Air mata

Hapuslah dengan senyuman…

BANDUNG, akwnulis.com. Uraian kalimat yang disampaikan begitu panjang dan tanpa jeda, meskipun dari sisi nada terkadang melemah menahan duka dan beban yang dirasa.

Akhirnya ada juga masa dimana kalimat dan kata terhenti karena mulut tercekat oleh perasaan dan menahan diri agar air mata tidak tumpah di hadapan khalayak warga.

Jikalau hanya berdua, mungkin lelehan airmata adalah salah satu cara membersihkan penglihatan dan mengurangi beban stok air mata yang tersimpan diantara kulit dan tulang kenyataan. Tetapi dihadapan banyak orang, air mata tertumpah malah menghadirkan ketidakberdayaan dan bukan dukungan yang datang tetapi tatapan sinis dan dianggap lemah mental…. mungkinn…

Bisa saja ada satu dua pihak yang merengkuh luruh untuk membantu saudaranya yang sedang jatuh. Membantu kembali berdiri tegak dengan sokongan ikhlas yang penuh pengertian.

Sebuah kata yang menjadi utama adalah sikap kita menghadapi dilema. Tahanlah airmata tertumpah dihadapan banyak manusia, simpan untuk nanti dikala bersimpuh di malam hari, sambil bernunajat kepada Robbul Izzati.

Kesedihan bukan akhir dari segalanya, karena kesedihan adalah pelengkap dari kebahagiaan yang setia mendampinginya. Berbahagialah kita yang masih bisa merasakan sedih, karena dengan merasakan sedih kita akan tahu betapa bahagianya merasakan bahagia.

Seiring uraian kata selanjutnya, ketegaran mulai terasa. Menampilkan secercah harapan diantara puing asa yang tertunda. Biarkan kesedihan itu ada, tetapi semangat bangkit kembali adalah yang paling utama.

Sebuah pantun semoga bisa mewakili keadaannya :

Berhimpun di meja menyantap ikan,
Langsung berkeringat berebut suapan’

‘Biarpun kenyataan masih menyedihkan,
Tapi semua tetap semangat untuk perbaikan’

Selamat beraktifitas di jumat sore ini kawan, Wassalam (AKW).

Longblack Spiegel.

Jangan sedih… ngopay bray.

Photo : Tampak pintu masuk Spiegel bar & bistro / dokpri.

SEMARANG akwnulis.com. Sedih itu sebenernya hanya satu sisi dalam kehidupan, berbahagialah manakala kita masih bisa merasakan sedih. Karena dengan paham sebuah makna kesedihan, maka akan lebih paham dan bersyukur dengan hadirnya kebahagiaan.

Kok begitu?”

Karena hukum kehidupan itu berpasang-pasangan kawan, sedih itu satu sisi dan lawannya adalah rasa senang atau rasa bahagia. “Betul nggak?”

Jadi kalau lagi sedih, bersedu sedan hingga mengalir airmata membanjiri bumi pertiwi (ahay lebay) karena ternyata si dia bukan milik kita tetapi hanya bisa menyayangi saja sesaat tanpa harus memiliki.. apa seeeh, kok nglantur kesinih..

Maksudnya kesedihan ini yang sedang mendera rasa dan raga, harus disyukuri dan dikendalikan, karena sebentar lagi akan berubah menjadi bahagia (harapannya gitu hehehehe)…. meskupin eh meskipun rasa sesak masih menumpuk di rongga-rongga dada akibat ‘last order case’.

Ada yang bilang kalau sedih terjadi karena sebuah hati maka harus dibalas dengan menghadirkan hati yang lain…. awwww. Analog dengan kesedihan ini yang telat nyruput kopi karena kemaleman, berarti harus dicoba dibalas dengan minum kopi di sekitar sini yang mungkin bisa mengobati atau minimal menyeimbangkan kegalauan dan kembali tenang bin santai, karena kejadian lalu sudah berlalu, itu tinggal sejarah saja.

Berjalanlah terus menembus area Kota lama yang ternyata banyak anak manusia yang hilir mudik bercengkerama padahal waktu sudah menuju pertengahan malam yang jauh dari waktu senja.

Photo : Suasana dalam resto / dokpri.

Tiba-tiba di hadapan ada bangunan tua yang tinggi putih dan di lihat dari kaca-kaca yang membatasi kita, terlihat mesin kopi dan barista sedang sibuk beraksi…. ini dia. Apalagi di pintu yang tertutup masih terpampang tulisan ‘Open‘… cekidot.

