KOPI BEKONG – Kopi akhir tahun.

Catatan kecil 311221 & kopi.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari terakhir di penanggalan masehi sedang dijalani. Tak terasa kenikmatan hidup di dunia sehingga setahun lamanya akhirnya berakhir di 31 desember 2021. Banyak rencana kegiatan yang muncul di benak ini untuk memanfaatkan hari terakhir tahun ini, termasuk mengikuti tim monitoring dan evaluasi tempat wisata di sekitar bandung raya.

Tapi kembali, niat beredar tipis-tipis diurungkan karena dengan berbagai pertimbangan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya diputuskan untuk ‘jaga kantor’ saja seperti biasanya. Karena hal – hal administratif menjadi menjadi super penting di saat pergantian tahun ini, terutama yang terkait penganggaran. Baik secara phisik ataupun via input aplikasi.

Ternyata benar putusan yang diambil, beberapa urusan harus dituntaskan hari ini. Karena besok adalah tahun depan, tahun 2022.

Diawali rapat pembahasan penyesuaian anggaran di pelataran belakang monumen perjuangan, dilanjutkan rangkaian pertemuan di riau 209 baik dengan mitra juga dengan bapak bos yang baru plus menghadiri alih jabatan beberapa rekan yang memegang amanah menjadi pejabat fungsional adyatama pariwisata dan ekonomi kreatif.

Paling krusial adalah pertanggungjawaban anggaran, dilanjutkan dengan pengajuan gaji januari 2022. Juga peralihan jabatan dari bapak bos, mempengaruhi juga proses perubahan secara administratif. Itu semua harus dituntaskan di hari terakhir ini.

Sambil menjalani hari, rasa ingin menikmati sajian kopi datang dengan sendirinya. Tapi kopi asli, kohitala.

Sebenernya pas rapat pagi di pelataran Monju sudah hadir traktiran kopi, produk Kopi Manja, hanya saja karena bergula sehingga secara halus ditolak dan akhirnya menjadi milik teman yang datang belakangan dan memang kehausan.

Setelah makan siang hadir kembali kopi bergula, kali ini Kopi Djawa tak bisa ditolak karena sudah tersaji dan dinikmati bersama bapak bos baru, Alhamdulillah.

Namun jiwa kohitala tetap berontak dan berharap meraih kenikmatan dengan sajian kopi tanpa gula dengan metode manual brew… aww sakaaw.

Akhirnya setelah kokoreh di dapur kantor, tersisa sebungkus kopi drip dan semoga bisa mememuhi kegundahan ini. Kopi drip bag Red cherry… lumayaaan.

Langsung buka dan… halah clingak clinguk, cangkirnya kok nggak ada?… ya sudahlah gelas gede tempat air putihku bisa dijadikan tempat sajian…. dan jadilah bernama KOPI BEKONG.

Tahu khan bekong?.. sebutan untuk gelas gede dari alumunium.. ya meskipun ini gelas kaca tapi ukuran sebekong juga…. heuheu maksa.

Hasil seduhannya langsung disruput, lumayan ada rasa kopi asli yang hadir meskipun hanya selarik tapi lumayan sedikit mengobati kerinduan yang memuncak ini.

Sruputan dua kali langsung tandas, kenikmatan segera berimbas dan semangat kembali beringas untuk mempercepat penyelesaian tugas di akhir tahun yang akan segera melewati batas dan menyongsong tahun 2022 dengan bergegas. Wassalam (AKW).

Kohitala Preanger.

Sruput lagi brow…..

BANDUNG, akwnulis.com. Parade pidato seremoni silih berganti dilanjutkan dengan kultum (kuliah ceramah tujuh menit) dan rangkaian kegiatan lainnya serta dikawal oleh suara musik lengkap dengan homeband yang memancing untuk sedikit bergoyang dan bernyanyi.

Tema ceramah tak kalah menarik, dimana membahas tentang banyaklah memuji bari meminta atau disingkat Puji Dulu Baru Minta (PuDuBaMi). Sebuah tuntunan universal yang tercermin dalam 7 ayat Q.S Alfatihah. 5 ayat awal adalah ayat yang bertema pujian atau memuji Allah dan 2 ayat terakhir barulah permintaan.

Inilah salah satu nilai utama yang harus menjadi pegangan dalam mengarungi kehidupan.

