Kopi Karatina Kenya di HALOKa.

Menikmati sajian kopi manual brew di Kota Kembang.

BANDUNG, akwnulis.com. Disaat sesi makan siang, maka berhamburanlah berbagai jenis orang dan profesi untuk beredar dalam rangka mencari sesuatu untuk mengganjal perut dan dahaga yang mungkin ditahan selepas sarapan pagi tadi.

Ada juga yang belum sarapan pagi demi alasan pengiritan dan takut kesiangan tiba di kantor. Jadi cuma setangkup roti isi telor ceplok saja untuk sedikit mengganjal perut.

Walah itu bukan sarapan?”…

Bukan atuh, sarapan mah harus nasi”

Sebuah jawaban pasti dari USA (urang sunda asli) heu heu heu, jadi sarapan dan makan siang atau malam itu harus nasi atau sangu, makanya ada istilah…. SANGUAN.

Padahal sarapan mah bebas yang penting ada unsur karbohidrat dan protein plus sayuran, tapi kalau nggak sempet yaa…. makan siangnya yang dibanyakin menu sayuran. “Setuju khan?”

Setuju pisan, nggak usah nasi juga gapapa. Bisa diganti lemper, bubur, kupat, buras, lontong dan sebagainya…. nah disini penulis terdiam, karena yang disebut barusan adalah berbahan dasar sama dengan nasi hehehehe.

Udah ah bahas sarapannya, sekarang kembali ke tujuan penulisan, yaitu bahas si kopi hitam kesayangan.

Maka bergeraklah raga menuju jalan Veteran di Kota Bandung untuk menikmati kopi asli kohitala dengan metode manual brew V60 sekaligus makan siang.

Nama tempatnya HALO KA, sebuah nama yang ramah dan familiar maka jangan ragu membuka pintu cafe menuju ruang dalam dimana sang barista dan pelayan serta koki menanti.

Setelah basa basi sebentar, sang barista bernama Bisma memulai pembuatan sajian manual brew V60 dengan pilihan beannya adalah arabica karatina kenya.

Tring….. proses lengkapnya bisa dinikmati di channel youtubeku : MENIKMATI KOPI DI HALOKa.

Setelah disruput dengan nikmatnya, terasa menghilangkan segera dahaga perkopianku. Bodynya medium saja dan after taste standar tanpa ada sejumpul rasa ninggal. Sementara after tastenya ada rasa selarik manis dan juga asam dari lemon yang memberi pengalaman kesegaran kali ini.

Menu cemilannya juga banyak dan menu makanan beratnya juga spesial, malah ada paket makanan yang nggak berat di kantong. Ntar deh ditulisnya, mau nyruput duluu….. slruppp. Alhamdulillah.

Met weekend kawan, Wassalam (AKW)

***

Kafe Haloka, Jl. Veteran No.7 Kebon Pisang, Kec. Sumur Bandung Kota Bandung.

ARABICA SUNDA GULALI

Sruput dulu Arabica Sunda Gulali…

BANDUNG, aknulis.com.  Gerakan uap panas diatas gelas kaca menebarkan keharuman yang melengkapi kenikmatan kali ini. Secara kasat mata liukannya begitu menggoda, apalagi cairan coklat bening kehitaman yang berada di gelas kaca, penuh rasa.

Lalu ternyata pilihan biji sebagai sumber kenikmatannya adalah Arabica Sunda Gulali, tentu hasil kurasi dan penyeduhan sepenuh hati sang baristi eh barista, lengkap sudah kenikmatan kali ini.

Maka segeralah jemari lentik neng barista menakar bean arabica sunda gulali 15 gram. Segera di grinder ukuran 3 untuk hasilkan serpihan kasar yang cocok untuk manual brew kali ini. Lalu setelah kertas filter V60 dibilas dengan air panas maka giliran serpihan bean bertemu dengan semangat di panas air yang hadir melalui ujung teko gooseneck hingga maksimal 220 ml pada suhu 96° celcius.

Perlahan tapi pasti, tetesan seduhan kopi memenuhi bejana kaca dengan segala keharuman yang menggoda. Setelah prosesi ini tuntas, maka cairan kenikmatan berpindah ke gelas kaca dan perlahan tapi pasti dipersembahkan bagi raga yang menunggu penuh dahaga.

