Coffee & Me.

Cerita kopi & sejumput motivasi..

Secangkir Kopi di Pagi hari, memupuk Harapan & Keberkahan Pagi ini

Photo : Americano & Sirih Gading / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Itulah rangkaian kata yang hadir tanpa banyak bertanya dan diabadikan menjadi caption bersama frame photo yang senada. Photo sederhana dimana secangkir americano berpadu dengan tanaman sirih gading yang segar dan sudah lebih dulu terpublikasi di laman Instagramku : @andriekw.

Tulisan singkat itu adalah penyemangat, dan menguatkan motivasi agar diri ini senantiasa berfikir optimis dan tidak mudah menyerah atas keadaan. Meskipun memang rangkaian proses adaptasi terus dilakukan demi sebuah makna profesionalisme dan menjaga komitmen sekaligus belajar lebih mendalam tentang makna sebagai pelayan di dunia birokrasi yang penuh dinamika serta tantangan.

Awalnya tentu dapat dirasakan atau dibaca pada tulisan ‘Kopi Adaptasi‘, lalu bergulir seiring waktu maka hadirlah tulisan singkat lain yang tak jauh dengan sikopihitam atau kohitala (kopi hitam tanpa gula). Meskipun kalau urusan menulis tentang kopi sudah dijalani 2 tahunan lho…. menulisnya santai saja tetapi yang coba dipertahankan adalah konsistensi.

Ngobrolin konsistensi, yang coba dilakukan simple banget kok. Rutin menulis dan upload di blog, titik. Nah nulisnya diusahakan bertema dan tema utama adalah Ngopay dan Ngojay, alias dunia perkopian dan sesekali tentang kolam renang atau sambil berenang sekalian… atau jika sedang hoki, bisa dapet satu framenya adalah gambar secangkir kopi dan pemandangan kolam renang…. tapi itu jarang, mungkin entar ditulisan selanjutnya.

Bisa juga sebagai variasi, nggak musti sajian kopi. Tapi pilihan menu lain yang masih berkerabat dengan kopi di buku menu yang tersaji. Seperti sajian hot matcha kali ini, jangan lupa minta disajikan plus double senyuman. Senyum sang penyaji sekaligus baristi juga seulas siluet senyum di permukaan gelas yang penuh arti.

Photo : Hot Matcha / dokpri.

Jadi, mari menulis dengan semangat ODOA (one day one article)…… ini terinspirasi dari ODOJ (one day one juz) …. persiapan menyambut bulan ramadhan dimana harus diperjuangkan dan dilaksanakan mengaji 1 juz per hari sehingga satu bulan bisa khatam 30 juz, Bismillah.

Kembali urusan kopi, ternyata memang itulah sumber inspirasi. Meskipun harus diyakini bahwa sebuah kebetulan itu tidak murni kebetulan. Itu semua sudah ada catatannya di langit sana (baca : Lauh mahfuz) hanya saja kita sebagai manusia diberi berkah ketidak tahuan, agar apa?…. agar kita senantiasa mengambil hikmah atas semua kejadian. Apakah menggerutu atau ikhlas terhadap kenyataan nasib, apakah bersyukur atau takabur dengan segala kemudahan hidup ini, itu pilihan masing – masing.

Seperti gambar ‘Soto & Kopi’, itupun sebuah momentum yang hadir tanpa reka dan yasa alias rekayasa. Karena terjadi dikala akan sarapan pagi di salah satu rest area Tol Cipali sekaligus order secangkir kopi tubruk, ditubruk pelan – pelan saja dan dihadirkan tanpa gula.

Photo : Soto & Kopi / dokpri.

Nah mereka bersanding dalam frame gambar dan melengkapi koleksi photo per-kopi-anku yang kembali memberi motivasi untuk terus berkarya meskipun sederhana.

Ini kopiku, mana kopimu?”

Selamat pagi dan selamat memaknai hari demi hari, Wassalam. (AKW).

BERTEMU & LUKA.

Penasaran khan?.. monggo dibaca.