Selanjutnya tema senantiasa memuji adalah refleksi diri untuk senantiasa bersyukur, memgedepankan swasangka baik dan tentunya memaknai detik demi detik kehidupan ini dengan optimisme.

Begitupun dengan kehadiran kopi hitam kali ini, atau disebut Kohitala (kopi hitam tanpa gula) harus disyukuri dan bertabur pujian kepada Illahi yang Maha Kaya. Karena tanpa perlu bersusah payah menanam pohon kopi, merawatnya, memanennya, meroastingnya, membelinya hingga berproses menjadi sajian hitam menggugah selera.

Diawali dengan kalimat, “Mau teh atau kopi om?” yang begitu merdu terdengar di telinga kiri disuarakan si pelayan muda yang cekatan.

Sebuah anggukan kecil dan suara lirih, “Kopi” langsung dibalas senyum tersembunyi dibalik masker pink dan seketika dituangkan sajian kohitala yang harus segera dinikmati.

Maka cara bersyukur selanjutnya selain memuji keagungan tuhan atas kemudahan hadirnya kohitala ini adalah membuat sajian kohitala ini abadi. Yaitu dengan cara dokumentasi, alias diabadikan dalam bentuk photo. Tentu dengan sisi pengambilan photo sesuai selera dan ujung telunjuk menyentuh tombol shooter kamera di smartphone.

Tring, sajian kohitala telah tercapture sempurna dan selanjutnya dihiasi dengan taburan kata untuk bisa disajikan dihadapan sidang pembaca tanpa perlu repot – repot mencerna makna. Have a nice weekend kawan, Wassalam (AKW).

Kopi Jagapati vs Bubur Mang Oyo.

Nikmati kopi sambil sarapan pagi.. Yummy.

BANDUNG, akwnulis.com. Menikmati secangkir kopi bisa hadirkan inspirasi, termasuk membantu hati menjaga mood dalam menjalani hari ke hari. Maka ekplorasi tempat – tempat yang menyajikan kopi adalah sebuah haraoan tersendiri. Apalagi aturan sudah dibolehkan meskipun tetap dengan prokes yang ketat.

Tapi, untuk penyajian kopi dengan manual brew V60 musti dikeceng dulu. Karena mayoritas cafe kopi itu yang laku adalah minuman less coffee full sugar and milk… jadi keceng dulu.

Kedua, dilihat kondisi kerumunan. Jika banyak orang dan tentu mayoritas nggak kenal. Agak parno juga karena aku teh yakin si covid19 masih gentayangan dan sukaaa banget berada di kerumunan… kumaha atuh?

Ya demi keamanan diri, carilah tempat warung atau cafe outdoor yang nggak bejubel orang… malah klo moo sepi banget mah datangnya shubuh.. dijamin kosong tuh tempat.. hanya saja masih di gembok da belum buka hehehehe.

Nah, sekarang pas lewat dari belokan jalan trunojoyo ke kiri… klo nggak salah jalan Sultan Ageng Tirtayasa deh. Judulnya kebetulan tapi sambil dilihat-lihat juga…. adaaa… nama cafenya sih Bubur Mang Oyo tapi ada juga sajian kopi.

Lha nggak puguh ini teh, nyari kopi atau mau sarapan sih?”

Aduh ampyun protes mulu, ikutin aja dulu cerita.. sabaar gitu lho.

Tempatnya enak bisa sambil berjemur di pagi hari dan menikmati sarapan bubur ayam. Tapi khan aku mah cari kopi, maka yang dipesan adalah kopi hitam tanpa gula.

Sambil pesen kopi, iseng nanya sang pelayan, “Kopinya kopi apa kang?”

Kopinya kopi Jagapati Gan”

Weits, eta namanya kereen… jadi penasaran dengan rasanya.

***

Hadirlah sebejana kopi hitam tanpa gula ditemani gelas sloki bening, memberi harapan kedamaian dan tentunya mewujudkan kenikmatan.

Sebelum dinikmati, tentu di dokumentasikan dulu.

Nah dokumentasi pertama di area dalam dengan latar belakang buku-buku perpustakaan, sehingga minum kopi disini bisa nambah wawasan… kalau yang mau baca buku-bukunya. Klo yang cuman bengong doang sih… yaa tetep aja before after nggak nambah pinter.

Dokumentasi kedua di lokasi outdoornya dimana cirinya adalah mejanya dari besi dan bolong-bolong. Jadi bagi yang pobhia sesuatu bolong-bolong atau ruang berongga atau lubang yang dikenal dengan istilah Tryphopobhia, jangan maksain kesinih.

