RUMAH DINAS CAMAT

Cerita masa lalu di saat mengawali karier di kota leutik camperenik.

Photo : Kota Sumedang dilihat di puncak Toga / Dokpri.

Penugasan menjadi seorang Amtenaar*) muda di sebuah kecamatan dengan memegang jabatan perdana terasa begitu membanggakan.
Sebuah amanah jabatan dalam struktur yang pertama, dimana sebelumnya berkutat dengan jabatan fungsional pelayanan pimpinan.

Sebuah kebanggaan tiada tara, karena meskipun jabatan adalah sebuah tanggung jawab besar. Tetapi secara manusiawi tetap tergoda untuk merasa senang atau mungkin mendekati area kesombongan. Maafkan aku, karena jiwa muda yang masih bergejolak dan jam terbang kehidupan masih terbatas.

Hari kedua setelah dilantik oleh Bupati secara massal di sebuah Gedung olahraga, bergegas menuju kantor kecamatan yang dituju. Sebuah kecamatan yang berada di wilayah Kota Sumedang yaitu Kecamatan Sumedang Selatan.

***

“Selamat pagi pak, kalau Bapak Camatnya ada? Saya mau menghadap”

“Silahkan isi buku tamu dulu pak, ada keperluan apa?”

Sepenggal dialog dengan petugas depan berseragam Satpol PP menjadi pembuka cerita pagi itu, di kantor yang baru. Sembari memperhatikan suasana kerja di kecamatan, rasa senang kembali menyeruak di dada, “Ini pasti uforia jabatan.”

Ruang tunggunya adalah bangku panjang yang juga digunakan untuk masyarakat yang mengajukan berbagai keperluan administratif. Di depanku, para petugas terlihat serius mengerjakan tugasnya masing-masing, baik menulis di buku-buku besar ataupun tenggelam di depan monitor komputer yang dilengkapi printer dengan suara khasnya. Begitupun suara mesin tik yang menandakan suatu proses pelayanan sedang berjalan.

“Silahkan masuk pak, Bapak Camat sudah menunggu”

Sebuah sapaan sopan yang membuyarkan lamunan, segera beranjak mengikuti langkah anggota Satpol PP menuju ruang kerja Camat.

***

Selamat datang, selamat bergabung……. dst”

Penyambutan ramah dari Pak Camat membuat penyesuaian di tempat baru ini bisa lebih akseleratif. Diskusi ringan diselingi petunjuk kerja dan kebiasaan disini, menjadi pedoman langkah untuk memulai bekerja lebih giat.

Fasilitas kerja berupa ruang kerja dan motor dinas edisi sepuh juga ada, termasuk jika mau menggunakan rumah dinas camat sebagai tempat kost dipersilahkan, ini yang menarik, yang menjadi pangkal cerita dalam tulisan ini, cekidot.

–**–

RUMAH DINAS

Rumah dinas camat ini berada tepat disamping kiri kantor kecamatan, pasti begitu, dengan tujuan agar seorang camat bisa dengan cepat mememuhi tugas dalam memberikan pelayanan terbaik kepada warga atau rakyat yang ada di wilayahnya.

Nah khusus di Kecamatan Sumedang Selatan ini, Camatnya tidak menempati rumah dinas karena rumahnya memang deket ke kantor, bukan hanya camat yang sekarang tetapi juga camat-camat terdahulu.

Jadi rumah dinas ini lebih dimanfaatkan untuk ruang penunjang kegiatan kecamatan, seperti untuk rapat-rapat ataupun ‘botram’,

“Are you know botram?”

Itu tuh makan-makan barengan dengan menu tertentu atau terkadang alakadarnya. Masak bareng-bareng di sela kerja, trus dimakan bersama seperti nasi liwet, jengkol, pete, kerupuk dan jangan lupa sambel dadak terasi plus lalapan, juga tahu tempe plus asin, nggak lupa ayam goreng, gurame bakar pais lele, gepuk juga sayur lodeh…. halaah party atuh ini mah.

