KOKYO Coffee Pangandaran

Ngopi di KOKYO yuk.

BULAKLAUT, akwnulis.com. Jikalau pagi tadi dimanjakan oleh sajian KOPI & KELAPA di pinggir pantai barat dengan kopi yang seadanya di emak penjual jajanan maka dikala sore menjelang perlu mencoba sajian kopi yang diproses secara manual v60.

Bergeraklah jemari mencari informasi di sekitar layar smartphone dan muncul beberapa pilihan. Sebagai pelengkap maka tanya-tanya juga kepada beberapa orang yang kelihatannya adalah akamsi atau orang sini.

Om kalau kafe atau kedai kopi yang nyediain kopi seduh manual dengan V60 dimana ya?”

Wajahnya agak bingung, trus nunjuk salah satu kafe di depan. Yach sudah kayaknya harus sambil bergerak deh.  Kayaknya salah nanya hehehehe.

Di layar smartphone ada sebuah pilihan namanya KOKYO KOPi, kayaknya sih kopi susu begitu yang biasa anak muda sekarang dengan aneka campuran susu, matcha, coklat dan sebagainya. Tapi ternyata ada juga pilihan manual brew V60, nah ini baru pilihan tepat. Meluncuuur….

Hmmn.. tempatnya gabung sama restoran tapi agak depan dan akses tersendiri. Ruangannya juga enakeun dan benar saja, ada sajian manual brew dengan corong V60 dengan pilihan biji kopinya adalah Enrekang Bungin Nating, Anaerobic wash Exotic java dan Arabica Kerinci Natural.

Pilihannya jatuh pada arabica Exotic Java karena penasaran dengan noticenya yang menyebutkan ada sweet yang exotic.

Nah yang bikin penasaran juga adalah nama cafenya, KOKYO. Lontaran pertanyaan kepada teteh pelayan dan Yoga sang barista disambut dengan kebingungan tapi jadi pe er mereka untuk mencari tahu apa arti sebenarnya. Nah besok lusa mampir lagi harus sudah ada jawaban.

Jangan sampai artinya dalam bahasa indonesia sunda, yaitu ‘Kok Kieu?” Ini mah berarti rasa kopinya nggak enak jadi komplen hehehehe.

Maka jelas bahwa penamaan sebuah cafe coffee tentu harus ada philosopinya. Setelah itu sang owner wajib mengajarkan makna nama itu kepada seluruh pegawainya terutama front office dan barista. Jadi tidak akan bingung lagi disaat ada pelanggan iseng dan nanya-nanya.

Urusan rasa dari kohitala yang tersaji lumayan enak, ada keseimbangan body dan acidity serta aftertaste yang menyegarkan dilengkapi dengan suasana cafe yang ditata apik meskipun mungil tapi cantik.

Yang penasaran dan pengen ngopi disini yaa googling aja. Tapi kalau malas googling lokasinya sebelah kiri terhalang 2 bangunan daru hotel Arnawa Pangandaran. ‘Hotel arnawa sebelah mana?’… monggo googling lagi.

Udah ah, sekarang mah sruput dulu ah….. hasil karya barista KOKYO Coffee. Alhamdulillah. Wassalam (AKW).

1 Kopi 3 Hewan : Takdir.

Ngopi bersama aneka hewan, siapa takut… yu ah.

PANGANDARAN, akwnulis.com.  Pertemuan dengan seseorang ataupun sesuatu tidak lepas dari takdir yang ditentukan Illahi. Manusia hanya mahluk lemah yang sok perkasa dan mampu merencanakan sesuatu yang luar biasa. Padahal semua adalah berdasar kehendak-Nya. Tetapi nilai ihtiar dan kesungguhan hati dalam memikirkan, mengkonsepkan hingga melaksanakan sesuatu sampai terwujud dengan baik, itulah bagian dari ibadah seorang hamba.

“Weiits… mentang-mentang jumat pagi ya, jadi begitu agamis?”

Hehehe, tidak kawan. Ini adalah bagian penting dalam kehidupan sebagai mahluk tuhan, dimana kita wajib mengikuti jejak sikap Rasululloh yaitu Tablig, menyampaikan kebaikan.

