Emosi & Gayo Wine.

Macet bangkitkan esmozi, tapi semua kembali hepi karena kopi… mangga di cobi.

Photo : Kopi masih dibungkus / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Selamat pagi kawan, selamat beraktifitas di awal minggu ini.

Keluar dari rumah langsung disergap kemacetan, tepat di mulut gerbang komplek perumahan yang bersentuhan dengan jalan raya. Terlihat wajah-wajah menegang di balik helm dan kaca mobil kendaraan padahal waktu baru menyentuh pukul 06.00 wib.

Terlihat semua konsentrasi dan fokus kepada tujuan masing-masing. Terkadang tak peduli dengan kepentingan orang lain, tak mau mengalah dan saling mendahulukan… eh mendahului.

Macet tak terhidarkan karena merupakan gabungan antara peningkatan volume kendaraan di kalikan sikap ketidakdisiplinan maka menghasilkan kesemrawutan tingkat dewa.

Disinilah pengendalian diri dan esmozi (basa emosi) mulai diuji, maka…. mari kita ikuti ujian alami hari ini.

Tidak ada pilihan lain, kecuali jalani saja tanpa banyak terpancing emosi karena itu semua tiada guna.

Alihkan perhatian kita dari kemacetan dan kesemrawutan yang mendera, pikirkan hal-hal yang menyenangkan dan meng-enak-an. Sesuatu yang akan menyambut kita di kantor pada pagi hari yang penuh harapan.

Kirain seseorang, sesuatu itu maksudnya apa?.. berkas?.. emang menyenangkan??”

Pertanyaan yang penuh kepenasaran, tinggal ditanggapi santai dan….. setibanya di kantor, peralatan peraang siapkaan….

SIApp!!!!

Photo : Sajian V60 Arabica Gayo Wine / dokpri.

Air panas dinyalain, kertas filter V60 dan timbangan serta termometer dan tentu primadonanya adalah bean kopinya… pilihannya jatuh kepada :

Arabica Gayo Wine…..oleh-oleh bos Jamkrida Jabar yang beberapa waktu lalu beredar ke Aceh.

Pas bungkusnya dibuka… langsung menyeruak keharuman yang tajam mempesona…. segarnyaaa.

Grinder bergerak menghancurkan perasaan emosi eh biji kopi sehingga hancur luruh berserpih dan siap mengekstraksi diri dengan komposisi 1 : 10…. jangan lupa timbang duluu…..

Currr….. ah keharuman menyambut pagi dikala perlahan tapi pasti ekstraksi sedang terjadi, menghilangkan sisa beban hadapi kemacetan tadi, berganti hepi dan semangat pagi.

Akhirnya….. sajian V60 manual brew tersaji dan hadirkan sensasi rasa yang luar biasa. Body strong dan acidity full memenuhi rongga mulut serta memberi sensasi ninggal maksimal… begitupun aftertaste berynya kerasa bangeet…..

Srupuuut…. selamat menjalani minggu ini. Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

Tugas tuntas & Kopi berkelas.

Tugas tuntaskan, kopi habiskan..

Photo : Kopi berkelas di Gdsate / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Bergegas menuju lantai 2 tempat kerja bos adalah rutinitas yang harus dijalani. Resiko anak buah ini namanya, jadi jalani saja. Menenteng beberapa berkas di map sambil bergerak cepat meniti tangga yang mengantarkan ke lantai atas gedung sate ini.

“Jangan bahas kerjaan ah, tulisan di blog ini khan tulisan ringan diluar kerjaan”

“Jangan komplain dulu kawan, ini cuma pengantar cerita kok”

“Ohh.. Oke lanjut kalau begitu”

Sambil sedikit terengah akhirnya sampai di depan ruang kerja bapak bos. Berhenti sejenak dan menghela nafas, baru bergerak maju mengetuk pintu.

Pintu terbuka dan beberapa staf menyambut dengan ceria.

“Bapak ada?”

“Ada, …Tunggu sebentar pak, silahkan duduk dulu, Bapak masih menerima tamu”

Saat menunggu inilah yang menyenangkan, penawaran secangkir kopi tentu disambut dengan rasa suka hati.

dan… yang disajikannya bukan kopi sachet…. tapi kopi berkelas.

