BERPISAH

Alhamdulillah, Akhirnya terbebas sudah..

KOPO, akwnulis.com. Perjalanan pagi sedikit berdebar mengingat akan ada keputusan besar yang ditentukan berdasarkan kondisinya, dilengkapi standar keilmuan dan pengalaman yang mumpuni. Tapi tetap terselip rasa khawatir andaikan putusan yang hadir jauh dari keinginan dan harapan. Namun itulah makna kehidupan, dimana harapan dan kenyataan tidak selalu seiring sejalan. Minimal adalah kita senantiasa tidak kehilangan harapan, berikhtiar optimis dalam segala hal.

Diawali dengan registerasi lalu antri untuk mendapatkan tindakan dan perhatian, diskusi santaipun berjalan dengan terapis yang bermasker double sebagai standar prokes yang dijalankan. Di lantai 3 RS Immanuel Bandung.

Masuk registerasi kedua dan beranjak ke lantai 1 untuk photo rontgen, sebuah pelayanan prima hadir dari Pak Amar, seorang ambulatory*) yang baik hati dan menjadi sahabat baru selama 3 bulan ini. Lancar sudah berphoto di ruang rontgen ini, meskipun ukuran photonya nggak bisa milih karena sudah ditentukan dan hasilnya adalah photo klise besar dan nggak berwarna, cuma hitam putih aja. Tapi tetap diterima karena itu syaratnya untuk kontrol ke dokter spesialis orthopedi.

*)Ambulatory adalah istilah yang digunakan untuk petugas yang melayani pasien rawat jalan, jadi pelayanan khusus dari mulai turun dari kendaraan di lobi hingga diantar ke tempat pendaftaran, rontgent hingga ke poliklinik.

Nah istilah bahasa inggris juga menyebutkan bahwa ‘ambulatory care’ artinya rawat jalan.

Tadinya kirain orangnya disebut ambulator, eh ternyata artinya beda lagi… ya udah ah.

Kembali ke lantai 3, getar khawatir melingkupi diri. Tertatih dengan kruk tongkat penyangga di tangan sebelah kiri, memasuki lift dan tetap optimis bahwa putusannya nanti dari dokter yang terbaik harus diterima dengan keikhlasan.

Bapak AndrieKW, silahkan ke ruang dokter” Suara perawat memanggil, maka raga ini bergegas. Dokter Alvin, seorang dokter muda yang berdedikasi, menyambut dengan wajah cerah dan senyum merekah meskipun tertutup masker di hampir separuh wajah.

Mempersilahkan duduk dan menunjukan hasil rontgent beberapa saat lalu, “Ini hasil photo rontgent terakhir pak, kalus sudah terbentuk di sisi kanan dan kiri tulang yang patah, serta kondisi tulang yang semakin membaik, bapak boleh lepas tongkat penyangga, Congratulation”

Alhamdulillahirobbil alamin” Sebuah ungkapan bahagia setelah 3 bulan terbatas bergerak karena harus berkursi roda dan kruk penyangga, hari ini kembali normal meskipun tetap harus ekstra hati-hati dan bertahap.

HORE…

HORE…

Tanpa banyak kata segera beranjak pergi dan hindari menggunakan tongkat penyangga. Tapi nggak ditinggal di rumah sakit tongkatnya, karena harus dikembalikan kepada pemiliknya.

Lalu kursi roda yang setia di bagasi mobilpun harus berakhir tugasnya, setelah sekian purnama menemani menjadi sahabat karib, hari ini harus rela berpisah dan kembali ke markasnya di Museum Sribaduga.

Meskipun harus tetap menggesek ATM untuk proses registrasi-terapi-rontgentphotograpy-kontrolisasi tetapi keputusan yang dinanti meringankan suasana hati. Lepas tongkat dan kembali normal sabihara bihari.

Goodbye kursi roda, dadah tongkat kruk penyangga. Tugasmu sudah tuntas menemani hari-hariku dalam menjalani kejadian patah kaki ini. Tak usah bertemu di lain hari, tetapi menjadi memori yang abadi. Wassalam (AKW).