Nah kalau Rasul mah dakwah, penulis mah begini aja. Nulis sesuatu yang mengingatkan diri sendiri sekaligus tulisannya di share ke kolega via WA. Siapa tahu ada yang baca dan tergerak hatinya. “Betul khan?”

Tulisan sekarangpun tidak jauh dari makna takdir tadi. Manusia berkehendak tetapi Allah yang menentukan.

Sebenernya spoilernya sudah ada di tulisan awal yaitu KOPI & TEMAN DI TENGAH MALAM. Temanya tetap yaitu perkopian namun kali ini berhubungan dengan kehadiran mahluk tuhan yang lain yaitu binatang.

Ulangi dikit ya, di tulisan sebelumnya itu adalah pertemuan dengan kumang. Kumang atau lebih dikenal dengan umang-umang atau kelimang darat (dardanus celidrus) serta dalam bahasa inggrisnya ‘terrestrial hermit crab” adalah jenis krustasea deapod dan masih merupakan bagian familia kepiting kelapa yang cenderung hidup sendiri.

Yang menariknya adalah kumang ini bisa lepas dari cangkangnya dan bisa pake cangkang siput laut, kerang, juga potongan pohon yang berongga. Kali ini dia pake cangkang kerang atau kewuk sebagai rumahnya.

Maka menyeduh manual brew V60 kopi garut dan dengan perbekalan yang ada termasuk gelas kaca, bisa bercengkerama dengan kumang sambil mengabadikannya perlahan bergerak keluar dari cangkang kerang adalah momentum yang wajib disyukuri. Disengajain tengah malam cari kumang dan kopi manual mah susah pisan guys.

Lanjut sambil nunggu shubuh ngedit video… eh bukannya shalar tahajud yaa… gpp ketang suka-suka. Hidup itu pilihan. Jadi inget kata pak Gubernur RK kemarin, “Cintai yang kamu kerjakan dan Kerjakan yang kamu cintai”... hayu ngedit ah…  eh wudhu dulu.

***

Pertemuan kedua antara kopi dan binatang itu terjadi dikala mengabadikan sajian segelas kopi racikan sendiri berlatar belakang mentari yang malu-malu terbit di ujung cakrawala pantai timur pangandaran. Alhamdulillah, begitu indahnya sunrise ciptaan Tuhan. Warna kuning keemasan berpadu padan dengan permukaan perak laut pangandaran bersama deburan ombak yang membuat raga dan hati bergetar. Luar biasa sekali kawan.

Disitulah seekor kucing liar datang dan mendekam di dekat gelas kopi yang sedang diabadikan.. ya sudah cetrek cetrek cetrek.

Eh satu hewan lagi nggak mau ketinggalan untuk diabadikan bersama mentari yang semakin menghangat. Berarti ini hewan ketiga. Yaitu seekor ayam jago. Perlahan datang dan langsung berpose bersama kehangatan sang mentari serta secangkir kopi racikan pribadi.

Sungguh menyenangkan sruputan kopi kali ini, ditemani berbagai mahluk tuhan yang hadir tanpa direncanakan.  Di mulai dari seekor Kumang, lalu seekor kucing dan akhirnya seekor ayam jago. Sebuah sensasi menikmati kopi yang penuh arti. Selamat berkreasi dan mensyukuri hari ini. Wassalam (AKW).

GOOD MORNING

Tasyakur Pagi

Dikala mentari pagi menyambut hari, disanalah kehangatan alami melingkupi.

Pancaran sinar membuat berbinar, semua mahluk menyambut dalam suasana segar.

Setangkup syukur adalah kewajiban, maka marilah berkarya dan bekerja sebagai bagian ibadah kita. (AKW).

SELAMAT PAGI SEMUA.
SEMANGAT

Kopi Turki.

Ngopi rasa pakidulan….

Photo : Turkish Coffee / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Rasa penasaran adalah salah satu pendorong kita tetap berkreasi berfikir dan menjaga keinginan sehingga menjadi tahu tentang sesuatu. Meskipun sesekali harus dikendalikan dan diarahkan untuk hal yang baik karena terkadang penasaran ingin mencoba sesuatu yang berbeda, padahal bisa jadi melanggar aturan dan etika yang ada.

Jangan bikin masalah baru kawan, masalah dalam hidupmu sudah banyak”

Sebuah kalimat bijak mengingatkan untuk memegang kendali rasa dan menjaga perilaku dalam koridor kewajaran dan kenormalan saja.

