Anggrek & Kohitala.

Cerita kohitala di ujung senja ibukota.

Photo : Nescafe Kohitala / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Secangkir kopi hitam terlihat elegan, dengan bentuk cangkir putih berkelas serta pegangan yang nyentrik menambah suasana berbeda. Padahal kopi yang disajikan adalah kopi nescafe instant lho, bukan kopi hasil seduh manual dengan beraneka komposisi dan prosesi yang dianggap ngjelimet oleh sebagian orang.

Tetapi kembali ingat bahwa ngopi itu tidak hanya dari sisi bean/biji dan prosesinya tetapi juga dari unsur suasana dan kondisi yang ada, jadi nescafe tanpa gula pun bisa menghadirkan suasana nikmat disela-sela kegiatan padat berada di ibu kota.

Rasa nikmat akan hadir jikalau rasa syukur kita senantiasa mengiringi dalam berbagai kondisi. Kohitala tidak harus manual brew saja tapi bisa saja kopi sachet dengan syarat tanpa gula… “Setuju nggak?”

“Setujuuu”

Karena nikmat bisa merasakan kepahitan kopipun adalah bagian rejeki dari Allah SWT, jadi senantiasa syukur menjadi yang utama.

Photo : Bersama anggrek di ujung senja / dokpri.

Selanjutnya kohitala bercangkir putih coba disandingkan dengan vas bunga anggrek yang terdiam di tengah-tengah kursi ruang tunggu. Sesaat saling lirik lalu sedikit senyum simpul dan perkenalan hingga akhirnya berani untuk berphoto berdua. Hasilnya memberikan suasana berbeda yang ternyata cukup sedap dipandang mata, meskipun jangan lupa, kopi di cangkir segera diseruput saja, tapi anggreknya jangan, itu untuk menjadi penghias senja di temaramnya ibukota. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
BJB Precios
Palma One Building, Rasuna Said Jakarta.

Arabica Kerinci Casa DeAlicia

Sruput kopi penambah semangat pagi…

BANDUNG, akwnulis.com. Kombinasi daun hijau asli dan semerbak harumnya kopi arabica kerinci Casa De Alicia hasil manual brew V60 pagi ini memberi nuansa semangat bekerja semakin membara.

Membantu menghilangkan gurat lelah di wajah yang belum musnah karena kegiatan padat merayap di hari-hari sebelumnya.

Ada saran dari rekan kerja untuk menyapukan sedikit bedak di wajah yang bergurat lelah agar terlihat segar dan ceria… tapi khan aku mah nggak pernah berbedak….. ntar jadi cantik khan berabe…

Kebayang khan lamédong (cémong = belepotan) bedak di wajah dan nyangkut di kumis serta jenggot wkwkwkwkwk…. ada-ada aja idenya.

Cukup dengan sruput kopi racikan sendiri yang dibuat dengan suhu air panas 90° celcius dan komposisi 22 gram dan air 250 ml…. hadirlah sajian minuman kohitala yang strong bangeddd…. bodynya bitter maksimal dan acidity penuh kegetiran menggigit bibir serta aftertaste citrun yang asem pahit melengkapi kenikmatan sruput kopi pagi ini……

Kopi Arabica Kerinci Casa De Alicia kiriman Bos Jamkrida akhirnya bisa dinikmati bersama rekan di lantai 3 ini sambil membuat bahan presentasi untuk meeting siang nanti.

Srupuutt…. mmmmm… agak nyengir tapi nikmat. Wassalam (AKW).

Outboundku

Hadir bersama dalam suasana ceria demi hasilkan kata soliditas dan kekompakan yang bersahaja.

Photo : Rombongan Jeep Mogok di Sukawana / dokpri.

LEMBANG, akwnulis.com. Sebuah pertanyaan menggelitik hari ini adalah, “Siapa sebenarnya yang mempopulerkan kegiatan outbound dan apa sih outbound ini?”

