Kopi Cerbon.

Sruput dulu…

CIREBON, akwnulis.com. Bukan dilihat dari hitamnya kopi, tapi ada faktor lain yang perlu menjadi dokumentasi. Itulah salah satu daya tarik menulis tentang kopi, banyak faktor yang melingkupi.

Kopi ini jelas jenis bean biasa, yang pasti robusta, pahitnya khas tanpa rasa lainnya. Tapi dibalik kepahitannya tersimpan pembeda, yaitu cangkir yang disajikannya. Cangkir keramik putih berlogo… eh lambang.

Pasti langsung di zoom, lambang apa?… ini lambang pemerintah Kabupaten Cirebon dengan ‘Rame Ing Gawe Sepi Ing Pamrih’ adalah motto ksatria yang giat bekerja keras dengan harapan yang suci.

Selamat menikmati secangkir kopi dinas, sambil menunggu saat yang tepat membahas sebuah perubahan kelembagaan yang penuh dinamika.

Sruputtt, Wassalam (AKW).

Mendaki Lagi..

Akhirnya bisa menaiki hati, eh menaiki gunung andesit nan eksotis.

Photo : Santai duyuuu pren / pic by mr B.

Chapter 3
MENDAKI LAGI.

GUNUNG PARANG, akwnulis.com. Setelah beristirahat sejenak di sebuah bangunan tradisional sunda atau saung yang ternyata adalah warung, bisa sambil pesen kopi dan makanan ringan, kami disambut kang Baban, pemandu pendakian kali ini. Orangnya masih muda, ramah dan penuh percaya diri.

Tuntas duduk sejenak, kami bergerak mengikuti jalan dan mulai menaiki beberapa tangga menuju bangunan saung diatasnya yang berfungsi untuk tempat brefing persiapan pendakian sekaligus pemasangan alat-alat pengaman selama pendakian.

Ini adalah lanjutan cerita PERSIAPAN PENDAKIAN

Kembali dipertemukan dengan harnes, tali temali, carabiner dan helm pengaman serasa dejavu dengan kesenangan masa lalu yang sangat sering pergi ke gunung, yaitu Gununghalu… xixixixi… (itu mah nama kampung kelahiran dan orangtua atuh gaaan…..🤣🤣🤣🤣).

Tidak lupa berpose dulu dengan background spanduk Badega dengan berbagai photo pendakiannya… semangaaat, serasa adrenalin di dalam raga ini bergerak cepat dan detak jantung petualangan kembali berdegup lebih kencang dan perasaan tertantang begitu besar, Bismillahirrohmannirrohim.

Petualangan dimulai….

Bersama dua orang rekan dan satu orang pemandu, berangkatlah kami menapaki jembatan bambu yang sudah dibuat oleh para pengurus Badega Gunung parang ini untuk mempermudah pada pendaki pemula mencapai titik awal pendakian, karena sebelum ada jembatan bambu ini, harus berjuang lebih keras untuk mencapai titik pendakian.

Ternyata, perjalanan menapaki jembatan bambu ini terasa menyesakkan dada…. ketahuan jarang olahraga dan…. kegemukan yang mendera hihihihi….. jembatan bambu menanjak, belok kiri belik kanan, nanjak lagi… pegal menggerayangi lutut dan paha, tapi lawaan… kami bisaaa….

Pepohonan liar memberi tanda bahwa ini bukan saatnya main-main, mari belajar menyatu dengan alam, jangan lupa berdzikir dalam hati meminta selalu perlindungan dari Illahi Robbi.

Photo : Ee luwak ada biji kopinya / dokpri.

Langkah kaki perlahan tapi pasti, menapaki seutas janji untuk mencoba memenuhi tantangan menaiki gunung batu andesit ini, kondisi jembatan bambu yang agak elastis menjadi hiburan tersendiri sehingga agak ancul-anculan jikalau kita sedikit meloncat, ditambah juga nemu ceceran kotoran luwak yang lengkap dengan biji kopinya, “Ada yang mau coba?“….

