NYÈRÈNGÈH – fbs

Teu pira sakerejep wèh..

BRAMBANGAN, akwnulis.com. Panon geus dipeureumkeun bari teu poho babacaan, tapi kalahka beuki cènghar. Beunta deui bari ningali jam nu naplok dihareupeun, geus ngadeukeutan waktuna indung peuting.

Padahal beurang tadi pabeulit gawè cilingcingcat kaditu kadieu.  kuduna mah capè. Tapi beuki seger waè. Meuni kasiksa. Kahayang mah gèk diuk dina korsi nu merenah tèh tuluy nundutan. Reup sarè bari ngimpi nu èndah, kabayang nikmat pisan. Pas gigisik sautik, laju beunta tèh geus nepi ka nu dituju. Kari jrut turun, cènghar teu tunduh deui.

Tapi geuning kahayang ogè lamunan teu sajalur jeung kanyataan. Istuning patukang tonggong.

Babacaan deui, sugan wè pitunduheun datang. Panon dipeureumkeun lalaunan. Gebeg tèh, korsi gigireun aya nu nyèrèngèh.

Pas panon beunta mah suwung, korsi gigireun kosong euweuh sasaha.

Lalaunan dipeureumkeun, janggelek aya deui. Huntu rogès nyèrèngèh. Teu loba carita, nangtung bari beunta. Pindah kana korsi kosong di tukang bari teu eureun istigfar.

Karèk gè gèk dieuk, beunta kènèh. Gigireun geus nyèrèngèh. (AKW).

Cageur lur?

Duh teu kuat gan..

Gosrokeuuuun lur…

CIMAHI, akwnulis.com. Ti hareup eungap nyedek tina kekemplong nyundul kaluhur, ogè panas bunghak teu bisa hitut. Ti tukang nyèksrèk tonggong beulah kènca, cangkeul pisan leuwih ti ilaharna. Antukna dua poè dua peuting aduglajer nahan kanyeri.

Beuteung mules murilit tapi euweuh rasa keur miceunna. Bulak balik cingogo dina pacilingan, suwung nu aya, teu hitut – hitut acan. Balik deui ka pangkèng, nangkuban karasa beuteung seueul jeung nyeri. Giliran nangkarak, karasa tulang tonggong nyarugak kana raga bari teu eureun nyanyautan.

Geus hayang sahinghingeun ceurik, tapi èra kana awak nu sembada. Bakal peupeus atuh jajaka gaya jadi pèloy teu walakaya.

Jikan ijigimbrang nèangan ubar, mitoha rawah riwih karunyaeun. Ucing ogè ngadadak ogo jeung cicingeun, nyahoeun dunungan keur teu puguh rarasaan. Iwal ti budak wè nu keukeuh muntang hayang digandong.

Tah geus kieu mah karasa, ubar nu utama tèh du’a ka Gusti Alloh nu maha kawasa. Tangtuna ihtiar uubar ogè kudu dileukeunan. Tapi mènta cageur jeung panghampura tina sagala dosa jadi nu utama. Urang tèh ukur mahluk nu teu daya teu upaya, istuning ku kanyaah Gusti bisa kumelendang di alam dunya. Cag.

Cageur lur?….. 

SAKAW bin Kangen

Kangen boleh, tapi sabar juga sangat penting.

PASTEUR, akwnulis.com. Baru empat hari saja tidak berjumpa, ternyata rindu menggebu begitu menggelora. Apa mau dikata namun itulah kenyataan yang ada. Apalagi yang lebih tersiksa adalah kehadiranmu didepan mata namun hanya boleh disentuh tanpa bisa menikmatinya.

Padahal 8 tahun lalu, raga ini tidak begini. Bertemu denganmu biasa saja. Seperlunya saja tanpa dikuasai gelora rasa membuncah yang berbeda. Berbagai pilihan gayamupun tidak menjadi ketertarikan berlebihan, ya secukupnya saja.

