Arabica Wine DNA Coffee

H15 ramadhan, nyeduhnya Kopi Arabica Wine, yummy…..

Photo : Hasil seduhan Arabica wine DNA coffee / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Bersua dengan kolega lama yang juga penikmat kopi adalah kebahagiaan tersendiri. Apalagi mengusung prinsip Nikotala*), cucok sudah…. pembicaraan kesana kemari bercerita tentang suka duka masa lalu ditambah dongeng roasting-cupping-drinking weh hehehehe.

Tapi nggak bisa nyruput kopay karena siang hari masih bulan ramadhan.

Batal atuuuh…..

“Ini kopinya kang”…. sebungkus kopi dengan wadah plastik coklat dan ditempel label kertas bertuliskan DNA coffee dan roastingnya medium dan prosessingnya wine…. woaah arabica wine… tak terasa mulut membasah oleh liur yang tetiba hadir… geuleuh ih… yaa nggak ngeclak donk, ini khan cuman hiperbola…

“Duh jadi pengen mau cepet magrib, sok atuh adzan!”

Kawan lamaku Mang AT langsung tertawa, “Kamu mah sakaw kopay yach?”

“Hahahaha…. enggak!, cuman pengen bingitt”

Kami terbahak berdua, ternyata dengan tertawa mengurangi nafsu ingin ngopay lho, tapi setelah berhenti tertawa… eh pengen lagi ngopaay.

Keneh keneh kamu mah…

Akhirnya pembicaaraan berakhir karena ada meeting yang nggak bsa ditinggalkan. Kami berpisah setelah berbagi kisah, membahas kopi tanpa banyak basa basi dan tertinggal sebungkus arabica wine DNA Coffee yang akan segera dinikmati, nanti.

***

Rakaat akhir shalat witir hampir terganggu, di kala membaca salah satu surat juz Amma.. eh pikiran melayang ke Dangiang Nur Alam….
“Apa itu dangiang nur alam?”

“Ntar jawabannya yaa… solat dulu”

Photo : coffee wine siap dinikmati / dokpri.

….untung saja hanya sekilas… lalu kembali pegang kendali hingga ucap salam kanan dan kiri.

Dzikir pasca witir telah tuntas ditutup dengan doa niat shaum, setelah itu bergegas menuju ruang tengah, mempersiapkan prosesi yang sudah dinanti-nanti yaitu…. nyeduh kopi.

Oh iya.. jelasin yang tadi dulu, Dangiang nur alam itu adalah kepanjangan dari merk kopi, DNA coffee…. jadi bukan DNAnya deoxyribonucleid acid atau asam deoksiribonukleat, adalah sejenis biomolekul yang menyimpan dan menyandi instruksi-instruksi genetika setiap organisme dan banyak jenis virus (id.m.wikipedia.org).

Ihh kok jadi kesitu,…. DNa itu adalah dangiang nur alam. Penjelasannya lebih afdol klo bisa jumpa dengan sang pencetus nama itu, tetapi dari searching via website, istilah danging lebih merujuk kepada kekuatan diluar manusia yang memberi pengaruh kuat (komara) dalam perjalanan hidup ini….. ah ntar aja ah, bisi salah pengertian.

Tapi yang menarik ternyata sejalan dengan cerita Mang AT yang tadi siang ngirimin kopi ini. Bahwa petani pembuat kopi ini dalam prosesnya tidak hanya melakukan hal teknis sesuai aturan main memproses kopi, tetapi juga disertai ritual sembahyang, sholat dan doa, memohon kepada Allah Swt agar kopi yang dihasilkan sesuai harapan, itu semua atas ijin Allah Swt, Tuhan Sang Maha Pencipta…. Amiiin.

Prosesss…. proseeees… sess

Metode manual brewnya tetep pake corong V60 dengan segala keterbatasan penulis. Perbandingan 1 : 12, suhu air 88° celcius dan putaran air seduhan mengikuti arah jarum jam disertai pikiran jernih dan sebait doa…. prosesi penyeduhan berjalan sempurna…..

currr…..

serpihan biji kopi arabica wine DNA coffee berekstraksi dengan sepenuh hati, mengeluarkan potensi rasa yang tersembunyi…. tak sabar menanti.

