PAKUANLATTE & Eril.

Secangkir kopi & kehilangan.

GEDUNG PAKUAN, akwnulis.com. Tak banyak kata yang bisa terucap, mulut serasa kelu dan cenderung terdiam. Hanya senyum kecil tertahan dan sebuah kata lirih yang menandakan terima kasih, dengan sajian cafelatte di dapur gedung pakuan ini.

Baristanyapun menjawab sama-sama, dengan tatapan tetap menerawang. Menghadapi sebuah kenyataan yang diluar dugaan. Harus melihat kembalinya Bapak Gubernur Jabar dan Bu Atalia serta ananda Zahra yang disambut oleh keluarga besar dengan uraian air mata serta isak tangis tertahan yang mewakili campur aduknya perasaan.

Tapi hal terpenting dari kehilangan ananda Eril ini adalah nilai ketegaran, keikhlasan, kesabaran dari seorang Ridwan Kamil. Sebagai sosok pimpinan provinsi jabar sekaligus seorang ayah yang harus kehilangan anak sulungnya yang dinyatakan meninggal tenggelam di sungai aare Switzerland. Juga ibu Atalia dan ananda Zahra, betapa kehilangan ini begitu menyentak dan diluar bayangan semuanya. Tetapi kekompakan Pak Gubernur, Ibu dan Keluarga memberikan nilai penting bagi penulis akan artinya kebersamaan, kekompakan serta kekuatan keimanan baik sebagai individu juga sebagai satu keluarga dalam menerima takdir kehidupan.

Penulis yakin, cobaan ini adalah skenario Tuhan, Allah Sang Maha Bisa Maha Penguasa. Insyaalloh dibalik kejadian ini, berkah dan hikmah yang lebih baik untuk pak RK, ibu dan keluarga telah menanti. Begitupun ananda Eril, insyaalloh mendapat surga Allah Yang Maha Pengasih.

Sruputan Pakuanlatte inipun terasa hambar, ikut merasa bersedih sebagai seorang ayah yang sedang kehilangan putranya menguasai seluruh indra di raga ini. Jadi maafkan jikalau tidak ada review sruputan yang ngabibita (bikin pengen) kali ini.

Betapa ujian kehidupan dunia yang luar biasa yang sedang dirasakan pimpinan kita. Doa terbaik untuk ananda Eril juga doa dukungan kesabaran dan ketawakalan untuk pak RK, ibu dan keluarga. Wassalam (AKW).

Alfatihah….

Buku PENYINTAS COVID19

Mana cerita covid19mu?….

DAGO, akwnulis.com. Suasana rapat offline di tempat full AC dengan ruangan nyaman mulai kembali dilaksanakan setelah hampir 2 tahun pelaksanaan meeting-meeting itu via layar smartphone, laptop dan infokus dan sangat akrab bersama aplikasi zoom, google meet  cisco webex, whatsapps, skype, slack, Jitsi Meet, Gotomeeting dan sebagainya.

Meskipun tetap rapatnya terbagi antara yang wajib hadir offline dan sisanya hadir online atas nama ‘hybrid meeting’. Yang pasti jaman sudah berubah dalam segala hal setelah kita melewati disrupsi maha dahsyat atas nama penyebaran Virus Covid19 hingga terakhir yang dinamain ‘omicron.’

Mengenang perjuangan, perjalanan, suka duka dan berbagai kejadian yang menyayat hati karena harus kehilangan pasangan hidup, orang tua, saudara, atasan dan kolega, guru, tetangga serta siapapun yang direnggut oleh ganasnya virus ini. Maka sebuah dokumentasi harus menjadi legacy, saksi sejarah atas disrupsi yang terjadi hingga menjadi hikmah bagi kehidupan dan tata nilai baru untuk kemanusiaan.

Secara institusi tentu sudah banyak yang membuat laporan, dokumentasi tertulis dan video plus photo. Juga banyak yang membuat cerita di medsos masing-masing tentang keterpaparan covid19 dari berbagai sudut pandang.

