Espresso Pagi

Sruput dulu pagi-pagi…. biar suegeer.

BANDUNG, akwnulis.com. Mata terdiam memandang segelas kecil cairan pekat yang mengharumi kenyataan pagi ini. Gelasnya memang kecil alias mini banget tetapi tulisannya sudah menjawab sepintas tentang kepenasaran pembaca yakni satu kata ‘Espresso‘.

Singkat kata bahwa espresso ini adalah istilah yang hadir begitu jauuh dari benua eropa sana, tepatnya di italia. Asal kata dari ekspress yang berarti cepat, yakni menyajukan kopi secara cepat dan bisa dihabiskan dengan cepat karena hanya sekali tenggak bisa segera tuntas.

Cocok dengan sifat generasi millenial dan zelenial yang semuanya harus serba cepat dan praktis guys. Tapi kenyataannya masalah cepat mungkin cocok tetapi masalah rasa itu berbeda. Generasi millenial dan zelenial ini cenderung kurang suka sajian espresso original alias 7-9 gram bubuk lembut kopi yang disemburkan air panas sebanyak 45 ml, tentunya semburannya bukan pake mulut karena akan menimbulkan kejijikan karena ada unsur cudah eh ludah tetapi menggunakan mesin kopi yang miliki standar sendiri. Karena rasanya original yakni kopi murni alias ada kepahitan yang nyata.

Sebagai bukti adalah lebih banyak kopi warna warni dengan aneka cairan sirup yang digandrungi. Plus elemen lain seperti boba, konyaku dan nata de coco.

Kalau penulis sih sudah masuk generasi antara, yakni antara 40 ke 45 maka lebih fokus saja menikmati sensasi kepahitan rasa yang hadir dari sajian secangkir kopi epresso saja. Airnya sdikit tapi ekstraksinya ajib sehingga mampu membuat lidah bergetar dan rongga mulut terdiam dalam sensasi kepahitan yang komprehensif.

Jika belum puas maka pesan lagi saja double shot espresso atau disebut juga dopio. Weleeh ternyata pahit bingit…. tambahkan saja dengan air panas maka namanya berubah menjadi secangkir longblack.

Itulah pesanan yang tersaji saat ini, secangkir longblack dan secangkir kecil espresso. Keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu ekstraksi bubuk kopi yang diproses via mesin. Juga sama-sama disajikan tanpa gula. Pembedanya adalah 1 elemen saja, longblack itu ditambah 1 shot espresso lagi dan tambah air panas, itu saja.

Kepahitan yang dihadirkan tetap sama, namun dari tujuan menjadi berbeda. Espresso lebih cocok dinikmati pada waktu yang terbatas sedangkan jika butuh waktu kongkow atau menyendiri lebih lama maka longblacklah sebagai teman setia. Jangan khawatir dengan rasa pahit yang dihadirkan, karena disitulah kenikmatan yang bisa dirasakan.

Yuk ah, sruput dulu agar kesibukan pagi ini bisa diawali dengan semangat dan kesegaran. Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Warung kopi eh cafe.

Warung Bu Ageng & Kohitala

Cari maksi sekaligus kopi.

JOGJA, akwnulis.com. Jam makan siang sudah mendekati, alarm alami di perutpun mulai berbunyi dengan nada khusus yang menambah lapar plus dahaga. Melewati area alun-alun selatan keraton Jogjakarta dan menuju tempat makan utama yaitu Restoran Bale Raos, sebuah resto yang menyajikan menu khas masa silam kearifan kuliner kraton jogja dalam setiap sajiannya.

Tapi….. ada yang terlupa, ini musim liburan anak sekolah kawan. Pas dengan pedenya masuk dan mencari tempat duduk, langsung tertegun. Karena meja meja yang biasanya relatif lengang telah terisi oleh para penikmat rasa. Juga beberapa orang masih antri untuk menunggu giliran mendapatkan meja. Lalu perlahan ada pegawai restoran mendekat, “Maaf bapak, apakah sudah reservasi?”

Jeddang… saya dan istri beradu pandang, lalu menjawab pelan, “Belum mbak, biasanya bisa langsung”

Maaf bapak, harus reservasi dulu. Ini yang antri yang sudah reservasi”

Wah gawat, keburu lewat lapernya nich. Akhirnya kompromi dan tahu diri saja. Senyuman dan ucapan terima kasih atas penolakan halusnya sang pegawai resto. Kami balik kanan menuju mobil dan langsung memutar ingatan tentang tempat makan siang yang memungkinkan.

