LATTE ALA-ALA – asmoel bean.

Beannya hadir, giling dan seduh kawan.

Latte Ala-ala / Dokpri.

Cimahi, akwnulis.com. Sebungkus biji kopi hadir di hadapan tanpa basa basi, dengan sejumput catatan ‘hatur lumayan, mangga cobian’ (Silahkan dicoba)… Alhamdulillahirobbil alamin.

Maka sesuai harapan sang pemberi, harus segera diekstraksi agar hasilkan cairan hitam penuh arti yang membuahkan aneka rasa serta berbagai arti dari rasa yang segera hadir tak perlu menanti.

Bean 13gr x 2 langsung di grinder kasar untuk kepentingan manual brew.

Peralatan peracikan sederhana disiapkan, kertas filter sudah hadir dan dibasahi air panas terlebih dahulu untuk mereduksi sisa-sisa proses kimiawi. Air panas 90° celcius juga ready dan proses manual brew pun terjadi… currrr… tes tes tes.

Bejana bening mulai terisi cairan kopi bersih tanpa ampas, tentu sebentar lagi siap dinikmati. Asyiik.

Setelah tuntas di bejana, maka dialihkan ke cangkir untuk dilakukan tester, apakah rasa yang hadir sesuai ceritanya?..

Panasnya seduhan kopi memang segar, bodynya medium dan acidity less dengan aftertaste relatif flat… wah ini kelihatannya mix arabica bean dan robusta. Maka perlu diberi sentuhan akhir berupa foam susu hangat yang akan menggelorakan rasa menjadi latte ala-ala.

Kebetulan di kulkas ready, maka susu dingin dihangatkan dengan uap panas sekaligus mengocok halus hingga akhirnya hadirkan busa-busa kenikmatan.

Lalu perlahan tapi pasti, digabung diatas cangkir dan hasilkan sajian kopi kohitala plus foam susu dengan nama LATTE ALA-ALA Asmoel bean. Asmoel bean adalah penjelasan dari mana biji kopi ini hadir, yaitu dari pak Asmoel hehehe… karena tanpa merk maka kita kasih nama saja.

Latte Ala-ala / dokpri

Srupuuut…. nikmat dan segaaar. Meskipun bukan kohitala murni tapi sedikit sentuhan akhir bisa memberi sensasi kenikmatan. Alhamdulillah. Happy weekend kawan, Wassalam (AKW).

KOPI ADAPTASI

Sruput Kopinya dan mari berkarya..

Pagi yang cerah dilengkapi dengan gerakan seribu langkah. Harapannya adalah kembali berolahraga meskipun bukan bergerak di alam bebas tetapi menjalani perputaran kaki sambil mengelilingi seluruh sudut area kantor yang ternyata cukup luas juga.

Photo : Kopi Adaptasi / dokpri.

Jam ditangan kiri menunjukan 2 ribu langkah telah terpenuhi, cukup sebagai awalan pagi ini. Berkeliling seluruh sudut ruangan di kantor baru dari mulai halaman depan hingga sudut arsip di lantai 3 paling belakang.

Setelah puas berkeliling, maka kembali ke depan dan menjumpai sudut khusus yang dikawal sang barista.

Kopiiii……

Maka diskusi sengit membahas body, acidity dan after taste sang kopi yang menjadi pilihan pagi ini…… tapi yang hadir bukan manual brew v60 tetapi cafelatte… dan tanpa gula.

Tadinya agak terhenyak karena berbeda dengan apa yang ada di benak ini, tapi tak masalah karena yang terpenting adalah sang gula terpisah, itu saja

Kecewa?… karena biasanya disajikan manual brew V60 kohitala tetapi ternyata yang datang adalah sajian cafelatte?”

Photo : Berkeliling Kantor / dokpri.

Tentu tidak kawan, hidup itu adalah bersyukur dan adaptasi. Senantiasa berubah dan bergerak seperti yang dicontohkan jarum jam yang selalu setia menghitung ritme kehidupan.

Jadi, meskipun yang hadir cafelatte, nikmati dan syukuri saja… trus setelah terucap Bismillah maka selanjutnya sruputlah perlahan…. srupuut… slruup.. nikmaat.

