NGABANGKÈ – fbs

Dari istirahat menjadi kotretan penuh Niat.

CiMaHi, akwnulis.com. Sebuah ide menulis memang hadir sekelebat dan terkadang hilang jika tidak segera ditangkap. Maka cara terbaik adalah segera ikat dengan kata-kata, disulam oleh kalimat hingga hadirkan kemasan yang penuh niat.

Ada lagi, jikalau lebih nyaman menggunakan bahasa ibunda, maka tulislah. Jangan khawatir dengan perbedaan karena rangkaian kata memiliki kekuatan untuk kita terus berkarya.

Jadi, kembali tulisan singkat hadir berbahasa sunda dengan ilustrasi tiduran di lantai luar ruang kerja, tak lupa tetap menggunakan masker sebagai penanda bahwa waspada adalah yang utama.

Cekidot….

FIKMIN # NGABANGKÈ #

Geus dua peuting panon teu manggih peureum, salawasna bolotot ngagawèan urusan dunya nu pinuh ku wates waktu. Cikopi jeung udud teu sirikna piligenti asup kana tikoro jeung liang irung, ihtiar mèh awak jagjag ngagawèkeun sagala urusan bari mondok di kantor.

Ayeuna asup peuting katilu, geuning loba kènèh garapeun. Sirah mimiti lieur bari awak nyèksrèk manasan. Maksakeun balik heula, sugan wè geus panggih mah cageur.

Nepi ka golodog, motor di sarandèkeun. Muka tulak da boga konci sèrep. Bus ka imah, ngagolèdag na korsi panjang, reup sarè.

A gugah, ngalih ka pangkèng kulemna” sora halimpu ngagareuwahkeun. Beunta saharita.

Ningali lalangit naha ènternitna bodas, nempo hordèng beresih jeung jandèla nako makè kaca hias, sareungit deuih. Mencrong ka nu ngahudangkeun. Hareugeueun, “Saha salira?”

Plak!… Pipi katuhu dicabok, panas jeung reuwas. “Akang kunaon, hilap ka Isyeu?”

Masih hareugeueun, “Dimana ieu?”

Buk! Karasa punduk aya nu ngababuk, poèk mongklèng saharita. (AKW).

BEBEJA – fbs

Dongèng kiwari – Bèbèja – carita fiksi.

FIKMIN # BÈBÈJA #

Teu karasa ngawangkong tèh geus manjing ka sorè. Silih tèmbal ngobrolkeun kahayang, tapi tungtungna kalah ka ngobrolkeun kuwu nu dianggap rada teu sajalur kana kawijakannana.

Nu tarik nyarios tèh Wa Oji, salah sahiji Kadus. Meuni jiga nu ngèwa ka kuwu tèh. Aki Haji Sanusi ogè pupuhu karang taruna ngawitan kapangaruhan. Ngawangkong beuki maceuh, tapi janten sapertos badè nyokèl kalungguhan Kuwu.

Uing mah anak bawang, ukur olohok wè bari sakali-kali ngilu seuri. Leungeun mah nyoo hapè, ngabèjaan ka Wa Udan.

Èh Pak Danramil, mangga linggih” Wa Oji jeung nu ngawangkong eureun ngobrolna, rareuwaseun.

Kaleresan ngalangkung ieu mah, mung ningal meuni resep ngariung raramèan”

Ah henteu Komandan, mung ngawangkong ngalèr ngidul wè” Wa Oji mairan.

Sok lajengkeun, mung titipnya. Ayeuna mah urang kedah guyub dina mayunan cocobi dunya ku nerekabna virus covid-19. Ulah ngabahas urusan suksèsi, engkè gè aya mangsana”

Sumuhuun Komandan” sadayana ngawaler bari silih kiceupan. (AKW)

Gara – Gara JEMPOL.

Sebuah kisah akibat jempol berulah..