***

20 menit berlalu dan sampailah kami di titik awal briefing, sebuah tempat cukup datar dan ada juga ayunan kayu dengan latar belakang pemandangan alam yang menakjubkan khususnya Danau eh bendungan Jatiluhur yang mempesona…. hilang sudah pegal dan penat yang tadi mendera disaat menapaki jembatan bambu yang cukup panjang dan menanjak ini.

Photo : Ayo manjaat / pic by mr B.

Tapi….. pendakian sebenarnya sedang menanti setelah briefing singkat ini.

Intinya, keamanan adalah yang paling utama, sehingga pemahaman, disiplin dan konsentrasi menjadi luar biasa penting termasuk kerjasama tim akan menentukan keberhasilan pendakian ‘mini’ ini…..

Carabiner harus selalu mengunci bergantian di sling adalah syarat mutlak pendakian ini. Pola pasang lepas pasang ini yang akan menjadi tantangan teknis. Klo urusan takut ketinggian sih… udah jelas dari awal, yang tidak berani ya sudah tunggu dibawah…. yang berani lanjut… yang berani diatas 75% lanjut, yang ragu-ragu… kembali, gitu aja kok repot.

Tuntas briefing terbitlah saat penting, memandang tebing batu andesit yang menjulang tinggi terasa mulai menggetarkan hati. Tetapi adrenalin terasa lebih banyak reaksi, pompakan semangat tiada henti.

Photo : Rehat sejenak di sela pendakian / pic by mr B.

Dihadapan kami trek pendakian sangat jelas apalagi dilengkapi pegangan besi beton yang tertancap kokoh di sepanjang pendakian.

“Oh pake pegangan besi, gampang klo begitu mah, aku juga bisa”

Nggak terpengaruh dengan komen kacangan itu, sekarang bukan hanya bicara tetapi aksi nyata. Klo sudah naik dan turun bersama, baru silahkan komentar sesuka-sukanya.

Perlahan tapi pasti, tangan memegang pegangan besi, tangan kiri memasang carabiner di sling dan kaki bergerak mengangkat tubuh keatas, perlahan tapi pasti….. akhirnya manjat lagiiii, Alhamdulilah.

Woaaah, angin mulai menerpa raga ini dan pijakan awal terlihat menjauh, detak jantung berdegup kencang, doa dipanjatkan, semoga semua baik-baik saja.

Ternyata… tantangan pasang-lepas-pasang carabiner di sling yang cukup merepotkan di awal tetapi setelah terbiasa, pendakian bisa berjalan cepat dan penuh semangat, perkampungan sekitar Gunung Parang dan kebun serta bendungan Jatiluhur menemani naiknya raga ini menyusuri gunung padang yang eksotis dengan fasilitas via ferattanya.

“Penasaran dengan istilah Via Feratta?… itu bahasa italia, artinya menggunakan besi, jadi disini pendakian dengan menggunakan besi pegangan… satu-satunya di Asia lho guys, keren khan?…

***

Perjalanan 2,5 jam mendaki hingga kembali turun dari pendakian Gunung parang ini menyisakan memori yang penuh arti, pengalaman luar biasa serta tes adrenalin yang nyaris sempurna. Ditemani pemandu pendakian, Kang Baban Badega GP yang ramah dan cekatan serta menghibur dengan lagu-lagu masa kini dari tas ransel yang dipakainya juga photo-photo akfitas pendakian menjadi momen tidak terlupakan.

Apalagi demi sebuah ciri pendakian yang berbeda, kami mencoba memggunakan baju batik kebanggaan masing-masing, sehingga pose diatas sana bukan pake baju olahraga biasa hehehehe…. meskipun terus terang lebih gerah dari biasanya.

Monggo yang mau mencoba, tinggal kepo-in aja IG : Badega Gunung Parang, biaya pendakian per-orang mulai dari 120rb untuk ketinggian 250 meter , atau 160ribu untuk 300 meter dengan jalur naik dan turun berbeda, atau bisa juga sampai puncak dengan biaya 360rb/per orangnya.