CIREBON, akwnulis.com. Sebuah pertemuan yang tidak disengaja terkadang harus berujung dengan sejumput luka. Apalagi ternyata luka yang hadir berupa guratan cerita yang mengakar dalam ketidakberdayaan serta runtuhnya dinding kepercayaan.

Itulah sebuah frase yang menyiratkan sebuah KECEWA.

Padahal jemari yang mengetik dengan rasa yang ada mungkin saja berbeda, itulah kekuatan literasi bahasa.

Photo : Kumbang Koksi / dokpri.

Jadi, janganlah ikutan galaw dan berprasangka yang tidak-tidak manakala menemukan untaian kata dengan ‘tone’ KECEWA.

Karena jika kecewa, segera ganti vokal akhirnya dengan hurup e, maka segera akan terobati. Tapi resep ini tidak berlaku untuk perasaan muak atau NGEWA (bahasa sunda)… karena hasil akhirnya berbahaya… 🙂

Ngartos teu?”

Terserah sih, mengerti dan tidak itu adalah hak anda para pembaca setia blog ini, bukan kewajiban. Jadi silahkan saja yaah…yang pasti mah mari kita kembali ke paragraf awal tentang sebuah jumpa yang berakhir kecewa.

Karena awalnya bersua tanpa sengaja dengan si kecil lucu sang kumbang koksi yang seksi dengan warna merah penuh sensasi. Tiba-tiba hinggap di jemari tanpa basa basi dengan menghadirkan senyum yang saling mengisi. Maka tak ada kata lain selain memandang dan menikmati berbagai gerakannya dari mulai kepak sayap hingga gerakannya mengitari area jari jemari.

Tapi… itu tadi, ternyata di akhir harus tertoreh luka dan kecewa karena ternyata kumbang koksi ini yang juga sering disebut ‘sesedanan’ ini memiliki bentuk pertahanan atau perlawanan dengan mengeluarkan cairan yang berbau tidak enak.

Padahal bukan ancaman, tetapi hanya jemari lain ingin menyentuh, ternyata dimaknai sebuah serangan yang akan membuat dia terjatuh.

Jemari terpaksa ditepis dan sang kumbang koksi pergi tanpa perlu menangis. Selamat jalan kawan tak terduga yang datang tanpa berkabar tetapi harus pergi karena kesengajaan. Udah ah jangan nulis yang bikin galau ah. Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

***

Catatan :
Kumbang koksi atau Ladybug, Coccinellidae. Salah satu hewan kecil anggota Ordo Coleoptera.

SIEUN

Sebuah tulisan lawas yang masih relevan…

****SIEUN****

Photo : Ilustrasi saja / dokpri.

CMISEL, akwnulis.com. Mangmang hamham jeung horéam keur pabeulit dina jiwa, mangaruhan raga nu teu walakaya nyusun carita bari ngabandungan paripolah manusa nu ngarasa geus sawawa. Langit peuting mencrong bari tutunjuk, nyalahkeun, pédah bet nurut jeung kahayang, dina mangsa ditanya bari teu wasa, ditalék téh ngajanggilek, istuning ajrih ngagugah rasa ngabungbang katugenah.

Baham sepa béakeun rupa, panon bolotot ukur ngongkolak, teu puguh ucap teu oyag raga istuning nurut rut tampa karana. Tuur leuleus bitis ngabulaéh, tulang suku ngadadak laér. Ngan mencrong wè bari kumétap.. nempo mahluk ciptaan gusti nu geulis ka wanti wanti.

Irung bangir, awak sampayeun jaga, pinareup nyeungseung, parabot calik meuni dèmplon, jangkung tur dènok. éta lambey meuni euceuy, beureum asli ih lain bobohongan, pipi semu beureum, soca cureuleuk. Ditempo ti hareup sieup, ti tukang lenjang, tiluhur jadi tagiwur komo tihandap matak ngarenghap.

Sieuuun gusti.. Sieuuun…

Sieun Nyaah.

Cag.

****

Photo : Capture eviden 8 thn lalu / dokpri.

Sebuah tulisanku dengan genre fiksimini basa sunda delapan tahun yang lalu, diingatkan di facebook dengan Kenangannya. Tepat tanggal 09 Januari 2013.

