Dimensi Religiusitas vs PEE

Power of Emak-emak dan materi kultum ba’da shubuh di Mesjid Almuttaqien Gedung Sate.

Assalamualaikum Wr Wbr.

Cerita aah….

Photo : Dini hari di Bandung utara / Dokpri.

Dini hari sudah ngebut di balik kemudi, padahal waktu masih sangat luang, jam digital di dashboard masih di 03.45 wib. Tapi entahlah kenapa energi tersalur ke kaki begitu kuat dan otak mendukung dengan ucapan, “Meungpeung jalan lowong, tancaap boss!!!”

Pas belokan ke arah tol, ibu-ibu naek motor nggak pake rihting (baca : lighting), Cekiitt… mobil ngerem mendadak dan hampir hidung mobil memyentuhnya. Power of Emak-emak berlaku. Mobil terdiam sambil terengah dan menarik nafas lega karena tidak ada kejadian yang tidak diharapkan.

Ema itupun seyum dan lempeng aja melawan arus.. heu heu heu. Tapi jadi mengingatkan sama emakku sendiri, istriku dan anak perempuanku. Bahwa jangan egois dengan ngebut di jalanan yang lengang karena anak istri dan emak berharap keselamatan bagiku.

Sisa perjalanan menuju Mesjid Almuttaqien Gedung Sate bergerak normal dengan kecepatan sedang, ditemani dinginnya udara pagi yang terasa menyeliputi hati.

***

Shalat Shubuh berjamaah di Mesjid AlMuttaqien terasa syahdu penuh kekeluargaan, dilanjut dengan ceramah oleh Ustad DR. Aam Amirudin yang mengupas tentang Religiusitas atau Keberagamaan.

Dengan penyampaian yang jelas dan ringkas, terasa materi mengalir dan bisa lebih mudah dipahami oleh para hadirin yang sadar dan tidak ketiduran, bahwa terdapat 4 dimensi dalam Religiusitas, yaitu :

Pertama, The Involvement of Idealism.
Kedua, Ritual Involvement
Ketiga, Intellectual Involvement
Keempat, Involvement of Consequences.

Pertama, The Involvement of Idealisme adalah berkaitan dengan Keyakinan, meyakini sesuatu yang sulit atau malah tidak bisa dibuktikan secara empirik atau juga berarti diluar logiko-hipotetiko-verifikatif. Terus dari mana muncul keyakinan tersebut?.. hal itu melalui pendekatan Authority, yaitu mengutip ayat suci yang diyakini. Apa itu?.. adalah wahyu Illahi Alquranul Karim dan hadits Nabi Muhammad SAW.

Sebagai contoh apakah umat muslim yakin bahwa kehidupan di alam barzah itu ada?… tidak bisa dibuktikan secara empirik tetapi seluruh umat islam meyakini itu ada.

Kedua, Ritual Involvement. Dalam kerangka religiusitas terdapat dua keterlibatan ritual yaitu Ritual vertikal (Hablumminallah) dan Ritual Horizontal (Hablum Minannas). Nah Ritual Horizontal terbagi menjadi dua yaitu urusan dengan manusia dan urusan dengan alam.

Disini berbicara tentang komitmen dan disiplin serta berbagai tatacara ritual yang sudah jelas pada Alqur’an dan hadits. Termasuk yang menarik adalah Tata cara sholat, Sholat adalah Ritual vertikal yang diawali Takbir yang jelas urusannya dengan Allah SWT tetapi pada saat akhir sholat ditutup dengan salam yang jelas mendoakan kanan kiri kita yang jelas-jelas urusan sosial hablum minannnas.

Ketiga, Intellectual Involvement. Religiusitas harus didasari dengan pemahaman secara komprehensif. Karena tanpa pemahaman maka religiusitas dipertanyakan. Cara untuk paham adalah Fa’lan (pelajari), ayat Alqur’an pertama yang diturunkan adalah Iqro (bacalah).. bismirobbikalladzi kholaq…., jadi untuk meraih pemahaman perlu literasi dan ini memerlukan usaha terus menerus dalam jangka waktu yang panjang.

Contoh : seabad lalu rakyat jepang tidak suka makan ikan, tetapi sekarang mereka menjadi negara yang rakyatnya mengkonsumsi ikat terbanyak di dunia. Hal ini bisa dilakukan dengan edukasi literasi terus menerus.

Keempat adalah Involvement of Consequences. Yaitu adanya konsekuensi yang harus dihadapi dalam melakukan religiusitas, dimana tidak semua pihak akan senang dengan apa yang sedang dan sudah kita lakukan sesuai tuntunan ibadah dan muamalah dalam islam.

