Memilih & Kopi Halu Pink Banana.

Menikmati Kopi Arabica Halu Pink Banana…

Photo : Sajian Kopi Halu Pink Banana / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari ini, eh sudah beberapa minggu deng… kata ‘Memilih‘ menjadi frasa yang begitu trending topik, menghiasi linimasa dan berbagai platform dan level kehidupan.

Jadi, hayu kita memilih…

“Memilih naon?”

“Yang pasti memilih sesuatu yang dua-duanya bikin kita nikmat dan nyaman”

“Ada pilihan yang dua-duanya enak?”

“Adaaaa…… memilih cara untuk nyeduh kopiiiii”

“…… beuh kopi lagiii.. kopi lagiii”

***

Menikmati sebuah sajian kopi bisa dengan berbagai macam cara. Tetapi secara garis besarnya ada 2 cara lho. Cara pertama nyeduh manual brew sendiri dan cara kedua dibuatin orang laiiin… bener khan?

Masing-masing tentu memiliki kelebihan dan kelemahan. Yuk kita bahas satu-satu. Pertama, ngebuat kopi dengan seduh manual yang dikerjakan sendiri. Kelebihannya adalah :

a) bisa kapan aja yang penting ada kopinya, ada peralatannya, ada air panasnya… tinggal curr.
b) bisa foya-foya, maksudnya komposisi kopi bisa lebih dari standar 1 : 12, bisa ditambah jadi 1 : 20 klo pengen rasanya makin nendang atau sekalian bisa bikin ‘teh kopi’ dengan cara seduh kedua kali tanpa ganti kopinya…. ntar dapet kayak teh, rasa kopinya hilang tapi tetep haruuum kopi.

c) edukasi kopi, bisa jadi momen mengenalkan kopi kepada saudara, rekan, kenalan dengan magic wordnya kayak open boxing di channel yutub, “Hai guys.. dst”

Photo : Tampak belakang dus Kopi Halu Pink Banana / dokpri.

Kelemahannya adalah :

a) Wajib punya kopi…. Ya iyaa donk. Trus apa yang mau digrinder?…

b) Musti punya alat-alatnya : ini juga pengorbanannya, minimal mesin grinder kecil, pemanas air, teko goose neck, timbangan digital kecil, termometer, temper glass, coring V60, kertas filter V60, ember…. lha ember buat apa?… pokoknya penting dech. Ntar dijelasin.

Padahal fungsi ember adalah…. menampung air sisa dari kertas filter v60, terus sampah dari serbuk kopi yang sudah diseduh dan sekaligus menyimpan sampah sementara….

Kenapa nggak pake tempat sampah?”

“Ih rewel banget, kata aku ember ya.. ember”

c) Musti tahu cara manual brewnya…

Ribet ya?….

Beda dengan pilihan kedua, yang dibuatin orang lain. Tinggal datang ke suatu tempat, pilih-pilih, pesan dan tunggu…

cuman itu tadi, kita sulit untuk berkreasi.

Trus perlu modal duiiit dan nggak bisa foya-foya kopi, karena pasti di kedai dan cafe sudah ada ukuran, supaya dapet untung….

Yang lebih penting, sensasi prosesi manual brewnya yang nggak dapet, itu yang tidak ternilai… really?…. yeaah pengalaman memproses manual brewnya hingga bisa tersaji rasa kopi yang enak itu adalah ‘sesuattu bangeedd’.

Jadi… tinggal milih dech.

dan…

Sore ini pilihannya adalah pilihan dibuatin orang lainn aah….

Kopi yang dinikmati adalah Kopi Arabica Halu Pink Banana, tempat nongkrongnya di Kurokofee, Jl. Ciumbuleuit.

Rasanya cocok pisan dengan suasana sore berhujan deras. Dengan suhu 90° celcius, manual brew V60. Menghasilkan kopi beracidity tinggi dengan body eh kepahitan yang mempesona khas kopi java preanger. Harumnya mah keren pisan dan after taste fruity terasa banget…

Nanti di rumah, baru nyeduh manual dengan peralatan yang ada dan tentu sesuai dengan stok kopi yang tersedia. Wilujeng memilih.. eh ngopay bray. Wassalam (AKW).