Srupuut….. wuenaak pisan. Segar dan menenangkan. Body medium memberi kesan leluasa dilengkapi acidity menengah yang tidak perlu ninggal di ujung lidah. Sementara after tastenya hadir selarik citrun dan rasa manis sesaat versi frutty dilengkapi rasa sepet tamarind….. ya itu deh yang bisa ditangkap oleh lidah ini.

Vers Youtubenya juga sudah tayang, monggo di klik ARABICA SUNDA GULALI – akwchannel.

Selamat ngopay bray.. Wassalam (AKW).

****

Lokasi ngopay :
Kopi Anjis, Jl. Bengawan No.34 Cihapit Kota Bandung

Kopi : bean arabica sunda gulali.

KOPI HALU BANANA – Pelabuanratu.

Sruput Kopi di Palabuanratu…

PELABUHANRATU, akwnulis.com. Perjalanan 5 jam Bandung – Sukabumi, tepatnya Pelabuan ratu cukup melelahkan, meskipun sempat sedikit rehat di daerah Warung kondang. Berhenti sesaat dan bersilaturahim dengan kolega lama adalah sebuah cara menjaga marwah persahabatan hakiki tanpa tendensi apa-apa.

Dikala kendaraan mulai melewati daerah Warung kiara, sudah pede bahwa sebentar lagi tiba. Eh ternyata jalan masih berkelok meliuk-liuk melewati punggung bukit dan lembah hingga menemukan daratan rata memasuki wilayah Citarik dan  daerah Bagbagan, wah sebentar lagi tiba.

YOUTUBE : NGOPI DI PELABUAN RATU

Langsung jemari searching keyword ‘cafe kopi pelabuanratu’, jreng…. beberapa nama cafe dan warung kopi hadir di hadapan. Semua memberi harapan namun tetap harus ada pioritas yang akan didatangi karena waktu terbatas dan hari sudah menjelang malam.

Tapi kembali, kesenangan menikmati kohitala ( kopi hitam tanpa gula) harus ditahan sejenak karena ada panggilan dari penguasa untuk sowan sejenak ‘bisi teu diaku dulur’ ( takut nggak dianggap saudara). Maka diskusi hangat dan berbagai trik dan tips kehidupan didapatkan dari percakapan sore yang santai. Baik tentang persahabatan, alternatif masa depan mengikuti perkembangan jaman, hingga tata etika non feodalisme dilengkapi dengan derai tawa dan desah nafas kepedasan setelah menyantap sajian indomie kuah bertabur potongan cabe rawit dan secangkir bandrek panas, maknyus guys.

Setelah ucap pamit dengan berat hati, maka kembali membuka smartphone dan meneruskan pencairan eh pencarian kafe kopi tadi dan berhitung jarak. Juga iseng dikirim pesan pada nomor yang tertera, terutama terkait metode pembayaran karena uang cash tinggal selembar. ‘Kami nggak punya mesin EDC, tapi bisa bayar via QRIS’…. Jawaban yang melegakan… meluncurrr.

Ngengg…. dengan patokan SPBU dan TPI ( Tempat pelelangan ikan) Pelabuan ratu. Kami menuju TKP (Tempat Ko Pi) yang bernama Kafe Kopi Siliwangi…. ternyata dekat dari tempat sowan tadi, hanya 4 menit guys.

Tempat kafenya strategis di jalan besar dengan posisi nongki bisa outdoor ataupun indoor, tinggal selera masing-masing untuk sekedar duduk diluar sambil merokok atau di dalam mendengarkan suara penyanyi yang sing a song santai pake karaoke youtube.

Tiba di dalam kafe langsung menyerbu ke tempat barista dan menemukan 2 buah bean sebagai calon sajian V60 yaitu Bean arabica halu banana dan bean arabica karo  sumatera. Asyiiik….. coba yuk ah.

Eits disamping kanan ada mesin roasting, wah keren nich. Bisa ngatur kualitas dari bean yang tersaji…. jadi penasaran.

Kang, pesen V60 yang arabica halu banana dilanjut yang arabica karo sumatera”

Siap Kakak, moo pake 1 : 10 atau 1 : 15?”…

Mainin 1: 10 dong, makin strong makin mantab”

Ditunggu Kakak”.

