NGUREK – fbs

Nèangan belut dina galengan kahirupan.

Fikminbasasunda

(FBS, fiksimini basa sunda adalah Sebuah cerita fiksi singkat berbahasa sunda maksimal 150 kata sudah membangun satu cerita)

Photo : Nelayan memanggul belut raksasa, ini ilustrasi saja.

NGUREK

Leumpang mapay galengan kahirupan bari leungeun katuhu mekel kenur keur nèangan belut nu haat ihlas maturan dahar pabeubeurang. Suku nincak galengan lalaunan, panon rancingeus nempoan liang.

Keur anteng nitènan liang, aya sora, “Ieu palih dieu” aya sora ècès beulah kènca. Dilieuk tèh aya liangna. Langsung cacing dikaitkeun jadi eupan, tuluy kenur diasupkeun kana liang.

Srett, nudd… aya nu narik kenur, langsung ditahan, ulur saeutik, bedol, ulur, bedol deui. Alhamdulillah belut badag nyanggut dina kenur kojo ieu.

Belut sampulur konèng omyang, ngagantung anteng teu gugurubugan, dideukeutan panonna siga nu melong, “Enggal laan ieu useupna Cèp, cangkeul

Gebeg tèh, geuning belut anu ngomong. Buru-buru useup dilaan, belut disimpen dina èmbèr. Panasaran lalaunan ditanya, “Naha Anjeun bisa ngomong”

Belut imut bari ngajawab, “Santuy waè Cèp, geus takdirna Uing di urek tuluy diasakan jadi batur dahar manusa. Èta bakti sato di dunya”

Cep Otang ngahuleng, laparna leungit tapi meunang pangalaman hadè pikeun nafakuran kahirupan. (AKW)

***

Note : Penjelasan singkat terkait beberapa fiksimini dalam bahasa indonesia bisa di lihat di channel yotube : fiksiminibasasunda.

NgeTEH PAGI

Yuk ah, NgeTEH dulu.

KBB, akwnulis.com. Cangkir bening kosong dan sebekong seduhan teh panas siap minum menemani kebersamaan pagi ini. “Bersama siapa kakak?”

Ah sebuah tanya menggelitik jiwa, bersama suasana sudah cukup menjawab pertanyaan kepo tadi.

Sudahlah tidak usah banyak bertanya, biarkanlah siapapun menjalani kehidupan. Tidak perlu menghakimi nilai-nilai kehidupan orang lain dengan nilai standar kehidupan kita. Masing-masing berbeda kawan.

Jadi biarkan diriku ini menyeruput teh panas sendirian sambil bersyukur atas nikmat kehidupan ini. Tidak perlu bertanya juga jikalau ternyata take awaynya banyak, untuk siapa aja ya? Apa aja isinya…… biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya.

Tapi ternyata rasa penasaran dan ingin memaksakan standar nilai kepada orang lain itu seolah candu, jadi kembali hadir pertanyaan beruntun yang secara santun harus diberi jawaban.

Sabar, karena sabar itu nggak ada batasnya.

Begitulah sebuah fragmen pagi tidak lepas dari pengendalian diri dan sabar.

Maka kembali dituangkanlah teh panas ke cangkir untuk selanjutnya di sruput penuh kenikmatan. Segaaar….

Meskipun jangan lupa kawan, protokol kesehatan tetap menjadi pedoman. Jangan lupa gunakan hand sanitizer, tetap berdoa dan jaga jarak dengan pengunjung ataupun pegawai yang ada. Kalau masker ya musti dibuka dulu, lha gimana nyruput teh nya atuh, nyimpen maskernya hati-hati.

Bukan cerewet kawan, tetapi iktiar pencegahan adalah tugas kita semua.

Kenikmatan teh panas pagi ini sebenarnya menyisakan kesempatan untuk direfill satu kali lagi, lumayan sebekong lagi. Tetapi dengan berat hari kesempatan ini dilewatkan karena masih banyak tugas yang harus dikerjakan. Besok lusa bisa dilanjutkan tentu tidak sendirian, bersama istri dan anak kesayangan.

