Javanese Puntang Wine lagi..

Kopi dingin siapa takut?..

INDONESIA, akwnulis.com. Siang terik memerlukan padanan yang menarik, sajian minuman alami yang tetap memiliki sejuta misteri. Pilihannya tidak jauh – jauh, pasti Kohitala, kopi hitam tanpa gula dan disajikan denga proses manual yang menjaga kemurnian hasil ekstraksi.

Sehat dan tidaknya sebenernya masih silang pendapat, tetapi yakinilah jikalau hanya unsur kopi yang hadir maka tentu minuman ini lebih bermanfaat dibandingkan dengan aneka campuran seperti gula, susu, krimer, syrup dan berbagai bahan tambahan lain.

Mungkin di mulut enak, tetapi kandungan zat lainnya bisa mempengaruhi metabolisme tubuh. Apalagi terlalu banyak…. sesuai hukum alam, terlalu banyak itu beresiko, termasuk terlalu banyak mikirin kamu, padahal kamu mikirin yang lain…. khan jadi nggak nyambung.

Padahal keduanya yakin lho, yang satu yakin dengan pilihannya dan yang dipilih ternyata yakin juga bahwa ini bukan pilihan…. lieur pan.

Itulah kehidupan, penuh dinamika dan kejutan apalagi bicara hati dan selera anak manusia, pasti nggak ada habisnya klo dibahas satu persatu.

Karena panas terik, maka sajian yang pas tentu kopi dingin…. manual brew kopi arabica puntang wine yang diseduh dengan filter V60 lalu menetes di bejana kaca yang telah dilengkapi kotak kitak kecil es batu yang bercahaya… tes tes tes tes… menghasilkan sajian javanese coffee yang menyegarkan.

Sruputtt….. suegeeer preeen.

Bodynya medium ke bold dan acidity yang memberi ketegangan rasa karena cukup tinggi, dilengkapi after taste kecut dan ninggal, seperti rasa tertolak dikala menyatakan perasaan… adaaw galaaw.

Srupuut… hmmm segerrr.

Selamat menikmati kesegaran di suatu tempat yang masih dirahasiakan, yang penasaran DM dan japri aja yaa.. yang pasti masih di Bandung Raya. Wassalam (AKW).

Makna SUASANA KEBATINAN

Sesekali, perlu diberi definisi…

CIMOHAY, akwnulis.com. Senja menghilang digantikan dengan gelap yang beranjak menjangkau malam. Sementara suasana di kantor masih ramai dengan sorak dan senda gurau, saling menertawai dalam rangka menjaga dan meningkatkan imunitas diri masing-masing.

Suasana yang relax dan menenangkan, sehingga tak terasa pergerakan waktu yang terus berjalan maju dan meninggalkan kenangan di setiap detik yang berhamburan.

Tetapi ada hal lain yang harus juga dilaksanakan dan itu berarti mengajukan ijin lisan kepada pimpinan untuk segera meninggalkan markas besar demi sebuah komitmen kehidupan yang sedang dibangun dengan landasan kepercayaan dan kasih sayang.

Sang rembulan yang telah hadir di angkasa fana, tersenyum menghiasi keindahan malam

Ijin ya bos, mendahului keluar kantor, jemput istri”

Bos tersenyum dan meng-iya-kan, lega rasanya. Teman-teman lain yang sedang berkumpul, memperhatikan raga ini, sambil masih tertawa kecil mengingat joke – joke yang hadirkan malam ini.

Begitupun dengan tugas dan pekerjaan yang hadir dari pagi hingga petang, sudah dituntaskan sebelum mengajukan ijin pulang duluan.

Tiba-tiba bos berkata, “Istri kerja tinggal dikasih mobil dan sopirnya, nggak usah dijemput”

Suasana kebatinan bos” jawaban spontan yang hadir tanpa berfikir.