Ah sebuah tulisan yang relevan sepanjang masa (bagiku).

Edit dikit ah.

Selamat menikmati…. klo yang roaming dan ora mudeng, ntar dibuat penjelasannya pake bahasa indonesia (agak) baku di akun youtubeku yaa… Wassalam (AKW).

***

ULAT & CINTA

Ekspresi Cinta memang tak berbatas.

LEGOK EMOK, akwnulis.com. Pagi yang cerah diisi dengan berjalan kaki ringan dan menerima sentuhan lembut paparan mentari pagi. Bergerak di sekitar rumah sambil menikmati kehijauan tanaman sudah cukup menjadi obat kegalauan.

Sudut mata terdiam dikala melihat gerakan gemulai tapi sedikit garang. Merayap ringan diatas dedaunan kehidupan, setelah kenyang menikmati sarapan yang bergiji dan penuh rasa kehijauan.

Hanya saja yang menarik hati adalah sebuah jejak yang ditinggalkan setelah tuntas sang ulat makan siang. Dedaunan yang begitu renyah dan segar, memberi imunitas dan harapan bahwa sang ulat berumur panjang. Apalagi jejak yang tertinggal ternyata merupakan ekspresi diri bahwa cinta kasih itu tiada batas.

Karena diperhatikan dengan seksama, bekas makan sang ulat itu berbentuk lambang cinta, alias love… silahkan saja perhatikan… betulkan love oh love

Penasaran deh, maka sang ulat dicegat dan ditanya baik-baik, “Betulkah itu ungkapan cinta?”

Ulat tersenyum sambil memamerkan bulu-bulu halusnya, lalu berkata, “Memang nggak boleh kami mengungkapkan cinta?”

Ah ternyata yang hadir malah sebuah tanya, dan jadi terdiam tak berani menjawab karena jika dibahas tentang ungkapan cinta tentu tidak tuntas dalam satu masa.

Apalagi terlihat bahwa sang ulat sudah mulai memperlihatkan taring dan siap melepaskan bulu-bulu tajam yang bisa menggatalkan dunia andaikan perbedaan pendapat ini meruncing menjadi silang pendapat tak berkesudahan.

Maka cara terbaik adalah diskusi hangat tanpa perlu menyinggung rasa dan utamakan tentang bagaimana menjaga dan merajut cinta meskipun jelas secara phisik berbeda.

Maka, marilah kita berdampingan dan menjaga rasa tanpa perlu bingung menafsirkan simbol cinta. Karena semua mahluk punya rasa, miliki harapan dalam memaknai cinta dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jika masih belum faham dengan semuanya, maka cobalah untuk bercinta.. ups.

Sang ulat tersenyum sambil berlalu dan duniapun kembali berlanjut menapaki waktu. Wassalam (AKW).

ESPRESSORE

Menikmati espresso bersama sore.

Photo : Espressore

CIMAHI, akwnulis.com. Ketika sore menyapa raga, dengan hembusan semilir rasa maka kesegaran hadir menggantikan keengganan yang mulai mendera.

Kantuk yang sedikit menelikung perlahan sirna, apalagi dengan hadirnya secangkir kecil kopi tetapi memiliki kandungan kafein tinggi.

Yup, karena yang hadir adalah secangkir kecil kopi espresso dengan biji yang direquesnya adalah robusta yang sarat dengan kepahitan dan kafein yang mantaabs….. maklum ingin mengenyahkan kantuk yang begitu kuat memeluk raga.

Apakah pake seruputan pertama?”

Tidak kawan, satu cangkir kecil ini langsung ditenggak tanpa bekas. Meluncur mulus ke tenggorokan setelah meresap sesaat di lidah dan akhirnya berkumpul di lambung serta menyebarkan kesegaran ke sekujur badan.

“Atuh nggak kenyang?”

Ya enggaklah, kenyang mah tinggal makan nasi dan lauknya donk. Ini lebih kepada memenuhi hasrat kafein dan memang diatas rasa kopi sachet biasa. Jikalau masih kepengen kopi, ya order lagi aja.

Nggak pake gula?”

