Kopi Hitam & Laut Ujung Genteng

Akhirnya bisa menyeruput kopi hitam di tepi pantai, alias ngopay & mantay… Sruput.

UJUNG GENTENG, akwnulis.com. Deburan ombak dan semilir angin pantai akhirnya menyapa raga dan indra perasa dengan harmonisasi kedamaian. Setelah hampir 2 tahun tak bisa beranjak dengan segala keterbatasan, maka hari ini pertemuan dengan sang laut kembali terjadi.

Perjalanan panjang 7 jam lebih dari Bandung Ke Ujung genteng ini terbayarkan oleh sapaan alam yang begitu menggugah rasa memberikan sensasi berbeda serta mereguk ‘Vitamin Sea’ untuk menguatkan jiwa agar semakin bersyukur atas rahmat dari Allah Sang Maha Kuasa.

Tentu ini semua terjadi karena takdir-Nya, tetapi sebagai mahluk lemah ini nilai ihtiar perjalanan adalah sebuah catatan penting kehidupan. Dengan berbagai judul acara dan kegiatan, yang pasti kali ini bisa bersua kembali dengan pantai.

Yup, pantai di Ujung genteng ini cukup panjang dan ada beberapa lokasi, tetapi yang dikunjungi hanya 2 saja yaitu pantai ciracap yang sekarang sedang di datangi dan selanjutnya pantai pangumbahan dimana terdapat konservasi penyu yang menjadi andalan.

Nah, tak lengkap rasanya perjalanan ini tanpa ditemani sajian si kopi hitam. Maka segera mencari di kios – kios terdekat saja.

Lha nggak bawa kopi asli?”

Kebetulan keabisan lagian tadi malem sudah menikmati kohitala di Pelabuanratu kok”

Oalaah ternyata, ya sudah ditunggu tuh tulisan yang ngopay di pelabuanratunya”

“Oke, ditunggu yaa”

Percakapan imajiner melengkapi langkah tertatih ini, karena kaki kiri membengkak akibat keseleo di kantor pada hari sebelumnya.

Mendekati kios kecil, seorang ibu menyambut kedatangan. “Wilujeng sumping cep, badè ngaleueut naon?” (Selamat datang, mau menikmati apa?”)

Segera pesan kopi hitam yang ada, meskipun tentu kopi gunting.. it’s okey.. less sugar is very important.

Maka sambil menunggu kopi hitam tersaji, segeralah berjalan perlahan ke pantai, menapaki pasir pantai yang bersih memutih lalu menginjak air pantai yang menenangkan diantara perahu nelayan yang sedang beristirahat setelah lelah mencari ikan di tengah lautan.

Kembali ke bibir pantai dan telah tersaji kopi hitam bercangkir hitam dengan tulisan : Be Awesome Today but First, COFFEE.

Satuju pisan èta caption… cucok markocok.

Langsung perlahan tapi pasti… disruput guys.. hmmm… nikmat, kepahitan kopi ditemani deburan ombak pagi… ruar biasa, Alhamdulillahirobbil alamiin.

Inilah tulisan ngopi di pantai kali ini, pantai yang pertama. Sebuah keinginan menggebu ingin bercengkerama dan berenang di air laut terpaksa diurungkan karena kondisi kaki yang tidak memungkinkan. Cukuplah sedikit berendam, berpose dan duduk menikmati deburan serta angin kencang sambil menghabiskan kopi hitam di cangkir hitam.

Tulisan yang pantai pangumbahan, nantinya, nunggu mood dan kesempatan. Hatur nuhun. Wassalam (AKW).

NGOPI Gedung Negara & Arabica Manglayang.

Kembali beredar sambil menikmati kopi hitam tanpa gula, edisi Cirebon.

