Empon – empon.

Jam segini, kayaknya seger…. ups

Photo : Empon-empon penghangat raga / dokpri.

Tanjungsari, akwnulis.com. Tanjakan dan kelokan licin menjemput kehadiran langkah kali ini. Memang pendek jaraknya, tetapi dengan tanjakan dan 4 kelokan memberikan kesempatan raga melepaskan beberapa kalori yang dilengkapi dengan deru nafas yang sedikit tersengal.

Ternyata baru ditantang nanjak dikit aja udah repot, ketahuan banget nich nggak pernah olahraga ditambah berat badan yang ternyata stabil dikisaran nomor cantik 99,9kg upss…

Tapi tenang, semangat tetap membara dan tanjakan ini bukan halangan untuk hadir dan berkarya. Maka langkah beratpun terus dilakukan hingga tiba di tempat yang diharapkan, sudah ramai dengan berbagai keriuhan yang di kemas dengan nama Village Talk…. senangnya.

Village Talk sejatinya adalah program kerja Disparbud jabar terkait pemberdayaan masyarakat desa dalam memanfaatkan potensi wisata lokal, sementara dari sisi etimologi bahasa memiliki arti luas termasuk jikalau disambung-sambungin maka semakin luas maknanya.

Coba geura, Village Talk bisa diartikan berbincang atau diskusi di desa, berbicara tentang desa, di desa banyak bicara ataupun ngobrol tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat desa di sektor pariwisata.  Mantabs khan?….

Apapun itu, sebuah ihtiar penguatan dan pemulihan ekonomi masyarakat sedang dilakukan dengan basis potensi wisata dalam wilayah desa atau kawasan yang lebih kecil sekaligus penguatan ekonomi kreatif demi memulihkan dan membangkitkan sektor pariwisata.

Sebuah catatan penting kali ini adalah sajian minuman khas dari salah satu stand warung di bazaar gantoeng yang begitu mempesona, minuman empon-empon.

Jikalau ditahun lalu sudah di promosikan bapak Presiden, maka kali ini bersua kembali dengan sajian minuman hangat di tempat yang eksotis. Berada di ketinggian yang dipenuhi udara segar serta pemandangan hamparan hijau yang mendamaikan perasaan.

Empon-empon adalah minuman jamu yang terdiri dari temulawak, jahe, kunyit dan rempah-rempah lainnya yang mengandung antioksidan, yang bisa menangkal radikal bebas, meningkatkan kebugaran dan daya tahan tubuh.

Apalagi di bulan ramadhan ini, cocok juga menjadi alternatif minuman berbuka puasa yang memghangatkan dan mendamaikan.

Photo : Secangkir empon-empon dan alam / dokpri.

Rasa pegal sisa menanjak sudah hilang, berganti dengan kesegaran yang dihadirkan oleh 3 cangkir empon – empon….

Selamat berpuasa dan mari kita jaga kebugaran dan daya tahan tubuh kita. Wassalam (AKW).

TEH GELANG

Menikmati kesegaran alami…

CIATER, akwnulis.com. Dikala jiwa berontak untuk segera beredar menapaki jejak jejak kehidupan, sebersit rasa di ujung hati masih meragu karena pandemi. Apakah sudah aman diluar sana?… sebuah tanya yang menggelantung diatas langit keinginan.

Photo : Teh Gelang & Prosesnya / dokpri.

Detik waktu terus menderu mengitari permukaan jam dinding yang setia nemplok ditempatnya. Sementara hati ini masih dilema, antara berangkat dan tidak. Juga antara diijinkan atau tidak.

Lha emang pake ijin?”

Harus atuh, selama masih menjadi anak buah dan belum jadi bapak atau ibu buah tentu selalu ada atasan diatas. Maka mekanisme ijin adalah protap yang menjadikan perjalanan kedinasan ini tepat dan sesuai dengan kehendak semua vihak eh pihak.

Sebuah kata datang melalui pesan whatsapps, ‘OKEY’…. wuiiih senangnya. Ijin sudah ACC, eh tapi aman nggak ya diluar sana?…

Bismillah we ah…. Kuy ah.