CiMaHi, akwnulis.com. Selamat malam dunia dan selamat memaknai hari yang penuh dinamika. Malam ini nggak kuat pengen menuangkan rasa dalam bentuk kata-kata yang  masih bercokol masygul di ujung dada. Masih terasa tersisa sebuah sesal akibat ketidak konsentrasian yang hampir saja berujung insiden memalukan.

Begini ceritanya…

Jeng jreng…

Pagi ini berangkat ngantor ditengah kontroversi istilah esensial, non esensial dan critical dalam kerangka PPKM darurat…. wadduh berat nich kata-katanya yach guys.

Klo mau cari dasar regulasinya tinggal search ama donlot aja Inmendagri 15/2021 deh.

Nah…. karena kurang waspada, sehingga business as usual, masuk pintu tol ajah… menuju tol pasteur….

Ternyata penyekatan sudah mulai dan ikut terjebak diantara ratusan kendaraan lainnya sampai hampir 2 jam lamanya.

Alamak…. ilmu manajemen stres dipraktekan, tarik nafas panjang, konsentrasi dan mencoba berserah diri… weitts ga bisaaa… ada beberapa agenda rapat yang harus segera dimulai… maka kordinasi sana sini via WA, telepon, telegram dan telepati bercampur baur. Buka laptop dan nyalain hotspot dari hape supaya bisa tethering….. tring, laptop nyala dan bisa ikutan zoom meeting meskipun konsentrasi terbagi antara setir, rem, pedal gas, pedal kupling, layar laptop yang digawangi oleh mata dan telinga sambil tetap memelototi arah depan jikalau harus maju perlahan.

Akhirnya setelah 1 jam 45 menit, barulah terbebas dari sekatan. Meluncur lancar demi sebuah pengabdian, meskipun hanya setitik tetapi mungkin berarti dan tercatat dalam sejarah hidup menjadi unsur pendukung satgas covid19 dan komite pemulihan ekonomi daerah.

Nah… karena hampir 2 jam terjebak dan disambil rapat zoom darurat tadi, ternyata menyisakan ke-tidakkonsentrasi-an dikala tiba di kantor.

Untuk rapat zoom lanjutan di Kantor berjalan lancar, tetapi disaat ada informasi masuk ke WA lalu langsung dilanjutkan ke salah satu staf untuk ditinjut (tindaklanjuti)… ini yang terjadi akibat kurang konsentrasi…

4 deret kalimat WA yang seharusnya direct message ternyata terkirim menjadi braodcast message kepada lebih dari 150 kontak… alamaaaak..

Tring
Tring
Tring!!!….

Banyak WA masuk dan isinya seragam, “Salah kirim yaa?”

Gaswat preen….. gara-gara jempol yang ditengarai di suruh oleh otak yang tak konsentrasi karena mikirin kelangkaan oksigen… jadi salah kirimm…

Gimana atuh?”

Mulai dijawab chat yang masuk satu-satu, tapi yang WA banyak lagi dengan pertanyaan yang sama… Pusiiing.

Akhirnya pasrah dan biarkan WA berdatangan bagai banjir bandang….

Sesaat menarik nafas panjang, berdiri dari duduk yang gundah dan bergerak menuju kamar mandi untuk segera berwudhu dan menunaikan ibadah shalat….

Shalatpun masih agak susah konsentrasi, tapi diperjuangkan agar tuntas sampai finish di atahiyat akhir lalu berucap salam dan dilanjutkan doa berserah diri serta mohon ampun plus mohon petunjuk atas kegundahan ini.

Singkat cerita, sebuah permohonan maaf dengan DM satu persatu belum tentu tepat sasaran. Maka segera buat gambar berisi kata maaf dan ucapan salah kirim dilengkapi photo diri yang senada. Lalu di broadcast all ke semua kontak yang tadi terlanjur ‘terganggu’ dengan kirimanku.

Alhamdulillah, respon cepat dan mayoritas emoticon tertawa dan tersenyum menutup kegalauan ini.