Tapi seiring waktu berjalan, ternyata sekarang berbeda. Kehadiranmu berbeda, selalu bisa memberi inspirasi dalam menghias kata. Juga memberi nafas hadirnya ide dalam berkarya. Meskipun hasil karya sederhana atau mungkin masih sangat amatir dari segala sisinya, tapi itulah sebuah karya dari ide yang ada.

Kenapa harus bangga?” Harus itu, karena sesederhana sebuah karya yang tercipta lebih bermakna dibandingkan ide brilian yang hanya menari diatas angan tanpa berbuah hasil dan kejelasan.

Apalagi berbicara bentuk dan jenis makin menguatkan diri untuk selalu dekat dan tidak terpisahkan.

Namun itulah kehidupan, ada saatnya kita diingatkan sama Tuhan bahwa ini adalah dunia fana. Ada batasan dalam semua hal, meskipun hanya sementara.

Begitupun dengan dirimu. Sekarang harus berbeda. Hubungan kita dijeda karena keadaan yang berbeda.

Maksudnya apa ini?”

Lha malah nanya, ini khan lagi curhat. Kalau bahasa kerennya mah sakaw… sakit karna kaw, heu heu heu. Eh salah kebalik, karena sakit sehingga tidak bisa sementara bersama kaw :).

Jadi sudah 4 hari ini, libur dulu bercengkerama menikmati kenikmatan pahitmu, hai Kohitala kesayangan. Kopi hitam tanpa gula. Sebuah konsekuensi akibat kelelahan dilengkapi dengan keteledoran sehingga terjadi kompilasi kesakitan.. yakni gangguan di lambung sehingga perut kembung dan tidak bisa BAB juga secuil kentut sekalipun dilengkapi dengan otot punggung menegang (urat ngajepret) karena kelamaan duduk dibelakang kemudi dengan judul mudik dan balik.

Akibatnya depan kembung belakang bingung, tak bisa tidur 2 hari bikin limbung. Salah satunya yang dilarang ya itu tadi bercengkerama dan sruput kohitala harus ditunda, sambil menunggu asam lambung mereda.

Alhamdulillah, Allah Maha Penyembuh. Setelah ihtiar menggayem kunyit, jambu klutuk dan berkenalan dengan antangin JRG, norit, mylanta, lansoprazol, hingga mevinal plus terakhir donperidom & symbio juga tak henti berdoa kepada Illahi Robbi. Maka rasa sakit depan belakang ini telah berangsur pulih dan kembali membaik seperti sediakala. Meskipun menyentuhmu eh menyeduhmu masih belum berani karena khawatir berakibat sesuatu, maafkan aku. Wassalam (AKW).

KETUKAN TENGAH MALAM.

Sepi dan gelap hadirkan cerita singkat.

KUNINGAN, akwnulis.com. Pelan tapi pasti suara lirih dan ketukan teratur terdengar di pintu kamarku. Tapi tidak terlalu dipedulikan karena mungkin itu adalah bagian kecil dari mimpiku malam ini. Biarkan saja ah.

Tok tok tok!’

Namun ketukan itu kembali hadir seiring berjalannya waktu yang merambati tengah malam menuju dini hari. Aku terus terang terganggu, namun tetap saja diyakini bahwa ini hanya khayalan semata.

Kang… kaaang”

Walah, ternyata panggilan suara itu terdengar nyata. Suara serak tapi bernada. Berasal dari pintu luar kamar tidur utama. Dalam kemalasan maka perlahan memicingkan mata dan berusaha melihat keadaan sekeliling khususnya sumber suara.

Tapi…. ternyata semua gelap gulita. Hanya kehitaman dan sunyi yang menyergap rasa. Ada desir angin yang membuat kebekuan raga, sembari tak tahu dari mana sumbernya.

Suasana hening, raga terdiam. Konsentrasi, sambil memperkirakan posisi yang sebenarnya. Sehingga bisa diperkirakan posisi pintu kamar yang seharusnya.