Keraguan masih menggelayuti hati, tetapi minimal persiapan prokes menjadi andalan. Masker cadangan, 1 liter handsanitizer dan sabun cair untuk cuci tangan sama sapu tangan segitiga warna pink pemberian seseorang yang pernah hadir penuh pengharapan… uhuuy.

Cuss……

Bergeraklah raga menembus kelokan dago atas yang menjadi jalan pintas, hingga tepat melewati batas kota dan menghambur menuju perkebunan teh yang menghiasi lereng alami gunung tangkuban perahu.

Nah setibanya diperbatasan Bandung dan Kabupaten Subang, ada rasa ingin sebentar mampir demi melihat tempat baru yang masih sepi. Entah karena memang masih pagi atau karena pandemi, yang pasti kursi-kursi masih kosong minim terisi.

Disinilah bersua dengan sajian teh segar yang diproses betul-betul fresh. Jelas sekali daun teh yang diambil adalah teh yang tumbuh segar dihamparan di depan mata. Lalu dipilih dengan tangan tangan terampil dan…. di masukin wajah untuk dimasak… lha dimasak.. maksudnya dilayukan… katanya sih supaya pori-pori daun tehnya terbuka sehingga si rasa dalam daun teh bisa keluar menyapa semesta.

Setelah itu diangkat dan disimpan diatas nyiru untuk selanjutnya digelang, atau diremas remas dengan jari tangan khususnya dengan telapak tangan…. ini yang membuat hadirnya nama TEH GELANG.

Bukan teh gelang, seperti gelang di lengan. Tetapi Gelang seperti penyebutan ‘Lele‘.. artinya diremas dengan kedua tangan dan penekanan oleh telapak tangan dibantu jari jemari…. nikmaat

….klo dipaksain… bisa pake lagu…

Gelang sipatu gelang….. “ silahkan teruskan.

Nahh….. dari sinilah sebuah seduhan teh alami yang hadir dengan gelas tinggi. Menyebarkan aroma kesegaran tiada tara. TEH GELANG namanya.

Photo : Straberry / dokpri.

Sungguh sebuah kombinasi suasana dan rasa yang tiada tara, disempurnakan dengan kumpulan strawberry merah merona yang membuat semakin terpana karena begitu banyak nikmat Illahi yang hadir dengan segala kemudahannya.

Meskipun tetap waspada dikala ada pengunjung lain yang menyapa dan duduk mendekati area meja, maka masker musti kembali terpasang dan semprotkan handsanitizer di tangan demi sebuah ketenangan. Selamat DL tipis tipis kawan. Wassalam (AKW).

PASANGAN

Sejalan tapi belum tentu seiring secara fungsi.

Terkadang, Pasangan yang ada bukan bicara rasa. TETAPI, bagaimana saling menjaga.

Photo : Pasangan Serasi / dokpri.

Contohnya Hand sanitizer mini dan sajian Kohitala V60.

Apakah berhubungan langsung?… tentu tidak. Jikalau dipaksakan disemprotkan ke gelas berisi kopi sajian manual brew v60, maka yang terjadi adalah pembolayan (cancel) untuk meminumnya karena jelas beresiko. Kecuali isinya diganti gula cair hehehehe…..

Teu nyambung sih, tapi lebih tenang menikmati kopi sambil sebelumnya semprotkan cairannya ke tangan dan gosokan dengan merata, baru ambil gelas untuk sruput tanpa perlu lama-lama.

Nah sekarang terasa terlindungi… karena tidak ada jaminan bahwa gelas yang tersaji dari sang baristi mungkun saja membawa kuman, virus atau bakteri

Wilujeng.. selamat menikmati kopi dengan hati yang lebih damai tanpa basa-basi. Wassalam, (AKW).

TIPS PERJALANAN DARAT BDG – SMG PP Di MASA PANDEMI

Tips sederhana tapi bermakna.

Photo : Suasana Simpang lima Kota Semarang / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Kali ini tergerak hati untuk berbagi sekaligus menggerakkan jari mengetik kembali di keyboard virtual pada smartphone kesayangan. Tema yang dipilih adalah berdasarkan pengalaman, meskipun hanya sejumput cerita tapi semoga memiliki manfaat dan guna.

Tema kali ini adalah TIPS PERJALANAN DARAT DI MASA PANDEMI COVID19.