Pertanyaan besarnya, “Anda bikin apa tentang keterpaparan covid19 ini?”

Inilah tantangan yang harus dijawab tanpa perlu banyak bicara hanya untuk memberikan segumpal alasan atas nama kemalasan. Tapi mari kita buat sesuatu yang akan berguna sebagai bukti serta legacy bahwa kita pernah tahu dan ada hikmah dari semua itu.

Klo di Pemprov Jabar, produk dokumentasi resmi sudah berbentuk beberapa buku tebal dan komprehensif yang disusun oleh para pejabat yang kompeten. Tetapi yang versi pribadi ini, kayaknya perlu juga di ekspose ya….

Maka teringat pernah buat sebuah video yang tayang dikanal pribadi setahun lalu, pastinya di platform youtube. Ini linknya, klik aja ya DONOR DARAH PLASMA CONVALESEN,  maafkan kualitas videonya masih rendah, maklum youtuber amatiran (belum) monetize.

Nah dalam bentuk tulisan juga hadir atas prakarsa Mbak Nenny Azkiya, yang mempertemukan kami dengan para penggiat menulis di seantero nusantara. Kami belum pernah bersua, tetapi terasa dekat melalui chat Whatsaps, mungkin besok lusa ada takdir sehingga bisa hadir offline bersama.

Bukunya berjudul PENYINTAS COVID19, adalah kumpulan pengalaman dari 24 penulis yang digabung alias dikeroyok sehingga berbentuk buku ciamik dan menjadi souvenir cantik, mengingatkan diri akan sebuah suka duka dan hikmah dari keterpaparan covid19.

Itulah sejumput catatan dan dokumentasi pribadi tentang covid19, hanya sebutir pasir di padang pasir dokumentasi. Tapi minimal penulis sudah punya suatu kebanggaan bahwa pengalaman hidup sudah tercatat dan bersiap melanjutkan kehidupan dengan optimisme dan kebersamaan. Wassalam (AKW).

WUJUD ASLInya..

Terlihat aslinya dan itulah kenyataannya..

Cisarua, akwnulis.com. Ketika terbuka wujud aslinya maka yang hadir akan berbeda dengan cover mengesankan yang rutin terlihat selama ini. Dikala tertutup oleh lapisan luar maka semua terlihat menawan, enak dipandang dan memiliki fungsi yang menenangkan sekaligus menghangatkan.

Namun seiring waktu berlalu, maka perubahan ke arah pelemahan itu berlangsung alami. Sehingga perlahan tapi pasti, akan hadir keluhan, ketidaknyamanan dan akhirnya kerusakan yang mengganggu suasana comfort zone selama ini.

Apakah itu mengganggu?”

Jawabannya tidak kawan, justru ini menjadi momentum kita untuk bertafakur dan bersyukur bahwa keluhan, pelemahan ataupun kerusakan itu sangat kecil dan sedikit dibanding fungsinya yang berjalan baik-baik saja selama ini.

Yuk kita balik sudut pandangnya, jangan melulu melihatnya ngadat atau tak berfungsi dengan baik tetapi mari kita hitung, berapa lama dia baik-baik saja… gampang khan?…

Ah nggak mudeng”….

Adduh kok nggak ngerti sih… garuk garuk kepala tak gatal alias gagaro teu ateul.

Tapi sudahlah, biarkan dulu ketidakmengertian itu berpendar, mungkin ada makna dari semuanya.

Meskipun rasa gemas menyembul di hati, tapi diredam dan dikendalikan saja dengan senyuman terbaik ini. Toh alat yang rusak ternyata masih bisa berfungsi dengan minimalis.

Setuju khan?….

Happy weekend kawan. Wassalam (AKW).

Kopi Kamojang Sasak Koneng.

Menikmati Kopi Arabika Kamojang.

Photo : Kopi Arabica Kamojang / dokpri.

CIMAHI  akwnulis.com. Sebuah pemberian yang hadir dalam tahapan kehidupan adalah rejeki yang harus disyukuri. Meskipun proses masing-masing rejeki berbeda, tetapi yakinlah bahwa untaian doa setelah shalat dhuha tentu didengar oleh Allah SWT.

