PASANGAN

Sejalan tapi belum tentu seiring secara fungsi.

Terkadang, Pasangan yang ada bukan bicara rasa. TETAPI, bagaimana saling menjaga.

Photo : Pasangan Serasi / dokpri.

Contohnya Hand sanitizer mini dan sajian Kohitala V60.

Apakah berhubungan langsung?… tentu tidak. Jikalau dipaksakan disemprotkan ke gelas berisi kopi sajian manual brew v60, maka yang terjadi adalah pembolayan (cancel) untuk meminumnya karena jelas beresiko. Kecuali isinya diganti gula cair hehehehe…..

Teu nyambung sih, tapi lebih tenang menikmati kopi sambil sebelumnya semprotkan cairannya ke tangan dan gosokan dengan merata, baru ambil gelas untuk sruput tanpa perlu lama-lama.

Nah sekarang terasa terlindungi… karena tidak ada jaminan bahwa gelas yang tersaji dari sang baristi mungkun saja membawa kuman, virus atau bakteri

Wilujeng.. selamat menikmati kopi dengan hati yang lebih damai tanpa basa-basi. Wassalam, (AKW).

TIPS PERJALANAN DARAT BDG – SMG PP Di MASA PANDEMI

Tips sederhana tapi bermakna.

Photo : Suasana Simpang lima Kota Semarang / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Kali ini tergerak hati untuk berbagi sekaligus menggerakkan jari mengetik kembali di keyboard virtual pada smartphone kesayangan. Tema yang dipilih adalah berdasarkan pengalaman, meskipun hanya sejumput cerita tapi semoga memiliki manfaat dan guna.

Tema kali ini adalah TIPS PERJALANAN DARAT DI MASA PANDEMI COVID19.

Mengapa menjadi tergerak menulis, karena jangan sampai niat baik kita mengerjakan tugas dalam sebuah perjalanan kedinasan berujung dengan nestapa karena terpapar oleh virus seribu rupa. Apalagi jikalau ternyata menjadi OTG, dan menularkan kepada keluarga terdekat kita, suami atau istri, anak ataupun orangtua, Audzubillahimindzalik….

Maka inilah TIPSnya kawan, dengan contoh kasus perjalanannya adalah dari Kota Bandung ke Kota Semarang lalu bermalam 2 hari dan kembali pulang setelah tuntas pekerjaan. Apalagi yang bikin agak nggak karuan adalah pada saat hadir di Kota Semarang ternyata sedang gelombang kedua peningkatan penyebaran Covid19 di Jawa Tengah, makin deg degan lah… sport jantung teh beneran guys.

Inilah langkah-langkah yang dilakukan :
00. Sebuah Doa perlindungan senantiasa terpanjat kepada Allah SWT dari pandemi dan juga keselamatan & kelancaran perjalanan adalah yang utama.

0. Lakukan tes swab antigen dahulu sebelum berangkat, selain memastikan kondisi kita juga sebagai pegangan jikalau diperbatasan antar wilayah atau pas masuk kota tujuan ternyata diwajibkan membawa bukti tes tersebut.


1. Persiapan perlengkapan pribadi, perlengkapan ini diantaranya : aneka handsanitizer, disinfektan semprot, sarung tangan, plastik, masker medis, fave shield, tissue basah, cairan alkohol, vitamin C dosis tinggi, vitamin B complex, tissue alkohol, minyak kayu putih dan plastik kecil. Baju dan pakaian secukupnya saja sesuai dengan sebentar lamanya di perjalanan dan di kota tujuan.

Photo : Perlengkapan pribadi anti covid19 / dokpri.


2. Isi penuh BBM dan e-tol card sebelum berangkat. Pengalamanku kemarin Bandung – Semarang PP, eh nginep 2 malam itu habis etoll sekitar 800ribu dan BBM 1jt, berarti sekitar 1,8 juta.


3. Bawa makanan ringan, air mineral dan makanan berat yang praktis seperti leupuet, buras, popmie, roti-roti dan sebagainya.


4. Hindari berhenti di Rest Area, jikalau terpaksa kebelet pipis, maka bawa hand sanitizer dan tissu basah plus tissue kering sendiri. Di toilet umum rest area hati-hati dengan persentuhan tak sengaja dengan badan orang lain.


