Jangan emosi lebih baik ngopi.

Emosi bersua dengan kopi.

BANDUNG  akwnulis.com. Terkadang sebuah angan berhadapan dengan kenyataan yang jauh panggang dari api. Disaat sebuah loyalitas diuji oleh keadaan maka konsepsi kesabaran dan pengendalian diri menjadi sebuah kekuatan. Kata diplomatis sesaat tercekat oleh batas kesadaran, kahawatir hamburan kata yang terucap malah menambah keruh keadaan. Maka anggukan dan banyak terdiam menjadi pilihan bijak pada momentum yang cukup berat.

Senyum menjadi tameng dari kemasgulan rasa, dibantu juga dengan dekapan masker yang hampir menutupi seluruh wajah sehingga kerutan keengganan tidak terlalu tampak dalam hinggar bingar dan sukacita sebuah pagelaran.

No heart feeling bro, show must go on.

Ya memang menerima keadaan ini, tetapi gejolak rasa ini perlu dituangkan dalam urutan kata yang akan menjadi sebuah cerita di masa depan, dimana suasana ini hanya menjadi cerminan akan nasib anak manusia yang sedang meniti takdirnya.

Ternyata energi menulis itu bisa hadir karena kegalauan yang sedikit menyiksa. Apalagi tak bisa beranjak dari kursi kehormatan karena alasan seremonial. Ah memang terkadang kenyataan menjadi kejam. Dilengkapi dengan ilmu menghilang dari sebagian pasukan yang seharusnya menemani dengan setia dan memberikan masukan kondisi sebenarnya. Ternyata telah berlindung dibalik mendung dan membiarkan semua mengalir seadanya.

Untung saja bahwa kondisi mental lebih stabil karena menjalani berbagai kejadian, sehingga momentum kali ini cukup dihadapi dengan acuh tak acuh saja. Biarkan semua mengalir dan semesta merestui karena tentunya ini adalah sebuah kehendakNya dalam kelindan peristiwa bagi anak manusia yang sesungguhnya tak punya daya dan upaya.

Cara terbaik adalah kendalikan emosi dan jalani semuanya seolah baik baik saja. Tapi setelah lepas dari cengkeraman suasana, langsung mencari obat universal berupa sajian kopi hitam tanpa gula dengan manual brew V60 plus pilihan bean yang terbaik tentunya. Insyaalloh semuanya akan kembali seperti sediakala dan bersiap kembali menjalani tantangan kehidupan selanjutnya. Wassalam (AKW).

KE KANTOR CARI UANG atau… ?

Ternyata ke kantor itu mencari…. kerjaan hehehe.

CIMAHI, akwnulis.com. Hari minggu adalah saanya ‘me time‘ dan ‘family time‘. Caranya sederhana kok, cari aktifitas murah meriah, atau cari aktifitas ekonomis dinamis terukur yaitu jalan kaki pagi-pagi tapi jangan bawa duit ataupun dompet. Dijamin bisa berolahraga ringan sesuai target yaitu 6 ribu langkah saja. Insyaalloh tidak akan terpengaruh oleh lapak yang jualan karena tidak bawa dompet dan uang cash, kalaupun mau pake QRIS akan berabe karena rata-rata masih cash. Maka nilai ekonomis dan efisien akan terjadi, sesekali atuh memeditti eh mengoretti*) diri sendiri.

*)memeditti / mengoretti : pelit pada diri sendiri (bhs sunda maksa)

Soalnya kalau bawa duit cash akan merusak program jalan kaki ini. Tidak terjadi defisit kalori malah sebaliknya surplus kalori masuk ke dalam tubuh. Jalan kaki hanya menghasilkan pembakaran 400 sampai 500 kalori, tapi ngebaso dan kari sapi ditambah segelas besar es kopi susu itu menghasilkan 3 x lipatnya. Alamak menggendats dong.

Nah, selain itu hari libur juga adalah saatnya menulis. Seperti biasa tulisan singkat berbahasa sunda dengan maksimal 150 kata sudah menjadi satu pesan cerita. Tentang temanya nanti kita bahas di paragraf terakhir bagi yang kesulitan mengartikan bahasa sunda, monggo silahkan…..

FIKMIN # MILARI #

Murangkalih nu pangalitna yuswa 4 taun kènging pakanci ti sakola. Asa janten buah simalakama. Dikantun di bumi nyalira palaur, ari dicandak berabè.