Langganannya jelas nanya ke mbah gugel dan om wikipedia yang bantu jelasin, ternyata kegiatan outbound dipopulerkan atau mungkin diciptakan sebagai model pendidikan yang kreatif oleh Kurt Hahn, seorang pendidik dari jerman (kata wikipedia).

Dalam bahasa indonesia disebut ‘mancakrida‘ yang berasal dari kata manca = asing atau luar dan krida = olahraga/perbuatan/tindakan… meskipun terus terang kayaknya jarang denger atau baru tahu kalau mancakrida itu adalah outbound hehehe…

Oh iya outbound itu berarti gabungan kata dari outward dan bound yang merupakan peristilahan bagi pelatihan manajemen dan kepemimpinan di alam terbuka dengan pola pendekatan pelatihan yang unik dan sederhana serta kreatif, karena tidak berdasarkan teori tetapi lebih mengedepankan aktifitas sehari-hari… eh kok malah berteori sih?

Kenyataan yang sering dirasakan mengikuti outbound adalah memang membangun kebersamaan dengan dilandasi keceriaan, penuh tawa canda tetapi tetap jelas hasilnya. Seperti bersama-sama membawa air di gelas plastik beralas kain dan tidak boleh tumpah, memadamkan api tetapi diawali perang air antar kelompok dan banyak lagi aktifitas di luar ruangan yang menyenangkan.

Photo : Menanti ketidakpastian berlatar alam / dokpri.

Tetapi ada hal yang menggelitik pada saat diskusi outbound ini di kalangan orang sunda, karena istilah outbound atau dilafalkan outbond ini adalah berasal dari kata out = luar dan bon = singkatan dari kebon atau artinya kebun.

Karena aktifitasnya pasti diluar ruangan dan biasanya di kebon atau kebun, jadi aja disebutnya outbon hehehehe… ampyun maksaa.. tapi ada benernya juga. “Bener khan?“…

“Klo dolbon apa artinya?”

“Ah kamu mah ada-ada aja, nanti itu di pembahasan berbeda”

Yang pasti outbound kali ini bener-bener nyebrangin kebon eh kebun dan menembus hutan pinus serta kebun teh yang indah menghijau… tapi nggak jalan kaki karena akan menimbulkan kegemporan berjamaah, jadi digunakan media jeep landy yang membawa raga-raga haus refreshing ini menyusuri trek tanah berlumpur dan tebing sempit yang begitu menantang.

Photo : Barisan Landy siap menemani / dokpri.

Raga diombang ambing gerakan jeep landy yang bergerak ganas menghasilkan sensasi perasaan bercampur aduk antara senang, bingung, takut, malu dan juga khawatir.

Ada yang berbadan besar tapi ekspresi penuh ketakutan, ada juga yang tetap santai malah hampir ketiduran disaat guncangan kendaraan semakin menggila.

Ada juga yang badannya timbul tenggelam hingga mengglosor ke lantai landy saking ringannya dan terguncang keras, kasian sih tapi kok jadi tertawa-tawa?……..

Termasuk yang bisa sampai ketiduran, …. aneh memang, tetapi setelah ditanya di akhir perjalanan, dijawab dengan ringan, “Saya sih enak tidur, serasa naik angkutan umum ELF yang melayani transfortasi dari kampung saya dulu di masa kecil, jadi yaa de javu, nikmatt”

Kami berpandang-pandangan, “Kampungnya dimana gitu?”

“Gununghalu”

“Ohhh….”

Itu sih masa lalu, disaat jalan masih rusak dan kondisi alam yang labil sehingga aspal (plastik) akan senantiasa kalah dengan air hujan yang menggenangi jalanan. Sekarang kampung itu sudah maju, jalan mulus dan perekonomian yang jauh lebih baik.

