Buku PENYINTAS COVID19

Mana cerita covid19mu?….

DAGO, akwnulis.com. Suasana rapat offline di tempat full AC dengan ruangan nyaman mulai kembali dilaksanakan setelah hampir 2 tahun pelaksanaan meeting-meeting itu via layar smartphone, laptop dan infokus dan sangat akrab bersama aplikasi zoom, google meet  cisco webex, whatsapps, skype, slack, Jitsi Meet, Gotomeeting dan sebagainya.

Meskipun tetap rapatnya terbagi antara yang wajib hadir offline dan sisanya hadir online atas nama ‘hybrid meeting’. Yang pasti jaman sudah berubah dalam segala hal setelah kita melewati disrupsi maha dahsyat atas nama penyebaran Virus Covid19 hingga terakhir yang dinamain ‘omicron.’

Mengenang perjuangan, perjalanan, suka duka dan berbagai kejadian yang menyayat hati karena harus kehilangan pasangan hidup, orang tua, saudara, atasan dan kolega, guru, tetangga serta siapapun yang direnggut oleh ganasnya virus ini. Maka sebuah dokumentasi harus menjadi legacy, saksi sejarah atas disrupsi yang terjadi hingga menjadi hikmah bagi kehidupan dan tata nilai baru untuk kemanusiaan.

Secara institusi tentu sudah banyak yang membuat laporan, dokumentasi tertulis dan video plus photo. Juga banyak yang membuat cerita di medsos masing-masing tentang keterpaparan covid19 dari berbagai sudut pandang.

Pertanyaan besarnya, “Anda bikin apa tentang keterpaparan covid19 ini?”

Inilah tantangan yang harus dijawab tanpa perlu banyak bicara hanya untuk memberikan segumpal alasan atas nama kemalasan. Tapi mari kita buat sesuatu yang akan berguna sebagai bukti serta legacy bahwa kita pernah tahu dan ada hikmah dari semua itu.

Klo di Pemprov Jabar, produk dokumentasi resmi sudah berbentuk beberapa buku tebal dan komprehensif yang disusun oleh para pejabat yang kompeten. Tetapi yang versi pribadi ini, kayaknya perlu juga di ekspose ya….

Maka teringat pernah buat sebuah video yang tayang dikanal pribadi setahun lalu, pastinya di platform youtube. Ini linknya, klik aja ya DONOR DARAH PLASMA CONVALESEN,  maafkan kualitas videonya masih rendah, maklum youtuber amatiran (belum) monetize.

Nah dalam bentuk tulisan juga hadir atas prakarsa Mbak Nenny Azkiya, yang mempertemukan kami dengan para penggiat menulis di seantero nusantara. Kami belum pernah bersua, tetapi terasa dekat melalui chat Whatsaps, mungkin besok lusa ada takdir sehingga bisa hadir offline bersama.

Bukunya berjudul PENYINTAS COVID19, adalah kumpulan pengalaman dari 24 penulis yang digabung alias dikeroyok sehingga berbentuk buku ciamik dan menjadi souvenir cantik, mengingatkan diri akan sebuah suka duka dan hikmah dari keterpaparan covid19.

Itulah sejumput catatan dan dokumentasi pribadi tentang covid19, hanya sebutir pasir di padang pasir dokumentasi. Tapi minimal penulis sudah punya suatu kebanggaan bahwa pengalaman hidup sudah tercatat dan bersiap melanjutkan kehidupan dengan optimisme dan kebersamaan. Wassalam (AKW).

NGOPAY & NGASUH

Ramadhan dan penyembuhan plus ngopay…

CIMAHI, akwnulis.com. Shalat tarawih tuntas dilengkapi dengan 3 rakaat witir, peluh mengucur dan hawa terasa panas. Padahal gerakan dilakukan secara perlahan, apalagi pada saat i’tidal menuju sujud dan dari posisi duduk untuk kembali berdiri. Tangan kanan dipastikan memegang kursi yang setia menemani, membantu menahan raga yang semakin berisi, berisi lemak tentunya hehehehe.

Kenapa sampe nahan pake kursi begitu?”

Yup, kondisi ini sebuah proses penyembuhan setelah kecelakaan kecil akibat loncatin pot mini dan salah mendarat, ternyata berakibat patah salah satu tulang telapak kaki dengan posisi meruncing, baca PATAH MERUNCING.

Ditambah lagi dengan stop berolahraga hampir 3 bulan, sementara makan enak jalan terus. Tak terasa ‘penggemukan’ berhasil. Meningkat berat badan 6 kg melengkapi 1 kuintal yang sudah ada. Maka program diet menjadi prioritas utama, tentu setelah intruksi dokter berdasarkan kondisi yang ada.

Nah, dikala beranjak ke ruang tengah disuguhkan dengan atraksi kucing gemoy sedang latihan loncat di pintu kulkas, sungguh menggemaskan. Anak kesayangan juga tertawa-tawa melihat tingkah kucing yang seolah ingin unjuk kabisa (kemampuan).

