Kopi Sumatera Huta Raja Yeast.

Menikmati Kopi pake poci, disini.

Photo : Sajian kopi dengan poci / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Siang benderang mengingatkan bahwa sebentar lagi waktunya shalat dhuhur dan tentu dilanjutkan makan siang, mari dengarkan adzan serta tinggalkan semua pekerjaan…. lalu bersiap shalat dhuhur berjamaah.

Berangkaaat…. menuju mesjid AlMuttaqien melalui jalur samping dari arah ruangan.

Allahu Akbar…..

Selesai berjamaah, cek layar hape, tiba-tiba ada pesan whatsapps masuk, ‘Maksi & ngopi yuk, di sini’.

Ada penawaran maksi sambil ngopi, wuihhh Alhamdulillahirobbil alamin.

Segera beringsut dari mesjid menuju tempat yang ditawarkan. Waktu istirahat tinggal 35 menit lagi, masih bisa dimanfaatkan untuk makan dan menikmati sajian manual brew disini.

Menu makannya nggak di share ah, maaf. Tetapi sajian kopinya saja yang akan direview… eh diceritakan.

***

Hari ini ada 2 pilihan kopi untuk menu manual brew menggunakan V60 dan pilihannya jatuh pada kopi Sumatera Huta Raja Yeast (gitu klo dibaca ditulisan bungkus putihnya).

Tak berapa lama, proses manual brew dilaksanakan oleh sang barista, Wildan yang cukup sibuk di seberang sana. Harap maklum karena ini adalah resto besar yang menyajikan aneka menu super lengkap dengan harga lumayan… jadinya penawaran maksi ini tidak dilewatkan.

Photo : Kopi Sumatera Huta Raja Yeats + background / dokpri.

Sajian kopinya pun beraneka rupa tentu berkawan dengan susu dan gula, maka menu manual brewnya menjadi menarik, karena hanya sedikit pilihannya, jadi pengen tahu gimana rasanya dan juga suasananya.

Ngobrolin suasana, adem banget apalagi yang dapet pinggir kolam ikan koi. Bisa menikmati kelincahan berpuluh ikan koi yang berenang hilir mudik memanjakan mata dengan warna warni tubuhnya yang begitu indah di mata.

“Silahkan Kakak, kopi sumatera dengan metode V60nya”

Pelayan menyodorkan sajian kopi yang sudah dibuat oleh barista. Yang menarik adalah penyajiannya menggunakan teko keramik eh poci berwarna hitam bercorak, tentu dengan cangkir keramiknya warna senada ditambah segelas air putih yang dibubuhi potongan jeruk lemon sebagai penetralisir rasa sebelum dan sesudah menikmati kopi yang ada…. excited.

Hati-hati, air putihnyapun bisa digunakan sebagai penetralisir rasa yang sedang gundah gulana… ahaay.

Bicara harga persajian agak lumayan, 32 ribu sebelum pajak. Tapi sesekali boleh khaan… apalagi ada yang ntraktir.. makasih Mr PM, jangan kapok yaaa.

Srupuuut…. hmmmm, cairan kopi hangat tanpa gula bercengkerama dengan lidah dan rongga mulut yang penuh dahaga.

Bodynya lumayan strong, karena memang request untuk komposisi 1:10, Acidityna medium dan aftertastenya sedikit rasa apel dan kacang tanah hadir meskipun hanya sekilas saja, selanjutnya nikmat kopi tanpa gula yang bisa hadirkan perasaan nyaman dan mengurangi beban pikiran yang ada, “Ahh lebaaay kaau!”

Over all sajian kopinya cukup pas dengan panas air 90° celcius (ngobrol dulu sama baristanya, tadi sambil lewat pas mau ke toilet), tetapi yang sedikit agak geli adalah sajian menggunakan poci keramik yang lazim digunakan untuk minuman teh, baik teh artisan ataupun teh biasa. Sedikit mempengaruhi perasaan sehingga ada kecenderungan lagi ngeteh bukan ngopay.