Mengapa menjadi tergerak menulis, karena jangan sampai niat baik kita mengerjakan tugas dalam sebuah perjalanan kedinasan berujung dengan nestapa karena terpapar oleh virus seribu rupa. Apalagi jikalau ternyata menjadi OTG, dan menularkan kepada keluarga terdekat kita, suami atau istri, anak ataupun orangtua, Audzubillahimindzalik….

Maka inilah TIPSnya kawan, dengan contoh kasus perjalanannya adalah dari Kota Bandung ke Kota Semarang lalu bermalam 2 hari dan kembali pulang setelah tuntas pekerjaan. Apalagi yang bikin agak nggak karuan adalah pada saat hadir di Kota Semarang ternyata sedang gelombang kedua peningkatan penyebaran Covid19 di Jawa Tengah, makin deg degan lah… sport jantung teh beneran guys.

Inilah langkah-langkah yang dilakukan :
00. Sebuah Doa perlindungan senantiasa terpanjat kepada Allah SWT dari pandemi dan juga keselamatan & kelancaran perjalanan adalah yang utama.

0. Lakukan tes swab antigen dahulu sebelum berangkat, selain memastikan kondisi kita juga sebagai pegangan jikalau diperbatasan antar wilayah atau pas masuk kota tujuan ternyata diwajibkan membawa bukti tes tersebut.


1. Persiapan perlengkapan pribadi, perlengkapan ini diantaranya : aneka handsanitizer, disinfektan semprot, sarung tangan, plastik, masker medis, fave shield, tissue basah, cairan alkohol, vitamin C dosis tinggi, vitamin B complex, tissue alkohol, minyak kayu putih dan plastik kecil. Baju dan pakaian secukupnya saja sesuai dengan sebentar lamanya di perjalanan dan di kota tujuan.

Photo : Perlengkapan pribadi anti covid19 / dokpri.


2. Isi penuh BBM dan e-tol card sebelum berangkat. Pengalamanku kemarin Bandung – Semarang PP, eh nginep 2 malam itu habis etoll sekitar 800ribu dan BBM 1jt, berarti sekitar 1,8 juta.


3. Bawa makanan ringan, air mineral dan makanan berat yang praktis seperti leupuet, buras, popmie, roti-roti dan sebagainya.


4. Hindari berhenti di Rest Area, jikalau terpaksa kebelet pipis, maka bawa hand sanitizer dan tissu basah plus tissue kering sendiri. Di toilet umum rest area hati-hati dengan persentuhan tak sengaja dengan badan orang lain.


5. Pemesanan dan pembayaran Hotel secara Online. Ini sih udah biasa jadi tak perlu dibahas lebih terperinci.


6. Setiap bersentuhan dengan benda apapun maka langsung gunakan hand sanitizer atau cuci Tangan.


7. Pesan makanan secara online atau gunakan fasilitas home service di hotel. Untuk menu sarapan pagi dipastikan ada pelayan yang memberikan pelayanan serta senantiasa membawa hand sanitizer di botol kecil.


8. Hindari nongkrong di cafe atau angkringan, sementara jangan tergiur dengan kuliner di kota tujuan.


9. Kegiatan meeting menggunakan masker dan faceshield juga disarankan berkemeja atau batik lengan panjang.


10. Batasi durasi pertemuan, koordinasikan secara diplomatis dengan tuan rumah.


11. Jikalau harus makan siang bersama, pilih rumah makan yang terbuka, sehingga sirkulasi udara tersedia. Jaga jarak antar orang dan usahakan bergantian membuka masker dan makan sajian yang ada.


12. Hindari beredar di malam hari, gunakan waktu yang ada untuk beristirahat yang cukup di kamar hotel.

Photo : Simpang lima Kota Semarang / dokpri.


13. Jika dekat dengan lapangan atau jogging track, bisa lakukan jogging terbatas dan tetap menggunakan masker.


14. Pembelian oleh-oleh dapat dilakukan secara online melalui aplikasi Grab/Gojek dan dikirimkan ke resepsionis hotel. Pada saat check out diambil untuk masuk ke kendaraan, jangan lupa disemprot dulu dengan semprotan pembasmi virus/bakteri.


15. Jika mau menggunakan fasilitas hotel seperti kolam renang dan tempat fitnes sebaiknya pada saat sepi. Jika banyak pengunjung, disarankan dihindari.