5. Pemesanan dan pembayaran Hotel secara Online. Ini sih udah biasa jadi tak perlu dibahas lebih terperinci.


6. Setiap bersentuhan dengan benda apapun maka langsung gunakan hand sanitizer atau cuci Tangan.


7. Pesan makanan secara online atau gunakan fasilitas home service di hotel. Untuk menu sarapan pagi dipastikan ada pelayan yang memberikan pelayanan serta senantiasa membawa hand sanitizer di botol kecil.


8. Hindari nongkrong di cafe atau angkringan, sementara jangan tergiur dengan kuliner di kota tujuan.


9. Kegiatan meeting menggunakan masker dan faceshield juga disarankan berkemeja atau batik lengan panjang.


10. Batasi durasi pertemuan, koordinasikan secara diplomatis dengan tuan rumah.


11. Jikalau harus makan siang bersama, pilih rumah makan yang terbuka, sehingga sirkulasi udara tersedia. Jaga jarak antar orang dan usahakan bergantian membuka masker dan makan sajian yang ada.


12. Hindari beredar di malam hari, gunakan waktu yang ada untuk beristirahat yang cukup di kamar hotel.

Photo : Simpang lima Kota Semarang / dokpri.


13. Jika dekat dengan lapangan atau jogging track, bisa lakukan jogging terbatas dan tetap menggunakan masker.


14. Pembelian oleh-oleh dapat dilakukan secara online melalui aplikasi Grab/Gojek dan dikirimkan ke resepsionis hotel. Pada saat check out diambil untuk masuk ke kendaraan, jangan lupa disemprot dulu dengan semprotan pembasmi virus/bakteri.


15. Jika mau menggunakan fasilitas hotel seperti kolam renang dan tempat fitnes sebaiknya pada saat sepi. Jika banyak pengunjung, disarankan dihindari.


16. Jangan pernah melepas masker dimanapun, apalagi jika sedang berhadapan dengan orang lain.


17. Tetap update info kepada keluarga terdekat via whatsapps atau telegram secara berkala kondisi yang ada.


18. Dokumentasi photo dan video tanpa diarahkan juga biasanya sudah otomatis kok, baik sebagai dokumentasi juga sekaligus pelaporan online ke jagad maya bahwa kita sedang ada dimana, bersama siapa dan sedang apa…..

Itulah trips trik dari kami, sebuah ihtiar dalam menjaga diri, menjaga keluarga dan rekan kerja dari paparan virus covid19 serbu rupa.

Photo : Menu sarapan & hand sanitizer / dokpri.

Ada poin ke 19, jika merasa belum yakin dengan kemungkinan menjadi pembawa virus. Setiba di kota Bandung maka segera lakukan Swab antigen untuk memastikan hasilnya. Bisa juga swab PCR tetapi berhubung hasilnya agak lama dan cukup mahal jikalau periksa secara mandiri maka diawali swab Antigen dulu sudah merupakan langkah bijak pencegahan sebwlum bersua kembali dengan keluarga tercinta. Wassalam (AKW).

NGOPAY Kaum Rebahan.

Nikmati lagi sajian coffee, suatu hari nanti.

Photo : Coconut Milk Coffee WP / dokpri.

KOSUIN, akwnulis.com. Mendamaikan rasa dan menge-charge semangat bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Beraneka aktifitas tentu akan menjadi pilihan yang sangat menyenangkan, dari mulai jalan bareng keluarga atau masak bareng di rumah hingga naik gunung atau menikmati adrenalin terpacu menggunakan motor trail dan kendaraan offroad menembus alam liar yang (mungkin) belum terjamah.

Makan bareng di cafe, restoran, kedai atau rumah makan bersama keluarga di hari libur serta sambil ber-tawaf di mall adalah aktifitas kebersamaan yang biasa dilakukan oleh keluarga pada umumnya.

Tapi….. sekarang semuanya berbeda.

Kebersamaan yang paling mudah dengan beredar di mall, makan bareng di restoran berkongkow bersama kawan, kolega, keluarga atau sanak saudara …. sekarang penuh kekhawatiran karena pandemi virus tak kasat mata sedang mendera.

Menjeda bersama, menahan keinginan untuk semua aktifitas itu ternyata berat rasanya.

Sekaranglah kesempatan untuk mengubah haluan kebiasaan dimana awal tahun lalu gerakan kaum rebahan itu dipandang sebelah mata. Tetapi sekarang, pilihan menjadi kaum rebahan ternyata bisa mencegah kehancuran dunia karena bisa memutus rantai penyebaran virus covid19 yang ternyata semakin merajalela.