Bos tersenyum dan raga ini pamit meninggalkan keriuhan kantor menuju sebuah janji yang berlandaskan komitmen diri

Nah suasana kebatinan… dua kata yang menjadi jawaban tadi jika dibedah akan menghadirkan beraneka perspektif, dan sebuah tanya ini bisa terjawab melalui dialog dengan jiwa  dan rasa yang masih dalam satu raga.

Pertama, suasana kebatinan ini adalah hadirnya rasa tenang dan nyaman karena ingin memberikan sebuah makna perhatian kepada pasangan hidup, bahwa bisa dijemput di saat pulang kerja itu adalah sebuah kasih sayang. Meskipun tidak bisa setiap hari, minimal 1 atau 2 hari dalam satu minggu.

Kedua, suasana kebatinan yang hadir adalah model dukungan kepada pasangan hidup yang sudah cukup lama bertugas di salah satu rumah sakit pemerintah serta hampir 2 tahun ini rentan terpapar virus covid-19 karena statusnya sebagai nakes (tenaga kesehatan). Maka sewajarnya diungkapkan dukungan dengan cara kehadiran dikala pulang kerja.

Ketiga, suasana kebatinan yang hadir adalah sebuah kenyamanan disaat pulang bersama dan diperjalanan bisa ngobrol dan diskusi apa saja berdua. Nah ternyata ini juga momentum berharga, karena jika sudah sampai di rumah, anak cantik kesayangan yang akan menguasai ayahnya. Harus main dan berbagai aktifitas lain versi anak-anak hingga larut malam.

Keempat, suasana kebatinan ini adalah memberikan rasa aman dikala pasangan tercinta mendapatkan tugas shift sore dan malam. Otomatis pulang kantornyapun setelah menggelap, dengan posisi rumah sakit yang berada di kaki gunung Burangrang, sudah selayaknya memberikan dukungan rasa aman dengan kehadiran, itu memiliki makna besar nilai kehidupan (menurutku).

Jadi itulah suasana kehadiran yang dirasa. Meskipun ada juga pendapat lain yang melabeli suasana kebatinan ini karena takut sama istri hehehehe….. bebas klo pendapat mah, termasuk berbedapun itu biasa, karena memang masing-masing beda pendapatan hehehehe.

Ya udah ah, cuss…. jemput istri dulu.

Malam temaram semakin gelap, menemani raga ini menembus perjalanan. Ditemani sang rembulan yang setia berbagi tempat bersama mentari untuk menjaga keindahan dan keselamatan malam yang indah ini. Wassalam (AKW).

Jumat Pagi & Anosmia.

Renunganku di kehangatan Jumat Pagi

Bandung, akwnulis.com. Sebuah kata yang menjadi trending saat ini adalah anosmia. Sedang menjadi hits dan sering disebut dalam terpaan gelombang kedua pandemi covid19 yang sedang melanda. Ya, karena arti yang dihadirkan adalah kehilangan indra penciuman dan diyakini merupakan gejala yang dirasakan oleh raga dikala virus covid19 sudah berada di dalamnya, merajalela.

Pada saat penciuman menghilang perlahan dan akhirnya sama sekali tidak bisa membaui, disitulah rasa khawatir merayapi hari dan menggerogoti keyakinan akan terjadi sesuatu yang lebih parah. Seolah dunia akan runtuh dan kehidupan ini berakhir. Titik.

Maka hadirlah tangis menguasai raga, ketidakpercayaan dan sesal tiada hingga melingkupi pikiran dan psikis kita. Panik hadir dengan tiba-tiba dan terasa bahwa ini tragedi dan akhir kehidupan kita.

Apalagi dilengkapi dengan hilangnya indera perasa, membuat semua rasa itu hambar tanpa makna. Kesedihan dan kebingungan melanda.

Disinilah sebuah takdir Tuhan memerankan kekuatannya, memperlihatkan betapa kecilnya manusia yang terkadang masih banyak berlaku dzolim dan jumawa serta tidak mau bersyukur atas semua nikmat kehidupan ini.

Padahal penciuman dan perasa itu baru sebagian kecil nikmat yang diberikan Allah Subhanahu Wataala. Sangat banyak nikmat – nikmat lainnya yang melingkupi detik demi detik, menit dan menit kehidupan kita.

