Kopi Jagapati vs Bubur Mang Oyo.

Nikmati kopi sambil sarapan pagi.. Yummy.

BANDUNG, akwnulis.com. Menikmati secangkir kopi bisa hadirkan inspirasi, termasuk membantu hati menjaga mood dalam menjalani hari ke hari. Maka ekplorasi tempat – tempat yang menyajikan kopi adalah sebuah haraoan tersendiri. Apalagi aturan sudah dibolehkan meskipun tetap dengan prokes yang ketat.

Tapi, untuk penyajian kopi dengan manual brew V60 musti dikeceng dulu. Karena mayoritas cafe kopi itu yang laku adalah minuman less coffee full sugar and milk… jadi keceng dulu.

Kedua, dilihat kondisi kerumunan. Jika banyak orang dan tentu mayoritas nggak kenal. Agak parno juga karena aku teh yakin si covid19 masih gentayangan dan sukaaa banget berada di kerumunan… kumaha atuh?

Ya demi keamanan diri, carilah tempat warung atau cafe outdoor yang nggak bejubel orang… malah klo moo sepi banget mah datangnya shubuh.. dijamin kosong tuh tempat.. hanya saja masih di gembok da belum buka hehehehe.

Nah, sekarang pas lewat dari belokan jalan trunojoyo ke kiri… klo nggak salah jalan Sultan Ageng Tirtayasa deh. Judulnya kebetulan tapi sambil dilihat-lihat juga…. adaaa… nama cafenya sih Bubur Mang Oyo tapi ada juga sajian kopi.

Lha nggak puguh ini teh, nyari kopi atau mau sarapan sih?”

Aduh ampyun protes mulu, ikutin aja dulu cerita.. sabaar gitu lho.

Tempatnya enak bisa sambil berjemur di pagi hari dan menikmati sarapan bubur ayam. Tapi khan aku mah cari kopi, maka yang dipesan adalah kopi hitam tanpa gula.

Sambil pesen kopi, iseng nanya sang pelayan, “Kopinya kopi apa kang?”

Kopinya kopi Jagapati Gan”

Weits, eta namanya kereen… jadi penasaran dengan rasanya.

***

Hadirlah sebejana kopi hitam tanpa gula ditemani gelas sloki bening, memberi harapan kedamaian dan tentunya mewujudkan kenikmatan.

Sebelum dinikmati, tentu di dokumentasikan dulu.

Nah dokumentasi pertama di area dalam dengan latar belakang buku-buku perpustakaan, sehingga minum kopi disini bisa nambah wawasan… kalau yang mau baca buku-bukunya. Klo yang cuman bengong doang sih… yaa tetep aja before after nggak nambah pinter.

Dokumentasi kedua di lokasi outdoornya dimana cirinya adalah mejanya dari besi dan bolong-bolong. Jadi bagi yang pobhia sesuatu bolong-bolong atau ruang berongga atau lubang yang dikenal dengan istilah Tryphopobhia, jangan maksain kesinih.

Tapi ketang tergantung, klo suasana asik – asik aja mah, seneng atuh kongkow disini. Oh iya menu utama sarapannya udah pasti bubur ayam Mang Oyo tea.

Jadi dokumentasi photo bubur ayam lengkappun harus hadir agar tidak penasaran, masa nggak ada photo buburnya… monggo dipasang di akhir tulisan ini yaa… cekidot.

Bicara rasa kopi jagapati ini relatif standar dan kohitala manual brew V60nya biasa aja. Sebagai pelengkap setelah selesai makan bubur pas juga hehehe… yang pasti vibesnya oke. Bisa sarapan, bisa kongkow dan sedikit berdamai dengan kenyataan. Selamat weekend kawan, Wassalam. (AKW).

Kopi Emas Hitam Papua.

Menikmati kelembutan kopi Papua..

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah rasa adalah selera dan setelah dirasa maka hadirlah makna. Jadi tidak serta merta makna hadir tanpa sebuah proses rasa dan selera. Diawali dari selera yang dibangun oleh niat plus keinginan maka bergeraklah dalam sesi mencoba.