Tapi ketang tergantung, klo suasana asik – asik aja mah, seneng atuh kongkow disini. Oh iya menu utama sarapannya udah pasti bubur ayam Mang Oyo tea.

Jadi dokumentasi photo bubur ayam lengkappun harus hadir agar tidak penasaran, masa nggak ada photo buburnya… monggo dipasang di akhir tulisan ini yaa… cekidot.

Bicara rasa kopi jagapati ini relatif standar dan kohitala manual brew V60nya biasa aja. Sebagai pelengkap setelah selesai makan bubur pas juga hehehe… yang pasti vibesnya oke. Bisa sarapan, bisa kongkow dan sedikit berdamai dengan kenyataan. Selamat weekend kawan, Wassalam. (AKW).

OBAT GALAU DI TERAS KIARA

Lagi galau?… obati dengan Ngopay.

V60 arabica manglayang / dokpri.

KIARAPAYUNG, akwnulis.com. Sebuah rasa berbeda yang hadir tiba-tiba, menyusup dibawah raga dan menyentuh pinggiran hati tanpa banyak tanya. Disitulah hadir rasa khawatir ditambah sejumput kebingungan.

Tapi kenapa?”

Sebaik kata tanya yang berbahaya, karena untuk memperbaiki dan menyembuhkan sesuatu memiliki syarat utama. Syaratnya adalah kejujuran.

Coba renungkan, dikala kita butuh solusi masalah kesehatan, maka diskusi dengan dokter adalah kejujuran dan keterbukaan. Setelah itu dilakukan pemeriksaan phisik, barulah bisa dihadirkan resep dan akhirnya treatment obat atau tindakan yang diperlukan.

Begitupun jikalau jiwa kita yang ‘sakit’, maka perlu sesi diskusi yang dilandasi kejujuran dan keterbukaan. Lalu proses terapi baik dengan dokter jiwa ataupun psikolog, barulah tindakan atau resep obat kembali dihadirkan dengan berbagai cara minum yang penuh keteraturan.

Teras Kiara / dokpri.

Nah, kali ini kebimbangan hadir tanpa sebab yang jelas. Wah lebih berbahaya nich. Harus segera ditenangkan dengan terapi khusus penuh kenikmatan.

Maka tanpa membuang waktu dan menyia-nyiakan kesempatan, pada kesempatan pertama segera bergerak memutar arah dan menantang kondisi jalan berbeda dari seharusnya. Termasuk berjuang dalam ajrug-ajrugan karena jalan agak hancur dilewati truk – truk besar yang hilir mudik ditengah debu tanah yang beterbangan.

Ada usaha dengan semprotan air membasahi jalan, tetapi terlihat tak kuasa melawan debu-debu tanah yang menari riang bersama deru kendaraan besar.

Alhamdulillah setelah melewati jalan berdebu, maka tak jauh lagi lokasi terapi bathin akan dicapai… ahaaay… sabaar.

Namanya Teras Kiara, sebuah cafe asri yang bersih dan aman dari hinggar bingar keduniawian. Kebetulan pengunjung sedang tidak ada, maka leluasa memilih tempat dan mengambil spot photo serta meminta obat galau yang sangat manjur.

Apakah obatnya?”

Obatnya adalah sajian V60 arabica manglayang yang dibuat oleh Aris/Teguh sang barista. Tangan terampil an kedisiplinan pada tahapan manual brewnya menghadirkan sajian sederhana dengan rasa yang tidak sederhana. 15 gram bean arabica manglayang diproses hingga hadirkan sajian kohitala dengan body medium, acidity medium dan aftertastenya selain dark coklat juga selarik kesegaran mentimun dan mint menenangkan rasa yang galau plus kembali semangat menjalani kehidupan.

Semerbak harum aroma kopi manglayang menenangkan perasaan yang sedang gundah gulana karena suatu sebab yang tak jelas ditambah rasa yang mendamaikan. Itulah obat galau dalam sebuah kehidupan.

Jus mangga teras kiara / dokpri.

Tak lupa untuk melengkapi kehadiran kohitala si obat galau ada juga dokumentasi sajian jus mangga yang dipesan seorang rekan yang memang butuh juga kesegaran versi yang bersangkutan.

Happy weekend kawan. Wassalam (AKW).

KOPI ADAPTASI

Sruput Kopinya dan mari berkarya..

