Penerbangan Komersial Perdana ke Bandara Internasional KJT

Sebuah pengalaman berharga diajakin ikut penerbangan komersial perdana Pesawat Citilink ke Bandara Internasional KJT.

“Haii para pembaca setia blogku… ada yang penasaran dengan cerita ‘KERAMUD’ku gimana kelanjutannya?”

Monggo… cekidot..

…..

Photo : Suasana meriah Warung Pak Umar di Sidoarjo/dokpri.

Tiba kembali di pelataran Hotel Swiss Bell Airport Juanda hampir jam 00.00 wib. Sebenernya jam 20.00 wib udah nyampe, tapi balik lagi ke Bandara Juanda jemput bapak bos yang pake penerbangan dari Bandara Halim Perdanakusumah trus dilanjut makan nasi soto dulu di RM Warung Pak Umar di Jl. Sedati Gede No 126 Sidoarjo ….. bersama-sama, setelah tuntas baru meluncur kembali ke hotel.

Badan dan pikiran sudah lelah, sangat membutuhkan istirahat sehingga kunci kamar menjadi jalan untuk masuk dan disambut empuknya tempat tidur di lantai 5 Hotel ini.

Eits… jangan tidur duyuuu…. membersihkan diri sudah jadi keharusan. Call ke resepsionis Untuk morning call tuntas dan shalat magrib-isya yang bergandeng mesra dengan ikatan jama qoshor dilanjut tarawih dan witir harus dilaksanakan.

‘Gejeburr!!’
‘Gejebur!!’

Segarnya air menyentuh kulit, sedikit mengurangi rasa lelah.

Tapiii….. meskipun sudah mandi dan berwudhu, prosesi sholat terasa begitu berat seakan setan satu pasukan mengganggu bersama-sama.

Padahal khan bulan ramadhan itu para setan diiket nggak boleh gangguin manusia. “Trus ini siapa yang goda aku?…. jangan-jangan tanpa disadari udah berperilaku mendekati atau mirip setan laknatulloh…. Astagfirullohal adzim.!!”

Lawan dengan sekuat tenaga, tuntaskan shalat meski lelah mendera hingga akhirnya terlelap dipeluk malam yang semakin larut mendekati dini hari, melirik jam di smartphone, pukul 00.57 wib… Zzzzzzz..zzzz

***

‘Kringgg!!!..’
‘Kringgg!!!..’

Telepon meja disamping berdering, segara tersadar, bangun dan mengangkat gagang telepon, “Good morning Sir, Morning Call!!”
“Thank you”.

Klik!
Sambungan telepon dari resepsionis hotel ditutup dan menghambur ke kamar mandi untuk membilas diri karena waktu sudah tak bisa kompromi lagi. Jam 03.15 mandipun tuntas, ganti baju, packing dan menghambur ke lobby.. lumayan bisa tidur 2 jam.

Sahur dilakukan super kilat, 2 potong ayam, fish fillet, tumis pakcoy dan 2 botol air mineral tandas hitungan menit. Langsung check out dan bergerak menuju bandara bersama rombongan. Jam 04.00 wib masuk bandara, lalu proses security check hingga akhirnya bersiap di ruang tunggu. Tidak lupa berpose dulu dengan latar belakang informasi penerbangan, termasuk rencana penerbangan ke Bandara Internasional Kebanggaan Jawa Barat dengan kode KJT.

Sholat shubuh berjamaah dilaksanakan di Mushola bandara Juanda bersama calon penumpang dan tak berapa lama panggilan untuk memasuki pesawat Citilink A320-200 dengan nomor penerbangan QG 9820 berkumandang.

***
Pesawat Airbus 320 mulai bergerak menjauhi apron melewati taxiway hingga bergerak menuju landasan pacu. Setelah semuanya siap, Kapten Joko Pitono menerbangkannya dengan gagah. Menuju langit di ketinggian 32.000 kaki dpl dengan kecepatan rata-data 825 km/jam dan cuaca dalam keadaan cerah sehingga estimasi waktu tempuh sekitar 55 menit saja.

***

Photo : Sajian alami semburat pagi diperjalanan menuju Kertajati/dokpri.

Pemandangan pagi dilihat dari jendela pesawat begitu mengesankan. Semburat merah berpadupadan dengan biru dan abu serta gumpalan putih awan kehidupan menghasilkan semarak alam tanpa tandingan. Kuasa Allah kembali tersaji.

Alhamdulillah….