CIREBON, akwnulis.com. Pahitnya kopi hitam tanpa gula adalah sebuah kecanduan hakiki. Semua memang pahit jikalau kopi tanpa gula, tetapi diantara kepahitan itu terselip rasa berbeda dan pengalaman aneka rupa. Karena bisa memaknai perbedaan dari kepahitan rasa ini adalah anugerah tak terkira.

Kali ini raga dan langkah agar menjauh menuju pantura, tepatnya bergiat di kota cirebon dengan tema KOPI NURDIN (nurut dinas) alias terbawa hadir karena urusan pekerjaan.

Nah laporan kerjaan mah ntar dituangkan dalam nota dinas laporan, tapi kalau urusan ngopay maka disinilah tempatnya menuliskan rasa dan kenangan.

Kopi yang pertama tersaji adalah kopi sachet biasa yang diseduh tanpa gula sebut aja merknya kopi kapal api. Untuk rasa ya begitulah flat tanpa banyak rasa-rasa, tetapi suasana dan sajiannya yang bikin berbeda. Pertama cangkirnya cangkir dinas berlogo pemprov jabar dan kedua lokasi kopi tersaji di ruang tamu gedung negara eks keresidenan Cirebon yang penuh sejarah dan kejayaan masa lampau.

Maka dihadirkan dokumentasi kemegahan gedung negara sebagai background yang melengkapi secangkir kohitala (kopi hitam tanpa gula) untuk diabadikan sebelum akhirnya tandas di sruput untuk menikmati dahaga kepahitan kopi yang melenakan.

Alhamdulilahirobbil alamin.

Lalu melengkapi sajian kohitala yang sebenarnya, sebelum pulang ke bandung maka searching-lah lokasi tempat yang menyajikan kohitala dengan metode seduhan manual V60.

Ternyata gayung bersambut dengan hadirnya tawaran dari seorang kawan untuk berdiskusi sambil menikmati sajian kopi… tentu menyenangkan… berangkaaat.

Kopi kedua adalah kopi hitam asli tanpa gula dengan biji kopinya arabica manglayang. Proses seduhan manual dengan filter dan corong V60 menghadirkan sebuah rasa pahit yang kaya makna. Bodynya medium dengan acidity seimbang, hadir selarik segar lemon dan brown sugar sebagai after taste dari sajian kohitala ini. Sruput yummy.

Sajian kohitala ini semakin lengkap dengan menu makanan beratnya yaitu steak yang merupakan pilihan menu spesial di Chantel food space Cirebon. Nyam nyam…

Itulah cerita ngopay kali ini, selamat memaknai kepahitan rasa dengan syukur tiada kira. Wassalam (AKW).

KOPI BEKONG – Kopi akhir tahun.

Catatan kecil 311221 & kopi.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari terakhir di penanggalan masehi sedang dijalani. Tak terasa kenikmatan hidup di dunia sehingga setahun lamanya akhirnya berakhir di 31 desember 2021. Banyak rencana kegiatan yang muncul di benak ini untuk memanfaatkan hari terakhir tahun ini, termasuk mengikuti tim monitoring dan evaluasi tempat wisata di sekitar bandung raya.

Tapi kembali, niat beredar tipis-tipis diurungkan karena dengan berbagai pertimbangan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya diputuskan untuk ‘jaga kantor’ saja seperti biasanya. Karena hal – hal administratif menjadi menjadi super penting di saat pergantian tahun ini, terutama yang terkait penganggaran. Baik secara phisik ataupun via input aplikasi.

Ternyata benar putusan yang diambil, beberapa urusan harus dituntaskan hari ini. Karena besok adalah tahun depan, tahun 2022.

Diawali rapat pembahasan penyesuaian anggaran di pelataran belakang monumen perjuangan, dilanjutkan rangkaian pertemuan di riau 209 baik dengan mitra juga dengan bapak bos yang baru plus menghadiri alih jabatan beberapa rekan yang memegang amanah menjadi pejabat fungsional adyatama pariwisata dan ekonomi kreatif.