Pagi yang cerah dilengkapi dengan gerakan seribu langkah. Harapannya adalah kembali berolahraga meskipun bukan bergerak di alam bebas tetapi menjalani perputaran kaki sambil mengelilingi seluruh sudut area kantor yang ternyata cukup luas juga.

Photo : Kopi Adaptasi / dokpri.

Jam ditangan kiri menunjukan 2 ribu langkah telah terpenuhi, cukup sebagai awalan pagi ini. Berkeliling seluruh sudut ruangan di kantor baru dari mulai halaman depan hingga sudut arsip di lantai 3 paling belakang.

Setelah puas berkeliling, maka kembali ke depan dan menjumpai sudut khusus yang dikawal sang barista.

Kopiiii……

Maka diskusi sengit membahas body, acidity dan after taste sang kopi yang menjadi pilihan pagi ini…… tapi yang hadir bukan manual brew v60 tetapi cafelatte… dan tanpa gula.

Tadinya agak terhenyak karena berbeda dengan apa yang ada di benak ini, tapi tak masalah karena yang terpenting adalah sang gula terpisah, itu saja

Kecewa?… karena biasanya disajikan manual brew V60 kohitala tetapi ternyata yang datang adalah sajian cafelatte?”

Photo : Berkeliling Kantor / dokpri.

Tentu tidak kawan, hidup itu adalah bersyukur dan adaptasi. Senantiasa berubah dan bergerak seperti yang dicontohkan jarum jam yang selalu setia menghitung ritme kehidupan.

Jadi, meskipun yang hadir cafelatte, nikmati dan syukuri saja… trus setelah terucap Bismillah maka selanjutnya sruputlah perlahan…. srupuut… slruup.. nikmaat.

Yuk menyesuaikan dengan kenyataan. Selalu semangat dan berihtiar tentu dengan pikiran yang dipenuhi harapan kebaikan. Amiiin… Wassalam (AKW).

NGOPI di Warung Pinus

Mlipir dulu demi kohitala dan suasana.

Photo : Kohitala Arabica Cibeusi Subang / Dokpri.

Sagala Herang, akwnulis.com. Ketika semilir angin menenangkan jiwa, saat itulah suasana hatipun menjadi tenang. Sesaat terbebas dari beban pekerjaan dan sejumput hutang perasaan.

Berisiknya kicau burung di pucuk pinus, menghantarkan suasana menjadi lapar dan haus. Apalagi seharian didera oleh acara yang super serius, inilah saatnya untuk lupakan badan kurus dan pipi tirus dengan menikmati makanan dan minuman yang tanpa embel-embel kasus.

Lokasinya memang cukup tersembunyi, tetapi menjanjikan suasana yang mendamaikan hati. Jikalau dari Bandung, maka sebelum memasuki Ciater ada jalan ke kiri menuju daerah Sagalaherang Kabupaten Subang. Beloklah dan nikmati perjalanan dengan ditemani hamparan kebun teh yang menghijau dengan jalan relatif mulus dan menurun. Jalannya agak kecil sehingga jikalau ‘pasanggrok‘ atau berpapasan dengan kendaraan lain harus sedikit menepi dan berhati-hati. Apalagi jika tiba-tiba menepi di hatinya, hati-hati jika ternyata hatinya sudah milik yang lain…. ahaay apa seeeh?.

Cara paling gampang ke lokasi cafe ini, yaa google map saja dengan key word ‘warung pinus sagala herang‘…. perlu pake kata sagala herang karena di bandungpun ada nama cafe yang sama.

Tiba di TKP maka akan disambut dengan suasana hutan pinus yang mendamaikan, dengan fasilitas cafe yang cukup lengkap. Terutama toilet dan mushola, klo makanan minuman jelas harus enak donk…. ditambah dengan berbagai varian kopi yang bisa dibuat secara manual dengan berbagai pilihan, diantaranya vietnam drip, V60, aeropress dan shypon. Klo espresso, americano sudah jelas ada dan tentu turunannya ada picollo, creme bruele, avogato, cappucinno dan latte….. ah siap-siap srupuuut…

Maka tanpa banyak pilih memilih menu, diputuskan untuk memesan kohitala (kopi hitam tanpa gula) dengan metode manual brew V60. Pilihan beannya adalah kopi dari Subang yaitu arabica Cibeusi.