Saatos sawengi jeput badanten sareng carogè, dicandak putusan, Si bungsu samentawis ngiring ka tempat damelna carogè.

Shubuh kènèh murangkalih tos gugah, netepan teras ibak nyalira. Sarapan teras angkat sareng bapana.

Pasosonten si bungsu uih, katingal rarayna alum, teu jiga ènjing – ènjing nu jigrah tur lincah.

Kunaon nèng, manyun waè?”

Teu aya walèran, ngadon ngagidig ka enggon. Nangkuban dina kasur. Bapana ngawaler, “Tadi meuni isin di kantor, mèja nu rèrèncangan ogè meja ibu bos diawut-awut, saurna milari artos”

Uing ngagebeg, naha murangkalih janten kitu. Kedah ditalèk ieu mah, “Nèng naha tadi ngabongkaran mèja Abi ogè mèja bosna Abi?”

Si bungsu bari ingsreuk-ingsreukan nyarios, “Mung bantos Abi milari artos, pan upami biasana Abi nyarios ka kantor tèh milari artos, tapi tadi teu mendak, kalahka Ènèng diseuseulan.”

****

Itulah kumpulan kata menjadi satu cerita dengan judul MENCARI (milari). Tema yang diusung sebetulnya dimulai dari ide sederhana yang muncul dari celotehan lucu anak semata wayang.

Intinya adalah tingkah anak kecil balita yang libur sekolah di PAUD dan ‘terpaksa‘ ikut ayahnya bekerja karena tidak bisa ditinggal di rumah, sebab ibunya juga bekerja di tempat berbeda.

Alhasil di kantor ayahnya, si balita berulah dengan membongkar meja kerja ayahnya, rekan kerja ayahnya juga bos ayahnya dengan tujuan mencari uang.

Setelah diklarifikasi ternyata semua diawali dari pernyataan ayahnya setiap mau pergi kerja yaitu : “Ayah berangkat dulu kerja ya, mau cari uang buat ade kecil”

Maka si balita insisiatif bantu ayahnya cari uang di kantor ayah, meskipun ternyata begitu syuliiit (lupakan reihan…) karena memang itu adalah sebuah ungkapan bukan arti cari uang sebenarnya di laci meja kerja.

Jadi hikmahnya, hati-hati memberi pernyataan kepada anak kita supaya bisa dimaknai dengan sejelas-jelasnya. Beda pemahaman antara anak dan remaja atau orang dewasa. Jadi mulai sekarang sampaikan bahwa pergi ke kantor itu bukan mencari uang tapi mencari kerjaan hehehehe.

Selamat weekend AKWfriend, Wassalam (AKW).

***

Terbang, Kopi & Bahagia.

Menikmati kopi sambil terbang adalah bentuk bersyukur, setuju nggak?

CIMAHI, akwnulis.com. Berkeliling ke berbagai tempat dengan alasan tugas adalah sebuah kenyataan. Meskipun terkadang datangnya perintah begitu mendadak. Tidak masalah, karena itulah salah satu resiko pekerjaan dan amanah yang diemban. Jalani saya guys.
Bulan september yang lalu menjadi saksi, betapa perputaran diri ini lumayan aktif. Termasuk pengalaman naik pesawat pertama (lagi) setelah 2 tahun terdiam akibat pandemi covid19 berkecamuk. Tidak terlalu jauh cukup Jakarta – Makassar PP dan Bandung – Yogja PP.

Itu sih baru 2 kali bro, sombong amat, saya sebulan bisa 10 kali penerbangan, nggak pernah ditulis dan di publish!!”

Tiba-tiba sebuah celoteh menyambar dan langsung menohok diri. “Wow, something wrong?” Sesaat terdiam sambil mencoba berfikir jernih. Kenapa ada yang sewot ya?.. padahal ini kan hanya pernyataan pribadi dan di medsos pribadi juga. Tapi kenapa sebuah reaksi begitu tajam menghujam.

Trus mikir juga, jangan jangan banyak juga yang tidak nyaman dengan pernyataan itu karena boro-boro terbang pake pesawat, lha wong keluar kota juga nggak pernah. Disinilah diri ini merasa serba salah. Tapi tentunya perlu dilengkapi disini bahwa bisa naik pesawat lagi adalah sebuah berkah rejeki dan kesempatan dari Illahi untuk menjadi Ibroh dan miliki nilai abadi tentang pemaknaan hidup yang sementara ini.

