Kopi berbulu.

Udah lama nggak bikin sajak, nulis aah.

DEPOK, akwnulis.com. Sajak dulu yaaa…..

***

Photo : coffee & cat / dokpri.

Pertemuan dengannya tidak disengaja
Tetapi itulah kejadian nyata
Semua terjadi apa adanya
Tanpa ada yang bisa menghalanginya

Plang merah sebagai penanda
Menarik raga untuk memasukinya
Ternyata aneka kopi menyambut dengan tangan terbuka
Bersiap dinikmati dengan berbagai cara

Terpilihlah kopi gayo arabica
Diseduh manual dengan filter setia
V60 memberi sensasi pasti
Aroma rasa dan keasaman nyaris sempurna

Disaat menunggu kedatangan kopi
Disitulah dirimu menanti
Lembutnya dirimu menggetarkan hati
Menyegarkan fikir setelah perjalanan tanpa henti

Sambil membaca aneka buku
Kamu tersenyum hilangkan kaku
Mencoba berbincang diantara kuku
Malam termangu menjadi haru

Para pembaca tidak usah mengharu biru
Ini hanya pertemuan terbaru
Sejumput raga diriku
Dengan seekor kucing berbulu

***

Wilujeng ngopay… eh jangan sekarang mah, ntar batal. Wassalam (AKW).

Belajar ‘Masa Bodoh’

Bersikap masa bodoh itu ternyata ada kitabnya pren, cekidot.

Akwnulis.com, Padang. Duduk di deretan kursi emergency pesawat Boeing 373 Maskapai penerbangan Express Air, begitu melegakan. Memberi ruang kebebasan bagi kedua kaki karena bebas menari tanpa menumbuk belakang kursi penumpang pesawat di depannya.

Perjalanan 2 jam ini juga yang menuntaskan membaca sebuah buku berjilid orange yang miliki judul provokatif ‘Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat’ Karya Mark Manson yabg diterbitkan 2 tahun lalu (2016) di New York, AS oleh Penerbit HarperOne… tentu dalam bahasa inggris.

Yang tuntas dibaca sekarang adalah versi terjemahan terbitan PT Gramedia Widiasarana Indonesia Cetakan VIII, Agustus 2018 dialihbahasakan oleh F. Wicakso. Untuk sampul tidak jauh berbeda dengan versi aslinya.. cuman beda bahasa saja… Ya iya atuh ih.

***

Siapa Mark Manson?”
“Mengapa buku karya perdananya menjadi buku terlaris versi Newyork Time dan Globe & mail?”

Dua pertanyaan yang menggantung, tetapi kembali ke judul…. “Masa bodoh ah, baca aja”

Maka disela kesibukan kerjaan sehari-hari, buku orange ini ikutan menjadi kawan sejati karena belum baca ampe habis. Termasuk rapat malam hari bersama bos besar, sambil menunggu tamunya hadir, buku ‘Seni Masa Bodoh’ ini sambil dibaca dan di nikmati.

“Buku apa itu?” Suara berat Bosku menyentak keseriusan membaca buku dan membuyarkan gaya masa bodohku.

Ini buku baru bos, buku masa bodoh!”

“Liat!” Segera buku orange ini beralih, dilihat jilidnya, jidat Bos sedikit berkerut. Dibalik sampul belakang, baca sinopsinya. Trus buka-buka beberapa halaman, lalu muncul komennya, “Buku apa ini?, nggak ilmiah! Baca buku itu yang berbasis riset jangan asal nulis!”

Aku hanya tersenyum dan terlintas satu kalimat indah di kepala, “Ah masa bodoh, aku suka buku ini dan akan dituntaskan membacanya.”

Segera buku orange ini disimpan, dijauhkan dari jangkauan Bosku karena meeting malam segera dimulai… jengjreng.

***

Buku ini menjadi pelepas dahaga setelah sebelumnya mendapatkan pencerahan dari The Legend Bapak Indrarto sewaktu sarapan eksklusif di Hotel Polonia Kota Medan beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 30 Agustus 2018.

Beliau memberi sebuah tips jalani kehidupan dan berbahagialah dengan prinsip, ‘Jika Kamu sudah menemukan suatu kebenaran, maka Yakinilah dan Masa Bodoh dengan urusan lainnya’ termasuk memberi bocoran tentang referensi buku ‘masa bodoh‘-nya berjudulBo Wero’yang hingga tulisan ini dibuat, belum berhasil menemukannya.

***

Buku Mark Manson ini menawarkan sebuah ide yang memaksa kita untuk memaknai kembali kehidupan ini dengan bahasa yang provokatif tapi efektif, yaitu ‘masa bodoh’.