***

Sambil menunggu prosesi seduhan manual oleh sang Barista maka mencoba menikmati suasana dan mendengarkan dendang lagu yang sedari tadi membahana. Berdamai dengan keadaan dan ikuti vibe yang ada, maka rasa nyaman akan tercipta.

Sajian pertama hadir, Arabica Halu Banana yang diseduh oleh kang Sandi sang Barista yang tenyata satu aliran yaitu grup suhu sembilan dua. Sruput perdana membuahkan rasa, kepahitan body medium strong menenangkan raga yang sedikit terganggu karena nyeri di kaki kiri yang tadi pagi terkilir di halaman kantor di saat mengejar apel pagi bersama.

Acidity khas arabica halu yang medium up, terasa menyapa langit-langit mulut dan berakhir dengan after tastenya fruity serta selarik rasa banana memenuhi janji namanya… sruput lagiii..

Sajian kedua adalah Arabica Karo Sumatera, Bodynya strong dan acidity medium standar plus aftertaste sedikit hampa. Tetapi tetap dibalik kepahitannya hadir sebuah kesadaran bahwa kenikmatan menyeruputnya bisa mengurangi kenangan pahit bersamanya, ahaay.

Yang pasti kedua sajian manual brew V60 kali ini kembali menjadi kolaborasi rasa yang memberi ketenangan jiwa sekaligus menguatkan semangat untuk terus bergerak menuju Ujung Genteng Sukabumi dengan jarak sekitar 85 km lagi membelah malam dari titik ini.

YOUTUBE : UJUNGGENTENG – CILETUH : mantai, kerja kerja, ngopay.

Selamat bergerak dan tak lupa ngopi. Wassalam (AKW).

NGOPI Gedung Negara & Arabica Manglayang.

Kembali beredar sambil menikmati kopi hitam tanpa gula, edisi Cirebon.

CIREBON, akwnulis.com. Pahitnya kopi hitam tanpa gula adalah sebuah kecanduan hakiki. Semua memang pahit jikalau kopi tanpa gula, tetapi diantara kepahitan itu terselip rasa berbeda dan pengalaman aneka rupa. Karena bisa memaknai perbedaan dari kepahitan rasa ini adalah anugerah tak terkira.

Kali ini raga dan langkah agar menjauh menuju pantura, tepatnya bergiat di kota cirebon dengan tema KOPI NURDIN (nurut dinas) alias terbawa hadir karena urusan pekerjaan.

Nah laporan kerjaan mah ntar dituangkan dalam nota dinas laporan, tapi kalau urusan ngopay maka disinilah tempatnya menuliskan rasa dan kenangan.

Kopi yang pertama tersaji adalah kopi sachet biasa yang diseduh tanpa gula sebut aja merknya kopi kapal api. Untuk rasa ya begitulah flat tanpa banyak rasa-rasa, tetapi suasana dan sajiannya yang bikin berbeda. Pertama cangkirnya cangkir dinas berlogo pemprov jabar dan kedua lokasi kopi tersaji di ruang tamu gedung negara eks keresidenan Cirebon yang penuh sejarah dan kejayaan masa lampau.

Maka dihadirkan dokumentasi kemegahan gedung negara sebagai background yang melengkapi secangkir kohitala (kopi hitam tanpa gula) untuk diabadikan sebelum akhirnya tandas di sruput untuk menikmati dahaga kepahitan kopi yang melenakan.

Alhamdulilahirobbil alamin.

Lalu melengkapi sajian kohitala yang sebenarnya, sebelum pulang ke bandung maka searching-lah lokasi tempat yang menyajikan kohitala dengan metode seduhan manual V60.

Ternyata gayung bersambut dengan hadirnya tawaran dari seorang kawan untuk berdiskusi sambil menikmati sajian kopi… tentu menyenangkan… berangkaaat.

Kopi kedua adalah kopi hitam asli tanpa gula dengan biji kopinya arabica manglayang. Proses seduhan manual dengan filter dan corong V60 menghadirkan sebuah rasa pahit yang kaya makna. Bodynya medium dengan acidity seimbang, hadir selarik segar lemon dan brown sugar sebagai after taste dari sajian kohitala ini. Sruput yummy.