Maka sebagai bentuk rasa syukur itu adalah menggunakan kesempatan selama di pesawat untuk tetap terjaga. Tidak terpengaruh oleh penumpang kanan kiri yang langsung memejamkan mata sesaat pesawat bergerak di runway untuk tinggal landas. Mungkin bukan ingin tidur, tetapi berusaha memejamkan mata agar proses take off ini tidak terlalu terasa. Sementara diri ini sibuk dengan persiapan gelas kecil dan dokumentasi.

Yup, gelas kaca kecil untuk nanti menuangkan segelas kopi hitam tanpa gula dan dinikmati dengan sruputan perlahan dikala pesawat sedang bergerak diantara awan putih yang berarak begitu indah. “Bukankah ini bentuk rasa syukur atas nikmat-Nya?”

Ternyata, nilai bahagia dan bentuk syukur manusia itu berbeda-beda. Penulis berusaha besyukur dengan meanfaatkan waktu selama penerbangan dengan membuat konten dalam bentuk potongan video dan photo tentang kopi di pesawat termasuk adegan sruputan kopinya karena untuk menepis pendapat ‘No pic Hoax’ dan aktifitas ini membuat bahagia.

Tapi.. disamping kanan dua orang ibu-ibu telah terlelap dalam buaian mimpi dan itulah bahagia buat mereka karena mungkin saja telah berjibakù dengan beban tugas serta kesibukan di daratan, inilah saat yang tepat untuk beristirahat tanpa gangguan. Ada juga yang sibuk dengan gadgetnya dan menonton film-film yang telah di download sebelumnya tentu lengkap dengan headset kekinian.

Sementara di kursi samping lorong, terlihat seorang ibu yang pucat dan tegang dalam menjalani penerbangan ini. Terlihat begitu tersisa eh tersiksa.

Disini perlu disadari bahwa mencari bahagia adalah berbeda setiap orang, meskipun secara umum akan setuju jika kita selalu bersyukur dengan segala keadaan maka kebahagiaan akan datang. Jadi kita sepakat untuk jangan lupa selalu bersyukur dan memanfaatkan weekend ini bersama keluarga meskipun ternyata tuntutan tugas terus mendera. Happy weekend kawan, Wassalam. (AKW).

23.55 note.

catatanku dini hari.

Bukan semesta yang membiarkan kemalasan ini melanda. Tapi raga dan jiwa yang sedikit lelah harus terdiam sejenak dalam kesunyian.

Itulah catatan nyata yang begitu sulit menggerakkan ibu jemari agar aktif mengitari tuts virtual keyboard dan hasilkan sederet dan kalimat yang mungkin bermakna.

Manakala detik hati bergerak, jalinan katapun harus menghambur dan bergegas memunguti memori serta menyusun menjadi curhat singkat tengah malam.

Itulah suasana dikejar deadline jam 00.00, sebelum akhirnya beranjak menjadi esok hari. Selamat pagi eh dini hari dunia.

Wassalam, 23.55 wib.

SAKAW bin Kangen

Kangen boleh, tapi sabar juga sangat penting.

PASTEUR, akwnulis.com. Baru empat hari saja tidak berjumpa, ternyata rindu menggebu begitu menggelora. Apa mau dikata namun itulah kenyataan yang ada. Apalagi yang lebih tersiksa adalah kehadiranmu didepan mata namun hanya boleh disentuh tanpa bisa menikmatinya.

Padahal 8 tahun lalu, raga ini tidak begini. Bertemu denganmu biasa saja. Seperlunya saja tanpa dikuasai gelora rasa membuncah yang berbeda. Berbagai pilihan gayamupun tidak menjadi ketertarikan berlebihan, ya secukupnya saja.

Tapi seiring waktu berjalan, ternyata sekarang berbeda. Kehadiranmu berbeda, selalu bisa memberi inspirasi dalam menghias kata. Juga memberi nafas hadirnya ide dalam berkarya. Meskipun hasil karya sederhana atau mungkin masih sangat amatir dari segala sisinya, tapi itulah sebuah karya dari ide yang ada.

Kenapa harus bangga?” Harus itu, karena sesederhana sebuah karya yang tercipta lebih bermakna dibandingkan ide brilian yang hanya menari diatas angan tanpa berbuah hasil dan kejelasan.

Apalagi berbicara bentuk dan jenis makin menguatkan diri untuk selalu dekat dan tidak terpisahkan.

