Ngopay di Orange Steak Culture Cafe.

Ngopaynya geser ke Tasik bray..

Photo : Sajian V60 Arabica Yellow Bourbon / dokpri.

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Jikalau biasanya sudah tersemat di alam bawah sadar bahwasanya menikmati bubur Jaenal dan baso Laksana adalah sebuah kewajiban di kala beredar di kota tasikmalaya. Maka sekarang pola pikir alam bawah sadar itu masih sama mulai bergeser dengan hadirnya semangat ngopay yang terus menggelora.

Tapi tetep jikalau kesempatannya ada dan my stomach masih kuat menampung sajian makanan di tembolok kanan kiri depan belakang maka tentu tetap didatangi, dipesan, dimakan dan dinikmati…. abis enakk seeeh.

Jadi, semangkok besar bubur jaenal yang legendaris tetap mendapatkan tempat di perut serta kenangan manis, nggak bakal ditolak klo ada yang ngajak sekaligus nraktir, apalagi di bulan ramadhan, pahala nraktirnya berlipat-lipat, dengan syarat niatnya benar dan tidak pamer yang menjurus ke ujub riya.

“Eh guys, udah tahu khan bubur jaenal?”

Photo : Bubur Zaenal 1 porsi / dokpri.

Yang menggeleng berarti kasian dech lu. Ada makanan enak legendaris yang belum dicoba. Meskipun memang terdapat dua aliran yang bertentangan, itu terjadiklo duduk disini, di daerah sekitar mesjid agung kota tasikmalaya tidak sampai berantem dan bikin kerusuhan karena semangkuk bubur, nama alirannya adalah GAB (grup aduk bubur) dan GNTAB (grup natural tanpa aduk bubur)…… kamu masuk grup mana klo ngebubur mas?

Klo kepo bin penasaran… gugling aja ya guys… keywordnya : bubur jenal kolektoran tasikmalaya.

Udah ah, sekarang moo bahas ngopay dulu bray.

“Ngopay apa dimana say?”

Photo : Suasana Cafe Orange steak culture / dokpri.

Ngopaynya kopi Arabica Yellow Bourbon honey di Cafe OTC (orange steak culture), masih di jalan Ikik Kota tasikmalaya, deketan bangeet sama lokasi bubur janal yang dibahas tadi.

Jadi bisa ngebubur dulu lanjut ngopay atau sebaliknya, ngopay dulu baru pulang…. eh ngebuburnya kaapaan?…..

Nemuin kopi inipun random aja, ada cafe dan ada sajian kopi manual. Masuk dan tanya2 kopi bean yang ready…. banyak sih, tapi yellow bourbon honey yang recomended…

“Pesen kang, pake manual brew V60 yaa”
“Oke kakak”

Suasana kafenya cozy dan menyenangkan dengan menu variatif western, asia dan tentu kopi dengan sajian beraneka rupa dan rasa.

Nikmat buat kongkow atau ber-alone juga mencari inspirasi dan menikmati kesendirian meskipun terkadang menyesakkan… ahhhhh.

Photo : Sebungkus bean Rancabali Natural / dokpri.

Sajian pertama adalah Arabica Yellow Bourbon honey yang diseduh manual dengan fiter v60 pada panas 89° celcius menghasilkan rasa nikmat dan keharuman memikat. Body-nya kategori bold/tebel pahitnya juga tingkat keasaman (acidity) maksimal ditambah yang unik adalah aftertastenya ada selarik rasa kola yang nyereng seperti ada semut kecil yang bergerak di bibir dalam, gagarayaman.

Dilanjutkan sajian kedua adalah versi dinginnya dan tentu menggunakan bean yang berbeda, yaitu Japanese Arabica Rancabali natural. Sang barista, Rizal mainkan bean dan air dengan perbandingan 1 : 18 pada suhun 89°celcius dan pola muter arah kanan serta di gelas server bersiap es batu menerima tetesan ekstraksi biji kopi yang penuh arti.

Photo : Japanese Arabica Rancabali Natural / dokpri.

Setelah tersaji…. srupuuut.

Tidak segalak sajian pertama, body dan aciditynya medium, sedang-sedang saja, tetapi aftertastenya muncul selarik rasa citrun, serta yang pasti menjadi pembeda rasa adalah rasa dinginnya yang menyegarkan…. sueģerr rek.

Oh iya lokasi cafenya di jalan R. Ikik Wiradikarta No.53, Tawangsari, Kec. Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46112. Selamat ngopay di Tasik mang, Wassalam (AKW).