Itulah cerita ngeteh pagi yang terasa begitu berarti. Selamat menikmati sisa wiken kawan, bersiap menghadapi esok hari yang menjadi rutinitas hakiki. Tetap semangat tapi juga hati-hati, Wassalam (AKW).

Youtube & Menulis.

Nulis lagi ah, jangan kalah sama bikin konten youtube.

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah hobi baru sedikit mengancam kebiasaan menulisku. Yaitu keranjingan bikin konten youtube dengan menggunakan aplikasi kinemaster untuk proses editingnya dengan konten adalah bernyanyi dengan memetik gitar semampunya.

Yup, memetik gitar dengan kemampuan minimalis dan sisanya nekad saja untuk gunjrang genjreng menyanyikan lagu minimalis juga… tapi itulah cara menikmati dan mensyukuri hidup. Jangan banyak mikir tetapi kerjakanlah. Insyaalloh hepi dan kehidupan bisa terasa lebih indah.

Mengepit gitar dan mainkan chord sederhana dengan lagu yang agak hafal untuk dinyanyikan menjadi hiburan tersendiri. Lalu edit edit dengan aplikasi kinemaster, beri judul dan beberapa keterangan, maka uploadlah di channel youtube. Lalu bersiap dengan beragam pendapat, termasuk mengalir reques di nyanyiin lagu dengan berbagai genre…. aduh ternyata lagunya nggak hafal dan chordnya susah.. dengan segala maaf, belum bisa dipenuhi.. tapi sambil mencoba beberapa chord baru yang agak asing dan sulit di jari-jari yang bengkak ini.

Tidak ada tujuan mengikuti kesuksesan alif bata yang begitu sempurna memainkan gitarnya, tetapi lebih kepada sebuah hiburan diri belaka dalam menerima kenyataan yang ternyata penuh dinamika.

Kalaupun ternyata menjadi hiburan bagi orang lain, itu tentu nilai plusnya, apalagi jikalau bisa menyentuh syarat minimal monetize channel youtube yang musti 1.000 subscribe dan 40.000 jam penayangan maka tahapan berbeda dalam ber-youtube akan ditapaki.

Jadi, kerjakanlah dengan señang hati. Hindari tekanan tetapi yakinkan bahwa kreatifitas dan produktifitas harus tetap mengalir dalam suasana apapun dan gunakan perangkat pendukung yang ada. Bisa bermusik, bisa bernyanyi, bisa membuat cerita dan dilengkapi ilustrasi lalu edit menjadi file video dan kembali upload di youtube dengan settingan ‘publik‘ agar dunia tahu sebuah kreatifitas telah hadir untuk mewarnai kehidupan ini, sekaligus sebagai legacy online bahwa pernah melakukan sesuatu yang menghibur atau mungkin dibutuhkan oleh orang lain.

Kalaupun tidak ada yang membutuhkan, tidak usah berkecil hati. Sebuah produk kreatifitas telah hadir dan biarkan dunia menilainya. Buat, upload dan ikhlaskan, … tenang khan?…

Nah kembali ke tulis menulis, maka kreatifitas yang baru inilah yang bisa juga menjadi objek tulisan. Bisa saling melengkapi sehingga channel youtube yang ada ditambah keterangan tulisan di blog lainnya, cakep khan?…. sekali lagi jangan berhenti menulis, sekecil apapun kejadiannya, tuliskanlah selagi sempat, selagi masih diberi kesempatan Allah untuk menjadi khalifahnya di muka bumi yang fana ini.

Selamat menjalani dan mensyukuri indahnya kehidupan ini, tetap berkarya dan berkreasi serta jangan lupa dukung channel youtube kami melalui 3 klik 1 ketik jempol atau telunjuk anda. Klik like, klik subscribe dan klik loncengnya serta tuliskan komennya agar kita senantiasa terhubung dan terinfokan manakala upload terbaru hadir di dunia per-youtube-an. Wassalam (AKW).

Menunggu.