NGOPAY & NGASUH

Ramadhan dan penyembuhan plus ngopay…

CIMAHI, akwnulis.com. Shalat tarawih tuntas dilengkapi dengan 3 rakaat witir, peluh mengucur dan hawa terasa panas. Padahal gerakan dilakukan secara perlahan, apalagi pada saat i’tidal menuju sujud dan dari posisi duduk untuk kembali berdiri. Tangan kanan dipastikan memegang kursi yang setia menemani, membantu menahan raga yang semakin berisi, berisi lemak tentunya hehehehe.

Kenapa sampe nahan pake kursi begitu?”

Yup, kondisi ini sebuah proses penyembuhan setelah kecelakaan kecil akibat loncatin pot mini dan salah mendarat, ternyata berakibat patah salah satu tulang telapak kaki dengan posisi meruncing, baca PATAH MERUNCING.

Ditambah lagi dengan stop berolahraga hampir 3 bulan, sementara makan enak jalan terus. Tak terasa ‘penggemukan’ berhasil. Meningkat berat badan 6 kg melengkapi 1 kuintal yang sudah ada. Maka program diet menjadi prioritas utama, tentu setelah intruksi dokter berdasarkan kondisi yang ada.

Nah, dikala beranjak ke ruang tengah disuguhkan dengan atraksi kucing gemoy sedang latihan loncat di pintu kulkas, sungguh menggemaskan. Anak kesayangan juga tertawa-tawa melihat tingkah kucing yang seolah ingin unjuk kabisa (kemampuan).

Tapi sebelum bermain dengan kucing kesayangan maka buat kohitala (kopi hitam tanpa gula) seolah menjadi kewajiban. Mengalahkan sajian kolak, cingcau dan kolang-kaling yang cemberut di meja karena belum disentuh siapa-siapa.

Apa mau dikata, kohitala tetap utama. Proses manual brew dengan corong v60 segera dilakukan, tak lupa grinder kasar dulu bean yang ada dengan ukuran ala-ala.

Tuntas lakukan prosesi kopi, maka sruputan perdana memberikan kesegaran alami. Meskipun perbandingan air diperbanyak, agar tidak terlalu nendang rasanya tetapi aroma natural kopi tetap hadir meskipun hanya selarik rasa saja… srupuut… nikmaat.

Tiba-tiba ada ide, “Gimana kalau sambil ngasuh anak dan main sama kucing sambil tetap ngopay?”

Raga beranjak dan menyimpan secangkir kopi di lantai, pake gelas kecil tentunya. Dilengkapi ketukan tangan dan suara mengeong dari mulut ini, perlahan tapi pasti mahluk berbulu putih kuning dan coklat mendatangi dan mengendus gelas kopi.

Jangan-jangan kucing ini suka kopi”

Tapi hanya mengendus saja, setelah itu bergerak pergi dan kembali bermain dengan dunianya.

Maka raga ini beranjak ke meja makan untuk menikmati kohitala buatan sendiri ini sekaligus menahan diri dari godaan pastel, risoles serta kolak yang seakan memanggil penuh kemesraan.

Eh nggak berapa lama, ternyata si kucing ikut loncat ke pangkuan dan berusaha mengendus kembali gelas kopi mini ini. Maka sambil ngopay kohitala, ternyata sekaligus ‘ngasuh’ kucing juga.

Tring!…. Muncul ide untuk jadi bahan konten youtube, maka video pendek-pendek yang dibantu merekam oleh anak tersayang akhirnya menghasilkan video, Alhamdulillah.

Selamat menikmati dan mengisi waktu bulan shaum dengan berbagai amalan penuh bonus pahala, juga jangan lupa tetap ngopay dan bercengkerama dengan anak istri dan binatang kesayangan semua. Wassalam. AKW.

JEMPOLKU & SABAR

Cerita dari sang Jempol yang sedang ngalalakon.

BANCOR, akwnulis.com. Sederet kalimat tanya memecahkan keheningan yang melingkupi suasana malam yang temaram.

Mengapa beberapa hari ini begitu malas menggerakkan jemari diatas tuts keyboard virtual di smartphone ini untuk -menulis- seperti biasa?”