Selama ini seolah biasa saja, bahwa bisa mencium dan merasakan lezatnya rasa adalah biasa saja….. dan kita tidak atau jarang mensyukurinya.. Astagfirullohal Adzim.

Kembalikan indera saya, Yaa Allah Sang Maha Hebat….”

Sebuah ratapan berbuah tobat, sebuah keinginan bangkitkan insyap serta setahap ikhlas menjadi pendewasa dalam memaknai indahnya kehidupan fana.

Maka kesabaran dan keikhlasan ini menjadi nilai tak terhingga, dan memberi kepasrahan serta ketenangan dalam menjalani fase anosmia ini. Sembari tentu ikhtiar dalam memgkonsumsi vitamin dan makanan serta buah-buahan segar agar imun tubuh stabil dan meningkat plus obat yang diharuskan mengawal kesembuhan.

Dari semua usaha duniawi, maka  munajat doa dalam kesabaran dan keikhlasan. Dzikir rutin serta membaca ayat Alquran adalah cara universal seorang muslim untuk berserah diri dan memohon, begitupun dengan saudara kita yang memiliki keyakinan berbeda, masing-masing punya cara untuk mendekati Tuhannya.

Sehingga cukuplah anosmia sebagai gejala ringan saja yang dihadapinya dan dapat segera sembuh kembali serta pulih seperti sediakala.

Sebuah hikmah telah berbuncah, seikat syukur menyeruak cerah, ikhtiar terus ke segala arah, sabar dan taubat obat terindah. Selamat memaknai hangatnya jumat pagi, Wassalam (AKW).

V60 Arabica Papandayan & Ide-ide.

Sruput kopi sambil cari Ide.

CIMAHI, akwnulis.com. Menulis dengan kesendirian adalah sebuah perkawanan sejati, karena rasa bisa tercurah dalam jalinan kata yang mengandung makna. Mencoba mengalirkan ide yang berbuncah di dalam kepala, menuju aliran darah dan otot serabut sehingga menggerakkan jemari agar menari di atas keyboard smartphone kesayangan.

Mata jelas menjadi pembeda agar huruf yang tertulis terhindar dari typo ataupun salah penggunaan tanda baca. Meskipun kesalahan itu masih ada, karena kita adalah manusia tidak lufut… eh luput dari khilaf dan dosa.

Tapi, terkadang ide suka tiba-tiba hilang tertindas oleh pikiran lain yang hadir tanpa aba-aba. Sehingga jemaripun terpaku tak hasilkan secuil kata apalagi setumpuk kalimat. Inilah saat yang rentan dengan kondisi pentargetan dan deadline, alamak… gawaat.

“I need mood booster please”

Itulah sebuah bisikan yang membuat penasaran dan ternyata sebagai jalan keluar. Maka… cara terbaik adalah carilah sang mood booster yang dirindukan… yakni Kohitala (kopi hitam tanpa gula)… kopi mana kopiiii?…

Maka tanpa berlama-lama, sajian kopi arabica papandayan langsung diproses dengan metode manual brew V60… itu tuh yang corongnya mengerucut dan wajib pake kertas filter. Request diseduh oleh air panas 93¬į celcius kayaknya dituruti, karena hasil yang didapat ternyata tepat dengan selera. Yummy.

Setelah tersaji manual brew V60 kopi arabica papandayan. Langsung saja mulut menganga untuk bersiap menyeruput kenikmatan dunia dan berharap ide – ide segera hadir kembali untuk tuntaskan segala tugas yang memgelayuti hari – hari.

Srupuuttt…. hmmmm nikmatnya, acidity pas berpadu dengan body yang tidak terlalu pahit dilengkapi after taste buah cherry dan jeruk yang mengharumkan suasana.