Namun itulah kehidupan, ada saatnya kita diingatkan sama Tuhan bahwa ini adalah dunia fana. Ada batasan dalam semua hal, meskipun hanya sementara.

Begitupun dengan dirimu. Sekarang harus berbeda. Hubungan kita dijeda karena keadaan yang berbeda.

Maksudnya apa ini?”

Lha malah nanya, ini khan lagi curhat. Kalau bahasa kerennya mah sakaw… sakit karna kaw, heu heu heu. Eh salah kebalik, karena sakit sehingga tidak bisa sementara bersama kaw :).

Jadi sudah 4 hari ini, libur dulu bercengkerama menikmati kenikmatan pahitmu, hai Kohitala kesayangan. Kopi hitam tanpa gula. Sebuah konsekuensi akibat kelelahan dilengkapi dengan keteledoran sehingga terjadi kompilasi kesakitan.. yakni gangguan di lambung sehingga perut kembung dan tidak bisa BAB juga secuil kentut sekalipun dilengkapi dengan otot punggung menegang (urat ngajepret) karena kelamaan duduk dibelakang kemudi dengan judul mudik dan balik.

Akibatnya depan kembung belakang bingung, tak bisa tidur 2 hari bikin limbung. Salah satunya yang dilarang ya itu tadi bercengkerama dan sruput kohitala harus ditunda, sambil menunggu asam lambung mereda.

Alhamdulillah, Allah Maha Penyembuh. Setelah ihtiar menggayem kunyit, jambu klutuk dan berkenalan dengan antangin JRG, norit, mylanta, lansoprazol, hingga mevinal plus terakhir donperidom & symbio juga tak henti berdoa kepada Illahi Robbi. Maka rasa sakit depan belakang ini telah berangsur pulih dan kembali membaik seperti sediakala. Meskipun menyentuhmu eh menyeduhmu masih belum berani karena khawatir berakibat sesuatu, maafkan aku. Wassalam (AKW).

Aku & Covid19 – Bagian 2.

Ceritaku dan Covid19 – tamat.

Ini lanjutan dari AKU & COVID19 bagian 1.

BANDUNG, akwnulis.com. Di hari kedua isolasi, penciuman dan indera perasa tidak berfungsi. Panik kawan, hati berdebar dan perasaan tidak beraturan, makanan tiada rasa, parfum dan minyak kayu putih lewat di hidung begitu saja, “Ya Allah apa yang terjadi?” Hanya linangan air mata dan ratapan berwujud doa dalam kesendirian ini, betapa rapihnya raga dan jiwa ini.

Cobaan belum berakhir, proses tracing atau pelacakan dimulai dan seluruh keluarga harus swab tes pcr di labkes. Tak terbayang betapa repotnya istriku untuk membawa keluarga besar serumah melakukan tes tersebut. Semakin sedih manakala membayang anak semata wayang berusia 4 tahun harus dicolok hidungnya pas pemeriksaan…. “Ya Allah selamatkan keluarga hamba, semoga hasil tes nya negatif semua”

Alhamdulillah, istriku tegar menghadapi kenyataan ini. Menyetir dan membawa semua keluarga serumah ke labkesda untuk dilakukan pemeriksaan.

5 hari kemudian hasil tes pcrnya keluar, babak baru harus dihadapi. Istriku tersayang dan mamah mertua dinyatakan positif covid19 sementara anak, kakak ipar, saudara dan pembantu hasilnya negatif. Kegalauan memuncak, karena tidak berdaya membantu untuk mengatur semua dengan raga terisolasi disini, di pusat isolasi BPSDM.

Ketegaran istri dan mamah mertua membuat trenyuh hati ini. Mereka berdua yang mengatur model isolasi mandiri di rumah dengan kondisi mereka berdua juga pasien karena gejala semakin terasa. Anak semata wayang yang harus dipisahkan kamar begitu menyiksa perasaan, biasanya kumpul bersama, sekarang terpencar. Ayah di pusat isolasi, ibu di kamar tengah, anak kesayangan di kamar depan bersama kakak ipar dan adiknya papah mertua.

Diri ini semakin terpuruk karena muncul rasa bersalah yang menghunjam ulu hati, menyalahkan diri karena menjadi pembawa virus ini sehingga menulari orang – orang terdekat di rumah. Ditambah kondisi tubuh yang tidak nyaman, hidung mampet, lemas dan yang terasa semakin menyiksa adalah tiada rasa dan tiada bau, tiada harum… hambar dan hampa rasanya.