Sebuah tanya menggema dalam dada, padahal jikalau dilihat banyak momentum yang menarik untuk ditulis, dicatat dan akhirnya menjadi sebuah produk tulisan.

Mengapa?”

Maka perlahan tapi pasti mulailah introspeksi dari hulu ke hilir… eh dari hulu ke suku*) yang ternyata banyak sekali alasan yang hadir dengan berbagai kelengkapannya. Seperti rasa cape karena ternyata raga belum stabil dalam masa pemulihan ini, sehingga berbaring sejenak tanpa ngapa-ngapain lebih penting dibanding menulis, daripada berakibat pada hadirnya rasa sakit di kaki kiri pasca operasi sebulan lalu.

Atau bisa saja dengan hadirnya kerjaan yang bejibun sehingga tak sempat waktu untuk sekedar menulis meskipun hanya satu mini paragraf… udah mah satu paragraf dan mini lagi… berarti hanya terdiri dari beberapa kata saja.

Namun jangan salah kawan, beberapa kata ternyata bisa menjadi wakil dari hadirnya sebuah rasa, misalnya ‘I miss u’, hanya 3 kata dan singkat, tapi ternyata bermakna begitu mendalam sangat….. atau ‘Terserah saja’, ini 2 kata sakti yang memiliki beraneka makna tergantung siapa yang berucap, dimana berkatanya dan bersama siapa dia berkata itu.

Nah… supaya lebih praktis mini paragraf ini diperas kembali, menjadi hilang vokal dan konsonan berganti gambar kecil emoticon yang mewakili kegundahan jiwa. Ini lebih praktis lagi, meskipun hati-hati bisa salah klik jadi menampilkan emoticon yang aneh-aneh atau tidak pas dengan apa yang akan disampaikan.

Disinilah peran sang jempol begitu besar dan di posisi strategis, meskipun dibayang-bayangi oleh ‘typo’ akibat jempolnya gemoy atau tinggi ke samping hehehehehe.

Maka latihlah jempol kita tidak hanya bisa menari di keyboard virtual saja tetapi juga rutin berolahraga ringan seperti ngupil, korek kuping ataupun bermain hahayaman atau paciwit-ciwit lutung dan jikalau level advance ya gunakan untuk panco. Untuk aktifitas yang lebih menghasilkan maka bisa ditingkatkan dengan ngurek belut di pinggir sawah atau kolam juga menangkap ikan dengan tangan kosong, maka jari jemari akan terasah lincah.

Ada lagi kalau nggak mau basah – basahan mah, belajar nangkap cicak, ular atau nyamuk dan lalat dengan tangan kosong…. wah ini mah butuh konsentrasi, kelihaian dan kecepatan serta akurasi tertinggi plus ke-tidakgeuleuh-an memegang cicak yang geunyal tapi unyu-unyu serta teman – teman lainnya.

Nangkap cicak pake jempol?”

Iya atuh, jempol dan 4 jari lainnya. Sebuah pertanyaan yang aneh pisan, padahal tinggal gunakan logika dilengkapi imajinasi maka akan hadirlah sensasi. Karena nggak mungkin jempol bekerja sendiri tanpa sinergi dengan keempat jari lainnya, “betul khaaan?…..”

Sementara jika bergeser ke arah bawah dan bersua dengan jempol kaki, maka kembali tersadar bahwa pasca operasi patah ruas tulang telapak kaki perlu penuh sabar dan fokus dalam menjalani penyembuhan.

Khusus jempol kaki juga menjadi strategis karena ternyata perlu treatment khusus dan penuh kehati-hatian untuk menyentuhnya, apalagi memotong kuku jempol kaki… ngurunyud penuh sensasi.

Sesi terapi dengan pemanasan oleh lampu infra red dan sesi getar – getar dijalani semakin menguatkan telapak kaki dan jempol serta semua jari jemari….. terrrrrr… terrrrr.

Maka cara terbaik adalah bersabarlah dan ikuti sesi terapi dengan sepenuh hati dan jangan lupa prokes ketat dikala memasuki rumah sakit karena omicron terus menggila.

Selamat malam dan selamat memegang jempol masing-masing. Wassalam (AKW).