Insyaalloh aman selama mengikuti instruksi pemandu, pasang peralatan yang tepat, dan konsentrasi yang tenang, ada asuransi juga trus yang paling utama adalah berdoa kepada Allah SWT agar senantiasa mendapat perlindungannya. Juga klo nggak barengan sama pasangan hidup, istri atau suami, minta ijinlah demi kebaikan semua (xixixixi…. pengalamann pribadi yaaaach?… gubrak).

Photo : Sedikit mengambang dulu / Pic by Mr R.

Udah dulu yaaach, eh satu lagi, jika sudah turun dari pendakian, istirahat dulu sejenak di tempat awal pemberangkatan… luruskan badan, kaki dan hati, tarik nafas dalam-dalam sambil berucap syukur atas kelancaran pendakian hari ini.

Setelah istirahat mendinginkan badan, bisa juga mandi di kamar mandi yang tersedia, airnya segar dan bersih, ganti baju dan tentu shalat jika sudah tiba waktunya. Selamat mencoba mendaki kawan, jangan hanya mendaki hati tapi coba mendaki gunung andesit ini. Wassalam (AKW).

***

Menuju Gunung Parang.

Lokasi pendakian adalah tujuan, berangkat.

Photo : Terbang dulu yuuk… / dokpri.

Chapter II

PERSIAPAN PENDAKIAN, lanjutan dari chapter I. Keinginan vs BB.

PURWAKARTA, akwnulis.com. Berat badan menjadi pertimbangan karena khawatir tidak kuat dalam menghadapi tantangan kenyataan. Tetapi semangat dalam diri tetap membara dan ingin membuktikan bahwa serpihan keberanian dan kemampuan itu masih ada, masih tersisa.

Segera berkontak dikala mulai merasa siap dan berat badan menjadi pembahasan prioritas, ternyata jawabannya menyejukkan, “Ah segitu mah nggak berat atuh Kakak”

Agak plong perasaan tertekan yang ada, langsung bersiap dan bersegera menyusun rencana, sebuah rencana yang pernah tertunda bertahun lamanya.

Berangkaaat……

Eh, persiapaaaaan…. dulu atuh.

***

Perjalanan dari Bandung ke lokasi yang sudah diimpikan bertahun-tahun lalu terasa menyenangkan, meskipun di tol Cipularang ada suasana sedikit beda, apalagi mendekati km93-91, rata-rata pengendara mengendurkan kecepatan dan lebih berhati-hati, sambil sesekali memandang sisa-sisa bukti benturan dan goresan akibat tabrakan karambol yang melibatkan 21 kendaraan beberapa waktu lalu,

Semoga para korban meninggal khusnul khotimah dan yang luka-luka kembali sehat seperti sediakala begitupun keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, keikhlasan dan ketawakalan.’

Mobil terus melaju….

“Bentar.. bentar, memangnya kakak mau kemana dan ngapain?”

Jawabannya senyum dikulum dam tatapan penuh arti, meskipun moncong kendaraan sudah menuju kepada arah yang pasti. Keluar dari pintu tol Jatiluhur belok kanan menuju daerah Sukatani. Selanjutnya tinggal ketik saja ‘Badega Gunung parang’ di aplikasi gugelmap.. dan ikuti perintahnya.

Dari keluar pintu tol hingga sampai di TKP memakan waktu sekitar 35 – 40 menitan, dari jalan utama purwakarta – bandung belok kanan melewati pasar anyar sukatani, daan… beneran masuk pasar… kendaraan berjalan perlahan menyusuri jalur pasar yang ramai pengunjung, hingga akhirnya melewatinya dan memulai perjalanan di jalan kampung yang cukup sempit tetapi lumayan sudah beraspal… ikuti saja belokan demi belokan.