Pas sudah ada dihadapan, dicoba disruput… ada rasa yang kenal, rasa yang pernah ada, memenuhi relung lidah dan rongga mulut. Acidity yang maksimal dan ninggal di rongga mulut plus body pahit yang tahan banting serta aftertaste berry yang kuat…. mirip Arabica wine…

Alhamdulillah… sruput lagi.. Nikmaaat…

Sebelum pamit dari ruangan bos dan menenteng surat yang sudah di sign oleh beliau, sengaja mampir ke ruang stafnya untuk berterima kasih atas keakraban dan sajian kohitala berkelasnya, “Pak nuhun, kopinya ajib pisan, kopi apa?”

“Puntang Wine Pak”

Pantesaan…. Raos. Sekali lagi terima kasih dan hatur nuhun. Besok-besok bawa surat-surat lagi ah kesini. Wassalam (AKW).

Kopi Manglayang & Gayo Wine di Jandela Kopi.

Menikmati kopi di Kota Ciamis.

Photo : Sajian Manglayang Natural / dokpri.

CIAMIS, akwnulis.com. Sentuhan embun pagi menemani hadirnya mentari, yang setia mendampingi perjalanan hidup hari ini. Kesibukan lalulintas menjadi alunan nada denyut pagi yang membentuk rutinitas. Salah satu harmoni kehidupan yang harus disyukuri.

Begitupun kami yang sedang bergerak membelah jalanan menuju wilayah kabupaten Ciamis, menemui wajah-wajah tergesa dan serius di jalanan, demi target waktu masuk ke tempat pekerjaan masing-masing. Terkadang terdengar sahut menyahut suara klakson karena bermacet ria di perempatan… ditambah sejumput sumpah serapah sampah… ah dinamika pagi yang resah.

Perjalanan memakan waktu 5 jam lebih 17 menit, dikala kami tiba di tempat tujuan meskipun sedikit insiden keterlewatan eh kebablasan akibat terlalu nurut sama gugelmap hehehehe….

Photo : Sajian mie goreng / dokpri.

Padahal sebenernya, tinggal berhenti sejenak lalu bertanya kepada orang yang ada.. pasti ditunjukan, karena pas kita bingung-bingung itu sudah depan kantor yang dituju. Hanya saja karena agak sombong dan terlalu percaya teknologi, akhirnya maju terus menjajal jalanan yang semakin mengecil, menurun dan melewati rumah-rumah penduduk hingga akhirnya jalanan sepi dengan kanan kirinya adalah kebun penduduk dan sisi hutan…… aaaaah ini pasti salaah.

“Stop!!!”

Mobil berhenti, karena teriakan seseorang di motor yang berada di belakang mobil.

Photo : Tivi jadul menemani ngopi / dokpri.

Ternyata…. pegawai kantor tempat meeting yang menyusul… Alhamdulillah. Untung saja ada yang jemput, kalau tidak kami mungkin akan semakin jauh dan menuju ke arah kabupaten pangandaran, padahal tujuan kami adalah daerah cidolog ciamis.. yaa sekitar 155 km dari Bandung.

***

Photo : Arifin sang barista sedang beraksi / dokpri.

Urusan meeting akan tertuang dalam nota dinas laporan, klo tulisan ini mah bicara tentang hepi-hepinya yaitu….. ngopaaay, menikmati sajian kopi dengan berbagai variasi dan satu syarat pasti, tidak ada gula yang menemani kopi.

Lokasi kedai eh cafe kopi yang di tuju berada di kota Ciamis, sekitar 26 km dari tempat meeting kali ini atau sekitar 55 menit dengan menggunakan kendaraan roda 4. Arahnya dalam posisi ke arah pulang ke Bandung… jadi sekalian arah pulang bisa mampir duyuuu… Tepatnya di Jalan KH Ahmad dahlan No. 43 Kec Ciamis, Kab Ciamis, jabar, 46211.

Sajian kopi yang pertama adalah manglayang natural blackberry yang di roasting pada tanggal 29 juli 2019. Sang barista, Kang Arifin menggunakan komposisi 1 : 13 dengan temperatur air 90° celcius mengekstraksi bubuk kopi menjadi sajian yang harum, segar dengan after taste berry dan tamarind. Harganya 18 ribu per sajian.

