KOPI BERBUIH DI CUPBA CAFE.

Menikmati sajian kopi dingin berbuih…. suegeer.

BANDUNG akwnulis.com. Pertemuan dengan sajian kopi kali ini seolah dituntun oleh takdir dan diarahkan keadaan karena seperti tidak sengaja mencari tetapi akhirnya bersua. Itulah indahnya sebuah makna pertemuan dan disadari atau tidak ternyata semakin mudah bertemu dengan aneka kohitala (kopi hitam tanpa gula) khususnya yang diproses sajian secara manual tanpa menggunakan mesin kopi. Sehingga menilai rasanya bisa maksimal.

Halah sotoy menilai rasa, padahal khan nggak belajar cupping dan nggak punya lisensi sebagai seorang profesional untuk menilai notes dan profile kopi.”

Kalem bro, nggak usah ngegas begitu. Tulisan – tulisan receh di blog ini memang hanya tulisan santai yang bertema tentang ‘belajar mencintai kopi’ yang diperlukan kesabaran, perlahan tapi pasti dan tetap menjaga konsistensi seperti belajar bagaimana mencintaimu, ahaay.

Jikalau tulisan ini bicara sebuah rasa dari sajian kopi, sebuah suasana dalam cafe kopi atau siapa yang begitu menyegarkan membawa dan menyajikan kopi, juga tempat yang nyaman untuk menikmati kopi, itulah yang coba ditulis dengan tertatih dan berusaha terus tanpa letih.

Urusan rasa kopi tentu sang lidah dan indera penciuman begitu berperan ditambah sejumput imajinasi menghasilkan catatan penting manakala sruputan kopi ini menjadi relaksasi. Memberi ketenangan bagi diri dan akhirnya bisa memberi suasana kesegaran dalam aktifitas sehari-hari.

Kali ini bersua dengan sajian kopi yang diproses dengan metode cold brew. Metodenya dengan proses ‘perendaman‘ menggunakan air dingin dengan suhu ruangan lalu disimpan selama minimal 8 jam. Nah setelah itu bisa dicicipi alias dinikmati. Kekhasan metode cold brew ini adalah melindungi bean dari paparan suhu panas sehingga tidak ikut mengekstraksi karakter acidity kopi, ekstraksi dilakukan melalui lamanya waktu perendaman dan akan menghasilkan rasa kopi yang ringan tapi istimewa.

Ternyata metode cold brewnya plus alias ada perlakuan tambahan yang dilakukan oleh kang Iman, yakni setelah proses 8 jam perendaman lalu disaring dan disimpan di chiller selama 3 bulan dan 6 bulan. Sehingga menghasilkan cold brew yang berbeda. Untuk cold brew yang 3 bulan disimpannya, ada rasa sedikit manis alami dan agak nyereng*) dengan acidity alias rasa asam yang menyegarkan.

Nah pas nyoba yang cold brew versi disimpan 6 bulan, baru dibuka aja sudah menghadirkan sensasi. Karena ternyata langsung busa kekuningan mendesak tutup botolnya dan meluber keluar membasahi meja. Tentu sang barista gesit mengambil lap berupa kanebo yang mudah menyerap cairan tumpah. Tapi karena didokumentasikannya jadi nggak asyik, warnanya lecek hehehe. Disingkirkan dulu untuk kepentingan dokumentasi.

Kebetulan juga botol cold brewnya ini menggunakan botol seperti minuman beralkohol maka tampilannya menjadi unik dan memiliki daya tarik sebelum meminumnya. Lalu gelas – gelas diedarkan dan diminum bersama, baik sang barista juga seorang kawan yang kebetulan sedang bersama.

Srupuut… nyengiir.. keasaman sempurna memenuhi rongga mulut dan memberikan sensai kejut di ujung lidah, asem dan seperti bersoda. Tapi tetap rasa kopinya ada dengan nuansa alami racikan manual yang bersahaja. Memberi kesempatan berharga menikmati sajian kopi di daerah bandung utara.

Jadi inilah tulisan singkat yang mungkin bisa memberi makna serta informasi berbeda tentang bagaimana secara bertahap mencintai kopi yang tersaji tanpa tambahan bahan itu ini. Happy weekend kawan, Wassalam (AKW)

***

Lokasi :
KOPI CUPBA
Jl. Sersan Bajuri No. 102 Cihideung Parongpong Kab. Bandung Barat. Jawa Barat 40559
(Halaman Green Forest Horison Hotel).

SILATURAHMI KOPI CANGCUTA.

Silaturahmi Kopi tak terasa 5 tahun lalu..

CIREBON, akwnulis.com. Sebuah ingatan melayang ke masa silam, sekitar 5 tahun yang lalu ada momentum yang tidak terlupakan berkaitan dengan silaturahmi kopi. Kala itu masih bertugas sebagai ‘insinyur‘ karena memegang tugas jabatan yang kental berhubungan dengan kata ‘infrastruktur‘ dari mulai urusan jalan tol, jalan provinsi sampai rawayan dilanjut danau hingga urusan bandar udara.