Begitupun dengan meminum sajian aneka kopi, maka ikuti saja cara seduhan normal yang sudah menjadi ciri khas masing-masing penyajian kopi. Dimulai dari yang sederhana dengan menubruknya pelan-pelan, karena kalau terlalu kencang akan terluka hehehe. (Emang nubruk pake motor?...). Hingga yang prosesinya dianggap ribet oleh sebagian orang. Biasanya ini yang menggunakan seduhan manual seperti menggunakan V60, kalita, dan berbagai alat lainnya.

Harus diawali dengan menyiapkan biji kopi, lakukan penggilingan (grinder) baik manual atau yang menggunakan listrik. Kebersihan alat seduh, kertas filter, seduh perlahan hingga akhirnya menetes di bejana server serta diputuskan untuk berpindah ke gelas kaca lalu disruput tanpa banyak kata.

Kali ini rasa penasaran membawaku untuk mencoba menikmati sajian kopi yang berasal dari timur tengah. Secara proses tidak tahu karena ada yang buatin, tapi secara tampilan penyajian memang berbeda. Namanya Turkish Coffee… atau kopi turki. Sebuah sajian kopi yang cocok untuk urang ciamis, banjar dan tasik pangandaran karena semuanya TURKI (TURunan PaKIdulan hehehe alias turunan wilayah selatan jawa barat….. hehehehe maksa.)

Gelas saji yang digunakan adalah gelas untuk espresso dan kopi tubruk turkinya di atas wadah khas dengan pegangan… asa mirip gayung mini hihihi… ih jangan gitu, ini khan beda tradisi dan gaya penyajian… nikmati aja.

Curr ke gelas dan coba disruput…. hmmmm bodynya tipis dengan rasa lempeng… ini kemungkinan besar robusta dan dilengkapi agak wangi hangus dari biji yang digrinder. After taste tiada rasa kecuali pahit dan sedikit getir. Kecenderungannya dicampur gula atau madu. Tapi diriku mah sruput terus saja hingga tuntas, karena yakin dibalik semua kepahitan ini akan hadir rasa manis yang berbeda.

Ya mirip-mirip kopi tubruk dengan pola penyajian berbeda. Ada selarik rasa rempah tapi agak sulit mendefinisikannya… sudahlah… sruput ajaaa. Alhamdulillah, Wassalam (AKW).

Sunset, Kopi& Janji.

Menanti mentari pagi, bersua di sore hari, besoknya kembali ngopi dan jalan-jalan sendiri. Disini.

Photo : Semburat Sunset di Batukaras / dokpri.

BATUKARAS, akwnulis.com. Gelombang ombak yang meninggi mengantarkan papan selancar dengan dorongan tenaga alam yang menakjubkan. Tinggal tunggu waktu yang tepat, berdiri di papan selancar dan jagalah keseimbangan maka… wuuuus… terdorong kencang meniti permukaan air laut dengan wajah riang dan hati senang.

Gampang banget lho, kalau ngeliatin mah. Padahal…. nggak semudah itu. Tapi memang watak penonton khan pasti (merasa) lebih pinter dari pemain… bener khan?… ngakuuu… pasti klo lagi posisi penonton mah.. kecenderungannya bakal begituuuh.

Yup, pantai batu karas, sekitar 30 menit jalan darat dari pantai pangandaran menyuguhkan suasana pantai berbeda. Relatif tidak terlalu ramai dan lebih banyak pengunjung adalah berniat latihan selancar air, juga terlihat beberap turis asing… atau malah mayoritas belajar selancar atau surfing.

“Kamu ngapain kesituh?”

Ajaw pertanyaan kepo, ya terserah aku donk, kemana kaki melangkah disitu berharap berkah. Dimana langit dijunjung maka disitu Allah disanjung… aih kok malah berpuisi.

Photo : Abadikan Ombak di Pantai Batukaras / dokpri.

Aku kesini mau mengejar mentari!!!…. karena tadi pagi dan kemarin pagi bukannya mendapatkan semburat mentari tetapi suasana sendu dan sepi hati, meskipun ditemani secangkir kopi.

Monggo baca KOPI & PILU.