Jadi bakalan seru baca buku ini bagi yang pengen belajar ‘masa bodoh’, karena akan terjadi pertentangan alami antara sikap ‘masa bodoh’ dengan keinginan untuk membaca buku ini.

Jangan salah… halaman awal buku ini membuka wawasan tentang Charles Bukowski, konsep lingkaran setan, sampai juga ke pemikiran Albert Camus hingga Hukum Kebalikan Filsuf Alan Watts… dan banyak lagi.

Secara maknawi hakiki, di halaman 15 dan beberapa halaman selanjutnya langsung mengingatkan tentang prinsip regiliusitas yakni mengingatkan kefanaan, mahluk yang bernama manusia itu semua sedang antri menuju titik akhir kefanaan yakni Kematian.

“Penasaran?”

…………. teng….. (sunyi tiada jawab)

“Jangan masa bodoh dulu pren, minimal munculkan rasa penasaran buat baca buku ini,… klo nggak niat beli… aku pinjemin dech”

***

“Para penumpang yang terhormat, kita semua sudah mendarat di Bandara Internasional Minangkabau….dst”

Pengumuman merdu dari sang pramugari Express Air menuntaskan pembacaan ide ‘masa bodoh’nya Mark Manson, sekarang nggak boleh masa bodoh dulu, harus turun dari pesawat jangan sampai terbawa kembali oleh pesawat yang akan terbang menuju rute selanjutnya. Wassalam (AKW).

***

Klo moo nyari bukunya di Toko buku, warnanya orange, judulnya :

Sebuah seni untuk bersikap bodo amat (The Subtle Art of Not Giving a F*ck)
Pendekatan yang waras demi menjalani hidup yang baik.
Karya Mark Manson.

***

Bo wero

Diskusi ringan yang berbobot bersama The Legend.

Photo : Capture jilid buku ‘bo wero’ / dokpri

Buku adalah jendela jiwa penjaga raga agar terus merangkai makna dari setiap detik perjalanan dunia. Serasa sudah banyak buku dan gejala kehidupan yang telah dibaca, ternyata itu nggak ada apa-apanya.

Itu dibuktikan di kala bersua dan diskusi bersama sang Legend, beliau membahas perjalanan hidupnya. Romatika ke-keraskepalaan-nya, gaya dan usul nylenehnya hingga berada di posisi antagonis berhadapan dengan aturan sistem yang melingkupinya. Sampai mengisi waktu pensiun dengan berkegiatan ringan, tenang dan bersahaja.

Beberapa judul – judul buku yang sudah di lalapnya menjadi bukti haus ilmunya beliau, Pak Indrarto The Legend.

“Kamu tahu buku berjudul -Bo Wero-?”

“Euh….. belum pernah baca pa..” menjawab pelan sambil tergagap. Pertanda memang belum baca dan otomatis tidak paham isinya.

Pa In tersenyum, “Nggak apa-apa klo belum tau. Itu adalah buku yang pernah saya baca. Isinya mbling, nyeleneh, tetapi punya makna mendalam tentang kehidupan dan menjadi referensi keteguhan saya dalam menggenggam prinsip aturan”

“Waaah…. keren tuh buku pak”

“Tapi kayaknya udah langka sekarang buku itu” kata beliau. Kembali anggukan kepala meng-amini.

Tapi otak bergerak dan bersiap nyari di internet, buku apa itu.

***

Selesai shalat isya di tengah malam, segera membuka internet di smartphone dengan kata kunci ‘Bo Wero’

Jreng…..

Beberapa blog mengulas singkat tentang buku ini yang merupakan karangan Wandi S. Brata terbitan Gramedia Tahun 2003 dengan judul lengkap : Bo Wero – Tips mbeling untuk menyiasati hidup. Ada 2 cerita yang dimunculkan dan semakin menarik nich buku.

Bo wero adalah singkatan dari peribahasa jawa yaitu ‘ombo wero wero’ yang artinya menggambarkan sesuatu yang sangat luas tanpa batas. Trus untuk dapetin suasana yang tenang dan damai tanpa batas itu tidak harus di beli dengan mahal karena sebenarnya itu semua ada dalam diri kita, cuma belum tau bagaimana cara menemukannya (gitu kata mas Andana di blognya).

Jadi makin penasaran….

Ada beberapa penawaran penjualan buku di bukalapak tetapi ternyata stoknya habis, eh di Amazon juga ada atau via aplikasi seperti goodreads. Sementara mah capture dulu cover bukunya aja dulu. Ntar moo hunting ke Toko Buku Gramedia atau mungkin di Pasar Buku Palasari Bandung.

