Berenang & Ngasuh di Trans Luxury Hotel Bandung

Mencoba fasilitas kolam renang dan area kids corner, disini.

Photo : Area kolam renang lantai 3 / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Gemericik air memberi nuansa ketenangan, begitupun bercengkerama dengan air menghasilkan rasa senang dan kebahagiaan. Salah satunya adalah kolam renang. Resiko yang dihadapi lebih kecil dan pengorbanannya pun sederhana karena kolam renang bertebaran di seantero kota dengan berbagai karakteristiknya. Dibandingkan harus ke pantai yang cukup jauh dan perlu biaya, khususnya bagi warga Kota Bandung dan sekitarnya.

Bagi yang pandai berenang, datang ke kolam renang menjadi rutinitas yang bikin ketagihan. Buat yang masih belajar, yaa harus semangat supaya akhirnya bisa berenang. Nah giliran yang nggak bisa berenang, jangan khawatir, pilih saja kolam dangkal atau waterboom/waterpark yang tujuannya refreshing bersama keluarga tanpa khawatir tenggelam.

Photo : Kolam renang pasir putih / dokpri.

Beberapa tulisan terdahulu sudah membahas beraneka kolam renang yang kebetulan pernah dikunjungi, dilihat dan dirasakan. Meskipun baru sebagian kecil, dan beberapa yang bisa dituangkan dalam artikel blog ini, tapi minimal menjadi jejak digital positif dengan informasi yang moga-moga inspiratif.

Dari mulai kolam renang di Hotel Borobudur, Hotel Aryaduta Tugu tani dan Hotel Merlyn Park Jakarta Pusat, Kolam renang Cipaku di Bandung Utara, kolam renang Siliwangi, Hotel Preanger, Hotel Aryaduta, Hotel Crown Bandung, Pemandian air panas Sariater Subang, Hotel Gracia, Hotel Horison Altama Pandeglang, Hotel Metro Kota Tasikmalaya dan tentu akan menyusul cerita kolam renang di tempat lainnya.

“Kamu berenang atau cuman liat kolam renang, atau jangan-jangan hmya ngongkrong liat yang renang?”

Photo : Kolam renang dewasa / dokpri.

Sebuah pertanyaan yang sudah dijawab pada postingnya ini, cekidot.

Wew…. Disini Jawabannya.

Pilihan berenang di lantai 3 Hotel Trans Luxury Bandung yang terletak di Jalan Gatot Subroto Bandung.

Tempat berenang yang lengkap dan sesuai dengan tema luxury yang menjadi tagline hotel ternama ini. Kolam renang dewasa ukurannya belum versi olimpic tetapi dilengkapi dengan pool bar yang memanjakan para ‘perenang‘ untuk bersantai sambil berendam sekaligus menikmati segarnya minuman.

Trus, kolam kecil untuk anak juga ada dan satu lagi yang menarik adalah kolam untuk anak dengan pasir putihnya, ini yang menjadi ciri khas, sehingga putra putri kita bisa bermain air tawan serasa di pinggir pantai yang berpasir putih. Lifeguard juga standbye di pos nya dengan kursi yang tinggi, memastikan keamanan dan keselamatan para pengunjung dan penikmat kolam renang.

Ada juga fasilitas seluncuran yang menyenangkan plus juga area air mancur yang bisa diinjak sambil basah-basahan.

Di dekat pintu masuk kolam renang juga ada cafe dengan aneka sajian minuman serta kudapan, enak euy banyak pilihan….

Photo : Kids area / dokpri.

Satu lagi klo bicara tentang pengasuhan, eh mengasuh anak maksudnya. Ada tempat kids area di dekat kolam renang ini. Jadi kalau dari lobby naik lift ke lantai 3. Nah pas kluar lift… klo belok kiri berarti kolam renang, lurus itu ke kafe, maka belok kanan… lurus, disitu kids corner dengan peralatan mainan yang cukup lengkap.

