Piknik tivis tivis…

Menikmati setitik piknik, meskipun…

BANDUNG, akwnulis.com. Terpaku menatap keindahan alam yang membentang memanjakan mata. Begitu indah dan menentramkan. Lansekap dataran tinggi bandung utara hingga menyentuh kota Bandung yang penuh hinggar bingar optimisme.

Tarikan nafas begitu lega, dikala saluran pernafasan bercengkerama dengan udara segar milik tuhan yang tidak ternilai, kembali rasa syukur adalah kewajiban, betapa banyak nikmat Allah yang sering kita lupakan.

Apakah ini rehat sejenak dari rutinitas atau hanya sebuah hayalan tingkat tinggi akibat nggak bisa piknik dimasa PPKM darurat?”

Hehehe hampir beririsan pendapat itu, tetapi yang pasti kali ini masih dalam posisi bekerja dan kebetulan lokasi rapatnya di bandung utara. Maka udara segar begitu mudah didapat, meskipun protokol kesehatan tetap ketat.

Penggunaan QR code aplikasi lindungi sebagai pembuka untuk bisa memasuki area, dilanjutkan swab antigen sebagai bentuk kewaspadaan karena pandemi covid19 masih ada. Untuk penggunaan hand sanitizer dan masker jangan dibahas lagi, ini sudah given, wajib hukumnya. Dengan semangat optimisme adalah agar kita terhindar dari virus covid19 sekaligus menghindari sebagai penular kepada orang lain ataupun keluarga tercinta.

Nah dikala waktu istirahat tiba, maka mencari tempat private di ujung resto sambil menikmati sajian dari panitia, memberikan sensasi rasa berbeda sekian purnama tak pernah nongki-nongki atas nama bahagia.

Sajian yang dipilih kembali kepada tema utama yaitu ngopay dan ngojay…. eh salah ngopay dan salad.

Pertama untuk memgobati kehausan atas piknik dan wisata lainnya adalah sajian kopi hitam tanpa gula dengan seduhan manual menggunakan V60, bean yang dipilih kali ini adalah manglayang wine nectar. Sebuah pilihan tepat karena menyajikan sensasi rasa lengkap. Acidity jelas begitu ‘menggigit’ sejak seruputan pertama dan ninggal di ujung lidah serta di ujung kenangan. Body medium dan after tastenya bikin damai, paduan fruity dan tamarind serta cocoa hadir selintas menemani keceriaan kali ini.

Kedua adalah sajian utama eh atau pendukung ya?.. thai salad. Yach pokoknya saling mendukung aja deh. Sajian makanan sehat yang dilengkapi potongan daging sapi yang empuk dan memanjakan lidah. Apalagi saus khasnya begitu menggoyang lidah dan membuat selera makan semakin membuncah….. yummy.

Perpaduan inilah yang menjadi momentum syukur berkelanjutan. Kegiatan meeting bisa diikuti diawali dengan rangkaian testing antigen dan aplikasi peduli lindungi ditutup dengan piknik tivis – tivis di kala makan siang ditemani sajian kopi kohitala dan salad penggugah selera, Alhamdulillah.

Pak maaf, ditunggu di ruangan, acara sudah mau mulai lagi”

Sebuah suara sendu membubarkan piknik tipis-tipis kali ini. Segera anggukan kepala dan bergegas… eh sruput dulu sisa kopi yang ada dan sikat habis salad yang juga tersisa.. nyam nyam nyam… yuk ah meeting lagi. Wassalam (AKW).

Karedok Modern- TBS

Menikmati sajian karedok modern, cekidot.

BANDUNG, akwnulis.com. Menyapa waktu dengan setutur mau, menjalani kehidupan dunia penuh asa, suka dan duka dan suka lagi ah.
Setelah begitu seringnya menulis dengan tema kopi tanpa gula (ge er kamu, baru nulis segitu aja merasa sok sering!!!)

“Upps maafkan, tiada maksud sombong dan takabur. Maafkan sekali lagi”

Segera dijawab dengan segala kerendahan diri, tapi jadi pertanyaan hakiki, “Seberapa banyak tulisanku disini tentang kopi?… atau jangan-jangan udah banyak….. dan siapa tahu ada sponsor yang menyokong ide ini sehingga mewujud menjadi sebuah buku dengan judul -Coffee & Me- , ahaay”

Udah ah jangan nghayal mulu.. sekarang nulis lagi. Nulis yang selain kopi.

Pilihan terbaik adalah tentu tulisan yang udah ada hasil photonya. Khan tulisan dan photonya original dari tanganku.

Ini dia….

***

Tangan sedikit bergetar sambil menunggu datangnya pesanan makanan. Sebuah kombinasi antara rasa lapar dan telat makan kayaknya….

Siang ini memutuskan mencoba menu lain setelah rutin menikmati gado-gado dan karedok.

Dan pilihannya adalah Karedok modern euy, yaitu Salad… Thai beef salad (TBS). Isinya variatif, yang pasti daunnya ada lettuce, lolorosa, romain dan daun mint (klo dulu di kampung disebutnya daun keresmen), juga ada potongan tomat cherry yang ukurannya kecil dengan rasa manis tapi asam, irisan mentimun, bawang bombay, cabe dan juga sereh serta dengan dressingnya (Colekannya atau adukannya?… kayak moo bangun rumah, semen sama pasir tambah air secukupnya) dan untuk kelengkapan proteinnya terdapat irisan daging sapi panggang serta pita chips, roti gandum kering yang tipis dengan bentuk runcing sehingga ditata di nampan kayu… tralaaaala… sajian makanannya kayak mahkota.

Bicara rasa, aku sih pilihannya enak dan enak sekali hihihi. Yang pasti rasanya segar dan variatif bikin lidah berjoged.

By teh way, untuk adukan eh dressing… yang standarnya thai dressing itu cenderung asam dan pedas. Bagi yang baru mencoba disarankan dressingnya ‘honey mustard’, rasanya manis dan bersahabat.

Alhamdulillahirobil alamin, sajian karedok modern ini tandas tanpa sisa… eh sisa nampannya. Selain rasanya enak, juga berhubung harganya lumayan… yaa mosok nggak dihabiskan… mubazir donk.

Oke gitu dulu yaa, Wassalam (AKW).