Perlahan tapi pasti, kenikmatan menyeruak dan ide-ide meskipun malu-malu akhirnya hadir dengan beraneka celoteh kreasi dan harapan. Kopi disruput dan jemari lanjut mengetuk… eh mengetik. Menuangkan ide yang kembali hadir karena rangsangan maut si kopi hitam. Alhamdulillah.

Akhirnya jemari lanjut menari dan sang kopipun bergegas menunaikan tugas. Membuka kembali keengganan dan mendobrak kemalasan hingga akhirnya kesegaran datang dan ide-ide yang lahir terasa lebih rilex dan memberi keyakinan bahwa dibalik kerja keras perjuangan ada hasil akhir yang memukau. Selamat pagi Kawan, Wassalam (AKW).

Coffee & Me.

Cerita kopi & sejumput motivasi..

Secangkir Kopi di Pagi hari, memupuk Harapan & Keberkahan Pagi ini

Photo : Americano & Sirih Gading / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Itulah rangkaian kata yang hadir tanpa banyak bertanya dan diabadikan menjadi caption bersama frame photo yang senada. Photo sederhana dimana secangkir americano berpadu dengan tanaman sirih gading yang segar dan sudah lebih dulu terpublikasi di laman Instagramku : @andriekw.

Tulisan singkat itu adalah penyemangat, dan menguatkan motivasi agar diri ini senantiasa berfikir optimis dan tidak mudah menyerah atas keadaan. Meskipun memang rangkaian proses adaptasi terus dilakukan demi sebuah makna profesionalisme dan menjaga komitmen sekaligus belajar lebih mendalam tentang makna sebagai pelayan di dunia birokrasi yang penuh dinamika serta tantangan.

Awalnya tentu dapat dirasakan atau dibaca pada tulisan ‘Kopi Adaptasi‘, lalu bergulir seiring waktu maka hadirlah tulisan singkat lain yang tak jauh dengan sikopihitam atau kohitala (kopi hitam tanpa gula). Meskipun kalau urusan menulis tentang kopi sudah dijalani 2 tahunan lho…. menulisnya santai saja tetapi yang coba dipertahankan adalah konsistensi.

Ngobrolin konsistensi, yang coba dilakukan simple banget kok. Rutin menulis dan upload di blog, titik. Nah nulisnya diusahakan bertema dan tema utama adalah Ngopay dan Ngojay, alias dunia perkopian dan sesekali tentang kolam renang atau sambil berenang sekalian… atau jika sedang hoki, bisa dapet satu framenya adalah gambar secangkir kopi dan pemandangan kolam renang…. tapi itu jarang, mungkin entar ditulisan selanjutnya.

Bisa juga sebagai variasi, nggak musti sajian kopi. Tapi pilihan menu lain yang masih berkerabat dengan kopi di buku menu yang tersaji. Seperti sajian hot matcha kali ini, jangan lupa minta disajikan plus double senyuman. Senyum sang penyaji sekaligus baristi juga seulas siluet senyum di permukaan gelas yang penuh arti.

Photo : Hot Matcha / dokpri.

Jadi, mari menulis dengan semangat ODOA (one day one article)…… ini terinspirasi dari ODOJ (one day one juz) …. persiapan menyambut bulan ramadhan dimana harus diperjuangkan dan dilaksanakan mengaji 1 juz per hari sehingga satu bulan bisa khatam 30 juz, Bismillah.

Kembali urusan kopi, ternyata memang itulah sumber inspirasi. Meskipun harus diyakini bahwa sebuah kebetulan itu tidak murni kebetulan. Itu semua sudah ada catatannya di langit sana (baca : Lauh mahfuz) hanya saja kita sebagai manusia diberi berkah ketidak tahuan, agar apa?…. agar kita senantiasa mengambil hikmah atas semua kejadian. Apakah menggerutu atau ikhlas terhadap kenyataan nasib, apakah bersyukur atau takabur dengan segala kemudahan hidup ini, itu pilihan masing – masing.

Seperti gambar ‘Soto & Kopi’, itupun sebuah momentum yang hadir tanpa reka dan yasa alias rekayasa. Karena terjadi dikala akan sarapan pagi di salah satu rest area Tol Cipali sekaligus order secangkir kopi tubruk, ditubruk pelan – pelan saja dan dihadirkan tanpa gula.