Kali inipun akhirnya sempatlah mencoba menikmati kiriman kopi yang hadir karena berbalut silaturahmi. Hatur nuhun kintunanna pak Yan.

Dari label yang tertera bertuliskan Kopi Arabica Sabilulungan Kamojang dengan cap Sasak koneng.

Karena memang cara terbaik (bagiku) menyajikan kohitala adalah menggunakan V60, maka peralatan di gelar dan bungkus kopi dibuka.

Hanya saja ternyata kopi kiriman ini sudah berbentuk butiran lembut yang lebih cocok untuk dinikmati langsung di cangkir atau gelas dan diseduh air panas. Kadung semua sudah dipersiapkan maka lanjutkan saja proses manual brew ini demi sebuah kebiasaan yang hakiki.

Dengan perkiraan perbandingan bubuk kopi dengan air panas adalah 1 : 15 maka prosesi penyeduhan langsung dilakukan…. currrr…. air panas membasahi bubuk kopi yang sudah stanby di atas corong v60 dilapisi kertas filter yang setia menjaga penyeduhan ini.

Photo : Sajian Kopi V60 siap eksekusi / dokpri.

Maka tanpa basa basi, cairan kehitaman menetes ke dalam bejana server dan berkumpul menjadi sebuah cairan siap minum yang menggiurkan.

Tuntas semua prosesi manual brew maka langsung dituangkan ke gelas kecil kaca dan….. dibawa ke halaman belakang demi kepentingan dokumentasi… jaman sekarang memang jadi berbeda. Photo dan video menjadi kewajiban sebelum akhirnya dinikmati dengan seruputan perlahan.

Srupuut…… hmmm.

Sudah dapat diperkirakan bahwa dengan gilingan lembut ini maka yang akan hadir menonjol adalah body pahitnya sementara aciditynya akan tertutup oleh kepahitan yang ada. After tastenyapun agak kesulitan hadir, karena sudah tercerai berai dalam bentuk bubuk halus ini.

Tidak mengapa, bagi pencinta kopi tanpa gula tetap bisa menikmatinya dengan rasa pahit maksimal yang mendera.

Seruput lagi ah….. pahiiit, meskipun tidak sepahit dikala seseorang pergi padahal sedang sayang-sayangnya…. addduh kok jadi belok kesinih.
Tapi itulah sebuah kenyataan hidup,  prosesi manual brew dan hasil akhir adalah sebuah gambaran bahwa kehidupanpun butuh proses dan sesekali harus siap menghadapi kenyataan pahit. Yakinlah bahwa dibalik kepahitan maka hikmah yang bisa diambil dan menjadi pelajaran penting untuk lebih dewasa dan bijaksana serta hati-hati dalam melanjutkan anugerah kehidupan ini. Have a nive weekend guys, Wassalam. (AKW).

Hikmah Stay at home.

Tulislah, cobalah dan ….. nikmati.

CIMAHI, akwnulis.com. Suasana kegelisahan terasa semakin mencengkeram, dan yang pertama diserang adalah mental. Yup mental bro… dibombardir aneka pemberitaan yang hadir begitu masip.. (dibaca : masif), apalagi di medsos, kayaknya semua pihak menjadi ahlinya.

Stop!!!!

Alihkan semua aktifitas membaca informasi, menonton informasi atau menguping informasi apalagi men-share forward informasi kepada orang lain atau grup WA lain atau medsos kitaaaa…..

Biarkan mental kita kembali disehatkan, dicerahkan dan bisa meraih kembali kesadaran bahwa perjalanan kehidupan ini harus kita maknai dengan ketenangan, kebahagiaan dan tentu keriangan.

Boleh baca informasi, sesekali saja dan itupun yang bisa dipercaya.