***

Catatan : Ternyata cara terbaik agar kembali menulis adalah…. menulislah apapun itu.

*) kepala ke kaki.

OPERASI PATAH KAKI

RS IMANUEL, akwnulis.com. Sambil tertatih dan berfikir keras, raga bergerak menuju kantor untuk menyelesaikan berbagai tugas pekerjaan administratif yang menumpuk, sekaligus proses pengajuan cuti sakit di mulai. Secara simultan juga mencari informasi terkait dokter spesialis bedah orthopedi lain sebagai ‘second opinion’ terkait kondisi ruas jari kaki yang patah menyilang sekaligus antisipasi penguatan menghadapi operasi yang cukup mengguncang perasaan.

Esok harinya (20/01) bergeraklah ke RS Immanuel dan mengikuti prosedur pendaftaran sebagai pasien baru dengan status rawat jalan. Ternyata opini dokternya sama, harus segera operasi karena beresiko radang dan merusak jaringan.

Maka… dikuatkan hati dan yakini bahwa ini jalan terbaik. Proses selanjutnya dukungan pembiayaan, berlanjutlah koordinasi dengan pihak administrasi rumah sakit dan pihak prudential selaku mitra asuransi dipastikan untuk segera dilakukan proses operasi melalui mekanisme rawat inap. Diminta 1×24 jam untuk menunggu dan setelah itu bisa segera masuk ruang rawat inap.

Bismillah….

Namun tetap saja, proses operasi ini perlu dana dan disitulah pelajaran penting kembali menyentil diri agar selalu memiliki cadangan anggaran darurat, karena kehidupan memang ada suka dan dukanya. Alhamdulillah dukungan asuransi, dan keluarga terdekat serta tabungan pribadi bisa mengatasi.

Alhamdulillah juga dukungan penuh keluarga dan rekan – rekan kerja memberi semanģat dan kekuatan mental untuk menghadapi semuanya.

Tetap tampil tegar dan seakan menghadapi proses operasi adalah hal biasa, padahal rasa khawatir hadir karena selama ini tidak pernah berurusan dengan rumah sakit secara pribadi, maksudnya dirawat langsung.

Kalau nganter yang dirawat dan ngurus – ngurus mah udah biasa, tapi pas diri sendiri mau operasi… terasa ada hadir rasa khawatir dan banyak pikiran kemari kesana.. eh kesana kemari.

Sabtu (22/01) resmi masuk kamar 811 Gedung Alkemi RS Immanuel dengan pengawalan penuh dokter pribadi istriku tersayang…. dan dimulailah rangkaian persiapan pre-operasi. Oh iya tes PCR menjadi penting dan tuntas sebelum naik ke kamar perawatan. Periksa darah, rontgent, pasang selang infus, periksa rutin tekanan darah secara berkala dan suhu… sampe bosen tuh bolak balik sang perawat… tapi itulah prosedurnya.. jalani dan nikmati. Tepat pukul 22.00 wib setelah pemeriksaan tekanan darah dan dinyatakan stabil normal, maka diputuskan untuk persiapan operasi esok hari…. aduuh.. kok ngilu yach membayangkannya.

Minggu (23/01) Shalat shubuh baru tuntas, langsung persiapan operasi dengan berganti baju khusus berwarna purple…. unyu unyu.. dan ternyata tidak boleh ada selembar pakaianpun… weleh weleh… ada rasa malu dan risih. Namun apa mau dikata, prosedur harus dijalani, khan nggak keren atuh kalau operasi gagal atau ditunda gara-gara nggak mau nyopot kolor kesayangan heu heu heu.

Nah tepat jam 06.00 wib, para perawan… eh perawat datang dan membawa daku beserta pembaringan bergerak keluar kamar menyusuri lorong, masuk dan keluar lift hingga akhirnya ke ruang tunggu operasi yang berAC sangat dingin…. walah, udah mah telanjang trus cuma dibungkus selembar kain ungu… kerasa banget dinginnya… nunggu lagi…. brrrrrrrrr.