Menengok ke samping semua sedang mengheningkan cipta, menutup kelopak mata dan nafas teratur, sungguh terlihat nikmat sekali. Tak ingin mengganggu kekhidmatan mereka, mencoba jalan-jalan menuju toilet di ekor pesawat Citilink ini.

Eh……. rejeki anak sholeh, ternyata para pramugari lagi ngaso disitu… langsung aja ijin minta berphoto dengan pose spesial ramadhan. Tangan menangkup, badan sedikit membungkuk, berpose untuk “Selamat Hari Lebaran.”

***

Tepat pukul 05.55 Wib, Airbus 320-200 dengan nomor penerbangan …. mendarat mulus pisan di Bandara Internasional Kertajati Majalengka Jawa Barat.

Photo : prosesi Salute Water Canon/dokBIJB

Membawa para penumpang spesial yang terdiri dari KaBiroSPIBUMD Pemprov Jabar beserta jajaran, Direktur Keuangan PT BIJB & rengrengan, Dirut PT Citilink & Jajaran serta Kadishub Jawa Timur & Protokol Setda Jatim mewakili Gubernur Jatim plus para penumpang lainnya disambut dengan prosesi ‘Salute Water Canon” ... itu tuh yang disiram oleh 2 kendaraan water canon Pemadam Kebakarannya Bandara sehingga membentuk gerbang air sebagai bentuk penghormatan terhadap penerbangan komersial perdana ke Bandara Internasional Kertajati Jawa Barat di Majalengka.

Pas pesawat disiram air… serasa kayak lagi nyuci mobil otomatis.. yang kacanya diguyur semburan air. Terasa dingin dan basah ke kulit kita… karena tetesan air.. ahhay lebay.

Yang pasti perjuangan begadang dan berasa mudik padahal dinas telah terbayarkan dengan suksesnya acara yang diselenggarakan PT BIJB.

Photo : Para Pejabat berpose bersama kru Pesawat/dokpri.

Selanjutnya seluruh penumpang keluar pesawat melalui garbarata dan disambut lagu ‘Manuk dadali’ beserta tarian anak-anak berbaju putih yang penuh keceriaan menuju ruang kedatangan yang sudah disetting sedemikian rupa melalui penyambutan khusus…. disambut langsung oleh Dirut PT BIJB dan DirOps PT Angkasapura 2…. semua penumpang perdana dikasih kalungan bunga lho…. serasa atlet yang sukses berlaga di negeri orang dan pulang disambut penuh kebanggaan.

Photo : Pesawat Citilink sebagai pesawat komersial pertama di bandara KJT/dokpri.

Sambutan-sambutan, doa syukur dan photo bersama menutup rangkaian acara yang dipersiapkan dari kemarin. Meskipun perjalanan masih panjang, karena dari Bandara Internasional Kertajati masih harus menempuh jalan darat via tol Cipali – Cipularang hingga akhirnya akan tiba di kantor dan disambut dengan rapat resmi ba’da jumaat…. semangaaat… itu namanya RÉJEN alias ‘resiko jeneng‘ atau konsekuensi jabatan…

Rumusnya simpel…. Jalani, Nikmati dan Syukuri. Wassalam (AKW).

1 hari 6 moda transportasi bagian 2 (tamat)

Petualangan dalam hitungan belasan jam di ujung pulau Jawa, dari mulai Bis, motor ojeg, kereta api, becak, grab car, pesawat terbang dan grab car lagi bagian ke2, tamat dech.

Ini lanjutan cerita dari Bagian 1.

***

Photo : Petugas lagi meriksa tiket/dokpri.

Disaat keringat masih mengucur, nafas sedikit tersengal tetapi perasaan begitu tenang karena bisa duduk di kursi kereta Jagabaya yang akan mengantarkan diri ini ke titik pemberhentian berikutnya di Sidoarjo.

Kelas ekonomi yang dinaiki sesuai tiket cukup bersih dan nyaman. Kursi keretanya menyatu dan bisa digunakan berdua. Seorang bapak yang sedang bersila dengan santai, menurunkan kakinya dari kursi dan memberi ruang untuk duduk melepas ketegangan.

Posisi kursi saling berhadap-hadapan, dan sudah paten nggak bisa diputar-putar… sesaat petugas Restoran KA melewati dengan membawa beraneka makanan dan minuman yang kudu dibeli termasuk sewa selimut seharga 7 ribu saja selama perjalanan, dengan nyimpen KTP di petugas tentunya.