Nah mencobapun tidak serta merta langsung menikmati tetapi justru ada proses yang ternyata bisa dinikmati juga. Itulah yang disebut kenikmatan sebuah proses.

Kok jadi pusing ya?”

Tenang masbro, jangan jadi pusing karena dua paragraf. Tapi resapi makna sederhana, bahwa jalinan kata bisa hadir dan menjadi pembeda. Apalagi dimaknai dalam sebuah proses yang notabene disukai.

Gue mah nggak mau ribet, order – bayar – sruput – nikmat”

Hahahaha…. itu awalnya diriku banget. Tetapi setelah tahu bahwa prosespun memiliki kenikmatan, maka waktu yang dijalani menjadi relatif. Bukan masalah sebentar atau lama, tetapi bagaimana sebuah kenikmatan tercipta.

Begitupun kali ini, disaat proses manual brew V60 terjadi maka betapa tahap demi tahap terasa nikmat dan mencoba berimajinasi tentang keindahan alam papua yang sangat kaya raya sumber daya alamnya termasuk mereka cipta sebuah kebun kopi seperti apa, ketinggian berapa hingga dominasi tumbuhan apa di sekitarnya.

Hasil imajinasi ini nanti di crosscheck dengan sajian kohitala ini, yang merk dagangnya menarik yaitu Kopi Emas Hitam Papua.

Maka…

Jeng jreng… peralatan penyeduhan manual disiapkan.

Bungkus hitam dengan label hijau segera dibuka, hmmm harum aroma kopi menggelitik ujung hidung serta menyebar di ruangan… segaar.

Tanpa banyak cingcong siapkan corong V60 tambah kertas filter. Basahi dengan air panas kertasnya dan buang air seduhannya. Segera lanjut isi dengan butiran kopi yang menyegarkan ini. Lalu siapkan air panas dengan suhu 93° celcius (ada termometernya, udah dicolokin dan khusus untuk cek panas air, nggak dipake yang lain hehehehe)

Seduh manual dimulai… dan.. tes.. tes.. tes. Perlahan tapi pasti sajian kohitala dari papua berkumpul rapih di bejana kaca.

Siaap dinikmati brow…

Slrup… srupuut.

Nikmaaat…. ada sebuah rasa yang bulet gitu deh, halus dan nyaman dengan acidity low dan body medium serta di kala tiba ke momen after taste maka hadir selarik dark coklat dan caramel di tutup dengan rasa pahit yang menyegarkan.

Nah itulah sebuah proses rasa yang ternyata begitu banyak makna. Apalagi bicara tanah papua yang sekarang sedang menjadi tuan rumah ajang olahraga nasional yang penuh gelora. Hidup PON PAPUA 2021 dan Nikmatnya kopi emas hitam papua. Wassalam (AKW).

Piknik tivis tivis…

Menikmati setitik piknik, meskipun…

BANDUNG, akwnulis.com. Terpaku menatap keindahan alam yang membentang memanjakan mata. Begitu indah dan menentramkan. Lansekap dataran tinggi bandung utara hingga menyentuh kota Bandung yang penuh hinggar bingar optimisme.

Tarikan nafas begitu lega, dikala saluran pernafasan bercengkerama dengan udara segar milik tuhan yang tidak ternilai, kembali rasa syukur adalah kewajiban, betapa banyak nikmat Allah yang sering kita lupakan.

Apakah ini rehat sejenak dari rutinitas atau hanya sebuah hayalan tingkat tinggi akibat nggak bisa piknik dimasa PPKM darurat?”

Hehehe hampir beririsan pendapat itu, tetapi yang pasti kali ini masih dalam posisi bekerja dan kebetulan lokasi rapatnya di bandung utara. Maka udara segar begitu mudah didapat, meskipun protokol kesehatan tetap ketat.

Penggunaan QR code aplikasi lindungi sebagai pembuka untuk bisa memasuki area, dilanjutkan swab antigen sebagai bentuk kewaspadaan karena pandemi covid19 masih ada. Untuk penggunaan hand sanitizer dan masker jangan dibahas lagi, ini sudah given, wajib hukumnya. Dengan semangat optimisme adalah agar kita terhindar dari virus covid19 sekaligus menghindari sebagai penular kepada orang lain ataupun keluarga tercinta.