Ketukan tadi telah hilang, termasuk suara panggilan. Sepi menyelimuti suasana tengah malam, hanya jangkrik yang setia bernyanyi di kejauhan.

Perlahan tapi pasti, kesadaran kembali pulih dan mampu memposisikan keadaan.  Berarti sedang tidur di ranjang dan pintu kamar berada di depan sebelah kiri dekat lemari besar kayu jati andalan.

Tak lupa komat kamit membaca doa yang bisa hafal, tentu baca dalam hati agar tidak menimbulkan kegaduhan. Beringsut turun dari ranjang dengan tangan keduanya ke samping dan ke depan khawatir menabrak sesuatu di tengah gulita yang mulai sedikit menakutkan.

Tok tok tok!’

Jantung hampir copot mendengar ketukan di pintu ternyata ada lagi. Seolah suaranya menggema dan menggetarkan hati, membuat ciut dan harus berhati-hati. Tapi ada hikmahnya juga, menjadi petunjuk arah untuk bergerak menggapai pintu.

Teringat akan smartphone, yang ada fitur flashlightnya, tapi ternyata tidak berdaya karena disimpan di ruang tamu sambil di charge. Wah gawat.

Kaki perlahan melangkah sambil telapak tangan menyasar dinding tembok. Permukaan lemari hingga akhirnya mendekati pintu kamar. Agak ragu untuk memutar anak kunci yang menempel di pintu. Tapi rasa penasaran semakin meningkat, siapa tahu diluar sana memang ada yang membutuhkan pertolongan.

Ayat kursi dan falaq binnas terus dibaca berulang dalam hati. Doa abadi penguat hati. Perlahan tapi pasti, anak kunci diputar ke kiri.

Cetrèk!

Pintu kamar pelan – pelan dibuka. Kegelapan kembali menyeruak dan menyambut raga. Mata dibelalakkan agar bisa menembus kegelapan. Namun ternyata semua gulita, sepi dan rasa dingin menyapa.

Kok nggak ada siapa-siapa ya,?” Bicara sendiri tapi dalam hati. Ada sedikit pergerakan di kuduk sehungga beberapa bulu berdiri. Pertanda ada rasa takut tapi juga penasaran, siapa yang iseng tengah malam begini.

Tiba – tiba mata melihat kilatan cahaya dan siluet gerakan seseorang secara acak di dapur belakang. Bergerak mendekat…. degup jantung bergerak cepat.

***

Ternyata ibu mertua yang sedang mencari sesuatu di laci dapur dengan bantuan cahaya dari senter hape, “Cari apa mah?”

Ibu mertua sedikit terkejut, tapi terlihat wajahnya senang. “Cari lilin, tapi lupa simpannya. Listrik mati kayaknya token listrik habis”

Siyaaap Mah” sebuah jawaban yang bikin plong semua. Hanya dengan gerakan jemari di aplikasi Mbanking, token listrik bisa dibeli dan langsung diisi. Alhamdulillah, lampu – lampu nyala kembali. Wassalam (AKW).

***

#Ceritaliburlebaran
#ceritamudik

SABAR & SURAT EDARAN

Tidak bukber dulu…

KUNINGAN, akwnulis.com. Sebuah catatan penting dalam berpuasa tentu 3 hal besar yang bisa membatalkan puasa yaitu makan, minum dan berhubungan suami istri. Namun ada hal yang lebih berbahaya dan tidak kasat mata, yaitu tergerusnya amalan ramadhan kita karena berbagai perilaku yang tidak sesuai tuntunan agama.

Berpuasa adalah menahan diri dari segala hal, melakukan berbagai tindakan yang baik serta memohin ampunan atas dosa -dosa selama ini. Plus menjadi patokan dasar dalam menjalani 11 bulan lainnya yang akan dijalani sebelum kembali dengan bulan ramadhan tahun depan. Amiin.

Itu banyak pisan amalannya dari mulai ghibah, berbohong, iseng berlebihan, menipu temen, nge-prank dan banyak lagi tindakan kita yang berpotensi menggerus amal shaum kita… hehehe kok jadi kayak ustad yaaa.

