Arabica Wine Tangkuban Parahu.

Sruput kopinya dan hadapi masalahnya.

Photo : Arabica wine Tangkuban parahu / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Gemericik hujan menjelang sore ini begitu mendukung suasana hati yang sedang gundah merindu, merindukan suasana damai tanpa banyak tekanan dan kewajiban.

Tapi itulah kehidupan, dikala semua seakan baik-baik saja. Disitulah sebuah hambatan hadir. Meskipun tinggal kita ambil pilihan, hambatan ini adalah penghalang atau hambatan ini adalah sebuah tantangan?…. pilihan tentu ditangan kita.

Meskipun ada sedikit tergoda untuk tidak ngapa-ngapain, karena ada prinsip ‘Sebuah masalah itu tidak akan sulit jika tidak dikerjakan‘….. jangan terjebak prinsip yang tidak jelas. Pengalaman membuktikan bahwa membiarkan masalah adalah menghasilkan masalah baru dan semakin menumpuklah dengan masalah-masalah di awal hingga akhirnya kewalahan.

Jadi, mari kita hadapi setiap tantangan dengan treatment masing-masing. Yang paling penting adalah identifikasi dulu apakah masuk kategori urgent, berat dan berimplikasi luas, hingga yang sedikit bisa dijeda sehingga bisa menarik nafas untuk bertanya kepada semesta sebagai bahan jawaban yang dapat memberikan sejumput puas bagi sebagian besar pihak yang terkait.

Lho kok sebagian besar sih, bukannya semua harus puas?”

Dengan seringai riang, meluncurlah jawaban sakti, “Maaf kawan, Kami, Aku ini bukan alat pemuas hehehehehe”.

Tapi tetap berusaha lakukan yang terbaik untuk hadapi hambatan yang ada dan mengubah persepsinya sebagai tantangan, bukan halangan. Insyaalloh semua bisa dilewati, meskipun urusan waktu penuntasan tentu berbeda satu sama lain.

Sebagai mood booster dalam menghadapi tantangan ini, perlu dihadapi dengan kesabaran dan juga ketenangan….. nah urusan mencari suasana tenang, jangan lupa…. sambil nyruput kopi.

Photo : Sajian Arabica Wine Tagkuban parahu / dokpri.

Maka, pilihannya kali ini adalah arabica wine tangkuban parahu dengan metode manual brew V60. Dibuatin orang kali ini mah, mau bikin sendiri nggak sempet karena berbagai pertimbangan dan alasan… alasan terkuat mah hoream hehehe.

Tetapi karena dibuatin orang maka harus menerima kelebihan dan kekurangannya, begitupun sajian kali ini. Ternyata air panas yang dipake nyeduhnya dibawah 90° celcius.. jadinya hangat-hangat kuku saja. Padahal ….mm aku mah seleranya panas 90° celcius, tapi ya sudah nggak ada salahnya juga karena pasti alasannya adalah agar aciditynya lebih terasa dikala diseduh dengan suhu yang lebih rendah.

Tetap disyukuri saja karena bisa menikmati kohitala tanpa repot menyiapkannya.

Srupuuut…… bodynya medium dan aciditynya high dengan secubit rasa wine yang menggigit bibir diujung waktu. Profile sajiannya ada selarik rasa fruitty dan tamarind…. nikmaat.

Alhamdulillah kawan, suasana kebathinan relatif lebih nyaman sambil berusaha menyelesaikan beberapa urusan kerjaan yang perlahan tapi pasti bisa diselesaikan.

Selamat menikmati hari ini kawan. Wassalam (AKW).

Kopi Semar Buhun.

Ngopay lagi sambil perpisahan… huu huuu huuu..

Photo : Kopi Semar Buhun / dokpri.

SUBANG, akwnulis.com. Sajian kopi kali ini agak sedikit menyinggung perasaan, karena disandingkan dengan sebuah patung kayu yang beberapa bagian tubuhnya mirip dengan kenyataan. Tetapi warna kulit hitamnya mah enggak atuh, tega banget ih.

Kopi yang hadir saat ini adalah kopi buhun dari cupunagara Subang, diolah dengan pola manual tubruk dan ditubruknya pelan-pelan, takut jatuh soalnya. Terkait rasanya pasti pahit karena tanpa gula, tetapi justru di situlah seninya menikmati kohitala (kopi hitam tanpa gula).