Buat yang belum pernah ke lokasi dan suangaat bergantung dengan gugelmap

…..Pastikan pake operator yang internetnya stabil, jangan sampai putus petunjuk ditengah jalan dan akhirnya kebingungan….

…eh tapi jangan takut juga, gunakan saja ilmu dasar komunikasi, berhenti sejenak dan bertanya dengan santun kepada orang yang ditemui.

“Dupi ka Gunung parang ka palih mana?”…. Pasti dapet jawaban, kecuali nanyainnya ke sapi atau ayam.. dijamin makin tersesat kawan.

Kami kebetulan mengaktifkan guglemap di masing-masing smartphone dengan operator seluler yang berbeda, sehingga bisa saling melengkapi sekaligus membully kawan yang sinyalnya hilang terus hehehehe.

Ke lokasi Gunung parang ini lebih enak pake motor, tetapi jikalau berkendara roda 4 hindari pake sedan apalagi yang ceper, ntar nyangkut lho karena beberapa titik jalan mendekati tkp dalam kondisi yang cukup menantang dan sebaiknya kendaraan yang ground clearence yang tinggi… ya kayak avanza/xenia, elf,panther,kuda,katana,crv… lhaa kok disebutin semua?…… atau seperti kami menggunakan Toyota Rush (kok jadi kayak iklan ya?)…

Lanjutt……

Tiba di tempat yang dituju disambut dengan gerbang ‘Badega Gunung Parang’, perlahan tapi pasti kami memasuki area parkir dan disambut suasana alami dengan background gunung batu yang menjulang tinggi.

Photo : Nangkring di saung warung / Pic by Mr R.

“Alhamdulillahirobbil alamiin, akhirnya kami bisa tiba disini, tempat yang sudah lama ingin mencoba dan merasakan tantangannya”.

Segera menuju saung dan ternyata warung, sebagian lagi bergegas ke tanah lapang untuk berpose dengan latar belakang gunung parang…

woy….. ikutaaaan… loncaaat… cetreek.

To be continue Chapter III, MENDAKI LAGI. Wassalam (AKW).

***

Keinginan vs Berat Badan.

Keinginan harus memperhatikan banyak hal.

Photo : Masih 58-62 kg – 2005 / dokpri.

CHAPTER I

PURWAKARTA, akwnulis.com. Sejak beberapa tahun lalu, ada rasa yang tidak biasa, muncul suatu keinginan yang berbeda dikala melihat berita ataupun sekedar cerita tentang sesuatu yang menantang diri untuk dicoba.

Meskipun terus terang terasa sangat riskan dengan kondisi sekarang, maksudnya kondisi phisik yang sangat berbeda dengan masa lalu yang bugar, segar dan ringan.

“Kok ringan sih gan?…”

Sebuah pertanyaan pendek yang ternyata malah menjadi terawang panjang akan cerita masa silam. Dimana masa-masa ideal…. ahay. Maksudnya berat badan masih dibawah 60 kilogram, tepatnya 58 kilogram dengan penampilan unyu-unyu dan badan tegap baru lulus pendidikan…..

Tapi… hanya berselang 3 tahun, peningkatan berat badan begitu cepat bergerak bagaikan deret ukur bukan deret hitung, hingga menyentuh angka 100 kilogram, fantastis…… hampir meningkat 2x lipat.

“Kenapa itu bisa terjadi?”

Jikalau diingat lagi, ini adalah kombinasi dari berbagai faktor yamg saling melengkapi. Pertama, disiplin olahraga yang musnah ditelan rutinitas baru menjadi pns muda. Lari pagi rutin sudah ditinggalkan, push-up 100x perhari sudah terlupakan serta olahraga rutin lainnya.

Kedua, makan tidak teratur. Maksudnya bukan jarang makan, tetapi jarang makan tepat waktu…. jadi makannya kapan saja dan lebih sering sehingga bukan sehari 3x… bisa sehari 7x hingga 8x… ajib khan?

