Kopi & Merger

Ngobrolin merger, lebih asyik sambil ngopay…

Photo : Sajian V60 Arabica Toraja / dokpri.

CIREBON, akwnulis.com. Tulisan kali ini diawali oleh sebuah kalimat tanya, “Kenapa BPR harus merger?”

“Weits nggak bahas kuuupi bos?”
“Nggak atuh, jangan kopi melulu, supaya variatif dan berwarna”

“Oke, kopi khan mewakili warna hitam atau coklat, lha BPR entar nampilin warna apa kang”

“Yaaa… entar aja liat sendiri”

Balik lagi ke pokok pertanyaan diatas, yang dimaksud disini BPR adalah Bank Perkreditan Rakyat.

“Bentar.. bentar, apa bedanya dengan Bank Umum?”

“Ya jelas beda donk, dari tulisannya aja beda, trus klo disingkat, BPR dan BU, jelaaaaas beda!!!”

Jawaban yang tegas tapi maksa, memaksakan kehendak itu namanya.

Photo : Tampak depan cafe Keboen nDalem / dokpri.

Nggak usah jadi perdebatan, kita balikin aja pada aturan, dimana semua urusan bank ini berkiblat sama UU No.10/1998 Tentang Perbankan. Di UU ini dijelaskan pengertian bank dan pembagian istilah atau pengertiannya.

Nih klik aja, Perbedaan Bank Umum dan BPR.

Terkait pertanyaan awal tentang merger, maka perlu dijelasin dulu tentang makna dari kata ‘merger’.

Merger adalah……

Kata Mbah Van the Grinten, Merger atau fusi adalah berleburnya/bersatunya beberapa perusahaan sehingga dari sudut pandang ekonomi menjadi satu kesatuan… gitu pren.. trus…

Nich klo pengertian versi UU 40/2007 Tentang Perseroan Terbatas pasal 1 angka 9, merger atau dikenal dengan istilah penggabungan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan perseroan lain yang telah ada yang mengakibatkan aktiva dan pasiva perseroan yang menggabungkan diri beralih kepada perseroan yang menerima penggabungan dan selanjutnya status perseroan yang menggabungkan diri berakhir karena hukum.

Intinya adalah penggabungan perusahaan dan salah satu dari perusahaan penggabungan itu menjadi perusahaan baru dengan menanggung hak dan kewajiban dari seluruh perusahaan yang bergabung tadi.

“Walahh serius pisaaan… ngopaynya mana?”

Klo urusan ngopay maka segera…. cusssss…….. bergerak di daerah Kota Cirebon ke arah pelabuhan, tepatnya di Keboen nDalem Cafe & Roastery, Jalan Kesambi No 65 Cirebon.

Photo : Sang Baristi Keboen nDalem cafe / dokpri.

Sang Barista, Mas Uyun langsung meracik Arabica Toraja dengan komposisi 1 : 20 (by request) dengan panas 89° celcius menggunakan V60 dalam prosesi manual brew-nya. Tidak lupa sang Baristi hadir juga menemani dan membuat sajian kopi lainnya.

Srupuut…. nikmaaat, rasa murni kopi asli menyecap di hati. Mengubah cuaca panas Kota Udang Cirebon menjadi adem…

Ya iya khan ini pake AC dalam ruangan… Hehehehe iya juga.

“Eh… Jadi lanjutan penjelasan BPR harus merger itu gimana?”

“Kalem ah… yuk ngopay dulu….”

Srupuut, …… sabar yaa, tunggu tulisan berikutnya. Wassalam (AKW)

***

Mengambil Posisi

Menerawangi hari yang penuh misteri.

Photo : Menanti Mentari disini / Dokpri.

SUBANG, akwnulis.com. Dikala rembulan mentahbiskan diri mengurus malam, maka mentaripun setia menjaga siang tetap penuh kehangatan. Kesamaan dari keduanya adalah memberi secercah terang dan menjadi gantungan harapan dalam perjalanan kehidupan.