Tunggulah sampai puas.

CIMAHI, akwnulis.com. Banyak yang berpendapat bahwa menunggu itu adalah sangat membosankan, apalagi menunggu yang tidak jelas alias di pehape (pemberi harapan palsu)… pasti sakiiit hati ini.

Biasanya pehape ini ditemani dengan kata kunci OTW, yaitu okeh tungguan we (baik tunggu aja yey)… yang akan muncul di baris pesan whatsapps dan pesan SMS. Atau gejalanya juga bisa dari berubahnya notifikasi WA yang biasanya centang biru pesan yang sudah dibaca jadi centang item aja… nah itu pasti ada alasan tertentu.

Jadi betapa beratnya menunggu kepastian, apakah jadi atau tidak untuk merengkuh kebahagiaan bersama…. cieeeh romantis, atau hanya permainan perasaan tanpa cinta belaka?….

Pertanyaan multi dimensi yang bisa dijawab dengan beraneka persepsi. Karena ternyata ada juga yang menikmati sebuah hubungan yang tidak pasti tetapi sebagai stanby buyer potensial … halah naon deui, kok jadi ngebahas right issue.

Maksudnya ya seolah ikhlas di pehape padahal dalam posisi siap menerkam dan menerjang untuk merebut perhatian dan menguasai semua potensi yang ada jikalau kesempatannya datang.

Jadi janganlah membiarkan sebuah rasa harus menunggu kepastian. Sampaikan bahwa hubungan ini tidak bisa dilanjutkan karena kuota perasaannya sudah tidak unlimited lagi. Dibatasi periodesasi janji dan didukung oleh ketersediaan pulsa yang terikat janji setia.

Selamat wayah kieu, jangan terlalu serius bacanya. Ini hanya coretan singkat karena harus menunggu sesuatu dalam kesendirian. Wassalam (AKW).

Kopi Dini Hari.

Ayo semangat kawan…

Photo : Seduh dulu arabica java preanger bjb / dokpri.

KBB, akwnulis.com. Sebuah lantunan musik alami menyapa ujung telinga dan mata hati. Meskipun suasana begitu sepi dan penuh misteri. Alunan musik alami menghadirkan sebuah semangat baru yang menguatkan kembali sendi – sendi kegalauan yang begitu kuat mencengkeram.

Perlahan tapi pasti, kesadaran hakiki tentang perjalanan duniawi adalah menjalani takdir yang sudah ditentukan Illahi Robbi. Tetapi sebagai mahluk-NYA, mendapat celah perubahan nasib melalui perantara Doa.

Maka seiring musik alami dini hari, sentuhan air wudhu, untaian kata doa dan ihtiar untuk berbicara mohon ampun pada-NYA adalah keharusan.

Galau itu manusiawi apalagi menyangkut keluarga, anak istri, orang tua dan saudara. Tetapi galau itu tidak cukup menyelesaikan masalah. Tariklah nafas sejenak, tetap fokus dan ikhlas menghadapi semuanya…… serta yang terpenting adalah senantiasa berfikir hal-hal yang baik, positif thinking tea geuning.

Nah, untuk pendukungnya kembali sajian kohitala, kopi hitam tanpa gula. Menjadi pendamping setia dalam suasana suka dan duka. Apalagi sedang galau, cocok pisan lur. Cuma memang manual brew mah lama jadi perlu yang praktis.

Alhamdulillah, salah satu bos BJB di beberapa waktu yang lalu mengirimkan kotak hitam yang elegan, berisi kopi arabica hasil grinder siap seduh yang dikemas menarik bin praktis. Kopinya arabica java preanger.. Nuhun pisan pak Bos. Ini stok hampir terakhir.

Ada 2 bungkus lagi, langsung buka, pasang di gelas server dan seduh dengan air panas 150gr. Setelah itu lanjut sekali lagi dengan bungkus satu lagi sehingga tersaji 300 ml kopi hitam tanpa gula arabica java preanger yang harum menggoda.

