Kopi Susu Moeloek.

Menemani anak (belum) gadis sambil menikmati kopi susu praktis.

Photo : Sajian Kopi Susu Moeloek dan kohitalanya / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Seharian disibukkan dengan aktifitas bersama anak dan istri yang sudah sama-sama merasakan efek bosan di rumah, pengen ketemu temen sekolah, pengen jalan-jalan dan seabrek keinginan yang harus dikendalikan demi mengikuti anjuran negara untuk tetap berdiam dirumah, memutus penyebaran virus corona.

Pagi-pagi sibuk berjemur sambil rebutan saluran yutub yang menyajikan tutorial senam. Terjadi perebutan video karena yang satu pengen video zumba anak sementara ibunya memilih zumba dewasa… ayahnya mah kalem saja sambil nonton zumba-zumba (baca : lumba-lumba) sambil menikmati zumba-suoup (baca : Zuppa-soup)..

Lha katanya olahraga sambil moyan (Berjemur), kok malah makan?

Tiada jawaban hanya gumaman karena mulutnya lagi penuh hehehehehe….. Sarapannya segera dituntaskan karena harus segera melenggak lenggokkan badan yang lebar ini mengikuti irama ritmik yang enerjik dengan gambar video anak-anak kecil yang memggemaskan.

Oke deh, anak cantikku sudah lebih dulu berpeluh karena gerakan atraktif yang dia ikuti dengan susah payah versi yutub, maka bergabunglah diriku…. ikuti gerakan dengan iringan lagu-lagu anak kekinian : down by the bay, little farmer, i got a pony tail dan sebagainyaa…

“Kemon guys!!”

***

Tuntas olahraga dan berjemur, sambil bercanda dengan anak istri, mengantarkan hari menuju siang yang diharapkan penuh ketenangan ditengah gencarnya berita di berbagai media tentang penyebaran virus corona, “Yaa Allah semoga kondisi dunia, negara dan semuanya saat segera segera membaik, kembali ke keadaan normal, Amiiin

Photo : Kopi Moeloek siap menyeduh / dokpri.

Pandangan tertegun pada sebuah kotak krem yang dikirim seorang sohib. Sebuah kotak dus krem bertuliskan ‘Kopi Moeloek‘ mengingatkan diri untuk segera menikmatinya. Tanpa banyak tanya, langsung di buka dan didalamnya terdapat jajaran sachet berwarna krem yang terlihat praktis dan menarik.

Jemari tangan reflek bergerak maka di ambil satu sachet dan dibuka dengan sobekan tangan, klo yang mau rapih yaa pake gunting… monggo terserah itu mah.

Eh ternyata dalamnya ada sekantung kopi siap seduh (karena sudah ada dudukannya dari kertas di kanan kirinya) dan 1 sachet kental manis untuk campurannya… woaah harus segera di coba.

Petunjuk penyeduhannnya sudah ada, tinggal ikutin saja…

Sobek dulu kantung kopinya, dudukkan di gelas.. eh aku mah di server kopi aja. Terus kental manisnya disobek, tapi belum dicampur dulu.

Ambil air panas 150gr dengan gelas ukur dan tuangkan perlahan di kantung kopi yang sudah terbuka, pelan tapi pasti. Ada keharuman ringan menyapa hidung dan secara instans hadir sajian kopi hitam dengan kemasan praktis dan efisien.

Karena diriku menganut aliran kohitala (kopi hitam tanpa gula) maka seduhan kopinya saja yang dinikmati…. hmmmm rasanya ringan dan harum…. kepahitan flatnya ada tetapi lebih soft di lidah, kayaknya ini blended antara robusta dan (sedikit) arabica. Jadi penasaran, langsung saja kopinya ditanya, “Eh kamu robusta atau arabica?”