Setelah gelas server berisi cairan hangat memanas kopi ini, dituangkan perlahan ke gelas kaca mini kesayangan…. currrr.

Srupuuuut……. waaaaaw…. puleeen.. eh rasanya nendang dengan proses roastingnya, tetapi lembut menyentuh syaraf-syaraf lidah, enak dan terasa menenangkan.

Body dan acidity bersaing di kelas serius, asamnya maksimal dibalut pahit getir yang kokoh bertahan, serta after taste yang begitu betah ninggal diujung lidah, woaah…. kopi wine yang sejajar atau lebih baik dari gayo wine….. Alhamdulillah, akhirnya ada juga yang bisa menyainginya.

“Kamu aja nggak gaul, padahal ujungberung khan deket, nongkrong di kedai aja, alamatnya di Jl. Walagri Mulya, RW.09, Pasanggrahan, Kec. Ujung Berung, Kota Bandung, Jawa Barat 40617”

Anggukan lemah menandakan persetujuan, tapi agak sulit untuk merealisasikan. Maklum istiqomah hehehehe.

Bicara after taste, variasinya lumayan, dominan rasa fruitty…eh jeruk lemon dan dark chocolate, plus selarik karamel dilingkupi oleh keasaman maksimal…. jeddd.. dank pokoknya. Seakan keasamannya menggigit bibir dengan rasanya. (Lebay nyaaa?…..)

Buat kelompok aliran bergula, mungkin kurang cocok menikmati kopi ini. Tetapi bagi penikmat kopi jalur nikotala*)… very recomended.

Srupuut….. hmmmmmm… nikmatt… Alhamdulillahirobbil alamin. Hatur nuhun Mang AT, Wassalam (AKW).

***

*)nikotala : nikmati kopi tanpa gula.

Gayo Wine Japanesse.

Sruput kopay dingin duyuuu bray…. di sini.

Photo : Spider nyaaah nemplok / dokpri.

KUNINGAN, akwnulis.com. Pas milih kursi di ruangan bagian dalam, agak terdiam sejenak karena disambut laba-laba raksasa yang nemplok di dinding hitam. “Takuuuut… spiderrrr!” teriakan anak secara spontan bikin pengunjung lain menoleh, lalu tersenyum karena paham bahwa kekagetan itu beralasan.

Di dinding tembok berwarna hitam, nemplok hiasan kayu berbentuk laba-laba. Andaikan itu laba-laba hidup, pasti segera beranjak menghindari, pergi untuk tak datang lagi.

“Sayanggg…. itu cuman hiasan, nich ayah pegang” sambil tangan mencoba menggapai laba-laba kayu tersebut. Anak kecilku tersenyum, “Oh hiasan ya, oke deh” dua detik kemudian berlari mengitari meja lainnya dan sudah lupa dengan kekagetan melihat hiasan laba-laba raksasa.

Photo : Interior jadul / dokpri.

Interior cafe yang menyajikan beraneka makanan minuman dan tentunya manual brew coffee ini homy banget, enak buat nyantai dengan mayoritas nuansa kayu berpadu dengan warna-warni menyegarkan. Namanya cafe dua4 kopi berlokasi di daerah Ancaran Kota Kuningan, dari Alun-alun kuningan ke arah barat dan di perempatan setelah LP belok kanan ke arac Cijoho, terus lurus Ciporang dan setelah itu daerah ancaran. Ada beberafa.. eh beberapa cafe kopi disitu, tapi sekarang kesempatannya ke sini duluuuu…..

Pilihannya tetep #tidakadaguladiantarakita dan jatuh pada manual brew arabica gayo wine. “Kok nggak pesen kopi arabica jabar mas?”
“Tadinya moo gitu, eh readynya cuman arabica gayo wine dan solok, ya sudah pilih salah satu dech”

Photo : Gayo wine japanesse / dokpri.

Anak kecilku milih minuman coklat dan ibu negara dengan creme bruelle-nya. Nah aku mah penasaran dengan metode seduh ‘japanesse‘, langsung tanya dech sama sang baristanya, Kang Agus, yang moo kepo-in IGnya cari aja @ch33monk.