Karena kehadiran kopinya disandingkan dengan patung kayu semar, maka sangat pantas disebut kopi semar hee heu heu… gimana penulis wee… khan menulis mah bebas.

Body medium dan acidity medium high serta aftertaste selarik kacang tanah dan sedikit kakao plus selarik fruity yang minimalis hadir di rongga dada.. eh rongga lidah menemani hari dikala sebuah momentum perpisahan terjadi.

Yup, agenda lepas sambut sederhana yang kebetulan bisa bergabung karena tepat momennya yakni sedang berkegiatan di wilayah Kabupaten Subang. Lalu dapat info ada pertemuan ini, kontak-kontak via telepon, segera meluncur menuju tekape.

Photo : Perpisahan Eyang / dokpri.

Dari berbagai wejangan Eyang ada sebuah kata kunci dari beliau, yaitu satu kata yang super penting adalah TERTIB. Tertib dalam segala hal, insyaalloh terhindar dari permasalahan, baik urusan ibadah, pekerjaan ataupun pergaulan.

Selamat Purna tugas, Eyang.

Lanjut aah…..

Termasuk minum kopi, harus tertib. Siapin cangkirnya, juga kopinya plus air panasnya… baru ditubruk. Klo yang nggak tertib khan kopinya masih dibungkus langsung diseduh air panas sementara cangkirnya diminum…. khan kacau bro, makanya harus tertib.

Nah sekarang duduk manis dulu, cangkir kopinya di simpan di meja. Pegang dengan erat, dekatkan ke bibir…. jangan lupa baca Basmallah… baru srupuuuuut… hmmm kopi buhun cupunagara nikmatnya, ditemani patung semar besar yang selalu tersenyum.

Itulah perjalanan kopi… eh ngopay kali ini, selamat bekerja dan selalu penuh semangat, Wassalam (AKW).

Hari Kopi Dunia.

Met Hari Kopi Dunia Guys.

Photo : Kopi Tubruk berlatar Alam / dokpri.

PUNCAK, akwnulis.com. Sebuah pesan whatsapps mengingatkan dengan sebuah ucapan ‘Selamat hari Kopi Dunia tanggal 1 Oktober 2020‘…. waah ternyata hari kopiii, level dunia lagi. Tentu dijawab dengan sukacita dan ingin segera merayakannya.

Tapi…. tunggu dulu, tabayun itu penting bro, cek and ricek. Segera dibuka buku RUPL (Rangkuman Umum Pengetahuan Lengkap) …. ketahuan deh umur klo masih buka buku RUPL yang berisi seantero pengetahuan dan menjadi bukubsakti rujukan pada jamannya. Padahal sekarang tinggal buka mang gugel dan baca – pilah dan baca.

Dari penelusuran singkat via laman wikipedia dan beberapa artikel tentang asal muasal kopi belum ada data akurat. Ada yang menyebut berasal dari ethiopia benua aprika untuk pertama kali jaman ethiopia kuno oleh seorang penggembala bernama Kaldi dan ada juga pendapat bahwa diawali dari cerita tentang Legenda dari Yaman menceritakan bahwa dahulu mistikus sufi Yaman Ghothul Akbar Nooruddin Abu al-Hasan al-Shadhili sedang melakukan perjalanan melalui Ethiopia*).

Selanjutnya disepakati oleh Organisasi kopi Internasional pada 1 oktober 2015 di Kota Milan Italia untuk diperingati tanggal 1 sebagai hari kopi dunia dengan tujuan untuk mendukung para petani kopi dunia semakin berkembang **).

Nah jikalau dunia itu memperingatinya tanggal 1 oktober maka di sini, Indonesia bertepatan juga dengan hari kesaktian Pancasila, sebuah tanggal yang menjadi kebanggaan bangsa indonesia yang berhasil menyelamatkan Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari gerakan Komunisme.

Trus indonesia memperingati hari kopinya kapan?”

Cari lagi, eh nongol info, bahwa hari kopi indonesia itu diperingati tanggal 11 Maret guys… atuh bertepatan dengan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret)… asa nyarambung yach.

Yang paling penting adalah bagaimana memaknai kehadiran kopi ini menjadi momentum rasa syukur kepada nikmat Illahi. Apalagi jikalau ngopinya itu tidak hanya segelas kopi hitam saja, tetapi dimana kita ngopinya, bagaimana pemandangannya, keren nggak penyajiannya, atau manis nggak yang menyajikannya… ups… nggak boleeeh.