Yuk menyesuaikan dengan kenyataan. Selalu semangat dan berihtiar tentu dengan pikiran yang dipenuhi harapan kebaikan. Amiiin… Wassalam (AKW).

Arabica Wine Tangkuban Parahu.

Sruput kopinya dan hadapi masalahnya.

Photo : Arabica wine Tangkuban parahu / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Gemericik hujan menjelang sore ini begitu mendukung suasana hati yang sedang gundah merindu, merindukan suasana damai tanpa banyak tekanan dan kewajiban.

Tapi itulah kehidupan, dikala semua seakan baik-baik saja. Disitulah sebuah hambatan hadir. Meskipun tinggal kita ambil pilihan, hambatan ini adalah penghalang atau hambatan ini adalah sebuah tantangan?…. pilihan tentu ditangan kita.

Meskipun ada sedikit tergoda untuk tidak ngapa-ngapain, karena ada prinsip ‘Sebuah masalah itu tidak akan sulit jika tidak dikerjakan‘….. jangan terjebak prinsip yang tidak jelas. Pengalaman membuktikan bahwa membiarkan masalah adalah menghasilkan masalah baru dan semakin menumpuklah dengan masalah-masalah di awal hingga akhirnya kewalahan.

Jadi, mari kita hadapi setiap tantangan dengan treatment masing-masing. Yang paling penting adalah identifikasi dulu apakah masuk kategori urgent, berat dan berimplikasi luas, hingga yang sedikit bisa dijeda sehingga bisa menarik nafas untuk bertanya kepada semesta sebagai bahan jawaban yang dapat memberikan sejumput puas bagi sebagian besar pihak yang terkait.

Lho kok sebagian besar sih, bukannya semua harus puas?”

Dengan seringai riang, meluncurlah jawaban sakti, “Maaf kawan, Kami, Aku ini bukan alat pemuas hehehehehe”.

Tapi tetap berusaha lakukan yang terbaik untuk hadapi hambatan yang ada dan mengubah persepsinya sebagai tantangan, bukan halangan. Insyaalloh semua bisa dilewati, meskipun urusan waktu penuntasan tentu berbeda satu sama lain.

Sebagai mood booster dalam menghadapi tantangan ini, perlu dihadapi dengan kesabaran dan juga ketenangan….. nah urusan mencari suasana tenang, jangan lupa…. sambil nyruput kopi.

Photo : Sajian Arabica Wine Tagkuban parahu / dokpri.

Maka, pilihannya kali ini adalah arabica wine tangkuban parahu dengan metode manual brew V60. Dibuatin orang kali ini mah, mau bikin sendiri nggak sempet karena berbagai pertimbangan dan alasan… alasan terkuat mah hoream hehehe.

Tetapi karena dibuatin orang maka harus menerima kelebihan dan kekurangannya, begitupun sajian kali ini. Ternyata air panas yang dipake nyeduhnya dibawah 90° celcius.. jadinya hangat-hangat kuku saja. Padahal ….mm aku mah seleranya panas 90° celcius, tapi ya sudah nggak ada salahnya juga karena pasti alasannya adalah agar aciditynya lebih terasa dikala diseduh dengan suhu yang lebih rendah.

Tetap disyukuri saja karena bisa menikmati kohitala tanpa repot menyiapkannya.

Srupuuut…… bodynya medium dan aciditynya high dengan secubit rasa wine yang menggigit bibir diujung waktu. Profile sajiannya ada selarik rasa fruitty dan tamarind…. nikmaat.

Alhamdulillah kawan, suasana kebathinan relatif lebih nyaman sambil berusaha menyelesaikan beberapa urusan kerjaan yang perlahan tapi pasti bisa diselesaikan.

Selamat menikmati hari ini kawan. Wassalam (AKW).

Kopi Sidak.

Sidak bocor, jadi weh…

Photo : Kopi sidak / dokpri

GARUT, akwnulis.com. Secangkir kopi hitam hadir menyambut kedatangan incognito ini. Nangkring dengan manisnya dan posisi presisi dengan nama lembaga keuangan yang di datangi, bisa-an ih. Padahal sebuah sidak itu seharusnya bersifat tertutup dan rahasia, tapi ternyata bocor juga hehehehehe.