Sajian kohitala ini semakin lengkap dengan menu makanan beratnya yaitu steak yang merupakan pilihan menu spesial di Chantel food space Cirebon. Nyam nyam…

Itulah cerita ngopay kali ini, selamat memaknai kepahitan rasa dengan syukur tiada kira. Wassalam (AKW).

Kemalasanmu begitu menggemaskan.

Tapi sangat sukaaaa….

CIKUTRA, akwnulis.com. Pagi masih sendu dikala bersua dengan kemalasanmu. Tetapi sentuhan kelembutan akhirnya meluluhkan sebuah niat untuk menjauh, malah kembali dekat dan penasaran dengan segala tindak.

Kerlip mata sayumu menyiratkan kemalasan, tetapi itulah daya tarikmu. Disaat kedua mata tertutup dan dagu menempel beralaskan kedua tangan, terlihat betapa nikmatnya menjalani kehidupan.

Saat sebuah tanya meluncur, “Apa kabar kawan?”

Baik Kaka”

Nikmat sekali dikau merem melek di pagi hari”

Dikau menjawab sambil tersenyum membuas, “Ini hiburan termurah dan termudahku kawan, ngantuk ya tinggal bobo, setujukan?”

Sebuah anggukan dan sedikit senyum kepasrahan harus ditampilkan, demi menjaga mood di pagi sendu ini kawan.

Trus selain bobo, apa lagi hiburan mu?” Rangkaian kata muncul karena penasaran.

Ini hiburan selanjutnya” gitu jawabannya sambil memperlihatkan keller kaca berisi bean arabica gayo fullwash yang tinggal sepertiga.

Buset, ternyata penyuka kopi juga. Cocok dong. Akhirnya sambil merem melek tetap berbincang dan dikenalkan sama Kak Firda, Barista Kopi Kitaku.

Munculllah urusan teknis manual brew, diawali dengan panas air seduhan 92° celcius, 15 gram beannya hingga komposisi dan posisi badan pas nyeduh bean agar berekstraksi sempurna…. Yummy… ternyata menikmati proses juga menyenangkan kawan.

Akhirnya sebuah sajian manual brew V60 hadir memenuhi ruang dahaga pagi ini. Disruput perlahan sambil tetap memantau sesosok mahluk malas yang sangat menggemaskan.

Selamat minum kawan.

Selamat menikmati hiburan paling sederhanamu sekaligus bagaimana menikmati sebuah proses yang berujung kenikmatana juga. Alhamdulillah… srupuut. Wassalam (AKW).

OBAT GALAU DI TERAS KIARA

Lagi galau?… obati dengan Ngopay.

V60 arabica manglayang / dokpri.

KIARAPAYUNG, akwnulis.com. Sebuah rasa berbeda yang hadir tiba-tiba, menyusup dibawah raga dan menyentuh pinggiran hati tanpa banyak tanya. Disitulah hadir rasa khawatir ditambah sejumput kebingungan.

Tapi kenapa?”

Sebaik kata tanya yang berbahaya, karena untuk memperbaiki dan menyembuhkan sesuatu memiliki syarat utama. Syaratnya adalah kejujuran.

Coba renungkan, dikala kita butuh solusi masalah kesehatan, maka diskusi dengan dokter adalah kejujuran dan keterbukaan. Setelah itu dilakukan pemeriksaan phisik, barulah bisa dihadirkan resep dan akhirnya treatment obat atau tindakan yang diperlukan.

Begitupun jikalau jiwa kita yang ‘sakit’, maka perlu sesi diskusi yang dilandasi kejujuran dan keterbukaan. Lalu proses terapi baik dengan dokter jiwa ataupun psikolog, barulah tindakan atau resep obat kembali dihadirkan dengan berbagai cara minum yang penuh keteraturan.

Teras Kiara / dokpri.

Nah, kali ini kebimbangan hadir tanpa sebab yang jelas. Wah lebih berbahaya nich. Harus segera ditenangkan dengan terapi khusus penuh kenikmatan.

Maka tanpa membuang waktu dan menyia-nyiakan kesempatan, pada kesempatan pertama segera bergerak memutar arah dan menantang kondisi jalan berbeda dari seharusnya. Termasuk berjuang dalam ajrug-ajrugan karena jalan agak hancur dilewati truk – truk besar yang hilir mudik ditengah debu tanah yang beterbangan.