Paling krusial adalah pertanggungjawaban anggaran, dilanjutkan dengan pengajuan gaji januari 2022. Juga peralihan jabatan dari bapak bos, mempengaruhi juga proses perubahan secara administratif. Itu semua harus dituntaskan di hari terakhir ini.

Sambil menjalani hari, rasa ingin menikmati sajian kopi datang dengan sendirinya. Tapi kopi asli, kohitala.

Sebenernya pas rapat pagi di pelataran Monju sudah hadir traktiran kopi, produk Kopi Manja, hanya saja karena bergula sehingga secara halus ditolak dan akhirnya menjadi milik teman yang datang belakangan dan memang kehausan.

Setelah makan siang hadir kembali kopi bergula, kali ini Kopi Djawa tak bisa ditolak karena sudah tersaji dan dinikmati bersama bapak bos baru, Alhamdulillah.

Namun jiwa kohitala tetap berontak dan berharap meraih kenikmatan dengan sajian kopi tanpa gula dengan metode manual brew… aww sakaaw.

Akhirnya setelah kokoreh di dapur kantor, tersisa sebungkus kopi drip dan semoga bisa mememuhi kegundahan ini. Kopi drip bag Red cherry… lumayaaan.

Langsung buka dan… halah clingak clinguk, cangkirnya kok nggak ada?… ya sudahlah gelas gede tempat air putihku bisa dijadikan tempat sajian…. dan jadilah bernama KOPI BEKONG.

Tahu khan bekong?.. sebutan untuk gelas gede dari alumunium.. ya meskipun ini gelas kaca tapi ukuran sebekong juga…. heuheu maksa.

Hasil seduhannya langsung disruput, lumayan ada rasa kopi asli yang hadir meskipun hanya selarik tapi lumayan sedikit mengobati kerinduan yang memuncak ini.

Sruputan dua kali langsung tandas, kenikmatan segera berimbas dan semangat kembali beringas untuk mempercepat penyelesaian tugas di akhir tahun yang akan segera melewati batas dan menyongsong tahun 2022 dengan bergegas. Wassalam (AKW).

Arabica Puntang – Warsun.id

Bersua dengan kenyataan dan se cangkir kopi mini

SOREANG, akwnulis.com. Semilir angin sore menyapa raga tanpa basa-basi ditemani rintik hujan yang menyegarkan keadaan. Lalu lalang kendaraan terasa tenang tanpa teriakan klakson yang mengganggu pendengaran. Semua terlihat nyaman dengan keadaan masing – masing.

Tetapi ternyata masih ada yang tertatih dan belum berdamai dengan keadaan, perlahan mendekat dengan tatapan sayu dan badan lusuh, tentu di lengkapi aroma kesulitan yang dijalani sehari-hari. Dalam hati ingin membantu dengan segepok uang agar segera merubah kehidupan, tapi apa daya dengan segala keterbatasan. Hanya selembar uang ungu yang mewakili perhatian, semoga tawakal dan selamat menjalani kehidupan.

Setelah menghilang dari pandangan, giliran waitres yang sudah hadir di depan dengan senyum manisnya, “Silahkan scan barcode untuk menunya kakak”

Cekatan jemari lentik membantu scan dan memilihkan menu makanan serta minuman dan tanpa banyak cingcong pilihannya adalah sajian kopi hitam tanpa gula yang bakal menjadi obat bengong.

Pilihan kali ini jatuh kepada arabica puntang, si kopi legendaris dari bandung selatan. Di minta dibuat dengan manual brew V60, tentunya dengan panas yang tepat yakni aliran 92 derajatan.

Sambil termangu menanti sajian kohitala arabica puntang, kembali hadir seorang ibu muda menggendong anak bayi dilengkapi kotak speaker lengkap dengan mic untuk ber solo karaoke dangdutan.

Tak banyak tanya, sebuah lembaran coklat berpindah tangan dan dengan sumringah diterima tanpa banyak tanya lalu pergi dengan tergesa.