16. Jangan pernah melepas masker dimanapun, apalagi jika sedang berhadapan dengan orang lain.


17. Tetap update info kepada keluarga terdekat via whatsapps atau telegram secara berkala kondisi yang ada.


18. Dokumentasi photo dan video tanpa diarahkan juga biasanya sudah otomatis kok, baik sebagai dokumentasi juga sekaligus pelaporan online ke jagad maya bahwa kita sedang ada dimana, bersama siapa dan sedang apa…..

Itulah trips trik dari kami, sebuah ihtiar dalam menjaga diri, menjaga keluarga dan rekan kerja dari paparan virus covid19 serbu rupa.

Photo : Menu sarapan & hand sanitizer / dokpri.

Ada poin ke 19, jika merasa belum yakin dengan kemungkinan menjadi pembawa virus. Setiba di kota Bandung maka segera lakukan Swab antigen untuk memastikan hasilnya. Bisa juga swab PCR tetapi berhubung hasilnya agak lama dan cukup mahal jikalau periksa secara mandiri maka diawali swab Antigen dulu sudah merupakan langkah bijak pencegahan sebwlum bersua kembali dengan keluarga tercinta. Wassalam (AKW).

Bersua dengan Kehijauan.

Photo : Saoropus Androgynus / dokpri.

CIMOHAY, akwnulis.com. Akhir bulan januari yang memaksa tetap berdiam diri. Pertama karena memang masih masa pandemi dan yang kedua memang harus menghemat amunisi. Maka memutar otak agar tetap bisa bereskpresi tanpa perlu banyak keluar anggaran itu ini.

Sejak dini hari ternyata temperatur disini membekukan hati, sehingga niat bersepeda bersama istri terpending belitan hawa dingin yang begitu kuat melingkupi… ah ini mah alasan aja, justifikasi kemalasan ya?….

Bukan kawan, betul memang begitulah kenyataan.

Ah nggak jelas, jikalau jadi bahan debat maka tak akan tuntas penyelesaiannya karena yang dipertahankan hanyalah menghilangkan energi dan kata-kata tanpa ada hasil nyata.

Tapi, jikalau berkemul teruspun tak elok. Karena banyak hal lain yang bisa dikerjakan untuk mengusir kegalauan di akhir bulan.

Meskipun penuh kahoream alias malas bingit bergerak, akhirnya raga dipaksa ikuti jiwa untuk mencari kegiatan yang mungkin menghadirkan semangat untuk berkarya dan mencipta.

Maka…. lawanlah kemalasan dengan bangkit dari gerak tidur-tiduran, jangan lupa bawa hape. Lalu segera berdiri dan cuci muka. Seterusnya beranjak ke halaman belakang dimana banyak aspirasi menulis yang tak lekang oleh kebosanan.

Agar terjadi keseimbangan maka perlu dipilih perwakilan, yaitu wakil dari kaum tumbuh-tumbuhan dan wakil juga dari kaum kehewanan. Dengan catatan memiliki kesamaan dari sisi warna yaitu hijau penanda bergeraknya tahapan kehidupan.

Photo : Papilio Demoleus / dokpri.

Silaturahmi pertama adalah bersua dengan batang hijau dengan bunga kecil merah yang begitu indah. Apalagi jikalau sudah dipetik daun dan batangnya lalu diolah memjadi sayur bening. Betapa nikmatnya dengan nasi panas dan sambel dadak plus kerupuk, apalagi jika di taburi goreng ayam kering dan serundeng. Dijamin nikmat bangeeet…….

Nama latin daun dan bunga merah kecil ini adalah Saoropus Androgynus, gaya khan?…. sementara nama familiarnya adalah daun katuk….

Ohh daun katuk…. biasa itu mah.

Justru dibalik hal yang biasa, banyak makna cerita yang bisa kita ambil hikmahnya. Seperti daun katuk ini, selain rasanya enak juga banyak gunanya termasuk yang paling terkenal adalah khasiatnya untuk menyuburkan dan meningkatkan kualitas air susu bagi ibu menyusui bayinya…. bukan bapaknya yaaa :).