Kopi Bali Banyuatis.

Ngopay setelah berbuka shaum…

Photo : Sajian Kopi Arabica banyuatis / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Suara Adzan begitu menggetarkan kalbu, menjadi penggugah hati dan memberikan rasa bahagia tiada tara, karena berarti masa penantian di hari kedua bisa dilewati dengan sempurna.

“Allohumma lakatsumtu Wabika amantu waala rizkika aftortu birohmatika yaa arhamarrohimin”

Segera segelas air hangat membasahi mulut dan menghangatkan lambung yang sedari pagi istirahat dari rutinitas mengolah makanan dan minuman… nikmat rasanya. Dilanjutkan dengan mengunyah potongan melon dan buah plum…

Kress kress… yummy.

***

Tuntas shalat magrib segera menggelar peralatan perang di atas meja makan sekaligus persiapan mencoba kiriman baru, coffee banyuasih Bali dari Ibu K. Agung. Coffee arabica yang diolah secara tradisional di daerah Singaraja Provinsi Bali, menggunakan biji kopi arabika pilihan dan disangrai dengan menggunakan kayu bakar sehingga akan menghasilkan rasa alami natural yang memikat.

“Jadi penasaran” Suara hati menambah semangat untuk membuka bungkusan kopi 200gr dengan gambar penari cantik legong bali yang senantiasa mengerling penuh arti.

Srett…. wuaah, bungkus kopinya sudah terbuka. Aroma sederhana menyeruah menyapa indera penciuman. Terlihat bubuk halus kopi yang siap dinikmati.

Air panas sudah siap, corong V60 sudah lengkap dengan kertas filternya. Tinggal seduh dengan perlahan… eh salah, bubuk kopinya di tuangkan dulu di kertas filternya. Barulah prosesi penyeduhan dimulai, currr… perlahan.

Photo : Baristi kecil sedang beraksi / dokpri.

“Ayah, aku aja yang ngucurinnyaah!” Tangan mungil sigap ambil alih, tapi belum ah, bahaya. Air panasnya bisa melukai kulit lembutnya.

Ternyata anak cantik ini pantang menyerah, tetap saja berusaha terlibat lebih jauh. Akhirnya dibimbing untuk mencoba mengucurkan air agar prosesi penyeduhannya ideal.

***

Jrennng…….. tersaji coffee arabica banyuatis versi manual brew v60. Selarik aroma harum melengkapi rasa alami yang muncul sendiri. Acidity medium less dan body bold memberi sensasi tersendiri. After taste-nya rasa pahit kakao ‘ninggal‘*) sesaat di belakang lidah, plus aroma asap kayu bakar memberi kesan berbeda.

Coffee ini adalah salah satu produk unggulan yang diproduksi oleh CV Pusaka Bali Persada, Singaraja Bali – Indonesia.

Akhirnya, 200ml coffee banyuatis ini berpindah ke lambung dan memberi kesegaran bagi raga serta ketenangan untuk jiwa. Segar bugar menjadi modal untuk menjalani shalat tarawih malam ini.

Selamat beribadah di bulan penuh berkah. Semangaat… Wassalam (AKW).

*)Ninggal : ungkapan penikmat kopi tanpa gula di kala rasa pahit dan asamnya kopi berdiam agak lama di lidah dan dinding mulut, red.

Arabica Sunda Héjo – Yo Coffee

Amunisi Kopi hingga Sang Baristi.

Photo : Amunisi Manual brew V60 gayo wine / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pagi ceria di dataran tinggi Kabupaten Kuningan begitu segar dan menenangkan. Apalagi di kala menikmati berlimpahnya air pegunungan, bikin betah dan pengen main air terus… tapi kenyataan harus di hadapi dan di jalani, musti pulang hari ini.

Trus supaya di jalan tiada kantuk yang hinggap di pelupuk mata, maka perlu dipersiapkan amunisi yang tepattt….. Kopi manual brew panas dan pilihannya sesuai stok yang ada adalah Arabica Gayo Wine.

Termos hijau kesayangan menjadi tempat penyimpanan sempurna, nanti di perjalanan sambil nyetir sekaligus nyuput kopay… eh nggak deng, bahaya nyetir sambil nyruput mah. Mendingan brenti sesaat baru minum kopi panas buatan olangan… yummy.