Kopi Arabica Thailand.

Mengeksekusi eh ekstraksi Kopi Arabica dari negeri gajah putih…

Photo : Sajian Manual brew V60 arabica ti thailand / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Bergerak dalam rutinitas kesibukan adalah ritme kehidupan. Tetapi cara mengisi waktu masing-masing orang adalah sebuah seni tersendiri. Jadi mari maknai waktu 24 jam sehari ini dengan kesibujan masing-masing, tapi harus ingat bahwa keseimbangan itu penting.

Begitupun dengan tulisan ini, bukan menjadi beban tetapi… sebuah tantangan bahwa inilah salah satu bukti ‘my time’, yang bisa saja terlewat begitu saja karena keasyikan bekerja…. atau berbincang dengan rekan, atasan, tamu, bawahan, orang tidak dikenal.. kenalan dulu, …….ngaler ngidul dan…… waktu bergerak terasa begitu cepaat…

Jadi…. kembali kepada slogan, ‘ngopay dan ngojay‘, saatnya ngopay bray….

Kali ini kesempatan mengeksekusi eh.. mengekstraksi bean kopi dari Thailand,…. makasih banget Mr Al dibawain jauh-jauh nich,… ayo kita cobaa…

Dari bungkusnya terlihat cukup simpel, tadinya disangka gambar berlian… ditilik-tilik… ternyata itu mesin roasting kopi.. bener khan?…

Lanjut ah… setelah diphoto bungkusnya lanjutlah dengan menggunting perlahan.. dan yeaah… biji-biji kopi terlihat dan.. agak bersinar???…. coba di lihat lebih seksama… seperti berminyak..

Agak aneh juga, tapi mungkin saja memang begitu…

Nggak usah bingung.. eksekusiii… grinderr dipasang ukuran coarse, terrrrr!!!!!…

Air panas sudah mendidih, filter siap di corong V60… kemon guys.

Bubuk kasar kopi sudah siap di corong V60, pasrah menerima proses ekstraksi yang akan mengubah diri.

Curr……

Photo : Ini bungkusnya / dokpri.

Tersajilah cairan hitam yang menyimpan harapan, sedikit aroma khas kopi hadir menyentuh ujung penciuman.

Perlahan tapi pasti, sruputan time…. cairan kopi arabica dari thailand ini menyentuh lidah dan lorong mulut. Membekaskan sebuah catatan penting, bodynya bold alias pahit mendekati rasa khas robusta… kelihatannya proses roastingnya dark roast sehingga yang hadir dominan bodynya, sementara acidity minimum meskipun taste kopinya hadir selarik dan selapis tipis.

Secara keseluruhan, performa yang hadir masuk ke penilaian lumayan dan biasa, tetapi……. yang mahal dan tak ternilai adalah perhatian dan silaturahmi dari seorang kawan, sekaligus sebuah nilai pengalaman untuk berkesempatan bisa mencoba mengolah, menyeduh dan mengekstraksi kopi lalu menikmati dan akhirnya menulisi… eh menuliskan sebuah cerita tentang prosesi seduh kopi arabica dari negara tetangga, sekali lagi makasih Mr. Al.

Sisa seduhan kopi masih tersaji diatas bejana kaca. Perlahan tapi pasti akan segera habis seiring waktu yang tak pernah mau berhenti.

Wilujeng ngopay Bray, Wassalam (AKW).

Kopi Lembang Pak Ali.

Ngopay kopi dari pak Ali…..

Photo : Nyeduh kopi sambil ngasuh / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Tanggal merah ditengah minggu tentu menjadi anugerah, bisa dimanfaatkan untuk mencurahkan perhatian kepada anak semata wayang juga pasti kepada ibunya.

Tapi tetap, ngopay jalan terus. Peralatan manual brew V60 sudah siap di rumah dan di kantor. Sehingga tidak perlu dibawa kesanah kesinih…. cukup bermodal niat, kesempatan, kopi bubuk dan air panas 90°… maka bisa ngopay dengan nikmat.

“Trus sama anak gimana?”