Nah kawan satu ini merupakan seorang pejabat perencana di dinas yang basah yaitu urusan sumber daya air (SDA), “Dijamin basah khan?”

Bertandanglah waktu itu dalam koridor kedinasan yang namanya rapat koordinasi tambah basa-basi dan disaat bubar maka langsung menuju ruangannya disajikan kopi manual dan tentunya biji kopi asli yang digrinder mendadak, Yummy.

Pas disajikan, kopinya biasa saja. Tapi disaat sruputan terlaksana. Keasaman atau aciditynya muncul dan ninggal padahal bean atau biji yang digunakan bukan biji kopi arabica khas java preanger tapi kopi robusta. Jadi penasaran, langsung minta lagi.

Sajian kedua ternyata tetap menampilkan rasa acidity yang beda tapi sedikit aneh. Wah makin penasaran, maka pas ada kesempatan dengan alasan mau ke kamar kecil dulu, mencoba memasuki dapur darurat tempat pembuatan kopi manual ini.

Jengjreng…

Mata tertegun melihat peralatan seduh kopi manual ini. Sebungkus kopi robusta tidak menjadi perhatian, begitupun corongnya juga tidak masalah, tetapi kain yang digunakan untuk menyaring proses ekstraksi ini mirip kain  yang biasanya digunakan untuk celana dalam perempuan dan di kampung halaman disebutnya ‘cangcut‘ atau jangan – jangan kain ini adalah kain itu…. waddduh pantesan aciditynya jadi muncul hehehehe.

Sejak saat itu muncul istilah kopi cangcuta alias kopi yang diseduh dengan kain mirip cangcut tadi. Tulisan singkatnya yang agak disamarkan ada pada postingan “KOPI CANGCUTA”.. monggo di klik aja, diposting tahun 2018 silam.

Loncat kembali ke kenyataan saat ini, kembali bersua, bersilaturahmi dengan kawan lama yang sudah semakin sukses dan menjadi bos atau kepala di Unit Pelaksana Teknis Dinas untuk wilayah yang terbentang di area Ciayumajakuning serta sebagian kabupaten sumedang, bandung dan garut.

Ruang kerjanya yang luas dan nyaman serta lengkap dengan fasilitas kerja plus yang menarik adalah peralatan kopinya yang begitu lengkap. Baik untuk perlengkapan seduh manual menggunakan corong V60, juga ada mesin espresso dan americano plus aeropress juga mesin drift untuk cold brew. Mantaaabs.

Langsung saja berdiskusi dan beraksi. Bersama-sama berproses dan menyeduh dengan manual V60 untuk memghasilkan sajian kopi yang dinikmati bersama. Alhamdulillah. Kebetulan juga di ruang kerjanya ada televisi besar, maka sambil tak lupa channel youtube @akwcoffee ditayangkan, lengkap sudah.

Ternyata waktu 5 tahun itu terasa sekilas saja kawan, sekarang bersua dan bercengkerama dalam suasana berbeda tetapi tetap penuh rasa kekeluargaan dan kenikmatan seperti menyeruput kopi yang diproses bersama. Silaturahmi kopi menjadi sebutan penting untuk momentum ini.

Sebagian cerita silaturahmi kopi ini dapat disaksikan di dokumentasi NGOPI DI CIREBON pada menit ke 06.05. Cekidot.

Setelah puas berdiskusi dan sruput kopi berkali-kali, maka akhirnya kata pamit menjadi akhir perjumpaan ini dan menjadi kenangan manis pada perjalanan ke cirebon kali ini. Sukses terus A Hendi dan hatur nuhun atas sambutannya serta cerita yang berapi-api. Wassalam (AKW).

NGOPI tapi NGETEH di Gd Negara Cirebon.

Silaturahmi dan Kopi adalah abadi.

CIREBON, akwnulis.com. Suasana pagi menjelang siang ini begitu bersahabat, langit teduh menemani kehadiranku di Kota Udang, Cirebon. Tentu menambah semangat untuk berkeliling dan menikmati suasana yang jarang ditemukan pada rutinitas sehari-hari.

Pertama adalah silaturahmi bersama kawan – kawan Cleaning service yang bertugas. Duduk lesehan sambil diskusi tentang banyak hal, terutama urusan penting tentang kepastian dan keberlanjutan kehidupan. Diskusi berjalan lancar dalam suasana kekeluargaan, apalagi dilengkapi dengan hadirnya ceret atau teko berisi air panas bergejolak karena mendidik yang tadi dijerang di dapur.

Maka senjata andalan coba dihadirkan dalam kondisi kali ini. Sebungkus kopi siap seduh yang tinggal buka dan ada telinganya dari kertas dikanan kiri sebagai penyangga lalu dipasangkan di gelas dan diseduh dengan air panas mendidih.

