Kopi Sarongge Bogor

Cerita Kopi dari Pakansari.

Photo : Sajian kopi & backgroundnya kopi juga / dokpri.

BOGOR, akwnulis.com. Tiada kesan abadi jikalau tiada yang menuliskan kisah perjalanan lengkap dengan dokumentasi. Maka tulislah apa yang kamu kerjakan, tulislah apa yang kamu rasakan, jangan takut dengan bagus atau jeleknya tulisan karena tujuannya bukan perlombaan menulis, tetapi jejak indah jalinan kata memberi nuansa catatan kehidupan yang berbeda.

Dokumentasi akan semakin seksi manakala ada cerita yang bisa digali, apalagi sambil menikmati sajian kopi, lengkap sudah dan perjalanan hidup bakalan lebih indah.

Meskipun pekerjaan dan target terkadang meleset, tapi ngopi bisa menjadi penghibur hati. Dikala tugas tuntas dan sukses sesuai rencana, maka kopi juga bisa menjadi penyempurna.

Jadi, biarkan kopi bicara….

Photo : Biji kopi Sarongge Bogor / dokpri.

Kali ini mencoba salah satu kopi arabica yang (kata pelayannya) asli dari bogor, dinamainya ‘Arabica Sarongge Bogor‘, lets try guys…

Prosesnya tetep pake manual brew V60 dan hasil diskusi singkat dengan barista di Kavez Coffee Roastery yang terletak di area Stadion Pakansari Kabupaten Bogor ini menggunakan air 90Β° celsius untuk proses penyeduhan dengan perbandingan 1:13.

Sambil menunggu proses manual brew kopi, maka berkeliling sambil mendokumentasikan suasana cafe yang mulai ramai ini. Cafe yang nyaman dengan pilihan tempat No-Smoking, juga lebih luas smoking areanya baik di dalam cafe juga outdoor. Termasuk di lantai 2, tapi hanya buka malam minggu saja untuk lantai 2 ini.

Photo : Pilihan biji kopi siap disaji / dokpri.

Pas balik ke meja, eh sajian kopinya sudah ada, langsung photo (maklum kekinian) baru disruput-kumur-telan…. yummy nikmaaat. Acidity dan bodynya stabil. yach medium, meskipun aftertastenya tidak terlalu kentara tetapi selarik citrun muncul malu-malu.

Photo : Kavez Coffee Roastery / dokpri.

Inilah sejumput kalimat tentang cerita menikmati kopi di tanah bogor ini, beberapa tulisan terdahulu tentang kopi bogor ini ada Kopikir, juga Kopi Mandailing di cafe Migliore. Selamat wiken sahabat, Wassalam (AKW).

Kopi Bale Bengong.

Nongkrong di Bale Bengong…

JAKARTA, akwnulis.com. Adrenalin terasa terpacu manakala kita sedang mengejar sesuatu, atau bisa juga pas dikejar sesuatu… hiiiy.

Tapi ini sih posisinya mengejar coy, mengejar waktu katanyah… meskipun sudah tahu waktu itu tidak berubah, tetep aja 24 jam dalam satu hari. Waktu juga memiliki sifat ajeg yang kadang dinilai kejam karena zero kompromi, kalau sudah lewat ya sudah lewati saja. Kalaupun sudah mantan… maksudnya mantan waktu, ya sudah lupakan, itu semua sudah terlewati… bener nggak?…

Yang nggak setuju pasti sang memori, karena akan berusaha keras menyimpan dan menimbun kenangan, mengumpulkan peristiwa lampau serta berusaha sekuat tenaga menjaga semua kenangan agar tetap abadi sepanjang masa.

…. ntar dilanjut, dipanggil ibu negara dulu…

***

Ngopay & Ngojay-ku.

Tak terasa nulis ngopay dan ngojay udah 2 tahunan.. sruputt.. gejebur.

Photo : Ngopay & Ngojay / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah keserasian adalah keindahan dan presisi memberi catatan ketelitian tersendiri. Meskipun atas nama seni, sebuah posisi yang tidak beraturan bisa menghasilkan keindahan. Bisa juga pola-pola yang bertabrakan baik warna ataupun bentuk akan menghasilkan aneka persepsi yang didasari dari pendapat dan opini pribadi bergabung dengan pengalaman hidup yang pernah dijalani, bahasa simpelnya adalah seni abstrak, ceunah, atau absurd… eh atau kontenporer… mohon koreksi klo salah gan.πŸ™πŸ™πŸ™.

Tapi…. secara umum, keserasian πŸ“š menjadi adalah sesuatu hal yang mudah dinikmati tanpa perlu berfikir panjang atau mengira-ngira apa sih yang ditampilkan atau tentang gambaran apa yang sedang dihadirkan.