Kopi yang sudah diseduh terdiam tanpa kata dan itu membuat diriku senang, karena jika kopinya menjawab, pasti raga ini sudah meloncat karena kaget bin reuwas.. biarkan nanti sang owner ‘Kopi Moeloek‘ aja yang memberi jawaban.

Oh iya, karena taglinenya ‘Kopi susu‘ praktis, maka penggabungan kopi hasil seduhan dengan kental manis langsung dicoba di cangkir berbeda dengan pengujinya adalah istriku.

Kocek kocek dan sruput…..

Woah enak, rasanya pas juga praktis nih” celoteh istriku setelah menyeruput kopi susu Moeloek ini..

Alhamdulillah, jadi bisa dinikmati oleh dua aliran penikmat kopi. Ada kohitala dan nonkohitala. Kemasan praktis dan lengkap telah dinikmati, dan nilai pentingnya adalah dinikmati bersama.

Hatur nuhun kiriman kopi susu praktisnya bu Anita, jangan bosen ngirim yaa…. hihihihi… ngarep.

***

Photo : sketsa aktifitas di tenda / dokpri.

Ayah ayo kita masuk ke tenda” suara putri kecilku memecahkan konsentrasi yang sedang mereview sajian kopi ini.

Iya sayangku, bentar ayah photo sajian kopinya dulu yaaa”

“Oke ayah”

Setelah selesai prosesi menikmati dan mereview kopi susu ini maka berlanjut dengan kegiatan mengisi waktu di dalam tenda, tenda beneran supaya sang anak nggak bosan karena sudah 3 minggu berdiam di rumah.

Sruput kopi bisa jadi pilihan begitupun beraktifitas bersama anak rupawan. Selamat wiken kawan, Wassalam (AKW).

Janji pagi.

Sebuah janji yang butuh ekstra perjuangan untuk dipenuhi.

Photo : Treadmil sambil video call urusan kerjaan / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah janji adalah komitmen yang menjadi keharusan untuk dipenuhi. Meskipun terkadang angin kegalauan sering menghadirkan godaan sehingga membimbangkan perasaan untuk menundanya atau malah menelantarkannya.

Padahal semakin dibiarkan, sang janji tetap hadir dalam relung hati malah ditambah dengan janji-janji lain demi menutupi ketidakhirauan ini.

Kamu tèh janji sama siapa kang?”

“Janji pada diri sendiri”

“Har ituh, kirain janji sama siapa, sok atuh segera dipenuhi”

Raga terdiam meskipun pikiran norowèco (bacèprot… eh masih bahasa sunda, maksudnya cerewet bin bawel).. tapi tidak terucap secara harfiah karena diskusinya antara neocortec dan amigdala dengan disaksikan myelin yang tersenyum tanpa kata-kata.

Sebetulnya janji awalnya sangat sederhana, ingin menjaga berat raga ideal sesuai ketinggian yang merupakan kenyataan. Tetapi ternyata melawan atau mengendalikan diri sendiri adalah hal yang tersulit. Mendisiplinkan diri dan mengatur waktu untuk diri sendiri, ternyata begitu rumit dan super mudah tergoda.. aslina mang.

Biar badag (gendut) juga yang penting sehat” kata amigdala sambil ketawa-ketawa. Diaminkan oleh raga sambil….. tak kuasa melihat angka digital timbangan yang menunjukan batas psikologis garis PSK (pemuda seratus kilo)…. awww pemudanya sih memang, tapi itu sekuintalnya yang adaaaw….

Photo : Rapat via video conference / dokpri.

Apalagi ditambah dengan kebijakan tentang #WFH (working from home) yang musti lebih banyak di rumah…. alamak.. godaan semakin buanyak… tidak kemana-mana demi menjadi bagian pencegahan penyebaran virus covid19 tetapi harus pintar-pintar menjaga mulut.. maksudnya jangan sembarang waktu menghuapkan (memakan) makanan yang senantiasa tersaji di meja makan atau aneka cemilan yang stanby menunggu untuk dicicipi berulangkali.