“Ah kamu mah perasa bingit, udah nikmati ajaa”

Sebuah komentar mengingatkan jiwa untuk senantiasa bersyukur, bukan selalu mengkritik dan menilai sesuatu dari sisi perbedaan atau kekurangannya saja.. “Hups.. maafkan daku fren.”

Akhirnya waktu 35 menit berlalu, dan acara ngopay dadakannyapun harus berakhir. Selamat menjalani hari senin minggu ini dengan senantiasa bergairah kerja dalam balutan semangat pagi, Wassalam (AKW).

***

Catatan :
Restorannya adalah Ambrogio Patisserie, Jl. Banda No.22/26, Citarum, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40115.

Coffee BellStone

Kirain apaan Coffee BellStone.. ternyata.. enak.

Photo : Sajian Coffee BellStone / dokpri.

DAGO, akwnulis.com. Menjalani hari dengan sejumput keceriaan berbalut rasa syukur atas nikmat kehidupan menghasilan kedamaian dalam perjalanan dan tidak terengah dalam melangkah.

Begitulah sebuah realita dilakoni dengan sukacita, karena semua rencana hanya reka pikir manusia, padahal sebetulnya sudah ada blueprint-Nya yang tak bisa ditolak kecuali dengan khusuknya doa.

Dua paragraf yang coba ditulis dengan sepenuh hati dan segenap jari… eh dua jempol, khan ngetiknya di layar smartphone. Mengalirkan kata menjadi jahitan kalimat yang mungkin enak dibaca tapi tidak bisa dimakan…. nyam nyam.

Mulai nggak bener nulisnya nich… ayo minum kopi dulu….

Langsung terbangg…… cusssss…

Menuju Jl. Ir. H. Juanda Bandung atau lebih dikenal jalan dago, patokannya setelah Sekolah Darul Hikam trus ada kantor Bappeda Provinsi Jabar… masih naik terus ke atas.. sebelah kiri ada plang Sam’s Strawberry Corner. Masuk aja ke area tersebut, belok kiri, parkirannya lumayan cukup beberapa mobil.

Kopinya dimana?…. iya kalem,…. jadi klo bawa mobil or motor parkir dulu ya, soalnya ribet klo dibawa ke dalam

“Nggak percaya?…… Coba saja”

Masuk ke restorannya, terusin aja ke belakang, karena di area belakang lebih luas dan disanalah sang Koboy Tjipelah meracik kopinya.

***

Photo : Kang Saepul, Barista Kopi Koboy Tjipelah / dokpri.

Kopi yang disajikan oleh Kang Saeful Barista, adalah coffee Bellstone… keren khan?… padahal itu kopi batu lonceng dari pegunungan manglayang. Diracik dengan filter V60 dalam komposisi 1 : 12, temperatur air 92° celcius menghasilkan sajian kopi yang harum dengan acidity dan body medium, after tastenya ada sedikit rasa berry dan selarik rasa asin… “Rada aneh yeuh, jangan-jangan pake garam”….

Setelah dikonfirmasi dengan sang barista, memang katanya agak unik dengan kemunculan rasa asin ini, noted. Overall, rasanya nikmat dan bisa menambah kesegaran fikir dan ketajaman rasa dalam menjalani kenyataan dunia.

Penasaran dengan Tjipelah, itu ejaan lama, dibacanya ‘Cipelah‘… selain googling juga bertanya kembali pada sang barista dan ternyata itu adalah nama daerah penghasil di Bandung selatan tepatnya di daerah Rancabali…. oowh…. jadi penasaran dengan rasa kopi Tjipelahnya. Tapi supaya tidak terjadi tabrakan rasa, sekarang nikmati dulu Coffee bellstone-nya dulu….. srupuuut…. hmmm…. srupuuuut… nikmat…

Oh Iya, makasih Pak Boss DR atas traktirannya.

Tulisan selanjutnya tentang Nikmatnya Kopi Tjipelah, tunggu yach.

Kembali jemari eh kedua ibu jari menari diatas layar smartphone, menuliskan sejumlah kata yang selalu mengandung makna, sambil tak lupa menyukuri semua detik perjalanan hidup ini. Wassalam (AKW).