Sekali lagi maafkan kiriman DMku karena aksi jempol tanpa konsentrasi memadai. Selamat malam dan salam sehat semuanya, Wassalam (AKW).

Kopi Tubruk Curug Malela.

Sruput Kohitala di Pelataran Parkir Curug Malela.

KBB, akwnulis.com. Nafas masih turun naik dan kaki agak gemetaran disaat kembali menjejak bumi setelah 10 menit menikmati adrenalin  ber-roller coaster dibelakang boncengan Mamang ojeg lokal yang melahap jalan berliku, sempit, becek, menanjak dan samping kiri berdampingan dengan jurang cukup dalam.

Pulang dari mana?”

Sebuah tanya yang perlu diberi jawaban agar tidak penasaran. Ini adalah langkah praktis kepulangan dari lokasi objek wisata air terjun ‘mini niagara’ Curug Malela yang terletak di Kecamatan Rongga Kabupaten.Bandung Barat. Sebenarnya dengan berjalan kakipun cukup menantang dengan lika liku tanjakan terjal sepanjang 1,7 km. Tetapi manajemen waktu meminta percepatan, karena sore nanti sudah ditunggu meeting dengan bos dan stakeholder…

Ciee stakeholder.. maksudnya dengan para mitra atuh…. maka bertukarlah 40ribu rupiah dengan 10 menit dibonceng  Mamang ojeg yang penuh sensasi dan wajib pegangan, apalagi kalau waktunya bersamaan dengan hujan, pasti suasana naik ojegnya lebih menegangkan.

Tiba di lokasi parkir awal, sebenarnya warung nasi sudah menanti dengan menu liwet lengkap dan tentunya bakakak ayam. Wuih nikmatnya, tetapi apa mau dikata, tugas selanjutnya lebih utama. Terpaksa menolak secara halus, biar nanti rekan-rekan tim yang sedang mendaki berjalan kaki yang akan menikmati.

Tetapi sebelum pergi, sebuah kios kopi yang terlihat asri ternyata menarik hati. Terlihat di spanduknya, KOPI GUNUNGHALU. Segera kaki bergerak dan raga merapat, melihat suasana kafe yang sederhana tetapi bersih dan tertata. Berbagai pilihan kopi sudah tersedia di botol kaca yang bebaris menyambut pengunjung. Juga tersedia bean yang bisa dibawa pulang untuk di grinder di rumah maaing-maaing sesuai selera.

Kang pesen 1 ya, arabica gununghalu yang wine”
“Mangga kang, diantos”

Disini ada ketidaklengkapan perintah eh request, yang terbayang adalah prosesi seduh manual dengan menggunakan V60. Tetapi karena tidak terlisankan maka sang barista membuat kopi manualnya dengan cara ditubruk dengan air panas yang penuh gejolak. Padahal peralatan corong V60 dan filter kertasnya terlihat di depan mata.

Apa mau dikata, yang tersaji adalah kopi tubruk arabica gununghalu jenis wine… gpp lah yang penting kohitala (kopi hitam tanpa gula) dan seduh manual… bedanya… di cangkirnya nggak bersih, tapi penuh dengan serpihan – serpihan biji kopi yang berserakan setelah proses ekstraksi.

Berhubung waktu yang tersedia terbatas, ya sudah kita tunggu hasil trubrukan kopi ini agar segera dapat dinikmati…. 4-5 menitan sambil tak lupa ditiup dengan kemonyongan bibir maksimal.

Srupuut…. hmmm rasa panasnya nikmaat. Acidity strong hadir memberi rasa asam pekat yang melegakan, body relatif medium dan aftertastenya muncul fruitty dan keharuman manggo hadir meskipun tipis sekali. Over all kenikmatan terasa menyatu meskipun sedikit terganggu remah kopi yang memenuhi sudut bibir kanan kiri.

Sruput lagi….. srupuuut. Nikmaat, panas dan harum serta segar memenuhi tenggorokan dan menggairahkan raga.