Cobalah… mulai sekarang. Insyaalloh rasa khawatir kita tentang hari-hari ke depan akan berkurang. Alihkan energi diri untuk berkumpul bermain bersama dengan keluarga, memasak bersama, bersih-bersih rumah barengan atau…. bermalas-malas bersama. Bisa berkemul di kasur, nonton bareng di ruang tengah, berjemur bersama sambil ngopi, juga senam ringan sambil nonton instruktur di saluran yutub…. dan banyak lagi…. usahakan tidak keluar rumah, tidak keluar rumah….. please.

Bosan ah!!!…..

Pasti, manusiawi…. disinilah sebuah alarm kendali diri berbunyi. Mari berkorban di levelnya masing-masing dalam suasana pandemi ini, dan paling mudah adalah ikutan anjuran pemerintah untuk diam di rumah, ini level kesadaran yang menjadi dasar penentu watak serta kehidupan.

Level selanjutnya bervariasi, bagaimana memikirkan saudara-saudari kita yang menjadi menderita karena perintah diam di rumah saja, apa langkah konkritnya?… ini banyak ragam aktifitasnya, apalagi di era serba online ini, lalu lintas kepedulian bisa bergerak lebih cepat.

Bisa dengan order makanan via online, bayar pake aplikasi ovo, gopay dll tapi diberikan saja kepada ojolnya atau membantu saudara-saudari yang kesulitan karena tidak punya pekerjaan tetap dan butuh untuk makan sehari-hari. Ada juga aktifitas memberikan santunan kepada keluarga yang terdampak langsung oleh pandemo covid19 ini… Serta banyak hal lagi….

Kembali ke pribadi…. diriku juga berusaha me-manage kegalauan ini dengan memanfaatkan waktu untuk bersama-sama keluarga serta menguntaikan jalinan kalimat dari butiran kata yang terserak menjadi kumpulan cerita yang mungkin akan memiliki makna.

Termasuk lebih intens menyusun kata membuat kalimat sehingga hasilkan bacaan ringan yang nggak bakal jadi beban yang bacanya…. tapi (mungkin) bisa ngasih sedikit informasi. Ditambah mulai kotrat kotret bikin video pendek… yaa masih amburadul hasilnya, tapi lumayan bisa ngikutin anak jaman now bikin konten di channel yutub.

Jangan takut menggoda… eh mencoba… coba dulu aja bikin satu kotretan tulisan atau konten video di channel yutub atau IGTV… yang sederhana aja dulu.

Untuk tulisan di blog, sudah ada beberapa tulisan. Yang dibuat di minggu ini ada tentang kopi arabica buntis village aromatic fruit, kopi arabica sunda gulali, video di cannel yutub tentang fasilitas kesehatan di gedung sate juga penyemprotan disinfektan di lingkungan rukun warga dimana diriku tinggal.

Minggu lalu beberapa tulisan di blog ini tentang FWA dan WFH, seperti kopi lobster dan …. Eh sebenernya ada satu lagi, edit video di laman powtoon, cuman nggak bisa disave karena gratisan… ya udah direkam aja pake hape… ntar yaa aku ulas khusus.

Selamat menjalani dan mensyukuri berkah kesempatan menjalani kehidupan ini. Happy wiken guys, Wassalam (AKW).

WFH Ngantor di rumah.

Working from home dulu…

Photo : Aku & WFH / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Dalam rangka mendukung program pencegahan penyebaran virus Covid-19, maka pilihan WFH adalah sebuah tindakan tepat yang harus dilakukan.

Work from Home satu minggu terakhir telah dilakukan dengan pola giliran yang temanya FWA (Flexible Working Arrangement) dan mulai hari senin ini bener-bener WFH diterapkan.

Hari pertama bekerja di rumah berbuah hikmah, selain mendukung program pencegahan pandemi juga semua level ‘dipaksa‘ melek teknologi melalui aplikasi teleconference untuk mengkordinasikan banyak hal yang terkait pekerjaan.

Baik level bos, setengah bos, yang ngerasa bos juga yang disuruh-suruh sama bos dan setengah bos, musti bin wajib ngedownload aplikasinya. Pahibut eh repotlah semuaa…..