Meskipun hanya bisa menangkap semburat cahaya mentari dibalik pepohonan sebelum tenggelam di batas horison, kurasa itu cukup, cukup untuk melepas dahaga ingin mengabadikan asa yang ada dari semburat cinta sang mentari yang bersahaja.

Photo : Terdiam memandang pantai / pic by DH.

Warna semburat kuning dan merah, memberi rasa damai walaupun secercah. Sementara debur ombak tak mau berhenti menghiasi pantai menghasilkan musik alami yang natural tanpa intervensi pihak-pihak berkepentingan.

Akhirnya malampun datang, dan cerita mentari sementara berganti dengan rembulan. Namun sayang agenda pertemuan ternyata menghadang, terpaksa malam ini dihabiskan dengan hanya berbincang dalam ruangan ditemani sajian makanan seafood alakadarnya, Yap… lumayan. Mari berbincang….

***

Esok hari kembali menyeduh kopi dan membawa ke pinggir pantai timur pangandaran. Suasana tidak terlalu sendu, tetapi memang hadirnya mentari masih malu-malu.

Photo : Kopi & Pantai, beda fokus / dokpri.

Akhirnya bermain-main dengan kamera smartphone dengan fokus segelas kopi asli atau pantai yang menjadi backgroundnya… begitupun sebaliknya…

Iseng amat ih!!!

Jangan digubris, biarkan saja. Berkesempatan mengabadikan suasana adalah berkah, jadi selama memori smartphonenya cukup dan yang diambil gambarnya nggak protes… lanjutt aja bung.

Meskipun jikalau beredar di jagad IG, banyak disuguhi photo dengan mayoritas wajah pemilik akun karena memang hasil selpi berkala. Awalnya suka eneg, tapi setelah dipahami bahwa itu adalah akun pribadi dan (mungkin) merupakan bentuk aktualisasi keeksisan diri…. ya sudahlah nggak usah peduli.

Kembali ke pangandaran, setelah selesai dengan kopi di pantai timur maka bergeser ke pantai barat untuk melihat suasana dan mungkin ada spot photo yang mungkin bisa berguna dan miliki makna.

Dikejauhan terlihat bangkai kapal yang karam, maka lensa smartphone mencoba mengabadikan dengan segala keterbatasan. Hasilnya lumayan daripada lu manyun hehehehe.

Udah ah cerita-ceritanya, selamat berkarya dan selamat kembali bersua dengan keluarga tercinta di waktu wiken yang sangat berharga. Wassalam (AKW).

Melayang & Berenang di Pangandaran.

Mari melayang dan berenang kawan…. jump.. jebuur.

Photo : Melayang dulu… / dokpri.

PANGANDARAN, akwnulis.com. Bermain di pantai menjadi menu andalan di kala raga beredar disini, kawasan wisata Pangandaran. Meskipun pagi harinya sedikit galau karena bersua dengan kesedihan, tetapi terlalu terlarut dengan kesedihan bukan cara terbaik menjalani hidup, monggo baca KOPI & PILU.

Sedih dan pilu itu manusiawi tapi tak usah berkepanjangan, hayu beredar di pantai dan merengkuh kesegaran.

Move… move.. move.

Tanpa banyak basa-basi, segera berlari ke pantai disambut hembusan angin kencang dan panasnya pasir putih karena menyimpan kekuatan yang dikirim via sinar mentari sedari tadi.

Dikala akan mencapai bibir pantai, baru tersadar bahwa stelannya masih cocok buat rapat, bukan mantai…. oww dilema.🤣🤣🤣😂🤣🤣

Moo balik ke hotel pasti lama lagi, moo nyebur juga bakalan aneh, masa celana kain dan sepatu resmi dipake berenang… mikir dulu donk.

Akhirnya berubah pilihan tapi tetap mantai, segera ajarkan ilmu (seperti) terbang kepada anak magang yang cepat menyerap ilmu dan penuh keingintahuan, yuk kita levitasian.

Panasnya pasir pantai tidak menjadi halangan untuk berulang kali meloncat dan mengikuti petunjuk :

1… 2… 3… jump….

tentu dengan gaya yang seakan tidak meloncat.

…. Ribet amat sih bro’

“Kalem, no pain no gain pren”

Maka meloncatlah dengan wajah tanpa ekpsresi, seakan tidak ada aksi yang terjadi.