Nah dikala waktu istirahat tiba, maka mencari tempat private di ujung resto sambil menikmati sajian dari panitia, memberikan sensasi rasa berbeda sekian purnama tak pernah nongki-nongki atas nama bahagia.

Sajian yang dipilih kembali kepada tema utama yaitu ngopay dan ngojay…. eh salah ngopay dan salad.

Pertama untuk memgobati kehausan atas piknik dan wisata lainnya adalah sajian kopi hitam tanpa gula dengan seduhan manual menggunakan V60, bean yang dipilih kali ini adalah manglayang wine nectar. Sebuah pilihan tepat karena menyajikan sensasi rasa lengkap. Acidity jelas begitu ‘menggigit’ sejak seruputan pertama dan ninggal di ujung lidah serta di ujung kenangan. Body medium dan after tastenya bikin damai, paduan fruity dan tamarind serta cocoa hadir selintas menemani keceriaan kali ini.

Kedua adalah sajian utama eh atau pendukung ya?.. thai salad. Yach pokoknya saling mendukung aja deh. Sajian makanan sehat yang dilengkapi potongan daging sapi yang empuk dan memanjakan lidah. Apalagi saus khasnya begitu menggoyang lidah dan membuat selera makan semakin membuncah….. yummy.

Perpaduan inilah yang menjadi momentum syukur berkelanjutan. Kegiatan meeting bisa diikuti diawali dengan rangkaian testing antigen dan aplikasi peduli lindungi ditutup dengan piknik tivis – tivis di kala makan siang ditemani sajian kopi kohitala dan salad penggugah selera, Alhamdulillah.

Pak maaf, ditunggu di ruangan, acara sudah mau mulai lagi”

Sebuah suara sendu membubarkan piknik tipis-tipis kali ini. Segera anggukan kepala dan bergegas… eh sruput dulu sisa kopi yang ada dan sikat habis salad yang juga tersisa.. nyam nyam nyam… yuk ah meeting lagi. Wassalam (AKW).

Berhenti di kala gemilang.

Diskusi hangat tentang makna sebuah keputusan.

DAGO, akwnulis.com. Sebuah pertemuan yang tidak direncanakan, sering kali berbuah hikmah dan pelajaran berharga dalam mengarungi kehidupan. Begitupun diskusi hangat kali ini, dengan tema berhentilah dikala gemilang.

Sebuah kalimat yang begitu menarik, karena mayoritas seseorang yang sedang berada dalam posisi keemasan dengan taburan kinerja dan prestasi yang membanggakan memiliki kecenderungan mempertahankan posisi, jabatan, pengaruh dan tentu kewenangan yang berimplikasi juga dengan penghasilan.

Tentu makna gemilang di sini harus dibuktikan oleh hasil pengawasan dan audit secara eksternal dan kompeten, bukan klaim diri sendiri bahwa ini adalah capaian prestasi. Dilengkapi testimoni dari semua penjuru mata angin bahwa memang prestasi yang diraih dan pasukan atau perusahaan yang dipimpinnya membukukan keuntungan yang kinclong serta memiliki reputasi luar biasa.

Sementara jika diamati, jangankan yang gemilang, yang biasa-biasa saja kinerja dan prestasi dalam sebuah kedudukan cenderung mempertahankan dengan berbagai strategi dan cara – cara tertentu.

Justru sebuah keputusan berani yang diambil ini menjadi sebuah cerminan penting bagi diri ini yang masih sedikit pengalaman dalam bekerja, berorganisasi dan juga berkiprah dalam kehidupan bermasyarakat.

Tidak hanya butuh keberanian untuk mengambil keputusan berhenti atau pengajuan berhenti dikala perusahaan atau jabatan yang disandang dalam posisi gemilang, tetapi juga kesiapan mental dalam wujud keikhlasan untuk melepaskan semua atribut yang melekat dan segala fasilitas yang didapat termasuk juga kerelaan bahwa selanjutnya penggantinya belum tentu memiliki kemampuan yang sama.

Tentu prosesnya tidak langsung berhenti begitu saja, ada tahapan yang harus dilalui sebagaimana termaktub dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga sebuah perseroan atau peraturan perundang-undangan yang mengatur hajat hidup seorang ASN.