Silahkan kaka, kopinya” Sebuah suara renyah membuyarkan lamunan. Dibalas dengan senyuman tulus terima kasih. Alhamdulillah sudah tersaji kopi hitam tanpa gula dengan manual brew V60.

Tanpa banyak diskusi maka kopi di bejana berpindah ke gelas kecil putih dan langsung dinikmati… srupuuut.. nikmaat. Bodynya tebel dan  aciditynya setrong dilengkapi arima khas dan aftertastenya adalah fruity dan selarik nangka plus kacang tanah… segerrr.

Betapa sebuah nikmat tidak harus di tempat yang super mewah, tetapi cafe biasapun bisa hadirkan rasa, tinggal bagaimana kita bisa memaknainya.

Sruput lagi…. segaaar. Kembali memandang ke luar dan lalu lintas terasa begitu lengang serta rintik hujan telah hilang berganti siluet pelangi penuh harapan. Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Cafe Warsun.id – Soreang.

KOPI PANDAN

Nurut aja sama Mamah…

BANDUNG, akwnulis.com.Sebuah sajian minuman berwarna terang menari dihadapan, memberi rasa penasaran dan sedikit ketakutan. Penasaran sangat jelas karena tampilannya menggiurkan dan terlihat segar. Sementara rasa takut menyelusup karena pasti ini bukan lagi murni sajian kopi hitam tanpa gula, tetapi dicampur berbagai rasa yang mungkin lebih nikmat namun berpotensi bahaya.

Hanya saja sebuah tulisan yang menempel diatas tembok bercahaya kuning keemasan memberikan pencerahan. Bahwa apapun yang dikatakan mamah itulah aturan mainnya hehehehe alias ‘Mama is always right’.

Kata mamah barusan, “Sekali- kali boleh atuh minum sajian kopi dicampur unsur lain agar nggak monoton, ada variasi

Sebagai ungkapan tulus dan angin segar bagi pelanggaran hukum kohitala kali ini. Maka tanpa komando kedua, langsung disegerakan untuk di sruput pada kesempatan pertama.

Rasanya nak enak kawaan, manis dan harum pandan lho.

Ya iya atuh, khan pesennya juga kopi pandan, jelas sudah pake pandan. Tapi gula dan susu nggak dipesan… eh ternyata ikutan. Menyatu menjadi satu sajian yang ciamik dan nikmat…. eh tapi menurutku terlalu manisss… maklum sudah terbiasa minum kopi tanpa gula dan tanpa kawan – kawan kopi lainnya. Klo kopi pandan ini bejibun, dari mulai kopi, tambah sirup pandan, tambah gula, juga susu dan setumpuk harapan barista… jiaah ahay.

Tetapi kembali lagi, karena mamah sudah bersabda maka segera nikmati tanpa jeda. Yakinilah bahwa mama is alway right. Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Resto NYONYA DELIGHT – KBP.

Kopi Burangrang Kertawangi

Biarpun didera kemacetan, tapi akhirnya bisa berdamai dengan sruputan.

CIMAHI, akwnulis.com. Ternyata beredar di hari minggu di kota menguras emosi dan tenaga. Apalagi beberapa jalur ternyata padat merayap tanpa bisa menghindar atau berbelok melewati jalan tikus. Karena ternyata jalan tikus… atau jalan alternatifpun ternyata dipenuhi mobil – mobil plat luar kota yang beredar di Kota Bandung ini.

Istilah jalan tikus menjadi sebuah sebutan populer untuk menyebut jalan alternatif dalam rangka menghindari kemacetan. Jangan khawatir dengan sebutan binatang pengerat ini, karena jalannya pasti bisa dilewati mobil meskipun tentu lebih kecil dari jalur jalan utama.