Ada usaha dengan semprotan air membasahi jalan, tetapi terlihat tak kuasa melawan debu-debu tanah yang menari riang bersama deru kendaraan besar.

Alhamdulillah setelah melewati jalan berdebu, maka tak jauh lagi lokasi terapi bathin akan dicapai… ahaaay… sabaar.

Namanya Teras Kiara, sebuah cafe asri yang bersih dan aman dari hinggar bingar keduniawian. Kebetulan pengunjung sedang tidak ada, maka leluasa memilih tempat dan mengambil spot photo serta meminta obat galau yang sangat manjur.

Apakah obatnya?”

Obatnya adalah sajian V60 arabica manglayang yang dibuat oleh Aris/Teguh sang barista. Tangan terampil an kedisiplinan pada tahapan manual brewnya menghadirkan sajian sederhana dengan rasa yang tidak sederhana. 15 gram bean arabica manglayang diproses hingga hadirkan sajian kohitala dengan body medium, acidity medium dan aftertastenya selain dark coklat juga selarik kesegaran mentimun dan mint menenangkan rasa yang galau plus kembali semangat menjalani kehidupan.

Semerbak harum aroma kopi manglayang menenangkan perasaan yang sedang gundah gulana karena suatu sebab yang tak jelas ditambah rasa yang mendamaikan. Itulah obat galau dalam sebuah kehidupan.

Jus mangga teras kiara / dokpri.

Tak lupa untuk melengkapi kehadiran kohitala si obat galau ada juga dokumentasi sajian jus mangga yang dipesan seorang rekan yang memang butuh juga kesegaran versi yang bersangkutan.

Happy weekend kawan. Wassalam (AKW).

Arabica Wine Gununghalu.

Giliran arabica wine Gununghalu yang di seduh… ajiib.

BANDUNG, akwnulis.com. Setelah 2 hari yang lalu menikmati arabica wine Abah Papandayan, maka kali ini mencoba biji kopi yang diproses wine juga. Yaitu kopi arabica Gununghalu. Sebenernya sebulan yang lalu sudah pernah diseduh tetapi nggak sempet bikin review ala-ala. Buat nuntasin itu, ya musti bikin lagi donk, supaya feelnya dapet dan menuliskan apa adanya, apa yang dirasa dan apa yang diamatinya.

Inilah ceritanya….

Oh ya jangan bosen ya brow, jikalau cerita proses seduh kopinya gitu – gitu aja. Memang begitu protapnya buat nyeduh manual pake versi corong keclak (corong yang nantinya menetes) baik corong V60 ataupun flat bottom dengan 3 bolongan.

Maka standarnya sama 2 x 13gr biji kopinya di grinder dengan ukuran 3 dan 4. Tak lupa air panas dijerang… eh air dari galon dijerang agar mendidih sebagai standar kepanasan sang air penyeduh ini.

Setelah biji berubah wujud menjadi serpihan, maka rasa sedih terasa menyesakkan hati… lhaa kok kesinih sih… gara-gara kata serpihan ya?Padahal serpihan ini mah nikmat, segar dan harum.

Berhubung kertas filter V60nya habis sementara yang ready adalah kertas filter flat bottom, maka proses manual brewnya berbeda dari biasanya. Kesamaannya adalah prosesi corongisasi ini yang diyakunkan bahwa menghasilkan cairan kopi yang bersih bebas ampas serta jelas tanpa manisnya gula.

Biji kopi kali ini adalah biji kopi arabica Gununghalu yang di proses secara wine. Sebuah pilihan processsing coffee yang (hanya) bisa dinikmati seseorang yang sudah masuk (maniak) kopi. Karena profile rasanya mayoritas body bold dan acidity super strong trus memberi sengatan rasa yang bikin kaget…. seperti sensasi pas nyruput wine, katanya mirip. Plus ada rasa ninggal yang bisa bertahan beberapa saat di pangkal lidah, tentu dengan rasanya yang khas.

Buat yang belum pernah dan mau mencoba, tentu tidak mengapa. Tapi hati-hati dengan sengatan kombinasi keasaman dan kepahitan maksimalnya…

Yuk ah… seduh dulu… airnya udah mendidih brow.