Ketiga, yang dimakannya adalah makanan enak berlemak dan santan bikin nikmat. Sesekali sih sayuran dan buah, tetapi mayoritas adalah makanan resto padang, kikil/tunjang, gule kepala kambing, lidah, sop kaki, sop buntut, sate lemak dan beragamnya, rendang, seafood, serta bakso rudal, bakso keju, mie ayam, cuankie indomie, aneka kerupuk dan keripik, plus kue-kue serta snack yang selalu tersaji hampir setiap saat (waktu itu).

Keempat, aktifitas begadang yang cukup sering seiring tugas jadi ring 1 orang nomor 1 di Sumedang waktu itu ditambah status bujangan yang masih mencari pencerahan jiwa, sehingga waktu 24 jam serasa kurang untuk menjalani kehidupan.

Kelima, ketersediaan makanan dan kudapan serta minuman yang always ready di rumah dinas ataupun ditempat acara, tinggal ambil nikmati dan bahagia.

Photo : Posisi 99 Kg / dokpri.

Keenam, tentu tekanan tugas yang bejibun dan tak kenal waktu termasuk tiada kalender libur sabtu minggu, maka kompensasinya adalah jika tertekan maka makan, sedih langsung makan, senang juga makan, akhirnya setiap bulan musti ukur ulang baju yang dipakai karena lingkaran pinggang terus membesar.

“Oh my God”

Singkat cerita, 3 tahun ‘penggemukan‘ telah berlalu dan seiring perubahan rezim yang berkuasa maka kesempatan berpindah tugaspun terbuka…. Nyatanya, mengembalikan berat badan ke berat ideal semula terasa sia-sia karena di tugas lapangan justru semakin besar kesempatan kita bertatap mata dengan masyarakat yang begitu bersukacita di kala kita bisa menyantap dengan lahap hidangan yang disajikan oleh mereka.

“Oalaaah… terus sekarang udah kelihatan lebih ramping gan”

“Ramping pale lo, ini masih di angka kepala sembilannnnnn sembilaan”

“Lemu nian gan, heu heu heu”

***

Perbincangan sengitpun berhenti seiring dengan rencana dan keinginan yang terpendam ini, sebuah pertanyaan menggelayut, “Dengan berat badan sekarang, kira-kira mampu nggak yaaa?”

“Mampu apa siih?”

Penasaran yaaaa?…. sebagai jawabannya monggo klik DISINI SAJA : CHAPTER II. Wassalam (AKW).

***

Toraja Ambesso vs Pulu-pulu

Hikmah ketidaksengajaan..

Photo : Sajian V60 Arabica Toraja Ambesso / dokpri.

KBB, akwnulis.com. Ketidaksengajaan itu adalah kesengajaan, sebuah kalimat kontradiktif yang ternyata memang benar jikalau dilihat dari kacamata takdir.

Problemnya adalah esensi sudut pandang, sebagai manusia yang hanya miliki sedikit kemampuan memprediksi hati esok akan berfikir ini adalah momen kebetulan, momen ketidaksengajaan.

Padahal, semua manusia membawa takdirnya yang sesuai dengan letter of intent dan memorandum of understanding bersama Allah Swt di Lauh Mahfudz dengan sebuah syarat mutlak bahwa tidak tahu takdir ke depan seperti apa.

Begitupun siang ini, datang ke jajaran ruko bermaksud membeli sesuatu sambil lihat-lihat layar smartphone, pas buka pintu toko yang dituju, “Kok pintunya geser bukan membuka seperti biasa?”

Photo : 3 Pilihan kopi / dokpri.

Trus pas masuk, bukan toko roti tetapi cafe kopi…. oalahhh salah pintu, harusnya geser ke kiri, itulah toko yang dituju.

Eits bentar dulu, cafe kopinya serius inih mah, peralatan manual brewnya lengkap. Ya sudah pesen ah.

Kopi biji yang tersedia hanya 3 jenis yaitu Toraja Ambresso, Toraja Pulu-pulu dan Lintong. Semuanya jenis kopi arabica.