Photo : Lanscape pegunungan yang menenangkan / dokpri.

Sebagai rasa sukacita di hari kopi sedunia maka ijinkanlah kami memposting sajian kopi berlatar belakang kehijauan dan punggung gunung penuh pesona. Memanjakan mata, mendamaikan hati dan memberi jawaban atas kehausan addict sruput kopi selama ini.

Biarpun bukan kohitala dengan manual brew V60 atau shiffon dan juga vietnam drif tapi (hanya) secangkir kopi tubruk… lihatlah berlatar belakang pemandangan indahnya, ini adalah sebuah kenikmatan tak terperi yang wajib ditafakuri.

Selamat Hari Kopi Dunia dan Selamat atas Saktinya PANCASiLA. 1 Oktober 2020, Wassalam (AKW).

***

Sumber :

*)https://www.kompas.com/food/read/2020/09/30/183818975/hari-kopi-sedunia-ketahui-sejarah-munculnya-kopi-di-dunia?

**)https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hari_Kopi_Internasional

V60 Arabica Sindanglaya.

Sruput kopi arabica sindanglaya.

Photo : Kopi Sindanglaya Arabica / dokpri.

BOJONGHALEUANG, akwnulis.com. Arabica Sindanglaya, itulah yang tertera dibungkusnya. Untuk selanjutnya diserahkan kepada sang barista untuk menyeduhnya meskipun diberi catatan dengan lisan bahwa mainkan panasnya diatas 90° celcius agar ketebalan rasa bodynya dapat hadir tanpa dipaksa.

Ternyata menunggu itu kok terasa lama, padahal klo bikin sendiri mah perasaan cepet….” bicara sendiri di pikiran dan akhirnya senyum sendiri. Karena memang prosesi manual brew v60 perlu beberapa tahapan yang harus dilalui hingga hadir menjadi sajian minuman kopi hitam tanpa gula yang miliki originality rasa sebenar-benarnya.

Iya sebenar-benarnya kopi adalah kepahitan, tetapi kepahitan ini ditemani selarik rasa sana sini yang tidak semua orang bisa mengecap dan menikmati.

Arabica sindanglaya itulah namanya, berbungkus hitam memberi suasana penasaran untuk rasanya. Tapi tetap bisa ditebak rasa umumnya arabica java yang miliki variasi acidity yang menggoda serta body cenderung medium ke bold tinggal diatur pencahayaan…. eh salah kok jadi serasa pemotretan, maksudnya diatur suhu air yang akan digunakan menyeduhnya WAJIB diatas 90° celcius, titik.

Karena modelnya take away, maka harus rela cikopi eh kopi hasil proses manual brewnya tidak disajikan dalam bejana kaca yang lucu, tetapi cukup dengan gelas kertas putih biasa. Tidak mengapa karena sebuah rasa tidak akan berbohong biarpun ditempatkan di gelas kertas begitu saja, cuma kalau di photo tanpa cerita, mungkin akan dianggap hanya sajian kopi biasa.

Itulah fragmen kehidupan, terkadang kita terjebak dengan penampilan. Meskipun mau tidak mau, tampilan atau penampilan juga bisa mendukung sebuah usaha sehingga hasilnya lebih optimal. Selamat ngopay kawan, Wassalam (AKW).

Ngopi Berdua.

Menikmati kebersamaan dan kopi yang menenangkan.

KBP, akwnulis.com. Tanpa menanti detik dan menit yang cukup lama, segera tersaji pilihan minuman masing-masing yang menemani kebersamaan sore ini. Senja akan datang tetapi menikmati kebersamaan adalah keharusan.

Raga berbincang dan bertukar cerita keseharian, dilengkapi sesekali mulut memberi kalimat penyempurna sehingga jalinan kata yang tertutur adalah cerita kehidupan yang miliki makna.

Smartphone yang selalu menjadi pembatas kebersamaan, hanya digunakan sebagai pelengkap pengambilan gambar saja. Selanjutnya dipaksa tergeletak di meja dan mencoba mulai berbicara satu sama lain, karena jika tidak maka pertemuan ini akan kehilangan ruh sinerginya. Masing-masing akan tetap dengan dunia smartphonenya, sementara semesta kebersamaan akan terciderai tanpa sengaja.

