Kopi Koboi

Nyobain kopi dan bir kopi, disini.

Photo : Pilihan kopi di Cafe Koboi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis com. Sore yang sendu mengantarkan diriku untuk mampir dan bercengkerama dengan suasana khas bernuansa coklat alami disini. Sebuah cafe kopi yang memiliki keunikan tersendiri, sebuah kafe kopi yang konsisten dengan metode seduh kopi tubruk.

Jadi harus kuat badan kita karena sebelum nyuruput kopi maka siap-siap ditubruk sesuatu… hehehehe just kidding frend!!

Sajian kopinya diseduh dengan cara yang sudah biasa kita lakukan… dua sendok makan bubuk kopi ditimpa oleh air panas mendidih diatas gelas almunium, kudek.. eh aduuk pake sendok…. jreeeng jadi.

Trus disajikannya pake gelas almunium tertutup, maksutnya ada tutupnya. Sebelum minum harus di ditutup agar rasanya betul-betul keluar.

Oh iya, bubuk kopinya banyak pilihan, beberapa merk terkenal di indonesia ada di list menunya tetapi proses penyajiannya semua sama, kopi tubruk.

Photo : Kopi Tubruk arabica java preanger / dokpri.

Aku memilih arabica java preanger, penasaran dengan rasa kopi yang dihasilkan versi tubruk ini. Pilihan lain ada juga gayo, sidikalang, flores, bali dan lainnya tetapi mungkin itu kesempatan lainnya.

“Sruput dulu gaan…… adduh panas banget”

Simpen lagi dech, tunggu agak turun dulu suhunya.

Cafe koboi ini awalnya dikirain bertema koboi-koboi kayak pelem amrik sono…. ternyata koboi itu singkatan. Singkatan dari Koperasi Barudak OI, OI adalah komunitas penggemar lagu2 iwan fals…. dulu, dan mendirikan sebuah unit usaha berupa cafe kopi.

Photo : Pintu Gerbang Coffee Koboi / dokpri.

Dulunya dibawah jembatan layang pasupati dan pindah di lokasi sekarang itu sekitar 2013-an yaitu di jalan Kebon Kawung 9-10-11 Bandung. Klo moo ke stasiun bandung berarti posisinya sebelum stasiun setelah belokan hotel Swiss bell Bandung dech.

Menu yang disajikan tidak melulu kopi tetapi juga snack dan makanan, jadi cocok juga buat ngisi perut sambil bercengkerama.

Ada juga pilihan minuman berbasis kopi dengan nama-nama yang menarik hati. Seperti Kopi Bir Koboi, kopi Kuda Betina, Kopi Kuda jantan dan banyak lagi lainnya…. lupa euy nama2nya.

Nah karena penasaran, kopi Bir Koboi dipesan juga… dijamin katanya tidak akan mabok, karena 0% alkohol.

***

Ngopi itu enaknya sambil ngobrol…. dan alhamdulillah ketemu dengan kang Dian yang menjelaskan sepintas tentang Cafe Koboi ini.

Ada juga kaos dan gantungan kunci dijual disini, jadi distro juga…. penasaran?… kesini ajah.

Sekarang urusan kopi, jangan lupa #tidakadaguladiantarakita (nyomot tagar diplomasi kopinya bos Azis)…. rasa kopi tubruk arabica java preangernya ajibbb….. acidity khasnya tetap terasa, body medium dan harum semerbaknya bikin makun nikmaat.

Photo : Bir Koboi ala cafe coffee koboi / dokpri.

Trus setelah habis kopi tubruknya, giliran Bir koboy disruputt…… wuiihhh segeeer, rasa kopinya tetep ada tetapi bergabung dengan segarnya rasa yang berasal dari kayu manis, kapulaga, sereh, cengkeh, dan daun jeruk.

“Tapi maaf…. kok ada manis gula disini?” Bertanya dengan agak ngeberengut.

