Menuju Gunung Parang.

Lokasi pendakian adalah tujuan, berangkat.

Photo : Terbang dulu yuuk… / dokpri.

Chapter II

PERSIAPAN PENDAKIAN, lanjutan dari chapter I. Keinginan vs BB.

PURWAKARTA, akwnulis.com. Berat badan menjadi pertimbangan karena khawatir tidak kuat dalam menghadapi tantangan kenyataan. Tetapi semangat dalam diri tetap membara dan ingin membuktikan bahwa serpihan keberanian dan kemampuan itu masih ada, masih tersisa.

Segera berkontak dikala mulai merasa siap dan berat badan menjadi pembahasan prioritas, ternyata jawabannya menyejukkan, “Ah segitu mah nggak berat atuh Kakak”

Agak plong perasaan tertekan yang ada, langsung bersiap dan bersegera menyusun rencana, sebuah rencana yang pernah tertunda bertahun lamanya.

Berangkaaat……

Eh, persiapaaaaan…. dulu atuh.

***

Perjalanan dari Bandung ke lokasi yang sudah diimpikan bertahun-tahun lalu terasa menyenangkan, meskipun di tol Cipularang ada suasana sedikit beda, apalagi mendekati km93-91, rata-rata pengendara mengendurkan kecepatan dan lebih berhati-hati, sambil sesekali memandang sisa-sisa bukti benturan dan goresan akibat tabrakan karambol yang melibatkan 21 kendaraan beberapa waktu lalu,

Semoga para korban meninggal khusnul khotimah dan yang luka-luka kembali sehat seperti sediakala begitupun keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, keikhlasan dan ketawakalan.’

Mobil terus melaju….

“Bentar.. bentar, memangnya kakak mau kemana dan ngapain?”

Jawabannya senyum dikulum dam tatapan penuh arti, meskipun moncong kendaraan sudah menuju kepada arah yang pasti. Keluar dari pintu tol Jatiluhur belok kanan menuju daerah Sukatani. Selanjutnya tinggal ketik saja ‘Badega Gunung parang’ di aplikasi gugelmap.. dan ikuti perintahnya.

Dari keluar pintu tol hingga sampai di TKP memakan waktu sekitar 35 – 40 menitan, dari jalan utama purwakarta – bandung belok kanan melewati pasar anyar sukatani, daan… beneran masuk pasar… kendaraan berjalan perlahan menyusuri jalur pasar yang ramai pengunjung, hingga akhirnya melewatinya dan memulai perjalanan di jalan kampung yang cukup sempit tetapi lumayan sudah beraspal… ikuti saja belokan demi belokan.

Buat yang belum pernah ke lokasi dan suangaat bergantung dengan gugelmap

…..Pastikan pake operator yang internetnya stabil, jangan sampai putus petunjuk ditengah jalan dan akhirnya kebingungan….

…eh tapi jangan takut juga, gunakan saja ilmu dasar komunikasi, berhenti sejenak dan bertanya dengan santun kepada orang yang ditemui.

“Dupi ka Gunung parang ka palih mana?”…. Pasti dapet jawaban, kecuali nanyainnya ke sapi atau ayam.. dijamin makin tersesat kawan.

Kami kebetulan mengaktifkan guglemap di masing-masing smartphone dengan operator seluler yang berbeda, sehingga bisa saling melengkapi sekaligus membully kawan yang sinyalnya hilang terus hehehehe.

Ke lokasi Gunung parang ini lebih enak pake motor, tetapi jikalau berkendara roda 4 hindari pake sedan apalagi yang ceper, ntar nyangkut lho karena beberapa titik jalan mendekati tkp dalam kondisi yang cukup menantang dan sebaiknya kendaraan yang ground clearence yang tinggi… ya kayak avanza/xenia, elf,panther,kuda,katana,crv… lhaa kok disebutin semua?…… atau seperti kami menggunakan Toyota Rush (kok jadi kayak iklan ya?)…

Lanjutt……

Tiba di tempat yang dituju disambut dengan gerbang ‘Badega Gunung Parang’, perlahan tapi pasti kami memasuki area parkir dan disambut suasana alami dengan background gunung batu yang menjulang tinggi.

Photo : Nangkring di saung warung / Pic by Mr R.

“Alhamdulillahirobbil alamiin, akhirnya kami bisa tiba disini, tempat yang sudah lama ingin mencoba dan merasakan tantangannya”.

Segera menuju saung dan ternyata warung, sebagian lagi bergegas ke tanah lapang untuk berpose dengan latar belakang gunung parang…

woy….. ikutaaaan… loncaaat… cetreek.

To be continue Chapter III, MENDAKI LAGI. Wassalam (AKW).

***

Sunrise di Sukageuri View

Berburu Sunrise di Bukit Sukageuri, berbagi rasa dengan sesama pelancong dan penikmat pemandangan serta udara segar pagi hari di kaki Gunung Ciremai.