Sebelum kopi hitam ini disruput, tentu penasaran juga, siapa pembocor informasi ini. Di tracking di otak, kira-kira siapa sambil tetap pasang wajah garang, khan mau sidak alias inspeksi mendadak…. hati-hati, bukan infeksi mendadak ya bro.

Sebelum amigdala dan neocortec kompromi tentang siapa pembocor kunjungan ini, sebuah wajah yang cengar cengir menuju pengakuan datang mendekat dengan sebuah proposal permohonan maaf, “Punten pak, takutnya klo nggak di kasih tau, mereka pada nggak ada”

Garuk-garuk kepala jadinya. Konsep yang disusun buyar.

Ya sudah, gepepe

Tapi, nggak ada salahnya juga khan. Inisiatif rekan kerja untuk memberitahukan kehadiranku berbuah sambutan manis si kopi hitam. Juga kehadiran lengkap manajemen puncak dari PT LKM Garut di kantor barunya.

Sruput dulu guys, Kopi asli garut tanpa gula. Arabica Cikurai, ceunah. Pahitnya menggoyangkan lidah dan memberi sensasi kegetiran yang mengingatkan diri bahwa dibalik kepahitan ini tetap terwujud rasa syukur yang tiada hingga. Sambil ngaca, lihat wajah dan body yang makin manis ini juga sudah cukup kok, srupuut lagi ah.

Yuk, kita lanjut sidaknya…. Cekidot. Wassalam (AKW).

Kopi Buhun yuk.

Menjaga imun, minumlah kopi sambil cingogo…

Photo : Kopi Buhun ditubruk pelan-pelan / dokpri.

SUMEDANG, akwnulis.com. Gemericik air yang bercengkerama dengan bebatuan menciptakan musik alami yang menenangkan hati. Di tengah kehijauan suasana yang mengantarkan rasa lebih tenang dan lebih damai dalam suasana kegalauan yang tak berhenti.

Yup, gejala Cabin Fever alias kesuntukan karena terpenjara suasana dan keterbatasan beredar akibat penyebaran covid19 menimbulkan stres tersendiri dan merasa terkotakkan dalam kabin atau ruang sendiri dimana sejatinya manusia adalah mahluk sosial yang gemar dan (harus) berkerumun serta bergaul, apalagi anak gaul heuheuheuheu….. maka mlipir sedikit ke tempat yang menyejukkan adalah jawaban atau obat penyembuhan setelah 7 bulan ini terkurung oleh ketidakpastian.

Sebagai pelengkap dalam mengobati rasa terasing ini maka kembali sajian kopi hitam tanpa gula adalah kawan sejati. Sebulan lalu dicoba dilupakan alias berhenti minum kopi tanpa alasan jelas, kali ini kembali menemani perjalanan kehidupan yang penuh dinamika.

Meskipun belum bisa berkerumun dan ngobrol ngaler ngidul sambil tertawa-tawa, minimal suasana alami yang berbeda ini memberikan ketenangan dan kesadaran bahwa nikmat hidup ini adalah salah satu nikmat dari Illahi Robb yang wajib disyukuri dan ditafakuri.

Secangkir kopi hitam tanpa gula yang masih mengepulkan asap kenikmatan ini adalah kopi buhun Rancakalong yang digiling manual oleh Juragan D dan dilakukan seduhan manual dengan metode kopi tubruk depan depan kecepatan pelan-pelan… naon siih….

Maksudnya kopi tubruk mas bro.

Dengan cangkir jadul yang mengingatkan suasana masa kecil yaitu cangkir kaleng berkelir corak putih hijau, cocok pisan dengan birunya dedaunan dan keputihan alami…. halah kok keputihan… maaf, maksudnya putih alami awan di langit sanah heuheuheu.

Tak lupa, secangkir kopi panas sebelum diseruput, biarkan berpose diatas batu sungai. Bergabung dengan gemericik irama alam dan ditemani gerakan lincah ikan kecil yang berenang disekitaran.