Jump… Cetrek

Jump… Cetrek.

Berhasill…….

Meskipun tidak bisa mengambang terlalu jauh, tetapi jarak dengan pasir pantai tercipta dan efek melayang terwujud sudah, Alhamdulillah.

***

Photo : Swimming pool Suryakencana Hotel Pangandaran / dokpri.

Setelah puas bercengkerama dengan panasnya pasir pantai, maka bergegas kembali ke hotel tempat memginap, namanya Suryakencana Hotel.

Langsung bergegas ke lantai 3 dimana kamar yang menjadi.hunian sementara berada. Gerakan pertama tentu berganti stelan, dari sepatu pantofel menjadi sendal gunung aneka situasi, celana renang, kemeja pantai warna-warni dan tidak lupa kacamata hitam.

Tapii…… ke pantai masih panas terik, jangan sampai kulit wajah hasil perawatan jadi kembali kusam….ahaaay

Berubah rencana, jadinya turun ke lantai bawah menuju kolam renang hotel saja. Tersedia kolam renang berair biru jernih, kedalaman 1,5 meter dan juga ada sisi dangkal untuk anak-anak. Ditemani kerindangan pohon yang asri, semakin mempercepat raga unyuk segera bercengkerama dengan kesegaran air tawar di kolam renang sebelum nanti dilanjutkan dengan diskusi bersama air laut yang penuh sensasi.

Jeburr!!!!

Photo : Swimming pool Hotel Suryakencana / dokpri.

Segar menyelimuti raga dan seluruh permukaan kulit serasa disentuh secara bersama-sama, hadirkan ketenangan dan mendorong kelenjar syaraf pusat dan kelenjar hipofisis memproduksi hormon endorphin lebih cepat.

Rasa senang dan bahagia hadir tanpa jeda, kesegaran juga hadir merata, kemooon… jangan lupa bahagia. Wassalam (AKW).

Pagi & Sendu di Pangandaran.

Menjejak pagi yang menyisakan kenangan sendiri.

Photo : Kopi & pilu / dokpri.

PANGANDARAN, akwnulis.com. Pagi ini mentari masih sembunyi dibalik awan kelabu, hempasan angin pantai menitipkan sebuah rasa pilu, disitulah aku menemukan dirimu, tergeletak pasrah tanpa daya ditemani harapan semu.

Ingin bertanya padamu, tetapi yang hadir hanya ragamu. Asumsi menyelimuti kalbu, mungkinkan kamu adalah salah satu yang tertinggal dari kawananmu?… atau meloncat terlalu jauh dikala ombak menghempas pantai?… atau mungkin ragamu sudah berpisah dengan ruhnya di laut sana dan terbawa gelombang kesini tanpa bisa mengadu?… entahlah,
……..aku tidak berharap jawaban karena ragamu sudah damai terdiam.

Secangkir kopi yang dibawa untuk dinikmati, sekejap berubah tawar dengan rasa yang dilingkupi kesedihan.

Sebuah penghormatan atas kejadian yang menimpamu, aku sandingkan segelas kopi ini dengan ragamu yang terdiam tanpa kata-kata perpisahan. Menemani meskipun hanya sesaat ini.

Photo : Suasana sendu di Pantai Timur Pangandaran / dokpri.

Selamat jalan, semoga damai menyertaimu.

Perlahan pergi meninggalkanmu yang sudah berdamai dengan kenyataan, selamat menjalani pagi yang pilu di pantai timur pangandaran. Semoga seiring mentari beranjak meninggi, cuaca akan menjadi cerah dan harapan kehidupan kembali merekah.

Selamat beristirahat kawan kecilku, meskipun baru bersua dengan ragamu di pagi sendu, tetapi yakin bahagia dan damai sudah menantimu. Selamat tinggal ikan kecilku. Wassalam (AKW).

Main air di Citumang

Main air di Citumang yang ternyata dalam lho….

Photo : Jernihnya air sungai Citumang / dokpri.

CITUMANG, akwnulis.com. Adzan shubuh di aplikasi smartphone membangunkan raga menenangkan jiwa. Segera beranjak wudhu meskipun rasa dingin mendera. Tadinya mau membuka gordeng dan membiarkan mata bisa memandang keindahan alam di HAU Citumang ecolodge ini…. ternyata masih gelaap. Apalagi posisi jendela dinding kontainer ini lebar dan besar sehingga jikalau gordeng dibuka dan suasana terang benderang dalam kamar kontainer maka malah jadi aquarium jikalau dilihat dari luar.