Photo : Sang Baristi beraksi / dokpri.

Segera sang baristi beraksi membuat sajian manual brew pertama dengan filter v60, suhu 92° celcius menjadi pilihannya dan biji yang digrinder kasar adalah arabica toraja ambesso.

Penyajian dengan botol server kaca bening dan 2 gelas kecil memberikan kesempatan untuk dinikmati bersama Istri tercinta… srupuuut, aciditynya medium dan body lumayan hampir strong dengan rasa buah-buahan tropis meskipun hanya selarik.

Penasaran dengan biji kopi satu lagi yaitu Arabica Toraja pulu-pulu…. peseeen.

Kembali baristi beraksi, dengan komposisi dan suhu yang sudah pasti maka hadirlah sajian kedua, untuk kembali dinikmati bersama… sruput lagiii…

Enak euy, komposisi body dan aciditynya pas dan strong ditambah after taste fruittynya ‘ninggal‘ merata di sekitar lidah…. Alhamdulillah.

Inilah salah satu ketidaksengajaan yang menyenangkan, bisa menikmati sajian kopi yang diolah oleh tangan terampil dengan bean terbaiknya serta suasana cafe yang relatif sepi, cocok bingit buat berelaksasi sejenak dan menarik nafas kedamaian. Happy Wiken kawan, Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Blossom coffee – Ruko Pariwarna Niaga KBP – Bandung Barat.

Kopi Cikuray pengobat lara.

Jangan bersedih…

Photo : Sajian Arabica Cikuray by V60 / dokpri.

KBB, akwnulis.com. Semilir angin dan birunya langit menemani hati yang sedang terluka karena seutas kata serta seutas kalimat yang mungkin tidak disengaja.

Merenung dan terdiam sambil berusaha menarik nafas panjang yang diharapkan penuh kedamaian dan memberikan ketenangan, tetapi.. rasa masgyul masih bersarang di dada dan mengganggu pagi ceria.

Harus ada cara agar semua kembali baik-baik saja, harus itu.

Mencoba berkeliling di sepanjang horizon harapan sambil memandang sekeliling, ternyata masih banyak rasa optimisme dan semangat berkarya diantara kubangan egoisme dan perpecahan, “Masih ada harapan”.

Segera menukik menjejak bumi, menapaki kenyataan dan menemui sang baristi untuk menikmati racikan kopi, semoga bisa menenangkan hati dan kembali segar seolah baru terbangun dini hari.

Sajian pertama adalah V60 Arabica Cikurai dan dilanjutkan Arabica aceh gayo, semua dengan suhu 90° celcius dan perbandingan khusus ala baristi disini. Sebuah cafe di lereng bukit yang menghadap langsung gunung burangrang.

Masalah rasa memang dipengaruhi biji kopinya, tetapi itu baru satu faktor, banyak faktor lain yang mempengaruhinya. Sentuhan racikan tangan barista/i dengan rumus komposisinya, suasana tempat nyruput kopinya serta siapa yang menemaninya hehehehe.

Photo : Arabica Papandayan + Teh Jahe Lemon / dokpri.

Perlahan tapi pasti, rasa galau bin masgyul menyusut dan memuai… hilang ditelan suasana kedamaian alam. Berganti optimisme diri dan semangat untuk menjalani hari tanpa terganggu kegalauan yang tak berkesudahan.

Apalagi dilengkapi sajian kedua, Kopi arabica papandayan dengan metode V60 dan segelas teh jahe lemon, makin bikin seger dan béngras… nikmat dan menambah semangat.. eh mengembalikan semangat untuk menjalani cerita kehidupan selanjutnya.

Satu lagi, makasih Mr H atas traktiran ngedadaknya, katampi hehehe.

Selamat menikmati hari yang kembali ceria kawan. Jangan lupa untuk mensyukuri sekaligus menikmati sajian kopi, Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Meloh cafe & tents – KBB, http://www.Meloh.co.id