Udah ah… balik lagi keu outbound kali ini. Perjalanan begitu penuh sensasi dan pinggang serta punggung siap-siap dengan segala rasa yang ada. Tetapi kebersamaan semakin terasa dan kebebasan bersuara eh berteriak menjadi kepuasan tersendiri yang nggak mungkin bisa dilakukan di gedung kantor tempat kita bekerja.

Photo : Let’s go Maksi / dokpri.

Di sesí makan siang, suasana semarak makan bersama beralas daun pisang di pinggir hutan melengkapi suasana ‘bermain di kebon’ semakin bermakna. Dilanjutkan acara semi formal dalam lomba sambutan serta bernyanyi bersama yang tak kalah ceria….. eh tidak lupa sebelumnya menyegarkan diri di hangatnya air panas sari ater Subang yang mengandung mineral multiguna.

Selamat menikmati kebersamaan diluar kantor dan akan kembali ke pekerjaan rutin dengan soliditas sempurna. Wassalam (AKW).

Americano Costa Coffee.

Mengumpulkan stamina dan ‘pangacian’ dalam sepi di Costa Coffee.

Photo : Sajian Americano / dokpri.

TANGERANG, akwnulis.com. Berdiam diri dan menyendiri setelah menjalani 2 hari yang penuh sensasi adalah berkah tersendiri. Sambil menunggu si burung besi yang akan membawa pergi, perlu kiranya me-merenahkan (istirahat sejenak) diri dalam sepi.

Tadi menikmati Kopi Toraja di Djournal cafe,…...nikmatt. Tetapi banyak orang, jadi agak mengganggu kesendirian….. aneh khan?…

Jangan bingung, terkadang seseorang yang agak lelah dengan tekanan kehidupan akan butuh sesaat menyendiri dalam dunianya sendiri sebelum kembali menapaki perjalanan hidup yang membentang menanti aksi.

Maka… mlipirlah mencari tempat ngopi yang agak sepi sehingga bisa sesaat menghilang dari kenyataan dan berkutat dalam dunia kesendirian… lokasinya dicari di lantai 2 dan diujung terdapat pilihan tempat yang pas yaitu Costa Coffee. Setelah berada di depan sang barista maka pesanlah kohitala dalam bentuk americano, lalu duduk di kursi ujung yang cukup temaram serta relatif sepi.

Photo : Cafe Costa Coffee / dokpri.

Ahh…. punggung bersandar di dinding yang empuk, terasa nyaman dan menenangkan. sejenak mata terpejam, konsentrasi berada di satu titik. Perlahan tapi pasti aliran darah kembali menemukan jalurnya tersendiri, mengalir di jalur nadi dan arteri yang menjadi jalur vital tubuh untuk tetap berkreasi.

Bukan apa-apa, sebentar lagi perjalanan panjang akan dihadapi, 7 jam berada di pesawat adalah tantangan selanjutnya. Setelah dari 1 hari lalu berjibaku dengan waktu maka sebentar lagi, tantangan baru akan hadir dihadapanku. Semangaat…

“Silahkan Americanonya kakak!”

Sebuah kalimat singkat yang mengembalikan lamunan ini kembali ke dunia nyata, mata terbuka dan sedikit senyum dihadirkan tanpa cela, sambil berucap, “Terima kasih, amsa hamnidaa”… ups belum waktunya hehehehe.

Alhamdulillah waktu 35 menit sebelum memasuki pesawat Korean Airlinespun bisa dimanfaatkan untuk menyandarkan harapan dan memgurangi kelelahan phisik serta beban pikiran tanpa diganggu oleh orang-orang sekitar.

Memejamkan mata bukan tidur sebenarnya, tetapi mengistirahatkan kelopak mata serta membiarkan pikiran tenang tanpa banyak melihat dunia adalah obat mujarab dalam memgembalikan konsentrasi dan stamina. Selamat berkarya kawan, Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
Costa Coffee
Lantai 2 Terminal 3
Bandara Soekarno-Hatta
Harga total Rp 38.160, termasuk pajak & pelayanan.

V60 Toraja di Djournal Cafe.