Photo : Kids Area / dokpri.

Cuman musti hati-hati, karena pas pintu masuk ada counter ice cream baskin robin dan haagendazs…. rasa enaknya bikin ketagihan dengan harga yang lumayan.

Kemungkinan besar sang anak akan minta es krim dulu baru main di dalam. Hati-hati disini adalah jangan sampai anak kita terlalu banyak makan ice cream dan makanan minuman yang manis-manis…. nanti giuuuung…. hehehe bukan deng, khawatir kebanyakan makan gula bisa berakibat atraktif gerakannya atau bila menjadi kebiasaan dan menjadi kegemukan.

Jadi ngasuh anaknya bisa beberapa pilihan, berenang dan bermain pasir putih, nongkrong atau bermain di kids corner eh kids area lantai 3 Hotel Trans Luxury Bandung. Gitu cerita singkatnya kawan, Wassalam (AKW).

***

Catatan :

Untuk yang mau menikmati fasilitas kolam renang tanpa menginap bisa juga. Tarifnya 100rb/orang untuk akses ke kolam renang atau 150rb/orang dengan fasilitas akses ke kolam renang dan makanan seharga 100rb di cafe di samping kolam renang dengan menu yang sudah ada.

Buat yang kepo, bisa dibuka di website atau telepon langsung ke resepsionis di nomor telepon 022-87348888.

Kopi Koboi

Nyobain kopi dan bir kopi, disini.

Photo : Pilihan kopi di Cafe Koboi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis com. Sore yang sendu mengantarkan diriku untuk mampir dan bercengkerama dengan suasana khas bernuansa coklat alami disini. Sebuah cafe kopi yang memiliki keunikan tersendiri, sebuah kafe kopi yang konsisten dengan metode seduh kopi tubruk.

Jadi harus kuat badan kita karena sebelum nyuruput kopi maka siap-siap ditubruk sesuatu… hehehehe just kidding frend!!

Sajian kopinya diseduh dengan cara yang sudah biasa kita lakukan… dua sendok makan bubuk kopi ditimpa oleh air panas mendidih diatas gelas almunium, kudek.. eh aduuk pake sendok…. jreeeng jadi.

Trus disajikannya pake gelas almunium tertutup, maksutnya ada tutupnya. Sebelum minum harus di ditutup agar rasanya betul-betul keluar.

Oh iya, bubuk kopinya banyak pilihan, beberapa merk terkenal di indonesia ada di list menunya tetapi proses penyajiannya semua sama, kopi tubruk.

Photo : Kopi Tubruk arabica java preanger / dokpri.

Aku memilih arabica java preanger, penasaran dengan rasa kopi yang dihasilkan versi tubruk ini. Pilihan lain ada juga gayo, sidikalang, flores, bali dan lainnya tetapi mungkin itu kesempatan lainnya.

“Sruput dulu gaan…… adduh panas banget”

Simpen lagi dech, tunggu agak turun dulu suhunya.

Cafe koboi ini awalnya dikirain bertema koboi-koboi kayak pelem amrik sono…. ternyata koboi itu singkatan. Singkatan dari Koperasi Barudak OI, OI adalah komunitas penggemar lagu2 iwan fals…. dulu, dan mendirikan sebuah unit usaha berupa cafe kopi.

Photo : Pintu Gerbang Coffee Koboi / dokpri.

Dulunya dibawah jembatan layang pasupati dan pindah di lokasi sekarang itu sekitar 2013-an yaitu di jalan Kebon Kawung 9-10-11 Bandung. Klo moo ke stasiun bandung berarti posisinya sebelum stasiun setelah belokan hotel Swiss bell Bandung dech.

Menu yang disajikan tidak melulu kopi tetapi juga snack dan makanan, jadi cocok juga buat ngisi perut sambil bercengkerama.

Ada juga pilihan minuman berbasis kopi dengan nama-nama yang menarik hati. Seperti Kopi Bir Koboi, kopi Kuda Betina, Kopi Kuda jantan dan banyak lagi lainnya…. lupa euy nama2nya.