Model seduh manual japanesse ini basisnya tetep seduh pake V60 tetapi berbeda pada sentuhan akhir. Klo komposisinya sih standar, Kang Agus ini pake 1 : 15 dengan suhu 85° celcius. Bedanya adalah pada gelas server susah ready es batu yang menangkap tetesan cairan ekstraksi kopi gayo wine ini dan mengubah cairan panas menjadi dingin.

“Hasilnya?”

Segelas kopi dingin yang begitu kuat level aciditynya… nendang banget. Aroma harum standar, tetapi aciditynya tampil banget dan bikin segeer. Menyeruak fruity berry dan sesaat ninggal di ujung lidah, body medium bikin tersenyum.

Photo : Kang Agus sang Barista 24kopi / dokpri.

Memberi rasa segar di siang terang yang periang, sambil mengamati anak kecilku yang cilingcingcat (nggak mau diem barang sedetik), begitu exited dengan suasana baru dan beberapa barang jadul yang menjadi pelengkap interior cafe ini.

Yang kepo bin penasaran, tinggal search ada di gugel, cafe 24kopi..
Tring… langsung aja klik direction… eh tapi syaratnya klo lagi di kuningan… maksudnya Kabupaten Kuningan Jawa Barat, bukan area Kuningan Jakarta ya guys….. kejauhaaan.

Trus urusan harga yang bikin hepi, manual brew gayo wine ala japanesse ini di hargai 17ribu donk… worthed khan?… pokoknya harga-harganya bersahabat dech…

Yuk ah.. srupuuut… suegerrrr. Wassalam (AKW).

Kopi Ngasuh

Nyeduh Arabica puntang & Gayo Wine sambil ngasuh… inilah hasilnya.

Photo : Paw Patrol & kopikuu / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Seduhan kopi di malam hari menjadi teman setia untuk mengisi sisa hari sebelum berganti menjadi esok yang penuh harapan.

Seduhan kopi ini juga yang membantu mata dan badan agar tetap segar sambil menemani sang anak kesayangan yang senantiasa begadang karena ingin main bersama ayah sebelum terlelap di peraduan.

Kopi gayo wine dan arabica puntang pemberian Mr MN menjadi andalan malam ini. Tetapi ada yang beda, suhu air yang digunakan diturunkan di 78° celcius. Tujuannya untuk mempertajam acidity yang dimiliki kopi ini, yang sebenernya memang karakter gayo wine ini sudah mengusung acidity yang cukup tinggi.

Di saat corong V60 sudah bertengger di gelas server, terdengar di samping kanan, “Ayah ini kertas penyaringnya” suara anak kesayangan sambil membawa kertas filter V60. “Makasih sayaang”
“Sama-sama”

Lalu anak kesayangan mengambil teko leher angsa dan berlari menuju kompor gas yang sedang bertugas memanaskan air untuk prosesi penyeduhan.

Reflek diriku mengejar dan menahan gerakan si kecil nan lincah ini. Bukan apa-apa, air panas dan anak umur 3 tahun itu sangat beresiko.

Akhirnya yang paling aman sambil digendong dech. Maka prosesi penyeduhan menggunakan pola 1 tangan. Karena tangan kirinya megangin badan anak kesayangan yang nggak mau diem.

Currr……. perlahan tapi pasti gayo wine terekstraksi, berikutnya arabica puntang… 2 sajian kopi berbeda dengan satu tangan… heuheuheu lumayan pegel.

Photo : Secangkir kopi dan pigure minni mouse dkk / dokpri

Akhirnya manual brew ala ala tercipta sambil terus mendengarkan celoteh anak kesayangan, “Hai guys, hari ini aku bantu ayah bikin kopi… harum guys…. eh gitu dulu ya guys.. jangan lupa like dan subscribe yaa” ini terilhami youtube, ampyuun dech.

“Ayah hayu sini minum, kopinya disiniii” rengekan tengah malam yang tidak bisa dinegoisasi. Hanya menurut saja yang bisa dilakukan, sambil menenteng segelas kopi kecil arabica puntang.

Kompromi belum selesai, karena gelas isi kopi inipun harus dikolaborasi dengan mainan kesayangannya, chase – paw patrol.