Tetapi ternyata rasa kantuk begitu ganas menyerang, apalagi Tol Cipali yang ‘lurus panjang’ makin mengukuhkan eksistensi kekantukan.

Jadi inget istilah dulu di kampung, “Wilayah yang jalannya berkelok-kelok itu namanya pasti wewengkon Cioray. Tetapi klo wilayah yang jalannya luruuus.. pannjaang, itu namanya wewengkon Tol”…… upsss…. iya gitu ajaah.

Ngantuk sambil nyetir itu berbahayyyaah…. Setermos hijau kopi arabica gayo wine pun akhirnya menyerah.. eh habis di sruput untuk menahan kantuk, karena tanggung jawab di belakang kemudi ini harus penuh konsentrasi supaya bisa mengendalikan kendaraan dengan baik dan benaaar.

Lepas Tol Cipali masuklah ke Tol Cikampek sedikit dan berbelok kiri ke Tol Cipularang, rasa kantuk kembali menyerang…. sementara amunisi kopi panasnya sudah tandas menghilang.

Akhirnya di putuskan mencari kopi keberlanjutan dengan memgarahkan kendaraan memasuki rest area 72A, siapa tahu ada yang jualan kopi seduh manual.

Tralaaaa…. parkir di depan toilet umum yang terlihat bersih. Melangkah ke sampingnya mencari kopi dan akhirnya berjumpa dengan Yo coffee di Yomart.

Photo : Gerobag Yo Coffee dan Baristi / dokpri.

Harganya untuk manual brewnya hanya 10 ribu saja dengan pilihan kopi yang dikemas menarik.. seduh manual lho. Tinggal pesen dulu dan bayar di kasir Yomartnya, balik lagi ke gerobag Yo Coffee dan bersiap menikmati nikmatnya kopi.

Kopi arabica sunda héjo yang menjadi pilihan untuk di seduh dan yang nyeduhnya adalah baristi Neng Choria53 (akun IGnya bro…..), dengan komposisi 15gr berpadu dengan 180ml air panas 85° celcius menghasilkan sensasi arabica khas jabar dengan acidity cenderung medium meninggi.

Hasil seduhan dimasukkan ke termos hijau kecilku. Memberi amunisi untuk melanjutkan berlari.. eh mengemudi menuju janji yang harus ditepati. Wassalam (AKW).

Gayo Wine Japanesse.

Sruput kopay dingin duyuuu bray…. di sini.

Photo : Spider nyaaah nemplok / dokpri.

KUNINGAN, akwnulis.com. Pas milih kursi di ruangan bagian dalam, agak terdiam sejenak karena disambut laba-laba raksasa yang nemplok di dinding hitam. “Takuuuut… spiderrrr!” teriakan anak secara spontan bikin pengunjung lain menoleh, lalu tersenyum karena paham bahwa kekagetan itu beralasan.

Di dinding tembok berwarna hitam, nemplok hiasan kayu berbentuk laba-laba. Andaikan itu laba-laba hidup, pasti segera beranjak menghindari, pergi untuk tak datang lagi.

“Sayanggg…. itu cuman hiasan, nich ayah pegang” sambil tangan mencoba menggapai laba-laba kayu tersebut. Anak kecilku tersenyum, “Oh hiasan ya, oke deh” dua detik kemudian berlari mengitari meja lainnya dan sudah lupa dengan kekagetan melihat hiasan laba-laba raksasa.

Photo : Interior jadul / dokpri.

Interior cafe yang menyajikan beraneka makanan minuman dan tentunya manual brew coffee ini homy banget, enak buat nyantai dengan mayoritas nuansa kayu berpadu dengan warna-warni menyegarkan. Namanya cafe dua4 kopi berlokasi di daerah Ancaran Kota Kuningan, dari Alun-alun kuningan ke arah barat dan di perempatan setelah LP belok kanan ke arac Cijoho, terus lurus Ciporang dan setelah itu daerah ancaran. Ada beberafa.. eh beberapa cafe kopi disitu, tapi sekarang kesempatannya ke sini duluuuu…..

Pilihannya tetep #tidakadaguladiantarakita dan jatuh pada manual brew arabica gayo wine. “Kok nggak pesen kopi arabica jabar mas?”
“Tadinya moo gitu, eh readynya cuman arabica gayo wine dan solok, ya sudah pilih salah satu dech”

Photo : Gayo wine japanesse / dokpri.