Sebuah pertanyaan yang menarik, tapi itulah indahnya mengasuh anak sambil ninyuh… eh sambil nyeduh kopi ala manual… maka pola seni dan kompromi yang dimainkan.

“Gimana caranya?”

“Bentar atuh… sekarang pilih dulu, kopi mana yang akan diseduh manual”

“Ayahhh…..!!!, hayu main di kotak” rengekan manja anak princes segera disambut dengan anggukan dan senyuman.

Horeee!!!,

Binar berjingkrak kegirangan. Raga ini beringsut menuju ‘kotak‘, selembar karpet tebal yang berisi mainan dengan pagar plastik yang terbuka. Sebagai wilayah demarkasi untuk bermain dan berkreasi sang anak tercinta.

***

Jadi….. nyeduh kopinya sambil ngasuh. Sehingga kompromi terjadi… gambar proses seduhan kopi yang tadinya hanya kopi diatas corong V60 dan bejana saji serta gelas kecil kaca kesayangan, harus bersanding dengan warna warni ceria dari mainan disney yang ada yakni donald duck yang lagi boncengan sama mickey mouse.

Eh ternyata photo sajian kopinya jadi aneka warna. Ngasuh jalan dan ngopaypun tetap terlaksana, kehidupan terus berjalan.

Kali ini hadir kopi tanpa label, pemberian dari Bapak Ali yang punya sendiri kebun hingga produk kopi dari daerah Lembang… disaat bersua minggu lalu, memberi sebungkus kopi bubuk ukuran kira-kira 200gr.

Alhamdulillah, milik tah….

Photo : Manual brew v60 kopi pak Ali / dokpri.

Sore ini di eksekusi dengan fi-sixti, suhu air 89° celcius dengan komposisi 1:1, yups.. 30gr beradu dengan 300 ml air….. jreng jreng.. tes.. tes.. tes.

Dikala bungkus coklatnya dibuka, rasa harum aroma kopi terasa menyambar penciuman. Ada rasa buah yang muncul tapi sulit mendefinisikan, pokoknya selarik banyangan rasa manis hadir dalam sekejap.

Penasaran….. setelah tetesan air seduhan tertampung sempurna. Pindah ke gelas duralex kecil… srupuuut…

Hei…. rasanya enak kawan. Body medium cenderung boldnya menyisakan after taste yang ninggal diujung lidah belakang, meskipun tidak lama tapi berpadu dengan acidity medium khas kopi arabica menambah nikmat ngopay sore ini. Dari sisi tastenya ada selarik rasa lemon, dan kakao plus setipis rasa karamel.

Ah takut salah… coba sruput lagi…. slurp.. slurpp….

Enak euy… dikala temperaturnya menurun. Body dan aciditynya menguat… pahitnya sedikit meningkat tetapi makin nikmat. Karena pahit asamnya sajian kopi bisa mengurangi dan menutupi pahit asamnya kenyataan hidup…. eaaaaa, apa seeeh kamuuh.

Sruput lagii…….

Hatur nuhun Pak Ali, wilujeng ngopay bray. Wassalam (AKW).

***

Mengambil Posisi

Menerawangi hari yang penuh misteri.

Photo : Menanti Mentari disini / Dokpri.

SUBANG, akwnulis.com. Dikala rembulan mentahbiskan diri mengurus malam, maka mentaripun setia menjaga siang tetap penuh kehangatan. Kesamaan dari keduanya adalah memberi secercah terang dan menjadi gantungan harapan dalam perjalanan kehidupan.

“Tidak bisa kakak, bulan itu tidak seterang mentari, bulan itu hanya memantulkan cahaya mentari dari punggung bumi”

Sebuah sanggahan yang tidak untuk diperdebatkan. Biarkan rembulan bercahaya dan menjadi pegangan di malam hari. Bukan sumber cahayanya yang menjadi sasaran utama, tetapi fungsi cahaya yang membelah gelap menjadi secercah harap.

Terkadang jikalau konsentrasi sedang membumi maka sangat mungkin di malam purnama bersua dengan ‘Nini Anteh dan kucingnya Candramawat’. Saling berbagi cerita sambil berkejaran diantara awan tipis atau bintang yang juga nimbrung membahas gosip keduniaan.