Kembali urusan rumah dinas, tentu gayung bersambut. Diriku butuh penghematan dengan gaji terbatas, sehingga dengan menggunakan rumah dinas ini maka biaya kost bisa dihapus. Di tahun 2005, uang 300 ribu itu sangat berharga. Biaya kost 1 bulan bisa ditabung demi masa depan, hahaay. Klo nggak salah gaji tuh 1,1jt atau 1,3juta. Pokoknya penawaran kost gratis di rumah dinas ini adalah kesempatan emas, titik.

Nggak pake lama, segera beres-beres di kost yang lama dan kebetulan tinggal 3 hari lagi. Nggak terlalu banyak barang karena memang hanya seorang anak kost perantauan, cukup satu tas gendong besar dan 1 tas jinjing. Sama 2 dus buku-buku dan pernak-pernik. 2 kali balik pake motor juga selesai.

Dengan dibantu kawan-kawan baru di kecamatan, hari sabtu menjadi momen beberes rumah dinas agar layak digunakan. Kamar depan di setting sebagai kamar kostku, sementara 2 kamar lainnya difungsikan sebagai gudang tempat penyimpanan barang-barang inventaris kantor, meskipun untuk kamar darurat masih bisa difungsikan.

Lantai ruang tengah dibersihkan, di sikat dan dipel bersama-sama, lalu dipasang plastik dan terakhir karpet kantor. Sebagian dipasang satu set meja kursi dan diujung depan kamar dibuat menjadi mushola darurat, cukup buat 15 orang berjamaah.

Kamar mandi dalam diperbaiki, minimal ada air yang bisa digunakan mandi cuci kakus. Sementara kamar mandi belakang, dapur dan ruang gudang belakang praktis tidak digunakan karena kondisinya memprihatinkan.

Tapi itu nggak masalah, lha wong bujangan. Makan tinggal beli ke warung depan atau nebeng sama pegawai kecamatan klo makan siang. “Asyik khan?”

Esok harinya, aku mulai tinggal di rumah dinas camat itu. “Bismillahirrohmaniirohim…”

***

*)Amtenaar : pegawai negeri.

Cerita selanjutnya tentang rumah dinas ini segera dirilis. Wassalam (AKW).

Berubah….

Jangan takut hadapi perubahan, jalani dan…

Photo : Ilustrasi Patung Dewa Gajah yg sedang bertapa / dokpri

Disaat banyak pihak berlomba menunjukan kemampuan dan keahlian, disitu terlihat juga yang masih terdiam dan gagap dengan perubahan. Padahal selama hidup perubahan itu adalah keniscayaan, atau boleh disebut perubahan itu adalah kehidupan itu sendiri.

Tetapi ada juga yang terlihat tenang meskipun hati kecilnya bergejolak ingin menapaki perubahan dengan segala tantangannya. Hanya secara perhitungan memang perlu strategi yang tepat agar tidak menjadi korban kekonyolan ditengah perputaran turbulensi kepentingan.

Apa yang harus dilakukan?..

Pertama adalah kenali diri

“Maksut lo, salaman tangan kanan ama tangan kiri trus senyum sendiri?”

“Ahay jangan sewot dulu kawan, baca dulu tulisan selanjutnya” senyum manisku memberi ruang berfikir sesaat dan mengurangi tensi emosional sang penanya yang begitu agresif dengan segala kekuranglebihannya.

Kenali diri tentu bicara komprehensif, disini yang paling sederhana adalah mengukur potensi diri serta ketahanan mental selama ini dalam hadapi aneka persoalan yang terjadi baik urusan gawean juga kehidupan pribadi. Itu dua sisi yang harus memiliki keseimbangan dan kesetimbangan. Bukan berarti harus 50 : 50 tetapi ada sisi flexibilitas disini, monggo terserah masing-masing ngitung persennya.

Kedua, pelajari seksama pokok penentu perubahan itu.

Apakah karena pimpinan baru dengan kebijakannya yang mengharuskan perubahan dan percepatan yang menuntut responsifitas tinggi, atau karena mertua baru (ini khusus yang baru nikah atau nikah lagi), perlu penyesuaian mental dan hati sehingga kondusifitas dunia perkawinan terjaga sempurna. Atau bisa juga karena perpindahan tempat tugas karena sebuah seremonial mutasi, ini juga berdampak serius jika tidak disikapi arif bijaksana.