Masuklah ke resto and bar ini dan ruangan cukup luas agak temaram….

Masih bisa order kopi mas, kopi tanpa gula?”

“Masih Kakak, bisa americano, longblack, espresso dan dopio”

“Mantabs, pesan longblacknya satu”

“Oke Kakak”

Segera mencari tempat duduk yang strategis sambil merasakan suasana hati yang relatif tenang…. tarik nafas.

Dikala meneliti menunya cukup lengkap dengan makanan western dan minuman…. termasuk minuman beralkohol… hati-hati, jangan tergoda untuk mencoba.

Photo : Longblack Spiegel / dokpri.

Tak terasa waktu berjalan dan dihadapan sudah hadir sajian longblack bercangkir merah. Panas, hitam dengan keharuman kopi yang khas…. yummy.

Sruputan dan tegukan menjadi momen penenang malam ini, mengingatkan diri akan nilai-nilai kehidupan, bahwa sedih itu hanya berbatasan tipis dengan senang dan bahagia.

Selamat malam kawan… eh selamat dini hari. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
SPIEGEL BAR & BISTRO
Kota lama, Jl. Letjen Suprapto No.59 Tj.Mas Kota Semarang Jawa Tengah.

Filosofi (kehidupan) Kopi.

Hidup memang harus berpegang filosofi.

SEMARANG, akwnulis.com. Raga bergegas bersama jiwa yang meranggas, menuju sebuah tempat yang diharapkan bisa menjadi pemuas hasrat yang berkelas.

Tapi…. ternyata harapan tinggal harapan, semua buyar hanya karena jarum jam yang tak mau berhenti sehingga kedatangan ini seolah tiada arti.

Agenda padat dalam kunjungan kerja ini memang merupakan settingan bersama, sehingga jam 22.00 wib baru bisa membuka pintu cafe filosofi kopi di Kota Lama Semarang dan bergegas memesan manual brew…. tapi, penolakan halus karena sudah last order begitu meremukkan hati.

Sedih menggunung tanpa bisa menuangkan dalam kata, hanya wajah membesi saja yang mewakili kecewa ini. Apa mau dikata, kopi manual sudah tidak bisa diharapkan, tinggal balik kanan perlahan dan keluar dari area ini dengan meninggalkan kenangan, kenangan nyesek yang sulit jikalau diruangkan dalam kata atau teriakan.

Lalu apa selanjutnya?”

Tak perlu jawaban dengan kata-kata karena raga gontai ini segera keluar area cafe dan terus bergerak menjauh dengan berusaha tetap tegak berjalan meski menanggung kegalauan tidak terkira.

Itulah kehidupan, tidak selalu harapan menjadi kenyataan. Tetap bersyukur dengan segala kemudahan meskipun kecewa itu normal selama berada pada batas kesantunan. Air mata meleleh hanyalah ekspresi dukungan raga bahwa ada sejumput luka yang menjejak di dada. Insyaalloh seiring desau angin malam…. perlahan tapi pasti akan menghilang rasa galau ini…. dan tergantikan kecerian, ……..meskipun untuk sementara masih dalam fase keterpaksaan, terpaksa menerima kenyataan.

Sedih…..

Akhirnya langkah terus menyeret raga menuju tujuan lain yang mungkin miliki cita rasa berbeda, sementara sang waktu mengintai tanpa kompromi dan basa – basi. Tapi ingat kawan, hidup terus berlanjut dan jiwa tetap berdenyut. Wassalam (AKW)

***

Lokasi :
Filosofi Kopi Kota Lama.
Jl. Letjen Suprapto No.61-63 Purwodinatan. Kec. Semarang Tengah Kota Semarang, Jawa Tengah.

Warna Warni.

Belajar menikmati hari dalam suasana warna warni.

BANDUNG, akwnulis.com. Manakala warna berpadu maka hadirlah sebuah sensasi rasa yang penuh dinamika. Begitupun kehidupan, warna warni kejadian silih berganti setiap waktu. Senang, ceria, atraktif, tertawa lalu sedih, murung, pendiam, dan menangis serta berbagai sikap diri yang senantiasa berbeda karena suasana.

Jadi…….. nikmatilah aneka warna kehidupan yang bervariasi. Kecil kemungkinan kita bahagia seumur hidup, pasti ada sedihnya karena Allah SWT menciptakan suasana kehidupan ini berpasang-pasangan untuk memberi kesempatan kepada hambanya agar senantiasa bersyukur dikala bahagia dan bersabar disaat derita dan kesedihan mendera.