Arabica Cibeusi adalah kopi yang ditanah dan di olah penduduk di wilayah Ciater khususnya daerah Cibeusi. Lokasinya dari jalur arah pemandian Sari ater ada jalan masuk ke pemukiman penduduk. Melewati juga villa-villa di Sarialam dan terus aja (itu kata pegawai kafe yang diinterogasi dengan kelembutan).

Photo : Soto ayam Warung Pinus / dokpri.

Dengan bean 14gr dan panas air seduhan 90° celcius. Maka hadirlah sajian kopi yang menggugah hati. Keharumannya nyata dan rasanya cenderung body medium dan acidity medium dengan profile after taste ada selarik manis fruitty yang menggemaskan. Nikmat pokoknya mah.

Sebagai makanan pendukung maka semangkok soto ayam lengkap dengan nasi, sambal dan jeruk nipis menemani perjalanan kuliner kali ini. Panas, enak dan suasana tenang melengkapi momentum makan siang menjelang sore dengan segala kesenangan.

Selamat makan dan ngopay kohitala kawan, bukan maksud ‘ngabibita‘ (bikin orang jadi pengen) tetapi ini memang nyata. Wassalam, (AKW).

***

Arabica Wine Tangkuban Parahu.

Sruput kopinya dan hadapi masalahnya.

Photo : Arabica wine Tangkuban parahu / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Gemericik hujan menjelang sore ini begitu mendukung suasana hati yang sedang gundah merindu, merindukan suasana damai tanpa banyak tekanan dan kewajiban.

Tapi itulah kehidupan, dikala semua seakan baik-baik saja. Disitulah sebuah hambatan hadir. Meskipun tinggal kita ambil pilihan, hambatan ini adalah penghalang atau hambatan ini adalah sebuah tantangan?…. pilihan tentu ditangan kita.

Meskipun ada sedikit tergoda untuk tidak ngapa-ngapain, karena ada prinsip ‘Sebuah masalah itu tidak akan sulit jika tidak dikerjakan‘….. jangan terjebak prinsip yang tidak jelas. Pengalaman membuktikan bahwa membiarkan masalah adalah menghasilkan masalah baru dan semakin menumpuklah dengan masalah-masalah di awal hingga akhirnya kewalahan.

Jadi, mari kita hadapi setiap tantangan dengan treatment masing-masing. Yang paling penting adalah identifikasi dulu apakah masuk kategori urgent, berat dan berimplikasi luas, hingga yang sedikit bisa dijeda sehingga bisa menarik nafas untuk bertanya kepada semesta sebagai bahan jawaban yang dapat memberikan sejumput puas bagi sebagian besar pihak yang terkait.

Lho kok sebagian besar sih, bukannya semua harus puas?”

Dengan seringai riang, meluncurlah jawaban sakti, “Maaf kawan, Kami, Aku ini bukan alat pemuas hehehehehe”.

Tapi tetap berusaha lakukan yang terbaik untuk hadapi hambatan yang ada dan mengubah persepsinya sebagai tantangan, bukan halangan. Insyaalloh semua bisa dilewati, meskipun urusan waktu penuntasan tentu berbeda satu sama lain.

Sebagai mood booster dalam menghadapi tantangan ini, perlu dihadapi dengan kesabaran dan juga ketenangan….. nah urusan mencari suasana tenang, jangan lupa…. sambil nyruput kopi.

Photo : Sajian Arabica Wine Tagkuban parahu / dokpri.

Maka, pilihannya kali ini adalah arabica wine tangkuban parahu dengan metode manual brew V60. Dibuatin orang kali ini mah, mau bikin sendiri nggak sempet karena berbagai pertimbangan dan alasan… alasan terkuat mah hoream hehehe.

Tetapi karena dibuatin orang maka harus menerima kelebihan dan kekurangannya, begitupun sajian kali ini. Ternyata air panas yang dipake nyeduhnya dibawah 90° celcius.. jadinya hangat-hangat kuku saja. Padahal ….mm aku mah seleranya panas 90° celcius, tapi ya sudah nggak ada salahnya juga karena pasti alasannya adalah agar aciditynya lebih terasa dikala diseduh dengan suhu yang lebih rendah.

Tetap disyukuri saja karena bisa menikmati kohitala tanpa repot menyiapkannya.

Srupuuut…… bodynya medium dan aciditynya high dengan secubit rasa wine yang menggigit bibir diujung waktu. Profile sajiannya ada selarik rasa fruitty dan tamarind…. nikmaat.