Aturan kantorku tidak full di rumah bekerja tetapi menggunakan pola bergiliran tugas ke kantor dengan istilah menterengnya adalah flexible working arangement (FWA), yaitu pengaturan pekerjaan secara fleksibel dengan model shift terjadwal. Sehingga masih variasi dengan aktifitas pekerjaan biasa.

***

Balik lagi ke janji pengendalian diri, .. “Jadi gimana?”

Tentu berproses turun naik, dalam situasi saat ini maka cara terbaik adalah penyesuaian dan jaga mulut eh jaga diri… jika keluar rumah ikuti protokol kesehatan pencegahan virus dan jika jadwal ngendon kerja di rumah, jaga mulut dari asupan berlebihan terutama diluar jam makan yang seharusnya. Serta yang lebih penting adalah rutin berolahraga.

Selamat menjalani aktifitas hari ini kawan, mari saling mendoakan agar wabah ini cepat berakhir dan hilang dari muka bumi sehingga kehidupan kembali baik-baik saja. Wassalam (AKW).

SURABI – fbs

Surabi heula atuuuh….

FIKMIN # SURABI #

Surabi geulis ngèntèp dina piring, ngantosan diraosan. Aya nu dioncoman, aya ogè ditambih sarundèng, èta geuning parudan kalapa nu digorèng garing, raos pisan. Aya ogè surabi endog hayam, ngagabung oncom sarundèng, janten munu’u sagala aya.

Mana aya surabi polosna?

Tatag diwaler, “Teu aya mang, nu polos tèh janten barang antik, rata-rata parantos gaduh kapentingan

Nu naros imut sanaos manahna jamedud, asa teu nyambung tapi leres.

Surabi dina piring kantun dongèngna, margi teu kedah ètangan jam-jaman, cekap ku 30 menit, korèdas kantun piringna. Raos kantun dilebetkeun kana baham sèwang-sèwangan tur haratis, benten pisan waktos ngagaleuhna. Ti ngawitan masker, sarung panangan, teu hilap nyandak hand sanitizer ogè sabun cair mènèl.

Ka tukang dagangna pesen heula kana whatsapss, saparantos di waler nembè nyandak. Dugi ka tempat icalan teu wantun caket, nampi bungkusan surabi nganggo sarung tangan tur mayarna ngalangkungan transfer atanapi ovo tur gopay.

Surabi kiwari tos teu polos deui.(AKW).

****

Sebuah tulisan singkat berbahasa sunda yang dikenal dengan fbs (fiksimini basa sunda).

Bercerita tentang makanan asli priangan yang rasanya nikmat luar biasa, mengenyangkan dan meng-enak-kan. Hatur nuhun.

-Tayang di FB/fiksiminisunda 290320-

Hikmah Stay at home.

Tulislah, cobalah dan ….. nikmati.

CIMAHI, akwnulis.com. Suasana kegelisahan terasa semakin mencengkeram, dan yang pertama diserang adalah mental. Yup mental bro… dibombardir aneka pemberitaan yang hadir begitu masip.. (dibaca : masif), apalagi di medsos, kayaknya semua pihak menjadi ahlinya.

Stop!!!!

Alihkan semua aktifitas membaca informasi, menonton informasi atau menguping informasi apalagi men-share forward informasi kepada orang lain atau grup WA lain atau medsos kitaaaa…..

Biarkan mental kita kembali disehatkan, dicerahkan dan bisa meraih kembali kesadaran bahwa perjalanan kehidupan ini harus kita maknai dengan ketenangan, kebahagiaan dan tentu keriangan.

Boleh baca informasi, sesekali saja dan itupun yang bisa dipercaya.

