KOPI TUGU JOGJA

Antara sruput & kenangan.

JOGJA, akwnulis.com. Gemericik air hujan perlahan tapi pasti bertambah lebat, mengiringi malam yang penuh kedamaian. Angin memberikan kesempatan sang butiran hujan menyapa raga karena posisi meja outdoor, tetapi tidak mengapa karena sebuah keyakinan terpatri jikalau hujan terjadi adalah salah satu berkah Illahi Robbi.

Kenapa nggak milih meja di dalam mas?”

Hanya senyuman yang hadir menjawab sementara pikiran tersenyum simpul, “Justru ini meja terbaik yang bisa langsung menghadap tugu jogja dan menyerap asa dalam suasana sekitarnya” meskipun memang butuh pengorbanan, ya itu tadi tersapu dan tersapa tetesan air hujan yang terbang dibawa oleh nakalnya angin malam.

Tapi hujan tak selamanya lebat, ada saatnya berhenti dan hanya berniat menyirami bumi serta memberi ketenangan hati. Apalagi sajian kopi yang sedari tadi pagi sudah ada di pelupuk mata akhirnya bisa nyata, kopi manual brew V60 tanpa gula dan tanpa teman – teman lainnya seperti syrup, ice cream, creamer, bubuk coklat dan susu. Inilah kohitala, kopi hitam tanpa gula yang digiling mendadak dari beannya lalu diseduh secara manual menggunakan corong V60.

Meskipun lupa menanyakan beannya apa, tapi suasananya dapet banget guys.. antara sajian kopi dan lokasi. Sebuah lokasi ikonik di kota jogja, lha selain jalan malioboro maka tugu jogja juga menjadi derajat penentu keberedaran di kota penuh kenangan ini.

Tak terasa hujanpun berhenti dan memberikan pemandangan ciamik yang harus disyukuri serta ditafakuri. Semuanya adalah atas ijin dan kehendak Illahi, bagi mahluk hanyanya berusaha dan berikhitiar serta dokumentasikan dan akhirnya ‘dipamerkan’ di medsos sendiri demi memunguti jempol jempol virtual dan komentar yang hadir di laman dunia maya.

Padahal yang terpenting adalah mensyukurinya dan tak lupa memohon ampun kepada Tuhan atas dosa dan kekhilafan. Tentunya menyeruputnya wajib banget, jangan lupa baca Basmallah (bagi umat muslim).

Sruputt….. Nikmaaat…. segarnya sajian kopi hitam tanpa gula yang diseduh manual memberikan sensasi berbeda yang penuh kedamaian. Dilengkapi dengan pemandangan malam di tempat yang penuh kenangan… sungguh kombinasi yang tak terlupakan.

Selamat bermalam minggu kawan. Jangan lupa ngopi dan mensyukuri hari. Wassalam (AKW).

Kopi Joss – Yogyakarta

Beredar ke Kota Kenangan, coba lagi nikmati kopi legendaris.

Poster Kopi Joss - Dokpri.

Menginjakkan kaki di Kota Yogyakarta serasa kembali ke rumah, kota yang penuh keramahan dan setiap hari adalah liburan karena banyak sekali orang-orang yang datang.

Meskipun kehadiran diri berbalut tugas dinas dan mendadak, tetapi tak perlu digerutui, ikuti perintah dan jalani dengan ikhlas, selesai. Tinggal teknis tiket pesawat dan hotel yang musti cepet supaya bisa tiba di Yogyakarta sesuai jadwal. Alhamdulillah dengan aplikasi Traveloka, dua hal tersebut tuntas melalui pertemuan jempol dan permukaan smartphone plus transfer duitnya via internet banking, kemajuan teknologi memudahkan kehidupan kita.

***

Tiba di Bandara Adisucipto disambut senja yang mengharu biru, lalu tancap gas dianter mas Bronto seorang sopir Transportasi Bandara dengan biaya resmi Rp 150.000. Bayar di loket di dalam area keluar penumpang bandara (taksi resmi)… dan kendaraannya Toyota Fortuner, Alhamdulillah.