Alhamdulillah kawan, suasana kebathinan relatif lebih nyaman sambil berusaha menyelesaikan beberapa urusan kerjaan yang perlahan tapi pasti bisa diselesaikan.

Selamat menikmati hari ini kawan. Wassalam (AKW).

Kopi Semar Buhun.

Ngopay lagi sambil perpisahan… huu huuu huuu..

Photo : Kopi Semar Buhun / dokpri.

SUBANG, akwnulis.com. Sajian kopi kali ini agak sedikit menyinggung perasaan, karena disandingkan dengan sebuah patung kayu yang beberapa bagian tubuhnya mirip dengan kenyataan. Tetapi warna kulit hitamnya mah enggak atuh, tega banget ih.

Kopi yang hadir saat ini adalah kopi buhun dari cupunagara Subang, diolah dengan pola manual tubruk dan ditubruknya pelan-pelan, takut jatuh soalnya. Terkait rasanya pasti pahit karena tanpa gula, tetapi justru di situlah seninya menikmati kohitala (kopi hitam tanpa gula).

Karena kehadiran kopinya disandingkan dengan patung kayu semar, maka sangat pantas disebut kopi semar hee heu heu… gimana penulis wee… khan menulis mah bebas.

Body medium dan acidity medium high serta aftertaste selarik kacang tanah dan sedikit kakao plus selarik fruity yang minimalis hadir di rongga dada.. eh rongga lidah menemani hari dikala sebuah momentum perpisahan terjadi.

Yup, agenda lepas sambut sederhana yang kebetulan bisa bergabung karena tepat momennya yakni sedang berkegiatan di wilayah Kabupaten Subang. Lalu dapat info ada pertemuan ini, kontak-kontak via telepon, segera meluncur menuju tekape.

Photo : Perpisahan Eyang / dokpri.

Dari berbagai wejangan Eyang ada sebuah kata kunci dari beliau, yaitu satu kata yang super penting adalah TERTIB. Tertib dalam segala hal, insyaalloh terhindar dari permasalahan, baik urusan ibadah, pekerjaan ataupun pergaulan.

Selamat Purna tugas, Eyang.

Lanjut aah…..

Termasuk minum kopi, harus tertib. Siapin cangkirnya, juga kopinya plus air panasnya… baru ditubruk. Klo yang nggak tertib khan kopinya masih dibungkus langsung diseduh air panas sementara cangkirnya diminum…. khan kacau bro, makanya harus tertib.

Nah sekarang duduk manis dulu, cangkir kopinya di simpan di meja. Pegang dengan erat, dekatkan ke bibir…. jangan lupa baca Basmallah… baru srupuuuuut… hmmm kopi buhun cupunagara nikmatnya, ditemani patung semar besar yang selalu tersenyum.

Itulah perjalanan kopi… eh ngopay kali ini, selamat bekerja dan selalu penuh semangat, Wassalam (AKW).

Hari Kopi Dunia.

Met Hari Kopi Dunia Guys.

Photo : Kopi Tubruk berlatar Alam / dokpri.

PUNCAK, akwnulis.com. Sebuah pesan whatsapps mengingatkan dengan sebuah ucapan ‘Selamat hari Kopi Dunia tanggal 1 Oktober 2020‘…. waah ternyata hari kopiii, level dunia lagi. Tentu dijawab dengan sukacita dan ingin segera merayakannya.

Tapi…. tunggu dulu, tabayun itu penting bro, cek and ricek. Segera dibuka buku RUPL (Rangkuman Umum Pengetahuan Lengkap) …. ketahuan deh umur klo masih buka buku RUPL yang berisi seantero pengetahuan dan menjadi bukubsakti rujukan pada jamannya. Padahal sekarang tinggal buka mang gugel dan baca – pilah dan baca.

Dari penelusuran singkat via laman wikipedia dan beberapa artikel tentang asal muasal kopi belum ada data akurat. Ada yang menyebut berasal dari ethiopia benua aprika untuk pertama kali jaman ethiopia kuno oleh seorang penggembala bernama Kaldi dan ada juga pendapat bahwa diawali dari cerita tentang Legenda dari Yaman menceritakan bahwa dahulu mistikus sufi Yaman Ghothul Akbar Nooruddin Abu al-Hasan al-Shadhili sedang melakukan perjalanan melalui Ethiopia*).