Photo : Sajian Gayo Black Wine / dokpri.

Sebagai penutup maka pesen lagi manual brew V60 dengan kopinya gayo black wine. Kembali sang barista beraksi dan berhasil mengekstraksi menjadi sajian kopi sesuai karakter gayo wine yang bodynya bold, aciditynya kerasa bangeet dan harum…. udah sering klo menikmati gayo wine mah.

Sementara rekan lain memesan mie goreng dan pisang keju, diriku tetap setia dengan kotala (kopi tanpa gula), nikmatnya sama karena masing-masing dianugerahi indera perasa meskipun objek makanan minumannya berbeda… asyik khan?

Oh iya cafe ini buka dari jam 10.00 wib sampai jam 23.00 wib, siapa tahu ada yang moo mampir ngopay disini. Wassalam (AKW).

***

Catatan : Jandela coffee, alamatnya Jalan KH Ahmad dahlan No. 43 Kec Ciamis, Kab Ciamis, jabar, 46211.

Arabica Wine DNA Coffee

H15 ramadhan, nyeduhnya Kopi Arabica Wine, yummy…..

Photo : Hasil seduhan Arabica wine DNA coffee / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Bersua dengan kolega lama yang juga penikmat kopi adalah kebahagiaan tersendiri. Apalagi mengusung prinsip Nikotala*), cucok sudah…. pembicaraan kesana kemari bercerita tentang suka duka masa lalu ditambah dongeng roasting-cupping-drinking weh hehehehe.

Tapi nggak bisa nyruput kopay karena siang hari masih bulan ramadhan.

Batal atuuuh…..

“Ini kopinya kang”…. sebungkus kopi dengan wadah plastik coklat dan ditempel label kertas bertuliskan DNA coffee dan roastingnya medium dan prosessingnya wine…. woaah arabica wine… tak terasa mulut membasah oleh liur yang tetiba hadir… geuleuh ih… yaa nggak ngeclak donk, ini khan cuman hiperbola…

“Duh jadi pengen mau cepet magrib, sok atuh adzan!”

Kawan lamaku Mang AT langsung tertawa, “Kamu mah sakaw kopay yach?”

“Hahahaha…. enggak!, cuman pengen bingitt”

Kami terbahak berdua, ternyata dengan tertawa mengurangi nafsu ingin ngopay lho, tapi setelah berhenti tertawa… eh pengen lagi ngopaay.

Keneh keneh kamu mah…

Akhirnya pembicaaraan berakhir karena ada meeting yang nggak bsa ditinggalkan. Kami berpisah setelah berbagi kisah, membahas kopi tanpa banyak basa basi dan tertinggal sebungkus arabica wine DNA Coffee yang akan segera dinikmati, nanti.

***

Rakaat akhir shalat witir hampir terganggu, di kala membaca salah satu surat juz Amma.. eh pikiran melayang ke Dangiang Nur Alam….
“Apa itu dangiang nur alam?”

“Ntar jawabannya yaa… solat dulu”

Photo : coffee wine siap dinikmati / dokpri.

….untung saja hanya sekilas… lalu kembali pegang kendali hingga ucap salam kanan dan kiri.

Dzikir pasca witir telah tuntas ditutup dengan doa niat shaum, setelah itu bergegas menuju ruang tengah, mempersiapkan prosesi yang sudah dinanti-nanti yaitu…. nyeduh kopi.

Oh iya.. jelasin yang tadi dulu, Dangiang nur alam itu adalah kepanjangan dari merk kopi, DNA coffee…. jadi bukan DNAnya deoxyribonucleid acid atau asam deoksiribonukleat, adalah sejenis biomolekul yang menyimpan dan menyandi instruksi-instruksi genetika setiap organisme dan banyak jenis virus (id.m.wikipedia.org).

Ihh kok jadi kesitu,…. DNa itu adalah dangiang nur alam. Penjelasannya lebih afdol klo bisa jumpa dengan sang pencetus nama itu, tetapi dari searching via website, istilah danging lebih merujuk kepada kekuatan diluar manusia yang memberi pengaruh kuat (komara) dalam perjalanan hidup ini….. ah ntar aja ah, bisi salah pengertian.