Silaturahmi kedua tidak kalah menghijau dan miliki nama keren juga yaitu Papilio Demoleus. Kayaknya nama cowok, khan ada papi-nya. Tapi ternyata ini berlaku jantan dan betina, eh lagian nggak tahu juga mana yang jantan dan mana yang betina. Inilah wakil hijau dari dunia hewan yang bisa bersua di area taman belakang.

Bentuk tubuhnya lucu dan terlihat menggelembung dibeberapa bagian terutama di bagian kepala. Terlihat lebih besar dari bagian tubuh dan ujungnya. Kaki-kaki terlihat imut meskipun kuat mencengkeram daun yang menjadi pegangan sekaligus makanan kesukaan.

Photo : Papilio Demoleus lagi diatas dahan / dokpri.

Inilah penampilannya, hijau lucu dan menggemaskan tetapi juga rakus jikalau terus dibiarkan. Nama akrab kita yaa… ulat jeruk gundul… asli gundul tanpa bulu-bulu yang menyebabkan kegatalan. Sehingga memegang dengan jaripun tidak menjadi halangan, hanya geli gimana gitu dikala menyentuh kekenyalan badan hijaunya.

Itulah silaturahmi sederhana dikebun belakang bersama tumbuhan dan perwakilan hewan yang menggemaskan. Hadirkan kata-kata dan kalimat indah yang mengubah kemalasan menjadi keceriaan. Selamat mengisi sisa libur mingguan dengan kehangatan keluarga tersayang, Wassalam (AKW).

Ngopi di AWAN.

Sebuah cerita tentang keinginan dan kenyataan.

Photo : Kolam renang & nuansa alam / dokpri.

PADALARANG, akwnulis.com.  Setelah sekian purnama tak berani untuk menjambangi cafe ataupun kedai untuk menikmati suasana ditemani sajian kohitala (kopi hitam tanpa gula), maka kali ini sebuah tulisan yang dihadirkan adalah sebuah cara untuk mengobati kerinduan ini.

Lalu mencoba mencari koleksi photo yang belum pernah dihadirkan, pilihannya jatuh pada photo-photo yang ternyata bukannya mengobati kerinduan kongkow tetapi malah membikin rasa ingin ngafe menggebu, ah serba salah.

Tapi sudahlah, jangan nekat dalam suasana saat ini. Pandemi belum berakhir dan virus covid19 masih mengintai tanpa kita sadari.

Cukuplah sedikit mengkhayal dan membayangkan sebuah makna kenikmatan yang di masa lalu adalah biasa dan kita kurang mensyukurinya. Tetapi kali ini, diri ini faham bahwa kesempatan berkongkow sambil ngopay itu menjadi hal yang luar biasa dan harus disyukuri.

Sambil merefresh ingatan, masih tergambar dikala kita bergerak dari lobby hotel ke arah utara dan memasuki lift untuk mengakses ke lantai 8 dimana lokasi tujuan yang telah ditentukan.

Keluar dari pintu lift maka tersaji nuansa cafe yang simpel namun elegan dan sesuai namanya yakni AWAN, ingin menggambarkan bahwa pemandangan di sekitar seakan kira berada diatas awan, ahay lebaay.

Photo : Hot Chocholate / dokpri.

Sudahlah, daripada ntar disuudzonin dapet endors padahal inimah ditulis karena kegabutan dan rasa sedikit frustasi melihat pandemi yang terus melanda negeri sehingga aktifitas berubah dari rutinitas sehari-hari.

Maka tanpa basa basi, mendekati sang baristi dan memesan minuman yang sudah menanti diracik sedari tadi.

Tanpa perlu berlama-lama sajian cafelatte dan hot coklat menemani semaraknya sore itu. Saling melengkapi meskipun harus segera disruput untuk dinikmati karena ternyata dengan suhu yang memang dingin ditambah gelebug*) angin, maka sangat cepat berubah dari hot coklat menjadi ice coklat hehehehe…..

*) gelebug : terpaan angin.

Photo : Cafellatte Awan / dokpri.

Sebelum meninggalkan lantai delapan, tidak ada salahnya mengabadikan secuil fragmen kehidupan dalam bentuk photo dari ketinggian. Kolam renang dan tempat bermain air bagi anak dipadukan dengan kelokan sungai dalam nuansa alam kehijauan memberikan semangat dan menggugah rasa syukur bahwa lukisan Tuhan adalah Keberkahan.