Maka aplikasi waze dan gugel map ternyata menjadi perangkat wajib untuk menuntun kita dengan mata langitnya agar terhindar dari rasa kesel dan kecewa karena terjebak atau tersendat dalam pusaran kemacetan yang melanda berbagai titik sepanjang perjalanan.

Sementara si tikus berbangga hati, karena jikalau kemacetan menguasai jalan utama maka si tikus akan sering disebut. Coba saja bilangnya jalan anjing atau jalan kucing, pasti yang diajak ngobrol akan bingung. Padahal anjing dan kucing lebih besar dari tikus… atau jangan – jangan sekarang tikus sudah berubah jauh lebih besar, entahlah.

Nah kepenatan dan kepegalan menembus kemacetan biasanya diobati dengan sebuah pemberhentian yang menyajikan harum segarnya sajian kopi hitam tanpa gula dan tentunya kopi asli yang di giling mendadak, proses seduh manual dan akhirnya tersaji penuh kenikmatan.

Apa mau dikata, harapan tinggal harapan. Sementara kemacetan tak mau kompromi dengan keinginan. Akhirnya diputuskan minggir ke kiri dan berhenti di warung kecil demi menjemput si hitam nikmat yang mendamaikan.

Alhamdulilah, tersaji secangkir kopi biasa yang tak tahu asal mulanya. Secangkir kopi hitam dengan lingkaran busa hasil kudekan telah datang menemani kepenatan. Feeling sih kopi gunting, tapi ya sudah mari kita coba.

Bismillah, sruputt….. hmmm… kopi biasa. Flat tanpa rasa acidity berbeda, hanya kepahitan singkat belaka yang melintas minim makna. Ya minimal ada kepahitan yang sedikit mendamaikan daripada termangu dalam kungkungan kemacetan yang nyata.

Tuntas menghabiskannya, lalu membayar dan pamitan ke teteh warung. Perjalanan dilanjutkan dengan sebuah harapan besar bisa berjumpa selanjutnya dengan kopi sebenarnya…. heuheuheu lebay, maksudnya kopi yang proses manual terutama V60 yang menjadi kesukaan.

Perjalanan berlanjut dan tugas segera dituntaskan meskipun harus menembus kemacetan dan ditemani gerimis hujan.

Akhirnya setelah balik kanan dan kembali menuju kediaman, saatnya hunting kedai kopi yang bisa menyajikan kohitala sesuai selera tanpa perlu basa basi dan banyak bertanya sebelum akhirnya sampai di rumah untuk kembali berkumpul bersama keluarga.

Gayung bersambut, sebuah cafe kecil dengan posisi agak menjorok ke dalam jikalau dijangkau dari jalan utama seolah menunggu untuk didatangi dan disapa.

Ternyata tersaji kohitala dengan beberapa pilihan bean yang menggugah selera. Tetapi kembali bahwa kopi jabar adalah kebanggaan, pilihannya adalah kopi arabica burangrang kertawangi dengan proses natural…. yummmy, akhirnya jumpa kohitala yang sesuai dengan harapan sang pemuja.

Aroma harum menyapa hidung saat bean digiling menjadi serpihan atau butiran kasar dan semakin tak sabar untuk menikmatinya.

***

Setelah proses manual brew tuntas, hadirlah secangkir kopi hitam tanpa gula dengan metode V60 yang menggugah selera sekaligus menghilangkan penat dan pegal berganti optimisme penuh kenikmatan.

Acidity dan body medium lite menemani sore menjelang malam kali ini, panasnya cukup dengan kisaran 92° derajat celcius dikala proses penyeduhan. After tastenya frutty hadir selarik lalu berpadu dengan tamarind dan citrun, cukup menyegarkan.

Srupuut… ahhh… segaar.

Meskipun gerimis melebat masih menguntit tanpa ampun, tapi suasana hati lebih tentram karena terobati oleh secangkir kopi hitam yang menenangkan. Menemani akhir weekend minggu ini untuk bersiap kembali dengan bejibun tugas di senin pagi. Wassalam (AKW).