“Tidak bisa kakak, bulan itu tidak seterang mentari, bulan itu hanya memantulkan cahaya mentari dari punggung bumi”

Sebuah sanggahan yang tidak untuk diperdebatkan. Biarkan rembulan bercahaya dan menjadi pegangan di malam hari. Bukan sumber cahayanya yang menjadi sasaran utama, tetapi fungsi cahaya yang membelah gelap menjadi secercah harap.

Terkadang jikalau konsentrasi sedang membumi maka sangat mungkin di malam purnama bersua dengan ‘Nini Anteh dan kucingnya Candramawat’. Saling berbagi cerita sambil berkejaran diantara awan tipis atau bintang yang juga nimbrung membahas gosip keduniaan.

Esok harinya, mentari kembali beraksi menghangatkan bumi. Menebar keberkahan dan kebahagiaan bagi mahluk Tuhan. Allah SWT yang memiliki maha otoritas, dan mentari sebagai alat. Muncul tepat waktu dalam rutinitas yang presisi, tidak pernah ingkar janji meskipun terkadang awan hitam menutupi.

Photo : Mentari mulai menghangati hari / dokpri.

Begitupun jiwa dan raga ini, setelah menentukan posisi maka sebuah konsekuensi menjadi bagian dari janji. Pelajari tugas dan fungsi, jalani senada dengan regulasi. Jangan lupa siapkan rencana aksi untuk wujudkan hasil yang serasi.

Kalau urusan reaksi, itu pasti. Perubahan selalu diiringi dengan keadaan yang dianggap oleh sebagian pihak sudah hakiki. Padahal perubahan itu yang pasti, Hayu Jalani dan mari beraksi.

Hayuu.. beraksi!!!

“Ada kopi?”

Ada dong, ini kopi rasanya unik bin beda lagi. Dengan sentuhan air panas 87° celcius dan takaran tetap 1:15 maka bisa tersaji sebuah kopi yang mengeluarkan rasa cola sarsaparila.

“Halah apa itu?”

Itu tuh, klo kita minum cola (dulu… waktu sebelum insyaf hehehehe)… ada rasa pahit sepet diantara manisnya cola, diantara ‘nyereng’-nya itu ada rasa khas sarsaparila.

Ah kamu mah ngarang!”

Entahlah, tapi yang pasti selarik rasa itu muncul dan mirip asem pahit buah plum serta pahitnya teh hitam. “Mau tahu kopinya?”

“Mau mau mauu”

Photo : Flores Yellow Island coffee V60 / dokpri.

Ini dia, Flores Yellow Island by Kuro Koffee, disajikan dengan metode V60 manual brew… mangga gan.

Akhirnya mentaripun kembali menyerahkan tampuk cahaya kepada rembulan karena malam mulai menjelang. Urusan kopi dan posisi terus berjalan, perlahan tapi pasti menikmati malam sambil ngopi dan memgumbar lamunan.

Hatur nuhun, selamat beraktifitas guys, Wassalam (AKW).

***

Kopi Bebek Hijau

Paduan dua unsur yang berbeda, tetapi dengan kopi, insyaalloh semua bisa.

Photo : Kopi bebek hijau / dokpri.

SETRASARI, akwnulis.com, Disaat senja menyeruak didada, maka tiasa kata yang bisa menghambatnya. Begitupun dengan rasa, bisa hadir kapan saja, mau disengaja ataupun tidak.

Begitupun dengan secangkir kopi, bisa hadir kapan saja dimana saja. Secara keyakinan, hadirnya secangkir kopi adalah takdir. Meski terkadang kita merasa menjadi bagian yang menentukan, padahal semua gerakan dan kejadian sudah ada takdirnya masing-masing.

Maka, dikala hadirnya kopi adalah karunia yang harus diyakini. Akan muncul rasa syukur yang mengingatkan tentang rejeki dan keberkahan.

Photo : Sajian Kopi Toraja Benteng Ajja / dokpri

Di sebuah tempat di lantai 2, bersua dengan sajian kopi Toraja Benteng Ajja. Bersua kembali dengan kopi single origin yang membawa berbagai cerita. Sebuah rasa body yang strong, dan acidity lite-nya bikin suasana hati ceria. Bicara harum, sudah pasti ada begitupun dengan taste-nya, sejumput rasa fruitty tersaji meskipun hanya sekilas saja.