Nggak percaya?, monggo coba aja”

Ketiga adalah jual diri. Jangan dulu berfikiran negatif dengan istilah jual diri, ini memiliki makna menunjukan potensi diri sesuai dengan pangsa pasar yang memang memerlukan kemampuan ‘khusus‘ kita. Klo kemampuan kita diukur rata-rata air dan sulit meningkat, ya tinggal ditambah dengan kemampuan soft skillnya sehingga memberi kenyamanan dan kedamaian bagi pihak yang menjadi pokok terjadinya perubahan.

Keempat, lakukan dan segera berubah.

Yang pasti mari senantiasa berubah, lha wong Ksatria Baja Hitam aja selalu ‘BERUBAH‘. “Masa kita enggak?”

***

Salam perubahan, sambil tak lupa menikmati seduhan manual kopi lanang EL’s hasil racikan Kang Fajar sang Barista Stocklot. Wassalam (AKW).

Harimau Belenuk*)

Nilai kehidupan hadir dari Boneka Harimau belenuk.

Photo Wajah macan tampak depan | lucu | dokpri.

“Ayah beli Boneka Harimau yaa..” Sebuah permohonan sederhana dari anak semata wayangku.
“Siap, Ayah kerja ke luar kota dulu yaaa”
“Oke Ayah, eh jangan lupa sama lolipop ya, dua” sambil kedua tangan terbuka semua, jarinya jadi sepuluh.
“Iya sayangku, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”

Dialog singkat disaat akan kembali berdinas ke pulau dewata dalam rangka pendidikan dan pelatihan yang sedang dijalani dengan pola on-off ini menjadi sebuah kontrak pribadi yang miliki konsekuensi serta hak dan kewajiban. Permintaan sederhana dari seorang anak kecil yang ternyata memberi hikmah besar dalam memandang dan mencoba memahami nilai kehidupan.

***

Di sela-sela istirahat sore ataupun malam hari, video call menjadi keharusan. Kemajuan teknologi yang memutus jarak ratusan kilometer menjadi sebatas jengkal, bisa bercengkerama, bercanda sambil melihat wajah masing-masing di layar smartphone. Ah indahnya kemajuan jaman, meskipun ada beberapa rekan yang tidak suka video call sama istrinya, entah karena apa. Mereka lebih suka telepon suara saja. Ya gpp juga, silahkan itu mah urusan masing-masing.

Photo macan nyamping | belenuk | dokpri.

Setiap kontak baik video call ataupun telepon biasa, pertanyaan tentang oleh-oleh boneka harimau menjadi pertanyaan utama sehingga menjadi kewajiban untuk membelinya.

“Sayang anak… sayang anak…” jadi teringat ucapan pedagang asongan mainan anak di bis, dulu jaman masih muda.

***

Hari ketiga acara di Bali, akhirnya ada kesempatan untuk meluangkan waktu mencari boneka ‘cheetah ceetah bang bang’ sebelum bertolak ke bandara. Ternyata lokasi Bali Safari bertolak belakang dengan arah bandara. Ya sudah jajal aja. Ditemani sopir taksi kenalan yang baik hati dan sopan, kami meluncur ke Bali Safari demi membeli sejumput janji untuk anak penyejuk hati.

***

33 menit berlalu, tiba di gerbang depan Bali Marine & Safari. Masuk melewati pos penjagaan dan taksi mengantar hingga ke loket pembayaran. Disitulah bersemayam eh terdapat jualan souvenir binatang-binatang.

“Ada boneka harimau mbak?”
“Ada pak, ada yang kecil 60 ribu, yang berbentuk topi 160 ribu dan ini agak besaran 135 ribu”

Boneka topi kayaknya nggak mungkin, trus yang ukuran kecil kayaknya terlalu kecil, nah berarti ini mungkin yang menjadi pilihan, boneka harimau lucu.

Tapi, sebelum memastikan membeli, agak tertegun karena wajahnya harimau lucu sementara badannya agak aneh, buntet eh bantet nggak jelas gitu. Badannya lebih mirip binatang hamster dech atau anak kelinci. Jadi klo dilihat dari samping memang tampilannya aneh tapi tetep lucu.