“Itu sedikit gula om, klo tanpa gula… dijamin rasanya jamu banget, nggak bakal suka dech”

Ya sudah karena sudah tersaji, dan sudah dibayar juga…. mari kita nikmati.

Rasanya menyegarkan…. meskipun masih sedih karena harus bersua dengan manisnya gula. Soalnya jadi terlalu manis, khan akyu sudah manieez….. awwww.

Trus yang menu minuman ‘kopi kuda betina dan kopi kuda jantan’, itu khusus untuk wanita dan khusus perempuan…. tapi harus dikomunikasikan dengan pasangan yang sah, karena ada ‘efek depan”… ini kata kang Dian yang jadi partner ngobrol sore ini.

Gitu dulu ya fren… cerita ngopay di cafe kobay… eh koboy. Happy wijen.. eh wikeeen. Wassalam (AKW).

***

V60 Mandailing di Gedogan Cafe

Menikmati sajian kopi, sambil memandang kendaraan lalu lalang disini.

Photo : Sajian kopi V60 Mandheling ditemani mawar merah/dokpri

DAGO, akwnulis.com. Semerbak aroma kopi menyebar di atmosfer rasa, laksana buih menggenggam samudera. Mengisi relung hari yang penuh dinamika, menjadi lebih ceria meskipun tugas yang terus mendera.

Sebuah kafe di Jalan Ir. H. Juanda nomor 116 ini menggugah selera untuk mampir dan tentu mencoba racikan kopinya seperti apa. Namanya Cafe Gedogan, menyajikan aneka makanan minuman dan tentu ada kopiiii…….

Cafe yang buka 24 jam ini tentu bisa menjadi pilihan untuk mengusir penat juga kerisauan hati, dengan nongkrong memandang arus lalu lintas jalan dago sambil nyruput sajian kopi manual brewnya… kayaknya nikmat.

Apalagi bagi orang-orang yang diberkahi kenikmatan disaat meminum sedikit demi sedikit sajian kopi yang bagi sebagian orang adalah kopi pahit yang tidak enak.. hueek.

Photo : Suasana Gedogan Cafe Dago/dokpri.

Padahal nikmaat bingit, ingat falsafah kopi yang wajib dipegang teguh, ‘Pahitnya kopi bisa mengurangi atau malah memusnahkan pahit getirnya kehidupan’.

Ingat ituu….

***

Kali ini pilihannya jatuh pada bean Mandailing arabica. Segera diproses tanpa banyak kata. Mengikuti Sang Barista Jajang Nurjamil memainkan peralatan manual brew V60 dengan komposisi ala Cafe Gedogan dengan harga 21ribu + ppn 10%.

Tadaaa…. hasilnya tersaji apik di botol kaca agak tinggi yang berfungsi menjaga suhu tersaji tetap dengan panas yang stabil. Juga cangkir mini plus 1 buah kue kecil. Ditemani vas bunga berisi bunga mawar artifisal memberi suasana berbeda.

Srupuut….. eh photo dulu buat di blog ini.

***

Bodynya lite, aciditynya juga lite ke medium. Tastenya tidak terlalu detail, ringan-ringan saja… yaa udah aja gitu. Cocok buat pecinta kopi hitam pemula.

Photo : Ngopay bray / dokpray.

Klo buat yang seneng kopi hitam dengan body agak berat, mungkin sedikit kecewa dengan sajian ini. Tapi ya begitu karakter kopinya dan juga komposisi takaran plus suhu air memiliki kontribusi pengaruh yang signifikan.

Over all, nongkrong disini menyenangkan. Mungkin besok lusa bisa mencoba menu kopi manual brew lainnya dalam suasana berbeda. Met ngopay bray, Wassalam (AKW).

Kopi Brazilian Santos

Menikmati kopi sambil menelusuri kenangan.

