Mariottalatte Yogya.

Sebuah perjalanan, tugas dan harapan.

CONDONGCATUR, akwnulis.com. Pagi hari sudah kembali menikmati semilir angin kota Yogyakarta dengan memegang erat pinggang mas gojek yang melaju sedikit kencang karena sebuah permintaan. Udara segar dihirup bersama berbagai nuansa kenangan yang begitu kental di kota ini. Sulit memang melupakannya.

Melewati ruas jalan besar dan sesekali masuk jalan kecil plus menyusuri sisi kampus UGM dan terus menuju sebuah hotel yang tertera dalam surat undangan, Hotel JW Marriot Yogyakarta. Perjalanan 17 menit dari jalan sosrowijan ke lokasi. Setelah berterima kasih dan pijit tombol bintang lima dilanjutkan dengan prosesi photo selpi dengan background hotel yang dituju.

Cetrek…
Cetrek..

Ini penting guys, karena setiap photo aktifitas dinas ini bernilai rupiah. Tentu dengan pelaporan rutin dalam aplikasi kegiatan harian dilengkapi syarat lainnya. Kebetulan juga seneng photo selpi, jadi ya saling melengkapi hehehehehe.

Materi rapat nanti di bahas di nota dinas, dalam tulisan singkat ini lebih menyoroti sajian kopinya sekaligus tempat ngojaynya yaitu kolam renang, lha terlalu bertele-tele masa iya berenang di kolam ikan. Apalagi hotel bertabur bintang maka jelas standar kolam renangnya segede gaban. Entar ah, di jam istirahat coba beredar.

Ternyata, keinginan menggabungkan Ngojay (berenang) dan Ngopay (ngopi sruput kopi) langsung cespleng dikabulkan Tuhan. Pertama adalah ruang meeting dilantai 2 acara Kemenparekraf ini tersedia mesin kopi… yuhhhu… minimal espresso, latteĀ  cappucino, americano bisa direquest.

Setelah bersabar 24 jam lebih karena ‘gagal ngopi’ hehehehehe.. lengkapnya di tulisan ini YOGYA, KOPI & MATI. maka sekarang diberi jawaban dan kesempatan yang lengkap. Bisa ngopay daaan….

Kedua, ternyata pemandangan dari koridor depan ruang meeting tersebut adalah kolam renang infinity pool yang luas… Alhamdulillah lengkap sudah.

Maka sebelum acara resmi dimulai, langsung pesen kopi caffelatte dan mengabadikannya dengan background kolam renang.

Cetrek…. inilah hasilnya.

Sebuah gambar yang mewakili tema besar dari blog ini yaitu ngopay dan ngojay, memberi kesan tersendiri. Meskipun jelas bahwa ini bukan hanya kebetulan dan keberuntungan saja. Tetapi sebuah takdir dari Illahi Rabbi. Maka tunduk syukur dan berdua adalah sebuah ritual pribadi dari segala kemudahan ini. Baru setelah itu srupur tiada henti…. eh… maksudnya sruput dulu dan jika dimungkinkan pesan lagi. Karena petugas hotel yang menggawangi mesin kopi tetap setia berada disisinya dan disibukkan dengan reques para penikmat dan pecinta kopi yang hadir dari berbagai penjuru nusantara untuk hadir di meeting ini.

Sebuah nama tersemat untuk secangkir kopi ini, yaitu Mariotalatte Yogya. Maafkan jika terkesan maksa, namun itulah keindahan kata yang menjadi pengingat tentang sebuah rasa, kesan, tempat dan kenyataan.

Selamat ngopay dan diskusi kawan. Wassalam (AKW).

Yogya, Kopi & Mati

yogya dan kopi, bersabarlah.

SOSROWIJAN, akwnulis.com. Perjalanan kali ini adalah kembali ke kota kenangan, Yogyakarta. Tentu berbalut penugasan kedinasan, tetapi di sela padatnya jadwal harus bisa mlipir sedikit untuk menikmati si kopi hitam. Maka skenario dirancang meskipun eksekusinya menyesuaikan, ada plan A, plan B dan no plan alias spontan lihat situasi.

Ternyata yang kepake adalah No plan euy, karena keberangkatannya begitu mendadak acaranya cukup padat. Jadi harus pinter – pinter baca, yakni baca situasi.

Perintah datang di rapim dan tak banyak waktu berkemas. Langsung pesan tiket kereta untuk keberangkatan di malam hari. Tentu stasiun Bandung menjadi saksi, berangkat sendiri karena yang lain agak kesulitan kalau didadak untuk berangkat. Ya sudah, Bismillah.

Dengan perkembangan teknologi maka pemesanan tiket kereta dan hotel bisa dilakukan segera. Apalagi setelah vaksin 3 kali, sudah tidak lagi harus rapid tes antigen.

Nah kesempatan pertama menikmati kopi adalah cafelatte di stasiun bandung, akan tetapi harapan tinggal harapan. Waktu yang tersedia begitu terbatas sehingga pilihannya adalah bersegera memasuki stasiun dan mencari gerbong KA Mutiara Selatan yang akan menjadi tempat bermalam sambil bergerak menuju stasiun tugu yogya.