Tak lupa setangkup doa atas kesempatan kehidupan ini, Keluarga yang saling mencintai, pekerjaan yang salung dukung hingga pertemanan yang luar biasa termasuk juga atas kekuatan-MU untuk tetap bisa menulis dengan hadirnya ide-ide yang memenuhi kepala, tiada lain tiada bukan adalah Karunia Sang Maha Pencipta.

Dini hari bergerak menuju pagi, ditemani sajian kopi yang menenangkan hati. Selamat menjalani kehidupan ini, Wassalam (AKW).

Motif batik atau bukan?

Warna latar hijau dan merah, ternyata…

CIMAHI, akwnulis.com. Pada saat mata memandang sebuah warna merah dan hijau yang terhampar, ada sebuah motif menarik yang perlu ditelisik lebih seksama. Gambaran awal adalah sebuah motif batik dengan tema binatang.

Tetapi…. setelah mendekat, ternyata yang dihadirkan sebuah gambar yang berbeda. Ada 47 nyawa kecil yang tertangkap kamera dengan posisi tiada daya.

Kamu teh ngitung satu-satu?”

“Iya donk, khan tulisan ini harus dipertanggungjawabkan ke absahannya”

Sembari sedikit menahan nafas dikala melihat geliat akhir nyawa-nyawa kecil yang terjebak di hamparan lem kasat mata yang memeluk erat tanpa harapan, serta tidak sedikit yang pingsan atau sudah berpindah alam.

Ada sedikit rasa bersalah telah mengabadikan momen ini, tetapi memang kebetulan yang hadir dan tak boleh dilewatkan. Apalagi melihatnya terjebak dalam jumlah besar adalah peristiwa yang sangat jarang terjadi. Jadi didokumentasikan dan dituliskan.

Nah dari beberapa sudut pandang dapat dihasilkan beberapa persepsi. Sebagai seniman maka akan setuju dengan pendapat bahwa ini cocok untuk motif lukisan dan juga motif batik bertema hewan, karena penulis juga belum pernah mendapatkan motif batik dengan tema gambar rombongan lalat.

Jikalau pendekatan higienitas, maka ini berkaitan dengan lingkungan kotor yang mengakibatkan lalat berkembang biak dan beresiko membawa penyakit yang beresiko kesehatan.

Kalau aku mah simpel aja, ini sebuah momen berharga yang tak boleh terlewatkan. Karena kapan lagi menyengaja ngundang lalat dan kawan-kawannya terus diminta membentuk formasi menempel di satu kertas berwarna secara bersama-sama. Belum tentu sang ketua lalat mau ataupun anggotanya. Jadi perlu perjuangan keras kalau bukan ditakdirkan bersua hari ini dengan mereka.

Jadi pesannya adalah jagalah kesehatan dan ambil photo mumpung lalat lagi kumpul hehehehe.

Happy malming guys. Wassalam (AKW).

Menangkap Pagi.

Mengabadikan janji di detik pagi.

Photo : Sebuah pagi di Bandung Utara / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Memandangi birunya langit di sebuah pagi yang bersahaja adalah sebuah karunia. Apalagi ternyata puncak gunung dan bukit-bukitnya dihiasi awan putih bak kapas yang murni tanpa sentuhan kesalahan. Sebuah bukti keagungan Tuhan yang wajib disyukuri serta ditafakuri.

Maka luangkanlah waktu sejenak untuk berhenti, tarik nafas perlahan dan luaskan pandanganmu. Karena momen ini tidak terjadi setiap saat. Perhatikan lekuk alam yang indah dan murninya suasana pagi serta kesegaran alami dari udara bersih di pagi hari.

Karena, hadirnya pagi yang penuh keindahan ada waktunya, ada saatnya, ada detik dan menitnya.

Photo : Sebuah pagi juga / dokpri.

Coba saja biarkan 5 hingga 10 menit, maka suasana berbeda. Belum tentu ujung bukit pegunungan terlihat lagi karena tersaput awan atau malah lebih jelas karena mentari sudah meninggi.