Simpan smartphonemu dan mari kita berbincang sayang”

Sebuah ajakan sederhana yang hasilkan nilai berbeda. Perbincangan akan lebih fokus dan intens tanpa terganggu dengan seliweran notifikasi di smarthone yang senantiasa menggelitik untuk dihampiri dan dibuka dengan jempol lentik… ahaay lentik… udah tangannya jempol semua juga.. ups.

Photo : Manual brew V60 Ijen arabica / dokpri.

Pilihan masing-masing berbeda, tetapi tetap ada kopinya. Diriku diwakili oleh rasa original kopi yang hadir melalui sajian manual brew V60 dengan pilihan kopinya adalah Kopi Ijen arabica yang diseduh dengan suhu 90° celcius menghasilkan kopi siap minum yang harum dengan body dan acidity medium ditambah aftertasenya hadir rasa citrun, kacang tanah dan cocoa…. (moga-moga bener nih lidah mengecapnya)… srupuuut.

Sementara sayangku tercintaah lebih memilih kopi ditemani susu yang dibuat karamel dengan bantuan pemanasan api dipermukaan cangkirnya yang dikenal dengan istilah –chreme bruele-. Sajiannya cantik dan menggoda, tetapi bagi penikmat kohitala ini harus dihindari, karena ada unsur susu dan gula.

Tapi icip dikit boleh khaaan?”….

Boleh donk, saling bertukar icip juga tidak mengapa. Tetapi tetap harus seminimal mungkin, karena…. klo maksimal ntar ngabisin secangkir… atuh akan menimbulkan keributan dan ketidaknyamanan….. meskipun sebenernya pesen lagi gampang, tetapi suasana yang terbangun akan berbeda karena pengalaman yang ada tak akan tergantikan segera.

Selamat sruput sore kawan, jangan lupa sebelum menyruput dibuka dulu maskernya yaa. Wassalam (AKW).

Kopi Bergambar.

Sedikit keluar dari kopi hitam, mari nyruput gambar…

BANDUNG, akwnulis.com. Nulis kopi terus, bahas kopi terus, apa-apa dikaitkan sama kopi. “Apa nggak bisa nulis yang lain?”

Kalimat tanya di pagi buta, hadir menohok tanpa tedeng aling-aling. Bukan complain sih, tapi mungkin puncak dari kebosanan karena dikirimin terus tulisan di blog ini yang temanya tidak jauh dengan kopi, atau malah maksa disambung-sambungin dengan kopi.

Heuheuheu….. sebenernya ingin berdebat dan membertahankan argumen bahwa menulis itu adalah….. bla bla bla, bahwa menulis itu….. segala macam pokoknya. Tapi yakin argumen ini tidak akan meluruskan persepsi karena vonis kebosanan mungkin lebih kuat mencengkramnya.

Jangan terlalu tegang kawan, biarkanlah tulisan sederhana ini mampir dihadapan melalui link yang rutin daku kirimkan. Buka dan baca dengan santai, jikalau tidak, ya sudah simpan saja sebagai arsip kehidupan karena yakin besok lusa ada masanya untuk dibuka dan menjadi teman dikala kesepian.

Nah, supaya nggak boring dengan kohitala (kopi hitam tanpa gula), kali ini sengaja mengumpulkan berbagai gambaran eh gambar dalam kehidupan yang dilukis spesial oleh sang barista, menghadirkan aneka gambar dengan masa kehadiran hanya beberapa menit saja.

Kenapa begitu?”

Photo : Cafe latte intimisasi at Herbal house / dokpri.

Karena hadirnya gambar diatas secangkir kopi khususnya latte akan bertahan beberapa menit saja karena setelah disruput dengan nikmatnya, si gambar berubah dan akhirnya menyatu dengan warna alami latte kecoklatan.

Latte memang bukan kohitala, bukan si kopi hitam dengan rasa misteriusnya. Tetapi latte awalnya kohitala yang harus berkawan dengan susu steam dan tentu (terpaksa) hadirkan sejumput gula…. tapi sesekali tidak mengapa khan?…. hidup itu butuh variasi kawan. Inilah beberapa kopi bergambarku :

1. Latte bergambar angsa (goose), dari beberapa tempat sudah banyak barista dan baristi yang menggambar si cantik berleher panjang ini. Lucu memang gambarnya tapi apa mau dikata untuk dinikmatinya harus merusak gambar angsa yang tersaji.