Kisah Lukmanulhakim pada Alquran dikala lukman dan anaknya membawa keledai menghadirkan pendapat dan anggapan yang berbeda dari beberapa kelompok orang. Begitupun disaat kita berperilaku jujur, belum tentu semua pihak menyukainya.

Dari keempat dimensi tadi maka semuanya harus dilakukan secara istiqomah atau konsisten sehingga menghasilkan religiusitas yang optimal.

***

Usai Ceramah shubuh bergegas menuju kantor dan masih memikirkan tentang 4 dimensi religiusitas versus power of Emak-emak. Yang pasti dicoba untuk selalu membaca termasuk membaca situasi, plus nggak boleh nyetir sembarangan, harus ingat PEE (Power of Emak-Emak).

Wassalam, Gedung Sate 120318 (AKW).

*Manusia Bertajuk Waktu* 2)

Lanjutan cerita tentang asa bersua rencana, memupuk cinta fana dan menuju akherat sana, tapi jangan lupa bahagia.

Alhamdulillah, lanjutan tulisan tentang *Manusia Bertajuk Waktu* yang merupakan penangkapan dari tauziah Ustad Aam Amiruddin bisa dilanjut lagi….. beginih lanjutannya :

Photo : Mentari mengintip di taman belakang gesat / dokpri.

Life is temporary alias hidup itu sementara. Setelah ditulisan sebelumnya menyampaikan 4 persefektif pembagian waktu yaitu :
1. Ad dahru.
2. Al maukut.
3. Al ashr.
4. Al Azl.

Maka sekarang membahas tentang bagaimana supaya kita bisa menggunakan waktu yang dimiliki atau dinikmati secara berkualitas.

Pertama, senantiasa Khusnudzon atau berbaik sangka. Jikalau mendapatkan informasi dan berita, lakukan Tabayun (cek & ricek dan crosscheck), apalagi sebagai pemegang amanah jabatan. Harus tabayun disaat menerima informasi sepihak sehingga keputusan atau kebijakan yang diambil tidak mendholimi orang lain atau pihak lain. Disisi lain manakala berhadapan dengan orang yang tidak suka, iri dan dengki maka tetap berkhusnudzon dengan mode waspada. Karena dalam hidup ini senantiasa ada 3 sikap manusia di sekitar kita yaitu : Suka – Tidak Suka – Tidak Peduli. Seperti cerita Lukman bersama anaknya membawa keledai.

Kedua adalah sikap Harus menerima apapun yang Allah SWT tetapkan untuk kita yaitu Takdir. Baik buruk, senang sedih adalah episode paket kehidupan, sikap menerima ketetapan Allah-lah yang menjadikan waktu kita berkualitas.

Ketiga adalah Lakukan selalu Muhasabbah atau Introspeksi diri dari semua yang telah dilakukan, dilaksanakan dan di jalani. Jikalau dalam pekerjaan terdapat kesalahan, jangan menyalahkan orang lain atau anak buah tapi introspeksi dulu dan kalau kita yang salah maka gentle mengakui bahwa itu kesalahan kita.

Sebagai contoh adalah kisah Nabi Adam A.S. Banyak yang meyakini bahwa Nabi Adam diturunkan oleh Allah ke bumi karena memakan buah khuldi di Surga. Padahal di dalam Alquran tidak ada ayat yang menjelaskan itu. Dalam QS Albaqarah 30-37 disebutkan bahwa Nabi Adam A.S terusir dari surga karena mendekati pohon khuldi dan setan menggelincirkannya.

Tetapi Nabi Adam tidak menyalahkan setan sebagaimana tercantum dalam QS Al A’raf 27. Begitupun kita, belajar untuk tidak menyalahkan pihak lain.

Terakhir, Keempat adalah Jalani hidup ini dengan keyakinan bahwa semuanya ada batasnya. Senantiasa berbuat baik, niscaya kita atau anak keturunan kita yang akan menuai kebaikan itu.

Hatur nuhun, itulah sekelumit tulisan yang berasal dari penangkapan dengar tauziah senin pagi di Mesjid Al Muttaqien Gedung Sate.

Photo : Merumput segar di Taman belakang / dokpri.

Tuntas dengerin tausiah ternyata waktu apel pagi masih jauh. Maka segera beranjak berganti kostum yaitu kaos dan sepatu olahraga. Bergerak dan bergerak menyecap segarnya pagi di kehijauan taman gedung sate. Berbagi lembutnya embun dengan sang pucuk rumput yang menanti setia datangnya hangat mentari membawa hari-hari berseri.(Akw).