Ya…. sudah pasrah, yang penting bentar lagi anak kesayangan mau bobo sebelum tengah malam terlewati. Wassalam (AKW).

Kopi Alumni RLA

Menikmati kopi reuni terbatas di harpitnas..

Photo : Sajian V60 Arabica Puntang Wine / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari kamis lalu adalah harpitnas alias hari kejepit nasional karena setelah hari rabunya libur karena pencoblosan, ditemani KOPI PEMILU, hari jumatnya libur nasional hari paskah, otomatis tersematlah harpitnas. Jangan lupa karena tanggal 17-nya libur maka pakaian Korpri harus dipakai.

Ternyata nyampe di kantor banyak yang saltum (salah kostum), pada pake batik biasa. Disini mah berlaku hukum alam, klo perbandingannya banyak yang berkorpri maka yang berbatik biasa yang kemaluan… eh yang malu, begitupun sebaliknya. Saling ledek pasti ada.

Kecuali yang saltumnya bos, nggak berani ledek-ledekan, paling secara halus heu heu heu… emang kamu mahluk halus?

Udah ah kok ngebahas saltum sih, sekarang pengen cerita tentang makna persahabatan dan persaudaraan yang diawali dari sebuah proses seleksi diklat yang kekinian dengan metode online dan video converence… tidak lagi menggunakan alat tulis karena semua serba digital. Hingga akhirnya lulus dan bersama-sama mengikuti training yang spesial, Reform Leader Academy.

Hari kamis lalu, agenda meeting ternyata bejibun juga di hari kejepit. Tapi tetap semangat dong. Di sela agenda makan sianglah, kami bisa bersua dengan sang Ketua Alumni RLA, memanfaatkan waktu yang sangat singkat.

Pertama pembicaraan hangat ditemani sajian manual brew Arabica Puntang wine di Gesa cafe, itu tuh yang di basement gedung sate samping pintu masuk museum, lengkap sudah kopi-kopi jawa barat, nggak bakal nyesel dech.

Photo : Nasi Hainan ala resto G&B / dokpri.

Untuk masalah makananan maka bergeserlah ke GreensandBean di jalan Bahureksa. Jalan kaki menuju lokasi agar memenuhi target 6000 langkah minimal sehari, tentu sambil ngobrol dan tengak tengok karena takut ada kendaraan nylonong mencelakai diri dan sang Ketua Alumni.

Photo : Teh biru bunga telang & seragam korpri / dokpri.

Pilihan makanannya adalah Nasi Hainan dan Vietnamese salad. Sementara sajian minumannya di-matchingkan dengan seragam korpri, maka teh biru yang menjadi pilihan, yaitu teh khas di resto ini yang menghasilkan warna biru, berasal dari bunga telang… nama resminya di sini adalah ‘Teh… halah lupa, ntar aku japri dulu.

Yang pasti, waktu maksi terbatas ini bisa dinikmati bersama dalam balutan tali persaudaraan RLA yang tak kan lekang oleh waktu, insyaalloh keberlanjutan kristalisasi program EODB ruang riung dapat segera terwujud di Kampus kita Kiarapayung.. srupuut… aaam.

Salam Reformers, Wassalam (AKW).

Arabica Wine & Ijen di Renjana

Menikmati V60 Arabica wine vs Ijen.

Photo : Sajian V60 Arabica wine – Renjana / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com.Pagi yang cerah dan senyum di bibir merah, sejuta rasa bahagia….’

….”Lhaa kok jadi nyanyiin lagu mendiang Chrisye seeh?”

Tapi ini emang pagi yang cerah meskipun bibir merahnya sih relatif. Merah karena obat merah, atau bibirnya kejemur atau polesan lipstik yang mungkin harganya mahal dari mulai Estee Lauder Pure Color Envy Sculpting (400ribuan) hingga Couture Beauty Diamond Lipstick yang harganya (ceunah) 187 Milyar karena bertabur berlian.

Pagi yang cerah ini, menjadi kesempatan berharga untuk menjajal program jalan 30 menit/hari. Kebetulan ada perintah buat ngewakilin bos rapat di salah satu kantor di daerah jl Riau – jl.Laswi. “Kayaknya nyampe kesitu jalan kaki 30 menitan”

Berangkaat…..