Cobalah… mulai sekarang. Insyaalloh rasa khawatir kita tentang hari-hari ke depan akan berkurang. Alihkan energi diri untuk berkumpul bermain bersama dengan keluarga, memasak bersama, bersih-bersih rumah barengan atau…. bermalas-malas bersama. Bisa berkemul di kasur, nonton bareng di ruang tengah, berjemur bersama sambil ngopi, juga senam ringan sambil nonton instruktur di saluran yutub…. dan banyak lagi…. usahakan tidak keluar rumah, tidak keluar rumah….. please.

Bosan ah!!!…..

Pasti, manusiawi…. disinilah sebuah alarm kendali diri berbunyi. Mari berkorban di levelnya masing-masing dalam suasana pandemi ini, dan paling mudah adalah ikutan anjuran pemerintah untuk diam di rumah, ini level kesadaran yang menjadi dasar penentu watak serta kehidupan.

Level selanjutnya bervariasi, bagaimana memikirkan saudara-saudari kita yang menjadi menderita karena perintah diam di rumah saja, apa langkah konkritnya?… ini banyak ragam aktifitasnya, apalagi di era serba online ini, lalu lintas kepedulian bisa bergerak lebih cepat.

Bisa dengan order makanan via online, bayar pake aplikasi ovo, gopay dll tapi diberikan saja kepada ojolnya atau membantu saudara-saudari yang kesulitan karena tidak punya pekerjaan tetap dan butuh untuk makan sehari-hari. Ada juga aktifitas memberikan santunan kepada keluarga yang terdampak langsung oleh pandemo covid19 ini… Serta banyak hal lagi….

Kembali ke pribadi…. diriku juga berusaha me-manage kegalauan ini dengan memanfaatkan waktu untuk bersama-sama keluarga serta menguntaikan jalinan kalimat dari butiran kata yang terserak menjadi kumpulan cerita yang mungkin akan memiliki makna.

Termasuk lebih intens menyusun kata membuat kalimat sehingga hasilkan bacaan ringan yang nggak bakal jadi beban yang bacanya…. tapi (mungkin) bisa ngasih sedikit informasi. Ditambah mulai kotrat kotret bikin video pendek… yaa masih amburadul hasilnya, tapi lumayan bisa ngikutin anak jaman now bikin konten di channel yutub.

Jangan takut menggoda… eh mencoba… coba dulu aja bikin satu kotretan tulisan atau konten video di channel yutub atau IGTV… yang sederhana aja dulu.

Untuk tulisan di blog, sudah ada beberapa tulisan. Yang dibuat di minggu ini ada tentang kopi arabica buntis village aromatic fruit, kopi arabica sunda gulali, video di cannel yutub tentang fasilitas kesehatan di gedung sate juga penyemprotan disinfektan di lingkungan rukun warga dimana diriku tinggal.

Minggu lalu beberapa tulisan di blog ini tentang FWA dan WFH, seperti kopi lobster dan …. Eh sebenernya ada satu lagi, edit video di laman powtoon, cuman nggak bisa disave karena gratisan… ya udah direkam aja pake hape… ntar yaa aku ulas khusus.

Selamat menjalani dan mensyukuri berkah kesempatan menjalani kehidupan ini. Happy wiken guys, Wassalam (AKW).

Kopi Arabica Soenda Gulali.

Jangan hanya lihat hasilnya, tapi nikmati juga prosesnya.

Photo : Sajian manual brew kopi Arabica Soenda Gulali / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Malam hampir larut dengan sepi dikala kesempatan menulis dan membuat dokumentasi photo tentang kamu hadir melingkupi hari.

Ya… waktu menunjukan jam 23.30 wib pada saat pengambilan gambarmu, sebungkus kopi berwarna putih lengkap dengan bejana server dan segelas kaca kecil berisi kopi hitam tanpa gula hasil manual brew v60 yang memandang penuh asa.

Kok tengah malem mas?

Sebuah tanya yang tak sempat dijawab, karena memang inilah kesempatan waktunya dikala semua sudah terlelap.