Photo : Brazilian Santos Excelso no sugar / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Gerimis menerpa, terasa begitu syahdu ditemani mendung yang menggelayut manja dalam suasana hari minggu, hari keluarga.
Kami bertiga melesat membelah jalanan yang lengang menuju satu tujuan di Kawasan Sukajadi Bandung.

Sambil menyetir, pikiran menerawang dan cerita masa awal pertemuan dengan istri tercinta yang sedang duduk di jok kiri inipun tergambar jelas.

Diawali dengan chat via bbm yang diberikan seorang kawan, sepakat bertemu tanpa tendensi dan tanpa target tertentu, tujuannya ketemu aja, udah gitu.

Pertemuan itupun sebetulnya perintah… saran dari ibunda, sesaat setelah memperlihatkan photo gadis cantik berkerudung yang tersenyum dengan latar belakang rindang dan menghijaunya sebuah taman.

“Ajak ketemu aja, ntar jikalau sudah jumpa, lapor lagi sama ibu”
“Iya bu”

***

Tempatnya adalah sebuah cafe, yaitu Cafe Excelso di daerah Sukajadi.

Singkat cerita, pertemuan itu terjadi. Tanpa banyak basa basi, bertemu, berkenalan dan pesen cemilan serta sajian cappucino plus hot chocolate. Ngobrol ngaler ngidul seolah kawan lama. Apalagi ternyata, banyak hobi yang mirip sehingga perbincangan selalu miliki bahan untuk terus berlanjut.

Padahal awalnya hanya berjumpa sesaat, minum dan ngobrol sebentar, trus melanjutkan kehidupan masing-masing.

Ternyata, 3 jam lebih berbincang hingga datangnya waktu sholat asyar. Kami akhirnya berpisah, kembali ke aktifitas masing-masing.

***

Malam harinya, segera menemui ibunda dan ayahanda. Sampaikan hasil perjumpaan tadi. Cerita apa adanya.

“Alhamdulillah, kita minggu depan bertemu ibunya untuk silaturahmi” kata ibunda, ayahanda tersenyum meng-amini.

Aku yang melongok, “Secepat itu Bunda?”

“Iya” jawaban singkat ibunda menjadi momen penting dalam hidup ini. Karena tanpa banyak cerita, sebuah perjalan hidup menyempurnakan ibadah segera dimulai.

45 hari kemudian, prosesi lamaran dilangsungkan dan berlanjut ke acara akad serta resepsi pernikahan.

“Ayahh… awas kelewat!!!” Suara istriku membuyarkan lamunan, karena tujuan hampir terlewat.

***

Itulah kisah awal perjumpaan singkat kami dan mewujud menjadi keluarga kecil yang bahagia. Apalagi dengan hadirnya anak sholehah, Ayshaluna. Semakin lengkap kehidupan ini.

Photo : Sajian Chef’s Salad Cafe Excelso / dokpri.

Sekarang di cafe excelso, menikmati bersama makanan dan minuman yang tersedia di menu. Diriku, seperti biasa sajian kopi tanpa gula dengan pilihan beannya adalah Brazilian santos.

Hanya agak sulit mengidentifikasi rasa karena pembuatannya menggunakan mesin. Tapi tidak apa-apa, hanya body boldnya yang terasa sementara acidity dan fruitty versi bungkusnya…. kurang dapat di eksplorasa eh rasi.

Menu makan siangnya adalah Chef’s salad. Lengkap eta mah, sayuran, ayam asap, tomat chery, keju, mentimun, kol ungu dan sebagainya aja. Pokoknya banyak sayurannya. Wassalam (AKW).

Longblack Sejiwa

Memulai hari bersama sajian kopi yang memberi asa dalam diskusi

Photo : Secangkir Longblack membawa inspirasi, abaikan cake red velvetnya ya, bukan punyaku / dokpri.