Esok harinya, mentari kembali beraksi menghangatkan bumi. Menebar keberkahan dan kebahagiaan bagi mahluk Tuhan. Allah SWT yang memiliki maha otoritas, dan mentari sebagai alat. Muncul tepat waktu dalam rutinitas yang presisi, tidak pernah ingkar janji meskipun terkadang awan hitam menutupi.

Photo : Mentari mulai menghangati hari / dokpri.

Begitupun jiwa dan raga ini, setelah menentukan posisi maka sebuah konsekuensi menjadi bagian dari janji. Pelajari tugas dan fungsi, jalani senada dengan regulasi. Jangan lupa siapkan rencana aksi untuk wujudkan hasil yang serasi.

Kalau urusan reaksi, itu pasti. Perubahan selalu diiringi dengan keadaan yang dianggap oleh sebagian pihak sudah hakiki. Padahal perubahan itu yang pasti, Hayu Jalani dan mari beraksi.

Hayuu.. beraksi!!!

“Ada kopi?”

Ada dong, ini kopi rasanya unik bin beda lagi. Dengan sentuhan air panas 87° celcius dan takaran tetap 1:15 maka bisa tersaji sebuah kopi yang mengeluarkan rasa cola sarsaparila.

“Halah apa itu?”

Itu tuh, klo kita minum cola (dulu… waktu sebelum insyaf hehehehe)… ada rasa pahit sepet diantara manisnya cola, diantara ‘nyereng’-nya itu ada rasa khas sarsaparila.

Ah kamu mah ngarang!”

Entahlah, tapi yang pasti selarik rasa itu muncul dan mirip asem pahit buah plum serta pahitnya teh hitam. “Mau tahu kopinya?”

“Mau mau mauu”

Photo : Flores Yellow Island coffee V60 / dokpri.

Ini dia, Flores Yellow Island by Kuro Koffee, disajikan dengan metode V60 manual brew… mangga gan.

Akhirnya mentaripun kembali menyerahkan tampuk cahaya kepada rembulan karena malam mulai menjelang. Urusan kopi dan posisi terus berjalan, perlahan tapi pasti menikmati malam sambil ngopi dan memgumbar lamunan.

Hatur nuhun, selamat beraktifitas guys, Wassalam (AKW).

***

Kopi Casi Cielo & Tugas Negara

Kesibukan ditemani Casi Cielo Guatemala

Photo : Hasil manual brew kopi cielo / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari selasa yang begitu padat merayap, diawali dengan kesibukan persiapan di pagi hari hingga akhirnya menembus jam 22.00 wib…. oalaaah sebentar lagi menyentuh tengah malam.

“Serius masih di opis?”

“Aslinyah… memang belum selesai, ya mau gimana lagi”

Perbincangan ini bukan sebuah justifikasi bahwa sok sibuk dan bekerja hingga larut malam, tetapi itulah tuntutan profesi yang tak bisa dihindari.

Tenang kawan, kerja seperti ini tidak setiap hari, jadi jalani saja, simpel khan?… tapi sering… hehehe curcol.

Nah, supaya nambah semangat maka disela waktu rehat gunakanlah membuat sesuatu dengan tepat.

“Ngapain lu?”

“Penasaran yaa? Siniih!!!”

Pas mendekat terasa semerbak harum kopi yang memanjakan hidung, hmmmm nikmat banget, “Kopi apa ini brow?”

Photo : ini bijinya sebelum digrinder / dokpri.

Kopi Casi Cielo Guatemala menyambut dengan aroma harumnya yang khas, masih berbentuk biji dan segera bersiap untuk digrinder disini.

Dari dongeng dibungkusnya, kopi ini ditanam di dataran tinggi guatemala, Amerika Selatan dan dikelilingi pegunungan kuno. Pengertian Casi Cielo ini berasal dari bahasa spanyol yang artinya ‘Almost heaven’ atau hampir seperti surga. Sehingga kopi arabica biji utuh yang dihasilkan akan menciptakan rasa nikmat seperti di surga disaat meniimatinya…. kitu meureun.

Yang pasti, Alhamdulillah bisa menikmati kopi yang berasal dari berbagai penjuru dunia.

