Pikir & Putuskan.

Mikir atau nggak mikir, putuskan.

Photo : Serangga lewat langsung jepret, nggak pake mikir / Dokpri.

SAGULING, akwnulis.com. Sebuah niat memang tidak cukup jika tidak dilanjutkan dengan emprak (implementasi), tetapi setiap individu memang memiliki pertimbangan masing-masing dengan berbagai perspektif rasional dan irasional atau gabungan keduanya untuk memutuskan suatu keputusan yang akan berpengaruh bagi ritme kehidupannya sekarang dan juga masa yang akan datang.

Bagaimana caranya kita tahu dampak dari keputusan kita?

Ya lakukan dulu, jangan berandai-andai atau melamun tak berkesudahan kawan… atau malah pilihannya nggak jadi.. menunda.. menunda.. akhirnya melupakan karena dengan berbagai pertimbangan. Ya… Itu sih kehidupan, karena setiap tahapan hidup adalah pilihan. Bukan masalah salah dan benar dengan perbedaan pilihan yang ada, tetapi kesiapan kita manakala konsekuensi pilihan itu yang harus dihadapi.

Berhitung berbagai kemungkinan dari suatu pilihan adalah wajib karena kita diberi anugerah akal dan pikiran, ditambah dengan mencari referensi dari berbagai literatur plus mengumpulkan testimoni dari orang-orang yang punya pengalaman tersendiri terkait konten yang akan diputuskan.

Tetapi memutuskan sebuah pilihan tentu tidak cukup dengan akal dan pikiran logika matematis fisika biologis sosial sastra dan guru BP….. lha kok jadi jurusan di SMA... maksudnya komprehensif gitu lho…. logika berfikir tersebut ditambah referensi dan testimoni ternyata tidak cukup. Itu semua penting karena akan menghadirkan keputusan yang sistematis dan terukur…. tetapi.. terdapat hal yang super penting yang harus diyakini yaitu Takdir Illahi.

Artinya dari semua tahapan pertimbangan akal tadi, akhirnya adalah sebuah kehendak yang sudah tertulis di atas langit didalam kitab lauh mahfudz yang harus diyakini dengan keimana rohani.

Terkadang sebuah keputusan diambil dengan rumus 99+1%, yaitu 99% nekat dan 1% logika… tapi tentu bersiaplah dengan kemungkinan dampak dari pengambilan keputusan ini.

Menurutmu yang ideal bagaimana dalam mengambil keputusan?

Sebuah pertanyaan pribadi yang mungkin mendapat jawaban subjektif, tapi tidak apa selama memang itu kenyataannya.

Penulis dalam mengambil keputusan bervariasi. Ada yang gercep (gerak cepat)… apalagi urusan diskon be-ol (belanja online) yang dimulai pukul 00.00 wib… terkadang pertimbangannya hanya beberapa detik hehehehe… nggak kalah sama ibu negara.

Photo : Helikopter lewat langsung nggak pake mikir, jepret / Dokpri.

Nah ada juga keputusan yang penuh pertimbangan dan perhitungan juga diskusi intens dengan pendamping hidup alias ibu negaraku hingga akhirnya akhirnya dilengkapi oleh kenekatan berjamaah dan tidak lupa senantiasa membaca Basmallah… karena ini memang sudah ada takdirnyahhh…

Pernah juga sih ngambil keputusan nggak pake mikir, langsung aja putuskan dan ambil…. tapi cepat atau lambat lebih sering hadirkan sesal karena ternyata keputusan yang diambil kurang tepat dan cenderung ngasal.

Tapi mikir kelamaan juga jangan, sayang nanti momentumnya terlewati… maka keluwesan mengambil keputusan dalam pilihan-pilihan yang senantiasa tersaji di dalam perjalanan kehidupan fana ini adalah keharusan.

Selamat mengambil pilihan dan menjalani indahnya dinamika kehidupan, Wassalam (AKW).

Bersepeda itu Takdir.

Manfaatkan mode switch dalam jalani takdir kehidupan.