Photo : Sunrise di gerbang Bukit Sukageuri/dokpri.

Adzan shubuh belum berkumandang tetapi mata sudah terbuka lebar, bersiap menyambut panggilan sholat sebagai salah satu kewajiban umat islam.

Berjamaah sholat shubuh dilanjutkan dzikir akhirnya usai. Segera berganti kostum dan bersepatu olahraga. Bergerak menembus dinginnya hawa menuju titik lokasi yang mungkin tepat untuk abadikan kehadiran sang mentari di ufuk timur kota Kuningan.

Berburu sunrise di kaki Gunung Ciremai menjadi judul tulisan ini, setelah disaat yang lalu mereport tentang kabut yang enggan beranjak di Tenjolaut. Sekarang saatnya mencoba melihat sisi lain wilayah Palutungan.

Photo : Sunrise diatas Kota Kuningan

Ada korelasi positif antara berburu sunset dengan pola perilaku seseorang. Perilaku positif tersebut atau premis yang ada adalah : pemburu sunrise PASTIrabadiri‘ alias rajin bangun dini hari. Karena klo males bangun pagi, momen menikmati sunrise akan terhapus dengan sendirinya. Perilaku kedua adalah ‘Tidak takut udara dingin dan angin’.

Pic : Gn Ciremai dipagi hari / dokpri

Perjalanan pagi dilanjut bermobil ria karena jarak yang cukup lumayan sekitar 8,1 km dari Kota dengan kontur jalan berkelok menanjak. Tapi dengan bermobil, nikmat pisan menanjaknya. Jalan kaki bisa dicoba tapi perlu waktu 2 jam lebih.

Cuman klo telat nyampe… yaa sunrisenya kelewat. Tepat pukul 05.28 wib, daku udah menclok di dataran tinggi Palutungan dan segera mengabadikan momen sunrise yang begitu mempesona. Sinar kuning keemasan menyeruak gelapnya pagi, sambil tersenyum untuk segera menyinari alam ini. Puas menikmati ciptaan Allah SWT ini, segera beranjak menuju kawasan wisata yang bernama ‘Sukageuri View’.

Pic : Petunjuk gerbang masuk Bukit Sukageuri / dokpri.

Sebuah kawasan wisata yang dikembangkan oleh Pemda Kuningan bersama Desa Cisantana dan Kompepar Palutungan sejak tahun 2012 silam. Petunjuk arah ke bukit Sukageuri relatif eye catching berada di sisi kiri jalan raya, langsung belok kiri aja dan 50 meter kemudian ada loket pembayaran. Tiket Rp. 15.000,- per orang (tertera tulisan di samping gardu tiket), hanya saja karena masih rebun-rebun pagi-pagi…. eh petugas tiket belum ada. Yaa lewati dan free…. (moo bayar bayar kemana?) Padahal klo dihitung pengunjung yang sedang asyik ber-wefi dan selfi dengan latar sunrise sekitar 60 orang.

Pic : menara padang bulan sabit / dokpri.

Beberapa panggung tinjau dari bambu sudah dibangun oleh pengelola sehingga digandrungi pelancong. Meskipun harus extra hati-hati karena tanpa pengaman yang berarti. Ada yang berbentuk bintang, bulan sabit serta mahkota raja. Dipadu dengan sinar mentari pagi atau gagahnya gunung ciremai plus kamera smartphone atau DSLR yang mumpuni dijamin photonya instagramable.

Pic : Sunrise diantara menara bintang / dokpri.

Puas menikmati panggung pandang, kaki bergerak menyusuri area Bukit Sukageuri ini yang cukup luas. Cocok untuk jogging trek dan acara outdor lainnya. Dengan kontur bukit berbatu dan berundak-undak alami, cukup menantang untuk di jajal.

Pic : Tangga turun dari menara pandang / dokpri.

Fasilitas parkir mobil leluasa serta mesjid yang lumayan bisa menampung pengunjung memberi poin tersendiri. Termasuk pembuatan rumah-rumah hobbit yang bisa memuaskan dahaga pengunjung yang ingin selalu eksis dimanapun dengan tongsis dan pastinya narsis habis hingga kadang photonya itu 1/3 selalu wajah si empunya gadget hehehehe.

Pic : Rumah Hobbit di Bukit Sukageuri / dokpri.

Itulah cerita singkat tentang bukit Sukageuri, Palutungan Kecamatan Cigugur Kuningan.

Keluar dari area tersebut kira-kira 1 km ke arah bawah terdapat gapura bertuliskan ‘Taman Cisantana’...

Pic : Pintu gerbang Taman Wisata Cisantana / dokpri.