***

Balik lagi dengan Pak Indrarto Sang Legend, diskusinya terus mengalir dan lagi-lagi judul buku yang muncul menjadi basic referensinya juga teori – teori filsafati yang menjadi warna sikap serta perangai beliau yang sering jadi kontroversi.

Penasaran?…

Tunggu yach tulisan selanjutnya. Wassalam (AKW).

Buku Pamungkas

Berakhir sudah tantangan 7 dari 7 di Medsos FB, ternyata buku pamungkaslah yang sering bikin rasa ini tidak karuan, sungguh….

Setelah dimulai memposting buku favoritku di FB klik DISINI. Maka tiba saatnya memposting buku pamungkas.

Berikut dokumentasinya dalam dwibahasa…. cekidot.

Buku pamungkas tina 7 buku kaporits..

Cunduk waktu nu geus tangtu, nincak mangsa mah teu bisa kukumaha. Genep dinten dugi ogé kana pamungkasna, mosting buku nu janten kaporit éh favorit sakumaha panyuhunkeun ti Tétéhkuh Melia Handayani.

Tapi geuning mosting buku pamungkas téh pinuh kabingung sabab geuning rada beurat mutuskeun buku naon nu pang difavoritkeun.

Ari favorit téh artina éta buku ngandung peran strategis keur simuing. Mineng dibuka jeung diilo. Malah mah mineng sedih mun geus mukaan lambar kahiji nepi ka ahir.

Hampura ka sadayana, hapunten kanu sadidinten, bilih harepan mosting pamungkas buku kaporits pamungkas téh teu sami sareng ékpéktasi.

—-

Tiba saatnya memposting buku terakhir dari tantangan buku favorit selama 7 hari berturut-turut.

Sulit sekali memutuskan buku mana yang harus ditampilkan. Tetapi setelah berfikir panjang dan merenung untuk hilangkan bingung, sebuah pilihan harus diputuskan.

Maafkan jika buku favorit terakhir ini tidak sesuai harapan, tapi inilah buku yang paling sering dibaca dan sering tak kuasa menitikkan airmata.

Karena ini buku terakhir atau pamungkas maka dengan senang hati kami menantang bapak Pamungkas Hendro untuk memposting buku kaporitsnya 7 hari ke depan, 1 buku perhari.. ditunggu.

Haturaaaan…..
Nyanggakeun..

Silahkann……..

(Bukan) Resensi ‘Bagaimana Saya Menulis’

Sebuah catatan kecil (bukan) resensi buku dari kumpulan pengalaman dan perjalanan penulisan para pegiat Gerakan Birokrat Menulis.

Photo : Buku Bagaimana Saya menulis + kopi / dokpri.

Malam telah kembali sunyi, gelak tawa anak semata wayangpun telah tergantikan dengkuran halus sambil mulut mungilnya tak mau lepas dari nenen ibunya. Untaian doa rutin sebelum tidur mengantar mereka terlelap di malam ini. Perlahan melirik jam meja ternyata sudah pukul 23.05 Wib, persiapaaan……

Me time mulai berlaku. Berjingkat keluar kamar dengan suara minimal. Buka tutup pintu ekstra hati-hati. Bergeser ke ruang makan, menggelar koran sebagai alas di meja makan karena khawatir ada tetesan sisa minuman atau ceceran makanan yang bisa merusak mood karena harus bersih-bersih dan lap-lap dulu.

Amplop besar warna coklat yang menyambut kedatanganku tadi ba’da isya di ruang tamu begitu menggoda untuk segera dibuka dan dibaca. Meskipun raga masih terasa lelah karena sabtu tanggal merah inipun harus dinas luar ke wilayah Cirebon dan Majalengka. Tetapi klo lihat ada paket kiriman buku baru, tidak ada kata kompromi untuk segera dinikmati. Ditemani seduhan kopi Arabica Java Preanger ‘Gunung Tilu’ versi pribadi pake V60, rasa segar menyeruak dan paket buku segera dibedah.

Dua buah buku mungil bersampul semburat mentari sore yang menjadi latar alami seseorang termangu di dermaga sederhana di tepi pantai berjudul ‘Bagaimana Saya Menulis’ memberi energi baru untuk melahap 127 halaman tanpa jeda. Karena berisi pengalaman dan perjalanan penulisan para pegiat gerakan birokrat menulis.

Eh jeda kok disaat menyeruput kopi hangat seduhan sendiri, nikmat tak tergantikan.