Sebagai penambah penasaran pembaca, maka disajikan judul kopi bebek.

“Kopi bebek hijau?”

“Penasaran khan?”

Padahal sebetulnya adalah secangkir kopi hasil racikan sang baristi.. eh barista putri. Kopinya… ya. Itu tadi. Kopi Toraja bentteng ajja. Menggunakan metode manual brew kalita lalu disajikan di meja kayu nuansa alam yang bersahaja. Tetapi…. terasa lebih afdol jika disandingkan dengan patung bebek dari kayu berwarna hijau yang sedang tegak sempurna, memberi nuansa photo yang lebih lengkap dan penuh romansa.

Photo : Suasana Kedai Rimbun / dokpri.

Bebek hijaupun merasa senang, bisa tegak berdiri bersama secangkir kopi. Disini, di Kedai Rimbun, V hotel, Jalan Setrasari III Bandung.

Selamat ngopay dan jangan lupa bahagia, Wassalam (AKW).

Menikmati Kopi Bajawa.

Kopi Toraja Bajawa di sela-sela kerja, cemungut.

Photo : Sajian Manual brew Kopi Bajawa / akw.

BANDUNG, akwnulis.com. Semilir angin sore menjejak di dasar hati. Memberi sedikit ruang kesegaran ditengah himpitan tugas yang datang bagai gelombang laut di pantai selatan Pangandaran.

“Naha bawa-bawa pantai pangandaran?”
“Khan kemarin baru dari sana, tapi nggak sempet nikmati pantai karena tugas yang berbarengan, trus mogok mobilnya, jadi aja… (ih malah curcol beginih.. heup ah)”

Salah satu hiburan ditengah gencarnya tugas adalah ngopi. “Lhaa ngopi lagi, ngopi lagi, nggak ada yang lain?”

Dijawab perlahan, “Nggak ada”
“Yach terserah deh”

Akhirnya sang kaki menyeret raga menapaki trotoar Jalan Banda seakan tanpa tujuan. Lalu belok kanan ke arah Jalan Bahureksa. Lurus saja bergerak sambil bersiul, padahal tugas kerjaan masih menggamit mesra pikiran dan perasaan.

Berjalan lurus menuju tujuan hingga akhirnya tiba di tempat yang dituju.

Tetapi….

Mengingat waktu yang terbatas dan tugas yang terus menguntit tanpa belas kasihan. Jadi waktu yang terdia harus digunakan secara efektif dan efisien.. ahaay bahasa dewa.

Masuk ke kafe yang dimaksud, woaah menyenangkan sekali. Sebuah konsep resto dengan menyajikan aneka makanan sehat. Tertera juga di tembok belakang sebuah motto yang menggelitik, ‘Let’s pay to the farmer, Not the pharmacist’

…. eits jangan dulu review kafe ini. Ntar klo udah menikmati sajiannya juga bersama istri tercinta, baru coba kita ulas.

Sekarang mah kembali fokus ke sajian kopi yang sedari tadi dinanti-nanti. Kopi asli dengan manual brew V60 dan biji yang dipilih kali ini adalah Kopi Bajawa.

***

Jreng……

Sajian manual brew V60 kopi Bajawa tersaji dengan gelas mini dan server ukuran 250 ml berbentuk labu kaca untuk percobaan di laboratorium.

Photo : Bean kopi Bajawa, photo doang / akw

Langsung dituangkan, pegang, sruput…. suegerrrr. Harum menyentuh ujung hidung. Acidity dan body kopi medium menyeruak di lidah memanjakan urat perasa hingga menyebar ke syaraf otak dan menenangkan pikiran yang begitu rumit memikirkan aneka tugas pekerjaan.

Sesaat terasa damai dan dalam waktu yang sama memberi kembali percikan semangat dan motivasi untuk terus bekerja demi nusa dan bangsa juga keluarga.