“Emang kamu nginep dimana?”

Monggo baca Nginep di Hutan Citumang, Pangandaran… atau cerita sebelumya yaitu Sunset di Batukaras.

Photo : Jalan menuju Kontainer & glamping / dokpri.

Tepat pukul 06.00 wib baru berani menjejakkan kaki keluar dari kamar kontainer, dengan stelan celana pendek dan sandal gunung karena akan mengeksplorasi alam yang begitu dekaaat dan pasti menantang.

“Sedekat apa?”

Dekat banget kawan, keluar kontainer, turun tangga.. langsung bersua dengan sungai Citumang yang airnya jerniiih bingiiit…. perlahan memasukan kaki ke dalam air bening dingin menyegarkan….

Photo : Sungai Citumang dg variasi kedalaman sd 4-5 meter / dokpri.

Oh iya lupa… diambilin rompi pelampung, fasilitas gratis dari HAU Citumang ecolodge, plus 2 perahu kano warna pink dan biru lengkap dengan dayungnya…. jadi pelampung wajib di pakai karena kedalaman sungainya sangat variatif…. dari mulai semata kaki hingga 10-15 meteran, atau lebih yach?… soalnya nggak berani ngukur kedalamannya.

Photo : Tempat bersantai di sekitar kontainer kamar / dokpri.

Perlahan tapi pasti badan mulai terendam dan…. 10 meter bergerak, kaki sudah tidak bisa menapak ke dasar sungai…. dilihat bahwa kedalaman sungai sekitar 2 hingga 3 meteran, dasar sungai bisa dilihat karena begitu jernihnya air yang mengalir ini.

Agak menegangkan tetapi tetap tenang karena banyak kawan-kawan. Bergerak lagi, air sungai mendangkal dan terdapat sebuah bendungan yang membentuk kolam buatan berkedalaman 1,5 meter. Serasa mandi berenang di kolam renanggg…..

Photo : Berpose di bendungan / dokpri.

Didepannya adalah tanggul bendungan yang diperkirakan 20 meteran tingginya. Dibalik tanggul bendungan itulah aliran sungai berwarna hijau seolah terdiam padahal menyisakan kedalaman yang cukup bikin menegangkan… dalem banget bro dan masih suasana hutan yang tenang tapi bisa menghanyutkan atau malah menenggelamkan.

Oh ya, bendungan ini juga berfungsi menjadi irigasi, mengatur aliran air untuk fungsi pengairan. Nah selokan pengairannya itu bisa digunakan untuk papalidan… palid = hanyut, euh maksudnya body rafting... tapi jangan sendirian.. khawatir ketiduran dan hanyut sendirian, apalagi terhanyut dalam kenangan para mantan….. beraat bingit kawann.

Photo : bersiap loncat ke saluran irigasi / dokpri.

Jadi bareng-bareng kawan, dijamin rame ramai, penuh canda dan gelak tawa serta menghasilkan pengalaman tak terlupakan…..

Jadi tidak ada pilihan lain, buat yang penasaran. Datanglah ke Pangandaran, selain sensasi bermain air di pantai juga bisa menikmati sensasi adrenalin dengan air tawar yang dingin menyegarkan dan dijamin jadi pengalaman tak terlupakan. Wassalam (AKW).

Sunset di Batukaras

Mencari mentari sore disini…

Photo : Pantai Batukaras Pangandaran / dokpri.

BATUKARAS, akwnulis.com. Bahagia itu sederhana, hanya berphoto bersama (wefi) bermandikan pasir pantai batu karas bersama teman-teman dilengkapi canda tawa adalah hal yang luar biasa.

Senja menemani sambil tersenyum penuh arti.

Photo : Welfi yuuk / dokpri.

Tidak jauh dari situ, sebuah cara menikmati sunset di pantai batu karas diatas perahu berteman bantal sofa warna warni menyusuri sungai menuju muara sudah tersedia. Hanya saja mendung tak memberi kesempatan sedikitpun untuk mengantar mentari sore menuju peraduan di belahan dunia sana.