Tapi sebelum bermain dengan kucing kesayangan maka buat kohitala (kopi hitam tanpa gula) seolah menjadi kewajiban. Mengalahkan sajian kolak, cingcau dan kolang-kaling yang cemberut di meja karena belum disentuh siapa-siapa.

Apa mau dikata, kohitala tetap utama. Proses manual brew dengan corong v60 segera dilakukan, tak lupa grinder kasar dulu bean yang ada dengan ukuran ala-ala.

Tuntas lakukan prosesi kopi, maka sruputan perdana memberikan kesegaran alami. Meskipun perbandingan air diperbanyak, agar tidak terlalu nendang rasanya tetapi aroma natural kopi tetap hadir meskipun hanya selarik rasa saja… srupuut… nikmaat.

Tiba-tiba ada ide, “Gimana kalau sambil ngasuh anak dan main sama kucing sambil tetap ngopay?”

Raga beranjak dan menyimpan secangkir kopi di lantai, pake gelas kecil tentunya. Dilengkapi ketukan tangan dan suara mengeong dari mulut ini, perlahan tapi pasti mahluk berbulu putih kuning dan coklat mendatangi dan mengendus gelas kopi.

Jangan-jangan kucing ini suka kopi”

Tapi hanya mengendus saja, setelah itu bergerak pergi dan kembali bermain dengan dunianya.

Maka raga ini beranjak ke meja makan untuk menikmati kohitala buatan sendiri ini sekaligus menahan diri dari godaan pastel, risoles serta kolak yang seakan memanggil penuh kemesraan.

Eh nggak berapa lama, ternyata si kucing ikut loncat ke pangkuan dan berusaha mengendus kembali gelas kopi mini ini. Maka sambil ngopay kohitala, ternyata sekaligus ‘ngasuh’ kucing juga.

Tring!…. Muncul ide untuk jadi bahan konten youtube, maka video pendek-pendek yang dibantu merekam oleh anak tersayang akhirnya menghasilkan video, Alhamdulillah.

Selamat menikmati dan mengisi waktu bulan shaum dengan berbagai amalan penuh bonus pahala, juga jangan lupa tetap ngopay dan bercengkerama dengan anak istri dan binatang kesayangan semua. Wassalam. AKW.

Met Shaum 1442 H

Met beribadah di Bulan Ramadhan 1442 Hijriyah…

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Rasa syukur adalah utama yang senantiasa dipanjatkan untuk Allah Subahanahu Wataala atas segala kemudahan rahmat dan rejeki yang tiada hingga, yang sering kita lupakan seolah itu adalah hal biasa.

Ucapan met Berpuasa / by kang Rizky hms

Shalawat dan salam untuk Nabi Agung Nabi Besar Muhammad SAW yang membawa cahaya penerang keIslaman bagi Kehidupan umat manusia.

Sebuah tulisan singkat di awal bulan ramadhan ini lebih kepada introspeksi dan mentafakuri diri, bahwa atas ijin-NYA bisa kembali bersua dan menjalani ibadah shaum di bulan yang luar biasa. Setelah 11 bulan kita implementasi dalam kehidupan sehari-hari, maka sebulan ke depan adalah saatnya me-masantren-kan diri untuk kembali fitri dan melanjurkan 11 bulan ke depan dengan perubahan diri yang hakiki.

Kali ini ingin berbagi tentang sesuatu yang dianggap sederhana dan biasa dalam kehidupan sehari-hari yaitu…… rejeki oksigen gratis yang dapat dihirup setiap saat, seolah ini adalah hall lumrah dan ‘biasa saja‘, padahal jikalau dihitung akan menghasilkan angka yang tiada hingga dan begitu mahal adanya.

Ilmuwan Keni Vidiaresis menyampaikan bahwa dalam satu hari, seorang manusia menghirup udara 550 liter oksigen atau sebanding dengan volume air mineral 2 Liter sebanyak 275 botol. Jika dirata-ratakan maka setiap menit, seorang manusia menghirup oksigen 8 liter. Kadar oksigen di udara adalah 20%, dan setelah dihirup 15% nya dihembuskan kembali serta 5% nya yang diserap tubuh.

Coba iseng itung ah, 8 Liter x 60 menit x 24 jam × 5% : 576 Liter….  wah iya mendekati angka 550 liter.

Trus sambungin sama harga air mineral ya…

Harga air mineral galon rata-rata Rp.45,5 ribu dengan isi 19 liter… ini bukan model galon yang air mineral isi ulang yaa…..

Nah berarti 576 liter / 19 liter : 30,31 galon.. lurusin aja ya jadi 30 galon di kalikan harga rata-rata 45,5 ribu/galon menghasilkan jumlah Rp 1.351.500,- / hari. Nah klo perbulan adalah Rp 40.545.00,- dan perbulan (365 hari) menjadi Rp. 493.297.500,-

Setelah dihitung dengan matematika perbandingan sederhana, baru urusan nafas saja dalam satu tahun hampir setengah milyar rupiah per orang diberi gratisan sama Allah SWT.