Kohitala Preanger.

Sruput lagi brow…..

BANDUNG, akwnulis.com. Parade pidato seremoni silih berganti dilanjutkan dengan kultum (kuliah ceramah tujuh menit) dan rangkaian kegiatan lainnya serta dikawal oleh suara musik lengkap dengan homeband yang memancing untuk sedikit bergoyang dan bernyanyi.

Tema ceramah tak kalah menarik, dimana membahas tentang banyaklah memuji bari meminta atau disingkat Puji Dulu Baru Minta (PuDuBaMi). Sebuah tuntunan universal yang tercermin dalam 7 ayat Q.S Alfatihah. 5 ayat awal adalah ayat yang bertema pujian atau memuji Allah dan 2 ayat terakhir barulah permintaan.

Inilah salah satu nilai utama yang harus menjadi pegangan dalam mengarungi kehidupan.

Selanjutnya tema senantiasa memuji adalah refleksi diri untuk senantiasa bersyukur, memgedepankan swasangka baik dan tentunya memaknai detik demi detik kehidupan ini dengan optimisme.

Begitupun dengan kehadiran kopi hitam kali ini, atau disebut Kohitala (kopi hitam tanpa gula) harus disyukuri dan bertabur pujian kepada Illahi yang Maha Kaya. Karena tanpa perlu bersusah payah menanam pohon kopi, merawatnya, memanennya, meroastingnya, membelinya hingga berproses menjadi sajian hitam menggugah selera.

Diawali dengan kalimat, “Mau teh atau kopi om?” yang begitu merdu terdengar di telinga kiri disuarakan si pelayan muda yang cekatan.

Sebuah anggukan kecil dan suara lirih, “Kopi” langsung dibalas senyum tersembunyi dibalik masker pink dan seketika dituangkan sajian kohitala yang harus segera dinikmati.

Maka cara bersyukur selanjutnya selain memuji keagungan tuhan atas kemudahan hadirnya kohitala ini adalah membuat sajian kohitala ini abadi. Yaitu dengan cara dokumentasi, alias diabadikan dalam bentuk photo. Tentu dengan sisi pengambilan photo sesuai selera dan ujung telunjuk menyentuh tombol shooter kamera di smartphone.

Tring, sajian kohitala telah tercapture sempurna dan selanjutnya dihiasi dengan taburan kata untuk bisa disajikan dihadapan sidang pembaca tanpa perlu repot – repot mencerna makna. Have a nice weekend kawan, Wassalam (AKW).

KOPI TUGU JOGJA

Antara sruput & kenangan.

JOGJA, akwnulis.com. Gemericik air hujan perlahan tapi pasti bertambah lebat, mengiringi malam yang penuh kedamaian. Angin memberikan kesempatan sang butiran hujan menyapa raga karena posisi meja outdoor, tetapi tidak mengapa karena sebuah keyakinan terpatri jikalau hujan terjadi adalah salah satu berkah Illahi Robbi.

Kenapa nggak milih meja di dalam mas?”

Hanya senyuman yang hadir menjawab sementara pikiran tersenyum simpul, “Justru ini meja terbaik yang bisa langsung menghadap tugu jogja dan menyerap asa dalam suasana sekitarnya” meskipun memang butuh pengorbanan, ya itu tadi tersapu dan tersapa tetesan air hujan yang terbang dibawa oleh nakalnya angin malam.

Tapi hujan tak selamanya lebat, ada saatnya berhenti dan hanya berniat menyirami bumi serta memberi ketenangan hati. Apalagi sajian kopi yang sedari tadi pagi sudah ada di pelupuk mata akhirnya bisa nyata, kopi manual brew V60 tanpa gula dan tanpa teman – teman lainnya seperti syrup, ice cream, creamer, bubuk coklat dan susu. Inilah kohitala, kopi hitam tanpa gula yang digiling mendadak dari beannya lalu diseduh secara manual menggunakan corong V60.