Nah karena penasaran, kopi Bir Koboi dipesan juga… dijamin katanya tidak akan mabok, karena 0% alkohol.

***

Ngopi itu enaknya sambil ngobrol…. dan alhamdulillah ketemu dengan kang Dian yang menjelaskan sepintas tentang Cafe Koboi ini.

Ada juga kaos dan gantungan kunci dijual disini, jadi distro juga…. penasaran?… kesini ajah.

Sekarang urusan kopi, jangan lupa #tidakadaguladiantarakita (nyomot tagar diplomasi kopinya bos Azis)…. rasa kopi tubruk arabica java preangernya ajibbb….. acidity khasnya tetap terasa, body medium dan harum semerbaknya bikin makun nikmaat.

Photo : Bir Koboi ala cafe coffee koboi / dokpri.

Trus setelah habis kopi tubruknya, giliran Bir koboy disruputt…… wuiihhh segeeer, rasa kopinya tetep ada tetapi bergabung dengan segarnya rasa yang berasal dari kayu manis, kapulaga, sereh, cengkeh, dan daun jeruk.

“Tapi maaf…. kok ada manis gula disini?” Bertanya dengan agak ngeberengut.

“Itu sedikit gula om, klo tanpa gula… dijamin rasanya jamu banget, nggak bakal suka dech”

Ya sudah karena sudah tersaji, dan sudah dibayar juga…. mari kita nikmati.

Rasanya menyegarkan…. meskipun masih sedih karena harus bersua dengan manisnya gula. Soalnya jadi terlalu manis, khan akyu sudah manieez….. awwww.

Trus yang menu minuman ‘kopi kuda betina dan kopi kuda jantan’, itu khusus untuk wanita dan khusus perempuan…. tapi harus dikomunikasikan dengan pasangan yang sah, karena ada ‘efek depan”… ini kata kang Dian yang jadi partner ngobrol sore ini.

Gitu dulu ya fren… cerita ngopay di cafe kobay… eh koboy. Happy wijen.. eh wikeeen. Wassalam (AKW).

***

V60 Mandailing di Gedogan Cafe

Menikmati sajian kopi, sambil memandang kendaraan lalu lalang disini.

Photo : Sajian kopi V60 Mandheling ditemani mawar merah/dokpri

DAGO, akwnulis.com. Semerbak aroma kopi menyebar di atmosfer rasa, laksana buih menggenggam samudera. Mengisi relung hari yang penuh dinamika, menjadi lebih ceria meskipun tugas yang terus mendera.

Sebuah kafe di Jalan Ir. H. Juanda nomor 116 ini menggugah selera untuk mampir dan tentu mencoba racikan kopinya seperti apa. Namanya Cafe Gedogan, menyajikan aneka makanan minuman dan tentu ada kopiiii…….

Cafe yang buka 24 jam ini tentu bisa menjadi pilihan untuk mengusir penat juga kerisauan hati, dengan nongkrong memandang arus lalu lintas jalan dago sambil nyruput sajian kopi manual brewnya… kayaknya nikmat.

Apalagi bagi orang-orang yang diberkahi kenikmatan disaat meminum sedikit demi sedikit sajian kopi yang bagi sebagian orang adalah kopi pahit yang tidak enak.. hueek.

Photo : Suasana Gedogan Cafe Dago/dokpri.

Padahal nikmaat bingit, ingat falsafah kopi yang wajib dipegang teguh, ‘Pahitnya kopi bisa mengurangi atau malah memusnahkan pahit getirnya kehidupan’.

Ingat ituu….

***

Kali ini pilihannya jatuh pada bean Mandailing arabica. Segera diproses tanpa banyak kata. Mengikuti Sang Barista Jajang Nurjamil memainkan peralatan manual brew V60 dengan komposisi ala Cafe Gedogan dengan harga 21ribu + ppn 10%.