Begitupun dalam ilustrasi warna, tidak elok dipandang jikalau hanya warna hijau atau merah saja yang ada, tetapi dengan gabungan warna lainnya hadirkan nuansa penuh dinamika.

Apalagi aneka warnanya itu adalah suguhan makanan yang harus segera dinikmati…. itu mah insyaalloh bahagia dan tak kuat menahan diri untuk menyantapnya, Bismillah.

Selamat Berlibur di hari selasa kawan (buat yang libur).. yang tidak libur karena tugas…. semangaaat.. termasuk istriku……. insyalloh dianter kok hehehe.

Itulah cerita warna yang terlintas di benak pagi ini, Wassalam (AKW).

Pagi & Sendu di Pangandaran.

Menjejak pagi yang menyisakan kenangan sendiri.

Photo : Kopi & pilu / dokpri.

PANGANDARAN, akwnulis.com. Pagi ini mentari masih sembunyi dibalik awan kelabu, hempasan angin pantai menitipkan sebuah rasa pilu, disitulah aku menemukan dirimu, tergeletak pasrah tanpa daya ditemani harapan semu.

Ingin bertanya padamu, tetapi yang hadir hanya ragamu. Asumsi menyelimuti kalbu, mungkinkan kamu adalah salah satu yang tertinggal dari kawananmu?… atau meloncat terlalu jauh dikala ombak menghempas pantai?… atau mungkin ragamu sudah berpisah dengan ruhnya di laut sana dan terbawa gelombang kesini tanpa bisa mengadu?… entahlah,
……..aku tidak berharap jawaban karena ragamu sudah damai terdiam.

Secangkir kopi yang dibawa untuk dinikmati, sekejap berubah tawar dengan rasa yang dilingkupi kesedihan.

Sebuah penghormatan atas kejadian yang menimpamu, aku sandingkan segelas kopi ini dengan ragamu yang terdiam tanpa kata-kata perpisahan. Menemani meskipun hanya sesaat ini.

Photo : Suasana sendu di Pantai Timur Pangandaran / dokpri.

Selamat jalan, semoga damai menyertaimu.

Perlahan pergi meninggalkanmu yang sudah berdamai dengan kenyataan, selamat menjalani pagi yang pilu di pantai timur pangandaran. Semoga seiring mentari beranjak meninggi, cuaca akan menjadi cerah dan harapan kehidupan kembali merekah.

Selamat beristirahat kawan kecilku, meskipun baru bersua dengan ragamu di pagi sendu, tetapi yakin bahagia dan damai sudah menantimu. Selamat tinggal ikan kecilku. Wassalam (AKW).

372 Kopi Cimohay

Sruput kepahitan dan misteri Americano SS.

Photo : Americano Single shot / dokpri.

CIPAGERAN, akwnulis.com. Kepahitan itu memang misteri. Karena kepahitan tidak melulu bicara keprihatinan dan kesedihan, di lengkapi dengan tetesan air mata dan cucuran keringat penyesalan. Tetapi kepahitan adalah sumber kenikmatan.

“Kenapa begitu?”

Karena kepahitan ini justru menjadi sumber kenikmatan dari rasa penasaran terhadap sajian yang menggugah sebuah harapan.

Kepahitan yang tersaji sore ini adalah secangkir kopi americano plus single shot yang disajikan di tengah kerimbunan pepohonan dan beraneka bangunan kayu tradisional.

“Kok bukan sajian kopi V60?”

Photo : Menyore disini kawan / dokpri.

Tadinya itu yang dicari disini, tetapi ternyata stoknya habis, jadi pilihannya tinggal espresso, dopio, longblack dan americano. Ya sudah kombinasi americano dan single shot espresso (mungkin) bisa memberi sensasi misteri sore ini.

Sruput dulu prennn…..

Woah kepahitan menyeruak dalam mulut dan merangkul lidah dengan kegetiran alami, yup kopinya blend tetapi rasa arabicanya masih dominan meskipun minim, sang robusta dengan pahit datarnya tetap menjadi dasar fundamental sajian ini.

Photo : Cafe 372 kopi, pesen duluu / dokpri.

Semilir angin sore di Cimahi utara ini mengantarkan nada kedamaian yang berselisih dengan dedaunan dari pohon-pohon besar, meskipun akhirnya kembali terdiam di kala Adzan magrib berkumandang. Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

***

Lokasi : 372 kopi Kabuci, Jl. Kol. Masturi Cipageran Cimahi Utara Kota Cimahi Jawa Barat.

