Outboundku

Hadir bersama dalam suasana ceria demi hasilkan kata soliditas dan kekompakan yang bersahaja.

Photo : Rombongan Jeep Mogok di Sukawana / dokpri.

LEMBANG, akwnulis.com. Sebuah pertanyaan menggelitik hari ini adalah, “Siapa sebenarnya yang mempopulerkan kegiatan outbound dan apa sih outbound ini?”

Langganannya jelas nanya ke mbah gugel dan om wikipedia yang bantu jelasin, ternyata kegiatan outbound dipopulerkan atau mungkin diciptakan sebagai model pendidikan yang kreatif oleh Kurt Hahn, seorang pendidik dari jerman (kata wikipedia).

Dalam bahasa indonesia disebut ‘mancakrida‘ yang berasal dari kata manca = asing atau luar dan krida = olahraga/perbuatan/tindakan… meskipun terus terang kayaknya jarang denger atau baru tahu kalau mancakrida itu adalah outbound hehehe…

Oh iya outbound itu berarti gabungan kata dari outward dan bound yang merupakan peristilahan bagi pelatihan manajemen dan kepemimpinan di alam terbuka dengan pola pendekatan pelatihan yang unik dan sederhana serta kreatif, karena tidak berdasarkan teori tetapi lebih mengedepankan aktifitas sehari-hari… eh kok malah berteori sih?

Kenyataan yang sering dirasakan mengikuti outbound adalah memang membangun kebersamaan dengan dilandasi keceriaan, penuh tawa canda tetapi tetap jelas hasilnya. Seperti bersama-sama membawa air di gelas plastik beralas kain dan tidak boleh tumpah, memadamkan api tetapi diawali perang air antar kelompok dan banyak lagi aktifitas di luar ruangan yang menyenangkan.

Photo : Menanti ketidakpastian berlatar alam / dokpri.

Tetapi ada hal yang menggelitik pada saat diskusi outbound ini di kalangan orang sunda, karena istilah outbound atau dilafalkan outbond ini adalah berasal dari kata out = luar dan bon = singkatan dari kebon atau artinya kebun.

Karena aktifitasnya pasti diluar ruangan dan biasanya di kebon atau kebun, jadi aja disebutnya outbon hehehehe… ampyun maksaa.. tapi ada benernya juga. “Bener khan?“…

“Klo dolbon apa artinya?”

“Ah kamu mah ada-ada aja, nanti itu di pembahasan berbeda”

Yang pasti outbound kali ini bener-bener nyebrangin kebon eh kebun dan menembus hutan pinus serta kebun teh yang indah menghijau… tapi nggak jalan kaki karena akan menimbulkan kegemporan berjamaah, jadi digunakan media jeep landy yang membawa raga-raga haus refreshing ini menyusuri trek tanah berlumpur dan tebing sempit yang begitu menantang.

Photo : Barisan Landy siap menemani / dokpri.

Raga diombang ambing gerakan jeep landy yang bergerak ganas menghasilkan sensasi perasaan bercampur aduk antara senang, bingung, takut, malu dan juga khawatir.

Ada yang berbadan besar tapi ekspresi penuh ketakutan, ada juga yang tetap santai malah hampir ketiduran disaat guncangan kendaraan semakin menggila.

Ada juga yang badannya timbul tenggelam hingga mengglosor ke lantai landy saking ringannya dan terguncang keras, kasian sih tapi kok jadi tertawa-tawa?……..

Termasuk yang bisa sampai ketiduran, …. aneh memang, tetapi setelah ditanya di akhir perjalanan, dijawab dengan ringan, “Saya sih enak tidur, serasa naik angkutan umum ELF yang melayani transfortasi dari kampung saya dulu di masa kecil, jadi yaa de javu, nikmatt”

Kami berpandang-pandangan, “Kampungnya dimana gitu?”

“Gununghalu”

“Ohhh….”

Itu sih masa lalu, disaat jalan masih rusak dan kondisi alam yang labil sehingga aspal (plastik) akan senantiasa kalah dengan air hujan yang menggenangi jalanan. Sekarang kampung itu sudah maju, jalan mulus dan perekonomian yang jauh lebih baik.