Jadi, marilah rebahan di rumah, yaa.. agak bermalas-malasan di rumah… meskipun ternyata setelah 9 bulan berusaha menjadi kaum rebahan…. eh bosan jugaaa…

Photo : Nasgor WP / dokpri.

Tetap pertahankan kemalasan… eh kaum rebahan ini sebelum jelas bahwa pandemi ini tuntas.

Karena, jika sudah terpapar. Urusannya panjang dan berdampak tak terbayangkan. Selama kita berusaha menghindari, Insyaalloh akan terlindungi.

Jadi, maafkan kawan. Jikalau diriku ini seakan menghilang dari peredaran. Sulit diajak makan bareng diluar meskipun katanya ini mah restoran terbuka di alam.

Jikalau terpaksa makan bersama, pasti memilih yang meja kursi hanya berdua, duduk berhadap-hadapan dan terpaksa bergiliran membuka maskernya. Hikmahnya adalah, jika kita sedang buka masker dan menyantap makanan maka yang ada dihadapan kita tetap tutup masker sambil bonusnya bisa melihat wajah kita yang sedang mengunyah dengan seksama…. begitupun sebaliknya.

Jadi, untuk mengobati kekangenan menikmati makanan dan merasakan enaknya ngopay, tak ada salahnya memposting sajian kopi dan juga pilihan menu makan siang di sebuah tempat makan yang rimbun alami dan mendamaikan hati.

Meskipun para pembaca tulisan ini jangan terjebak dengan momentum, ini bukan info update tetapi dokumentasi aktifitas beberapa waktu lalu sekaligus mengobati kerinduan akan kenikmatan makan dan ngopay diluar kediaman.

Kalau mau info update, tinggal pilih aja media online ternama atau nyalain televisi dengan saluran umum yang ada. Pasti info hangat dan terbaru yang akan hadir tersaji di gadget kesayangan kita.

Sekali lagi, selamat mempertahankan status menjadi kaum rebahan yang bisa menyelamatkan dunia sambil posting gambar-gambar aktifitas masa lalu yang tentunya bisa kembali kita lakukan setelah badai pandemi ini berlalu. Wassalam (AKW).

Pake MASKER Yuk.

Minimal pake MASKERnya Guys…

LEGOK EMOK, akwnulis.com. Liburan pergantian tahun disarankan untuk dihabiskan dengan bercengkerama bersama keluarga tetapi karena sebuah komitmen tugas sekaligus menjadi bodyguard ibu negara yang bertugas di instalasi gawat darurat yang juga rentan dengan kemungkinan hadirnya si covid19.

Jadi antisipasi pencegahan menjadi utama, masker tak pernah lepas dari wajah dan selalu menggunakan hand sanitizer atau mencuci tangan jikalau ada kesempatan. Apalagi pas pulang ke rumah, semua pakaian kotor langsung di rendam cairan detergen bersama dettol. Peralatan elektronik, dompet dan pernak pernik segera bergabung di mesin steril untuk menerima paparan sinar ultraviolet selama 10 menit. Tentu smartphone diusakahan dalam keadaan mati demi melindungi aplikasi dan berbagai komponennya dari paparan sterilisasi.

Mandi dan keramas sehari 3x sudah menjadi hal biasa, ini ihtiar sederhana manakala keluar rumah, kemanapun, sebentar atau lama maka wajib melakukan mandi plus keramas. Tujuannya sederhana untuk melakukan pencegahan, sebuah iktiar adaptasi kebiasaan baru dalam suasana dunia yang sedang dilanda pandemi.

Bosankah dengan rutinitas ini?”

Tentu bosan, apalagi orangtua dan anak yang praktis tak pernah keluar rumah. Tapi itulah sebuah kenyataan yang harus dijalani semua. Melatih kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi demi menghindari terpapar oleh virus yang tak jelas bentuknya tetapi nyata dampaknya.

Photo : Perlengkapan pencegahan / dokpri.

Nah, dikala melihat media sosial. Terlihat betapa banyak rekan-rekan, saudara-saudari yang beredar berwisata bersama keluarga besar juga tidak sedikit yang mengabaikan penggunaan masker atau pake masker tapi hanya hiasan… ah hanya bisa mengelus dada….. Inilah kenyataan yang ada.

Sulit memang untuk mengendalikan diri dari hasrat beredar dan bersua bersama keluarga, kolega dan handai taulan yang ada apalagi dalam momentum liburan yang memang cukup berharga.