Klo pengalaman sih, semakin siang, makin sulit mendapatkan suasana pagi yang penuh keindahan. Maka segera tangkap momentum ini dengan kameramu, atau kameraku. Paling praktis tentu kamera di smartphone.

Cetrek, dan nikmati. Lihat lagi hasilnya dan segera bersyukur atas kesempatan ini, masih bisa melihat dan mengabadikan lukisan alam Illahi di pagi yang penuh janji. Wassalam (AKW).

Arabica Puntang Harliman.

Lelah itu wajar, sruputlah aroma kehidupan.

KBB, akwnulis.com. Sejalan senja menyentuh rasa, sebuah asa menjalar dalam raga yang sedikit merasa kelelahan. Mungkin ini pertanda bahwa usia memang bukan untuk dilawan, tetapi disyukuri sambil terus memaknai segala perubahan dengan tasyakur keberkahan mengarungi kehidupan.

Lelah itu adalah niscaya manakala memang tetesan keringat bergulir karena beragam aktifitas. Baik secara phisik harus bergerak ritmik ataupun gerakan tak tentu yang akhirnya menguras tenaga dan usia tadi, ataupun menguras pikiran dalam rongga kepala untuk membuahkan sebuah keputusan dan konsep yang jitu dalam menjadi bagian sebuah solusi permasalahan.

Ada juga lelah rasa atau capai perasaan, ini yang lebih bahaya. Tidak terlihat tapi nampak, meskipun disembunyikan akan tetap terlihat betapa gelayut awan hitam beban kehidupan begitu kental tergambar di wajah yang penuh kesedihan. Ini lebih cape karena korbannya adalah perasaan, dan obatnya sangat bervariasi meskipun ujung-ujungnya adalah ikhlas dan sabar serta kepasrahan…. aduuh sedih akuu.

Tapi, itu bukan aku. Itu mah orang lain, aku mah cukup saja kecapean phisik dan kecapean mikir sesuatu aja. Terutama urusan kerjaan yang memang selalu ada banyak hal yang harus dikerjakan dan menuju perwujudan untuk dituntaskan.

Maka jangan lupa, jikalau lelah melanda dan waktu seakan begitu terbatas, jangan paksakan. Rehatlah sejenak dan tarik nafas sesaat, apalagi jika hadir sajian kohitala manual brew arabica puntang… maknyuus sudah.

Sruput….. arabica puntang Cafe Harliman pake metode manual brew V60.

Dengan panas 90° celcius dikala menyeduhnya, 15 gram beannya dan disesuh dengan komposisi 1 : 15 hadirkan sajian kopi hitam asli tanpa gula yang memiliki acidity medium high dan body tebal memahit khas arabica puntang serta dari sisi profile maka tetap hadir selarik mint dan rasa manis fruitty yang agak sulit dikala mencoba mendefinisi, pokoknya enak pisan…. sruput lagiii.

Insyaalloh lelah hilang berganti semangat gemilang, untuk lanjutkan menuntaskan tugas yang bejibun tanpa batasan.. srupuut… semangaaat, Wassalam (AKW).

***

RESAH

Tak perlu resah, tetaplah berkarya.

Photo : Kutrat kotret dulu / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Dikala berselancar di media sosial dan mendapati kenyataan bahwa ternyata banyak photo-photo dan video yang mempertontonkan rasa senang karena berada di objek wisata, hati menjadi resah.

“Kenapa?”

Entahlah, sebuah tanya menemani keresahan ini. Sejumput bingung menyelimuti keterbatasan ini.

Bukan apa-apa, ini masih pandemi. Virus covid19 masih berkeliaran, tetapi banyak orang juga butuh kesegaran dan kesenangan alias rindu piknik, apalagi diberi kesempatan hari libur yang sangat panjang…. sudahlah semua pasti beredar.

Motif kesehatan dan motif ekonomi saling berebut pengaruh sehingga inilah yang terjadi.

Tapi mengapa harus resah?, tinggal memilih saja kok. Apakah mau beredar bersama keluarga dalam suasana liburan yang ada ataupun berdiam saja di rumah dengan melakukan aktifitas bersama keluarga.