Disinilah mental suasana perubahan berlaku, ada yang segera menyesuaikan dengan tangkas, ada yang semangat berubah meskipun sedikit gagap tapi mau bertanya dan ada yang bertahan dengan status quo, meskipun akhirnya mengikuti dengan setengah hati.

Tapi itulah konsekuensi sebuah penyesuaian, tidak perlu banyak keluhan. Jalani dan ikuti…. Yuk dukung program pemerintah sekaligus jadi mahir berteleconference sambil berkumpul bersama keluarga tetapi tetap bekerja, “Kenapa tidak?”

Jikalau masih gagap, jangan malu bertanya. Jika masih bingung, yaa kasihin (sementara) aja hpmu ke teman atau anak buah yang paham, tolong downloadin, instalin sekaligus sign-inin… pokoknya tinggal pake aja.

“Gampang khan?…”

Rapim perdana berjalan meskipun masih banyak kekurangan, tetapi nilai pentingnya adalah ketaatan. Taat kepada anjuran untuk di rumah saja, taat juga untuk tetap bekerja sekaligus taat juga untuk memasang aplikasi teleconference di hp masing-masing juga di beberapa laptop.

Aplikasi yang di gunakan adalah zoom cloud meeting, dengan otodidak dan coba-coba, akhirnya rapat virtual bisa terlaksana, meskipun harus jeda hingga 3x karena masih zoom basic yang gratisan, dibatasi 40 menit meeting dan akan tiba-tiba mati sendiri…. hikmahnya… lumayan bisa jeda teleconference, tarik nafas, minum dulu atau siapa tahu pengen ke toilet.

Rekan sekantor mengatakan bisa juga dengan aplikasi google meet,….. insyaalloh dicoba dan dipelajari secepatnya sebagai alternatif……

Yuk tetap semangat bekerja, meskipun berada di rumah masing-masing. Semoga wabah pandemi Covid19 ini segera berlalu, dan kehidupan kembali normal. Wassalam (AKW).

Longblack Spiegel.

Jangan sedih… ngopay bray.

Photo : Tampak pintu masuk Spiegel bar & bistro / dokpri.

SEMARANG akwnulis.com. Sedih itu sebenernya hanya satu sisi dalam kehidupan, berbahagialah manakala kita masih bisa merasakan sedih. Karena dengan paham sebuah makna kesedihan, maka akan lebih paham dan bersyukur dengan hadirnya kebahagiaan.

Kok begitu?”

Karena hukum kehidupan itu berpasang-pasangan kawan, sedih itu satu sisi dan lawannya adalah rasa senang atau rasa bahagia. “Betul nggak?”

Jadi kalau lagi sedih, bersedu sedan hingga mengalir airmata membanjiri bumi pertiwi (ahay lebay) karena ternyata si dia bukan milik kita tetapi hanya bisa menyayangi saja sesaat tanpa harus memiliki.. apa seeeh, kok nglantur kesinih..

Maksudnya kesedihan ini yang sedang mendera rasa dan raga, harus disyukuri dan dikendalikan, karena sebentar lagi akan berubah menjadi bahagia (harapannya gitu hehehehe)…. meskupin eh meskipun rasa sesak masih menumpuk di rongga-rongga dada akibat ‘last order case’.

Ada yang bilang kalau sedih terjadi karena sebuah hati maka harus dibalas dengan menghadirkan hati yang lain…. awwww. Analog dengan kesedihan ini yang telat nyruput kopi karena kemaleman, berarti harus dicoba dibalas dengan minum kopi di sekitar sini yang mungkin bisa mengobati atau minimal menyeimbangkan kegalauan dan kembali tenang bin santai, karena kejadian lalu sudah berlalu, itu tinggal sejarah saja.

Berjalanlah terus menembus area Kota lama yang ternyata banyak anak manusia yang hilir mudik bercengkerama padahal waktu sudah menuju pertengahan malam yang jauh dari waktu senja.

Photo : Suasana dalam resto / dokpri.