Tapi, pengendalian diri bersama yang sebenarnya bisa mencegah semuanya. Sayangnya tidak semua miliki kendali yang sama, sebagian men-justifikasi bahwa beredar terbatas itu tidak mengapa. Padahal penyebaran covid ini sudah tidak pandang strata, siapapun bisa kena dengan dampak yang berbeda-beda.

Maka cara terbaik adalah kendalikan diri, kendalikan keluarga terdekat kita agar tetap patuh dengan protokol kesehatan yang ada.

Jangan terjebak oleh stigma bahwa orang yang mati-matian mencegahpun itu bisa kena. Itu ranahnya Takdir Illahi Tuhan Yang Maha Kuasa, tetapi jikalau kita sudah berusaha mencegah, insyaalloh hikmah dan berkah akan melindungi kita semuah….

Memang sekarang semua berbeda, serba terbatas dan penuh rasa khawatir yang mendera. Tetapi ingat kawan, kepedulian dan kedisiplinan kita yang akan membuat kita bisa melewati cobaan ini bersama.

Selamat berlibur panjang dan tetap menjaga diri dengan mengutamakan protokol kesehatan.

Minimal pake masker

Minimal itu….

Ah gemes deh, semoga semua diberi kesadaran untuk bersama-sama mencegah penyebaran dengan pengendalian diri dan tak banyak beredar.

Kalaupun harus beredar, maka bersih-bersih raga, peralatan dan juga jiwa ditenangkan sebelum kembali berkumpul dengan keluarga. Wassalam (AKW).

TEH PUTIHku…

Liburan di rumah bersama Teh…

BOJONGHALEUANG, akwnulis.com. Libur panjang memberi kesempatan untuk beredar, keliling kota menapaki mall atau bersilaturahmi sambil hahahihi di cafe dan resto langganan. Bisa juga membawa raga menuju kampung halaman atau rumah saudara yang masih alami jauh dari hiruk pikuk kota.

Tapi…. itu dulu. Sekarang semua aktifitas itu beresiko. Jikalau tidak tertular, khawatir tanpa sadar menulari orang lain apalagi orang tua atau saudara yang kita singgahi.

Jikalau banyak yang nekad, dengan bermodal masker saja tapi tetap beredar kesanah kemari. Semoga segera diberi kesadaran dan pengendalian diri, bahwa pandemi ini sedang terjadi. Jangan menyesal di kemudian hari, ketidak sabaran beredar ini bisa berakibat fatal.

Karena dikala tertular, bukan hanya phisik yang menderita, psikologispun akan terguncang termasuk tekanan finansial… percayalah dan kendalikan hasrat beredarmu.

Nah sebagai penggantinya, mari kita manfaatkan libur ini bercengkerama dengan keluarga dengan berbagai kreasi dan aktifitas yang jauh dari kerumunan orang tetapi tetap memiliki makna.

Salah satunya adalah Nge-teh, alias minum teh. Supaya lebih afdol, coba seduh white tea atau teh putih dan setelah ditunggu 5 – 6 menit, tuangkan di gelas kaca dan siap dinikmati.

Apalagi jikalau teh putih ini disajikan sama teteh putih, lengkap sudah liburanmu hehehehe.

Tapi, teteh putih ini cukup bercanda saja yaa… karena jikalau ibu negara tahu, maka akan hadir perang dunia, dan liburan kali ini menjadi neraka.

Selamat Nge-teh putih sama teteh putih.. ups…. sama ibu negara dan anak tercinta. Wassalam (AKW).

Sajak PANDEMI 1.

Sajak galau 1 karena pandemi.

Galau di hati

Dikala sebuah ingin menjadi pasti

Tapi bukan sembarang arti

Karena perlu hadir dan menepi

***

Sungguh raga tersiksa oleh pandemi
Sulit kongkow sambil ngopi

Terbahak bersama tanpa droplet yang berarti

***

Tetap jaga diri

Bermasker dan jaga jarak sendiri

Demi menghindari

Penularan virus covid ini

***
Atau sekedar beda suasana

Tapi tetap bekerja

Di cafe atau kedai bersahaja

Yang penting ada kopi aneka rasa

***

Sekarang semua ditunda
Karena khawatir yang melanda

Kalaupun harus memaksa

Maka handsanitizer ada diantara kita

***
Bukan apa-apa

Mencegah itu utama

Jika Sudah terpapar sedikit saja

Phisik terasa psikis kena

Finansial juga merana

Plus wajib karantina

***

Jagalah diri semampunya
Juga lingkaran keluarga

Tahan hasrat berwisata

Kendalikan libido kongkow bersama

***
Ini bencana kawan

Dan kita memiliki peran

Mencegah penularan

Dengan berdiam dan STOP berkeliaran

***

Pakai masker harus dipertahankan
Jaga jarak selalu & sering cuci tangan

Itulah sebuah iktiar minimal

Hingga pandemi bisa dikendalikan.