Apalagi jika ingat sang istri, seorang dokter yang setiap hari harus menggunakan APD lengkap disaat observasi pasien, menahan panas dan gerah serta mandi sebelum pulang ke rumah demi menjaga agar tidak terpapar covid, eh ternyata malah tertular dari suami. Sungguh rasa sesal ini semakin dalam.

Disinilah… sebuah kontemplasi hadir, betapa manusia ini tiada daya dan upaya tanpa kehendak dari  Allah Subhana wataala.

Betapa manusia ini, diri ini belum bisa bersyukur atas nikmat Illahi yang begitu berharga dan luar biasa ini. Allah memberi pelajaran hidup dengan mencabut sementara indera perasa dan indera penciuman melalui virus covid19, terasa begitu menyiksa. Manusia langsung mati gaya, stres dan tak jelas arah kehidupannya. Padahal baru 2 butir nikmat dari-Nya, sementara nikmat bernafas, mengedipkan mata tersenyum dan bejibun kemudahan lainnya bukan semata hadir begitu saja, tetapi itu adalah kehendak sang maha pencipta.

Disinilah kesadaran tergugah, betapa selama ini abai dengan kewajiban beribadah baik ibadah kepada Allah secara langsung ataupun ibadah yang berhubungan dengan manusia (hablum minannas).

Obat – obatan dan vitamin yang diberikan langsung dimakan tanpa banyak tanya. Kepedulian orangtua, teman-teman dan berbagai pihak juga menjadi penguat termasuk berbagai kiriman seperti buah-buahan, argentum water, jamu AVC, madu, minyak kayu putih original, serta air doa, semuanya diminum atas nama ihtiar kesembuhan.

Hari keempat penciuman berangsur hadir kembali, teriak kegirangan dikala bisa mencium kembali segarnya aroma minyak kayu putih yang rutin diminum 1 sendok teh selama didera covid19 ini, Alhamdulillahirobbil alamin… Makasih Ya Allah telah mengembalikan lagi nikmat ini. Begitupun indera pengecap/perasa, perlahan tapi pasti telah kembali.

Rutinitas berjemur di rooptop, mengaji, main gitar, menulis, cuci baju, melamun, tidur, nonton tv, kontak – kontak dengan istri, orang tua dan rekan kerja juga ada beberapa zoom meeting dijalani dengan keikhlasan dan kesabaran hingga akhirnya kami berempat pada hari ke 12 dinyatakan boleh pulang dan kembali diijinkan bersua dengan keluarga.

Tapi, istri menyarankan 3 hari dulu memisahkan diri di tempat berbeda dan hari keempat baru bisa ke rumah. Ya sudah ikuti saja.

Disaat bisa kembali ke rumah, baru bisa memeluk erat anak semata wayang saja, karena istri masih isolasi mandiri di kamar begitupun ibu mertua. Sebuah kerinduan yang akhirnya bisa menjadi nyata, meskipun mungkin belum sempurna.

Betapa covid19 ini bisa memporakporandakan semua, tidak hanya phisik yang tersiksa namun psikis juga kena karena rasa bersalah telah menjadi penyebab tertularnya orang – orang tersayang dan terakhir adalah finansial. Betapa mahalnya dampak dari virus ini karena bukan hanya bicara obat – obatan dan vitamin bagi diri ini juga istri dan mertua saja tetapi tambahan biaya untuk tes PCR yang (waktu itu) masih mahal jika dilakukan mandiri sekitar 1jt – 2 jt per orang tergantung kecepatan  hasilnya juga biaya katering untuk yang di rumah karena ada 2 pasien yang isolasi mandiri juga banyak lagi biaya tidak terduga lainnya.

Akhirnya setelah genap sebulan, penulis dinyatakan sembuh ternyata istri masih perlu recovery hingga 2 minggu ke depan termasuk mamah mertua yang cukup lama, hingga tes pcr ke 5 baru dinyatakan negatif pkus dibayangi gejala long covid19 yang mudah lelah dan mudah pusing tiba-tiba.

Sebuah pengalaman berharga tentang makna kehidupan, hubungan keluarga dan yang paling penting adalah mempererat keyakinan bahwa manusia adalah mahluk yang lemah dan semua bergantung atas kehendak-Nya.