Udah ah… balik lagi keu outbound kali ini. Perjalanan begitu penuh sensasi dan pinggang serta punggung siap-siap dengan segala rasa yang ada. Tetapi kebersamaan semakin terasa dan kebebasan bersuara eh berteriak menjadi kepuasan tersendiri yang nggak mungkin bisa dilakukan di gedung kantor tempat kita bekerja.

Photo : Let’s go Maksi / dokpri.

Di sesí makan siang, suasana semarak makan bersama beralas daun pisang di pinggir hutan melengkapi suasana ‘bermain di kebon’ semakin bermakna. Dilanjutkan acara semi formal dalam lomba sambutan serta bernyanyi bersama yang tak kalah ceria….. eh tidak lupa sebelumnya menyegarkan diri di hangatnya air panas sari ater Subang yang mengandung mineral multiguna.

Selamat menikmati kebersamaan diluar kantor dan akan kembali ke pekerjaan rutin dengan soliditas sempurna. Wassalam (AKW).

Masa lalu & Langit biru.

Nikmati pagi yang penuh arti.

Photo : Bermain bola di kaki langit / dokpri.

Langit biru membentang
Menemani langkah dengan riang
Menyambut pagi yang penuh kehangatan
Berbalut semangat dan harapan

Tawa ceria bersama kawan
Tiada beban yang sedang disandang
Kehidupan begitu menyenangkan
Pagi yang terang benderang

Rumput bergoyang terinjak senang
Bola meluncur disambut teriakan
Udara segar mengisi rongga badan
Kuatkan jiwa dan semangat kebersamaan.

***

Kembali jemari terdiam, mata memandang lekat anak-anak bermain bola di ketinggian, tanpa beban, tanpa target juga tidak dibingungkan dengan kepentingan berbagai pihak, itulah kehidupan.

Tak mungkin diri ini kembali ke masa lalu, menjadi bocah kampung yang bebas bermain bola kapanpun (pas ada teman dan waktu luang) di lapangan atau di sawah kering dekat sekolahan. Tapi yang pasti, semangat optimisme masa lalu yang tanpa beban, keceriaan dan kesenangan dalam balutan kebersamaan… itulah yang harus dipertahankan.

Tetap berkobar dalam jiwa berbalut raga, yang sudah beranjak melewati batas usia pemuda serta menjadi keharusan untuk lebih paham lagi tentang arti katadewasa‘.

Selamat berkarya, Wassalam (AKW).

Adzan Magrib Pamungkas

Carita fiksi bahasa sunda dina sétting bulan puasa wanci rék buka.

#FikminBasaSunda *)

Photo : Masjid di Ngamprah KBB/dokpri.

Adzan magrib jadi idola ayeuna mah, teu kolot teu budak ngadepong nungguan sora ‘Allohuakbar Allohuakbar…‘ cicirén kualitas kaimanan di Nagara ieu geus ngaronjat.

Saregep di palataran masjid, nganghareupan sarupaning dahareun jeung inuman ogé 2 karung kurma, matak sugema.

Ngong adzan, ngadaru’a. Tuluy ngahuap babarengan, kolek, candil, bubur sumsum, pacar cina, sop buah, bubur kacang, aqua gelas, korma, bala-bala, géhu, rarawuan, témpé goréng, bakwan, martabak mini, balakécrakan. Inumeun ngajajar, cihérang, limun, sirop, entéh, kopi, susu, bandrék, bajigur jeung lahang.

Photo : Masjid di Desa Sade – Lombok NTB/dokpri.

Tapi teu maké itungan menit, béak kabéh teu nyésa. Kitu deui palastik jeung sèsa wawadahan ilang teu matak jadi runtah. Kaasup karpét jeung tihang, ornamén masjid puturul didalahar. Kulah jeung pancuran diuyup. Mimbar kana mix jeung toa disuruput, pamungkasna kubah masjid digereges, béak sagalana.

Solat magrib jamaahan jadina dina luhureun ruruntuk masjid, ngaheruk. (AKW).

***

*)Fiksimini Basa Sunda adalah tulisan fiksi dalam bahasa sunda berukuran mini, maksimal 150 kata dan tuntas menjalin sebuah alur cerita.