Tapi yang menarik ternyata sejalan dengan cerita Mang AT yang tadi siang ngirimin kopi ini. Bahwa petani pembuat kopi ini dalam prosesnya tidak hanya melakukan hal teknis sesuai aturan main memproses kopi, tetapi juga disertai ritual sembahyang, sholat dan doa, memohon kepada Allah Swt agar kopi yang dihasilkan sesuai harapan, itu semua atas ijin Allah Swt, Tuhan Sang Maha Pencipta…. Amiiin.

Prosesss…. proseeees… sess

Metode manual brewnya tetep pake corong V60 dengan segala keterbatasan penulis. Perbandingan 1 : 12, suhu air 88° celcius dan putaran air seduhan mengikuti arah jarum jam disertai pikiran jernih dan sebait doa…. prosesi penyeduhan berjalan sempurna…..

currr…..

serpihan biji kopi arabica wine DNA coffee berekstraksi dengan sepenuh hati, mengeluarkan potensi rasa yang tersembunyi…. tak sabar menanti.

Setelah gelas server berisi cairan hangat memanas kopi ini, dituangkan perlahan ke gelas kaca mini kesayangan…. currrr.

Srupuuuut……. waaaaaw…. puleeen.. eh rasanya nendang dengan proses roastingnya, tetapi lembut menyentuh syaraf-syaraf lidah, enak dan terasa menenangkan.

Body dan acidity bersaing di kelas serius, asamnya maksimal dibalut pahit getir yang kokoh bertahan, serta after taste yang begitu betah ninggal diujung lidah, woaah…. kopi wine yang sejajar atau lebih baik dari gayo wine….. Alhamdulillah, akhirnya ada juga yang bisa menyainginya.

“Kamu aja nggak gaul, padahal ujungberung khan deket, nongkrong di kedai aja, alamatnya di Jl. Walagri Mulya, RW.09, Pasanggrahan, Kec. Ujung Berung, Kota Bandung, Jawa Barat 40617”

Anggukan lemah menandakan persetujuan, tapi agak sulit untuk merealisasikan. Maklum istiqomah hehehehe.

Bicara after taste, variasinya lumayan, dominan rasa fruitty…eh jeruk lemon dan dark chocolate, plus selarik karamel dilingkupi oleh keasaman maksimal…. jeddd.. dank pokoknya. Seakan keasamannya menggigit bibir dengan rasanya. (Lebay nyaaa?…..)

Buat kelompok aliran bergula, mungkin kurang cocok menikmati kopi ini. Tetapi bagi penikmat kopi jalur nikotala*)… very recomended.

Srupuut….. hmmmmmm… nikmatt… Alhamdulillahirobbil alamin. Hatur nuhun Mang AT, Wassalam (AKW).

***

*)nikotala : nikmati kopi tanpa gula.

Gayo Wine Japanesse.

Sruput kopay dingin duyuuu bray…. di sini.

Photo : Spider nyaaah nemplok / dokpri.

KUNINGAN, akwnulis.com. Pas milih kursi di ruangan bagian dalam, agak terdiam sejenak karena disambut laba-laba raksasa yang nemplok di dinding hitam. “Takuuuut… spiderrrr!” teriakan anak secara spontan bikin pengunjung lain menoleh, lalu tersenyum karena paham bahwa kekagetan itu beralasan.

Di dinding tembok berwarna hitam, nemplok hiasan kayu berbentuk laba-laba. Andaikan itu laba-laba hidup, pasti segera beranjak menghindari, pergi untuk tak datang lagi.

“Sayanggg…. itu cuman hiasan, nich ayah pegang” sambil tangan mencoba menggapai laba-laba kayu tersebut. Anak kecilku tersenyum, “Oh hiasan ya, oke deh” dua detik kemudian berlari mengitari meja lainnya dan sudah lupa dengan kekagetan melihat hiasan laba-laba raksasa.

Photo : Interior jadul / dokpri.