Kopi produk starbuck ini pemberian seorang kawan di Sukabumi, yang katanya selalu ingat diriku jikalau melihat produk kopi. Semoga kebaikanmu mendapat balasan lebih banyak kawan, terima kasih yaa….

Keharuman bijinya sesaat dibuka wadahnya menarik hati untuk segera menyeduhnya dengan metode manual brew V60 dengan komposisi 1 : 12 dan air panas 90° celcius. Wuiih keharumannya terasa segar.

Setelah tuntas berekstraksi dan menghasilkan cairan kopi maka saatnya untuk menikmati.

Srupuuut……
Hmmm…..

Bodynya medium dan sedikit ninggal lalu aciditynya low, tastenya yang unik, ada rasa mint yang selarik menyeruak di lidah.

Penasaran, disruput lagi gelas selanjutnya… aciditynya yang low membuat ada sesuatu yang kurang…over all nikmat.

Ditengah kesibukan yang tidak berhenti ini, maka sajian kopi dadak eh manual brew ini seakan menjadi oasis di tengah panasnya sahara tugas…. minimal mengembalikan kembali mood dan kesegaran untuk terus bekerja marathon hingga menjelang tengah malam.

Alhamdulillah, tepat pukul 22.30 wib bisa meninggalkan gedung sate. Kembali sesaat ke pangkuan anak istri, berjumpa sesaat. Meskipun mungkin mengganggu jadwal tidurnya tetapi menjadi sangat penting karena secara prinsip, bekerja itu untuk mereka, untuk keluarga.

Bercengkerama sejenak, dan setelah keduanya terlelap, perlahan berbisik, “Ayah berangkat dulu ya”.

Anggukan lemah sebuah tanda persetujuan. Pelan-pelan meninggalkan mereka, menuju mobil yang sudah datang menjemput tepat pukul 00.00 wib. Demi tugas negara selanjutnya, menuju provinsi tetangga. Wassalam (AKW).

Cawene Coffee

Mendung menggelayut, nyeduh kopi bikin terhanyut.

Photo : Cawene Coffee siap dinikmati / dokpri.

CiMAHi, akwnulis.com. Pagi sedikit mendung disaat mentari malu-malu menampakkan diri, mungkin berlanjut hingga siang hari nanti. Cuaca menjadi nyaman jikala nanti mau berjalan-jalan di siang hari, tanpa khawatir sengatan panas yang mengganggu proses pengelupasan kulit muka, maklum lagi perawatan… awwww.

Enaknya ngapain yaaaa?”

Sebuah pertanyaan yang sangat penting, karena akan menentukan gerakan tubuh selanjutnya. Apakah akan melepas selimut hidup yang sedang membungkus raga ini?.. atau tetap bercengkerama dalam tatap dan kelembutan yang halalan toyyiban?… kembali aneka opsi menjadi pilihan.

Ternyata, diskusi adalah cara efektif untuk menyamakan frequensi, membangun kebersamaan persepsi yang akhirnya berusaha bersinergi. Keputusannya adalah melepas sementara selimut dan beringsut menuju ruang tengah untuk menikmati kenikmatan hidup lainnya meskipun sebagian orang menyebutkan sebagai kepahitgetiran.

Apa itu kawan?”

“Yaaa…. Ngopaay.. eh seduh kopiii!!!”

***

Siang ini yang menggoda selera untuk segera dieksekusi adalah sebuah mahakarya, artisan coffee dari Garut Jawa Barat.. pasti arabica bean dengan label CAWENE COFFFEE.

Tanpa perlu berlama kata, maka air panas disiapkan, kertas filter, corong V60, glass server, timbangan, dan tidak lupa… ya kopinya atuhhh… eh bubuk kasar kopinyaa… Cawene coffee.

Setelah corong V60 berlafis.. eh berlapis kertas filter sudah dibasahi air panas, maka prosesi perseduhan manual kopipun akan segera dimulai…..

3 sendok makan bubuk kopi arabica Cawene…. yaa sekitar 20gr Cawene sudah pasrah menunggu sentuhan air panas 92° celcius. Mengucur perlahan, memutar melawan arah jarum jam. Aroma harum menyeruak, serpihan biji diseduh air telah membebaskan aroma yang terpendam dalam biji kopi Cawene ini…. aslinya harum pisan.

