Bulao Bodas – fbs

Niat jeung tindakan nu ditungtungan ku hanjelu.

CIBOGO, akwnulis.com. Keur anteng nyuruput kopi, karasa mentegeg deui. Inget Si Kucrit, love bird bulao bodas nu geus teuing aya dimana, teu karasa panon beueus haté rakacak.

“Atos Akang, ulah diémutan waé, khan urang gaduh langkungna tilu juta” Sora jikan nu halimpu, beuki ngagejtrétkeun rumasa, ngagulidagkeun cimata, keuheul amarwatasuta. Ngan teu wasa.

“Bilih aya deui, love bird nu siga kamari, engké dibantos dipangicalkeun deui ku Mamah”

“Sumuhun Mah” waléran sopan bari unggeuk lalaunan. Padahal kakeuheul geus numpuk dina ubun-ubun, tapi tetep kudu sabar bin soléh.

Kabayang deui love bird bulao bodas, si Jawara kontés. Ditebak dina lélang tujuhlas juta, “Investasi ieu mah” kitu gerentes haté, bari ngajingjing mawa balik ka imah.

Ngan bisa kumaonam Jikan, diakukeun wé meunang meuli dua juta, bisi ngamuk. Téhaér can aya, ari manuk mahal dibeuli.

Ari pék téh….

Ayeuna tinggal carita, love bird ngilang, duit ngoléang. Raga nyangsaya dina tihang. Hanjakal. (AKW).

***

fbs : cerita fiksi singkat berbahasa sunda.

Teknologi & Kasih Sayang

Kemajuan jaman dan menjaga kedekatan adalah suatu tantangan.

Photo : Hasil make up anak kicik / dokpri

Semilir udara segar di Ibukota membawa gemuruh rindu kepada anak tercinta yang menapaki setengah waktu golden age-nya. Ada rasa kangen mendalam yang tak bisa dikatakan dengan sebaris kalimat indah yang sederhana.
Memang anak kecil itu memiliki takdir dan aura kehidupan yang menarik siapapun untuk menyenangi, mengasihi dan mencintainya. Apalagi orangtuanya yang ditugaskan Allah untuk menghadirkannya menjadi generasi penerus dimuka bumi ini.

Tiba-tiba sepenggal cerita kehidupan 4-5 tahun lalu hadir dihadapan, mempertontonkan wajah anak manusia yang berwajah muram hopless karena vonis dokter untuk dipaksa ikhlas tidak akan punya keturunan, ohh…. dunia serasa runtuh mendadak.

“Tuhan tidak adil, Allah pilih kasiih….” teriak histeris memenuhi ruang imagi, menyesakkan dada yang sudah luntur karena airmata ketidakberdayaan. Pada saat yang sama, sering bersua dengan teman sebaya bersenda gurau dengan anak-anaknya…. “Sungguh bahagia”.

***

Alhamdulillah dengan kasih sayang Allah SWT kepada hambanya, perlahan bisa bangkit kembali dari serpihan kesedihan jiwa dan meneguhkan kembali keyakinan serta menggenggam kebenaran bahwa : “Ketidakhadiran anak dalam kehidupan bukanlah segalanya, itu hanya fragmen kehidupan yang harus dijalani dalam waktu singkat di dunia fana. Nilai keikhlasan menerima kenyataanlah yang menjadi pengantar pahala dan menjadi nilai strategis untuk selalu bahagia.”

Itu dulu….

Sekarang sedang belajar untuk senantiasa bersyukur atas segala karunia Allah Subhanahu Wataala, termasuk hadirnya Istri yang sholehah serta anak syantiek sholehah yang memasuki usia 2 tahun 6 bulan, Ayshaluna Binar Wardana.

Dan sekarang Merindukannya.. Sangatt..

Nggak pake lama, buka aplikasi Video call, banyak pilihannya. Yang udah biasa dipake ya whatsapps vidcall atau goggle duo. Trus klo lawan bicaranya pake Apple bisa manfaatin aplikasi facetime…. banyak pilihannya… ya inilah jaman kemajuan teknologi dan anak-anak tumbuh bersama kemajuan jaman ini.