Sret, bungkus kopi berwarna hitam yang dibawa dari kamar hotel sewaktu nginep di jakarta. Lalu diambil dalamnya dan sedikit tertegun, karena yang berada di genggaman buka kopi siap seduh manual sebagaimana bayangan, tetapi mirip teh celup dengan ukurannya lebih besar. Ya sudah gimana lagi, kopinya digeletakin di gelas kaca lalu di siram perlahan dengan air teko yang masih mendidih. Pelan tapi pasti hingga bungkusan kopinya tenggelam di tengah gelas. Seduhan berhenti dan sekarang giliran kopinya diangkat turun naik mirip buat teh celup.

Naik turun,
Naik turun,
Naik turun.
sudah ah, kayaknya sudah cukup deh.

Maka tersajilah kohitala instan yang diproses seperti buat teh celup, tadaaa…. warnanya sih agak hitam bening, kayaknya meyakinkan.

Bismiillah, segera di sruput deh. Hmm rasanya ringan dan less acidity dengan harum kopi yang cukup menyegarkan rasa. Lumayan membayar kerinduan untuk ngopay di tempat yang penuh kekeluargaan ini. Srupuuut.

Kegiatan selanjutnya adalah bertemu dengan Rusa Tutul yang jumlahnya 32 ekor sebagai penghuni mini zoo di halaman kantor Eks Bakorwil III Cirebon ini. Awalnya berjumlah 30 ekor dan sekarang bertambah 2 ekor anak lusa yang rucu…. eh anak rusa yang lucu.

Bang totolnya ada berapa di badan rusa?” Seorang pengunjung bertanya dengan wajah antusias.

389 buah totol per ekor”

Wah beneran bang, emang udah pernah ngitung?”

Saya jawab dengan tenang, “Nggak percaya, coba itung sendiri!”

Pengunjung yang bertanya terdiam sambil melihat raut wajahku yang serius. Lalu dia mengangguk-anggukan kepala, mengamini informasi tentang jumlah totol di badan rusa tersebut.

Pembaca tulisan ini nggak yakin?.. maka dipersilahkan datang sendiri ke Cirebon dan hitung dengan seksama hehehe.

Tuntas menghitung totolnya tubuh rusa maka silaturahmi dilanjutkan dengan jajaran keamanan dalam dari Gedung negara Cirebon ini ditemani 3 orang nu ngageugeuh, kumpul agak resmi karena duduk di kursi serta meriung dan tidak lupa berpantun.

Bawa botol dibiarkan menggantung
Ternyata dibiarkan jadi berisi kadal

Rusa totol tuntas dihitung
Lanjutkan diskusi sama temen kamdal

Begitulah sekelumit aktifitas ngopay dan silaturahmi kali ini di Kota Cirebon. Sebuah kata pamit hanyalah catatan, karena esok lusa akan berlanjut dengan aneka pertemuan. Wassalam (AKW).

NGOPI DI SITU GEDE – salah kiblat.

Menyusuri danau Situ Gede sambil Ngopi dan shalat sunnah meskipun salah kiblatnya.

Bersiap berkeliling Situ Gede / Dokpri.

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Perahu bergerak perlahan membelah ketenangan dari danau di tengah kota tasik yang memiliki luas 47 hektar ini dengan dipiloti eh dinahkodai oleh Kang Deni, pemuda tasik yang baik hati.

Deal awal sebetulnya keliling danau situ gede ini dengan biaya yang relatif terjangkau. 10 ribu rupiah per orang, tapi karena hanya berdua jadi 15 ribu per orang, worth it atuh. Let’s go. Apalagi dari obrolan bersama sang Nakhoda, bisa merapat ke pulau di tengah danau. Bisa berpetualang nich. Ntar ditambah deh ongkosnya.

Ada Mushola dan makam diatasnya kang” Gitu kata Kang Deni Nakhoda. Wah menarik juga, hayu nanti kita turun sejenak. Maka meluncurlah perahu berkelir hijau muda ini membelah ketenangan air danau yang ditemani angin pagi menyegarkan.

Maka perjalanan paparahuan dilanjutkan berkeliling danau yang penuh pemandangan hijau memikat mata menenangkan pikiran. Apalagi terlihat beberapa pemancing yang begitu setia menanti umpan disambar ikan dengan diam mematung dan fokus penuh konsentrasi. Ada juga pemancing yang all out karena kaki hingga paha terendam air danau dengan tangan tetap memegang pancing dan tatapan tajam melihat kukumbul (bhs sunda : penanda tali pancing yang nyambung ke mata kail berisi umpan, biasanya berwarna merah menyala).