Istriku berseru, “Yah, kita coba ke RM warung Bu Ageng.”

Siyaaap

Maka kedua jempol langsung berselancar di layar gawai. Mencari informasi tentang rumah makan ini. Tring, teknologi memang dalam genggaman… lokasi RM Bu Ageng ditemukan dan sang pemgemudi bertolak menuju titik sasaran. Agar tidak zonk kedua kali, maka coba ditelepon dulu sesuai yang tertera di google search.

Monggo pinara mas, nggak perlu reservasi, bisa langsung”

Wuihh adem tuh suara, bikin perut lapar makin lapar tetapi jelas ada kepastian. Ternyata jarak dari area keraton tidak terlalu jauh. Berarti sebentar lagi tiba, Alhamdulillah.

Tempatnya terlihat nyaman dengan ornamen bangunan kayu begitu estetik. Segera masuk ke dalam dan ternyata benar saja, masih ada beberapa meja yang tersedia dan langsung mendudukinya dengan gembira.

Pilihan makanan sudah tersaji di pintu masuk, tetapi kami lebih cenderung berburu meja dulu, takut keburu penuh hehehehe. Buku menu segera dibuka dan berbagai pilihan makanan khas jogja hadir disana. Tetapi pilihan kami praktis saja, pertama yang lengkap dan kedua tentu recomended. Pilihannya adalah nasi campur lidah dan nasi campur suwir ayam.

Rumah makan yang diberi nama warung ini adalah milik keluarga Butet Kertaredjasa dan penamaan Bu Ageng ini adalah sebutan anak cucu dan keluarga kepada istrinya, bu Rulyani Isfihana. Bangunan berbentuk joglo dan full ornamen kayu memberi suasana di rumah yang ngangenin ditambah dengan.

Tadinya mau pesen lagi pecel agar lengkap sayurannya. Tapi ternyata menu nasi campurnya begitu kumplit, tidak hanya lidah dan suwir ayam tetapi juga ada abon tuna, kripik kentang, tempe potong, juga kuah kental seperti rendang plus krupuk gendar. Disaat lidah menyecap, kental masakan jogjanya tetapi juga hadir rasa berbeda yang membuat penasaran.

Pada kesempatan yang tepat, salah satu pelayannya diinterogasi halus dan didapati cerita bahwa makanan khas warung ini adalah masakan khas jogja dan dilengkapi sentuhan masakan kutai, kalimantan timur. Wow pantesan….

Tak lupa juga memesan kopi hitam ala warung bu ageng. Sebuah kesempatan langka menikmati sajian kopi di tempat yang berbeda. Kopi yang tersaji adalah kopi bubuk biasa yang diseduh atau ditubruk air panas yang tersedia. Tentu gula dihindari, karena ini adalah kohitala.


Itulah catatan kecil tentang kuliner siang di Warung Bu ageng Jogjakarta plus kopi tubruknya. Wassalam (AKW).

NGOPI di Warung Pinus

Mlipir dulu demi kohitala dan suasana.

Photo : Kohitala Arabica Cibeusi Subang / Dokpri.

Sagala Herang, akwnulis.com. Ketika semilir angin menenangkan jiwa, saat itulah suasana hatipun menjadi tenang. Sesaat terbebas dari beban pekerjaan dan sejumput hutang perasaan.

Berisiknya kicau burung di pucuk pinus, menghantarkan suasana menjadi lapar dan haus. Apalagi seharian didera oleh acara yang super serius, inilah saatnya untuk lupakan badan kurus dan pipi tirus dengan menikmati makanan dan minuman yang tanpa embel-embel kasus.

Lokasinya memang cukup tersembunyi, tetapi menjanjikan suasana yang mendamaikan hati. Jikalau dari Bandung, maka sebelum memasuki Ciater ada jalan ke kiri menuju daerah Sagalaherang Kabupaten Subang. Beloklah dan nikmati perjalanan dengan ditemani hamparan kebun teh yang menghijau dengan jalan relatif mulus dan menurun. Jalannya agak kecil sehingga jikalau ‘pasanggrok‘ atau berpapasan dengan kendaraan lain harus sedikit menepi dan berhati-hati. Apalagi jika tiba-tiba menepi di hatinya, hati-hati jika ternyata hatinya sudah milik yang lain…. ahaay apa seeeh?.