Penasaran, langsung rush hitam belok kanan dan masuk ke lokasi tersebut. Ada bangunan gerbang tiket yang lagi-lagi masih kosong tiada orang. Tertera tarif masuk Rp 10.000,- per pengunjung. Didalamnya area jogging track, tempat bermain dan kembali fasilitas narsis diatas bukit.

Pic : Bukit batu Taman Cisantana / dokpri.

Yang menarik adalah bukit batu yang berdiri kokoh menyambut pagi diatasnya terdapat trek untuk view serta jalan-jalan bagi pengunjung. Hanya memang tidak sempat memanjat sang bukit batu karena waktu jua yang membatasi.

Pic : taman Cisantana / dokpri.

Fasilitas toilet dan tempat makan tersedia, tetapi daku tak berlama-lama berada disini karena janji kepada istri tercinta bahwa jam 07.00 wib sudah kembali tiba di basecamp. Hatur nuhun. (Akw)

Gedung putih Tenjolaut

Jalan pagi mengejar Sun-ASI sambil bercanda bersama kabut yang setia di Tenjolaut Palutungan.

Gedung putih tenjolaut

Photo : Gedung putih Tenjolaut.Dokpri

Dingin masih menggigit kulit disaat langkah mengayun menuju daerah Cigugur, Kuningan. Tak lagi bermanja untuk berjalan cepat di trek menurun, tapi bergegas menuju tanjakan mengular menuju daerah Cipari. Betis terasa berat menyokong raga disaat menanjak curam, tetapi mengejar agar keringat segera keluar memang butuh perjuangan.

Perjalanan sang langkah kaki berlanjut memasuki jalan provinsi menuju daerah cigugur hingga sampai ke pertigaan yang memberi pilihan ke kiri Kota Kuningan, ke kanan arah Ciamis. Klo lurus ya mentok, khan udah di jelasin ini mah pertigaan. Belok kanan kira2 300 meter ada jalan ke kanan, itulah arah yang dituju. Arah menuju dataran tinggi Palutungan di wilayah Desa Cisantana Kecamatan Cigugur…

Photo : Tanjakan Palutungan/dokpri

Segera kaki menanjak lagi hingga 30 menit disambut gagahnya gunung Ciremai yang berbinar disinari mentari sesekali karena kabut masih terus melungkupi….. dan akhirnya ngaso dulu karena cape juga… hihihi… maklum beberapa bulan belakangan ini agak malas olah tubuh… jadi 5 km menanjak dirasa cukup dulu ah (sambil ngelirik aplikasi endomondo di Smartphone, lumayan 498 calori terbakar, katanyah).

Pembelaannya, “Khan 5kmnya nanjak, jadi dirasa cukup”. Perjalanan ke bukit palutungan dilanjut dengan kendaraan. Waktu baru 06.45 Wib tetapi mentari sudah tinggi dannn….. tertutup awan agak tebal. Gagal dech ngambil sun-ASi (sunrise agak siangnya). Tapi mumpung ada mobil, kita anggap aja survey pendahuluan.

Setelah mengamati dan waspada terhadap petunjuk jalan di daerah palutungan ada beberapa pilihan tempat yang bisa menjadi tujuan kunjungan keluarga. Antara lain : Beberapa restoran dengan parkiran yang cukup luas, Taman Cisantana, Wisata Bukit Sukageuri, Bumi perkemahan Palutungan, Curug Puteri atau sebelum jauh menanjak terdapat juga tempat wisata religi Goa Maria yang sudah dikenal lebih dulu.

Ternyata……. kepagian tiba di lokasi, jadi akses ke Curug Putri gerbangnya masih terkunci… nyubuh teuing lurr. Rush hitam bergerak lagi memasuki area parkir tempat wisata bumi perkemahan palutungan. Disambut jajaran kios, kayaknya kios souvenir tapi lagi-lagi masih tutup.

Trus Ada petunjuk yang tertulis ‘Tenjo laut’ (melihat laut), wow ini menarik, ada area yang bisa melihat laut, tapi laut mana?…. wilayah kabupaten kuningan khan di tengah pulau jawa?… jadi penasaran. Segera bergerak lagi, masuk jalan berbatu, jalan kecil hanya cukup 1 mobil. Kanan kiri semak belukar… asyik petualangan. Jalan berkelok menghijau dan ternyata sisi kirinya jurang… musti extra hati-hati.

Photo Merah putih di antara kabut/dokpri.

dan…. jreng…. tak berapa lama terlihat bangunan putih nan megah. “Apakah ini nyata?” Sedikit rasa khawatir menelusup kalbu, tapi segera dienyahkan dengan berdzikir kepada Illahi robbi. Semakin dekat dan semakin jelas bahwa itu bangunan nyata apa adanya. Bangunan besar berwarna putih berdiri megah dalam kesunyian.