Gelas server Dugio300 menampung tetesan kopi hasil filterisasi manual brew V60 di pagi yang mendung ini. Perlahan tapi pasti mendungnya siang berubah jadi ceria, semarak, seiring dengan prosesi manual brew yang memasuki titik akhir.

Photo : Kopi Cawene bersama corong V60 / dokpri.

Sambil menanti tetesan akhir kopi cawene berkumpul di gelas server, mencoba mencari makna Cawene. Ada yang mengartikan Cawene itu cawan dan berkaitan dengan Uga Wangsit Siliwangi yang terkait tentang satria piningit. Sementara dalam kamus bahasa sunda online (unverified) menyebutkan Cawene ini perawan, senada dengan sebuah pendapat yang menghubungkan dengan syair lagu sunda jaman jadul yang menyandingkan ‘bujang’ dengan ‘cawene’.

Apapun pengertiannya, penulis mah seneng aja kerana eh… karena bentar lagi moo nikmatin kopi cawene ini, hasil manual brew V60 olangan….

Kopi cawene yang diseduh ini dengan label Cawene coffee, artisan coffee & roastery. Process natural medium to dark. Diroasting tanggal 04.03.2019, ground coffee berbungkus hitam dengan berat 250gr. Arabica premium, Garut origin west java indonesia. PIRT 5103205011019-23

Harga free karena ada yang ngasih, hatur nuhun Pak Haji 🙏🙏….

Jeng jreeeng…. sajian kopi sudah siaaap.

Cuuur….. dituangkan ke gelas kaca mini kesayangan…

Sruputt.. kumur dikitt… hmmmm

Woaaah…. nikmaatnyooo. Aromanya harum banget, bodynya mantaabs, bold euy.. tebal berisi… dipadu oleh aciditynya yang juga medium high… bikin sensasi ‘ninggal’-nya semakin kentara. Taste yang menyeruak adalah tajamnya rasa fruitty, khususnya lemon dan sedikit jeruk nipis plus tamarind… juga kayaknya muncul rasa berry….

Over all, mantabs nikmat.. tapi untuk pemula mungkin belum pas. Karena akan terkaget dengan body dan aciditynya yang seolah mencengkeram lidah memahitkan mulut.

Buat penikmat kopi hitam, ini recomended.

Srupuut…. nikmaat. Happy wikend guys. Wassalam (AKW).

****

Arabica Wine & Ijen di Renjana

Menikmati V60 Arabica wine vs Ijen.

Photo : Sajian V60 Arabica wine – Renjana / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com.Pagi yang cerah dan senyum di bibir merah, sejuta rasa bahagia….’

….”Lhaa kok jadi nyanyiin lagu mendiang Chrisye seeh?”

Tapi ini emang pagi yang cerah meskipun bibir merahnya sih relatif. Merah karena obat merah, atau bibirnya kejemur atau polesan lipstik yang mungkin harganya mahal dari mulai Estee Lauder Pure Color Envy Sculpting (400ribuan) hingga Couture Beauty Diamond Lipstick yang harganya (ceunah) 187 Milyar karena bertabur berlian.

Pagi yang cerah ini, menjadi kesempatan berharga untuk menjajal program jalan 30 menit/hari. Kebetulan ada perintah buat ngewakilin bos rapat di salah satu kantor di daerah jl Riau – jl.Laswi. “Kayaknya nyampe kesitu jalan kaki 30 menitan”

Berangkaat…..

Dengan rute Jl. Martadinata / Jl.Riau luruss aja ngikutin trotoar, dan beberapa kali menyebeberang di perempatan… ada 4 apa 5 per4tan. Mulai dari perempatan Istiqomah, Cihapit, ujung jalan Aceh, Gandapura hingga perempatan Jl. Anggrek…

Ternyata 24 menit sudah hampir tiba di TKP, wah masih ada spare 6 menit. Belok kanan dulu ke jalan Anggrek trus ke Jalan Pudak… ternyata ada 4 cafe kopi…. yang pasti ada kopi pudak, kopi Renjana dann…..halah 2 lagi lupa euy.