Cara paling gampang ke lokasi cafe ini, yaa google map saja dengan key word ‘warung pinus sagala herang‘…. perlu pake kata sagala herang karena di bandungpun ada nama cafe yang sama.

Tiba di TKP maka akan disambut dengan suasana hutan pinus yang mendamaikan, dengan fasilitas cafe yang cukup lengkap. Terutama toilet dan mushola, klo makanan minuman jelas harus enak donk…. ditambah dengan berbagai varian kopi yang bisa dibuat secara manual dengan berbagai pilihan, diantaranya vietnam drip, V60, aeropress dan shypon. Klo espresso, americano sudah jelas ada dan tentu turunannya ada picollo, creme bruele, avogato, cappucinno dan latte….. ah siap-siap srupuuut…

Maka tanpa banyak pilih memilih menu, diputuskan untuk memesan kohitala (kopi hitam tanpa gula) dengan metode manual brew V60. Pilihan beannya adalah kopi dari Subang yaitu arabica Cibeusi.

Arabica Cibeusi adalah kopi yang ditanah dan di olah penduduk di wilayah Ciater khususnya daerah Cibeusi. Lokasinya dari jalur arah pemandian Sari ater ada jalan masuk ke pemukiman penduduk. Melewati juga villa-villa di Sarialam dan terus aja (itu kata pegawai kafe yang diinterogasi dengan kelembutan).

Photo : Soto ayam Warung Pinus / dokpri.

Dengan bean 14gr dan panas air seduhan 90° celcius. Maka hadirlah sajian kopi yang menggugah hati. Keharumannya nyata dan rasanya cenderung body medium dan acidity medium dengan profile after taste ada selarik manis fruitty yang menggemaskan. Nikmat pokoknya mah.

Sebagai makanan pendukung maka semangkok soto ayam lengkap dengan nasi, sambal dan jeruk nipis menemani perjalanan kuliner kali ini. Panas, enak dan suasana tenang melengkapi momentum makan siang menjelang sore dengan segala kesenangan.

Selamat makan dan ngopay kohitala kawan, bukan maksud ‘ngabibita‘ (bikin orang jadi pengen) tetapi ini memang nyata. Wassalam, (AKW).

***

Arabica Papua di Tasikmalaya.

Menikmati kopi di kota Tasikmalaya…

Photo : Kopi & Bekjul / dokpri.

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Adzan magrib akhirnya berkumandang, tepat beberapa menit setelah rapat ditutup dengan kesepahaman dan tentunya kesepakatan.

Tak berlama-lama, segera tunaikan shalat dan berkemas untuk kembali pulang setelah giat marathon meeting nonstop senin-jumat di minggu ini.

Dari mulai berendam di Subang, tidur di kamar nyem-POD di Stasiun gambir, hingga menikmati kopi kupu-kupu di Banten dan balik ke Bandung ditemani kopi reska di Kereta Api Argo Parahyangan hingga akhirnya sekarang terdampar di Kota Tasikmalaya.

Seminggu yang penuh dinamika, jangan ditanya cape dan tidak karena bukan untuk dikeluhkan. Jalani, syukuri dan nikmati.

Photo : Kopi papua siap dinikmati / dokpri.

Seperti saat ini, dihadapan telah tersaji Kopi Papua dengan metode Vietnam drip. Disebuah kedai kopi yang bernama Warung Kopi Lawas, artinya warung kopi jadul dengan interior cafe sedehana dan berdiri sejak tahun 2010 lalu..

Wuiih udah 9 tahun berarti yaa…

Lokasinya di sekitar mesjid agung Tasikmalaya, tepatnya di Jalan Empang No. 18 Empangsari Tawang Kota Tasikmalaya.

Photo : Daftar menu warung kopi lawas / dokpri.

Sajian menu bervariasi dan kopinyapun beraneka macam, dari mulai kopi jabar hingga aneka kopi nusantara. Tadinya moo pesen kopi arabica ciwidey, eh ternyata abis. Jadinya kopi arabica papua dech.

Didalam warung tersedia meja-meja coklat dan disampingnya ada juga ruangan ngopi plus di halaman… di trotoar juga disediakan meja kursi… cocok buat kongkow sambil ngopay, memperhatikan lalulintas jalan dan orang yang melintas menyusuri takdir kehidupan.