***

Legok Emok, Desember 2020.

RESAH

Tak perlu resah, tetaplah berkarya.

Photo : Kutrat kotret dulu / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Dikala berselancar di media sosial dan mendapati kenyataan bahwa ternyata banyak photo-photo dan video yang mempertontonkan rasa senang karena berada di objek wisata, hati menjadi resah.

“Kenapa?”

Entahlah, sebuah tanya menemani keresahan ini. Sejumput bingung menyelimuti keterbatasan ini.

Bukan apa-apa, ini masih pandemi. Virus covid19 masih berkeliaran, tetapi banyak orang juga butuh kesegaran dan kesenangan alias rindu piknik, apalagi diberi kesempatan hari libur yang sangat panjang…. sudahlah semua pasti beredar.

Motif kesehatan dan motif ekonomi saling berebut pengaruh sehingga inilah yang terjadi.

Tapi mengapa harus resah?, tinggal memilih saja kok. Apakah mau beredar bersama keluarga dalam suasana liburan yang ada ataupun berdiam saja di rumah dengan melakukan aktifitas bersama keluarga.

Jangan lupa bagi yang berlibur dan beredar musti banget pake wajib untuk ngikutin protokol kesehatan demi kebaikan diri sendiri, keluarga dan orang lain. Masker dipake, tetep jaga jarak, rajin cuci tangan pake sabun dan ready hand sanitizer yang bisa digunakan di berbagai keaempatan. Bawa peralatan ibadah sendiri dan seminimal mungkin hindari berkerumun…. ini yang susah, kaum liburan itu cenderung berkumpul dan meriung…. ah sudahlah.

Photo : Kohitala Manual brew Arabica JP / dokpri.

Ada juga yang terpenting adalah protokol doa, agar dihindarkan dari paparan virus covid19 ini juga penyakit-penyakit dan kesulitan lainnya.

Trus posting aktifitas liburan di medsos, boleh khan?”

Ya boleh-boleh aja, itu mah hak pribadi. Hanya saja tenggang rasa dengan saudara kita yang lain yang tidak bisa berlibur dan tidak mau berlibur karena menahan diri dalam suasana pandemi ini juga perlu dipikirkan. Termasuk mengendalikan keegoisan diri. Caranya gampang, balikkan saja posisinya dan cobalah apa yang dirasa.

Ah biasa aja perasaanku, klo aku diem di rumah dan liat postingan medsos saudara dan kolega yang sedang berlibur dengan ceria”

Photo : Kopi Americano no Sugar dibuatin orang / dokpri.

Sudahlah, semua punya hak dan perasaan masing-masing yang berbeda. Semoga semua baik-baik saja dan pandemi ini segera musnah atau minimal terkendali dengan hadirnya vaksin yang betul-betul teruji.

Trus supaya nggak resah ngapain?”

Akhirnya muncul juga pertanyaan ini. Tentu jawaban masing-masing pasti berbeda, aneka rupa dan macam-macam. Tetapi karena hadir tanya untuk penulis, maka obatnya sederhana, hanya 2 aktifitas yang paling mudah. Pertama adalah tulislah keresahan ini dengan tulisan singkat ala-ala sederhana dan kedua segera sruputlah kopi hitam panas tanpa gula, baik seduhan manual sendiri ataupun diseduhi… eh diseduhkan oleh orang lain… cukup itu.

Yuk ah menulis dan sruput kopi panasnya… nikmaat. Wassalam (AKW).

Kopi Buhun yuk.

Menjaga imun, minumlah kopi sambil cingogo…

Photo : Kopi Buhun ditubruk pelan-pelan / dokpri.

SUMEDANG, akwnulis.com. Gemericik air yang bercengkerama dengan bebatuan menciptakan musik alami yang menenangkan hati. Di tengah kehijauan suasana yang mengantarkan rasa lebih tenang dan lebih damai dalam suasana kegalauan yang tak berhenti.