Di perjalanan mengelililingi danau, terlihat perahu yang bergerak kencang menyusul pergerakan perahu kami yang memang disetting santai oleh sang nakhoda. Terlihat beberapa emak-emak berada di perahu yang melaju kencang, sedikit tersenyum simpul dan penuh permakluman, pasti The power of emak-emak. Sehingga bagi nakhodanya nggak ada pilihan lain lebih baik memacu kencang daripada kena semprot emak-emak.. Huss kok suudzon sih, mungkin ini mah.

Perahu emak-emak menyusul / Dokpri.

Jadi kami hanya dadah-dadah saja sambil tertawa disaat perahu berisi emak-emak tadi melintas dengan kencang. Sudah jelas tujuannya agak berbeda karena kami akan merapat ke tengah pulau untuk melihat mushola yang disebutkan tadi. Sebagai persiapan maka sesaat perahu merapat ke tepi, langsung wudhu dengan menggunakan air danau, karena di pulau tidak ada air wudhu. Kang Fammy agak kaget karena berwudhu dengan air danau, khawatir dengan standar sanitasi dan takut kulit wajah hasil perawatannya ada alergi hehehehe….. just a joke. Akhirnya hanya diriku yang berwudhu lalu hanjat (eh berpindah ke daratan / ke pulau) lalu menuju mushola, sementara Kang Fammy bergegas meniti jalur jalan berbatu ditemani Kang Deni Nakhoda untuk melihat makam yang ada.

Tuntas shalat dhuha, ada teriakan dari Kang Deni yang sudah kembali dari arah makam, “Pak maaf itu kiblatnya salah, kebalik”

Walah sedikit kaget, tapi tanggung atahiyat akhir, salam dulu aja. Setelah itu kembali memutar sajadah sesuai arahan kang deni dan kembali 2 rakaat dilanjutkan. Maklum baru sekarang sholat disini, lagian tadi langsung sholat aja sesuai posisi sajadah yang ada.

Allahu Akbar…..”

Tuntas dari pulau tersebut lalu menaiki perahu dan saatnya melanjutkan menikmati sajian kopi hitam tanpa gula dan kelapa muda yang sudah dibawa dari tadi. Kohitala panas begitu nikmat dan air kelapa melengkapi dengan kesegarannya, Alhamdulillah.

Itulah cerita singkat tentang menikmati kesegaran danau atau Situ Gede Kota Tasikmalaya dengan berbagai aktifitas dari mulai berlayar, wudhu di danau, shalat sunah salah kiblat hingga sruput kohitala dan air kelapa. Untuk yang penasaran dengan suasana riilnya dalam bentuk video maka bisa dilihat di channel youtube andriekw-ngopi di Situ Gede.

Pokoknya dijamin menyenangkan dan memberi rasa bahagia. Selamat sruput kopi dan berwisata kawan, Wassalam (AKW).

Sarapan pagi di PRETTY BOY.

Sarapan dulu di Pretty Boy.

MELBOURNE, akwnulis.com. Sebuah catatan penting dalam tulisan perjalanan perkopian kali ini adalah sebuah pepatah lama tentang “Dimana Langit dijunjung, disitu bumi dipijak” itulah yang terjadi pada pertemuan awal dengan pelayan restoran Golden Mug’s cafe yang agak mengerutkan dahi karena order kopinya Americano. Ternyata begitu sensitif rasa memiliki istilah kopi tersebut, “No Americano but Longblack only”

Tulisan lengkapnya di LONGBLACK ONLY ya, klik aja.

Jadi tanpa perlu debat, gunakan pepatah tadi dan ikuti flow suasananya. Bangun komunikasi dan kembangkan senyuman maka diplomasi kopi akan terjadi dan persahabatan menjadi nilai utama dalam perjalanan ini.

Nah dari pengalaman tersebut, maka fasilitas sarapan pagi di hotel Novotel Central Melbourne inipun tidak repot-repot lagi mencari americano, cukup dicari kopi longblack, titik.

Sarapan pagi berada di lantai 2 dengan nama restorannya adalah Pretty Boy Resto dan mulai melayani breakfast bagi para penginap mulai pukul 06.00 sampai 10.00 waktu setempat. Menu sarapannya lumayan baik pilihan karbohidratnya seperti roti, crackers oat lalu proteinnya jelas daging slice dan bacon serta aneka sosis. Untuk pilihan salad, tersedia juga cukup lengkap plus ada tomat bakar

Untuk pilihan minumnya sudah jelas bahwa air mineral dan kopi. Nah, pilihan kopinya yang berdasarkan sajian mesin, ada americano eh lingblack, cafelatte, capppucino dan tentu eapresso. Mesin kopi otomatisnya cukup besar, tapi nggak perlu ragu. Baca saja tombol yang ada tulisan pilihan kopinya, lalu simpan cangkir di posisi yang tepat. Pijit tombol dan tunggu sekitar 10 detik,maka keluarlah pilihan cairan kopi yang diinginkan. Biarkan sampai tuntas dan setelah indikator digital kembali ke posisi awal, itulah saatnya cangkir kopi diambil untuk dibawa ke meja tempat sarapan pagi.