Berarti 1 milyar rupiah per 2 tahun untuk fasilitas nafas kita tang diberikan cuma-cuma.

Ucapan met shaum / dokpri.

Ini baru secuil rejeki dan rahmat kemudahan dari Yang Maha Kuasa, belum lagi banyak hal – hal lainnya yang seolah sederhana dan biasa saja, padahal penuh nilai sarat makna yang wajib kita syukuri dan tafakuri.

Selamat menunaikan Ibadah Shaum di bulan Ramadhan 1442 Hijriyah, semoga kita semua khususnya kaum muslimin diberi kesempatan, kekuatan, kesehatan, kesabaran dan Keikhlasan menjalani dan menuntaskan bulan penuh berkah ini hingga tuntas sampai akhir dan bisa berjumpa di bulan ramadhan pada tahun – tahun yang akan datang. WassalammualaikumWrWbr. (AKW).

Pikir & Putuskan.

Mikir atau nggak mikir, putuskan.

Photo : Serangga lewat langsung jepret, nggak pake mikir / Dokpri.

SAGULING, akwnulis.com. Sebuah niat memang tidak cukup jika tidak dilanjutkan dengan emprak (implementasi), tetapi setiap individu memang memiliki pertimbangan masing-masing dengan berbagai perspektif rasional dan irasional atau gabungan keduanya untuk memutuskan suatu keputusan yang akan berpengaruh bagi ritme kehidupannya sekarang dan juga masa yang akan datang.

Bagaimana caranya kita tahu dampak dari keputusan kita?

Ya lakukan dulu, jangan berandai-andai atau melamun tak berkesudahan kawan… atau malah pilihannya nggak jadi.. menunda.. menunda.. akhirnya melupakan karena dengan berbagai pertimbangan. Ya… Itu sih kehidupan, karena setiap tahapan hidup adalah pilihan. Bukan masalah salah dan benar dengan perbedaan pilihan yang ada, tetapi kesiapan kita manakala konsekuensi pilihan itu yang harus dihadapi.

Berhitung berbagai kemungkinan dari suatu pilihan adalah wajib karena kita diberi anugerah akal dan pikiran, ditambah dengan mencari referensi dari berbagai literatur plus mengumpulkan testimoni dari orang-orang yang punya pengalaman tersendiri terkait konten yang akan diputuskan.

Tetapi memutuskan sebuah pilihan tentu tidak cukup dengan akal dan pikiran logika matematis fisika biologis sosial sastra dan guru BP….. lha kok jadi jurusan di SMA... maksudnya komprehensif gitu lho…. logika berfikir tersebut ditambah referensi dan testimoni ternyata tidak cukup. Itu semua penting karena akan menghadirkan keputusan yang sistematis dan terukur…. tetapi.. terdapat hal yang super penting yang harus diyakini yaitu Takdir Illahi.

Artinya dari semua tahapan pertimbangan akal tadi, akhirnya adalah sebuah kehendak yang sudah tertulis di atas langit didalam kitab lauh mahfudz yang harus diyakini dengan keimana rohani.

Terkadang sebuah keputusan diambil dengan rumus 99+1%, yaitu 99% nekat dan 1% logika… tapi tentu bersiaplah dengan kemungkinan dampak dari pengambilan keputusan ini.

Menurutmu yang ideal bagaimana dalam mengambil keputusan?

Sebuah pertanyaan pribadi yang mungkin mendapat jawaban subjektif, tapi tidak apa selama memang itu kenyataannya.

Penulis dalam mengambil keputusan bervariasi. Ada yang gercep (gerak cepat)… apalagi urusan diskon be-ol (belanja online) yang dimulai pukul 00.00 wib… terkadang pertimbangannya hanya beberapa detik hehehehe… nggak kalah sama ibu negara.

Photo : Helikopter lewat langsung nggak pake mikir, jepret / Dokpri.

Nah ada juga keputusan yang penuh pertimbangan dan perhitungan juga diskusi intens dengan pendamping hidup alias ibu negaraku hingga akhirnya akhirnya dilengkapi oleh kenekatan berjamaah dan tidak lupa senantiasa membaca Basmallah… karena ini memang sudah ada takdirnyahhh…

Pernah juga sih ngambil keputusan nggak pake mikir, langsung aja putuskan dan ambil…. tapi cepat atau lambat lebih sering hadirkan sesal karena ternyata keputusan yang diambil kurang tepat dan cenderung ngasal.

Tapi mikir kelamaan juga jangan, sayang nanti momentumnya terlewati… maka keluwesan mengambil keputusan dalam pilihan-pilihan yang senantiasa tersaji di dalam perjalanan kehidupan fana ini adalah keharusan.

Selamat mengambil pilihan dan menjalani indahnya dinamika kehidupan, Wassalam (AKW).

Obat Ngantuk.

Obat ngantuk mujarab.