2. Latte bergambar muka babi, nah caffelatte bergambar wajah babi bisa didapatkan dari salah satu cafe di bilangan kota bandung sebelah utara. Sebuah gambaran wajah babi yang lucu menghiasi permukaan cangkir kopi lengkap dengan senyumannya yang imut-imut.

Photo : Latte bergambar babi-face / dokpri

3. Latte bergambar keintiman, tah ini pasti penasaran. Ternyata barista ada juga yang bikin dua wajah berlainan jenis yang begitu dekat satu sama lain, wajar khan dianggap latte intimisasi?…

4. Lattee bergambar daun (leaf) kayaknya sudah standar yach, rata-rata cafe bisa menyediakannya. Tapi itupun gambar daun tertentu. Sementara reques gambar daun pintu dan daun telinga belum ada yang bisa membuatnya diatas cangkir latte yang tersaji dan terakhir…

5. Latte bergambar kelinci (Bunny/rabbit), ini kebetulan dapet pas beredar tipis-tipis di wilayah garut. Ternyata bisa hadir gambar kelinci lucu diatas cangkir latteku.

Itulah sejumlah terbatas gambar-gambar yang hadir di permukaan kopi dan pernah daku nikmati. Memang sedikit karena pilihan utama tetap kohitala, ini hanya bagian dari variasi dan (sebenernya) sangat jarang melakukan pemesannya…. yaa sebulan sekali sih masih.

Selamat menikmati sajian kopi dengan gambar masing-masing yang memiliki banyak arti. Wassalam (AKW).

Coffee Neng INCEES

Nikmati INCEES duyu ah…

Photo : Penampakan Kopi INCEES / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sabtu malam saatnya bersama dengan keluarga dan…. aktifitas pribadi yang menenangkan hati.

Apa itu?”

“Biasa bro, nyeduh kopi pake v60

Si kecil antusias menemani prosesi manual brew ini, sambil tangan mungilnya sesekali memegang ujung server, atau ambil sendok buat ikutan ngudek kopi yang sedang meneteskan diri…. hampir saja merusak tahapan demi tahapan dalam rangka menyeduh kopi malam ini.

Diingatkan dengan kata lembut ternyata nggak mempan, tapi jikalau dengan suara keras, khawatir memberi contoh kekerasan sejak dini…. jadi tetap berkata lembut dengan mata melotot….. atuh sama ajah heuheuheu.

Kali ini manual brew v60nya menggunakan kopi dari garut dengan merk dagangnya ‘Neng INCEES‘, entah ada hubungan apa dengan Syahrini sang Artis, tapi kalau melihat bungkusnya ada gambar mata yang menggunakan alis cetar anti baday. Apakah ini punya sang artis ataupun memang strategi marketing dari penghasil kopi, nggak masalah. Terpenting adalah mari kita coba saja bagaimana rasanya.

Makasih buat Abang Bismark yang berkenan mengantarkan sendiri Kopi Neng INCEES ini, nuhun pisan. Semoga dibalas perhatian ini berlipat ganda.

Bismillah….

Photo : Like father like daughter / dokpri.

Bungkusnya dibuka dan harum semerbak menerjang muka. Air panas sudah siap di atas kompor, kertas filter sudah nangkrong eh nangkring di corong v60…. tinggal diambil bubuk kopi dengan ukuran kira-kira.

Lha nggak pake gramasi?”

“Gramasi feeling aja ya, soalnya timbangan digitalnya pecah, terjatuh”

Maka empat sendok makan plastik… eh lima sendok mucung, kira-kira 35gram yang diseduh pake air panas 400 ml (jangan protes dengan komposisi ya…. tapi klo komen sih boleh…. )

Tetesan kopi hasil ekstraksi menjadi atraksi tersendiri. Anak semata wayangku tak sabar menantikan prosesi ini tuntas. Bukan apa-apa, bekas seduhan kopi ini yang menjadi bahan anyang-anyangan (bermain) anak kesayangan, ditambah air dan seakan-akan bikin kopi sendiri… like father like daughter.. kitu ceunah.

Setelah dipindah di gelas kaca kopiku, perlahan tapi pasti mendekati bibir daan…..Sruputtt.. srupuuut.

Photo : Prosesi ekstraksi tampak atas / dokpri.