Untuk taste agak susah mendefinisikan karena mungkin terburu-buru, tetapi ada sedikit rasa karamel yang hadir di ujung rasa pada saat kopi habis menuju lambung.

Sajian kopi Bajawa sekitar 240 ml ini bisa dinikmati berulangkali karena gelas minumnya mini, ya bisa 6 – 8 sloki.

Akhirnya 15 menit waktu refresh sudah lewat, dan sajian kopipun tandas sekejap. Nikmat pisan. Wassalam (AKW).

***

Catatan : beres minum langsung berlari menuju kantor.. cussssss…. oh iya, nama Cafenya GreensandBeans berlokasi di Jalan Bahureksa Kota Bandung.

Arabica Cangcuta – fbs

Ninyuh kopi maké cara anyar, nikmat pisan.

Akwnulis.com “Jang, pangninyuhkeun kopi Ciwidey nu haseum seungit téa geuning”
“Mangga pih”

Uing buru-buru ka dapur, nyayagikeun pimitohaeun, Haji Otoy, tokoh agama ogé jalma jegud di lembur.

“Wadduh… kopi Ciwidéyna korédas, aya gé kopi Toraja” Uing ngahuleng, sabab kopi Toraja mah euweuh haseuman, pait jeung seungit wungkul.

“Burukeun Jang, mana kopi téh?” Pimitohaeun ngajorowok. “Mangga diantos pih!”

Teu loba carita, kopi nu aya digiling. Pas rék ditinyuh maké kertas saringan, aya ilapat hadé. Nempo calana jero si Ema di juru jamban.

***

“Nikmat pisan Jang kopi téh, paitna aya, seungitna karasa, ogé haseumna nyata. Kopi Ciwidey variétas naon ieu téh?”

“Hatur nuhun kaanggé mah pih, éta arabica cangcuta” Uing ngajawab saengabna, inget tadi cangcut si Ema.

“Iraha rék nanyaan téh?, kadé babawaanna kaasup kopi ieu nya!”

“Insyaalloh sasih payun pih, hatur nuhun”

Haji Otoy ngaléos rék ngaroris sawahna. Uing bagja boga cara ninyuh kopi anyar nu kapaké ku pimitohaeun. Hatur nuhun Ema. (AKW).

——————-

Fbs : fiksimini basa sunda, sebuah tulisan fiktif berbahasa sunda. Membangun sebuah cerita singkat maksimal 150 kata. Bukan kisah nyata meskipun inspirasinya dari kehidupan sehari-hari.

mBarista demi Anak Tercinta

“Ayah bikin kopiii” sebuah mantera yang mengubah malam temaram menjadi kesenangan, hilangkan kantuk hadirkan kedamaian.

Disaat malam hampir menyentuh batas dini hari, raga masih termangu menemani si kecil yang masih full energi loncat-loncat dan ketawa-ketiwi. Anak semata wayang yang sering begadang sambil menunggu ayahnya pulang. Jam 22.00 wib baru tiba di rumah setelah rapat dinas di Jakarta, segera mandi dan berharap bisa rebahan sejenak meluruskan badan dan terlelap dalam kedamaian.

Tetapi melihat tingkah polah anak yang masih lincah dan ceria maka kembali terlarut dalam rasa syukur kehidupan untuk menjaga titipan Allah, menemani bermain hingga hampir tengah malam. Dan celoteh yang bikin dahi berkerut sambil senyum dikulum adalah, “Ayah bikin kopiii laah.”

Ibundanya yang sejak sore hingga malam ini mengawal, menemani dan menyusuipun agak menyerah karena sang anak memaksa untuk terus keluar dari kamar dan bermain bersama ayah. Tangan mungilnya menarik jemari ini sambil beringsut mengajak keluar kamar. Sekali lagi request spesialnya terdengar, “Ayah bikin kupiii.”

Jangan sayang, udah malam” suara selembut mungkin ternyata disambut dengan tangisan dan rengekan yang ‘keukeuh‘ untuk bikin kopi. Disini terasa ilmu negosiasi tumpul, sudah dicoba digunakan strategi sabar dan mengulur waktu, ternyata malah semakin membuat sang anak gusar dan cenderung mengamuk dengan suara tangis yang semakin keras mengguncang.