Tiba-tiba di hadapan ada bangunan tua yang tinggi putih dan di lihat dari kaca-kaca yang membatasi kita, terlihat mesin kopi dan barista sedang sibuk beraksi…. ini dia. Apalagi di pintu yang tertutup masih terpampang tulisan ‘Open‘… cekidot.

Masuklah ke resto and bar ini dan ruangan cukup luas agak temaram….

Masih bisa order kopi mas, kopi tanpa gula?”

“Masih Kakak, bisa americano, longblack, espresso dan dopio”

“Mantabs, pesan longblacknya satu”

“Oke Kakak”

Segera mencari tempat duduk yang strategis sambil merasakan suasana hati yang relatif tenang…. tarik nafas.

Dikala meneliti menunya cukup lengkap dengan makanan western dan minuman…. termasuk minuman beralkohol… hati-hati, jangan tergoda untuk mencoba.

Photo : Longblack Spiegel / dokpri.

Tak terasa waktu berjalan dan dihadapan sudah hadir sajian longblack bercangkir merah. Panas, hitam dengan keharuman kopi yang khas…. yummy.

Sruputan dan tegukan menjadi momen penenang malam ini, mengingatkan diri akan nilai-nilai kehidupan, bahwa sedih itu hanya berbatasan tipis dengan senang dan bahagia.

Selamat malam kawan… eh selamat dini hari. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
SPIEGEL BAR & BISTRO
Kota lama, Jl. Letjen Suprapto No.59 Tj.Mas Kota Semarang Jawa Tengah.

Melewati Gelap.

Gelap itu adalah….

DUNIA, akwnulis.com. Perjalanan itu tidak selamanya terang kawan, ada kalanya harus tahu bahwa ada kegelapan yang mendampingi. Siang benderangpun tidak bisa egois dengan segala kekuatannya tapi harus cuti dari status benderang karena digantikan perannya oleh sang gulita malam.

Begitulah silih berganti, teratur dan saling bergiliran tanpa perlu rasa cemburu ataupun prasangka berlebihan, karena ini ketetapan Tuhan.

Nah, jadi jangan takut dengan gelap. Karena tanpa gelap, kita tidak akan faham nyamannya dikala terang.

Jikalau gelap datang, yakinilah bahwa ini berkah dan saat berbagi secercah cahaya dengan siapapun. Dampingi bintang yang bertabur cahaya dikala gelap malam, juga rembulan indah yang mempesona meskipun jauh jarak tiada hingga.

Hingga esok sang mentari kembali hadir menerangi bumi, memberi kesempatan kepada kita untuk berbagi dan mengabdi serta selalu mensyukuri nikmat Illahi. Wassalam (AKW).

***

Lokasi Photo : Terowongan Karang Kates II.

Puisi Pendek Hujan + kopi.

Sejumput kata dibalik cerita.

KUNINGAN, akwnulis.com, Bersama dalam tawa
Belum tentu sejalan di lubuk jiwa
Mungkin saja ada niat berbeda
Karena masing-masing punya asa

Tetapi jangan khawatir
Fitrah manusia semenjak lahir
Adalah mahluk sosial tiada akhir
Butuh teman dan kawan selalu hadir

Maka sikap ramah tetap utama
Tapi waspada dan siaga
Karena manusia tempatnya lupa
Dari kawan menjadi lawan atau sebaliknya

Ditengah hujan ada kesegaran
Tapi juga tak sedikit yang blingsatan kedinginan
Begitupun dengan kehidupan
Tidak bermakna sama bagi setiap orang

Nah…

Beda dengan sajian kopi tanpa gula
Rasa bisa beraneka tapi bentuk tetap sama
Apalagi manual brewnya sempurna
Hadirkan rasa dibalik pahitnya cipta

Kalaupun terasa kurang manis
Segeralah menatap wajah ini tipis-tipis
Insyaalloh kopi hitam menjadi manis
Dan kehidupan lebih dinamis
…. ahaay pede abis

“Met wiken akang teteh yang manis”

Wassalam (AKW).