Tadaaa…. hasilnya tersaji apik di botol kaca agak tinggi yang berfungsi menjaga suhu tersaji tetap dengan panas yang stabil. Juga cangkir mini plus 1 buah kue kecil. Ditemani vas bunga berisi bunga mawar artifisal memberi suasana berbeda.

Srupuut….. eh photo dulu buat di blog ini.

***

Bodynya lite, aciditynya juga lite ke medium. Tastenya tidak terlalu detail, ringan-ringan saja… yaa udah aja gitu. Cocok buat pecinta kopi hitam pemula.

Photo : Ngopay bray / dokpray.

Klo buat yang seneng kopi hitam dengan body agak berat, mungkin sedikit kecewa dengan sajian ini. Tapi ya begitu karakter kopinya dan juga komposisi takaran plus suhu air memiliki kontribusi pengaruh yang signifikan.

Over all, nongkrong disini menyenangkan. Mungkin besok lusa bisa mencoba menu kopi manual brew lainnya dalam suasana berbeda. Met ngopay bray, Wassalam (AKW).

Kopi Brazilian Santos

Menikmati kopi sambil menelusuri kenangan.

Photo : Brazilian Santos Excelso no sugar / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Gerimis menerpa, terasa begitu syahdu ditemani mendung yang menggelayut manja dalam suasana hari minggu, hari keluarga.
Kami bertiga melesat membelah jalanan yang lengang menuju satu tujuan di Kawasan Sukajadi Bandung.

Sambil menyetir, pikiran menerawang dan cerita masa awal pertemuan dengan istri tercinta yang sedang duduk di jok kiri inipun tergambar jelas.

Diawali dengan chat via bbm yang diberikan seorang kawan, sepakat bertemu tanpa tendensi dan tanpa target tertentu, tujuannya ketemu aja, udah gitu.

Pertemuan itupun sebetulnya perintah… saran dari ibunda, sesaat setelah memperlihatkan photo gadis cantik berkerudung yang tersenyum dengan latar belakang rindang dan menghijaunya sebuah taman.

“Ajak ketemu aja, ntar jikalau sudah jumpa, lapor lagi sama ibu”
“Iya bu”

***

Tempatnya adalah sebuah cafe, yaitu Cafe Excelso di daerah Sukajadi.

Singkat cerita, pertemuan itu terjadi. Tanpa banyak basa basi, bertemu, berkenalan dan pesen cemilan serta sajian cappucino plus hot chocolate. Ngobrol ngaler ngidul seolah kawan lama. Apalagi ternyata, banyak hobi yang mirip sehingga perbincangan selalu miliki bahan untuk terus berlanjut.

Padahal awalnya hanya berjumpa sesaat, minum dan ngobrol sebentar, trus melanjutkan kehidupan masing-masing.

Ternyata, 3 jam lebih berbincang hingga datangnya waktu sholat asyar. Kami akhirnya berpisah, kembali ke aktifitas masing-masing.

***

Malam harinya, segera menemui ibunda dan ayahanda. Sampaikan hasil perjumpaan tadi. Cerita apa adanya.

“Alhamdulillah, kita minggu depan bertemu ibunya untuk silaturahmi” kata ibunda, ayahanda tersenyum meng-amini.

Aku yang melongok, “Secepat itu Bunda?”

“Iya” jawaban singkat ibunda menjadi momen penting dalam hidup ini. Karena tanpa banyak cerita, sebuah perjalan hidup menyempurnakan ibadah segera dimulai.

45 hari kemudian, prosesi lamaran dilangsungkan dan berlanjut ke acara akad serta resepsi pernikahan.

“Ayahh… awas kelewat!!!” Suara istriku membuyarkan lamunan, karena tujuan hampir terlewat.

***

Itulah kisah awal perjumpaan singkat kami dan mewujud menjadi keluarga kecil yang bahagia. Apalagi dengan hadirnya anak sholehah, Ayshaluna. Semakin lengkap kehidupan ini.

