Beraneka aktifitas tentu akan menjadi pilihan yang sangat menyenangkan, dari mulai jalan bareng keluarga atau masak bareng di rumah hingga naik gunung atau menikmati adrenalin terpacu menggunakan motor trail dan kendaraan offroad menembus alam liar yang (mungkin) belum terjamah.

Makan bareng di cafe, restoran, kedai atau rumah makan bersama keluarga di hari libur serta sambil ber-tawaf di mall adalah aktifitas kebersamaan yang biasa dilakukan oleh keluarga pada umumnya.

Tapi….. sekarang semuanya berbeda.

Kebersamaan yang paling mudah dengan beredar di mall, makan bareng di restoran berkongkow bersama kawan, kolega, keluarga atau sanak saudara …. sekarang penuh kekhawatiran karena pandemi virus tak kasat mata sedang mendera.

Menjeda bersama, menahan keinginan untuk semua aktifitas itu ternyata berat rasanya.

Sekaranglah kesempatan untuk mengubah haluan kebiasaan dimana awal tahun lalu gerakan kaum rebahan itu dipandang sebelah mata. Tetapi sekarang, pilihan menjadi kaum rebahan ternyata bisa mencegah kehancuran dunia karena bisa memutus rantai penyebaran virus covid19 yang ternyata semakin merajalela.

Jadi, marilah rebahan di rumah, yaa.. agak bermalas-malasan di rumah… meskipun ternyata setelah 9 bulan berusaha menjadi kaum rebahan…. eh bosan jugaaa…

Photo : Nasgor WP / dokpri.

Tetap pertahankan kemalasan… eh kaum rebahan ini sebelum jelas bahwa pandemi ini tuntas.

Karena, jika sudah terpapar. Urusannya panjang dan berdampak tak terbayangkan. Selama kita berusaha menghindari, Insyaalloh akan terlindungi.

Jadi, maafkan kawan. Jikalau diriku ini seakan menghilang dari peredaran. Sulit diajak makan bareng diluar meskipun katanya ini mah restoran terbuka di alam.

Jikalau terpaksa makan bersama, pasti memilih yang meja kursi hanya berdua, duduk berhadap-hadapan dan terpaksa bergiliran membuka maskernya. Hikmahnya adalah, jika kita sedang buka masker dan menyantap makanan maka yang ada dihadapan kita tetap tutup masker sambil bonusnya bisa melihat wajah kita yang sedang mengunyah dengan seksama…. begitupun sebaliknya.

Jadi, untuk mengobati kekangenan menikmati makanan dan merasakan enaknya ngopay, tak ada salahnya memposting sajian kopi dan juga pilihan menu makan siang di sebuah tempat makan yang rimbun alami dan mendamaikan hati.

Meskipun para pembaca tulisan ini jangan terjebak dengan momentum, ini bukan info update tetapi dokumentasi aktifitas beberapa waktu lalu sekaligus mengobati kerinduan akan kenikmatan makan dan ngopay diluar kediaman.

Kalau mau info update, tinggal pilih aja media online ternama atau nyalain televisi dengan saluran umum yang ada. Pasti info hangat dan terbaru yang akan hadir tersaji di gadget kesayangan kita.

Sekali lagi, selamat mempertahankan status menjadi kaum rebahan yang bisa menyelamatkan dunia sambil posting gambar-gambar aktifitas masa lalu yang tentunya bisa kembali kita lakukan setelah badai pandemi ini berlalu. Wassalam (AKW).

Pake MASKER Yuk.

Minimal pake MASKERnya Guys…

LEGOK EMOK, akwnulis.com. Liburan pergantian tahun disarankan untuk dihabiskan dengan bercengkerama bersama keluarga tetapi karena sebuah komitmen tugas sekaligus menjadi bodyguard ibu negara yang bertugas di instalasi gawat darurat yang juga rentan dengan kemungkinan hadirnya si covid19.

Jadi antisipasi pencegahan menjadi utama, masker tak pernah lepas dari wajah dan selalu menggunakan hand sanitizer atau mencuci tangan jikalau ada kesempatan. Apalagi pas pulang ke rumah, semua pakaian kotor langsung di rendam cairan detergen bersama dettol. Peralatan elektronik, dompet dan pernak pernik segera bergabung di mesin steril untuk menerima paparan sinar ultraviolet selama 10 menit. Tentu smartphone diusakahan dalam keadaan mati demi melindungi aplikasi dan berbagai komponennya dari paparan sterilisasi.

Mandi dan keramas sehari 3x sudah menjadi hal biasa, ini ihtiar sederhana manakala keluar rumah, kemanapun, sebentar atau lama maka wajib melakukan mandi plus keramas. Tujuannya sederhana untuk melakukan pencegahan, sebuah iktiar adaptasi kebiasaan baru dalam suasana dunia yang sedang dilanda pandemi.

Bosankah dengan rutinitas ini?”

Tentu bosan, apalagi orangtua dan anak yang praktis tak pernah keluar rumah. Tapi itulah sebuah kenyataan yang harus dijalani semua. Melatih kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi demi menghindari terpapar oleh virus yang tak jelas bentuknya tetapi nyata dampaknya.