Photo : Soto & Kopi / dokpri.

Nah mereka bersanding dalam frame gambar dan melengkapi koleksi photo per-kopi-anku yang kembali memberi motivasi untuk terus berkarya meskipun sederhana.

Ini kopiku, mana kopimu?”

Selamat pagi dan selamat memaknai hari demi hari, Wassalam. (AKW).

BERTEMU & LUKA.

Penasaran khan?.. monggo dibaca.

CIREBON, akwnulis.com. Sebuah pertemuan yang tidak disengaja terkadang harus berujung dengan sejumput luka. Apalagi ternyata luka yang hadir berupa guratan cerita yang mengakar dalam ketidakberdayaan serta runtuhnya dinding kepercayaan.

Itulah sebuah frase yang menyiratkan sebuah KECEWA.

Padahal jemari yang mengetik dengan rasa yang ada mungkin saja berbeda, itulah kekuatan literasi bahasa.

Photo : Kumbang Koksi / dokpri.

Jadi, janganlah ikutan galaw dan berprasangka yang tidak-tidak manakala menemukan untaian kata dengan ‘tone’ KECEWA.

Karena jika kecewa, segera ganti vokal akhirnya dengan hurup e, maka segera akan terobati. Tapi resep ini tidak berlaku untuk perasaan muak atau NGEWA (bahasa sunda)… karena hasil akhirnya berbahaya… ūüôā

Ngartos teu?”

Terserah sih, mengerti dan tidak itu adalah hak anda para pembaca setia blog ini, bukan kewajiban. Jadi silahkan saja yaah…yang pasti mah mari kita kembali ke paragraf awal tentang sebuah jumpa yang berakhir kecewa.

Karena awalnya bersua tanpa sengaja dengan si kecil lucu sang kumbang koksi yang seksi dengan warna merah penuh sensasi. Tiba-tiba hinggap di jemari tanpa basa basi dengan menghadirkan senyum yang saling mengisi. Maka tak ada kata lain selain memandang dan menikmati berbagai gerakannya dari mulai kepak sayap hingga gerakannya mengitari area jari jemari.

Tapi… itu tadi, ternyata di akhir harus tertoreh luka dan kecewa karena ternyata kumbang koksi ini yang juga sering disebut ‘sesedanan’ ini memiliki bentuk pertahanan atau perlawanan dengan mengeluarkan cairan yang berbau tidak enak.

Padahal bukan ancaman, tetapi hanya jemari lain ingin menyentuh, ternyata dimaknai sebuah serangan yang akan membuat dia terjatuh.

Jemari terpaksa ditepis dan sang kumbang koksi pergi tanpa perlu menangis. Selamat jalan kawan tak terduga yang datang tanpa berkabar tetapi harus pergi karena kesengajaan. Udah ah jangan nulis yang bikin galau ah. Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

***

Catatan :
Kumbang koksi atau Ladybug, Coccinellidae. Salah satu hewan kecil anggota Ordo Coleoptera.

SIEUN

Sebuah tulisan lawas yang masih relevan…

****SIEUN****

Photo : Ilustrasi saja / dokpri.

CMISEL, akwnulis.com. Mangmang hamham jeung horéam keur pabeulit dina jiwa, mangaruhan raga nu teu walakaya nyusun carita bari ngabandungan paripolah manusa nu ngarasa geus sawawa. Langit peuting mencrong bari tutunjuk, nyalahkeun, pédah bet nurut jeung kahayang, dina mangsa ditanya bari teu wasa, ditalék téh ngajanggilek, istuning ajrih ngagugah rasa ngabungbang katugenah.

Baham sepa béakeun rupa, panon bolotot ukur ngongkolak, teu puguh ucap teu oyag raga istuning nurut rut tampa karana. Tuur leuleus bitis ngabulaéh, tulang suku ngadadak laér. Ngan mencrong wè bari kumétap.. nempo mahluk ciptaan gusti nu geulis ka wanti wanti.