***

Photo : Suasana di halaman warung / dokpri.

Setelah bersabar menanti tetesan terakhir dari drip diatas cangkir, maka sruputan perdana menjadi penting…. srupuuut.

Woaah nikmat kawan, bodynya medium bold dan aciditynya masih terasa meskipun tidak terlalu asem. Tastenya hadir selarik berry dan…. harumnya kopi papua ini lumayan menarik hati. Ditambah dengan suasana yang menyenangkan, termasuk disaat akan mempotret secangkir kopi ini ternyata backgroundnya motor merah masa lalu, jelas konsep jadul warung kopi ini makin terasa.

Photo : Tempat pesan di warung kopi lawas / dokpri.

Sajian menu lainnya, ada juga roti dan teman2-nya, tapi dengan waktu yang terbatas maka ngopi hitam papua tanpa gula saja yang menjadi pilihan.

Trus di seberangnya ada juga Cafe Ara. Hanya saja tidak ada kopi yang disajikan manual. Hanya kopi versi mesin yang tersedia yaitu espresso, dopio, longblack dan americano plus latte dan coldbrew. Akhirnya hanya sayhello saja….

Tetapi yang pasti rasa kopi papua ala warung kopi Lawas bisa sedikit mengobati kerinduan mengopay manual ditengah berjibakunya tugas dan pengharapan. Wassalam (AKW).

Garam Bakar (Uyah Beuleum)

Kuliner jadul di Priangan Timur.

Photo : Uyah beureum diatas piring yang dibalik / dokpri.

CIAMIS, akwnulis.com. Tampilannya sangat bersahaja, hanya berbentuk tempat seperti kendi dari tanah liat tetapi mulutnya relatif besar sehingga mudah untuk mengambil apa yang ada di dalamnya. Warna asli tanah liat yang dibakar menghadirkan nuansa merah bata alami, di dalamnya berisi butiran halus berwarna putih dengan rasa khas garam yaitu asin.

“Oh garam toh, lebay kamu mah cerita garam aja meuni repot beginih!”

“Kalem dulu jangan sewot, tulisannya belum tuntas kawan, sabar”

… lanjut nulis lagi.

Itulah ikon khusus warung nasi di perbatasan banjar – ciamis. Namanya Warung Jeruk.

Perkenalan dengan garam bakar atau lebih familiar dalam bahasa sunda adalah ‘Uyah beuleum’ itu udah lama, sekitar 17 tahun yang lalu… oww udah lama geuning.

Yup.. tahun 2001-an mampir pertama di warung nasi yang sederhana sangat sederhana, tetapi pa bos waktu itu, Bupati Sumedang mengajak berhenti disitu. Sesaat celingukan karena yang ada hanya warung nasi kecil.

Photo : RM Warung Jeruk 2018, lebih luas dan leluasa / dokpri.

Ternyata…. sajian makanannya istimewa, ayam goreng kampung dan ikan bakarnya begitu natural ditemani pilihan sambel yang lengkap dari sambel oncom, sambel terasi dadakan serta menu makanan sunda seperti pencok leunca, karedok juga beuleum peuteuy. Nah ‘Uyah beuleum’ pasti yang ditanyakan perdana.

Awal-awal nyoba sih yang terasa asinnya saja, tetapi dicoba dirasa-rasa ada rasa hangat yang berbeda, karena katanya dioleh dengan cinta… ahhaay.

Eh setiap ada tugas ataupun acara keluarga yang melewati perbatasan banjar ciamis maka seolah sudah protap untuk memenuhi kekangenan dengan makanan khas dan nyocol nasi panas ke si Uyah beuleum.

***

Penasaran dengan asal usulnya, maka iseng nanya kepada pengelolanya, ternyata menu Uyah beuleum ini adalah menu pusaka dari ibu sepuh pemilik dan pendiri warung Jeruk ini. “Geura jieun uyah beureum, insyaalloh berkah”

Sedikit dipikirin, mungkin juga ‘Uyah beuleum’ ini adalah menu termurah yang disajikan. Kebayang khan nasi panas, sambel, lalapan dan ‘Uyah beureum’.. selesai sudah, ngalimed.

Udah ah, mau makan dulu yaa. Wassalam (AKW).