Sesuai jadwal, tepat jam 07.00 wib bergerak ke ruang operasi  kembali dipindahkan ke meja operasi yang ternyata hangat membelai kepala, punggung dan bokong hingga kaki bagian belakang… nikmat.

Lalu terdengar intruksi, “Obat bius segera kami masukan ya pak, sebentar lagi bapak akan tertidur”

Benar saja, setelah suntikan dilakukan ada rasa hangat yang mengalirkan kenyamanan di selang infus pada tangan kiri, terasa badan ringan dan…. terlelap.

***

Kayaknya seblak enak buat makan siang” Celoteh para Ko-as menyadarkan diri ini dan memulihkan kondisi diri setelah operasi pemasangan sekrup titanium di ruas jari kaki kiri.

Ternyata 2,5 jam telah berlalu, dan raga ini kembali terbaring di ruang tunggu operasi menunggu jemputan perawat ruangan. Tak berapa lama raga dipindahkan ke tempat tidur yamg menanti di luar ruang operasi, disambut sukacita istri tercinta yang menunggu dengan waswas dan kekhawatiran. Alhamdulillah, proses operasi patah kaki kiri berjalan lancar dan sukses.

Segera tempat tidur yang berisi diriku bergerak menyusuri koridor RS, naik lift dan masuk kembali ke kamar perawatan di lantai 8 gedung Alkemi. Selamat beristirahat. Wassalam (AKW).

***

Ini berdasarkan kisah nyataku dan ternyata dengan menulis bisa sedikit mengalihkan rasa sakit dan linu pasca operasi.

PATAH TULANG 2

Cerita nyata sambungan dari cerita PATAH KAKI…

CIMAHI, akwnulis. Inilah kisah selanjutnya dari cerita PATAH MENYILANG yang terjadi senin (17/01) lalu. Sebuah pelajaran berharga dari sebuah kejadian.

(Ini cerita kisah nyata ya…. )

Hayu kita lanjutkan…

Apel pagi telah usai dan dilanjutkan briefing santai sambil berdiri bersama pak bos dan rekan – rekan struktural. Sambil diselingi tertawa, pembicaraan mencair jauh dari kesan formal. Beberapa informasi lanjutan tersampaikan dan intruksi pimpinanpun hadir untuk dilaksanakan.

Namun di saat akan merubah posisi kaki kiri, terasa linu menusuk hati. Datang dari telapak kaki kiri di pinggir kiri. “Wah kayaknya bener ini keseleo.”

Karena sakit semakin tidak tertahan, beringsut ijin untuk mendahului memasuki ruangan. Ternyata setapak demi setapak langkah kaki begitu menyakitkan. Peluh mulai hadir menandakan raga menahan dengan keterpaksaan. Tapi jangan galau, mari lawan kesakitan ini dan berihtiar untuk penyembuhan.

Punten, panggil Pak MSR” Sebuah permintaan meluncur dari mulut ini dan langsung ditanggapi rekan-rekan. Pak MSR ini adalah pegawai di kantor yang juga punya keahlian memijat urut serta membantu salah urat, keseleo dan aneka kepegalan dalam raga kehidupan.

Tak pake lama, pak MSR hadir dengan minyak zaitun sebagai senjatanya. Tangan terampilnya segera memegang telapak kaki kiri dan menjelajahi kemungkinan urat – urat yang bergeser akibat ‘tijalikeuh‘ tadi.

Ada rintihan dan beberapa teriakan tertahan di saat proses urutisasi terjadi. Sebuah harapan terpatri, semoga segera membaik karena tugas strategis menanti.

Tugas strategis apakah?”

Tugas strategis banyak atuh, sesuai peran dinas. Namun minggu ini sebuah rapat kerja dengan Komisi II DPRD Provinsi Jabar menjadi prioritas, yaitu pembahasan tentang raperda inisiasi desa wisata dan Neraca Satelit Daerah… yang lokasinya di ujung selatan sukabumi tepatnya di kawasan Ujung Genteng Kabupaten Sukabumi.

Maka kondisi kaki yang tijalikeuh tidak menghalangi keberangkatan, meskipun tentunya ada sebuah rasa ‘nyanyautan‘ sepanjang jalan selama kurang lebih 7 sampai 8 jam.