“Duh gimana ya?, udah beli ternyata anaknya nggak suka. Tapi beli aja ah, daripada jauh-jauh nggak dapet apa-apa”

Diskusi dalam hati karena kondisi boneka yang badannya nggak mirip harimau. Malah kepikiran beli juga yang ukuran mini, tapi ntar pemborosan, ya sudah lah. Belum lagi kalau diitung sama ongkos taksinya.

***

Ternyata, setelah mendarat dengan keras di runway Bandara Husein dan dijemput hingga tiba di rumah. Boneka harimau dan lolipop yang menjadi pertanyaan.

Perlahan tapi pasti boneka harimau buntet (belenuk, bhs sunda) diambil dari koper, daan….

Reaksi senangnya terpancar dari wajah anak semata wayangku. “Makasih Ayaah” dengan sumringah boneka harimaunya dipeluk-peluk, dibelai dan dipamerin sama nenek serta ibunya.

Anak tidak terganggu dengan tampilan badan yang belenuk (buntet) karena imajinasi mereka tentang harimau lebih melihat muka dan belangnya saja. Tidak perlu berfikir detail tentang bentuk hewan yang proporsional, semua itu cukup dan menyenangkan.

Tiba-tiba tersadar bahwa terkadang diri ini sering mengharapkan suatu barang atau seseorang itu sempurna untuk membantu kita sesuai harapan kita. Sehingga mudah dihinggapi rasa kecewa disaat kenyataan tidak sesuai harapan.

Padahal, semua barang dan juga seseorang pasti ada kekurangan atau kelemahan masing-masing. Sikap ikhlas menerima dari diri kita lah yang memberi warna sehingga rasa syukur akan muncul bahwa ini semua adalah takdir yang harus kita jalani dan syukuri.

Anak kecilku memberi contoh bagaimana menerima sebuah mainan yang bentuknya tidak proporsional meskipun harganya lumayan. Dengan gaya penerimaan yang senang, ikhlas serta apa adanya, menghilangkan rasa cape, melupakan berapa biaya taksi tambahan, berganti aura kebahagian yang menjadi bekal kehidupan.

“Hai Ayah, jangan bengong, ayo kita joget bersama bonekaku, Cheetah cheetah bang bang” Suara anakku membuyarkan lamunan ini. Segera berganti senyuman dan langsung melarut dengan permainannya.

Terima kasih atas pelajaran sederhana ini. Wassalam (AKW).

***

Belenuk*) : Buntet atau Bantat.

Tips Beli Oleh2 di Bali

Sebuah cara berbeda berbelanja di Bali tanpa ribet.

Photo Lion Air bersiap terbang | dokpri.

Pulau dewata kembali dikunjungi untuk ke sekian kali, dalam rangka kegiatan pelatihan yang sedang diikuti.

Pesawat Lion Air yang membawa raga ini menempuh perjalanan 1 jam 45 menit dengan cuaca cerah sehingga tidak terasa ada guncangan yang berarti.

Mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai begitu nyaman karena runwaynya panjang dan terdapat beberapa runway untuk menampung trafik penerbangan yang semakin banyak dan padat.

Tuntas mengambil bagasi masing-masing segera beranjak keluar area terminal kedatangan, melintasi lorong menuju arah keluar.
Nah sebelum keluar lebih jauh, ada rumah makan sebelah kiri yang menyajikan menu makanan padang serta Soto yang rasanya enak dengan harga terjangkau, maksi dulu kitaaa…

***

Untuk transportasi ke hotel, ada beberapa pilihan. Yang standar banget ya tinggal ke konter taksi bandara, pesen dan naik taksi dengan argo, atau bisa juga dengan para penjaja kunci mobil yang menawari dengan baik hati, tapi belum pernah nyoba karena lebih memilih taksi atau pilihan yang lagi ngetrend seiring perubahan jaman adalah menggunakan transportasi online. Tinggal pesen via Grab dan Go-car.