Jangan atuh, nanti sulit menghasilkan dan menganalisa rasa aftertaste kopi selain kepahitan yang mendera. Karena harus diyakini bahwa biji kopi yang baik akan menghadirkan rasa lain dibalik kepahitan yang merata.

Nggak percaya?…. cobalah minum perlahan kopi espressonya… tahan dikala pahitnya terasa, dan hayati. Maka akan hadir selarik rasa lain yang menggugah hati. Percayalah. Rumus kehidupan tercermin disini, dibalik pahitnya kenyataan terselip manisnya hikmah dan tahapan indah menapaki kesabaran. Selamat menikmati sisa weekend kawan, Wassalam (AKW).

CENTANG BIRU.

Sebuah jawaban yang dinantikan.

CIMOHAY, akwnulis.com. Jemari terdiam dan hati lega sesaat dikala melihat kiriman pesan whatsapps yang berubah dari abu menjadi biru. Sebuah notifikasi yang menenangkan hati. Bersiap mendapat jawaban dari pertanyaan yang diajukan.

Tapi… tunggu punya tunggu, harapan tinggal harapan. Centang biru tidak bergeming, bukan sebagai tanda siap memberikan jawaban, tetapi hanya bukti bahwa pesan kita sudah dibaca tanpa banyak kesulitan.

Sabar ah, kita tunggu beberapa waktu. Siapa tahu sedang sibuk dengan rutinitas, atau mungkin ada permasalahan lain yang dianggap lebih urgent. Ilmu khusnudzon di munculkan, sedikit lega rasa ini. Meskipun satu urusan belum tuntas kalau respon ini tidak ada.

Satu jam berlalu masih dianggap maklum, tapi setelah 2 jam terlewati, mulailah gundah di hati. Langsung telepon saja ah,….

Tuuut…. tuuut……. tuuut.

Nggak diangkat juga WA callnya, maka coba lagi dengan telepon biasa…. sama juga. Nada sambung menyala tetapi tiada daya untuk mengangkatnya dan memutuskan berbicara.

Lha, kenapa ya?”

Sebuah gerutu mulai menggerogoti hati, kenapa sih. Lagian ini hanya butuh jawaban singkat, Ya atau Tidak. YES or NO saja, just it. “Kenapa sulit”

Tapi….. setelah mentari berganti sang bulan, tiasa kabar jawaban dari centang biru yang sudah berlalu, mqka jelas sudah sikap yang harus diambil.

Keputusan pun dijatuhkan, memang mungkin pertanyaan YES or NO kemarin bukan prioritasnya sehingga diabaikan. Biarkan semesta yang menterjemahkan.

Ikhlaskan saja, jangan menjadi pikiran. Mungkin itu yang terbaik.

Ternyata didasar lubuk hati terdalam, sebuah bisikan halus terdengar, “Nggak dendam sih, cuman inget terus”

Wkwkwkwkw, ternyata….

Selamat bersiap untuk weekend Guys, nggak usah baper yang merasa udah centang biru tapi tidak respon. Ini mah hanya secuil cerita saja. Wassalam (AKW).

DILEMA

Ketidakjelasan selalu ada.

Bandung, akwnulis.com. Bukannya aku tak mau mengungkapkan semuanya, tetapi sebuah khawatir menyeruak di batas rasa. Jangan sampai semua hal yang sudah dibangun bisa musnah tak tersisa.

Tetapi kalau berdiam diri, ternyata harus berkutat dengan kebohongan dan basa basi yang terkadang membebani hari hingga akhirnya melelahkan bagi semuanya.

Disinilah sebuah situasi berada, mendapat julukan DILEMA.

Berbagai pertimbangan terus menyeruak dengan semangat bergelora, sementara pengambilan keputusan terasa jauh karena berkelindan bersama gejala dan fenomena.

Sikap apa yang harus dilakukan?”

Sabar kawan, tak usah terlalu risau dengan dilema, karena itu adalah sebuah ciri bahwa kehidupan sedang berjalan dengan dinamikanya.

Ada resep jitu yang paling sederhana, segera ambil sebilah pisau dan belahlah dadamu…. eh salah, belahlah alpukat mentegamu… bagi dua dengan penuh perasaan agar terpisah merata.