Dengan rute Jl. Martadinata / Jl.Riau luruss aja ngikutin trotoar, dan beberapa kali menyebeberang di perempatan… ada 4 apa 5 per4tan. Mulai dari perempatan Istiqomah, Cihapit, ujung jalan Aceh, Gandapura hingga perempatan Jl. Anggrek…

Ternyata 24 menit sudah hampir tiba di TKP, wah masih ada spare 6 menit. Belok kanan dulu ke jalan Anggrek trus ke Jalan Pudak… ternyata ada 4 cafe kopi…. yang pasti ada kopi pudak, kopi Renjana dann…..halah 2 lagi lupa euy.

Photo : Barista Renjana beraksi / dokpri

Dari Jalan Pudak langsung balik badan dan kembali kepada jalan yang benar eh.. jalan yang menuju tempat rapat….. 35 menit akhirnya waktu berjalan dari daerah Istiqomah hingga ujung jalan Martadinata-Ahmad Yani. Keringat lumayan mengucur, tapi segar… aslinya segeerr. Yaa kalaupun ada sedikit bau keringet pas ntar rapat, itu mah resiko. Namanya juga jalan kaki, ya keringetan.

—- Cerita rapatnya nggak dibahas

Naaaah… jam 2 siang baru beres rapatnya…… setelah bubar…. jalan kaki lagi menuju jalan anggrek tadi… kemooon.

Photo : Sebungkus arabica wine / dokpri

Namanya Kafe Renjana, kata sang duo barista artinya ‘Rencana‘ tapi diwujudkan jadi cafe. Nama baristanya Rio dan Diki. Menunya banyak, dan ruangannya cozy serta rapih. Ada juga ruangan private buat meeting, itu mah musti booking dulu….. lha kok jadi iklan cafe seeeh!!.

Yang penting kopinya bro, manual brew V60 tea geuning….

Tanpa perlu lama, pilihan biji kopi yang ada dibaca satu persatu. Ah pilihan mah nggak boleh terlalu banyak, lagian yang lainnya udah tau karakter rasanya… wheleeeh wheleeh kayak yang udah nyicip ratusan kopi aja, sombong lu!!

Pertama, Arabica wine. Katanya beannya dari gunung manglayang. Oke deh gpp, ditunggu racikan manual brew V60nya.

Sambil duduk di meja sebelah dalam, mencoba menikmati suasana cafe Renjana dalam waktu yang sangat terbatas ini. Enak juga buat nongkrong, eh tapi jauh dari kantor. Ya sudah sesekali aja.

Tak berapa lama sajian kopi manual brew V60 Arabica wine ala Renjana cafe telah tiba dihadapan. Sebelum dinikmati tak lupa didokumentasi, wajiib itu!!

Ouuww…. bodynya bold dan ninggal di seputar bibir, aromanya oke dan ada taste fruitty yang ninggal plus selarik rasa karamel.

Kata baristanya pake perbandingan 1:15 alias 100ml dengan 15gr bean persajian… cucook deh.

Nggak pake lama, disruput habis tuh sajian kopi arabica wine. Eh sang pelayan lewat, sambil tersenyum berkata, “Om kayak minum air putih aja, teguk teguk habis.. itu khan pahit bingiit”

Senyum tersungging, salah besar. Ini sajian nggak pahit, justru nikmat dan bisa sesaat melupakan pahit getirnya kehidupan… ahaaay.

“Pesen lagi neng, Manual brew V60, kopinya Ijen”
“Oke Kakak”

Ahay kok berubah panggilannya dari Om jadi Kakak….

Photo : Sajian V60 kopi ijen / dokpri

Sajian kedua, manual brew V60 kopi Ijen. Sajiannya sama dengan gelas botol saji transparan dengan gelas kecil. Tanpa embel-embel, polos saja.

Perlahan disruput, kumur dikit dan glek.. glek.. glek… aroma harum dengan body lite, cocok buat pemula. Serta acidity medium. Taste tidak terlalu jelas, sangat tipis rasa fruittynya.. “Eh atau jangan-jangan efek arabica wine-nya belum hilang?”