“Bener nggak?”

Photo : Ini Ngopay Kotala V60 / dokpri.

Jawabannya akan variatif, meskipun feeling sih… klo di survey, kecenderungan khalayak akan sepakat dengan keserasian nan presisi yang menghadirkan keindahan.. ayoo… setuju atuuuh.

Begitupun dengan blog ini, akwnulis.com yang tak terasa sudah 2 tahun lebih hadir menjadi media curhat onlen pribadiku sekaligus ajang silaturahmi via share link rutin ke kontak-kontak WA yang ada… maaf klo ngeganggu yaaa.

Photo : Ini Ngojay / dokpri.

Beragam tanggapan yang hadir dalam kata ataupun emoticon dan juga tanpa respon apapun… tidak masalah, yang penting semangat berbagi informasi baik tetap terjaga dengan tema mengerucut tentang ‘Ngopay & Ngojay’ atau minum kopi dan berenang… meskipun cerita tentang kopi masih mendominasi, tapi renang dan kolam renangpun selalu hadir sesekali…πŸŠβ€β™‚οΈπŸŠβ€β™€οΈπŸŠβ€β™‚οΈ

Maka, gambar di awal blog ini mewakili sebuah persepsi, mewakili keserasian tema ‘ngopay & ngojay‘ sekaligus berusaha meng-capture keindahan alam Cipanas garut dalam kesegaran pagi, kebeningan kolam renang dan kenikmatan secangkir kopi hitam.

Photo : Ngopay Olangan Kopi Lanang / dokpri.

Meskipun sebenarnya agak sulit juga kalau minum kopi β˜•β˜•β˜• sambil berenang, karena yang diminum pasti lebih banyak air kolam renangnya atuh hehehe… jadi bisa juga minum kopi di pinggir kolam renang sambil menikmati kopi dan pemandangan yang berenang.. woiiiiiiii……. ups salah lagiii…

Yang paling aman adalah menikmati kopi tanpa gula🍡🍡 dengan seduhan manual dan kopinya spesialty dilanjutkan dengan menceburi eh menceburkan diri di kolam renang, apalagi jikalau kolan renangnya air hangat…. nikmat pisan, lalu jangan lupa dihadirkan dalam jalinan kata dan kalimat yang mungkin bisa memberikan manfaat, minimal bisa dibaca dengan cepat dan ada informasi penting yang didapat.

Selamat menjalani sisa wiken bersama keluarga sebelum esok hari kembali berjibaku dengan tugas-tugas masing-masing yang tak pernah ada habisnya…πŸ’‘πŸ’‘πŸ’‘ Alhamdulillahirobbil alamiin. Wassalam (AKW).

Ngopay & Ngojay di Karawang.

Ngopay Ngojay Curhaaat……

Photo : Kolam Renang Hotel Akshaya Karawang / dokpri.

KARAWANG, akwnulis.com. Panasnya siang ini di daerah Teluk Jambe Kabupaten Karawang terobati oleh gemericik air di kolam renang yang merayu dengan aroma biru penuh kesegaran.

Dengan bentuk kolam renang yang dibuat berkelok, kedalaman flat 1,5 meter memanjakan penginap dan pengunjung untuk segera ngejebur dan bercanda ria bersama di area Hotel Akshaya.

Sayangnya, 2 agenda rapat marathon harus dijalani dan dihadapi. Semua rapat membahas tentang pertanggungjawaban tahunan, otomatis musti konsentrasi dalam melihat angka capaian dibandingkan target yang sudah ditentukan lebih dahulu.

Photo : Kolam renang anak dan dewasa / dokpri.

Apalagi mengacu pada pasal 33 ayat 1 PMDN 118/2018, sudah jelas bahwa Evaluasi itu adalah perbandingan antara target dan realisasi, titik.

Tapi dalam forum curhat tertinggi sebuah perseroan, maka diskusi hangat yang bersahutan antara reasoning dengan sanggahan akan berpadu dibalut oleh regulasi dan pembelaan….. yang penting kita kedepankan kepala dingin dengan semangat edukatif solutif…. ngomongin kepala dingin, maka berenanglah yang pas… paas bingit, tapi……

Tapi khan nggak pantas, peserta rapat keluar ruangan… eh liat kita lagi asyik berenang supaya kepala dingin meskipun hati panas dan kesel karena pengurus tidak bisa mencapai target.

Photo : Nge-Double espresso dulu yukk / dokpri.

Ada cara lain, pas break maka bergeraklah ke restoran dan pesan segelas kopi double espresso…. bawa di tepi kolam renang… angkat cangkir mininya…. srupuut… glek…… satu kali tandasss…… maka rasa mantaps kepahitan double espresso menyeruak memenuhi indera perasa dan menenangkan jiwa.