Cara mengalihkan rasa sakit tentunya dengan melakukan aktifitas yang menjadi hobi pribadi, yaitu menikmati sajian kopi dan mendokumentasikan dalam bentuk tulisan di blog www.akwnulis.com serta membuat video yang selanjutnya di upload di kanal yutub @AKWchannel.

Hasil tulisannya bisa dibaca di KOPI HITAM & LAUT UJUNG GENTENG dan KOPI HALU BANANA – Pelabuanratu serta PAKANCI – fbs.

Nah untuk video di kanal youtube ada beberapa yang dibuat yakni : MENIKMATI KOPI DI PALABUANRATU SUKABUMI lalu UJUNG GENTENG – CILETUH : mantay kerja kerja monitoring ngopi.

Alhamdulillah tugas dinas yang diemban bisa dituntaskan berlokasi di ruang pertemuan villa ujang ujung genteng, meskipun dengan setelan sebelah kaki menggunakan sendal jepit karena kaki kiri ternyata bengkak dan linu – linu setiap digerakkan plus semaleman sulit tidur karena ternyata sakitnya itu semakin meningkat. Param kocok dan obat oles sedikit menghibur dan mengalihkan rasa sakit tersebut.

Tentunya satu hikmah bahwa kesakitan ini mengingatkan diri bahwa diri ini adalah mahluk lemah yang tiada daya upaya tanpa kehendak Allah Sang Maha Pencipta. Hanya terkilir eh tijalikeuh saja, betapa segala aktifitas terganggu dan terasa tersiksa. “Alhamdulillah cuma kaki kiri yang terkilir, bagaimana kalau dua-duanya?”

Nah setelah tuntas bertugas, maka selasa sore (18/01) bertolak kembali ke bandung menempuh perjalanan panjang nonstop 7 jam 12 menit dengan tentunya menahan sakit di kaki kiri yang terlihat tidak baik – baik saja.

***

Suasana pagi hari di halaman RS Halmahera Bandung sudah ramai kendaraan dan lalu lalang orang. Dibantu sang Driver untuk registerasi pasien baru, maka tinggal duduk manis di mobil dan setelah menunggu sekitar 35 menitan, baru beringsut masuk dengan tertatih-tatih.

Prosedur periksa tekanan darah dan keterangan diri, isi formulir, dipanggil suster, diperiksa dokter, disuruh rontgent, balik lagi ke dokter… daan… inilah hasilnya : ruas tulang kedua diatas jari kelingking kaki kiri patah menyilang.

Astagfirullohal adzim, patahnya menyilang dan menghasilkan 2 ujung tajam”

Tanpa banyak diskusi, pak Dokter dengan lugas dan singkat meminta operasi segera karena beresiko radang dan merusak jaringan. Resep dituliskan dan keluar dari ruang dokter menuju ruang administrasi… nah ini yang degdegan… bukan untuk ambil obat dan bayar rawat jalan tapi… estimasi kemungkinan operasi serta biayanya yang ternyata mendebarkan hati.

Benar saja, biaya obat-konsul-rontgen hari ini dibawah 1 juta, namun estimasi jika operasi disini sekitar 50jtan cukup menyesakkan… duh aya-aya wae.

Berbagai pertimbangan hadir di benak ini, meskipun rasa sakit mendera namun tindak lanjut segera menjadi utama. Maka diskusi dengan istri sudah pasti, kontak agen asuransi juga dilakoni termasuk opsi apakah cukup ke ahli patah tulang saja?… semua berseliweran di kepala. Tapi nanti dulu… ini mewakili pimpinan di acara IKAPI juga menanti… ya udah meluncur dulu dengan tertatih dan meringis tapi tetap tugas harus dilaksanakan karena belum mengajukan ijin cuti…. (BERSAMBUNG).

***

PATAH MENYILANG

Sebuah cerita di senin pagi, Tijalikeuh mahal.

BANDUNG, akwnulis.com. Senin pagi ini terasa berbeda dan sedikit menegangkan. Mentari pagi juga terasa menyorot lebih kencang  sehingga keringat begitu mudah hadir dan perlahan tapi pasti mulai bercucuran.