Perlahan mendekat dan tentu penasaran karena pengen liat laut (khan namanya Tenjo laut). Masuk dari pinggir kiri sampai hingga ke halaman gedung, sang merah putih menyambut dengan kibaran semangat berangin pagi. Ternyata kabut belum berkenan untuk pergi dari gedung putih tersebut, tetap setia menyelimuti sehingga tak bisa melihat pemandangan sekitar.

Dingin pagi terus menusuk kulit, memaksa untuk segera pergi dari lokasi tersebut. Usut punya usut, gedung itu adalah gedung millik Kementerian Sosial Direktorat Rehabilitasi Sosial KP Napza IPWL RumahTenjolaut.

Photo loncat tapi kedinginan / dokpri.

Setelah mencoba bertahan dengan harapan sang kabut terurai dan pemandangan terhampar, ternyata belum terwujud. Mencoba loncat-loncat gerak badan, tetap saja kedinginan. Akhirnya menyerah untuk melihat pemandangan di Tenjolaut ini, karena kabut terlalu setia menemani. Padahal jam sudah bergerak di jam 08.00 wib. Kendaraan bergerak bergegas meninggalkan lokasi untuk kembali menyusuri jalan sempit berbatu menuju akses jalan raya dan kembali ke basecamp di wilayah kuningan kota.

Alhamdulillah sudah bisa menikmati udara pagi sambil berolahraga plus nambah pengalaman berkenalan dengan gedung putih di Tenjolaut Palutungan. (Akw).

Rumah Keong di Belitong

Sebuah kisah tentang salah satu spot wisata di pulau Belitong

Disaat bus kencang bergerak menuju arah mesjid untuk mengantar kami menunaikan ibadah shalat jumat. Di sebelah kiri terlihat terlihat empat bangunan lucu berwarna krem, setengah lingkaran dan seperti bergaris-garis. Spontan pertanyaanpun berhamburan, “Tadi bangunan apa yach?”.

“Itu rumah keong”, jawab mbak putri, guide setia selama kami beredar di Pulau eksotis ini. Mbak putripun melanjutkan, “Itu tempat wisata baru, ada yang menyebut rumah keong tetapi juga ada yang menyebutnya rumah rotan. Juga disebut dermaga Kirana. Nanti setelah sholat jumat kita menuju ke sana”. Semua mengangguk setuju. Bis akhirnya berbelok memasuki pelataran mesjid dan kami berhampuran menuju tempat wudhu untuk memenuhi syarat sebelum sholat jumat.

Sholat jumat sudah selesai, tidak ada aktifitas makan siang karena ini bulan puasa bulan ramadhan yang merupakan bulan istimewa bagi umat islam. Bus bergerak pasti melahap jalanan yang tidak terlalu ramai, meliuk gesit menuju tempat yang tadi menimbulkan kepenasaran kami. Hanya butuh 9 menit perjalanan, bus hijau berbelok arah kanan dan tiba di halaman luas hamparan tanah keras berwarna coklat. Bus hijau segera bersandar mendekati pepohonan demu mendapat sedikit sentuhan keteduhan.
Ternyata betul rumah keong adalah tempat wisata baru, yang dibangun dipinggir rawa yang sekaligus memiliki fungsi dermaga. Namanya kereen, dermaga Kirana, mengingatkan pada judul lagu Dewa 19. 

Bangunan krem yang berbentuk mirip rumah keong dibangun dengan kobstruksi baja yang dililit oleh rotan. Rasa penasaran meraba rotan yang terjalin nyaris sempurna. Tetapi saat telapak tangan bersentuhan, terasa permukaan rotan terasa halus. Maka rabaan meluas karena rasa penasaran, akhirnya muncul sebuah kesimpulan bahwa ini bahan sintetis berbentuk rotan, mirip bingitt apalagi kalau dari kejauhan.

Setelah berkeliling di dalam rumah keong, kaki menjejak menuju dermaga. Tersaji pemandangan alam yang memanjakan mata, bentangan air bening rawa memanggil untuk sejenak bercengkerama. Beberapa perahu bersandar, siaga untuk mengantarkan pengunjung yang ingin beredar mengelilingi kawasan rawa dengan biaya Rp. 250 Ribu per perahu dengan kapasitas sampai 10 orang. 

Ada juga perahu kecil warna warni yang gunakan tenaga kayuh. Tetapi sementara hanya menjadi penghias warna berbalut ceria. Tapi kalau mau nekat mungkin bisa digunakan hanya saja resiko tanggung sendiri.

Setelah mengabadikan berbagai pemandangan yang begitu memanjakan hati. Akhirnya waktu jua yang membatasi semua kesenangan ini, apalagi jadwal pesawat di bandara tidak mau kompromi untuk menunda. Langkah kakipun perlahan membawa raga meninggalkan area dermaga kirana.

@andriekw 160517