Yup, gejala Cabin Fever alias kesuntukan karena terpenjara suasana dan keterbatasan beredar akibat penyebaran covid19 menimbulkan stres tersendiri dan merasa terkotakkan dalam kabin atau ruang sendiri dimana sejatinya manusia adalah mahluk sosial yang gemar dan (harus) berkerumun serta bergaul, apalagi anak gaul heuheuheuheu….. maka mlipir sedikit ke tempat yang menyejukkan adalah jawaban atau obat penyembuhan setelah 7 bulan ini terkurung oleh ketidakpastian.

Sebagai pelengkap dalam mengobati rasa terasing ini maka kembali sajian kopi hitam tanpa gula adalah kawan sejati. Sebulan lalu dicoba dilupakan alias berhenti minum kopi tanpa alasan jelas, kali ini kembali menemani perjalanan kehidupan yang penuh dinamika.

Meskipun belum bisa berkerumun dan ngobrol ngaler ngidul sambil tertawa-tawa, minimal suasana alami yang berbeda ini memberikan ketenangan dan kesadaran bahwa nikmat hidup ini adalah salah satu nikmat dari Illahi Robb yang wajib disyukuri dan ditafakuri.

Secangkir kopi hitam tanpa gula yang masih mengepulkan asap kenikmatan ini adalah kopi buhun Rancakalong yang digiling manual oleh Juragan D dan dilakukan seduhan manual dengan metode kopi tubruk depan depan kecepatan pelan-pelan… naon siih….

Maksudnya kopi tubruk mas bro.

Dengan cangkir jadul yang mengingatkan suasana masa kecil yaitu cangkir kaleng berkelir corak putih hijau, cocok pisan dengan birunya dedaunan dan keputihan alami…. halah kok keputihan… maaf, maksudnya putih alami awan di langit sanah heuheuheu.

Tak lupa, secangkir kopi panas sebelum diseruput, biarkan berpose diatas batu sungai. Bergabung dengan gemericik irama alam dan ditemani gerakan lincah ikan kecil yang berenang disekitaran.

Srupuut….. woaaah panasnya air telah berubah menjadi rasa yang menenangkan. Body kopi medium dengan acidity tahap menengah serta diakhiri after taste fruitty yang hadir selarik ditambah tamarind dan sejumput rasa lemon…. enak euy. Sambil cingogo eh jongkok diatas batu sungai, bagaikan masa lalu di kampung halaman manakala kebelet buang hajat di dekat sungai…. carilah tempat strategis diatas sungai.. dann… berjongkoklah dengan bersahaja.

Selamat menyeruput kopi guys… srupuut… nikmaat. Wassalam (AKW).

EVAKIN, kerja, youtube & tiktok.

Hikmah evaluasi kinerja & EOM, jadi diajar youtube dan tiktok.

SUBANG, akwnulis.com. Melanjutkan tulisan tentang evaluasi kinerja bulanan bagi 12 BPR yang dipusatkan di satu tempat di Kabupaten Subang. Banyak suka duka dan cerita meskipun terkadang menuliskan dalam kalimat dan kata masih tersendat oleh kemalasan dan alasan kesibukan. Padahal memang sibuk dan agak malas nulis xixixixi….

Yang repot adalah persiapan acara dan lokasi meetingnya karena ini acara tatap muka perdana yang penuh dinamika dengan implementasi berbagai protokol kesehatan, lengkap bisa di baca di HIKMAH EVAKIN.

Disela-sela 4 hari tersebut, muncul juga tantangan lain yaitu kewajiban membuat testimoni video yang diunggah di channel youtube sebagai prasyarat kandidat EOM (employee of month) bulan agustus 2020 dengan batas waktu yang ketat…. wadaaw semangaat kakak…. tidak ada kata lain, yaitu SEMPATKANLAH.

Maka dengan segala kesempatan yang ada digelarlah syuting mendadak pake hape….. oalaaah, ternyata nggak cukup sekali… 5x gagal…. padahal cuman disuruh ngomong maksimal 1 menit… ampyun deh.

Alhamdulillah akhirnya bisa tuntas dan di upload di channel youtube, yang penasaran monggo di klik di PRASYARAT CALON EMPLOYEE OF MONTH.