Bicara pilihan, beberapa bean tersaji dari fullwash, honey, wine hingga yang lainnya dengan  basic tetap kopi arabica gununghalu.

Setelah tuntas segelas sajian panas kohitala berpindah tempat ke perut, dengan basa basi dan membayar sajian serta 3 bungkus bean arabica gununghalu aneka proses, maka pamitlah yang menjadi momen pemisah. Mungkin besok lusa bisa kembali bersua.

Selamat sore dan mengakhiri hari minggu ini dengan bersiap rapat online lagi yang tentu lebih tenang karena ditemani persediaan kopi dari tempat yang penuh cerita warna warni. Wassalam (AKW).

Semangat di Penjara Banceuy.

Sebuah hikmat semangat Sang Proklamator.

BANDUNG, akwnulis.com. Terduduk dan termenung sambil (acting) membaca sambil menulis catatan harian yang langsung diabadikan oleh camera hape seorang kawan di sebuah tempat bersejarah yang merupakan salah satu tempat sebagai saksi bisu prosesi lahirnya konsepsi falsafah berbangsa dan bernegara Republik Indonesia yaitu Pancasila & penyusunan pembelaan kedzaliman Pemerintahan Hindia Belanda dalam bentuk Pledoi INDONESIA MENGGUGAT.

Ya, sebuah kamar sempit berukuran 1,5 meter x 2 meter dengan fasilitas sangat minim yang menjadi tempat penahanan atau sel penjara tahanan politik hindia belanda. Disitulah bapak bangsa, founding father kita, Bapak Soekarno menjalani hari-hari penahanannya selama satu tahun lebih medio 1929 – 1930 bersama tahanan politik lainnya.

Di kamar sempit inilah, Soekarno muda tetap mengobarkan semangat pergerakan, perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa. Terus berfikir dan menulis tanpa tersekat kungkungan sel sempit bagi tahanan politik. Buah fikirnya tertuang dalam tulisan – tulisan dan khususnya penyusunan pledoi pembelaan ‘Indonesia Menggugat‘ yang dibacakan pada saat sidang  di akhir tahun 1930.

Sebuah hikmah besar yang harus kita teladani, dimanapun dan kapanpun. Kita tetap harus produktif dan menuangkan buah pikiran kita dalam bentuk tulisan yang bisa menjadi bukti eksistensi sekaligus (mungkin) bisa mengguncang dunia yang penuh misteri.

Selamat pagi Kawan dan selamat meraih harapan yang penuh perjuangan. Wassalam (AKW).

KOPI KESEMPURNAAN

Memaknai ketidaksempurnaan..

Photo : Ngopay Bray / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah gelas unik perpaduan bambu dengan stainless di bagian dalam memberi sebuah makna keterpaduan yang mendalam.

Dari luar terlihat elegan dan ramah lingkungan sekaligus bisa menyerap panas dari air yang akan disajikan disisi lain bahan stainless menjaga kepanasan eh kehangatan kopi terus stabil dan lebih tahan lama.

Maka seiring ketersediaan kopi yang ada adalah arabica wine gununghalu, tanpa basa basi segera di giling dengan grinder ukuran 2 ke 3. Lalu segera dituangkan ke gelas bambu stainless ini. Lalu diseduh dengan air panas dengan suhu (kira2) 93° celcius…. caranya gampang. Biarkan air mendidih dulu, setelah mendidih hitung dalam hati 30 detik, baru dituangkan.

Dijamin suhunya turun jadi 93° celcius?”

Yaa nggak juga, ini mah ikhtiar. Minimal mendekati hehehehe” jawabanku sambil terkekeh. Meskipun dari pengalaman nyeduh kohitala (kopihitamtanpagula) ini adalah cara yang praktis dan mendekati suhu yang diharapkan.

Setelah air panas tertuang dan menubruk bubuk kopi yang sudah tak sabar menanti di dasar gelas, maka terjadi pergumulan alami dan menghasilkan ekstraksi.