Kesempatan kedua adalah menikmati kohitala di restoKA atau menunggu petugas restoKA yang bergerak mendatangi penumpang secara berkala. Baiklah ditunggu di kursi saja sambil sedikit rebahan meluruskan badan dan pikiran karena akan menghadapi perjalanan dengan estimasi selama 8 jam.

Tapi lagi – lagi harus bersabar karena menu kopi hitam sudah keburu habis di gerbong lainnya. Hehehe gagal ngopay kedua kali. Maka pilihan terbaik adalah mencoba kontak istri dan anak dan ngobrol ngaler ngidul di telepon. Sudahlah malam ini dipastikan untuk beristirahat dulu.

***

Tepat jam menunjukan pukul 03.30 wib waktu yogyakarta. Raga ini harus turun dari gerbong dan bergegas keluar. Karena kalau tidak segera turun, akan terbawa pergerakan kereta selanjutnya, menuju pemberhentian akhir di stasiun gubeng Surabaya.

Maka setelah keluar area stasiun tugu bergegas menyebrang jalan dan memasuki jalan gang menuju jalan sosrowijan. Pede saja seperti yang sudah biasa di yogya, padahal bermodal petunjuk googlemap di smartphone. Tujuannya jelas sebuah hotel kapsul yang bernama The Capsule Hotel Malioboro.

Kok milih hotel kapsul sih?”

Ada beberapa pertanyaan senada dan jawabannya simpel saja. Itulah gayaku, menikmati menjadi backpackeran beberapa jam adalah kebahagiaan tersendiri. Sekaligus mengingatkan diri pada ujung kehidupan bahwa segala keindahan, kemudahan hidup ini akan berakhir pada kotak tanah nan sempit, gelap dan lembab dikala nyawa sudah tidak dikandung badan. Nah kotak hotel capsule ini bisa mengingatkan lagi itu semua.

Terkait sruput kopi masih harus menanti kesempatan dengan sabar. Sekarang saatnya meluruskan badan dan terlelap sejenak. Wassalam ( AKW).

Tebing Breksi bikin iri.

Menjajal Tebing Breksi meski tak direncana tetapi berakhir ceria. Edisi beredar di Jogja.

Perjalanan bersama setelah seharian melaksanakan 3 paket meeting dan kunjungan… itu ruar biasa.

Kunjungan terakhir ke Instalasi Pengolahan Air Limbah Sewon memberi pengalaman tersendiri, yang penasaran bisa Klik Disini IPAL SEWON.

Sekarang acara bebas dan segera suara mayoritas ibu-ibu yang berkuasa. Dari opsi kembali ke hotel versi bapak-bapak yang langsung pupus oleh jeritan ibu-ibu yang bersama-sama bersuara, “Breksi.. breksi.. breksiii!!”

Segera pilot elf pariwisata mengarahkan kendaraan sesuai harapan dan keinginan meninggalkan daerah Sewon Kabupaten Bantul menuju Tebung breksi yang katanya seksi… seksi apanya ya? Jadi penasaran.

***

Perjalanan terasa begitu singkat padahal sekitar 19Km-an.. maklum sambil ngalehleh kecapean alias tertidur pulas. Alhamdulillahnya nggak ada yang iseng motoin posisi terkulai karena semuanya tidur serempak kompak dan penuh kebersamaan ditemani musik alami dari mulut bapak-bapak… zzzzz… kerrr.. keeer.. woaaaah.

Gujleeg!!!, mobil melewati gundukan dan jalan berlubang. Membangunkan sebagian besar penumpang termasuk diriku. Ternyata sedang menanjak di jalan desa, jalan terlihat di beton mulus tapi ada beberapa gundukan yang harus dilewati perlahan. Jalanan sempit yang agak rawan jika ada bus pariwisata melintas, sehingga perlu bergiliran. Untungnya kami ber-16 pakenya mobil elf yang praktis dan bertenaga besar.

***

Tebing Breksi adalah objek wisata baru yang dikembangkan dengan memadukan dan mengedepankan partisipasi masyarakat untuk bersama-sama memanfaatkan bekas galian batu ini menjadi sebuah kawasan wisata yang ciamik. Tak berani berkomentar banyak karena harus dapet informasi primer dari narsum yang tepat.

Jadi cerita ini adalah apa yang di rasa oleh diri sendiri dan dibalut asumsi serta prediksi plus tungak-tengok dikit di wikipedia.. apa bener Tebing Breksi ini seksi?

Cekidot….

Dari jalanan kecil ada petunjuk belok kiri, elf menuju kesitu dan jalan sedikit menurun. Baru 50 meter, kami terperangah karena ternyata di hadapan kami sebuah tempat parkir yang besar, banyak bis pariwisata berjajar parkir dan tak terhitung jumpah mobil pribadi plus ratusan atau ribuan orang tengah asyik dengan kesibukannya masing-masing.