Photo : Barista Renjana beraksi / dokpri

Dari Jalan Pudak langsung balik badan dan kembali kepada jalan yang benar eh.. jalan yang menuju tempat rapat….. 35 menit akhirnya waktu berjalan dari daerah Istiqomah hingga ujung jalan Martadinata-Ahmad Yani. Keringat lumayan mengucur, tapi segar… aslinya segeerr. Yaa kalaupun ada sedikit bau keringet pas ntar rapat, itu mah resiko. Namanya juga jalan kaki, ya keringetan.

—- Cerita rapatnya nggak dibahas

Naaaah… jam 2 siang baru beres rapatnya…… setelah bubar…. jalan kaki lagi menuju jalan anggrek tadi… kemooon.

Photo : Sebungkus arabica wine / dokpri

Namanya Kafe Renjana, kata sang duo barista artinya ‘Rencana‘ tapi diwujudkan jadi cafe. Nama baristanya Rio dan Diki. Menunya banyak, dan ruangannya cozy serta rapih. Ada juga ruangan private buat meeting, itu mah musti booking dulu….. lha kok jadi iklan cafe seeeh!!.

Yang penting kopinya bro, manual brew V60 tea geuning….

Tanpa perlu lama, pilihan biji kopi yang ada dibaca satu persatu. Ah pilihan mah nggak boleh terlalu banyak, lagian yang lainnya udah tau karakter rasanya… wheleeeh wheleeh kayak yang udah nyicip ratusan kopi aja, sombong lu!!

Pertama, Arabica wine. Katanya beannya dari gunung manglayang. Oke deh gpp, ditunggu racikan manual brew V60nya.

Sambil duduk di meja sebelah dalam, mencoba menikmati suasana cafe Renjana dalam waktu yang sangat terbatas ini. Enak juga buat nongkrong, eh tapi jauh dari kantor. Ya sudah sesekali aja.

Tak berapa lama sajian kopi manual brew V60 Arabica wine ala Renjana cafe telah tiba dihadapan. Sebelum dinikmati tak lupa didokumentasi, wajiib itu!!

Ouuww…. bodynya bold dan ninggal di seputar bibir, aromanya oke dan ada taste fruitty yang ninggal plus selarik rasa karamel.

Kata baristanya pake perbandingan 1:15 alias 100ml dengan 15gr bean persajian… cucook deh.

Nggak pake lama, disruput habis tuh sajian kopi arabica wine. Eh sang pelayan lewat, sambil tersenyum berkata, “Om kayak minum air putih aja, teguk teguk habis.. itu khan pahit bingiit”

Senyum tersungging, salah besar. Ini sajian nggak pahit, justru nikmat dan bisa sesaat melupakan pahit getirnya kehidupan… ahaaay.

“Pesen lagi neng, Manual brew V60, kopinya Ijen”
“Oke Kakak”

Ahay kok berubah panggilannya dari Om jadi Kakak….

Photo : Sajian V60 kopi ijen / dokpri

Sajian kedua, manual brew V60 kopi Ijen. Sajiannya sama dengan gelas botol saji transparan dengan gelas kecil. Tanpa embel-embel, polos saja.

Perlahan disruput, kumur dikit dan glek.. glek.. glek… aroma harum dengan body lite, cocok buat pemula. Serta acidity medium. Taste tidak terlalu jelas, sangat tipis rasa fruittynya.. “Eh atau jangan-jangan efek arabica wine-nya belum hilang?”

Nggak usah dipikirkan. Biarkan kopi arabica wine dan kopi ijennya bersepakat di dalam lambung untuk menghasilkan MOU perikekopian yang akhirnya akan keluar dari tubuh ini dalam bentuk yang relatif sama.

Photo : bean kopi Ijen / dokpri

Yang pasti keduanya nikmat dengan segmentasi peminat ya g berbeda. Mau yang strong atau medium, itulah pilihan.

Akhirnya sang waktu jua yang memaksa raga ini hengkang dari Cafe Renjana. Kembali ke alam nyata dan berpetualang menapaki jalan kehidupan yang terbentang sepanjang hayat. Wassalam (AKW).

***