Nggak usah dipikirkan. Biarkan kopi arabica wine dan kopi ijennya bersepakat di dalam lambung untuk menghasilkan MOU perikekopian yang akhirnya akan keluar dari tubuh ini dalam bentuk yang relatif sama.

Photo : bean kopi Ijen / dokpri

Yang pasti keduanya nikmat dengan segmentasi peminat ya g berbeda. Mau yang strong atau medium, itulah pilihan.

Akhirnya sang waktu jua yang memaksa raga ini hengkang dari Cafe Renjana. Kembali ke alam nyata dan berpetualang menapaki jalan kehidupan yang terbentang sepanjang hayat. Wassalam (AKW).

***

Wiskie Santri

Berjumpa dengan minuman segar tapi bermakna kontroversi.

Photo : Wiskie Santri siap dinikmati / dokpri

CIREBON, akwnulis.com. bersua dengan sajian minuman yang miliki label unik tentu bikin penasaran. Apalagi labelnya bikin kontroversi, dua buah kata yang digabungkan menjadi satu judul minuman. Tentu maksudnya adalah untuk memberi daya tarik bagi siapapun yang melintas dan melihat.

“Penasaran khan nama minumannya?”

“Ah enggak”
“Ya udah klo nggak mau tahu”

“Eh mau ketang, minuman apa seeeh?”

“Dasar kamu mah, nggak paparuguh, Nihh!!!”

Disorongkan sebotol minuman berisi cairan hitam kecoklatan.

“Wuiiih Wiskie!!!…. eh kok wiskie santri sih”

***

Itulah nama minumannya ‘Wiskie Santri’, yang bikin kontroversi tentu kata wiskie dan santri. Wiskie atau wiskhy adalah minuman beralkohol hasil sulingisasi yang tentunya dilarang diminum oleh santri yang menurut ajaran islam termasuk ke dalam minuman yang haram karena berefek memabukkan.

Kalau kata wikipedia, wisky adalah merujuk secara luas kepada minuman beralkohol dari fermentasi serelia yang mengalami proses mashing (dihaluskan, dicampur air serta dipanaskan) dan hasilnya melalui proses distilasi sebelum dimatangkan dengan cara disimpan dalam tong kecil dari kayu (biasanya pohon ek).

Sementara santri itu atau kata santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti (1) orang yg mendalami agama Islam; (2) orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh (orang yg saleh); (3)Orang yang mendalami pengajiannya dalam agama islam dengan berguru ketempat yang jauh seperti pesantren dan lain sebagainya.

Ada juga yang menghubungkan dengan pesantren dimana dimaknai sebagai pe-santri-an, yaitu tempat para santri berkumpul bersama untuk menuntut ilmu agama islam.

“Jadi serius yaaaa?”

Sepintas jelas perbedaannya, tetapi jangan khawatir karena minuman ini hanya labelling saja. Minuman wiskey santri ini dijual seharga 40ribu saja dengan isi 250ml,
“worthed kan?”

“Mau tau isinya?”
“Mauuu…..”

“Silahkan coba saja, ini nggak memabukkan dan tidak ada alkoholnya kok”

Photo : Sebotol penuh Wiskie Santri menemani rapat penting / dokpri.

Awalnya ragu menerima, tapi perlahan diambil dan coba diminum, sruputt… glek!.

“Woalaaaah ini mah kopiiii!!!!”
“Enak, seger, rasa bodynya lite, aroma minim, tapi aciditynya medium dan hampir ninggal diujung bibir. Tastenya sedikit buah cherry, kopi mana ini teh?, Cold brew khan?”

“Iya kopinya pake bean arabica Cibunar Kuningan. Diproses hingga level fermentasi arabica wine jadi arabica wine, prosesnya cold brew mang”

“Aslina seger, meskipun rada penasaran, harusnya yang bean arabica wine-nya ada, jadi bisa dibawa dan di manual brew di rumah”

“Maafkan mang, belum ada”

Perbincangan singkat tapi paten, nambah sodara dan nambah nikmat. Kopi cold brew ini hasil kreatifitas anak muda yang bermarkas di jalan perjuangan, di depan Kampus IAIN Syeh Nurdjati Kota Cirebon.

Yuk ah kita nikmati wiskie santri saung perjuangan, wilujeng ngopay, Wassalam (AKW).