Tapi ada pilihan lain lagi, klo udah punya nomor kontak pengemudi online atau taksi konvensional… lebih baik dikontak aja. Khan klo udah kenal pasti lebih nyaman. Masalah biaya bisa versi argo atau speak speak pertemanan aja.

***

Nggak pake lama, pas ditelepon sang sopir taksi kenalan. Eh kebetulan lagi di sekitar bandara. Jadi nungguin nggak pake lama, ya sekitar 10 menitan. Sudah datang dengan taksi abu-abu kesayangannya.

Senyuman khas Pak Ketut Arnawan menyambut kedatangan kami. Memberi kedamaian tersendiri karena sudah saling mengenal. Mobil taksinya senantiasa bersih dan harum serta musik yang diputar di dalam mobilpun serasa senantiasa cocok dengan suasana hati.

Meluncurrr…

***

“Maaf bapak, mau langsung ke hotel atau langsung belanja oleh-oleh bali?” Pertanyaan sopan yang membuat bingung kawan yang ikut dalam taksi ini.

“Kok baru datang, langsung beli oleh-oleh sih?”

Senyumku dikulum saja, “Iya Pak, langsung ke Khisna!!”

Photo Halaman Toko Krisna Tuban Bali | dokpri.

Taksi langsung bergerak keluar area bandara, lalu pada pertigaan pertama yang ditandai dengan patung dewa dengan menunggang kuda. Belok ke kiri dan 500 meter kemudian sudah belok kiri memasuki pelataran Toko Krisna yang menyajikan beraneka macam oleh-oleh khas bali.

Seakan sudah menjadi protap (prosedur tetap), Turun dari pesawat, keluar bandara, langsung ke Krisna beli oleh-oleh, langsung di packing dan kirim via pengantaran paket SICEPAT yang memang bekerjasama dengan Krisna.

Temanku terheran-heran dengan kelakuan ini, “Lho, khan kita belum sampe ke hotel. Udah belanja oleh-oleh. Aneh ih kamu!”

Senyuman manisku yang menjawab keheranan itu, “Ya terserah, moo belanja monggo, moo nggak juga gpp, jni khan hanya satu opsi”

Kami tertawa bersama.

Ternyata, kawanku langsung belanja. Bukan hanya makanan seperti kacang disko, pie, pia, kopi, gorengan usus hingga sabun herbal, sandal, tas, mukena dan kaos-kaos bertema bali. Kalap dia hehehehehe.

Tuntas membayar di Kasir, segera menuju keluar untuk di pak dengan kardus, biayanya Rp. 10Rb. Langsung geser meja sedikit untuk order pengiriman kilat via ‘SiCepat’, ternyata ada promo diskon 15% untuk biaya pengiriman. Alhamdulillah.

Selesai sudah, “Eh tapi mana kawan-kawanku?” Clingak clinguk dan mencoba menebar pandangan diantara ratusan orang yang sedang bersemangat belanja.

Ternyata eh ternyata… mereka sedang antri bayar di kasir dengan belanjaan bejibun, bujubuneeh… wakwaw.

Akhirnya dibantu diarahkan ke petugas pengepakan barang dan dilanjutkan dengan proses pengiriman paket kilat.. cusss.

***

Iya lebih simpel, kita bisa fokus urusan kerjaan, nggak mikir oleh-oleh lagi” Kawanku berujar. Ditimpali rekan satu lagi, “Bener juga, praktis”

Aku mah senyum aja, ya protap ini dilakukan setelah berulangkali ke Bali dan direpotkan oleh 2 hal. Pertama pas belanjanya dan yang kedua membawa di bandaranya. Tapi mungkin ini berlaku untuk bapak-bapak saja, klo ibu-ibu kayaknya belum pas. Apalagi yang seneng hunting ke Pasar Sukowati atau tempat lainnya. Dipastikan bakal bawa oleh-oleh banyak di akhir kunjungan.

Taksi melaju menuju arah Sanur, tempat kita akan mengadakan kegiatan selama 3 hari ke depan, Wassalam (AKW).

Sakit

Harus istirahat dulu. See you next time.