Terdapat juga penawaran untuk kopi yang dibuatkan oleh barista St. Ali Coffee dengan membayar 4 Dollar, tapi itu tidak menjadi pilihan penulis. Cukup dengan mesin kopi yang ada sekaligus bisa berjalan-jalan keliling resto, nggak mager di meja sarapan saja. Sekaligus berhemat dengan mengawal ketat pengeluaran yang yang dianggap bukan prioritas.

Selamat pagi dan selamat menyeruput kopi. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
PRETTY BOY ITALIAN STEAK HOUSE
Level 1/399 Little Lonsdale Street. Melbourne VIC 3000, Ostrali

Espresso doubleshot di Novotel Ngurah Rai.

Minum kopi dan bersiap pagi2 untuk pergi

BADUNG, akwnulis.com. Gerimis pagi masih membelenggu raga untuk malas beranjak dari peraduan. Tetapi jangan harap bisa berlama -lama bersantai karena banyak agenda yang harus dijalankan di hari ini. Ada berdasarkan ittenary ataupun improvisasi dalam bentuk agenda spontan karena melihat sebuah peluang, karena rencana yang paling menantang adalah sesuatu diluar rencana hehehehe.

Maka segera membasuh diri serta merendam kemalasan di bathtub dengan air hangat plus busa sabun yang sebenarnya menyenangkan. Lalu bersiap menggunakan pakaian yang layak untuk menikmati hari ini.

Bergeraklah dari lantai 3 menuju lokasi di lantai lobi untuk menikmati fasilitas sarapan pagi di Hotel ini, Novotel Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali.

Persiapan pertama tentunya jangan lewatkan kesempatan mengganjal perut di sesi sarapan dengan variasi makanan western, asia dan indonesia serta ada yang paling penting yaitu morning mood booster, kopi mana kopi?

Nggak perlu pake lama, sedikit berkeliling saja sudah jumpa dengan mesin kopi yang akan menghadirkan rasa dan suasana berbeda. Memang tidak ada sajian kopi manual, tetapi dalam rumus #kohitala masih ada pilihan menu yang bisa dinikmati yaitu espresso, double espresso dan americano plus longblack.

Pilihan pertama tentu americano, sajian mesin kopi yang menggabungkan double espresso dengan air panas sehingga masuk kategori middle atau medium body dan bisa dinikmati sambil mengunyah aneka sayuran dengan saus salad yang tersedia. Salad thousand island yang menjadi pilihan.

Srupuut.  Kunyah kunyah, nikmat.

Kopi kedua supaya lebih mantabs maka kembali ke mesin kopi tadi dan memilih double shoot espresso yang ditampung kembali pada cangkir putih kejujuran. Pahitnya lebih terasa, tetapi disitulah letaknya kejujuran rasa sehingga bisa melupakan dan atau menghapuskan pahitnya kenangan kehidupan.

Tak lupa 2 buah sosis ayam dan daging sapi asap ditaburi bubuk keju permessan yang juga disandingkan tomat bakar yang menggoda. Lengkap sudah sarapannya, pengganjal perut tuntas serta kopi sebagai mood boosterpun sudah 2 gelas eh 2 cangkir.

Selamat beraktifitas di Bali Kawan, beredar. Wassalam (AKW).

MELBOURNE & KOPI – meeting & coffee

Sarapan jalan meeting jalan ngopi..

MELBOURNE, akwnulis.com. Makan pagi sekaligus ngopi Longblack di Golden Mug’s Cafe adalah memontum pertama menikmati kopi hitam tanpa gula di benua australia. Belum apa-apa udah kangen pengen minum manual brew V60 dengan diawali keharuman biji kopi yang di grinder sempurna lalu berproses seduhan lembut sehingga mampu berekstraksi maksimal, hmmm sedapnya.

Tapi itu masih di tataran khayalan, karena kenyataannya langsung berhadapan dengan agenda kegiatan yang cukup padat merayap. Buktinya sekarang sudah dua meeting terlaksana. Pertama meeting di Golden Mug’s cafe dalam rangka persiapan dan kedua adalah meeting serius di ABC Building Shoutbank bersama pengurus MSO (Melbourne Simphony Orchestra). Dari Novotel Hotel Central kami berempat berjalan kaki menembus suasana kota melbourne yang cerah namun terasa dingin berangin dengan cuaca sekitar 10 Ā° celcius.

Berjalan cukup jauh dan menghabiskan waktu sekitar 35 menit. Tetapi perjalanan skuter ini, maksudnya suku (kaki) muter ini begitu menyenangkan karena bisa menikmati suasana dan pemandangan kota yang beragam. Gedung-gedung modern dan gedung – gedung tua saling berdampingan dan menjadi sinergi lanskap yang memukau.

Juga perjalanan melewati jembatan yang dibawahnya mengalir sungai Yarra begitu memikat untuk diabadikan dalam pose terbaik sebagai bagian dari sejarah hidup.