PROGO, akwnulis.com, Sekuncup harap bersua nyata, semisal hanya ingin mencoba nikmati rasa tanpa harus bersusah payah memproses dengan daya upaya.

“Lagi malas bikin sendiri ya mas?”
“Kamuuh tau aja, kali-kali ngafee donk”

Cakap singkat di pagi yang sendu, semakin menebalkan ingin menguatkan harapan bahwa nyruput kopi akan semakin memberi arti indahnya hari ini.

Ternyata, gayung bersambut, harap dan nyata berjumpa, diawali dari sebuah perintah singkat untuk menemani ibu bos mengikuti meeting singkat di pagi ini.

Tak perlu pake lama, setelah merapihkan berbagai dokumen yang terserak di meja. Membawa bahan seperlunya, bergegas menuju tempat pertemuan, sebuah tempat yang suka dijambangi jikalau ada waktu di hari libur bersama istri tercinta, Cafe Sejiwa.

Salam kenal dan bertukar nomor kontak otomatis berjalan, cakap ringan hingga esensipun mengalir lancar. Meskipun disaat ingin menikmati sajian manual brew V60nya belum tersedia, agak masgyul siih. Tapi ini masih pagi, pukul 08.00 wib, yaaach wajar aja. Akhirnya hasrat bercengkerama dengan si kopi hitam dipenuhi dengan sajian hot longblack dengan beannya home blend cafe ini.

Alhamdulillah, kopi pertama hari ini. Perbincangan bersama tetamu dari Bank Mandiri berlanjut ditemani sedikit canda tetapi tetap fokus kepada tema tentang peluang investasi dan keanekaragamannya.

Sajian secangkir kopi hot longblack, membuka kenikmatan kopi hari ini. Meskipun beda dengan kopi racikan manual, tetapi tetap nikmat dan menyegarkan. Kemoon ngopay.

Ditambah lagi dengan menu sarapan berbasis buah-buahan segar. Anggur dibelah menemani irisan pisang dan dikawal barisan strawberry yang ranum memukau berpadu dengan oatmil menghasilkan padanan nyaris sempurna. Bicara rasa, jangan tanya, tetap pada dua pilihan, enak dan enak bingiit. Wassalam (AKW).

Kopi di awal Januari

Ngopi awal tahun 2019, kemoon.

Photo : Segelas Picollo yang nikmat / dokpri.

LEUGAJ, akwnulis.com, Seiring waktu menapaki janji, seuntai makna kehidupan kembali dirangkai kembali.

Setelah setahun lalu penuh cerita dan beraneka suka duka, maka sekarang menyongsong awal tahun 2019 dengan optimisme.

Terkait urusan kopi, sudah diawali dengan manual brew rumahan Kopi Gayo Wine Aman Kuba, dan ngopi lainnya yang memang tidak selalu didokumentasikan.

Photo : Segelas Kopi hasil manual brew V60 / dokpri

Soalnya jadi sibuk ambil photo, kopi seduhannya keburu dingin… hehehehe, atau udah diseruput abis, eeh.. lupa belum diphoto saking nikmatnya.. Alhamdulillah deh.

Sekarang kebetulan ngopinya di cafe, ngedadak ada yang ngajak, siapa takut. Maka sajian kopi manual brew V60 dari biji kopi arabica.. aduh lupa namanya, itu juga saking nikmatnya (ntar diinget-inget dulu) ditambah dengan Picollo.

Itu dulu yach… (AKW).

Arabica Karo Natural Tosca Cafe

Sajian manual brew V60 sambil menanti datangnya kereta.

Photo : Prosesi sang Barista beraksi / akw.

Menanti sang Argo Parahyangan datang ke haribaan perlu diisi dengan aktifitas yang positip. Positi versi aku.

“Tahu nggak contoh kegiatan positif?”
“Ya tahu donk, kegiatan yang bernilai baik dan bermanfaat”
“Aiiiih pintar kamuuu!!”