Photo : Perlengkapan pencegahan / dokpri.

Nah, dikala melihat media sosial. Terlihat betapa banyak rekan-rekan, saudara-saudari yang beredar berwisata bersama keluarga besar juga tidak sedikit yang mengabaikan penggunaan masker atau pake masker tapi hanya hiasan… ah hanya bisa mengelus dada….. Inilah kenyataan yang ada.

Sulit memang untuk mengendalikan diri dari hasrat beredar dan bersua bersama keluarga, kolega dan handai taulan yang ada apalagi dalam momentum liburan yang memang cukup berharga.

Tapi, pengendalian diri bersama yang sebenarnya bisa mencegah semuanya. Sayangnya tidak semua miliki kendali yang sama, sebagian men-justifikasi bahwa beredar terbatas itu tidak mengapa. Padahal penyebaran covid ini sudah tidak pandang strata, siapapun bisa kena dengan dampak yang berbeda-beda.

Maka cara terbaik adalah kendalikan diri, kendalikan keluarga terdekat kita agar tetap patuh dengan protokol kesehatan yang ada.

Jangan terjebak oleh stigma bahwa orang yang mati-matian mencegahpun itu bisa kena. Itu ranahnya Takdir Illahi Tuhan Yang Maha Kuasa, tetapi jikalau kita sudah berusaha mencegah, insyaalloh hikmah dan berkah akan melindungi kita semuah….

Memang sekarang semua berbeda, serba terbatas dan penuh rasa khawatir yang mendera. Tetapi ingat kawan, kepedulian dan kedisiplinan kita yang akan membuat kita bisa melewati cobaan ini bersama.

Selamat berlibur panjang dan tetap menjaga diri dengan mengutamakan protokol kesehatan.

Minimal pake masker

Minimal itu….

Ah gemes deh, semoga semua diberi kesadaran untuk bersama-sama mencegah penyebaran dengan pengendalian diri dan tak banyak beredar.

Kalaupun harus beredar, maka bersih-bersih raga, peralatan dan juga jiwa ditenangkan sebelum kembali berkumpul dengan keluarga. Wassalam (AKW).

ULAT & CINTA

Ekspresi Cinta memang tak berbatas.

LEGOK EMOK, akwnulis.com. Pagi yang cerah diisi dengan berjalan kaki ringan dan menerima sentuhan lembut paparan mentari pagi. Bergerak di sekitar rumah sambil menikmati kehijauan tanaman sudah cukup menjadi obat kegalauan.

Sudut mata terdiam dikala melihat gerakan gemulai tapi sedikit garang. Merayap ringan diatas dedaunan kehidupan, setelah kenyang menikmati sarapan yang bergiji dan penuh rasa kehijauan.

Hanya saja yang menarik hati adalah sebuah jejak yang ditinggalkan setelah tuntas sang ulat makan siang. Dedaunan yang begitu renyah dan segar, memberi imunitas dan harapan bahwa sang ulat berumur panjang. Apalagi jejak yang tertinggal ternyata merupakan ekspresi diri bahwa cinta kasih itu tiada batas.

Karena diperhatikan dengan seksama, bekas makan sang ulat itu berbentuk lambang cinta, alias love… silahkan saja perhatikan… betulkan love oh love

Penasaran deh, maka sang ulat dicegat dan ditanya baik-baik, “Betulkah itu ungkapan cinta?”

Ulat tersenyum sambil memamerkan bulu-bulu halusnya, lalu berkata, “Memang nggak boleh kami mengungkapkan cinta?”

Ah ternyata yang hadir malah sebuah tanya, dan jadi terdiam tak berani menjawab karena jika dibahas tentang ungkapan cinta tentu tidak tuntas dalam satu masa.

Apalagi terlihat bahwa sang ulat sudah mulai memperlihatkan taring dan siap melepaskan bulu-bulu tajam yang bisa menggatalkan dunia andaikan perbedaan pendapat ini meruncing menjadi silang pendapat tak berkesudahan.

Maka cara terbaik adalah diskusi hangat tanpa perlu menyinggung rasa dan utamakan tentang bagaimana menjaga dan merajut cinta meskipun jelas secara phisik berbeda.

Maka, marilah kita berdampingan dan menjaga rasa tanpa perlu bingung menafsirkan simbol cinta. Karena semua mahluk punya rasa, miliki harapan dalam memaknai cinta dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jika masih belum faham dengan semuanya, maka cobalah untuk bercinta.. ups.

Sang ulat tersenyum sambil berlalu dan duniapun kembali berlanjut menapaki waktu. Wassalam (AKW).

TEH PUTIHku…

Liburan di rumah bersama Teh…

BOJONGHALEUANG, akwnulis.com. Libur panjang memberi kesempatan untuk beredar, keliling kota menapaki mall atau bersilaturahmi sambil hahahihi di cafe dan resto langganan. Bisa juga membawa raga menuju kampung halaman atau rumah saudara yang masih alami jauh dari hiruk pikuk kota.

Tapi…. itu dulu. Sekarang semua aktifitas itu beresiko. Jikalau tidak tertular, khawatir tanpa sadar menulari orang lain apalagi orang tua atau saudara yang kita singgahi.