Interior cafe yang menyajikan beraneka makanan minuman dan tentunya manual brew coffee ini homy banget, enak buat nyantai dengan mayoritas nuansa kayu berpadu dengan warna-warni menyegarkan. Namanya cafe dua4 kopi berlokasi di daerah Ancaran Kota Kuningan, dari Alun-alun kuningan ke arah barat dan di perempatan setelah LP belok kanan ke arac Cijoho, terus lurus Ciporang dan setelah itu daerah ancaran. Ada beberafa.. eh beberapa cafe kopi disitu, tapi sekarang kesempatannya ke sini duluuuu…..

Pilihannya tetep #tidakadaguladiantarakita dan jatuh pada manual brew arabica gayo wine. “Kok nggak pesen kopi arabica jabar mas?”
“Tadinya moo gitu, eh readynya cuman arabica gayo wine dan solok, ya sudah pilih salah satu dech”

Photo : Gayo wine japanesse / dokpri.

Anak kecilku milih minuman coklat dan ibu negara dengan creme bruelle-nya. Nah aku mah penasaran dengan metode seduh ‘japanesse‘, langsung tanya dech sama sang baristanya, Kang Agus, yang moo kepo-in IGnya cari aja @ch33monk.

Model seduh manual japanesse ini basisnya tetep seduh pake V60 tetapi berbeda pada sentuhan akhir. Klo komposisinya sih standar, Kang Agus ini pake 1 : 15 dengan suhu 85° celcius. Bedanya adalah pada gelas server susah ready es batu yang menangkap tetesan cairan ekstraksi kopi gayo wine ini dan mengubah cairan panas menjadi dingin.

“Hasilnya?”

Segelas kopi dingin yang begitu kuat level aciditynya… nendang banget. Aroma harum standar, tetapi aciditynya tampil banget dan bikin segeer. Menyeruak fruity berry dan sesaat ninggal di ujung lidah, body medium bikin tersenyum.

Photo : Kang Agus sang Barista 24kopi / dokpri.

Memberi rasa segar di siang terang yang periang, sambil mengamati anak kecilku yang cilingcingcat (nggak mau diem barang sedetik), begitu exited dengan suasana baru dan beberapa barang jadul yang menjadi pelengkap interior cafe ini.

Yang kepo bin penasaran, tinggal search ada di gugel, cafe 24kopi..
Tring… langsung aja klik direction… eh tapi syaratnya klo lagi di kuningan… maksudnya Kabupaten Kuningan Jawa Barat, bukan area Kuningan Jakarta ya guys….. kejauhaaan.

Trus urusan harga yang bikin hepi, manual brew gayo wine ala japanesse ini di hargai 17ribu donk… worthed khan?… pokoknya harga-harganya bersahabat dech…

Yuk ah.. srupuuut… suegerrrr. Wassalam (AKW).

Kopi Ngasuh

Nyeduh Arabica puntang & Gayo Wine sambil ngasuh… inilah hasilnya.

Photo : Paw Patrol & kopikuu / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Seduhan kopi di malam hari menjadi teman setia untuk mengisi sisa hari sebelum berganti menjadi esok yang penuh harapan.

Seduhan kopi ini juga yang membantu mata dan badan agar tetap segar sambil menemani sang anak kesayangan yang senantiasa begadang karena ingin main bersama ayah sebelum terlelap di peraduan.

Kopi gayo wine dan arabica puntang pemberian Mr MN menjadi andalan malam ini. Tetapi ada yang beda, suhu air yang digunakan diturunkan di 78° celcius. Tujuannya untuk mempertajam acidity yang dimiliki kopi ini, yang sebenernya memang karakter gayo wine ini sudah mengusung acidity yang cukup tinggi.

Di saat corong V60 sudah bertengger di gelas server, terdengar di samping kanan, “Ayah ini kertas penyaringnya” suara anak kesayangan sambil membawa kertas filter V60. “Makasih sayaang”
“Sama-sama”

Lalu anak kesayangan mengambil teko leher angsa dan berlari menuju kompor gas yang sedang bertugas memanaskan air untuk prosesi penyeduhan.

Reflek diriku mengejar dan menahan gerakan si kecil nan lincah ini. Bukan apa-apa, air panas dan anak umur 3 tahun itu sangat beresiko.

Akhirnya yang paling aman sambil digendong dech. Maka prosesi penyeduhan menggunakan pola 1 tangan. Karena tangan kirinya megangin badan anak kesayangan yang nggak mau diem.