Nah dalam lingkup profesi juga ada hal yang perlu disikapi dengan sabar, yaitu hadirnya surat edaran menteri agama Nomor 08 Tahun 2022 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah pada Bulan Ramadhan  dan Idul fitri 2443 H/2022  tanggal 29 maret 2022 yang salah satunya mengatur tentang buka puasa bagi pegawai negeri sipil atau ASN yaitu pada poin 5 yang berbunyi : ‘Pejabat dan Aparatur Sipil Negara dilarang mengadakan atau menghadiri kegiatan buka puasa bersama, sahur bersama dan atau open house Idul Fitri.’

Lalu bagi masyarakat yang mau bukber (buka puasa bersama) bisa dilakukan namun dilarang ngobrol, ini penjelasan dari Juru bicara Satgas Covid19 nasional, Om Wiku Adisasmito. Maka reaksi tentu beragam dan sahut menyahut apalagi di media sosial. Tapi kembali ke rumus sabar tadi, maka pilihannya sederhana :
a. Melakukan buka puasa bersama baik dengan rekan kerja, mitra, alumni, kerabat dan sebagainya tapi dengan catatan hanya berbuka puasa dan makan saja, tetapi tidak boleh berbicara atau ngobrol.
b. Tidak berbuka puasa diluar, tetapi di rumah bersama keluarga saja atau jika tidak terkejar maka buka puasa di kantor saja.

Kalau buat ASN?… Gak bolehh say.

Kebayang khan, sudah 2 tahun bukber itu dibatasi. Ternyata sekarangpun masih dibatasi oleh yang berwenang. Ya sudah, anggaplah ini bagian dari latihan kesabaran di bulan ramadhan 1443 hijriyah ini.

Lagian, kalaupun sembunyi-sembunyi kita hadir dan melaksanakan bukber baik dengan kawan dan mitra tentu bisa dilakukan. Namun ketaatan terhadap surat edaran dan bentuk keteladanan kita sebagai abdi negara pelayan masyarakat akan dipertanyakan.

Maka bersabarlah kawan. Insyaalloh ada ramadhan tahun depan yang sudah bebas bisa bukber bagi ASN tanpa terkekang surat edaran karena pertimbangan yang lebih luas menyangkut kesehatan akibat penyebaran virus covid19.

Meskipun terus terang, diri inipun hampir tak kuat menahan keinginan untuk bukber bersama kawan-kawan, baik kolega ataupun mitra kerja dan alumni semasa SMA. Tapi kembali, itu tadi ketaatan dan keteladanan yang diutamakan. Satu kesempatan berbuka puasa di hotel berbintang 5 di pusat kota bandungpun dilakukan sendirian, meuni teungteuingeun yach…

Sebagai bukti dokumentasi bukber limited edition ini, photo secangkir kopi dan ornamen kubah dari kayu menjadi saksi bisu dari salah satu latihan kesabaran ini. Wassalam (AKW).

Arabica Giri Senang – sruput brow

Saatnya ‘me time’..

CIMAHI, akwnulis.com. Pasca shalat witir saatnya memanjakan diri dengan format ‘me time’ yang sederhana. Yaitu prosesi nyeduh kopi ala – ala menggunakan manual brew V60 dan peralatan seduh yang tersedia. Apalagi pesanan dari kang Yuda – CoffeeRush sudah hadir dihadapan mata. Tidak ada lagi alasan untuk membiarkannya. Mari kita mulai… jeng jreeeng.

Nama beannya arabica giri senang dengan proses natural. Berasal dari varietas sigararuntang & typica dari bukit palasari dengan ketinggian tempat tumbuh sang kopi adalah 1250 – 1350 mdpl.