Diskusi terus bergulir dan terlihat bahwa sebuah keputusan yang diambil dan konsekuensi yang akan dihadapi bukan menjadi beban tetapi menebalkan rasa syukur bahwa sebuah kesempatan umur dan jabatan telah diberikan oleh Allah Subhanahu Wataala.

Sebuah tanya menyeruak di dada, “Apakah sebagai ASN bisa mengikuti jejaknya?”

Sebuah senyuman menjadi jawaban, dikala kopi hitam manual brew yang tersaji menjadi saksi perbincangan ini. Selamat dan sukses atas inspirasi kali ini, sebuah kombinasi keputusan berani, keikhlasan dan kesiapan mental dalam memaknai perjalanan kehidupan. Wassalam. (AKW).

LATTE ALA-ALA – asmoel bean.

Beannya hadir, giling dan seduh kawan.

Latte Ala-ala / Dokpri.

Cimahi, akwnulis.com. Sebungkus biji kopi hadir di hadapan tanpa basa basi, dengan sejumput catatan ‘hatur lumayan, mangga cobian’ (Silahkan dicoba)… Alhamdulillahirobbil alamin.

Maka sesuai harapan sang pemberi, harus segera diekstraksi agar hasilkan cairan hitam penuh arti yang membuahkan aneka rasa serta berbagai arti dari rasa yang segera hadir tak perlu menanti.

Bean 13gr x 2 langsung di grinder kasar untuk kepentingan manual brew.

Peralatan peracikan sederhana disiapkan, kertas filter sudah hadir dan dibasahi air panas terlebih dahulu untuk mereduksi sisa-sisa proses kimiawi. Air panas 90° celcius juga ready dan proses manual brew pun terjadi… currrr… tes tes tes.

Bejana bening mulai terisi cairan kopi bersih tanpa ampas, tentu sebentar lagi siap dinikmati. Asyiik.

Setelah tuntas di bejana, maka dialihkan ke cangkir untuk dilakukan tester, apakah rasa yang hadir sesuai ceritanya?..

Panasnya seduhan kopi memang segar, bodynya medium dan acidity less dengan aftertaste relatif flat… wah ini kelihatannya mix arabica bean dan robusta. Maka perlu diberi sentuhan akhir berupa foam susu hangat yang akan menggelorakan rasa menjadi latte ala-ala.

Kebetulan di kulkas ready, maka susu dingin dihangatkan dengan uap panas sekaligus mengocok halus hingga akhirnya hadirkan busa-busa kenikmatan.

Lalu perlahan tapi pasti, digabung diatas cangkir dan hasilkan sajian kopi kohitala plus foam susu dengan nama LATTE ALA-ALA Asmoel bean. Asmoel bean adalah penjelasan dari mana biji kopi ini hadir, yaitu dari pak Asmoel hehehe… karena tanpa merk maka kita kasih nama saja.

Latte Ala-ala / dokpri

Srupuuut…. nikmat dan segaaar. Meskipun bukan kohitala murni tapi sedikit sentuhan akhir bisa memberi sensasi kenikmatan. Alhamdulillah. Happy weekend kawan, Wassalam (AKW).

Coffee Arabica Abah Papandayan.

Akhirnya bisa menikmati kembali prosesi dan sruputisasi…

CILEUNYI, akwnulis.com. Tak sabar sebuncah rasa untuk kembali mereview ala – ala sebuah keajaiban rasa yang dihadirkan oleh si biji hitam misterius yang penuh sensasi. Kali ini hadir atas kebaikan seorang kawan, kopi arabica Abah Papandayan.

Tanpa banyak cingcong dan diskusi mendalam dengan diri sendiri, meskipun phisik masih agak lelah, semoga menyeduh kopi secara manual ini bisa menjadi mood booster untuk kembali menjadi perkasa menapaki hari-hari yang harus dimaknai dengan rasa syukur yang penuh berkah meskipun situasi pandemi masih penuh ketidakpastian.

Maka segeralah peralatan perang eh…. peralatan seduh manual dipersiapkan… jeng jrengg.

Jreng….

