1 Kopi 3 Hewan : Takdir.

Ngopi bersama aneka hewan, siapa takut… yu ah.

PANGANDARAN, akwnulis.com.  Pertemuan dengan seseorang ataupun sesuatu tidak lepas dari takdir yang ditentukan Illahi. Manusia hanya mahluk lemah yang sok perkasa dan mampu merencanakan sesuatu yang luar biasa. Padahal semua adalah berdasar kehendak-Nya. Tetapi nilai ihtiar dan kesungguhan hati dalam memikirkan, mengkonsepkan hingga melaksanakan sesuatu sampai terwujud dengan baik, itulah bagian dari ibadah seorang hamba.

“Weiits… mentang-mentang jumat pagi ya, jadi begitu agamis?”

Hehehe, tidak kawan. Ini adalah bagian penting dalam kehidupan sebagai mahluk tuhan, dimana kita wajib mengikuti jejak sikap Rasululloh yaitu Tablig, menyampaikan kebaikan.

Nah kalau Rasul mah dakwah, penulis mah begini aja. Nulis sesuatu yang mengingatkan diri sendiri sekaligus tulisannya di share ke kolega via WA. Siapa tahu ada yang baca dan tergerak hatinya. “Betul khan?”

Tulisan sekarangpun tidak jauh dari makna takdir tadi. Manusia berkehendak tetapi Allah yang menentukan.

Sebenernya spoilernya sudah ada di tulisan awal yaitu KOPI & TEMAN DI TENGAH MALAM. Temanya tetap yaitu perkopian namun kali ini berhubungan dengan kehadiran mahluk tuhan yang lain yaitu binatang.

Ulangi dikit ya, di tulisan sebelumnya itu adalah pertemuan dengan kumang. Kumang atau lebih dikenal dengan umang-umang atau kelimang darat (dardanus celidrus) serta dalam bahasa inggrisnya ‘terrestrial hermit crab” adalah jenis krustasea deapod dan masih merupakan bagian familia kepiting kelapa yang cenderung hidup sendiri.

Yang menariknya adalah kumang ini bisa lepas dari cangkangnya dan bisa pake cangkang siput laut, kerang, juga potongan pohon yang berongga. Kali ini dia pake cangkang kerang atau kewuk sebagai rumahnya.

Maka menyeduh manual brew V60 kopi garut dan dengan perbekalan yang ada termasuk gelas kaca, bisa bercengkerama dengan kumang sambil mengabadikannya perlahan bergerak keluar dari cangkang kerang adalah momentum yang wajib disyukuri. Disengajain tengah malam cari kumang dan kopi manual mah susah pisan guys.

Lanjut sambil nunggu shubuh ngedit video… eh bukannya shalar tahajud yaa… gpp ketang suka-suka. Hidup itu pilihan. Jadi inget kata pak Gubernur RK kemarin, “Cintai yang kamu kerjakan dan Kerjakan yang kamu cintai”... hayu ngedit ah…  eh wudhu dulu.

***

Pertemuan kedua antara kopi dan binatang itu terjadi dikala mengabadikan sajian segelas kopi racikan sendiri berlatar belakang mentari yang malu-malu terbit di ujung cakrawala pantai timur pangandaran. Alhamdulillah, begitu indahnya sunrise ciptaan Tuhan. Warna kuning keemasan berpadu padan dengan permukaan perak laut pangandaran bersama deburan ombak yang membuat raga dan hati bergetar. Luar biasa sekali kawan.

Disitulah seekor kucing liar datang dan mendekam di dekat gelas kopi yang sedang diabadikan.. ya sudah cetrek cetrek cetrek.

Eh satu hewan lagi nggak mau ketinggalan untuk diabadikan bersama mentari yang semakin menghangat. Berarti ini hewan ketiga. Yaitu seekor ayam jago. Perlahan datang dan langsung berpose bersama kehangatan sang mentari serta secangkir kopi racikan pribadi.