Yup sesi ‘me time’ yang singkat tapi berarti. Karena waktunya singkat dan tetap masih bisa bersama keluarga dalam momentum persiapan menyambut idul fitri 1443 Hijriyah yang semarak dan berbeda, setelah 2 tahun didera pandemi sehingga mudik dan balik menjadi terlarang. Sekadang semuanya bisa, maka menyeduh kopinyapun sambil memantau laporan situasi arus mudik dari media televisi dan IGlive. Semoga para pemudik diberi kelancaran serta keselamatan.

Prosesi penyeduhan arabica Giri senangpun berlangsung lancar. Setelah di grinder agar menjadi serpihan kasar maka dilanjutkan dengan sentuhan air panas 92° celcius menggunakan putaran searah jarum jam… hmmm harum kawan.

Maka pelahan tapi pasti, tetesan cairan hitam segar dengan keharuman yang memanjakan cuping hidung ini begitu menggoda. Tak sabar untuk segera menikmatinya. Bejana server kaca kesayangan dan corong V60 pink dengan setia menemani prosesi ini termasuk gelas kaca kecil duralex yang sudah 3 tahun setia mengantarkan hasil seduhan kopi agar tiba di bibir ini untuk diseruput perlahan dan diteguk penuh perasaan.

Maka, setelah prosesi penyeduhan berakhir. Inilah saat yang dinantikan. Tuangkan kopinya ke gelas kaca duralex, angkat dengan tangan… dan… tempelkan ke bibir yang sudah tidak tahan.. srupuuut…. hmmmmm… rasa segar menyeruak menjadi sensasi dasar.

Dari sisi bodinya medium lite, tetapi aciditynya menarik rasa asam yang berbeda, tipis tapi ninggal dibawah bibir dengan rasa lemon yang kuat. Sementara setelah diteguk, hadir after taste rasa manis yang menyenangkan, mirip manis strawberry, tapi selarik saja hadir lalu perlahan pergi meninggalkan kenangan manis seperti cerita romantisme masa lalu… apa siiiih.

Alhamdulillahirobbil alamin, badan terasa segar dan menghadirkan setetes dua tetes keringat di kening sebagai tanda tubuh menghangat serta raga menguat karena sentuhan cairan kopi panas dan tentu kandungan kafein yang bergulat dengan kenyataan.

Selamat beribadah di minggu – minggu terakhir bulan ramadhan dengan segala keindahan dan keberkahan pahala yang berlipat ganda. Wassalam. (AKW).

***

TARIK NAFAS

Ternyata.. heuup… aaah

DAGO, akwnulis.com. Menata hati dan menjaga emosi adalah sebuah pertempuran abadi. Dikala gejolak jiwa muda berontak untuk mencari pembenaran terhadap kondisi yang ada, disitulah pertempuran tak kasat mata terjadi. Sebuah pertentangan kecil, bertumpuk dan tersusun hingga akhirnya mengkristal menjadi api amarah yang dikipasi oleh kewenangan dan kekuasaan. Apalagi jika sang pembisik sarat dengan kepentingan, maka kobaran amarah bisa membakar nalar dan segera mengejar untuk raihan kepuasan.

Hampir saja logika terselimuti oleh nafsu sesaat, dan mungkin akan mengakibatkan kerusakan yang besok lusa disesali. Manakala itu hampir terjadi, sejumput nurani masih bersinar menemani diri. Mengingatkan dengan satu kalimat, “Tarik nafaslah dan berdiam sesaat kawan.”

Pilihan yang bijak dikala kegalauan tingkat dewa mencapai puncaknya. Maka dipaksalah seluruh tulang dan otot yang sedari tadi menegang agar sedikit lemas dan rilek, dengan diawali sebuah tarikan nafas panjang. Lalu perlahan dilepaskan bebas kembali alam.

Heuuup….. aaaaah”

Sekali lagi ah, “Heuuup…… aaaah”

Ternyata mujarab kawan, perlahan tapi pasti otot dan urat nadi menjadi tenang, peredaran darahpun berjalan kembali normal tidak menumpuk disatu sisi dan akhirnya bisa berakibat fatal. Tulang bergerak mengambil formasi tidak resmi, dari sebelumnya menyangga raga penuh arogansi.