Hmmm…. Bodynya bold euy… tebal dan pahit menghangat, acidity high… bikin nyengir dan sekilas nyereng.. euh apa ya bahasa indonesianya?…. ya nyereng aja dah, sekilas tapi… kayak mendekati arabica wine lho aciditynya dan aftertasenya (moga-moga nggak zalah eh salah) hadir rasa lemon kolot, kacang tanah dan gula merah serta sekilas dark chocholate.

Jadi dengan komposisi tadi, lebih cocok untuk penikmat kohitala saja, untuk yang belum siap menerima keasaman dan kepahitan hidup.. eh kopi, baiknya banyakin aja air panas seduhnya atau… turunin gramasinya sehingga dapetnya lite meskipun mungkin bisa terjebak dalam rasa watery (loba cai : b.sunda).

Nikmat pisan, sebuah prosesi seduh kopi sambil ngasuh anak dan ngasuh diri sendiri di malam minggu yang penuh arti. Selamat jam segini, Wassalam (AKW).

***

KOPI JAPATI

Kembali menikmati KOPI (bersama) merpati.

Photo : Gunung Burangrang tertutup awan / dokpri.

PASIRHALANG, akwnulis.com. Semilir angin dari kaki gunung Burangrang memberikan kesegaran dan kedamaian. Setelah 4 purnama tidak pernah lagi nongkrong di meja sebuah cafe alam, maka hari ini pecah telor. Meskipun masih dihinggapi kekhawatiran terhadap pandemi covid19, tetapi dengan menghindari kerumunan maka kemungkinan tertular sangat kecil. Lagian di cafe ini nggak pernah kongkow dengan orang lain. Cukup bercanda dengan desau angin pegunungan dan sesekali tertawa berderai melihat aksi kumbang berebut putik bunga yang mulai mekar.

Sebelum pandemi tiba, tempat ini menjadi favorit untuk menghabiskan waktu dalam kesendirian ditemani botol server berisi sajian kopi v60 dan cangkir kecil untuk menyruputnya…. yummmy.

Beberapa tulisan terdahulu tentang cafe ini bisa dilihat di tulisan NGOPAY DI MELOH CAFE dan tulisan KOPI CIKURAI PENGOBAT LARA.

Tapi itu dulu, sekarang suasananya telah berbeda. Dunia berubah dengan cepat dan menjungkirbalikkan fakta seiring wabah pandemi yang belum ada vaksin penawarnya. Kalaupun ada produsen obat yang sudah mampu menghasilkan obat anti covid19 di amrik sana, ternyata langsung di borong Om Trump dengan semangat arogansi adidayanya.

Photo : Sajian manual brew V60 Arabica Ciwidey / dokpri.

Sudahlah, sekarang lebih banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta sembari ihtiar usaha semaksimal mungkin dengan mengikuti protokol kesehatan pencegahan covid19 yang sudah jelas petunjuk – petunjuknya. Yakinlah bahwa bahaya Covid19 ini masih gentayangan di sekitar kita, apalagi dengan status OTG yang bisa mengecoh kita.

Tetap gunakan masker dan lakukan phisical distancing, sering mencuci tangan, gunakan hand sanitizer dan bawa semprotan anti bakteri dan virus (serasa isi TRK… aplikasi kinerja harian yach di kolom tugas covid19 hehehehe)… jika masih khawatir juga dengan berkas-berkas dan orang yang ada, maka lengkapi dengan face shield dan sarung tangan plastik.

Back to laptop…

Kali ini menikmati sajian kopi hitam tanpa gula hasil manual brew dengan V60 terasa begitu emosional, inilah ngopay perdana di masa pandemi corona… meskipun berbatas waktu tetapi cukup memberikan suasana berbeda dan menuntaskan rindu. Sajian kopi arabica ciwidey menemani kenikmatan siang ini.

Acidity medium dan body menengah dilengkapi aftertaste rasa berry dan citrun serta sekilas rasa cocoa dan dibalut rasa keasaman alami ciri khas kopi bandung selatan.

Photo : Minum kopi bersama Japati – merpati / dokpri.

Kejutan lainnya adalah teman ngopinyapun spesial, yaitu merpati atau japati. Entah lapar atau memang merpati nggak pernah ingkar janji, maka dikala raga ini sedang sendiri, datanglah seekor merpati menemani. Clingak clinguk dan memberi sedikit kerling serta senyumannya kepadaku, kubalas dengan menyorongkan kamera agar dapat mengabadikan momen berharga ini, NGOPI JAPATI. Minum kopi sambil ditemani seekor merpati yang tiba-tiba hadir tanpa basa basi.