Setelah mencoba bertahan dengan segala kekuatan phisik yang tersisa, akhirnya harus nurut dan tunduk dengan sebuah alasan, “Kasihan jangan sampai nular lagi ke anak”

Itu memang sebuah asumsi, bahwa sakitnya anak karena ayahnya juga sedang sakit. Trus nggak sembuh-sembuh pun karena ayahnya sakit tapi nggak mau berobat. Meskipun mungkin ada penyebab lain yang kita tidak tahu. Tapi asumsi itu semakin kuat… dan sebagai ‘kambing hitam’ akhirnya harus mengalah, berobat resmi sama dokter di poliklinik kantor. Diperiksa itu ini hinggga di ‘uap‘ segala, demi sebuah proses kesembuhan.

Maka beragam zat kimia bernama obat harus diakrabi kembali setelah hampir 2 tahun dihindari seiring pola hidup ketofastosis yang dijalani. Meskipun ada rasa malu dalam diri karena beberapa bulan belakangan ini pola ketofastosisnya juga nggak bener, banyak cheatingnya, tapi mengubah kembali sebuah kebiasaan perlu penyesuaian mendalam.

Maka rombongan Ambroxol, Sanmol, Salbutamol, Metilfrednica, Cefadroxil dan Cetirizine bersama-sama memasuki rongga mulut, lebur di aliran lambung dan hancur terserap aliran darah melaksanakan fungsi masing-masing dengan satu tujuan bersama adalah menyembuhkan penyakit batuk pilek yang begitu awet menemani aktifitas diri hingga hampir 1 bulan ini.

***

Dampaknya ke tubuh yang terasa nggak berapa lama adalah lemas, ngantuk dan tidak bertenaga. Makan sih nggak ada gangguan, tetapi rasa lemas dan pegal disaat antibiotik menyebar ke seluruh aliran darah untuk membasmi virus penyakit membuat malas bergerak dan aktifitas. Sementara istri tercinta bingung dan sedih karena anak semata wayang masih lemes dan mogok makan dan super rewel, nggak mau makan apapun kecuali ‘nenen‘ sama ibunya.

Sebuah perjuangan seorang ibu apalagi ayahnyapun terbaring lemas karena efek obat yang sedang bekerja, yang tabah ya istriku.

***

Semoga sembuh segera anakku Binar, ayah juga dan semuah-semuah-nya, Ibu, nenek dan semyanta senantiasa diberi kesembuhan dan kesehatan. Wassalam (AKW).

Move On RBI

Pengen curhat biar cepet move on…

Photo : The Grey Millenial

Jakarta. Disaat kawan lain Peserta RLAXIV di Kabupaten/Kota ikut bangga melihat kami sudah bersua dengan mentor sekaligus bos dan diposting di medsos bos, disitu ada rasa nyesek membara karena momen yang ditampilkan itu adalah dokumentasi patah hati, konsep ideal yang dicoba dikerjakan disela kesibukan masing-masing seakan musnah berganti kegalauan…. dan itu kenyataan yang musti dihadapi.

‘Gudang Gandeng’ sudah menjadi konsumsi publik via medsos bos dan mungkin menjadi viral, sementara untuk itu, aku ikut bangga.

Tetapi tataran implementasinya harus dibangun kembali dari puing-puing keriuhan tadi pagi. Kembali menyusun puzzle dan mengubah mindset serta pandangan agar lupakan objek tempat awal dan menuju tempat sesuai arahan bos meskipun konsep idealis menjadi menjauh dan meringis, sadis.

***

Perencanaan harus dibuat day by day, karena sebelum 1 November adalah batas dari RBI harus tuntas. Maka :

1. Jangka pendek adalah manajemen even di Area GOR Saparua dengan tema anak muda, extreme sport, kuliner & leasure. Terdapat 5 poin yang harus kita cermati bersama :
a. Tempat dipinjemin ke Tim kang Eben by even;
b. Kebersihan dan keamanan disupport pemprov;
c. Perijinan even disupport pemprov;
d. Subsidi anggaran untuk even;
e. Manfaatkan sarana pemprov u branding even seperti di Medsos pemerintah, media luar ruang punya pemprov hingga bilboard di Bandara.

Berarti harus segera diputuskan segera dan bagaimana, karena pihak Kang Eben sudah siap bantu.