Photo & barangnya : dokumen pribadi ๐Ÿ™‚

Hidup itu unik dan penuh dinamika serta terkadang miliki daya kejut yang perlu dihadapi dengan keikhlasan. Karena dengan keikhlasan maka perjalanan kehidupan ini terasa lebih nyaman. Juga kepasrahan serta yakin kepada takdir Illahi. Tidak ada yang kebetulan, semua sudah diatur dalam catatan Allah SWT tetapi kita manusia tidak diberi kemampuan untuk tahu.

Inilah sekelumit ceritanya,… ahayy.

Kamis sore, sambil menyetir kendaraan. Sang otak nggak mau diam, merancang rencana esok hari dengan segala pertimbangan subjektif dan objektif. Evaluasi singkat sambil meraba lemak yang mulai bertumpuk kembali di pinggang kanan kiri, maka jawabannya adalah “kurang olahraga“… dengan misi itu di break down menjadi strategi dan akhirnya mengerucut dalam kebijakan. Dikerucutkan lagi menjadi program, dan implementasinya adalah Rencana Kerja untuk sasapedahan esok hari… 

Nyampe rumah pas adzan magrib berkumandang. Segera bergegas membersihkan diri sebelum ocon dengan putri semata wayangku. Mandi 5 menit bisa kelar dan dijamin badan agak bersih. Kenapa harus kilat?… karena panggilan, “Ayahh… ayaah” dan gedoran tangan mungil di pintu kamar mandi akan berkumandang jika lebih dari 5 menit di kamar mandi.

Wajar toh anak kangen sama ayahnya yang sibuk bekerja dan pulang kerja (hampir selalu) disaat mentari sudah tenggelam dari cakrawala.

Photo & barangnya : dokumen pribadi ๐Ÿ™‚

Setelah shalat isya, anak cantik sedang asyik makan dengan ibu dan neneknya. Perlahan ke belakang dan mempersiapkan sepeda serta kelengkapannya untuk digunakan besok pagi ke kantor. Kacamata, sepatu, kaos kaki, celana berpelana, hingga manset dan topi sepeda sudah disiapkan untuk menyambut esok hari. Setelah tuntas segala persiapan untuk esok, kembali bercengkerama dengan anak tercinta hingga menemaninya berdoa sebelum tidur sambil netek ke ibunya. 

Ternyata selesai doa dibaca bukan terlelap yang ada tetapi mata kembali cerah cรฉnghar dan ceria. Jadilah malam itu begadang hingga tengah malam. Bergantian menemani anak 16 bulan yang tak henti berjalan dan berlari kesana kemari.

Sambil nungguin sang anak yang terus bermain, melirik handphone karena indikator kelap kelip menandakan ada sesuatu. Waktu menunjukan pukul 23.11 wib, ternyata ada pesan whatsaps dari bos.

“… besok hadiri agenda rapat di Hotel Mulia Jakarta jam 08.30 wib s.d selesai…”

Lemaslah sudah karena program kegiatan yang dirancang sesuai misi pribadi esok hari harus bubar berantakan.

Segera dijawab pesan tersebut, …”Siap pa, laksanakan.”

Photo & barangnya : dokumen pribadi ๐Ÿ™‚

Segera otak pake mode switch dan merunut rencana tindak. Tak banyak langkah yang harus dijalani, yaa kalau dirinci sebagai berikut :

 1. Hapus rencana bersepeda esok hari.

2. Cari temen yang bisa nyetir untuk ke jakarta. Soalnya jumat sore dari jakarta ke bandung itu perlu perjuangan dan kesabaran ( ….pernah trauma macet jakarta ke bandung 8 jam dong).

3. Cek Tiket kereta api via aplikasi PT KAI, sesuai perkiraan, untuk pulangnya sold semua gerbong dan semua jam.

4. Ngasih pengertian ke istri klo besok harus ikut terbangun dini hari, klo poin ini ‘aman‘ karena istriku faham kondisi kerjaan suamiww..

5. Masang alarm 30 menit sebelum berangkat, buat jeda mandi, ganti baju dan berhias… aww.

6. Terakhir yang terberat…. lupakan dulu rencana bersepeda esok hari dan mungkin terganti kesempatan di lain hari.

Gitu aja dulu…

Selamat menjalani takdir masing-masing :). (22/07) (Akw)