200 ml air 90° derajat celcius berpadu dengan 26 gram serpihan biji kopi menghadirkan rasa yang penuh sensasi. Tak lupa sebelum di sruput wajib bin kudu untuk di dokumentasikan dulu… Cetrek.

Nah baru dituangkan di gelas, dan srupuuttt…

hmmm.. enak euy.

Versi lidahku mah after tastenya ada tamarind dan dark chocolate serta selarik fruity. Bodynya bold tapi sedikit tipis, nah aciditynya ajib…. strong sadis bikin terhenyak dengan nyerengnya….. grrrrr…

…. dan diakhiri sebuah rasa ninggal di pangkal lidah sebelum hilang kembali digerus kenangan.

Srupuuuut….. yummy…. tenggg… nyereng brow. Nikmat.

Disclaimer :

Maafkan jika cerita sruput kohitala ini bikin baper dan terkesan ngabibita dan PHP.. bikin pengen aja tapi biji kopinya nggak dikirim.
Maafkan semuanya, stoknya sedikit dan itupun pemberian hehehehehe…. tetapi dengan sebuah cerita, maka rasa yang ada akan selalu terjaga..
uhuy.

Wassalam (AKW)

Coffee Arabica Abah Papandayan.

Akhirnya bisa menikmati kembali prosesi dan sruputisasi…

CILEUNYI, akwnulis.com. Tak sabar sebuncah rasa untuk kembali mereview ala – ala sebuah keajaiban rasa yang dihadirkan oleh si biji hitam misterius yang penuh sensasi. Kali ini hadir atas kebaikan seorang kawan, kopi arabica Abah Papandayan.

Tanpa banyak cingcong dan diskusi mendalam dengan diri sendiri, meskipun phisik masih agak lelah, semoga menyeduh kopi secara manual ini bisa menjadi mood booster untuk kembali menjadi perkasa menapaki hari-hari yang harus dimaknai dengan rasa syukur yang penuh berkah meskipun situasi pandemi masih penuh ketidakpastian.

Maka segeralah peralatan perang eh…. peralatan seduh manual dipersiapkan… jeng jrengg.

Jreng….

Peralatan sederhana tapi penuh makna, kertas filter flat bottom, corong flat bottom, air panas pake merk amidis dan dijerang agar menggolak… eh mendidik. Tak lupa 2x takaran bean sekitar 28 gram di grinder dengan ukuran 3-4 agar menghasilkan serpihan kasar yang menuh keharuman.

Segar dan harum menyeruak memenuhi ruang hati, melengkapi proses penggilingan ini… hmmmm.

Setelah air mendidih, diamkan sejenak agar mendekat suhu 90° celcius. Lalu diguyurkan perlahan denganteko kaca gooseneck ke kertas filter sebelum dilakuka prosesi manual brew ini. Lalu serpihan kasar biji kopi memenuhi kertas filter di corong flat bottom dann…….. currr kembali teko kaca gooseneck beraksi menyalurkan air panas berpadu serasi dengan serpihan biji kopi untuk bersama-sama lakukan proses ekstraksi… diputerr cuur… puternya searah jarum jam ya… tadaaa… tetes demi tetes cairan hitam harum berkumpul di dasar bejana kaca… asyiik.

Tak lupa gelas kaca kecilku, selalu setia sebagai sarana penyeruputan kopi yang elegan dan penuh kenangan.

Setelah tuntas bermanual brew, saatnya cairan hitam dipindah ke gelas kaca.

Srupuuut…..

Woow….

Rasa winenya menyerang syaraf – syaraf mulut dengan dahsyatnya setelah sekian lama jarang bersua dengan sensasi rasa. Betapa nikmatnya, acidity strong menguasai semua perasa didukung body bold maksimal yang melingkupi segala suasana.

After taste yang dihadirkan begitu ‘ninggal‘ di pangkal lidah beberapa menit berselang serta ada rasa ‘nyereng’ atau menyengat yang merupakan kekhasan biji kopi wine yang penuh kesempurnaan. Hadir rasa lime yang asam kecut plus tamarind serta ada rasa anggur hijau yang kesat segar (semoga lidahnya bener inih…) dan aroma fruity lain yang agak sulit didefinisikan oleh keterbatasan lidahku inih.