***

Kepahitan apa yang sore ini membuat anda penasaran?”

Move On RBI

Pengen curhat biar cepet move on…

Photo : The Grey Millenial

Jakarta. Disaat kawan lain Peserta RLAXIV di Kabupaten/Kota ikut bangga melihat kami sudah bersua dengan mentor sekaligus bos dan diposting di medsos bos, disitu ada rasa nyesek membara karena momen yang ditampilkan itu adalah dokumentasi patah hati, konsep ideal yang dicoba dikerjakan disela kesibukan masing-masing seakan musnah berganti kegalauan…. dan itu kenyataan yang musti dihadapi.

‘Gudang Gandeng’ sudah menjadi konsumsi publik via medsos bos dan mungkin menjadi viral, sementara untuk itu, aku ikut bangga.

Tetapi tataran implementasinya harus dibangun kembali dari puing-puing keriuhan tadi pagi. Kembali menyusun puzzle dan mengubah mindset serta pandangan agar lupakan objek tempat awal dan menuju tempat sesuai arahan bos meskipun konsep idealis menjadi menjauh dan meringis, sadis.

***

Perencanaan harus dibuat day by day, karena sebelum 1 November adalah batas dari RBI harus tuntas. Maka :

1. Jangka pendek adalah manajemen even di Area GOR Saparua dengan tema anak muda, extreme sport, kuliner & leasure. Terdapat 5 poin yang harus kita cermati bersama :
a. Tempat dipinjemin ke Tim kang Eben by even;
b. Kebersihan dan keamanan disupport pemprov;
c. Perijinan even disupport pemprov;
d. Subsidi anggaran untuk even;
e. Manfaatkan sarana pemprov u branding even seperti di Medsos pemerintah, media luar ruang punya pemprov hingga bilboard di Bandara.

Berarti harus segera diputuskan segera dan bagaimana, karena pihak Kang Eben sudah siap bantu.

Termasuk pertanyaan terkait, “Apakah bisa, skateboard fasilitasnya dibangun di sudut kiri utara serta alihkan peralatan yang berada di area Taman Jomblo?”… belum berani jawab.

Konsep Kang Eben cs adalah mengembalikan peran saparua di barudak bandung (de javu) sebagai pusat kumpul para generasi millenial dan juga grey generation (generasi rambut abu2/huisan yang berjiwa muda… seperti peserta RLA XIV dari pemprov Jabar) dalam satu even yang akrab kekeluargaan tapi menghasilkan nilai kreatifitas, kebersamaan serta nilai ekonomis realistis.

2. Jangka menengah adalah rekomendasi Untuk mewujudkan ‘Gudang Gandeng’ di 7 titik Kab/kota di Provinsi Jawa Barat berdasarkan data dari Bu Novi-BPKAD.

Pertanyaan mendasarnya adalah :
a. Bagaimana skema kerjasamanya? BOT, BTO, Sewa dan sebagainya;
b. Berapa lama masa kerjasamanya? Ini berhubungan dengan hitung-hitungan terhadap revenue;
c. Bagaimana tata hubungan selama kerjasama sehingga tidak muncul intervensi buta dari pemerintah?
d. Apakah harus serempak dilakukan atau bisa bertahap di 7 titik?

Diskusi masih berlanjut guys, tetapi yang pasti ada 1 nilai dari bu novi yang bisa diamini serta disepakati yaitu : Aset Pemprov diharapkan tetap terpelihara, terjaga dan termanfaatkan terutama bagi masyarakat sekitar serta pemprov jabar. Konsep ‘Gudang Gandeng’ ini kembali terasa menggaung, sebuah area yang lengkap, baik outdoor ataupun indoor dengan fungsi sebagai inkubator, co-working space makerspace dan creative space, yang menyisir generasi millenial dengan kelebihannya berupa connected, confident dan creativity.

3. Jangka panjang adalah merawat keberlanjutan ‘Gudang Gandeng’ di semua titik di kab/kota di Provinsi Jawa Barat dengan ragam dan cara pengelolaan sesuai dengan karakteristik daerah dan dikelola oleh OPD terkait sesuai tupoksi OPD masing-masing.

Udah dulu ah, sekarang sudah mulai #moveOn meskipun air mata masih menetes melewati pipi yang penuh harapan dan akhirnya harus disimpan dalam benak terdalam dengan filling data berkode ‘Pahlawan70’… Merdekaaa!!!!

