Kopi Turki.

Ngopi rasa pakidulan….

Photo : Turkish Coffee / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Rasa penasaran adalah salah satu pendorong kita tetap berkreasi berfikir dan menjaga keinginan sehingga menjadi tahu tentang sesuatu. Meskipun sesekali harus dikendalikan dan diarahkan untuk hal yang baik karena terkadang penasaran ingin mencoba sesuatu yang berbeda, padahal bisa jadi melanggar aturan dan etika yang ada.

Jangan bikin masalah baru kawan, masalah dalam hidupmu sudah banyak”

Sebuah kalimat bijak mengingatkan untuk memegang kendali rasa dan menjaga perilaku dalam koridor kewajaran dan kenormalan saja.

Begitupun dengan meminum sajian aneka kopi, maka ikuti saja cara seduhan normal yang sudah menjadi ciri khas masing-masing penyajian kopi. Dimulai dari yang sederhana dengan menubruknya pelan-pelan, karena kalau terlalu kencang akan terluka hehehe. (Emang nubruk pake motor?...). Hingga yang prosesinya dianggap ribet oleh sebagian orang. Biasanya ini yang menggunakan seduhan manual seperti menggunakan V60, kalita, dan berbagai alat lainnya.

Harus diawali dengan menyiapkan biji kopi, lakukan penggilingan (grinder) baik manual atau yang menggunakan listrik. Kebersihan alat seduh, kertas filter, seduh perlahan hingga akhirnya menetes di bejana server serta diputuskan untuk berpindah ke gelas kaca lalu disruput tanpa banyak kata.

Kali ini rasa penasaran membawaku untuk mencoba menikmati sajian kopi yang berasal dari timur tengah. Secara proses tidak tahu karena ada yang buatin, tapi secara tampilan penyajian memang berbeda. Namanya Turkish Coffee… atau kopi turki. Sebuah sajian kopi yang cocok untuk urang ciamis, banjar dan tasik pangandaran karena semuanya TURKI (TURunan PaKIdulan hehehe alias turunan wilayah selatan jawa barat….. hehehehe maksa.)

Gelas saji yang digunakan adalah gelas untuk espresso dan kopi tubruk turkinya di atas wadah khas dengan pegangan… asa mirip gayung mini hihihi… ih jangan gitu, ini khan beda tradisi dan gaya penyajian… nikmati aja.

Curr ke gelas dan coba disruput…. hmmmm bodynya tipis dengan rasa lempeng… ini kemungkinan besar robusta dan dilengkapi agak wangi hangus dari biji yang digrinder. After taste tiada rasa kecuali pahit dan sedikit getir. Kecenderungannya dicampur gula atau madu. Tapi diriku mah sruput terus saja hingga tuntas, karena yakin dibalik semua kepahitan ini akan hadir rasa manis yang berbeda.

Ya mirip-mirip kopi tubruk dengan pola penyajian berbeda. Ada selarik rasa rempah tapi agak sulit mendefinisikannya… sudahlah… sruput ajaaa. Alhamdulillah, Wassalam (AKW).

Kopi Lobster – wfh.

Pasangan langka yang tak biasa, tapi rasanya…. luarr biasaa..

CIMAHI, akwnulis.com. Pertemuan mereka tidak disengaja, tetapi sebuah takdir sudah dituliskan. Sebuah pertemuan penting yang jarang terjadi, karena masing-masing tidak bisa ditemui setiap hari.

Pihak pertama adalah sang lobster yang bercangkang keras penuh dengan duri serta capit panjang plus tatapan garang, padahal menyimpan sebongkah daging yang enak mantabs dibalik kekerasan cangkang dan sikap. Belum lagi jika dilihat dari jarak, mereka hidup di sekitar samudera hindia tepatnya di sekitar pantai selatan tasikmalaya.

Pihak kedua tentunya sebuah biji/bean kopi yang hadir setelah melalui proses panjang dari mulai dipanen sebagai cherry di kebunnya di gunung manglayang, hingga berproses dalam penyimpanan lalu melewati proses roasting yang berstandar hingga dikemas dan akhirnya berganti tangan hingga tiba disini, bersiap menghibahkan diri untuk dihancurkan oleh grinder demi memberikan sebuah sensasi rasa yang penuh pesona.