Cetrek.
Cetrek.
Cetrek.

Diskusi dengan pihak MSO diawali dengan tahapan masuk gedung dan registerasi menggunakan mesin pendaftaran touchscreen dan akhirnya keluarlah kartu tamu lengkap dengan nama dan photo kita serta siapa yang akan dituju. Jadi jangan lupa nama kita, pekerjaan, alamat email dan nomor hp sebagai kelengkapan registerasi… lanjut.

Pada tahapan diskusi dan hasilnya nanti tertuang dalam nota dinas lampiran ya. Karena memang tulisan ini memang urusannya dengan perkopian yang kebetulan ngopinya nanti setelah tugas resmi tuntas ya… kecuali kalau pas meeting disuguhinya kopi, itu bakal beda lagi ceritanya.

Tuntas pertemuan maka saatnya berjalan kaki kembali menuju hotel. Tapi ternyata air hujan menyambut dengan derasnya, membuat kita berempat terpaksa berteduh dulu di balik bangunan tinggi sambil menunggu hujan mereda. Betul – betul summer yang aneh, tapi mari kita nikmati karena tidak setiap hari huhujanan (hujan – hujanan) di negeri orang.

Nah setelah agak raat eh mereda, mulailah berjalan kaki kembali. Meskipun sesekali masih harus menghindar dari tetesan butir hujan yang tiba-tiba datang. Disinilah kegesitan diuji. Sieeet.. nyingceet dan berteduh. Lalu berjalan lagi dengan rute agak berbeda dengan menyusuri boulevard sungai yarra yang luas banget, pokoknya buat para pedestrian mah kota ini surga.
Sebagai bukti dokumentasi maka beberapa swapoto bersama menjadi penting, kebetulan pak bos jago ambil gambar dengan smartphone canggihnya, lengkap sudah photo kami berempat dengan latar belakang keindahan kota melbourne ini.

Sebagai penutup tulisan ini, maka kesempatan bersua dengan secangkir kopi sambil menikmati deru hujan badai yang hadir tiba-tiba menjadi sensasi tersendiri.

Atuda nggak kebayang kawan, tadi jalan kaki dan berphoto riang menyusuri boulevard sungai yarra dalam keadaan cerah meskipun berangin, lalu pas sudah menyebrang jalan di jembatan suasana berubah menjadi teduh dan berawan. Maka diputuskan untuk berhenti sesaat di dekat stasiun… karena kebetulan juga melihat kedai kopi dan mungkin cemilan yang bisa menemani serta mengisi perut ini karena mungkin mulai kosong setelah energinya terkuras oleh jalan kaki siang ini.

Setelah pesan segelas americano eh longblack ukuran medium dan 3 cappucino ukuran medium juga. Kami berempat duduk sesaat sambil menikmati sore. Sementara Bu Enci memesan juga cemilan agak berat berupa chicken wings yang hadir menyusul.

Awalnya hujan gerimis saja tetapi hanya hitungan menit menjadi hujan besar dan berangin, seperti badai kecil yang mulai meresahkan. Semua aktifitas pergerakan manusia di jalanan terhenti dan menepi menghindari hujan yang mengganas. Hanya hitungan menit suasana berubah seperti badai dengan angin kencang dan air hujan yang begitu deras menghunjam bumi. Awalnya hati ini khawatir takutnya muncul banjir cileuncang melihat curah hujan yang begitu menggila. Tapi melihat wajah – wajah yang berteduh biasa saja dan hanya menepi menghindari hujan, berarti situasi begini adalah rutinitas. Ya sudah lebih baik duduk dan ngopi saja, kebetulan sajian kopi sudah hadir tinggal di eksekusi eh disruputi.

Bener saja, 4 menit kemudian suasana berubah. Hujannya tiba-tiba reda dan angin kencang berganti semilir angin yang menawarkan kedamaian, awan mendung perlahan pergi dan cahaya mentari kembali hadir meskipun terlihat malu-malu. Orang-orang bergerak kembali dengan aktifitasnya dan kamipun lanjutkan ngopi lalu setelah habis, bergerak pergi. Melangkahkan kaki lagi menuju hotel tempat menginap sambil menikmati luasnya trotoar di kota melbourne ini. Wassalam (AKW).

Merenungi Kohitala.

Menikmati Kopi tanpa menghabiskan.

JAKARTA, akwnulis.com. Secangkir kopi hitam terdiam dihadapan, menunggu apa yang akan terjadi sebagai sebuah kelanjutan. Secangkir kopi biasa yang hadir karena sebuah acara, rapat kerja yang ternyata memiliki makna tentang arti suatu tahapan pembangunan yang perlu banyak hal dibicarakan.