Petugasnya sopan dan ramah, begitupun bapak yang disampingku, kira-kira usia 55 tahunan yang ternyata sedang dalam perjalanan menuju Jakarta dengan kereta ini. “Kebayang pegelnya” celoteh dalam hati. Tapi melihat wajahnya yang sumringah, mungkin saja bapak ini naik kereta dengan bahagia karena bahagia itu tidak bisa dinilai oleh orang lain tapi hanya orang per orang saja merasakan karena bahagia itu domain Illahi robbi.

“Bapak mau pergi kemana?” Sebuah kalimat ajaib yang sukses membuka pembicaraan selanjutnya. Ternyata beliau seorang guru di salah satu Sltp di Kota Malang, sedang dalam perjalanan menuju Kota Bogor Jawa Barat bersama salah satu saudaranya yang duduk beda kursi. Beliau bercerita tentang ketiga anaknya yang sudah sukses bekerja. Dua diantaranya meneruskan profesi ayahnya menjadi guru di Malang dan di Pulau Madura serta yang satu lagi penempatan di luar jawa.

Dengan gaya yang sederhana, beliau memaknai perjalanan hidup dengan bersahaja. Bahasa yang santun dan tutur kata yang tenang serasa kembali menjadi anak smp sedang dinasehatin ama guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Sementara di hadapanku, setelah berbasa-basi adalah ASN di Pemkot Malang yang sedang dalam perjalanan menuju Kota Cirebon. Diskusi kecil tentang kondisi pemerintahan di Malang pasca operasi KPK beberapa waktu lalu yang mencokok orang nomor 1 serta pimpinan dan jajaran legislatif.

Tapi diriku agak takut ngobrolin politik, untung saja bapak sepuh yang tadi menimpalinya dengan membahas keberhasilan anak-anaknya sehingga arah pembicaraan bisa lebih variatif dan mengarah kepada tema bagaimana ‘mensyukuri hidup dan menghidupi rasa syukur.’

Tak terasa perjalanan 1 jam 15 menitpun hampir berakhir, padahal pas inget tadi naik bis 4 jam karena kemacetan….. wuih memang Kereta api luarbiasa.
Kebayang klo kereta api ini bangun dan berlari…mungkin jauh lebih kencang lagi. Lha wong sekarang aja melata di rel udah cepet jalannya hehehehe.. Ngayal.com

Pas moo turun di Stasiun Sidoarjo, ada kereta api berpapasan dan namanya itu lho, ngingetin daku sama kawan dan kakak senior di Bandung sana yang berkutat di urusan peningkatan sumber daya manusia seperti Kang Budi, Bu Diah, Bu Retno, Teh Lis, Bu Tina, bu Nur, pa Firman dan banyak lagi nama-nama yang berkantor di Cipageran Cimahi. Penasaran?….. nich penampakan KA yang cocok dengan BPSDM…

Photo : KA yg cocok dengan Bandiklat/dokpri.

Bener khan?..

Berhenti di Stasiun Sidoarjo, sebuah stasiun kecil yang tertata rapih. Sejenak menvhela nafas dan menikmati toilet untuk berjumpa dengan wastafel sehingga bisa membasuh muka dan melihat raga di kaca… ternyata gagah juga. Segera keluar menuju ruang tunggu penumpang, buka smartphone dan pilih aplikasi Grab.

Photo : Nampak luar stasion Sidoarjo/dokpri

Proses order yang singkat, dan sang driver yang komunikatif. Langsung dia nelpon dan menyatakan area stasiun adalah ‘Zona merah’ alias nggak boleh masuk dan nunggu agak jauh di salah satu mini market. Ya sudah, setelah memotret bangunan stasiun, bergerak keluar gerbang dan…. melihat becak berjejer.

Mas ke depan ya, dekat minimarket xxxx” “Monggo mas, ndereng pinara” transaksi sederhana penuh tatakrama mengantarkan diri menikmati transportasi ke empat yaitu becak tanpa atap… wuiiis, angin menerpa wajah disaat becak melaju kencang.

***

Moda transportasi ke 5 adalah sebuah mobil Suzuki Ertiganya bapak Moch Cholil seorang bapak berumur yang ramah. Tak banyak bicara tapi nyaman membawa mobilnya. Ternyata dari titik ini menuju bandara Juanda memakan waktu lumayan lho, 31 menit. Untungnya waktu yang tersisa masih leluasa sehingga perasaan tetap nyaman dan gembira.

Setelah beberapa titik terdapat kepadatan lalulintas, akhirnya tiba juga di gerbang bandara juanda dan mengarah ke Terminal 2. Dari penjelasan pak driver, terminal 2 ini adalah terminal lama yang direvitalisasi dan digunakan untuk penerbangan Garuda Indonesia dan penerbangan internasional sementara terminal 1 untuk penerbangan domestik lainnya. Jaraknya memang berdekatan tetapi akses pintu masuknya beda.