Photo : Sajian Chef’s Salad Cafe Excelso / dokpri.

Sekarang di cafe excelso, menikmati bersama makanan dan minuman yang tersedia di menu. Diriku, seperti biasa sajian kopi tanpa gula dengan pilihan beannya adalah Brazilian santos.

Hanya agak sulit mengidentifikasi rasa karena pembuatannya menggunakan mesin. Tapi tidak apa-apa, hanya body boldnya yang terasa sementara acidity dan fruitty versi bungkusnya…. kurang dapat di eksplorasa eh rasi.

Menu makan siangnya adalah Chef’s salad. Lengkap eta mah, sayuran, ayam asap, tomat chery, keju, mentimun, kol ungu dan sebagainya aja. Pokoknya banyak sayurannya. Wassalam (AKW).

Longblack Sejiwa

Memulai hari bersama sajian kopi yang memberi asa dalam diskusi

Photo : Secangkir Longblack membawa inspirasi, abaikan cake red velvetnya ya, bukan punyaku / dokpri.

PROGO, akwnulis.com, Sekuncup harap bersua nyata, semisal hanya ingin mencoba nikmati rasa tanpa harus bersusah payah memproses dengan daya upaya.

“Lagi malas bikin sendiri ya mas?”
“Kamuuh tau aja, kali-kali ngafee donk”

Cakap singkat di pagi yang sendu, semakin menebalkan ingin menguatkan harapan bahwa nyruput kopi akan semakin memberi arti indahnya hari ini.

Ternyata, gayung bersambut, harap dan nyata berjumpa, diawali dari sebuah perintah singkat untuk menemani ibu bos mengikuti meeting singkat di pagi ini.

Tak perlu pake lama, setelah merapihkan berbagai dokumen yang terserak di meja. Membawa bahan seperlunya, bergegas menuju tempat pertemuan, sebuah tempat yang suka dijambangi jikalau ada waktu di hari libur bersama istri tercinta, Cafe Sejiwa.

Salam kenal dan bertukar nomor kontak otomatis berjalan, cakap ringan hingga esensipun mengalir lancar. Meskipun disaat ingin menikmati sajian manual brew V60nya belum tersedia, agak masgyul siih. Tapi ini masih pagi, pukul 08.00 wib, yaaach wajar aja. Akhirnya hasrat bercengkerama dengan si kopi hitam dipenuhi dengan sajian hot longblack dengan beannya home blend cafe ini.

Alhamdulillah, kopi pertama hari ini. Perbincangan bersama tetamu dari Bank Mandiri berlanjut ditemani sedikit canda tetapi tetap fokus kepada tema tentang peluang investasi dan keanekaragamannya.

Sajian secangkir kopi hot longblack, membuka kenikmatan kopi hari ini. Meskipun beda dengan kopi racikan manual, tetapi tetap nikmat dan menyegarkan. Kemoon ngopay.

Ditambah lagi dengan menu sarapan berbasis buah-buahan segar. Anggur dibelah menemani irisan pisang dan dikawal barisan strawberry yang ranum memukau berpadu dengan oatmil menghasilkan padanan nyaris sempurna. Bicara rasa, jangan tanya, tetap pada dua pilihan, enak dan enak bingiit. Wassalam (AKW).

Kopi di awal Januari

Ngopi awal tahun 2019, kemoon.

Photo : Segelas Picollo yang nikmat / dokpri.

LEUGAJ, akwnulis.com, Seiring waktu menapaki janji, seuntai makna kehidupan kembali dirangkai kembali.

Setelah setahun lalu penuh cerita dan beraneka suka duka, maka sekarang menyongsong awal tahun 2019 dengan optimisme.

Terkait urusan kopi, sudah diawali dengan manual brew rumahan Kopi Gayo Wine Aman Kuba, dan ngopi lainnya yang memang tidak selalu didokumentasikan.