Selamat memaknai segala perubahan dan kehidupan ini. Insyaalloh dibalik kesulitan akan hadir kemudahan. Wassalam (AKW).

Senin selasa awal 2021

Yuk ah… Gaspol.

Photo : pembahasan Tugas 2021 / dokpri

DAGO, akwnulis.com. Senin adalah hari kemarin dan hari ini adalah hari selasa, jadi besok adalah hari… Rabu.

Apa sih malah menghitung hari, sudahlah cukup diwakili krisdayanti. Sekarang lebih baik menguatkan hati dan pikiran untuk segera bekerja di awal tahun yang (semoga) penuh harapan.

Senin kemarin sudah langsung di gebrak dengan briefing pimpinan yang tentu dilanjutkan dengan briefing teknis oleh anak buah pimpinan kepada anak buah dibawahnya dan dibawahnya lagi hingga buah yang paling akhir.

White board sampai tak kuasa menampung betapa banyak kata yang terhambur dari spidol boardmaker yang mencatat berbagai tugas, arahan dan juga curhat yang musti kita sama-sama jalankan.

Photo : Catatan Briefing teknis / dokpri.

Siangnya rapat virtual digelar dalam rangka menyongsong pemberlakuan e-sign alias tanda tangan digital dengan dilakukan coaching clinic online yang ramai.

Materi yang menarik karena bicara masa depan, dan para hadirin peserta rapat berusaha mengejar keberpahaman bersama demi menyongsong kemajuan jaman yang sudah ada didepan mata.

Nah terlihatlah bahwa diriku masih masuk golongan semi lanang celup bin barho, yaitu sebutan bagi pihak tertentu yang kesulitan menangkap materi yang disampaikan disisi lain setelah materi paparan tersampaikan… eh cepat lupa.. maka sebutannya ‘LAmbat NANGkap CEpat LUpa’ atau LANANG CELUP…. dilanjutkan kalau pas sudah bubar jadinya poho (lupa) jadi disingkat BARHO.

Entah siapa yang bikin istilah itu, tapi itulah singkatan yang mudah diingat dan susah terlupa bagikuu.

Maka mari kita saling mendukung dan mengingatkan serta mencoba memahami materi-materi paparan yang menarik dan berisi wawasan masa depan secara kolektif kolegial… eh kolektif dan penuh kebersamaan.

Photo : Lagi sibuk / dokpri.

Jadi hari pertama dan hari kedua kerja (resmi) di tahun 2021 langsung gasspoll…. dengan berbagai rencana dan juga penyelesaian sisa-sisa pekerjaan 2020 yang masih perlu penyempurnaan.

Tapi jangan lupa makan siang,…..tetap usahakan dilakukan tepat waktu, atau hampir tepat waktu. Tidak sulit karena memang sudah disiapkan bekal maksi oleh istri tercinta, tinggal ambil mistingnya, buka. Disajikan diantara tumpukan berkas yang terdiam tanpa kata.

Selamat bekerja di awal tahun 2021 yang (semoga) penuh harapan. Wassalam (AKW).

NGOPAY Kaum Rebahan.

Nikmati lagi sajian coffee, suatu hari nanti.

Photo : Coconut Milk Coffee WP / dokpri.

KOSUIN, akwnulis.com. Mendamaikan rasa dan menge-charge semangat bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Beraneka aktifitas tentu akan menjadi pilihan yang sangat menyenangkan, dari mulai jalan bareng keluarga atau masak bareng di rumah hingga naik gunung atau menikmati adrenalin terpacu menggunakan motor trail dan kendaraan offroad menembus alam liar yang (mungkin) belum terjamah.

Makan bareng di cafe, restoran, kedai atau rumah makan bersama keluarga di hari libur serta sambil ber-tawaf di mall adalah aktifitas kebersamaan yang biasa dilakukan oleh keluarga pada umumnya.

Tapi….. sekarang semuanya berbeda.

Kebersamaan yang paling mudah dengan beredar di mall, makan bareng di restoran berkongkow bersama kawan, kolega, keluarga atau sanak saudara …. sekarang penuh kekhawatiran karena pandemi virus tak kasat mata sedang mendera.