Buku yang disusun oleh para penggiat gerakan ‘Birokrat Menulis’ ini mulai dibolak balik dan entah apa yang mendorong diri ini untuk baca dari halaman 127 dulu. Berjumpa dengan para penulis yang berkontribusi lengkap dengan photo dan CV singkatnya sebanyak 13 orang. Para birokrat yang sukses menulis dan karyanya telah bertebaran di berbagai media internal ataupun media massa. Jadi iri dech…

Mas Muji Santosa (Nyebut mas ah, soalnya moo pake pak atau bapak, kok jadinya serasa bikin nota dinas atau telaahan staf hehehe) yang sudah menginspirasi banyak orang dengan buku-buku tentang pengadaan dan kontrak. Dilanjut dengan tulisan Mas Raden Murwantara mengupas tuntas tentang penulisan Jurnal Ilmiah internasional yang begitu lengkap dari mulai persiapan hingga syarat-syarat. Menjadi tantangan pribadi untuk bisa membuat tulisan jurnal ilmiah dan berkelas internasional hungga bisa terindeks SCOPUS & SCIMAGO dengan impact factornya. Meskipun bahasa inggris pas pasan tapi yang penting khan keberanian untuk menuangkan ide dan gagasan seperti kata Bang Marudut R. Napitupulu. Jangan lupa ikutin tahapan proses mendengarkan – membaca – berbicara – dan terakhir menulis seperti yang terjadi disaat ikutan test IELTS.

Test IELTS atau International English Language Testing System, itu sodaranya TOEFL (Test of English as a Foreign Language), Sebagai syarat untuk kuliah di luarnegeri.

Photo : Peralatan nyeduh sang kopi / dokpri.

Lanjut yaa…….

Mas Ilham Nurhidayat yang aktif di majalah kantor hingga mempersiapkan pembuatan bukunya. Kegelisahan menjadi energi awal untuk menuangkan sesuatu menjadi tambang ide tulisan menurut mas Setya Nugraha, hingga filosofi jalinan kata dari Bang Mutia Rizal yang menggugah selera membaca dengan mencontohkan berbagai tokoh penulis dunia dan indonesia. Memaksa diri untuk terus setia membuka lembar berikutnya padahal jam dinding sudah melewati dini hari.

Menulis itu mengasyikan, apalagi bersua dengan seseorang dan lingkungan yang mendukung untuk terus menghasilkan karya seperti kata Mas Eko Heri Winarno juga Kakanda Andi P.Rukka yang hasil karyanya telah menghiasi perpustakaan National Library of Australia. Hingga tips keenam yaitu Write first-Edit laternya mas Ardero Kurniawan semakin membubungkan semangat untuk menggerakkan jemari ini menuangkan kata demi kata.

Mbak Nur Ana Sejati melengkapi dengan aktivitas catat mencatat itu sangat penting karena akan sangat membantu memahami apa yang sedang dipelajari. Didukung oleh Bang Adrinal Tanjung bahwa menulis itu tidak untuk menggurui orang lain tetapi menulis itu menggurui diri sendiri maka menulis itu bukan perkara sulit. Disusul oleh Mbak Pratiwi Retnaningdyah yang fokus pada konsepsi pelayanan umum dari pengalamannya di dalam dan di luar negeri, membuka pemikiran diri untuk terus menulis apapun khususnya kegiatan sehari-hari yang terkait pekerjaan atau profesi di jajaran birokrasi.

Dan…. terakhir tulisan yang tersaji adalah wejangan dari Bang Rudi M.Harahap berbagi tips agar bisa membuat tulisan berkualitas adalah peran mentor dan motivasi kita menulis sesuatu. Ide bisa muncul dimana saja maka gunakan fasilitas catatan di smartphone untuk mencatat topik yang menarik untuk ditulis. Serta segera tulis, tulis dan tulis.

Tak terasa bercengkerama dengan buku yang diterbitkan ‘Birokrat Menulis‘ telah usai. Meskipun masih ingin membolak baliknya, tetapi harus adil juga berbagi rasa dengan raga yang harus beristirahat juga untuk menyongsong hari esok yang senantiasa bahagia serta ceria.

Terima kasih mas Ardero Kurniawan atas paket bukunya. Semoga menjadi jalan kebaikan bagi kita semua dan tentu semakin suksesnya para punggawa serta anggota ‘BM’ dimanapun berada. Wabilkhusus BM semakin berkibar dan menjadi wahana berlatih dan menghasilkan tulisan bernas serta ilmiah untuk kemajuan bangsa.

Tak lupa gelas kedua seduhan kopi Arabica JP Gunung Tilu menutup sesi dini hari ini. Dentang jam dinding pukul 01.30 wib di hari terakhir tahun 2017 ini mengingatkan kembali untuk menutup percengkramaan dini hari ini. Wassalam. (Akw).