Peralatan sederhana tapi penuh makna, kertas filter flat bottom, corong flat bottom, air panas pake merk amidis dan dijerang agar menggolak… eh mendidik. Tak lupa 2x takaran bean sekitar 28 gram di grinder dengan ukuran 3-4 agar menghasilkan serpihan kasar yang menuh keharuman.

Segar dan harum menyeruak memenuhi ruang hati, melengkapi proses penggilingan ini… hmmmm.

Setelah air mendidih, diamkan sejenak agar mendekat suhu 90° celcius. Lalu diguyurkan perlahan denganteko kaca gooseneck ke kertas filter sebelum dilakuka prosesi manual brew ini. Lalu serpihan kasar biji kopi memenuhi kertas filter di corong flat bottom dann…….. currr kembali teko kaca gooseneck beraksi menyalurkan air panas berpadu serasi dengan serpihan biji kopi untuk bersama-sama lakukan proses ekstraksi… diputerr cuur… puternya searah jarum jam ya… tadaaa… tetes demi tetes cairan hitam harum berkumpul di dasar bejana kaca… asyiik.

Tak lupa gelas kaca kecilku, selalu setia sebagai sarana penyeruputan kopi yang elegan dan penuh kenangan.

Setelah tuntas bermanual brew, saatnya cairan hitam dipindah ke gelas kaca.

Srupuuut…..

Woow….

Rasa winenya menyerang syaraf – syaraf mulut dengan dahsyatnya setelah sekian lama jarang bersua dengan sensasi rasa. Betapa nikmatnya, acidity strong menguasai semua perasa didukung body bold maksimal yang melingkupi segala suasana.

After taste yang dihadirkan begitu ‘ninggal‘ di pangkal lidah beberapa menit berselang serta ada rasa ‘nyereng’ atau menyengat yang merupakan kekhasan biji kopi wine yang penuh kesempurnaan. Hadir rasa lime yang asam kecut plus tamarind serta ada rasa anggur hijau yang kesat segar (semoga lidahnya bener inih…) dan aroma fruity lain yang agak sulit didefinisikan oleh keterbatasan lidahku inih.

Sungguh menyenangkan bisa nyeduh biji kopi abah papandayan ini yang diproduksi oleh Kareumbi Farmer ini. PiRT No. 2093272010054-19 ini hadir atas kebaikan seorang kawan yang sengaja datang ke kantor bersama Bos petani kopi sekaligus roasternya, hatur nuhun Kang Rino & Kang Bayu.

Kopi Arabica Abah Papandayan ditanam di Kaki Gunung Papandayan pada ketinggian 1400 mdpl terdiri dari varietas unggulan diantaranya Yellow Borbon, AS-1 dan Preanger Buhun dengan naungan pohon jeruk dan pohon kayu hutan hujan tropis (ini tertulis di bungkusnya kawan…)

Itulah mood boster kali ini, badan segar hati nyaman begitupun lidah terus mengecap rasa nikmat yang tertinggal. Happy weekend kawan, dont forget to sruput your coffee…. kopi hitam asli tanpa gula. Wassalam (AKW).

V60 Arabica Papandayan & Ide-ide.

Sruput kopi sambil cari Ide.

CIMAHI, akwnulis.com. Menulis dengan kesendirian adalah sebuah perkawanan sejati, karena rasa bisa tercurah dalam jalinan kata yang mengandung makna. Mencoba mengalirkan ide yang berbuncah di dalam kepala, menuju aliran darah dan otot serabut sehingga menggerakkan jemari agar menari di atas keyboard smartphone kesayangan.

Mata jelas menjadi pembeda agar huruf yang tertulis terhindar dari typo ataupun salah penggunaan tanda baca. Meskipun kesalahan itu masih ada, karena kita adalah manusia tidak lufut… eh luput dari khilaf dan dosa.

Tapi, terkadang ide suka tiba-tiba hilang tertindas oleh pikiran lain yang hadir tanpa aba-aba. Sehingga jemaripun terpaku tak hasilkan secuil kata apalagi setumpuk kalimat. Inilah saat yang rentan dengan kondisi pentargetan dan deadline, alamak… gawaat.