Setelah itu telentangkan keduanya dan dan buang biji besarnya. Di ceruknya itu segera isi dengan madu kenikmatan dunia, madu.. iya madu… setelah itu disendokin perlahan dan masukkan ke mulut yang sedang penuh keraguan… amm… enaak.. lembuut.. maniss mantaab..

Nah coba rasakan, apakah kegalauan masih ada?”

“Masih ada ah”

Berarti belah lagi alpukat menteganya, insyaalloh akan …..

……….

menyelesaikan rasa lapar tergantikan dengan kekenyangan. 😁😆🤣😄😃😀

Klo urusan masalah mah pasti tetep ada, tapi mininal kadar kegalauannya berkurang karena nikmatnya alpukat mentega hahaha….

Happy Weekend kawan, dan jalani dilema dengan keikhlasan dan kekenyangan, Wassalam. (AKW).

Kopi AR Baliem

Tafakur, Syukur dan Kopi.

Photo : Sebuah Suasana Kedai Kopi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pagi menjelang siang dikala hati terasa ‘marojèngja‘, atau ada perasaan nggak puguh gitu. Cus cos atau khawatir tak beralasan, maka istigfar segera agar diberikan ketenangan rasa.

Hidup memang penuh dinamika, duka dan suka berkelindan dalam labirin takdir yang terkamuflase sempurna. Tinggal akal sederhana yang mencoba mencerna fenomena dengan berbagai prasangka. Terkadang muncul buruk sangka, tetapi diusahakan dihilangkan dengan berbagai cara, karena buruk sangka bisa menggerogoti otak dan jiwa.

Apalagi tak terima dengan takdir yang menimpa, ini bahaya. Karena takdir adalah niscaya dan cara terbaik adalah menerima, mensyukuri dan memaknai hikmah di balik semuanya.

Photo : Segelas Kopi AR baliem / dokpri

“Kenapa takdir harus ditafakuri dan disyukuri?”

“Karena takdir adalah sesuatu yang telah atau sudah terjadi”

Jadi pintar pintarlah memaknai semua yang telah terjadi dan menerima dengan sebuah kepasrahan hati dan diri.

Meskipun tahapan menerima kenyataan adalah sebuah langkah perjuangan melawan pergulatan diri yang terkadang masih terjebak dengan egoisme, kebingungan, ketakutan dan juga rasa berbeda dari orang kebanyakan.

Masing-masing orang memiliki permasalahan dan kelemahan, aib serta kesulitan. Tetapi Allah SWT menutup semuanya dengan menjaga derajat dan martabat kehidupan salah satunya dengan bentuk tubuh dan fungsi yang sempurna padahal kemana-mana kita semua membawa kotoran atau calon kotoran dalam tubuh kita.

Marilah kita senantiasa bersyukur atas kesempatan hidup ini.

Dikaitkan dengan salah satu kenikmatan kita menyeruput sajian kohitala (kopi hitam tanpa gula) maka kali ini bisa menikmati sebuah sajian kopi dengan manual brew v60 yang menggunakan biji kopi nun jauh disana di tanah papua.

Jika dahulu di kelas geografi kita mengenal Suku Dani dan cerita lembah baliem Irian jaya, maka saat ini ingatan itu dihadirkan kembali oleh segelas kopi arabica baliem dengan aroma khas kopi organik tanpa bahan kimia serta menyertakan selarik rasa manis yang menggugah selera.

Sruputan pertama dan diikuti sruputan selanjutnya menyegarkan jiwa dan menyemangati raga untuk terus berkarya selama berkesempatan menapaki dunia fana.

Happy wiken kawan semua, selamat berkumpul bersama keluarga dan menjaga semangat untuk tetap menjadi individu berguna, Wassalam (AKW).

Menunggu.

Tunggulah sampai puas.

CIMAHI, akwnulis.com. Banyak yang berpendapat bahwa menunggu itu adalah sangat membosankan, apalagi menunggu yang tidak jelas alias di pehape (pemberi harapan palsu)… pasti sakiiit hati ini.