Maka sebuah penghormatan dari pertemuan langka ini, jepretan kamera hape dan publikasi di blog serta publikasi di facebook, twitter dan status WA menjadi penting, karena momen ini jarang terjadi sekaligus menjadi acara tersendiri sambil mengisi kegiatan ‘work from home‘… eh nggak ketang, hari ini khan tanggal merah, jadi nggak kerja tetapi tetap #dirumahaja.

Kenapa photo lobsternya cuman satu kakak?”

Ah pertanyaan singkat yang bikin terhenyak, ya memang cuman satu lobsternya karena kalau banyak mah ikan teri hehehehe….. kebetulan model photonya menggunakan pola keterwakilan. Pada saat yang lainnya masih dibersihkan, nah ini satu lobster belah tengah yang di photo bareng.

Bagi donk”…. ini pasti next questionnya, tapi dengan segala permohonan maaf, sementara baru bisa berbagi gambar dan tulisan serta sedikit bahan khayalan bagi yang melihatnya.

Photo : Kopi & lobster di halaman belakang / dokpri.

Cara menikmatinya gimana?”

Aduuh inih mah gampang banget atuh say, kopinya tinggal langsung disruput dan…. lobsternya dipasak dengan bumbu saos tiram, asam manis, saus padang atau…. supaya awet…. dipandangin saja terus hingga puasss hehehehehe.

Jangan sekali-kali setelah sruput kopi trus lobsternya langsung dikunyah…. udah mah amis hanyir juga rungseb… bisa berakibat fatal sehingga menimbulkan luka di bibir, mulut dan juga perasaan.

Gitu dulu ya cerita kopi lobsternya, selamat menikmati hari bersama keluarga tercinta dan tetap #dirumahaja. Wassalam (AKW).

Ngopi itu PenThinK.

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Sebuah tanya menggelitik di rongga dada, “Apakah Ngopi itu penting?

Ayo jawab….. pasti bakalan beda-beda.

Bagi yang tidak suka ngopi atau minum kopi, maka ngopi itu membuang waktu dan juga duit. Mendingan or lebih baik minum minuman lainnya…. bener nggak?

Tetapi bagi penikmat kopi, seakan menjadi wajib menyeruput secangkir, segelas, sebejana, sesloki kopi hitam.. seolah hari terasa sedih jikalau tak bersua dengan sesruput kohitala…

Jadi ngopi itu penting kawan dan lebih penting adalah ngopi ditempat yang memang penting.

Dimana itu?……

Tempatnya masih sekitar mesjid Agung Kota Tasikmalaya, atau lebih spesifik lagi dekat bubur zaenal, bubur legendaris di kota tasik…. “Ketemu nggak?”…. yo wis gogling aja mbak mas.

Kok jadi penting ngopi di tempat itu?

Begini kawan, ngopi disini menjadi penting karena di menunya tersedia pilihan kopi hitam tanpa gula yang diseduh manual dengan V60 dan vietnam drip dan juga ada menu-menu lainnya… menu kopi-kopi kekinian. Kafenya memang tanpa AC, tetapi suasana relatif bersahabat kecuali di siang tengah hari… yaa sedikit berkeringat kawan.

Paling terpenting ngopi disini adalah nama cafenya juga penting, yaitu cafe PenThink…… apakah gabungan dari pen (pulpen) dan Think (berfikir) yang artinya bisa berfikir dan menuangkannya dalam coretan-coretan pulpen atau mungkin juga memang dibaca jadi ‘penthing‘…. entahlah karena sang barista malah ternganga pas ditanya tentang arti nama cafe yang dijaganya.

Photo : Sajian V60 Arabica Kintamani / dokpri.

Pilihan kopi seduh manualnya sangat terbatas, cuma ada arabica bali kintamani, tapi mungkin segmentasi pembelinya yang menu lainnya…. yang pasti minimal mampir kesini bisa jadi penting hehehehehe.

Sajian manual brew V60nya menggunakan gramasi 15gram dan 150 ml air panas dengan suhu 87° celcius dengan harga 18K persajian. Pas di sruput, yaa lumayan…. acidity medium dan body medium, ada juga sedikit yang ninggal kepahitnikmatan dibawah lidah. Hanya saja terasa kurang panas, karena diriku aliran SPDC (sembilan puluh derajat celcius).

Itulah pengalaman ngopi ditempat ‘PenThink‘ di Kota Tasikmalaya. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
PenThinK Coffee
Jl. Galunggung No.85 Kota Tasikmalaya.