Masa kalah sama anak kecil” bicara dalam hati. Tapi, “Kasian juga nangis terus” suara hati selanjutnya. Ahh…. perbincangan dalam pikiran ini menjadi warna kehidupan, melatih kesabaran dan tentunya memberi pelajaran bahwa disinilah seni kehidupan berkelindan.

Akhirnya mengalah untuk berharap (nanti) menang. Sambil tangan kiri menggendong si kecil, tangan kanan mengumpulkan stock coffee yang ada. Sebotol cold brew Aceh Gayo-nya 258.. diambil dari kulkas, coffee luwak Soekirya hadiah seorang kawan, Mandailing coffee hasil hunting di Bandara LIA serta Toraja Kalosi Excelso. Semua tersaji di meja, dan bocah cilik dengan wajah berbinar memegang semua pilihan bak barista tenar, sambil senyum-senyum penuh kemenangan.

“Ini ayah, bikin kopii!” Tangan mungilnya megang Toraja Kalosi, satu-satunya yang berbentuk bean karena yang lain sudah digiling dan juga yang dibotol siap minum. “Oke cantik, ayah buat dulu yaa” Sebuah jawaban kompromi memecah sunyi sepi, disambut wajah berbinar sang anak kesayangan. “Giling ayaah… giling” rengekan berbentuk perintah menggerakkan tangan menyiapkan grinder, nyolokin kabel ke steker dan membuka bungkus kopinya.

Nggak pake lagi takaran, dengan rumus kira2 segera grinder bekerja di ukuran 2 saja karena berharap dapet ‘body‘ meski nggak mengesampingkan accidity, klo urusan aroma ya jangan ditanya… pasti mempesona……

Terrrrrr‘, harum khas kopi memenuhi ruang hati, menebar sensasi rasa di malam sepi menjadi penuh warna. “Wangiiii!!!”, Teriak mulut mungilnya menghilangkan penat dan ngantuk padahal tengah malam baru saja lewat.

Si Kecil cantik melonjak-lonjak girang, tangannya menyoel bubuk kopi yang sudah jadi.. langsung dimasukan ke mulutnya, “Mantapp.”

Jadi terkekeh melihat tingkahnya, indahnya titipan Allah SWT. Tangan kiri pegalpun hampir terlupa, karena larut dalam prosesi sakral memproses si hitam harum ini.

Cerita belum berakhir, karena proses brewing alias penyeduhan adalah tahap selanjutnya. Segera menyiapkan senjata perangnya : Hario V60, bejana, ketel, termometer dan tidak lupa filter paper plus ya….. air panasnya donk.

Owwww……. Tengah malam yang sibuk.

Jeng.. jreeeeng.

Akhirnya ng-brewing Toraja Kalosi pake V60 dengan tangan kanan, air dari dispenser lumayan 72 derajat celcius, dan tangan kiri tetep jagaain anak syantiik yang nempel terus nggak mau turun sambil senyum-senyum liat mBak-rista dadakan ini berkeringat di tengah malam.

Tetesan kopi menyentuh bejana jadi tontonan bersama hingga akhirnya tuntas menyajikan cairan hitam yang melenakan penuh keharuman. Ampas kopi yang tertinggal di V60 ternyata jadi mainan, ditoel pake tangan mungilnya trus dimakan, “Yummy ayah!” Terdengar seperti sebuah mantra yang melengkapi keajaiban menjalani hidup ini. Lelah, kantuk dan gundah pupus dan musnah, terganti senyum bahagia dalam tasyakur binnikmah.

***

Secangkir kecil kopi hitam seduhan malam ini dinikmati perlahan dan sedikit mampir di mulut anak kecil kesayangan. Senyum bahagia dan rona cerianya menuntaskan cerita dini hari tadi. Meskipun 30 menit kemudian harus bermain dengan boneka gajah dan beruang, akhirnya bisa terlelap di kamar nenek karena sudah lelah dan puas ‘ngerjain‘ ayah.

Met ngopi guys… slruup.. yummy. (AKW).