Sungguh menyenangkan bisa nyeduh biji kopi abah papandayan ini yang diproduksi oleh Kareumbi Farmer ini. PiRT No. 2093272010054-19 ini hadir atas kebaikan seorang kawan yang sengaja datang ke kantor bersama Bos petani kopi sekaligus roasternya, hatur nuhun Kang Rino & Kang Bayu.

Kopi Arabica Abah Papandayan ditanam di Kaki Gunung Papandayan pada ketinggian 1400 mdpl terdiri dari varietas unggulan diantaranya Yellow Borbon, AS-1 dan Preanger Buhun dengan naungan pohon jeruk dan pohon kayu hutan hujan tropis (ini tertulis di bungkusnya kawan…)

Itulah mood boster kali ini, badan segar hati nyaman begitupun lidah terus mengecap rasa nikmat yang tertinggal. Happy weekend kawan, dont forget to sruput your coffee…. kopi hitam asli tanpa gula. Wassalam (AKW).

Kopi Tubruk Curug Malela.

Sruput Kohitala di Pelataran Parkir Curug Malela.

KBB, akwnulis.com. Nafas masih turun naik dan kaki agak gemetaran disaat kembali menjejak bumi setelah 10 menit menikmati adrenalin  ber-roller coaster dibelakang boncengan Mamang ojeg lokal yang melahap jalan berliku, sempit, becek, menanjak dan samping kiri berdampingan dengan jurang cukup dalam.

Pulang dari mana?”

Sebuah tanya yang perlu diberi jawaban agar tidak penasaran. Ini adalah langkah praktis kepulangan dari lokasi objek wisata air terjun ‘mini niagara’ Curug Malela yang terletak di Kecamatan Rongga Kabupaten.Bandung Barat. Sebenarnya dengan berjalan kakipun cukup menantang dengan lika liku tanjakan terjal sepanjang 1,7 km. Tetapi manajemen waktu meminta percepatan, karena sore nanti sudah ditunggu meeting dengan bos dan stakeholder…

Ciee stakeholder.. maksudnya dengan para mitra atuh…. maka bertukarlah 40ribu rupiah dengan 10 menit dibonceng  Mamang ojeg yang penuh sensasi dan wajib pegangan, apalagi kalau waktunya bersamaan dengan hujan, pasti suasana naik ojegnya lebih menegangkan.

Tiba di lokasi parkir awal, sebenarnya warung nasi sudah menanti dengan menu liwet lengkap dan tentunya bakakak ayam. Wuih nikmatnya, tetapi apa mau dikata, tugas selanjutnya lebih utama. Terpaksa menolak secara halus, biar nanti rekan-rekan tim yang sedang mendaki berjalan kaki yang akan menikmati.

Tetapi sebelum pergi, sebuah kios kopi yang terlihat asri ternyata menarik hati. Terlihat di spanduknya, KOPI GUNUNGHALU. Segera kaki bergerak dan raga merapat, melihat suasana kafe yang sederhana tetapi bersih dan tertata. Berbagai pilihan kopi sudah tersedia di botol kaca yang bebaris menyambut pengunjung. Juga tersedia bean yang bisa dibawa pulang untuk di grinder di rumah maaing-maaing sesuai selera.

Kang pesen 1 ya, arabica gununghalu yang wine”
“Mangga kang, diantos”

Disini ada ketidaklengkapan perintah eh request, yang terbayang adalah prosesi seduh manual dengan menggunakan V60. Tetapi karena tidak terlisankan maka sang barista membuat kopi manualnya dengan cara ditubruk dengan air panas yang penuh gejolak. Padahal peralatan corong V60 dan filter kertasnya terlihat di depan mata.

Apa mau dikata, yang tersaji adalah kopi tubruk arabica gununghalu jenis wine… gpp lah yang penting kohitala (kopi hitam tanpa gula) dan seduh manual… bedanya… di cangkirnya nggak bersih, tapi penuh dengan serpihan – serpihan biji kopi yang berserakan setelah proses ekstraksi.

Berhubung waktu yang tersedia terbatas, ya sudah kita tunggu hasil trubrukan kopi ini agar segera dapat dinikmati…. 4-5 menitan sambil tak lupa ditiup dengan kemonyongan bibir maksimal.