Srupuut….. woaaah panasnya air telah berubah menjadi rasa yang menenangkan. Body kopi medium dengan acidity tahap menengah serta diakhiri after taste fruitty yang hadir selarik ditambah tamarind dan sejumput rasa lemon…. enak euy. Sambil cingogo eh jongkok diatas batu sungai, bagaikan masa lalu di kampung halaman manakala kebelet buang hajat di dekat sungai…. carilah tempat strategis diatas sungai.. dann… berjongkoklah dengan bersahaja.

Selamat menyeruput kopi guys… srupuut… nikmaat. Wassalam (AKW).

Kopi Pagi

Yuk ah…. ngopay lagi.

Photo : Kopi pagi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala mentari hadir dengan kehangatan hakiki, disitulah sinergi abadi terulang setiap hari. Apalagi hari ini, birunya langit begitu memukau dengan aura ketenangan yang tiada tara. Sungguh nikmat karunia kehidupan dari Allah SWT yang wajib disyukuri dan ditafakuri.

Hembusan angin yang lembut menyapa wajah hingga ke hati, menenangkan nurani dan memberikan tambahan semangat berbakti sesuai dengan tugas dan target hari ini, besok dan lusa lagi.

Maka jangan disia-siakan momentum ini, ambil kesempatan dengan meraih smartphonemu, bidik… abadikan…

Cekrek!…

Frame indahnya pagi yang membiru sudah berhasil terdiam di memori handphone. Dengan sentuhan kasih sayang teknologi, maka tanpa berlama-lama akan segera berkelana di dunia maya melalui proses upload di media sosial dengan beraneka tagar dan caption serta tring…..

…..menanti respon siapapun didunia sanaaa.

Eh ada yang lupa, ambillah secangkir kopi hitam tanpa gula dan abadikan bersama pagi yang ceria.

Hati-hati dengan penantian respon di medsos berupa like, jempol dan juga komentar. Biarkan itu berproses, jangan terjebak oleh banyaknya jempol dan komentar di medsos kita, karena itu adalah kenikmatan semu belaka.

Paling penting adalah sebuah nikmat syukur atas lukisan tuhan pagi ini sudah diabadikan dan tentu disyukuri dengan dzikir serta kerendahan hati.

Selamat pagi, selamat menyeruput kopi dan memaknai pahitnya kopi ternyata menyimpan manisnya rasa syukur yang sangat berarti. Wassalam (AKW).

Memori Perubahan.

Berubah itu penting, tapi tetap waspada.

Photo : Ini setum kakak / dokpri.

BOJONGHALEUANG, akwnulis.com. Sebuah hingar bingar aktifitas pembangunan terus bergerak seiring perubahan jaman. Lahan yang dahulu tak bertuan telah berubah menjadi area yang dihilirmudiki aneka kendaraan… raga terdiam tetapi jiwa tetap bisa berontak dan ikutan belajar memaknai kenyataan.

Begitupun dalam hati kecil ini, ada perubahan radikal seiring waktu yang tak sengaja mencuri kenangan. “Apakah perubahan itu penting?” …. “dan betulkah jikalau tidak berubah berarti mati?”

Itulah dimensi yang dihadapkan terhadap multi persepsi. Jika ditanya pada diri yang rapuh ini, maka akan sejalan dengan semangat perubahan itu penting. Tetapi disaat ada istilah ketidakberubahan disandingkan dengan mati, mungkin perlu dielaborasi tanpa menghancurkan semangat awal adagium ini hadir disini.

Istilah mati adalah sebuah pernyataan semangat, sehingga kata perubahan menjadi dramatis dan akan diperhatikan oleh semua pihak… sehingga akhirnya melakukan penyesuaian atau adaptasi…. dengan kondisi baru yang tentu berbeda banget dengan masa lalu… makanya sekarang booming istilah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB)… hati-hati menulis dan membacanya, serta teliti dalam menuliskannya karena hilang 1 hurup akan mengakibatkan perubahan makna yang begitu signifikan.

Photo : Bongkar dan tuntaskan / dokpri.