*** TAMAT ***

Akwnulis.com, 150322

Aku & Covid19 – Bagian 1

Ceritaku menjadi LC (lulus covid19) bagian pertama.

BANDUNG, akwnulis.com. Perjalanan tugas satu minggu ini memang begitu padat dan tanpa kompromi. Diawali agenda di kabupaten purwakarta dalam rangka Rapat evaluasi PT Jamkrida dlanjutkan esok harinya selama 2 hari menyusuri jalur pantura diawali dengan evaluasi kinerja wilayah Cirebon raya hingga tuntas di Indramayu sana lalu kembali ke basecamp di Bandung, lalu esok harinya pulang pergi ke garut meskipun tenggorokan mulai gatal dan terbatuk-batuk.

Sementara itu, penyebaran covid19 baru mulai resmi dinyatakan melanda negeri tercinta. Suasana menjadi berbeda, ketakutan kegalauan dan kebingungan melanda semua kalangan, tak terkecuali kami, bagian dari aparatur pemerintahan yang mendapat tugas mengawal, membina dan mengevaluasi kinerja hampir 30 lembaga keuangan yang sebagian sahamnya dimiliki oleh pemerintah provinsi jawa barat.

Maka skenario tatap muka dengan seluruh lembaga ini perlu dilakukan penyesuaian, tentu atas nama menjaga prokes dan keselamatan semuanya.

Tentu di awal sedikit tertatih dan gamang karena perubahan ‘terpaksa’ yang begitu mendadak. Dari tatap muka menjadi tatap layar, dari bercengkrama langsung menjadi berbalas chat di zoom…

Maka pergerakan kamipun dibatasi dengan cara tetap tatap muka yang minim namun dilengkapi zoom meeting untuk memberi peluang semua mitra tetap bisa ikut meeting bersama.

Nah perjalanan terakhir inilah yang kemungkinan membuat kami kelelahan dan akhirnya imun menurun dan tak kuasa melawan terpaan virus covid19 d pertengahan tahun 2020.

***

Kami berempat kompak, satu mobil berkeliling selama satu minggu, tepatnya senin hingga jumat dan di hari sabtunya demam tinggi disertai pusing dan rasa tidak nyaman di tengorokan dengan batuk kering yang mulai menyiksa.

Padahal kami selalu taat protokol kesehatan, double masker termasuk facedhield, semprat semprot handsanitizer juga rajin mencuci tangan dengan sabun. Namun itulah takdir yang harus dihadapi.

Vonis kena covid19 ini diawali dengan pemeriksaan antigen di lankesda jabar, dan setelah berempat dilakukan tes antigen via hidung, kami diharuskan menunggu hasilnya padahal yang lain setelah tes diperailahkan pulang untuk menunggu hasil. Apalagi tiba-tiba tempat duduk bekas kami tes langsung disemprot oleh petugas ber-APD lengkap.

“Wah gawat nih, jangan-jangan kena covid nich” itu yang muncul dibenak kami. Dimana suasana pertengahan tahun 2020, masih pada takut dan seolah covid19 adalah aib. Kami berempat begitu tegang.

“Silahkan pak, kita swab PCR” Suara tegas petugas membuyarkan kebingungan kami, dan segere kembali antri untuk merelakan hidung ini dicolok lagi.

“Bapak-bapak hasil tes antigennya reaktif, lalu sambil menunggu hasil tes PCR dimohon memisahkan diri dari keluarga ya”

Hanya anggukan lemah yang menandai persetujuan dari kami, lalu keluar dari area labkes dengan gontai. Apa mau dikata, inilah kenyataan yang harus dihadapi. Kami berempat berpisah dengan membawa kebimbangan masing-masing. Sementara rasa panas dan kering ditenggorokan semakin menyiksa ditambah pusing dan lemas plus bersin-bersin terus mendera.

Setelah info ini sampai ke istri dan keluarga, sontak menjadi ketegangan kolektif. Apalagi kontak erat dengan orang rumah begitu intens dikala sedang demam beberapa hari yang lalu. Di rumah tidak hanya anak dan istri, namun ada mamah mertua, kakak ipar dan anaknya, adiknya ayah mertua dan pembantu… duh jangan – jangan.