“I need mood booster please”

Itulah sebuah bisikan yang membuat penasaran dan ternyata sebagai jalan keluar. Maka… cara terbaik adalah carilah sang mood booster yang dirindukan… yakni Kohitala (kopi hitam tanpa gula)… kopi mana kopiiii?…

Maka tanpa berlama-lama, sajian kopi arabica papandayan langsung diproses dengan metode manual brew V60… itu tuh yang corongnya mengerucut dan wajib pake kertas filter. Request diseduh oleh air panas 93° celcius kayaknya dituruti, karena hasil yang didapat ternyata tepat dengan selera. Yummy.

Setelah tersaji manual brew V60 kopi arabica papandayan. Langsung saja mulut menganga untuk bersiap menyeruput kenikmatan dunia dan berharap ide – ide segera hadir kembali untuk tuntaskan segala tugas yang memgelayuti hari – hari.

Srupuuttt…. hmmmm nikmatnya, acidity pas berpadu dengan body yang tidak terlalu pahit dilengkapi after taste buah cherry dan jeruk yang mengharumkan suasana.

Perlahan tapi pasti, kenikmatan menyeruak dan ide-ide meskipun malu-malu akhirnya hadir dengan beraneka celoteh kreasi dan harapan. Kopi disruput dan jemari lanjut mengetuk… eh mengetik. Menuangkan ide yang kembali hadir karena rangsangan maut si kopi hitam. Alhamdulillah.

Akhirnya jemari lanjut menari dan sang kopipun bergegas menunaikan tugas. Membuka kembali keengganan dan mendobrak kemalasan hingga akhirnya kesegaran datang dan ide-ide yang lahir terasa lebih rilex dan memberi keyakinan bahwa dibalik kerja keras perjuangan ada hasil akhir yang memukau. Selamat pagi Kawan, Wassalam (AKW).

Kopi Tubruk Curug Malela.

Sruput Kohitala di Pelataran Parkir Curug Malela.

KBB, akwnulis.com. Nafas masih turun naik dan kaki agak gemetaran disaat kembali menjejak bumi setelah 10 menit menikmati adrenalin  ber-roller coaster dibelakang boncengan Mamang ojeg lokal yang melahap jalan berliku, sempit, becek, menanjak dan samping kiri berdampingan dengan jurang cukup dalam.

Pulang dari mana?”

Sebuah tanya yang perlu diberi jawaban agar tidak penasaran. Ini adalah langkah praktis kepulangan dari lokasi objek wisata air terjun ‘mini niagara’ Curug Malela yang terletak di Kecamatan Rongga Kabupaten.Bandung Barat. Sebenarnya dengan berjalan kakipun cukup menantang dengan lika liku tanjakan terjal sepanjang 1,7 km. Tetapi manajemen waktu meminta percepatan, karena sore nanti sudah ditunggu meeting dengan bos dan stakeholder…

Ciee stakeholder.. maksudnya dengan para mitra atuh…. maka bertukarlah 40ribu rupiah dengan 10 menit dibonceng  Mamang ojeg yang penuh sensasi dan wajib pegangan, apalagi kalau waktunya bersamaan dengan hujan, pasti suasana naik ojegnya lebih menegangkan.

Tiba di lokasi parkir awal, sebenarnya warung nasi sudah menanti dengan menu liwet lengkap dan tentunya bakakak ayam. Wuih nikmatnya, tetapi apa mau dikata, tugas selanjutnya lebih utama. Terpaksa menolak secara halus, biar nanti rekan-rekan tim yang sedang mendaki berjalan kaki yang akan menikmati.

Tetapi sebelum pergi, sebuah kios kopi yang terlihat asri ternyata menarik hati. Terlihat di spanduknya, KOPI GUNUNGHALU. Segera kaki bergerak dan raga merapat, melihat suasana kafe yang sederhana tetapi bersih dan tertata. Berbagai pilihan kopi sudah tersedia di botol kaca yang bebaris menyambut pengunjung. Juga tersedia bean yang bisa dibawa pulang untuk di grinder di rumah maaing-maaing sesuai selera.