Nggak percaya?….” Silahkan coba hilangkan hurup r di kata terakhir sehingga kalimatnya adalah AKB : adaptasi kebiasaan bau…. jauh banget khan artinya?…

Maka kembali kepada perubahan, jangan takut kawan… kita jalani dan kita ikuti dengan senantiasa rasa syukur kepada Illahi. Karena sejalan waktu, jiwa kita berubah lebih dewasa dan bijaksana begitupun dengan raga, semakin berkurang kemampuannya, keindahannya serta kesempurnaannya… itulah hakiki kehidupan kita.

Kembali kepada hinggar bingar pembangunan dan sesekali debu-debu beterbangan memenuhi lalu lalang kendaraan pengangkut yang besar dan teriakan perintah ditengah kebisingan. Maka jangan lupakan masa-masa awal, asbabun nuzul, asal muasal… jadikan bahan renungan serta tasyakur akan nikmat kehidupan.

Begitupun sajian kopi hitam gula sedikit di gelas sederhana sajian teteh warung dilengkapi tatakan piring… asli piring makan bro…. 🙂 :)……. hadirkan memori masa lalu dikala baru bisa menikmati kopi…. ya kopi ini, kopi sachet yang dijual bebas di kios-kios kecil dan warung kopi.

Photo : Kopi hitam warung yang nikmat / dokpri.

Meskipun seiring waktu telah bergeser ke kohitala, sajian kopi hitam tanpa gula dengan metode manual brew V60…. ternyata sajian kopi warung ini mengingatkan kita bahwa awalnya inilah kenikmatan kopi yang ada. Inilah asal muasal kenikmatan kopi yang ada… ya 2 dekade lalu.

Jikalau sekarang kohitala adalah kenikmatan, itulah perubahan. Jangan dilawan tetapi dijalani dengan tetap mengedepankan prinsip kewaspadaan, insyaloh kenikmat berkahan akan menaungi kita.

Sruputtt…. hmmmm bukan rasa yang menjadi goda tetapi kenangan manis di masa silamlah yang menggerakan bibir untuk tersenyum dan hati gejolak kembali tenang. Selamat mensyukuri perubahan kawan, Wassalam (AKW).

Lobster & Persepsi

Garang tapi nikmat.

CIMAHI, akwnulis.com. Disaat jempol menari dilayar smartphone dan menikmati berbagai seliweran gambar photo dan video di media sosial yang biasanya langsung membangun persepsi bahwa seseorang tercermin dari apa yang ditampilkan di media sosialnya masing-masing.

Maka jikalau kita lemah kendali mental dalam memaknai bombardirnya gambar video menyenangkan di dunia medsos, bisa mengakibatkan kegalauan, kesedihan, iri dengki dan akhirnya malah menyiksa diri.

Misalnya yang paling mudah dengan postingan sajian makanan yang mem-bibita eh ngabibita (membuat ketertarikan, bhs sunda) seperti gambar lobster di awal tulisan ini.

Maka kecenderungannya adalah keinginan untuk menikmati, trus kemungkinan besar muncul persepsi bahwa penulis selalu atau sering makan-makanan mahal ini, tapi nggak ngajak-ngajak cuman pamer saja.

Padahal belum tentu pesepsi itu yang benar, karena perlu dibuktikan, perlu di cek, perlu tabayun… baru men-judge dengan persepsi awal yang hadir dalam lintasan pikir dihati dan kepala kita.

Siapa tahu, sebenarnya postingan tersebut adalah kekangenan yang memuncak karena sudah lama, sudah bertahun-tahun tidak makan lobster, sehingga kerinduan itu diwujudkan dalam mencari photo lama tentang lobster dan bersegera mempostingnya di medsos.

Atau memang iseng aja pengen posting tanpa ada kerinduan terhadap sajian lobster ini, atauu…. memang sesuai asumsi awal bahwa niatnya memang pamer di medsos bahwa seumur hidup baru bisa makan makanan ini, atau mungkin juga ini postingan orang lain yang diposting ulang karena merasa cocok dengan captionnya ‘Dibalik kegarangan keras dan berduri, tersimpan kelezatan dan kenikmatan‘, padahal bisa aja yang diposting adalah buah durian siap santap… bener khan maa bro?.