Biasanya pehape ini ditemani dengan kata kunci OTW, yaitu okeh tungguan we (baik tunggu aja yey)… yang akan muncul di baris pesan whatsapps dan pesan SMS. Atau gejalanya juga bisa dari berubahnya notifikasi WA yang biasanya centang biru pesan yang sudah dibaca jadi centang item aja… nah itu pasti ada alasan tertentu.

Jadi betapa beratnya menunggu kepastian, apakah jadi atau tidak untuk merengkuh kebahagiaan bersama…. cieeeh romantis, atau hanya permainan perasaan tanpa cinta belaka?….

Pertanyaan multi dimensi yang bisa dijawab dengan beraneka persepsi. Karena ternyata ada juga yang menikmati sebuah hubungan yang tidak pasti tetapi sebagai stanby buyer potensial … halah naon deui, kok jadi ngebahas right issue.

Maksudnya ya seolah ikhlas di pehape padahal dalam posisi siap menerkam dan menerjang untuk merebut perhatian dan menguasai semua potensi yang ada jikalau kesempatannya datang.

Jadi janganlah membiarkan sebuah rasa harus menunggu kepastian. Sampaikan bahwa hubungan ini tidak bisa dilanjutkan karena kuota perasaannya sudah tidak unlimited lagi. Dibatasi periodesasi janji dan didukung oleh ketersediaan pulsa yang terikat janji setia.

Selamat wayah kieu, jangan terlalu serius bacanya. Ini hanya coretan singkat karena harus menunggu sesuatu dalam kesendirian. Wassalam (AKW).

Arabica Puntang Harliman.

Lelah itu wajar, sruputlah aroma kehidupan.

KBB, akwnulis.com. Sejalan senja menyentuh rasa, sebuah asa menjalar dalam raga yang sedikit merasa kelelahan. Mungkin ini pertanda bahwa usia memang bukan untuk dilawan, tetapi disyukuri sambil terus memaknai segala perubahan dengan tasyakur keberkahan mengarungi kehidupan.

Lelah itu adalah niscaya manakala memang tetesan keringat bergulir karena beragam aktifitas. Baik secara phisik harus bergerak ritmik ataupun gerakan tak tentu yang akhirnya menguras tenaga dan usia tadi, ataupun menguras pikiran dalam rongga kepala untuk membuahkan sebuah keputusan dan konsep yang jitu dalam menjadi bagian sebuah solusi permasalahan.

Ada juga lelah rasa atau capai perasaan, ini yang lebih bahaya. Tidak terlihat tapi nampak, meskipun disembunyikan akan tetap terlihat betapa gelayut awan hitam beban kehidupan begitu kental tergambar di wajah yang penuh kesedihan. Ini lebih cape karena korbannya adalah perasaan, dan obatnya sangat bervariasi meskipun ujung-ujungnya adalah ikhlas dan sabar serta kepasrahan…. aduuh sedih akuu.

Tapi, itu bukan aku. Itu mah orang lain, aku mah cukup saja kecapean phisik dan kecapean mikir sesuatu aja. Terutama urusan kerjaan yang memang selalu ada banyak hal yang harus dikerjakan dan menuju perwujudan untuk dituntaskan.

Maka jangan lupa, jikalau lelah melanda dan waktu seakan begitu terbatas, jangan paksakan. Rehatlah sejenak dan tarik nafas sesaat, apalagi jika hadir sajian kohitala manual brew arabica puntang… maknyuus sudah.

Sruput….. arabica puntang Cafe Harliman pake metode manual brew V60.

Dengan panas 90° celcius dikala menyeduhnya, 15 gram beannya dan disesuh dengan komposisi 1 : 15 hadirkan sajian kopi hitam asli tanpa gula yang memiliki acidity medium high dan body tebal memahit khas arabica puntang serta dari sisi profile maka tetap hadir selarik mint dan rasa manis fruitty yang agak sulit dikala mencoba mendefinisi, pokoknya enak pisan…. sruput lagiii.

Insyaalloh lelah hilang berganti semangat gemilang, untuk lanjutkan menuntaskan tugas yang bejibun tanpa batasan.. srupuut… semangaaat, Wassalam (AKW).

***