Semangat perubahan.
Hidup RLAXIV
Hidup RBI Jabar
Hidup Gudang Gandeng.

Wassalam, 23:02 Jakarta. (AKW).

***
Catatan : Makasih yach, udah baca curhat ini. Amiin.

Hilang

Cerita tentang kepergian SC yang melatih keihlasan.

Photo : Dokumen pribadi

Terkadang rasa kesal itu muncul oleh hal yang simpel. Bisa nyesek ke dada menuhin otak, atau perut melilit hingga otak puyeng nggak ketulungan. 

Contoh?… banyak.

Sekarang fokus aja pada satu urusan sederhana yaitu urusan sendal cepit.

Ihh cemen itu mah…

Emang cemen bingit, tapi bikin nyesek. Soalnya ini kehilangan yang ke sekian kali. Bukan kehilangan yang pertama dan bukan pula ‘Kehilangan‘ versi Firman (penyanyi).

Pas kelar sholat dhuhur berjamaah, menuju sendal capit kesayangan. Eh ternyata tidak ditempatnya. Tapi pikiran masih tenang karena berbaik sangka bahwa mungkin sang sendal capitku sedang menunaikan tugas dipake seseorang untuk berwudhu karena ada lokasi wudhu diluar mesjid dan kudu pake sendal.

5 menit menanti masih belum berarti, menit ke lima belas mulai merambat rasa cemas. Dan setelah satu jam berlalu… dongkol itu menyakitkan jenderal!!!

Memang hanya sandal, tapi itu adalah benda yang setia mengantar langkah untuk shalat berjamaah.

Akhirnya dengan langkah gontai dan tanpa alas kaki bergerak menuju tempat kerja menapaki paving block yang cukup panas serta aspal di halaman kantor yang terpanggang mentari dari pagi hari.

Tiba di ruang kerja, masih cemberut bin samutut karena belum bisa ikhlas. Perlu lebih dari 24 jam untuk berdamai dengan kenyataan karena esok haripun tak muncul juga sang sendal capit kesayangan.

Ikhlaskan… ikhlaskan karena barang itu hanya titipan. Nyawa kitapun hanya titipan yang bisa kapan saja dicabut oleh pemiliknya, Allah Subhanahu Wataala.

Sebelum meninggalkan pelataran mesjid, mencoba berkeliling satu kali lagi untuk meyakinkan diri, siapa tau ada yang pake trus pindah lokasi. Ternyata di pelataran belakang menemukan bukti bahwa sendal capit itu sangat rentan hilang. Agar sendal capitnya tidak hilang maka diberi berbagai tanda. 

Photo : dokumen pribadi

Ada yang berbentuk garis-garis hingga yang bertuliskan ancaman serius.. 

Photo : dokumen pribadi

NYOLONG.. MATI. Padahal mati kewenangan Allah.

Itulah sekelumit pengalaman belajar ikhlas dari hilangnya benda sederhana yang bikin nyesek 24 jam.


Good bye my sweet Sendal capiit.
(Akw).

Belajar dari Kehilangan

Mencoba belajar dari sebuah proses kehidupan yang terjadi dalam kefanaan.

Sebuah kata yang begitu akrab dengan jalinan kehidupan, sering hadir dalam beraneka sesi perjalanan dalam kefanaan. Ya… karena sesuai kodrat kehidupan bahwa semua ada pasangannya, siang dan malam, atas dan bawah, senang dan susah, juga menemukan atau mendapatkan dan pasangannya adalah kehilangan.

Kehilangan asal kata dari hilang, kita semua pasti bersepakat bahwa hilang itu berarti sudah tidak ada lagi di rengkuhan kita, sudah tidak tahu ada dimana, juga secara phisik tidak terlihat oleh indera mata, telah jauh dari indera penciuman kita dan tentunya tak ada sayup tinggal senyap yang menghampiri indera pendengaran kita, lalu hanya memori yang merekamnya dalam relung kenangan yang begitu dalam.

Tingkatan kehilangan sangat variatif, dari mulai level kehilangan biasa, lebih kehilangan dan sangat sangat kehilangan. Ini tergantung dari dua faktor penting yaitu :

a. Seberapa besar pengorbanan yang dilakukan demi mendapatkannya.

b. Seberapa berharga keberadaannya

Jenis yang hilang itu bisa phisik juga non phisik, jika bicara benda maka kecenderungannya adalah kehilangan phisik dan sedikit psikis. Contoh barang yang pernah diberikan oleh seseorang dan terasa berharga. Disaat hilang maka 2 rasa tadi mendera, apalagi jika hubungan personal tidak ada masalah, tentu sulit untuk melupakan benda tersebut.