Photo : Segelas Kopi hasil manual brew V60 / dokpri

Soalnya jadi sibuk ambil photo, kopi seduhannya keburu dingin… hehehehe, atau udah diseruput abis, eeh.. lupa belum diphoto saking nikmatnya.. Alhamdulillah deh.

Sekarang kebetulan ngopinya di cafe, ngedadak ada yang ngajak, siapa takut. Maka sajian kopi manual brew V60 dari biji kopi arabica.. aduh lupa namanya, itu juga saking nikmatnya (ntar diinget-inget dulu) ditambah dengan Picollo.

Itu dulu yach… (AKW).

Arabica Karo Natural Tosca Cafe

Sajian manual brew V60 sambil menanti datangnya kereta.

Photo : Prosesi sang Barista beraksi / akw.

Menanti sang Argo Parahyangan datang ke haribaan perlu diisi dengan aktifitas yang positip. Positi versi aku.

“Tahu nggak contoh kegiatan positif?”
“Ya tahu donk, kegiatan yang bernilai baik dan bermanfaat”
“Aiiiih pintar kamuuu!!”

Nah di Gambir ini ada tempat langgananku, agar makin segar serta berfikir positip setelah otak dan raga berjibaku dalam suasana kerja di ibukota negara.

***

Pilihannya jatuh sama sahabat setia, cafe Tosca coffee di Gambir. Sambil menanti kereta yang belum tiba, saatnya berbincang santai sambil nyruput kopi pilihan sang Barista, kopinya Karo natural yang tersaji segera.

Dengan corong V60nya, air panas 92° celcius serta pola penyeduhan yang bertingkat agar ekstraksinya maksimal, berharap sesuai cerita akan muncul rasa nangka. Benarkah?…

Segera sang Barista Tosca coffee beraksi. Jangan ditinggalkan dan terima hasil saja, nikmati juga prosesnya. Perhatikan detailnya, disana ada suatu perpaduan nilai seni dan rahasia setiap barista. Bahwa cara yang berbeda menghasilkan rasa yang tak serupa, meskipun dengan biji kopi yang sama. Percaya teu?…

Terserah dech….. egp.

***

“Silahkan Bang, persembahan kami, manual brew Karo natural” sebuah kalimat yang di nanti. Segera disambut dengan sukacita, gelas kecil dan satu lagi, botol gelas saji berisi 228 ml kopi tanpa gula.

Photo : Sajian ciamik kopi arabica Karo natural versi Tosca coffee / akw.

“Kok tahu jumlahnya 228 ml?”

“Gaul donk… hehehehehe. Jadi gini. Sang Barista tadi nyiapin air panasnya 250 ml trus biji kopinya 15 gram. Di giling, diseduh perlahan dan berekstraksi. Nah residu di filternya itu ada sisa air panasnya sekitar 22 ml”

“Ampyuun… ngejelimet amat hidupmu. Nyeduh kopay aja di itung… cape dech”

“Lhaaa kok Situ yang pusing?, jangan nanya klo gitu mah.”

Perdebatan yang nggak penting, tapi itulah seni hidup. Terkadang yang nggak penting kata orang lain, mungkin penting untuk diriku, atau sebaliknya. So simple.

Yuk ah… sruput duluuu….

***

Aroma harum menyentuh hidung, rasa tipis di awal membawa acidity medium dan body medium arabica menyentuh lidah dan mulut. Lalu rasa tipis berubah menebal di akhir lidah, taste nangka yang dijanjikan hadir selarik rasa, sepintas ingatan.

“Bisaan euy”

Senyum sang Barista terlihat senang, begitupun diriku. Belajar menikmati proses hingga akhirnya menyecap hasil racikan kopi, yaitu jenis arabica Karo Natural.

“Kereta Argo Parahyangan dari Bandung telah tiba di jalur dua,…… dst”

Sebuah pengumuman khas yang memisahkan kebersamaan ini. See you next time, Barista Tosca dan kopinya. Wassalam (AKW).