Jadi hati-hati dengan persepsi dan tetap jaga mental diri untuk tidak terlalu percaya dengan postingan – postingan gambar dan video di medis sosial, cukup anggap sebagai informasi yang menghibur saja, titik.

Begitupun dengan tulisan ini, singkat saja bacanya, senyumin, selesai.

Have a nice wekeend kawan, Wassalam (AKW).

Jamu Herbal Rempah dkk.

Minuman tradisional penjaga imun tubuh, imun kuat tapi imin dan iman harus lebih kuat.

Photo : Jamu berlima sedang bersama / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Nah siang kemarin sudah hadir dihadapanku 5 botol minuman kesehatan alami yang terdiri dari 3 botol jamu rempah herbal dan 2 botol jamu kunyit asam. Packing yang rapih serta terlihat segar di siang hari, ternyata menggoda juga di siang hari bulan ramadhan ini….

Dari dua jenis minuman sehat alami yang tersaji ini di klaim oleh sang pembuat betul-betul menggunakan bahan-bahan alami terbaik… insyaalloh percaya apalagi ini bulan puasa, berbohong khan merusak pahala.

Jadi klo nggak bulan puasa boleh bo’ong?”

Ah dasar kamu mah, tetep aja nggak boleh, cuman di bulan puasa lebih dahsyat akibatnya karena merusak nilai pahala”

“Iyaa A ustad hehehehe”

Photo : 3 sekawan jamu / dokpri.

Jamu rempah herbalnya memang kumplit dengan bahan-bahan yang terdiri dari kunyit, gula aren, temulawak, jahe, sereh, kayu manis dan air.

Sementara Jamu kunyit asem udah jelas bahannya kunyit dan asam kandis.. bukan bahan lain yang mengandung rasa asem. Nah dua-duanya punya bahan yang sama yaitu air…. lhaaa iya atuh, masa nggak pake air, gimana minumnya?.. ntar seret di tenggorokan atuh kang.

Tidak lupa ditambah gula aren kualitas tinggi agar rasa yang dihasilkan tidak getir dan pahit seperti ditinggal menikah oleh mantan gebetan…. halaah apalagi nich, maksudnya supaya segmentasi penikmat jamu ini tidak hanya kalangan penggila jamu saja tetapi juga bisa buat anak-anak, remaja dan mudamudi yang tertarik menikmati minuman tradisional alami ini.

Kenapa jadi suka jamu kang, kopinya berhenti?”

Photo : Wedang jahe, ini mah bonus / dokpri.

Ih kepo amat, ya suka-suka aku aja, mau seneng kopi, mau seneng jamu ya bebas-bebas aja…. eh tapi ingat diriku ya, nggak boleh menggerutu. Sang penanya pasti pihak yang penasaran karena selama ini objek tulisannya adalah #ngopay alias sruput kopi manual dan selanjutnya dituangkan dalam bentuk tulisan ala-ala.

Itulah kehidupan, sebuah tema blog yang telah dipublikasikan harus dipertanggungjawabkan. Yaa memang taglinenya ‘ngopay dan ngojay‘, tetapi di moment shaum ini ada sedikit geser variasi konten tulisan dengan hal lain diluar tema kopi kopi kohitala kotala dan sebagainya, insyaalloh pasca idul fitri besok akan kembali menulis artikel bertema kopi.

Kali ini kosentrasi dulu untuk menuntaskan tulisan ini, yaitu jamu rempah dan jamu kunyit asam yang memiliki fungsi guna sebagai penambah stamina dan imun tubuh. Sebuah kegunaan minuman alami yang begitu penting di masa pandemi covid19 ini.

Harganya 20ribu/botol dan variannya adalah Jamu Rempah herbal, Jamu Kunyit Asam, Jamu Jahe dan bisa juga request jamu lain, seperti jamu buyung upik… ahaay serasa masa kecil… kecuali jamu cepat kaya untuk sementara belum diproduksi. Pembuatnya seorang ibu tangguh yang di support anaknya seorang pemuda kreatif dan brilian yang membantu ibunya disela-sela usahanya yang spesifik berkaitan dengan printer 3D (halah sotoy, ini hasil cerita dari ibunya....)