Crema kopi menyeruak di permukaan dan keharuman memenuhi seantero ruang hati yang ternyata sedikit tergalaukan karena sebuah harapan tertunda dan harus kembali berjuang untuk meraih asa.

Photo : Kopi tumpah / dokpri.

Setelah di putar dengan sendok kecil, lalu dibiarkan sesaat sebelum disruput nikmat. Tapi disinilah letak kejadiannya. Akibat konsentrasi yang kurang, sendokpun jatuh sambil membawa cairan kopi membasahi kertas putih, “Adduh”.

Tapi apa mau dikata, semua sudah terjadi. Buih kopi yang tumpah menjadikan kotor alas putih yang diset sempurna.

Tapi….  ternyata jika kita ubah sudut pandang, maka akan hadir makna berbeda.

Justru dengan tumpahan crema kopi akibat sedikit teledor malah bisa menjadi objek photo yang menarik, dan quote of the day tetiba mampir di benak ini. Yaitu, “Keindahan terkadang hadir dari ketidaksempurnaan”

Sudut pandang yang diambil adalah dengan kerangka bersyukur, sehingga insiden tumpah kopi yang bisa saja merusak mood hari ini, tidak terjadi.

Yang terjadi adalah kepasrahan dan syukur atas nikmat kehidupan.

Akhirnya saat menyruput tiba dan perlahan tapi pasti pisahkan bubuknya didasar cangkir sehingga hanya cairan kopi yang bisa dinikmati. Alhamdulillah Pahit dan asam atau aciditynya memberi sebuah pesan bahwa kenikmatan itu miliki aneka rasa dan rupa.  Wassalam (AKW).

TEPANG DINA LIFT – fbs

Sebuah cerita, singkat tapi mungkin bermakna. berbahasa sunda.

CIMAHI, akwnulis.com. Selamat pagi semua, ini saatnya menulis kembali sebuah cerita fiksimini singkat berbahasa sunda. Tentu hanya fiksi alias rekaan tapi mungkin saja terjadi.

Selamat membaca…

***

Fikmin # TEPANG DINA LIFT #

Lebet kana lift di hotel ……….Jakarta, karaos lalega tur modèrn. Pas badè nutup pantona, aya nu ngiringan ogè. Hiji wanoja rancunit nganggè span rok pondok nyolèndang tas.

Kulem didieu aa?” Pertarosan nu matak ngarènjag.

Sumuhun, dupi Ètèh ogè sami?” Nyobi ngawaler sanaos rada geumpeur, kumargi ieu pangalaman munggaran ameungan ka jakarta. Pèdah wè bapak Bupati nyuhunkeun disarengan.

“Henteu aa, simkuring kaleresan nuju aya padamelan”

Ohh sumuhun”

Bilih engkin badè kontak, tabuh 8 wengi mah rinèh”, saur èta wanoja bari ngasongkeun kartu namina. Uing rikat nampi, bagja.

Saatos bèbèrès bahan sambutan, lungsur ka lobby nepangan Bapak Bupati. Katingal nuju ngaleueut kopi di cafe hotèl.

Langsung laporan padamelan ditambih perkawis tètèh geulis dina lift tadi. Teu hilap kartu namina didugikeun ka bapak bupati.

Bupati muncereng bari ngadegungkeun tarang, “Kuper sia mah ajudan tèh, nu kitu tèh Ungkluk!!”

Uing tungkul, reuwas tur èra. Untung teu acan dikontak kanggè manjangkeun silaturahmi.

***

Terima kasih, nantikan penjelasan lebih lengkap dalam bahasa indonesia di channel youtube  : @andrie kw dengan keyword : fbs, fikmin,fiksimini. Wassalam (AKW).

NGÈCÈNG – fbs

Konsèntrasi tur tarapti.

BANDUNG, akwnulis.com. Sabot keur solat tarawèh, uteuk mah geus ngacacang, mikiran kumaha carana peuting ieu bisa nyeungeut petasan nu bisa ngabelesat muru jelema nu ngaliwat ka deukeut tangkal kiara badag.