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala malam merambat hingga tiba dipergantian hari, sang kantuk seolah menjauh dan menyisakan raga yang bugar sambil ditemani alunan musik populer melalui earphone kesayangan ini. Tak ada tanda-tanda mengantuk sehingga jari jemari lanjut mengetik dan sesekali menjawab pesan whatsapp yang masih muncul di layar laptop.

Jam 01.00 dini hari, segera beres-beres peralatan kerja dan beringsut ke peraduan, tidak lupa sikat gigi dahulu agar memberi kesegaran dan menjaga kesehatan. Ternyata mengantuk perlahan-lahan datang hingga akhirnya terlelap dalam dekapan ketenangan malam yang beranjak menuju awal pagi.

Itulah awalnya kejadian pagi ini, terbangun sahur dalam kondisi lulungu, lulungu itu adalah teu acan kumpul sukmabayuna… halah apalagi ini istilah, maksudnya…… terbangun dalam kondisi masih ngantuk dan belum konsentrasi penuh, jadi kayak orang bego, bingung bingung. Rasa kantuk masih kuat mencengkram sementara waktu sahur sudah mepet… maka melahap nasi dan kudapannya dengan terkantuk-kantuk….. siapa suruh begadang hayoooo…

Shalat shubuh dipaksakan harus terlaksana sebelum rasa kantuk ini menguasai raga. Semangaaat….. lalu bergeraklah ke kamar mandi seiring kumandang adzan yang terdengar dari kampung sebelah, untuk menyikat gigi dan berkumur dengan listerine rasa siwak (lha jadi iklan merk, padahal belum ada permintaan endorse… ya sudahlah… amal we)….. untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut, apalagi di bulan ramadhan yg lebih khusus wajib bermasker maka aura dari mulut semakin wajib dijaga hehehehe.

Ternyata…. obat ngantuknya ada di kamar mandi.

Tuntas menyikat gigi langsung sambar botol berisi cairan kuning terang dan dituangkan di tutup botolnya….

Baru saja lidah menempel di tutup botol obat kumur, “Kok ada yang beda ya?… ini aromanya lebih tajam dari biasanya tapi tidak asing baunya?”

Kena di lidah terasa ada rasa pahit yang mendera, padahal baru satu sentuhan lidah saja.

Photo : Listerine & Dettol Antiseptic / dokpri.

“Astagfirulloh…. fuih.. fuihhh….” ….Reflek mulut disemburkan…. eh cairan yang ada dilidah disemburkan keluar karena ada rasa panas yang mengintimidasi lidah. Segera berkumur dengan banyak air dan menyemburkannya di wastafel, ternyata air semburannya berubah menjadi warna putih.

Usut punya usut, yang dipakai berkumur memang cairan kuning emas bening persis seperti listerine, tetapi ternyata ini adalaaaaaah…. Dettol AntiseptikAlamaaaak……. langsung berkumur-kumur berukangkali dengan air hangat…. aduuuuh.

Akhirnya segera berwudhu dan bersyukur masih diselamatkan dari berkumur dengan cairan dettol… ya sedikit sih nyobain…. tapi nggak full setutup botol.

Hilang sudah rasa kantuk berganti kesegaran penuh waspada dan kekhawatiran takut ada efek samping lainnya. Sampai siang menjelang sore, mata tetap segar dan badan terhindar dari lemas, ternyata itu salah satu cara kecil Allah SWT untuk mengingatkan hambanya agar memgendalikan rasa kantuk dan tetapi bisa beribadah sebagai bentuk syukur kepada-Nya.

Sebelum keluar kamar mandi, langkah yang penting adalah memisahkan botol listerine dan dettol, karena meskipun isinya sama ternyata rasa dan gunanya agak jauh berbeda. Selamat berpuasa di hari ke18, Wassalam (AKW).

Bercocok Tanam 2 – Matoa.

Mencoba mindahin bibit Matoa sambil ngasuh.

Photo : Bibit Matoa berdesakan di pot / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Waktu bersama keluarga semakin terbuka di masa pandemi covid19 ini dan di satu sisi tingkat stres meningkat karena 4 minggu ‘terpenjara‘ di rumah. Tidam hanya bagi orangtua tetapi juga bagi anak-anak tentu menimbulkan rasa tertekan yang semakun kuat.

Nah, kita yang dewasalah yang semestinya lebih lembam memanage psikologis diri dan menguatkan mental bukan sebagai korban karena #stayathome tetapi menjadi bagian pembaharu bahwa dengan diam di rumah, banyak hal yang mungkin bisa dilakukan sehingga bisa mengurangi dan menghilangkan rasa bosan dan tertekan yang mendera.

Nah, aku mah sementara agak seret nulis tentang kopi atau kohitala, karena memang pas moo nulis idealnya sambil meminumnya jadi si rasa misteri kopinya langsung bisa dinikmati dan dituangkan dalam kata plus kalimat.

Bulan ramadhan mah bahaya, sruput siang-siang pasti nikmat, tapi khan membatalkan shaumnya…. sayang itu.

Photo : Sudah dipindahin ke polybag / dokpri.