Jika yang hilang adalah mahluk hidup seperti binatang kesayangan, maka rasa kehilangan mungkin bisa tergantikan dengan membeli binatang yang baru, meskipun tidak mirip 100% tapi minimal dapat menggantikan dan mengisi ceruk kehilangan yang pernah terasa begitu mendera.

Yang lebih rumit adalah yang telah hilang itu adalah manusia, apalagi pasangan hidup yang telah berjuang bersama merajut rumah tangga hingga berpuluh tahun. Maka kehilangan atau kepergiannya dari sisi kehidupan kita, bukan hanya kehilangan phisik semata tetapi kehilangan psikis yabg terenggut terasa begitu berat dan menyesakkan dada. Ditambah lagi kepergian yang begitu tiba-tiba tentu semakin memperdalam palung kesedihan di samudera hati yang terdalam. 

Padahal kepergian seseorang dalam bentuk kematian adalah kepastian yang akan terjadi pada semua orang. Hanya satu sama lain tidak ada yang tahu kapan akan berpulang, kembali ke haribaan Allah Subhana Wataala.

Tahapan kehilangan itupun bermacam-macam, dimulai dari :

a. Tidak percaya

Dalam tahap ini jika benda maka akan terus dianggap ada dan diyakini dengan berbagai cara, tetapi jika manusia meskipun kita ikut melakukan prosesi pemakamannya tetapi seolah masih ada didekat kita, menemani dan serasa ada di sekitar kita apalagi jika melihat photo, video rekaman ataupun berbagai benda yang pernah menjadi saksi kebersamaan sewaktu masih hidupnya.

b. Mencari

Maka aktifitas yang dilakukan adalah mencari dan mencari serta terus berusaha mengembalikan keadaan harus seperti semula.

c. Kecewa

Ternyata akhirnya tidak bisa ditemukan dan kenyataan bahwa seseorang yang meninggal tidak akan kembali maka rasa kecewa dan marahlah yang membuncah hingga berujung pada kesedihan yang berlarut. Kecewa dan marah terhadap kenyataan & bersedih yang berlebihan, termasuk bisa saja terjebak untuk berburuk sangka kepada Allah Swt yang memberikan nasib memilukan ini.  Tahapan ini sangat perlu keseimbang jiwa dan kekokohan iman, karena bisa berakibat fatal. Psikis yang tidak stabil bisa mengakibatkan phisikpun terganggu. Bisa saja berakibat kejiwaan atau minimal sakit-sakitan karena tidak siap menerima kenyataan.

d. Pasrah  & menerima

Tahap akhir adalah pasrah dan berserah diri, meyakini bahwa kehilangan itu terjadi karena kita menemukan atau memilikinya. Jika tidak ingin hilang atau kehilangan, hindari memiliki benda ataupun bertemu dengan seseorang yang begitu berharga bagi kita.

Tapi tidak mungkin karena itu proses kodratiyah dan merupakan jalinan takdir bagi masing-masing individu. Cara terbaik adalah pertebal keimanan sehingga memberi motivasi untuk menggerakan nurani dan raga ini agar secara kaffah (komprehensif) berserah diri serta senantiasa percaya bahwa kejadian di dunia ini bukan random semata, tetapi merupakan gerakan dan gelimbsng ritmis yang telah diskenario oleh Allah Sang Maha Pencipta.

Jikapun ternyata untuk seseorang yang telah pergi dari sisi kita, telah lulus berjuang hidup di dunia fana. Cara terbaik disaat rindu dan ingin jumpa tak bisa tertahan lagi. Segera tundukan raga rapatkan nurani, bermunajat kepada Alkah yang maha sempurna, hamburkan untaian doa agar menjadi penyambung rasa penguat bekal bagi yang telah kekal di alam akherat.

Mari jalani tahapan kehidupan fana ini dengan berpedoman pada tuntunan agama sehingga disaat terjadi peristiwa tidak terduga seperti kehilangan barang ataupun terpisahkan oleh kematian, harus diyakini itu adalah skenario yang terbaik menurut Allah Swt. 

Wallahualam bisshhowab

@andriekw Cimohay23.23.190617