Kopi Mundur

Ternyata bisa juga bergerak mundur untuk mencapai tujuan, sambil ngopi.

Photo : Kopi tahukah kamu?/dokpri

JAKARTA, akwnulis.com. Mentari masih malu-malu menampakan diri disaat kejadian ini diawali. Kisah nyata yang ternyata berbuah hikmah.

“Mau tahu?”

“Mauuuu!!”

“Ternyata dengan duduk dan bergerak mundur, bisa sampai juga ke tujuan”

“Ah seriusan?… nggak pusing tuh?”

“Agak siih, tapi takdir sudah memilih kami”

“Kerennn, kok bisa sih?”

“Gampang kok caranya, tinggal beli tiket kereta kelas ekonomi jurusan bandung – jakarta”

“Ahh kirain teh apa”

Tapi betul kok, duduk di kursi kereta api kelas ekonomi memang terbagi menjadi dua arah, 1abcd sd 11abcd akan berhadapan dengan 12abcd sd 20abcd, jadi 11 dan 12 berhadap-hadapan. Nah klo yang kebagian arah maju menyongsong tujuan sih fine fine aja.

Yang berabe adalah posisi berlawanan, sehingga mundur teratur tapi menuju tujuan. Jadi istilahnya ‘Terus mundur untuk mencapai tujuan’ heu heu heu.

Untungnya nggak sendirian yang mundur tapi maju ini, minimal satu gerbong ada 4×11 : 44 orang , belum gerbong ekonomi lainnya, klo ada 4 gerbong ekonomi berarti ada kawan 175 orang.. jadi yaa… nikmati.. jalani sambil munduriii.. hihihi.

Untuk yang pertama kali mungkin akan ada sedikit pusing dan bingung, dislokasi.. eh itumah tulang keseleo ya.. disposisi… eh misposisi yaa?…. terserah deh… tapi karena ini perjalanan ke sekian kali… yaa nikmati saja, yang penting bisa tiba di jakarta tepat waktu dan bebas macet.

Photo : Black coffee ResKa / dokpri

Naah… supaya kemunduran menuju tujuan ini terasa menyenangkan maka pesanlah kopi dari petugas restoKA yang akan datang melewati kita membawa dorongan makanan minuman dengan harga khusus… maksudnya khusus di kereta.

Pilihan makanan minumannya bervariasi, tapi bagi diriku cukup dengan satu cup kopi hitam panas tanpa gula…. haruuum dan nikmaaat.

Jikalau sang petugas memberi 2 sachet gula, tolaklah dengan tegas. Karena itu artinya sang petugas tidak meyakini bahwa kita ini ‘sudah maniss‘… kopi hitam tanpa gula adalah segalanya… “ihh mulai lebaay dech”

Saran penting, jangan langsung disruput tuh kopinya. Karena air panasnya bener-bener panas, ntar malah mulut dan tenggorokan terluka. Jadi diamkanlah beberapa saat sambil tetap menikmati ‘kemunduran’ yang nyata ini.

Meskipun mundur, pemandangan diluar tetap bisa dinikmati. Tapi semua dengan cepat terlihat, menjauh dan berganti… begitulah kehidupan. Sekilas menghijau, berganti dengan tanah merah, persawahan atau gelap memekat karena memasuki terowongan.

Ah sudahlah, sekarang saatnya menikmati kopi hitam ala KA Argo Parahyangan. Srupuut…. hmmmm.. nikmat. Body tebal dan getir menyambut, acidity praktis nggak ada, tastenya flat… ya begitulah. Tapi tetap aroma kopinya ada, dipastikan ini dasarnya kopi robusta.

Sruputt…. nikmat. Terasa perjalanan kemunduran ini lebih bermakna, hingga akhirnya 3 jam sudah bermundur bersama dan tiba di stasiun Gambir tepat waktunya.

Jadi ternyata bergerak mundur itu bukan kemunduran, tapi bergerak mundur demi mencapai tujuaaan. Udah ah nglanturnya. Wassalam (AKW).