Benar saja perkiraan ini, setelah mengasingkan diri dari keluarga dan tinggal ditempat berbeda  hasil swab PCR kami keluar dan berempat dinyatakan positif covid19 dengan nilai CT dibawah 20, malah penulis sendiri nilai CTnya 15. Sebuah nilai yang waktu itu dianggap ‘berbahaya’ atau beresiko karena semakin rendah nilai CTnya maka semakin besar peluang untuk menyebarkan virus ini kepada orang lain.

Maka koordinasi intens dengan dokter di dinas kesehatan provinsi jabar, akhirnya kami masuk ke tempat isolasi mandiri pemprov jabar yaitu di area BPSDM Prov jabar di daerah Cimahi utara.

Setelah mengikuti berbagai rangkaian tes, kami berempat masuk di pusat isolasi mandiri dan ditempatkan di tower yang berbeda. Terasa terasing dan kesepian serta kondisi tubuh terasa berbeda. Pusing masih mendera dan batuk kering plus lemas serta terkadang seperti demam tapi normal lagi dan nggak berapa lama panas lagi suhu tubuh ini, ditambah lidah kok kebas ya?.. agak hambar pas makan nasi atau kue yang tersaji…….

Bersambung ke AKU & COVID19 Bagian 2.

RUMAH PUTIHKU 2022

Rumah putihku… Bersiap memyambut calon pemilik baru.

CIMAHI, akwnulis.com. Memandang sendu bangunan putih yang memberi getaran berbeda karena sejumlah kenangan telah dilalui dalam suka dan duka. Ya, rumah tinggal yang sekarang terdiam menanti pinangan dari jodoh pemilik yang baru.

Awal 2019 hampir saja berganti kepemilikan, namun takdir berkata lain dengan hadirnya virus covid-19. Semua fokus menghadapi serangan bencana kesehatan yang mendera seluruh dunia. Masing-masing menahan investasi dan pembelian barang property sambil berhitung apakah usaha dan tabungan bisa bertahan di masa pandemi.

Tidak perlu banyak kata, karena 2 tahun ini adalah masa keprihatinan pada level masing-masing. Begitupun rumah putih ini, setelah beberapa calon pemilik memastikan akan membayar, ternyata kesulitan likuiditas di masa covid-19 menjadi alasannya.

Akhirnya rumah putih kembali sendiri, menjalani hari demi hari dengan pemilik lama,  sang penulis ala-ala ini.

Kali ini  setelah pandemi mendera dan dianggap relatif lebih landai dengan target imunisasi menuju herd immunity maka geliat pemulihan ekonomi semoga semakin optimis dengan tetap ketat menjaga protokol kesehatan.

Maka, kami tunggu pinangan calon pemilik baru dari rumah putih siap huni ini.

Ini info lengkapnya…

RUMAH PUTIH ANEKA BAKTI CIMAHI

Rumah satu lantai bernuansa putih yang elegan, dengan luas bangunan 152 meter persegi. Terletak di Komplek Perumahan Aneka Bakti, Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan.

Akses dari jalan raya Sadarmanah – Cibeber berjarak 150 meter. Kendaraan umum angkutan kota tinggal berhenti di gerbang komplek dan berjalan kaki sedikit.

Parkir kendaraan 1 buah KR4 dan terlindung dengan atap kanopi baru policarbonat.
Kamar tidur 3 buah + 1 kamar pembantu di lt2 dan kamar mandi 2 buah.

Meja makan dengan 3 kursi,
Kasur spring bed ukuran king size,
Lemari baju 1. Didepan pintu masuk terdapat Kolam ikan hias dibawah teras depan dan dapat dilihat langsung karena menggunakan kaca tebal.

Air bersih, bagus, bersumber dari air PDAM dan Sumur Bor dan dilengkapi filter penjernih dengan 2 buah torn.
Listrik 1200 watt menggunakan token.

Lampu ruang utama dengan downlite + lampu hias. Jalan depan rumah lebar 5 meter, leluasa jika perewis/berpapasan.
Keamanan 24 jam dengan portal dan satpam.
Mesjid dekat sekitar 200 meter.

***

Alamat : Jl. Yuda Bakti No.3 Rt01 Rw11 Komplek Aneka Bakti Leuwigajah Cimahi Selatan.

Penawaran Terbatas, yang minat monggo kontak :

Call/WA : +6287721300307

SAHA NAMINA? – fbs

Teu pira ukur hoyong terang.

