Godaan Homudako

Godaan jumat pagi menjadi dilema antara tugas dan hepi-hepi hura.

“Satu…”
“Dua…”
“Tigaaa…”

E.. e.. eee Bang Jono.. kenapa kau nggak pulang pulang”…

Teriakan instruktur berpadu serasi dengan celoteh Saskia gotik, berbalut dengan musik cep-acep-acep yang menggugah semangat peserta aerobik pagi ini. Gerakan badan atraktif dan terkadang liuk kanan liuk kiri memaksa keringat untuk segera melewati pori dan mengucur deras.

‘…Apa salah dan dosaku sayang?…’
…. Cep…. acep… acep.

“Ini terakhir… cara tuk dapatkan kamu.. jika ini gagal khan kuracuni diriku..” Suara Nella Kharisma dengan Jaran goyangnya makin memanaskan pagi di halaman kantor yang luas ini.

Ingin segera merobek batik dan celana kain yang mengungkung badan ini. Mengganti dengan stelan baju olahraga plus sepatu, berlari lalu bergabung dengan mereka. Turut bergoyang ikuti irama.
…jumat pagi ceria.

Lanjut lengkingan ‘Sayang’-Via Valen makin mengukuhkan niat untuk segera berubah adibusana dan ber-geol bersama.

Tapi….

Eit… tapi nanti dulu. Otak memperingatkan raga dengan susah payah agar terbebas dari hipnotis musik yang tersalur dari soundsystem yang menggetarkan seantero area gedung sate.

“Ingat kawan, jangan tergoda dengan rayuan maut Homudako (house music dangdut koplo) itu. Target nota dinas dan telaahan staf yang kemarin dibahas harus tersaji segera!!!”

Raga terdiam tangan terkulai, cemberut sambil memandang otak yang tetap siaga dengan ceramah selanjutnya, ragapun mengalah. Duduk, nyalain laptop, mainin mouse dan buka ‘File Explorer‘. Nggak usah rumit nyari-nyari karena di ‘recent document’ masih terpampang gawean yang pake nama ‘draft telaahan staf.’

“Namanya juga telaahan staf, maka staflah yang buat” Sebuah bisikan halus melunakkan hati yang masih terbelah karena musik aerobic yang menggemaskan ini.

Sekarang giliran Ayu Tingting dan Cita Citata yang menggoda lewat suara, tapi sekarang agak tenang dan rayuan mereka disalurkan ke jari jemari ini agar terus menulis di keyboard laptop meskipun pinggul tetap tak tahan untuk ikut bergoyang.

Tapi otakpun berbaik hati untuk membantu berfikir dan menelurkan kata demi kata sehingga terjalinlah kalimat formal yang bisa menjadi bahan pimpinan untuk mengambil keputusan.

Akhirnya setelah berdamai dengan kenyataan, berbekal ikhlas nggak ikut bergoyang karena deadline bikin telaahan staf terasa pikiran lebih adem dan nggak bete lagi. “Semoga minggu depan bisa ikutan bergoyang.”

Diiringi ‘Surat Cinta Untuk Strala’-Virgoun dan Dia-nya Anji pada sesi pendinginan, berarti tak lama lagi aerobik akan berakhir . Jemari inipun sibuk sedang finalisasi tugas dinas ini, agar segera di print untuk segera disuguhkan dan dinikmati ke bapak bos.

Ternyata berdamai dengan kenyataan itu menyenangkan.

“Hanya saja kok di pikiran terus berkumandang Homudaku..???.”

Wasaalam. (Akw).