“Hallo, Assalamualaikum!!!!… lagi apa anak cantik ayah?”
Dilayar handphone nggak ada jawaban, hanya wajah lucu anak kicik yang merengut, bibirnya tertutup, tangan dilipat dan wajah membesi…. ngambek dari sonohnya. Karena tau ayahnya nggak pulang malam ini karena harus tugas di Jakarta hingga esok hari.

“Sayangkuuu……”

Tetep nggak ada jawaban dan anak kicik bertahan dengan wajah cemberutnya.

Akhirnya sesi video callpun berakhir tanpa ada sebait kata dari anak tercinta. Hanya doa dari istri tercinta agar tuntas tugas dan pulang dengan segera.

***

Esok harinya, sore yang cerah menemani kembalinya raga ini ke rumah. Baru saja membuka pagar depan rumah.

Teriakan, “Ayaaaah!!!….” memberi rasa bahagia tiada tara. Tangan mungilnya terbuka sambil berlari menyongdong kahadiran ayah tercinta dengan wajah ceria.

Secepatnya dipeluk dan digendong, terasa kehangatan kasih sayang menyeruak dan menelusup direlung rasa, memenuhi syaraf dan pembuluh darah hingga akhirnya membuat dopamin bergerak di otak wujudkan sensasi bahagia yang harus disyukuri bersama.

Ternyata, kemajuan teknologi hanya menjadi pendukung atau sarana menjaga kedekatan dan pola asuh anak di usia golden age-nya. Karena kedekatan hakiki dan nyata yang akan menjaga stabilitas emosional anak dengan orangtuanya. Bukan gunakan gadget atau peralatan canggih lainnya sehingga anaknya ‘anteng’ sementara ayah ibunya juga sibuk dengan smartphonenya atau tv kabelnya.

Yuk luangkan waktu lebih banyak untuk menemani anak diwaktu senggang atau libur. Ajak bermain dan bercengkerama tanpa membawa atau memainkan jemari diatas kibod virtual di smartphone kita..

“Bisa?…. “
“Susah euy”
“Itulah tantangan kita”

Harus kita perjuangkan sodara-sodara, di Thailand sudah sejak tahun 2014 kampanye
‘Technology Will Never Replace Love’

“Caranya ??”
“Ya itu tadi, puasa hape… eh berenti sejenak mainin hape atau smartphone dan ajak bercanda serta bermain anak-anak kita semaksimal mungkin……”

Apalagi menurut penelitian, dimuat di The New York Post, November 2017, menyebutkan di Amrik sana, rata-rata 8 menit orang-orang mengecek Handphonenya.. bahkan studi lain menyebutkan 1 dari 10 orang mengecek handphonenya setiap 4 menit. Sementara studi di Inggris rata-rata warganya mengecek handphone 28 kali sehari… (The Great Shifting; hal 50;2018)

“Coba kita berapa menit sekali?… jangan-jangan lebih parah xixixixi.”

***

Jadi mulai sekarang, lawan ketergantungan kita kepada handphone atau smartphone kita. Kendalikanlah bukan kita yang dikendalikan…

Semangaaat!!!!
Selamat mencoba. Wassalam (AKW).

Belatedly falling in love

My step stopped to see my Uncle was having fun with Haji Dartam’s wife. “It was not a figment, can now see with own head”, but i’m not sure, they could just meet to keep talking.

“Assalamualaikum Uncle Haji !!”, I kind of shouted. He looks shocked, his hands immediately released from the lap of Aunt Suminem.

“Waalaikumsalam, Has not been visiting for a long time”

“Incidentally Om, had sold furniture in the market, continue at once want to meet Uncle”

“Let’s go in”, Uncle invites to enter his home, Aunt Suminem followed with a flirtatious.

” Where Aunt and sister Amah? I asked. “Going to town,  there’s a business.”

I understand, then talk about other things because it has not been met for a long time.

Before saying goodbye, I whispered, “Sorry Uncle, what happens beetween You with Aunt Suminem?”

“Nothing, we just admire each other”

Violet faded accompanied by the singing of insects in the afternoon, accompanied the pique step of seeing the old man who belatedly falling in love.