Anak kecilku milih minuman coklat dan ibu negara dengan creme bruelle-nya. Nah aku mah penasaran dengan metode seduh ‘japanesse‘, langsung tanya dech sama sang baristanya, Kang Agus, yang moo kepo-in IGnya cari aja @ch33monk.

Model seduh manual japanesse ini basisnya tetep seduh pake V60 tetapi berbeda pada sentuhan akhir. Klo komposisinya sih standar, Kang Agus ini pake 1 : 15 dengan suhu 85° celcius. Bedanya adalah pada gelas server susah ready es batu yang menangkap tetesan cairan ekstraksi kopi gayo wine ini dan mengubah cairan panas menjadi dingin.

“Hasilnya?”

Segelas kopi dingin yang begitu kuat level aciditynya… nendang banget. Aroma harum standar, tetapi aciditynya tampil banget dan bikin segeer. Menyeruak fruity berry dan sesaat ninggal di ujung lidah, body medium bikin tersenyum.

Photo : Kang Agus sang Barista 24kopi / dokpri.

Memberi rasa segar di siang terang yang periang, sambil mengamati anak kecilku yang cilingcingcat (nggak mau diem barang sedetik), begitu exited dengan suasana baru dan beberapa barang jadul yang menjadi pelengkap interior cafe ini.

Yang kepo bin penasaran, tinggal search ada di gugel, cafe 24kopi..
Tring… langsung aja klik direction… eh tapi syaratnya klo lagi di kuningan… maksudnya Kabupaten Kuningan Jawa Barat, bukan area Kuningan Jakarta ya guys….. kejauhaaan.

Trus urusan harga yang bikin hepi, manual brew gayo wine ala japanesse ini di hargai 17ribu donk… worthed khan?… pokoknya harga-harganya bersahabat dech…

Yuk ah.. srupuuut… suegerrrr. Wassalam (AKW).

Kopi Mandeiling Sumatera di RA166

Secangkir kopi manual brew di rest area km166 Cipali.

Photo : Pilihan biji kopi / dokpri.

MAJALENGKA, akwnulis.com. Perjalanan hidup adalah sebuah realita, detik dan menit terus bergerak tanpa kompromi kata-kata. Pekerjaan dan keluarga adalah elemen penting yang saling melengkapi rasa, di situlah aroma perjuangan hidup terasa.

“Kamu moo nulis apa seeh,kok ngaler ngidul nggak jelas?”

“Kalem mas bro, ini baru intro belum masuk ke lagunya, apalagi refrain, masih jauh tuh!” Sebuah kata pembela memberi ruang hela nafas yang menyegarkan jiwa. Memberi peluang untuk sejenak berfikir dan lupakan segala beban, cukup beberapa detik saja… 10 detik cukup.

Rasakan semua berkah kesehatan, kemudahan dan kebahagian kita, insyaalloh 10 detik ini adalah momen bersyukur… jangan lupa 2 detik terakhir lisankan dzikir terbaik kita….

Braaay caang, terang fikiran segar pengharapan.

“Nggak percaya?… monggo dicoba”

***

Perjalanan melewati tol Cipali di siang hari terasa begitu panas dan melelahkan. Apalagi di kala harus berhadapan dengan cahaya mentari yang menyongsong kedatangan. Selain menyilaukan juga bisa mengganggu proses pemutihan kulit muka.. ahaaay harap maklum yang lagi perawatan.

Photo : Hendra sang Barista sedang beraksi / dokpri.

Alhasil di rest area km166 Cipali menyempatkan berhenti. Tujuan utama mencari toilet, tujuan kedua nguliat merenggangkan otot dan ketiga adalah mencari kedai kopi…. sakaaaw nich.

Tujuan pertama, toilet langsung mudah dicari. Cerr….. eh sret dulu sletingnyaaah.

Tujuan kedua, otomatis dilakukan dengan merenggangkan kedua lengan, merenggangkan otot badan hingga terasa tulang gemeretak dan terasa nyaman.

Tujuan ketiga ternyata gayung bersambut, ada kios berwarna interior dan ekterior merah dengan nama Warung Bah Dodoy. Menyediakan kopi seduh manual dengan metode V60… cocok visan. Pilihan kopinya lumayan, dari mulai gayo, flores blend, gunung anjung, solok radjo, vietnam blend, rengganis, gunung guntur, gunung syawal, lintong lampung hingga mandheiling sumatera.

Ah pilihan yang menyenangkan….

Kali ini jatuh pilihannya ke kopi Mandheiling Sumatera. Jangan tanya kenapa yaa… memang pengen itu, titik.