Sungguh menyenangkan sruputan kopi kali ini, ditemani berbagai mahluk tuhan yang hadir tanpa direncanakan.  Di mulai dari seekor Kumang, lalu seekor kucing dan akhirnya seekor ayam jago. Sebuah sensasi menikmati kopi yang penuh arti. Selamat berkreasi dan mensyukuri hari ini. Wassalam (AKW).

TEU SANGKA – fbs

Geuning kitu buktosna.

FIKMIN # TEU SANGKA #

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Suku karasa beuki cangkeul basa anjog di basisir Cipatujah. Lain ukur capè ku raga tapi gudawangna hatè teu bisa disumput salindungkeun. Geuning kahayang jeung kanyataan ngadon pasalia.

Kamari tèh basa munggaran panggih, nyangka satujuan sakahayang. Uplek ngawangkong bari ngarahul bèntang. Ngusapan candramawat sanajan teu amit ka nini antèh. Gogonjakan nepi janari.

Ngagayuh ka subuh lain kalah tunduh, tapi beuki cènghar jagjag waringkas. Mimitina uplek ngawangkong, tuluy rungkang rongkong, tungtungna naplok jiga bangkong.

Dina mangsa mata poè mucungkul ti tungtung basisir. Kakara sakabèh carita èndah tadi peuting ukur rumpaka. Sabab dina nyatana anjeun geus codèka. Geuning lain wanoja saujratna.

Paingan dina ngusapan candramawat nepika murudul buluna. Da geuning gedè tanaga. Tuluy nyiwit kana kulit, daging ipis ngiluan. Uing ukur seuri mawur. Getih ngucur kabèh tagiwur. Tuur leuleus ibur salembur. (AKW).

PAKANCI – fbs

Ide cerita di pantai selatan Ujung genteng Sukabumi..

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah perjalanan memberikan inspirasi menulis dalam berbagai sisi. Tentu tulisan utamanya adalah cerita perjalanan yang nyata meskipun tetap harus bertema. Tema utamanya adalah NGOPAY dan NGOJAY, tapi karena berenang (ngojay) tidak memungkinkan maka jadinya MANTAY (main ke pantai) dan hasilnya adalah 2 tulisan serta video di youtube. Ini tulisannya :

1. KOPI HITAM & LAUT UJUNG GENTENG.

2. KOPI HALU BANANA – Pelabuan Ratu.

Ternyata ide dari perjalanan ini masih ada, dan dicoba ditulis dengan genre berbeda yaitu di ranah reka atau fiksi dengan tulisan berbahasa sunda yaitu fiksimini sunda.

Tulisannya singkat, hanya 149 kata saja. Nggak percaya?… silahkan hitung saja kata perkata.

Tetapi sudah membuat cerita singkat yang di paragraf akhir memberi peluang untuk melanjutkan cerita sesuai ekpektasi pembaca… seru khan?..

Ya sudah kalau penasaran, silahkan dibaca. Jikalau tidak paham kata dan kalimatnya, DM aja kakak… IGnya @akwnulis dan @andriekw.

Silahkan….

FIKMIN # PAKANCI #

Anjog ka vila geus ngaliwatan indung peuting, kaayaan simpè dibaturan hawar – hawar sora lambak laut kidul. Di gerbang vila, lalaki tengah tuwuh ngajentul, nungguan.

Ieu sosina jang, itu vilana” curuk pèot bentik kana wangunan di juru beulah katuhu.

Nuhun bah”

Uing leumpang sorangan muru vila, “Naha teu nganteur nya?”

Ah teu loba mikir, nu penting geus boga sosi. Tinggal asup vila, ucul-ucul, mandi, ganti baju, sarè, sanggeus 8 jam numpak èlf  ayeuna mangsana rinèh.

Assalamualaikum…” Uing uluk salam, ukur syarat wè. Da angger simpè. Sosi dicolokkeun, cetrèk. Panto muka, tepas simpè rada meredong.

Mèh teu keueung, muru cetrèkan lampu, urang hurungkeun kabèh. Aya deukeut panto ka pangkèng.

Cetrèk. Burinyay.

Peureum sakedapeun, sèrab. Pas beunta hookeun. Tepas jadi badag  aya korsi karajaan jeung lampu gantung nu baranang. Sagala inuman jeung bungbuahan dina bokor emas ngaleuya.