Termasuk pertanyaan terkait, “Apakah bisa, skateboard fasilitasnya dibangun di sudut kiri utara serta alihkan peralatan yang berada di area Taman Jomblo?”… belum berani jawab.

Konsep Kang Eben cs adalah mengembalikan peran saparua di barudak bandung (de javu) sebagai pusat kumpul para generasi millenial dan juga grey generation (generasi rambut abu2/huisan yang berjiwa muda… seperti peserta RLA XIV dari pemprov Jabar) dalam satu even yang akrab kekeluargaan tapi menghasilkan nilai kreatifitas, kebersamaan serta nilai ekonomis realistis.

2. Jangka menengah adalah rekomendasi Untuk mewujudkan ‘Gudang Gandeng’ di 7 titik Kab/kota di Provinsi Jawa Barat berdasarkan data dari Bu Novi-BPKAD.

Pertanyaan mendasarnya adalah :
a. Bagaimana skema kerjasamanya? BOT, BTO, Sewa dan sebagainya;
b. Berapa lama masa kerjasamanya? Ini berhubungan dengan hitung-hitungan terhadap revenue;
c. Bagaimana tata hubungan selama kerjasama sehingga tidak muncul intervensi buta dari pemerintah?
d. Apakah harus serempak dilakukan atau bisa bertahap di 7 titik?

Diskusi masih berlanjut guys, tetapi yang pasti ada 1 nilai dari bu novi yang bisa diamini serta disepakati yaitu : Aset Pemprov diharapkan tetap terpelihara, terjaga dan termanfaatkan terutama bagi masyarakat sekitar serta pemprov jabar. Konsep ‘Gudang Gandeng’ ini kembali terasa menggaung, sebuah area yang lengkap, baik outdoor ataupun indoor dengan fungsi sebagai inkubator, co-working space makerspace dan creative space, yang menyisir generasi millenial dengan kelebihannya berupa connected, confident dan creativity.

3. Jangka panjang adalah merawat keberlanjutan ‘Gudang Gandeng’ di semua titik di kab/kota di Provinsi Jawa Barat dengan ragam dan cara pengelolaan sesuai dengan karakteristik daerah dan dikelola oleh OPD terkait sesuai tupoksi OPD masing-masing.

Udah dulu ah, sekarang sudah mulai #moveOn meskipun air mata masih menetes melewati pipi yang penuh harapan dan akhirnya harus disimpan dalam benak terdalam dengan filling data berkode ‘Pahlawan70’… Merdekaaa!!!!

Semangat perubahan.
Hidup RLAXIV
Hidup RBI Jabar
Hidup Gudang Gandeng.

Wassalam, 23:02 Jakarta. (AKW).

***
Catatan : Makasih yach, udah baca curhat ini. Amiin.

Resah Menyore.

Mengurai kata mengukir sa-√©mbara…

Resah itu secercah yang ditumpuk maka membuncah. Meluapkan banjir emosi yang tak tertahan oleh janji. Biarkan niat beringsut perlahan menuju seperempat malam yang penuh kekaguman.

Sejumput doa yang bertabur permintaan dunia kurang lengkap jikalau urusan akherat jadi nomor dua. Paketnya tidak terpisah tetapi saling melengkapi.

Seleksi alam sedang berlangsung, begitupun hiruk pikuk seleksi manusia untuk merengkuh sebuah impian yang berupa jabatan. Menguji diri sambil menilai dedikasi diri, karena sang penentu diakhir nanti adalah Allah SWT. Manusia memandang proses ini adalah mewujudkan tulisan takdir di lauh mahfudz menjadi lebih membumi melalui tangan manusia yang sedang memiliki kuasa.

Genderang sayembara telah ditabuh dan membahana, hadirkan sosok calon pengganti bos dalam proses mencari yang terbaik dari semua calon yang tersaji.

***

Sambil menikmati semilir angin sore, raga bersantai sejenak diatas kursi di pinggir kolam renang, tetapi jiwa dan pikiran telah beredar, bermanuver secepat kilat menghilang menuju peradaban, sambil tak lupa tetap merajut manfaat silaturahmi bersama bumi. (AkW)