Jadi bagi para pelancong, jangan malu bertanya jika sedang beredar di luar daerah atau di luar negeri. Ingat pepatah ‘Malu bertanya sesat dijalan, besar kemaluan susah berjalan’ ….. upppps maaf.

***

Proses check in yang mudah, suasana bandara yang ramah serta hati ceria meriah karena bisa melewati perjalanan yang begitu variatif dalam waktu sangat singkat. Bukan 1 hari sebenernya… tapi beberapa jam menikmati beraneka moda transportasi. Coba dirunut :
08.15 – 11.15 Bis Pariwisata
11.15 – 11.35 ojeg lokal
11.45 – 13.05 KA Jagabaya
13.10 – 13.26 Becak Sta. Sidoarjo
13.31 – 14.01 Grabcar – S.Ertiga

Wow 5 moda transportasi darat dalam 5 jam….

Satu lagi transportasi udara… nunggu panggilan.

Rehat yang panjang di terminal 2 Bandara Juanda terasa menyenangkan karena tiket sudah dipegang tinggal menunggu panggilan masuk pesawat. Sambil berkeliling menikmati suasana bandara, pikiran terus berputar dan ide menulis mulai bermunculan. Tetapi ternyata sang perut perlu diisi sebelum merana kelaparan, ya sudah cari tempat makan yang nyaman sekaligus beristirahat menunggu panggilan.

Bebek goreng setengah tanpa nasi menemani penantian ini ditemani segelas teh tawar panas… nikmaat. Pedasnya bikin otak membara dan so pasti bibir, lidah hingga lambung mendesssah…. pedeeees tapi enak dan untuk menghindari pedas berkepanjangan, maka semangkok soto ayam tersaji sebagai makanan penutup. RW06.com

***

Diawali panggilan lembut di pengeras suara bandara, masuk mengantri via garbarata akhirnya tiba di dalam pesawat Garuda. Duduk di tempat yang sesuai di tiket tertera, pasang sabuk pengaman dan segera mengutak atik fasilitas penerbangan yaitu VOD (Video on demand), pasang earphone… eh sebelumnya photo dulu citylight Kota Sidoarjo dari balik jendela. Kerlap kerlip lampu kota menyimpan kenangan serunya perjalanan soang tadi, disana.

Sebuah kotak makanan ringan menghampiri dan yang ajibb adalah segelas kopi hitam tanpa gula dengan rasa lumayan, menemani perjalanan pulang menuju Bandung kota tercinta.

Tepat pukul 19.20 sang burung besi mendarat di Bandara Husein Sastranegara. Segera menghambur dari pesawat bergerak cepat sambil nyalain smartphone dan order Takol (taksi online)…. ternyata…

Kembali istilah ‘Zona merah’ muncul dari percakapan dengan sang calon driver. Tapi karena cuman sendiri dan tak banyak bawaan, tanpa bagasi juga. Ya udah ngloyor keluar bandara dan menyusuri jalan lurus menuju jalan padjajaran sekitar 900 meteran (soalnya nggak diukur.. hanya rumus kira2)… melewati puluhan taksi yang menunggu penumpang plus para pengemudi yang memberi tawaran.

Ya klo yang bawa sepuh atau yang sakit, plus juga kondisi hujan.. ya sebaiknya pilih taksi yang ada. Tetapi syaratnya pastikan kejelasan harga dari awal ataupun kepastian menggunakan argo. Hindari transaksi setelah masuk di taksi, hindari pokokna mah.

Soalnya klo taksi online nunggunya di luar area bandara dan cukup jauh berjalannya. Kecuali sendiri atau rame-rame dan sehat semua. Juga tidak sedang hujan.

Akhirnya transportasi darat lagi, Grab car Toyota Avanza mengantarkan raga dan jiwa ke arah bandung utara, menuju tempat dinas ibu negara.

Setelah jumpa, barulah pulang ke rumah bersama istri tercinta dengan posisi sebagai pengendara.. jadi totalnya 7 moda transportasi… 6 angkutan umum dan 1 angkutan pribadi.

***

Itulah sebuah kisah perjalanan menggunakan berbagai moda transportasi dalam waktu singkat, andaikan ada juga perahu atau speedboat yang digunakan… itu lengkap sudah mameeen.. darat-laut-udara hahay.

Wassalam. (AKW)