Nah di Gambir ini ada tempat langgananku, agar makin segar serta berfikir positip setelah otak dan raga berjibaku dalam suasana kerja di ibukota negara.

***

Pilihannya jatuh sama sahabat setia, cafe Tosca coffee di Gambir. Sambil menanti kereta yang belum tiba, saatnya berbincang santai sambil nyruput kopi pilihan sang Barista, kopinya Karo natural yang tersaji segera.

Dengan corong V60nya, air panas 92° celcius serta pola penyeduhan yang bertingkat agar ekstraksinya maksimal, berharap sesuai cerita akan muncul rasa nangka. Benarkah?…

Segera sang Barista Tosca coffee beraksi. Jangan ditinggalkan dan terima hasil saja, nikmati juga prosesnya. Perhatikan detailnya, disana ada suatu perpaduan nilai seni dan rahasia setiap barista. Bahwa cara yang berbeda menghasilkan rasa yang tak serupa, meskipun dengan biji kopi yang sama. Percaya teu?…

Terserah dech….. egp.

***

“Silahkan Bang, persembahan kami, manual brew Karo natural” sebuah kalimat yang di nanti. Segera disambut dengan sukacita, gelas kecil dan satu lagi, botol gelas saji berisi 228 ml kopi tanpa gula.

Photo : Sajian ciamik kopi arabica Karo natural versi Tosca coffee / akw.

“Kok tahu jumlahnya 228 ml?”

“Gaul donk… hehehehehe. Jadi gini. Sang Barista tadi nyiapin air panasnya 250 ml trus biji kopinya 15 gram. Di giling, diseduh perlahan dan berekstraksi. Nah residu di filternya itu ada sisa air panasnya sekitar 22 ml”

“Ampyuun… ngejelimet amat hidupmu. Nyeduh kopay aja di itung… cape dech”

“Lhaaa kok Situ yang pusing?, jangan nanya klo gitu mah.”

Perdebatan yang nggak penting, tapi itulah seni hidup. Terkadang yang nggak penting kata orang lain, mungkin penting untuk diriku, atau sebaliknya. So simple.

Yuk ah… sruput duluuu….

***

Aroma harum menyentuh hidung, rasa tipis di awal membawa acidity medium dan body medium arabica menyentuh lidah dan mulut. Lalu rasa tipis berubah menebal di akhir lidah, taste nangka yang dijanjikan hadir selarik rasa, sepintas ingatan.

“Bisaan euy”

Senyum sang Barista terlihat senang, begitupun diriku. Belajar menikmati proses hingga akhirnya menyecap hasil racikan kopi, yaitu jenis arabica Karo Natural.

“Kereta Argo Parahyangan dari Bandung telah tiba di jalur dua,…… dst”

Sebuah pengumuman khas yang memisahkan kebersamaan ini. See you next time, Barista Tosca dan kopinya. Wassalam (AKW).

Kopi Ethiopia Duromina Sejiwa

Menikmati kopi afrika bersama ibu negara.

Photo : Sajian kopi Arabica Ethiopia Duromina / akw.

BANDUNG, akwnulis.com, Bangunan lantai 2 bercat putih dengan kaca bening memberi akses pandangan menerawang dan terbuka. Terletak di Jalan Progo Kota Bandung, bernama Cafe Sejiwa.

Melewati cafe ini sangat sering karena dekat dengan tempat bekerja kadang sambil jalan kaki di pagi hari dan dipastikan masih tutup. Di kala sudah buka, nggak punya waktu untuk sekedar mampir. Ya sudah, nanti aja kalau sempet.

Apalagi Ibu negara juga reques, pengen nyoba nongki disitu. Ya sudah cocok deh. Perlu kordinasi dan diskusi lebih lanjut. Kemungkinannya di hari wiken, klo nggak sabtu ya minggu.

Tapi, itupun masih ada tapi. Ibu negara juga dines antara sabtu dan minggu.