Irung bangir, awak sampayeun jaga, pinareup nyeungseung, parabot calik meuni dèmplon, jangkung tur dènok. éta lambey meuni euceuy, beureum asli ih lain bobohongan, pipi semu beureum, soca cureuleuk. Ditempo ti hareup sieup, ti tukang lenjang, tiluhur jadi tagiwur komo tihandap matak ngarenghap.

Sieuuun gusti.. Sieuuun…

Sieun Nyaah.

Cag.

****

Photo : Capture eviden 8 thn lalu / dokpri.

Sebuah tulisanku dengan genre fiksimini basa sunda delapan tahun yang lalu, diingatkan di facebook dengan Kenangannya. Tepat tanggal 09 Januari 2013.

Ah sebuah tulisan yang relevan sepanjang masa (bagiku).

Edit dikit ah.

Selamat menikmati…. klo yang roaming dan ora mudeng, ntar dibuat penjelasannya pake bahasa indonesia (agak) baku di akun youtubeku yaa… Wassalam (AKW).

***

ULAT & CINTA

Ekspresi Cinta memang tak berbatas.

LEGOK EMOK, akwnulis.com. Pagi yang cerah diisi dengan berjalan kaki ringan dan menerima sentuhan lembut paparan mentari pagi. Bergerak di sekitar rumah sambil menikmati kehijauan tanaman sudah cukup menjadi obat kegalauan.

Sudut mata terdiam dikala melihat gerakan gemulai tapi sedikit garang. Merayap ringan diatas dedaunan kehidupan, setelah kenyang menikmati sarapan yang bergiji dan penuh rasa kehijauan.

Hanya saja yang menarik hati adalah sebuah jejak yang ditinggalkan setelah tuntas sang ulat makan siang. Dedaunan yang begitu renyah dan segar, memberi imunitas dan harapan bahwa sang ulat berumur panjang. Apalagi jejak yang tertinggal ternyata merupakan ekspresi diri bahwa cinta kasih itu tiada batas.

Karena diperhatikan dengan seksama, bekas makan sang ulat itu berbentuk lambang cinta, alias love… silahkan saja perhatikan… betulkan love oh love

Penasaran deh, maka sang ulat dicegat dan ditanya baik-baik, “Betulkah itu ungkapan cinta?”

Ulat tersenyum sambil memamerkan bulu-bulu halusnya, lalu berkata, “Memang nggak boleh kami mengungkapkan cinta?”

Ah ternyata yang hadir malah sebuah tanya, dan jadi terdiam tak berani menjawab karena jika dibahas tentang ungkapan cinta tentu tidak tuntas dalam satu masa.

Apalagi terlihat bahwa sang ulat sudah mulai memperlihatkan taring dan siap melepaskan bulu-bulu tajam yang bisa menggatalkan dunia andaikan perbedaan pendapat ini meruncing menjadi silang pendapat tak berkesudahan.

Maka cara terbaik adalah diskusi hangat tanpa perlu menyinggung rasa dan utamakan tentang bagaimana menjaga dan merajut cinta meskipun jelas secara phisik berbeda.

Maka, marilah kita berdampingan dan menjaga rasa tanpa perlu bingung menafsirkan simbol cinta. Karena semua mahluk punya rasa, miliki harapan dalam memaknai cinta dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jika masih belum faham dengan semuanya, maka cobalah untuk bercinta.. ups.

Sang ulat tersenyum sambil berlalu dan duniapun kembali berlanjut menapaki waktu. Wassalam (AKW).

ESPRESSORE

Menikmati espresso bersama sore.

Photo : Espressore

CIMAHI, akwnulis.com. Ketika sore menyapa raga, dengan hembusan semilir rasa maka kesegaran hadir menggantikan keengganan yang mulai mendera.

Kantuk yang sedikit menelikung perlahan sirna, apalagi dengan hadirnya secangkir kecil kopi tetapi memiliki kandungan kafein tinggi.