Menjeda bersama, menahan keinginan untuk semua aktifitas itu ternyata berat rasanya.

Sekaranglah kesempatan untuk mengubah haluan kebiasaan dimana awal tahun lalu gerakan kaum rebahan itu dipandang sebelah mata. Tetapi sekarang, pilihan menjadi kaum rebahan ternyata bisa mencegah kehancuran dunia karena bisa memutus rantai penyebaran virus covid19 yang ternyata semakin merajalela.

Jadi, marilah rebahan di rumah, yaa.. agak bermalas-malasan di rumah… meskipun ternyata setelah 9 bulan berusaha menjadi kaum rebahan…. eh bosan jugaaa…

Photo : Nasgor WP / dokpri.

Tetap pertahankan kemalasan… eh kaum rebahan ini sebelum jelas bahwa pandemi ini tuntas.

Karena, jika sudah terpapar. Urusannya panjang dan berdampak tak terbayangkan. Selama kita berusaha menghindari, Insyaalloh akan terlindungi.

Jadi, maafkan kawan. Jikalau diriku ini seakan menghilang dari peredaran. Sulit diajak makan bareng diluar meskipun katanya ini mah restoran terbuka di alam.

Jikalau terpaksa makan bersama, pasti memilih yang meja kursi hanya berdua, duduk berhadap-hadapan dan terpaksa bergiliran membuka maskernya. Hikmahnya adalah, jika kita sedang buka masker dan menyantap makanan maka yang ada dihadapan kita tetap tutup masker sambil bonusnya bisa melihat wajah kita yang sedang mengunyah dengan seksama…. begitupun sebaliknya.

Jadi, untuk mengobati kekangenan menikmati makanan dan merasakan enaknya ngopay, tak ada salahnya memposting sajian kopi dan juga pilihan menu makan siang di sebuah tempat makan yang rimbun alami dan mendamaikan hati.

Meskipun para pembaca tulisan ini jangan terjebak dengan momentum, ini bukan info update tetapi dokumentasi aktifitas beberapa waktu lalu sekaligus mengobati kerinduan akan kenikmatan makan dan ngopay diluar kediaman.

Kalau mau info update, tinggal pilih aja media online ternama atau nyalain televisi dengan saluran umum yang ada. Pasti info hangat dan terbaru yang akan hadir tersaji di gadget kesayangan kita.

Sekali lagi, selamat mempertahankan status menjadi kaum rebahan yang bisa menyelamatkan dunia sambil posting gambar-gambar aktifitas masa lalu yang tentunya bisa kembali kita lakukan setelah badai pandemi ini berlalu. Wassalam (AKW).

Pake MASKER Yuk.

Minimal pake MASKERnya Guys…

LEGOK EMOK, akwnulis.com. Liburan pergantian tahun disarankan untuk dihabiskan dengan bercengkerama bersama keluarga tetapi karena sebuah komitmen tugas sekaligus menjadi bodyguard ibu negara yang bertugas di instalasi gawat darurat yang juga rentan dengan kemungkinan hadirnya si covid19.

Jadi antisipasi pencegahan menjadi utama, masker tak pernah lepas dari wajah dan selalu menggunakan hand sanitizer atau mencuci tangan jikalau ada kesempatan. Apalagi pas pulang ke rumah, semua pakaian kotor langsung di rendam cairan detergen bersama dettol. Peralatan elektronik, dompet dan pernak pernik segera bergabung di mesin steril untuk menerima paparan sinar ultraviolet selama 10 menit. Tentu smartphone diusakahan dalam keadaan mati demi melindungi aplikasi dan berbagai komponennya dari paparan sterilisasi.

Mandi dan keramas sehari 3x sudah menjadi hal biasa, ini ihtiar sederhana manakala keluar rumah, kemanapun, sebentar atau lama maka wajib melakukan mandi plus keramas. Tujuannya sederhana untuk melakukan pencegahan, sebuah iktiar adaptasi kebiasaan baru dalam suasana dunia yang sedang dilanda pandemi.

Bosankah dengan rutinitas ini?”