Selanjutnya disepakati oleh Organisasi kopi Internasional pada 1 oktober 2015 di Kota Milan Italia untuk diperingati tanggal 1 sebagai hari kopi dunia dengan tujuan untuk mendukung para petani kopi dunia semakin berkembang **).

Nah jikalau dunia itu memperingatinya tanggal 1 oktober maka di sini, Indonesia bertepatan juga dengan hari kesaktian Pancasila, sebuah tanggal yang menjadi kebanggaan bangsa indonesia yang berhasil menyelamatkan Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari gerakan Komunisme.

Trus indonesia memperingati hari kopinya kapan?”

Cari lagi, eh nongol info, bahwa hari kopi indonesia itu diperingati tanggal 11 Maret guys… atuh bertepatan dengan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret)… asa nyarambung yach.

Yang paling penting adalah bagaimana memaknai kehadiran kopi ini menjadi momentum rasa syukur kepada nikmat Illahi. Apalagi jikalau ngopinya itu tidak hanya segelas kopi hitam saja, tetapi dimana kita ngopinya, bagaimana pemandangannya, keren nggak penyajiannya, atau manis nggak yang menyajikannya… ups… nggak boleeeh.

Photo : Lanscape pegunungan yang menenangkan / dokpri.

Sebagai rasa sukacita di hari kopi sedunia maka ijinkanlah kami memposting sajian kopi berlatar belakang kehijauan dan punggung gunung penuh pesona. Memanjakan mata, mendamaikan hati dan memberi jawaban atas kehausan addict sruput kopi selama ini.

Biarpun bukan kohitala dengan manual brew V60 atau shiffon dan juga vietnam drif tapi (hanya) secangkir kopi tubruk… lihatlah berlatar belakang pemandangan indahnya, ini adalah sebuah kenikmatan tak terperi yang wajib ditafakuri.

Selamat Hari Kopi Dunia dan Selamat atas Saktinya PANCASiLA. 1 Oktober 2020, Wassalam (AKW).

***

Sumber :

*)https://www.kompas.com/food/read/2020/09/30/183818975/hari-kopi-sedunia-ketahui-sejarah-munculnya-kopi-di-dunia?

**)https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hari_Kopi_Internasional

V60 Arabica Sindanglaya.

Sruput kopi arabica sindanglaya.

Photo : Kopi Sindanglaya Arabica / dokpri.

BOJONGHALEUANG, akwnulis.com. Arabica Sindanglaya, itulah yang tertera dibungkusnya. Untuk selanjutnya diserahkan kepada sang barista untuk menyeduhnya meskipun diberi catatan dengan lisan bahwa mainkan panasnya diatas 90° celcius agar ketebalan rasa bodynya dapat hadir tanpa dipaksa.

Ternyata menunggu itu kok terasa lama, padahal klo bikin sendiri mah perasaan cepet….” bicara sendiri di pikiran dan akhirnya senyum sendiri. Karena memang prosesi manual brew v60 perlu beberapa tahapan yang harus dilalui hingga hadir menjadi sajian minuman kopi hitam tanpa gula yang miliki originality rasa sebenar-benarnya.

Iya sebenar-benarnya kopi adalah kepahitan, tetapi kepahitan ini ditemani selarik rasa sana sini yang tidak semua orang bisa mengecap dan menikmati.

Arabica sindanglaya itulah namanya, berbungkus hitam memberi suasana penasaran untuk rasanya. Tapi tetap bisa ditebak rasa umumnya arabica java yang miliki variasi acidity yang menggoda serta body cenderung medium ke bold tinggal diatur pencahayaan…. eh salah kok jadi serasa pemotretan, maksudnya diatur suhu air yang akan digunakan menyeduhnya WAJIB diatas 90° celcius, titik.

Karena modelnya take away, maka harus rela cikopi eh kopi hasil proses manual brewnya tidak disajikan dalam bejana kaca yang lucu, tetapi cukup dengan gelas kertas putih biasa. Tidak mengapa karena sebuah rasa tidak akan berbohong biarpun ditempatkan di gelas kertas begitu saja, cuma kalau di photo tanpa cerita, mungkin akan dianggap hanya sajian kopi biasa.

Itulah fragmen kehidupan, terkadang kita terjebak dengan penampilan. Meskipun mau tidak mau, tampilan atau penampilan juga bisa mendukung sebuah usaha sehingga hasilnya lebih optimal. Selamat ngopay kawan, Wassalam (AKW).