Itulah sekelumit aktifitas ngopay diluar rumah yang tuntas dihadiri meskipun bukan kumpul-kumpul, tetapi hanya menyendiri di meja panjang pualam sambil merenungi perjalanan kehidupan yang begitu beraham dan sarat hikmah pengalaman.

Semilir angin gunung Burangrang kembali mengingatkan untuk segera beranjak pergi karena tugas pribadi sudah menanti, Wassalam (AKW).

***

Kohitala Pramita.

Ngopay dulu…

Photo : Sajian Kopi Double di Lab Pramita / Dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Perjalanan rasa menikmati sajian kohitala memang belum bisa bersua dengan sajian manual brew yang cuoocok gitcu…. maksudnya minimal diseduh manual pake v60. Klo dirumah sih sudah rutin tetapi diluar rumah masih mikir-mikir, nggak berani nongkrong sembarangan.

Ada salah satu tempat ngopi yang sebenernya seduhan manualnya recomended, tapi pas moo mampir, semua pegawainya nggak pake masker trus tamu-tamu ngariung di satu meja seolah pandemi corona sudah tidak ada… ill feel deh. Nggak jadi mampir ah, biar ntar nyeduh sepuasnya di rumah.

Nah kali ini mau cerita singkat tentang kopi tanpa gula yang disajikan menggunakan coffee maker bermerk GETRA. Pilihannya terbatas, hanya single dan double aja yang ditandai dengan logo 1 cangkir dan 2 cangkir. Trus diatas mesin kopinya ada petunjuk penggunaan, tinggal baca, resapi dan hafalkan…. siapa tahu besok lusa jadi soal ujian hehehehehe.

Jadi setelah membaca petunjuknya dengan seksama, pasang cangkir putih ditempat yang sudah disediakan… pijit tombol bergambar 2 cangkir….. greeeeeeezzzz… mesin bekerja menggrinder biji kopi dan memproses dengan air panas yang ada hingga akhirnya keluar memenuhi cangkir putih, dan 2x terjadi… itu yang dimaksud tombol 2 cangkir.

Masalah rasa jelas pahit tanpa pemanis, tapi pahit itu hanya di lidah lho, kalau di otak dan perasaan tergantung persepsi. Bisa jadi manis karena memang sudah manis dari sanahnya, atau semakin meningkat rasa pahitnya karena ternyata kenyataan yang ada berbeda dengan harapan dan keinginan… apalagi yang terbelit beban masa lalu…dan menghadapi kenyataan bahwa dirinya sudah bersama yang lain…. halah kok kesinih ceritanya.

Photo : Mesin Kopi GETRA / dokpri.

Pastinya setelah masuk ke perut mah sama aja. Nah begitupun dengan kopi ini. Dari sisi kualitas rasa mah biasa saja, tapi lumayan bisa memenuhi dahaga kohitala meskipun tidak tahu ini bean yang diprosesnya apa…… mencoba menikmati dan bersyukur saja.

Oh iya, bertemu dengan mesin kopi ini di Lab Pramita lantai dua yang di Jalan Martadinata. Setelah mengikuti rangkaian tes kesehatan yang beraneka rupa lalu sarapan nasi dus sambil bercengkerama dan akhirnya ditutup dengan sajian kohitala dari mesin kopi merk Getra.

Itulah sebuah cerita tentang menikmati kohitala, semoga esok lusa bisa bersua dengan sajian kohitala yang menggunakan manual dan alat-alat semestinya. Wassalam (AKW).

Wine Arabica Puntang Coffee.

Dahaga rasa akhirnya terlaksana…

Photo : Sajian V60 Wine Arabica Puntang Coffee / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Malam ini sebuah penantian panjang akhirnya selesai, setelah selama bulan ramadhan aktifitas ber-Kohitala (kopi hitam tanpa gula) dengan metode manual brew V60 ala-ala praktis tertunda karena bukan apa-apa, waktu dimalam hari ramadhan hingga waktunya sahur lebih diutamakan beribadah dibanding prosesi nyeduh manual brew kopi yang memakan waktu…. cieee ibadaah… ih jangan riya, bilang aja memang malas repot mempersiapkan dan membereskan peralatannya… gitu aja, jujur itu lebih bermakna.