Giliran di malam hari, waktu yang tersedia sangat terbatas. Sesudah tarawih harus berbagi tugas dengan orang rumah untuk saling membantu membereskan urusan domestik karena pembantu sudah lama dirumahkan karena pandemi covid19 ini. Trus klo maksain menggelar prosesi manual brew, pasti akan direcoki anak kesayangan yang antusias dengan kopi, ikutan nge’grinder, mindahin bubuknya ke kertas filter V60 dengan tingkat rata-rata tumpahnya 70%….. akhirnya nambah kerjaan dan malah bisa bikin kehebohan…

Jadi.. cara terbaik, yaaa…. nyeduh manual agak ditahan dulu, lebih banyak menikmati kopi asli yang sudah jadi seperti coldbrew biji kang yuda dan juga kopi susu biji pak asep.

Maka, bercocok taman eh bercocok tanam inilah yang menjadi jalan tengah yang relatif multiguna. Bisa menyalurkan hobi menulis, mengasuh anak sekaligus memperkenalkan anak untuk mencintai bumi dengan terlibat rebutan ngisi tanah ke polybag dan plusnya juga persiapan bakal panen sayur-sayuran dikala pandemi ini entah kapan usai.

Kali ini dengan bermodal 4 buah polybag dan mindahin tanah subur dari karungnya, cukup buat ngasuh anak kesayangan sekitar 2 jam. Meskipun maksudnya membantu tapi ternyata membuat tanah becacaran apalagi pas nemu cacing, langsung loncat dan berteriak histeris bikin heboh yang dirumah. Tapi over all, jadi acara kebersamaan yang menarik.

Setelah 4 polybag ini terisi tanah kompos ditambah dua pot plastik maka dilanjutkan dengan memindahkan tanaman hasil semaian alam dan semaian sengaja. Semaian alam adalah ada 3 bibit pohon jeruk yang tumbuh dari biji yang dilemparkan kalau tuntas mengunyahnya. Itu adalah jeruk kumkuat yang manis asam tapi bisa dimakan tanpa perlu kupas kulitnya, pernah ditulis DISINI.

Nah… lalu ada satu pot berisi 10 pohon matoa ukuran tinggi 10-15 cm.

Tahu matoa nggak?

Klo googling… nemunya bisa matoa sebagai nama pohon juga matoa sebagai merk jam tangan, coba geura.

Photo : Bibit matoa sudah berjajar sama jeruk / dokpri.

Nah matoa ini adalah berasal dari biji matoa yang sengaja disimpan di pot setelah daging buahnya dimakan sama aku dan keluarga. Rasa dagingnya lembut dan manis harum seperti cempedak dengan bentuk dagingnya mirip buah rambutan dengan kulit yang agak keras tinggal dibuka pake tangan atau digigit dulu.

Matoa ini pohon asli papua dan ukuran pohonnya besar dengan tinggi rata-rata 18 meter…. walah eta mah di hutan… gimana donk?….ya gpp…. makanya dipindahin ke polybag, siapa tahu ada yang mau nanam di tempat yang luas atau di kebun… lumayan khan.

Atau siapa tahu, di polybagpun ternyata bisa berbuah… lebih luar biasa itu. Tapi sekarang mah yang penting dipisah dulu aja pake polybag.

Inilah aktifitas bercocok tanam kali ini, karena prinsipnya jelas harus cocok dulu baru boleh menanam, karena kecocokan adalah hal yang utama kata Pak Komut BJB. Selamat menjalani shaum di hari ke-17. Wassalam (AKW).

Pacar Cina.

Harus konsentrasi penuh untuk dapet pacar cina.

CIMAHI, akwnulis.com. Salah satu efek pandemi covid19 adalah fenomena belanja di supermarket atau di pasar juga agak berubah. Tidak hanya ibu-ibu, euceu-euceu, teteh-teteh atau ma nini yang mendominasi tetapi juga pemuda, bapak-bapak hilir mudik memilih belanjaan dengan memegang secarik kertas atau menatap layar hape yang berisi daftar pesanan belanjaan yang di reques istri, anak dan keluarga.

Trus ditambah dengan gerakan yang sedikit tergesa plus tatapan saling waspada sambil semua kompak menggunakan masker penutup hidung dan mulut…. sangat sulit menemukan senyum saat ini hehehehe…. yang senyum banyak sebenernya cuman ketutup sama masker.

Kali ini permintaan membeli sesuatu hadir melalui pesan di aplikasi whatsaps dan tanpa banyak cingcong sembari bergerak pulang kantor maka berusaha mampir dinsalah satu supermarket di bilangan pasteur.

Memasuki parkiran terlihat agak penuh kendaraan yang parkir, jangan-jangan banyak orang… tapi gimana atuh?.. ya sudah protokol kesehatan dijalankan selalu. Pake masker sudah pasti, baju lengan panjang sudah dipake, tambah sarung tangan plastik yang buat bikin kue.. baru deh masuk ke supermarket dengan waspada jaga jarak dan jaga hati.