Dalapan punggawa kènca katuhu ngabedega. Duaan maju kahareup bari nyembah dokoh pisan, “Wilujeng sumping Pangèran…”

***

Terima kasih yang sudah berkenan membaca sampai tuntas. Tulisan ini hadir sambil menemani recovery pasca operasi patah kaki.

Wadduh patah kaki kenapa?.. operasi dimana?…”

Nantikan tulisan selanjutnya, Wassalam. (AKW).

Kopi Hitam & Laut Ujung Genteng

Akhirnya bisa menyeruput kopi hitam di tepi pantai, alias ngopay & mantay… Sruput.

UJUNG GENTENG, akwnulis.com. Deburan ombak dan semilir angin pantai akhirnya menyapa raga dan indra perasa dengan harmonisasi kedamaian. Setelah hampir 2 tahun tak bisa beranjak dengan segala keterbatasan, maka hari ini pertemuan dengan sang laut kembali terjadi.

Perjalanan panjang 7 jam lebih dari Bandung Ke Ujung genteng ini terbayarkan oleh sapaan alam yang begitu menggugah rasa memberikan sensasi berbeda serta mereguk ‘Vitamin Sea’ untuk menguatkan jiwa agar semakin bersyukur atas rahmat dari Allah Sang Maha Kuasa.

Tentu ini semua terjadi karena takdir-Nya, tetapi sebagai mahluk lemah ini nilai ihtiar perjalanan adalah sebuah catatan penting kehidupan. Dengan berbagai judul acara dan kegiatan, yang pasti kali ini bisa bersua kembali dengan pantai.

Yup, pantai di Ujung genteng ini cukup panjang dan ada beberapa lokasi, tetapi yang dikunjungi hanya 2 saja yaitu pantai ciracap yang sekarang sedang di datangi dan selanjutnya pantai pangumbahan dimana terdapat konservasi penyu yang menjadi andalan.

Nah, tak lengkap rasanya perjalanan ini tanpa ditemani sajian si kopi hitam. Maka segera mencari di kios – kios terdekat saja.

Lha nggak bawa kopi asli?”

Kebetulan keabisan lagian tadi malem sudah menikmati kohitala di Pelabuanratu kok”

Oalaah ternyata, ya sudah ditunggu tuh tulisan yang ngopay di pelabuanratunya”

“Oke, ditunggu yaa”

Percakapan imajiner melengkapi langkah tertatih ini, karena kaki kiri membengkak akibat keseleo di kantor pada hari sebelumnya.

Mendekati kios kecil, seorang ibu menyambut kedatangan. “Wilujeng sumping cep, badè ngaleueut naon?” (Selamat datang, mau menikmati apa?”)

Segera pesan kopi hitam yang ada, meskipun tentu kopi gunting.. it’s okey.. less sugar is very important.

Maka sambil menunggu kopi hitam tersaji, segeralah berjalan perlahan ke pantai, menapaki pasir pantai yang bersih memutih lalu menginjak air pantai yang menenangkan diantara perahu nelayan yang sedang beristirahat setelah lelah mencari ikan di tengah lautan.

Kembali ke bibir pantai dan telah tersaji kopi hitam bercangkir hitam dengan tulisan : Be Awesome Today but First, COFFEE.

Satuju pisan èta caption… cucok markocok.

Langsung perlahan tapi pasti… disruput guys.. hmmm… nikmat, kepahitan kopi ditemani deburan ombak pagi… ruar biasa, Alhamdulillahirobbil alamiin.

Inilah tulisan ngopi di pantai kali ini, pantai yang pertama. Sebuah keinginan menggebu ingin bercengkerama dan berenang di air laut terpaksa diurungkan karena kondisi kaki yang tidak memungkinkan. Cukuplah sedikit berendam, berpose dan duduk menikmati deburan serta angin kencang sambil menghabiskan kopi hitam di cangkir hitam.

Tulisan yang pantai pangumbahan, nantinya, nunggu mood dan kesempatan. Hatur nuhun. Wassalam (AKW).