Tentu bosan, apalagi orangtua dan anak yang praktis tak pernah keluar rumah. Tapi itulah sebuah kenyataan yang harus dijalani semua. Melatih kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi demi menghindari terpapar oleh virus yang tak jelas bentuknya tetapi nyata dampaknya.

Photo : Perlengkapan pencegahan / dokpri.

Nah, dikala melihat media sosial. Terlihat betapa banyak rekan-rekan, saudara-saudari yang beredar berwisata bersama keluarga besar juga tidak sedikit yang mengabaikan penggunaan masker atau pake masker tapi hanya hiasan… ah hanya bisa mengelus dada….. Inilah kenyataan yang ada.

Sulit memang untuk mengendalikan diri dari hasrat beredar dan bersua bersama keluarga, kolega dan handai taulan yang ada apalagi dalam momentum liburan yang memang cukup berharga.

Tapi, pengendalian diri bersama yang sebenarnya bisa mencegah semuanya. Sayangnya tidak semua miliki kendali yang sama, sebagian men-justifikasi bahwa beredar terbatas itu tidak mengapa. Padahal penyebaran covid ini sudah tidak pandang strata, siapapun bisa kena dengan dampak yang berbeda-beda.

Maka cara terbaik adalah kendalikan diri, kendalikan keluarga terdekat kita agar tetap patuh dengan protokol kesehatan yang ada.

Jangan terjebak oleh stigma bahwa orang yang mati-matian mencegahpun itu bisa kena. Itu ranahnya Takdir Illahi Tuhan Yang Maha Kuasa, tetapi jikalau kita sudah berusaha mencegah, insyaalloh hikmah dan berkah akan melindungi kita semuah….

Memang sekarang semua berbeda, serba terbatas dan penuh rasa khawatir yang mendera. Tetapi ingat kawan, kepedulian dan kedisiplinan kita yang akan membuat kita bisa melewati cobaan ini bersama.

Selamat berlibur panjang dan tetap menjaga diri dengan mengutamakan protokol kesehatan.

Minimal pake masker

Minimal itu….

Ah gemes deh, semoga semua diberi kesadaran untuk bersama-sama mencegah penyebaran dengan pengendalian diri dan tak banyak beredar.

Kalaupun harus beredar, maka bersih-bersih raga, peralatan dan juga jiwa ditenangkan sebelum kembali berkumpul dengan keluarga. Wassalam (AKW).

TEH PUTIHku…

Liburan di rumah bersama Teh…

BOJONGHALEUANG, akwnulis.com. Libur panjang memberi kesempatan untuk beredar, keliling kota menapaki mall atau bersilaturahmi sambil hahahihi di cafe dan resto langganan. Bisa juga membawa raga menuju kampung halaman atau rumah saudara yang masih alami jauh dari hiruk pikuk kota.

Tapi…. itu dulu. Sekarang semua aktifitas itu beresiko. Jikalau tidak tertular, khawatir tanpa sadar menulari orang lain apalagi orang tua atau saudara yang kita singgahi.

Jikalau banyak yang nekad, dengan bermodal masker saja tapi tetap beredar kesanah kemari. Semoga segera diberi kesadaran dan pengendalian diri, bahwa pandemi ini sedang terjadi. Jangan menyesal di kemudian hari, ketidak sabaran beredar ini bisa berakibat fatal.

Karena dikala tertular, bukan hanya phisik yang menderita, psikologispun akan terguncang termasuk tekanan finansial… percayalah dan kendalikan hasrat beredarmu.

Nah sebagai penggantinya, mari kita manfaatkan libur ini bercengkerama dengan keluarga dengan berbagai kreasi dan aktifitas yang jauh dari kerumunan orang tetapi tetap memiliki makna.

Salah satunya adalah Nge-teh, alias minum teh. Supaya lebih afdol, coba seduh white tea atau teh putih dan setelah ditunggu 5 – 6 menit, tuangkan di gelas kaca dan siap dinikmati.

Apalagi jikalau teh putih ini disajikan sama teteh putih, lengkap sudah liburanmu hehehehe.

Tapi, teteh putih ini cukup bercanda saja yaa… karena jikalau ibu negara tahu, maka akan hadir perang dunia, dan liburan kali ini menjadi neraka.

Selamat Nge-teh putih sama teteh putih.. ups…. sama ibu negara dan anak tercinta. Wassalam (AKW).