Nah… giliran mencari barangnya.. bingung, ingetnya ‘pacar cina’, pas mau nanya ke si mas pelayan, kelihatan lagi sibuk sementara klo keliling semua rak… kapan dapetnya?… ya udah gugling dulu dengan keyword ‘pacar cina’……

Tring… lhaa kok yang muncul cari pacar cina (chinese)?…. atuh bakal marah besar ibu negara klo cari pacar lagi… menghianati komitmen cinta dan kasih sayang donk… eh tapi beneran ini hasil gugling urusannya cari pacar beneran… puyeng dech.

Sesaat menghela nafas sambil berfikir dan mata berkeliling mencari ‘pacar cina’… tapi belum terlihat saja. Akhirnya mencoba minta tolong pelayan tokonya, “Mas, pacar cina sebelah mana?”.

Euh…. sebelah mana ya, bentar

Si mas nya nanya lagi ke pelayan wanita, lalu dengan gerakan tegas menunjuk ke sudut kanan di tempat bumbu-bumbu masakan berada… meluncuuur.

Diubek-ubek dari rak atas hingga bawah, kok belum kelihatan nich ‘pacar cina’… hingga hampir menyerah… eh, tapi itu kayaknya terhalang bungkusan gula merah.

Tadaaa…. akhirnya dapat barang penting yang dicari, sang pacar cina.

Ternyata….. nama resminya adalah sagu mutiara atau mutiara sagu… hiks hiks hiks… keliatan banget kagak gaul bapak ini, maklum tahunya tinggal ready di mangkok dan dimakan dengan ceria.

Atau mungkin excuse-nya karena lagi menjalankan ibadah puasa, jadi di sore hari konsentrasi menurun sehingga lupa dech istilah sagu mutiara hehehehehe.

Alhamdulillah setelah dapat, berlari menuju kasir, bayar dan ngeeeng….. bergerak pulang membelah jalan yang relatif lengang menuju rumah kediaman.

Sebuah nilai yang didapat adalah jangan meremehkan nama bahan makanan atau kudapan, sehingga bingung sendiri karena lupa istilah yang seharusnya.

Selamat berbuka puasa untuk hari ini kawan, pacar cina atau sagu mutiaranya bisa diolah sebagai teman berbuka puasa. Wassalam (AKW).

Perahu Layar.

Jadwal Ngasuh di hari Libur…

Photo : Perahu layar spidol / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Perlahan tapi pasti sang pagi sudah mulai bergegas menuju panasnya siang, sementara aku masih mengasuh anak semata wayang yang sedang senang-senangnya bermain dan membuat berantakan segala macam. Apalagi Ibundanya sedang berdinas, maka praktis waktu mengasuh adalah sebuah keharusan.

Usia 4 tahun lebih adalah usia anak yang sangat tidak mau diam, selalu penasaran, ingin mencoba apapun tanpa takut dengan dampaknya… lha iya maklum anak-anak. Maka orang dewasanyalah yang lebih waspada, melihat gerak geriknya.. atau sekalian melebur bermain bersama, tertawa dan membuat anak nyaman bermain tanpa merasa sedang diawasi.

Lagian kita sebagai orangtua pasti lebih jago donk untuk berperan sebagai anak kecil, karena kita semua orang dewasa pernah menjadi anak kecil, “Coba acungkan tangan yang lahir langsung tiba-tiba jadi dewasa?…..”

Photo : Perahu layar berpenumpang / dokpri.

Pasti nggak ada, nah sementara sepintar-pintarnya anak, mereka belum punya pengalaman menjadi orang dewasa, maka kita harus memakluminya.

Meskipun, terkadang emosi kita berbuncah, suara meninggindan teriakan yang berkibar manakala melihat anak kesayangan nakalnya bukan main, dari mulai tak mau diam, naik turun meja makan, numpahin air di meja, naik ke kulkas sendiri, ngawur-ngawur terigu, dan beragam aktifitas yang menggetarkan hati…. maksudnya menyedihkan hati maka semuanya adalah berpusat pada pengendalian emosi.

Contoh kesabaran orang tuaku dalam menghadapi kenakalan diriku, bisa di baca di Ngendok-Ramadhan. Betapa menjadi orangtua yang baik itu butuh perjuangan & kesabaran.

Photo : Spidol faber castle / dokpri.

Hari ini.. eh hari minggu kemarin, adalah bermain bersama anak dengan memanfaatkan spidol susun dari fable castle, awalnya hanya menggambar-gambar tetapi setelah bosan, tertarik dengan gambar di kotak tempatnya ternyata bisa dibentuk menjadi bentuk lain dengan disertakan 9 buah konektor plastik yang bisa merangkai spidol spidol ini menjadi bentuk yang menarik.

Tadaaa….. salah satunya adalah membuat perahu layar… setelah mengutak-atik dan mencoba-coba, akhirnya berhasil juga (bapaknya) bikin perahu layar dari spidol. Anak senang dan bapak senang, menjalani hari libur dengan bermain bersama sambil menunggu ibunda nanti pulang kerja. Wassalam (AKW).

Melepas Dendam – Ramadhan

Belajar memaknai shaum dengan umurku..