Meskipun lupa menanyakan beannya apa, tapi suasananya dapet banget guys.. antara sajian kopi dan lokasi. Sebuah lokasi ikonik di kota jogja, lha selain jalan malioboro maka tugu jogja juga menjadi derajat penentu keberedaran di kota penuh kenangan ini.

Tak terasa hujanpun berhenti dan memberikan pemandangan ciamik yang harus disyukuri serta ditafakuri. Semuanya adalah atas ijin dan kehendak Illahi, bagi mahluk hanyanya berusaha dan berikhitiar serta dokumentasikan dan akhirnya ‘dipamerkan’ di medsos sendiri demi memunguti jempol jempol virtual dan komentar yang hadir di laman dunia maya.

Padahal yang terpenting adalah mensyukurinya dan tak lupa memohon ampun kepada Tuhan atas dosa dan kekhilafan. Tentunya menyeruputnya wajib banget, jangan lupa baca Basmallah (bagi umat muslim).

Sruputt….. Nikmaaat…. segarnya sajian kopi hitam tanpa gula yang diseduh manual memberikan sensasi berbeda yang penuh kedamaian. Dilengkapi dengan pemandangan malam di tempat yang penuh kenangan… sungguh kombinasi yang tak terlupakan.

Selamat bermalam minggu kawan. Jangan lupa ngopi dan mensyukuri hari. Wassalam (AKW).

Kopi Klotok Jogja

Menikmati Kopi Klotok di tempatnya.

SLEMAN, akwnulis.com. Mentari masih bersembunyi dibalik semburat janji, tetapi cahaya terangnya sudah mulai merata di seantero kota yang selalu ngangenin untuk dijambangi.

Maka meskipun lelah masih sedikit tersisa setelah menjalani 6,5 jam duduk di gerbong 11D KA Mutiara Selatan tetapi semangat menikmati kenangan di kota gudeg adalah kewajiban heuheuheu sebelum jam 10 pagi harus bergabung pada sebuah meeting resmi yang tentu penuh seremoni.

Maka bermodalkan cerita testimoni dan ulasan yang bertebaran di laman google dan medsos maka diputuskan untuk sarapan di tempat yang sudah buka tentunya dan berlabel ‘kopi’.

Sungguh bersyukur setelah 2 tahun terdiam dan terkungkung keterbatasan karena PPKM dan berbagai istilah lainnya. Kali ini pecah telor dan bisa piknik lagi luar kota…. eh kerja lagi luar kota.

Setelah survey super singkat dilengkapi dengan perenungan (karena masih ngantuk maksudnya 🙂 )… maka dipilih Warung Kopi klothok yang lokasinya menuju utara kota yogya dan cukup jauh, memakan waktu perjalanan 35 menit.. lumayan juga. Tapi keburu ah, lagian di google disebutkan jam 07.00 wib udah buka kok, trus yang lebih penting adalah memiliki tempat makan dengan alam terbuka. Ini menjadi prasyarat pribadi karena masih khawatir atau waspada dengan kerumunan. Apalagi makan minum, dipastikan semua buka masker… ya khan?

***

Dibenak ini yang terbayang awalnya adalah sajian kopi asli yang bernilai tradisional dengan metode manual brew model kopi tubruk dan menghasilkan rasa yang bisa terbagi dari sisi body, acidity dan after taste.

Semangaat, berangkaaat… Bismillah.

Sambil raga bergerak menuju titik tujuan, iseng lagi buka google, ternyata banyak yang namanya kopi klothok hanya saja yang sudah buka sejak pagi adalah warung kopi klothok yang sedang dituju ini yaitu yang terletak di Jalan Kaliurang KM16 Pakem Binangun – Sleman.

Setelah 37 menit perjalanan, maka tibalah di sebuah tempat yang disebut Warung Kopi Klothok jogja ini… walah sudah penuh parkiran.. berarti banyak yang datang nich.