Djournal cafe tempat ngopi hilangkan cape.

Photo : V60 Arabica Toraja / dokpri.

TANGERANG akwnulis.com. Secangkir kopi menghadirkan kembali semangat untuk terus bergerak lagi, meski sesaat eh dua hari harus bersabar dengan segala prosedur dan perilaku personal yang beraneka rupa.

Pertemuan dengan sang barista, neng Glesnea di Djournal cafe dilanjutkan dengan memilih beraneka bean yang tersaji untuk nantinya segera diseduh tanpa banyak pancakaki. Agak sedih setelah dipilih ternyata tidak ada bean kopi dari jawa barat, adanya Papua, Kintamani, Mandailing dan Toraja.

Photo : Sang baristi dan pilihan kopi / dokpri.

Ya sudah, pilihannya adalah kopi Toraja yang akan segera di eksekusi dengan metode seduh manual V60.

Dengan perbandingan 1: 15 dan gramasi 16gr serta temperatur air 90° maka menghadirkan sebuah sajian kopi yang segar dan mencerahkan malam ini.

Body medium menuju strong, Acidity medium dan Aftertastenya hadir rasa berry plus tamarind memberikan kesempatan rasa untuk ninggal sesaat di ujung lidah dan memberi kesan memori akan sebuah rasa tersendiri.

Photo : Cafe Djournal SHIA / dokpri.

Waktu menunjukan pukul 21.20 wib di Lantai 1 Dekat gate 8 Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Secangkir kopi toraja ini memberi suasana berbeda, memberi ruang hati semakin lega sebelum sebuah perjalanan panjang akan segera terlaksana. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
Djournal Cafe
Terminal 3 Lt.1
Antara gate 7 & gate 8
Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Indonesia.

Harga :
V60 Kopi Toraja Rp. 40Rb
Aqua botol 600ml Rp. 27Rb
dengan pajak jadi total Rp. 74.199.

***

Sarapan 3 menu.

Biar hati galau, makanan tetap disikat tuntas.

Photo : Sarapan 3 menu.

JAKARTA akwnulis.com. Kesabaran berbuah berkah, itulah perjalanan kehidupan yang senantiasa berganti arah, karena yang abadi itu adalah perubahan.

Tidak ada manusia yang bisa menolak perubahan, terutama kaum hawa yang sibuk membelanjakan uangnya untuk atas nama serum anti aging dan sebangsanya juga perawatan dengan berbagai metode yang ada. Hati-hati jangan sampai terjebak terhadap perangkap takdir, takdir itu untuk dijalani, disyukuri dan ditafakuri bukan dilawan dengan sekuat tenaga dan dompet yang berisi.

Perawatan tubuh dan wajah tidak masalah selama niat awalnya adalah menjaga dan memperindah ciptaan Allah. Bukan hanya kaum hawa, para lelaki metroseksual juga melakukannya. Tidak ada yang salah, tapi terpenting adalah luruskan niat pada arah yang sesungguhnya.

Kembali ke cerita sabar yang sudah tertuang di curhat onlenku yaitu
MENANTI JANJI,maka sambil menunggu kepastian mari gunakan waktu yang ada untuk kebaikan, niscaya sabar dan berkah akan selalu berdampingan.

dan…. pagi ini sambil hati deg-degan maka dicoba dilarikan perhatian penuh kekhawatiran yang sudah bertahan 20 jam ini ke arah sajian sarapan yang telah terhidang di hadapan.

Trio breakfast telah hadir menghibur diri untuk mengurangi ketegangan. Disebut trio karena memang ada 3, yaitu bubur ayam + salad + secangkir kopi yang masih panas…. yummmy.

Photo : Secangkir kopi & pangulan diri / dokpri.

Fabiayyi Ala irobbikuma tukadziban... wajib bersyukur setiap waktu guys. Jangankan makanan enak seperti ini, tarikan nafas yang normal karena hadirnya oksigen yang melimpah ruah ini adalah sebagian kecil rahmat dan rejeki dari Allah Swt.