‘Garuk garuk nggak gatal deh‘ (garo garo teu ateul, bhs sunda).

Akhirnya mah gimana nanti sajaaah..

***

Ternyata, takdir itu memang rahasia kawan.

Ibu negara kebetulan ada tugas di dekat kantorku, dan jam istirahat bisa dimanfaatkan ngopi bersama, alhamdulillah.

Mau cerita makanan di Cafe ini ya?”
“Nggak, aku mah mau cerita sajian kopinya”

“Ih gitu kamu mah, kirain mau review sajian makanan dan minumannya!!!”

“Jangan marah atuh, da aku mah pengen nulis kopi, yaa tambah suasana lainnya yang bisa dirasakan langsung”

“Ya nyerah, gimana kamu aja”

Bukan tidak mau menulis tentang makanannya, tapi khan memang nggak makan. Ntar nggak obyektif. Jadi inilah cerita tentang kopi yang tiada henti.

Trus juga jangan nge-judge, “Kok ngopinya kopi di luar jawa barat atau malah kopi luar negeri, nggak cinta kopi jabar ya?”

Diriku ini dengan segala keterbatasan, yaa ngopi sesuai dengan stok kopi yang ada. Trus kalau di cafe, situasional. Jikalau ada sponsor maka coba yang specialty coffee. Tapi klo sendirian, yaa cari kopi yang harganya terjangkau dengan saku.

“Ih kapan cerita kopinya?”
“Bentaaar atuh laaah”

***

Yang disajikan sesuai pesanan adalah kopi arabica Ethiopia Duromina.

“Kenapa milih itu?”
“Karena harganya tengah-tengah”

Jadi dari penelusuran singkat di daftar menu yang bejibun, khusus untuk manual brew terbagi menjadi 3 pilihan. Ada kopi lokal, kopi internasional dan terakhir specialty.
Nah kopi internasionalnya arabica Ethiopia Duromina.

Yang bikin bangga, specialty coffeenya adalah Arabica Gunung Puntang, alhamdulillah. Tapi nggak pesen itu karena baru kemarin nyeduh sendiri di kantor.

Sekarang ke kopi ethiopia yaa…. klo liat tulisan di botol kopinya, ada taste notenya stonefruit, blacktea, bergamot, cocoanibs.

“Naon eta?”
“Stonefruit itu bisa apel, apricot dan cherry, bergamot sejenis jeruk dan cocoanibs adalah biji cocoa”

Cuma karena keterbatasan pengalaman rasa dan memang bukan tukang icip icip rasa kopi, jadi yang dapat dirasakan tastenya memang acidity medium dengan selarik rasa segar jeruk serta rasa pahit yang simpel, menebal diujung, baru itu saja.

Photo : Kopi dan laptop = kerja sambil ngopay / akw.

Oh iya, sajian Arabica Ethiopia Duromina ini dengan menggunakan metode manual brew V60. Disajikan dalam nampan mini beralaskan kertas dengan tulisan ‘sejiwa’, botol servernya bener-bener botol dan cangkirnya menggunakan cangkir espresso warna coklat ditambah dengan segelas sedang air putih dengan es batu.

Ibu negara asyik dengan hidangan dan minumannya. Alhamdulillah, akhir kesampaian berdua nongkrong disini meskipun dalam waktu yang terbatas.

Euh, ada sedikit agak kurang nyaman. Pas ke toiletnya, ternyata bekas seseorang merokok. Akibatnya asap bergulung di dalam toilet yang sempit dan terasa begitu menyesakkan. Cuma posisi terjebak karena nggak kuat nahan kencing. Jadinya kencing sambil menghirup asap rokok dalam ruang sempit, nasiib.

Udah ah, yang pasti untuk sajian kopinya enak. Harga persajian kopi manual berkisar antara 25ribu – 55ribu. Srupuuut, tandas. Hatur nuhun (AKW).