KBB, akwnulis.com. Terkadang hardikan kalimat bisa lebih tajam dari sebilah pisau yang tajam, menyayat ke ujung hati dan bertahan lama dibawah uluhati dan menjadikan dendam tak bertepi.

Halah bahasanya begitu mengerikan, emang mau cerita apa?... ”

Ah kamu mah, biarin atuh, lebay dikit. Daripada gabut nggak jelas mengerjakan apa di rumah maka mari bercerita tentang apa saja.

***

Siang itu, aku, asep, ilma, opik, agus dan adut bermain di area pasar selasa karena kebetulan sedang libur sekolah bulan ramadhan. Betapa menyenangkannya berlarian sambil tertawa-tawa, terlarut dalam permainan ‘ucing-ucingan‘ dan ‘ucing sumput’ (permainan petak umpet).

Klo permainan ucing-ucingan adalah satu orang jadi ‘ucing’ dan dengan hitungan 10 maka boleh mengejar mangsa dan menyentuhnya untuk menjadi ucing berikutnya, dan selanjutnya ‘ucing baru’ mengejar calon ucing selanjutnya dan selanjutnya…. pokoknya seruuu.. dengan kesepakatan tidak tertulis bahwa area pelariannya hanya sekitar pasar yang sedang kosong, karena hanya ramai di hari selasa saja (makanya namanya pasar salasa).

Saling berkelit, berlari secepat mungkin, gaya menghindar sekaligus naik ke atas bambu-bambu tempat penyekat los – los pasar hingga nyampe ke kerangka atap…. pokoknya nggak mikir jatuh, yang penting tidak kena sentuhan ‘ucing’ dan jadi ‘ucing berikutnya’.

Dari sekian banyak los pasar ini ada beberapa bangunan depan yang memang berpenghuni dan menjual dagangan baik sebuah warung Kang Uya, juga ada Tukang Jahit Mang Atang, termasuk tukang bubur Bi Eni dan satu lagi warung jual masakan… eh didepannya ada juga toko mebel ukuran kecil.

Nah keributan kami bermain, terkadang melewati aktifitas jual beli mereka, dan mayoritas tidak mengganggu, apalagi Mang Atang, meskipun kami masuk ke tempat jahitannya dan sembunyi dibawah mesin jahit, terkadang dilindungi… usut punya usut.. karena salah satu peserta aktif geng permainan kami adalah anaknya Mang Atang yaitu cep Ilma.

Ketika kami sedang melintas sambil agak merunduk di dekat warung Bi Eni, tiba-tiba, “Heeey, barudaak garandèng waè, arindit siah tong arulin wae didieu!!!’ Disèblok siah” (Hey anak-anak ribut melulu’ PERGiii.. jangan main diSINI!!!’ Akan saya siram yaa)….

Bagaikan halilintar menyambar pendengaran kami, membuat hati ini berdebar dan mata berkunang-kunang. “Kenapa bibi bertubuh besar ini marah-marah?”

Kami saling berpandangan, ini bukan permainan ucing-ucingan kami yang pertama, sudah sering dilakukan, kenapa baru sekarang menghardik dengan begitu keras, mengapa?

Permainan langsung break dan digelar rapat terbatas, otomatis status ucing dan non ucing gugur dengan sendirinya. Semua duduk melingkar di los D14 posisinya agak di belakang tetapi dasarnya sudah disemen sehingga enak dipake duduk dan mudah dibersihkan dari debu dan kotoran yang ada.

Ini tidak boleh dibiarkan”

“Kemerdekaan bermain kita sudah direnggut hari ini”

“Ayo lawan”

“Tunjukan kekuatan kita”

Wah betapa heroik kami semua membahasnya, padahal jelas-jelas hari masih panjang menuju beduk buka puasa.

Waktu itu kami belum paham dengan emosi orang dewasa, mungkin saja Bi Eni sedang ada masalah atau pe-em-es sehingga sensi terhadap kegaduhan kami, tapi yang terasa oleh kami adalah kesewenang-wenangan saja.

Segera berbagi usulan untuk membalas perbuatan ini, ada usulan bikin keributan bermain saja di depan warungnya… tapi takut dihardik lagi dan disiram air kotor.. itu khan berabe.

Eeemp apa yaa

Semua wajah kawan-kawan begitu serius memikirkan ‘revenge’ tanpa berfikir dampak apapun, maklum kami khan anak-anak yang belum bergikir panjang, baru bisa memaknai kehidupan dengan bermain.

Tiba-tiba, Asep bergerak menangkap seekor bebek yang kebetulan ngadèdod disamping tempat kami meriung (berkumpul),

Weeek….. weeeek, weeeek.. bebeknya berteriak-teriak dan meronta, tapi kalah oleh kempitan Asep, teman kami yang miliki badan paling besar.