“Assalamualaikum… ” Sora imam salam ka katuhu dina rokaat ka 20. Langkung ngusap beungeut, ngolèsèd kaluar masjid. Keun witir mah di imah, ieu sirah loba rencana.

Leumpang gancang bari mawa genep siki petasan beubeuritan. Nu bisa ngabelesur sabada dihurungkeun sumbu acirna, meulah lembur muru ka tangkal kiara.

Geus merenah dina rungkun deukeut tangkal kiara nu gedè, tinggal nungguan nu marulang solat witir ti masjid. Lolobana bakal ngaliwat ka dinya.

Pas ngaringkang aya tiluan diharudum sarung, langsung ngècèng, petasan di paskeun. Cekes!… Sruttttt….. petasan ngabelesur… lempeng sakumaha itungan, blus pisan kana sarung.

Darrr!!… sarung hurung, tiluan reuwas saharita. Saurang leuleus kapaèhan, nu duaan tigujubar ka balong.

Misi 1 kumplit, catet dina buku leutik. Ngalèos. (AKW).

***

Fbs : fiksimini basa sunda, sebuah tulisan fiksi berbahasa sunda dengan jumlah maksimal 150 kata, sudah membangun sebuah cerita.

RUMAH TERANG

Sebuah cerita tentang photobox mini

Photo : Rumah terang / dokpri.

PASTEUR, akwnulis.com. Semangat memposting photo di medsos ternyata terus membara, meskipun ternyata jempol dan like ternyata hanya belasan saja… tak apa, segitu juga bahagia da.

Segala macem aktifitas diabadikan dengan photo dan dipasang di medsos pribadi. Terkadang hadir interaksi di kolom komentar, ataupun saling bertukar jempol…. tapi sesudah itu kembali sunyi seolah tak ada yang peduli.

Inilah era jaman yang berbeda, dimana begitu mudahnya kita menghadirkan berita diri hanya berhitung detik dan menit. Lalu kita bisa dengan mudah memilih, mana yang akan disukai ataupun tidak. Semudah jemari bergerak di keyboard virtual dengan pilihan jempol keatas untuk sebuah suka dan jempol ke bawah untuk berkata tidak.

Atau jika perlu lebih jelas, maka isilah komentar dengan ungkapan sopan dan beradab. Meskipun banyak tulisan ‘tiada ahlak’ yang ternyata di gandrungi khalayak… ah jaman yang aneh.

Hanya kita tidak bisa apatis dengan fenomena ini, karena anak kita adalah pengkonsumsi konten-konten media sosial online yang ternyata isinya bikin prihatin. Sekedar unboxing mainan mahal atau pamer kekayaan dan…. itu dilike serta di subscribe berjuta orang.

Sementara yang konten mendidik cenderung diabaikan karena dianggap monoton dan kurang menantang.

Konten jahil atau prank malah menjadi best seller sementara edukasi tentang tutorial penggunaan office di windows itu biasa saja pengunjungnya.

Ah memang jaman sudah berubah.

Nah, supaya nggak ketinggalan maka berinisiatif membeli kotak khusus untuk ambil photo dengan pencahayaan yang tepat, yang disebut Studio photo box mini.

Photo : Kesayangan / dokpri.

Langsung search di tokped dan shopee dan tentunya banding-banding kualitas dan harga akhir. Ternyata murah, dibawah 50ribu. Langsung saja klik dan klik klik lagi hingga akhirnya transfer virtual akun…. tadaaa.

Hanya 2 hari berselang, teriakan tukang paket mewarnai kehadiran photobox yang dinanti. Tanpa basa basi segera disemprot disinfektan dan unboxing paket tanpa di video.

Langsung dipasang dan bersiap untuk bikin photo terbaik….

Nggak lupa dicolokin dulu kabelnya sehingga cahaya LEDnya menerangi kotak putih mungil ini.. tadaaa.