Ada rasa bersalah karena kehadiran secangkir ini bisa berakhir sia-sia. Tadinya ingin menolak untuk tidak disajikan. Namun pelayan hotel sudah langsung membagi – bagi snack dan kopi atau teh di meja peserta. Semoga sajian kopuli ini  bukan hanya menjadi pemanis meja belaka tanpa memberikan kenangan rasa yang menjadi pembeda. Begitulah jika kehidupan ini dicoba dimaknai secara detail tahapan prosesnya. Karena jika tidak meyakini awalnya seperti apa, biji kopinya jenis apa, proses roastingnya bagaimana, menyeduhnya manual atau dengan mesin kopinya bagaimana hingga siapa baristanya, maka rasa galau yang akan hadir di sekitar amigdala.

Bukan sekali dua kali, pasca menikmati sajian kopi yang tidak tahu asal usulnya, maka perut atau tepatnya lambungĀ  berkreasi… eh bereaksi dan memberikan rasa tidak nyaman berkepanjangan. Ya tidak bisa menyalahkan perut juga tetapi sebuah kebiasaan yang telah membentuknya.

Kembali termenung menatap secangki kopi hitam yang disajikan tanpa gula sesuai permintaan. Ragu melekat dan kembali terdiam sambil konsentrasi membagi indera dengan berusaha mendengarkan para narasumber yang terlihat kompeten di bidangnya masing-masing.

Perlahan cangkirnya diangkat dan di dekatkan ke bibir, lalu sruput dikit untuk mencoba bagaimana rasa dan kelanjutannya. Mudah ditebak, ini akan berakibat jika dilanjutkan. Maafkan atas ketidaktuntasan menghabiskan kopi sajian rapat kali ini.

Tapi jangan khawatir, kehadiranmu hai secangkir kopi hitam tanpa gula tetap memiliki nilai dan makna. Sebuah jepretan kamera smartphone ini bosa mrnjadi abadi, apalagi dipadupadankan dengan refleksi pantulan atau bayangan lampu hias hotel yang luxury memberi kesan mewah dengan nuansa keemasannya.

Hikmah yang didapat adalah selalu berusaha melihat sisi baik dan sisi hikmah dari semua keadaan, berbagai kejadian yang menjadi kenyataan. Pasti memiliki sesuatu yang menjaga kita untuk senantiasa bersyukur dan belajar bagahia eh bahagia.

Selamat sore semua, mari kita sedikit menghela nafas dalam istirahat sore. Sebelum nanti malam berjibaku kembali dalam meeting yang perlu konsentrasi serta kebersamaan. Wassalam (AKW).

Espresso Pagi

Sruput dulu pagi-pagi…. biar suegeer.

BANDUNG, akwnulis.com. Mata terdiam memandang segelas kecil cairan pekat yang mengharumi kenyataan pagi ini. Gelasnya memang kecil alias mini banget tetapi tulisannya sudah menjawab sepintas tentang kepenasaran pembaca yakni satu kata ‘Espresso‘.

Singkat kata bahwa espresso ini adalah istilah yang hadir begitu jauuh dari benua eropa sana, tepatnya di italia. Asal kata dari ekspress yang berarti cepat, yakni menyajukan kopi secara cepat dan bisa dihabiskan dengan cepat karena hanya sekali tenggak bisa segera tuntas.

Cocok dengan sifat generasi millenial dan zelenial yang semuanya harus serba cepat dan praktis guys. Tapi kenyataannya masalah cepat mungkin cocok tetapi masalah rasa itu berbeda. Generasi millenial dan zelenial ini cenderung kurang suka sajian espresso original alias 7-9 gram bubuk lembut kopi yang disemburkan air panas sebanyak 45 ml, tentunya semburannya bukan pake mulut karena akan menimbulkan kejijikan karena ada unsur cudah eh ludah tetapi menggunakan mesin kopi yang miliki standar sendiri. Karena rasanya original yakni kopi murni alias ada kepahitan yang nyata.

Sebagai bukti adalah lebih banyak kopi warna warni dengan aneka cairan sirup yang digandrungi. Plus elemen lain seperti boba, konyaku dan nata de coco.

Kalau penulis sih sudah masuk generasi antara, yakni antara 40 ke 45 maka lebih fokus saja menikmati sensasi kepahitan rasa yang hadir dari sajian secangkir kopi epresso saja. Airnya sdikit tapi ekstraksinya ajib sehingga mampu membuat lidah bergetar dan rongga mulut terdiam dalam sensasi kepahitan yang komprehensif.

Jika belum puas maka pesan lagi saja double shot espresso atau disebut juga dopio. Weleeh ternyata pahit bingit…. tambahkan saja dengan air panas maka namanya berubah menjadi secangkir longblack.

Itulah pesanan yang tersaji saat ini, secangkir longblack dan secangkir kecil espresso. Keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu ekstraksi bubuk kopi yang diproses via mesin. Juga sama-sama disajikan tanpa gula. Pembedanya adalah 1 elemen saja, longblack itu ditambah 1 shot espresso lagi dan tambah air panas, itu saja.