Pertama di makan perlahan bubur ayam dengan menggunakan aliran ‘bubur diaduk‘ dilanjutkan dengan salad lengkap dengan thousand islandnya dan ditutup dengan sajian kopi hotel yang panas mengepul… nikmaat.

Kopi hotel sebagai penutup ritual sarapan pagi ini dan menjadi penghibur penting bagi hati yang masih eh sedang galau karena menunggu kepastian. Selamat Sarapan kawan, Wassalam (AKW).

Menanti Janji

Belajar jurus ‘Menyepi dalam Keramaian’.

Photo : Suasana malam di Jakarta / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Menanti bukan berarti tanpa arti, tetapi bernilai tentang makna kesabaran yang hakiki. Apalagi jika sudah dilakukan ikhtiar tiada henti, maka menanti adalah sebuah seni, seni merenungi perjalanan diri dalam takdir yang sudah pasti.

“Bukankah hidup inipun adalah menanti?.. menanti antrian sambil memupuk amal sebagai bekal hidup yang sebenarnya di akherat nanti”

Terdiam sejenak dan hening menghampiri… maaf bukan pak Hening tetapi suasana tenang yang mendamaikan hati dalam sepi.

“Memang disitu sepi?”

Pertanyaan kepo yang ada benarnya, boro-boro sepi karena banyak orang yang sedang mengantri dan berbicara dengan bahasa masing-masing, termasuk dengan bahasa hati.

Patut dijelaskan disini bahwa makna sepi ini adalah persepsi. Karena sepi kali ini adalah sebuah pengejawantahan jurus masa silam yaitu ‘sepi dalam keramaian’ atau bertapa dalam keramaian…

“Bisa gitu?”

“Susah tahu, karena menurut pengertian KBBI bahwa bertapa itu adalah mengasingkan diri dari keramaian dunia dengan menahan hawa nafsu (makan, minum, tidur, birahi) untuk mencari ketenangan batin.”

Jadi yang dilakukan sekarang adalah ‘bertapa 4.0‘. Berusaha mengasingkan diri dari dunia sekitar, dunia sendiri dan fokus serta konsentrasi sehingga seakan hanya ada diri ini ditemani gadget kesayangan dan….. tetep inget urusan duniawi… tidak lupa sambil ngetik ide-ide yang dituangkan di dalam blog pribadi, sambil jangan lupa satu telinga diaktifkan, siapa tahu ada panggilan dari petugas yang sedari pagi melayani para pengantri.

“Ohhh main HP, pasti bakalan cuek yah sama dunia sekitar heuheuheu… gaya lo pake istilah -bertapa 4.0- huhuy”

“Hahahaha… 😀😁😀😁😀”

Perlahan-lahan hening kembali.

***

Mister akawenulisdotcom, ditunggu di loket 212!”

“Wuih langsung namanya dipanggil, kereen”

“Keren atuh da akuh yang mengarang dan menulisnya!”

“Ah sialan, kirain beneran”

Panggilan itulah yang mengakhiri penantian selama 2 hari ini. Sehingga dari terang berganti malam, dilanjutkan dari gulita diganti siang nan ceria… dan akhirnya semuanya tuntas pada waktunya.

Photo : Di Jakarta siang menjelang / dokpri.

Jadi nikmatilah penantian dengan tetap berbaik sangka. Menit dan jam yang seakan terasa lama adalah misteri dunia, karena sebenarnya semua sama bahwa 1 jam adalah 60 menit saja. Tetapi emosi dan rasa bisa membuat waktu begitu lama atau bisa juga begitu cepat melewati hari-hari kita.

Selamat berkarya meskipun penantian mendera, jangan biarkan raga dan jiwa terjebak antrian dunia, tapi bebaskan dalam kreasi imaginasi yang tiada batas nan pasti.

Wassalam, Jakarta awal nopember. (AKW).