“Trus otak panas gimana?”

Sabarrr…. perlahan tapi pasti, pas jiwa sudah tenang maka syaraf ke otakpun ikutan tenang, tensi esmosi.. eh emosi akan berkurang dan otak akan kembali fresh, dingin dan rilex, percayalah.

“Kok cuma double espresso, nggak ada kopi manual brewnya?”

Belum ada ternyata, baru kopi tanpa gula versi mesin yang tersedia… it is Okey, ini juga lumayannn.

Photo : Forum curhat tertinggi / dokpri.

Akhirnya menjelang sore, 2 rapat kinerja tahunan bisa dituntaskan. Meskipun ada dinamika yang tidak terelakkan, tapi itulah bagian dari proses pembelajaran. Diskusi hangat demi status Acquit et de charge, juga melebar ke urusan masa jabatan dan mekanisme pengusulan pengurus…

Makin rameeee… meskipun akhirnya harus fatsun kepada regulasi, tetapi semua pihak menjadi mengerti dan memahami.

Selamat beraktifitas di awal minggu ini kawan. Kerja total, ngopay santai, giliran ngojay lihat-lihat kesempatan. Wassalam (AKW).

Lara di Pantai Utara.

Di kala lara masih tak bisa dipisah oleh logika, mungkin laut penyembuhnya.

Photo : Pantai utara karawang / dokpri.

KARAWANG, akwnulis.com. Di kala sebuncah lara mendera jiwa yang hampa, maka setitik harapan sangat sulit untuk direngkuhnya. Semua detak dan degup jantung kenyataan, seolah semakin memghimpit hadirnya peradaban.

Pada titik inilah, jalan terbaik harus dilakukan. Jangan sampai rasa sesal semakin menenggelamkan nalar sehingga mengambil langkah pintas yang sebetulnya awal dari kehancuran yang sesungguhnya.

“Sudahlah kawan, tak usah dipikirkan, ambil hikmah dari semua kejadian”

“Ngomong sih gampang, kamu memang tidak tahu apa yang sedang kurasakan!!!” Teriakan ketus menyanggah luncuran kata bijak yang berusaha membangkitkan semangat. Kalah oleh aroma keterpurukan yang begitu ketat menelikung dari berbagai arah kemunafikan.

“Tak usah rintangi aku, biarkan diri ini mencari damai dengan alam”

Terlihat wajah sendumu membeku, menatap hampa tanpa ada reaksi apa-apa. Hanya anggukan angin yang merestui tindakan ini.

Kaki langsung berlari menapaki tanah berpasir yang sudah tidak bisa teriak tentang keadilan, menuju jembatan penantian yang akan mengantarkan kepada titik penghabisan di depan sana.

Photo : mancing yuk…

Tapi sebuah papan pengumuman retribusi menahan buncahan semangat yang begitu tinggi. Sesaat tertegun tapi sudah tidak butuh basa-basi, keluarkan uang 10.000,- dan segera beraksi.

Bergerak lurus melewati jajaran tenda-tenda bambu hingga akhirnya menapak pada ujung jembatan bambu yang menggapai panjang ke laut lepas.

Bergerakkk…

Nuansa lara masih menggumpal dalam dada, di kala kaki menjejak menuju ujung dermaga, terasa pondasi bambu yang dibangun begitu sederhana, tapi itulah dunia.

Di ujung dermaga tertegun, menatap bentang alam laut lepas yang begitu damai dan dalam. Sang lara perlahan luruh, perlahan tapi pasti kesedihan mulai berganti dengan secercah harapan yang susah payah muncul kembali…… ini adalah janji.

Hamparan birunya laut ternyata bernuansa coklat, menjadi cerminan sebuah penyambutan bagi jiwa yang sedang menanggung lara. Meskipun di ujung sana, laut membiru telah menanti, tetapi kecoklatan tak bisa melepaskan fungsinya untuk menghibur dan menghilangkan kesedihan yang begitu mendalam.

“Selamat tinggal bangunan kehampaan!!!” Teriakan pamit membahana ke ujung langit. Menggoyangkan horizon dan batas ketiadaan, semua terdiam.

Jebuuuur!!!!!……

Prosesi penyatuan kepentingan terjadi. Jiwa yang sedih melarut dengan segarnya air laut pantai utara. Menghasilkan gelombang ketegaran yang penuh misteri bertabur janji-janji.

Tapi yang pasti, lara dan duka sudah pergi terbawa gelombang coklat yang tak banyak kompromi. Tinggal sekarang adalah semangat yang tersisa harus dipupuk serta dipelihara, agar kelak menjadi penentu derajat dan makna kehidupan fana. Wassalam (AKW).