Srupuut…. hmmm rasa panasnya nikmaat. Acidity strong hadir memberi rasa asam pekat yang melegakan, body relatif medium dan aftertastenya muncul fruitty dan keharuman manggo hadir meskipun tipis sekali. Over all kenikmatan terasa menyatu meskipun sedikit terganggu remah kopi yang memenuhi sudut bibir kanan kiri.

Sruput lagi….. srupuuut. Nikmaat, panas dan harum serta segar memenuhi tenggorokan dan menggairahkan raga.

Bicara pilihan, beberapa bean tersaji dari fullwash, honey, wine hingga yang lainnya dengan  basic tetap kopi arabica gununghalu.

Setelah tuntas segelas sajian panas kohitala berpindah tempat ke perut, dengan basa basi dan membayar sajian serta 3 bungkus bean arabica gununghalu aneka proses, maka pamitlah yang menjadi momen pemisah. Mungkin besok lusa bisa kembali bersua.

Selamat sore dan mengakhiri hari minggu ini dengan bersiap rapat online lagi yang tentu lebih tenang karena ditemani persediaan kopi dari tempat yang penuh cerita warna warni. Wassalam (AKW).

KOPI KESEMPURNAAN

Memaknai ketidaksempurnaan..

Photo : Ngopay Bray / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah gelas unik perpaduan bambu dengan stainless di bagian dalam memberi sebuah makna keterpaduan yang mendalam.

Dari luar terlihat elegan dan ramah lingkungan sekaligus bisa menyerap panas dari air yang akan disajikan disisi lain bahan stainless menjaga kepanasan eh kehangatan kopi terus stabil dan lebih tahan lama.

Maka seiring ketersediaan kopi yang ada adalah arabica wine gununghalu, tanpa basa basi segera di giling dengan grinder ukuran 2 ke 3. Lalu segera dituangkan ke gelas bambu stainless ini. Lalu diseduh dengan air panas dengan suhu (kira2) 93° celcius…. caranya gampang. Biarkan air mendidih dulu, setelah mendidih hitung dalam hati 30 detik, baru dituangkan.

Dijamin suhunya turun jadi 93° celcius?”

Yaa nggak juga, ini mah ikhtiar. Minimal mendekati hehehehe” jawabanku sambil terkekeh. Meskipun dari pengalaman nyeduh kohitala (kopihitamtanpagula) ini adalah cara yang praktis dan mendekati suhu yang diharapkan.

Setelah air panas tertuang dan menubruk bubuk kopi yang sudah tak sabar menanti di dasar gelas, maka terjadi pergumulan alami dan menghasilkan ekstraksi.

Crema kopi menyeruak di permukaan dan keharuman memenuhi seantero ruang hati yang ternyata sedikit tergalaukan karena sebuah harapan tertunda dan harus kembali berjuang untuk meraih asa.

Photo : Kopi tumpah / dokpri.

Setelah di putar dengan sendok kecil, lalu dibiarkan sesaat sebelum disruput nikmat. Tapi disinilah letak kejadiannya. Akibat konsentrasi yang kurang, sendokpun jatuh sambil membawa cairan kopi membasahi kertas putih, “Adduh”.

Tapi apa mau dikata, semua sudah terjadi. Buih kopi yang tumpah menjadikan kotor alas putih yang diset sempurna.

Tapi….  ternyata jika kita ubah sudut pandang, maka akan hadir makna berbeda.

Justru dengan tumpahan crema kopi akibat sedikit teledor malah bisa menjadi objek photo yang menarik, dan quote of the day tetiba mampir di benak ini. Yaitu, “Keindahan terkadang hadir dari ketidaksempurnaan”

Sudut pandang yang diambil adalah dengan kerangka bersyukur, sehingga insiden tumpah kopi yang bisa saja merusak mood hari ini, tidak terjadi.

Yang terjadi adalah kepasrahan dan syukur atas nikmat kehidupan.

Akhirnya saat menyruput tiba dan perlahan tapi pasti pisahkan bubuknya didasar cangkir sehingga hanya cairan kopi yang bisa dinikmati. Alhamdulillah Pahit dan asam atau aciditynya memberi sebuah pesan bahwa kenikmatan itu miliki aneka rasa dan rupa.  Wassalam (AKW).