Yup, karena yang hadir adalah secangkir kecil kopi espresso dengan biji yang direquesnya adalah robusta yang sarat dengan kepahitan dan kafein yang mantaabs….. maklum ingin mengenyahkan kantuk yang begitu kuat memeluk raga.

Apakah pake seruputan pertama?”

Tidak kawan, satu cangkir kecil ini langsung ditenggak tanpa bekas. Meluncur mulus ke tenggorokan setelah meresap sesaat di lidah dan akhirnya berkumpul di lambung serta menyebarkan kesegaran ke sekujur badan.

“Atuh nggak kenyang?”

Ya enggaklah, kenyang mah tinggal makan nasi dan lauknya donk. Ini lebih kepada memenuhi hasrat kafein dan memang diatas rasa kopi sachet biasa. Jikalau masih kepengen kopi, ya order lagi aja.

Nggak pake gula?”

Jangan atuh, nanti sulit menghasilkan dan menganalisa rasa aftertaste kopi selain kepahitan yang mendera. Karena harus diyakini bahwa biji kopi yang baik akan menghadirkan rasa lain dibalik kepahitan yang merata.

Nggak percaya?…. cobalah minum perlahan kopi espressonya… tahan dikala pahitnya terasa, dan hayati. Maka akan hadir selarik rasa lain yang menggugah hati. Percayalah. Rumus kehidupan tercermin disini, dibalik pahitnya kenyataan terselip manisnya hikmah dan tahapan indah menapaki kesabaran. Selamat menikmati sisa weekend kawan, Wassalam (AKW).

CENTANG BIRU.

Sebuah jawaban yang dinantikan.

CIMOHAY, akwnulis.com. Jemari terdiam dan hati lega sesaat dikala melihat kiriman pesan whatsapps yang berubah dari abu menjadi biru. Sebuah notifikasi yang menenangkan hati. Bersiap mendapat jawaban dari pertanyaan yang diajukan.

Tapi… tunggu punya tunggu, harapan tinggal harapan. Centang biru tidak bergeming, bukan sebagai tanda siap memberikan jawaban, tetapi hanya bukti bahwa pesan kita sudah dibaca tanpa banyak kesulitan.

Sabar ah, kita tunggu beberapa waktu. Siapa tahu sedang sibuk dengan rutinitas, atau mungkin ada permasalahan lain yang dianggap lebih urgent. Ilmu khusnudzon di munculkan, sedikit lega rasa ini. Meskipun satu urusan belum tuntas kalau respon ini tidak ada.

Satu jam berlalu masih dianggap maklum, tapi setelah 2 jam terlewati, mulailah gundah di hati. Langsung telepon saja ah,….

Tuuut…. tuuut……. tuuut.

Nggak diangkat juga WA callnya, maka coba lagi dengan telepon biasa…. sama juga. Nada sambung menyala tetapi tiada daya untuk mengangkatnya dan memutuskan berbicara.

Lha, kenapa ya?”

Sebuah gerutu mulai menggerogoti hati, kenapa sih. Lagian ini hanya butuh jawaban singkat, Ya atau Tidak. YES or NO saja, just it. “Kenapa sulit”

Tapi….. setelah mentari berganti sang bulan, tiasa kabar jawaban dari centang biru yang sudah berlalu, mqka jelas sudah sikap yang harus diambil.

Keputusan pun dijatuhkan, memang mungkin pertanyaan YES or NO kemarin bukan prioritasnya sehingga diabaikan. Biarkan semesta yang menterjemahkan.

Ikhlaskan saja, jangan menjadi pikiran. Mungkin itu yang terbaik.

Ternyata didasar lubuk hati terdalam, sebuah bisikan halus terdengar, “Nggak dendam sih, cuman inget terus”

Wkwkwkwkw, ternyata….

Selamat bersiap untuk weekend Guys, nggak usah baper yang merasa udah centang biru tapi tidak respon. Ini mah hanya secuil cerita saja. Wassalam (AKW).