Photo : Jamu Kunyit Asam / dokpri.

Jadi cekidot, minum jamu yuk guys… Srupuuut… suegerrr… insyaalloh sehat bugar dan imun terjaga sehingga bisa melawan atau menangkal penyakit khususnya Covid19….Alhamdulillah, Selamat berpuasa di hari terakhir bulan ramadhan tahun ini, semoga masih diberi kesempatan jumpa di tahun depan, Wassalam (AKW).

***

KAKI GORENG.

Kombinasi Nekat & tak lupa berdoa dan… habiskanlah.

CIANJUR, akwnulis.com. Hati-hati jangan terjebak dengan judul ya guys, apalagi disambungkan dengan bahasa sunda maka pikiran dan otak akan segera mereferensikan kata rorombéheun, ateul, budug, péngkor dan sebagaiiiinyah….. maka cara terbaik adalah ‘iqra‘.. bacalah.

Ngomong-ngomong tentang kata ‘Iqra’, pernah menjadi senjata ampuh di masa lampau dikala di takdirkan melayani bapak bos yang Unik-Beda dimana medsos WA menjadi sarana komunikasi yang super efektif menjadi alat untuk memerintah yang represif… awww kata-katanya menyeramkan.

Selama tidak melampaui batas dan di jam-jam normal sih it is OK, but when he was send a message at midnight… oh my good… lha kok pake bahasa luar yaa?… maaf 🙏🙏🙏….. maksudnya klo tengah malem kirim WA, ya dijawab shubuh khan masih wajar…. eh ini marah-marah.. nggak karuan, depan umum lagi.

Keluarlah jurus ‘iqra‘ tadi, disambungkan dengan WA centang biru 2 yang belum dibalas ke pak bos, bahasanya begini, “Maaf bos, dalam quran juga disebutnya iqra atau bacalah, bukan balaslah…… “ sambil ngacir tentunya, karena kalau tidak menghindar, bisa kena murka hehehehe.

Balik lagi ke judul ‘Kaki Goreng‘, ini memang dalam arti sebenarnya, yang digoreng adalah kaki sapi, masa kaki tetangga, mutilasi donk.

Jadi di sebuah rumah makan di jalan raya Cianjur – Sukabumi, ada rumah makan Sundarasa 2, disanalah dengan ‘kaki goreng‘ bersua.

Menu ini menjadi menu favoritku… eh favorit rumah makan ini tentunya karena ready for request. Jadi musti pesen dulu baru dibuatkan… agak lama juga.. bisa 15 sd 20 menit guys.

Harga lumayan, 90Ribu satu porsi yang ada digambar. Urusan rasa, jangan tanya, enak pisannnn….. apalagi dimakan dengan nasi putih bakul yang panas dan sambal khas di rumah makan ini. Ada beberapa pilihan yaitu sambel tomat, sambel oncom, sambel terasi dan sambel dadak.

Diriku sih klo pesannya ‘Kaki goreng‘, maka cocok dengan sambel dadak atau sambel tomat dan lalaban yang melimpah ruah.

Prinsip yang wajib dipegang pas makan ‘kaki goreng’ adalah :

‘Jangan takut dengan kolesterol, karena kolesterol tidak ada disini, adanya di Laboratorium’…..

….maafkan kawan, ini hanya prinsip pembenaran, saran sih setahun sekali aja makan menu ini… karena ohhh karenaaa……

Selamat makan kawan, belewek… cocol sambel, nasi putih hangat, daun sintrong dan pohpohan juga salada dan daun kemangi (surawung)…. wuaaah… uenaak pisan.

Klo mau ngabisin satu porsi, maka pertama-tama banyak berdoa dan tambah kenekatan….. hehehe… soalnya banyak pisaan…

Hayu ah, selamat makaan. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
RM Sunda Rasa 2
Jl. Raya Cianjur – Sukabumi No.Km.6, Ciwalen, Kec. Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat 43261