Jangan lupa bagi yang berlibur dan beredar musti banget pake wajib untuk ngikutin protokol kesehatan demi kebaikan diri sendiri, keluarga dan orang lain. Masker dipake, tetep jaga jarak, rajin cuci tangan pake sabun dan ready hand sanitizer yang bisa digunakan di berbagai keaempatan. Bawa peralatan ibadah sendiri dan seminimal mungkin hindari berkerumun…. ini yang susah, kaum liburan itu cenderung berkumpul dan meriung…. ah sudahlah.

Photo : Kohitala Manual brew Arabica JP / dokpri.

Ada juga yang terpenting adalah protokol doa, agar dihindarkan dari paparan virus covid19 ini juga penyakit-penyakit dan kesulitan lainnya.

Trus posting aktifitas liburan di medsos, boleh khan?”

Ya boleh-boleh aja, itu mah hak pribadi. Hanya saja tenggang rasa dengan saudara kita yang lain yang tidak bisa berlibur dan tidak mau berlibur karena menahan diri dalam suasana pandemi ini juga perlu dipikirkan. Termasuk mengendalikan keegoisan diri. Caranya gampang, balikkan saja posisinya dan cobalah apa yang dirasa.

Ah biasa aja perasaanku, klo aku diem di rumah dan liat postingan medsos saudara dan kolega yang sedang berlibur dengan ceria”

Photo : Kopi Americano no Sugar dibuatin orang / dokpri.

Sudahlah, semua punya hak dan perasaan masing-masing yang berbeda. Semoga semua baik-baik saja dan pandemi ini segera musnah atau minimal terkendali dengan hadirnya vaksin yang betul-betul teruji.

Trus supaya nggak resah ngapain?”

Akhirnya muncul juga pertanyaan ini. Tentu jawaban masing-masing pasti berbeda, aneka rupa dan macam-macam. Tetapi karena hadir tanya untuk penulis, maka obatnya sederhana, hanya 2 aktifitas yang paling mudah. Pertama adalah tulislah keresahan ini dengan tulisan singkat ala-ala sederhana dan kedua segera sruputlah kopi hitam panas tanpa gula, baik seduhan manual sendiri ataupun diseduhi… eh diseduhkan oleh orang lain… cukup itu.

Yuk ah menulis dan sruput kopi panasnya… nikmaat. Wassalam (AKW).

Plèn Bè – fbs

Geuning teu sami sareng nu dibayangkeun…

Fbs (Fiksimini Bahasa Sunda) adalah Sebuah karangan fiksi pendek maksimal 150 kata berbahasa sunda.

PLÈN BÈ

Teu seueur saur nalika Haji Ukan muragkeun putusan, ulah gaduh kahoyong nu diluar kamampuhna. Ditolak sapagojodan niat saè hoyong mihukum Nèng Anis nu janten murangkalih istri pang ageungna.

Hatè gudawang, teu aya kecap tur kalimah nu tiasa ngawakilan pegatna rasa tur runtuhna silaturahmi nu tos dipupuk ku duaan. Kitu deui paroman tuang rama, geuneuk nahan rasa tapi dalah dikumaha, kedah aya nu ngèlèhan. Pun biang tungkul bari rambisak.

Mangga Pak Haji, Simkuring sakulawargi amit mundur, hapunten parantos ngawagel waktosna”

“Nya mangga”

Dina panther rèntalan, pun bapa bendu, “Si Sarjang mah teu puguh, ngadon ngajak kanu teu eucreug, èra bengeut Jang!”

Uing tungkul teu seueur saur, rumaos parantos nguciwakeun nu janten sepuh.

Tring! aya pesen whatsapps. Langsung ngagorowok ka supir, “Mang Juma, ka katuhu ka Kampung Manglid”

Pun biang curinghak, tuang rama muncereng, “Lain rèk balik, kamana deui ieu tèh?”

“Nembè Nèng Nisa nga-WA, diantos ku ibu ramana ayeuna”

***