Klo pake Grab Taksi di aplikasi biayanya Rp 55.000,- tetapi musti jalan kaki agak jauh dari area bandara menuju jalan raya Solo – Yogya. Yaa monggo terserah mana yang mau dipilih, penulis pernah nyoba pake grab termasuk grab-bike… juga nyoba bis trans Yogya… yang belum itu pake kereta dari stasiun Maguwo yang posisinya tepat berdampingan dengan bandara.

…… kembali lagi monggo, itu choice kita moo pake alat transportasi apa.

Hotelnya ntar dibahas ditulisan berbeda yaa… yang pasti nyampe ke hotel segera mandi dan shalat magrib-isya dijama.. tak terasa jam 19.30 tiba tanpa kata-kata.

Order grab lagii…..

Tring.. datang mas yusuf dengan avanza hitamnya. Capcuss..

***

Dalam waktu 10 menit sudah tiba di tempat yang diharap….. tempat nikmatin kopi khas di kota gudeg…… Kopi Joss.

Sebenernya menikmati kopi ini sudah beberapa kali tetapi saat itu hanya ikut-ikutan rombongan dan bukan tujuan utama juga dulu masih pake gula… sekarang beda, kopinya yang menjadi buruan.

Sejarah dan cerita dari kopi joss dipastikan banyak bertebaran di laman dunia maya. Tapi sekarang hadir disini ingin mencurahkan rasa via tulisan sederhana gimana klo menikmati lagi dalam suasana dan tujuan yang berbeda.

Lokasinya di seberang stasiun kereta api tugu Yogyakarta. Dari ujung utara jalan Malioboro tinggal jalan kaki lewatin eh nyebrangin rel. Photo bentar di tulisan STASiUN YOGYa yang eye chacthing trus jalan dikit.. belok kiri.. disitulah berjajar sekitar 16 sd 20an pedagang kopi joss. Klo pake taksi or transportasi onlen ya tinggal bilang aja moo kesitu.

***

Kopi Joss disajikan dengan sederhana dan seperti bikin kopi biasa. Masukin bubuk kopi ke gelas tambah air panas dann…. tanpa gula yaaa…. nggak aneh khan?… yang bikin khas adalah setelah itu dimasukin arang memerah bara.. masukin ke gelas.. Josssss…. suara pertemuan bara arang dengan air membuat suara khas dan menciptakan citarasa berbeda.

Sabar dulu… jangan asal sruput ntar bibir ma lidah melepuh mas bro..

Tunggu… sabar.. nah sambil nunggu kopi dingin, ada pilihan nasi kucing, indomie tante (tanpa telor), aneka sate (kikil, ayam, kerang, baso, hati, usus, telor puyuh dan lainnya) dengan harga 1 tusuknya Rp 3000…

Harga kopinya Rp 6000 saja, penasaran kopi apa yang dipake… ternyata kopi yang dikemas tradisional dengan merk Murni Baru, lengkap dengan nomor PIRTnya.

Ayo kita coba… sruputtt… ahhh segerr.. hati2 bibir berjumpa arang yang menuhin gelasnya hehehe… aromanya lite, bodynya medium strong… maybe proses roastingnya dark roast. Tastenya.. nggak muncul tapi overall kopinya enak… tentunya tanpa gula atau pemanis lainnya.. kecuali klo wajah siih udah maniss dari sonoh nyah….

Sambil ngopi nggak lupa, nyobain 3 tusuk sate, satu tusuk telor puyuh, suwir daging ayam dan usus.. nikmaat.

Nggak pake lama nongkrong di Kopi Joss ini karena sendirian.. eh berdua sama mas yusuf sopir grab… lalu bergegas kembali ke hotel di daerah Wirobrajan, Yogyakarta. Matur suwun, Wassalam (AKW).