Jikalau banyak yang nekad, dengan bermodal masker saja tapi tetap beredar kesanah kemari. Semoga segera diberi kesadaran dan pengendalian diri, bahwa pandemi ini sedang terjadi. Jangan menyesal di kemudian hari, ketidak sabaran beredar ini bisa berakibat fatal.

Karena dikala tertular, bukan hanya phisik yang menderita, psikologispun akan terguncang termasuk tekanan finansial… percayalah dan kendalikan hasrat beredarmu.

Nah sebagai penggantinya, mari kita manfaatkan libur ini bercengkerama dengan keluarga dengan berbagai kreasi dan aktifitas yang jauh dari kerumunan orang tetapi tetap memiliki makna.

Salah satunya adalah Nge-teh, alias minum teh. Supaya lebih afdol, coba seduh white tea atau teh putih dan setelah ditunggu 5 – 6 menit, tuangkan di gelas kaca dan siap dinikmati.

Apalagi jikalau teh putih ini disajikan sama teteh putih, lengkap sudah liburanmu hehehehe.

Tapi, teteh putih ini cukup bercanda saja yaa… karena jikalau ibu negara tahu, maka akan hadir perang dunia, dan liburan kali ini menjadi neraka.

Selamat Nge-teh putih sama teteh putih.. ups…. sama ibu negara dan anak tercinta. Wassalam (AKW).

TEMAN TAPI BUKAN.

Hadir bersama bukan berarti harus memaksa.

JATINANGOR, akwnulis.com. Berdiam di balkon hotel sambil menikmati membirunya suasana di kolam renang terasa mendamaikan hati yang sedang terguncang.

Setelah sekian hari ternyata masih lekat dari ingatan bahwa persahabatan itu tidak abadi. Hanya kepentingan yang memiliki keabadian, itu istilah kawanku yang lain, kebetulan salah satu politikus negeri ini.

Tadinya berbagai harapan telah disematkan, gagasan untuk maju bersama menapaki dunia begitu jelas terpampang di depan mata.

Eh ternyata hanya beberapa kalimat saja yang meruntuhkan semuanya. Pondasi pertemanan luruh menjadi butiran kehampaan yang mungkin tiada akhir.

Rencana untuk membuat dan mewujudkan kebaikan di lingkungan masyarakat dan mengawal pemberdayaan bagi saudara yang kurang mampu sudah terpampang. Langkah-langkah sistematispun begitu rapih disusun bertaut saling melengkapi.

Namun apa daya, semua berbeda setelah diskusi kita malam lalu.

Ternyata semesta menyertai kejadian ini, dimana secangkir kopi berdampingan dengan segelas jus jeruk yang segar. Terlihat saling melengkapi dalam memenuhi selera rasa. Kopi sebagai penguat adrenalin dan jus jeruk menyegarkan sekaligus meningkatkan imunitas tubuh.

Tapi jikalau dicampur lalu diminum, maka bukan rasa enak yang akan hadir tetapi sesuatu rasa yang menyulitkan mulut dan lidah menerimanya.

Nggak percaya, silahkan coba”

Jadi marilah kita berdampingan dalam mewujudkan tujuan tanpa memaksakan harus bersatu atau berampur sehingga menghasilkan rasa baru yang nggak jelas dan membingungkan.

Berjalan seiring kewenangan dan saling membantu pada saat-saat diperlukan. Diluar itu tetap berada di gelas masing-masing. Bersiap disruput tanpa harus dicampur dan bikin ribut.

Selamat Libur panjang kawan, tetap di rumah dan terus berkarya. Wassalam (AKW).

Sajak PANDEMI 1.

Sajak galau 1 karena pandemi.

Galau di hati

Dikala sebuah ingin menjadi pasti

Tapi bukan sembarang arti

Karena perlu hadir dan menepi

***

Sungguh raga tersiksa oleh pandemi
Sulit kongkow sambil ngopi

Terbahak bersama tanpa droplet yang berarti

***

Tetap jaga diri

Bermasker dan jaga jarak sendiri

Demi menghindari

Penularan virus covid ini

***
Atau sekedar beda suasana

Tapi tetap bekerja

Di cafe atau kedai bersahaja

Yang penting ada kopi aneka rasa

***

Sekarang semua ditunda
Karena khawatir yang melanda

Kalaupun harus memaksa

Maka handsanitizer ada diantara kita

***
Bukan apa-apa

Mencegah itu utama

Jika Sudah terpapar sedikit saja

Phisik terasa psikis kena

Finansial juga merana

Plus wajib karantina

***

Jagalah diri semampunya
Juga lingkaran keluarga

Tahan hasrat berwisata

Kendalikan libido kongkow bersama

***
Ini bencana kawan

Dan kita memiliki peran

Mencegah penularan

Dengan berdiam dan STOP berkeliaran

***

Pakai masker harus dipertahankan
Jaga jarak selalu & sering cuci tangan

Itulah sebuah iktiar minimal

Hingga pandemi bisa dikendalikan.

***

Legok Emok, Desember 2020.