Asep berkata, “Ini bebek Bi Eni, hayu kita sembelih aja sebagai pembalasan kita”

Kami semua berpandangan-pandangan, ada rasa tidak setuju yang terpancar dari wajah-wajah belia kami. Sesaat waktu seakan membeku, tidak ada ucapan kata dari mulut mungil kami, semua terdiam dan berbicara hanya dalam hati atau kepala masing – masing.

Kayaknya keterlaluan kalau sampai bebek tak berdosa ini kita sembelih tiba-tiba” Ilma berkomentar dan ditimpali oleh Adut, “Iya, lagian kita juga kali yang kelewat ribut”…. kami semua mengangguk dan sepaham dengan usulan terakhir.

Oke kawan, kita lepas ya bebek malang ini… pergi sanah!” Tangannya melepaskan pegangan bebek tadi dan membiarkannya pergi. Terlihat sang bebek begitu senang karena selamat dari kejadian mengerikan.

Kami semua akhirnya berbincang lagi dan bercengkerama sambil tertawa-tawa, dan seieing waktu menjelang adzan ashar, rasa kesal karena dibentak bi Eni perlahan pudar dan hilang, tiada dendam ataupun ingin memberi pembalasan karena itu hanyalah sebuah fragmen kehidupan.

Meskipun esok harinya dan esok harinya kamipun sering dihardik karena keributan yang kami lakukan, tapi kami terima sebagai bagian dari bentuk perhatian kepada kami anak-anak kecil yang sok dewasa dan selalu memaknai kehidupan ini begitu menyenangkan dengan berbagai permainan, persahabatan dan perhatian dari orang dewasa di sekitar kita.

Hari itu, kami belajar memaafkan dan belajar mengendalikan ketidaknyamanan hingga musnah tanpa ada niatan dendam pembalasan.

Selamat berpuasa di hari penuh berkah ini. Wassalam (AKW).

Ber-mini hidroponik.

Isi waktu dengan buat sesuatu…

CIMAHI, akwnulis.com. Sebenernya paket ini sudah berpindah tempat beberapa kali, hingga akhirnya diambil dan disimpan ditempat yang mudah dipandang mata. Dengan tujuan manakala niat dan kesempatan waktu berpadu, ini adalah saat yang tepat untuk membuka paket dan mengerjakannya sesuai dengan manual book yang menjadi bagian tak terpisahkan dari paket ini.

Ternyata, kesempatan itu datang dikala pembatasan pergerakan kehidupan diberlakukan, dengan istilah yang keren yaitu PSBB (Pembatasan sosial berskala besar)… awalnya sih masih kepleset nyebut PSPB (Pendidikan Sejarah perjuangan bangsa), sebuah mata pelajaran sejarah di jaman SMA…. eh jadi ketahuan nih generasi tua hahahaha… biarin ah, memang kenyataannya. Generasi grey millenial, generasi yang rambutnya udah sebagian beruban sehingga bercampur dengan rambut hitam maka muncullah rambut abu-abu… xixixixi maksa pisan… ya iyah atuh, daripada disebut generasi kolonial… itu mah terlalu atuh.

Plus bulan ramadhan yang penuh berkah sekaligus tantangan, niatnya mah tadarus terus-terusan tapi apa mau dikata, perlu juga aktifitas lain di rumah sebagai pemberi celah agar kebosanan karena #stayathome itu bisa disalurkan dengan beragam aktifitas yang memiliki nilai guna.

Maka paket hidroponik minipun akhirnya dibuka, sebuah paket yang berumur 5 tahun karena jika diingat-ingat lagi, pas awal pernikahan di tahun 2015lah paket ini didapatkan dari Bunda Agus… woalaaah udah lama banget atuh mas….

Tapi karena semangatnya adalah menghindari gabut non produktif. Dibukalah paket hidroponik ini dan dibaca manual book sebanyak 400 lembar ini dengan seksama dan sesingkat2nya.

Langsung mencari cutter, gunting dan pinset buat jerawat istriku untuk menyempurnakan proses awal menanam tanaman dengan media air.

Mulailah memotong busa sebagai media tanam dengan ukuran 2x2x2 cm, meskipun kenyataannya malah berukuran sangat variatif tergantung selera…. ya sudah yang penting waktu yang ada bisa dimanfaatkan nyata.

Potongan busa dicelupkan ke air dan ditata diatas nampan plastik seperti buat kue lebaran. Nah setiap busa kecil tersebut, di sobek sedikit oleh ujung cutter dan perlahan tapi pasti bibit sayuran yang terdiri dari kangkung, sawi sosin, selada kribo, bayam dimasukan ke dalam busa kecil tersebut dengan menggunakan pinset….. pekerjaan yang seperinya gampang tapi butuh ketelitian dan ketekunan.

Akhirnya setelah berkutat hampir 2 jam, tuntas sudah peletakan benih perdana sayuran di media tanam busa dalam rangka berhidroponik. Sedikit terhenyak karena bibit tanaman ini sudah tersimpan selama 5 tahun, tapi berfikir optimis saja bahwa mereka baik-baik saja dan bersiap bertumbuh menjadi sayuran alami yang siap dinikmati suatu hari nanti. Wassalam (AKW).