Cusss… ah.

Oh iya untuk cerita tentang makanannya nanti di tulisan selanjutnya. Sekarang mah urusan kopi dulu… kopi klothok.. eh kopi klotok… kelebihan huruf H… tapi ada juga yang nulis pake h.. ya sudahlah terserah.

Ternyata kawan, setelah interogasi halus dan penuh kelembutan maka didapat sebuah kesimpulan bahwa kopi klotok ini adalah lebih kepada merk bukan sajian kopi manual brew yang terbayang tadi di kepala.

Tapi tidak mengapa karena tergantikan oleh vibes yang mendamaikan suasan hati dan sajian kuliner yang memiliki nilai tersendiri (ntar ulasannya ya).

Kopi klotok ini adalah sebuah sajian kopi biasa yang dimasak dengan air panas dan gula dengan bahan dasar bubuk kopi. Nah pada saat dipanaskan airnya dan mendidik maka terdengar suara klotok klotok yang khas dan itulah yang menjadikan nama kopi klotok.

Bicara rasa tentu adalah kopi gula panas biasa, tidak bisa menilai tentang bodi – acidity – dan after tastenya. Tetapi yang menarik adalah suasana alami dengan meja kursi kayu masa lalu ataupun mau lesehan bertikar di halaman bersama keluarga sambil menikmati pemadangan gunung merapi.

Sebagai teman nyruput kopi maka dipesan juga sepiring goreng pisang dan ketan goreng agar melengkapi sarapan pagi ini.

Sruputtt…. hmmm nikmaat.

Selamat pagi, salam dari Jogja. Wassalam (AKW).

Kemalasanmu begitu menggemaskan.

Tapi sangat sukaaaa….

CIKUTRA, akwnulis.com. Pagi masih sendu dikala bersua dengan kemalasanmu. Tetapi sentuhan kelembutan akhirnya meluluhkan sebuah niat untuk menjauh, malah kembali dekat dan penasaran dengan segala tindak.

Kerlip mata sayumu menyiratkan kemalasan, tetapi itulah daya tarikmu. Disaat kedua mata tertutup dan dagu menempel beralaskan kedua tangan, terlihat betapa nikmatnya menjalani kehidupan.

Saat sebuah tanya meluncur, “Apa kabar kawan?”

Baik Kaka”

Nikmat sekali dikau merem melek di pagi hari”

Dikau menjawab sambil tersenyum membuas, “Ini hiburan termurah dan termudahku kawan, ngantuk ya tinggal bobo, setujukan?”

Sebuah anggukan dan sedikit senyum kepasrahan harus ditampilkan, demi menjaga mood di pagi sendu ini kawan.

Trus selain bobo, apa lagi hiburan mu?” Rangkaian kata muncul karena penasaran.

Ini hiburan selanjutnya” gitu jawabannya sambil memperlihatkan keller kaca berisi bean arabica gayo fullwash yang tinggal sepertiga.

Buset, ternyata penyuka kopi juga. Cocok dong. Akhirnya sambil merem melek tetap berbincang dan dikenalkan sama Kak Firda, Barista Kopi Kitaku.

Munculllah urusan teknis manual brew, diawali dengan panas air seduhan 92° celcius, 15 gram beannya hingga komposisi dan posisi badan pas nyeduh bean agar berekstraksi sempurna…. Yummy… ternyata menikmati proses juga menyenangkan kawan.

Akhirnya sebuah sajian manual brew V60 hadir memenuhi ruang dahaga pagi ini. Disruput perlahan sambil tetap memantau sesosok mahluk malas yang sangat menggemaskan.

Selamat minum kawan.

Selamat menikmati hiburan paling sederhanamu sekaligus bagaimana menikmati sebuah proses yang berujung kenikmatana juga. Alhamdulillah… srupuut. Wassalam (AKW).