Sebabnya sederhana, salah perhitungan kondisi jalanan. Jika biasanya relatif lancar atau merayap cepat, kali ini terdiam macet semenjak keluar komplek. Alamak…. gaswaaat, apalagi sudah ditugaskan untuk menjadi pembina apel di senin pagi.. teganglah awak.

Kembali melihat kondisi jalanan yang terdiam dan cuaca panas menambah kebimbangan. Tapi otak harus tetap fokus, dan hati tenang dengan mencoba berdzikir dan berdoa. Sekaligus berfikir alternatif memggunakan kendaraan roda dua.

Langsung aplikasi google map dan waze dibuka dan dianalisa. Tertegun sesaat  karena ternyata kedua aplikasi sepakat bahwa menggunakan motorpun tidak lebih cepat karena banyak obstacle diperjalanan dibandingkan menggunakan mobil yang terbantu dengan akses jalan tol baros – pasteur.

Sedikit demi sedikit beringsut menapaki jalan sambil tetap tatapan tajam pada detak jam digital yang terasa begitu cepat bergerak. Ada sejumput sesal karena lupa bahwa senin ini (17/01) adalah dimulainya PTM (pembelajaran tatap muka) di semua tingkatan pendidikan. Otomatis semua tumpah ruah di pagi meriah pada jam antar menuju masing – masing sekolah.

Akhirnya nafas sedikit lega setelah memasuki pintu tol baros menuju Kota Bandung via tol pasteur, kemungkinan waktu tempuh bisa diperkirakan…. cusss.

Tapi kenyataan berbeda, keluar pintu tol bejubel juga dan setelahnya dihadang oleh kemacetqn di perempatan jalan pasteur – suryasumantri.

Alamak, ada apa ini?” Gerutu mulai hadir dalam dada. Tapi apa mau dikata  hanya pasrah saja dalam balutan ketegangan dan istigfar, serta keinginan menghentikan sesaat waktu di jam digital karena kemungkinan kesiangan sangat terbentang.

Dan benar saja, turun dari jembatan layang paspati dihadapkan dengan kepadatan di pertigaan gasibu… walah sisa waktu tinggal 5 menit ke waktu apel pagi… kemungkinan tidak tercapai..

Tenang… tenang, Subhanalloh Walhamdulillah Wala Ila Haillallah Allahu akbar.

Akhirnya… hambatan terakhir di jalan anggrek terlewati dan masuk ke gerbang kantor. Buka pintu mobil lalu bergegas menuju tempat apel pagi di halaman kantor.

dan…. 8 menit terlambat… rekor baru setelah berbulan-bulan absensi selalu bersih dari keterlambatan. Kali ini tidak bisa menghindar dan harus hadapi kenyataan. Ada sesal mendalam dan memberi sejumput kalut di pikiran sehingga untuk sesaat konsentrasi buyar.

Dikala langkah kaki kiri tergesa, dan sedikit meloncati pot kecil untuk menghemat beberapa detik berharga.

Krakk!!’ Suara keras dari telapak kaki kiri, tapi tidak menghalangi langkah selanjutnya. Menempati posisi peserta apel pagi dengan sedikit nyeri mulai menjalari hari.

Tuntas bapak bos memberikan arahan di apel pagi, atas ijin beliau maju ke depan dan menyampaikan beberapa hal sekaligus melakukan push up 10x hitungan atas nama konsekuensi keterlambatan.

Apakah itu wajar atau berlebihan?” Sebuah tanya menemani kenyataan, tapi biarlah masing – masing individu punya hak sendiri dalam memberi penilaian. Yang penting sebagai seorang birokrat muda yang pernah diajarin leadership knowledge, menjadi pimpinan itu harus memberi teladan yang baik sekaligus bertanggungjawab dikala melakukan kesalahan.

Itulah asal mula cerita kecelakaan… eh kejadian luar biasa yang menimpa kaki kiri ini. Sebuah momentum ‘Tijalikeuh’ atau kejiklek atau keseleo yang seolah ringan…. ternyata…. patah karena takdir Allah SWT…. (AKW).

(Bersambung)….