Kepahitan yang dihadirkan tetap sama, namun dari tujuan menjadi berbeda. Espresso lebih cocok dinikmati pada waktu yang terbatas sedangkan jika butuh waktu kongkow atau menyendiri lebih lama maka longblacklah sebagai teman setia. Jangan khawatir dengan rasa pahit yang dihadirkan, karena disitulah kenikmatan yang bisa dirasakan.

Yuk ah, sruput dulu agar kesibukan pagi ini bisa diawali dengan semangat dan kesegaran. Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Warung kopi eh cafe.

TIPS anti Galau2 – Ngopay Kopi Mandja.

Menikmati salah satu obat anti galau.

CIMAHI, akwnulis.com. Perjalanan siang yang cukup terik mengantarkan raga bergerak menjalani aliran kehidupan yang terus mengalir. Sementara perut mulai bernyanyi karena waktu makan siang sudah hampir terlewati. Jam tangan menunjukan pukul 14.55 wib. Tidak ada pilihan, berarti harus segera menepi dan mencari tempat yang menjual makanan dan dapat segera dinikmati.

Namun kemacetan mendera cukup panjang dan tidak seperti biasanya. Biasanya cuma padat saja, tidak sampai tersendat dan terdiam seperti sebuah hubungan pertemanan yang berubah menjadi percintaan hingga akhirnya bubar dan nggak temenan lagi… “Halaah kok malah jadi cerita perpisahan sih?”

Gpp atuh, ini khan sebuah cara menghibur diri daripada harus cemberut dan sumpah serapah. Karena tetap saja kemacetan tak bergeming, dan semua terdiam mengikuti perkembangan.

Begitupun raga ini, senyuman berusaha ditampilkan meskipun kekesalan karena kemacetan sudah memuncak memenuhi ubun-ubun. Tapi pikiran rasional harus dijaga, mungkin saja ada kejadian luar biasa di depan sana sehingga menghambat perjalanan semua.

Memang kesal dan galau itu milik semua dan secara harfiah serta sunatullah, rasa ini adalah sebuah keniscayaan dikala kitapun memiliki kemampuan untuk merasakan senang gembira bahagia dan ceria.

Bagaimana mungkin kita tahu perasaan gembira dan bahagia makanakala kita tidak paham tentang arti dan rasa galau sedih dan duka?”

Itu bukan pertanyaan retorika tetapi sebuah kalimat yang menyadarkan kita bahwa kehidupan itu penuh dinamika. Senang dan sedih, suka dan duka ataupun happy dengan galau serta banyak lagi pasangan dalam perjalanan kehidupan seperti siang dan malam serta laki-laki dan perempuan.

Jika ditulisan sebelumnya ada tips bahwa obat galau itu adalah POSTING & LUPAKAN GALAU. Itu hanya salah satu tips saja karena setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam melawan dan menyelesaikan kegalauan yang melanda. Dari beberapa respon terhadap tulisan awal ternyata selain posting di medsos maka pilihan obat galau adalah makan dan ngemil lho. Ada juga yang mengalihkan kegalauan dengan merokok, memancing atau touring motor atau mobil sambil menikmati suasana alam dan kuliner yang dilewati.

Ada juga mengalihkan kegalauan ini dengan menulis sebait puisi dan sejengkal kalimat untuk menggambarkan kegalauan. Juga bernyanyi baik di kamar mandi, di ruang karaoke atau tampil di panggung dan mendapat applaus tepukan tangan atas keberaniannya.

Nah tips tambahan dari penulis adalah jika galau melanda yang dilakukan adalah :
a. Memunguti kata di dalam kepala dan menjalinnya menjadi kalimat reka yang bisa hadirkan makna.
b. Menikmati prosesi penyeduhan kopi manual hingga tersaji menjadi segelas kecil penuh rasa.
c. Menyeruputnya dan merasakan sensasinya hingga dituangkan kembali dalam tulisan yang sedehana.
d. Mensyukuri kenyataan meskipun dengan segala kondisi dan keadaan, serta berharap semua bisa kembali baik-baik saja.
e. Melamun atau meditasi dan mencoba mengosongkan pikiran hingga terlarut dengan suasana alam.
f. Lanjutan dari poin e adalah berusaha segera tidur agar bisa menikmati keceriaan dalam mimpi indah yang penuh ketenangan.

Udah dulu ya, berhubung sekarang ada sedikit galau akibat paragraf awal yaitu kemacetan. Maka mlipir dulu ke kanan untuk melaksanakan tips poin b dan c yaitu menikmati sajian kohitala (kopi hitam tanpa gula) di Kedai Kafe Mandja Kolmas, sambil menunggu kemacetan terurai. Srupuuut, Wassalam (AKW).

*****

Cafe KOPI MANDJA
Jl. Kol. Masturi No.101 Cipageran Cimahi Utara Kota Cimahi Jawa Barat 40511