Sang Barista, Kang Hendra atau di IGnya dengan akun Gilang Restu segera beraksi, meracik kopi dengan sepenuh hati untuk disajikan kepada sang penikmat yang sudah tidak kuat pengen nyruput cepat-cepat.

Photo : Warung merah bah dodoy km166 / dokpri.

Komposisi 15gr dan 120ml air panas dengan suhu 80° derajat, diharapkan dapat menghadirkan rasa kopi yang sudah dikandung secara hakiki, ini jenis arabica kawan. Sehingga rasa asam aciditynya terasa menawan disertai aroma yang lumayan dengan haega 25K persajian.

Srupuut… nikmaaat.

Tuntas menikmati kopi mandeiling ini, maka perjalanan dilanjutkan. Menuju tujuan yang penuh harapan. Selamat ngopay kawan, Wassalam (AKW).

Memilih & Kopi Halu Pink Banana.

Menikmati Kopi Arabica Halu Pink Banana…

Photo : Sajian Kopi Halu Pink Banana / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari ini, eh sudah beberapa minggu deng… kata ‘Memilih‘ menjadi frasa yang begitu trending topik, menghiasi linimasa dan berbagai platform dan level kehidupan.

Jadi, hayu kita memilih…

“Memilih naon?”

“Yang pasti memilih sesuatu yang dua-duanya bikin kita nikmat dan nyaman”

“Ada pilihan yang dua-duanya enak?”

“Adaaaa…… memilih cara untuk nyeduh kopiiiii”

“…… beuh kopi lagiii.. kopi lagiii”

***

Menikmati sebuah sajian kopi bisa dengan berbagai macam cara. Tetapi secara garis besarnya ada 2 cara lho. Cara pertama nyeduh manual brew sendiri dan cara kedua dibuatin orang laiiin… bener khan?

Masing-masing tentu memiliki kelebihan dan kelemahan. Yuk kita bahas satu-satu. Pertama, ngebuat kopi dengan seduh manual yang dikerjakan sendiri. Kelebihannya adalah :

a) bisa kapan aja yang penting ada kopinya, ada peralatannya, ada air panasnya… tinggal curr.
b) bisa foya-foya, maksudnya komposisi kopi bisa lebih dari standar 1 : 12, bisa ditambah jadi 1 : 20 klo pengen rasanya makin nendang atau sekalian bisa bikin ‘teh kopi’ dengan cara seduh kedua kali tanpa ganti kopinya…. ntar dapet kayak teh, rasa kopinya hilang tapi tetep haruuum kopi.

c) edukasi kopi, bisa jadi momen mengenalkan kopi kepada saudara, rekan, kenalan dengan magic wordnya kayak open boxing di channel yutub, “Hai guys.. dst”

Photo : Tampak belakang dus Kopi Halu Pink Banana / dokpri.

Kelemahannya adalah :

a) Wajib punya kopi…. Ya iyaa donk. Trus apa yang mau digrinder?…

b) Musti punya alat-alatnya : ini juga pengorbanannya, minimal mesin grinder kecil, pemanas air, teko goose neck, timbangan digital kecil, termometer, temper glass, coring V60, kertas filter V60, ember…. lha ember buat apa?… pokoknya penting dech. Ntar dijelasin.

Padahal fungsi ember adalah…. menampung air sisa dari kertas filter v60, terus sampah dari serbuk kopi yang sudah diseduh dan sekaligus menyimpan sampah sementara….

Kenapa nggak pake tempat sampah?”

“Ih rewel banget, kata aku ember ya.. ember”

c) Musti tahu cara manual brewnya…

Ribet ya?….

Beda dengan pilihan kedua, yang dibuatin orang lain. Tinggal datang ke suatu tempat, pilih-pilih, pesan dan tunggu…

cuman itu tadi, kita sulit untuk berkreasi.

Trus perlu modal duiiit dan nggak bisa foya-foya kopi, karena pasti di kedai dan cafe sudah ada ukuran, supaya dapet untung….

Yang lebih penting, sensasi prosesi manual brewnya yang nggak dapet, itu yang tidak ternilai… really?…. yeaah pengalaman memproses manual brewnya hingga bisa tersaji rasa kopi yang enak itu adalah ‘sesuattu bangeedd’.

Jadi… tinggal milih dech.

dan…

Sore ini pilihannya adalah pilihan dibuatin orang lainn aah….