Mengapa kamu begitu mudah diprovokasi?”

Sebuah tanya memberi keteduhan lainnya, memberi tahu bahwa suatu kesalahan tindak hampir terjadi akibat sebuah reaksi diri yang melupakan check and recheck dan tabayun. Tapi emosi yang diutamakan akibat informasi yang sepihak dan bisa merugikan.

Tarikan nafas kedua ketiga dan selanjutnya mengembalikan lagi keseimbangan pada jiwa dan raga. Memberi ketenangan seutuhnya dan menyadarkan akan arti kehidupan singkat di dunia fana ini. Sehingga tidak perlu menegangkan otot dan mengikuti emosi, tapi kendalikan agar menjadi sebuah potensi yang menghasilkan sesuatu yang berarti. Wassalam (AKW).

BEBERES – fbs

Niatna bèbèrès, kalahka…..

BANDUNG, akwnulis.com. Tadina teu aya èmutan nanaon, basa bèbèrès di pangkèng. Kampuh ditilepan bantal guling dibariskeun, teu hilap kasurna digebugan nganggo sapu nyèrè. Teras mapay galar bari dielapan.

Sabot ngadudut juru seprè palih katuhu, nonggèrak remot tipi warna bulao mètalik. Pencètanna beureum sareng hèjo.

Ti iraha Ema sareng Apa nyoo rèmot?, pan teu aya tipi?” Gerentes dina hatè.

Remot bulao dialak-ilik, dibaca tulisanna aralit teu kaaos. Panasaran, tombol beureum di pencèt.

Dhuaaaar!!!!

Burinyay, poèk.

Pas beunta reuwas kacida, geuning keur aya di lapang kurusètra. Tèng waja pasulabreng. Dor dar sora mortir. Tangtara lalumpatan, marakè rompi jeung  bedil panjang.

URAA.. URAAA”

Aya tangtara gogorowokan bari ngadeukeutan. Uing ngahuleng.

Punten abdi mah Acèng”

URAAAA” Ceuk tangtara beuki deukeut.

Èlèh gèlèng bisi ngabedil, Uing gè ngagorowok, “URAA…”

Tangtara tèh langsung nangkeup bangun nu atoh. Uing gè ngarasa tengtrem.

Acèèèng!!!, kalahka molor dititah ngabèrèsan kamar kolot tèh!”

Uing ngarènjag beunta, pun bapa molotot bendu kacida. (AKW).

DIAJAR – fbs

Untungna kiat kènèh.

BAROS, akwnulis. Hujan kasontennakeun, nambihan karungsing tur kapaur. Sanaos dipapay disasar mah da teu aya masalah nu tumiba, “Tapi naha manah asa sangsara?”

Cobi diimpleng deui, bilih aya hiji perkara nu ngajantenkeun kahariwang rasa. Atanapi kajantenan nu tumiba, boh langsung kana raga atanapi keuna dina manah tapi nu midamel teu rumasa.

Abah tèh kunaon, meuni ngalimba?” Soanten jikan ngagareuwahkeun. Mupus lamunan ngècagkeun pikiran nu keur kumalayang.

Abah tungkul nahan kapaur, ilat teu kebat pangacian lumpat. Tapi neger neger diri supados kiat.

Teu nanaon mah, punten wè èta murangkalih sina ngalih barang tuangna”

Jikan surti, nuyun si bungsu ngalih ka dapur, “Hayu diditu emamna geulis, hawatos Abah”

Abah ngarènghap, rada reugreug ayeuna mah. Teu patos tagiwur ningali murangkalih ngalimed kana liwet sareng semur, ogè ès goyobod nu tiis amis. Margi mahrib tebih kènèh. (AKW).

TERAPI IKAN & LUWAK LIAR

Menanti magrib sambil dicumbu bibir imut terapi ikan.

GARUT, akwnulis.com. Cerita perjalanan kali ini bertema binatang lho, yaitu kombinasi dua jenis binatang berbeda yaitu ikan dan luwak. Mereka berdua bisa dipertemukan oleh sebuah cerita yang penulis susun berdasarkan pengalaman nyata.