***

Yang kepo, tinggal klik aja FB dan IGnya : saungperjuangan.

Kopi Reuni Diklat

Reuni pasca diklat ditemani kopi java wine.

Photo : Bean Puntang wine eh salah nulis Pangalengan wine / dokpri

BOGOR, akwnulis.com, Sebuah sentuhan rasa ditambah dengan bumbu cerita akan memberikan nuansa berbeda dibandingkan dengan penyajian apa adanya. Begitupun sebuah pertemanan.

Perkenalan di saat melaksanakan tugas diklat dan bersama-sama selama 4 bulan. Berinteraksi saling berbagi dan melengkapi. Menjadi catatan penting sehingga langsung bisa klop adalah….. tujuan awal dari keinginan mengikuti diklat ini begitu sederhana, yaitu : “Udah lama nggak ikutan diklat nich.”

Gitu aja.

Tidak terlalu banyak berfikir bahwa dengan ikutan diklat ini akan lebih mulus untuk naik tingkat jabatan atau minimal lebih diperhatikan oleh bos-bos. Itu mah efek lanjutan, efek yang utama adalah upgrade wawasan pengetahuan, menambah jaringan pertemanan plus yang terpenting adalah sesaat bisa menghela nafas ditengah hiruk pikuk rutinitas kerja dalam suasana suksesi kepemimpinan yang begitu membahana.

Pola diklat saat ini dengan sistem on-off ada plus minusnya, tetapi bukan untuk dibahas detail disini. Satu saja dari sisi hikmah, pola diklat on-off akan sangat menantang bagi peserta diklat adalah dikala off-class. Secara status adalah kembali bekerja sesuai amanah jabatan yang sedang diemban disisi lain tugas diklat dari kampuspun bejibun. Disini ilmu manajemen tata waktu dan penghindaran berpadu menghasilkan kematangan strategi berperilaku bekerja sekaligus sebagai siswa. Menantang bangeet tuh.

Kembali ke urusan pertemanan, sekarang mengkristal menjadi persaudaraan, serasa senasib sepenanggungan.

Itulah hasil diklat yang hakiki. Sehingga hubungan lebih lanjut menjadi teu asa-asa/nggak canggung lagi. Baik membahas urusan dinas, pribadi ataupun terkait tindak lanjut diklat lalu yang pada prinsipnya tidak pernah berakhir…

***

Hari ini kesempatan berjumpa itu tiba, tentunya berbalut acara kedinasan yang disetting sesuai tugas dan kewenangan ahaay.

Urusan kerjaannya nggak usah dibahas disini yaa… sekarang mah urusan pertemanan yang disinergikan dengan prosesi nyeduh kopi bareng.

Diriku cuman bawa sebungkus bean puntang wine dan peralatan manual brewnya sudah tersedia oleh tuan rumah…. ternyata… bedaaa…

Tapi gpp…. nggak ada rotan ya akarpun jadi.

Grinder manual beraksi, menghancurkan bean arabica puntang wine menjadi serpihan kecil yang siap diekstraksikan.

Sambil berbincang akrab bersama om Ajay dan Om Bams maka prosesi penyeduhan berlangsung.

Sett…. currr…

***

Pas dicobain, srupuut… “kok biasa aja ya?”

Agak terdiam, “Kenapa ya?”….”Musti belajar lagi nich urusan kopi.”

“Mau tau nggak kenapa nggak sesuai harapan, padahal puntang wine gitu lho?”

Pulang reuni ini menembus kemacetan di tol sambil agak murung memikirkan bean kopi yang dibawa ternyata rasanya tak seberapa. Sambil googling di mobil, goyang-goyang, lama-lama pusing.

Telepon rekan yang pencinta kopi, siapa tau dia paham.

Ternyata….

Kopi hasil roasting itu ada masa jeda dulu, jangan langsung digrinder dan diseduh…. minimal diamkan 2-3 minggu sehingga beannya siap dieksekusi.

Ohh…. kupeer. Pantesan setelah digrinder manual susah payah.. trus diseduh.. kok biasa aja. Padahal puntang wine. Inilah akibat kurang pengetahuan.

Ya sudah.. disimpen dulu ah. Wassalam (AKW).