Kopi yang dinikmati adalah Kopi Arabica Halu Pink Banana, tempat nongkrongnya di Kurokofee, Jl. Ciumbuleuit.

Rasanya cocok pisan dengan suasana sore berhujan deras. Dengan suhu 90° celcius, manual brew V60. Menghasilkan kopi beracidity tinggi dengan body eh kepahitan yang mempesona khas kopi java preanger. Harumnya mah keren pisan dan after taste fruity terasa banget…

Nanti di rumah, baru nyeduh manual dengan peralatan yang ada dan tentu sesuai dengan stok kopi yang tersedia. Wilujeng memilih.. eh ngopay bray. Wassalam (AKW).

Kopi Lembang Pak Ali.

Ngopay kopi dari pak Ali…..

Photo : Nyeduh kopi sambil ngasuh / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Tanggal merah ditengah minggu tentu menjadi anugerah, bisa dimanfaatkan untuk mencurahkan perhatian kepada anak semata wayang juga pasti kepada ibunya.

Tapi tetap, ngopay jalan terus. Peralatan manual brew V60 sudah siap di rumah dan di kantor. Sehingga tidak perlu dibawa kesanah kesinih…. cukup bermodal niat, kesempatan, kopi bubuk dan air panas 90°… maka bisa ngopay dengan nikmat.

“Trus sama anak gimana?”

Sebuah pertanyaan yang menarik, tapi itulah indahnya mengasuh anak sambil ninyuh… eh sambil nyeduh kopi ala manual… maka pola seni dan kompromi yang dimainkan.

“Gimana caranya?”

“Bentar atuh… sekarang pilih dulu, kopi mana yang akan diseduh manual”

“Ayahhh…..!!!, hayu main di kotak” rengekan manja anak princes segera disambut dengan anggukan dan senyuman.

Horeee!!!,

Binar berjingkrak kegirangan. Raga ini beringsut menuju ‘kotak‘, selembar karpet tebal yang berisi mainan dengan pagar plastik yang terbuka. Sebagai wilayah demarkasi untuk bermain dan berkreasi sang anak tercinta.

***

Jadi….. nyeduh kopinya sambil ngasuh. Sehingga kompromi terjadi… gambar proses seduhan kopi yang tadinya hanya kopi diatas corong V60 dan bejana saji serta gelas kecil kaca kesayangan, harus bersanding dengan warna warni ceria dari mainan disney yang ada yakni donald duck yang lagi boncengan sama mickey mouse.

Eh ternyata photo sajian kopinya jadi aneka warna. Ngasuh jalan dan ngopaypun tetap terlaksana, kehidupan terus berjalan.

Kali ini hadir kopi tanpa label, pemberian dari Bapak Ali yang punya sendiri kebun hingga produk kopi dari daerah Lembang… disaat bersua minggu lalu, memberi sebungkus kopi bubuk ukuran kira-kira 200gr.

Alhamdulillah, milik tah….

Photo : Manual brew v60 kopi pak Ali / dokpri.

Sore ini di eksekusi dengan fi-sixti, suhu air 89° celcius dengan komposisi 1:1, yups.. 30gr beradu dengan 300 ml air….. jreng jreng.. tes.. tes.. tes.

Dikala bungkus coklatnya dibuka, rasa harum aroma kopi terasa menyambar penciuman. Ada rasa buah yang muncul tapi sulit mendefinisikan, pokoknya selarik banyangan rasa manis hadir dalam sekejap.

Penasaran….. setelah tetesan air seduhan tertampung sempurna. Pindah ke gelas duralex kecil… srupuuut…

Hei…. rasanya enak kawan. Body medium cenderung boldnya menyisakan after taste yang ninggal diujung lidah belakang, meskipun tidak lama tapi berpadu dengan acidity medium khas kopi arabica menambah nikmat ngopay sore ini. Dari sisi tastenya ada selarik rasa lemon, dan kakao plus setipis rasa karamel.

Ah takut salah… coba sruput lagi…. slurp.. slurpp….

Enak euy… dikala temperaturnya menurun. Body dan aciditynya menguat… pahitnya sedikit meningkat tetapi makin nikmat. Karena pahit asamnya sajian kopi bisa mengurangi dan menutupi pahit asamnya kenyataan hidup…. eaaaaa, apa seeeh kamuuh.

Sruput lagii…….

Hatur nuhun Pak Ali, wilujeng ngopay bray. Wassalam (AKW).

***