Nah, ternyata efek sampingnya adalah melirik aplikasi lain yang berbasis video singkat dan ternyata lagi booming 3 tahun terakhir lalu hingga sekarang, yaitu TIKTOK.

Dulu pernah mencoba menginstal dan ikutan, tapi ternyata banyaknya hanya video singkat joget-joget nggak jelas dengan pakaian minim seperti berbikini atau baju tidur yang mengumbar syahwat…. langsung berhenti dan uninstal… unfaedah ini aplikasi.

Tetapi sekarang, pertimbangannya beda. Pertama dari sisi konten sudah variatif dan terdapat menu-menu pilihan minat ditambah sebagai bagian dari pengawasan terhadap anak dan ponakan yang beranjak remaja. Eh salah… anak masih balita… tapi juga udah seneng tiktokan…. nah ponakan-ponakan yang mulai ABG ternyata berkiblat di tiktok semuaaah….. jadi kita bisa ikut memantau konten-konten apa yang mereka tonton.

Maka dimulailah bikin akun baru serta upload video pendek kita…. caiooooo….. dan video yang diupload adalah dokumentasi kegiatan singkat baik kedinasan ataupun tentang hobby keseharian seperti urusan menikmati kohitala dan makanan yang menggugah selera dilengkapi sedikit kata-kata dan musik yang sudah tersedia……

Yang penasaran hasilnya silahkan di klik saja di :

1. EVAKIN BPR KARYA UTAMA

2. EVAKIN BPR INTAN JABAR

3 EVAKIN BPR MAJALENGKA JABAR

4. EVAKIN BPR CIPATUJAH JABAR

5. EVAKIN BPR CIANJUR JABAR

yang lainnya masih proses…. maklum amatiran hehehehehe.

Selamat menikmati dan bersama-sama menapaki perubahan zaman terutama era me-youtube dan tiktokan. Wassalam (AKW).

Renungan Suci Kemerdekaan 2020

Renungan Suci Virtual 2020 & perjalanan memori.

BANDUNG, akwnulis.com. Gelapnya malam tidak menggoyahkan semangat untuk kembali mengingat jasa para pahlawan yang berjuang dengan gagah berani, penuh pengorbanan baik harta, jiwa dan raga untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa indonesia tercinta 75 tahun lalu. Tepatnya tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Republik Indonesia di proklamirkan.

Malam menjelang 17 agustus tahun ini berbeda kawan. Tidak lagi menggunakan jas dasi dan kopeah hitam, berkumpul di gedung sate dan dilanjutkan perjalanan bersama menuju Taman Makam Pahlawan untuk mengikuti upacara renungan suci tepat pada pukul 00.00 wib.

Malam ini hanya perwakilan yang bisa hadir melakukan upacara terhidmat dan berbalut keheningan di tengah malam. Memberikan penghormatan kepada para pahlawan yang telah gugur di medan laga sekaligus seluruh pahlawan yang berjasa dalam meraih dan mengumandangkan kata ‘MERDEKA‘.

Sekaligus menguatkan diri dan mengingatkan jiwa untuk mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya termasuk berjuang menjalani protokol kesehatan dalam masa pandemi covid19 yang menjadi masalah manusia di muka bumi kali ini.

Untuk mengobati kerinduan berkhidmat bersama dalam upacara renungan suci, maka mencari catatan digital begitu nudah adanya… yaa mudah soteh klo memang pernah menulis, kalau tidak mah yaa… bablas angine hehehehe…. ternyata arsip digital catatan pribadi dari tahun-tahun yang lalu ternyata masih ada dan tersimpan dalam arsip jagad maya.

Meskipun hanya catatan di tiga tahun terakhir, bukan berarti tahun-tahun sebelum itu tidak ikut renungan suci…. ada juga arsip catatan 2012 meskioun maaih di blog gratisan…. Alhamdulillah Tetap setia mengikuti renungan suci tetapi memang minim dokumentasi.

Inilah link catatannya :

1. Tahun 2012 berjudul ULAH SOMPRAL

1. Tahun 2017 berjudul RENUNGAN SUCI 2017

2. Tahun 2018 berjudul TMP CIKUTRA 2018

3. Tahun 2019 berjudul MERDEKA 170819

Selamat merenungi malam yang semakin menggelap, tetapi gelora semangat kemerdekaan terus bergelora dan penuh semangat menyongsong esok yang lebih siap dalam hadapi ujian pandemi covid19 setahap demi setahap. MERDEKAAAAA, Wassalam (AKW).