Kang pesen 1 ya, arabica gununghalu yang wine”
“Mangga kang, diantos”

Disini ada ketidaklengkapan perintah eh request, yang terbayang adalah prosesi seduh manual dengan menggunakan V60. Tetapi karena tidak terlisankan maka sang barista membuat kopi manualnya dengan cara ditubruk dengan air panas yang penuh gejolak. Padahal peralatan corong V60 dan filter kertasnya terlihat di depan mata.

Apa mau dikata, yang tersaji adalah kopi tubruk arabica gununghalu jenis wine… gpp lah yang penting kohitala (kopi hitam tanpa gula) dan seduh manual… bedanya… di cangkirnya nggak bersih, tapi penuh dengan serpihan – serpihan biji kopi yang berserakan setelah proses ekstraksi.

Berhubung waktu yang tersedia terbatas, ya sudah kita tunggu hasil trubrukan kopi ini agar segera dapat dinikmati…. 4-5 menitan sambil tak lupa ditiup dengan kemonyongan bibir maksimal.

Srupuut…. hmmm rasa panasnya nikmaat. Acidity strong hadir memberi rasa asam pekat yang melegakan, body relatif medium dan aftertastenya muncul fruitty dan keharuman manggo hadir meskipun tipis sekali. Over all kenikmatan terasa menyatu meskipun sedikit terganggu remah kopi yang memenuhi sudut bibir kanan kiri.

Sruput lagi….. srupuuut. Nikmaat, panas dan harum serta segar memenuhi tenggorokan dan menggairahkan raga.

Bicara pilihan, beberapa bean tersaji dari fullwash, honey, wine hingga yang lainnya dengan  basic tetap kopi arabica gununghalu.

Setelah tuntas segelas sajian panas kohitala berpindah tempat ke perut, dengan basa basi dan membayar sajian serta 3 bungkus bean arabica gununghalu aneka proses, maka pamitlah yang menjadi momen pemisah. Mungkin besok lusa bisa kembali bersua.

Selamat sore dan mengakhiri hari minggu ini dengan bersiap rapat online lagi yang tentu lebih tenang karena ditemani persediaan kopi dari tempat yang penuh cerita warna warni. Wassalam (AKW).

KOPI KESEMPURNAAN

Memaknai ketidaksempurnaan..

Photo : Ngopay Bray / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah gelas unik perpaduan bambu dengan stainless di bagian dalam memberi sebuah makna keterpaduan yang mendalam.

Dari luar terlihat elegan dan ramah lingkungan sekaligus bisa menyerap panas dari air yang akan disajikan disisi lain bahan stainless menjaga kepanasan eh kehangatan kopi terus stabil dan lebih tahan lama.

Maka seiring ketersediaan kopi yang ada adalah arabica wine gununghalu, tanpa basa basi segera di giling dengan grinder ukuran 2 ke 3. Lalu segera dituangkan ke gelas bambu stainless ini. Lalu diseduh dengan air panas dengan suhu (kira2) 93° celcius…. caranya gampang. Biarkan air mendidih dulu, setelah mendidih hitung dalam hati 30 detik, baru dituangkan.

Dijamin suhunya turun jadi 93° celcius?”

Yaa nggak juga, ini mah ikhtiar. Minimal mendekati hehehehe” jawabanku sambil terkekeh. Meskipun dari pengalaman nyeduh kohitala (kopihitamtanpagula) ini adalah cara yang praktis dan mendekati suhu yang diharapkan.

Setelah air panas tertuang dan menubruk bubuk kopi yang sudah tak sabar menanti di dasar gelas, maka terjadi pergumulan alami dan menghasilkan ekstraksi.

Crema kopi menyeruak di permukaan dan keharuman memenuhi seantero ruang hati yang ternyata sedikit tergalaukan karena sebuah harapan tertunda dan harus kembali berjuang untuk meraih asa.

Photo : Kopi tumpah / dokpri.

Setelah di putar dengan sendok kecil, lalu dibiarkan sesaat sebelum disruput nikmat. Tapi disinilah letak kejadiannya. Akibat konsentrasi yang kurang, sendokpun jatuh sambil membawa cairan kopi membasahi kertas putih, “Adduh”.

Tapi apa mau dikata, semua sudah terjadi. Buih kopi yang tumpah menjadikan kotor alas putih yang diset sempurna.