Currr……. perlahan tapi pasti gayo wine terekstraksi, berikutnya arabica puntang… 2 sajian kopi berbeda dengan satu tangan… heuheuheu lumayan pegel.

Photo : Secangkir kopi dan pigure minni mouse dkk / dokpri

Akhirnya manual brew ala ala tercipta sambil terus mendengarkan celoteh anak kesayangan, “Hai guys, hari ini aku bantu ayah bikin kopi… harum guys…. eh gitu dulu ya guys.. jangan lupa like dan subscribe yaa” ini terilhami youtube, ampyuun dech.

“Ayah hayu sini minum, kopinya disiniii” rengekan tengah malam yang tidak bisa dinegoisasi. Hanya menurut saja yang bisa dilakukan, sambil menenteng segelas kopi kecil arabica puntang.

Kompromi belum selesai, karena gelas isi kopi inipun harus dikolaborasi dengan mainan kesayangannya, chase – paw patrol.

Ya…. sudah pasrah, yang penting bentar lagi anak kesayangan mau bobo sebelum tengah malam terlewati. Wassalam (AKW).

Kopi Alumni RLA

Menikmati kopi reuni terbatas di harpitnas..

Photo : Sajian V60 Arabica Puntang Wine / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari kamis lalu adalah harpitnas alias hari kejepit nasional karena setelah hari rabunya libur karena pencoblosan, ditemani KOPI PEMILU, hari jumatnya libur nasional hari paskah, otomatis tersematlah harpitnas. Jangan lupa karena tanggal 17-nya libur maka pakaian Korpri harus dipakai.

Ternyata nyampe di kantor banyak yang saltum (salah kostum), pada pake batik biasa. Disini mah berlaku hukum alam, klo perbandingannya banyak yang berkorpri maka yang berbatik biasa yang kemaluan… eh yang malu, begitupun sebaliknya. Saling ledek pasti ada.

Kecuali yang saltumnya bos, nggak berani ledek-ledekan, paling secara halus heu heu heu… emang kamu mahluk halus?

Udah ah kok ngebahas saltum sih, sekarang pengen cerita tentang makna persahabatan dan persaudaraan yang diawali dari sebuah proses seleksi diklat yang kekinian dengan metode online dan video converence… tidak lagi menggunakan alat tulis karena semua serba digital. Hingga akhirnya lulus dan bersama-sama mengikuti training yang spesial, Reform Leader Academy.

Hari kamis lalu, agenda meeting ternyata bejibun juga di hari kejepit. Tapi tetap semangat dong. Di sela agenda makan sianglah, kami bisa bersua dengan sang Ketua Alumni RLA, memanfaatkan waktu yang sangat singkat.

Pertama pembicaraan hangat ditemani sajian manual brew Arabica Puntang wine di Gesa cafe, itu tuh yang di basement gedung sate samping pintu masuk museum, lengkap sudah kopi-kopi jawa barat, nggak bakal nyesel dech.

Photo : Nasi Hainan ala resto G&B / dokpri.

Untuk masalah makananan maka bergeserlah ke GreensandBean di jalan Bahureksa. Jalan kaki menuju lokasi agar memenuhi target 6000 langkah minimal sehari, tentu sambil ngobrol dan tengak tengok karena takut ada kendaraan nylonong mencelakai diri dan sang Ketua Alumni.

Photo : Teh biru bunga telang & seragam korpri / dokpri.

Pilihan makanannya adalah Nasi Hainan dan Vietnamese salad. Sementara sajian minumannya di-matchingkan dengan seragam korpri, maka teh biru yang menjadi pilihan, yaitu teh khas di resto ini yang menghasilkan warna biru, berasal dari bunga telang… nama resminya di sini adalah ‘Teh… halah lupa, ntar aku japri dulu.

Yang pasti, waktu maksi terbatas ini bisa dinikmati bersama dalam balutan tali persaudaraan RLA yang tak kan lekang oleh waktu, insyaalloh keberlanjutan kristalisasi program EODB ruang riung dapat segera terwujud di Kampus kita Kiarapayung.. srupuut… aaam.

Salam Reformers, Wassalam (AKW).