Tiket masuk gratis tapi dikenai biaya seikhlasnya… pantesan rame bingiiit.. khan kita mah seneng yang gratisan hehehehe.. yang bayar hanya parkir pas masuk kawasan tersebut, Motor Rp 2.000, Mobil Rp 5.000, Mobil dan bis pariwisata 15.000. Untuk pengunjung mah saridona (seikhlasnya)… asyik khan gan?

***

Shalat dhuhur asyar Jama qoshor di mushola outdoor yang bersih dan nyaman sekaligus tempat wudhu dan toilet yang bersih membuat betah berlama-lama. Deretan warung makanan yang tertata apik memanjang di kedua sisi dengan aneka makanan yang variatif. Plus meja kursi yang khas di depan warung masing-masing plus kursi meja kayu di trap bawah yang makin memanjakan pengunjung untuk bersantai.

Jangan lupa siapin kostum yang pas yaa…. kaos dan celana kargo atau celana pendek plus sepatu outdoor atau sendal gunung… itu yang pas. Tapi kalaupun pake batik ya gpp… harap maklum beres kondangan langsung wisata xixixixixi….

***

Pilihan berkeliling lokasi ada 2 pilihan kendaraan tapi masing-masing ada konsekuensinya.

Pertama, menggunakan kendaraan offroad berupa jeep yang sudah berjajar menanti. Tapi ya siap2 rogoh kocek agak dalam… kayaknya. Soalnya nggak nanya2 berapa tarifnya.

Kedua, skuter. Nah ini mah gratis karena singkatan dari ‘suku muter’ alias kaki yang bergerak. Gratisss tis.. bayarannya adalah bersyukur kepada Allah SWT sudah diberikan nikmat kesehatan termasuk kaki yang kuat tanpa keluhan apapun… Amiin Yaa Robbal Alamin.

Tebing pertama adalah sebuah tebing batu Breksit… nah itu dia kenapa disebut kawasan wisata tebing breksit, karena awalnya ini adalah tempat penambangan rakyat dan yang diambil adalah batu breksit. Digunakan sebagai bahan dasar ukiran yang bernilai ekonomi.

Trus ada penelitian para ahli dan hasil penelitian pada ahli geologi ternyata batu breksi ini masuk ke dalam golongan batu purba yang berusia ribuan tahun… jadi nggak boleh diambil atau ditambang sembarangan.

Trus gimana?…

Kebijakan pemerintah untuk menutup begitu saja tentu akan berdampak terhadap sumber mata pencaharian masyarakat. Maka dalam rangka menjaga urusan ferut yang fundamental ini, perubahan menjadi tempat wisata yang baru adalah pilihan cerdas.

Sehingga batuan breksit dapat lestari dan masyarakat tetap berseri karena tidak terganggu kehilangan periuk nasi.

***

Yang bikin menarik diriku ada beberapa hal meskipun kunjungan inipun sangat singkat dan dadakan, tapi biasanya yang singkat dan mendadak itu yang ngangenin… apa seeeh.

Pertama, sinergi masyarakat seakan terbangun sempurna (ini mah analisis subyektif awaminisme), siapa berbuat apanya jalan apa adanya, bagian tiket parkir, yang jualan makanan, jagain mushola dan toilet, jagain spot photo diatas bukit yang disetting dengan kreatifitas hingga penggunaan alat mekanik yang bisa bikin pengunjung duduk diatas sangkar burung berbentuk telur setengah dan dikerek 2-3 meter diatas tanah trus di photoin sama yang jagain nya… bayar nya?… nah ini yg kedua.

Kedua, pola pembayarannya sukarela alias saridona tapi tidak gratis. Dan itu berlaku sejak pintu masuk. Yang dipatok hanya parkirnya saja sementara untuk masuknya pengunjung… terserah yang penting ngasih.. keren khan? Itu tidak hanya berlaku di pintu masuk, tetapi di tiap spot untuk berphoto, petugasnya sukarela membantu, motoin dan tidak minta bayaran tapi tersedia kencleng atau tempat uang dengan nominal bebas…. jadi siapin recehan. Karena klo duitnya 100rebuan trus berphoto buat dipasang di medsos di 10 spot.. atuh kudu 1 juta khan… nggak bangeet hehehehe… tapi juga jangan ngasih 1000 perspot bro… ingat toilet aja 2000 rupiah hehehehe.

Ketiga, dukungan fasilitas parkir yang luas serta infrastruktur pendukung seperti bangunan warung2, toilet dan mushola yang nyaman… bikin iri dech.

Keempat, adalah kreatifitas menyambungkan dengan tempat wisata lainnya yang bertebaran di sekitar tebing breksi tersebut sehingga para pengunjung mendapat kesempatan pilihan wisata yang beragam.

Udah itu aja dulu ah… udah sore, sebelum meninggalkan area tebing breksi ini tak lupa mengambil photo semburat mentari sore yang seakan nempel dengan tebing breksi. Haturnuhun, Wassalam. (AKW).