Tapi….  ternyata jika kita ubah sudut pandang, maka akan hadir makna berbeda.

Justru dengan tumpahan crema kopi akibat sedikit teledor malah bisa menjadi objek photo yang menarik, dan quote of the day tetiba mampir di benak ini. Yaitu, “Keindahan terkadang hadir dari ketidaksempurnaan”

Sudut pandang yang diambil adalah dengan kerangka bersyukur, sehingga insiden tumpah kopi yang bisa saja merusak mood hari ini, tidak terjadi.

Yang terjadi adalah kepasrahan dan syukur atas nikmat kehidupan.

Akhirnya saat menyruput tiba dan perlahan tapi pasti pisahkan bubuknya didasar cangkir sehingga hanya cairan kopi yang bisa dinikmati. Alhamdulillah Pahit dan asam atau aciditynya memberi sebuah pesan bahwa kenikmatan itu miliki aneka rasa dan rupa.  Wassalam (AKW).

Latte & Konsentrasi malam.

Kembalikan Konsentrasiku….

Photo : Kolam renang Hotel Preanger / dokpri.

PREANGER, akwnulis.com. Buka puasa penuh kebahagiaan, disambut dengan sukacita dan rasa syukur tiada hingga dikala bisa mencapai hari ke-13 di bulan Ramadhan 1442 H ini. Seteguk qurma dan 3 butir air mineral menjadi pembuka, dilanjut shalat magrib dan bersiap makan besarr…. tapi sebagai peran pencitraan, photo yang hadir adalah sepiring salad, padahal… ada kawan-kawan eh makanan lain yang menemani persuapan malam ini.

Dilanjutkan dengan shalat tarawih berjamaah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yaitu menggunakan masker dan jaga jarak, plus membawa alat shalat masing-masing.

Bismillah…..

Nah, beres tarawih bersama ternyata ada pertemuan lagi…. alamak, udah nggak konsentrasi, pengen segera pulang. Bercengkerama dengan keluarga kecil yang setia menanti.

Photo : Buah & sayur pembatal / dokpri.

Tapi, tugas adalah amanah dan dengan segala keikhlasan hati, musti dijalani. Meskipun tentu ada sejumput rasa keluarga yang menyeruak tanya, kenapa belum juga pulang untuk segera bersua.

Disinilah peran hati dan setampuk doa, semoga keluargapun bisa ikhlas dengan keadaan dan saling mendukung demi kemajuan.

Sebagai penguat konsentrasi dalam pertemuan malam ini, maka kehadiran secangkir cafelatte adalah jawaban tepat. Perpaduan susu skim dan espresso berpadu lembut memenangkan hati dan memberi efek untuk memgembalikan konsentrasi.

Berpikir lebih fokus dalam kerangka solutif dengan berusaha mengarahkan sebuah keputusan yang mengerucut serta dapat ditentukan tingkat keberhasilan dalam implementasinya.

Emang ngobrolin apa?”

Pertanyaan kepo hadir menemani, tapi bukan jawaban yang hadir untuk menghilangkan dahaga keingintahuan tetapi senyuman terbaik yang biasanya jitu menunda rasa penasaran orang lain terhadap aktifitas kita.

Photo : Cafelatteku Yummy / dokpri.

Mungkin tidak lama rasa penasaran itu akan kembali dengan pertanyaan yang sama, atau malah terlupa karena ada urusan lain yang lebih prioritas di masing-masing sektornya.

Akhirnya pertemuan tuntas dan hasilkan butir-butir kesepahaman yang harus ditindaklanjuti. Keluar dari tempat pertemuan, Alhamdulillah berkesempatan memgambil gambar suasana kolam renang di suasana malam. Ada lampu-lampu berwarna yang menceriakan suasana serta rasa yang berbeda. Maka tak lupa diabadikan untuk disajikan di blog ini.

Yuk ah pulang, untuk bersiap besok berjibaku dengan tugas rutin dan tugas NRP (nampi rupi-rupi padamelan)… atau menerima tugas – tugas lain diluar tupoksi yang kerap menghampiri di senin pagi.

Semangaat Kawan, jangan kendor. Wassalam (AKW).