Tema utama dalam tulisan selama ini adalah ngopay kohitala alias minum kopi dengan sajiannya kopi hitam tanpa gula, tentu dengan penyeduhan manual yang hasilkan citarasa apa adanya sekaligus mengeksplorasi rasa biji kopi yang sebenarnya.

Tetapi di bulan ramadhan ini aktifitas ngopay jelas berhenti disiang hingga magrib tiba, karena penulis sedang berpuasa. Sementara gelora menikmati kohitala tetap bisa terlaksana setelah tarawih atau ba’da isya, hanya saja penyajian di rumah tentu akan hadirkan kebosanan bagi pembaca. Juga biji kopinyapun tak banyak pilihan yang ada, tinggal kopi arabica natural sugih wangi dan arabica wine java preanger papandayan saja.

Maka perjalanan ke garut ini menjadi kesempatan untuk kembali eksplorasi kopi yang ada, tanpa tersekat batasan dari stok kopi yang ada. Hanya saja karena masih siang, mampirlah untuk shalat dhuhur asyar di sebuah mesjid yang asri yaitu mesjid Iqro di daerah leles kabupaten garut.

Mesjid ini begitu nyaman, bersih dan luas, ada yang unik bahwa untuk di dekat mihrab imam terdapat undakan anak tangga dan space untuk shalat. Begitupun di kanan kiriya ada lantai dengan ketinggian berbeda. Ini mempermudah membedakan bagi calon makmum untuk bergabung di jamaah shalat biasa ataupun jamaah shalat jama.

Setelah tuntas melaksanakan shalat barulah bersua dan bercengkerama dengan ikan – ikan kecil di dalam kolam yang begitu aktif membersihkan kulit mati di kakiku dengan judul fish spa atau terapi ikan.

Yup, mesjid Iqro ini begitu memanjakan siapapun yang akan menunaikan sholat dengan suasana yang adem dan dilingkupi pohon rindang plus fasilitas ditengah area masjid antara tempat wudhu dan tempat shalat terdapat kolam ikan yang berisi ikan-ikan khusus untuk lakukan terapi ikan.

Memang perlu waspada dengan terapi ikan ini karena beberapa pakar kesehatan memperingatkan kemungkinan penyebaran penyakit. Tapi menurut penulis, yang terpenting kaki yang direndam dan dikerubutin oleh ikan imut tapi agresif ini tidak ada luka terbuka sekecil apapun sehingga menghindari peralihan virus dan bakteri.

Tuntas shalat dhuhur dan asyar dalam kerangka jama qoshor, saatnya merendam kaki dan bercengkerama dengan mulut ikan imut yang terlihat bersemangat mencopoti kulit mati. Geli sekali rasanya juga seperti kesemutan, tetapi setelah konsentrasi dan mengatur nafas perlahan… Alhamdulillah… tetap geliii guys.

Kaki kiri tidak berani berlama-lama di rendam dalam air kolam ini karena masih ada jahitan pasca operasi yang khawatir menimbulkan luka baru karena di ciumi oleh bibir lembut kawanan ikan imut ini. Khan berabe nanti kalau terluka lagi.

Lalu kaitannya dengan binatang luwak adalah dikala adzan mahrib berkumandang, maka segera berbuka dengan potongan buah – buahan yang manis dan dilanjutkan shalat magrib. Lalu acara inti bersama luwak adalah menikmati sajian kohitala arabica java preanger Luwak liar dari gunung papandayan, cerita lengkapnya di KOPI LUWAK LIAR CIPANAS GARUT.

Maka tuntas sudah tulisan bertema 2 binatang ini, ikan di kolam dan luwak di biji kopi berjumpa bersama dalam tulisanku karena keduanya dalam waktu yang sama berjumpa di kabupaten garut. Selamat bermalam minggu dan bertarawih bersama. Srupuuut, Wassalam (AKW).