BOGOR, akwnulis.com. Mentari menyinari bumi begitu terik dan atraktif sehingga tak kuat berlama-lama berdiri untuk menikmati hangat dan panasnya sinar alami. Perlahan bergeser mencari keteduhan dibawah pohon rindang di sekitar alun – alun Kota Bogor yang sedang prosesi peresmian.

Segelah mendapatkan posisi strategis, maka menarilah sang jemari. Menuliskan secarik cerita singkat berbahasa sunda yang idenya hadir dari silaturahmi seorang kawan lama, sebut saja Kang Faisal,  sore kemarin.

Canda tawa dan kisah bersama mewarnai perjumpaan lagi setelah 4 tahun tidak pernah bersua, mencoba menangkap ide cerita menuangkan dalam fiksimini basa sunda. Sebuah genre tulisan fiksi berbahasa sunda maksimal 150 kata sudah menjalin satu cerita,  inilah ceritanya….

FIKMIN # SAHA NAMINA? #

Motor bèbèk kameumeut keur gering parna, diopnameu di bèngkèl Jang Opan. Indit nèang kasab numpak angkot tibatan leumpang.

Leungeun bentik megat, angkot eureun. Sup ka jero. Dina angkot aya dua wanoja, marakè rok mini. Katènjo kulit sampulur konèng umyang, ngan hanjakal marakè tato. Nu hiji dina leungeun, nu hiji deui dina bitis jeung tuur, jigana nepi ka pingping.

Pangangguran ditanya, “Badè kamarana nèng?”

Damel mang”

Saha namina?”

Dara mang”

Nu hiji deui mah ngabetem tapi curuk nunjuk kana tuurna. Kaciri tato kembang jeung huruf maringkel. Tuur katuhu aya huruf R, tuur kenca huruf S.

Nèng RS?”

Anjeuna gideug, “Abdi mah Ros”

Rada ngahuleng, ningali kana tuurna ukur aya huruf R jeung S. Si nèng imut matak uruy. Jadi panasaran.

Teu ngartos neng, dupi hurup O na mana?”

Ieu mang” Neng Ros ngadèngkak. Mang Ujang olohok atoh teu bisa ngiceup, tuluy kapiuhan.

***

Nah itu ceritanya kawan, yuk ah lanjut kegiatan di jumat siang ini. Wassalam (AKW).

Javanese Puntang Wine lagi..

Kopi dingin siapa takut?..

INDONESIA, akwnulis.com. Siang terik memerlukan padanan yang menarik, sajian minuman alami yang tetap memiliki sejuta misteri. Pilihannya tidak jauh – jauh, pasti Kohitala, kopi hitam tanpa gula dan disajikan denga proses manual yang menjaga kemurnian hasil ekstraksi.

Sehat dan tidaknya sebenernya masih silang pendapat, tetapi yakinilah jikalau hanya unsur kopi yang hadir maka tentu minuman ini lebih bermanfaat dibandingkan dengan aneka campuran seperti gula, susu, krimer, syrup dan berbagai bahan tambahan lain.

Mungkin di mulut enak, tetapi kandungan zat lainnya bisa mempengaruhi metabolisme tubuh. Apalagi terlalu banyak…. sesuai hukum alam, terlalu banyak itu beresiko, termasuk terlalu banyak mikirin kamu, padahal kamu mikirin yang lain…. khan jadi nggak nyambung.

Padahal keduanya yakin lho, yang satu yakin dengan pilihannya dan yang dipilih ternyata yakin juga bahwa ini bukan pilihan…. lieur pan.

Itulah kehidupan, penuh dinamika dan kejutan apalagi bicara hati dan selera anak manusia, pasti nggak ada habisnya klo dibahas satu persatu.

Karena panas terik, maka sajian yang pas tentu kopi dingin…. manual brew kopi arabica puntang wine yang diseduh dengan filter V60 lalu menetes di bejana kaca yang telah dilengkapi kotak kitak kecil es batu yang bercahaya… tes tes tes tes… menghasilkan sajian javanese coffee yang menyegarkan.

Sruputtt….. suegeeer preeen.

Bodynya medium ke bold dan acidity yang memberi ketegangan rasa karena cukup tinggi, dilengkapi after taste kecut dan ninggal, seperti rasa tertolak dikala menyatakan perasaan… adaaw galaaw.

Srupuut… hmmm segerrr.

Selamat menikmati kesegaran di suatu tempat yang masih dirahasiakan, yang penasaran DM dan japri aja yaa.. yang pasti masih di Bandung Raya. Wassalam (AKW).