Sajian gambar diawal-awal tulisan kali ini adalah hasil jepretan kamera hape yang sudah di cut sesuai kebutuhan tanpa filter apapun, aslinya kamera hape.

Sementara sajian photo setelah paragraf ini adalah behind the scene-nya, dimana layar putih yang begitu rapih adalah lembaran belakang kalender yang awalnya tertempel di dinding. Lalu ditahan dengan laptop yang memang tidak terlihat, selanjutnya dikeceng eh dibidik aja dengan kamera hape agar mendapatkan gambar meskipun dengan segala keterbatasan.

Photo : Behind the scene / dokpri.

Makna nilai yang didapat adalah tidak semua yang terlihat begitu baik dan rapih baik dari mata secara langsung atau di media sosial itu adalah kondisi ideal, ada banyak hal lain yang sebenarnya mendukung hasil tersebut. Cara terbaik adalah tetap bersyukur atas apapun yang Allah anugerahkan kepada kita.

“Eh kopinya gimana?”

Ahay hampir lupa, terlena dengan menyusun jalinan kata sehingga kopi tersaji dibiarkan begitu saja…. srupuuut ah.

Hmmm…. sebuah rasa kopi yang lembut dan acidity serta body sedang langsung menjalari rongga mulut dan seluruh lidah, ada rasa teh, gula merah dan sepet seperti rasa apel sebagai aftertastenya. Sehingga 450ml air panas yang bergaul eh berseduhan dengan bean ‘Arabica Soenda Gulali’ buatan Suka Sangrai ini bisa dinikmati lebih cepat, langsung surut eh … nyaris habis padahal hampir setengah liter buat kopi teh…. ternyata sang waktu bersama malam telah bergerak tak terbendung… dan terus beranjak beranjak menapaki dini hari.

Selamat menjalani hari-hari, mari isi dengan aktifitas yang berarti dan meninggalkan jejak nilai hakiki, juga tidak lupa sambil menandaskan sajian kopi yang sudah dibuat dari tadi. Wassalam (AKW).

Kopi Lobster – wfh.

Pasangan langka yang tak biasa, tapi rasanya…. luarr biasaa..

CIMAHI, akwnulis.com. Pertemuan mereka tidak disengaja, tetapi sebuah takdir sudah dituliskan. Sebuah pertemuan penting yang jarang terjadi, karena masing-masing tidak bisa ditemui setiap hari.

Pihak pertama adalah sang lobster yang bercangkang keras penuh dengan duri serta capit panjang plus tatapan garang, padahal menyimpan sebongkah daging yang enak mantabs dibalik kekerasan cangkang dan sikap. Belum lagi jika dilihat dari jarak, mereka hidup di sekitar samudera hindia tepatnya di sekitar pantai selatan tasikmalaya.

Pihak kedua tentunya sebuah biji/bean kopi yang hadir setelah melalui proses panjang dari mulai dipanen sebagai cherry di kebunnya di gunung manglayang, hingga berproses dalam penyimpanan lalu melewati proses roasting yang berstandar hingga dikemas dan akhirnya berganti tangan hingga tiba disini, bersiap menghibahkan diri untuk dihancurkan oleh grinder demi memberikan sebuah sensasi rasa yang penuh pesona.

Maka sebuah penghormatan dari pertemuan langka ini, jepretan kamera hape dan publikasi di blog serta publikasi di facebook, twitter dan status WA menjadi penting, karena momen ini jarang terjadi sekaligus menjadi acara tersendiri sambil mengisi kegiatan ‘work from home‘… eh nggak ketang, hari ini khan tanggal merah, jadi nggak kerja tetapi tetap #dirumahaja.

Kenapa photo lobsternya cuman satu kakak?”

Ah pertanyaan singkat yang bikin terhenyak, ya memang cuman satu lobsternya karena kalau banyak mah ikan teri hehehehe….. kebetulan model photonya menggunakan pola keterwakilan. Pada saat yang lainnya masih dibersihkan, nah ini satu lobster belah tengah yang di photo bareng.