Kang, sebentar ini minta bantu angkatin”

Teriakan ibu negara membuyarkan keseriusan ambil photo di mini photobox. Tanpa basa basi segera ditinggalkan photobox baru ini dan bergegas menuju sumber suara.

Pas balik lagi ke tempat photobox di letakkan….. ternyata semua sudah berubah… berubah drastis. Karena photobox mini yang baru beberapa menit dibuka dan dicoba memphoto barang-barang kecil telah menjadi mainan baru anak tercinta.

Ayah makasih udah beliin Aku, ini.. RUMAH TERANG” suara renyah dan tertawa bahagia anakku menghapus kekesalan dan berganti dengan senyuman serta garukan tangan di kulit kepala yang tak gatal.

Photo : Rumah terang & boneka jungkir / dokpri.

Jadilah mini photoboxku berubah menjadi RUMAH TERANG yang berisi boneka kucing bolotot dan beraneka mainan lainnya.. ikhlaskan.

Selamat sore dan selamat berbuka shaum bersama keluarga tercinta. Wassalam (AKW).

Empon – empon.

Jam segini, kayaknya seger…. ups

Photo : Empon-empon penghangat raga / dokpri.

Tanjungsari, akwnulis.com. Tanjakan dan kelokan licin menjemput kehadiran langkah kali ini. Memang pendek jaraknya, tetapi dengan tanjakan dan 4 kelokan memberikan kesempatan raga melepaskan beberapa kalori yang dilengkapi dengan deru nafas yang sedikit tersengal.

Ternyata baru ditantang nanjak dikit aja udah repot, ketahuan banget nich nggak pernah olahraga ditambah berat badan yang ternyata stabil dikisaran nomor cantik 99,9kg upss…

Tapi tenang, semangat tetap membara dan tanjakan ini bukan halangan untuk hadir dan berkarya. Maka langkah beratpun terus dilakukan hingga tiba di tempat yang diharapkan, sudah ramai dengan berbagai keriuhan yang di kemas dengan nama Village Talk…. senangnya.

Village Talk sejatinya adalah program kerja Disparbud jabar terkait pemberdayaan masyarakat desa dalam memanfaatkan potensi wisata lokal, sementara dari sisi etimologi bahasa memiliki arti luas termasuk jikalau disambung-sambungin maka semakin luas maknanya.

Coba geura, Village Talk bisa diartikan berbincang atau diskusi di desa, berbicara tentang desa, di desa banyak bicara ataupun ngobrol tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat desa di sektor pariwisata.  Mantabs khan?….

Apapun itu, sebuah ihtiar penguatan dan pemulihan ekonomi masyarakat sedang dilakukan dengan basis potensi wisata dalam wilayah desa atau kawasan yang lebih kecil sekaligus penguatan ekonomi kreatif demi memulihkan dan membangkitkan sektor pariwisata.

Sebuah catatan penting kali ini adalah sajian minuman khas dari salah satu stand warung di bazaar gantoeng yang begitu mempesona, minuman empon-empon.

Jikalau ditahun lalu sudah di promosikan bapak Presiden, maka kali ini bersua kembali dengan sajian minuman hangat di tempat yang eksotis. Berada di ketinggian yang dipenuhi udara segar serta pemandangan hamparan hijau yang mendamaikan perasaan.

Empon-empon adalah minuman jamu yang terdiri dari temulawak, jahe, kunyit dan rempah-rempah lainnya yang mengandung antioksidan, yang bisa menangkal radikal bebas, meningkatkan kebugaran dan daya tahan tubuh.

Apalagi di bulan ramadhan ini, cocok juga menjadi alternatif minuman berbuka puasa yang memghangatkan dan mendamaikan.

Photo : Secangkir empon-empon dan alam / dokpri.

Rasa pegal sisa menanjak sudah hilang, berganti dengan kesegaran yang dihadirkan oleh 3 cangkir empon – empon….

Selamat berpuasa dan mari kita jaga kebugaran dan daya tahan tubuh kita. Wassalam (AKW).