(Mode tersipu)

Yap, memang betul sekali, kenikmatan menyruput sajian kopi alami dengan racikan sendiri butuh persiapan yang matang, baik dari sisi peralatan juga bean yang akan diolah. Gramasi terkadang diabaikan kawan, kira-kiranya di 20gr per sajian… cukup khan kawan?… prosesi ini perlu waktu rata-rata 20 -25 menit untuk waktu sajian dan menyisakan beberapa peralatan yang kotor yaitu corong V60, bejana server, gelas, teko leher angka, kertas filternya, tempat kopi sebelum dan sesudah di grinder… ditambah tentu peralatan yang harus dibersihkan seperti timbangan digital, mesin grinder mini dan termometer.

Klo panas air buat nyeduh tetap bermain di level 90° celcius dengan putaran melawan jarum jam. Oh ya… beannya tetap digrinder mendadak dengan hasil kasar (ukuran 3 di grindernya)…. eta keukeuh.

Photo : Persiapan prosesi / dokpri.

Alhamdulillah, setelah memprosesnya dengan penuh sukacita, karena ini adalah manual brew V60 perdana setelah ramadhan tahun ini, maka .. dengan bean spesial kiriman seorang kolega pencinta kopi juga Mr AGS maka semakin menyenangkan prosesi ini. Beannya adalah Wine Arabica Puntang Coffee yang diproduksi oleh Puntang Coffee Indonesia – Gunung Puntang Kab. Bandung 40377 belum apa-apa sudah harum abisss….. apalagi pas di grinder dengan putaran 3, wuihh harum semerbak memenuhi ruangan dan menjadi parfum alami yang menyenangkan hati.

Prosesi pembersihan kertas filter V60 dengan air panas segera dilakukan dan setelah air curahannya dibuang, dimulailah proses penyeduhan yang menyenangkan.

Serpihan bubuk bean kopi ini bertengger diatas kertas filter v60 segera berekstraksi dengan curahan perlahan tapi pasti air panas 90° celcius mengeluarkan hasil kopi yang diharapkan sesuai ekspektasi.

Tetesan cairan hitam nan harum melengkapi kepenasaran cuping hidung yang mencium kenikmatan, tak sabar setelah berkumpul di gelas server maka dituangkanlah di gelas kaca kecil kesayangan…. currr…. tadaaa…. siap2 di sruput gan….

Srupuuttt…… woaaaaah…. rasanyaaa..… tak berani langsung menyeruput semua, karena kenikmatan winenya nyaris sempurna, keasaman maksimal yang menggigit bibir mencengkeram lidah begitu kuat… acidity strong, mengembalikan dan menuntaskan kepenasaran ngopay selama ini. Bodynya yang semi bold melengkapi acidity strong ini…. eddun, nyereng… apa yach bahasanya?… euh sampai ada efek bulu roma merinding saking asamnya… (jangan-jangan merinding karena hal lain?… nggak laaah, asli gara-gara sensasi kopi ini).

Untuk pemula, kopi ini tidak disarankan karena rasanya akan mengagetkan dan khawatir mengagetkan lambung dengan keasaman yang tinggi ini. Tapi bagi penikmat kopi, inilah rajanya. Yang bikin lebih bangga adalah rasanya bisa menandingi arabica wine gayo yang terkenal, kopi puntang ini adalah rivalnya dengan beraneka rasa buah seperti jeruk citrun, tamarind, anggur dan selarik harum durian berpadu membentuk kuatnya rasa wine… itu yang ruaaar biasa.

Photo : Dilengkapi cemilan / dokpri.

Satu gelas kecil lagi ahhh…. sruputtt… awwww.. merinding lagi. Ruaaar biasa….. nikmat, Alhamdulillahirobil alamiiin.

Selamat menjalani hari ini dan jangan lupa sempatkan membuat kopi dengan prosesi manual brew v60 serta pilihan bean yang tentu berkualitas tinggi. Sebuah prosesi yang perlahan tapi pasti memberi sensasi tersendiri, betapa nikmat Allah SWT adalah nikmat abadi yang tiada henti dengan memberi kesempatan banyaaaak hal, dan…. belum kita syukuri termasuk menikmati ciptaannya yaitu biji kopi berkualitas tinggi, kesempatan menikmati prosesi hingga menyruputnya tiada henti. Wassalam (AKW).