Photo : Sofa warna diatas perahu / dokpri.

Tidak apa, sekelumit pengalaman singkat inipun menjadi nilai penting dalam kehidupan dan sejarah perjalanan yang musti tercatat oleh jemari dan ocehan kata yang tertuang di kertas keabadian teknologi. Selamat bahagia kawan, Wassalam (AKW).

***

Lokasinya di pantai Batukaras Pangandaran Provinsi Jawa Barat, tiket masuk dan mobil 35Ribu dan untuk naik perahu bersofa warna warni perorangnya 150ribu (direct), klo via traveloka 135ribu (mungkin sekarang udah berubah).
Lokasi 1 di pantainya dan lokasi 2 di Shane josa resort.. tinggal googling aja guys.

Kolam renang Arnawa Hotel Pangandaran

Kolam renang hotel yang bersih dan resik di kawasan wisata Pangandaran.

Photo : kolam renang di tengah area hotel, kedalaman 1,25 meter / dokpri

PANGANDARAN, akwnulis.com. Kangen segarnya air kolam renang ternyata belum sejalan dengan agenda kerjaan yang bejibun.

Cieeeh yang sibuk….

Tapi emang bener, belum sempet terus. Ada aja kegiatan yang musti dilakonin di hari sabtu dan minggu. Jangan bahas senin-jumat, itu mah udah jelas dengan segala kesibukannya.

Nyuri waktu buat renang?.. olalalala tak mungkin la yaaw.

Tapi sesibuk apapun, diusahakan harus bisa mendokumentasikan tentang kolam penuh kesegaran ini.

“Setuju?”
“SETUJUUU…. “

***

Photo : Kolam renang dekat lobby hotel, kedalaman 1,55 m / dokpri

Kolam renang yang terletak di Arnawa Hotel di Pangandaran ini berada di tengah-tengah hotel. Jadi bagi pelancong yang nginep di hotel ini tentu sangat praktis, khusus yang di lantai dasar. Buka pintu kamar langsung jebuur ke kolam renang, mengasyikan bukan.

Kolam renangnya ada 3 buah lho, satu untuk dewasa dengan kedalaman 1,55 meter trus satu lagi 1,25 meter dan satu lagi kolam renang anak dengan kedalaman 30 sentimeter.

“Lengkap khan?”
Bentuk kolam renangnya juga tidak kaku berbentuk elips dan dihiasi patung-patung wanita berkebaya yang seolah menuangkan air tiada henti ke kolam renang yang jernih menggoda. Dilingkupi oleh nyiur melambai lengkap dengan kelapa memberi nuansa asri alami yang menyegarkan jiwa menenangkan raga.

Photo : Salah satu patung berkebaya yang terus mengisi air kolam renang / dokpri

Buat yang ngebet pengen berenang di kolam renang yang bersih terawat ini, nggak usah dilama-lama. Proses check in beres bisa langsung jebuurr… karena hanya selangkah turuni tangga, kolam renang sudah tersedia. Tapi jangan lupa, celana renang dan baju renang harus sudah siap. Klo masih pake batik, ya jangan dulu loncat seenaknya. Apalagi dompet dan smartphone masih di saku, trus nenteng laptop, layar sama infocus… “Eh ini mau berenang apa mau meeting siih?”

Yang pasti klo bawa alat lengkap kayak gitu, trusnyebur… ntar menyesal deh.

***

Klo nanya lokasi, sekarang mah gampang. Gugle map aja, beres. Tapi kalau penasaran tinggal tanya di gerbang depan pas bayar karcis mau masuk ke kawasan wisata pantai pangandaran.

“Kalau Arnawa Hotel Jalan Bulak laut No. 12 Pananjung, Pangandaran, sebelah mana Pak?”.

Pasti langsung diberi petunjuk arah yang jelas percaya dech.

Hotel ini memang tidak langsung berhadapan dengan pantai, tetapi akses jalan ke pantai bisa langsung dari sini. Deket kok. Jadi yang mau kombinasi main air laut dan air tawar juga dalam rangka acara kantor atau keluarga… ya Arnawa Hotel ini recomended bro.

Untuk review kamar, makanan dan fasilitas lainnya. Ntar lagi yaa, harus santai sehingga bisa lebih gimana gitu tulisannya. Wassalam (AKW).