Bagi donk”…. ini pasti next questionnya, tapi dengan segala permohonan maaf, sementara baru bisa berbagi gambar dan tulisan serta sedikit bahan khayalan bagi yang melihatnya.

Photo : Kopi & lobster di halaman belakang / dokpri.

Cara menikmatinya gimana?”

Aduuh inih mah gampang banget atuh say, kopinya tinggal langsung disruput dan…. lobsternya dipasak dengan bumbu saos tiram, asam manis, saus padang atau…. supaya awet…. dipandangin saja terus hingga puasss hehehehehe.

Jangan sekali-kali setelah sruput kopi trus lobsternya langsung dikunyah…. udah mah amis hanyir juga rungseb… bisa berakibat fatal sehingga menimbulkan luka di bibir, mulut dan juga perasaan.

Gitu dulu ya cerita kopi lobsternya, selamat menikmati hari bersama keluarga tercinta dan tetap #dirumahaja. Wassalam (AKW).

WFH Ngantor di rumah.

Working from home dulu…

Photo : Aku & WFH / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Dalam rangka mendukung program pencegahan penyebaran virus Covid-19, maka pilihan WFH adalah sebuah tindakan tepat yang harus dilakukan.

Work from Home satu minggu terakhir telah dilakukan dengan pola giliran yang temanya FWA (Flexible Working Arrangement) dan mulai hari senin ini bener-bener WFH diterapkan.

Hari pertama bekerja di rumah berbuah hikmah, selain mendukung program pencegahan pandemi juga semua level ‘dipaksa‘ melek teknologi melalui aplikasi teleconference untuk mengkordinasikan banyak hal yang terkait pekerjaan.

Baik level bos, setengah bos, yang ngerasa bos juga yang disuruh-suruh sama bos dan setengah bos, musti bin wajib ngedownload aplikasinya. Pahibut eh repotlah semuaa…..

Disinilah mental suasana perubahan berlaku, ada yang segera menyesuaikan dengan tangkas, ada yang semangat berubah meskipun sedikit gagap tapi mau bertanya dan ada yang bertahan dengan status quo, meskipun akhirnya mengikuti dengan setengah hati.

Tapi itulah konsekuensi sebuah penyesuaian, tidak perlu banyak keluhan. Jalani dan ikuti…. Yuk dukung program pemerintah sekaligus jadi mahir berteleconference sambil berkumpul bersama keluarga tetapi tetap bekerja, “Kenapa tidak?”

Jikalau masih gagap, jangan malu bertanya. Jika masih bingung, yaa kasihin (sementara) aja hpmu ke teman atau anak buah yang paham, tolong downloadin, instalin sekaligus sign-inin… pokoknya tinggal pake aja.

“Gampang khan?…”

Rapim perdana berjalan meskipun masih banyak kekurangan, tetapi nilai pentingnya adalah ketaatan. Taat kepada anjuran untuk di rumah saja, taat juga untuk tetap bekerja sekaligus taat juga untuk memasang aplikasi teleconference di hp masing-masing juga di beberapa laptop.

Aplikasi yang di gunakan adalah zoom cloud meeting, dengan otodidak dan coba-coba, akhirnya rapat virtual bisa terlaksana, meskipun harus jeda hingga 3x karena masih zoom basic yang gratisan, dibatasi 40 menit meeting dan akan tiba-tiba mati sendiri…. hikmahnya… lumayan bisa jeda teleconference, tarik nafas, minum dulu atau siapa tahu pengen ke toilet.

Rekan sekantor mengatakan bisa juga dengan aplikasi google meet,….. insyaalloh dicoba dan dipelajari secepatnya sebagai alternatif……

Yuk tetap semangat bekerja, meskipun berada di rumah masing-masing. Semoga wabah pandemi Covid19 ini segera berlalu, dan kehidupan kembali normal. Wassalam (AKW).