***

Catatan :
1. Ini hanya goresan pena, jalinan reka kata cerita fiksi belaka, yang terinspirasi dari…..
2. Lokasi Pantai Tanjung Baru, Cilamaya Karawang.

Kopi Tubruk Kegalauan

Mengurangi kegalauan sambil ngopay, semoga semua baik-baik saja.

Photo : Kopi Tubruk Arabica Cibiuk / dokpri.

GARUT, akwnulis.com. Adzan magrib terasa begitu merdu dan penuh makna, di kala raga dan jiwa begitu membutuhkan kehadirannya. Menjadi penentu berhasil-tidaknya perjuangan menahan rasa menekan segala keinginan dunia dan hindari goda yang senantiasa mengintai di semua suasana…. hingga akhirnya bisa berbuka puasa.

“Berbuka puasa pake apa?”

“Kopi donk”

“Cius?”…

“Ya nggak lah, tentu air putih dan doa berbuka yang lebih utama”

“Nggak berbuka dengan yang manis?

Aku terdiam, lalu spontan menjawab dengan menampilkan sunggingan senyum terbaikku, “Enggak euy, soalnya akyu udah maniiez”…

…. g.u.b.r.a.k ….

Setelah reda dari keterjungkalan perasaan, maka dilanjutkan dengan menikmati secangkir kopi tubruk di cangkir putih dan berhias selada… tentu kopi tanpa gula.

Srupuut…. kopi arabika di salah satu rumah makan Kabupaten Garut ini menjadi pembuka semangat dan mengurangi kegalauan malam ini setelah sehari tadi berkutat dengan kesedihan yang tak bisa… tak bisa dan berat untuk diceritakan.

***

Photo : Mesjid Agung Garut / dokpri.

Tadi pagi, masih bisa menikmati udara segar yang tersaji bebas di alun-alun garut. Memandang bangga, betapa gagahnya mesjid agung garut yang menjadi tempat syiar agama islam sekaligus bangunan strategis di Kota Intan.

Lalu bercengkerama dengan air wudhu dan melaporkan kefanaan diri tanpa tendensi dalam rakaat demi rakaat yang bebas dari intervensi…. Alhamdulillah.

Tuntas dari sana, bergerak mengayun langkah menuju bangunan lain yang tidak kalah indah, kediaman pimpinan Kabupaten Garut, Pendopo Bupati…. langsung mencoba mengabadikan sebuah bangunan bernuansa kayu yang sesekali menjadi tempat berkumpul para petinggi ataupun rakyat garut dalam menyampaikan keinginan ataupun menghadirkan solusi dari beraneka rupa permasalahan.

Photo : Bangunan depan Pendopo Bupati Garut / dokpri.

Giliran mendapat kesempatan memasuki lebih dalam area pendopo, wah nuansa dan rasanya beda lho…. maklum khan baru pertama kali ke sini.. (sama kamuuh…).

“Lha… katanya nggak moo cerita, kok ini panjang lebar” komentar komplen menempel di telinga kanan. Aku terdiam, lupa.

“Tapi tanggung ah… lanjut dikit” jawabku, sambil kembali merangkai angan dan memandang ruang pertemuan dengan nama ‘ruang Pamengkang.’

Penasaran dengan artinya tetapi tidak ada kesempatan menanyakan pada siapa, sehingga akhirnya mbah gugel yang ditanya via jempol menari diatas layar smartphone ini.

Ternyata ada beberapa artikel dan kamus online yang menyajikan pembahasan tentang arti kata ‘Pamengkang‘. Meskipun diriku setuju dengan sebuah penjelasan bahwa pamengkang ini dalam bahasa sunda adalah ‘ruang tunggu sebelum menghadap’…. ini cenderung yang paling cocok.

Karena artikel lainnya bicara tentang nama keris legendaris yang (katanya) bertuah dengan sebutan ‘Keris Pamengkang Jagat’… entahlah.

Serta satu artikel lagi yang menyebutkan arti ‘pamengkang’ ini berasal dari 2 kata dalam bahasa sunda yaitu ‘pameng + kang’ yang artinya ‘Tanggung Kakak‘…. jadi (mungkin), sebuah tempat untuk berhenti sejenak, tapi tanggung, jadi musti diteruskan…. gituuuuu.

“Ohhhh gitu ceritanya… tapi nggak sedih ah.. kok diawal katanya ada kejadian yang menggalaukan jiwa?”

“Sudah cukup, gitu aja ceritanya kawan” Sebuah jawaban penenang suasana, meskipun sebuah beban berat semakin bertambah setelah pertemuan ini. Semoga semua yang terjadi berhikmah berkah. Wassalam (AKW).